BAB I PENDAHULUAN. dengan cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya

Teks penuh

(1)

1

Dewasa ini kondisi pasar modal di Indonesia telah berkembang dengan cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek. Dalam rangka mengembangkan usahanya, perusahaan dapat melakukan berbagai cara diantaranya melakukan ekspansi. Untuk memenuhi kebutuhan ekspansi tersebut, perusahaan tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Kebutuhan dana suatu perusahaan akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan perusahaan. Hal ini tentunya mengharuskan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana baru. Kebutuhan dana tersebut dapat dipenuhi dengan melakukan penawaran saham perusahaan pada masyarakat dengan cara menerbitkan saham di pasar modal. Beredarnya saham perusahaan ke tangan public, menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah berubah dari perusahaan pribadi menjadi perusahaan public atau lebih dikenal dengan istilah go public.

Menurut Sumantoro (1984), proses go public perusahaan terlebih dahulu saham perusahaan yang akan go public diperdagangkan di pasar perdana. Selanjutnya saham dapat diperjualbelikan di Bursa Efek yang disebut pasar sekunder. Kegiatan yang dilakukan dalam rangka penawaran umum saham perdana disebut IPO (initial public offering). Di

(2)

dalam kegiatan IPO terdapat masalah penentuan harga pasar perdana. Di satu sisi perusahaan yang melakukan IPO ingin mendapatkan pemasukan dana yang semaksimal mungkin dan disisi lain underwriter sebagai penjamin dalam pelaksanaan IPO tidak ingin menanggung kerugian yang besar akibat tidak terjualnya saham yang ditawarkan. Dalam penentuan harga saham pada pasar perdana apabila harga IPO lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan pada hari pertama yang terjadi di pasar sekunder, maka terjadilah underpricing.

Menurut Sumantoro (1984), underpricing pada penawaran umum saham perdana merupakan gejala umum di setiap pasar modal. Underpricing merupakan fenomena di mana harga saham yang ditawarkan pada pasar perdana lebih rendah dibandingkan dengan harga saham ketika diperdagangkan di pasar sekunder. Kondisi underpricing merugikan untuk perusahaan yang melakukan go public, karena dana yang diperoleh dari publik tidak maksimum.

Menurut Kasmir (2010), laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang digunakan oleh investor dan underwriter untuk menilai perusahaan yang akan go public. Umumnya perusahaan yang melakukan IPO akan memilih Kantor Akuntan Publik (KAP) yang memiliki reputasi baik agar laporan keuangan dapat lebih dipercaya. Laporan keuangan yang telah diaudit akan memberikan tingkat kepercayaan yang lebih besar kepada pemakainya. Adanya laporan keuangan yang dapat dipercaya akan mengurangi terjadinya asimetri informasi. Asimetri

(3)

informasi terjadi jika salah satu pihak dari suatu transaksi memiliki informasi lebih banyak dibandingkan pihak lainnya. Aktiva merupakan tolok ukur besaran suatu perusahaan. Biasanya perusahaan besar mempunyai aktiva yang besar pula nilainya.

Secara teoritis perusahaan yang lebih besar mempunyai kepastian yang lebih besar dari pada perusahaan kecil sehingga akan mengurangi tingkat ketidakpastian mengenai prospek perusahaan ke depan. Semakin besar perusahaan, semakin dikenal masyarakat yang berarti semakin mudah untuk mendapatkan informasi mengenai perusahaan. Kemudahan mendapatkan informasi akan meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi faktor ketidakpastian. Semakin besar aset perusahaan akan mengindikasikan semakin besar ukuran perusahaan tersebut. Aset perusahaan yang besar akan memberikan signal bahwa perusahaan tersebut mempunyai prospek.

Menurut Yusuf dan Soraya (2004), ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki perusahaan, ditunjukan oleh natural logaritma dari total aktiva. Basuki (2006), menjelaskan bahwa ukuran (size) perusahaan biasa diukur dengan menggunakan total asset, penjualan, atau modal perusahaan tersebut. Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan adalah ukuran aset dari perusahaan tersebut sedangkan menurut Sulistio (2005), ukuran perusahaan diukur dengan melihat total aset dari laporan keuangan perusahaan tahun terakhir sebelum perusahaan tersebut melakukan IPO).

(4)

Biasanya perusahaan besar memiliki aset yang besar pula nilainya. Rasio ROA digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Return of Asset (ROA) merupakan rasio penting yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan investasi yang telah ditanamkan untuk mendapatkan laba. ROA juga menjadi salah satu pertimbangan investor dalam melakukan investasi terhadap saham di bursa. Tingkat profitabilitas merupakan informasi tingkat keuntungan.

Menurut Jogiyanto (1998: 109), return saham dibedakan menjadi dua yaitu return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return). Return realisasi merupakan return yang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi ini penting dalam mengukur kinerja perusahaan dan sebagai dasar penentuan return dan risiko dimasa mendatang. Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan di masa mendatang dan masih bersifat tidak pasti. Dalam melakukan investasi investor dihadapkan pada ketidakpastian (uncertainty) antara return yang akan diperoleh dengan risiko yang akan dihadapinya.

Fama and French, (1995) dalam Wahyudi (2003) menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan kecil cenderung memiliki tingkat leverage financial yang tinggi dan problem cash flow, sedangkan perusahaan dengan skala besar akan lebih mampu dalam memenuhi permintaan pasar, mampu beroperasi pada tingkat yang optimal dan pada akhirnya

(5)

lebih mampu menghasilkan laba dalam jumlah yang relatif lebih besar apabila dibandingkan dengan perusahaan dengan ukuran kecil. Perolehan laba emiten yang cukup besar akan memberikan signal yang positif terhadap investor, sehingga akan meningkatkan return saham. Ardiningsih & Chariri (2002), menjelaskan bahwa semakin tinggi rasio PBV, maka semakin tinggi pula perusahaan dinilai oleh investor yang berakibat positif pada return saham perusahaan.

Perusahaan Industri Rokok dipilih dalam penelitian ini, karena Industri Rokok mendapat peluang yang sangat besar untuk terus berkembang. Berdasarkan 5 perusahaan Industri Rokok yang listing di Bursa Efek Indonesia terdapat 3 perusahaan Rokok yang digunakan dalam penelitian ini, 2 perusahaan tidak digunakan karena tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan, yakni pada PT. BAT Indonesia Tbk. yang telah delisting tahun 2009 dan PT. Wismilak Inti Makmur Tbk. yang baru mempublikasikan data laporan keuangan tahun 2012.

Perusahaan Industri Rokok merupakan perusahaan yang mengeluarkan produk yang cukup kontroversial, yaitu disatu sisi merupakan penyumbang terbesar devisa Negara yang dapat dilihat pada penerimaan cukai tembakau meningkat 29 kali lipat dari Rp 1,7 trilyun menjadi Rp. 49,9 trilyun dari tahun 1990-2008. Ini bukti bahwa kenaikan tingkat cukai tembakau yang dilakukan pemerintah efektif untuk meningkatkan penerimaan Negara namun pada kenyataannya Rokok merupakan produk yang kurang baik bagi kesehatan.

(6)

Tidak hanya itu dengan adanya regulasi tentang Rokok yang

dimulai dengan PP Nomor 109 tentang pengamanan bahan yang

mengandung Zat Adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan yang dikeluarkan pemerintah tahun 2012 kemarin yang mengacu pada Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang dicanangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2003 kemarin. Inilah salah satu faktor utama yang memukul Industri Rokok kretek baik yang besar maupun kecil menengah untuk berhenti melanjutkan produksinya. Hal ini akan berdampak pada penjualan dan laba perusahaan, sehingga akan menurunkan nilai perusahaan dengan harga saham dan return saham sebgai indikatornya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya fluktuasi variabel ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan dan return saham yang diakibatkan regulasi.

Selain itu, dampak dari regulasi tersebut dibuktikan dengan menurunnya penjualan dan omzet dari perusahaan Rokok. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya karyawan yang diberhentikan oleh perusahaan Rokok. PT. Gudang Garam Tbk. pada bulan oktober 2014 telah memecat lebih dari 2.000 karyawannya dan PT. Bentoel juga memecat lebih dari 1.000 karyawan (tempo.co.id, ).

Penelitian ini didukung oleh beberapa penelitian terdahulu diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Widjaja (2008), yang berjudul Pengaruh Curent Ratio, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Return Saham Perusahaan Sektor Industri Dasar dan Kimia. Menunjukkan bahwa rasio

(7)

lancar tidak berpengaruh terhadap harga saham dengan koefisien negatif, selain itu ukuran perusahaan berpangaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Disamping itu Ma’wa (2009), dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Leverage, Profitabilitas, Arus Kas operasi dan Ukuran perusahaan terhadap Return Saham Perusahaan yang masuk dalam Daftar Jakarta Islamic Index Periode 2005-2007. Menunjukkan hasil bahwa DER tidak berpengaruh terhadap return saham, ROA menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap return saham, untuk arus kas operasi menunjukkan pengaruh dengan arah negatif signifikan terhadap return saham, sedangkan ukuran perusahaan (total asset) menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap return saham. Disamping itu Sukartha (2014), dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Arus Kas Bebas dan Laba Bersih Return Saham Perusahaan LQ-45”. Menemukan bahwa arus kas bebas tidak berpengaruh secara signifikan pada return saham, sedangkan laba bersih memiliki pengaruh yang positif dan signifikan pada return saham.

Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Musmini (2014) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Informasi Arus Kas, Laba Kotor, Ukuran Perusahaan, dan Return On Assets (ROA) Terhadap Return Saham. Adapun perbedaan dari penelitian tersebut yaitu penelitian terdahulu menggunakan analisis regresi sederhana sedangkan penelitian ini menggunakan anlisis regresi berganda data panel.

(8)

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan formulasikan judul Pengaruh Ukuran Perusahaan dan Pertumbuhan Perusahaan terhadap Return Saham Perusahaan Industri Rokok Di Bursa Efek Indonesia Periode 2000-2014.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mencoba mengidentifikasi masalah yakni:

1. Adanya Regulasi tentang Rokok yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan.

2. Penurunan omzet perusahaan rokok berakibat pada dipecatnya ribuan karyawan pada PT. Gudang Garam Tbk. dan PT. Bentoel Tbk.

3. Adanya perbedaan yang ditemukan oleh beberapa penelitian terdahulu terkait variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap return saham perusahaan Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia periode 2000-2014?

(9)

2. Apakah pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap return saham perusahaan Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia periode 2000-2014?

3. Apakah ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap return saham perusahaan Industri Rokok periode 2000-2014?

4. Seberapa besar pengaruh ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan terhadap return saham perusahaan Industri Rokok periode 2000-2014?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan peneliti ini adalah:

1. Untuk menguji dan mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap return saham perusahaan Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia periode 2000-2014.

2. Untuk menguji dan mengetahui pengaruh pertumbuhan perusahaan terhadap return saham perusahaan Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia periode 2000-2014.

3. Untuk menguji dan mengetahui pengaruh ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan terhadap return saham perusahaan Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia periode 2000-2014.

(10)

4. Untuk menguji dan mengetahui Seberapa besar pengaruh ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan terhadap return saham perusahaan Industri Rokok periode 2000-2014.

1.5 Manfaat Penelitian

Dengan tercapainya tujuan dalam penelitian ini, maka hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk berbagai pihak, diantaranya:

1. Manfaat Teoritis

Memberikan tambahan pengetahuan dan sumbangan yang positif terhadap ilmu pengetahuan serta sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak yang akan meneliti lebih lanjut mengenai Signal Theory khususnya topik pengaruh Ukuran Perusahaan dan Pertumbuhan Perusahaan terhadap Retrun Saham.

2. Manfaat Praktis

Adapun menfaat praktis dari penelitian ini adalah memberikan kontribusi bagi Perusahaan Industri Rokok Indonesia sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan penentu kebijakan. Serta memberikan konstribusi bagi investor dalam berinvestasi dengan melihat ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan dan return saham sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi di perusahaan Industri Rokok Indonesia.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :