• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI 5

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI 5"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI

UPAYA

PEMBERANTASAN

KORUPSI

(3)

A.

KONSEP PEMBERANTASAN KORUPSI

Mengapa korupsi timbul dan berkembang demikian masif di sebuah negara dan tidak di negara lain ?

Korupsi ibarat penyakit ‘kanker ganas’ sifatnya kronis juga akut.

Perekonomian negara degerogoti secara perlahan namun pasti. Korupsi di Indonesia menempel pada semua aspek atau bidang kehidupan masyarakat.

PENTING DIPAHAMI : di manapun dan sampai pada tingkatan tertentu, korupsi akan selalu ada dalam suatu negara atau masyarakat

(4)

DISKUSIKAN PENDAPAT

BERIKUT :

PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI

It is always necessary to releate

anti-corruption strategies to charaktheristics og the actors involved (and the

environment they operate in). THERE IS NO SINGLE CONCEPT and program of good governance FOR ALL COUNTRIES and organizations, there is no ‘one right way’. Thera are many initiatives and most are tailored to specifics contexts.

(5)

REALITA DI INDONESIA

Ada PERANGKAT HUKUM : ada Peraturan Per-UU, ada

lembaga serta aparat hukum yang mengabdi untuk

menjalankan peraturan (kepolisian, kejaksaan, dan

pengadilan); ada lembaga independen ‘Super Body’

yang bernama Komis Pemberantasan Korupsi (KPK)

yang dibentuk untuk memerantas korupsi.

Di sekolah siswa/mahasiswa Pendidikan Agama,

penddikan Kewarganegaraan

Realita : korupsi tetap tumbuh subur dan berkembang

dengan pesat.

Apa yang salah ?

(6)

UPAYA PENANGGULANGAN

KEJAHATAN KORUPSI

PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI

JALUR PENAL

Kebijakan penerapan

hukum Pidana (criminal Law Application);

sifat repressive

(penumpasan/

penindasan/pemberantasan)

perlu dipahami bahwa :

upaya/ tindakan represif juga dapat dilihat sebagai upaya/ tindakan preventif dalam arti luas.

(Nawawi Arief : 2008)

JALUR NON-PENAL

Kebijakan pencegahan

tanpa hukum pidana (prevention without pinishment);

kebijakan untuk

mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai

kejahatan dan pemidanaan lewat mass medida

(influencing views of society on crime and

punishment/mass media atau media lain seperti

penyuluhan, pendidikan, dll.

Sifat prefentive

(7)

UPAYA PENAL DAN NON-PENAL

Sasaran dari upaya non-penal adalah menangani faktor-faktor

kondusif penyebab terjadinya korupsi, yang berpusat pada

masalah-masalah atau kondisi-kondisi politik, ekonomi maupun sosial yang secara langsung dapat menimbulkan atau

menumbuh-suburkan kejahatan (korupsi);

Upaya penal dilakukan dengan memanggil atau menggunakan

hukum pidana yaitu dengan menghukum atau memberi pidana atau penderitaan atau nestapa bagi perilaku korupsi;

Upaya non-penal seharusnya menjadi kunci atau memiliki posisi

penting atau posisi strategis dari keseluruhan upaya

penanggulangan korupsi karena sifat nya preventif atau mencegah sebelum terjadi.

(8)

KETERBATASAN SARANA PENAL

sarana penal memiliki ‘keterbatasan’,

mengandung ‘ kelemahan’ (sisi negatif).

Fungsi sarana penal seharusnya hanya

digunakan secara ‘subsidair’.

Secara dogmatis, sanksi pidana merupakan

jenis sanksi yang paling tajam dalam bidang

hukum, sehingga harus digunakan sebagai

ultimum remedium (obat yang terakhir apabila

cara lain atau bidang hukum lalin sudah tidak

dpat digunakan lagi);

(9)

KETERBATASAN SARANA PENAL

Secara fungsional/ pragmatis, operasionalisasi

dan aplikasinya menuntut biaya yang tinggi;

Sanksi pidana mengandung sifat kontradiktif/

paradoksal, mengandung efek sampingan

yang negatif. Lihat realita kondisi overload

Lembaga Pemasyarakatan;

Hukum pidana dan pemidanaan bukanlah

‘obat yang manjur’ atau ‘panacea’ atau ‘

bukan segala-galanya’ untuk menanggulangi

kejahatan.

(10)

KETERBATASAN SARANA PENAL

Penggunaan hukum pidana dalam menanggulangi

kejahatan hanya merupakan ‘ kurieren am

symptom’ (menyembuhkan gejala), hanya

merupakan pengobatan simptomatik bukan

kausatif karena sebab-sebab kejahatan demikian

komples dan berada di luar jangkauan hukum

pidana;

Hukum pidana hanya merupakan bagian kecil (sub

sistem) dari sarana kontrol sosial yang tidak

mungkin mengatasi kejahatan sebagai masalah

kemanusiaan dan kemasyarakatan yang sangat

kompleks;

(11)

KETERBATASAN SARANA PENAL

sistem pemidanaan bersifat fragmantair dan

individual/personal; tidak bersifat struktural atau

fungsional;

efektifitas pidana (hukuman) bergantung pada banyak

faktor dan masih sering bergantung pada banyak faktor

dan masih sering diperdebatkan oleh para ahli.

Hukum pidana dan pemidanaan bukanlah ‘obat yang

manjur’ atau ‘panacea’ atau ‘bukan segala-galanya’

untuk menanggulangi kejahatan.

(Nawawi Arief: 1998)

(12)

HUKUM PIDANA BUKAN PANACEA

KARL. O. Christiansen : pengaruh pidana

terhadap masyarakat luas sulit di ukur.

S.R. Brody : 5 (lima) dari 9 (sembilan)

penelitian menyatakan bahwa lamanya waktu

yang dijalani oleh seseorang di dalam penjara

tidak berpengaruh pada adanya

reconviction

atau penghukuman kembali.

(13)

HUKUM PIDANA BUKAN PANACEA

Wolf Middendorf

: tidak ada hubungan logis antara

kejahatan dengan lamanya pidana. Kita tidak dapat

mengetahui hubungan sesungguhnya antara sebab

dan akibat. Orang melakukan kejahatan dan mungkin

mengulanginya lagi tanpa hubungan dengan ada

tidaknya uu atau pidana yang dijatuhkan. Sarana

kontrol sosisal lainnya, seperti kekuasaan orang tua,

kebiasaan-kebiasaan atau agama mungkin dapat

mencegah perbuatan, yang sama efektifnya dengan

ketakutan orang pada pidana.

(Nawawi Arief: 1998)

(14)

HUKUM PIDANA BUKAN PANACEA

Diskusikanlah kasus perlakuan istimewa yang

diberikan kepada Artlita. Ia bisa menyulap ruang

tempat ia mendekam di LP Cipinang menjadi

ruang yang sangat nyaman bagaikan ruang hotel

berbintang. Bagaimana pula dengan Gayus yang

bebas berkeliaran dan berplesiran ke luar negeri

selama menjadi tahanan kasus penggelapan

pajak. Menurut anda apa yang harus dilakukan

untuk mencegah hal ini?

(15)

STRATEGI DAN/ATAU UPAYA

PENANGGULANGAN KORUPSI

PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI

2. Pencegahan Korupsi di Sektor Publik

4. Pengembangan dan Pembuatan berbagai Instrumen Hukum yang mendukung Pencegahan dan

Pemberantasan Korupsi

6. Kerjasama Internasional 5. Monitoring dana Evaluasi

Referensi

Dokumen terkait

Barda Nawawi Arief, Op.Cit, hal.. politik kriminal maka kebijakan hukum pidana identik dengan pengertian kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana. Kebijakan hukum

Barda Nawawi Arief, 1994, Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana.. pidana penjara dipandang paling layak untuk memberikan efek jera

Yang menjadi persoalannya bukan pada efektifitas dari pemidanaan terutama pidana penjara sebagaimana dijelaskan oleh Barda Nawawi Arief, bahwa yang penelitian-

Arief, Barda Nawawi, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996.. ………., Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan

Barda Nawawi Arief dan Muladi (1997) menyatakan bahwa hubungan antara penetapan sanksi pidana dan tujuan pemidanaan adalah titik penting dalam menentukan strategi perencanaan

Arief, Barda Nawawi, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007.. ---, Bunga Rampai

Barda Nawawi Arief menyimpulkan 11 a: Penentuan korporasi sebagai subjek tindak pidana hanya untuk tindak pidana tertentu, yang diatur dalam. undang- undang khusus;

Barda Nawawi Arief dan Muladi (1997) menyatakan bahwa hubungan antara penetapan sanksi pidana dan tujuan pemidanaan adalah titik penting dalam menentukan strategi