Review Mata Kuliah Politik di Eropa Barat Nama : Yanuar Priambodo
NPM : 0806322981
“Penanaman Nilai Ideologis Terhadap Pemisahan Dewan Ekonomi dan Sosial dalam
Badan Legislatif Prancis Terhadap Uni Eropa”
Perubahan format negara Prancis yang berpindah antara Republik dan Monarki (sekarang ini disebut dengan Republik Kelima), berdampak langsung pada labilnya institusi pemerintahan sebagai unit operasional negara. Konstitusi Republik Kelima ini berakar pada pemikiran Charles de Gaulle dan Michel Debre, yang dituangkan dalam act of June 3, 1958, sebagai Presiden dan Perdana Menteri Prancis pada masa awal Republik Kelima. Charles de Gaulle menginginkan sistem pemerintahan Prancis yang lebih rigid namun efektif dalam menjalankan perannya masing-masing. Maka dari itu, ada dua tema besar yang diusung dalam reformasi konstitusi pada masa awal Republik Kelima, yaitu pertama adalah rekonstruksi wewenang negara di bawah kepemimpinan eksekutif yang kuat. Kedua adalah kemunculan konsep rationalized parliament yang menginginkan parlemen dengan kemampuan politik dan kekuasaan yang terbatas.
Pada dasarnya kedua tema besar tersebut memang ingin menempatkan kekuatan dan kewenangan politik tertinggi pada Presiden. Perdana Menteri yang berada di bawah presiden, walaupun berada dalam satu kotak eksekutif Prancis, “hanya” diizinkan untuk menggalang koordinasi dan konsolidasi peranan lembaga dan institusi antara eksekutif, legislatif, dan yudisial. Hal ini berkaitan dengan argumen Michel Debre bahwa reformasi konstitusi dilakukan untuk merekonstruksi kekuatan negara. Charles de Gaulle juga menempatkan sistem pemerintahan sesuai dengan Trias Politica, yaitu dengan adanya pemisahan dan keseimbangan antara eksekutif, legislatif, dan yudisial.
spesialisasi badan konsultasi berwujud Dewan Ekonomi dan Sosial dalam lembaga legislatif yang diaplikasikan oleh de Gaulle.
Jika melihat struktur kelembagaan Prancis, ada hal yang menarik untuk dibahas yaitu keberadaan Conseil Economique et Sosial atau Dewan Ekonomi dan Sosial yang terpisah dari
National Assembly dan Senate di dalam lembaga legislatif. Penulis akan mencoba mambahas dan menelusuri alasan dan kepentingan strategis sistem pemerintahan Prancis yang menempatkan Dewan Ekonomi dan Sosial di luar dua unit utama di lembaga legislatif dan pengaruhnya terhadap posisi Prancis di Uni Eropa.
Perlu diketahui bahwa dalam azas demokrasi, kekuasaan politik berasal dari hak pilih mayoritas. Namun, karena meningkatnya pengaruh kelompok sosial ekonomi atau kelompok "Pendorong Kekuatan Ekonomi Nasional"1, seperti direktur perusahaan, karyawan, petani,
dan pengusaha, harus berkonsultasi mengenai kompetensi mereka dalam membantu perekonomian nasional dan bahwa pandangan mereka mengenai kemajuan kondisi sosio-ekonomi seharusnya diungkapkan dan diperhitungkan oleh lembaga legislatif karena hal ini dinilai sebagai salah satu aspirasi rakyat juga.
Mengingat pertimbangan-pertimbangan ini, Konstitusi telah memberdayakan Conseil Economique et Sosial sehingga dapat menjalankan peranan: 1) Sebuah majelis konstitusi yang benar-benar independen dari eksekutif dan parlemen; 2) Majelis perwakilan yang terdiri dari anggota yang ditunjuk oleh kelompok-kelompok sosial dan ekonomi nasional; dan 3) Berperan sebagai penasihat, yang mengeluarkan pendapat dan rekomendasi kepada pemerintah Perancis mengenai masalah-masalah ekonomi dan sosial.
Selama bertahun-tahun, gagasan representasi ekonomi dan sosial berlawanan dengan prinsip-prinsip yang dihasilkan dari Revolusi Perancis dan dari pasal 3 Deklarasi des Droits de l'Homme et du Citoyen (Bill of Rights Prancis)2, yang menyangkal individu dan hak
korporasi untuk melakukan segala bentuk otoritas tidak berasal dari kedaulatan nasional. Sekitar satu abad kemudian, sebuah doktrin baru muncul dan mendukung kepentingan individu yang perlu diperhitungkan di samping solidaritas yang dihasilkan oleh kepentingan ekonomi dan tenaga kerja. Lebih lanjut, Emmanuel Yusuf Sieyès pernah menyerukan
1 A.H. Hanson, Planning and the Politicians: Some Reflections on Economic Plannig in Western Europe, (London: International Review of Administrative Sciences, 2002), hlm 3-15
pembentukan majelis yang terdiri atas perwakilan dari seantero negara mengenai industri dan kondisi sosial, yang datang dari daerah pedesaan maupun perkotaan.
Pandangan ini diambil oleh beberapa pemikir abad-19. Pierre-Joseph Proud'hon mempertahankan argumennya bahwa tenaga kerja adalah pendorong utama kekuatan ekonomi dan ia mengembangkan sebuah filosofi berdasarkan keadilan sosial dan organisasi pekerja.3 Ketika prinsip keanggotaan serikat buruh secara resmi diakui, keterlibatan
organisasi sosial ekonomi dalam penyusunan kebijakan ekonomi dan sosial ditegakkan oleh sejumlah politisi dan diusulkan oleh Léon Jouhaux dalam konvensi di Lyon pada tahun 1919.
Menurut Gaulle dan Gaullist (kelompok pengikut pemikiran de Gaulle) Dewan Ekonomi dan Sosial harus memberikan prioritas pada penciptaan lapangan kerja. Membaiknya tingkat kesempatan kerja juga harus menyiratkan penyelesaian masalah sosio-ekonomi. Prioritas sosio-ekonomi harus diletakkan dalam masalah-masalah yang lebih luas seperti kemiskinan, perlindungan sosial, keadilan sosial dan distribusi pendapatan yang merata.
Sehubungan dengan prioritas ekonomi, perdagangan bebas adalah mekanisme dipilih untuk mempercepat pembangunan ekonomi di daerah, yang pada gilirannya akan mendapatkan keuntungan dari penciptaan peluang pasar yang lebih besar. Namun, kawasan perdagangan bebas telah berkembang di periode yang kurang tepat, karena tidak disesuaikan dengan situasi masing-masing untuk menghindari kerusakan jaringan ekonomi yang produktif dan masalah sosial yang serius.
Penulis berpendapat bahwa pemisahan Dewan Ekonomi dan Sosial di dewan legislatif Prancis adalah suatu strategi penguatan pemerintahan dalam mengurusi isu ekonomi dan sosial serta pusat koordinasi dan konsolidasi kondisi sosio-ekonomi nasional. Hebatnya lagi, pemisahan Dewan Ekonomi dan Sosial ini bukan hanya terkait dengan dimensi kelembagaan pemerintahan dan kondisi sosio-ekonomi nasional, tetapi juga posisi Prancis di tatanan global. Hal ini terlihat dari “ekspor nilai-nilai” ideologis dan filosofi peranan penting Dewan Ekonomi dan Sosial di Uni Eropa. Dewan Ekonomi dan Sosial tidak hanya menjalankan peran consultative and advisory, tetapi juga keseriusan Prancis untuk tidak mencampur-adukkan masalah ekonomi dan sosial dalam legislatif. Pemeritah Prancis mempercayai bahwa
sistem yang mereka jalankan ini, sejak awal kemunculan Republik Kelima, adalah sistem yang paling benar dan menguntungkan bagi masa depan Prancis dan Eropa.
Prancis sebagai negara kuat di Eropa Barat, bersama-sama Inggris dan Jerman adalah poros penting dalam kebijakan Uni Eropa. Rivalitas ketiga negara maju ini ditandai dengan agenda-agenda dan kepentingan nasional yang mencolok di Uni Eropa. Selama ini Prancis sebagai salah satu negara kuat, memiliki ekonomi yang tertutup (proteksionisme). Prancis lebih mengedepankan kesejahteraan nasional ketimbang meleburkan diri ke dalam perekonomian global yang kental dengan kapitalisme dan moral hazard-nya.
Sejauh ini Prancis memiliki tiga nilai penting yang diangkat ke tataran Uni Eropa, pertama adalah kepentingan sosial dan budaya. Disini Prancis berusaha untuk mengedepankan pentingnya kesejahteraan bagi negara-negara Uni Eropa lainnya. Nilai kedua adalah ekonomi, yaitu berkaitan dengan promosi ekonomi yang tertutup dengan cara melipatgandakan ekspor dan meminimalkan impor, serta integrasi supranasional dengan Uni Eropa. Ketiga adalah nilai keamanan, yaitu berkaitan dengan penekanan kapabilitas militer yang mandiri (non-Americanisation). Dua poin awal adalah potret kepentingan nasional Prancis dalam Uni Eropa dan salah satu strategi persuasif untuk mendapatkan perhatian negara Uni Eropa lainnya. Berawal dari pendirian Dewan Ekonomi dan Sosial, ternyata nilai ideologisnya mampu dibawa hingga ke level supranasional yaitu uni Eropa. Sejauh ini, kepemimpinan Uni Eropa memang masih tarik menarik antara Prancis-Inggris-jerman, namun nilai-nilai ideologi Prancis mampu diselipkan dalam agenda besar Uni Eropa, contohnya adalah European Economic and Social Council.