• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Pemikiran Agama dan Politik Said

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Pemikiran Agama dan Politik Said"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN PEMBAHARUAN AGAMA DAN SOSIAL

BADIUZZAMAN SAID NURSI

DAN CRITICAL REVIEW BUKU “THE HISTORY OF ISLAMIC

POLITICAL THOUGHT” KARYA ANTONY BLACK

oleh

Rose Familia Octaviani

1306345365

Dosen Pengajar:

Dr. Abdul Muta’ali

UNIVERSITAS INDONESIA

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI KAJIAN TIMUR TENGAH DAN ISLAM

POLITIK HUBUNGAN INTERNASIONAL TIMUR TENGAH

JAKARTA

2014

1. PENDAHULUAN

(2)

menyadari faktor utama ketertinggalan Islam dibandingkan Barat adalah kemundurannya di bidang teknologi dan intelektual, yang selama berabad-abad melemah dengan adanya pemikiran yang asing—dimana menurutnya ancaman tersebut hadir dalam bentuk filosofi materialisme. Bahaya terbesar itu kemudian menyelusup kedalam iman umat Islam. Dalam pandangan Nursi, mengobati penyakit iman dengan memperkuat dan memperbaharui iman melalui metode-metode baru merupakan perjuangan teratas untuk merekonstruksi kemunduran yang diderita Islam1.

Demi mencapai tujuan tersebut, Nursi berusaha mengembalikan pandangan hidup umat Islam kembali bersandarkan kepada Al-Qur’an, melawan Westernisasi dan Sekulerisasi yang meruak setelah berdirinya Republik Turki tahun 1923. Meskipun tulisan-tulisan Nursi yang dikenal dengan Risalah An-Nur berisikan ajaran-ajaran Islam fundamental yang menyanggah prinsip-prinsip dasar materialisme, namun metode yang ia rancang semenjak tahun 1950, kebanyakan terimplementasi dalam sistem sekuler Turki. Pemikirannya dalam Risalah An-Nur terus populer bagi generasi-generasi setelahnya serta dikaji dengan antusias. Begitupula gerakan Nursiyyah yang tumbuh mengikuti ajaran Risalah An-Nur menjadi salah satu gerakan agama terbesar di Turki dan juga gerakan politik dalam Republik itu2.

Tulisan ini akan membahas kedua ranah pemikiran Said Nursi yang ditujukan untuk pembaharuan agama dan politik di Turki. Kedua ranah pemikirannya ini saling berkaitan menimbang usaha gerakan politiknya bergerak berdasarkan motivasi agama. Untuk menambah pemahamannya di kedua ranah pemikiran ini, penulis menganggap penting membahas usahanya dalam era-era awal kehidupannya di masa menjelang keruntuhan Turki Utsmani.

1 Sukran Vahide. 2006. Bediuzzaman Said Nursi’s Approach to Religious Renewal and Its Impact on Aspects of Contemporary Turkish Society. Essai bab 3 dari buku

The Blackwell Companion to Contemporary Islamic Thought oleh Ibrahim M. Abu Rabi’. Blackwell Reference Online, h. 55

(3)

Sejak dirinya muda, Badiuzzaman Said Nursi telah berambisi mengembalikan kejayaan Islam sebagai “master of sciences”, penguasa ilmu pengetahuan, sekaligus pionir dalam berbagai bidang ilmu dan teknologi, karena dirinya begitu yakin bahwa Islam-lah sumber sejati kemajuan peradaban manusia. Realisasi dari ambisi ini terlihat dari langkahnya membangun dan mereformasi pendidikan. Pada awalnya ia memfokuskan diri untuk memahami ilmu kalam (Teologi), sebagai pertahanan utama melawan skeptisisme rasionalis. Berikutnya adalah ilmu Tafsir Qur’an sebagai sumber prinsip-prinsip keimanan Islam. Pendidikan formal Nursi minim, namun ia memiliki banyak pengalaman belajar dari madrasah agama maupun madrasah sains, dan uniknya lagi, ia juga giat mendalami ilmu Fisika dan Matematika3. Ia berkata:

“Ilmu-ilmu agama adalah cahaya kesadaran; ilmu-lmu peradaban adalah cahaya intelektual. Kebenaran termanifestasi dari kombinasi keduanya. Aspirasi para penuntut ilmu haruslah merangkul kedua ilmu itu. Ketika keduanya terpisah, hasilnya adalah kepicikan disatu sisi dan skeptisisme disisi lain”4

Dalam hidupnya, ia juga seorang politisi. Terlibat dengan usaha politik untuk mewujudkan pemerintahan konstitusi selama tiga-empat tahun setelah Revolusi Konstitusional tahun 1908. Selama tahun-tahun itu, beliau banyak menghabiskan waktu di Istanbul, menganalisa isu-isu yang ada di Timur Tengah sambil mengumpulkan dukungan atas proyeknya (termasuk proyek pendirian Madrasah Al-Zahra). Ia menyaksikan perdebatan-perdebatan seputar isu-isu sosial politik terbaru. Terdapat sejumlah pendukung materialisme dan postivisme yang mengikuti perdebatan-perdebatan itu—namun Nursi tidak ambil bagian. Meskipun dalam tulisannya ia sering mengkritisi pemikiran materialisme demi membantah keraguan mereka akan Al-Qur’an dan masalah keimanan. Karena ia

3 Sukran Vahide, h. 56

(4)

sering terlibat dengan debat-debat ini, ia familiar dengan pemikiran liberal akan konstitusionalisme dan postivisme5.

Nursi mendukung perjuangan kemerdekaan Turki dan diundang ke Ankara oleh pemerintah nasional. Ia akhirnya sampai pada waktu sekitar kemenangan Turki pada Oktober 1922. Ia ditawari beragam posisi keagamaan di Provinsi Timur oleh Mustafa Kemal yang bermaksud memanfaatkan pengaruh Nursi. Nursi, bagaimanapun juga, menolak tawaran Kemal Pasha disebabkan oleh tabrakan pemikirannya dengan Bapak Pendiri Turki modern itu. Kemal Pasha yang berkiblat kepada sekulerisme sebagai landasan konstitusi negara tidak sesuai dengan cita-cita Said Nursi yang hendak menjadikan Turki sebagai pusat peradaban Islam. Pada akhirnya ia berkesimpulan, menjadi oposisi politik tidak akan membawanya kemanapun. Maka ia melepaskan semua keterlibatan dengan kegiatan politik lalu kembali ke Van dimana ia menghabiskan waktu untuk menyendiri6.

Pada Maret 1925 pasca pemberontakan Sheikh Said yang bertujuan untuk mengembalikan kekhalifahan Islam dan nasionalisme Kurdi, ia dikirim ke pengasingan beserta ratusan pemuka agama lainnya ke daerah Barat Anatolia setelah dituduh oleh pemerintah mendukung pemberontakan itu. Pemerintah menjatuhkan hukuman pengasingan dan penjara kepadanya berikut pengikut beliau. Dibawah kondisi seperti inilah, Said Nursi menulis Risalah An-Nur— kumpulan penjelasan ayat-ayat Qur’an yang bertujuan untuk menandingi asumsi dasar filosofi Positivisme, salah satu filosofi yang menjadi dasar negara Republik Turki7.

5 Niyazi Berkes. 1998. The Development of Secularism in Turkey, New York: Routledge, h. 347

(5)

Tujuan Mustafa Kemal Pasha tak lain adalah mewujudkan transformasi kearah peradaban Barat dalam bentuk negara modern dari sisa-sisa Dinasti Turki Utsmani8. Sebauh proyek yang membutuhkan adanya modernisasi radikal,

Westernisasi, dan sekulerisasi Turki. Proses modernisasi ini dikenal sebagai Tanzimat (1839-1876) yaitu reformasi yang mencakup berbagai bidang seperti birokrasi, reformasi pendidikan, dan militer dimana dalam perjalanannya juga mengurangi pengaruh hukum-hukum syari’ah Islam. Namun, terlepas dari perubahan besar-besaran ini, budaya, karakter, dan identitas populasi Muslim Turki masa itu tidak tersentuh. Setelah keberhasilan penggulingan Sultan pada 1 November 1922 dan kemudian menyusul kekhalifahan Turki Utsmani pada 3 Maret 1924, usaha Mustafa Kemal Pasha berfokus pada reformasi institusi budaya dan sosial yang berujung pada penghilangan atribut-atribut Islam. Sebagai tambahan, Kemal Pasha berusaha mereformasi sistem pendidikan nasional yang berdasarkan pada prinsip universal, humanis, sekuler, dan positivis dalam 6 Prinsip Kemalisme9. Niat sejatinya adalah untuk menghapuskan semua identitas

keagamaan dan menciptakan identitas negara yang baru, identitas Nasionalis.

2. Revitalisasi Iman dan Pembaharuan Agama

Dalam pembahasan mengenai pemikiran politik Badiuzzaman Said Nursi, tentu saja tidak terlepas dari ranah pemikiran agamanya. Ia adalah seorang ulama Islam dimana buah pikirannya banyak terpengaruh oleh pemikiran Sunni yang berkaitan dengan prinsip-prinsip teologis dengan mengutip argumen-argumen dari Mu’tazilah dan Jabariyyah10. Jika dilihat dari sini, dapat kita simpulkan

pemikirannya tidaklah orisinal. Kontribusi utamanya, revitalisasi iman, sekilas terdengar inovatif namun sebenarnya banyak mendapatkan pengaruh dari pemikiran-pemikiran terdahulu, termasuk adanya pengaruh modern dalam pembahasan tentang sains dan akal. Terlihat dari penjelasannya untuk

8 Niyazi Berkez, Development of Secularism in Turkey, h. 464

(6)

membuktikan mukjizat Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan. Ia mengakui, untuk mengalahkan para filsuf materialis adalah dengan menggunakan ‘senjata mereka sendiri’, yang mungkin mengacu pada metode rasionalis, namun gagal11.

Elemen utama metode ajaran Nursi adalah pemikiran reflektif (tafakkur) dalam merenungi makhluk ciptaan dan alam semesta melalui kacamata Qur’an. Membaca tanda-tanda kekuasaan Pencipta yang berada di alam. Ini kontradiktif terhadap filosofi sains materialistis. Metode tafakkur ini ditempuh melalui cara “argumentasi deduktif dalam bentuk bukti-bukti”12. Makhluq (ciptaan) adalah

bukti nyata keberadaan Tuhan. Dengan cara ini, Nursi menawarkan berbagai penjelasan yang membuktikan adanya pencipta, kebangkitan Hari Akhir, dan rukun-rukun Iman lainnya.

Ketika ia berada dalam pengasingan dan memulai penulisan Risalah An-Nur, beliau memperluas metode penjelasan Tafsirnya dengan cara alegori (perumpamaan). Seperti ia mengumpamakan Al-Qur’an seperti “teleskop” yang bermanfaat untuk memperjelas pandangan kita akan “kebenaran yang jauh” dan sulit terjangkau akal13. Nursi seringkali menggunakan cara ini untuk

menggambarkan superioritas Al Qur’an dan ajarannya dengan “filsafat”. Sesuai dengan ucapannya yang terkenal; “akan saya buktikan dan tunjukkan pada dunia bahwa Al-Qur’an adalah matahari yang tidak akan mati!”14

Usaha Nursi dalam menafsirkan Qur’an dalam Risalah An-Nur dikenal akan kombinasi pendekatannya lewat berbagai jenis disiplin ilmu. Tujuannya adalah membangkitkan kembali keimanan melalui metode pengajaran baru yang sesuai

11 Nursi mengatakan “pintu ijtihad “ itu terbuka kecuali dalam kondisi darurat dimana Islam diserang oleh adat Eropa dan berbagai penemuan modern, maka ijtihad harus ditutup segera. Lihat chapter Risale-I Nur “The Words” terjemahan Inggris oleh Sizler Yayinevi. 1993. The Words. Sizler Publications, h. 496

12 Badiuzzaman Said Nursi, Mesnevi-I Nuriye. 1998. Terjemahan Inggris oleh Abdulkadir Badili, h.236

13 Said Nursi, Risale-I Nur, terjemahan Inggris oleh Sukran Vahide (The Rays Collection) bab Letters. 2002. Istanbul: Sozler Publications, h.443-444

(7)

dengan kondisi dunia abad ke-20. Sebagai hasil karya yang populer, Risalah An-Nur memiliki fungsi sebagai tafsir (interpretasi Al-Qur’an) sekaligus juga sebagai karya Ilmu Mantiq, Aqidah, Ushuluddin, dan Ilmu Kalam. Nursi sendiri menyebutnya “karya ilmu Kalam”15 dan selalu disebut-sebut sebagai pembaharu

di bidang tersebut. Ia menganggap karyanya ditujukan untuk jiwa manusia disamping akal manusia, sehingga bisa dikatakan Nursi bermaksud untuk meyajikan fungsi tasawuf (Sufisme) dalam karyanya dengan beliau mengutip perkataan Shaikh Ahmad Sirhindi (tokoh aliran Naqsabandiyah); “Titik akhir semua jalan Sufi adalah mengklarifikasi serta menyingkap kebenaran iman”16.

Namun meski karyanya memiliki fungsi yang sama dengan Sufisme, ia menyangkal adanya kaitan dengan aliran Sufi apapun, meski pemerintah kerap menuduh beliau menciptakan tarikat Sufi baru. Nursi tidak melawan Sufisme, namun ia menyatakan Sufisme tidak sesuai dengan zaman modern karena ia tidak cukup untuk memberikan respon yang tepat dalam mendebat filsafat materialisme dan sains modern17.

Selain itu, ia dikenal menggunakan bantuan sains modern dalam menafsirkan ayat-ayat Qur’an. Ia mengatakan “sains menjadi pengetahuan Tuhan”18. Seperti

dalam contoh berikut ketika ia menjelaskan proses alam yang membuktikan “kebenaran iman Islam”:

“Seakan tiap partikel materi memiliki kesadaran akan tugasnya masing-masing…. taat dengan komando yang dijalankan lewat udara. Membantu semua hewan bernapas dan hidup, membantu semua tumbuhan untuk melakukan penyerbukan serta menyediakan semua kebutuhan mereka agar bertahan hidup. Udara yang bergerak dapat menggerakkan awan, melayarkan perahu-perahu, memungkinkan kita mendengar suara, termasuk komunikasi nirkabel seperti telegraf, radio, dan berbagai alat lainnya. Maka atom-atom ini, atom sederhana

15 Lihat Nursi, Emirdag Lahikast, Istanbul: Envar Nesriyat, 1992, h.90 16 Nursi, Letters, h. 40

17 Lihat Nursi, Letters, h. 388-389 untuk membandingkan metode Risalah An-Nur miliknya dengan Ilmu Kalam dan Sufisme.

(8)

yang tersusun atas hidrogen dan oksigen, eksis dalam berbagai bentuk disemua belahan dunia. Saya simpulkan dari cara mereka berfungsi tidak lain adalah bukti adanya hand of wisdom (Tuhan)19”.

Ada banyak sekali dalam Risalah An-Nur Nursi berbagai contoh bagaimana beliau menggambarkan (mengumpamakan) alam semesta dengan pandangan Newtonian atau gambaran mekanis seperti “mesin”, “pabrik”, atau “jam” yang tersusun atas banyak unsur. Tujuan utama Nursi disini sangatlah edukatif, dengan memperbarui tafsiran Al-Qur’an dengan mendemonstrasikan betapa sains modern dapat membuktikan kebenaran agama, bukannya malah menafikannya. Lebih jauh lagi, terlihat usahanya untuk menyingkirkan benturan antara agama dengan sains yang mengundang keraguan serta merendahkan Islam, ini berbeda dengan pandangan Barat yang memisahkan antara akal dan jiwa, sains dan agama, dan seterusnya. Nursi berusaha menyajikan kesatuan epistemologi, sebuah hubungan organik harmonis antara berbagai kategori sains dengan seni, etika, dan iman20.

Ini juga merupakan sebuah prinsip yang mendasari hubungan harmonis antara manusia, masyarakat, peradaban, dan alam semesta seperti yang diajarkan Qur’an dengan hasil pemikiran manusia, Filsafat. Usaha Nursi dalam magnum opus-nya tidak terlepas dari ilustrasi gambaran antara kedua hal tersebut.

3. Usaha Politik Said Nursi Dalam Gerakkan Nursiyyah

Pada bagian tulisan ini, fokus akan ditujukan kepada usaha-usaha politik Said Nursi yang merupakan hasil refleksi pemikiran-pemikiran sebelumnya. Diskusi ini akan penulis batasi untuk membahas kegiatan utama gerakan Nursiyyah beserta paham yang dijadikan sandaran gerakan ini.

19 Nursi, Rays, h. 133

(9)

Karakteristik yang cukup unik dari Gerakan Nursiyyah (Nurcu Movement) ini adalah pengikutnya yang lebih mengacu kepada tulisan-tulisan karya pendirinya daripada karisma Badiuzzaman sendiri. Ini dapat dianggap sebagai transformasi dari cara tradisional Sufisme dimana ‘shaikh’ atau sosok agamawan adalah acuan sebuah gerakan/tarikat menjadi gerakan yang pengembangannya dilakukan oleh berbagai grup Islam secara umum. Para pengikut Nursiyyah adalah pionir tranformasi ini21. Aspek ini membuat Gerakan Nursiyyah mampu terus bertahan

dalam melakukan revitalisasi gerakan Islam di Turki pada akhir abad ke-20, bahkan hingga sekarang setelah sosok Badiuzzaman sendiri telah tiada.

Sebagai sebuah gerakan pembaharuan agama, gerakan ini berorientasi pada teks Risalah An Nur. Namun orientasi ini memang pilihan Said Nursi sendiri. Karena beliau selalu menekankan bahwa dirinya juga seorang murid Risalah An-Nur seperti murid lainnya, para Pengikut Cahaya (sebutan untuk anggota gerakan Nursiyyah). Salah satu alasannya adalah ia tidak ingin menodai kesakralan Qur’an dan mengalihkan ajarannya kepada sosok dirinya sendiri22. Risalah

An-Nur adalah raison d’etre gerakan ini, dimana karya itu disusun oleh pengikut Nursiyyah dalam kondisi yang memprihatinkan, pemenjaraan massal (mass imprisonment) di masa-masa awal berdirinya Republik sekuler Turki. Angka pengikut gerakan Nursiyyah tetap bertambah dalam situasi tersebut sebagaimana menyebarnya tulisan-tulisan Nursi. Wanita dan anak-anak sama giatnya berpartisipasi menyebarkan “cahaya Qur’an” meskipun saat itu tingkat buta hurug di Turki sangat tinggi. Maka dalam proses penyebaran itu, Risalah An-Nur tak diragukan ikut menjaga eksistensi teks dalam bahasa Arab (yang dilarang pada akhir tahun 1928) selain meningkatkan level melek huruf sejumlah besar manusia23.

Konsep utama pemikiran Said Nursi adalah bagaimana iman dan ajaran Qur’an secara efektif tertanam dalam masyarakat kontemporer dalam bentuk

21 Hakan Yavuz, Islamic Political Identity in Turkey, h. 327-328 22 Sukran Vahide, h. 10

(10)

sahs-I manevi atau kepribadian kolektif24. Menurut Nursi zaman modern adalah

masa kolektivitas sosial (lawan dari konsep individualisme) yang terdiri atas sejumlah personalitas. Konsep kolektivisme ini dapat membangkitkan semangat individu-individu didalamnya dan lebih efektif dan powerful dibandingkan mewakili pemikiran satu individu saja dengan menyamakan seluruh pemikiran individu tersebut daripada hanya mengikuti satu sosok tertentu. Karena satu tokoh (figur) lebih mudah dikalahkan oleh “penyelewengan yang dilakukan oleh kepribadian kolektif agresif”25. Maka, strategi utama Nursi adalah mengajarkan

para pengikut Nursiyyah pentingnya konsep kolektivisme tersebut sambil memandu mereka dengan ajaran-ajaran moral yang mendukung konsepnya. Dengan pemikiran yang tertuang dalam Risalah An-Nur yang menafikan ego individu dan merubah kata “saya” menjadi “kami”, dengan demikian Said Nursi berhasil menghancurkan individualisme menjadi kolektivisme yang bersandarkan Risalah An-Nur. Ia berkata: “…agar memiliki kolam luas, dimana blok-blok es ego dan individualisme tercebur dan meleleh bersama didalamnya”26. Ide

kolektivisme ini agar terwujud membutuhkan keikhlasan yang tidak mengharap apapun kecuali keridhaan Tuhan dalam setiap perbuatan mereka dan mendahulukan kepentingan saudara sesama muslim dibandingkan kepentingan pribadi.

Konsep Kolektivisme yang dipakai oleh Said Nursi seperti yang telah disampaikan, memiliki pengaruh dari pemikiran JJ Rousseau. Solusi yang ditawarkan oleh Rousseau adalah dengan sebuah entitas yang ia namakan “sovereign” (kedaulatan, kekuasaan). Sovereign ini terbentuk atas anggota-anggota individu sebuah masyarakat (society) yang mengikuti satu otoritas dalam

24 Konsep dari kepribadian kolektif ini dikenalkan oleh Namuk Kemal yang

mengambilnya dari Jean Jacques Rousseau. Lihat Serif Mardin. 2000. The Genesis of Young Ottoman Thought, Syracuse: Syracuse University Press, h. 333-334. Nursi mengadopsi ide ini ketika muda bersama Namuk Kemal (tokoh gerakan Utsmani Muda) meskipun pemikiran Rousseau tersebut tidak melibatkan peranan syariah.

25 Said Nursi, Mesnevi-I Nuriye, terjemahan bahasa Inggris oleh Abdulmecid Nursi. 1994. Istanbul: Envar Nesriyat, h. 102

(11)

membentuk hukum, yaitu “general will” atau keinginan bersama masyarakat— yang bisa diterjemahkan menjadi negara (state). Karena sovereign itu terbentuk dari individu-individu, Rousseau menyatakan kedaulatan (sovereign) itu tidak terlepas dari keinginan para individu didalamnya27. Namun, tujuan fundamental

yang ia maksud, bagaimanapun juga (sama seperti Said Nursi) adalah eliminasi manusia egosentris—individualisme. Kolektivisme sovereign seharusnya melampaui keinginan pribadi semua individu yang direduksi menjadi “kekuatan universal untuk menggerakkan dan menyusun tiap individu dengan cara yang paling sesuai bagi mereka”28, sepanjang keputusan itu sendiri adalah common

interest dan semua anggota sovereign terikat oleh hukum yang sama, maka Rousseau menilai hukum itu valid29. J.J Rousseau mendeklarasikan bahwa

egosentrisme itu sangat berbahaya bagi umat manusia secara keseluruhan—maka ia berkata “siapapun yang menolak untuk taat kepada keinginan bersama (general will) maka ia dibatasi melakukannya oleh satu tubuh masyarakat yang artinya ia terpaksa harus bebas berbuat sendirian”30. Ia meyakini jika semua individu saling

bergantung satu sama lain, maka tidak mungkin terbersit niat untuk menjatuhkan sesamanya, karena artinya itu akan menjatuhkan diri sendiri sebagai satu tubuh.

Said Nursi menambahkan pemikirannya sendiri kedalam pemahaman Kolektivisme sovereign yaitu ridha dari Tuhan dalam bentuk taqwa sebagai

common interest. Rasa takut pada Tuhan dan amal shaleh haruslah menjadi dasar semua perbuatan dan keinginan bersama sebuah masyarakat. Dengan menghindari dosa dan berbuat dalam batasan-batasan sah Syari’ah. Fungsi inilah yang merupakan inti ajaran Risalah An-Nur walaupun ia tidak menjelaskannya secara detail. Maka pengaruh yang hendak gerakan Nursiyyah tawarkan pada masyarakat Turki adalah reformasi masyarakat melalui reformasi individu31.

27 Jean Jacques Rousseau, On The Social Contract with Geneva manuscript and Political Economy, terjemahan Inggris oleh Judith R. Masters. 1978. New York: St. Martin’s Press, h. 55

28 Ibid, h. 62 29 Ibid. h. 62-63 30 Ibid, h. 55

(12)

Berlawanan dengan pandangan yang mengatakan bahwa masyarakat terbentuk atas individu-individu tanpa jiwa seperti “atom tak bernyawa”, beliau mengikuti pandangannya sendiri dalam Risalah An-Nur bahwa alam semesta bekerja dengan adanya hukum Tuhan yang mengatur tiap partikel/atom. Tiap partikel dan atom memiliki nilai berharga sebagaimana kategori ayah, ibu, anak, lansia, pemuda, yang sehat, dan sakit akan dilayani dengan etika yang sama32. Individu barulah

berfungsi jika ia telah berubah fungsinya menjadi masyarakat dan berkepribadian kolektif (dalam hal ini terbentuk oleh falsafah hidup Qur’ani).

Maka dapat dikatakan gerakan Nursiyyah Said Nursi melalui Risalah An-Nur berniat untuk membuktikan kebenaran iman Islam dan Al-Qur’an dan dapat digunakan untuk melawan kekuatan merusak yang dilepaskan oleh modernisasi. Yaitu terlihat dari tujuan paham liberalisme dalam reformasi pendidikan Turki sekuler: “pembebasan individu dari batasan kolektif komunitas Muslim” dan “mengganti ikatan personal tadi dengan peraturan yang meniadakan batasan kontrol33” serta mengganti etika Islami dengan etika positivisme.

Ketakutan Nursi, terutama dengan bangkitnya Komunisme, adalah jika muncul pelanggaran norma-norma Islami yang mengarah pada kemunduran moral dan anarkisme, karena, ia berargumen “Muslim itu tidak seperti kaum lain, jika para muslim melepaskan agama dan menjauhkan diri dari karakter Islami, mereka akan jatuh dalam lembah kesesatan, menjadi anarkis, dan tidak bisa lagi diatur”. Meskipun tugas Nursi dan para pengikutnya adalah menyelamatkan iman para umat Islam dengan revitalisasi keimanan, namun tugas kedua mereka adalah “menyelamatkan negara ini (Turki) dari bahaya anarkisme”34.

Berkali-kali Said Nursi menegaskan fungsi Risalah An-Nur, termasuk ketika ia berhadapan dengan pengadilan atas tuduhan pemberontakan, adalah bahwasanya dengan memperkuat 5 prinsip dari “respek, kasih sayang,

32 Sukran Vahide, h. 11

(13)

menghindari yang haram, keamanan, dan taat pada ulil amri” dapat menciptakan suasana keteraturan negara dan menyelamatkan masyarakat dari anarkisme35. Ia

lalu menambahkan pemerintah seharusnya sadar negara Turki membutuhkan Risalah An-Nur, bukan sebaliknya Risalah An-Nur membutuhkan negara36. Ini

mengimplikasikan Badiuzzaman Said Nursi—seperti yang telah dikatakan sebelumnya—tidak berniat menciptakan negara baru namun bercita-cita menjadikan Risalah An-Nur sebagai falsafah negara sebagaimana Pancasila menjadi falsafah negara Republik Indonesia. Ini tidak serupa dengan usaha mendirikan sebuah kedaulatan negara Islam yang sistematis seperti yang disarankan oleh konsep Khilafah milik Taqiyuddin An-Nabhani. Dalam konteks pemikiran Hasan Al-Banna, Said Nursi memang menginginkan adanya hubungan erat ukhuwwah Islamiyyah yang tercermin lewat strategi Kolektivisme-nya yang mengedepankan gerakan kebersamaan (solidaritas) antar muslim. Dibandingkan dengan Hizbut Tahrir, Gerakan Nursiyyah memiliki lebih banyak kesamaan dengan Ikhwanul Muslimin.

Kenyataannya memang Said Nursi menaruh perhatian besar kepada gerakan Ikhwanul Muslimin. Nursiyyah dan IM diekspresikan oelh Badiuzzaman Said Nursi dengan cara yang spesial, beliau berkata: “…keduanya adalah kebetulan yang mutual dan 2 komunitas yang bersahabat”37. Dapat dipahami dari

perkataannya bahwa kedua gerakan ini ia melihat adanya kesamaan kedua gerakan ini dan adanya rasa respek terhadap IM.

Kedua gerakan lahir seperti dua saudara kembar. Musim semi tahun1928, bagian pertama karya Risalah An-Nur berhasil dikumpulkan disuatu tempat di Anatolia dan murid-murid Nursi baru mulai berkumpul bersama, disaat bersamaan, Ikhwanul Muslimin muncul di Mesir. Baik Said Nursi maupun Hasan Al-Banna sama-sama melihat adanya problem yang mengancam nilai-nilai keislaman. Sebagaimana Said Nursi yang berjuang menyelamatkan iman umat

35 Said Nursi, A Guide of Youth, h. 137 dan 241 36 Ibid, h. 241

(14)

Islam, Hasan Al-Banna melakukan dakwah dari lingkaran-lingkaran kecil; individu (lewat kafe-ke-kafe), keluarga (usroh) lalu menuju lingkaran yang lebih besar yaitu masyarakat38.

Represi agama oleh Republik sekuler Turki terus berlanjut sampai munculnya kekuatan baru Partai Demokrat pada pemilu tahun 1950, dengan dimulainya sistem multi partai. Setelah PD II berakhir, pemerintah nampak memberikan kelonggaran kepada para pemeluk agama. Dominasi USSR di Eropa Timur dan ajakan perang di Selat Istanbul—yang dapat dipandang sebagai penyebaran pengaruh Komunis di Timur Tengah—membantu Turki mengikuti aliansi Barat yang kini dipimpin oleh Amerika Serikat39. Perjuangan tanpa lelah Badiuzzaman berakibat kepada

kemunduran kesehatan beliau, dampak dari 20 bulan penyekapan penjara di Ayfon (1948-1949). Nursi menjadi tersangka utama dalam tiga pengadilan mayor yang berujung pada pemenjaraan masal bersama pengikut beliau. Dalam setiap pengadilan, tuduhan yang sama selalu ditimpakan kepada beliau: mendirikan organisasi politik rahasia, menjalankan tarikat Sufi baru, terlibat dalam berbagai kegiatan yang “bisa jadi” mengganggu ketertiban publik, serta eksploitasi agama demi mencapai tujuan politik40 dan seterusnya. Namun Nursi selalu dengan cerdik menyangkal

tuduhan-tuduhan itu. Lebih jauh lagi, semua bentuk perlakuan tak adil yang demikian memberikan pengaruh kepada para Pengikut Cahaya latihan disiplin, jihad, dan pengorbanan untuk meraih cita-cita mereka bersama.

Interpretasi Nursi akan pemahaman istilah ‘Sekularisme’ adalah bahwasanya konsep tersebut berusaha menghapuskan agama karena dianggap sebagai batu penghalang utama atau setidaknya menghapus dominasi agama dari negara sepenuhnya. Namun kemudian di pengadilan, Said Nursi selalu menyangkal tuduhan yang mengatakan dirinya melanggar prinsip-prinsip sekulerisme. Ia berargumen “freedom of conscience (kebebasan berpikir dari berbagai paksaan pengaruh)

38 Umit Simsek, Islam Aleminin Ikiz Kardeslri, artikel online diterjemahkan ke bahasa Inggris berjudul Twin Brothers of the Muslim World, artikel diakses pada 2 Juni 2014 dari http://www.malaysianur.com/twin-brothers-of-the-muslim-world/

39 Sukran Vahide, h. 12

(15)

mengatur berbagai aspek kehidupan di era penuh kebebasan ini”41 dan melanjutkan

berdasarkan pernyataannya, “sekularisme berarti ‘pemisahan’ agama dan negara… dengan demikian pemerintah seharusnya tidak turut campur mempengaruhi pikiran orang-orang saleh yang beriman begitupula pikiran orang-orang non-agamis”42.

Said Nursi pada akhir-akhir masa hidupnya semakin menjauhkan diri dari kancah politik Republik. Beliau berkata. “iman yang suci dan dedikasi sakral kepada Risale-I Nur tidak boleh menjadi alat untuk apapun…. Dan tidak bertujuan mencapai apapun kecuali ridha Tuhan semata43”. Keterlibatan politik maka akan

mengarahkannya kepada kemunduran, eksploitasi, dan pengkhianatan akan kebenaran Qur’an44. Menurutnya juga, di zaman ketika banyak manusia terekspos oleh kesesatan

sains, umat Islam membutuhkan “cahaya Qur’an” sehingga kalbu mereka tersembuhkan dan iman mereka terselamatkan. Jika berkonfrontasi dengan kubu-kubu politik, umat akan merasa takut bahkan ragu. Mereka harus ditunjukkan kepada cahaya yang akan membimbing mereka45.

Pada akhirnya semua aksi-aksi positif komunitas gerakan Nursiyyah dan usahanya untuk memperkuat masyarakat dihadapan wajah “kehancuran agama” dan dukungan Nursiyyah kepada Partai Demokrat mendapatkan sambutan baik dari pemerintah. Seperti yang dikatakan oleh salah satu sejahrawan, dengan memberikan dukungan nyata, Demokrat secara implisit melegitimasi gerakan tersebut46. Itu

merupakan suatu kemenangan besar bagi Badiuzzaman Said Nursi, buah usaha tanpa hentinya selama 30 tahun kesabaran, perjuangan diam-diam, dan jihad suci murid-muridnya. Meskipun para pengikutnya masih menjadi subjek penyergapan polisi militer pemerintah dan harus beraksi hati-hati, mereka diperbolehkan dengan bebas menerbitkan Risalah An-Nur. Untuk pertama kalinya, chapter-chapter Risalah An-Nur dicetak lewat percetakan modern. Gerakan Nursiyyah tidak lagi ditekan dan

pusat-41 Nursi, Letters, h. 503 42 Nursi, Rays, 386

43 Nursi, Emirdag Lahikasi, I 38-39

44 Nursi, A Guide of Youth, h. 117-118 dan 146 45 Ibid, Letters, 68-70

(16)

pusat studi Nursi (dershanes) dibuka diseluruh penjuru negeri. Nursi juga mendorong murid-muridnya untuk mengubah rumah-rumah mereka menjadi “madrasah rumah”, menyempatkan waktu untuk mengkaji Risalah An Nur, sumber utama ideologi Nursiyyah47. Dekade-dekade setelah beliau wafat, pengaruh Nursi masih terasa

hingga kini dalam republik Turki, seperti gerakan Gulen yang diprakarsai oleh Fethullah Gulen48.

4. KESIMPULAN

Perjuangan mulia Badiuzzaman Said Nursi dalam pembaharuan agama diarahkan pada revitalisasi iman berdasarkan 6 rukun Iman yang fundamental. Menurutnya, melalui revitalisasi ini, umat Islam dapat berdiri tegak melawan gempuran pemikiran materialisme Barat yang merusak nilai-nilai moral Islam. Dengan menjadikan Risalah An-Nur poros gerakan Nursiyyah, ia berharap dengan demikian memperkuat rasa persatuan umat Islam melalui strategi kepribadian kolektifnya yang terinspirasi dari gerakan politik Utsmani Muda. Sebuah konsep kolektivisme, melawan individualisme, yang aksi-aksinya lebih dilakukan oleh pengikut Nursi tanpa bermaksud menggulingkan pemerintahan yang ada secara anarkis. Kebangkitan Turki sebagai pusat peradaban Islam modern dengan demikian, meski perlahan, akhirnya mulai menunjukkan hasil di era modern ini.

***

47 Sukran Vahide, h. 70

(17)

CRITICAL REVIEW BUKU “THE HISTORY OF ISLAMIC POLITICAL THOUGHT” OLEH ANTONY BLACK

Oleh: Rose Familia Octaviani

1. PENDAHULUAN

(18)

Prophet to the Present, Antony Black menawarkan gambaran deskriptif beserta interpretasi filsafat politik semenjak era awal Islam hingga era Fundamentalis terkini (622 M-2000 M)—setidaknya hingga edisi awal buku ini diterbitkan, yaitu tahun 2011 oleh Edinburgh University Press Ltd. Antony Black mengambil pendekatan yang sama seperti yang biasa dilakukan para sarjana yang menulis sejarah pemikiran politik Barat, meneliti mentalitas, budaya setempat, dan latar belakang politik para pemikir dan negarawannya. Ia juga menulis hubungan antara politik, agama, falsafah, nilai etika, dan institusi kenegaraan yang terekspresi dalam slogan-slogan populer, tulisan-tulisan karya para tokoh pemikiran, retorika, dan bukti-bukti sejarah lain yang terkait dengan tema pemikiran politik Islam.

2. ULASAN SINGKAT

“The History of Islamic Political Thought From the Prophet to the Present” seperti yang telah disampaikan berisikan narasi historis pemikiran politik Islam yang dimulai sejak tahun 600 Masehi ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW hingga pemikiran Islam era terkini yaitu tahun 2000. Isi buku ini terbagi menjadi 5 bab, yaitu:

 Bab I berjudul Rasul dan Hukum (tahun 622-1000M), Prof. Black

(19)

budaya bangsa Arab pra-Islam secara umum lalu membuat gambaran baru yang berbeda ketika Islam hadir di jazirah Arab tanpa luput menjelaskan definisi Islam, prinsip-prinsip teologis Islam yang umum, dan aliran-aliran pemikiran yang mendasari sebuah kekuasaan. Seperti contoh, ketika ia membahas Daulah Abbasiyyah, ia menjelaskan adanya pengaruh Persia dalam pemerintahan monarki Islam dan pemikiran Ibnu Muqaffa (seorang sekretaris Daulah Umayyah dan Abbasiyyah keturunan Persia) yang melakukan penerjemahan dari bahasa Persia ke Arab. Black kemudian membahas karya tokoh tersebut (Risalah fi Shahabah) mengenai aplikasi model pemerintahan patrimonial yang berkembang di Iran kuno kepada Khilafah (lihat hal. 21-23). Tak lupa juga pemikiran dari Abu Yusuf (ulama mazhab Hanafi), Al Jahiz, dan pemikiran sang sultan sendiri, Khalifah Al-Ma’mun. Antony Black kemudian memberikan subbab-subbab khusus untuk membahas mengenai Syari’ah dan aliran paham Syi’ah secara terpisah, tak lupa implementasinya dengan sejumlah Dinasti Islam yang mempraktekkan ajaran aliran tersebut (seperti Dinasti Fatimiyyah), pemikiran beberapa tokoh seperti Al Farabi dan Ibnu Qutaibah beserta perbandingannya dengan beberapa pemikiran politik Barat.

 Bab II berjudul Agama dan Kekuasaan Negara: Doktrin Sunni untuk

(20)

berikut perbandingan pemikirannya dengan Thomas Aquinas (kedua tokoh, Ibnu Rushd dan Al Ghazali, dibahas dalam 2 subbab terpisah) serta subbab khusus membahas Sufisme dan Politik. Antony Black dalam membahas kaitan keduanya juga memasukkan perbandingan dengan hubungan antara Kristen dan Romawi Timur

 Bab III berjudul Syari’ah dan Pedang (1220 M-1500 M), berisikan 7

subbab yang dimulai dari pembahasan invasi Mongol kepada Turki Seljuk. Dalam subbab ini ia menceritakan peristiwa tragis tersebut sambil menjelaskan dampaknya terhadap peta politik Islam dan budaya popular (seperti semakin merebaknya Sufisme dengan ditandai kemunculan tarikat Naqsbandiyyah). Setelah pembahasan Black tentang era Turki Seljuq berakhir, subbab berikutnya kemudian khusus membahas ideologi Dinasti Mamluk (yaitu aristokrasi militer) dan hubungan Sultan-Khalifah berikut perbandingannya dengan pemikiran relijius-politis Kristen Eropa mengenai kekuatan politik gereja. Pembahasan Antony Black berikutnya yang tidak kalah pennting berada dalam subbab khusus yang membahas pemikiran Nasir al-Din Tusi, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Khaldun beserta pengaruh mereka terhadap pemikiran politik Barat. Subbab terakhir kemudian membahas mengenai kemunduran pemikiran politik Islam klasik.

 Bab IV berjudul Ideologi Agama dan Kontrol Politik di Negara-Negara

(21)

yang diusung oleh Dinasti Safawi. Dalam membahas Dinasti Safawi dan Dinasti Turki Utsmani, Black menjelaskan bagaimana keduanya akan mempengaruhi pembentukan negara modern yang dikenal sebagai Turki dan Iran dengan menyandingkan pemikiran tokoh-tokoh era tersebut dan tokoh era baru (seperti Mustafa Kemal dan Ayatollah Khomeini). Subbab terakhir dari bab ini membahas tentang keruntuhan Dinasti Turki Utsmani sebagai akhir dari supremasi politik Islam di dunia.

 Bab terakhir yang berjudul Islam dan Barat terdiri atas 4 subbab. Semua

subbab itu memasukkan peristiwa-peristiwa penting di kedua negara Turki dan Iran beserta pengaruh ideologi Barat yang berkontribusi mengubah ideology politik keduanya. Pada kasus Turki, Antony Black membahasnya dalam subbab pertama tentang modernisme dan Revolusi Turki, bersamaan dengan adanya pembahasan tentang pemikiran tokoh pembaharu yang mempengaruhi adanya revolusi itu (contohnya Antony Black mengupas pemikiran Khayruddin At-Tunisi, Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh) termasuk gerakan politik Utsmani Muda. Setelah itu, Black beralih membahas paham Konservatisme dan Modernisme di Iran, Islamisme dan tokoh-tokoh pemikirannya (Sayyid Quthb, Al Maududi, dan Khomeini), Ikhwanul Muslimin, lalu terakhir analisis Black tentang Islamisme, Modernisme, dan Negara Sekuler.

3. KRITIK

(22)

“lebih sedikit lagi perhatian ditujukan kepada sejarah pemikiran politik Islam. Padahal seseorang tidak akan dapat memahami politik Islam masa kini tanpa memahami dari mana asalnya. Gerakan politik dan sosial dalam Islam kontemporer adalah seputar ide, dimana ide itu berdasarkan model historis era sebelumnya” (hal. 17). Karenanya Black memulai timeline sejarah dari titik paling awal yaitu turunnya wahyu kepada Muhammad SAW serta usaha beliau SAW menyatukan tribalisme yang memecah belah kabilah-kabilah Arab. Disamping itu, untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam akan istilah-istilah yang sering dipakai dalam pemikiran politik Islam, Antony Black menjelaskan secara umum pengertian Syari’ah dan unsur-unsur yang menyusunnya (Istilah-istilah seperti Ulama, Hadits, Qiyas, dsb.)

Pembahasan itu dirasa perlu untuk memahami latar belakang pemikiran para tokoh-tokoh yang buah pemikirannya Black jelaskan. Sebab bagaimanapun untuk membahas sejarah pemikiran politik Islam, pemahaman akan apa itu Islam serta adanya apresiasi iman Islam dari penulis terhadap agama ini merupakan kewajiban. Antony Black menyatakan memahami sejarah ide politik Islam dapat membantu kita memahami sejarah politik Eropa sebab keduanya memiliki kesamaan sumber; monoteisme Abraham (lihat hal. 2).

(23)

halaman terakhir Pendahuluan). Maka, pemahaman penulis akan sumber utama pemikiran politik Islam, yaitu Qur’an dan Hadits, dapat dikatakan minim. Memahami dua wahyu tersebut mewajibkan adanya pengetahuan gramatikal Arab yang memadai agar memahami maksud eksplisit dan implisit suatu ayat Qur’an atau Hadith, Antony Black seringkali merujukkan interpretasi keduanya kepada penulis lain yang bukan pakar muslim (ulama Islam klasik) disamping membandingkannya dengan pemahaman Injil Kristen. Selain itu ia dirasakan kurang detail mengupas benturan paham aliran Sunni dan Syi’ah selain hanya menjelaskan keduanya secara terpisah dan sekilas asal mula munculnya kedua aliran itu. Padahal tema perseteruan Sunni dan Syi’ah terus menjadi isu hangat politik Timur Tengah hingga hari ini.

Namun tentu saja kepiawaian Black membandingkan pemikiran politik Islam dengan pemikiran politik Barat serta interpretasinya yang berdasarkan latar belakang budaya dan sosial menjadikan bukunya adalah karya yang berharga. Dengan menyandingkan kedua pemikiran politik yang berbeda itu, Black berhasil menghadirkan perspektif baru bagi pembaca, baik yang berasal dari latar belakang pemikiran Barat maupun Islam. Tak lupa menjelaskan poin-poin dimana pemikiran politik Islam tumbuh dan muncul sebagai pionir dalam konteks tertentu lalu pengaruhnya terhadap pemikiran politik Barat. Mulai dari pemikiran Barat klasik zaman Yunani (seperti pemikiran Plato dan Aristotles) hingga pemikiran Karl Marx dan Thomas Hobbes. Antony Black dalam melakukannya menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Ia juga menyajikan gambaran Islam dengan cara yang walaupun kurang detail namun penuh respek dan objektif. Ini adalah hal yang sangat dibutuhkan siapapun yang ingin memahami konsep politik Islam dengan kacamata yang fair tanpa prasangka buruk seperti fenomena yang terjadi di Barat saat ini. Lebih jauh lagi, buku ini dapat dijadikan pegangan bagi siapapun yang ingin mengetahui atau sedang mempelajari sejarah pemikiran politik Timur Tengah secara komprehensif.

(24)

Referensi

Dokumen terkait

Terimakasih atas motivasi yang telah kau berikan, atas doa mu yang selalu mengiringiku, tak sekedar dari bibir tapi dari hati yang bersih dan tulus ku teteskan air mata penyesalan

Terdapat hubungan yang sangat kuat antara laju produktivitas primer perairan dengan klorofil-a dan faktor fisika kimia perairan (suhu, kecerahan, intensitas cahaya, DO

Kami sebagai warga negara Indonesia merasa bahwa Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1985 bertentangan dengan hak konstitusional yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara

Pembelajaran bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh para siswa. Dengan demikian membutuhkan berbagai macam cara dan metode untuk

Waktu pakai mata bor yang didapat pada proses pengeboran pelat ASTM A1011 dengan laju pemakanan (f) = 0,18mm/rev menggunakan minyak kelapa sebagai cairan pelumas lebih kecil

Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan data tahun 2015 pelayanan pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Besar memiliki kecendrungan masuk ke daerah efisiensi dengan

Kebijakan mengenai pembatasan pemilikan tanah non pertanian bagi perorangan yang dilakukan oleh Kantor Pertanahan di Kota Pontianak belum ada hanya sebatas