TUGAS
SEJARAH PENDIDIKAN PESANTREN DI
INDONESIA
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Dunia dan Sejarah Nasional Indonesia
DISUSUN OLEH : ARDIAN PODOMI
NIM : 15.2.1.033
Dosen Pengampuh:
Dr. Muhammad Idris M.Pd.I
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI) SEMESTER V (LIMA)
FAKULTAS ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MANADO
1439 H/2017 M
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemajuan pendidikannya. Tetapi pendidikan di Indonesia sama sekali belum sepenuhnya tersentuh oleh tangan-tangan pemerintah. Output yang dikeluarkan pun tidak seperti apa yang telah menjadi tujuan pendidikan.
Di Indonesia terdapat tiga macam lembaga pendidikan, yaitu sekolah umum, madrasah dan pesantren. Antara madrasah dan sekolah umum tidak banyak perbedaannya. Akan tetapi, lembaga yang satunya yaitu pesantren, adalah lembaga yang jauh berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
Pendidikan diselenggarakan bertujuan untuk membentuk manusia yang memanusiakan manusia. Artinya, penyelenggaraan pendidikan harus diarahkan pada pembentukan perilaku yang baik. Karena itulah hampir seluruh lembaga pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia ini terdapat muatan materi tentang akhlakul karimah. Diharapkan output-output yang dihasilkan nantinya di samping berintelektual tinggi, juga mempunyai budi pekerti yang baik sehingga menjadi teladan bagi masyarakatnya.
Sebagai calon guru yang kelak akan terjun ke dunia pendidikan, dan selayaknya memahami secara keseluruhan aspek-aspek dalam pendidikan. Salah satunya pendidikan pesantren. Berikut akan disampaikan hal-hal terkait pendidikan pesantren.
Berdasarkan latar belakang di atas maka terdapat beberapa rumusan masalah, diantaranya yaitu:
a. Apa yang dimaksud dengan pendidikan pesantren? b. Bagaimana sejarah pendidikan pesantren?
c. Bagaimana Perkembangan Lembaga Pesantren Di Indonessia? d. Bagaiman Keadaan Pesantren Pada Zaman Penjajahan ?
e. Bagaimana Pertumbuhan Dan Perkembangan Pesantren Di Zaman Kemerdekaan?
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Pesantren
Pada dasarnya, pendidikan pesantren dirumuskan dari dua pengertian dasar
yang terkandung dalam istilah “pendidikan” dan istilah “pesantren”. Kedua istilah itu
disatukan dan arti keduanya menyatu dalam definisi pendidikan pesantren.
Pendidikan adalah usaha sadar, teratur dan sistematis yang dilakukan oleh orang dewasa yang diberi tanggung jawab untuk menanamkan akhlak yang baik dan nilai-nilai luhur, serta norma-norma susila kepada anak didik sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani untuk mencapai kedewasaan.
Pesantren pada umumnya tergambarkan pada ciri khas yang biasanya dimiliki oleh pondok pesantren, yaitu adanya pengasuh pondok pesantren (Kyai/tuan/buaya/tengku/ustadz), adanya Masjid sebagai pusat kegiatan ibadah dan tempat belajar, adanya santri yang belajar, serta adanya asrama sebagai tempat tinggal santri. Disamping empat komponen tersebut, hamper disetiap pesantren juga menggunakan kitab kuning (kitab klasik tentang ilmu-ilmu keislaman berbahasa Arab yang disusun pada abad pertengahan) sebagai sumber kajian.1
Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan khas Indonesia yang menjadi tempat para santri mendalami pendidikan agama Islam. Dari masa ke masa pesantren terus melakukan pembaharuan agar dapat tetap menunjukan eksistensinya di tengah gempuran global. Dalam berkehidupan sehari-hari, masyarakat pesantren berpedoman pada ajaran agama dengan menekankan pada aspek moral dalam berinteraksi dan bergaul. Sehingga sikap dan perilaku masyarakat pesantren akan terjaga dengan baik.
1Departemen Agama “
Kumpulan Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Direktorat
Menurut Mastuhu, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.
Sedangkan Abdullah menyatakan, bahwa pesantren merupakan pusat persemaian, pengalaman sekaligus penyebaran ilmu-ilmu keislaman. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam untuk mendalami dan menyebarkan ilmu-ilmu keislaman dan menekankan pada moral keagamaan sebagai pedoman hidup sehari-hari.
Pendidikan pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam untuk mendalami dan menyebarkan ilmu-ilmu keislaman dan menekankan pada moral keagamaan sebagai pedoman hidup sehari-hari.
B. Sejarah Pendidikan Pesantren
Sejarah berdirinya pesantren sering diidentikan dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Salah satu pendapat mengemukakan, ketika para pedagang muslim dari Gujarat sampai ke negeri kita, mereka menjumpai lembaga-lembaga keagamaan mengajarkan agama Hindu.2 Kemudian setelah Islam tersebar luas ke penjuru Nusantara, bentuk lembaga keagamaan itu tetap berkembang dan isinya diubah dengan pengajaran agama Islam, yang kemudian disebut pesantren.
Pesantren yang merupakan “Bapak” dari pendidikan islam di indonesia,
didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan zaman. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan sejarah, dimana bila dirunut kembali, sesungguhnya pesantren dilahirkan
2 Naufal Ramzy “Prospek Dan Strategi Sistem Pendidikan Pesantren Pada Era Otonomi
atas kesadaran kewajiban dakwah islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan Ajaran Islam, sekaligus mencetak kader-kader Ulama atau Da’i.
Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah “ Tempat Belajar Para Santri “. Sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat
dari bambu. Disamping itu kata “Pondok” mungkin juga berasal dari bahasa Arab “Funduq” yangberarti “Hotel atau Asrama”.3
Pembangunan suatu pesantren didorong oleh kebutuhan masyarakat akan adanya lembaga pendidikan lanjutan. Namun demikian, faktor guru yang memenuhi persyaratan keilmuan yang diperlukan akan sangat menentukan bagi tumbuhnya suatu pesantren. Pada umumnya berdiri suatu pesantren yang diawali seorang Guru atau Kiai. Karena keinginan menuntut dan memperoleh ilmu dari Guru tersebut, maka masyarakat sekitar, bahkan dari luar daerah datang kepadanya untuk belajar. Mereka lalu membangun tempat tingggal yang sederhana disekitar tempat tinggal guru tersebut. Semakin tinggi ilmu seorang guru tersebut, semakin banyak pula orang dari luar daerah yang datang untuk mentut ilmu kepadanya dan berarti semakin besar pula pondok dan pesantrennya.
Perkembangan suatu pesantren sangat tergantung kepada daya tarik tokoh sentral (Kyai atau Guru) yang memimpin, meneruskan atau mewarisinya. jika pewaris menguasi sepenuhnya baik pengetahuan agama, wibawa, ketermpilan mengajar dan kekayaan lainnya yang diperlukan. Sebaliknya pesantren akan menjadi mundur atau hilang, jika pewaris atau keturunan Kiai yang mewarisinya tidak memenuhi persyaratan. Jadi seorang figur pesantren memang sangat menentukan dan benar-benar diperlukan.
Biasanya santri yang telah menyelesaikan dan diakui telah tamat, diberi izin oleh Kiai untuk membuka dan mendirikan pesantren baru didaerah asalnya. Dengan
3
cara demikian pesantren-pesantren berkembang diberbagai daerah terutama pedesaan dan pesantren asal dianggap sebagai pesantren induknya.
C. Perkembangan Lembaga Pesantren Di Indonesia
Pesantren di Indonesia memang dan tumbuh berkembang sangat pesat. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial belanda, pada abad ke 19 untuk di jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah, dengan jumlah santri tidak kurang 16.500 orang.4 Dari jumlah tersebut belum masuk pesantren-pesantren yang berkembang diluar jawa terutama Sumatra dan Kalimantan yang suasana kegiatan keagamaanya terkenal sangat kuat.
1. Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam
Dalam mekanisme kerjanya, sistem yang ditampilkan pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan system yang diterapkan dalam pendidikan pada umumnya, yaitu : Memakai system tradisional yang mempunyai kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah moderen, sehingga terjadi hubungan dua arah antara santri dan kiai, menampakan semangat demokrasi karena mereka praktis berkerja sama mengatasi problem nonkurikuler mereka, para santri tidak mengidap penyakit simbolis, yaitu perolehan gelar atau ijazah, karena sebagian besar pesantren tidak mengelurkan ijazah, sistem pondok pesanten mengutamakan kesederhanaan,idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian hidup, alumni pondok pesantren tidak ingin menduduki jabatan pemerintahan, sehingga mereka hampir tidak dapa dikuasi oleh pemerintah.
Sementara itu yang menjadi ciri khas pesantreen dan sekaligus menujukan unsure-unsur pokoknya, yang memebedakannya dengan lembagapendidikan lainnya, yaitu : Yang pertama adanya pondok sebagai tempat tingggal bersama anatara kiai dengan para santrinya dan bekerjas sama untuk memenuhi kebutuhan hidup
4
hari, adanya masjid sebagai unsur pokok kedua dari pesantren, disamping berfungsi
sebagai tempat unuk melakukan sholat berjama’ah setiap waktu shalat, juga berfungsi
sebagia tempat belajar- mengajar.yang ketiga adanya Santri dimana santri merupakan unsur pokok dari suatu pesantren, biasanya terdiri dari dua kelompok, yaitu : Santri mukim dan santri kalong. Santri mukim ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren sedangkan Santri kalong ialah santri-santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulang kerumah masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren. Yang keempat adanya kyai.Kiai merupakan tokoh sentral dalam pesantren yang memberikan pengajaran. Karena itu kiai adalah salah satu unsur yang paling dominan dalam kehidupan suatu pesantren. Kemasyuran, perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren banyajk bergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, kharismatis dan wibawa, serta keterampilan kiai yang bersangbkutan dalam mengelola pesantrennya. Dan yang terakhir adalah adanya kitab-kitab islam klasik, unsur pokok lain yang cukup membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya adalah bahwa pada pesaantren diajarkan kitab-kitab klasik yang dikarang para ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama islam dan bahasa arab.5
2. Sistem Pendidikan Dan Pengajaran Pesantren
Sejarah perkembangan pondok pesantren memiliki model-model pengajaran yang bersifat nonklasikal, yaitu model sistem pendidikan dengan menggunakan metode pengajaran sorongan dan wetonan atau bendungan (Menurut Istilah Dari Jawa Barat).
Sorongan, disebut juga sebagai cara mengajar perkepala yaitu setiap santri mendapat kesempatan tersendiri untuk memperoleh pembelajaran seara langsung dari
5
Kiai. Dengan cara sorongan ini, pelajaran diberikan oleh pembantu Kiai yang disebut
“Badal”. Mula-mula Badal tersebut membacakan matan kitab yang tertulis dalam bahasa arab, kemudian menerjemahkan kata demi kata kedalam bahasa daerah, dan menerangkan maksudnya, setelah itu santri disuruh membaca dan mengulangi pelajaran tersebut satu persatu, sehingga setiap santri menguasinya.
Metode Bendungan atau Halqah dan sering juga disebut Wetonan, para santri duduk disekitar kiai dengan membentuk lingkaran, dengan cara bendungan ini kiai mangajarkan kitab tertentu pada sekelompok santri. Karena itu metode ini biasa juga dikatakan sebagai proses belajar mengaji secara kolektif. Dimana baik kiai maupun santri dalam halaqah tersebut memegang kitab masing-masing. Kiai membacakan teks kitab, kemudian menerjemahkannya kata demi kata, dan menerangkan maksudnya. Santri menyimak kitabnya amasing-masing dac mendengarkan dengan seksama terjemahan dan penjelasan-penjelasan kiai. Kemudian santri mengulang dan mempelajari kembali secar sendiri-sendiri.6
Perkembangan berikutnya, disamping tetap mempertahankan sistem ketradisionalannya, pesantren juga mengembangkan dan mengelola sistem pendidikan madrasah. Begitu pula, untuk mencapai tujuan bahwa nantinya para santri mampu hidup mandiri, kebanyakan sekarang ini pesantren juga memasukan pelajaran keterampilan dan pengetahuan umum.
Pada sebagian pondok, sistem penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran makin lama makin berubah karena dipengaruhi oleh perkembangan pendidikan ditanah air serta tututan dari masyarakat dilingkungan pondok pesantren itu sendiri. Dan sebagian pondok Lagi tetap mempertahankan sistem pendidikan yang lama.
6
D. Keadaan Pesantren Pada Zaman Penjajahan
Pondok pesantren pada masa penjajahan, mengalami tekanan yang amat berat. Hal ini terjadi karena pondok pesantren memberikan pengajaran kepada para santrinya, tidak hanya tentang bagaimana mereka disiapkan untuk menjadi alim ulama yang melek akan pengetahuan agama namun merekapun diajarkan tentang cinta tanah air dan menanamkan jiwa nasionalisme. Hal tersebut menjadi sebuah kekhawatiran dan bahkan menjadi sebuah ancaman bagi kolonial Belanda pada saat itu. Mereka tahu bahwa didalam pesantren para santri diajarkan tentang kekuatan yang sangat besar yang bersumber dari Al-Quran, yakni kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual para kyai dan santri yang amat besar dianggap mengancam eksistensi colonial Belanda.
Sehingga sangat tidak heran apabila akhirnya ada seorang tokoh Belanda, Snouck Horgronje berusaha untuk menghancurkan pesantren yang ia anggap sebagai sebuah ancaman besar. Untuk lebih mengenal Islam, ia pergi ke Mekah dan Madinah untuk mempelajari bahasa Arab sehingga ia fasih dalam membaca dan menterjemahkan Alquran.7
Sekembalinya dari Arab, ia merubah namnya menjadi Hafi Abdul Ghofar untuk kemudian menikahi seorang anak Bupati Jawa Barat. Semua masyarakat terpedaya dan menganggap bahwa ia adalah seorang muslim. Menurut Clifford
Geertz), mengatakan bahwa: “Sekembalinya dari negeri Arab ke Indonesia, dengan
memiliki kemampuan bahasa Arab serta memahami isi Al-Qur’an, ia melakukan langkah-langkah berikut: Pertama mengawasi perjalanan pondok pesantren dengan ketat yang kedua memupuk serta membina adat istiadat ( tahayul, bid’ah dan khurafat) hingga berkembang di tengah-tengah masyarakat, ketiga mengelompokan serta memilah-milah umat Islam, terutama para kyai pimpinan pondok pesantren, dan
7
Departe e Aga a Kumpulan Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Direktorat
yang terakhir menjauhkan umat Islam dari kitab suci Al-Qur’an, dan yang dibolehkan mengartikan Al-Qur’an hanyalah kyai dan santri.”
Upaya lain kolonial Belanda, menawarkan bentuk pendidikan yang modern dalam performa sekolah, yang kemudian sekolah-sekolah kolonial Belanda berkembang menyaingi keberadaan pondok pesantren. Namun demikian, pondok pesantren tidaklah surut dari permukaan, bahkan semakin berkembang. Apalagi pada saat tumbuhnya berbagai organisasi keagamaan yang berbasiskan pada masyarakat luas, sekaligus menjadi angin segar bagi pertumbuhan dan perkembangan pondok pesantren, karena organisasi tersebut mendukung eksistensi pondok pesantren. Mahpuddin Noor8 mengatakan bahwa: “Pondok pesantren dengan charisma kyai sebagai figursentral, senantiasa diperhitungkan keberadaannya oleh pihak penguasa, dari mulai penjajahan kolonial Belanda hingga bangsa ini merdeka. Terutama oleh pihak penguasa dan para elit politik negeri ini. Sehingga, tak sedikit pondok pesantren yang disanjung, diberikan bantuan dana oleh pihak-pihak tersebut, untuk kepentingan politik, memobilisasi massa, termasuk keberhasilan program
pembangunan yang dicanangkan oleh penguasa pada saat itu.”
Pemerintahan kolonial belanda, terhadap pendidikan islam di Indonesia, dengan berbagia cara mereka berusaha menekan dan mendiskreditkan pendidikan yang dikelola oleh pribumi, tak terkecuali dalam hal ini pondok pesantren.
Sikap yang demikian, dilakukan belanda tidak semata-mata untuk menghambaat jalannya proses pendiidkan pada pesantren. Tetapi alasan-alaasan lain yang tampaknya mendasari mengapa pwemerintahan kolonialbelanda bersikap deikian. Sebab pada zaman penjajah tersebut, dikalangan pemerintahan colonial, timbul dua alternatif untuk memberikan pendidikan kepada bangsa Indonesia, yaitu memberikan lembaga pendiidkan yang berdasarkan lembaga pendidikan tradisiona,
8
yaitu pesantren, atau merndirikan lembaga pendidikan dengan sistem yang berlaku di barat pada waktu itu.
Penyelenggaraan pendidikan di pesantren ini menurut pemerintahan kolonial belanda, terlalu jelek dan tidak memungkinkan untuk menjadi sekolah-sekolah sendiri yang tidak hubungannya dengan lembaga pendidikan yang telah ada.9
Dalam perjalanan sejarahnya, pondok pesantren pernah besar dan jaya di masa lalu, bahkan hingga saat ini. Pesantren tumbuh dan berkembang bersama masyarakat Indonesia. Maka tidak heran, apabila pesantren bisA dikatakan sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia.
E. Pertumbuhan Dan Perkembangan Pesantren Di Zaman Kemerdekaan
Dalam sejarahnya tentang peran pesantren, dimana sejak masa kebangkitan nsional sampai dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, pesantren senantiasa tampil dan telah mampu berpartisipasi secara aktif, dan tentu saja untuk ini secara jujur kita perlu angkat topi dengan pesantren, oleh karena itulah setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, pesantren masih mendapatan tempat dihati masyarakat Indonesia.
Begitu pula halnya dengan pemerintahan RI, mengakui bahwa pesantren dan madrasah merupakan dasar dan sumber pedidikan nasional, dan oleh karena itu harus dikembangkan, diberi bimbingan dan bantuan. Wewenang dan pengembngan tersebut berada dibawah wewenang kementrian agama.
Sejak awal kehadiran pesantrten dengan sifatnya yang lentur (flexible) ternyata mampu menyesuikan diri dengan masyarakat. Begitu juga pada era kemerdekaan dan pembanguan sekaarang, pesabtren telah mampu menapilkan dirinya aktif mengisi kemerdekaan dan pembangunan, terutama dalam ranngka pengeembangan sumber daya manusia yang berkualitas.
9
Berbagai inovasi telah dilakukan untuk pengembangan pesantren baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Masuknya pengeahuan umum dan keterampilaan kedalampesantren adalah sebagai upaya untuk memberikan bekaltambahan agar para santri bila telah menyelesaikan pendidikannya dapat hidup layak dalam masyarakat. Masuknya sistem klasikal dengan menggunakan sarana dan peralatan pengajaran madrasah sebagaimana yang berlaku di sekolah-sekolah bukan barang baru lagi bagi pesantren. Bahkan ada pesantren yang lebih cendrung membina dan mengelola madrasah-madrasah atau sekolah umum, baik tingkat dasar, menengah maupun perguruan tinggi.10
Karena itulah akhir-akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan, yaitu : Mulai akrab dengan metodologi ilmiah moderen. Kedua semakin berorientasi pada pendidikan dan fungsional, artinya tebuka atas perkembangan diluar dirinya. Ketiga diversifikasi program dan kegiatan makin terbuka dan ketergantungannya pun dengan kiai dan terakhir berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.
Secara garis besar, pesantren sekarang ini dapat dibedakan dua macam yaitu Pesantren Tradisional dan Pesantren Modern. Pesantren yaitu pesantren yang masih mempertahankan sistem pengajaran tradisional, dengan materi pengbajaran kitab-kitab klasik yang sering disebut kitab-kitab kuning. diantara pesantren ini ada yang mengelola madrasah, bahkan juga sekolah-sekolah umum mulai tingkat dasar dan menengah, dan ada pula pesantren-pesantren besar yang sampai keperguruan tinggi. Murid-murid dan mahasiswa diperbolehkan tinggal dipondok atau diluar, tetapi mereka diwajibkan mengikuti pengajaran kitab-kitab dengan cara sorongan maupun bandungan, sesuai dengan tingkatan masing-masing. Guru-guru pada madrasah atau
sekolah pada umumnya mengikuti pengajian kitab-kitab pada perguruan tinggi. sedangkan Pesantren Moderen merupakan pesantren yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem klasikal dan sekolah kedalam pondok pesantren. Semua santri yang masuk pondok terbagi dalam tingkatan kelas. Pengajian kitab-kitab klasik tidak lagi menonjol, bahkan ada yang Cuma sekedar pelengkap, tetapi berubah menjadi mata pelajaran atau bidang studi. Begitu juga dengan sistem yang diterapkan, seperti cara sorongan dan bandungan mulai berubah menjadi individual dalam hal belajar dan kuliah secara umum, atau Stadium General.11
Kemudian dalam pertumbuhan dan perkembangannya seiring dengan perkembangan zaman, tidak sedikit pesantren kecil yang berubah menjadi madrasah atau sekolah (Pesantren Komprehensif), atau karena kiai yang menjadi tokoh sentral meninggal dunia.
11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a. pendidikan pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam untuk mendalami dan menyebarkan ilmu-ilmu keislaman dan menekankan pada moral keagamaan sebagai pedoman hidup sehari-hari. Secara umum ada 3 landasan yang digunakan pesantren dalam menjalankan tugasnya sebagai lembaga pendidikan, yaitu dasar ideologis, konstitusional dan teologis.
b. Sejarah berdirinya pesantren sering diidentikan dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Salah satu pendapat mengemukakan, ketika para pedagang muslim dari Gujarat sampai ke negeri kita, mereka menjumpai lembaga-lembaga keagamaan mengajarkan agama Hindu. Kemudian setelah Islam tersebar luas ke penjuru Nusantara, bentuk lembaga keagamaan itu tetap berkembang dan isinya diubah dengan pengajaran agama Islam, yang kemudian disebut pesantren. c. Pesantren di Indonesia memang dan tumbuh berkembang sangat pesat.
Berdasarkan laporan pemerintah kolonial belanda, pada abad ke 19 untuk di jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah, dengan jumlah santri tidak kurang 16.500 orang. Dari jumlah tersebut belum masuk pesantren-pesantren yang berkembang diluar jawa terutama Sumatra dan Kalimantan yang suasana kegiatan keagamaanya terkenal sangat kuat.
d. Pondok pesantren pada masa penjajahan, mengalami tekanan yang amat berat. Hal ini terjadi karena pondok pesantren memberikan pengajaran kepada para santrinya, tidak hanya tentang bagaimana mereka disiapkan untuk menjadi alim ulama yang melek akan pengetahuan agama namun merekapun diajarkan tentang cinta tanah air dan menanamkan jiwa nasionalisme.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Naufal Ramzy. Prospek Dan Strategi Sistem Pendidikan Pesantren Pada Era
Otonomi Daerah. KARSA 2012.
Nurhasanah Bakhtiar. Pola Pendidikan Pesantren: Studi Terhadap Pesantren Ilmu
dan Aplikasi Pendidikan. Jakarta: PT. Imtima 2009
Dhofier Zamakhsyari Badrika Iwayan, Tradisi Pendidkan Pesantren,LP3ES, Jakarta,1983
Departemen Agama “Kumpulan Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan
Direktorat Pendidikan Agama dan Pondok Pesantren” 2014
Rais Amin, Cakrawala IslamAntara Cita Dan Fakta, Cet II PT Raja Grafindo, PT Mizan, Bandung, 1989.