• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK (1991-2015).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SEJARAH PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK (1991-2015)."

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

i

SEJARAH PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK

(1991-2015)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana dalam Program Strata Satu (S-1) pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)

Oleh:

Jauharotun Nafisah NIM: A0.22.12.006

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)

(3)

(4)

(5)
(6)

ix

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Pendopo

Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)”. Masalah yang

diteliti dalam skripsi ini adalah (1) Bagaimana sejarah awal berdirinya Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik? (2) Bagaimana aktivitas di dalam Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik? (3) Bagaimana perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)?

Penelitian ini disusun menggunakan metode penelitian sejarah, dengan menggunakan beberapa langkah yaitu heuristik, mengumpulkan arsip-arsip terkait berupa dokumen-dokumen, sumber lisan, dan buku-buku penunjang lainnya; verifikasi (kritik terhadap sumber data), penafsiran serta bagaimana cara penulisan sejarahnya. Adapun pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan historis yang digunakan untuk mendeskripsikan peristiwa masa lampau dan menggunakan pendekatan ilmu sosial yang digunakan untuk mengetahui interaksi sosial yang

ada di pondok pesantren. Teori yang digunakan adalah teori continuity and

change yang dinyatakan oleh Zamakhsyari Dhofier dan penelitian ini juga

menggunakan teori behavioral disorders yang dinyatakan oleh B.F. Skinner.

(7)

x

ABSTRACT

This thesis entitled "The History of Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)". Issues examined in this paper are (1) How did the early history of the founding of Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik? (2) How is the activity in Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik? (3) How is the development of Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)?

This study was prepared using the methods of historical research , using some of the steps that heuristics , collecting archives related to the form of documents , oral sources , and other supporting books ; verification ( criticism of the source data) , interpretation and how the writing of history. The approach used is the historical approach used to describe the events of the past and using social science approaches used to determine social interaction in the boarding school . The theory used is the theory of continuity and change expressed by Zamakhsyari Dhofier and this study also used the theory of behavioral disorders represented by B.F. Skinner .

(8)

i

A. Letak Geografis Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ... 17

B. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ... 20

C. Biografi KH. Abdillah Anas Anwar ... 25

BAB III AKTIFITAS PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK

A. Aktifitas Pendidikan ... 31

B. Aktifitas Sosial Keagamaan ... 36

C. Aktifitas Khusus ... 43

1. Sejarah Awal Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Sebagai

Tempat Rehabilitasi ... 44

(9)

ii

3. Kategori Kesembuhan Santri Rehabilitasi ... 51

BAB IV PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK (1991-2015)

A.Perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

(1991-2007) ... 53

B. Perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

(2008-2015) ... 59

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan... 61

B. Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pondok pesantren adalah merupakan pendidikan khas Indonesia

yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat telah teruji

kemandiriannya sejak berdirinya sampai sekarang. Pada awal berdirinya,

bentuk pondok pesantren masih sangat sederhana. Kegiatannya masih

diselenggarakan di dalam masjid dengan beberapa orang santri yang

kemudian dibangun pondok-pondok sebagai tempat tinggalnya.

Dalam perkembangannya pesantren paling tidak mempunyai tiga

peran utama, yaitu sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwah

dan sebagai lembaga pengembangan masyarakat. Pada tahap berikutnya,

Pondok pesantren menjelma sebagai lemsbaga sosial yang memberikan

warna khas bagi perkembangan masyarakat sekitarnya. Peranannya pun

berubah menjadi agen pembaharuan (Agen Of Change) dan agen

pembangunan masyarakat. Sekalipun perubahan demikian, apapun usaha

yang dilakukan pondok pesantren tetap saja yang menjadi khittoh

berdirinya dan tujuan utamanya, yaitu tafaqquh fid-din. Secara eksistensi

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan lembaga

sosial, tumbuh dan berkembang di daerah pedesaan dan di perkotaan.1

1

(11)

2

Pondok pesantren mempunyai arti asrama, atau tempat mengaji,2

sedangkan secara etimologi kata pesantren berasal dari kata “santri”, yaitu

istilah yang digunakan bagi orang-orang yang menuntut ilmu agama di

lembaga pendidikan Islam tradisional di Jawa. Kata “santri” mendapat

awalan “pe” dan akhiran “an”, yang berarti tempat para santri menuntut

ilmu.3

Secara esensial Pesantren merupakan sebuah asrama pendidikan

Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar

ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan

sebutan kyai. Asrama untuk para siswa tersebut berada dalam komplek

pesantren dimana kyai bertempat tinggal. Di samping itu juga ada fasilitas

ibadah berupa masjid di dalamnya. Elemen dasar Pesantren terdiri dari

lima elemen dasar yaitu Pondok, Masjid, santri, kyai dan pengajaran

kitab-kitab klasik (kitab-kitab Kuning).

Membicarakan tentang pondok pesantren, maka kita harus

mengingat bahwasanya lembaga pendidikan di Indonesia pertama kali

yang dikenal adalah pondok pesantren. Lembaga pendidikan pesantren

merupakan lembaga pendidikan tertua saat ini dan dianggap sebagai

budaya Indonesia yang indigenious. Keberadaan pesantren sebagai wadah

untuk memperdalam agama sekaligus sebagai pusat penyebaran agama

Islam diperkirakan masuk sejalan dengan gelombang pertama dari proses

2

Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), 764.

3

(12)

3

pengislaman di daerah jawa sekitar abad ke-16.4 Beberapa abad kemudian

penyelenggaraan pendidikan ini semakin berkembang dengan munculnya

tempat-tempat pengajian (nggon ngaji). Bentuk ini kemudian berkembang

dengan pendirian tempat-tempat menginap atau disebut dengan

pemondokan bagi para bagi para pelajar (santri), yang kemudian disebut

“pesantren”.5

Sebuah komunitas pondok pesantren minimal ada kyai (tuan

guru, buya, ajengan, abu), masjid, asrama (pondok) pengajian kitab kuning

atau naskah salaf tentang ilmu-ilmu agama Islam.6

Keberadaan pesantren yang tetap bertahan di tengah arus

modernisasi yang sangat kuat saat ini, menunjukkan bahwa Pondok

Pesantren memiliki nilai-nilai luhur dan bersifat membumi serta memiliki

fleksibilitas tinggi seperti sopan santun, penghargaan dan penghormatan

terhadap guru/Kiai dan keluarganya, penghargaan terhadap keilmuan

seseorang, penghargaan terhadap hasil karya ulama-ulama terdahulu, yang

tetap dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita.

Salah satu satu yang menarik dari Pesantren adalah masing-masing

pesantren memiliki keunikan tersendiri. Peranan tradisi dalam masyarakat

sekitarnya menjadikan pesantren sebagai lembaga yang penting untuk

diteliti. Keunikan tersebut ditandai dengan banyaknya variasi antara

pesantren yang satu dengan yang lainnya walaupun dalam beberapa hal

dapat ditemukan kesamaan-kesamaan umumya. Variasi tersebut dapat

4

Sindu Golba, Pesantren Sebagai Wadah Komunikasi (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), 1. 5

M. Shulthon Masyhud, Manajemen Pondok Pesantren (Jakarta: Diva Pustaka, 2005), 1. 6

(13)

4

dilihat pada variable-variabel struktural seperti pengurus pesantren, dewan

kyai, dewan guru, kurikulum pelajaran, kelompok santri dan sebagainya.

Jika dibandingkan yang satu dengan yang lain dan aliran yang satu dengan

lainnya, akan diperoleh tipologi dan variasi yang ada dari dunia pesantren.

Secara garis besar, lembaga-lembaga pesantren dewasa ini dapat

dikelompokkan sebagai berikut:7

1. Pesantren Salaf yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab

Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Sistem madrasah

diterapkan untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam

lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan

pengajaran-pengajaran pengetahuan umum.

2. Pesantren Khalaf yang memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam

madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka

pendidikan formal seperti sekolah-sekolah umum dalam lingkungan

pesantren.

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini di dirikan pada tahun 1991

di dusun Tegal Sari Desa Pangkah Kulon Ujungpangkah oleh H. Abdillah

Anas Anwar. Pada saat penelitian ini berlangsung lahannya masih berupa

bebatuan cadas yang terletak di sebelah selatan dan sebelah utara dan

timur pondok pesantren tersebut merupakan bentangan luas perkebunan

milik masyarakat setempat. Karena banyaknya batu-batuan besar yang

terdapat diantara sisi-sisi pondok tersebut maka pondok tersebut diberikan

7

(14)

5

nama Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo, makna yang tersirat dari

penamaan tersebut adalah perkumpulan orang-orang yang selalu

berkembang dan semakin kuat.

Nama Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini bukan berarti batu

yang bodoh seperti anggapan masyarakat pada umumnya, melainkan

maknanya adalah dikatakan “watu” karena pada sekitar pondok tersebut

terdapat batu besar yang keras, dan tidak sedikit orang yang datang ke

pondok tersebut adalah orang-orang yang berhati keras serta iman yang

lemah. Sedangkan “bodo” adalah dari istilah jawa yaitu ramai, yang

dimaknai suci atau fitrah, seperti orang jawa mengatakan hari raya adala

bodo yang dalam istilahnya adalah kembali ke fitri.8

Jika dilihat secara fisik, pondok pesantren ini tidak terlihat seperti

layaknya pondok pesntren kebanyakan. Sebab bangunan dari pondok

pesantren ini hanya berupa joglo-joglo yang nampak tidak terawat. Dan

kalau ditelisik lebih lanjut lagi, pondok pesantren ini juga memiliki

seorang kiai yang memiliki ciri yang berbeda dengan kiai-kiai pada

umumnya. Diantaranya beliau tidak memakai alas kaki, selalu

mengenakan pakaian hitam terutama pada saat melakukan ritual

tarekatnya, dan beliau juga berambut panjang.

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo juga dikenal sebagai pondok

pesantren rehabilitasi. Rehabilitasi adalah pemulihan kembali keadaan

8

(15)

6

semula.9 Seseorang yang ingin sembuh atau ingin memulai kehidupan

yang dulunya pernah berbuat buruk di lingkungannya. Karena faktor ingin

sembuh inilah maka orang itu perlu direhabilitasi, maka pengertian dari

rehabilitasi sendiri merupakan sebuah proses penyembuhan.

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo menangani santri-santri yang

terganggu kejiwaannya, anak-anak muda yang terjerumus dalam hal

negatif yang suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at

Islam, seperti minum-minuman keras, menkonsumsi obat-obatan terlarang.

Yang oleh khalayak umum selalu di anggap sebagai sampah masyarakat,

dan keberadaan dari mereka hanya dipandang sebelah mata saja. Namun di

pondok pesantren ini ada juga kaum muda yang yang terganggu akal

pikirannya yang disebabkan oleh adanya tekanan batin yang tidak bisa

diselesaikan. Selain itu juga banyaknya masalah yang dihadapinya

sehingga sulit untuk menyelesaikan masalah yang ada, berakibatkan

pikiran yang dialami sedikit terganggu. Sebenarnya dalam kehidupan yang

di alami oleh santri yang ada di pondok ini tidak semuanya

berkepribadian buruk.10

Dari uraian tentang pesantren yang telah dipaparkan di atas, maka

peneliti menulis kajian tentang “Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren

Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)”.

9

Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Surabaya: Kartika,1997), 446.

10

(16)

7

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang di uraikan di atas, peneliti merumuskan

permasalahan yang akan menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini.

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana sejarah awal berdirinya Pondok Pesantren Pendopo Watu

Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik?

2. Apa saja aktivitas di dalam Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik?

3. Bagaimana perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini

adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sejarah awal berdirinya Pondok Pesantren Pendopo

Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik.

2. Untuk mengetahui aktivitas yang ada di Pondok Pesantren Pendopo

Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik.

3. Untuk mengetahui perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu

Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015).

D. Kegunaan Penelitian

Mengenai kegunaan penelitian tentang sejarah perkembangan

(17)

8

1. Agar dapat memberikan kontribusi dalam bidang ilmiah, baik dalam

bidang pendidikan maupun bidang sosial.

2. Untuk menambah wawasan dan pengalaman baru yang nantinya dapat

menjadikan sebagai acuan dalam meningkatkan proses belajar sesuai

dengan disiplin ilmu agama.

3. Untuk memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana dalam

program Strata Satu (S1) pada jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam

(SKI) di fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri

(UIN) Sunan Ampel Surabaya.

E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik

Menurut Sartono Kartodirjo, penggambaran kita mengenai suatu

peristiwa sangat bergantung pada pendekatan, yaitu dari segi mana kita

memandangnya, dimensi mana yang diperhatikan, unsur-unsur mana yang

diungkapkan, dan sebagainya.11 Dengan pendekatan tersebut maka akan

memudahkan penulis untuk mengetahui bahwa ilmu sosial sebagai ilmu

bantu dalam sejarah.

Pada penelitian ini, penulis menggunakan beberapa pendekatan.

Pertama pendekatan historis, yang menjelaskan tentang sejarah

perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon

Ujungpangkah Gresik (1991-2015).

Di dalam kajiannya studi kritis memperluas daerah pengkajiannya

dengan menggunakan metodologi baru seperti pendekatan ilmu sosial.

11

(18)

9

Sehingga terbukalah kemungkinan untuk melakukan penyorotan aspek

atau dimensi baru dari berbagai gejala sejarah. Pada umumnya yang

menjadi fokus perhatian sejarawan dengan pendekatan ilmu sosial

dapatlah berjalan dengan kerangka struktural.12

Selain itu penulis juga menggunakan teori continuity and change

yang dinyatakan oleh Zamakhsyari Dhofier. Teori continuity and change

menguraikan secara rinci masalah-masalah kesinambungan ditengah

perubahan yang terjadi di pesantren. Perubahan akan terjadi ketika tradisi

baru yang datang mepunyai kekuatan dan dorongan yang kuat yang telah

ada dan baik sebelumnya. Jika tradisi baru yang datang mempunyai

kekuatan dan daya dorong yang kuat, dibanding tradisi -tradisi yang

telah ada dan mapan sebelumnya. Akan tetapi perubahan yang terjadi

tidak akan serta merta terputus begitu saja dari tradisi keilmuan yang lama

yang telah ada sebelumnya. Masih ada kesinambungan yang berkelanjutan

dengan tradisi keilmuan yang lama, meskipun telah muncul paradigma

baru.13 Dengan menggunakan teori continuity and change diharapkan

dapat mengungkap perubahan yang terjadi di dalam Pondok Pesantren

Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik.

Penulis juga menggunakan teori behavioral disorders yang

dinyatakan oleh B.F. Skinner. Teori behavioral disorders ini

dikonseptualisasikan sebagai perilaku manusia yang mengalami

masalah-masalah yang berat. Seperti adanya gangguan jiwa, stres, depresi,

12

Djarwanto, Pokok-Pokok Metode Riset dan Bimbingan Tiknis Penelitian Skripsi (Jakarta: Liberty, 1990), 11.

13

(19)

10

kekalutan, kecemasan, dan masalah-masalah lain yang dialami manusia

dalam kehidupan sehari-hari. Teori behavioral ini menjelaskan nilai moral

dan norma dengan memberikan hukuman perilaku yang tidak sesusai serta

menggunakan positif reinforcement untuk memperkuat perilaku yang

sesuai.14Di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini bentuk penanganan

yang lebih ditekankan untuk proses penyembuhan para santri ini adalah

harus mengikuti kegiatan sholat berjamaah dan istighosah yang dilakukan

setiap hari. Agar para santri yang terganggu kejiwaan dan para santri yang

kecanduan narkoba itu menjadi lebih tenang dalam batin diri para santri.

F. Penelitian Terdahulu

Sebagaimana bahan rujukan dari penelusuran yang terkait dengan

tema yang diteliti, peniliti berusaha untuk mencari referensi hasil penilitian

yang dikaji oleh peneliti terdahulu sehingga dapat membantu peneliti

dalam mengkaji tema yang diteliti. Diantara hasil penelitian yang telah

dilakukan aoleh beberapa peneliti yaitu:

1. Skripsi yang di tulis oleh Shofatul Khiyaroh Ana, yang berjudul

“Tasawuf Abah Dillah Pengasuh Pondok Pesantren Watu Bodo

Ujungpangkah (Ritual Dan Aktifitas Sosial)”, tahun 2015 (UIN Sunan

Ampel Surabaya). Skripsi ini menjelaskan tentang perilaku tasawuf

Abah Dillah adalah suatu perilakunya yang dianggap nyeleneh dari

yang lain yaitu tidak pernah memakai alas kaki, yang mana perilaku

tersebut didasarkan pada Al-Qur’an surat Thaha ayat 11-12 dan beliau

14

(20)

11

juga ingin menjalani hidupnya dengan segala kesederhanaan yaitu

tidak neko-neko. Perilaku beliau ini memberikan pengaruh besar

terhadap masyarkat yaitu pengaruh positif dalam bidang sosial, serta

keagamaan dalam Wilayah tersebut dan sekitarnya.

2. Skripsi yang ditulis oleh Jainul, yang berjudul “H. Abdillah Anas Dan

Pola Kepemimpinannya (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Watu

Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik)”. Skripsi ini

menjelaskan tentang model kepemimpinan dari seorang pemimpin

yaitu H. Abdillah Anas tersebut, yang mana dalam karya tersebut

menjelaskan bahwa dalam menerapkan pelaksanaan

kepemimpinannya, H. Abdillah Anas menganut trilogy Tut Wuri

Handayani yang di populerkan oleh Ki Hajar Dewantara. Yaitu sikap

dermawan, sederhana dan welas asih serta membela yang lemah

menjadi tolak ukur untuk mengembangkan pondok pesantren Watu

Bodo tersebut. Dalam kepemimpinannya H. Abdillah Anas juga

mengalami beberapa kendala dalam pelaksanaan kepemimpinannya.

Akan tetapi kendala yang dirasakan tidak terlalu rumit dan tidak

berpengaruh besar terhadapnya.

Dari topik hasil penelitian yang telah di kemukakan diatas, belum ada

yang memfokuskan tentang sejarah perkembangan Pondok Pesantren

(21)

12

G. Metode Penelitian

Dalam merekonstruksi sejarah, penulis menggunakan metode

penelitian sejarah. Metode tersebut dibagi menjadi empat tahap yaitu:

heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.15

Untuk lebih jelasnya akan diterangkan proses metode ilmiah ini

sebagai berikut.

1. Heuristik

Heuristic berasal dari bahasa Yunani Heuriskein artinya sama

dengan to find yang berarti tidak hanaya menemukan, tetapi mencari

dahulu. Pada tahap ini penulis melakukan kegiatan pada penjajakan,

pencarian, dan pengumpulan sumber-sumber yang akan diteliti, baik

yang terdapat di lokasi penelitian, temuan benda maupun sumber

lisan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua cara untuk

mencari dan menemukan sumber sejarah, yaitu:

a. Sumber primer, di antaranya adalah:

1) Dokumen merupakan data mengenai hal-hal atau variabel

yang berupa catatan transkip buku, surat kabar, majalah,

prasasti, notulen, agenda, dan sebagainya. Selain memperoleh

15

(22)

13

sumber lisan, penulis juga memperoleh sumber dokumen dan

arsip-arsip berupa tulisan, gambar, maupun buku tentang

sejarah Pondok Pesantren Watu Bodo.

2) Sumber lisan (Oral History) dari KH. Abdillah Anas. Dan

wawancara juga akan dilakukan kepada sebagian orang yang

layak dan dapat dipercaya serta orang-orang yang dekat

dengan KH. Abdillah Anas untuk memperoleh kebenaran

data yang diperlukan penulis dalam penulisan ini.

b. Sumber sekunder, dimana penulis menggunakan buku-buku yang

relevan dengan permasalahan penulis ini.

2. Kritik Sumber

Sumber untuk penulisan sejarah ilmiah bukanlah sembarang

sumber, akan tetapi sumber-sumber itu terlebih dahulu harus dinilai

melalui kritik ekstern dan kritik intern. Dalam penulisan mengenai

sejarah perkembangan Pondok Pesantren Watu Bodo Pangkah Kulon

Ujungpangkah Gresik (1991-2015) penulis akan menganalisa secara

mendalam terhadap sumber-sumber yang telah diperoleh baik primer

(23)

14

mendapatkan keaslian dan kesahihan dari sumber-sumber yang telah

didapat.

3. Interpretsi (penafsiran)

Adalah suatu usaha mengkaji kembali terhadap sumber-sumber

yang ada. Kemudian sumber-sumber yang ada di bandingkan dan di

simpulkan atau di tafsirkan. Interprestasi yang dikemukakan disini ada

dua macam, yaitu analisis dan sintesis. Analisis berarti menguraikan,

sedangkan sintesis adalah menyatukan. Yang penulis lakukan dalam

penulisan proposal ini adalah menguraikan sejumlah fakta yang

diperoleh, kemudian menyatukan fakta-fakta dari beberapa sumber

yang ditemukan kedalam suatu interprestasi yang menyeluruh.

4. Historiografi

Adalah cara penulisan atau pemaparan hasil penelitian laporan.

Penulis menuangkan peneliti dari awal hingga akhir berupa karya

ilmiyah.16 Sedangkan dalam bukunya Nugroho Susanto menyatakan

Dalam hal ini, setelah penulis melewati tahapan-tahapan yang

dikemukakan di atas, untuk selanjutnya penulis melakukan pemaparan

atau pelaporan sebagai hasil penelitian sejarah yang membahas

16

(24)

15

tentang sejarah perkembangan Pondok Pesantren Watu Bodo Pangkah

Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015).

H. Sistematika Bahasan

Untuk mempermudah dalam memahami penelitian ini, maka

penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab pertama, Pendahuluan. Bab ini berisikan tentang latar

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan

penelitian, pendekatan dan kerangka teoritik, penelitian terdahulu, metode

penelitian, dan sistematika bahasan.

Bab kedua, bab ini menjelaskan tentang sejarah Pondok Pesantren

Pendopo Watu Bodo mulai dari letak geografis pondokpesantren, sejarah

berdirinya pondok pesantren, dan biografi pendiri pondok.

Bab ketiga, bab ini menjelaskan tentang aktifitas yang ada pada

pondok pesantren mulai dari aktifitas pendidikan, aktifitas keagamaan, dan

aktifitas khusus.

Bab keempat, bab ini menjelaskan tentang perkembangan Pondok

Pesantren Pendopo Watu Bodo mulai tahun 1991-2007, 2007-2015, dan

(25)

16

Bab kelima Penutup, bab ini merupakan pembahasan terakhir yang

(26)

17

BAB II

SEJARAH PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH

KULON UJUNGPANGKAH GRESIK

A. Letak Geografis Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

Yang dimaksud dengan letak geografis obyek penelitian adalah

gambaran umum tentang letak dan kondisi pada tempat penelitian tersebut,

yang mana dalam penelitian ini penulis mengambil sebuah penelitian di

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo yang terletak di Dusun Tegal Sari

Desa Pangkah Kulon. Dalam penelitian ini mempunyai letak geografis

yang sangat menguntungkan, karena disekitar pondok terdapat lingkungan

penduduk yang padat. Letak pondok pesantren ini mudah di cari, sebab

memiliki dua tugu yang bertuliskan nama pondok pesantren yang berada

di pinggir jalan.

1. Letak Desa

Desa Pangkah Kulon merupakan nama salah satu desa yang berada

di kecamatan Ujungpangkah kabupaten Gresik. Desa Pangkah Kulon

terletak di ujung paling utara kabupaten Gresik. Jarak antar desa

Pangkah Kulon dengan kabupaten Gresik berkisar 12 km. Dengan

adanya masyarakat yang hiterogen, maka mengakibatkan banyak

(27)

18

Sesuai dengan monografi desa Pangkah Kulon pada tahun 2015

luas desa Pangkag Kulon 1.909,8080 Ha.1

Adapun batas wilayah desa Pangkah Kulon adalah:

a. Sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa.

b. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Karangrejo dan

Kebonagong kecamatan Ujungpangkah.

c. Sebelah timur berbatasan dengan desa Pangkah Wetan kecamatan

Ujungpangkah.

d. Sebelah barat berbatasan dengan desa Banyuurip kecamatan

Ujungpangkah.2

2. Letak Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo tepatnya terletak di

wilayah bagian barat desa Pangkah Kulon. Lokasi pondok pesantren

tersebut letaknya sangat srategis dan mudah dicari, sebab sebelum

memasuki pondok pesantren tersebut terdapat dua tugu bertulisakan

nama pondok pesantren tersebut.

3. Jumlah penduduk

Jumlah penduduk desa Pangkah Kulon kecamatan Ujungpangkah

yang tercatat sampai tahun 2015 berjumlah 8.153 orang, dengan

Siswanto, Wawancara, Pangkah Kulon, 25 April 2016. 2

(28)

19

4. Mata pencaharian

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat desa Pangkah

Kulon menekuni berbagai pekerjaan sebagai sumber mata

pencaharian, yaitu:3

a. Pegawai Negeri Sipil sebanyak 33 orang, dengan rincian (laki-laki

21 orang dan perempuan 12 orang).

b. POLRI sebanyak 2 orang.

c. Perawat sebanyak 7 orang.

d. Guru swasta sebanyak 224 orang.

e. Karyawan honorer sebanyak 690 orang.

f. Buruh migran sebanyak 199 orang.

g. Pedagang barang kelontong sebanyak 24 orang.

h. Peternak sebanyak 112 orang.

i. Petani/ buruh tani sebanyak 1158 orang.

j. Petani tambak/ nelayan sebanyak 1725 orang.

k. Sopir sebanyak 21 orang.

l. Tukang jahit sebanyak 15 orang.

m. Tukang kayu sebanyak 5 orang.

n. Tukang las sebanyak 3 orang.

o. Dukun tradisional sebanyak 5 orang.

p. Tidak mempunyai pekerjaan tetaap sebanyak 1094 orang.

3

(29)

20

5. Agama penduduk desa Pangkah Kulon

Penduduk desa Pangkah Kulon keseluruhan beragama Islam

dengan jumlah 8.153 orang.

6. Lembaga pendidikan

Keberadaan lembaga pendidikan sangat diperlukan oleh

masyarakat, baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal.

Adapun lembaga pendidikan yang terletak di desa Pangkah Kulon

adalah sebagai berikut:4

a. TPQ/ TPA sebanyak 15 buah.

b. Taman Kanak-Kanak sebanyak 6 buah.

c. Sekolah Dasar sebanyak 5 buah.

d. Sekolah Menengah Pertama sebanyak 3 buah.

e. Sekolah Menengah Akhir sebanyak 3 buah.

f. Pondok pesantren sebanyak 1 buah.

g. Kursus modus sebanyak 1 buah.

B. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

Sejarah berasal dari istilah Arab yang berarti pohon. Sebuah pohon

yang berawal dari akar, batang pohon, cabang, dahan, ranting, hingga

pucuk dedaunan. Ada awal dan akrir, ada batas jelas sebuah mahluk dari

sisi waktu. Begitupun Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo sebagai

persembahan putaran sang waktu yang mengalami tempaan kondisi

masyarakat dan semangat perjuangan para perintis dan tokoh-tokohnya.

4

(30)

21

Bagi masyarakat Dusun Tegal Sari Desa Pangkahkulon dan sekitar,

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini tidaklah asing lagi. Pondok

pesantren ini sudah berdiri 25 tahun yang lalu. Pondok Pesantren Pendopo

Watu Bodo didirikan oleh KH. Abdillah Anas Anwar pada tahun 1991 di

Dusun Tegal Sari, Desa Pangkah Kulon Kecamatan Ujungpangkah

Kabupaten Gresik. Saat itu kondisi lahannya masih merupakan bebatuan

cadas dibagian selatan dan dibagian utara merupakan sawah dengan luas 1

Ha. Karena banyak batu-batu besar yang bertebaran di sana sini sehingga

tempat tersebut dinamakan Watu Bodo dengan makna filosofinya adalah

perkumpulan orang-orang yang selalu berkembang dan kuat.5

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini awalnya berdiri karena

KH. Abdillah Anas Anwar melihat seringnya anak-anak yang bermain

disekitar rumahnya, kemudian beliau bertanya kepada anak-anak itu

apakah mereka tidak mengaji atau belajar. Kemudian anak-anak itu

menjawab tidak. Dari situlah kemudian beliau berinisiatif untuk

mengajarkan ngaji dan belajar (bimbel) kepada anak-anak itu yang dibantu

oleh beberapa pemuda di lingkungan sekitar. Dari situlah akhirnya lambat

laun berdirilah sebuah pondok pesanren yang bernama Pendopo Watu

Bodo.6

Proses pembukaan lahan untuk dijadikan Institusi Pendidikan

seperti sekarang ini melalui perjuangan keras, ketekunan tinggi, terutama

oleh pendirinya sendiri, yaitu KH. Abdillah Anas Anwar. Dengan berbekal

5

Hamim, Wawancara, Pangkah Kulon, 26 Maret 2016. 6

(31)

22

keyakinan untuk mendirikan pendidikan formal dan non formal, hal ini

terinspirasi oleh perjuangan Wali Songo terutama Sunan Ampel yang

sangan peduli dengan masyarakat untuk mencerahkan Syiar Islam.

Dengan demikian Watu Bodo mempunyai kiprah yang positif bagi

Masyarakat Gresik, Jawa Timur maupun Indonesia.

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini juga pernah di hadiri

oleh tokoh nasional, Bapak Bangsa sekaligus Presiden RI ke-4 Bapak KH.

Abdur Rahman Wahid (Gus Dur) sebanyak 3 kali yaitu pada tanggal 23

Mei 2002, 12 Mei 2003, dan 01 Mei 2004. Selain itu juga seniman

Nasional Iwan Fals mengadakan Konser Bertajuk Musik Religi pada

tanggal 17 Juni 2011.7

Dengan kehadiran para tokoh-tokoh nasional tersebut, Watu Bodo

bisa berperan dan merubah masyarakat Gresik menjadi lebih baik sesuai

dengan visi dari pendiri Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo yaitu

terbukalah mata dan pikiranku dan misinya yaitu tanganku meraih apa

yang dapat diraih.

1. Struktur Kepengurusan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

Pengasuh : KH. Abdillah Anas Anwar

Ketua : Muhammad Yusuf

Wakil Ketua : Fuad Muzaki

Sekretaris : Nyardi Hantoko

Bendahara : Bustanul Ilmi

7

(32)

23

Seksi-seksi:

a. Seksi PHBI / PHBN : 1) Ainul Atho’

2) Hidayatullah

b. Seksi Pendidikan : 1) H. Abdullah Badi’

2) Fatah Yasin

3) Al-Hakam

c. Seksi Kegiatan : Kegiatan Dhiba’iyah

1) Nyardi Hantoko

2) Liman Khosiyah

Kegiatan Manaqib

1) Moh. Yusuf

2) Mar’atus Sholihah

Kegiatan Al- Banjary

1) Edy Susanto

2) Nur Latifah

3) Moh. Supriyanto

Kegiatan Muhadhoroh

1) Isyatul Alaniyah

2) Budi Lestiono

(33)

24

Kegiatan Suwelasan

1) Asfiyatul Khoiriyah

2) Syamsul Arif

3) Solihul Amin

d. Seksi Humas :1) Zainul Hasan

2) Fatah Yasin

3) Fuad Muzaki

4) Ainur Rofiq

5) Edi Susanto

6) Moh. Supriyanto

e. Seksi Keamanan : Keamanan Dalam Pondok

1) Ainul Atho’

2) Jhon Sulistiawan

3) Mustaqim

4) Idris Afandi

5) Budi Lestiono

6) Moh. Yusuf

Keamanan Luar Pondok

1) Ainul Humam

2) Ainun Na’im

f. Seksi Sarana Prasarana : 1) H. Sadzali Ihsan

2) Fatah Yasin

(34)

25

g. Seksi Pembinaan Santri : 1) Hamim Thohari

2) Moh. Ukasa

3) Ainul Atho’

4) Budi Lestiono

5) Nyardi Hantoko

6) Bustanul Ilmi

7) Syamsul Arif

h. Seksi Kebersihan : 1) Budi Lestiono

2) Nyardi Hantoko

3) Moh. Supriyanto

4) Suhadi

5) A. Khoirul Huda

6) All Santri

i. Seksi Olahraga : 1) Syamsul Arif

2) Rozik

3) Ainur Rofiq

4) Anik

5) Ainul Atho’

6) Moh. Yusuf

C. Biografi KH. Abdillah Anas Anwar

Nama lengkap dari Abah Dillah adalah H. Abdillah Anas Anwar

bin H. Anwar Kholil (Afid) bin H. Ghufron (Dahlan) bin Tafsiranom bin

(35)

26

dilahirkan di Pangkah Wetang Ujungpangkah Gresik pada tanggal 10 Juni

1962 tepatnya di dusun Krajan. Ibunya bernama Hj. Maisaroh dan ayahnya

bernama H. Anwar Kholil. Abah Dillah merupakan anak ke empat dari

empat bersaudara. Beliau berasal dari keluarga yang sederhana, dengan

didikan agama yang keras sehingga mampu memebentuk karakter seorang

Abah Dillah menjadi manuisa yang bermoral tinggi.8

Sejak kecil Abah Dillah sudah memiliki beberapa keistimewaan

dibandingkan dengan saudara yang lainnya, yaitu kecerdasannya, sikap

keberanian dan juga keterampilan praktis yaitu seperti berdagang, yang

mana pada saat itu berdagang merupakan bagian besar dari mata

pencaharian masyarakat Ujungpangkah. Perkembangan karakternya kini

semakin terlihat dari upaya-upaya yang dilakukannya. Dimana ia selalu

berupaya dalam mengembangkan berbagai bidang seperti dalam bidang

keagamaan kepada para santri dengan segala kemampuannya serta dalam

mengemban tugas yang dibebankan kepadanya.

Terwujudnya karakter yang sedemikian tidak berarti bahwa Abah

Dillah telah menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi

sebagaimana pada zaman sekarang. Pada masa belajarnya dulu Abah

Dillah tidak tamat dalam pendidikan formalnya meskipun itu dalam

tingkatan pertengahan atau Madrasah Tsanawiyah, akan tetapi Abah

Dillah telah menejaljahi berbagai pondok pesanter yang ada di Jawa Timur

bahkan sampai ke Jawa tengah untuk belajar mendalami agama yang

8

(36)

27

bertujuan agar bisa mendekatkan diri kepada allah hinga merasa sedekat

mungkin.9

Sepulangnya dari menjajaki berbagai pesantren, ia kemudian

perlahan mampu mendirikan sebuah pondok pesantren yang mana pondok

Tersebut ialah Pondok Pesantren Watu Bodo yang dikelolahnya sendirian

dengan beberapa santri yang ikut belajar di pondok tersebut.

Abah Dillah merupakan seseorang yang berpegang pada ajaran

Tasawuf. Dimana Tasawuf merupakan sebuah ilmu yang mempelajari

tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pandangan

Abah Dillah tasawuf diartikan sebagai suatu perjalanan yang disebut

dengan semedi atau bertafakkuur. Tasawuf juga diartikan sebagai

perjalanan dalam nikmatnya menikmati hidup, seperti ketika berada di

suatu tempat yang sangat ramai dan penuh kemewahan tidak pernah

merasa ramai dan mewah, dan apabila sedang menyendiri seperti sedang

bertafakkur atau sedang berdiam di dalam masjid atau tempat tertentu juga

tidak merasakan kesepian. Artinya bahwa bahwa hidup ini sangat

sederhana dan biasa-biasa saja dimanapun kita berada, yaitu dengan satu

tujuan yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT.10

Abah Dillah memiliki perilaku ataupun ciri-ciri yang merupakan

karakteristiknya yitu berbeda dengan lainnya, diantaranya tidak memakai

alas kaki. Alasan yang dikemukakan oleh seorang Abah Dillah tidak

memakai alas kaki adalah sangat singkat, yaitu bahwa Abah Dillah tidak

9

Yusuf, Wawancara, Pangkah Kulon, 10 April 2016. 10

(37)

28

ingin berpola hidup yang neko-neko, beliau mengatakan bahwa kebiasaan

yang seperti itu adalah bagian kesederhanaan dalam hidupnya, karena

menurutnya Islam itu mengajarkan kesederhanaan. Selain alasan tersebut,

beliau juga mengatakan bahwa beliau tidak memakai alas kaki karena

mengatakan bahwa seisi bumi ini adalah suci, terkecuali jika memang

benar-benar terlihat najis maka harus dihindari. Semua yang terdapat di

Bumi ini dianggap suci karena najis pun terdiri dari beberapa macam, jika

najis itu tidak nampak atau ‘ainiyahnya ataupun mugholadloh dan

mukhofafah, maka semuanya itu dianggap suci. Sebuah prilaku yang

dirasa cukup aneh dan tidak biasanya dilakukan oleh para kiai pada

umumnya. Akan tetapi hal tersebut bisa menjadi sebuah pelajaran penting

dan memberikan manfaat bagi para santri khususnya dan para masyarakat

sekitarnya yaitu, mereka mengetahui bahwa tujuan manusia hidup adalah

mendekatkan diri kepada Allah. Bukan berarti bahwa para santri atau

masyarakkat tersebut mengikuti Abah Dillah tidak memakai alas kaki, tapi

mereka jadi lebih mengerti dari tujuan hidup di dunia ini.11 Namun saat ini

jika beliau bepergian jauh, beliau memakai alas kaki.

Dimana ia mengatakan bumi ini suci adalah berdasarkan pada

cerita kisah Nabi Musa a.s ketika menerima wahyu di bukit Thuwa, yang

mana pada saat itu sebelum Nabi Musa menginjakkan kaki di lembah

tersebut beliau mendapatkan perintah yaitu seruan untuk melepaskan alas

11

(38)

29

kakinya, karena sesungguhnya bumi ini suci. Sebagaimana telah dijelaskan

dalam Al-Qur’an Surat Thaha ayat 11-12:

س م ا د ن اهاتأ املف

Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tinggalkanlah kedua

terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa”.12

Ciri lain pada diri Abah Dillah yaitu selalu mengenakan pakaian

hitam terutama pada saat melakukan ritual tarekatnya. Alasan berpakaian

tersebut sebagaimana dalam cara berpakaiannya adalah Abah Dillah

berpakaian hitam ini meneladani sikap dari Sunan Kali Jaga yang merasa

bahwa dirinya masih penuh dengan dosa. Dan pakaian hitam ini

merupakan pakaian yang netral, artinya semua bisa bergabung tanpa

memilih antara yang satu dan yang lain.

Kemudian ia juga suka berambut panjang, seperti berbaju hitam,

bahwa rambut panjang baginya adalah salah satu cara untuk melatih

kesabaran yaitu dimulai dengan merawat dirinya sendiri, karena baginya

berambut panjang tidaklah mudah, melainkan penuh kesabaran dalam

merawatnya, seperti mebersihkan dan menyisirnya.13 Namun pada saat ini

rambut Aba Dillah yang dulunya panjang, sekarang sudah dipotong. Dan

(39)

30

Aba Dillah adalah sosok orang yang berjuang di jalan Allah SWT,

akan tetapi beliau berjuang dengan cara yang berbeda dengan kiyai yang

lain, maksudnya berbeda dengan yang lain adalah beliau berjuang dengan

cara selain menanamkan cinta terhadap Allah SWT, akan tetapi beliau juga

secara tidak langsung menanamkan pesanpesan moral bagi warga sekitar

khususnya bagi santrinya dan masyarakat yang ada di daerah yang lain.

Dalam beribadahnya Abah Dillah terkenal sebagai sosok yang kuat

dalam beribadah, meskipun sholat ataupun kegiatan keagamaan yang lain

dilakukan sama seperti orang pada umumnya, akan tetapi ketika malam

beliau jarang tidur, sering bahkan hampir setiap hari beliau berada pada

tempat yang memang dibuatnya khusus untuk beri’tikaf, baik itu saat pagi,

siang maupun sore. Yang jelas ketika malam beliau selalu berada ditempat

tersebut untuk melakukan pendekatan kepada Allah, kecuali ketika ada

keperluan di luar kota ataupun di luar negeri.14

14

(40)

31

BAB III

AKTIFITAS PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO

PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK

A. Aktifitas Pendidikan

Pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan yang kegiatannya

di lakukan sepanjang hari. Santri tinggal di asrama suatu kawasan dengan

Kiai, Guru, dan Senior mereka. Oleh karena itu, hubungan yang terjalin

antara mereka di bidang pendidikan berjalan intensif, tidak sekedar

hubungan formal antara pengasuh, uztad, santri di dalam kelas. Dengan

demikian kegiatan pendidikan berlangsung sepanjang hari, dari pagi

hingga malam hari.

Sistem pendidikan yang seperti ini banyak membawa keuntungan

bagi sebuah pesantren. Saat terdapat perilaku santri baik yang terkait

dengan upaya pengembangan intelektualnya maupun kepribadiannya.

Keuntungan kedua, adanya proses pembelajaran dengan frekuensi yang

tinggi dapat memperkokoh pengetahuan yang di terimanya. Dan

keuntungan yang ketiga, yaitu adanya proses pembiasaan akibat interaksi

setiap saat baik santri dengan santri, santri dengan ustadz, dan santri

dengan kiai.1

1

(41)

32

Pada sebuah lembaga pesantren, kiai mempunyai otoritas yang

sangat besar, memiliki kebebasan dalam menemukan suatu kebijakan dan

melakukan pilihan-pilihan. Sistim pendidikan pesantren dengan demikian

sangat bergantung pada selera kiainya. Maka lembaga pendidikan

pesantren memilik kebebasan yang tidak harus mengikuti standarisasi

kurikulum yang ketat.2

Metode pengajaran yang di gunakan oleh Pondok Pesantren

Pendopo Watu Bodo ada empat macam, yaitu:

1. Metode Sorogan, Sorogan berasal dari kata sorog (jawa) yang berarti

menyodorkan bacaan, sebab santri secara bergilir menyodorkan

bacaan kitabnya di hadapan Ki ainya atau penggantinya. Pendalaman

seperti ini di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo di laksanakan

setelah subuh. Setiap lima santri di komandani oleh satu guru (Kiai),

santri yang membaca Al-Qur’an guru yang menyimak dan

membetulkan bila ada bacaan yang salah. Dan begitu pula pada

bacaan pada kitab kuning lainnya.

2. Metode Wetonan, dimana seorang Kiai membacakan secara urut,

sehingga santri mengikuti dan member catatan pada kitab dengan

bahasa Arab dan bahasa Pegon ( bahasa Jawa yang di tulis dengan

angka Arab), dengan maksud agar bisa membantu santri dalam

mempelajari lebih lanjut isi kitab yang telah dipelajari.3

2

Ibid., 67. 3

(42)

33

3. Metode Bandongan atau Kahalaqoh, yaitu dimana Kiai membaca

suatu kitab dengan menerjemahkannya, kemudian santri

mendengarkan dan menyimak kitabnya masing-masing, kemudian

membaca arti kata dan keterangannya. Dalam metode Bandongan ini,

para santri memperoleh kesempatan untuk bertanya atau meminta

penjelasan lebih lanjut atas keterangan Kiai.

4. Metode Mudzakaroh adalah metode yang di gunakan untuk mengasah

otak santri dengan cara membahas masalah Diniyah seperti Aqidah,

Ibadah, dan masalah agama pada umumnya. Metode ini dapat

membangkitkan semangat intelektual santri. Mereka diajak berfikir

ilmiah dengan menggunakan penalaran-penalaran yang di sandarkan

pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kitab-kitab klasik.

Pendidikan yang di ajarkan di Pondok Pesantren Pendopo Watu

Bodo berupa pendidikan non formal, yakni madrasah diniyah. Dimana

pendidikan ini dilaksanakan setiap selesai shalat maghrib. Adapun

kitab-kitab yang di pergunakan yakni:4

(43)

4 Tauhid 1. Jawahirul kalmiyah

2. Aqidatul awam

5 Tajwid 1. Hidayatul mustafid

2. Syifa’ul jinan

No. Ustadz / Ustadzah Hari Mata Pelajaran

1 Samsul Arif Jum’at Tajwid

(44)

No. Ustadz / Ustadzah Hari Mata Pelajaran

1 Solihul Amin Jum’at Tauhid

No. Ustadz / Ustadzah Hari Mata Pelajaran

1 Zainul Hasan Jum’at Tajwid

2 H. A. Badi’ Sabtu Feqih

3 Nyardi haantoko Ahad Ahklaq

4 Fata Yasin Senin Nashor

5 Hj. Najiatul Faizah Selasa Feqih Wanita

6 M. Rizal Firdi Rabo Tauhid

Kelas ula III putra

Wali Kelas : Zainul Hasan

No. Ustadz / Ustadzah Hari Mata Pelajaran

1 M. Rizal Firdi Jum’at Tauhid

2 Hidayatullah Sabtu Ahklaq

3 Zainul Hasan Ahad Tajwid

4 H. A. Badi’ Senin Feqih

5 Fata Yasin Selasa Nashor

(45)

36

B. Aktifitas Sosial Keagamaan

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo adalah salah satu pondok

pesantren yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat,

khususnya masyarakat Desa Pangkah Kulon dan sekitarnya. Dalam

kegiatan (aktifitas) sosial keagamaan yang sudah terprogram ini tentunya

sama dengan apa yang dilakukan oleh pondok pesantren yang lainnya,

tidak lain yaitu sebagai salah satu alternatif dalam upaya pengembangan

dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.

Dalam hal ini, menurut pandangan masyarakat, aktifitas sosial

keagamaan sangatlah berpengaruh bagi keberlangsungan hidup

masyarakat baik dalam lingkup sempit maupun luas, karena pada dasarnya

di dalam kehidupan bermasyaraka yang dibutuhkan adalah kese’imbangan

hidup baik secara sosial maupun moral dan dengan bekal keimanan yang

tinggi (Kokoh).6

Kehadiran Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo degan program

yang di suguhkan dalam kehidupan masyarakat Pangkah Wetan dan

sekitarnya ternyata sangat membawa dampak yang positif bagi masyarakat

tersebut, terutama dalam bentuk sosial keagamaan. Sesuai dengan data

yang diperoleh oleh penulis, maka penulis akan sedikit mendiskripsikan

aktifitas sosial keagamaan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan

santri pondok dan masyarakat, yaitu sebagai berikut:

1. Dzikir

6

(46)

37

Dzikir merupakan suatu ibadah yang sangat mulia dan begitu

dianjurkan. Keutamaan dan nilai dari ibadah begitu besar dan

beragam. Bahkan dapat disimpulkan bahwa sangat tidak sebanding

antara upaya dan energi yang dikeluarkan untuk melakukan ibadah

dzikir dengan keutamaan yang disediakan. Sesungguhnya dzikir

merupakan bentuk ibadah yang sangat mudah, dimana dzikir tidak

begiitu banyak memerlukan upaya dan pengorbanan besar.

Dzikir adalah suatu ibadah yang sangat mulia, dan itu pula yang

dilakukan di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo, tidak ada

perbedaan antara dzikir kita dengan dzikir yang dilakukan di Pondok

Pesantren Pendopo Watu Bodo baik dari segi ucapan, pelafalan

bahkan tulisan-tulisan itu juga sering kita baca baik ketika sholat,

ketika kita berdo’a, semunya sama akan tetapi setiap dzikir

mempunyai tujuan yang sama yakni mendekatkan kita terhadap sang

khaliq atau sang pencipta yakni Allah SWT.7

Dzikir yang ada di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini

dilakukan secara terus menerus atau setiap waktu, tetapi ada sebuah

ritual khusus yang dilakukan pada setiap bulan dan di tepatkan pada

malam sebelas pada setiap bulan hijriyah dan itu dilakuan sudah

berlangsung lama, pada saat itu semua baik santri pondok atau

masyarakat sekitar semua berbondong-bondong untuk melakukan

kegiatan tersebut. Itu pun juga bukan dari warga sekitar saja, akan

7Mar’atus, Wawancara,

(47)

38

tetapi banyak juga orang yang dari luar daerah datang untuk

menghadiri acara istighosah tersebut. Padahal sebelumnya tidak ada

yang memberitahu atau memberi pengumuman, mungkin karena

kahrisma dari pengasuh Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo lah

yang menuntun orang-orang yang di luar daerah luar kecamatan ujung

pangkah untuk ikut andil dan berdzikir bersama beliau. Tidak tertutup

kemungkinan semua kiai datang untuk menghadiri acara tersebut

bahkan bukan hanya itu orang yang selevel menteri ada juga yang

datang pada acara tersebut.

Berdzikir dianjurkan bagi setiap muslim untuk lebih mendekatkan

kepada Allah swt. Sesuai dengan firman Allah Surat Thaha Ayat 14:

ا أ ي إ

Istighasah merupakan salah satu kegiatan yang bersifat sosial

spiritual. Tujuannya adalah untuk merekatkan hubungan sesama

jama’ah dan sekaligus untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah

SWT.

Itighasah juga dapat di artikan memohon pertolongan dari Allah

SWT untuk terwujudnya sebuah “keajaiban” atau sesuatu yang paling

8

(48)

39

tidak dianggap dan paling tidak mudah untk diwujudkan. Seperti yang

tersirat dalam al-qur’an surat Al-Anfal ayat 9 yang berbunyi:

كئا لا م فلأب مك م ي أ مكل جتس ف مكب وثيغتست إ

يفد م

) ٩ (

Artinya: (ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu,lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat

yang datang berturut-turut”.9

Istighasah pada dasarnya merupakan ajaran dasar dari para ulama’

terdahulu, khususnya para Ulama’-ulama’ Nahdliyin. Karena di

dalamnya terkandung kalimat-kalimat suci, maka banyak diantara kita

menjadikan istighasah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan

keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Kaitannya dengan hal ini, Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

mengambil langkah yang tepat untuk dapat berinteraksi dengan santri

dan masyarakat. Hal ini tentu didasarkan pada kebutuhan santri dan

masyarakat akan siraman rohani dari seorang guru spiritual ataupun

berasal dari sebuah komunitas, dalam hal ini adalah Pondok Pesantren

Pendopo Watu Bodo. Sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat

akan adanya kegiatan tersebutm baik secara dhohiriyah maupun secara

bathiniyah.

9

(49)

40

Kegiatan Istighasah yang dijalankan di Pondok Pesantren Pendopo

Watu Bodo tidak terbatas pada pembacaan ayat atau kalimat suci saja.

Akan tetapi ada juga kegiatan barzanjen, diba’aan hingga

manaqiban.10

3. Peringatan hari besar Islam

Peringatan hari besar Islam adalah merupakan agenda Tahunan

yang dilakukan oleh umat Islam secara Universal. Jika kita melihat

Pada pelaksanaan kegiatan ini, partisipasi yang di tunjukkan oleh

seluruh Umat Islam di semua penjuru, terutama umat Islam di

Indonesia sangatlah meriah. Akan tetapi bukan kemeriahan yang

menjadi perhatian utama. Namun lebih dari itu, kegiatan peringatan

hari besar Islam dilaksanakan dengan tujuan untuk memeberikan

uswatun khasanah kepada siapapun untuk lebih mengenal ajaran

agama Islam beserta kebudayaannya.11

Berkenaan dengan hal tersebut, Pondok Pesantren Pendopo Watu

Bodo turut serta berperan untuk menjadikan peringatan-peringatan

hari besar Islam tersebut sebagai bagian dari dakwah Islam yang pada

akhirnya dapat menghasilkan mutu yang baik bagi umat Islam,

khususnya di daerah Pangkah Kulon. Kegiatan-kegiatan tersebut

biasanya meliputi, perayaan Idul Fitri, Idul Adha, tahun baru Islam,

maulid Nabi, Isro’ Mi’roj dan sebagainya.

10

Hamim, Wawancara, Pangkah Kulon, 12 Mei 2016. 11Atho’, Wawancara,

(50)

41

4. Jam’iyah yasiin dan tahlil

Jam’iyah ini adalah sebagai sebuah aktifitas membaca surat yasiin

dan tahlil yang di lakukan oleh santri Pondok Pesantren Pendopo

Watu Bodo dengan lingkungan masyarakat secara berjamah. Kegiatan

ini dilaksanakan di pendopo pondok pesantren sebagai rutinitas

dengan di pimpin oleh santri pondok pesantren secara bergantian.12

Secara spiritual kagiatan baca surat yasin dan tahlil dengan

berjamah dianggap masyarakat sebagai kegiatan yang membawa

berkah, disatu sisi lain juga mempunyai dasar tujuan yaitu sbagai

berikut:

a. Menambah rasa keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

b. Agar terjalinnya tali silaturrahim antar sesama muslim terutama

komunitas Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo dengan

masyarakat Pangkah Kulon dan sekitarnya.

c. Dan juga, sebagian masyarakat beranggapan bisa meringankan

permasalahan-permasalahan yang dianggap krusial terutama

masalah ekonomi.13

5. Jam’iyah khotmil Qur’an

Jam’iyah ini merupakan jam’iyah yang diselenggarakan oleh

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo dengan warga masyarakat

sekitar Pangkah Kulon yang bertempat di Masjid desa setempat.

Jam’iyah ini merupakan jam’iyah rutinan yang dilaksanakan pada hari

12Mar’atus, Wawancara,

Pangkah Kulon, 09 Mei 2016. 13

(51)

42

Jum’at Legi. Teknis yang digunakan dalam pelaksanaan Khotmil

Qur’an yaitu pertama: Tawasul yang dipimpin oleh Abah Dillah

sebagai pengasuh Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo dan juga

tokoh agama di masyarakat. kemudian dilanjutkan dengan pembacaan

awal hingga akhir secara bergiliran dan di tutup dengan Do’a.14

6. Wisata religi dan ziarah

Kegiatan ini pada umumnya di ikuti oleh seluruh santri dan

masyarakat disekitar pesantren. Kegiatan ziarah ini dilakukan di

makam para auliya’, seperti walisongo dan yang lainnya. Dengan

tujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui

kegiatan yang bersifat jama’ah. Artinya, melalui kegiatan jama’ah ini

para ulama’ atau Kyai, secara individu maupun secara kelembagaan,

dan atas nama pesantren dapat berpartisipasi aktif dalam pembentukan

moral sosial keagamaan umat. Sehingga hasil yang didapatkan dalam

pembinaan akhlak, moral sosial keagamaan bisa menjadi

kemaslahatan bagi umat Islam.15

7. Bakti sosial terhadap lingkungan

Pengabdian pondok pesantren kepada umat tentu tidak terbatas

dalam hal ibadah shar’iyah. Terlepas dari hal-hal shar’iyah, pesantren

juga memiliki tugas, peran dan fungsi penting dalam pembinaan

batiniyah para santri dan umat Islam yang berada di sekitar pondok

pesantren. Namun, aspek yang paling penting dalam kehidupan

14

hidayatullah, Wawancara, Pangkah Kulon, 20 Mei 2016. 15

(52)

43

bermasyarakat adalah pengabdian terhadap masyarakat yang disertai

dengan uswatun khasanah, dalam hal ini Pondok Pesantren Pendopo

Watu Bodo lebih menekankan pada aspek sosial keagamaan yang

terwujud dalam kegiatan bakti sosial.

Kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh Pondok Pesantren

Pendopo Watu Bodo yakni kerja bakti membersihkan lingkungan

sekitar, diantaranya adalah membersihkan pemakaman umum,

membersihkan selokan atau saluran air. Hal ini tentu sesuai dengan

prinsip umat Islam yang berbunyi bahwa kebersihan adalah sebagian

dari keimanan.16

C. Aktifitas Khusus

Aktifitas khusus di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo

merupakan sebuah aktifitas yang tidak dimiliki oleh pondok pesantren

pada umumnya. Dimana dalam pondok pesantren ini memiliki sebuah

aktifitas yang dinamakan sebagai pondok pesantren rehabilitasi.

Rehabilitasi memiliki artian pemulihan kembali keadaan semula.

Seseorang yang ingin sembuh atau ingin memulai kehidupan yang dulunya

pernah berbuat buruk di lingkungannya. Karena faktor ingin sembuh inilah

maka orang itu perlu direhabilitasi, maka pengertian dari rehabilitasi

sendiri merupakan sebuah proses penyembuhan.

Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo menangani santri-santri

yang terganggu kejiwaannya, anak-anak muda yang terjerumus dalam hal

16Mar’atus

(53)

44

negatif yang suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at

Islam, seperti minum-minuman keras, menkonsumsi obat-obatan terlarang.

Yang oleh khalayak umum selalu di anggap sebagai sampah masyarakat,

dan keberadaan dari mereka hanya dipandang sebelah mata saja. Namun di

pondok pesantren ini ada juga kaum muda yang yang terganggu akal

pikirann ya yang disebabkan oleh adanya tekanan batin yang tidak bisa

diselesaikan. Selain itu juga banyaknya masalah yang dihadapinya

sehingga sulit untuk menyelesaikan masalah yang ada, berakibatkan

pikiran yang dialami sedikit terganggu. Sebenarnya dalam kehidupan yang

di alami oleh santri yang ada di pondok ini tidak semuanya

berkepribadian buruk.

1. Sejarah Awal Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Sebagai

Tempat Rehabilitasi

Dimulai dari tahun 1995, Abah Dillah kedatangan pasien pemakai

dan pecandu narkoba. Pada mulanya Abah Dillah mengobati pasien

dengan bermacam-macam komposisi untuk obat yang diminum yang

sudah disediakan alam (dari tumbuh-tumbuhan yang ada). Tentu saja

tidak serta merta pasien hanya diberi minum obat ramuan dari Abah

Dillah, namun Abah juga memberikan pendekatan berupa bimbingan

khusus berupa pemahaman hidup- kepada pasien dan juga keluarga

(54)

45

Proses kesembuhan pasien waktu masih awal menangangi

pengobatan pecandu narkoba mencapai tiga tahun, baru si pasien –

tingkat kecanduan narkoba yang sudah parah- bisa sembuh. Setelah

itu, para pasien baru yang berdatangan dapat disembuhkan dalam

kurun waktu satu tahun. Dan waktu pun terus bergulir, para pasien

juga silih berganti sampai pada akhirnya –mulai tahun 2015- Abah

Dillah diberi kemampuan oleh Allah swt. bisa menyembuhkan pasien

hanya dalam waktu 15 hari hingga satu bulan untuk pasien dengan

tingkat keparahan yang rendah sampai yang sedang. Bagi pasien yang

sudah parah (tingkat keparahan tinggi) memerlukan waktu tiga bulan

sampai enam bulan untuk bisa sembuh seperti sedia kala. Adapun

proses penyembuhan itu sendiri niscaya tidak luput dari

beragam treatment dan obat (jamu) yang sudah dimodifikasi

sedemikian rupa sehingga mampu membantu mempercepat

kesembuhan pasien.

Seiring berjalannya waktu, Abah Dillah menggunakan komposisi

yang sudah diistiqamahkan sampai saat ini, yaitu ramuan jamu. Jamu

ini terdiri dari komposisi: madu, telor, akar-akaran, serta

diberi asma’(semacam do’a khusus) dari Abah Dillah. Jamu di sini

berfungsi sebagai media untuk mempercepat pemulihan syaraf pasien

sehingga pasien bisa segera sembuh. Jamu ini tidak diminumkan

(55)

46

pasiennya sendiri tidak hanya dari kalangan muslim, namun ada juga

yang non muslim.

2. Kegiatan Harian Santri Rehabilitasi

Dalam menangani santri rehabilitasi ini Pondok Pesantren

Pendopo Watu Bodo melakukan bimbingan mental spiritual dan

soal-soal ibadah dalam kegiatan sehari-harinya. Kebiasaan positif

yang diberikan oleh pihak pondok pesantren ini akan menimbulkan

dampak yang lebih baik bagi para santri yang telah kecanduan

narkoba dan juga para santri yang mengalami gangguan mental.

Dalam mendidik para santri yangakan direhabilitasi di pondok

pesantren ini ditekankan untuk melakukan sholat berjama’ah terlebih

dahulu.

Namun sebelum mereka melakukan shalat berjama’ah, mereka

harus mandi terlebih dahulu. Sebab Mandi adalah salah satu aktivitas

yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan air adalah

komponen pokok bukan hanya dalam mandi, tetapi juga dalam

kehidupan manusia. karena dengan mandi badan akan menjadi lebih

segar dan jauh lebih bersih. Dengan mandi ini maka kotoran-kotoran

yang ada ditubuh para santri yang direhabilitasi akan hilang.17

Terapi mandi yang dilakukan di Pondok Pesantren Pendopo Watu

Bodo ini dilakukan pada setiap pagi sebelum melakukan sholat

shubuh. Ini dikarenakan mandi pada waktu pagi sekali dapat

17

(56)

47

meringankan stres. Selain itu dengan mandi pagi juga bermanfaat

untuk melancarkan darah yang dikarenakan tubuh akan mendapatkan

asupan oksgen yang cukup. Mandi juga dapat menambah kekebalan

atau daya tahan tubuh terhadap segala penyakit, karena dengan

mandi pagi dapat meningkatkan sel darah putih yang dapat

membantu proses penyembuhan dan membuat tubuh menjadi lebih

sehat. Mandi dengan air dingin mampu mengurangi noda dan

lingkaran hitam pada bagian bawah mata, kesegaran wajah akan

semakin terpancar.

Setelah proses kegiatan mandi sudah terlaksanakan maka para

santri diwajibkan untuk sholat berjamaah jikalau waktu sholat telah

tiba, dan melakukan dzikir (pujian-pujian kepada Allah), contoh

kalimat subhanallah.18 Berdzikir juga dapat menentramkan pikiran

bagi seorang yang mengalami suatu problematika yang tidak bisa

diselesaikan untuk itulah berdzikir perlu untuk menentramkan jiwa

yang sedang mengalami masalah. Dengan berdzikir masalah yang

selalu dipikirkan akan segera terselesaikan dengan menenangan jiwa.

Berdzikir dianjurkan bagi setiap muslim untuk lebih mendekatkan

kepada Allah swt. Selain berdzikir, santri rehabilitasi juga

melakukan kegiatan tadarus (baca al-Qur’an) setelah jama’ah shalat

subuh.

18

(57)

48

Para santri juga melakukan istighosah, artinya meminta

pertolongan ketika dalam keadaan sukar. Istighosah biasanya

dilakukan secara bersama dan dimulai dengan wirid-wiridan tertentu,

terutama bacaan istighfar.Karena dengan istighosah ini mereka akan

selalu memanjatkan doa kepada Allah untuk dimintai pertolongan.

Dengan beristighosah para santri juga akan mendapatkan

ketenangan jiwa. Memohon pertolongan dari Allah sangat

dianjurkan bagi setiap muslim. Kegiatan istighosah yang bertujuan

untuk menjernihkan jiwa para santri ini sangat diperlukan. Istighosah

adalah memohon pertolongan dari Allah SWT untuk terwujudnya

sebuah “keajaiban” atau sesuatu yang paling tidak dianggap dan

paling tidak mudah untk diwujudkan.19

Selain kegiatan keagamaan yang dilakukan setiap harinya, para

santri Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo juga melakukan

kegiatan shalawat al-banjari setiap malam jum’at setelah shalat isya’

dan setiap satu bulan sekali para santri juga melakukan kegiatan

berupa sima’an al-Qur’an, dziba’an, pengajian umum, dan

pembacaan manaqib bersama.

Namun selain dengan menggunakan dzikir untuk menenangkan

hati, salah satu terapi yang juga akan mampu membantu seorang

yang mengalami ganguan kejiwaan dan bagi seorang pecandu

narkoba adalah dengan menggunakan media dakwah. Dakwah atau

19

(58)

49

ceramah dilakukan Abah Dillah untuk memotivasi santri agar tidak

melakukan hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri. Dalam

melakukan dakwah untuk santri yang kecanduan narkoba dan

gangguan jiwa harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti,

agar para santri yang mendengarkan dapat memahami isi dari

dakwah tersebut.

Selain itu, Salah satu bentuk terapi yang lain adalah dengan cara

mengajak para santri untuk mengikuti kegiatan wisata religi yang

diselenggarakan oleh pihak ponpes sendiri. Untuk wisata religi ini

biasanya dilakukan pada waktu tertentu saja. Wisata religi yang

diadakan oleh pihak pondok pesantren biasanya adalah untuk

berziarah kemakam para wali. Kegiatan wisata religi ini berguna

untuk membuat para santri ini untuk merifresh pikiran selama

didalam pondok pesantren.20

Namun pendekatan kepribadian juga sangat penting dilakukan

kepada para santri rehab. Dibutuhkan pendekatan yang ekstra untuk

memperkenalkan ajaran islam kepada orang terkena gangguan

kejiwaan dan juga orang yang kecanduan narkoba. Pendekatan ini

tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. Sebab santri rehab banyak

membuutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang

belum pernah mereka ketahui.

20

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi ini mengkaji tentang sejarah pondok pesantren yang berjudul Sejarah Dan Perkembangan Berdirinya Pondok Pesantren Metal Moeslim Al-Hidayah Di Desa Rejoso Lor

dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Perkembangan Pondok Pesantren Al-Fatah Banjarnegara Tahun 1990-2015 Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana

(2) Yayasan Pesantren Yatim Sosial At-Tauhid mengalami perkembangan dari segi program pendirian pesantren di dalamnya yakni pada tahun 2010, sarana dan prasarana yang

Lembaga dakwah terdapat majlis ta’lim laki- laki dan perempuan selanjutnya juga ada solidaritas santri alumni Pondok Pesantren Al-Furqon (SIMPATIQ). Respon masyarakat akan

Perkembangan Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah dibagi menjadi 2 periode, dalam perkembangannya dapat terlihat dari berdirinya beberapa unit lembaga

Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an “Al-Hadi” dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional pondok pesantren dan membebaskan biaya pendidikan serta biaya hidup para

dengan titik fokus pada permasalahan ini akan menemukan bagaimana sejarah serta perkembangan dan juga kontribusi dari pondok pesantren Al-Masthuriyah.. Penelitian

Pengaruh Pondok Pesantren Yasinat dalam meningkatkan perekonomian masyarakat salah satunya adalah santri yang berdomisili di pondok membutuhkan beberapa keperluan khususnya makanan dan