i
SEJARAH PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK
(1991-2015)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana dalam Program Strata Satu (S-1) pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)
Oleh:
Jauharotun Nafisah NIM: A0.22.12.006
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
ix
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Pendopo
Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)”. Masalah yang
diteliti dalam skripsi ini adalah (1) Bagaimana sejarah awal berdirinya Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik? (2) Bagaimana aktivitas di dalam Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik? (3) Bagaimana perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)?
Penelitian ini disusun menggunakan metode penelitian sejarah, dengan menggunakan beberapa langkah yaitu heuristik, mengumpulkan arsip-arsip terkait berupa dokumen-dokumen, sumber lisan, dan buku-buku penunjang lainnya; verifikasi (kritik terhadap sumber data), penafsiran serta bagaimana cara penulisan sejarahnya. Adapun pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan historis yang digunakan untuk mendeskripsikan peristiwa masa lampau dan menggunakan pendekatan ilmu sosial yang digunakan untuk mengetahui interaksi sosial yang
ada di pondok pesantren. Teori yang digunakan adalah teori continuity and
change yang dinyatakan oleh Zamakhsyari Dhofier dan penelitian ini juga
menggunakan teori behavioral disorders yang dinyatakan oleh B.F. Skinner.
x
ABSTRACT
This thesis entitled "The History of Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)". Issues examined in this paper are (1) How did the early history of the founding of Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik? (2) How is the activity in Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik? (3) How is the development of Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)?
This study was prepared using the methods of historical research , using some of the steps that heuristics , collecting archives related to the form of documents , oral sources , and other supporting books ; verification ( criticism of the source data) , interpretation and how the writing of history. The approach used is the historical approach used to describe the events of the past and using social science approaches used to determine social interaction in the boarding school . The theory used is the theory of continuity and change expressed by Zamakhsyari Dhofier and this study also used the theory of behavioral disorders represented by B.F. Skinner .
i
A. Letak Geografis Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ... 17
B. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ... 20
C. Biografi KH. Abdillah Anas Anwar ... 25
BAB III AKTIFITAS PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK
A. Aktifitas Pendidikan ... 31
B. Aktifitas Sosial Keagamaan ... 36
C. Aktifitas Khusus ... 43
1. Sejarah Awal Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Sebagai
Tempat Rehabilitasi ... 44
ii
3. Kategori Kesembuhan Santri Rehabilitasi ... 51
BAB IV PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK (1991-2015)
A.Perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
(1991-2007) ... 53
B. Perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
(2008-2015) ... 59
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan... 61
B. Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pondok pesantren adalah merupakan pendidikan khas Indonesia
yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat telah teruji
kemandiriannya sejak berdirinya sampai sekarang. Pada awal berdirinya,
bentuk pondok pesantren masih sangat sederhana. Kegiatannya masih
diselenggarakan di dalam masjid dengan beberapa orang santri yang
kemudian dibangun pondok-pondok sebagai tempat tinggalnya.
Dalam perkembangannya pesantren paling tidak mempunyai tiga
peran utama, yaitu sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwah
dan sebagai lembaga pengembangan masyarakat. Pada tahap berikutnya,
Pondok pesantren menjelma sebagai lemsbaga sosial yang memberikan
warna khas bagi perkembangan masyarakat sekitarnya. Peranannya pun
berubah menjadi agen pembaharuan (Agen Of Change) dan agen
pembangunan masyarakat. Sekalipun perubahan demikian, apapun usaha
yang dilakukan pondok pesantren tetap saja yang menjadi khittoh
berdirinya dan tujuan utamanya, yaitu tafaqquh fid-din. Secara eksistensi
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan lembaga
sosial, tumbuh dan berkembang di daerah pedesaan dan di perkotaan.1
1
2
Pondok pesantren mempunyai arti asrama, atau tempat mengaji,2
sedangkan secara etimologi kata pesantren berasal dari kata “santri”, yaitu
istilah yang digunakan bagi orang-orang yang menuntut ilmu agama di
lembaga pendidikan Islam tradisional di Jawa. Kata “santri” mendapat
awalan “pe” dan akhiran “an”, yang berarti tempat para santri menuntut
ilmu.3
Secara esensial Pesantren merupakan sebuah asrama pendidikan
Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar
ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan
sebutan kyai. Asrama untuk para siswa tersebut berada dalam komplek
pesantren dimana kyai bertempat tinggal. Di samping itu juga ada fasilitas
ibadah berupa masjid di dalamnya. Elemen dasar Pesantren terdiri dari
lima elemen dasar yaitu Pondok, Masjid, santri, kyai dan pengajaran
kitab-kitab klasik (kitab-kitab Kuning).
Membicarakan tentang pondok pesantren, maka kita harus
mengingat bahwasanya lembaga pendidikan di Indonesia pertama kali
yang dikenal adalah pondok pesantren. Lembaga pendidikan pesantren
merupakan lembaga pendidikan tertua saat ini dan dianggap sebagai
budaya Indonesia yang indigenious. Keberadaan pesantren sebagai wadah
untuk memperdalam agama sekaligus sebagai pusat penyebaran agama
Islam diperkirakan masuk sejalan dengan gelombang pertama dari proses
2
Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), 764.
3
3
pengislaman di daerah jawa sekitar abad ke-16.4 Beberapa abad kemudian
penyelenggaraan pendidikan ini semakin berkembang dengan munculnya
tempat-tempat pengajian (nggon ngaji). Bentuk ini kemudian berkembang
dengan pendirian tempat-tempat menginap atau disebut dengan
pemondokan bagi para bagi para pelajar (santri), yang kemudian disebut
“pesantren”.5
Sebuah komunitas pondok pesantren minimal ada kyai (tuan
guru, buya, ajengan, abu), masjid, asrama (pondok) pengajian kitab kuning
atau naskah salaf tentang ilmu-ilmu agama Islam.6
Keberadaan pesantren yang tetap bertahan di tengah arus
modernisasi yang sangat kuat saat ini, menunjukkan bahwa Pondok
Pesantren memiliki nilai-nilai luhur dan bersifat membumi serta memiliki
fleksibilitas tinggi seperti sopan santun, penghargaan dan penghormatan
terhadap guru/Kiai dan keluarganya, penghargaan terhadap keilmuan
seseorang, penghargaan terhadap hasil karya ulama-ulama terdahulu, yang
tetap dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita.
Salah satu satu yang menarik dari Pesantren adalah masing-masing
pesantren memiliki keunikan tersendiri. Peranan tradisi dalam masyarakat
sekitarnya menjadikan pesantren sebagai lembaga yang penting untuk
diteliti. Keunikan tersebut ditandai dengan banyaknya variasi antara
pesantren yang satu dengan yang lainnya walaupun dalam beberapa hal
dapat ditemukan kesamaan-kesamaan umumya. Variasi tersebut dapat
4
Sindu Golba, Pesantren Sebagai Wadah Komunikasi (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), 1. 5
M. Shulthon Masyhud, Manajemen Pondok Pesantren (Jakarta: Diva Pustaka, 2005), 1. 6
4
dilihat pada variable-variabel struktural seperti pengurus pesantren, dewan
kyai, dewan guru, kurikulum pelajaran, kelompok santri dan sebagainya.
Jika dibandingkan yang satu dengan yang lain dan aliran yang satu dengan
lainnya, akan diperoleh tipologi dan variasi yang ada dari dunia pesantren.
Secara garis besar, lembaga-lembaga pesantren dewasa ini dapat
dikelompokkan sebagai berikut:7
1. Pesantren Salaf yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab
Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Sistem madrasah
diterapkan untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam
lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan
pengajaran-pengajaran pengetahuan umum.
2. Pesantren Khalaf yang memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam
madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka
pendidikan formal seperti sekolah-sekolah umum dalam lingkungan
pesantren.
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini di dirikan pada tahun 1991
di dusun Tegal Sari Desa Pangkah Kulon Ujungpangkah oleh H. Abdillah
Anas Anwar. Pada saat penelitian ini berlangsung lahannya masih berupa
bebatuan cadas yang terletak di sebelah selatan dan sebelah utara dan
timur pondok pesantren tersebut merupakan bentangan luas perkebunan
milik masyarakat setempat. Karena banyaknya batu-batuan besar yang
terdapat diantara sisi-sisi pondok tersebut maka pondok tersebut diberikan
7
5
nama Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo, makna yang tersirat dari
penamaan tersebut adalah perkumpulan orang-orang yang selalu
berkembang dan semakin kuat.
Nama Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini bukan berarti batu
yang bodoh seperti anggapan masyarakat pada umumnya, melainkan
maknanya adalah dikatakan “watu” karena pada sekitar pondok tersebut
terdapat batu besar yang keras, dan tidak sedikit orang yang datang ke
pondok tersebut adalah orang-orang yang berhati keras serta iman yang
lemah. Sedangkan “bodo” adalah dari istilah jawa yaitu ramai, yang
dimaknai suci atau fitrah, seperti orang jawa mengatakan hari raya adala
bodo yang dalam istilahnya adalah kembali ke fitri.8
Jika dilihat secara fisik, pondok pesantren ini tidak terlihat seperti
layaknya pondok pesntren kebanyakan. Sebab bangunan dari pondok
pesantren ini hanya berupa joglo-joglo yang nampak tidak terawat. Dan
kalau ditelisik lebih lanjut lagi, pondok pesantren ini juga memiliki
seorang kiai yang memiliki ciri yang berbeda dengan kiai-kiai pada
umumnya. Diantaranya beliau tidak memakai alas kaki, selalu
mengenakan pakaian hitam terutama pada saat melakukan ritual
tarekatnya, dan beliau juga berambut panjang.
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo juga dikenal sebagai pondok
pesantren rehabilitasi. Rehabilitasi adalah pemulihan kembali keadaan
8
6
semula.9 Seseorang yang ingin sembuh atau ingin memulai kehidupan
yang dulunya pernah berbuat buruk di lingkungannya. Karena faktor ingin
sembuh inilah maka orang itu perlu direhabilitasi, maka pengertian dari
rehabilitasi sendiri merupakan sebuah proses penyembuhan.
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo menangani santri-santri yang
terganggu kejiwaannya, anak-anak muda yang terjerumus dalam hal
negatif yang suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at
Islam, seperti minum-minuman keras, menkonsumsi obat-obatan terlarang.
Yang oleh khalayak umum selalu di anggap sebagai sampah masyarakat,
dan keberadaan dari mereka hanya dipandang sebelah mata saja. Namun di
pondok pesantren ini ada juga kaum muda yang yang terganggu akal
pikirannya yang disebabkan oleh adanya tekanan batin yang tidak bisa
diselesaikan. Selain itu juga banyaknya masalah yang dihadapinya
sehingga sulit untuk menyelesaikan masalah yang ada, berakibatkan
pikiran yang dialami sedikit terganggu. Sebenarnya dalam kehidupan yang
di alami oleh santri yang ada di pondok ini tidak semuanya
berkepribadian buruk.10
Dari uraian tentang pesantren yang telah dipaparkan di atas, maka
peneliti menulis kajian tentang “Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren
Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)”.
9
Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Surabaya: Kartika,1997), 446.
10
7
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang di uraikan di atas, peneliti merumuskan
permasalahan yang akan menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini.
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah awal berdirinya Pondok Pesantren Pendopo Watu
Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik?
2. Apa saja aktivitas di dalam Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik?
3. Bagaimana perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015)?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah awal berdirinya Pondok Pesantren Pendopo
Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik.
2. Untuk mengetahui aktivitas yang ada di Pondok Pesantren Pendopo
Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik.
3. Untuk mengetahui perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu
Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015).
D. Kegunaan Penelitian
Mengenai kegunaan penelitian tentang sejarah perkembangan
8
1. Agar dapat memberikan kontribusi dalam bidang ilmiah, baik dalam
bidang pendidikan maupun bidang sosial.
2. Untuk menambah wawasan dan pengalaman baru yang nantinya dapat
menjadikan sebagai acuan dalam meningkatkan proses belajar sesuai
dengan disiplin ilmu agama.
3. Untuk memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana dalam
program Strata Satu (S1) pada jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam
(SKI) di fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri
(UIN) Sunan Ampel Surabaya.
E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik
Menurut Sartono Kartodirjo, penggambaran kita mengenai suatu
peristiwa sangat bergantung pada pendekatan, yaitu dari segi mana kita
memandangnya, dimensi mana yang diperhatikan, unsur-unsur mana yang
diungkapkan, dan sebagainya.11 Dengan pendekatan tersebut maka akan
memudahkan penulis untuk mengetahui bahwa ilmu sosial sebagai ilmu
bantu dalam sejarah.
Pada penelitian ini, penulis menggunakan beberapa pendekatan.
Pertama pendekatan historis, yang menjelaskan tentang sejarah
perkembangan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon
Ujungpangkah Gresik (1991-2015).
Di dalam kajiannya studi kritis memperluas daerah pengkajiannya
dengan menggunakan metodologi baru seperti pendekatan ilmu sosial.
11
9
Sehingga terbukalah kemungkinan untuk melakukan penyorotan aspek
atau dimensi baru dari berbagai gejala sejarah. Pada umumnya yang
menjadi fokus perhatian sejarawan dengan pendekatan ilmu sosial
dapatlah berjalan dengan kerangka struktural.12
Selain itu penulis juga menggunakan teori continuity and change
yang dinyatakan oleh Zamakhsyari Dhofier. Teori continuity and change
menguraikan secara rinci masalah-masalah kesinambungan ditengah
perubahan yang terjadi di pesantren. Perubahan akan terjadi ketika tradisi
baru yang datang mepunyai kekuatan dan dorongan yang kuat yang telah
ada dan baik sebelumnya. Jika tradisi baru yang datang mempunyai
kekuatan dan daya dorong yang kuat, dibanding tradisi -tradisi yang
telah ada dan mapan sebelumnya. Akan tetapi perubahan yang terjadi
tidak akan serta merta terputus begitu saja dari tradisi keilmuan yang lama
yang telah ada sebelumnya. Masih ada kesinambungan yang berkelanjutan
dengan tradisi keilmuan yang lama, meskipun telah muncul paradigma
baru.13 Dengan menggunakan teori continuity and change diharapkan
dapat mengungkap perubahan yang terjadi di dalam Pondok Pesantren
Pendopo Watu Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik.
Penulis juga menggunakan teori behavioral disorders yang
dinyatakan oleh B.F. Skinner. Teori behavioral disorders ini
dikonseptualisasikan sebagai perilaku manusia yang mengalami
masalah-masalah yang berat. Seperti adanya gangguan jiwa, stres, depresi,
12
Djarwanto, Pokok-Pokok Metode Riset dan Bimbingan Tiknis Penelitian Skripsi (Jakarta: Liberty, 1990), 11.
13
10
kekalutan, kecemasan, dan masalah-masalah lain yang dialami manusia
dalam kehidupan sehari-hari. Teori behavioral ini menjelaskan nilai moral
dan norma dengan memberikan hukuman perilaku yang tidak sesusai serta
menggunakan positif reinforcement untuk memperkuat perilaku yang
sesuai.14Di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini bentuk penanganan
yang lebih ditekankan untuk proses penyembuhan para santri ini adalah
harus mengikuti kegiatan sholat berjamaah dan istighosah yang dilakukan
setiap hari. Agar para santri yang terganggu kejiwaan dan para santri yang
kecanduan narkoba itu menjadi lebih tenang dalam batin diri para santri.
F. Penelitian Terdahulu
Sebagaimana bahan rujukan dari penelusuran yang terkait dengan
tema yang diteliti, peniliti berusaha untuk mencari referensi hasil penilitian
yang dikaji oleh peneliti terdahulu sehingga dapat membantu peneliti
dalam mengkaji tema yang diteliti. Diantara hasil penelitian yang telah
dilakukan aoleh beberapa peneliti yaitu:
1. Skripsi yang di tulis oleh Shofatul Khiyaroh Ana, yang berjudul
“Tasawuf Abah Dillah Pengasuh Pondok Pesantren Watu Bodo
Ujungpangkah (Ritual Dan Aktifitas Sosial)”, tahun 2015 (UIN Sunan
Ampel Surabaya). Skripsi ini menjelaskan tentang perilaku tasawuf
Abah Dillah adalah suatu perilakunya yang dianggap nyeleneh dari
yang lain yaitu tidak pernah memakai alas kaki, yang mana perilaku
tersebut didasarkan pada Al-Qur’an surat Thaha ayat 11-12 dan beliau
14
11
juga ingin menjalani hidupnya dengan segala kesederhanaan yaitu
tidak neko-neko. Perilaku beliau ini memberikan pengaruh besar
terhadap masyarkat yaitu pengaruh positif dalam bidang sosial, serta
keagamaan dalam Wilayah tersebut dan sekitarnya.
2. Skripsi yang ditulis oleh Jainul, yang berjudul “H. Abdillah Anas Dan
Pola Kepemimpinannya (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Watu
Bodo Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik)”. Skripsi ini
menjelaskan tentang model kepemimpinan dari seorang pemimpin
yaitu H. Abdillah Anas tersebut, yang mana dalam karya tersebut
menjelaskan bahwa dalam menerapkan pelaksanaan
kepemimpinannya, H. Abdillah Anas menganut trilogy Tut Wuri
Handayani yang di populerkan oleh Ki Hajar Dewantara. Yaitu sikap
dermawan, sederhana dan welas asih serta membela yang lemah
menjadi tolak ukur untuk mengembangkan pondok pesantren Watu
Bodo tersebut. Dalam kepemimpinannya H. Abdillah Anas juga
mengalami beberapa kendala dalam pelaksanaan kepemimpinannya.
Akan tetapi kendala yang dirasakan tidak terlalu rumit dan tidak
berpengaruh besar terhadapnya.
Dari topik hasil penelitian yang telah di kemukakan diatas, belum ada
yang memfokuskan tentang sejarah perkembangan Pondok Pesantren
12
G. Metode Penelitian
Dalam merekonstruksi sejarah, penulis menggunakan metode
penelitian sejarah. Metode tersebut dibagi menjadi empat tahap yaitu:
heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.15
Untuk lebih jelasnya akan diterangkan proses metode ilmiah ini
sebagai berikut.
1. Heuristik
Heuristic berasal dari bahasa Yunani Heuriskein artinya sama
dengan to find yang berarti tidak hanaya menemukan, tetapi mencari
dahulu. Pada tahap ini penulis melakukan kegiatan pada penjajakan,
pencarian, dan pengumpulan sumber-sumber yang akan diteliti, baik
yang terdapat di lokasi penelitian, temuan benda maupun sumber
lisan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua cara untuk
mencari dan menemukan sumber sejarah, yaitu:
a. Sumber primer, di antaranya adalah:
1) Dokumen merupakan data mengenai hal-hal atau variabel
yang berupa catatan transkip buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen, agenda, dan sebagainya. Selain memperoleh
15
13
sumber lisan, penulis juga memperoleh sumber dokumen dan
arsip-arsip berupa tulisan, gambar, maupun buku tentang
sejarah Pondok Pesantren Watu Bodo.
2) Sumber lisan (Oral History) dari KH. Abdillah Anas. Dan
wawancara juga akan dilakukan kepada sebagian orang yang
layak dan dapat dipercaya serta orang-orang yang dekat
dengan KH. Abdillah Anas untuk memperoleh kebenaran
data yang diperlukan penulis dalam penulisan ini.
b. Sumber sekunder, dimana penulis menggunakan buku-buku yang
relevan dengan permasalahan penulis ini.
2. Kritik Sumber
Sumber untuk penulisan sejarah ilmiah bukanlah sembarang
sumber, akan tetapi sumber-sumber itu terlebih dahulu harus dinilai
melalui kritik ekstern dan kritik intern. Dalam penulisan mengenai
sejarah perkembangan Pondok Pesantren Watu Bodo Pangkah Kulon
Ujungpangkah Gresik (1991-2015) penulis akan menganalisa secara
mendalam terhadap sumber-sumber yang telah diperoleh baik primer
14
mendapatkan keaslian dan kesahihan dari sumber-sumber yang telah
didapat.
3. Interpretsi (penafsiran)
Adalah suatu usaha mengkaji kembali terhadap sumber-sumber
yang ada. Kemudian sumber-sumber yang ada di bandingkan dan di
simpulkan atau di tafsirkan. Interprestasi yang dikemukakan disini ada
dua macam, yaitu analisis dan sintesis. Analisis berarti menguraikan,
sedangkan sintesis adalah menyatukan. Yang penulis lakukan dalam
penulisan proposal ini adalah menguraikan sejumlah fakta yang
diperoleh, kemudian menyatukan fakta-fakta dari beberapa sumber
yang ditemukan kedalam suatu interprestasi yang menyeluruh.
4. Historiografi
Adalah cara penulisan atau pemaparan hasil penelitian laporan.
Penulis menuangkan peneliti dari awal hingga akhir berupa karya
ilmiyah.16 Sedangkan dalam bukunya Nugroho Susanto menyatakan
Dalam hal ini, setelah penulis melewati tahapan-tahapan yang
dikemukakan di atas, untuk selanjutnya penulis melakukan pemaparan
atau pelaporan sebagai hasil penelitian sejarah yang membahas
16
15
tentang sejarah perkembangan Pondok Pesantren Watu Bodo Pangkah
Kulon Ujungpangkah Gresik (1991-2015).
H. Sistematika Bahasan
Untuk mempermudah dalam memahami penelitian ini, maka
penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab pertama, Pendahuluan. Bab ini berisikan tentang latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan
penelitian, pendekatan dan kerangka teoritik, penelitian terdahulu, metode
penelitian, dan sistematika bahasan.
Bab kedua, bab ini menjelaskan tentang sejarah Pondok Pesantren
Pendopo Watu Bodo mulai dari letak geografis pondokpesantren, sejarah
berdirinya pondok pesantren, dan biografi pendiri pondok.
Bab ketiga, bab ini menjelaskan tentang aktifitas yang ada pada
pondok pesantren mulai dari aktifitas pendidikan, aktifitas keagamaan, dan
aktifitas khusus.
Bab keempat, bab ini menjelaskan tentang perkembangan Pondok
Pesantren Pendopo Watu Bodo mulai tahun 1991-2007, 2007-2015, dan
16
Bab kelima Penutup, bab ini merupakan pembahasan terakhir yang
17
BAB II
SEJARAH PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO PANGKAH
KULON UJUNGPANGKAH GRESIK
A. Letak Geografis Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
Yang dimaksud dengan letak geografis obyek penelitian adalah
gambaran umum tentang letak dan kondisi pada tempat penelitian tersebut,
yang mana dalam penelitian ini penulis mengambil sebuah penelitian di
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo yang terletak di Dusun Tegal Sari
Desa Pangkah Kulon. Dalam penelitian ini mempunyai letak geografis
yang sangat menguntungkan, karena disekitar pondok terdapat lingkungan
penduduk yang padat. Letak pondok pesantren ini mudah di cari, sebab
memiliki dua tugu yang bertuliskan nama pondok pesantren yang berada
di pinggir jalan.
1. Letak Desa
Desa Pangkah Kulon merupakan nama salah satu desa yang berada
di kecamatan Ujungpangkah kabupaten Gresik. Desa Pangkah Kulon
terletak di ujung paling utara kabupaten Gresik. Jarak antar desa
Pangkah Kulon dengan kabupaten Gresik berkisar 12 km. Dengan
adanya masyarakat yang hiterogen, maka mengakibatkan banyak
18
Sesuai dengan monografi desa Pangkah Kulon pada tahun 2015
luas desa Pangkag Kulon 1.909,8080 Ha.1
Adapun batas wilayah desa Pangkah Kulon adalah:
a. Sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Karangrejo dan
Kebonagong kecamatan Ujungpangkah.
c. Sebelah timur berbatasan dengan desa Pangkah Wetan kecamatan
Ujungpangkah.
d. Sebelah barat berbatasan dengan desa Banyuurip kecamatan
Ujungpangkah.2
2. Letak Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo tepatnya terletak di
wilayah bagian barat desa Pangkah Kulon. Lokasi pondok pesantren
tersebut letaknya sangat srategis dan mudah dicari, sebab sebelum
memasuki pondok pesantren tersebut terdapat dua tugu bertulisakan
nama pondok pesantren tersebut.
3. Jumlah penduduk
Jumlah penduduk desa Pangkah Kulon kecamatan Ujungpangkah
yang tercatat sampai tahun 2015 berjumlah 8.153 orang, dengan
Siswanto, Wawancara, Pangkah Kulon, 25 April 2016. 2
19
4. Mata pencaharian
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat desa Pangkah
Kulon menekuni berbagai pekerjaan sebagai sumber mata
pencaharian, yaitu:3
a. Pegawai Negeri Sipil sebanyak 33 orang, dengan rincian (laki-laki
21 orang dan perempuan 12 orang).
b. POLRI sebanyak 2 orang.
c. Perawat sebanyak 7 orang.
d. Guru swasta sebanyak 224 orang.
e. Karyawan honorer sebanyak 690 orang.
f. Buruh migran sebanyak 199 orang.
g. Pedagang barang kelontong sebanyak 24 orang.
h. Peternak sebanyak 112 orang.
i. Petani/ buruh tani sebanyak 1158 orang.
j. Petani tambak/ nelayan sebanyak 1725 orang.
k. Sopir sebanyak 21 orang.
l. Tukang jahit sebanyak 15 orang.
m. Tukang kayu sebanyak 5 orang.
n. Tukang las sebanyak 3 orang.
o. Dukun tradisional sebanyak 5 orang.
p. Tidak mempunyai pekerjaan tetaap sebanyak 1094 orang.
3
20
5. Agama penduduk desa Pangkah Kulon
Penduduk desa Pangkah Kulon keseluruhan beragama Islam
dengan jumlah 8.153 orang.
6. Lembaga pendidikan
Keberadaan lembaga pendidikan sangat diperlukan oleh
masyarakat, baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal.
Adapun lembaga pendidikan yang terletak di desa Pangkah Kulon
adalah sebagai berikut:4
a. TPQ/ TPA sebanyak 15 buah.
b. Taman Kanak-Kanak sebanyak 6 buah.
c. Sekolah Dasar sebanyak 5 buah.
d. Sekolah Menengah Pertama sebanyak 3 buah.
e. Sekolah Menengah Akhir sebanyak 3 buah.
f. Pondok pesantren sebanyak 1 buah.
g. Kursus modus sebanyak 1 buah.
B. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
Sejarah berasal dari istilah Arab yang berarti pohon. Sebuah pohon
yang berawal dari akar, batang pohon, cabang, dahan, ranting, hingga
pucuk dedaunan. Ada awal dan akrir, ada batas jelas sebuah mahluk dari
sisi waktu. Begitupun Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo sebagai
persembahan putaran sang waktu yang mengalami tempaan kondisi
masyarakat dan semangat perjuangan para perintis dan tokoh-tokohnya.
4
21
Bagi masyarakat Dusun Tegal Sari Desa Pangkahkulon dan sekitar,
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini tidaklah asing lagi. Pondok
pesantren ini sudah berdiri 25 tahun yang lalu. Pondok Pesantren Pendopo
Watu Bodo didirikan oleh KH. Abdillah Anas Anwar pada tahun 1991 di
Dusun Tegal Sari, Desa Pangkah Kulon Kecamatan Ujungpangkah
Kabupaten Gresik. Saat itu kondisi lahannya masih merupakan bebatuan
cadas dibagian selatan dan dibagian utara merupakan sawah dengan luas 1
Ha. Karena banyak batu-batu besar yang bertebaran di sana sini sehingga
tempat tersebut dinamakan Watu Bodo dengan makna filosofinya adalah
perkumpulan orang-orang yang selalu berkembang dan kuat.5
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini awalnya berdiri karena
KH. Abdillah Anas Anwar melihat seringnya anak-anak yang bermain
disekitar rumahnya, kemudian beliau bertanya kepada anak-anak itu
apakah mereka tidak mengaji atau belajar. Kemudian anak-anak itu
menjawab tidak. Dari situlah kemudian beliau berinisiatif untuk
mengajarkan ngaji dan belajar (bimbel) kepada anak-anak itu yang dibantu
oleh beberapa pemuda di lingkungan sekitar. Dari situlah akhirnya lambat
laun berdirilah sebuah pondok pesanren yang bernama Pendopo Watu
Bodo.6
Proses pembukaan lahan untuk dijadikan Institusi Pendidikan
seperti sekarang ini melalui perjuangan keras, ketekunan tinggi, terutama
oleh pendirinya sendiri, yaitu KH. Abdillah Anas Anwar. Dengan berbekal
5
Hamim, Wawancara, Pangkah Kulon, 26 Maret 2016. 6
22
keyakinan untuk mendirikan pendidikan formal dan non formal, hal ini
terinspirasi oleh perjuangan Wali Songo terutama Sunan Ampel yang
sangan peduli dengan masyarakat untuk mencerahkan Syiar Islam.
Dengan demikian Watu Bodo mempunyai kiprah yang positif bagi
Masyarakat Gresik, Jawa Timur maupun Indonesia.
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini juga pernah di hadiri
oleh tokoh nasional, Bapak Bangsa sekaligus Presiden RI ke-4 Bapak KH.
Abdur Rahman Wahid (Gus Dur) sebanyak 3 kali yaitu pada tanggal 23
Mei 2002, 12 Mei 2003, dan 01 Mei 2004. Selain itu juga seniman
Nasional Iwan Fals mengadakan Konser Bertajuk Musik Religi pada
tanggal 17 Juni 2011.7
Dengan kehadiran para tokoh-tokoh nasional tersebut, Watu Bodo
bisa berperan dan merubah masyarakat Gresik menjadi lebih baik sesuai
dengan visi dari pendiri Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo yaitu
terbukalah mata dan pikiranku dan misinya yaitu tanganku meraih apa
yang dapat diraih.
1. Struktur Kepengurusan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
Pengasuh : KH. Abdillah Anas Anwar
Ketua : Muhammad Yusuf
Wakil Ketua : Fuad Muzaki
Sekretaris : Nyardi Hantoko
Bendahara : Bustanul Ilmi
7
23
Seksi-seksi:
a. Seksi PHBI / PHBN : 1) Ainul Atho’
2) Hidayatullah
b. Seksi Pendidikan : 1) H. Abdullah Badi’
2) Fatah Yasin
3) Al-Hakam
c. Seksi Kegiatan : Kegiatan Dhiba’iyah
1) Nyardi Hantoko
2) Liman Khosiyah
Kegiatan Manaqib
1) Moh. Yusuf
2) Mar’atus Sholihah
Kegiatan Al- Banjary
1) Edy Susanto
2) Nur Latifah
3) Moh. Supriyanto
Kegiatan Muhadhoroh
1) Isyatul Alaniyah
2) Budi Lestiono
24
Kegiatan Suwelasan
1) Asfiyatul Khoiriyah
2) Syamsul Arif
3) Solihul Amin
d. Seksi Humas :1) Zainul Hasan
2) Fatah Yasin
3) Fuad Muzaki
4) Ainur Rofiq
5) Edi Susanto
6) Moh. Supriyanto
e. Seksi Keamanan : Keamanan Dalam Pondok
1) Ainul Atho’
2) Jhon Sulistiawan
3) Mustaqim
4) Idris Afandi
5) Budi Lestiono
6) Moh. Yusuf
Keamanan Luar Pondok
1) Ainul Humam
2) Ainun Na’im
f. Seksi Sarana Prasarana : 1) H. Sadzali Ihsan
2) Fatah Yasin
25
g. Seksi Pembinaan Santri : 1) Hamim Thohari
2) Moh. Ukasa
3) Ainul Atho’
4) Budi Lestiono
5) Nyardi Hantoko
6) Bustanul Ilmi
7) Syamsul Arif
h. Seksi Kebersihan : 1) Budi Lestiono
2) Nyardi Hantoko
3) Moh. Supriyanto
4) Suhadi
5) A. Khoirul Huda
6) All Santri
i. Seksi Olahraga : 1) Syamsul Arif
2) Rozik
3) Ainur Rofiq
4) Anik
5) Ainul Atho’
6) Moh. Yusuf
C. Biografi KH. Abdillah Anas Anwar
Nama lengkap dari Abah Dillah adalah H. Abdillah Anas Anwar
bin H. Anwar Kholil (Afid) bin H. Ghufron (Dahlan) bin Tafsiranom bin
26
dilahirkan di Pangkah Wetang Ujungpangkah Gresik pada tanggal 10 Juni
1962 tepatnya di dusun Krajan. Ibunya bernama Hj. Maisaroh dan ayahnya
bernama H. Anwar Kholil. Abah Dillah merupakan anak ke empat dari
empat bersaudara. Beliau berasal dari keluarga yang sederhana, dengan
didikan agama yang keras sehingga mampu memebentuk karakter seorang
Abah Dillah menjadi manuisa yang bermoral tinggi.8
Sejak kecil Abah Dillah sudah memiliki beberapa keistimewaan
dibandingkan dengan saudara yang lainnya, yaitu kecerdasannya, sikap
keberanian dan juga keterampilan praktis yaitu seperti berdagang, yang
mana pada saat itu berdagang merupakan bagian besar dari mata
pencaharian masyarakat Ujungpangkah. Perkembangan karakternya kini
semakin terlihat dari upaya-upaya yang dilakukannya. Dimana ia selalu
berupaya dalam mengembangkan berbagai bidang seperti dalam bidang
keagamaan kepada para santri dengan segala kemampuannya serta dalam
mengemban tugas yang dibebankan kepadanya.
Terwujudnya karakter yang sedemikian tidak berarti bahwa Abah
Dillah telah menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi
sebagaimana pada zaman sekarang. Pada masa belajarnya dulu Abah
Dillah tidak tamat dalam pendidikan formalnya meskipun itu dalam
tingkatan pertengahan atau Madrasah Tsanawiyah, akan tetapi Abah
Dillah telah menejaljahi berbagai pondok pesanter yang ada di Jawa Timur
bahkan sampai ke Jawa tengah untuk belajar mendalami agama yang
8
27
bertujuan agar bisa mendekatkan diri kepada allah hinga merasa sedekat
mungkin.9
Sepulangnya dari menjajaki berbagai pesantren, ia kemudian
perlahan mampu mendirikan sebuah pondok pesantren yang mana pondok
Tersebut ialah Pondok Pesantren Watu Bodo yang dikelolahnya sendirian
dengan beberapa santri yang ikut belajar di pondok tersebut.
Abah Dillah merupakan seseorang yang berpegang pada ajaran
Tasawuf. Dimana Tasawuf merupakan sebuah ilmu yang mempelajari
tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pandangan
Abah Dillah tasawuf diartikan sebagai suatu perjalanan yang disebut
dengan semedi atau bertafakkuur. Tasawuf juga diartikan sebagai
perjalanan dalam nikmatnya menikmati hidup, seperti ketika berada di
suatu tempat yang sangat ramai dan penuh kemewahan tidak pernah
merasa ramai dan mewah, dan apabila sedang menyendiri seperti sedang
bertafakkur atau sedang berdiam di dalam masjid atau tempat tertentu juga
tidak merasakan kesepian. Artinya bahwa bahwa hidup ini sangat
sederhana dan biasa-biasa saja dimanapun kita berada, yaitu dengan satu
tujuan yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT.10
Abah Dillah memiliki perilaku ataupun ciri-ciri yang merupakan
karakteristiknya yitu berbeda dengan lainnya, diantaranya tidak memakai
alas kaki. Alasan yang dikemukakan oleh seorang Abah Dillah tidak
memakai alas kaki adalah sangat singkat, yaitu bahwa Abah Dillah tidak
9
Yusuf, Wawancara, Pangkah Kulon, 10 April 2016. 10
28
ingin berpola hidup yang neko-neko, beliau mengatakan bahwa kebiasaan
yang seperti itu adalah bagian kesederhanaan dalam hidupnya, karena
menurutnya Islam itu mengajarkan kesederhanaan. Selain alasan tersebut,
beliau juga mengatakan bahwa beliau tidak memakai alas kaki karena
mengatakan bahwa seisi bumi ini adalah suci, terkecuali jika memang
benar-benar terlihat najis maka harus dihindari. Semua yang terdapat di
Bumi ini dianggap suci karena najis pun terdiri dari beberapa macam, jika
najis itu tidak nampak atau ‘ainiyahnya ataupun mugholadloh dan
mukhofafah, maka semuanya itu dianggap suci. Sebuah prilaku yang
dirasa cukup aneh dan tidak biasanya dilakukan oleh para kiai pada
umumnya. Akan tetapi hal tersebut bisa menjadi sebuah pelajaran penting
dan memberikan manfaat bagi para santri khususnya dan para masyarakat
sekitarnya yaitu, mereka mengetahui bahwa tujuan manusia hidup adalah
mendekatkan diri kepada Allah. Bukan berarti bahwa para santri atau
masyarakkat tersebut mengikuti Abah Dillah tidak memakai alas kaki, tapi
mereka jadi lebih mengerti dari tujuan hidup di dunia ini.11 Namun saat ini
jika beliau bepergian jauh, beliau memakai alas kaki.
Dimana ia mengatakan bumi ini suci adalah berdasarkan pada
cerita kisah Nabi Musa a.s ketika menerima wahyu di bukit Thuwa, yang
mana pada saat itu sebelum Nabi Musa menginjakkan kaki di lembah
tersebut beliau mendapatkan perintah yaitu seruan untuk melepaskan alas
11
29
kakinya, karena sesungguhnya bumi ini suci. Sebagaimana telah dijelaskan
dalam Al-Qur’an Surat Thaha ayat 11-12:
س م ا د ن اهاتأ املف
Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tinggalkanlah keduaterompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa”.12
Ciri lain pada diri Abah Dillah yaitu selalu mengenakan pakaian
hitam terutama pada saat melakukan ritual tarekatnya. Alasan berpakaian
tersebut sebagaimana dalam cara berpakaiannya adalah Abah Dillah
berpakaian hitam ini meneladani sikap dari Sunan Kali Jaga yang merasa
bahwa dirinya masih penuh dengan dosa. Dan pakaian hitam ini
merupakan pakaian yang netral, artinya semua bisa bergabung tanpa
memilih antara yang satu dan yang lain.
Kemudian ia juga suka berambut panjang, seperti berbaju hitam,
bahwa rambut panjang baginya adalah salah satu cara untuk melatih
kesabaran yaitu dimulai dengan merawat dirinya sendiri, karena baginya
berambut panjang tidaklah mudah, melainkan penuh kesabaran dalam
merawatnya, seperti mebersihkan dan menyisirnya.13 Namun pada saat ini
rambut Aba Dillah yang dulunya panjang, sekarang sudah dipotong. Dan
30
Aba Dillah adalah sosok orang yang berjuang di jalan Allah SWT,
akan tetapi beliau berjuang dengan cara yang berbeda dengan kiyai yang
lain, maksudnya berbeda dengan yang lain adalah beliau berjuang dengan
cara selain menanamkan cinta terhadap Allah SWT, akan tetapi beliau juga
secara tidak langsung menanamkan pesanpesan moral bagi warga sekitar
khususnya bagi santrinya dan masyarakat yang ada di daerah yang lain.
Dalam beribadahnya Abah Dillah terkenal sebagai sosok yang kuat
dalam beribadah, meskipun sholat ataupun kegiatan keagamaan yang lain
dilakukan sama seperti orang pada umumnya, akan tetapi ketika malam
beliau jarang tidur, sering bahkan hampir setiap hari beliau berada pada
tempat yang memang dibuatnya khusus untuk beri’tikaf, baik itu saat pagi,
siang maupun sore. Yang jelas ketika malam beliau selalu berada ditempat
tersebut untuk melakukan pendekatan kepada Allah, kecuali ketika ada
keperluan di luar kota ataupun di luar negeri.14
14
31
BAB III
AKTIFITAS PONDOK PESANTREN PENDOPO WATU BODO
PANGKAH KULON UJUNGPANGKAH GRESIK
A. Aktifitas Pendidikan
Pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan yang kegiatannya
di lakukan sepanjang hari. Santri tinggal di asrama suatu kawasan dengan
Kiai, Guru, dan Senior mereka. Oleh karena itu, hubungan yang terjalin
antara mereka di bidang pendidikan berjalan intensif, tidak sekedar
hubungan formal antara pengasuh, uztad, santri di dalam kelas. Dengan
demikian kegiatan pendidikan berlangsung sepanjang hari, dari pagi
hingga malam hari.
Sistem pendidikan yang seperti ini banyak membawa keuntungan
bagi sebuah pesantren. Saat terdapat perilaku santri baik yang terkait
dengan upaya pengembangan intelektualnya maupun kepribadiannya.
Keuntungan kedua, adanya proses pembelajaran dengan frekuensi yang
tinggi dapat memperkokoh pengetahuan yang di terimanya. Dan
keuntungan yang ketiga, yaitu adanya proses pembiasaan akibat interaksi
setiap saat baik santri dengan santri, santri dengan ustadz, dan santri
dengan kiai.1
1
32
Pada sebuah lembaga pesantren, kiai mempunyai otoritas yang
sangat besar, memiliki kebebasan dalam menemukan suatu kebijakan dan
melakukan pilihan-pilihan. Sistim pendidikan pesantren dengan demikian
sangat bergantung pada selera kiainya. Maka lembaga pendidikan
pesantren memilik kebebasan yang tidak harus mengikuti standarisasi
kurikulum yang ketat.2
Metode pengajaran yang di gunakan oleh Pondok Pesantren
Pendopo Watu Bodo ada empat macam, yaitu:
1. Metode Sorogan, Sorogan berasal dari kata sorog (jawa) yang berarti
menyodorkan bacaan, sebab santri secara bergilir menyodorkan
bacaan kitabnya di hadapan Ki ainya atau penggantinya. Pendalaman
seperti ini di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo di laksanakan
setelah subuh. Setiap lima santri di komandani oleh satu guru (Kiai),
santri yang membaca Al-Qur’an guru yang menyimak dan
membetulkan bila ada bacaan yang salah. Dan begitu pula pada
bacaan pada kitab kuning lainnya.
2. Metode Wetonan, dimana seorang Kiai membacakan secara urut,
sehingga santri mengikuti dan member catatan pada kitab dengan
bahasa Arab dan bahasa Pegon ( bahasa Jawa yang di tulis dengan
angka Arab), dengan maksud agar bisa membantu santri dalam
mempelajari lebih lanjut isi kitab yang telah dipelajari.3
2
Ibid., 67. 3
33
3. Metode Bandongan atau Kahalaqoh, yaitu dimana Kiai membaca
suatu kitab dengan menerjemahkannya, kemudian santri
mendengarkan dan menyimak kitabnya masing-masing, kemudian
membaca arti kata dan keterangannya. Dalam metode Bandongan ini,
para santri memperoleh kesempatan untuk bertanya atau meminta
penjelasan lebih lanjut atas keterangan Kiai.
4. Metode Mudzakaroh adalah metode yang di gunakan untuk mengasah
otak santri dengan cara membahas masalah Diniyah seperti Aqidah,
Ibadah, dan masalah agama pada umumnya. Metode ini dapat
membangkitkan semangat intelektual santri. Mereka diajak berfikir
ilmiah dengan menggunakan penalaran-penalaran yang di sandarkan
pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kitab-kitab klasik.
Pendidikan yang di ajarkan di Pondok Pesantren Pendopo Watu
Bodo berupa pendidikan non formal, yakni madrasah diniyah. Dimana
pendidikan ini dilaksanakan setiap selesai shalat maghrib. Adapun
kitab-kitab yang di pergunakan yakni:4
4 Tauhid 1. Jawahirul kalmiyah
2. Aqidatul awam
5 Tajwid 1. Hidayatul mustafid
2. Syifa’ul jinan
No. Ustadz / Ustadzah Hari Mata Pelajaran
1 Samsul Arif Jum’at Tajwid
No. Ustadz / Ustadzah Hari Mata Pelajaran
1 Solihul Amin Jum’at Tauhid
No. Ustadz / Ustadzah Hari Mata Pelajaran
1 Zainul Hasan Jum’at Tajwid
2 H. A. Badi’ Sabtu Feqih
3 Nyardi haantoko Ahad Ahklaq
4 Fata Yasin Senin Nashor
5 Hj. Najiatul Faizah Selasa Feqih Wanita
6 M. Rizal Firdi Rabo Tauhid
Kelas ula III putra
Wali Kelas : Zainul Hasan
No. Ustadz / Ustadzah Hari Mata Pelajaran
1 M. Rizal Firdi Jum’at Tauhid
2 Hidayatullah Sabtu Ahklaq
3 Zainul Hasan Ahad Tajwid
4 H. A. Badi’ Senin Feqih
5 Fata Yasin Selasa Nashor
36
B. Aktifitas Sosial Keagamaan
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo adalah salah satu pondok
pesantren yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat,
khususnya masyarakat Desa Pangkah Kulon dan sekitarnya. Dalam
kegiatan (aktifitas) sosial keagamaan yang sudah terprogram ini tentunya
sama dengan apa yang dilakukan oleh pondok pesantren yang lainnya,
tidak lain yaitu sebagai salah satu alternatif dalam upaya pengembangan
dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.
Dalam hal ini, menurut pandangan masyarakat, aktifitas sosial
keagamaan sangatlah berpengaruh bagi keberlangsungan hidup
masyarakat baik dalam lingkup sempit maupun luas, karena pada dasarnya
di dalam kehidupan bermasyaraka yang dibutuhkan adalah kese’imbangan
hidup baik secara sosial maupun moral dan dengan bekal keimanan yang
tinggi (Kokoh).6
Kehadiran Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo degan program
yang di suguhkan dalam kehidupan masyarakat Pangkah Wetan dan
sekitarnya ternyata sangat membawa dampak yang positif bagi masyarakat
tersebut, terutama dalam bentuk sosial keagamaan. Sesuai dengan data
yang diperoleh oleh penulis, maka penulis akan sedikit mendiskripsikan
aktifitas sosial keagamaan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan
santri pondok dan masyarakat, yaitu sebagai berikut:
1. Dzikir
6
37
Dzikir merupakan suatu ibadah yang sangat mulia dan begitu
dianjurkan. Keutamaan dan nilai dari ibadah begitu besar dan
beragam. Bahkan dapat disimpulkan bahwa sangat tidak sebanding
antara upaya dan energi yang dikeluarkan untuk melakukan ibadah
dzikir dengan keutamaan yang disediakan. Sesungguhnya dzikir
merupakan bentuk ibadah yang sangat mudah, dimana dzikir tidak
begiitu banyak memerlukan upaya dan pengorbanan besar.
Dzikir adalah suatu ibadah yang sangat mulia, dan itu pula yang
dilakukan di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo, tidak ada
perbedaan antara dzikir kita dengan dzikir yang dilakukan di Pondok
Pesantren Pendopo Watu Bodo baik dari segi ucapan, pelafalan
bahkan tulisan-tulisan itu juga sering kita baca baik ketika sholat,
ketika kita berdo’a, semunya sama akan tetapi setiap dzikir
mempunyai tujuan yang sama yakni mendekatkan kita terhadap sang
khaliq atau sang pencipta yakni Allah SWT.7
Dzikir yang ada di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo ini
dilakukan secara terus menerus atau setiap waktu, tetapi ada sebuah
ritual khusus yang dilakukan pada setiap bulan dan di tepatkan pada
malam sebelas pada setiap bulan hijriyah dan itu dilakuan sudah
berlangsung lama, pada saat itu semua baik santri pondok atau
masyarakat sekitar semua berbondong-bondong untuk melakukan
kegiatan tersebut. Itu pun juga bukan dari warga sekitar saja, akan
7Mar’atus, Wawancara,
38
tetapi banyak juga orang yang dari luar daerah datang untuk
menghadiri acara istighosah tersebut. Padahal sebelumnya tidak ada
yang memberitahu atau memberi pengumuman, mungkin karena
kahrisma dari pengasuh Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo lah
yang menuntun orang-orang yang di luar daerah luar kecamatan ujung
pangkah untuk ikut andil dan berdzikir bersama beliau. Tidak tertutup
kemungkinan semua kiai datang untuk menghadiri acara tersebut
bahkan bukan hanya itu orang yang selevel menteri ada juga yang
datang pada acara tersebut.
Berdzikir dianjurkan bagi setiap muslim untuk lebih mendekatkan
kepada Allah swt. Sesuai dengan firman Allah Surat Thaha Ayat 14:
ا أ ي إ
Istighasah merupakan salah satu kegiatan yang bersifat sosial
spiritual. Tujuannya adalah untuk merekatkan hubungan sesama
jama’ah dan sekaligus untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah
SWT.
Itighasah juga dapat di artikan memohon pertolongan dari Allah
SWT untuk terwujudnya sebuah “keajaiban” atau sesuatu yang paling
8
39
tidak dianggap dan paling tidak mudah untk diwujudkan. Seperti yang
tersirat dalam al-qur’an surat Al-Anfal ayat 9 yang berbunyi:
كئا لا م فلأب مك م ي أ مكل جتس ف مكب وثيغتست إ
يفد م
) ٩ (
Artinya: (ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu,lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat
yang datang berturut-turut”.9
Istighasah pada dasarnya merupakan ajaran dasar dari para ulama’
terdahulu, khususnya para Ulama’-ulama’ Nahdliyin. Karena di
dalamnya terkandung kalimat-kalimat suci, maka banyak diantara kita
menjadikan istighasah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Kaitannya dengan hal ini, Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
mengambil langkah yang tepat untuk dapat berinteraksi dengan santri
dan masyarakat. Hal ini tentu didasarkan pada kebutuhan santri dan
masyarakat akan siraman rohani dari seorang guru spiritual ataupun
berasal dari sebuah komunitas, dalam hal ini adalah Pondok Pesantren
Pendopo Watu Bodo. Sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat
akan adanya kegiatan tersebutm baik secara dhohiriyah maupun secara
bathiniyah.
9
40
Kegiatan Istighasah yang dijalankan di Pondok Pesantren Pendopo
Watu Bodo tidak terbatas pada pembacaan ayat atau kalimat suci saja.
Akan tetapi ada juga kegiatan barzanjen, diba’aan hingga
manaqiban.10
3. Peringatan hari besar Islam
Peringatan hari besar Islam adalah merupakan agenda Tahunan
yang dilakukan oleh umat Islam secara Universal. Jika kita melihat
Pada pelaksanaan kegiatan ini, partisipasi yang di tunjukkan oleh
seluruh Umat Islam di semua penjuru, terutama umat Islam di
Indonesia sangatlah meriah. Akan tetapi bukan kemeriahan yang
menjadi perhatian utama. Namun lebih dari itu, kegiatan peringatan
hari besar Islam dilaksanakan dengan tujuan untuk memeberikan
uswatun khasanah kepada siapapun untuk lebih mengenal ajaran
agama Islam beserta kebudayaannya.11
Berkenaan dengan hal tersebut, Pondok Pesantren Pendopo Watu
Bodo turut serta berperan untuk menjadikan peringatan-peringatan
hari besar Islam tersebut sebagai bagian dari dakwah Islam yang pada
akhirnya dapat menghasilkan mutu yang baik bagi umat Islam,
khususnya di daerah Pangkah Kulon. Kegiatan-kegiatan tersebut
biasanya meliputi, perayaan Idul Fitri, Idul Adha, tahun baru Islam,
maulid Nabi, Isro’ Mi’roj dan sebagainya.
10
Hamim, Wawancara, Pangkah Kulon, 12 Mei 2016. 11Atho’, Wawancara,
41
4. Jam’iyah yasiin dan tahlil
Jam’iyah ini adalah sebagai sebuah aktifitas membaca surat yasiin
dan tahlil yang di lakukan oleh santri Pondok Pesantren Pendopo
Watu Bodo dengan lingkungan masyarakat secara berjamah. Kegiatan
ini dilaksanakan di pendopo pondok pesantren sebagai rutinitas
dengan di pimpin oleh santri pondok pesantren secara bergantian.12
Secara spiritual kagiatan baca surat yasin dan tahlil dengan
berjamah dianggap masyarakat sebagai kegiatan yang membawa
berkah, disatu sisi lain juga mempunyai dasar tujuan yaitu sbagai
berikut:
a. Menambah rasa keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
b. Agar terjalinnya tali silaturrahim antar sesama muslim terutama
komunitas Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo dengan
masyarakat Pangkah Kulon dan sekitarnya.
c. Dan juga, sebagian masyarakat beranggapan bisa meringankan
permasalahan-permasalahan yang dianggap krusial terutama
masalah ekonomi.13
5. Jam’iyah khotmil Qur’an
Jam’iyah ini merupakan jam’iyah yang diselenggarakan oleh
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo dengan warga masyarakat
sekitar Pangkah Kulon yang bertempat di Masjid desa setempat.
Jam’iyah ini merupakan jam’iyah rutinan yang dilaksanakan pada hari
12Mar’atus, Wawancara,
Pangkah Kulon, 09 Mei 2016. 13
42
Jum’at Legi. Teknis yang digunakan dalam pelaksanaan Khotmil
Qur’an yaitu pertama: Tawasul yang dipimpin oleh Abah Dillah
sebagai pengasuh Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo dan juga
tokoh agama di masyarakat. kemudian dilanjutkan dengan pembacaan
awal hingga akhir secara bergiliran dan di tutup dengan Do’a.14
6. Wisata religi dan ziarah
Kegiatan ini pada umumnya di ikuti oleh seluruh santri dan
masyarakat disekitar pesantren. Kegiatan ziarah ini dilakukan di
makam para auliya’, seperti walisongo dan yang lainnya. Dengan
tujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui
kegiatan yang bersifat jama’ah. Artinya, melalui kegiatan jama’ah ini
para ulama’ atau Kyai, secara individu maupun secara kelembagaan,
dan atas nama pesantren dapat berpartisipasi aktif dalam pembentukan
moral sosial keagamaan umat. Sehingga hasil yang didapatkan dalam
pembinaan akhlak, moral sosial keagamaan bisa menjadi
kemaslahatan bagi umat Islam.15
7. Bakti sosial terhadap lingkungan
Pengabdian pondok pesantren kepada umat tentu tidak terbatas
dalam hal ibadah shar’iyah. Terlepas dari hal-hal shar’iyah, pesantren
juga memiliki tugas, peran dan fungsi penting dalam pembinaan
batiniyah para santri dan umat Islam yang berada di sekitar pondok
pesantren. Namun, aspek yang paling penting dalam kehidupan
14
hidayatullah, Wawancara, Pangkah Kulon, 20 Mei 2016. 15
43
bermasyarakat adalah pengabdian terhadap masyarakat yang disertai
dengan uswatun khasanah, dalam hal ini Pondok Pesantren Pendopo
Watu Bodo lebih menekankan pada aspek sosial keagamaan yang
terwujud dalam kegiatan bakti sosial.
Kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh Pondok Pesantren
Pendopo Watu Bodo yakni kerja bakti membersihkan lingkungan
sekitar, diantaranya adalah membersihkan pemakaman umum,
membersihkan selokan atau saluran air. Hal ini tentu sesuai dengan
prinsip umat Islam yang berbunyi bahwa kebersihan adalah sebagian
dari keimanan.16
C. Aktifitas Khusus
Aktifitas khusus di Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
merupakan sebuah aktifitas yang tidak dimiliki oleh pondok pesantren
pada umumnya. Dimana dalam pondok pesantren ini memiliki sebuah
aktifitas yang dinamakan sebagai pondok pesantren rehabilitasi.
Rehabilitasi memiliki artian pemulihan kembali keadaan semula.
Seseorang yang ingin sembuh atau ingin memulai kehidupan yang dulunya
pernah berbuat buruk di lingkungannya. Karena faktor ingin sembuh inilah
maka orang itu perlu direhabilitasi, maka pengertian dari rehabilitasi
sendiri merupakan sebuah proses penyembuhan.
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo menangani santri-santri
yang terganggu kejiwaannya, anak-anak muda yang terjerumus dalam hal
16Mar’atus
44
negatif yang suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at
Islam, seperti minum-minuman keras, menkonsumsi obat-obatan terlarang.
Yang oleh khalayak umum selalu di anggap sebagai sampah masyarakat,
dan keberadaan dari mereka hanya dipandang sebelah mata saja. Namun di
pondok pesantren ini ada juga kaum muda yang yang terganggu akal
pikirann ya yang disebabkan oleh adanya tekanan batin yang tidak bisa
diselesaikan. Selain itu juga banyaknya masalah yang dihadapinya
sehingga sulit untuk menyelesaikan masalah yang ada, berakibatkan
pikiran yang dialami sedikit terganggu. Sebenarnya dalam kehidupan yang
di alami oleh santri yang ada di pondok ini tidak semuanya
berkepribadian buruk.
1. Sejarah Awal Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Sebagai
Tempat Rehabilitasi
Dimulai dari tahun 1995, Abah Dillah kedatangan pasien pemakai
dan pecandu narkoba. Pada mulanya Abah Dillah mengobati pasien
dengan bermacam-macam komposisi untuk obat yang diminum yang
sudah disediakan alam (dari tumbuh-tumbuhan yang ada). Tentu saja
tidak serta merta pasien hanya diberi minum obat ramuan dari Abah
Dillah, namun Abah juga memberikan pendekatan berupa bimbingan
khusus berupa pemahaman hidup- kepada pasien dan juga keluarga
45
Proses kesembuhan pasien waktu masih awal menangangi
pengobatan pecandu narkoba mencapai tiga tahun, baru si pasien –
tingkat kecanduan narkoba yang sudah parah- bisa sembuh. Setelah
itu, para pasien baru yang berdatangan dapat disembuhkan dalam
kurun waktu satu tahun. Dan waktu pun terus bergulir, para pasien
juga silih berganti sampai pada akhirnya –mulai tahun 2015- Abah
Dillah diberi kemampuan oleh Allah swt. bisa menyembuhkan pasien
hanya dalam waktu 15 hari hingga satu bulan untuk pasien dengan
tingkat keparahan yang rendah sampai yang sedang. Bagi pasien yang
sudah parah (tingkat keparahan tinggi) memerlukan waktu tiga bulan
sampai enam bulan untuk bisa sembuh seperti sedia kala. Adapun
proses penyembuhan itu sendiri niscaya tidak luput dari
beragam treatment dan obat (jamu) yang sudah dimodifikasi
sedemikian rupa sehingga mampu membantu mempercepat
kesembuhan pasien.
Seiring berjalannya waktu, Abah Dillah menggunakan komposisi
yang sudah diistiqamahkan sampai saat ini, yaitu ramuan jamu. Jamu
ini terdiri dari komposisi: madu, telor, akar-akaran, serta
diberi asma’(semacam do’a khusus) dari Abah Dillah. Jamu di sini
berfungsi sebagai media untuk mempercepat pemulihan syaraf pasien
sehingga pasien bisa segera sembuh. Jamu ini tidak diminumkan
46
pasiennya sendiri tidak hanya dari kalangan muslim, namun ada juga
yang non muslim.
2. Kegiatan Harian Santri Rehabilitasi
Dalam menangani santri rehabilitasi ini Pondok Pesantren
Pendopo Watu Bodo melakukan bimbingan mental spiritual dan
soal-soal ibadah dalam kegiatan sehari-harinya. Kebiasaan positif
yang diberikan oleh pihak pondok pesantren ini akan menimbulkan
dampak yang lebih baik bagi para santri yang telah kecanduan
narkoba dan juga para santri yang mengalami gangguan mental.
Dalam mendidik para santri yangakan direhabilitasi di pondok
pesantren ini ditekankan untuk melakukan sholat berjama’ah terlebih
dahulu.
Namun sebelum mereka melakukan shalat berjama’ah, mereka
harus mandi terlebih dahulu. Sebab Mandi adalah salah satu aktivitas
yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan air adalah
komponen pokok bukan hanya dalam mandi, tetapi juga dalam
kehidupan manusia. karena dengan mandi badan akan menjadi lebih
segar dan jauh lebih bersih. Dengan mandi ini maka kotoran-kotoran
yang ada ditubuh para santri yang direhabilitasi akan hilang.17
Terapi mandi yang dilakukan di Pondok Pesantren Pendopo Watu
Bodo ini dilakukan pada setiap pagi sebelum melakukan sholat
shubuh. Ini dikarenakan mandi pada waktu pagi sekali dapat
17
47
meringankan stres. Selain itu dengan mandi pagi juga bermanfaat
untuk melancarkan darah yang dikarenakan tubuh akan mendapatkan
asupan oksgen yang cukup. Mandi juga dapat menambah kekebalan
atau daya tahan tubuh terhadap segala penyakit, karena dengan
mandi pagi dapat meningkatkan sel darah putih yang dapat
membantu proses penyembuhan dan membuat tubuh menjadi lebih
sehat. Mandi dengan air dingin mampu mengurangi noda dan
lingkaran hitam pada bagian bawah mata, kesegaran wajah akan
semakin terpancar.
Setelah proses kegiatan mandi sudah terlaksanakan maka para
santri diwajibkan untuk sholat berjamaah jikalau waktu sholat telah
tiba, dan melakukan dzikir (pujian-pujian kepada Allah), contoh
kalimat subhanallah.18 Berdzikir juga dapat menentramkan pikiran
bagi seorang yang mengalami suatu problematika yang tidak bisa
diselesaikan untuk itulah berdzikir perlu untuk menentramkan jiwa
yang sedang mengalami masalah. Dengan berdzikir masalah yang
selalu dipikirkan akan segera terselesaikan dengan menenangan jiwa.
Berdzikir dianjurkan bagi setiap muslim untuk lebih mendekatkan
kepada Allah swt. Selain berdzikir, santri rehabilitasi juga
melakukan kegiatan tadarus (baca al-Qur’an) setelah jama’ah shalat
subuh.
18
48
Para santri juga melakukan istighosah, artinya meminta
pertolongan ketika dalam keadaan sukar. Istighosah biasanya
dilakukan secara bersama dan dimulai dengan wirid-wiridan tertentu,
terutama bacaan istighfar.Karena dengan istighosah ini mereka akan
selalu memanjatkan doa kepada Allah untuk dimintai pertolongan.
Dengan beristighosah para santri juga akan mendapatkan
ketenangan jiwa. Memohon pertolongan dari Allah sangat
dianjurkan bagi setiap muslim. Kegiatan istighosah yang bertujuan
untuk menjernihkan jiwa para santri ini sangat diperlukan. Istighosah
adalah memohon pertolongan dari Allah SWT untuk terwujudnya
sebuah “keajaiban” atau sesuatu yang paling tidak dianggap dan
paling tidak mudah untk diwujudkan.19
Selain kegiatan keagamaan yang dilakukan setiap harinya, para
santri Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo juga melakukan
kegiatan shalawat al-banjari setiap malam jum’at setelah shalat isya’
dan setiap satu bulan sekali para santri juga melakukan kegiatan
berupa sima’an al-Qur’an, dziba’an, pengajian umum, dan
pembacaan manaqib bersama.
Namun selain dengan menggunakan dzikir untuk menenangkan
hati, salah satu terapi yang juga akan mampu membantu seorang
yang mengalami ganguan kejiwaan dan bagi seorang pecandu
narkoba adalah dengan menggunakan media dakwah. Dakwah atau
19
49
ceramah dilakukan Abah Dillah untuk memotivasi santri agar tidak
melakukan hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri. Dalam
melakukan dakwah untuk santri yang kecanduan narkoba dan
gangguan jiwa harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti,
agar para santri yang mendengarkan dapat memahami isi dari
dakwah tersebut.
Selain itu, Salah satu bentuk terapi yang lain adalah dengan cara
mengajak para santri untuk mengikuti kegiatan wisata religi yang
diselenggarakan oleh pihak ponpes sendiri. Untuk wisata religi ini
biasanya dilakukan pada waktu tertentu saja. Wisata religi yang
diadakan oleh pihak pondok pesantren biasanya adalah untuk
berziarah kemakam para wali. Kegiatan wisata religi ini berguna
untuk membuat para santri ini untuk merifresh pikiran selama
didalam pondok pesantren.20
Namun pendekatan kepribadian juga sangat penting dilakukan
kepada para santri rehab. Dibutuhkan pendekatan yang ekstra untuk
memperkenalkan ajaran islam kepada orang terkena gangguan
kejiwaan dan juga orang yang kecanduan narkoba. Pendekatan ini
tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. Sebab santri rehab banyak
membuutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang
belum pernah mereka ketahui.
20