• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN FLIPPER CLASSROOM MEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN FLIPPER CLASSROOM MEN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PEMBELAJARAN FLIPPER CLASSROOM MENUJU PENDIDIKAN GLOBAL

Hamdani

Kepala Sekolah SMAN 1 Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin Email: [email protected]

Abstract: This research was based on the learning activities by using curriculum 2013 in high school. The learning should produce active students by applying scientific approaches. The teachers had many problems on leading the scientific approaches. Flipping Classroom is one of the models which can use to overcome the problems. This model had been used in State High School 1 Banyuasin II. It provided the numerous tools on making the learning process effectively. The research found that the flipping classroom could motivate the students to learn actively. This model had been applied by Jacob Lowell Bishop, Utah State University and Dr. Matthew A Veliger, Embry-Riddle Aeronautical Univesity of Daytona Beach.

Keywords: Flipper Classroom Model, Scientific Approach, Global Education 1. Pendahuluan

Perubahan kurikulum 2016 (KTSP) ke kurikulum 2013 memberikan wacana baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Perubahan tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap model dan strategi pembelajaran. Pembelajaran Scientific menjadi model pembelajaran di kurikulum 2013, Pembelajaran scientific adalah pembelajaran di mana proses pembelajaran melalui kegiatan: mengamati, menanya, menalar, mencoba dan menyajikan yang lebih dikenal dengan 5M. Menurut Marsigit, Pendekatan pada kurikulum 2013 yang paling cocok adalah dengan menggunakan pendekatan; 1. Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah. 2. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual. 3. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah. 4. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek 5. Pendekatan Pembelajaran Kooperatif.6. Pendekatan Pembelajaran Komunikatif

(2)

pembelajaran scientific adalah: 1. Siswa belum sepenuhnya terlibat aktif. 2. Kemampuan siswa pada ketrampilan proses masih kurang.3.Waktu yang tersedia tidak mencukupi.4.Siswa kurang disiplin dan kurang termotivasi.

Penelitian lain,Rizki Ananda menyatakan permasalahan dalam pembelajaran scientific adalah; 1.Pola pikir perubahan kurikulum belum sepenuhnya dipahami.2. Kurangnya antusias siswa dalam belajar.3.Sarana dan prasarana sekolah tidak memadai.4.Kurangnya berbagi dalam ilmu pengetahuan sesama tenaga pendidik.5.Perlunya pelenitian lebih lanjut tentang implementasi kurikulum 2013 khususnya pendekatan scientific.

Endang Komara, pembelajaran Scientific (ilmiah) harus diketahui lebih mendalam sehingga proses pembelajaran dapat berhasil dan bermanfaat.

Pendekatan pembelajaran dapat dikatakan sebagai pendekatan ilmiah apabila memenuhi 7 (tujuh) kategori dalam kegiatan pembelajaran seperti berikut: 1. Materi pembelajaran berbasis pada hal yang nyata / fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu,bukan khayalan, 2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru siswa tidak bersifat subjektif, tetapi analitis logis.3. Mendorong secara kritis, dan menginspirasi siswa berpikir analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memecahkan masalah memahami, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. 4. Mendorong mampu berpikir hipotetik dapat memberikan perbedaan, kesamaan, dan tautan sama lain dari materi pembalajaran. 5. Menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran. 6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan. 7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik.

(3)

Berdasarkan kajian dan permasalahan di atas, peneliti melakukan kajian lebih dalam tentang model pembelajaran, “Flipper Classroom,“ di SMAN 1 Banyuasin II Kabupaten Banyuasin pada mata pelajaran Bahasa Inggris kelas X dalam rangka mencari solusi terbaik dalam pembelajaran scientific (ilmiah) pada kurikulum 2013.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui metode observasi di lapangan ditemukan bahwa model Flipper Classroom sangat bermanfaat karena dengan model ini siswa dapat belajar secara aktif dalam bentuk tanya jawab, debat, dan mengambil kesimpulan pada materi pembelajaran. Model Flipper Classroom dapat mengubah suasana yang diam menjadi menyenangkan (enjoyful learning) karena materi pembelajaran disajikan dalam bentuk interaktif yaitu media video atau youtube.

Penelitian ini juga dilakukan oleh Fitzpatrick, Berrett (2012) and Mazur (2009) dalam menggunakan Flipper Classroom, “students gain first exposure to new material outside of class, usually via reading or lecture videos, and then use class time to do the harder work of assimilating that knowledge, perhaps through problem-solving, discussion, or debates by using flipping the classroom.”

Fitzpatrick, Berrett (2012) juga menyatakan, “By providing an opportunity for students to use their new factual knowledge while they have access to immediate feedback from peers and the instructor, the flipped classroom helps students learn to correct misconceptions and organize their new knowledge …….,”

Pendapat tersebut sangat mendukung apa yang yang disampaikan oleh Endang bahwa pengetahuan nyata sangat diperlukan dalam pembelajaran scientific dengan memberikan pengetahuan nyata kepada siswa.

(4)

think about their own growing understanding. Carl Wieman dalam penelitiannya, flipper classroom sangat bermanfaat bagi siswa dalam pembelajaran.

2. Model Pembelajaran Flipper Classroom

Berbagai pendekatan dilakukan dalam rangka menemukan model pembelajaran yang dapat mempermudah proses pembelajaran, terutama pada kurikulum 2013 yang berbasis pendekatan scientific (ilmiah). Pendekatan-pendekatan tersebut seperti: discovery learning, problem based learning, dan masih banyak lagi lainnya. Dari berbagai pendekatan yang ada peneliti ingin menyajikan model pembelajaran berbasis blended learning yaitu; Flipper Classroom Model.

Flipper Classroom adalah metode pedagogis yang baru, dengan mensikronkan penjelasan materi menggunakan video dan pendalaman materi yang dilakukan oleh siswa di rumah. Pembelajaran nyata dilakukan di dalam kelas secara individu atau berkelompok sesuai dengan strategi pembelajarannya. Flipper classroom merupakan kombinasi yang unik antara problem based learning (PBL) dengan teori pembelajaran behaviorism.

(5)

Flipper Calssroom merupakan kebalikan dari teori Taxonomi Bloom, bahwa belajar di mulai dari remembering, understanding, applying, analyzing,dan evaluating. Flipper Classroom memulai pembelajaran dengan pemerolehan pengetahuan di luar kelas menggunakan kerja otak yang lebih tinggi seperti: penerapan, analisa, sintesa dan mengevaluasi materi pembelajaran di dalam kelas. Dengan kata lain bahwa pada flipper classroom, pembelajaran ilmiah lebih dulu dilakukan yaitu dengan analisa individu kemudian asimilasi pengetahuan. Sedangkan Bloom, memahami terlebih dahulu (asimilasi), kemudian baru analisis melalui flipper.

John Bransford, Ann Brown, and Rodney Cocking, reports three key findings about the science of learning, two of which help explain the success of the flipped classroom.

Then, to develop competence in an area of inquiry, students must: a) have a deep foundation of factual knowledge, b) understand facts and ideas in the context of a conceptual framework, and c) organize knowledge in ways that facilitate retrieval and application” (p. 16).

(6)

Pengetahuan melalui kajian video atau tutorial tentunya masing-masing siswa berbeda, maka metacognitive siswa akan terus berkembang dan proses pembelajaran sebenarnya sedang berlansung.

John Bransford, “A ‘metacognitive’ approach to instruction can help students learn to take control of their own learning by defining learning goals and monitoring their progress in achieving them” (p. 18)

Secara umum model flipper classroom dapat di lihat seperti bagan di bawah ini:

Pada bagan bagian sebelah kiri menggambarkan kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan tradisional di mana guru sebagai pusat belajar (teacher’s centre). Semua siswa mengikuti materi pembelajaran secara tertib di ruangan kelas, selanjutnya penekanan materi pembelajaran dilakukan di rumah secara individu.

(7)

Sebagaimana disampaikan sebelumnya, pembelajaran tradisional selalu menggunakan taxonomi Bloom (2001) dimana pembelajaran di mulai dengan; remembering, understanding, kemudian siswa di beri pekerjaan rumah (PR) applying, analyzing,dan evaluating. Proses pembelajaran tersebut guru menjadi pusat belajar (teacher’s centre) sehingga siswa menjadi jenuh dan bersifat monoton.

Flipping the classroom dimulai dengan pendekatan pedagogik dalam pembelajaran bukan kognitif dengan cara memahami setiap materi pembelajaran. Bergmann and Sams (2012), Flipping the classroom is a “pedagogy-first” approach to teaching. In this approach in-class time is “re-purposed” for inquiry, application and assessment…….

Bermamn and Sams,”Students gain control of the learning process through studying course material outside of class, using reading, pre-recorded video lectures (using technology), or research assignments. During class time, instructors become facilitators (students ‘Centre) of the learning process by helping students work through problems individually and in groups (active learning activities.

Active learning activities, merupakan tujuan pokok proses pembelajaran. Active learning memerlukan berperan aktif bukan hanya duduk diam. Strategi pembelajaran dapat berupa tanya jawab, diskusi antar teman dan pemecahan masalah. Strategi pembelajaran lain dapat pula denga menggunakan puzzle atau game.

(8)

can show evidence of their learning through videos, worksheets, experimental stories, programs, projects, and examples, among others. C. Flipped adaptive learning. Pendekatan ini merupakan kombinasi dari pendekatan-pendekatan lain seperti belajar adaptip pedagogik yang dapat membantu siswa menemukan informasi pembelajaran di mana siswa dapat memperbaikinya secara lansung (Yilmaz-tuzun: 2008). D. Flipper+Games. Pendekatan ini merupakan langkah maju dalam penguasaan materi dengan memasukkan unsur-unsur game dalam pembelajaran. Game adalah aplikasi permainan mekanika yang lansung terkait dengan materi pembelajaran. Kegiatan ini sangat menyengkan tidak hanya pada kelas sekolah menengah pertama tetapi sampai pada tingkat perguruan tinggi. E. Flipper + cooperativ learning. Model ini merupakan sebuah simbiosis atau kompilasi antara teknik flipper dan dan pembelajaran kooperatif. Pekerjaan rumah atau dikenal dengan PR, dilakukan secara bersama-sama dengan guru. Cara ini dilakukan untuk pengembangan tugas dan pemecahan masalah melalui pembelajaran cooperative. F. Flipper + Problem Based Learning. Problem Based Learning (PBL) adalah sebuah model yang diperkenalkan oleh apple untuk digunakan dalam pendidikan tinggi. Model ini adalah bentuk model pembelajaran terstruktur yang memiliki dasar dalam strategi metodologi induktif. Bukan menya-jikan siswa dengan suatu masalah untuk dipecahkan, CBL menawarkan konsep-konsep umum yang siswa mendapatkan tantangan.

Flipper Classroom Model sangat mudah dilakukan dalam pembelajaran aktif dimana pusat pembelajaran terletak pada siswa (students’ centre learning). Flipper Classroom model sangat membantu kurikulum 2013 dengan pendekatan scientific.

(9)

atau youtube tentang materi pembelajaran telah dibuat atau di download, bagikan tautan tersebut kepada siswa.Siswa kemudian menonton tayangan video atau youtube pembelajaran di rumah, sebelum belajar di kelas.Kegiatan ini memberikan mereka kebebasan tentang bagaimana, kapan dan dimana mereka akan belajar dan memungkinkan mereka terlibat dengan isi tayangan video dengan cara yang cocok untuk mereka. Mereka dapat menonton sendiri, dengan teman atau orang tua dengan menggunakan perangkat yang mereka pilih seperti; iPode, computer, laptop. Mereka dapat berhenti atau istirahat sebentar, menonton kembali atau mengulang. Siswa kemudian datang ke kelas pada materi yang sesuai dengan pengetahuan, pertanyaan dan hasil pengamatan serta ide-ide yang baru yang mendukung pembelajaran tersebut. Kegiatan siswa periode ini telah mengikuti pendekatan pembelajaran dengan prinsip 5M. 3. Menghabiskan waktu di kelas. Para siswa telah menonton tayangan video di rumah, para siswa dapat menerapkan hasil pengamatan, pemahaman, dan analisis materi pembelajaran di dalam kelas. Kelas dapat di bentuk secara individu atau kelompok-kelompok kecil. Kegaiatan ini dapat berupa diskusi, debat atau tanya jawab. Guru sebagai fasilitator dan motivator. Kegiatan ini sampai pada kesimpulan akhir oleh siswa dengan arahan dan masukan guru. Kegaiatan ini dapat pula dengan prinsip, “Learn and DO,” apabila materi pembelajaran menghendaki.

3. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif induktif, dimana penelitian ini di mulai dari banyaknya permasalahan yang diahapi guru dalam menerapkan kurikulum 2013 dengan pendekatan pembelajaran scientific. Cresswell (2008)”an inductive approach aimed at reducing the data into a manageable number of themes that addressed the concerns of the study”.

(10)

outcomes or product; 4) qualitative research tend the analyze their data inductively, 5 “meaning” is the essential concern to the qualitative approach, Bogdan dan Biklen (1982).

Peneliti mencari pemecahan permasalahan pendekatan scientific dengan melakukan penelitian perpustakaan dari berbagai sumber sehingga pada saatnya nanti hasil penelitian atau kajian ini dapat digunakan oleh para guru atau pendidik dalam rangka menyukseskan kurikulum 2013. Peneliti juga melakukan studi literature serta hasil wawancara dari para peneliti terdahulu.

Peneliti menggunakan metode pengumpulan data wawancara dalam penelitian ini, dan didukung hasil penelitian dan teori-teori terkait. Esternberg (dalam Sugiono, 2007: 231) mendefenisikan wawancara sebagai berikut:” a meeting of two person to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and join construction of meaning about a particular topic,”

Pada penelitian ini peneliti berusaha menelaah proses pembelajaran di SMAN 1 Banyuasin II, pada mata pelajaran Bahasa Inggris Kelas X dengan menggunakan model Flipper Classroom. Data observasi tersebut menjadi data awal atau primer pada penelitian ini. Sugiyono (2007:2013), Observasi sebagai tehnik pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik dibandingkan dengan teknik lain.

Objek pengumpulan data pada penelitian ini adalah siswa kelas X mata pelajaran Bahasa Inggris pada SMAN 1 Banyuasin II, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin. Selain peneliti melakukan observasi dokumen, juga melakukan wawancara terhadap guru mata pelajaran. Peneliti melakukan studi dokumen dengan cara melihat perangkat pembelajaran berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) guru. Hadari (2005) studi dokumen, “cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku mengenai pendapat, dalil yang berhubungan dengan masalah penyelidikan.

(11)

Pelaksanaan kurikulum 2013 merupakan perubahan atas kurikulum 2006 atau KTSP. Dalam pelaksanaan kurikulum 2013 menggunakan pendekatan scientific dengan harapan bahwa proses pembelajaran akan menjadi faktual bukan imajinasi. Pendekatan tersebut meminta siswa untuk dapat melakukan; mengamati, menanya, menalar, mencoba dan menyajikan (5M). Dalam pendekatan 5 M memerlukan pengetahuan yang cukup dalam pemilihan model pembelajaran berbasis siswa. Model pendekatan yang dapat diguanakan seperti: Discovery Learning, inquiry learning, problem based sovling dan tentunya flipper classroom. Flipper classroom adalah model pembelajaran berbasis blended learning dengan menggunakan video atau youtube dalam pembelajarannya. Flipping the classroom is a “pedagogy-first” approach to teaching. In this approach in-class time is “re-purposed” for inquiry, application and assessment…….Bergmann and Sams (2012)

Mazur (2009); “flipping the classroom” berarti semua siswa diminta mencari materi pembelajaran di luar jam sekolah, biasanya melalui membaca, video pembelajaran, youtube dan bahan pendukung lainnya, setelah itu pendalaman matreri pembelajaran dilakukan di dalam kelas dengan diskusi, debat atau tanya jawab.

(12)

Tahap berikutnya adalah guru meminta siswa diskusi dalam kelompoknya masing-masing dan kemudian menyampaikan hasil diskusi kelompoknya di tempatnya masing-masing dan peserta kelompok lain menanggapi dan memberikan saran dan pendapat. Peran guru sebagai fasilitator agar kelas tetap berjalan normal walaupun gaduh. Setiap saran dan pendapat dicatat dari masing-masing kelompok. Pada akhir kegiatan pembelajaran siswa di minta menyapaikan rangkuman atau kesimpulan akhir kegiatan pembelajaran dan guru akan memberikan masukan.

Berdasarkan hasil observasi di kelas, peneliti menemukan; motivasi siswa sangat tinggi untuk mengikuti pelajaran. siswa mengikuti kegiatan pembelajaran sangat aktif karena terjadi tanya jawab yang serius serta debat yang mendidik. Siswa mendapatkan kajian materi pelajaran cukup banyak karena siswa dapat belajar di rumah sebelum pembelajaran di mulai di kelas. Siswa mendapat pendalaman materi yang cukup karena mendapatkan saran dan pendapat dari masing-masing kelompok.

Dari uraian tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan flipper classroom model sangat membantu guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran scientific dalam kurikulum 2013.

Berikut adalah hasil penelitian dan kajian tentang flipper classroom model:

1. A. Marlowe (2012), dalam penelitian tentang dampak flipper classroom terhadap stress siswa, menyatakan bahwa stress siswa sangat menurun dengan menggunakan flipper classroom model.

2. Deslauriers et al., 2011). Wieman and colleagues compared two sections of a large-enrollment physics class. ……... During the twelfth week of the semester, one section was “flipped,” with first exposure to new material occurring prior to class via reading assignments and quizzes, and class time devoted to small group discussion of clicker questions and questions that required written responses. …

(13)

observers) but did not change in the control section. At the end of the experimental week, students completed a multiple choice test, resulting in an average score of 41 +/- 1% in the control classroom and 74 +/- 1% in the “flipped” classroom, with an effect size of 2.5 standard deviations. Although the authors did not address retention of the gains over time, this dramatic increase in student learning supports the use of the flipped classroom model.

3. Jori Park, English teacher, I have several teaching concepts going at once, so flipping works well for me. I may have kids watch a lesson at home to learn about literary devices in a book we are reading in class. And then the next day, they can point them out to me as we read. That way I am there to help them if they have problems. It allows them to spend more quality time with me and it allows me to get more done, so it's definitely a win-win situation.

4. Frank Noschese, a physics teacher at John Jay High School in Cross River, N.Y., says anything that gives teachers more face time with students is "a good thing." But he says lecturing, even at a leisurely pace, is still bad pedagogy. "It's just kind of 'Lecture 2.0.

Flipping the classroom, she says, has made her students more independent, less-stressed learners, because for many students, the hardest part is applying the lesson to problem sets.

5. Kesimpulan

(14)

Flipper Classroom model merupakan blended learning dengan model sederhana: 1. Siapkan bahan dalam bentuk video/ youtube. 2. Share ke siswa dengan menggunakan Ipode, laptop, dan lainya. 3. Proses pembelajaran di hari berikutnya.

Kerja keras adalah satu hal yang harus dilakukan oleh seorang guru untuk dapat memperoleh model atau strategi pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat di capai dan dapat mensejajarkan diri dengan guru di Negara lain.

Daftar Pustaka

Ananda, R. (2013). Pendekatan Kurikulum 2013 dan Implematasinya. Unisa.Univ, 4.

Ananda, R. (2015). ANALISIS IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN :Studi Kasus di Kelas IV SD Islam Ibnu Sina Kabupaten Bandung . http://repository.upi.edu/id/eprint/15583, 9.

BARRET, D. (2012). How to flipping classroom. The cronicle Of Higher Education, 12.

Bogdan and Biklen. (1982). Quantitative reasearch for education and Introduction to Theory and Methode. Boston: Aallyn and Bacon.

(15)

Cresswell, J. W. (2008). Education Resersch : Planning, Conducting and eavaluating. New york: Prentince Hall.

DesLauriers, e. Schelew and Wieman. (2011). Improving Learning a large enrollment phisycs class. Science, 62-65.

JD Brasword, Brown l, Cooking RR. (2000). How people learn. Washington: National Acadmy.

Komara, E. (2013). PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM KURIKULUM 2013. Academi. Edu.com, 7.

Komara, E. (2013). PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM KURIKULUM 2013 . Bandung: www.academia.edu.

Marloe, A. (2012). The effect of fliiper classroom on student achievement and stress. academi.edu, 5.

Marsigit. (2013). Berbagai Metode Pembelajaran. www.academia.edu, 1.

Mazur, E. (2005). Farewell leacturer. Science, 50-51.

Nawawi, H. (2005). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajahmada University.

Patrick, M. (2012). Classroom Lecture go to digital. The New York Times, 24.

Putri, U. D. (2015). PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK MELALUI MODEL. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF), 6.

Referensi

Dokumen terkait

Standar kompetensi Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada rumpun penguasaan bidang studi, mahasiswa PGSD adalah harus mampu memilih, menata dan mempresentasikan bahan ajar

1 Kajian Komparatif dan Kompetitif Peternakan Ayam Petelur Skala Usaha Rumah Tangga Kelompok Peternak Ayam Petelur Sidomoyo Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul

Berdasarkan penelitian Fadli dan Inneke Qamariah pada tahun 2008 dengan judul penelitian “Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek Sepeda Motor Merek Honda Terhadap

Lokasi malam presentasi proyek di Seminar A/B, tidak sama dengan tempat yang biasa saya bertemu teman grup proyek saya, jadi saya perlu lebih banyak waktu untuk mencari

Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Jl. kutipan buku Image Of The City secara umum ialah kota harus mempunyai ciri khas dari sebuah kota. Dikarenakan kota

Tingkatan organisasi kehidupan dimulai dari molekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, individu, populasi, ekosistem, hingga ke tingkatan bioma (Campbell, et

Penulis mengobservasi bahwa peningkatan efisiensi bisa diperoleh dengan menggunakan metode frekuensi contoh nol – sebuah metode yang mengobservasi proporsi dari

Hal ini dapat membuktikan bahwa hipotesis pertama dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa Motivasi kerja berpengaruh terhadap Kinerja karyawan PT.. KAN dapat