• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ARTIKEL PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 DALAM"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Dudung Kusnandar

Mahasiswa Program Pascasarjana MAP Candradimuka Dr. Budi Santoso, M.Si

Dosen Pembimbing Utama / Ketua Komisi Penguji Drs. Mardianto, M.Si

Dosen Pembimbing Pembantu / Sekretaris Komisi Penguji ABSTRAK

Tunuan penelitian ini adalah intuk mengetahui pelaksanaan kurikulum 2013 dalammata pelajaran kimia pada Sekolah Menengah Atas Sub Rayon 13 Kota Palembang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Konteks, meliputu: a) Dengan adanya pelaksanaan kurukulum 2013 pada mata pelajaran kimia, lingkup kebutuhan yang belum terpenuhi, dalam diri siswa SMA Sub rayon 13 Palembang menyangkut aspek psikologis, secara otomatis dapat terpenuhi kendatipun belum optimal bersinergi dengan lingkungan sekolah, hal ini dapat disimpulkan bahwa lingkup kebutuhan masih kurang baik; b) Program Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia sudah sesuai dengan mi untuk melakukan perubahan, dan si SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang, hal ini dapat disimpulkan bahwa program tersebut sudah baik untuk diterapkan. 2) Input, meliputi : a) SDM Pelaksana adalah guru-guru yang ada di SMA Sub Rayon 13 Palembang, hal ini Baik untuk selalu dilaksanakan oleh SDM yang ada di sekolah ini; b) Sarana Prasarana Pendukung sudah ada dan dimanfaatkan oleh guru-guru disekolah ini dalam melaksanakan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia. Hal ini baik untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia; c) Anggaran pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia sudah tersedia, bersumber dari dana bantuan operasional sekolah yang diberikan oleh pemerintah, yang nomnalnya 10% dari total anggaran yang diterima; d) Prosedur masih belum jelas, terutama menyangkut prosedur penilaian karakter siswa, masih ada guru yang belum memahami pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam mata pelajaran yang diasuhnya. 3) Proses, meliputi : a) Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia belum memiliki kesesuaian dengan rencana kerja guru yang tertuang dalam silabus dan RPP. Proses penyelesaian kasus siswa bermasalah baru sebatas meredam gejolak emosi jiwa siswa, belum menyentuh pada perbaikan karakter siswaa; b) Keterlibatan semua staf sudah ada, kendatipum belum sepenuhnya didukung oleh seluruh warga sekolah; c) Sarana prasarana yang ada di sekolah ini sudah dimanfaatkan oleh guru-guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada masa pelajaran kimia; d) Hambatan dalam penerapan, antara lain yaitu : masih belum kuat dan berkembannya nilai-nilai karakter, masih belum terbangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat, masih belum proaktifnya warga sekolah untuk melakukan perubahan, dan masih belum seluruh guru dapat memasukan nilai-nilai karakter ke dalam mata pelajaran yang diajarkannya. 4) Produk, meliputi: a) Ketercapaian tujuan sudah sesuai dengan visi dan misi sekolah; b) Keterkaitan antara proses dengan tujuan; c) Kurikulum 2013 pada mataaaaa pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang belumoptimal, pengintegrasian nilai-nilai karakter budaya bangsa belum sepenuhnya tercantum dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Guru; d) Dampak yang diperoleh siswa. Pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang, sudah mendapat dukungan dari masyarakat sekitar. Selainitu sudah ada peningkatan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius, mandiri, kreatif dan berwawasan lingkungan.

Kata Kunci : Evaluasi, Pelaksanaan, Kurikulum

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kualitas pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Pendidikan haruslah menjadi prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia, terutama dalam menghadapi globalisasi informasi dan persaingan yang makin terbuka dengan negara-negara tetangga di Asia. Menurut Indeks Pembangunan Manusia (HumanDevelopment Index) disebutkan bahwa peringkat HDI Indonesia pada tahun 2003, 2004, dan 2005 berada di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan bahkan Vietnam. Meskipun pada tahun 2006 HDI Indonesia mengalami kemajuan dan lebih baik dari Vietnam, namun kondisi tersebut merupakan suatu parameter masih buruknya kondisi sosial ekonomi, tingkat pendidikan, kesehatan dan gizi serta pelayanan sosial di Indonesia, bahkan bila dibandingkan dengan Negara Vietnam yang baru merdeka. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk membenahi sistem pendidikan yang tertuang

dalam kurikulum pendidikan sejak usia prasekolah guna membentuk kualitas SDM yang lebih baik. Dengan porsi pembentukan perilaku dan karakter pada kurikulum pendidikan diharapkan akan terbentuk kualitas anak, termasuk kualitas karakternya, yang jauh lebih baik. Hal ini merupakan ciri khas dari Kurikulum 2013 yang menekankan pada pembentukan perilaku dan karakter anak yang diproses secara berkesinambungan di sekolah.

Krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia saat ini, telah memberi dampak yang besar dalam berbagai tatanan kehidupan bangsa. Banyak yang mengatakan bahwa masalah terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah terletak pada aspek moral. Terbukti dengan banyaknya berita tentang tawuran antar pelajar, kasus-kasus narkoba yang sering kita lihat di televisi tidak jarang pemakainya juga masih menyandang status pelajar, beberapa pelajar berada di "terali besi" karena menganiaya gurunya sendiri, anak yang tidak lagi memiliki sopan santun pada orang tua. Dan yang sangat parah lagi yaitu ada anak yang berani membunuh orang tuanya sendiri. Apabila ini

(2)

tidak diperhatikan dan dicarikan solusinya secara cepat dan tepat, maka tampaknya bangsa Indonesia tidak akan bisa bangkit. (Nolte, 2002:57)

Kita harus menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memperbaiki moral, lebih tegasnya yakni "memanusiakan manusia". Berbagai macam kurikulum telah dipergunakan di negara kita tercinta ini yang tidak lain adalah untuk tercapainya tujuan-tujuan pendidikan yang telah teramanatkan dalam Pasal 31 UUD 1945 pada umumnya dan pada khususnya dalam perundang-undangan pendidikan yang telah dibuat oleh pemerintah.

Mulai dari kurikulum 1975 kemudian dilanjutkan dengan kurikulum 1984, setelah itu diteruskan dengan penggunaan kurikulum 1994 yang terkenal dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif-nya. Setelah itu muncul kembali sebagai penyempurna kurikulum 1994 itu yang dikenal dengan kurikulum 1999 (suplemen kurikulum sebelumnya). Perjalanan kurikulum pendidikan Indonesia tidak hanya berhenti sampai di sini. Pemformatan ulang kurikulum terjadi lagi pada tahun 2004 yang menitik beratkan pada pengolahan bakat anak sesuai kompetensi masing-masing. Kurikulum ini dinamai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pada kurikulum ini pemerintah mulai memberi angin segar pada peserta didik. Mengapa? Karena kurikulum sebelumnya yang menerapkan penekanan pada aspek kognitif saja sekarang telah bergeser pada tiga aspek yaitu : Kognitif (pikiran), Afektif (perasaan), dan terakhir Psikomotorik (ketrampilan). Jadi pada kurikulum ini pemerintah mulai mencoba untuk menggarap peserta didik menjadi manusia yang seutuhnya melalui tiga aspek tersebut dan yang terpenting adalah sesuai dengan bakat dan kompetensi masing-masing individu, dan pada awal tahun 2013 KBK disempurnakan menjadi Kurikulum 2013, yang menekankan pada pembentukan perilaku dan karakter anak.

Demikian panjangnya perjalanan kurikulum pendidikan kita yang dilihat sepintas seperti melakukan kelinci percobaan pada peserta didik. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab" maka kita dapat memahami bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk insan yang beriman dan berakhlak mulia.

Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah belum sesuai dengan harapan yang tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah model pendidikan alternatif.

Model pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Anwar (2006:57) adalah model kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia, yaitu sebuah usaha mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif pada lingkungannya. Adapun nilai-nilai karakter yang ditanamkan kepada anak-anak adalah nilai-nilai universal yang mana seluruh agama, tradisi dan budaya pasti menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut yang selanjutnya dituangkan dalam kurikulum dan kegiatan anak-anak di sekolah. Model kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia ini sudah diinsersikan ke dalam Kurikulum 2013 yang lebih menekankan pada pembentukan perilaku dan karakter anak.

Menurut Baswedan (Tribun Sumsel, 24/11/2014), Kurikulum 2013 difokuskan pada pendidikan karakter. Mengutamakan pemahaman, keterampilan, dan siswa dituntut memahami materi, aktif berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun, serta disiplin yang tinggi.

Adapun karakteristik Kurikulum 2013 menurut Depdiknas (2013) sebagai berikut:

 Menekankan pada pembentukan perilaku dan karakter siswa baik secara individual maupun klasikal.

 Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

 Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

 Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

 Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Kurikulum 2013 ini dikatakan sebagai perbaikan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini merupakan bentuk implementasi dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan 8 (delapan) standar nasional pendidikan, yaitu: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan.

(3)

yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.

Secara substansial, pemberlakuan

Kurikulum 2013 lebih kepada

mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter) dengan diiringi pembentukan perilaku dan karakter siswa, yaitu:

 Menekankan pada pembentukan perilaku dan karakter serta ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

 Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

 Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

 Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

 Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

 Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan KTSP dengan Kurikulum 2013, bahwa sekolah diberi kewenangan penuh dalam menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang ditetapkan, mulai dari tujuan, visi-misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan hingga pengembangan silabusnya

Kita sering mendengar ungkapan yang mengatakan bahwa mengajarkan anak-anak kecil ibaratnya seperti menulis di atas batu yang akan terbekas sampai usia tua, sedangkan mengajarkan pada orang dewasa diibaratkan seperti menulis di atas air yang akan cepat sirna dan tidak membekas. Ungkapan itu tidak dapat diremehkan begitu saja karena karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan perilaku dan karakter seseorang. Banyak pakar pendidikan mengatakan bahwa kegagalan pembentukan perilaku dan karakter sejak dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Untuk itu perlu penanaman kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia sedini mungkin kepada anak-anak sebagai kunci utama untuk membangun bangsa.

Berdasarkan pengamatan awal di lapangan terungkap bahwa SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang, terdiri dari SMA Negeri 13 Palembang, SMA Sub Rayon 13 Palembang, SMA LTI IGM, SMA Mardi Wacana, SMA Bina Bangsa, dan SMA Bhakti Ibu 8 Palembang. Dari 7 (tujuh) sekolah tersebut, terdapat 20 orang guru mata pelajaran kimia, seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 1

Data Guru Kimia di SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang

No Nama Sekolah JumlahGuru Kimia

1 SMA Negeri 13 Palembang 8 2 SMA Negeri 21 Palembang 3 3 SMA Negeri 22 Palembang 4 4 SMA Bhakti Ibu 8 Palembang 1 5 SMA Mardi Wacana Palembang 1 6 SMA Bina Bangsa Palembang 1 7 SMA LTI IGM Palembang 2

Jumlah 20

Sumber : SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang, 2014

Dari hasil pengamatan awal pada 7 (tujuh) SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang tersebut menunjukkan terdapat 20 orang guru kimia. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru kimia tersebut di atas masih berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) dan kurang memperhatikan pengembangan otak kanan (afektif, empati, rasa). Lebih jauh lagi, pada mata pelajaran Kimia ternyata pada praktiknya lebih menekankan pada aspek otak kiri (hafalan atau hanya sekedar "tahu"). Hasil pendidikan pun menjadi tidak seimbang, anak-anak di sekolah ini berorientasi mengejar nilai kognitif, mereka mengabaikan nilai afektif (prilaku terhadap guru, atau terhadap sesama teman). Jadi wajar saja jika ada anak yang pandai namun memiliki prilaku yang kurang baik, karena dalam benak mereka keberhasilan belajar mereka dapat dilihat dari nilai kognitif yang mereka raih.

Selama ini aspek afektif lebih didominasi diajarkan oleh guru-guru yang Pendidikan Agama dan guru-guru yang mengajar Pendidikan Kewarga-negaraan, sehingga pembentukan perilaku dan karakter belum dapat dieksplor dalam implementasi bidang keilmuan yang lain. Seperti pada mata pelajaran Kimia, seharusnya penilaian pada aspek afektif dapat dilakukan lebih mendalam, dimana nilai-nilai karakter dapat dimunculkan pada proses pembelajaran Kimia tersebut, seperti : penilaian kerjasama saat mereka melakukan diskusi, saat mereka melakukan praktikum, dan lain-lain, Namun kenyataan di lapangan pada saat melakukan penilaian diskusi maupun praktikum, guru hanya menekankan pada penilaian kognitif dan penilaian psikomotorik (aspek ketrampilan siswa), sedangkan penilaian afektif belum dinilai secara cermat oleh guru. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan Kurikulum 2013 masih belum optimal dilaksanakan oleh guru-guru Kimia yang ada di SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang. Hal ini terkendala oleh kurangnya pemahaman guru pada aspek-aspek pembentukan perilaku dan karakter yang harus dinilai dan belum adanya format yang baku untuk melakukan penilaian pada aspek-aspek tersebut, sehingga guru belum berani untuk membuat format sendiri, karena takut menyalahi aturan dalam penilaian aspek afektif.

(4)

B. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Dari penjelasan di atas dapat diidentifikasi masalahnya sebagai berikut : a. Masih belum optimalnya penilaian afektif

pada siswa Sekolah Menengah Atas Sub Rayon 13 Kota Palembang.

b. Proses dan penilaian hasil pembelajaran lebih cenderung mengedepankan aspek kognitifnya.

c. Belum kuatnya komitmen penyelenggara pendidikan dalam mensinergikan antara ilmu pengetahuan dan akhlak

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka rumusan masalahnya adalah : Bagaimanakah pelaksanaan kurikulum 2013 dalam mata pelajaran kimia pada Sekolah Menengah Atas Sub Rayon 13 Kota Palembang ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan kurikulum 2013 dalam mata pelajaran kimia pada Sekolah Menengah Atas Sub Rayon 13 Kota Palembang.

D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu manajemen terutama yang terkait dengan kinerja guru di bidang pendidikan.

2. Secara Praktis

a. Sebagai masukan pada sekolah agar mau berusaha melaksanakan kurikulum 2013. b. Sebagai informasi bagi guru disamping

menguasai spesialisasi pengetahuan yang diajarkannya ia pun harus menguasai dengan baik ilmu-ilmu keguruan pada umumnya dan didaktik pada khususnya. c. Sebagai bahan pertimbangan bagi Dinas

Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Palembang dalam melaksanakan dan mengembangkan kurikulum 2013.

I. METODE PENELITIAN

A. Perspektif Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti bermaksud untuk memperoleh gambaran secara mendalam dan menyeluruh mengenai pelaksanaan kurikulum 2013 tersebut.

Metode kualitatif dikembangkan untuk mengkaji kehidupan manusia dalam kasus kasus terbatas kasuistik sifatnya namun mendalam (in defth) dan total atau menyeluruh (holistik), dalam arti tidak mengenal pemilihan pemilihan gejala secara konseptional kedalam aspek aspek yang eksklusif yang kita kenal dengan variabel” (Sudjana, 1989:65)

Dikatakan memakai pendekatan kualitatif, karena sifat data atau jenis informasi yang dikumpulkan bersifat kualitatif yang bertujuan menggambarkan mengenai keadaan tertentu, yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat terpisah-pisah untuk memperoleh kesimpulan.

B. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah evaluasi pelaksanaan kurikulum 2013 dalam mata pelajaran Kimia pada Sekolah Menengah Atas Sub Rayon 13 Kota Palembang.

C. Variabel Penelitian 1. Klasifikasi Variabel

Variabel dalam penelitian ini adalah yang menjadi objek pengamatan penelitian atau merupakan faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang diteliti. Berdasarkan teori-teori yang membahas masalah tersebut maka dalam penelitian ini penulis menetapkan satu variabel sebagai variabel mandiri yaitu : Evaluasi Pelaksanaan Kurikulum 2013 Dalam Mata Pelajaran Kimia di SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang.

2. Definisi Konseptual

Definisi konsep dalam penelitian ini meliputi :

a. Pelaksanaan adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu badan atau wadah secara berencana, teratur dan terarah guna mencapai tujuan yang diharapkan.

b. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

3. Definisi Operasional

Definisi operasional diartikan oleh Sofian Effendi (2008:27) Semacam petunjuk pelaksanaan bagaimana cara mengukur suatu variabel. Definisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang amat membantu penelitian lain yang ingin menggunakan variabel yang sama.

Dalam penelitian ini yang menjadi indikator pengukurannya adalah Pelaksanaan kurikulum pendidikan berkarakter, meliputi :

Tabel 1

Indikator Variabel Penelitian

Pelaksanaan Kurikulum 2013 Dalam Mata Pelajaran Kimia

Dimensi Indikator 1. Contexta. Lingkup kebutuhan

yang belum terpenuhi b. Kurikulum 2013

pada mata pelajaran kimia

2. Input a. SDM pelaksana b. Sarana prasarana

(5)

pendukung c. Anggaran d. Kejelasan prosedur 3. Prosesa. Kesesuaian

pelaksanaan dengan rencana kerja

guru

b. Keterlibatan semua staf

c. Pemanfaatan sarana prasarana

d. Hambatan dalam penerapan

4. Producta. Ketercapaian Tujuan b. Keterkaitan antara

proses dg tujuan c. Dampak yang

diperoleh siswa

Sumber : Diadopsi dari Teori CIPP Stufflebearn (1993)

D. Unit Analisis

Unit analisis dalam penelitian ini adalah organisasi yaitu : SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang, yaitu : SMA Negeri 13 Palembang, SMA Negeri 21 Palembang, SMA Negeri 22 Palembang, SMA LTI IGM Palembang, SMA Mardi Wacana, SMA Bina Bangsa, dan SMA Bhakti Ibu 8.

E. Informan

Dalam suatu penelitian kualitatif, peranan informan sangat begitu penting, karena dari informan lah semua data penelitian dapat diperoleh dengan akurat dan dapat dipertanggung-jawabkan, (Arikunto, 1993:28).

Informan adalah orang yang dinilai paling mengetahui tentang objek permasalahan yang sedang diteliti yaitu : Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Sukarami Palembang, Pengawas Sekolah dari UPTD, 7 orang Kepala SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang, 7 orang Guru Kimia, 3 orang Wali Murid dan 2 orang siswa SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang.

F. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu:

a. Data kuantitatif, adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan.

b. Data kualitatif, adalah data dalam bentuk kata, kalimat, dan gambar.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini menggunakan dua jenis, yaitu :

a. Data Primer

Data Primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh secara langsung dari SMA Sub Rayon 13 Kota

Palembang sebagai sumber data. Sumber data primer dalam penelitian ini didapat dari sumber data utama yaitu informan kunci (key informant), dokumentasi, hasil wawancara dan observasi langsung ke SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber lain atau data yang telah diolah pihak lain seperti buku, dokumen, peraturan, jurnal dan literatur lainnya yang dianggap relevan dengan penelitian ini.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian. Menurut Sugiyono (2007:253) pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara.

Teknik pengumpulan data dari penelitian ini meliputi :

1. Observasi

Teknik observasi merupakan teknik ketika peneliti mengamati fenomena yang terjadi di lapangan pada saat proses penelitian sedang berjalan. Pengamatan dilakukan dengan cara mengkaitkan dua hal, yaitu : Informasi (apa yang terjadi) dengan konteks (hal-hal yang berkaitan di sekitarnya) sebagai proses pencarian makna.

Menurut Nasution (1998:58), informasi yang terlepas dari konteksnya akan kehilangan makna yang berarti. Observasi ini menyangkut pula pengamatan aktivitas atau kondisi perilaku maupun pengamatan non perilaku. Dengan pengamatan ini diharapkan dapat mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proposisional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data; memahami situasi sulit yang berkembang di lapangan; dan sebagai recheck data yang ada sebagaimana dikemukakan oleh Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2001:125-126). Selain itu menurut Patton (dalam Moleong, 2001:129) dalam pengamatan dibutuhkan juga sentizising concepts (konsep yang dirasakan) yang memberikan kerangka dasar guna menarik inti penting dari suatu peristiwa, kegiatan atau perilaku tertentu.

Dalam kegiatan observasi, penulis melakukan pengamatan tentang bagaimana penerapan kurikulum 2013, dan melihat perbandingan kurikulum lama dengan kurikulum baru.

2. Wawancara

(6)

Validitas penelitian terletak pada kedalaman menggali informasi yang mencakup beberapa hal, yaitu: pertanyaan deskriptif, pertanyaan komparatif, dan pertanyaan analisis.

Peneliti melakukan wawancara langsung dengan para informan dan unit terkait yang mengetahui serta mengenal dengan baik mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara langsung dengan informan, karena data diperoleh dengan mendengarkan jawaban informan atas pertanyaan dari peneliti. 3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan kegiatan penelitian dengan cara studi kepustakaan, meneliti berbagai dokumen, catatan-catatan, arsip-arsip, serta laporan penelitian yang sudah ada sehingga dapat menunjang pelaksanaan penelitian ini dari sumber-sumber resmi yang dapat dipertanggung-jawabkan serta berkaitan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Selain dari itu, dokumen yang terkait dengan penelitian ini antara lain adalah : Daftar Hadir Siswa, Daftar Nilai, serta Kurikulum 2013.

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yaitu analisis terhadap data yang terkumpul baik berbentuk kata-kata, gambar (bukan angka-angka, kalaupun angka sifatnya sebagai penunjang). Data yang diperoleh meliputi transkrip interviu, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi dan lain-lain dengan tujuan untuk melakukan interpretasi. Ukuran penilaian dilihat dari jumlah presentase terbesar untuk setiap aspek, dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin besar nilai persentase jawaban informan maka semakin baik pula penilaian informan terhadap pelaksanaan kurikulum 2013 di SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang. Model analisa data dalam penelitian ini adalah analisis model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (2002:15).

Teknik analisis data model interaktif berlangsung dalam tiga tahap berikut :

1. Reduksi Data

Reduksi data dimaksudkan untuk menyusun data hasil wawancara ke dalam bentuk uraian secara lengkap dan rinci. Kemudian kepadanya dilakukan reduksi atau pemilihan data yang berkaitan dengan pokok penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan data pokok atau penting yang hanya berkaitan dengan permasalahan penelitian. Reduksi data dilakukan secara terus menerus selama penelitian berlangsung sehingga dapat disusun hasil wawancara (hasil peneltian) secara lengkap.

2. Penyajian Data

Penyajian data (display data) dibuat guna memudahkan peneliti dalam melihat keseluruhan data hasil wawancara atau melihat bagian khusus dari hasil wawancara.

Dalam penelitian ini, penyajian data disusun dalam bentuk teks naratif (kumpulan kalimat) yang dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang mudah dibaca atau diinterpretasikan. Dengan cara ini penelitian dapat melihat apa yang sedang terjadi dan dapat menarik kesimpulan secara tepat. 3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi

Penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian dan verifikasi dilakukan guna perbaikan dan pencocokan data secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung.

Pada penelitian ini, kegiatan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan suatu siklus kegiatan yang interaktif dan komprehensif yang dilakukan secara teliti dan rinci sehingga diperoleh hasil penelitian yang akurat.

II. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian sesuai indikator dari definisi operasional penelitian, yaitu : Konteks, yang terdiri dari lingkup kebutuhan yang belum terpenuhi dan tujuan program; Input, terdiri dari SDM pelaksana, sarana prasarana pendukung, anggaran, dan kejelasan aturan / prosedur. Proses, merupakan kesesuaian pelaksanaan dengan jadwal, keterlibatan semua staf, pemanfaatan sarana prasarana, dan hambatan dalam penerapan; serta Output, terdiri dari : ketercapaian tujuan, keterkaitan antara proses dengan tujuan, dan dampak yang diperoleh siswa.

1. Konteks

Dalam kaitannya dengan

pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang, Konteks merupakan upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, serta tujuan yang ingin dicapai.

a. Lingkup Kebutuhan Yang Belum Terpenuhi

Manusia sebagai makhluk individu memiliki beraneka ragam kebutuhan yang berbeda antara satu dengan lainnya tetapi manusia juga merupakan makhluk sosial yang tentu saja tidak mampu memenuhi kebutuhannya sehingga memerlukan bantuan orang lain dalam pemenuhan kebutuhannya.

Pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang diharapkan dapat memenuhi lingkup kebutuhan yang belum terpenuhi diantaranya adalah aspek psikologis anak didik, melalui pembentukan karakter dan

(7)

akhlak mulia anak didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diperoleh informasi bahwa aspek psikologis anak didik, melalui pembentukan karakter dan akhlak mulia anak didik secara utuh, terpadu, dan seimbang merupakan fokus utama dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang ini.

Hal ini dijelaskan oleh Pengawas Sekolah dari UPTD Dikpora Kecamatan Sukarami Palembang sebagai berikut :

“ ... diharapkan pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang ini mampu memenuhi kebutuhan mengenai psikologis anak didik, melalui pembentukan karakter dan akhlak mulia anak didik secara utuh, terpadu, dan seimbang “ (Wawancara, 1 Desember 2014).

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Negeri 13 Palembang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di sekolah ini sudah difokuskan kepada pemenuhi lingkup kebutuhan anak didik yang paling esensial, yaitu pembentukan karakter dan akhlak mulia anak didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sudah dilakukan oleh guru-guru yang mengajar disekolah ini dengan selalu memberikan perhatian, bimbingan, dan memberikan apresiasi terhadap anak didik yang berprestasi dengan memberinya penghargaan.. Melalui pelaksanaan kurikulum 2013 ini diharapkan muncul karakter anak untuk dapat memahami manfaat mempelajari ilmu kimia dengan menjaga keseimbangan bumi dari tercemar oleh zat-zat kimia “ (Wawancara, 2 Desember 2014).

Hal yang sama dikemukakan oleh Kepala SMA Negeri 22 Palembang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... dengan diterapkannya kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di sekolah maka fokus perhatian guru kepada pemenuhan lingkup kebutuhan anak didik yang paling esensial, seperti pembentukan karakter dan akhlak mulia anak didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Untuk itu, segala sesuatu yang telah diajarkan guru kimia harus dikaitkan guna memenuhi kebutuhan tersebut dengan selalu memberikan perhatian, bimbingan, dan memberikan apresiasi terhadap anak didik yang berprestasi dengan memberinya penghargaan“ (Wawancara, 2 Desember 2014).

Menanggapi pernyataan di atas, Kepala SMA LTI IGM Palembang menambahkan penjelasan tersebut, sebagai berikut :

“ ... melalui pelaksanaan kurikulum 2013 ini diharapkan muncul karakter anak untuk dapat memahami manfaat mempelajari ilmu

kimia dengan menjaga keseimbangan bumi dari tercemar oleh zat-zat kimia “ (Wawancara, 2 Desember 2014).

Berdasarkan penjelasan informan di atas dapat dianalisis bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang ini hendaknya lebih difokuskan kepada pembentukan karakter anak didik secara praktis bukan hanya melaksanakan proses pembelajaran dengan mengajarkan secara teoritis saja. Karena karakter dapat dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan anak sehari-hari agar anak didik dapat memahami manfaat mempelajari ilmu kimia dengan menjaga keseimbangan bumi dari tercemar oleh zat-zat kimia

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang sudah dapat memenuhi lingkup kebutuhan anak yang belum terpenuhi, terutama kebutuhan psikologis, melalui pembentukan karakter dan akhlak mulia anak didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

b. Program Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Kimia

Menurut Permana dalam (Narwanti, 2011:17), pelaksanaan program kurikulum 2013 bertujuan untuk : 1) memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah (setelah lulus dari sekolah); 2) mengoreksi perilaku anak didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan sekolah; dan 3) membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan

masyarakat dalam memerankan

tanggungjawab secara bersama.

Dari hasil pengamatan di lapangan terungkap bahwa tujuan pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang sudah terfokus kepada ketiga hal seperti diuangkapkan di atas, hanya saja dalam pelaksanaannya belum optimal, masih ada guru yang belum memahami tentang pengintegrasian nilai-nilai karakter tersebut ke dalam materi pelajaran kimia, sehingga dalam implementasinya belum sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan terhadap perilaku peserta didik di sekolah tersebut.

Dari hasil observasi di lapangan terungkap bahwa tujuan dilaksanakannya Kurikulum 2013 ini masih belum dipahami oleh beberapa orang guru. Hal ini dapat dilihat dari data pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.1

Pemahaman Guru Kimia Tentang Kurikulum 2013

Di SMA Sub Rayon 13 Palembang

(8)

o KimiaGuru Paham 1 SMA Negeri 13

Palembang 8 6 2

2 SMA Negeri 21

Palembang 4 3 1

3 SMA Negeri 22

Palembang 3 2 1

4 SMA Bhakti Ibu 8

Palembang 1 - 1

5 SMA Mardi Wacana

Palembang 1 - 1

6 SMA Bina Bangsa

Palembang 1 - 1

7 SMA LTI IGM

Palembang 2 2

-Jumlah 20 13 7

Sumber : SMA Sub Rayon 13 Palembang, 2014

Dari tabel di atas mengindikasikan bahwa masih ada guru yang belum memahami tentang pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia ke dalam materi pelajaran yang diajarkannya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Negeri 21 Palembang menjelaskan :

“ ... antusiasme guru-guru mata pelajaran Kimia untuk memahami kurikulum 2013 cukup besar. Hal ini terlihat dari antusiasnya para guru-guru mata pelajaran Kimia bertanya saat dilakukan workshop Kurikulum 2013 di sekolah ini. Memang workshop yang begitu singkat belum dapat menyerap seluruh materi yang diajarkan, masih butuh proses. Wajar saja jika masih ada beberapa guru yang belum memahaminya, bukan hanya guru Kimia saja, tapi guru mata pelajaran lainnya juga demikian” (Wawancara, 3 Desember 2014)

Menanggapi hal tersebut, seorang guru Kimia di SMA Negeri 21 Palembang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... tujuan diterapkannya kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia ini sudah seluruhnya

kami pahami, namun untuk

mengintegrasikannya ke dalam materi pelajaran kami masih kesulitan, terutama dalam mensinergikannya dengan lingkungan kehidupan anak didik, kami masih butuh proses untuk lebih memahami dan menerapkannya secara utuh ” (Wawancara, 4 Desember 2014)

Ketika dikonfirmasi dengan Pengawas Sekolah dari UPTD Dikpora Kecamatan Sukarami, menjelaskan sebagai berikut :

“ ... secara perlahan-lahan akan kita bimbing dan akan dilakukan supervisi kepada seluruh guru di sekolah yang ada di Sub Rayon 13 ini, agar para guru dapat memahami tujuan pelaksanaan Kurikulum 2013. Hal ini masih butuh proses..” (Wawancara, 5 Desember 2014)

Hal yang sama dikemukakan oleh Kepala SMA Bhakti Ibu 8 Palembang

“ ... antusiasme guru untuk memahami kurikulum 2013 cukup besar. Hal ini terlihat saat dilaksanakan workshop di sekolah ini. Kendatipun pelaksanaannya begitu singkat, namun guru-guru tetap bersemangat untuk mengetahui hal-hal yang belum dipahami tentang Kurikulum 2013 tersebut. Wajar saja jika masih ada beberapa guru yang belum memahaminya, bukan hanya guru Kimia saja, tapi guru mata pelajaran lainnya juga demikian” (Wawancara, 5 Desember 2014).

Dari penjelasan informan di atas mengindikasikan bahwa tujuan pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang ini masih belum seluruhnya dipahami oleh guru mata pelajaran Kimia di sekolah ini. Padahal tujuan utama dari pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia ini adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kimia di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan

2. Input a.

SDM Pelaksana

Untuk suksesnya pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengimplementasikan tujuan dari pelaksanaan tersebut.

Berdasarkan pengamatan di lapangan diperoleh informasi bahwa sumber daya manusia pelaksana kurikulum 2013 pada mata pelajaran Kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang adalah seluruh guru mata pelajaran Kimia yang ada di Sub Rayon 13 ini, yang berjumlah 12 orang.

Hal ini dijelaskan oleh Kepala SMA LTI IGM Palembang sebagai berikut :

“ ... sumber daya manusia yang melaksanakan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia yang ada di sekolah kami adalah seluruh guru mata pelajaran Kimia di sekolah ini. Selain itu, tenaga Laboran juga terlibat dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 “ (Wawancara, 6 Desember 2014).

Ketika dikonfirmasi dengan seorang guru mata pelajaran Kimia di SMA LTI IGM Palembang mengungkapkan sebagai berikut :

(9)

melaksanakan praktikum “ (Wawancara, 8 Desember 2014).

Hal yang sama dikemukakan oleh oleh Kepala SMA Mardi Wacana Palembang sebagai berikut :

“ ... guru-guru yang melaksanakan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia yang ada di sekolah kami adalah seluruh guru mata pelajaran Kimia di sekolah ini. Juga dibantu oleh tenaga kependidikan lainnya“ (Wawancara, 8 Desember 2014).

Berdasarkan penjelasan informan di atas dapat dianalisis bahwa SDM pelaksana kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia sudah seharusnya adalah guru-guru mata pelajaran Kimia yang ada di sekolah ini, mengingat pelaksanaan kurikulum 2013 hanya dapat dilaksanakan orang yang memahaminya, yaitu guru itu sendiri.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia pelaksana kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang adalah guru-guru mata pelajaran Kimia yang ada di Sub Rayon 13, berjumlah 20 orang.

b.

Sarana Prasarana Pendukung

Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia yang diungkapkan di atas membutuhkan sarana prasarana sekolah yang memadai. Oleh itu, sarana sekolah juga memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung terlaksananya Kurikulum 2013 secara efektif dan efisien.

Dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa Standar Prasarana pendidikan mencakup persyaratan minimal dan wajib dimiliki oleh setiap satuan pendidikan yaitu lahan, tentang ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Kemudian Standar Sarana pendidikan mencakup persyaratan minimal tentang perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Fasilitas sekolah dapat menunjang terwujudnya proses pendidikan yang memadai di sekolah ini. Untuk melaksanakan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang selain pembiasaan sikap, pencontohan/teladan sikap dari para pendidik, nilai-nilai yang diintegrasikan dalam mata pelajaran, juga dibutuhkan pengkondisian sekolah dengan menyediakan prasarana dan sarana yang memadai sehingga mendukung pengembangan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia siswa. Prasarana dan sarana yang dibutuhkan dalam kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia adalah sesuai dengan nilai karakter apa yang ingin dikembangkan oleh sekolah yang bersangkutan kepada para siswanya sebab

setiap nilai kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia memiliki prasarana/sarana khusus yang harus disediakan agar indikator keberhasilan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang dapat tercapai sehingga pemenuhan prasarana/sarana sekolah lebih ditekankan pada nilai karakter apa yang akan dikembangkan oleh sekolah yang bersangkutan.

Ciri-ciri sekolah yang sudah melaksanakan Kurikulum 2013 adalah memiliki visi/misi yang menanamkan nilai karakter, tersedianya sarana kebersihan (piket kebersihan, tong sampah, dan sebagainya), adanya peraturan/tata tertib sekolah, serta sarana ibadah di sekolah sebab nilai karakter pokok yang harus dimiliki oleh semua sekolah adalah religius, jujur, disiplin, peduli lingkungan, dan sikap sopan santun. Indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang dinilai dari nilai apa yang diprogramkan oleh sekolah untuk dikembangkan dengan mempelajari mata pelajaran kimia secara utuh dengan memahami manfaat dan bahaya yang ditimbulkan oleh zat-zat kimia.

Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang ini, pihak sekolah belum mempersiapkan fasilitas atau sarana prasarana secara khusus yang dibutuhkan dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 2013 tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Kepala SMA Mardi Wacana Palembang, sebagai berikut :

“ ... kami belum menyediakan fasilitas khusus terkait pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di sekolah ini, hanya Silabus Mata Pelajaran Kimia yang sudah disiapkan, mengingat pelaksanaan Kurikulum 2013 membutuhkan buku-buku paket yang sesuai dengan amanat Kurikulum 2013. Selain itu, guru-guru pun harus menguasai Teknologi Informasi (TI), sehingga para guru harus memiliki sendiri Laptop/Notebook untuk digunakan sebagai media dalam proses belajar mengajar “ (Wawancara, 9 Desember 2014)

Ketika hal tersebut dikonfirmasi dengan seorang guru SMA Mardi Wacana Palembang, menjelaskan sebagai berikut :

“ ... belum ada fasilitas khusus yang disiapkan oleh sekolah dalam pelaksanaan kurikulum 2013 ini. Untuk buku penunjangpun belum lengkap tersedia. Sedangkan bantuan dari pemerintah belum cukup untuk dipinjamkan ke seluruh anak didik di sekolah itu. Selain itu, guru-guru di sekolah ini hanya 1 atau 2 orang saja yang memiliki dan memahani Teknologi Informasi (TI) “ (Wawancara, 10 Desember 2014)

(10)

c. Anggaran

Untuk memenuhi kebutuhan saat pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang, maka perlu direncanakan anggaran biaya untuk terlaksananya Kurikulum 2013 tersebut.

Berdasarkan pengamatan di lapangan diperoleh informasi bahwa sekolah ini sudah merencanakan anggaran untuk mensukseskan pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang. Dari hasil observasi diperoleh data tentang rencana anggaran biaya dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang, seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 5.2

Rencana Anggaran Biaya Pelaksanaan Kurikulum 2013

Tiap-tiap Sekolah di SMA Sub Rayon 13 Palembang

N

o Jenis Kebutuhan Rencana Realisasi

1. Pelaksanaan workshop kurikulum

2013 Rp. 13.000.000,- Rp.

11.500.000,-2.

Penggandaan buku penunjang dan bahan-bahan workshop

Rp. 17.500.000,- Rp.

10.000.000,-3. Pembelian makan, snack dan minuman

peserta Rp. 5.000.000,- Rp.

4.500.000,-4. Honor supervisor yang mensupervisi

pasca workshop Rp. 1.000.000,- Rp.

500.000,-Total Rp.

36.500.000,-Rp.

Sumber : SMA Sub Rayon 13 Palembang, 2013

Menanggapi hal tersebut Kepala SMA Bina Bangsa Palembang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... anggaran untuk mensukseskan pelaksanaan Kurikulum 2013, umumnya direncanakan kegiatan workshop di awal tahun pembelajaran. Di sekolah ini anggarannya belum tersedia sehingga kami hanya mengutus guru saja ikut dalam kegiatan workshop di sekolah negeri dalam sub rayon 13 ini. Kami hanya menyediakan uang transport saja kepada guru yang diutus ikut workshop “ (Wawancara, 11 Desember 2014).

Ketika dikonfirmasi dengan Kepala SMA Bhakti Ibu 8 Palembang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... rencana anggaran yang diajukan untuk kegiatan workshop kami sesuaikan dengan anggaran yang ada. Karena anggaran ini bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah dari pemerintah yang besarnya tergantung jumlah siswa yang ada di sekolah ini dikalikan Rp. 75.000,-per siswa. Jika jumlah siswa kita 940 orang, maka dana bantuan yang diperoleh

sebesar Rp. 75.000,- x 940 = Rp. 70.500.000,-. Sekitar 10% dari jumlah dana tersebut, yaitu Rp. 7.000.000,-diperuntukkan untuk peningkatan kompetensi SDM di sekolah ini “ (Wawancara, 12 Desember 2014).

Berdasarkan penjelasan informan di atas dapat disimpulkan bahwa anggaran belanja dalam rangka mensukseskan pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang sudah direncanakan sesuai dengan ketersediaan anggaran yang ada di sekolah masing-masing yang ada di Sub Rayon 13 Palembang.

d. Kejelasan Prosedur

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diperoleh informasi bahwa prosedur atau mekanisme kerja dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang masih membingungkan para guru yang ada di sekolah. Umumnya mereka masih bingung dalam menuliskan prosedur penilaian terhadap karakter yang harus dituliskan dalam penilaian terhadap sikap siswa seperti yang diharapkan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013.

Hal ini dijelaskan oleh seorang guru mata pelajaran Kimia SMA Mardi Wacana Palembang, sebagai berikut :

“ ... kami masih bingung tentang bagaimana prosedur penilaian karakter siswa dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 “ (Wawancara, 13 Desember 2014)

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Mardi Wacana Palembang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... memang masih banyak guru yang menanyakan prosedur penilaian karakter siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Untuk itu kami sudah memberikan kebebasan kepada guru dalam menyusun format nilai pada karakter siswa. Penilaian karakter biasanya disimbulkan dengan huruf, misalnya huruf A untuk kategori Sangat Baik, huruf B untuk kategori Baik, huruf C untuk kategori Cukup, dan huruf D untuk kategori Tidak Baik. Penilaian huruf tersebut dapat juga dikonversikan ke dalam angka dengan memberikan rentang nilai, dan lain sebagainya “ (Wawancara, 15 Desember 2014)

(11)

pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia masih belum sesuai dengan yang diharapkan, guru masih ada yang belum memahami prosedur penilaian karakter siswa dalam proses belajar mengajar.

3. Proses

Proses, merupakan kegiatan mengimplementasikan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terungkap bahwa dalam proses pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang belum optimal.

a. Kesesuaian Pelaksanaan

Dengan Rencana Kerja Guru

Dari hasil supervisi yang dilakukan oleh Pengawas Pembina Sekolah terungkap bahwa pengintegrasian nilai-nilai karakter budaya bangsa belum sepenuhnya tercantum dalam Rencana Kerja Guru yang tertera dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Walaupun dalam proses pembelajaran guru sudah memberikan contoh kebiasaan / perilaku yang dimaksudkan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia tersebut. Hal ini seperti disampaikan oleh Pengawas Sekolah dari UPTD Dikpora Kecamatan Sukarami Palembang, sebagai berikut :

“ ... dalam rencana kerja guru yang tertera dalam RPP, masih ada yang

belum sinkron dengan

implementasinya saat guru mengajar di kelas. Hal ini terlihat saat kami melakukan supervisi kunjungan kelas.” (Wawancara, 16 Desember 2014)

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Negeri 13 Palembang menjelaskan : “ ... memang pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia ini baru satu tahun belakangan ini digalakkan, sehingga masih ada guru yang belum memahaminya untuk dituangkan dalam rencana kerja guru. Untuk itu dalam waktu dekat kami akan memberikan pelatihan bagi guru-guru guna pemahaman lebih lanjut tentang pengintegrasian nilai-nilai karakter ini dalam proses pembelajaran yang dituliskan dalam rencana kerja guru berupa RPP ” (Wawancara, 17 Desember 2014)

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat diasumsikan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata

pelajaran kimia belum sesuai dengan rencana kerja guru, sehingga dapat dikatakan bahwa proses tersebut belum efektif, belum sesuai dengan apa yang diharapkan dan direncanakan.

b. Keterlibatan Semua Staf

Dalam pelaksanaan

kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang ini, sudah melibatkan semua staf yang ada di sekolah ini terkait pelaksanaan tersebut.

Hal ini dijelaskan oleh Kepala SMA Negeri 21 Palembang, sebagai berikut :

“ ... keterlibatan semua staf yang ada di sekolah ini sudah ada, seperti : melibatkan bagian kurikulum dan bagian sarana prasarana untuk pengadaan fasilitas bagi guru berupa penggandaan blanko/format silabus, RPP, dan bahan ajar, serta berkoordinasi juga dengan bendahara dalam hal pendanaan pembelian fasilitas yang dibutuhkan guru untuk melaksanakan kurikulum 2013 tersebut “ (Wawancara, 18 Desember 2014)

Ketika dikonfirmasi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana di SMA Negeri 21 Palemnbang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... sarana pendukung yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia antara lain Laboratorium, Ruang Komputer, dan lain-lain.“ (Wawancara, 19 Desember 2014)

Menanggapi hal tersebut, seorang guru mata pelajaran Kimia SMA Negeri 21 Palembang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... Ruang Komputer di sekolah ini selain berfungsi untuk siswa belajar komputer juga dapat digunakan guru untuk mengajar yang menggunakan media komputer “ (Wawancara, 20 Desember 2014).

Ketika dikonfirmasi dengan seorang siswa SMA Negeri 13 Palembang mengungkapkan sebagai berikut :

“ ... setiap hari di sekolah kami guru mata pelajaran Kimia memanfaatkan ruang komputer saat mengajar. Jika alat dan bahan untuk praktik tidak tersedia di Laboratorium, biasanya guru Kimia mengajak kami ke ruang komputer untuk melihat animasi materi pelajaran yang sedang dipelajari “ (Wawancara, 22 Desember 2014).

(12)

bahwa sarana prasarana yang ada di SMA Sub Rayon 13 Palembang ini sudah dimanfaatkan oleh seluruh guru yang ada di sekolah ini untuk mengoptimalkan tuntutan Kurikulum 2013, khususnya pada mata pelajaran Kimia.

d. Hambatan Dalam Penerapan

Dari hasil pengamatan di lapangan, diperoleh data bahwa masih ada beberapa permasalahan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang, antara lain :

1. Masih belum kuat dan berkembangnya nilai-nilai karakter, sehingga belum terwujud dalam perilaku peserta didik, terutama yang menyangkut kebiasaan siswa memanfaatkan zat-zat kimia, seperti : kebiasaan anak didik memakan makanan yang mengandung zat pengawet. Padahal mereka sudah mempelajari bahaya yang ditimbulkan oleh zat pengawet jika dikonsumsi siswa.

2. Masih belum terbangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggungjawab Kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia secara bersama-sama.

3. Masih belum proaktifnya guru-guru mata pelajaran Kimia untuk melakukan perubahan terhadap penanaman nilai-nilai karakter siswa di sekolah. Penanaman nilai karakter ini menyangkut kebiasaan siswa menggunakan zat-zat kimia dalam kehidupan sehari-hari. Siswa hanya paham secara teoritis saja saat berlangsung proses pembelajaran saja, sementara di luar proses pembelajaran nilai-nilai karakter yang ditanamkan guru tidak terlaksana sesuai dengan yang diharapkan.

Hal ini dijelaskan oleh seorang wali murid kelas X SMA LTI IGM Palembang, sebagai berikut :

“ ... kendatipun sekolah ini sudah melaksanakan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia, namun belum begitu besar pengaruhnya terhadap perilaku anak di luar sekolah. Jika di lingkungan sekolah mereka dapat menahan diri karena diikat oleh suatu aturan, namun setelah pulang mereka kembali seperti biasanya, seperti : mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung zat pengawet, contohnya : Mie Instan, manakan siap saji KFC, dan lain-lain “ (Wawancara, 23 Desember 2014).

Ketika dikonfirmasi dengan wali murid kelas XI SMA Bina Bangsa Palembang mengungkapkan sebagai berikut :

“ ... pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di sekolah ini sudah baik, hanya saja belum diiringi dengan budaya-budaya dari warga sekolah ini. Guru hanya menilai karakter siswa saat proses belajar mengajar berlangsung, sedang di luar itu luput dari pengamatan guru “ (Wawancara, 24 Desember 2014).

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA LTI IGM Palembang menjelaskan sebagai berikut :

“ ... melalui pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah ini kami berupaya menanamkan nilai-nilai karakter yang terpuji bagi siswa-siswa di sekolah ini. Penanaman nilai-nilai karakter ini tentunya tidak dapat instan, butuh suatu proses “ (Wawancara, 26 Desember 2014).

Berdasarkan penjelasan informan di atas dapat disimpulkan bahwa hambatan dalam penerapan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia tetap ada, namun membutuhkan suatu proses untuk terwujudnya perilaku siswa yang baik, serta terbangunnya koneksi harmoni antara keluarga dengan masyarakat.

4. Product

Evaluasi Product adalah evaluasi mengukur keberhasilan pencapaian tujuan. Evaluasi ini merupakan catatan pencapaian hasil dan keputusan-keputuasan untuk perbaikan dan aktualisasi terhadap pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang.

Dalam indikator product akan mengukur dan menafsirkan hasil-hasil yang telah dicapai. Pengukuran dkembangkan dan diadministrasikan secara cermat dan teliti. Keakuratan analisis akan menjadi bahan penarikan kesimpulan dan pengajuan saran sesuai standar kelayakan. Secara garis besar, kegiatan evaluasi apakah ada dukungan / partisipasi dari masyarakat. Serta apakah ada peningkatan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius, serta apakah ada peningkatan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan.

Analisis product ini diperlukan pembanding antara tujuan yang ditetapkan dengan hasil pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia yang sudah dilaksanakan.

a. Ketercapaian Tujuan

(13)

Sukarami Palembang tersebut diperoleh informasi tentang ketercapaian tujuan pelaksanaan kurikulum 2013 di beberapa sekolah pada SMA Sub Rayon 13 ini, seperti pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.3

Hasil Observasi Terhadap Tingkat Pencapai Tujuan

Pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMA Sub Rayon 13 Palembang

Tahun 2013/2014

No Indikator

Kategori

% Ketercapaian Baik Cukup Kura

ng 1 Sikap / Prilaku

Siswa 30 8 2 75,00

2 Saling

Menghormati 35 5 - 87,50

3 Kerjasama 27 8 5 67,50

4 Toleransi 27 5 3 67,50

Sumber : Hasil observasi terhadap beberapa orang siswa di SMA Sub Rayon 13 Palembang,, Tahun 2014

(diamati secara random)

Berdasarkan data pada tabel di atas dijelaskan oleh Kepala SMA Negeri 13 Palembang sebagai berikut

“ ... dari data hasil observasi Pengawas Sekolah tersebut menggambarkan bahwa setelah pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia karakter siswa di sekolah ini menjadi lebih baik. Hal-hal yang diinginkan terbentuk pada diri siswa, seperti : memiliki sikap/prilaku baik, saling menghormati, adanya kerjasama, dan adanya toleransi siswa terhadap sesama, sudah memiliki persentase berada di atas 67 %. Ini membuktikan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia sudah mengarah kepada pencapaian tujuan yang diharapkan “ (Wawancara, 27 Desember 2014)

Dari penjelasan informan dan perolehan data di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang secara bertahap sudah mengarah kepada pencapaian tujuan yang diharapkan.

b. Keterkaitan Antara Proses Dengan Tujuan

Proses pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang sudah terkait dengan tujuan yang diharapkan oleh sekolah yang ada di Sub Rayon itu sendiri. Hal ini tergambar dari harapan yang diinginkan oleh Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Sukarami Palembang, sebagai berikut :

“ ... kami berharap agar bahwa SMA yang ada di Sub Rayon 13 Palembang ini dapat mewujudkan

sekolahnya menjadi sekolah yang unggul dalam IPTEK dan IMTAQ “ (Wawancara, 29 Desember 2014).

Dari misi sekolah tersebut mengisyaratkan tentang adanya keterkaitan antara proses pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia dengan tujuan sekolah ini sendiri.

Hal ini dijelaskan oleh Kepala SMA Sub Rayon 13 Palembang sebagai berikut :

“ ... dengan adanya pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di sekolah ini, secara bertahap sudah mengarah kepada misi sekolah ini sendiri, yang pada akhirnya dapat menghasilkan lulusan yang unggul di bidang keagamaan dan mampu mengembangkan penguasaan dan pengamalan IMTAQ “ (Wawancara, 30 Desember 2014).

Berdasarkan misi sekolah ini dan penjelasan informan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia sudah memiliki keterkaitan antara proses pelaksanaan dengan tujuan yang diharapkan oleh sekolah itu sendiri.

c. Dampak Yang Diperoleh Siswa Inti dari pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia ini adalah memberikan kebiasaan dan perilaku yang terpuji kepada siswa dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.

Dari pengamatan di lapangan terungkap bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia ini memberikan dampak positif terhadap kebiasaan dan perilaku peserta didik di sekolah.

Hal ini diungkapkan oleh seorang wali murid SMA Negeri 21 Palembang, dalam suatu kesempatan wawancara dengan penulis, sebagai berikut :

“ ... dampak dari diterapkannya kurikulum pendidikan berkarakter di sekolah ini sudah mulai terlihat. Anak kami sudah membudayakan membuang sampah pada tempatnya, berlaku sopan santun, memiliki tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaannya, dan terlihat tidak gampang mengeluh. Kami sangat bersyukur sekali atas perubahan ini.” (Wawancara, 31 Desember 2014)

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Negeri 13 Palembang, mengomentari sebagai berikut :

(14)

nuansa baru dalam diri anak didik kami.” (Wawancara, 31 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diasumsikan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang, membawa dampak positif bagi kebiasaan dan perilaku peserta didik. Hal ini sesuai dengan yang diharapkan masyarakat.

B. Pembahasan

Dari hasil penelitian dan wawancara dengan informan menunjukkan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Kimia di SMA Sub Rayon 13 Palembang secara keseluruhan belum efektif dilaksanakan, seperti tercantum dalam rekapitulasi sebagai berikut :

Tabel 5.4 Resume Hasil Penelitian

No

No Aspek Yang Diteliti Uraian Hasil 1.

b. Sarana prasarana pendukung

 Sudah sesuai yang diharapkan dalam

Dari hasil rekapitulasi di atas, secara rinci diuraikan pada penjelasan di bawah ini :

1. Konteks

Evaluasi konteks merupakan evaluasi terhadap keadaan yang melingkupi proses pembelajaran yang ada di SMA Sub Rayon 13 Palembang. Keadaan yang termasuk konteks adalah yang berasal dari lingkungan sekolah ini sendiri, yaitu kondisi aktual dengan kondisi yang diharapkan.

Jika mengacu kepada hasil pengamatan di lapangan dapat dianalisis bahwa lingkup kebutuhan dan tujuan program sudah sesuai dengan yang diharapkan dan memiliki konteks dengan visi dan misi SMA Sub Rayon 13 Palembang.

Hal ini sejalan dengan pendapat Widoyoko (2009), yang menyatakan :

” Evaluasi konteks ditujukan untuk menilai keadaan yang sedang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan ”

Dari hasil pengamatan dan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi konteks ini tidak mengharuskan lembaga pendidikan mempunyai suatu kurikulum baru terlebih dahulu untuk melakukan kegiatan evaluasi, namun dapat menyisipkan hal-hal yang diinginkan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia tersebut ke dalam kurikulum sekolah yang tertuang dalam silabus dan RPP guru yang mengajar di sekolah ini.

2. Input

(15)

menjelaskan bahwa perubahan sikap dan prilaku manusia merupakan kecenderungan tingkah laku yang mengarah pada tujuan yang pasti, aktivitas-aktivitas atau pengalaman yang menarik dari tiap individu. Oleh karena itu, apabila individu atau seseorang menaruh minat terhadap sesuatu, maka itu berarti ia telah menetapkan tujuan sebelumnya dan berupaya untuk memahami tujuan yang akan dicapai.

Dari hasil penelitian dan pendapat para ahli di atas dapat dianalisis bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia memerlukan kesadaran yang muncul dari dalam diri guru dan siswa yang ada di sekolah tersebut, agar diperoleh hasil yang optimal, sehingga pelaksanaan kegiatan menjadi efektif.

3. Proses

Setiap aktivitas dimonitor oleh perubahan-perubahan yang terjadi secara jujur dan cermat. Pencatatan aktivitas harian demikian penting karena berguna bagi pengambil keputusan untuk menentukan tindak lanjut penyempurnaan. Disamping itu catatan akan berguna untuk menentukan kekuatan dan kelemahan atau program ketika dikaitkan dengan keluaran (ouput) yang ditemukan.

Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat dianalisis bahwa proses pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia dalam rangka proses penyelesaian kasus siswa bermasalah belum memberikan dampak positif terhadap perubahan pada perilaku anak, penyelesaian kasus siswa bermasalah baru sebatas meredam gejolak emosi jiwa siswa, belum menyentuh pada perbaikan karakter siswa. Hal ini ditunjukkan dari belum sesuainya materi yang dilaksanakan di sekolah dengan kenyataan dalam pengintegrasian nilai-nilai karakter budaya bangsa dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru. Secara teoritik sudah baik, namun secara praktik belum sinkron, sehingga perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan dalam penyempurnaan pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia di sekolah ini.

Hal ini sesuai dengan pendapat dari Worthen and Sanders (1993:67), yang menjelaskan bahwa dalam penilaian pelaksanaan suatu kegiatan dapat diketahui kelemahan-kelemahan selama pelaksanaan berlangsung, termasuk hal-hal yang baik untuk dipertahankan, agar diperoleh informasi mengenai keputusan yang akan ditetapkan, dan meninventarisir catatan-catatan lapangan mengenai hal-hal penting saat implementasi dilaksanakan.

Dari hasil wawancara dengan informan dan pendapat dari ahli di atas dapat disimpulkan bahwa proses pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia

hendaklah sinkron antara yang direncanakan dalam RPP guru dengan praktiknya di kelas.

4. Product

Product merupakan kumpulan deskripsi dan “judgement outcomes” dalam hubungannya dengan input, dan proses, kemudian di interprestasikan ke dalam penilaian yang akan diberikan.

Berdasarkan hasil penelitian di atas product yang dihasilkan dari serangkaian tahapan yang sudah dilalui siswa SMA Sub Rayon 13 Palembang dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia menunjukkan bahwa pelaksanaan tersebut cukup efektif. Hal terlihat dengan adanya perubahan sikap, perilaku dan kebiasaan-kebiasaan orang tua / wali murid dan siswa di sekolah

Kompetensi dasar yang diharapkan dari pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran tersebut adalah siswa memiliki kepribadian yang baik seperti yang diamanatkan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia, dan meningkatnya pemahaman, penghayatan akan makna belajar bagi mereka.

Hal ini sesuai dengan pendapat Betti Alisjahbana (29/04/2008) dalam Journal Pendidikan, menjelaskan sebagai berikut :

Pembelajaran menekankan pada kompetensi siswa. Hal ini merupakan program pembelajaran yang dirancang untuk menggali potensi dan pengalaman belajar siswa agar mampu memenuhi pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan. Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kimia dalam proses pembelajaran ini, materi pembelajaran yang dipilih haruslah yang bermakna, yakni yang memberikan kecakapan /

ketrampilan yang mudah

diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang telah dipelajarinya di sekolah, sehingga siswa terhindar dari materi-materi yang tidak menunjang pencapaian kompetensi, serta memberikan dampak positif terhadap perubahan kebiasaan, perilaku, dan sikap siswa dan berimbas kepada seluruh warga sekolah.

C. Diskusi

Masih belum proaktifnya warga sekolah untuk melakukan perubahan terhadap penanaman nilai-nilai karakter budaya bangsa di sekolah ini. Penanaman nilai karakter ini hanya berlangsung saat proses pembelajaran saja, sementara di luar proses pembelajaran belum optimal dilaksanakan. Selain itu, masih belum seluruh guru dapat memasukkan nilai-nilai karakter budaya bangsa ke dalam mata pelajaran yang diajarkannya

Gambar

Tabel 1Data Guru Kimia di SMA Sub Rayon 13 Kota Palembang
Tabel 1Indikator Variabel Penelitian
Tabel 5.2Rencana Anggaran Biaya Pelaksanaan
Tabel 5.3mengisyaratkan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian Hikmah dan Sulis (2020) menunjukkan bahwa brand engagement berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap repurchase intention sejalan dengan

Calculator dalam Aspen dapat digunakan untuk melakukan perhitungan sesuai dengan keinginan kita, misalnya mengubah satuan atau menghitung besaran- besaran yang belum

Correlation between Listening Scores and Speaking Scores (A Case Study with 1 st and 2 nd of English Department the Faculty of Tarbiyah and Teachers’ Training Academic

Analisis Korpus Terhadap Idiom Bahasa Indonesia Yang Berbasis Nama Binatang.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Pada gastritis terjadi respon inflamasi akut maupun kronik dan terjadi aktivasi sitokin-sitokin yang menyebabkan terjadinya inflamasi mukosa dimana kadar IL-6, IL-8,

Sementara itu hambatan yang datang dari luar diri kita, juga mempengaruhi keefektifan mendengar kita. Siswa akan sulit menerima pelajaran jika di luar kelas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan perawat Keandalan, Ketanggapan, Jaminan dan Empati secara parsial berpengaruh positif

Terdapat ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan radiologik mastoid dengan hasil pemeriksaan klinik pada penderita OMK aktif dengan dan tanpa komplikasi