BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling mendasar dalam siklus kehidupan manusia mulai lahir hingga akhir hayat (long life education). Secara konsep, pendidikan merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangung jawab. Pendidikan adalah suatu proses transfer of knowledge (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) yang dilakukan oleh guru kepada anak didiknya. Selain itu, pendidikan adalah alat untuk merubah cara berpikir kita dari cara berpikir tradisional ke cara berpikir ilmiah (modern).
Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas tidak terlepas dari adanya peran keluarga, sekolah, maupun masyarakat di dalamnya yang biasa dikenal dengan istilah Tri Pusat Pendidikan, yang meliputi: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tiga badan tersebut memiliki sifat, fungsi, serta peran masing-masing yang mana sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak itu sendiri.
Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Hasbullah (1997), dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah.
pertumbuhan anak di Indonesia tidak seimbang dengan laju pertumbuhan pembangunan sarana dan prasarana fisik sekolah.
Sekolah juga merupakan pemegang peranan yang tak kalah penting dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekali pada jiwa anak. Maka di samping keluarga sebagai pusat pendidikan yang membentuk akhlak seorang anak, sekolahpun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan formal (legal) untuk pembentukan pribadi anak. (abu Ahmadi, 1991:180)
Selain itu, masyarakat juga memiliki peranan penting dalam lingkungan pendidikan nonformal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan terencana kepada seluruh anggotanya, tetapi tidak sistematis tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil dengan maksimal. Sekarang hampir semua sekolah mempunyai komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, sebab masyarakat dari berbagai lapisan sosial ekonomi sudah sadar betapa pentingnya dukungan mereka untuk keberhasilan pembelajaran di sekolah. Dengan demikian keluarga, pemerintah, dan masyarakat sangat berperan penting dalam pembentukan pendidikan yang berkualitas.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana peranan keluarga dalam pendidikan? 2. Bagaimana peranan sekolah dalam pendidikan? 3. Bagaimana peranan masyarakat dalam pendidikan?
1.3 TUJUAN PENULISAN
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKANDilihat dari segi pendidikan, keluarga merupakan suatu kesatuan hidup (sistem sosial) dan keluarga menyediakan situasi belajar. Sebagai satu kesatuan hidup bersama (system sosial) keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ikatan kekeluargaan membentuk anak mengembangkan sifat persahabatan, cinta kasih, hubungan antar pribadi, kerja sama, disiplin, tingkah laku yang baik, serta pengakuan akan kewibawaan. Sumbangan keluarga bagi pendidikan anak adalah :
1. Melatih anak menguasai cara-cara mengurus diri, seperti cara makan, berbicara, berjalan, berdoa dan yang lainnya. Hal ini berkaitan erat dengan perkembangan diri anak sebagai seorang pribadi.
2. Sikap orang tua kepada anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Sikap menerima atau menolak, sayang atau acuh tak acuh, sabar atau terburu-buru, melindungi atau membiarkan anak, secara langsung memberikan pengaruh kepada anak dalam hal reaksi emosional anak.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan. Berkembang menjadi dewasa. Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi pekerti dan kepribadian tiap-tiap manusia. Pendidikan yang diterima dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah.
Hal ini berarti keluarga memiliki tanggung jawab kepada anak dalam hal pendidikan. Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan di bina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain :
2.
Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.3.
Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak sehingga bila ia telah dewasa mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain.4.
Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama. Sebagai tujuan akhir hidup manusia.Tugas utama keluarga bagi pendidikan anak ialah peletak dasar bagi pendidikan, namun perlu didasari oleh teori pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Artinya keluarga juga harus memahami masalah atau hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana mendidik anak sesuai dengan perkembangan anak. Bila hal ini dapat dilakukan oleh setiap orang tua, maka generasi mendatang telah mempunyai kekuatan mental menghadapi perubahan dalam masyarakat. Untuk berbuat demikian, tentu saja orang tua perlu meningkatkan ilmu dan keterampilannya sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga.
Di samping itu keluarga dalam mendidik tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak, namun harus memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih, dengan tetap mendampingi agar anak tidak salah dalam memilih.
Peran orang tua dengan memberikan kebebasan untuk anak (pola asuh (demokrasi) dengan tidak mengekang si anak.
2.2 PERAN SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN
Sebagai akibat dari perkembangan ilmu teknologi dan terbatasnya orang tua akan mengenai kedua hal tersebut, orang tua tidak mampu lagi mendidik anaknya. Untuk menjalankan tugas-tugas tersebut diperlukan orang lain yang lebih ahli, oleh karena itu orang tua mengirimkan anaknya ke sekolah.
kepribadian mantab dan mandiri serta tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Di dalam UU No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan nasional, sekolah didefinisikan sebagai “Satuan Pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar”. Sekolah melakukan pembinaan pendidikan untuk peserta didiknya didasarkan atas kepercayaan dan tuntutan jaman.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai tanggungjawab atas tiga faktor:
a. Tanggung Jawab Formal
Sekolah atau madrasah sebagai lembaga pendidikan sesuai fungsi, tugas dan tujuan pendidikan, harus melaksanakan pembinaan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku.
b. Tanggung Jawab Keilmuan
Sekolah atau madrasah sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab mentransfer pengetahuan kepada anak didik.
c. Tanggung jawab fungsional
Sekolah atau madrasah selain harus melakukan pembinaan sesuai ketentuan yang berlaku, sekolah juga harus bertanggungjawab melalui pendidik (guru) untuk melaksanakan program yang terstruktur di dalam kurikulum
Fungsi sekolah menurut Suwarno yang diperinci dalam bukunya Pengantar Umum Pendidikan adalah sebagai berikut:
1) Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan; Di
samping bertugas untuk mengembangkan pribadi anak didik secara menyeluruh, fungsi sekolah yang lebih penting sebenarnya adalah menyampaikan pengetahuan dan melaksanakan pendidikan kecerdasan. Fungsi sekolah dalam pendidikan intelektual dapat disamakan dengan fungsi keluarga dalam pendidikan moral.
2) Spesialisasi; Di antara ciri makin meningatnya kemajuan masyarakat ialah
makin bertambahnya diferensiasi dalam tugas kemasyarakatan dan lembaga sosial yang melaksanakan tugas tersebut. Sekolah mempunyai fungsi sebagai lembaga sosial yang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. 3) Efisiensi; Terdapatnya sekolah sebagai lembaga sosial yang berspesialisasi di
pengajaran dalam masyarakat menjadi lebih efisien, sebab: Seumpama tidak ada sekolah, dan pekerjaan mendidik hanya harus dipikul oleh keluarga, maka hal ini tidak akan efisien karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya, serta banyak orang tua tidak mampu melaksanakan pendidikan yang di maksud. Karena pendidikan sekolah dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis. Di sekolah dapat dididik sejumlah besar anak secara sekaligus
4) Sosialisasi; Sekolah mempunyai peranan yang penting di dalam proses
sosialisasi, yaitu proses membantu perkembangan individu menjadi mahluk sosial, mahluk yang dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat. Sebab bagaimanapun pada akhirnya ia berada di masyarakat.
5) Konservasi dan transmisi cultural; Fungsi lain dari sekolah adalah memelihara
warisan budaya yang hidup dalm masyarakat dengan jalan menyampaikan warisan kebudayaan tadi (transmisi cultural) kepada generasi muda, dalam hal ini tentunya anak didik.
6) Transisi dari rumah ke masyarakat
7) Ketika berada di keluarga, kehidupan anak serba menggantungkan diri pada
orang tua, maka memasuki sekolah di mana ia mendapat kesempatan untuk melatih berdiri sendiri dan tanggung jawab sebagai persiapan sebelum ke masyarakat.
Sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut;
a. Sekolah membantu anak mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
b. Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
c. Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan, pengetahuan dan wawasan yang bersifat universal baik yang ilmiah maupun teknolgi.
d. Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.
beragama mendidik putra-putranya untuk menjadi orang yang melanjutkan dan memperjuangkan agama.
Lamanya pendidikan di sekolah juga ikut menentukan berhasil tidaknya pembentukan pribadi, yaitu:
a) Sejak umur antara 2 – 4 tahunan sebagian anak ada yang dimasukkan ke dalam PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Pada waktu tersebut anak diberikan bimbingan seperti halnya menyanyi, senam, menggambar, mewarnai, melipat, dll oleh gurunya. Pada tahap tersebut, seorang anak diajari dan dididik dalam tahap-tahap awal dengan penuh kesabaran dan kelembutan, karena pada tahap itulah seorang anak mulai meniru dan melakukan apa yang orang lain lakukan. Jadi, pada tahap ini seorang pendidik harus lebih berhati-hati dan mendidik dengan penuh kasih sayang. b) Selanjutnya umur 5 atau 6 tahun anak dimasukkan ke dalam Sekolah Taman
kanak-kanak atau Bustanul Atfal. Tahap ini merupakan kelanjutan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tetapi, dalam mendidik pada tahap ini harus dimulai dari awal lagi seperti halnya PAUD karena sebagian siswa ada yang pernah PAUD dan ada juga yang tidak PAUD. Akan tetapi, bagi yang pernah paud akan kelihatan lebih cakap dalam melakukan suatu hal dari pada yang lainnya.
c) Kemudian umur enam tahun (6 tahun) anak disekolahkan ke Sekolah Dasar atau Ibtidaiyah. Mulailah anak diberi ilmu pengetahuan dasar di camping pendidikan. Selama enam tahun, yaitu sampai dengan umur 12 tahun,anak terus menerus diberi pendidikan dan pengajaran.
d) Sekitar umur 13 tahun anak meneruskan ke Sekolah tingkat Menengah Pertama atau Tsanawiyah. Sampai dengan umur 15 tahun, jadi selama tiga tahun anak mendapat didikan yang berbeda dengan pendidikan di Sekolah Dasar, karena para pendidik tahu bahwa pada anak sudah ada pengetahuan dasar dan pada masa ini anak telah kritis dan tahu akan nilai-nilai kesusilaan, keindahan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaan. e) Sekitar umur 16 tahun anak melanjutkan Sekolah Menengah Atas atau
masuk ke periode adoliscensi (masa dewasa).
Jadi selama 14 tahun anak hidup di dalam pendidikan sekolah. Waktu 14 tahun adalah cukup lama untuk bisa ikut menentukan pribadi anak. f) Bagi anak yang masih besar minatnya untuk melanjutkan kuat fikirnya serta
mampu biayanya, masih bisa melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi selama empat tahun. Pada masa ini, anak telah dapat menyelesaikan pembentukan pribadi sendiri, karena telah memasuki dunia kemahasiswaan dan telah berada atau menginjak masa adoliscensi. (Abu Ahmadi, 1991:182) Mengingat cukupnya waktu dan pentingnya fungsi sekolah dalam ikut serta pembentukan pribadi anak, maka pendidikan yang bersifat intelektualitas saja adalah kurang efektif, mengkhianati amanat orang tua si anak, menyia-nyiakan kesempatan yang baik bagi si anak yang sedang dalam pertumbuhan jasmani dan rohaninya dan sebagai suatu kesalahan yang besar, yang harus kita perhatikan dan selanjutnya tidak boleh kita biarkan, melainkan harus kita kembalikan ke fungsi yang sebenarnya.
Pendidikan yang hanya bersifat intellectuallistisch adalah akibat jelek dari sistem pendidikan aliran rationalisme yang dibawa belanda ke tanah air kita tahun 1850. Sistem ini kurang mengingat bahwa manusia adalah sebagai kebulatan, akibatnya dengan warisan Belanda itu manusia menjadi terlalu individualis-tisch dan materialisindividualis-tisch, maka sistim ini harus kita hindari.
Pemerintah Indonesia yang berfalafah Pancasila dan berUndang-Undang Dasar 1945 dengan sekolah-sekolah negerinya tidak hanya mengharapkan agar anak-anak dididik penuh dengan ilmu saja, tapi juga yang penting adalah membentuk anak-anak bermental menjadi Pancasilais sejati, begitu pokok pesan Jendral Soeharto pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. Ini berarti, bahwa pertama-tama gurulah yang harus memPancasilakan dirinya. Sebab hanya gurulah yang dapat menyebarkan Pancasila.
Pancasila, di mana sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha esa harus merupakan inti dan tujuan pendidikan, dengan agama sebagai puncak mutlaknya, sebab Pancasila merupakan dasar dan pemberi arah dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Sebab itu tugas sekolah yang penting adalah membentuk manusia Pancasila sejati, yaitu manusia yang ber”Tauhid”, berPerikemanusiaan, berKebangsaan, berKedaulatan rakyat dan berKeadilan Sosial.
Dengan adanya amanat Jendral Soeharto pada tanggal 2 Mei 1967 itu dapatlah dipahami, bahwa pemerintah memandang sekolah sangat berfungsi dalam pembentukkan pribadi Pancasilais. Suatu peristiwa yang wajib kita syukuri adalah adanya pergantian pemerintahan dari Orde Lama menjadi Orde Baru sehingga pelajaran agama dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah negeri, bahkan menjadi mata pelajaran wajib yang ikut menentukan, baik di sekolah-sekolah rendah sampai ke Perguruan Tinggi. (Abu Ahmadi, 1991:183)
Guru digugu ditiru berfungsi sebagai ganti orang tua. Maka, apabila guru dalam mendidik benar-benar melaksanakan tugas agama dengan baik akan bisa membentuk kepribadian anak yang lebih baik.
2.3 PERAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN
Istilah masyarakat dapat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berpikir dan bertindak yang relatif sama dan hidup sebagai kesatuan/ kelompok. Dalam meningkatkan Peran Serta Masyarakat (PSM) memang sangat erat dengan pengubahan cara pandang berlangsungnya segala aktivitas yang menyangkut masalah pendidikan. Untuk itu bahan apa yang akan diberikan kepada anak didik sebagai generasi tadi harus disesuaikan dengan keadaan dan tuntunan masyarakat di mana kegiatan pendidikan berlangsung.
Ada 7 tingkatan peran serta masyarakat (dirinci dari tingkat partisipasi terendah ke tinggi), yaitu:
2. Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada PSM (Peran Serta Masyarakat) jenis ini masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana, barang, atau tenaga.
3. Peran serta secara pasif. Masyarakat dalam tingkatan ini menyetujui dan menerima apa yang diputuskan pihak sekolah (komite sekolah), misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orang tua menerima keputusan itu dengan mematuhinya.
4. Peran serta melalui adanya konsultasi. Pada tingkatan ini, orang tua datang ke sekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya.
5. Peran serta dalam pelayanan. Orang tua/masyakarat terlibat dalam kegiatan sekolah, misalnya orang tua ikut membantu sekolah ketika ada studi tur, pramuka, kegiatan keagamaan, dsb.
6. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan. Misalnya sekolah meminta orang tua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, masalah jender, gizi, dsb. Dapat pula misalnya, berpartisipasi dalam mencatat anak usia sekolah di lingkungannya agar sekolah dapat menampungnya, menjadi nara sumber, guru bantu, dsb.
7. Peran serta dalam pengambilan keputusan. Orang tua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan baik akademis maupun non akademis, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling mendasar dalam siklus kehidupan manusia mulai lahir hingga akhir hayat (long life education). Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas tidak terlepas dari adanya peran keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat diprasyaratkan adanya keserasian serta kerjasama yang erat dan harmonis.
Dari beberapa pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Antara tiga komponen penyelenggara pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) masing-masing mempunyai korelasi. Artinya, ketika anak didik berada dalam posisi ketiga (masyarakat), tidaklah hilang peranan keluarga dan sekolah. Ketika anak tersebut mendapat suatu masalah yang solusinya tidak ditemukan di
masyarakat maka dia harus flashback kepada sekolah bahkan keluarga karena
antara tiga badan tersebut terdapat hubungan atau kesinambungan yang sangat erat. 2. Keluarga adalah sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama yang merupakan pondasi pendidikan anak terutama masalah akhlak untuk melanjutkan pendidikan yang selanjutnya yaitu sekolah (formal). Seseorang akan menjadi warga masyarakat yang baik sangat tergantung pada sfat-sifat yang tumbuh dalam kehidupan keluarga dimana anak dibesarkan dan kelak kehidupan anak tersebut jika mempengaruhi masyarakat sekitarnya sehingga pendidikan keluarga itu merupakan dasar terpenting kehidupan anak sebelum masuk sekolah dan terjun ke dalam masyarakat.
agama. Dan karena sekolah itu sengaja disediakan atau dibangun khusus untuk tempat pendidikan, maka dapatlah digolongkan sebagai lembaga pendidikan kedua setelah keluarga, lebih-lebih mempunyai fungsi melanjutkan pendidikan keluarga dengan guru sebagai ganti orang yang harus ditaati.
4. Masyarakat dikatakan sebagai lembaga pendidikan ketiga karena mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup tanpa batasan yang jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya.
3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991 Idris, Zahara, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT. Grasindo, 1992 Said, M., Ilmu Pendidikan, Bandung: Penerbit Alumni, 1985 Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, Surabaya: IKAPI, 1982 Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar
Pertanyaan :
1. Ahmad Widodo (052) Aspek Keluarga Sekolah dan Masyarakat?
2. Alexander Wisnu Apabila telat umur
3. Yuli Iswanti : Pendidikan di sekolah home schooling apakah mempengaruhi perkembangan kepribadian anak? Bagaimana Peran keluarga?
Jawab : Ya tentu mempengaruhi perkembangan anak, karena anak yang dimasukkan ke home schooling itu menjadi :
Siswa menjadi kurang pergaulan (kuper), merasa individualis serta terkadang merasa paling hebat karena tidak merasakan kompetisi meraih peringkat terbaik, sehingga tidak bisa mengukur kekurangan diri sendiri dibandingkan siswa yang lain.
Seluruh rutinitas dilaksanakan di rumah tanpa ada perubahan suasana belajar, sehingga terkadang membuat kejiwaan siswa kurang baik. Keadaan ini menjadikan pula siswa kurang mandiri dan kurang realistis menghadapi problem sosial yang timbul.
Tidak ada kompetisi atau persaingan. Anak tidak bisa membaningkan sampai dimana kemampuannya dibanding anak-anak lain seusia dia. Selain itu anak belum tentu merasa cocok jika diajar oleh orang tua sendiri, apalagi jika memang mereka tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya.
Lingkup interaksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial terbatas. Padahal hal inilah yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat. Seharusnya pada masa kanak-kanak hubungan dengan teman sebaya adalah suatu tahap dan masa yang sangat penting.
Tapi dibalik itu ada sisi positif dari home schooling itu sendiri yaitu
pendidik. Peserta didik mencari tahu segala sesuatu yang ingin diketahuinya. Peserta didik memilih apa yang disukainya dan apa yang tidak disukainya.
Kebebasan emosional. Tekanan, kompetisi dan kebosanan merupakan bagian yang paling khas dari sekolah. Dengan HomeSchooling, pengaruh negatif ini dapat di hindari.
Hubungan Keluarga semakin dekat. HomeSchooling berperan penting dalam meningkatkan hubungan antar semua anggota keluarga.
Istirahat cukup. Tidur sangat penting bagi kesehatan emosional dan fisik anak, terutama anak berusia belasan tahun. Rutinitas bangun pagi pada sekolah umum terkadang membuat mereka merasa letih. Namun dengan HomeSchooling, mereka bisa mengatur jadwal tidur dengan baik.
Meminimalisir pengaruh lingkungan luar terhadap diri siswa. Home Schooling mengurangi kontak sosial dengan lingkungan luar yang dapat memberikan pengaruh buruk seperti narkoba, tawuran, maupun pergaulan bebas.
Jadi Peran Keluarga dalam Homeschooling yaitu Keluarga (orang tua dapat mengawasi dan setiap kegiatan belajar maupun kegiatan lainnya. dalam
homeschooling sangat menuntut peran orang tua dalam mendidik anak. Tanpa ada dukungan orang tua, pendidikan anak akan terasa percuma. Orang tua perlu memperhatikan karakter anak, perkembangan dari anak, dan keinginan anak. Hal ini bertujuan agar orang tua mampu berperan dengan baik dalam perkembangan anak.
4. Ismi Fatimah () Tahapan terjun ke masyarakat? Apakah yang dimaksud itu seperti Tahap Persiapan, Play Stage,Game Stage, dan Tahap Penerimaan Norma Kolektif
?
Jawab :
5. Lukman Hasani : Bagaimana Peran serta masyarakat terhadap sekolah JIS yang selangkah lebih maju?
Jawab :