Tuga
Pembangunan IPLT Mandung
Studi Ka
Oleh :
Magiste
Jur
Fakulta
Institut
Tugas Analisa Kebijakan Spasial
andung Dalam Pendekatan Keruangan da
Kasus: IPLT Kabupaten Tabanan
Oleh : Daniel Wicaksono (3315202001)
ister Teknik Sanitasi Lingkungan
Jurusan Teknik Lingkungan
ultas Teknik Sipil dan Perencanaan
itut Teknologi Sepuluh Nopember
PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia dalam rangka mengatasi masalah sanitasi yang semakin buruk dan usaha untuk mencapai target MDGs untuk sanitasi, mengupayakan percepatan pembangunan sanitasi yang komprehensif dan terintegrasi. Sanitasi merupakan bagian penting dalam pembangunan daerah karena terkait dengan penjagaan kesehatan masyarakat. Penyediaan dan pengelolaan sanitasi yang baik merupakan tindakan preventif yang harus dilakukan untuk mengurangi penyebaran penyakit menular akibat sanitasi yang buruk. Saat ini kesadaran masyarakat masih rendah keikutsertaannya dalam pengelolaan sarana dan prasarana sanitasi. Belum semua masyarakat menyadari arti penting sanitasi.
Bahkan seringkali sanitasi dianggap sebagai urusan “belakang”, sehingga termarjinalkan
dari urusan-urusan yang lain. Persepsi yang keliru yang memandang urusan sanitasi sebagai urusan yang kurang penting sangat perlu untuk diubah sehingga semua pihak dapat menyadari sepenuhnya bahwa urusan sektor sanitasi merupakan urusan yang penting dan cukup vital. Selain itu pembiayaan yang masih bergantung pada pendanaan pemerintah menjadi salah satu faktor yang memperlambatan perbaikan kondisi sanitasi. Pihak swasta belum banyak yang mau terlibat berinvestasi di bidang ini dengan pertimbangan pembiayaan dan kelayakan investasi. Kondisi ini diperburuk dengan kurang baiknya koordinasi antar lembaga dan pihak yang memiliki kewenangan di bidang sanitasi baik pusat dan daerah. Dampak terbesar dari kondisi tersebut menyebabkan buruknya kondisi pelayanan sanitasi di banyak tempat baik di perkotaan dan pedesaan.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tahapan Perencanaan
Pengolahan air limbah dengan menggunakan sistem setempat dan sistem terpusat diantaranya tangki septik, biofilter, dll. memerlukan pengurasan yang dilakukan secara berkala untuk menghindari kejenuhan atau penuhnya sistem. Pengurasan lumpur di dalam sistem setempat dan sistem terpusat dilakukan dengan menggunakan sarana penyedotan lumpur tinja dan selanjutnya dibawa ke instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT).
IPLT adalah instalasi pengolahan air limbah yang dirancang hanya menerima dan mengolah lumpur tinja yang berasal dari sistem setempat dan sistem terpusat yang diangkut melalui sarana pengangkut lumpur tinja. Lumpur akan diolah menjadi lumpur kering yang disebut dengancakedan air olahan/efluen yang sudah aman dibuang ataupun dimanfaatkan kembali. Lumpur kering dapat dimanfaatkan menjadi pupuk dan air efluen dapat digunakan untuk keperluan irigasi.
A.1 Langkah-Langkah Perencanaan IPLT
Kebutuhan dan pengumpulan data dalam perencanaan IPLT dijabarkan sebagai berikut:
A.1.1 Persiapan dan Pelaksanaan Survei
Data yang dikumpulkan meliputi: 1. Data Primer, meliputi:
a. Jumlah rumah dan klasifikasinya
b. Jumlah dan kondisi sarana sanitasi setempat yang ada
c. Lokasi (lahan) yang dapat digunakan untuk pembangunan IPLT d. Kondisi lingkungan di sekitar lokasi (lahan) pembangunan IPLT e. Sarana jalan lingkungan dan jalan menuju calon lokasi IPLT 2. Data Sekunder, meliputi:
b. Kondisi fisik wilayah, c. Data kependudukan,
d. Kondisi sanitasi lingkungan,
e. Rencana induk sistem pembuangan air limbah, f. Kondisi sosial-ekonomi dan budaya,
g. Kelembagaan dan peraturan. 3. Data Pendukung lainnya, meliputi:
Metode dan teknologi pengolahan air limbah lumpur tinjayang terbaru, tepat guna, efektif, dan efisien sehingga mampu mengolah limbahlumpur tinja dengan sebaik mungkin namun dengan biaya investasi, operasi dan perawatan yang minimal.
A.1.2 Penentuan Daerah Pelayanan IPLT
Dalam menentukan wilayah/daerah layanan, perencana perlu menetapkan target pelayanan IPLT berupa persentase dari jumlah penduduk kota yang akan dilayani oleh sarana IPLT yakni minimal 60% dari total penduduk yang menggunakan tangki septik sistem setempat.
A.1.3 Penentuan Lokasi IPLT
Penentuan lokasi IPLT ditentukan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:
a. Ketersediaan lahan dan aspek teknis yang meliputi beberapa persyaratan seperti: • Daerah bebas banjir
• Daerah bebas longsor
• Rencana lokasi harus terletak minimal pada radius 2 km dari kawasan pemukiman • Rencana lokasi memiliki akses jalan (penghubung) dari wilayah pelayanan ke IPLT
dan sebaliknya
• Rencana lokasi harus berada dekat dengan badan air penerima
• Rencana lokasi harus merupakan daerah yang terletak pada lahan terbuka dengan intensitas penyinaran matahari yang baik agar dapat membantu mempercepat proses pengeringan endapan lumpur
• Lahan memiliki karakteristik relatif kedap air (permeabilitas rendah)
Rencana lokasi IPLT harus dekat dengan daerah pelayanan IPLT sehingga dapat meminimalkan biaya operasi. Tarif retribusi ditentukan berdasarkan biaya transportasi, operasi, dan pemeliharaan.
c. Lingkungan
Kualitas efluen IPLT harus memenuhi baku mutu air limbah yang berlaku.Untuk mengurangi bau dari IPLT, dapat dilakukan penanaman pohon (contohnya : pohon kemenyan, mimba, dll) di sekeliling untuk mengurangi bau IPLT sebagai zona penyangga.
Gambar 1.1 Gambaran Skematik dalam Perencanaan IPLT
A.1.4 Penentuan Kapasitas IPLT
diinventarisasi, maka dapat digunakan pendekatan (50-60)% dari jumlah penduduk yang ada di dalam daerah layanan yang memiliki sanitasi setempat. Perhitungan kapasitas IPLT memerlukan informasi perkiraan jumlah penghuni atau pengguna sistem setempat dan periode pengurasan lumpur dari sistem setempat tersebut. Kapasitas (debit) IPLT dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
V = (%pelayananx P x Q )/1000
Keterangan:
• V = Debit total (kapasitas) yang akan masuk ke IPLT (m3)
• P = Jumlah penduduk yang dilayani pada akhir periode desain (orang)
• Q = Debit lumpur tinja dalam L/hari atau dibagi dengan 1.000 untuk konversi menjadi m3/hari adalah jumlah lumpur yang akan masuk dan diolah di IPLT setiap harinya
• % = Persentasi pelayanan dapat menggunakan pendekatan (50-60)%
Laju timbulan lumpur tinja dapat menggunakan pendekatan 0,5L/orang/hari. Laju timbulan ini merupakan laju timbulan lumbur basah (lumpur dan air dari tangki septik)
A.2 Komponen IPLT
A.2.1 Komponen Utama
Sistem IPLT dibuat untuk dapat menstabilkan senyawa organik dan meningkatkan padatan yang terkandung dalam lumpur tinja sampai memenuhi persyaratan untuk dibuang ke lingkungan atau dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut, IPLT harus memenuhi seluruh komponen utama sebagai berikut:
a. Unit Pengumpul: Untuk mengumpulkan lumpur tinja dari truk tangki penyedot lumpur tinja sebelum masuk ke sistem pengolahan.
b. Unit penyaringan: Untuk memisahkan atau menyaring benda-benda kasar didalam lumpur tinja. Pemisahan atau penyaringan dapat dilakukan dengan menggunakanbar screenmanual atau mekanik.
d. Unit stabilisasi: Untuk menurunkan kandungan organik dari lumpur tinja, baik secara anaerobik maupun aerobik. Alternatif teknologi pada unit stabilisasi yakni:
• Sistem kolam • Kolam Aerasi
• Anaerobik Sludge Digester
• Aerobik Sludge Digester: Sequence Batch Reactor (SBR) • Oxidation Ditch
Unit Pemekatan: Untuk memisahkan padatan dengan cairan yang dikandung lumpur tinja, sehingga konsentrasi padatannya akan meningkat atau menjadi lebih kental. Alternatif teknologinya yakni tangkiimhoffdanclarifier
f. Unit pengolahan cairan: Untuk menurunkan kandungan organik dalam cairan lumpur tinja.
g. Unit pengeringan lumpur : Untuk menurunkan kandungan air dari lumpur hasil olahan, baik dengan mengandalkan proses penguapan atau proses mekanis. Alternatif teknologinya:sludge drying bed,filter press, danbelt filter press.
A.2.2 Komponen Pendukung
Komponen pendukung merupakan komponen yang dibangun untuk menunjang operasi, pemeliharaan, dan evaluasi IPLT yang berada di satu area dengan IPLT. Komponen pendukung terdiri dari:
a. Platform (dumping station) yang merupakan tempat truk penyedot tinja untuk mencurahkan (unloading) lumpur tinja ke dalam tangki imhoff ataupun bak ekualisasi (pengumpul)
b. Kantor yang diperuntukkan bagi tenaga kerja.
c. Gudang untuk tempat penyimpanan peralatan, suku cadang unit-unit di IPLT, dan perlengkapan lainnya.
d. Laboratorium untuk pemantauan kinerja IPLT.
e. Infrastruktur jalan berupa jalan masuk, jalan operasional, jalan inspeksi, dll.
- Sumur pantau dibuat dekat bangunan pengolahan
- Jumlah sumur pantau disesuaikan dengan luas bangunan pengolahan
- Diameter sumur pantau di buat minimal 15 centimeter
- Dinding sumur pantau dibuat dari pipa pvc minimal klas AW
- Kedalaman sumur pantau harus lebih dalam dari elevasi muka air tanah di sekitar bangunan pengolahan
- Pembuatan sumur pantau dapat dilakukan dengan cara pengeboran
(Sumber: Rapermen Air Limbah Lampiran II Buku 2 Pedoman Pelaksanaan Konstruksi)
g. Fasilitas air bersih untuk mendukung kegiatan pengoperasian IPLT. h. Alat pemeliharaan dan keamanan.
i. Pagar pembatas untuk mencegah gangguan serta mengamankan aset yang ada di dalam lingkungan IPLT.
j. Generator yang digunakan sebagai sumber listrik cadangan
k. Zona penyangga berupa tanaman pelindung yang ditanam di sekeliling IPLT dan berfungsi sebagai zona hijau
A.3 Pemilihan Alternatif Unit Pengolahan
A.3.1 Alternatif Sistem Pengolahan Lumpur Tinja
Terdapat dua sistem yang dapat digunakan dalam pengelolaan dan pengolahan lumpur tinja (Gambar 1.2). Sistem tersebut ditentukan berdasarkan dari karakteristik lumpur tinja yang akan diolah, terdiri dari:
1. Sistem IPLT dengan pemisahan padatan dan cairan
pemisahan/pemekatan juga jika memungkinkan dapat digabungkan dalam IPLT yang telah ada. Perhatikan Gambar 1.3.
Gambar 1.2 Skema Pemilihan Sistem IPLT
Sistem IPLT Kelebihan Kekurangan Co-composting with
refuse
• Sederhana dan ekonomis
• Produk dapat
dimanfaatkan kembali
• Berpotensi tidak berhasil jika lumpur tinja
PENDEKATAN
Pada kajian implikasi kebijakan tata ruang terhadap prasarana air limbah, dengan studi kasus IPLT Kabupaten Tabanan ini, dilakukan beberapa pendekatan.Pendekatan dilakukan untuk memperdalam kajian dengan sudut pandang yang berbeda. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan keruangan, pendekatan ekologi, dan pendekatan teknologi.
1. Pendekatan Keruangan
Pendekatan keruangan didasarkan pada perbedaan lokasi dari sifat-sifat pentingnya seperti perbedaan struktur, pola, dan proses. Struktur keruangan terkait dengan elemen pembentuk ruang yang berupa kenampakan titik, garis, dan area. Sedangkan pola keruangan berkaitan dengan lokasi distribusi ketiga elemen tersebut. Dalam pendekatan keruangan, yang perlu diperhatikan adalah persebaran penggunaan ruang dan penyediaan ruang yang akan dimanfaatkan. Pendekatan keruangan dapat ditinjau dari fenomena geografi suatu wilayah, mata pencaharian atau aktivitas masyarakat, dan karakteristik regional. melalui pendekatan keruangan akan dikaji kesesuaian pembangunan prasarana air limbah, yakni IPLT terhadap RTRW Kabupaten Tabanan Selain itu terkait juga dengan implikasinya terhadap pemanfaatan lahan untuk prasarana sanitasi lainnya di dalam wilayah Kabupaten Tabanan. 2. Pendekatan Ekologi
GAMBARAN UMUM DAN DATA WILAYAH STUDI
1. Profil Wilayah Kabupaten Tabanan
Kabupaten Tabanan, salah satu kabupaten di Provinsi Bali secara geografis terletak
2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tabanan Rencana Pengembangan Fungsi Wilayah Kabupaten Tabanan
Rencana pengembangan fungsi wilayah kabupaten bertujuan untuk memberikan arahan umum rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Tabanan. Berikut merupakan rencana pengembangan fungsi wilayah Kabupaten Tabanan :
a. Sebagai salah satu pusat pelayanan Kawasan Perkotaan Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan (Sarbagita) yang berfungsi sebagai PKN;
b. Sebagai pusat pertumbuhan wilayah propinsi yang mendukung perkembangan sektor pertanian, perkebunan dan pariwisata;
c. Mengendalikan kawasan lindung dengan tetap mempertahankan fungsi lindungnya; d. Mengendalikan konversi kawasan pertanian beririgasi teknis menjadi kawasan permukiman dan perkotaan;
e. Menetapkan lahan sawah abadi untuk sawah beririgasi teknis yang memiliki view
menarik untuk mempertahankan Tabanan sebagai ikon ”lumbung beras Provinsi Bali”;
f. Mengendalikan pertumbuhan kota secara ekspansif yang tidak terkendali (urban sprawl) dan pertumbuhan menerus (konurbasi);
g. Meningkatkan aksesibilitas kota kecamatan serta pusat permukiman di Kabupaten; h. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan prasarana wilayah (jalan,
persampahan, air bersih, drainase) sesuai standar nasional Rencana Struktur Ruang
a. Keterkaitan Antar Pusat-Pusat Permukiman
Rencana pengembangan hierarki pusat-pusat permukiman yang sudah terbentuk juga diarahkan untuk peningkatan dan pemerataan pembangunan perkotaan di seluruh wilayah Kabupaten Tabanan yang penjabarannya adalah sebagai berikut :
• Meningkatkan jumlah dan kelengkapan fasilitas pendukung pada pusat-pusat permukiman, yaitu pusat-pusat permukiman yang berstatus ibukota Kecamatan. • Meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan perkotaan untuk mengurangi tingkat
migrasi keluar
b. Kebijakan Pengembangan Pusat-Pusat Permukiman
pertumbuhan penduduknya tinggi dan pusat-pusat permukiman yang tidak tumbuh (pertumbuhan negatif). Perincian pusat-pusat permukiman yang perlu dipersiapkan kebutuhan fasilitas dan utilitas di masa mendatang dan dipacu perkembangannya adalah :
• Perkembangan tinggi : Tabanan dan Kediri.
Pertumbuhan rendah : Pusat-pusat pertumbuhan lokal kota Bajera, Penebel Kerambitan, Marga, Pupuan, Pacung - Baturiti.
Implikasi dari pertumbuhan pusat-pusat permukiman adalah meningkatkan fungsi dan peran kota dalam bentuk struktur kota.
Rencana pengembangan pusat-pusat diarahkan untuk meningkatkan dan pemerataan pembangunan perkotaan di seluruh wilayah Kabupaten Tabanan. Sehubungan dengan adanya identifikasi potensi dan kendala yang telah dipadukan dengan visi dan misi pembangunan kabupaten Tabanan, maka untuk lebih memantapkan struktur ruang kawasan ditetapkan :
1. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) : Kota Tabanan dan Kota Kediri
2. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Kecamatan Tabanan sebagai Ibukota Kabupaten 3. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK).Kecamatan Kediri, Marga, Baturiti, Penebel,
Kerambitan, Selemadeg Timur, Selemadeg, Selemadeg Barat, dan Kecamatan Pupuan.
4. Pusat Pelayanan Kawasan Promosi (PPKp) ditetapkan pada kawasan yang mempunyai potensi untuk terus berkembang.
5. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) merupakan pusat permukiman yang berfungsi melayani kegiatan skala antar desa.
3. IPLT Kabupaten Tabanan
IPLT Kabupaten Tabanan dioperasionalkan pada tahun 1995 dengan luas lahan 5 hektar yang terletak di Banjar Mandung, Desa Sembung Gede, Kec. Kerambitan. IPLT melayani kawasan pusat kota Tabanan yang berjarak ± 8 km2 dari lokasi IPLT yang meliputi Kec. Tabanan, Kec.Kediri, Kec. Penebel, Kec. Kerambitan, Kec. Marga, Kec. Selemadeg, Kec. Seltim, Kec. Baturiti, Kec. Pupuan, Kec Selbar. Teknologi pengolahan yang digunakan adalah 4 unit kolam SSC, 1 kolam Sludge Drying Bed, 2 unit kolam Anaerobic, 2 unit kolam Fakultatif, 2 unit kolam Maturasi dengan kapasitas keseluruhan sebesar 30 m3/hari dan didukung oleh armada truk tinja baik dari milik Pemda maupun kerjasama dengan pihak swasta.
Pengelolaan operasional dan pemeliharaan dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan. Pengelolaan IPLT telah diperkuat dalam Perda Nomor 19 tahun 2011 terkait retribusi penyedotan kakus dan Perbup Nomor 22 tahun 2013 terkait pelaksanaan Perda nomor 19 tahun 2011. Tarif penyedotan lumpur tinja dikategorikan dalam 3 zona yaitu:
- Zona A (Kec Tabanan dan Kec Kediri) : Rp 200.000
- Zona B (Kec Penebel, Kerambitan, Marga) : Rp 250.000
- Zona C (Kec Selemadeg, Seltim, Baturiti) : Rp 275.000
- Zona D (Kec Pupuan, Kec Selbar) = Rp 300.000
Gambar Kondisi IPLT
Gambar Skema pengol
PLT Kabupaten Tabanan
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Kesesuaian lokasi IPLT Kabupaten Tabanan dengan RTRW Kabupaten Tabanan
Rancangan rencana struktur tata ruang wilayah Kabupaten Tabanan diarahkan untuk meningkatkan integrasi dan keterkaitan Kabupaten Tabanan dengan wilayah yang lebih luas, yakni wilayah nasional, wilayah provinsi dan kawasan Metropolitan Sarbagita. Kabupaten Tabanan sebagai Kota pendukung dari Kawasan Metropolitan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) membutuhkan koordinasi dan integrasi pengembangan sistem prasarana kota, khususnya dalam hal pembangunan sanitasi, yakni pengembangan sistem pengolahan lumpur tinja. IPLT Kabupaten Tabanan adalah salah satu prasarana air limbah yang beroperasi di kecamatan Karambitan Kabupaten Tabanan. Pemerintah Kabupaten Tabanan telah melaksanakan beberapa upaya peningkatan kualitas lingkungan, khususnya pada sektor air limbah. Berdasarkan data Profil Kesehatan Tabanan 2014 terdapat 125.222 unit unit jamban keluarga dan ini berarti kepemilikan jamban sudah mencapai 98,80 % dari total KK di Kabupaten Tabanan. Namun demikian, masih perlu dilakukan pendataan yang lebih akurat untuk mengetahui apakah tangki septik yang dipergunakan sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) atau aturan yang ada. Sedangkangrey water(limbah cuci dan mandi serta dapur) biasanya tanpa pengolahan dan cenderung langsung dibuang ke sungai ataupun saluran drainase. Dari 32,136 rumah yang diperiksa hanya 54.32% yang memiliki pengolahan limbah dan 93.64% berkondisi sehat. Untuk pengolahan lumpur tinja telah terbangun Instalasi Pengolahan LuBerdasarkan
pemutakhiran Strategi Sanirasi Kota (SSK) Kabupaten Tabanan, sistem pengelolaan air limbah meliputi:
a. sistem pengolahan air limbah setempat (on site) dilakukan secara individual dengan penyediaan bak pengolahan air limbah atau tangki septik, tersebar di seluruh wilayah; b. sistem pengolahan air limbah terpusat (off site)dengan sistem perpipaan meliputi: 1. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tabanan melayani Kawasan Perkotaan
Tabanan;
2. IPAL Soka melayani Kawasan Efektif Kawasan Pariwisata Soka; 3. IPAL Bedugul melayani Kawasan Efektif KDTWK Bedugul; 4. IPAL Tanah Lot melayani Kawasan Efektif KDTWK Tanah Lot.
Menurut Samsuhadi (2012), terdapat beberapa faktor pertimbangan dalam menentukan Lokasi IPLT, salah satunya adalah tata guna lahan yang terdapat pada RTRW daerah setempat. Rencana pembangunan IPLT harus dikoordinasikan dengan pemerintah setempat agar sesuai dengan perencanaan tata ruang kota. Pemilihan lokasi IPLT pada wilayah yang memiliki tata guna lahan sebagai lahan pertanian merupakan lokasi yang paling ideal karena hasil olahan lumpur di IPLT dapat dimanfaatkan menjadi pupuk untuk kegiatan pertanian di sekitar IPLT. Perencanaan pengembangan suatu kota cenderung memiliki prosentase yang lebih besar dalam hal pengembangan permukiman daripada pengembangan pada sektor lain. Sehingga, untuk efisiensi luas wilayah yang digunakan, lokasi IPLT lebih baik di daerah pengembangan wilayah yang mempunyai prosentase pengembangan kecil, misalnya daerah lahan pertanian.
2. Peran IPLT Terhadap Ekosistem
Sistem pengolahan air limbah rumah tangga di Kabupaten Tabanan yaitu untukblack water(tinja urine, air penggelontor) umumnya diolah dengan system onsite dalam hal ini menggunakanseptic tank.
Untuk pengolahan lumpur tinja telah terbangun Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang menampung limbah rumah tangga yang sudah dilakukan penyedotan lumpur tinja baik dari pemerintah maupun layanan swasta.
Sejak tahun 2015 Pemerintah Kabupaten Tabanan mendapatkan bantuan teknis secara intensif untuk program “Percontohan Pengelolaan Lumpur Tinja dan Peningkatan Kapasitas” dariWater and Sanitation Programme (WSP)-The World Bank.
Lingkup bantuan teknis yang diberikan meliputi :
1. Pemetaan pengelolaan lumpur tinja dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT).
2. Identiikasi area pelayanan penyedotan secara terjadwal 3. Perkuatan kerjasama dengan sektor swasta
4. Pengembangan kemungkinan penggunaan lumpur tinja kering hasil pengolahan lumpur tinja sebagai alternati pupuk organik
5. Bantuan perbaikan disain dan operasi IPLT
Bantuan teknis ini akan dijadikan rintisan bagi pengembangan program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT) yang tentunya akan memberikan kontribusi bagi penyehatan lingkungan dan juga pendapatan daerah serta peningkatan pelayanan dari sektor swasta Sistem Sanitasi Pengelolaan Air Limbah Domestik di Kabupaten Tabanan yaitu untuk black water (tinja urine, air penggelontor) umumnya diolah dengan system on site dalam hal ini menggunakanseptic tank. Untuk selanjutnya dilakukan pengurasan pada
waktu tertentu dan selanjutnya diolah di IPLT.
Selain itu di beberapa banjar sudah terbangun IPAL Komunal dimana digunakan untuk penampungan air limbah untuk rumah tangga dengan skala 50-100 KK. Untuk selanjutnya dilakukan pengurasan dalam kurun waktu -/+ 4 tahun untuk dibuang dan diolah di IPLT. Hasil olahan lumpur tinja tidak mencemari badan air yang ada di sekitar IPLT
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, diperoleh beberapa kesimpulan dari kajian pembangunan sektor air limbah dalam kebijakan tata ruang, studi kasus IPLT Tabanan adalah sebagai berikut:
1. Pembangunan IPLT di Kabupaten Tabanan dalam pendekatan keruangan telah sesuai dengan kriteria lokasi IPLT serta aspek tata ruang dan tata guna lahan yang berlaku. Efluen air limbah tidak mencemari lingkungan sekitar karena sudah sesuai dengan standard baku mutu kualitas air limbah yang berlaku. Pelayanan IPLT Kabupaten Tabanan mencakup kawasan permukiman dan kawasan pariwisata. Dengan demikian, adanya IPLT Kabupaten Tabanan dapat menjadi suatu upaya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dalam sektor permukiman dan pariwisata.