• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN MORAL DAN SPIRITUAL PESERTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN MORAL DAN SPIRITUAL PESERTA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN MORAL DAN SPIRITUAL

PESERTA DIDIK

MAKALAH

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS

MATA KULIAH

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

DOSEN PENGAMPU : DRS. YUSRAN ADENIN, MA

OLEH

EZAR WANI

PRODI / SEMESTER : PAI - IV A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

JAM’IYAH MAHMUDIYAH

TANJUNG PURA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah atas limpahan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu sebagai salah satu tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan . Tugas ini adalah salah satu perwujudan hasil kerja keras penulis dalam melaksanakan tugas Semester empat ini yang akan membantu dalam meningkatkan pemahaman terhadap materi Perkembangan moral dan spiritual Peserta Didik. Makalah ini disusun sejalan dengan pengarahan guru pembimbing yang penulisannya ditetapkan dalam panduan penulisan karya ilmiah.

Tidak sedikit kesulitan yang penulis hadapi. Namun berkat bantuan berbagai pihak, makalah ini akhirnya dapat diselesaikan. Sehubungan dengan hal ini, penulismenyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs.Yusran Adenin , MA. sebagai pembimbing dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan .

2. Orang tua dan teman-teman, serta pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis juga menyadari akan segala kekeliruan dan kekurangan dalam makalah ini, sehingga dengan tangan terbuka kami menerima masukan baik berupa saran ataupun kritikan guna mendapatkan makalah yang lebih sempurna nantinya.

Tanjung Pura , 13 Juni 2017

(3)

DAFTAR IS

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...1

C. Tujuan...1

BAB II...2

PEMBAHASAN...2

A. Proses Perkembangan Moral dan Spiritual pada Peserta Didik...2

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik...5

C. Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik pada Pendidikan...7

BAB III...10

PENUTUP...10

A. Kesimpulan...10

B. Saran...10

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan, dimana aspek yang menjadi subjek sekaligus objek yang penting dalam hal ini adalah peserta didik. Pendidikan yang diberikan tidak hanya dalam lingkup akademik namun mendidik disini dimaksudkan untuk membentuk kepribadian yang sesuai dengan norma hukum dan agama. Setiap peserta didik bersifat khas dan unik karena setiap peserta didik berbeda-beda.

Dalam pendidikan dan pembelajaran diperlukan suatu pengetahuan akan perkembangan-perkembangan yang terjadi pada peserta didik. Dimana aspek-aspek perkembangan peserta didik cukup banyak seperti perkembangan fisik, perkembangan intelektual, perkembangan moral, perkembangan spiritual atau kesadaran beragama dal lain sebagainya. Setiap aspek-aspek tersebut dapat dikaji berdasarkan fase-fasenya untuk membantu dalam memahami cara belajar dan tentunya sikap maupun tingkah laku peserta didik. Selain itu, aspek pembelajaran yang diberikan kepada para peserta didik juga berupa pendidikan moral dan spirituall untuk membentuk pribadi-pribadi yang sesuai dengan harapan bangsa yang dituliskan pada tujuan pendidikan bangsa Indonesia.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses perkembangan moral dan spiritual pada peserta didik? 2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral dan spiritual

pada peserta didik?

3. Bagaimana implikasi atau dampak perkembangan moral dan spiritual peserta didik terhadap pendidikan?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui proses perkembangan moral dan spiritual pada peserta didik.

(5)

3. Untuk mengetahui dan memahami dampak dari perkembangan moral dan spiritual peserta didik terhadap pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Proses Perkembangan Moral dan Spiritual pada Peserta Didik

Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain . Perkembangan moral juga merupakan perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam kehidupan anak berkenaan dengan tata cara, kebiasaan, adat, atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok sosial. Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral) akan tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (orang tua, saudara, teman sebaya atau guru), anak belajar memahami tingkah laku mana yang buruk atau tidak boleh dilakukan dan mana yang baik atau boleh dilakukan sehingga terjadi perkembangan moral anak tersebut.

Perkembangan spiritual lebih spesifik membahas tentang kebutuhan manusia terhadap agama. Agama adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Perkembangan spiritual diartikan sebagai tahap dimana seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik untuk membentuk kepercayaannya. Baik berupa kepercayaan yang berhubungan dengan religi maupun adat.

Setiap aspek perkembangan peserta didik memiliki tahapan atau proses hingga mencapai suatu tahapan atau tingkatan yang matang. Perkembangan moral pada peserta didik dapat berlangsung melalui beberapa cara yaitu:1

1 Baharuddin, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. (Yogyakarta: Ar-Ruzz

(6)

1. Pendidikan langsung, melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orangtua, guru atau orang dewasa lainnya. Di samping itu, yang paling penting dalam pendidikan moral ini, adalah keteladanan dari orangtua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral.

2. Identifikasi, dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orang tua, guru, artis atau orang dewasa lainnya).

3. Proses coba-coba (trial & error), dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Jika tingkah laku tersebut mendatangkan pujian atau penghargaan maka akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan maka akan dihentikan.

Selain itu, berdasarkan hasil penyelidikan Kohlberg mengemukakan 6 tahap (stadium) perkembangan moral yang berlaku secara universal dan dalam urutan tertentu. Masing-masing tingkat terdiri dari 2 tahap, sehingga keseluruhan ada 6 tahapan yang berkembang secara bertingkat dengan urutan yang tetap. Dalam stadium nol, anak menganggap baik apa yang sesuai dengan permintaan dan keinginannya.2

Ada 3 tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg, yaitu tingkat : 1. Prakonvensional,

Pada stadium 1, anak berorientasi kepada kepatuhan dan hukuman. Anak menganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Ia harus menurut atau kalau tidak, akan memperoleh hukuman.

Pada stadium 2, berlaku prinsip Relaivistik-Hedonism. Pada tahap ini, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai berbagai segi. Jadi, ada Relativisme. Relativisme ini artinya

(7)

bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan sesorang. Misalnya mencuri kambing karena kelaparan. Karena perbuatan “mencuri” untuk memenuhi kebutuhanya, maka mencuri dianggap sebagai perbuatan yang bermoral, meskipun perbuatan mencuri itu diketahui sebagai perbuatan yang salah karena ada akibatnya, yaitu hukuman.

2. Konvensional

Stadium 3, meliputi orientasi mengenai anak yang baik. Pada stadium ini, anak mulai memasuki umur belasan tahun, dimana anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain dan masyarakat adalah sumber yang menentukan, apakah perbuatan sesorang baik atau tidak. Menjadi “anak yang manis” masih sangat penting dalam stadium ini.

Stadium 4, yaitu tahap mempertahankan norma-norma sosial dari otoritas. Pada stadium ini perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan masyarakatnya, melainkan bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan-aturan atau norma-norma sosial. Jadi perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan-aturan yang ada, agar tidak timbul kekacauan .3

3. Pasca-konvensional

Stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial, pada stadium ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial,atau dengan masyarakat. Seseorang harus memperlihatkan kewajibannya, harus sesuai dengan tuntutan norma-norma sosial kerena sebaiknya, lingkungan sosial atau masyarakat akan memberikan perlindungan kepadanya.

Stadium 6, tahap ini disebut prinsip universal. Pada tahap ini ada norma etik disamping norma pribadi dan subjektif. Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang ada unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak. Dalam hal ini, unsur etika akan menentukan apa yang boleh dan baik dilakukan atau sebaliknya .Menurut Furter menjadi remaja berarti mengerti

(8)

nila-nilai. Mengerti nilai-nilai ini tidak berarti hanya memperoleh pengertian saja melainkan juga dapat menjelaskanya/mengamalkannya. Hal ini selanjutnya berarti bahwa remaja sudah dapat menginternalisasikan penilaian-penilaian moral, menjadikanya sebagai nilai-nilai pribadi. Untuk selanjutnya penginternalisasian nilai-nilai ini akan tercemin dalam sikap dan tingkah lakunya.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik

Berbagai aspek perkembangan pada peserta didik dipengaruhi oleh interaksi atau gabungan dari pengruh internal dan faktor eksternal. Begitu pula dengan perkembangan moral dan spiritual dari peserta didik. Meskipun kedua aspek perkembangan tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang hampir sama tetapi kadar atau bentuk pengaruhnya berbeda.4

Pada perkembangan moral peserta didik faktor internal meliputi faktor genetis atau pengaruh sifat-sifat bawaan yang ada pada diri peserta didik. Selanjutnya sifat-sifat yang mendasari adanya perkembangan moral dikembangkan atau dibentuk oleh lingkungan. Peserta didik akan mulai melihat dan memasukkan nilai-nilai yang ada di lingkubgan sekitarnya baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat yang dapat meliputi para tetua yang mungkin menjadi teladan di masyarakat, para tetangga, teman maupun guru yang ada di lingkungan sekolah. Semua aspek di atas memiliki peran yang penting dalam perkembangan moral peserta didik yang kadarnya tau besarnya pengaruh bergantung pada usia atau kebiasaan dari peserta didik itu sendiri .

Meskipun faktor eksternal memiliki pengaruh yang cukup besar pada perkembangan moral peserta didik, peserta didik tetap mampu menentukan hal-hal atau nilai-nilai yang akan dianut atau digunakan sebagai pembentuk jati diri. Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh pengetahuan peserta didik akan nilai-nilai moral yang tenyunya pertama kali akan dilihat dari sosok atau jati diri orang tua.

4 Desmita. Psikologi Perkembangan PesertaDidik. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

(9)

Meskipun terkadang orang tua tidak secara formal memberikan nilai-nilai moral tersebut, peserta didik tetap mampu menginternalisasi atau memasukkan nilai-nilai tersebut ke dalam jati dirinya yang diwujudkan dengan sikap dan tingkah laku peserta didik. Oleh karena itu,para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Dimana dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu tersebut, banyak faktor yang mempengaruhinya diantaranya yaitu:

1. Tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.

2. Banyak model (orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-orang yang terkenal dan hal-hal lain) yang diidentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal. menurut Kohlberg, dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menrut tahap-tahap perkembangan piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang. 5. Interaksi sosial dalam memberik kesepakatan pada anak untuk mempelajari

dan menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain .5

Perkembangan spiritual juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal pula. Faktor internal pada perkembangan spiritual juga berupa faktor keturunan yaitu berupapembawaan dimana faktor ini merupakan karakteristik dari orang itu sendiri, dasar pemikiran dari individu berdasarkan kepercayaan dan budaya yang dimilikinya. Faktor eksternal dapat berupa keluarga yang sangat menentukan pula dalam perkembangan spiritual anak karena orang tua memiliki peran yang sangat penting sebagai pendidik atau penentu keyakinan yang mendasari anak. Kemudian pendidikan keagamaan yang diterapkan di sekolah juga dapat menjadi faktor penentu perkembangan spiritual anak, karena dengan adanya pendidikan anak

(10)

akan mulai berpikir secara logika dan menentukan apa yang baik dan tidak bagi dirinya dan kelak akan menjadi karakter dari peserta didik. Selain itu, adanya budaya yang berkembang di masyarakat akan mempengaruhi perkembangan spiritual peserta didik pula. Baik perkembangan yang menuju arah yang baik (positif) atau menuju ke arah yang buruk (negatif), itu semua tergantung pada bagaimana cara anak berinteraksi dengan masyarakat tersebut (Baharuddin, 2009).

C. Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik pada Pendidikan

Manusia pada umumnya berkembang sesuai dengan tahapan-tahapannya. Ketika individu memasuki usia sekolah, yakni antara tujuh sampai dengan dua belas tahun, individu tersebut disebut sebagai peserta didik yang akan berhubungan dengan proses pembelajaran dalam suatu sistem pendidikan.6

Cara pembelajaran yang diharapkan harus sesuai dengan tahapan perkembangan anak, yakni memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) programnya disusun secara fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan perbedaan individual anak; (2) tidak dilakukan secara monoton, tetapi disajikan secara variatif melalui banyak aktivitas; dan (3) melibatkan penggunaan berbagai media dan sumber belajar sehingga memungkinkan anak terlibat secara penuh dengan menggunakan berbagai proses perkembangannya

Aspek-aspek perkembangan peserta didik yang berimplikasi terhadap proses pendidikan melalui karakteristik perkembangan moral dan religi akan diuraikan seperti di bawah ini.

1. Implikasi Perkembangan moral

Purwanto berpendapat bahwa moral bukan hanya memiliki arti bertingkah laku sopan santun, bertindak dengan lemah lembut, dan berbakti kepada orang tua saja, melainkan lebih luas lagi dari itu. Selalu berkata jujur, bertindak konsekuen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan sesama manusia, mengabdi kepada rakyat dan negara, berkemauan keras, berperasaan halus, dan sebagainya, termasuk pula ke dalam moral yang perlu dikembangkan dan ditanamkan dalam hati sanubari

(11)

anak-anak. Adapun perkembangan moral menurut Santrock yaitu perkembangan yang berkaitan dengan aturan mengenai hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain.

Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, salah satunya melalui pendidikan langsung. Pendidikan langsung yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar-salah atau baik-buruk oleh orang tua dan gurunya. Selanjutnya pada usia sekolah dasar anak sudah dapat mengikuti tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak dapat memahami alasan yang mendasari suatu bentuk perilaku dengan konsep baik-buruk. Misalnya, dia memandang bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan suatu hal yang buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orang tua merupakan suatu hal yang baik.

Selain itu berdasarkan teori Piaget (Hurlock, 1980) memaparkan bahwa pada usia lima sampai dengan dua belas tahun konsep anak mengenai moral sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar dan salah yang dipelajari dari orang tua, menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan-keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Misalnya bagi anak usia lima tahun, berbohong selalu buruk. Sedangkan anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan. Oleh karena itu, berbohong tidak selalu buruk.7

Selain lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan juga menjadi sarana yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan moral peserta didik. Untuk itu, sekolah diharapkan dapat berfungsi sebagai kawasan yang sejuk untuk melakukan sosialisasi bagi anak-anak dalam pengembangan moral dan segala aspek kepribadiannya. Pelaksanaan pendidikan moral di kelas hendaknya dihubungkan dengan kehidupan yang ada di luar kelas. Dengan demikian, pembinaan perkembangan moral peserta didik sangat penting karena percuma saja jika mendidik anak-anak hanya untuk menjadi orang yang berilmu pengetahuan, tetapi jiwa dan wataknya tidak dibangun dan dibina .

(12)

2. Implikasi Perkembangan Spiritual

Anak-anak sebenarnya telah memiliki dasar-dasar kemampuan spiritual yang dibawanya sejak lahir. Untuk mengembangkan kemampuan ini, pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, untuk melahirkan manusia yang ber-SQ tinggi dibutuhkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada perkembangan aspek IQ saja, melainkan EQ dan SQ juga.

Zohar dan Marshall pertama kali meneliti secara ilmiah tentang kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yang menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.8

Purwanto mengemukakan bahwa pendidikan yang dilakukan terhadap manusia berbeda dengan “pendidikan” yang dilakukan terhadap binatang. Menurutnya, pendidikan pada manusia tidak terletak pada perkembangan biologis saja, yaitu yang berhubungan dengan perkembangan jasmani. Akan tetapi, pendidikan pada manusia harus diperhitungkan pula perkembangan rohaninya. Itulah kelebihan manusia yang diberikan oleh Allah SWT sebagai tuhan semesta alam, yaitu dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal penciptanya, yang membedakan antara manusia dengan binatang. Fitrah ini berkaitan dengan aspek spiritual.

Perkembangan spiritual membawa banyak implikasi terhadap pendidikan dan diharapkan muncul manusia yang benar-benar utuh dari lembaga-lembaga pendidikan. Untuk itu, pendidikan agama nampaknya harus tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari program-program pendidikan yang diberikan di sekolah dasar. Tanpa melalui pendidikan agama, mustahil SQ dapat berkembang baik dalam diri peserta didik .

(13)
(14)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Perkembangan moral dan sepiritual pada peserta didik dapat berlangsung melalui beberapa proses yaitu dengan melakukan pendidikan langsung, identifikasi atau meniru penampilan guru dan dengan adanya percobaan pada peserta didik.

2. Faktor yang mempengaruhi perkembangan moral dan spiritual meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sifat atau pembawaan dari diri sendiri, dalam perkembangan moral berupa sifat-sifat yang diturunkan dan pada perkembangan spiritual berupa keyakinan. Faktor eksternal meliput keluarga, masyarakat sekitar, sekolah, dan tentunya budaya. 3. Implikasi perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, salah satunya melalui pendidikan langsung. Pendidikan langsung yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar-salah atau baik-buruk oleh orang tua dan gurunya,sedangkan Implikasi Perkembangan spiritual membawa banyak implikasi terhadap pendidikan dan diharapkan muncul manusia yang benar-benar utuh dari lembaga-lembaga pendidikan dimana siswa diharapkan memiliki (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal tuhan dan dapat membedakan antara manusia dan binatang.

B. Saran

(15)

DAFTAR FUSTAKA

Baharuddin. 2009. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Referensi

Dokumen terkait