• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Permasalahan dan Kebijakan Guna

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Permasalahan dan Kebijakan Guna"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERMASALAHAN DAN KEBIJAKAN GUNA

MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA DI DESA

MRANGGEN

Disusun guna memenuhi Nilai Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Analisis Kebijakan Publik

Dosen Pengampu: Dr. KISMARTINI, Msi Dra. DEWI ROSTYANINGSIH, Msi THALITA RIFDA KHAERANI S.AP, M.Si

Oleh :

Gabriela Dhina Gutami /14020115120057 (25) Zulaikha Sari Handayani /14020115120058 (26) Rizky Arvianto Wibowo /14020115130062 (27) Himawan Bagas Wirastomo /14020115130070 (28) Yulia Karunianingsih /14020115130071 (29) Indra Hadistia Kurniawan /14020115130074 (30)

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN...4

1.1 Latar Belakang...4

1.2 Rumusan Masalah...6

1.3 Tujuan Penilitian...6

1.4 Tinjauan Pustaka...6

1.4.1 Pengertian dan Fase Juvenile Deliquency...6

1.4.2 Jenis Juvenile Deliquen...8

BAB II GAMBARAN UMUM...10

BAB III HASIL PENELITIAN...11

3.1 Fenomena Kenakalan Remaja di Desa Mranggen...11

3.1.1 Narkoba...12

3.1.2 Miras...13

3.1.3 Curanmor...14

3.1.4 Pernikahan Dini / Hamil Duluan...14

3.2 Faktor Penyebab Kenakalan Remaja di Desa Mranggen...15

3.2.1 Culture Shock terhadap Teknologi terutama Smartphone...15

3.2.2 Pendidikan yang Kurang mengenai Kenakalan Remaja...15

3.2.3 Penutupan Tempat Lokalisasi yang Ada di Jakarta dan Purwodadi...16

3.2.4 Munculnya Karaoke dan Tempat Hiburan Lainnya...16

3.2.5 Minuman Keras dan Narkoba yang Sudah Masuk Desa...17

3.3 Dampak Kenakalan Remaja di Desa Mranggen...17

(3)

3.3.2 Dampak bagi Keluarga...19

3.3.3 Bagi Lingkungan Masyarakat...19

BAB IV PEMBAHASAN...21

4.1 Tujuan Kebijakan guna Menanggulangi Kenakalan Remaja di Desa Mranggen....21

4.2 Kriteria Kebijakan guna Menanggulangi Kenakalan Remaja di Desa Mranggen...21

4.3 Usulan Alternatif Kebijakan guna Menanggulangi Kenakalan Remaja di Desa Mranggen...22

4.3.1 Hotline Pengaduan...22

4.3.2 Pembuatan Taman (yang dapat digunakan oleh remaja untuk menyalurkan bakat)...23

4.3.3 Pelatihan Keterampilan...23

4.4 Penilaian Alternatif...24

4.4.1 Skoring Alternatif...24

4.4.2 Alasan Skoring Akternatif...26

Alternatif...26

Kriteria...26

BAB V PENUTUP...30

5.1 Kesimpulan...30

5.2 Saran...30

Daftar Pustaka...32

Interview Guide...32

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Desa Mranggen berada dalam wilayah Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak. Desa Mranggen berbatasan dengan Desa Brumbung di utara dan Desa Batursari serta Desa Kangkung di selatan, untuk wilayah barat berbatasan dengan Desa Bandung Rejo dan Desa Batursari sedangkan timur berbatasan dengan Desa Kangkung serta Desa Kembangarum. Selain itu Desa Mranggen memiliki posisi strategis di jalur utama Semarang – Purwodadi – Blora. Desa Mranggen juga baru saja melaksanakan pemilihan kepala desa yang akhirnya terpilih Bapak Arifin, beliau berusia enam puluh satu tahun sekaligus merupakan pensiunan guru bimbingan dan konseling SMP Negeri 1 Mranggen.

Berdasarkan penuturan bapak Kepala Desa Mranggen bahwa Desa Mranggen sekarang tergolong desa minus atau desa miskin dimana jatah raskin yang disalurkan kepada Desa Mranggen tergolong tinggi. Kondisi ini sangat terbalik dengan kondisi desa sebelah seperti Desa Brumbung yang lebih sejahtera. Kepala desa menyampaikan bahwa dulu Desa Mranggen terkenal dengan perkebunan tembakau yang disalurkan kepada PT. Djarum namun sekarang telah tiada, dimana terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan. Hal ini merupakan imbas Desa Mranggen yang merupakan daerah penyangga Kota Semarang yang kemudian banyak masyarakat yang memilih membeli rumah di daerah Mranggen.

Dengan adanya alih fungsi lahan pertanian ini menyebabkan banyak masyarakat Desa Mranggen yang berubah profesi yang sebelumnya petani menjadi buruh pabrik baik di sekitar Mranggen atau ke Kota Semarang. Dimana arus pekerja ini tampak ketika waktu berangkat kerja di pagi hari dan pulang kerja di sore hari.

(5)

muncul di Desa Mranggen. Kami menangkap satu permasalahan yang menghinggapi pikiran bapak Kepala Desa Mranggen yaitu permasalahan kenakalan remaja di Desa Mranggen.

Mengapa kenakalan remaja menjadi pikiran utama dari Bapak Arifin selaku Kepala Desa Mranggen karena beliau selaku mantan pendidik atau guru khawatir dengan kondisi remaja Desa Mranggen karena dari sisi jenjang pendidikan jarang yang berhasil sampai sarjana dan kebanyakan sampai jenjang SMP dan selanjutnya mereka memilih bekerja di pabrik, hal ini dibuktikan tingkat pengurusan SKCK di Desa Mranggen tinggi. Selanjutnya kenakalan remaja ini timbul karena ada pengaruh dari desa tetangga yang salah satu desa tersebut terkenal dengan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor.

Efeknya adalah merambahnya pengaruh remaja desa sebelah tersebut kepada remaja Desa Mranggen khususnya dalam tindak pidana pencurian kendaraan bermotor, salah satu contoh kasusnya adalah pernah diadakannya pelatihan membobol kendaraan khususnya motor dalamwaktu 2 – 5 menit. Oleh sebab itu menjadi kekhawatiran bapak kepala desa karena remaja Desa Mranggen dapat terpengaruh untuk mencuri kendaraan bermotor. Selain itu adanya perilaku seks bebas mulai melanda remaja Desa Mranggen, dimana ditemukan remaja kelas 2 SMP perempuan yang telah hamil diluar nikah.

Selanjutnya adalah peredaran minuman keras atau alkohol seperti ciu dan cong yang yang telah merambah remaja Desa Mranggen, setelah itu mulai menjamurnya karaoke liar di sekitar desa tetangga dari Desa Mranggen. Ditambah mulai masuknya narkoba sejenispil. Hal ini sungguh ironis sekali bagi Desa Mranggen dimana desa yang terkenal dengan Islaminya dan masuk wilayah KabupatenDemak yang terkenal sebagai Kota Wali, generasi mudanya dapat rusak karena efek pergaulan dan efek minuman keras serta narkoba.

(6)

remaja di Desa Mranggen perlu segera diatasi agar generasi mudanya dapat produktif bukan menjadi perlaku kriminal.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa penyebab dan dampak kenakalan remaja di Desa Mranggen ?

2. Apa solusi kebijakan untuk menyelesaikan persoalan kenakalan remaja di Desa Mranggen ?

1.3 Tujuan Penilitian

1. Mengetahui penyebab dan dampak kenakalan remaja di Desa Mranggen. 2. Memberikan solusi atau alternatif kebijakan guna menyelesaikan persoalan

kenakalan remaja di Desa Mranggen.

1.4 Tinjauan Pustaka

1.4.1 Pengertian dan Fase Juvenile Deliquency

Juvenile deliquecy secara etimologi dapat dijabarka bahwa Juvenile adalah anak dan deliquency adalah kejahatan , dengan demikian Juvenile Deliquency adalah kejahatan anak. Bila dilihat dari segi pelakunya berarti penjahat anak atau anak jahat.

Dalam studi inter disipliner ilmu pengetahuan sangat susah untuk menjelaskan secara komprehensif juvenile deliquency, salah satu pakar sosio kultural DRS. B. Simanjuntak, S.H (dalam Drs Sudarsono Sh. Msi) memberi arti suatu perbuatan delikuen apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat di mana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti noratif. Secara psikologi Juvenile Deliquency ini berdampak negatif bagi anak sebgai pelakunya, bila menjadi sebuah panggilan khusus.

(7)

mengenai kenakalan remaja adalah perbuatan / kejahatan / pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila dan menyalahi norma agama.

Kenakalan remaja tmeliputi perbuatan yang meresahkan warga , sekolah maupun keluarga. Contoh sederhana muncuri di perkampungan, perkelahian anatar siswa maupun antar sekolah, perilakuaku memusuhi l keluargan, dan kegaiatan lain seperti menghisap ganja, vandalisme. Dalam mengatasi kenaklan remaja perlu klasifikasi dengan cara melacak rentan umur pada kehidupan amnusia Drs. Andi Mappiare mengutip lengkap Elizabeth B harlock menulis mengenai rentan kehidupan manusia:

Prenatal : Saat konsepsi dapai lahir

Masa Neonatal : Lahir sampai akhir minggu kedua

Masa bayi : akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua

Masa kanak-kanak awal : dua sampai enam tahun

Masa kanak-kanak akhir : 6 – 10 tahun

Pubertas pra adolesen : 10-14 tahun

Masa remaja awal : 24-17 tahun

Masa remaja akhir : 17-21 tahun

Masa dewasa awal : 21-40 tahun

Masa setengah baya : 40-60 tahun

Masa tua : 60 sampai meninggal

(8)

masuk pada fase remaja dan melakukan sebuah pelanggaran norma yang ada pada masyarakat perbuatan tersebut masih digolongkan pada kenakalan remaja.

1.4.2 Jenis Juvenile Deliquen

Secara umum delikuen yang dilakukan oleh remaja diba gi menjadi 2 yaitu delikuen sosiolgis dan delikuen individual , pembagian ini berdasarkan oleh sifat dan perbuatan :

Delikuen sosiologis : dimana anak memusuhi semua konteks masyarakat kecuali masyarakatnya sendiri. Banyak anak tidak merasa bersalah dengan mengambil hak orang lain, melakukan kerugian pada masyarakat, asal bukan merugikan kelompoknya sendiri.

Delikuen individu : anak bertindak memusuhi semua orang baik itu tetangga, kawan dan sekolah, bahkan keluarga dekatnya sendiri. Hal ini menyebabkan rusaknya hubungan keluargan seiring dengan bertambahnya usia.

Kedua bentuk delikuen sama –sama bersifat merugikan dan meresahkan dilingkungan masyarakat. Dua bentuk delikuen ini bersifat saling mendukung dalam berkembang. dalam kehidupan sering kita jumpai tumbuhnya delikuen yang disebabkan duahal ini, seperti halnya kenakalan remaja diakibatkan dari masalah intern keluarga seperti Broken Home dan ditunjang dengan pergaulanya. Tidak jarang pula anak menjadi delikuen dikarenakan meniru kebiasan pergaulan teman sebayanya pada suatu lingkungan.

Untuk mengetahui sebuah tindakan anak dikatan sebagai delikuen atau tidak, nisa dilakukan dengan cara memandang faktor hukum pidana sebagai hukum positif di Indonesia dan faktor budaya di sekitar tempat tinggal anak tersebut.

(9)
(10)

BAB II GAMBARAN UMUM

Desa Mranggen adalah salah satu desa yang ada di Kabupaten Demak, tepatnya di Kecamatan Mranggen. Desa Mranggen ini berbatasan dengan Desa Kembangarum di sebelah Timur, Desa Kanggung di sebelah Selatan, Desa Bandung Rejo di sebelah Barat dan Desa Blumbung di sebelah Utara.

Bila Kecamatan Mranggen merupakan kecamatan di Kabupaten Demak dengan jumlah penduduk tertinggi, maka Desa Mranggen merupakan desa/kelurahan dengan jumlah penduduk tertinggi ketiga setelah Desa Batursari dan Desa Kebonbatur. Jumlah penduduk di desa ini mencapai 12.950 jiwa dengan jumlah penduduk laki – lakinya berjumlah 6.468 jiwa dan penduduk perempuannya mencapai 6.482 jiwa.

(11)

BAB III HASIL PENELITIAN

3.1 Fenomena Kenakalan Remaja di Desa Mranggen

Remaja yang merupakan bagian dari generasi muda adalah aset Nasional dan merupakan tumpuhan harapan bagi masa depan bangsa dan Negara serta agama. Untuk mewujudkan semuanya sudah tentu semestinya ini merupakan kewajiban dan tugas kita semua baik orang tua, pendidik pemerintah untuk mempersiapkan generasi muda menjadi generasi yang tangguh dan berwawasan atau berpengetahuan yang luas dengan jalan membimbing dan menjadikan mereka semua sehingga menjadi warga Negara yang baik dan bertanggung jawab secara moral.

Pembinaan dan pengembangan generasi muda merupakan tanggung jawab bersama antara guru, keluarga, masyarakat, pemuda dan pemerintah serta di tunjukkan untuk meningkatkan kualitas generasi,muda. Namun kenyataan telah menunjukkan bahwa perubahan zaman di Era Globalisasi yang ditandai dengan kemajuan (IPTEK) ilmu pengetahuan dan teknologi selalu mengakibatkan perubahan sosial, dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi, transportasi dan sistem informasi membuat perubahan masyarakat semakin melaju dengan cepat. Dalam menghadapi situasi yang demikian remaja sering kali memiliki jiwa yang lebih sensitif, yang pada akhirnya tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai moral, norma agama, norma sosial serta norma hidup dimasyarakat oleh karena itu remaja akan cenderung mempunyai tingkah laku yang tidak wajar dalam arti melakukan tindakkan yang tidak pantas.

(12)

dimasa yang akan datang tidak akan terwujud suatu tujuan pembangunan yang diharapkan. Berkaitan dengan hal tersebut, berdasarkan hasil penelitian kelurahan Mranggen, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah ditemukan bahwa terdapat fenomena yang menunjukkan rendahnya kualitas generasi muda di desa tersebut yang berkaitan dengan kenakalan remaja. Menurut pernyataan Bapak Arifin selaku Lurah di Kelurahan Mranggen, kenakalan remaja di daerah tersebut menjadi permasalahan yang sangat meresahkan dan perlu mendapat perhatian khusus dalam penangannya. Adapun didalamnya yang termasuk dalam fenomena kenakalan remaja yang terjadi di daerah tersebut antara lain :

3.1.1 Narkoba

Narkoba (Narkotika dan obat-obatan terlarang) dapat dikatakan sebagai pelaku utama dalam merusak generasi muda. Obat-obatan terlarang ini sebenarnya obat legal yang digunakan dalam dunia kedokteran, namun dewasa ini Narkoba banyak disalahgunakan. Bahkan kalangan anak muda tidak sedikit yang menggunakan narkoba. Banyak dari mereka yang menggunakan Narkoba dengan alasan untuk kesenangan batin, namun sayangnya tidak banyak yang mengetahuai bahaya narkoba. Pengertian Narkotika secara umum adalah obat-obatan yang mampu membius. Dengan kata lain, narkotika adalah obat-obatan yang mampu menggangu sistem kerja saraf tubuh untuk tidak merasakan sakit atau rangsangan. Ada beberapa dampak yang ditimbulkan penyalagunaan narkoba terhadap fisik pemakai :

Gangguan pada Sistem Saraf Kejang-kejang, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi, halusinasi

Gangguan pada Sistem Kardiovaskular

Gangguan peredaran darah, infeksi akut otot jantung.

Gangguan Pada Kulit Eksim, penanahan (abses), alergi.

Gangguan pada Organ Dalam

(13)

Gangguan Pada Fisiologis Tubuh

Mual-mual, sering sakit kepala, dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, sulit tidur.

Gangguan Pada Sistem Reproduksi

Aktivititas kerja kelenjar endokrin khususnya pada kelenjar testis dan ovarium berkurang.

Mengakibatkan berkurangnya produksi hormon reproduksi seperti estrogen, progestron dan testoteron dan terjadinya disfungsi seksual seperti impoten. Khusus pada pengguna narkoba atau narkotika wanita, dapat menyebabkan haid atau menstruasi tidak teratur.

Jika mereka para remaja sekali saja menyentuh narkoba berarti mereka sedang menemui jurang kehancuran di kehidupan mereka. Di desa Mranggen sendiri, para remaja sudah mulai mengkonsumsi narkoba. Hal ini sangat memprihatinkan karena bukan hanya remaja SMP ke atas yang telah mengkonsumsi Narkoba, yang sangat memprihatinkan lagi bahwa anak usia SD pun sudah mengkonsumsinya. Narkoba yang dikonsumsi biasanya berupa permen yang sangat mudah didapatkan oleh mereka yang mengkonsumsinya. Pengedar nya tidak lain adalah anak-anak SD sendiri dan para remaja yang putus sekolah. Jadi mereka para remaja dan anak usia sekolah dasar tersebut membentuk suatu jaringan untuk pengedaran narkoba tersebut.

3.1.2 Miras

Minuman keras adalah minum-minuman beralkohol yang dapat menyebabkan si peminum mabuk dan hilang kesadarannya. Minuman beralkohol ini dapat merusak pikiran, sehingga orang menjadi tidak sewajarnya atau tidak normal.

(14)

lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.

Di desa Mranggen, remaja yang mengkonsumsi minuman keras merupakan anak usia sekolah yang berusia SMP sampai dengan tingkatan SMA yang salah bergaul dan anak putus sekolah. Jika biasanya anak yang salah pergaulan mengkonsumsi miras yang berupa miras oplosan, remaja di desa Mranggen mulai mengkonsumsi miras jenis CY. Ada sebagian mereka yang mengoplos minuman bersoda dengan obat-obatan seperti obat nyamuk, komix dan lain-lain sehingga menjadi miras oplosan. Tujuan mereka adalah membuat mereka merasa ngfly. Biasanya mereka berkumpul di suatu tempat misalnya seperti tempat bilyard ataupun karaoke untuk melakukannya.

3.1.3 Curanmor

Dalam kasus ini remaja di desa Mranggen terikat dan terpengaruh dari perkumpulan pencurian motor dari daerah lain, anak-anak remaja diberikan ilmu berupa pelatihan untuk membuka kunci motor dengan alat-alat khusus sehingga dalam membobol motor target dapat diselesaikan hanya dengan hitungan detik.

3.1.4 Pernikahan Dini / Hamil Duluan

Pernikahan dini diakibatkan karena pergaulan bebas oleh remaja di desa Mranggen, mereka biasanya adalah anak-anak “punk” yang sering keluar malam dan pulang pada dini hari yang tergabung dalam anak-anak yang putus sekolah. Perkumpulan mereka tidak mengenal laki-laki dan perempuan, akibat kebebasan pergaulan tersebut maka seks bebas menjadi hal yang biasa bagi mereka dan akibatnya adalah terjadinya hamil diluar pernikahan. Dengan demikian mau tidak mau anak-anak dibawah umur tersebut harus menikah untuk mempertanggungjawabkan kelakuannya tersebut.

(15)

banyak perubahan antara lain perubahan norma, nilai, tingkah laku dan pola-pola tingkah laku baik individu maupun kelompok.

3.2 Faktor Penyebab Kenakalan Remaja di Desa Mranggen

Berdasarkan penuturan dari Kepala Desa Mranggen, Bapak Arifin selaku narasumber, ada banyak faktor yang menyebabkan kenakalan remaja mulai marak di Kecamatan Mranggen dan Desa Mranggen pada khususnya. Faktor tersebut antara lain:

3.2.1 Culture Shock terhadap Teknologi terutama Smartphone

Belum siapnya warga masyarakat desa terhadap perkembangan dan masuknya teknologi yang ada. Smartphone sesuai namanya berupa teknologi yang bisa apa saja. Namun penggunaan smartphone ini justru disalahgunakan oleh berbagai pihak. Tidak hanya akses terhadap ponografi. Penyalahgunaan smartphone dalam hal negatif sudah mencapai tahap yang memprihatinkan. Smartphone yang ada sudah digunakan untuk melakukan aktivitas yang berbau free sex, narkoba dan minuman keras.

3.2.2 Pendidikan yang Kurang mengenai Kenakalan Remaja

Pendidikan yang didapat oleh masyarakat Desa Mranggen maupun sekitarnya masih kurang. Banyak remaja yang tidak mau melanjutkan sekolah dan memilih bekerja. Serta masih sedikit sekali remaja lulusan SMA/SMU/MA yang mau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

Pangkal dari masalah ini tentu saja adalah ekonomi. Namun tingkat pengetahuan para remaja terhadap sesuatu juga berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Hal ini mengingat dengan pengetahuan yang minim tentu akan mudah dipermainkan dengan sesuatu yang dikemas dengan baik dan menarik.

(16)

tersebut tidak dibarengi dengan pengetahuan yang kurang maka bukan tidak mungkin hal negatiflah yang akan masuk pada diri remaja tersebut.

3.2.3 Penutupan Tempat Lokalisasi yang Ada di Jakarta dan Purwodadi

Dengan ditutupnya lokalisasi yang ada di daerah lain membuat para pelaku terkait untuk mencari tempat yang lebih potensial. Kawasan Mranggen sebagai salah satu penyangga Kota Semarang menjadi tujuan para pelaku tersebut. Hal ini dikarenakan pada saat itu masih minim penanganan atas hal itu. Ditambah dengan arus informasi melalui teknologi semakin membuat aktivitas tersebut semakin marak.

Tidak hanya melulu soal aktivitas yang berbau seksual. Berpindahnya tempat lokalisasi tersebut juga membuat semakin menyebarnya bandar narkoba dan minuman keras. Keterkaitan antara free sex, narkoba dan minuman keras jelas lumrah adanya. Yaitu dimana ada tempat lokalisasi bukan tidak mungkin narkoba dan minuman keras juga ada disana.

Lalu kaitannya dengan kenakalan remaja adalah ketika tempat-tempat tersebut justru yang banyak masuk adalah remaja. Banyak faktor yang mempengaruhi tentunya. Diantaranya adalah alasan pencarian jati diri, butuh hiburan, dan alasan serupa lainnya.

3.2.4 Munculnya Karaoke dan Tempat Hiburan Lainnya

Seperti namanya, tempat hiburan merupakan tempat yang ditujukan bagi orang-orang yang memang butuh hiburan. Tentu saja hal tersebut dikarenakan adanya tuntutan dalam hidup misalnya karena bekerja sepanjang waktu.

(17)

3.2.5 Minuman Keras dan Narkoba yang Sudah Masuk Desa

Adanya tempat hiburan di sekitar Desa Mranggen membuat barang semacam minuman keras dan narkoba menjadi lebih mudah beredar. Sasarannya tentu saja tidak terikat umur maupun jenis kelamin. Remaja sebagai fase pencarian jati diri tentu rawan menjadi salah satu sasaran dari barang-barang tersebut. Ditambah dengan tuntutan hidup dan faktor lainnya bisa menjadikan remaja-remaja tersebut justru mencari pelarian. Narkoba dan minuman keras menjadi salah satu pelarian tersebut. Efek “nge-fly” dari narkoba dan minuman keraslah yang membuat para remaja terus memburunya.

3.3 Dampak Kenakalan Remaja di Desa Mranggen

Sering kita temui fenomena tentang kenakalan remaja yang semakin hari semakin meningkat jumlah presentasinya.Definisi dari kenakalan remaja itu sendiri ialah, semua perilaku menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain yang ada di sekitarnya. Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat.

Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati, ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri.

(18)

Remaja saat ini kebanyakan berperilaku dewasa sebelum waktunya. Seperti contohnya anak Sekolah Dasar yang sudah mengenal dunia maya dan sudah mengenal yang namanya asmara. Dampak dari kenakalan remaja itu sendiri ialah, banyak anak zaman sekarang yang sudah mengenal seks bebas yang pada akhirnya terjadi hamil di luar nikah.

Kenakalan remaja menimbulkan dampak yang sangat besar, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan. Dampak kenakalan remaja yang ditimbulkan di desa Mranggen yaitu :

3.3.1 Dampak bagi Diri Sendiri

Akibat kenakalan remaja yang dilakukan akan berdampak bagi dirinya sendiri dan sangat merugikan, baik fisik maupun mental. Walaupun perbuatan kenakalan tersebut dapat memberikan suatu kenikmatan akan tetapi kenikmatan tersebut hanya dapat dirasakan sesaat. Kenakalan yang dilakukan yang berdampak pada fisik manusia yaitu seringnya terserang berbagai penyakit karena gaya hidup yang tidak teratur. Contohnya,remaja perempuan di desa Mranggen sudah banyak yang terkena penyakit HIV Aids bahkan menurut hasil wawancara yang kami lakukan, narasumber kami mengatakan bahwa penyakit HIV Aids tersebut juga menyerang ibu hamil, sehingga hal tersebut dapat membahayakan pada bayi yang dikandungnya, karena apabila seorang ibu yang mengandung terkena penyakit HIV Aids, maka kemungkinan besar anak yang dikandungnya nantinya juga akan terkena penyakit tersebut. Kemudian remaja di desa mranggen banyak yang mengkonsumsi narkoba, tidak hanya remaja tetapi anak – anak yang sedang duduk di bangku SD pun banyak yang ikut mengkonsumsi narkoba bahkan ikut menjualnya. Akibat yang ditimbulkan dari mengkonsumsi narkoba yaitu kesehatan para konsumennya, seperti akan terkena penyakit kerusakan pada hati dan kanker.

(19)

para pelaku kenakalan remaja ini akan menyalahi aturan etika dan estetika. Dan hal tersebut akan terus mempengaruhinya selama tidak ada yang mengarahkan. Banyak remaja di Desa Mranggen yang tidak dapat berkonsentrasi dengan baik saat sekolah.

3.3.2 Dampak bagi Keluarga

Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja. Dan oleh para orang tuanya apabila anaknya berkelakuan menyimpang dari ajaran agama akan berakibat terjadi ketidakharmonisan di dalam keluarga, komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Dan tentunya ini sangat tidak baik, Sehingga mengakibatkan anak remaja sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba dan narkotika. Dan menyebabkan keluarga merasa malu serta kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh remaja. Yang mana kesemuanya itu hanya untuk melampiaskan rasa kekecewaannya saja terhadap apa yang terjadi dalam kehidupannya.

Para orang tua di Desa Mranggen, banyak yang terlalu sibuk bekerja menjadi buruh tani atau buruh pabrik sehingga kurang memperhatikan kegiatan anaknya sehari – hari. Sehingga komunikasi yang terjadi antara anak dan orang tua kurang, dan banyak remaja di Desa Mrangen yang memilih untuk mencari kesenangan di luar rumah seperti berkumpul untuk membuat minuman oplosan, balap motor, bermain ke tempat karaoke, serta terkadang membuat onar di lingkungannya. Dan hal tersebut mengakibatkan orang tua menanggung malu atas perbuatan anak – anaknya tersebut.

3.3.3 Bagi Lingkungan Masyarakat

(20)

saja berbuat kesalahan dampaknya akan buruk bagi dirinya, dan keluarga. Sehingga masyarakat menganggap remajalah yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukkan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang memiliki moral rusak. Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek Dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.

(21)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Tujuan Kebijakan guna Menanggulangi Kenakalan Remaja di

Desa Mranggen

Tujuan dari kebijakan ini adalah mengatasi atau menanggulangi berkembangnya kenakalan remaja yang ada di Desa Mranggen. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan agar anak-anak atau remaja yang ada di Desa Mranggen mempunyai masa depan yang lebih baik serta terhindar dari hal-hal negatif.

4.2 Kriteria Kebijakan guna Menanggulangi Kenakalan Remaja

di Desa Mranggen

Kriteria yang digunakan untuk penilaian alternatif kebijakan ini adalah dari Bardach yang terdiri dari 4 indikator yaitu Technical Feasibility, Economic and Financial Possibility, Political Viability, dan Administrative Operatibility. Namun kriteria yang digunakan dalam penilaian ini hanya Technical Feasibility, Political Viability, dan Administrative Operatibility yang dirasa sesuai dengan alternatif kebijakan yang direkomendasikan.

KRITERIA INDIKATOR

Technical Feasibility Effectiveness (seberapa jauh suatu alternatif dapat

mencapai tujuan)

Adequacy (seberapa jauh alternatif dapat memecahkan masalah : secara keseluruhan atau sebagian)

Political Viability Acceptability (apakah alternatif dapat diterima oleh para

aktor politik, klien dan aktor lainnya)

Appropriatteness (apakah alternatif tidak bertentangan dengan nilai-nilai dalam masyarakat)

(22)

kebutuhan masyarakat yang ada)

Administrative Operability

Authority (apakah organisasi yang akan melaksanakan alternatif mempunyai otoritas yang jelas)

Capability (apakah organisasi pelaksana alternatif mempunyai kemampuan baik skill, kemampuan staf dan keuangan)

Organizational Support (dukungan peralatan dan fasilitas)

4.3 Usulan Alternatif Kebijakan guna Menanggulangi Kenakalan

Remaja di Desa Mranggen

4.3.1 Hotline Pengaduan

Tujuan: Mempermudah penyaluran arus informasi antara warga masyarakat dengan perangkat desa atau pihak berwenang

Hotline pengaduan ini berfungsi sebagai penyampaian arus informasi yang nantinya bisa disalurkan kepada pihak yang berwenang. Dengan penyampaian arus informasi ini, maka akan diketahui bahwa ada sesuatu yang memang tidak sesuai. Hotline ini nantinya tidak hanya merespon kepada tindakan kenakalan remaja, tapi juga kepada hal lainnya misalnya tindakan pencurian.

Namun untuk menjaga keamanan bagi kepala daerah beserta perangkatnya maka ujung dari hotline ini haruslah bersifat anonymous. Dalam artian nomor yang diberikan pada masyarakat adalah nomor baru yang memang tidak diketahui siapa pemiliknya.

(23)

4.3.2 Pembuatan Taman (yang dapat digunakan oleh remaja untuk menyalurkan bakat)

Tujuan: Sebagai sarana para remaja untuk menyalurkan bakatnya dan sebagai pengalihan kegiatan – kegiatan yang negatif ke kegiatan – kegiatan yang positif.

Anak remaja di Desa Mranggen masih banyak yang mengikuti pergaulan anak – anak punk karena kebanyakan dari mereka merupakan anak – anak yang putus sekolah, sehingga mereka memiliki waktu luang yang lebih sehingga menjadikan mereka mencari kegiatan untuk mengisi waktu luang mereka tetapi karena adanya pengaruh negatif dari luar dan tidak adanya sistem control dalam dirinya serta dipengaruhi oleh lingkungan luar yang bersifat negatif, sehingga dengan mudah mereka akan melakukan hal – hal yang menyimpang (seperti seks bebas, narkoba, miras, pergaulan bebas) dibanding anak – anak sekolah pada umumnya yang memiliki banyak kegiatan di sekolah.

Dikarenakan di Mranggen tidak ada tempat untuk penyaluran bakat mereka. Dan di Desa Mranggen hanya terdapat tempat – tempat hiburan yang membawa pengaruh negatif bagi remaja di Desa Mranggen.

Di taman tersebut disediakan berbagai fasilitas seperti wifi, lapangan basket, lapangan futsal. Arena skateboard, setiap weekend diadakan music corner serta dilengkapi dengan dekorasi taman yang menarik bagi remaja. Dan disediakan sarana ibadah serta dilengkapi dengan petugas yang bertanggung jawab.

4.3.3 Pelatihan Keterampilan

(24)
(25)

Keterangan :

Nilai 4 = Sangat Tinggi

Nilai 3 = Tinggi

Nilai 2 = Sedang

Nilai 1 = Rendah

Kategori Total Nilai :

 1 – 8 = Rendah

 9– 16 = Sedang

 17 – 24 = Tinggi

(26)

4.4.2 Alasan Skoring Akternatif

Alternatif Kriteria

1. Hotline pengaduan Technical Feasibility

 Effectiveness

Efektif pada sebagian karena program ini mempermudah dalam melindungi masyarakat maupun meningkatkan ketertiban masyarakat, namun tidak mencari akar permasalahan yang ada di sana

 Adequancy

Hanya memecahkan sebagian maslaah yang ada khususnya pada ketertiban masyarakat disana, tidak dapat mnyelesaikan masalah secara informal maupun mencari atau mencegah masalah

Political Feasibility

 Acceptability

tidak ada aktor yang benar-benar kontra pada putusan ini, swasta juga bisa menjadi rekanan kerja untuk memperluas jaringan keamanan selain kamtibnas.

 Approprietness

tidak ada yang kontra dengan nilai budaya lokal karena bersifat umum dan masyarakat telah menggunakan teknologi disana.

 Reponsiveness

kebijakan ini mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat atas keamana dan ketertiban yang cepat namun pelayanan ini juga memerlukan persoel yang cukup banyak untuk siaga

Administrative Operability

 Authority

Otoritas yang terkait bisa dengan rekanan polisi dan TNI sehingga memiliki otoritas jelas dalam melakukan ketertiban dan keamanan di Indonesia, serta personil kamtibnas

 Capability

Polisi sendiri merupakan orang yang telah

(27)

telah melewati berbagai pelatihan yang ada sebelum terjun melayani masyarakat

 Organizational Support

Kepolisian memiliki sarana prasarana yang menunjang kebutuhan dan keamanan dari kendaran maupun persenjatan baik sekala kecil maupun kerusuhan besar.

2. Pembuatan taman Technical Feasibility

 Effectiveness

Masih kurang dalam menangani masalah terutama berkaitan dengan penyelesaian masalah dan pencarian masalah, alternatif ini berkaitan dengan tahap rehabilitasi maupun preventif.

 Adequancy

Memecahkan sebagian masalah saja dan perlu perluasan cakupan seperti pemanfaatan ruang yang ada secara lebih maksimal

Political Feasibility

 Acceptability

Penggunaan taman ini dapat di terima semua kalangan namun pemanfaatan yang sesungguhnya lebih berfokus pada remaja dan anak-anak

 Approprietness

Pendirian taman tidak bertentangan dengan norma masyarakat yang ada,taman akan menyediakan ruang terbuka hijau dan penambah estetika sebuah desa

 Responsiveness

Taman mencoba memenuhi ruang bagi anak anak untuk mengaspirasikan ide idenya dimana tidak ada larangan dalamnya selama kegiatan tersebut positif

Administrative Operability

 Authority

Pembuatan taman ini kurang dalam pihak yang membangun dan merawat karena terdapat dua belah pihak yaitu desa atau atau DPU dalam sie pertaman dan pemakaman kab. Demak

 Capability

(28)

selanjutnya untuk menjaga agar fasilitas yang ada terus terawat, kegiatan lain juga haru memiliki staf yang mengerti bagaimana adminitrasi dalam penyewaaan maupun perawatan taman.

 Organizational Support

Dalam pemabangunan taman memerlukan tempat atau lahan, sedangkan bengkok di desa maranggen sudah berkurang, pembuatan taman dengan

berbagai fasilitas memerlukan lahan tidak sedikit. 3. Pelatihan remaja terutama dalam menangani anak yang belum direhabilitasi.

 Adequancy

Sebagian program namun telah mencakup tahap preventif dan tahap rehabilitasi bagi pemuda-pemudi disana

Political Feasibility

 Acceptability

Kegiatan ini seharusnya dapat diterima masyarakat pada semua golongan karena bersifat produktif dan pengisian waktu luang

 Approprietness

Tidak ada sesuatu yang menyalahi norm masyrakat selama pelatihan tersebut bersifat baik dan ilmu dapat digunakan untuk yang baik

 Responsivenes

Baik, program ini menjawab kebutuhan akan pengisian waktu luang dan meningkatkan pendapatan anak

Administrative Operability

 Authority

Pihak desa memerlukan koordinasi dengan dinas pemberdayaan masyarakat agar program dapat berjalan dan memiliki cakupan lebih luas

 Capability

(29)

penyaluran pelatihan tanpa perlu membuka kembali lahan usaha, serta dapat meningkatkan pekerja umkm dan memiliki dana desa sebagai suntikan modal.

 Organizational Support

(30)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Desa Mranggen memiliki masalah berupa kenakalan remaja. Masalah ini tentu memiliki efek negatif kedepannya bagi Desa Mranggen sendiri atau bahkan berdampak pada masyarakat yang lebih luas.

Berbagai faktor menjadi penyebab timbulnya kenakalan remaja ini. Diantaranya ada yang berasal dari faktor external berupa tempat hiburan hingga faktor minimnya pendidikan yang ujung-ujungnya akibat perekonomian yang lemah.

Kenakalan remaja tentu bukanlah sebuah masalah yang sepele. Dampak yang dihasilkan akan sangat terasa di masa yang akan datang. Dampaknya pun akan dirasakan oleh berbagai sudut pandang, mulai dari diri sendiri hingga masyarakat secara luas.

5.2 Saran

Atas dasar adanya masalah timbulnya kenakalan remaja tersebut. Maka diperlukan kebijakan yang bisa digunakan dan diimplementasikan dalam masyarakat.

Kebijakan yang paling direkomendasikan adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang bisa meningkatkan kemampuan remaja-remaja Desa Mranggen. Pelatihan ini selain guna meingkatkan kemampuan, juga berguna agar remaja Desa Mranggen bisa memiliki kesibukan sehingga tidak terjerumus kepada hal-hal negatif. Untuk melaksanakan kebijakan ini tentu dibutuhkan suatu momen berupa musrenbang, sehingga bisa diusulkan kegiatan-kegiatan apa saja yang akan diadakan kedepannya

(31)
(32)

Daftar Pustaka

Sudarsono. 2004. Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Subarsono, AG. 2011. Analisis Kebijakan Publik, Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Data Agregat Kependudukan Kabupaten Demak Semester II Tahun 2016

Interview Guide

1. Secara umum, bagaimana gambaran permasalahan yang ada di Desa Mranggen?

2. Bentuk-bentuk kenakalan remaja yang seperti apa yang bapak maksud?

3. Apa penyebab timbulnya kenakalan remaja di Desa Mranggen dan sekitarnya?

4. Menurut bapak, apa dampak atas kenakalan remaja tersebut?

5. Bagaimana peran dari perangkat desa maupun masyarakat guna menanggulangi kenakalan remaja tersebut?

(33)
(34)

Referensi

Dokumen terkait

/ Saya/Kami mengesahkan bahawa saya/kami memberi kebenaran dan kuasa kepada pihak Bank yang tidak boleh dibatal tanpa kebenaran untuk mendedahkan sebarang maklumat yang telah

Sehingga hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa antara Kualitas Pelayanan (X1) dan Kemampuan Pegawai (X2) dengan Kepuasan Pelanggan (Y) ada korelasi

Belajar tentang kebersihan selama menstruasi merupakan aspek penting dari pendidikan kesehatan untuk remaja perempuan, karena pola yang dikembangkan pada masa remaja

Kesenian yang dimiliki Kabupaten Gunungkidul bermacam – macam jenis kesenian yang ada di Gunungkidul khususnya di desa Kemadang masih banyak dari tabel dibawah merupakan

Noor membuat event organizer (EO) yang bernama CITA Entertaiment. Nama Cita Entertainment diambil dari nama pendirinya yaitu ibu Nur Cita Qomariyah yang akrab disapa Bu Cita

Bertolak dari materi ke-PPKn-an yang muncul dalam kompetensi isi dan kompetensi dasar dari kurikulum 2013 maka tentu akan sangat baik apabila diberikan penegasan

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum Perkembangan Sel Betina adala Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum Perkembangan Sel Betina adala untuk memlelajari perkembangan katak

Waktu Penerimaan Dokumen oleh Tender Admin/ Pihak yang Dapat Dihubungi selama Proses Prakualifikasi / Time for Document Received by Tender Admin/ Contact Person during