11/1/2015
LAPORAN BULAN II
PENGEMBANGAN KERJA SAMA LUAR
NEGERI MENDUKUNG AGENDA
GLOBAL COP-UNFCCC
BIDANG RENCANA STRATEGIS DAN ANALISA MANFAAT
BADAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
OLEH :
MENTARI KHAIRITA UTAMI, S.T, M.T.
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Indonesia menganut politik luar negeri yang bebas aktif yang bertujuan untuk mengabdi pada kepentingan nasional, terutama kepentingan stabilitas dan kelancaran pembangunan di segala bidang termasuk di dalamnya infrastruktur. Kemampuan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan antara satu negara dengan negara lain tidak sama. Untuk itu antar negara dapat melakukan sebuah kerjasama untuk melakukan pertukaran teknologi dan informasi di berbagai bidang.
Disamping menyukseskan berbagai agenda kegiatan nasional dan sebagai bagian dari masyarakat global, Indonesia turut terlibat aktif, baik dengan meratifikasi serta menyepakati, berbagai agenda global, seperti EAROPH, COP UNFCCC, UN HABITAT, WUF AMPCHUD, Infrastructure Ministerial Forum, Infrastructure Summit, APEC, dan lain sebagainya.
Hasil ratifikasi serta kesepakatan tersebut memberi konsekuensi pada Indonesia untuk harus turut aktif dalam mennyukseskan berbagai tujuan yang disepakati bersama dalam forum-forum internasional tersebut. Adapun diantara forum-forum tersebut adalah sebagai berikut.
Conference of the Parties United Nations Framework Convention on Climate Change (COP UNFCCC), merupakan forum yang menyepakati pencapaian-pencapaian dalam upaya mengurangi efek gas “rumah kaca” ke tahap yang tidak membahayakan sistem iklim yang ada.
dan Perumahan Rakyat melalui “Fasilitasi Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam Mendukung Agenda Kegiatan yang Berskala Global.
I.2 Maksud dan Tujuan
Maksud:
Melakukan pengembangan kerja sama dengan luar negeri untuk mendukung agenda global yang berhubungan dengan infrastruktur PU PERA.
Tujuan:
a. Mengumpulkan informasi dan isu strategis dalam kerja sama agenda global dalam bentuk COP UNFCCC untuk berkontribusi dalam rencana pembangunan nasional.
b. Melakukan perumusan konsep pengembangan kerja sama luar negeri yang mendukung agenda global COP UNFCCC.
I.3 Ruang Lingkup
Kegiatan ini dilaksanakan dengan ruang lingkup tahapan pekerjaan sebagai berikut:
a. Melakukan inventarisasi terhadap peraturan perundang-undangan terkait kerja sama luar negeri;
b. Membangun baseline yang dapat digunakan sebagai database dan sistem informasi terkait pengembangan kerja sama luar negeri mendukung agenda global;
c. Melakukan kajian terhadap capaian kerja sama luar negeri mendukung agenda global yang telah dilakukan di lingkungan PU PERA, beserta perubahan lingkungan strategis/isu strategis lintas sektoral seperti ekonomi, sosial budaya maupun isu politik menuju terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan;
d. Merumuskan konsep pengembangan kerja sama luar negeri yang mendukung agenda global;
f. Menyusun rumusan konsep – konsep dan isu strategis dalam agenda global yang diikuti untuk mendukung rencana pembangunan nasional ke depan.
Tahapan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 COP-UNFCCC Tahun 2015 dilaksanakan selama 10 (sepuluh) bulan terhitung bulan Februari 2015 hingga November 2015. Lingkup kegiatan meliputi persiapan awal berupa pemahaman kerangka kerja dan hal-hal terkait agenda global, inventarisasi data-data sekunder terkait, pembahasan pengembangan kegiatan kerjasama yang mungkin dilakukan, menghadiri kegiatan-kegiatan terkait agenda global, serta penyusunan laporan yang terdiri atas Laporan Pendahuluan dan Laporan Akhir.
Jadwal rencana kerja kegiatan secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
BAB III
III.1 INVENTARISASI PERATURAN TERKAIT
Inventarisasi peraturan dilakukan untuk meninjau peraturan-peraturan yang berlaku di Republik Indonesia terkait dengan kerja sama luar negeri. Dengan adanya inventarisasi, diharapkan rencana pengembangan kerja sama luar negeri yang akan dilakukan tetap sesuai dengan peraturan yang berlaku di Republik Indonesia.
UU No. 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri
Pasal 1 ayat 1 : Hubungan Luar Negeri adalah setiap kegiatan yang menyangkut aspek regional dan internasional yang dilakukan oleh Pemerintah di tingkat pusat dan daerah atau lembaga-lembaganya, lembaga negara, badan usaha, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat atau warga negara.
UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah
Pasal 10 ayat 3 : Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah daerah meliputi politik luar negeri, pertahanan, kemanan, yustisi, monteter dan fiskal nasional dan agama.
Pasal 164 ayat 2 : Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan berupa uang, barang, dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah, masyarakat, dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri.
Pasal 170 ayat 1 : Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pernerintah setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri.
Pasal 4 ayat 1 : Pemerintah Republik Indonesia membuat perjanjian internasional dengan satu negara atau lebih, organisasi internasional, atau subjek hukum internasional lain berdasarkan kesepakatan; dan para pihak berkewajiban untuk melaksanakan perjanjian tersebut dengan iktikad baik.
Pasal 4 ayat 2 : Dalam pembuatan perjanjian internasional, Pemerintah Republik Indonesia berpedoman pada kepentingan nasional dan berdasarkan prinsip-prinsip persamaan kedudukan, saling menguntungkan, dan memperhatikan, baik hukum nasional maupun hukum internasional yang berlaku.
III.2 KERJASAMA LUAR NEGERI
Kerja sama luar negeri adalah kerja sama yang dilakukan satu negara dengan negara lain atau dengan beberapa negara lain sekaligus. Berdasarkan bentuknya, kerja sama internasional dapat dibagi kedalam beberapa bentuk sebagai berikut :
a. Kerja sama bilateral
Kerja sama bilateral adalah kerja sama yang dilakukan antara dua negara. Kerja sama ini biasanya dalam bentuk hubungan diplomatik, perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan.
b. Kerja sama regional
Kerja sama regional adalah kerja sama yang dilakukan oleh beberapa negara dalam suatu kawasan atau wilayah. Kerja sama ini biasanya dilakukan karena adanya kepentingan bersama baik dalam bidang politik, ekonomi, dan pertahanan. Contoh kerja sama regional antara lain ASEAN dan Liga Arab.
c. Kerja sama multilateral
Kerja sama multilateral adalah kerja sama yang dilakukan beberapa negara. Contoh kerja sama ini antara lain Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kerja sama internasional adalah kerja sama antara negara-negara diseluruh dunia. Sedangkan bentuk kerja sama dibidang lain, seperti :
Kerja sama dibidang ekonomi, misalnya FAO, IMF, IBRD, UNCTAD.
Kerja sama dibidang sosial, misalnya ILO, IRO, UNICEF, WHO.
Kerja sama dibidang kebudayaan, misalnya pendidikan, IPTEK.
Kerja sama dibidang pertahanan, misalnya SEATO, ANZUS, NATO, CENTO.
Hubungan kerjasama antar negara (internasional) di dunia diperlukan guna memenuhi kebutuhan hidup dan eksistensi keberadaan suatu negara dalam tata pergaulan internasional, di samping demi terciptanya perdamaian dan kesejahteraan hidup yang merupakan dambaan setiap manusia dan negara di dunia. Setiap negara tentu memiliki kelebihan, kekurangan dan kepentingan yang berbeda. Hal-hal inilah yang mendorong dilakukannya hubungan dan kerjasama internasional. Kerjasama antar bangsa di dunia didasari atas sikap saling menghormati dan saling menguntungkan.
III.3. COP-UNFCCC
COP-UNFCCC (Conference of The Parties-United Nation Framework Convention on Climate Change). COP merupakan badan pengambil keputusan dari UNFCCC. Perwakilan dari semua negara yang mengikuti UNFCCC mengutus satu perwakilan untuk COP yang nantinya akan bertugas untuk meninjau kembali penerapan hasil konvensi dan mengambil keputusan agar hasil konvensi dapat diterapkan secara efektif di semua negara anggota.
UNFCCC setiap tahunnya mengadakan konferensi tahunan dalam bentuk pertemuan formal dari COP untuk saling bertukar informasi mengenai perubahan iklim.
Tujuan utama konvensi ini adalah untuk mencapai stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada level yang mencegah gangguan antropogenik berbahaya pada system iklim. Level tersebut harus dicapai dalam suatu batas waktu sehingga ekosistem mampu beradaptasi dengan perubahan iklim untuk memastikan produksi pangan tidak terancam dan memungkinkan perkembangan ekonomi yang berkelanjutan.
III.3.2 PRINSIP UNFCCC
Dalam mencapai tujuan konvensi dan menerapkan ketentuan-ketentuan yang telah dibuat, anggota konvensi harus disertai beberapa prinsip berikut:
1. Anggota konvensi harus memproteksi system iklim untuk kebaikan generasi sekarang dan yang akan dating dengan basis keadilan dan dengan tanggung jawab dan kemampuan masing-masing. Anggota yang berupa Negara maju harus memimpin aksi melawan perubahan iklim dan efeknya. 2. Negara-negara yang sedang berkembang terutama yang akan terkena
dampak bahaya dari perubahan iklim harus diberikan perhatian penuh. 3. Anggota harus mempersiapkan rencana mitigasi untuk mencegah atau
meminimalisir efek perubahan iklim.
4. Anggota memiliki hak dan kewajiban untuk mempromosikan sustainable development.
5. Anggota harus bekerjasama untuk system ekonomi internasional yang terbuka dan sportif yang akan berujung pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di semua Negara anggota termasuk Negara berkembang.
III.3.3 KOMITMEN ANGGOTA UNFCCC
Setiap anggota dengan mempertimbangkan kewajiban dan prioritas pembangunan nasional seharusnya :
a. Mengembangkan, memperbarui secara periodik, mempublikasikan inventarisasi nasional mengenai gas rumah kaca yang tidak terkontrol oleh Montreal Protocol menggunakan metodologi yang komprehensif yang disetujui bersama.
c. Bekerjasama dalam pengembangan dan penerapan teknologi baru untuk mengurangi dan mencegah emisi gas rumah kaca dari setiap sektor termasuk energi, transportasi, industri, pertanian, kehutanan dan sektor pengolahan limbah.
d. Mempromosikan manajemen berkelanjutan dan kerjasama dalam konservasi sumber gas rumah kaca termasuk biomassa, hutan, laut dan ekosistem lainnya.
e. Bekerjasama dalam mempersiapkan adaptasi dengan dampak perubahan iklim.
f. Memasukkan perubahan iklim dalam rencana sosial, ekonomi, dan kebijakan lingkungan.
g. Mengembangkan penelitian dalam bidang sains, teknologi, teknik dan ekonomi-sosial dalam mencegah dan mengurangi efek gas rumah kaca. h. Mengembangkan kerjasama dalam bidang pendidikan dan pelatihan
mengenai perubahan iklim.
i. Mengkomunikasikan dengan anggota lain tentang perkembangan implementasi konvensi di negara anggota.
III.3.4 PELAKSANAAN UNFCCC
Berikut merupakan beberapa COP yang telah dilakukan UNFCCC:
COP 1 di Berlin, Jerman (1995)
Menyuarakan kekhawatiran tentang kemampuan negara untuk memenuhi komitmen di bawah Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) dan Subsidiary Body for Implementation (SBI).
COP 2, Jenewa, Swiss (1996)
Menentukan target jangka menengah COP-UNFCCC
COP 3, Protokol Kyoto tentang Perubahan Iklim (1997)
Negosiasi intensif untuk mengadopsi Protokol Kyoto, yang menguraikan kewajiban pengurangan emisi gas rumah kaca untuk negara-negara Annex I.
COP 4, Buenos Aires, Argentina (1998)
untuk mengambil kewajiban pengurangan emisi gas rumah kaca, kedua negara non-Annex pertama yang melakukannya.
COP 5, Bonn, Jerman (1999) Hanya berupa pertemuan teknis.
COP 6, The Hague, Belanda (2000)
Diskusi berkembang pesat menjadi negosiasi tingkat tinggi di atas isu-isu politik besar. Dibahas pula usulan AS untuk menerapkan kredit terhadap pengurangan emisi karbon.
Perjanjian termasuk:
Mekanisme fleksibel dari Amerika Serikat telah sangat disukai ketika Protokol awalnya disatukan, termasuk perdagangan emisi, implementasi bersama (JI), dan Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) yang memungkinkan negara-negara industri untuk mendanai kegiatan pengurangan emisi di negara-negara berkembang sebagai alternatif untuk pengurangan emisi domestik.
COP 7, Marrakech, Maroko (2001)
KTT Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan yang diadakan Agustus-September 2002 diajukan sebagai target untuk Protokol Kyoto. The World Summit on Sustainable Development (WSSD) akan diadakan di Johannesburg, Afrika Selatan.
Keputusan utama pada COP 7 termasuk aturan operasional untuk perdagangan emisi internasional antara pihak Protokol dan untuk CDM dan implementasi bersama.
COP 8, New Delhi, India (2002)
Menyerukan upaya oleh negara-negara maju untuk mentransfer teknologi dan meminimalkan dampak perubahan iklim terhadap negara-negara berkembang.
COP 9, Milan, Italia (2003)
Para pihak setuju untuk menggunakan Dana Adaptasi yang didirikan pada tahun 2001 dalam mendukung negara-negara berkembang agar lebih beradaptasi dengan perubahan iklim. Dana tersebut juga akan digunakan untuk peningkatan kapasitas melalui transfer teknologi. Pada COP 9, para pihak juga sepakat untuk meninjau laporan nasional pertama yang diajukan oleh 110 negara non-Annex I.
COP 10 membahas kemajuan yang dibuat sejak Konferensi COP sepuluh tahun yang lalu dan tantangan masa depan, dengan penekanan khusus pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Para pihak juga mulai membahas mekanisme pasca-Kyoto yaitu bagaimana mengalokasikan kewajiban pengurangan emisi.
COP 11 Montreal, Kanada (2005)
Konferensi ini merupakan salah satu konferensi antar pemerintah terbesar tentang perubahan iklim yang pernah ada. Disepakati rencana aksi Montreal yang merupakan kesepakatan untuk memperpanjang umur Protokol Kyoto dan bernegosiasi untuk lebih mengurangi emisi gas rumah kaca.
COP 12 Nairobi, Kenya (2006)
Para pihak mengadopsi rencana lima tahun kerja untuk mendukung adaptasi perubahan iklim oleh negara-negara berkembang, dan menyetujui prosedur dan modalitas untuk Adaptation Fund. Mereka juga sepakat untuk meningkatkan proyek-proyek untuk mekanisme pembangunan bersih.
COP 13 Bali, Indonesia (2007)
Kesepakatan mengenai waktu dan negosiasi terstruktur pada kerangka pasca kyoto protocol.
COP 14 / CMP 4, Poznań, Polandia (2008)
Para delegasi sepakat pada prinsip-prinsip untuk pembiayaan dana untuk membantu negara-negara miskin mengatasi dampak perubahan iklim dan mereka menyetujui mekanisme untuk menggabungkan perlindungan hutan ke dalam upaya masyarakat internasional untuk memerangi perubahan iklim.
COP 15 / CMP 5, Copenhagen, Denmark (2009)
Tujuan keseluruhan adalah untuk membuat kesepakatan iklim global yang untuk periode 2012 ketika periode komitmen pertama di bawah Protokol Kyoto berakhir. Konferensi ini tidak mencapai kesepakatan yang mengikat untuk tindakan jangka panjang.
COP 16 Cancún, Meksiko (2010)
Semua pihak "Menyadari bahwa perubahan iklim merupakan ancaman mendesak dan berpotensi ireversibel ke manusia dan bumi, dan dengan demikian hal ini butuh untuk segera ditangani oleh semua pihak
COP 17 Durban, Afrika Selatan (2011)
Konferensi ini menyetujui kesepakatan yang mengikat secara hukum, akan disiapkan pada tahun 2015, dan akan berlaku pada tahun 2020. Ada juga kemajuan mengenai pembentukan Dana Iklim Hijau (GCF) untuk mendistribusikan US $ 100 miliar per tahun untuk membantu negara-negara miskin beradaptasi dengan dampak iklim.
COP 18 Doha, Qatar (2012)
Konferensi ini menghasilkan paket dokumen kolektif berjudul The Doha Climate Gateway. Dokumen-dokumen kolektif yang terkandung adalah Amandemen Protokol Kyoto (untuk disahkan sebelum memasuki berlaku) menampilkan sebuah periode komitmen kedua berjalan dari tahun 2012 sampai tahun 2020 dibatasi dalam ruang lingkup 15% dari emisi karbon dioksida global karena kurangnya komitmen dari Jepang, Rusia, Belarus, Ukraina, Selandia Baru (maupun Amerika Serikat dan Kanada, yang tidak pihak dalam Protokol di masa itu) dan karena fakta bahwa negara-negara berkembang seperti China (emitor terbesar di dunia), India dan Brasil tidak tunduk pada pengurangan emisi di bawah Protokol Kyoto
COP 19 Warsawa, Polandia (2013) UNFCCC di Bali. Indonesia kemudian mendirikan lembaga dan memberlakukan beberapa dokumen kebijakan dan peraturan terkait dengan perubahan iklim. Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) dibentuk pada tahun 2008 dan bertugas sebagai focal point isu-isu perubahan iklim dalam forum internasional.
2009-2014 dan membentuk sebuah lembaga dana perwalian nasional/Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) untuk mendanai kegiatan yang berkaitan dengan perubahan iklim. Pada akhir 2009, Indonesia mengumumkan komitmen sukarelanya secara global untuk aksi mitigasi yang diikuti dengan penetapan Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2011 tentang RANGRK. Sebagai tindak lanjut dari komitmen di atas, RAN-GRK disusun dan dilengkapi dengan kerangka kebijakan untuk periode 2010-2020 yang ditujukan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lain untuk melakukan aksi yang terkait langsung maupun tidak langsung.
Pada tingkat pemerintah pusat, kerangka kebijakan tersebut merujuk kepada visi dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional 2005-2025 dan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2015-2019 pemerintah juga telah menetapkan prioritas pengendalian perubahan iklim dengan sasaran meningkatnya penanganan perubahan iklim, baik berupa kegiatan mitigasi untuk menurunkan emisi GRK sebesar mendekati 26 persen sampai tahun 2020 di lima sektor prioritas, yaitu: kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri dan limbah, maupun kegiatan adaptasi untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim di daerah rentan. Visi dan prioritas tersebut kemudian akan diterjemahkan dalam setiap Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai payung kebijakan perubahan iklim di Indonesia. Sedangkan pada tingkat daerah, kebijakan pelaksanaan perubahan iklim dicantumkan dalam Rencana Pembangunan Daerah, baik jangka menengah maupun rencana tahunan. Pelaksanaan mitigasi di daerah dituangkan dalam Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur oleh seluruh provinsi pada tahun 2012 (tidak termasuk Provinsi Kalimantan Utara yang baru dimekarkan pada 25 Oktober 2012).
kapasitas adaptasi, terutama bagi petani, nelayan, dan masyarakat sekitar pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim.
RAN-API tersebut akhirnya ditetapkan pada Februari 2014. Pelaksanaan RAN/RAD-GRK di Indonesia dikembangkan menggunakan sistem inventarisasi dan instrumen MRV yang merupakan bagian penting guna memastikan transparansi dalam aksi mitigasi. MRV tidak hanya diperuntukkan bagi aksi mitigasi saja, tetapi juga dapat digunakan untuk memperkirakan, memantau, dan melakukan quality control atas emisi GRK dan bantuan pendanaan, teknologi, serta peningkatan kapasitas yang diterima.
MRV telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi GRK Nasional. Peraturan Presiden tersebut secara spesifik mengamanatkan dilakukannya verifikasi atas proses dan hasil inventarisasi GRK, termasuk pencapaian penurunan emisi dari aksi-aksi mitigasi. Hingga saat ini Indonesia telah melakukan percontohan implementasi (pilot implementation) dari MRV di beberapa provinsi mengikuti format yang telah ditetapkan dalam Permenhut No. 15 Tahun 2013 tentang Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi Aksi Mitigasi Perubahan Iklim.
III.5 ANALISA KEBUTUHAN DAN PELUANG KERJASAMA
Salah satu tantangan utama tersebut menyangkut kajian atas dampak kebijakan mitigasi GRK. Hingga saat ini Indonesia belum melakukan kajian atas dampak kebijakan ysng dimaksud. Padahal sering sekali dampak kebijakan sulit untuk dikuantifikasi sehingga dibutuhkan kesepakatan antar kementerian/lembaga atas cakupan dari kebijakan mitigasi yang dikaji dampaknya. Sebagai contoh, Jerman melakukan kajian kebijakan mitigasi GRK melalui konsorsium besar yang melibatkan universitas, para ahli, konsultan, dan kementerian. Konsorsium ini secara konsisten mengkaji dampak dari kebijakan mitigasi GRK nasional, termasuk dampak ekonomi seperti lapangan pekerjaan dan biaya yang ditimbulkan sebelum dan sesudah diterapkannya kebijakan.
Meskipun tidak menyisakan waktu yang banyak, persiapan Indonesia menuju COP 21 Paris harus didasari oleh kajian yang matang dan realistis terhadap kondisi Indonesia terkini. INDC yang akan disampaikan Indonesia dalam COP 21 Paris harus berorientasi kepada kebutuhan pembangunan nasional Indonesia. Dengan fokus pembangunan saat ini yang dititikberatkan pada sektor maritim, ketahanan energi, dan ketahanan pangan, sudah sebaiknya Indonesia meraih manfaat yang seluas-luasnya dalam forum COP kali ini. INDC harus dipandang sebagai peluang untuk memastikan kontribusi internasional pada upaya bersama dalam menghadapi perubahan iklim. Namun demikian, penyiapan kontribusi Indonesia seharusnya tidak menjadi beban tambahan yang berlebihan dalam pelaksanaan pembangunan nasional, seiring dengan perekonomian dalam negeri yang dalam kurun waktu setahun terakhir mengalami perlambatan.
Tantangan lain yang harus tetap menjadi perhatian Indonesia terkait dengan isu pengembangan kapasitas dan kesadartahuan, peningkatan koordinasi antarlembaga, pengembangan sistem inventarisasi dan MRV, peningkatan kualitas dan manajemen data, serta pengembangan sistem database. Tidak berlebihan karena semua hal di atas masih dalam tahapan pengembangan dan evaluasi.
III.6 ANALISA RENCANA PENGEMBANGAN KERJASAMA GLOBAL
a. Pertukaran teknologi dengan negara yang lebih maju untuk menciptakan emisi bersih, membangun green infrastructure, membangun sarana-prasarana pengolahan limbah dan produksi bersih yang nantinya akan berdampak dalam pengurangan emisi gas rumah kaca.
b. Pengembangan rencana mitigasi menanggulangi dampak lingkungan akibat perubahan iklim, seperti rencana penanggulangan pasang-surut, kelangkaan pangan dan lainnya.
c. Turut serta mengikuti agenda-agenda UNFCCC sehingga menambah pengetahuan mengenai perubahan iklim dan usaha-usaha adaptasi yang dilakukan di negara lain yang nantinya diharapkan dapat memberi masukan dalam pengembangan infrastruktur.