EFEKTIVITAS LATIHAN FISIK INTRA DIALISIS
TERHADAP KADAR KREATININ PADA PASIEN
YANG MENJALANI HEMODIALISA DI
RSUD DR. ACHMAD MOCHTAR
BUKITTINGGI TAHUN 2016
SKRIPSI
Diajukan Sebagai
Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan
OLEH:
LILIA FEBRITA
1414201082
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FORT DE KOCK BUKITTINGGI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Skripsi , Mei 2016
Lilia Febrita
1414201082
Efektivitas Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Tahun 2016
viii + 65 halaman + 9 tabel + 1 skema + 8 gambar + 7 lampiran
ABSTRAK
Pada saat melakukan hemodialisis pasien gagal ginjal sering mengalami kram otot yang disebabkan kurangnya aktifitas sehingga dapat meningkatkan kadar kreatinin. Latihan fisik intra dialisis didefenisikan sebagai kegiatan yang terencana yang dilakukan pada saat dilakukan hemodialisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas latihan fisik intra dialisis terhadap kadar kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016.
Desain penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan rancangan two group pre test-post test. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Maret 2016 terhadap seluruh pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di Ruangan Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 71 orang per bulan dengan metode pengambilan sampel yaitu dengan cara accidental sampling. Data yang terkumpul diolah dengan uji T test.
Hasil penelitian didapatkan rata-rata kadar kreatinin yaitu sebelum (16,53) dan sesudah (2,86) menjalani HD dengan latihan fisik Intra Dialisis dan Rata-rata kadar kreatinin yaitu sebelum (16,63) dan sesudah (7,16) menjalani HD tanpa latihan fisik Intra Dialisis. Terdapat efektifitas latihan fisik sebelum pemeriksaan HD pada pasien yang menjalani hemodialisa dengan dengan p value= 0,000.
Disimpulkan bahwa Latihan fisik Intra Dialisis pada pasien yang menjalani hemodialisa lebih efektif dibanding tanpa latihan fisik Intra Dialisis Pada pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016. Saran bagi RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi agar meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dengan penyedian sarana prasarana yang diperlukan untuk dapat meningkatkan manfaat latihan fisik pada pasien yang menjalani hemodialisis.
Daftar Bacaan: 21 (2005 - 2015)
FORT DE KOCK HEALTH SCIENCES COLLAGE BUKITTINGGI NURSING of SCIENCES PROGRAM
Research, May 2016
Lilia Febrita
1414201082
Effectiveness Of Physical Exercises Intra Dialysis To the Level Of Creatinin In Patients Undergoing Hemodialisis At The RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi 2016 physical exercises intra dialysis to the levels of creatinin in patients undergoing hemodialisa at the RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi 2016.
Design research is quasi experiment with the design of two group pre test – post test. This research has been conducted in March 2016 to all chronic renal failure patients undergoing hemodialisa in Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. The population in this study as many as 71 people per month with the sampling method by way of accidental sampling. The data collected is treated with test T test.
Research results didapatkanrRata average levels of creatinin (16.53) before and after (2,86) undergo physical exercises Intra HD with Dialysis and undergoing hemodialisa more effective than without Dialysis On the Intra physical exercise in patients undergoing hemodialisa at the RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi 2016. Suggestions for RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi in order to improve the quality of service of hospital with penyedian infrastructure that is required to be able to increase the benefits of physical exercise in patients undergoing hemodialysis.
Reading List: 21 (2005 - 2015)
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan kehadiran Allah SWT karena
telah memberikan nikmat kesehatan, kekuatan, pikiran yang jernih dan
keterbukaan hati sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul
“Efektivitas Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada
Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi Tahun 2016”.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah
memberikan bantuan, bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian
penulisan Skripsi ini, sebagai berikut:
1. Ibu Dr. Hj. Evi Hasnita, SPd, Ns, M.Kes, Ketua STIKes Fort De Kock
Bukittinggi.
2. Ibu Hj. Adriani, S.Kp, M. Kes selaku Ketua Prodi Ilmu Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fort De Kock Bukittinggi
3. Ibu Direktur RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi yang telah
memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.
4. Ns. Lisavina Juwita, M. Kep, selaku pembimbing I dalam penyusunan
Skripsi ini yang telah meluangkan waktu untuk memberikan petunjuk,
nasehat, bimbingan, serta arahan kepada penulis.
5. Ns. Yelmi Reni Putri, S. Kep, MAN, selaku pembimbing II dalam
penyusunan Skripsi ini yang telah meluangkan waktu untuk memberikan
6. Bapak / Ibu Dosen beserta staf Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Fort De Kock Bukittinggi yang telah memberikan
ilmu pengetahuan, bimbingan serta nasehat selama menjalani pendidikan
7. Semua pihak yang telah membantu penulisan dan penyusunan Skripsi
yang tidak bisa disebutkan satu persatu
Dalam penyusunan Skripsi ini penulis sudah berusaha semaksimal
mungkin namun penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan Skripsi ini. Akhir kata penulis ucapkan terima
kasih.
Bukittinggi, Juni 2016
DAFTAR ISI
BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep ... 34
B. Defenisi Operasional ... 34
C. Hipotesa ... 36
BAB VI PEMBAHASAN
A. Analisa Univariat ... 49 B. Analisa Bivariat ... 55
BAB VII PENUTUP
A. Kesimpulan ... 63 B. Saran ... 64
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 2 Informed Consent
Lampiran 3 Lembar Observasi
Lampiran 4 Surat Izin Penelitian
Lampiran 5 Master Tabel
Lampiran 6 Hasil Pengolahan Data
DAFTAR SKEMA
Skema Halaman
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Gerakan Pereganggan Otot Leher ... 27
2.2 Gerakan Pereganggan Otot Lengan... 27
2.3 Gerakan Pereganggan Otot Lengan... 28
2.4 Gerakan Pereganggan Otot Lengan... 28
2.5 Gerakan Pereganggan Otot Kaki ... 29
2.6 Gerakan Pereganggan Otot Kaki ... 29
2.7 Gerakan Latihan Inti Ekstremitas Atas (Tangan) ... 30
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Defenisi Operasional ... .... ... 34 5.1 Karakteristik Respoden ... 43 5.2 Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis
Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 ... 44 5.3 Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis
Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 ... 44 5.4 Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis
Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 ... 45 5.5 Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis
Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 ... 45 5.6 Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik
Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Tahun 2016 ... 46 5.7 Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik
Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Tahun 2016 ... 47 5.8 Efektifitas Latihan Fisik Intra Dialisis Dengan Tanpa Latihan
Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang
bersifat progresif dan irreversibel. Gangguan fungsi ginjal ini terjadi ketika
tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
dan elektrolit sehingga menyebabkan retensi urea dan sampah nitrogen lain
dalam darah. Kerusakan ginjal ini mengakibatkan masalah pada kemampuan
dan kekuatan tubuh yang menyebabkan aktivitas kerja terganggu, tubuh jadi
mudah lelah dan lemas sehingga kualitas hidup pasien menurun (Smeltzer
dan Bare 2015, p. 1448).
Angka kejadian gagal ginjal kronik ini meningkat setiap tahunnya.
Pasien dengan GGK di seluruh dunia meningkat sejak tahun 1996. Pada
tahun 1996 jumlah penderita gagal ginjal di dunia sebanyak 1 juta orang dan
meningkat menjadi dua kali lipat pada tahun 2010 (Firman, 2010 dalam
Retno 2011).
Terapi penggantian ginjal renal replacement therapy (RRT) merupakan
salah satu terapi yang dipertimbangkan pada pasien dengan gagal ginjal
kronik (GGK) tahap akhir. Terapi penggantian ginjal dapat berupa dialysis
dan transplantasi ginjal. Salah satu tindakan dialysis adalah hemodialisa
merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit
akut dan memerlukan dialysis jangka pendek atau pasien dengan GGK yang
membutuhkan terapi jangka panjang (Smeltzer dan Bare 2015, p. 1457).
Hemodialisis pada penderita GGK akan mencegah kematian dan
memperpanjang umur harapan hidup. Namun demikian hemodialisis tidak
menyembuhkan dan memulihkan penyakit. Pasien tetap akan mengalami
banyak permasalahan dan komplikasi serta adanya berbagai perubahan pada
bentuk dan fungsi system dalam tubuh (Smeltzer dan Bare 2015, p. 1398).
Beberapa komplikasi yang sering dialami oleh pasien dengan
hemodialisis diantaranya hipotensi, emboli udara, nyeri dada, pruritus,
gangguan keseimbangan selama dialysis, mual dan muntah, kram otot yang
nyeri, dan peningkatan kadar uremik dalam darah (Smeltzer dan Bare 2015,
p. 1398).
Ginjal yang telah rusak tidak mampu mengeksresikan ureum sebagai
sampah akhir metabolisme tubuh. Substansi yang bersifat asam ini akan
menumpuk didalam tubuh dan bekerja sebagai racun dan toksin. Gejala
uremik dapat ditandai dengan peningkatan ureum di dalam darah. Salah satu
cara menurunkan kadar ureum dalam darah adalah dengan pengaturan diet
rendah protein (Guyton & Hall 2005, p. 515).
Sementara itu, kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin.
Kreatinin disintesis oleh hati, terdapat hampir semuanya dalam otot rangka,
disana ia terikat secara reversibel kepada fosfat dalam bentuk fosfokreatin,
yakni senyawa penyimpan energi. Akan tetapi sebagian kecil dari kreatinin
itu secara irreversibel berubah menjadi kreatin yang tidak mempunyai fungsi
sebagai zat berguna dan adanya dalam darah beredar hanyalah untuk
diangkut ke ginjal. Kreatinin dalam darah meningkat apabila fungsi ginjal
disamping itu massa otot juga menyusun secara perlahan (Guyton & Hall
2005, p. 519).
Kram otot pada pasien yang mengalami hemodialisis sebagai akibat dari
cairan dan elektrolit yang dengan cepat meninggalkan ruangan ekstra sel.
Selain itu pasein yang menjalani hemodialisis memiliki kekuatan otot yang
lebih lemah dibandingkan orang normal. Kelemahan ini disebabkan oleh
atrofi otot, kurang aktivitas, miopi dan neuropati otot atau kombinasi dari
beberapa faktor tersebut sebagai efek dari peningkatan kadar kreatinin di
dalam darah. Penguatan otot dapat dilakukan dengan melakukan kontrkasi
pada otot sehingga akan menimbulkan injury pada serabut otot. Injury yang
terjadi akan menyebabkan adanya respon tubuh untuk memperbaiki injury
dan pada akhirnya akan meningkatkan kekuatan otot dan berefek kepada
penurunan nilai kreatinin dalam darah (Smeltzer dan Bare 2015, p. 1398).
Penurunan kadar kreatinin darah dapat dilakukan dengan membatasi
masukan sodium, mengurangi konsumsi protein, menghindari makanan yang
mengandung fosfor ( labu, kerang, kacang-kacangan, kedelai dan susu rendah
lemak), batasi menggunakan makanan yang mengandung potassium (pisang,
bayam, dan kacang polong), dan latihan fisik. Latihan fisik intra dialisis
didefenisikan sebagai kegiatan yang terencana yang dilakukan pada saat
dilakukan hemodialisa. Latihan fisik penting dilakukan untuk meningkatkan
kesehatan tubuh (Potter dan Perry 2006, p. 1636).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Ruangan Hemodialisa
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2015 didapatkan data jumlah
2015 sebanyak 857 orang. Dari data 15 orang pasien didapatkan rentang nilai
ureum pasien sebelum dilaksanakan hemosialisis terendah 93 mg/dl dan
tertinggi 225,3 mg/dl dan nilai kreatinin sebelum HD dengan rentang
terendah 8,1mg/dl dan tertinggi 11,7 mg/dl. Menurut Anggraini (2010) nilai
kreatinin pasien dengan gagal ginjal kronis setelah dilakukan hemodialisa
berkisar 5 md/dl – 10 mg/dl. Dari wawancara yang dilakukan kepada perawat
ruangan didapatkan data bahwa pada tahun 2014 pernah dilaksanakan latihan
fisik intra dialisis kepada pasien yang bertujuan untuk menurunkan kadar
kreatinin dalam darah. Namun kegiatan ini tidak rutin dilakukan karena
keterbatasan jumlah perawat.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meneliti
“Efektivitas Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin
Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2016”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditentukan rumusan masalah
penelitian bagaimanakah efektivitas latihan fisik intra dialisis terhadap kadar
kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Achmad
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektivitas latihan fisik intra dialisis terhadap
kadar kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya Rata-rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra
Dialisis Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
b. Diketahuinya Rata-rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra
Dialisis Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
c. Diketahuinya Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra
Dialisis Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
d. Diketahuinya Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra
Dialisis Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
e. Diketahuinya Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan
Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah
Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
f. Diketahuinya Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan
Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani
Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun
2016
g. Diketahuinya Efektifitas Latihan Fisik Intra Dialisis Dengan Tanpa
Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada Pasien
Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi Tahun 2016
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Agar hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai aplikasi ilmu yang
telah didapat selama perkuliahan dan sebagai bahan masukan dalam
menambah informasi, menambah ilmu dan wawasan ilmu pengetahuan.
2. Bagi Pasien yang menjalani Hemodialisis
Agar hasil penelitian ini dapat memberikan motivasi pasien yang
menjalani hemodialisis untuk melakukan latihan fisik sehingga diperoleh
hasil penurunan kadar kreatinin pada pasien gagal ginjal khususnya.
3. Bagi RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi
rumah sakit, sehingga ke depan ada perencanaan dan tindakan atau
rancangan yang lebih baik dalam rangka untuk meningkatkan mutu
diperlukan untuk dapat meningkatkan manfaat latihan fisik pada pasien
yang menjalani hemodialisis.
4. Bagi Institusi pendidikan
Agar hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan informasi
dan bahan kepustakaan dalam pemberian Asuhan Keperawatan pada
pasien hemodialisa.
E. Ruang Lingkup
Penelitian ini membahas efektivitas latihan fisik intra dialisis terhadap
kadar kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016. Variabel independen dalam
penelitian ini adalah latihan fisik intra dialisis dan variabel dependen dalam
penelitian ini adalah penurunan kadar kreatinin. Penelitian ini merupakan jenis
quasi eksperimen dengan teknik sampel accidental sampling. Desain
penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan rancangan two group pre
test-post test dengan kelompok intervensi dan kelompok control. Melihat
perbandingan kadar kreatinin dalam darah pada kelompok yang diberikan
perlakuan dan kelompok kontrol digunakan t-test independen. Penelitian ini
menggunakan lembar observasi sebagai alat ukur penelitian. Penelitian ini
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Fisiologi Ginjal
Ginjal terletak secara retroperitoneal pada bagian posterior dinding
abdominal pada setiap sisi kolumnar vertebra diantara T12 - L3. Ginjal kanan
terletak lebih rendah sedikit berbanding ginjal kiri karena hati terletak di
bagian kanan. Arteri renal bercabang dari aorta abdominal. Arteri renal kanan
lebih panjang berbanding arteri renal kiri. Setiap arteri renal bercabang
menjadi 5 arteri segmental sehingga memasuki hilus. Dari sinus renal, arteri
segmental bercabang menjadi beberapa arteri lobar yang terdapat pada
kolumnar renal. Arteri ini bercabang lagi menjadi arkuata dan areteri
interlobular. Arteriol aferen yang bercabang daripada arteri interlobular akan
membentuk glomerulus. Manakala vena interlobular akan bergabung
membentuk vena arkuate dan seterusnya membentuk vena interlobar yang
akan bergabung menjadi vena renal yang membawa darah ke jantung via
vena kava (Potter & Perry 2006, p. 1679).
Ginjal memainkan peranan penting dalam fungsi tubuh, tidak hanya
dengan menyaring darah dan mengeluarkan produk-produk sisa, namun juga
dengan menyeimbangkan tingkat-tingkat elektrolit dalam tubuh, mengontrol
tekanan darah, dan menstimulasi produksi dari sel-sel darah merah.
Ginjal mempunyai kemampuan untuk memonitor jumlah cairan tubuh,
konsentrasi dari elektrolit-elektrolit seperti sodium dan potassium, dan
keseimbangan asam-basa dari tubuh. Ginjal menyaring produk-produk sisa
dari metabolisme tubuh, seperti urea dari metabolisme protein dan asam urat
dari uraian DNA. Dua produk sisa dalam darah yang dapat diukur adalah
blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin (Cr) (Guyton & Hall 2005, p. 520).
Ketika darah mengalir ke ginjal, sensor-sensor dalam ginjal memutuskan
berapa banyak air dikeluarkan sebagai urin, bersama dengan konsentrasi apa
dari elektrolit-elektrolit. Contohnya, jika seseorang mengalami dehidrasi dari
latihan olahraga atau dari suatu penyakit, ginjal akan menahan sebanyak
mungkin air dan urin menjadi sangat terkonsentrasi. Ketika kecukupan air
dalam tubuh, urin adalah jauh lebih encer, dan urin menjadi bening. Sistem
ini dikontrol oleh renin, suatu hormon yang diproduksi dalam ginjal yang
merupakan sebagian daripada sistem regulasi cairan dan tekanan darah tubuh
(Potter & Perry 2006. 1679).
B. Gagal Ginjal
1. Definisi
Gagal ginjal dapat terjadi dari suatu situasi akut atau dari
persoalan-persoalan kronis. Gagal ginjal akut merupakan suatu keadaan klinis yang
ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara mendadak dengan akibat
terjadinya peningkatan hasil metabolit seperti ureum dan kreatinin
(Guyton & Hall 2005, p. 512).
Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun
bersifat progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal
untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
2. Epidemiologi
Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan sindrom klinis yang
bersifat progresif dan dapat menyebabkan kematian pada sebagian besar
kasus stadium terminal GGK. Apabila penyakit GGK seseorang telah
mencapai stadium berat atau terminal maka terapi yang dapat
meningkatkan harapan hidup penderita tersebut adalah dialisis dan yang
paling baik dengan transplantasi ginjal. Penyakit gagal ginjal kronik ini
merupakan penyakit yang diderita oleh satu dari sepuluh orang dewasa.
Sekiranya tanpa pengendalian yang tepat dan cepat, pada tahun 2015
penyakit ginjal diperkirakan bisa menyebabkan kematian hingga 36 juta
penduduk dunia (Guyton & Hall 200, p. 515).
Penyakit ginjal stadium terminal merupakan penyebab utama dari
morbiditas dan mortalitas di Amerika Serikat. Hampir satu dari 10.000
orang per tahun mengalami penyakit ginjal stadium terminal. Pada
tahun 1986 program penyakit ginjal stadium terminal dari Health Care
Financing Administration (HCFA) Medicare mencakup 114. 859 pasien
dengan biaya hampir 3 milyar dollar per tahun. Pada 1984 dilakukan
hampir 7000 tranplantasi ginjal, sedangkan pasien-pasien lainnya
menjalani hemodialisis atau dialisis peritoneal. Penyakit ginjal stadium
terminal merupakan program penyakit kronik yang terbesar di banyak
negara. Menurut penelitian Feest dan kawan-kawan Devon dan
Northwest, insiden penyakit ginjal stadium terminal berkisar 148 dari
Di Indonesia, peningkatan jumlah penderita gagal ginjal bisa dilihat
dari data kunjungan ke poliklinik ginjal dan banyaknya penderita yang
menjalani cuci darah (hemodialisis). Dari data dari wilayah Jabar dan
Banten dua tahun terakhir ini, bisa terlihat peningkatan jumlah pasien
yang menjalani hemodialisis. Pada tahun 2007 tercatat hanya 2148
pasien dan meningkat menjadi 2260 pada tahun 2008. Dari jumlah itu,
sekitar 30 persen pasien berusia produktif, yakni kurang dari 40 tahun.
Hasil penelitian Khan dan kawan-kawan di Grampian, insiden penyakit
ginjal stadium terminal berkisar 130 dari 1000.000 orang per tahun.
3. Etiologi
Pada gagal ginjal akut, fungsi ginjal hilang secara cepat. Daftar dari
penyebab-penyebab seringkali dikategorikan berdasarkan di mana
kerusakan telah terjadi (Guyton & Hall, p. 515).
a. Faktor prerenal
Faktor ini adalah disebabkan oleh pengaliran darah ke ginjal yang
berkurang. Contoh-contoh dari penyebab prerenal adalah
hipovolemia yang disebabkan oleh kehilangan darah, dehidrasi
dari kehilangan cairan tubuh akibat muntah, diare, berkeringat, dan
demam, konsumsi cairan yang sedikit sekali, konsumsi obat seperti
diuretik (water pills) yang mungkin menyebabkan kehilangan air
yang berlebihan serta obstruksi pengaliran darah ke ginjal yang
b. Faktor renal
Faktor renal merupakan kerusakan secara langsung pada ginjal
sendiri. Ini termasuk sepsis yang memicu kepada peradangan pada
ginjal dimana fungsi ginjal menjadi tidak adekuat. Ini adalah
disebabkan oleh pengambilan obat-obatan yang mengakibatakan
keracunan pada ginjal. Antara obatnya adalah obat anti peradangan
nonsteroid seperti ibuprofen dan naproxen serta yang lain-lain
adalah antibiotiK seperti aminoglycosides
[gentamisin(Garamycin),tobramycin], lithium (Eskalith, Lithobid),
obat-obatan yang mengandung iodine seperti yang disuntikan untuk
studi radiologi dengan dye (zat pewarna). Selain itu
Rhabdomyolysis adalah salah satu faktor renal yang menyebabkan
gagal ginjal akut. Ini adalah suatu situasi dimana terjadi penguraian
otot yang disignifikasi dalam tubuh, dan produk-produk degenerasi
dari serat otot menyumbat pada sistem penyaringan di ginjal.
Ini sering terjadi karena trauma dan luka. Glomerulonefritis
akut atau peradangan glomeruli ginjal merupakan satu faktor gagal
ginjal. Antara penyakit dapat menyebabkan peradangan ini adalah
sistemik lupus eritematosus, Wegener's granulomatosis, dan
sindroma Goodpasture.
c. Faktor post renal
Ini disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi
pengaliran urin yaitu obstruksi dari kantung kemih atau ureter yang
urin ke luar. Ketika tekanan meningkat ia turut mengefek ginjal.
Hipertrofi prostat turut mengobstruksi uretra dan menghalang
kantung kemih dari mengosong. Batu-batu ginjal juga dapat
memicu kepada obstruksi saluran kemih (Harsh Mohan).
Gagal ginjal kronis berkembang melalui waktu berbulan-bulan
dan bertahun-tahun. Penyebab-penyebab yang paling umum dari
gagal ginjal kronis dihubungkan pada diabetes yang tidak
terkontrol, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol serta
glomerulonefritis kronik. Di antara penyebab-penyebab yang tidak
umum adalah penyakit ginjal polikistik, refluks nefropati, batu di
ginjal dan kanker prostat (Harsh Mohan).
4. Klasifikasi
The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI) of the
National Kidney Foundation (NKF) mengklasifikasikan tahap penyakit
gagal ginjal kronis kepada berikut:
a. Tahap 1: kerusakan ginjal dengan (LFG normal atau > 90
mL/min/1.73 m
b. Tahap 2: penurunan ringan pada (LFG: 60-89 mL/min/1.73 m
c. Tahap 3: penurunan sedang pada (LFG: 30-59 mL/min/1.73 m
d. Tahap 4: penurunan berat di (LFG: 15-29 mL/min/1.73 m
5. Patofisiologi
Gambaran umum perjalanan gagal ginjal dapat diperoleh dengan
melihat hubungan antara bersihan kreatinin dan kecepatan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG) sebagai persentase dari keadaan normal, terhadap
kreatinin serum dan kadar blood urea nitrogen (BUN) dengan rusaknya
massa nefron secara progresif oleh penyakit ginjal kronik.
Perjalanan umum gagal ginjal dapat dibagi menjadi empat stadium.
Stadium ringan dinamakan penurunan cadangan ginjal. Selama stadium
ini kreatinin serum dan kadar BUN adalah normal dan penderita
asimptomatik. Dalam stadium sedang berlaku insufisiensi ginjal, dimana
lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. Pada tahap ini,
kadar BUN mulai meningkat diatas batas normal. Peningkatan
konsentrasi BUN ini berbeda-beda karena tergantung dari kadar protein
dalam diet. Pada stadium ini, kadar kreatinin serum juga mulai
meningkat melebihi kadar normal. Azotemia biasanya ringan, kecuali
bila penderita misalnya mengalami stress akibat infeksi, gagal jantung,
atau dehidrasi.
Pada stadium insufisiensi ginjal ini gejala-gejala nokturia dan
poliuria mulai timbul. Stadium berat dan stadium terminal gagal ginjal
kronik disebut gagal ginjal stadium akhir atau uremia. Gagal ginjal
stadium akhir timbul apabila sekitar 90% dari massa nefron telah hancur,
atau hanya sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh. Nilai LFG
hanya 10% dari keadaan normal, dan bersihan kreatinin mungkin sebesar
kadar BUN akan meningkat dengan mendadak sebagai respons terhadap
LFG yang mengalami sedikit penurunan. Pada stadium akhir gagal
ginjal, penderita mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah,
karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostasis cairan
dan elektrolit dalam tubuh. Urin menjadi isoosmotis dengan plasma pada
berat jenis yang tetap sebesar 1,010. Penderita biasanya menjadi
oligouria (pengeluaran kemih kurang dari 500 ml/hari) karena kegagalan
glomerulus meskipun proses penyakit mula-mula menyerang tubulus
ginjal. Kompleks perubahan biokimia dan gejala-gejala yang dinamakan
sindrom uremik mempengaruhi setiap sistem dalam tubuh. Pada stadium
akhir gagal ginjal, penderita pasti akan meninggal kecuali kalau ia
mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialysis
(Smeltzer & Bare 2015, p. 1448).
6. Gambaran Klinis dan Diagnosis
Manifestasi klinis pada pasien gagal ginjal banyak terdapat pada
seluruh sistem organ tersebut. Hal ini disebabkan karena organ ginjal
memegang peranan yang penting dalam tubuh yaitu sebagai organ yang
mengekskresikan seluruh sisa-sisa hasil metabolisme. Secara umum
pasien tersebut akan mengalami kelelahan dan kegagalan pertumbuhan.
Pada inspeksi ditemukan kulit pucat, mudah lecet, dan rapuh. Sedangkan
pada mata ditemukan gejala mata merah dan pada pemeriksaan
Gejala sistemik yang dapat ditemukan antara lain hipertensi,
penyakit vaskuler, hiperventilasi, asidosis, anemia, defisiensi imun,
nokturia, poliuria, haus, proteinuria, dan gangguan berbagai organ
lainnya. Bahkan pada penderita stadium lanjut terdapat gangguan fungsi
seksual seperti penurunan libido, impoten, amenore, infertilitas,
ginekomastia, galaktore. Tulang dan persendian juga dapat terjadi
gangguan seperti adanya rakhitis akibat defisiensi vitamin D dan juga
gout serta pseudogout. Letargi, tremor, malaise, mengantuk, anoreksia,
myoklonus, kejang, dan koma merupakan manifestasi klinis pada sistem
syaraf.
Diagnosis gagal ginjal dapat ditegakkan melalui anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang menunjukkan adanya gejala-gejala sistemik
seperti gangguan pada sistem gastrointestinal, kulit, hematologi, saraf
dan otot, endokrin, dan sistem lainnya. Pada anamnesis diperlukan data
tentang riwayat penyakit pasien, dan juga data yang menunjukkan
penurunan faal ginjal yang bertahap.
Etiologi memegang peranan penting dalam memperkirakan
perjalanan klinis gagal ginjal kronik dan terhadap penanggulangannya.
Dalam anamnesis dan pemeriksaan penunjang perlu dicari faktor-faktor
yang memperburuk keadaan gagal ginjal kronik yang dapat diperbaiki
seperti infeksi traktus urinarius, obstruksi traktus urinarius, gangguan
perfusi dan aliran darah ginjal, gangguan elektrolit, pemakaian obat
nefrotoksik termasuk bahan kimia dan obat tradisional. Pemeriksaan
pemeriksaan laboratorium, EKG, USG, foto polos abdomen,
pemeriksaan pyelografi, pemeriksaan foto thorax, dan pemeriksaan
radiologi tulang.
Pemeriksaan darah yang mengukur kadar kreatinin dan BUN dalam
darah diperlukan untuk menegakkan diagnosa gagal ginjal dengan tepat.
Peningkatan kadar kreatinin setiap hari secara progressif merupakan
indikasi gagal ginjal akut. Kadar kreatinin juga merupakan indikator
yang baik untuk menentukan keparahan kerusakan ginjal; semakin tinggi
kadar kreatinin semakin parah kerusakan ginjal (Smeltzer & Bare 2015,
p. 1449).
7. Pemeriksaan Penunjang Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)
Dalam rangka mendapatkan diagnosis yang tepat pada penyakit
ginjal sudah tentu diperlukan kelengkapan data-data yang saling
mendukung satu dengan lainnya. Untuk itu diperlukan pemeriksaan
penunjang yang tepat dan terarah sehingga diagnosis penyakit ginjal
yang tepat dapat dipenuhi. Pada pelaksanaan sehari-hari ada lima bentuk
pemeriksaan penunjang untuk menilai fungsi struktur ginjal, yaitu
pemeriksaan serologi, pemeriksaan radiologi, biopsi ginjal, pemeriksaan
dipstick terhadap urin, perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang
ditentukan dengan memeriksa bersihan dari bahan-bahan yang
diekskresikan oleh filtrasi glomerulus (Potter & Perry 1006, p. 1693).
Pada penyakit gagal ginjal kronik, pemeriksaan penunjang yang
dengan pemeriksaan perhitungan laju filtrasi glomerulus. Dalam
pemeriksaan perhitungan laju filtrasi glomerulus terdapat beberapa
komponen yang harus diperhatikan seperti umur, berat badan, jenis
kelamin, dan kreatinin serum. Hal ini berdasarkan formula
Cockcroft-Gault yaitu:
Constant untuk laki-laki : 1,23 manakala untuk perempuan : 1,04
a. Ureum
Gugusan amino dicopot dari asam amino bila asam itu didaur
ulang menjadi sebagian dari protein lain atau dirombak dan
akhirnya dikeluarkan dari tubuh. Amino transferase (transaminase)
yang ada diberbagai jaringan mengkatalis pertukaran gugusan
amino antara senyawa-senyawa yang ikut serta dalam reaksireaksi
sintesis. Selain itu, deaminasi oksidatif memisahkan gugusan amino
dari molekul aslinya dan gugusan yang dilepaskan itu diubah
menjadi amoniak. Amoniak dihantar ke hati dan disana ia berubah
menjadi ureum melalui reaksi-reaksi bersambung. Ureum adalah
satu molekul kecil yang mudah mendifusi ke dalam cairan ekstrasel,
tetapi pada akhirnya ia dipekatkan dalam urin dan diekskresi. Jika
keseimbangan nitrogen dalam keadaan mantap, ekskresi ureum
kira-kira 25 gr setiap hari (Guyton & Hall 2005, p. 520).
Kadar ureum dalam serum mencerminkan keseimbangan antara
produksi dan ekskresi. Metode penetapan adalah dengan mengukur
nitrogen, di Amerika Serikat hasil penetapan disebut sebagai
nitrogen ureum dalam darah (Blood Urea Nitrogen, BUN). Dalam
serum normal konsentrasi BUN adalah 8-25 mg/dl. Nitrogen
menyusun 28/60 bagian dari berat ureum, karena itu konsentrasi
ureum dapat dihitung dari BUN dengan menggunakan faktor
perkalian 2,14 (Guyton & Hall 2005, p. 520).
Penetapan ureum tidak banyak diganggu oleh artefak. Pada pria
mempunyai kadar rata-rata ureum yang sedikit lebih tinggi dari
wanita karena tubuh pria memiliki lean body mass yang lebih besar.
Nilai BUN mungkin agak meningkat kalau seseorang secara
berkepanjangan makan pangan yang mengandung banyak protein,
tetapi pangan yang baru saja disantap tidak berpengaruh kepada
nilai ureum pada saat manapun. Jarang sekali ada kondisi yang
menyebabkan kadar BUN dibawah normal. Membesarnya volume
plasma yang paling sering menjadi sebab.
Kerusakan hati harus berat sekali sebelum terjadi BUN karena
sintesis melemah. Konsentrasi BUN juga dapat digunakan sebagai
petunjuk LFG. Bila seseorang menderita penyakit ginjal kronik
maka LFG menurun, kadar BUN dan kreatinin meningkat. Keadaan
ini dikenal sebagai azotemia (zat nitrogen dalam darah). Kadar
kreatinin merupakan indeks LFG yang lebih cermat dibandingkan
BUN. Hal ini terutama karena BUN dipengaruhi oleh jumlah
protein dalam diet dan katabolisme protein tubuh (LabTechnologist,
b. Kreatinin
Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin.
Kreatinin disintesis oleh hati, terdapat hampir semuanya dalam otot
rangka; disana ia terikat secara reversibel kepada fosfat dalam
bentuk fosfokreatin, yakni senyawa penyimpan energi. Reaksi
keratin + fosfat ↔ fosfokreatin bersifat reversibel pada waktu
energi dilepas atau diikat. Akan tetapi sebagian kecil dari kreatin itu
secara irreversibel berubah menjadi kreatin yang tidak mempunyai
fungsi sebagai zat berguna dan adanya dalam darah beredar
hanyalah untuk diangkut ke ginjal. Nilai normal untuk pria adalah
0,5 – 1,2 mg/dl dan untuk wanita 0,5 – 1 mg/dl serum. Nilai
kreatinin pada pria lebih tinggi karena jumlah massa otot pria lebih
besar dibandingkan jumlah massa otot wanita.
Banyaknya kreatinin yang disusun selama sehari hampir tidak
berubah kecuali kalau banyak jaringan otot sekaligus rusak oleh
trauma atau oleh suatu penyakit. Ginjal dapat mengekskresi
kreatinin tanpa kesulitan. Berkurang aliran darah dan urin tidak
banyak mengubah ekskresi kreatinin, karena perubahan singkat
dalam pengaliran darah dan fungsi glomerulus dapat diimbangi oleh
meningkatnya ekskresi kreatinin oleh tubuli. Kadar kreatinin dalam
darah dan ekskresi kreatinin melalui urin per 24 jam menunjukkan
variasi amat kecil, pengukuran ekskresi kreatinin dalam urin 24 jam
urin 24 jam dilakukan dengan cara benar (Guyton & Hall 2005, p.
518).
Kreatinin dalam darah meningkat apabila fungsi ginjal
berkurang. Jika pengurangan fungsi ginjal terjadi secara lambat dan
disamping itu massa otot juga menyusun secara perlahan, maka ada
kemungkinan kadar kreatinin dalam serum tetap sama, meskipun
ekskresi per 24 jam kurang dari normal. Ini bisa didapat pada pasien
berusia lanjut kadar BUN yang meningkat berdampingan dengan
kadar kreatinin yang normal biasanya menjadi petunjuk ke arah
sebab ureumnya tidak normal. Ureum dalam darah cepat meninggi
daripada kreatinin bila fungsi ginjal menurun; pada dialisis kadar
ureum lebih dulu turun dari kreatinin. Jika kerusakan ginjal berat
dan permanen, kadar ureum terus-menerus meningkat, sedangkan
kadar kreatinin cenderung mendatar. Kalau kreatinin dalam darah
sangat meningkat, terjadi ekskresi melalui saluran cerna (Guyton &
Hall 2005, p. 520).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan plasma
kreatinin, antara lain :
1) diet tinggi kreatinin dari daging atau suplemen kaya kreatinin
2) menurunnya sekresi kreatinin akibat kompetisi dengan asam
keton, anion organik (pada uremia), atau obat (simetidin, sulfa)
Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Oleh
karena itu kreatinin dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator
urea darah (BUN). Sedikit peningkatan kadar BUN dapat
menandakan terjadinya hipovolemia (kekurangan volume cairan);
namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl dapat menjadi indikasi
kerusakan ginjal. Kreatinin serum sangat berguna untuk
mengevaluasi fungsi glomerulus.
Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan kadar
kreatinin adalah : gagal ginjal akut dan kronis, nekrosis tubular
akut, glomerulonefritis, nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia,
pre-eklampsia, hipertensi esensial, dehidrasi, penurunan aliran darah
ke ginjal (syok berkepanjangan, gagal jantung kongestif),
rhabdomiolisis, lupus nefritis, kanker (usus, kandung kemih, testis,
uterus, prostat), leukemia, penyakit Hodgkin, diet tinggi protein.
Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin adalah :
Amfoterisin B, sefalosporin (sefazolin, sefalotin), aminoglikosid
(gentamisin), kanamisin, metisilin, simetidin, asam askorbat, obat
kemoterapi sisplatin, trimetoprim, barbiturat, litium karbonat,
mitramisin, metildopa, triamteren. Penurunan kadar kreatinin dapat
dijumpai pada : distrofi otot (tahap akhir), myasthenia gravis.
Untuk menilai fungsi ginjal, permintaan pemeriksaan kreatinin
dan BUN hampir selalu disatukan (dengan darah yang sama). Kadar
kreatinin dan BUN sering diperbandingkan. Rasio BUN/kreatinin
biasanya berada pada kisaran 12-20. Jika kadar BUN meningkat dan
kreatinin serum tetap normal, kemungkinan terjadi uremia non-renal
ginjal (peningkatan BUN lebih pesat daripada kreatinin). Pada
dialisis atau transplantasi ginjal yang berhasil, urea turun lebih cepat
daripada kreatinin. Pada gangguan ginjal jangka panjang yang
parah, kadar urea terus meningkat, sedangkan kadar kreatinin
cenderung mendatar, mungkin akibat akskresi melalui saluran
cerna.
Rasio BUN/kreatinin rendah (<12)>20) dengan kreatinin
normal dijumpai pada uremia prarenal, diet tinggi protein,
perdarahan saluran cerna, keadaan katabolik. Rasio BUN/kreatinin
tinggi (>20) dengan kreatinin tinggi dijumpai pada azotemia
prarenal dengan penyakit ginjal, gagal ginjal, azotemia pascarenal.
C. Hemodialisis
1. Pengertian Hemodialisis
Dialisis adalah proses pembuangan limbah metabolik dan kelebihan
cairan dari tubuh. Ada 2 metode dialisa, yaitu hemodialisis dan dialisis.
Hemodialisis berasal dari kata hemo = darah, dan dialisis = pemisahan
atau filtrasi. Pada prinsipnya hemodialisis menempatkan darah
berdampingan dengan cairan dialisat atau pencuci yang dipisahkan oleh
suatu membran atau selaput semi permeabel. Membran ini dapat dilalui
oleh air dan zat tertentu atau zat sampah. Proses ini disebut dialisis yaitu
proses berpindahnya air atau zat, bahan melalui membran semi
Terapi hemodialisis adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi
pengganti untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu
dari peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen,
urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semi
permeabel sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan
dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultra filtrasi ( Smeltzer & Bare
2015, p. 1397).
2. Tujuan Hemodialisis
Hemodialisis mempunyai tujuan, antara tujuannya adalah untuk
membuang produk metabolisme protein yaitu urea, kreatinin dan asam
urat, membuang air yang berlebihan dalam tubuh, memperbaiki dan
mempertahankan sistem buffer dan kadar elektrolit tubuh dan juga
memperbaiki status kesehatan penderita (Johnson 2005, p. 335).
3. Alasan Melakukan Dialysis
Dialisis dilakukan jika gagal ginjal menyebabkan kelainan fungsi
otak (ensefalopati uremik), perikarditis (peradangan kantong jantung),
asidosis (peningkatan keasaman darah) yang tidak memberikan respon
terhadap pengobatan lainnya, gagal jantung serta hiperkalemia (kadar
kalium yang sangat tinggi dalam darah) ( Smeltzer & Bare 2015, p.
1398).
4. Proses Hemodialisis
Dalam kegiatan hemodialisis terjadi 3 proses utama, yaitu proses
bahan terlarut akan berpindah ke dialisat karena perbedaan kadar di
dalam darah dan di dalam dialisat. Semakian tinggi perbedaan kadar
dalam darah maka semakin banyak bahan yang dipindahkan ke dalam
dialisat. Proses ultrafiltrasi adalah proses berpindahnya air dan bahan
terlarut karena perbedaan tekanan hidrostatis dalam darah dan dialisat.
Proses osmosis merupakan proses berpindahnya air karena tenaga kimia,
yaitu perbedaan osmolaritas darah dan dialisis ( Smeltzer & Bare 2015,
p. 1399).
5. Frekuensi Hemodialisis
Frekuensi, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa,
tetapi sebagian besar penderita menjalani dialisis sebanyak 3
kali/minggu. Program dialysis dikatakan berhasil jika penderita kembali
menjalani hidup normal, penderita kembali menjalani diet yang normal,
jumlah sel darah merah dapat ditoleransi, tekanan darah normal dan
tidak terdapat kerusakan saraf yang progresif ( Smeltzer & Bare 2015, p.
1401).
Dialisis bisa digunakan sebagai terapi jangka panjang untuk gagal
ginjal kronis atau sebagai terapi sementara sebelum penderita menjalani
transplantasi ginjal. Pada gagal ginjal akut, dialisis dilakukan hanya
selama beberapa hari atau beberapa minggu, sampai fungsi ginjal
6. Pengaruh Hemodialisis Pada Ureum Dan Kreatinin
Berdasarkan beberapa parameter yang sering digunakan sebagai
patokan untuk dilakukan hemodialisis adalah kadar ureum ≥ 20 mg/dL,
kadar kreatinin ≥ 8 mg/dL atau kalium ≥ 7 meq /dL. Kadar ureum dalam
darah cepat meninggi daripada kreatinin bila fungsi ginjal menurun.
Pada dialisis kadar ureum lebih dulu menurun berbanding kreatinin. Jika
terjadi kerusakan ginjal berat dan permanen, kadar ureum akan terus
meningkat sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar.
D. Panduan Latihan Fisik Intra Dialisis
Menurut panduan prosedur latihan fisik untuk pasien yang menjalani
Hemodialisa (Susanti 2011, p. 3-9):
1. Pemanasan (10 menit)
a. Peregangan otot leher
1) Pandangan lurus ke depan kemudian dekatkan telinga kanan
ke bahu, tahan selama 8 hitungan perlahan kembali ke posisi
semula, lakukan pada posisi sebaliknya.
2) Fleksikan kepala sampai meraih dada selama 8 hitungan.
Gambar 2.1
Gerakan Peregangan Otot Leher
b. Melakukan peregangan otot lengan
1) Duduk atau berdiri tegak, luruskan tangan ke depan setinggi
bahu, regangkan seluruh jari lalu buat kepalan tangan dan
lepaskan. Lakukan sebanyak 8 hitungan.
Gambar 2.2
2) Berdiri atau duduk tegak letakkan lengan di atas kepala lalu
perlahan miring ke kanan atau kiri selama 8 hitungan.
Gambar 2.3
Gerakan Peregangan Otot Lengan
3) Berdiri atau duduk tegak letakkan tangan di bahu dengan siku
diluar, buat lingkaran 8 kali pengulangan, lalu dekatkan siku ke
dada kemudian buka kembali sebanyak 8 kali pengulangan.
Gambar 2.4
c. Melakukan peregangan otot kaki
1) Duduk tegak, lekukkan badan, raih lutut dan tarik kearah dada,
cobalah menyentuhkan dahi ke lutut, lakukan semampunya dan
tahan selama 8 hitungan.
Gambar 2.5
Gerakan Peregangan Otot Kaki
2) Duduk tegak dengan kaki kearah lantai, berpegangan pada
kedua sisi, perlahan angkat kaki kanan lurus ke depan lalu ke
belakang. Lakukan hal yang sama pada sisi kaki lainnya.
Gambar 2.6
2. Latihan Inti (15 menit)
a. Untuk ekstremitas atas (tangan)
1) Posisi Duduk
a) Angkat barbel setinggi kepala lalu gerakkan ke atas lengan
dengan lurus lalu turunkan perlahan-lahan, lakukan 8 kali
pengulangan.
b) Angkat barbel sejajar bahu lalu gerakkan kearah pinggang
8 kali pengulangan
c) Angkat barbel sejajar dengan bahu lalu gerakkan kearah
kepala dengan melipat siku 8 kali pengulangan
d) Angkat barbel setinggi kepala lalu gerakkan ke belakang 8
kali pengulangan
e) Angkat barbel setinggi perut lalu gerakkan ke arah bahu 8
kali pengulangan.
Gambar 2.7
b. Untuk Ekstremitas bawah (kaki)
1) Posisi Tidur
a) Rapatkan kedua kaki lalau angkat perlahan sampai batas
maksimal yang bisa dilakukan tahan selama 8 hitungan.
b) Tekukkan kedua kaki, gerakkan perlahan kearah perut 8 kali
pengulangan
c) Tekuk kaki gerakkan seperti mengayuh sepeda, lakukan selama 8
kali pengulangan
d) Ikatkan ankle cuffis (kantong pasir) pada betis(bila ada) angkat
perlahan sejajar dengan tubuh, gerakkan bergantian untuk kaki kiri
dan kanan sebanyak 8 kali,terakhir tahan selama 8 hitungan.
e) Kedua kaki yang terpasang kantung pasir angkat sejajar dengan
tubuh secara bersamaan sebanyak 8 kali,terakhir tahan selama 8
hitungan
f) Buat sudut 90o, lalu gerakkan kearah dada sebanyak 8 kali
hitungan dan tahan selama 8 hitungan pada kaki kiri,selanjutnya
hal yang sama pada kaki kanan.
Gambar 2.8
3. Pendinginan (10 menit)
Tarik nafas lewat hidung maksimal sambil memutar lengan melewati
kepala lalu hembuskan perlahan melalui mulut. Lakukan sebanyak 8 kali
pengulangan.
4. Perubahan Kadar Kreatinin Setelah Latihan Fisik
Aktivitas (latihan fisik) yang dilakukan berulang-ulang akan
menyebabkan persedian ATP dalam otot menjadi berkurang. ATP adalah
simpanan energi didalam otot yang siap digunakan untuk latihan fisik.
Namun, simpanan ATP tidak bertahan lama, karena jumlah ATP yang
tersedia di dalam otot sangat terbatas. ATP yang tersedia didalam otot
hanya dapat melakukan aktivitas maksimal selam 20-30 detik saja.
Apabila ATP di dalam otoy berkurang selam melakukan aktivitas,
maka perlu adanya resintesa ATP kembali untuk melakukan aktivitas
berikutnya. sistem penyediaan energi pertama yang digunakan ATP yang
telah digunakan untuk aktivitas adalah sistem ATP-PC. Sistem ATP-PC
adalah bentuk penyediaan energi yang paling cepat dibandingkan dengan
sistem penyediaan energi lainnya. Namun sistem ATP-PC ini tidak
bertahan lama, karena jumlah PC (Phosphokreatin/creatine phosphate)
yang tersedia di dalam otot sangat terbatas, yaitu kira-kira 4 kali
banyaknya ATP di dalam otot.
Fosfokreatin dan ATP sama-sama disimpan di dalam sel otot, karena
ATP dan PC terdiri atas kelompok fosfat, maka mereka secara
bersama-sama disebut sebagai sistem fosfagen. Kebersama-samaan antara ATP dan PC
dikeluarkan. Hasil akhir dari pemecahan PC ini adalah Kreratin ( C=
creatin) dan fosfat inorganic (pi). Energi ini dipergunakan untuk resisten
ATP. ATP dipecahkan pada saat kontraksi otot berlangsung, kemudian
dibentuk kembali dari ADP + Pi oleh adanya energi yang berasal dari
pemecahan simpanan PC.
Fosfat kreatin adalah suatu xat seperti ATP berisi fosfat energi tinggi.
Tidak seperti ATP, fosfat kreatin tidak dapat digunakan secara langsung
untuk menggerakkan kontraksi otot, tetapi fosfat kreatin digunakan untuk
memperbaharui ATP, seperti dalam gambar dibawah ini.
Gambar 2.9
Fosfat Kreatin (FK), (Pate, Rusell R, 1994, Widiyanto, 2005)
Creatine Kinase
CP C + Pi+ energi (13000 Kalori)
Energi dan gugusan fosfat digunakan kembali untuk membentuk ATP dari ADP
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang
diberikan dan memberi landasan yang kuat terhadap judul yang dipilih sesuai
dengan identifikasi masalah (Notoatmodjo 2008, p.56). Rancangan penelitian
yang akan dilaksanakan oleh peneliti adalah quasi eksperimen dengan
pendekatan two group pretest –post test with control. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui efektivitas latihan fisik intra dialisis dengan penurunan
kadar kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di Ruangan
Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016.
Skema 3.1 Kerangka Konsep
B. Defenisi Operasional
Defenisi operasional adalah mendefenisikan variabel secara operasioanal
berdasarkan karakteristtik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti
Kadar Kreatinin latihan fisik
intra dialisis Kadar kreatinin
Kadar Kreatinin Hd tdk latihan Kadar Kreatinin
fisik
untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu
objek dan fenomena (Nursalam 2008, p.100).
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran
yang dimilki atau didapat oleh satuan penelitian tentang suatu konsep
pengertian tertentu (Nursalam 2008, p. 97).
C. Hipotesa
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah:
Ha : Efektifitas Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada
Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab
pertanyaan penelitian dan mengidentifikasi kesulitan yang mungkin timbul
selama proses penelitian (Nursalam 2008, p. 85). Penelitian ini menggunakan
rancangan penelitian metode quasi eksperimen yang bertujuan untuk
mengetahui efektivitas latihan fisik intra dialisis dengan penurunan kadar dan
kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi tahun 2016. Pendekatan desain penelitian dengan two
group pretest-post test with control. Uji statistik yang digunakan pada
penelitian ini adalah uji T (T-test) yaitu uji beda dua mean independen
dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% dengan α 5% dengan syarat apabila
data yang berdistribusi normal, kedua kelompok yang sama (dependen).
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Januari 2016 di Ruangan
Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi menurut Nursalam (2008, p. 90) adalah keseluruhan objek
penelitian atau objek yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di
Ruangan Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dengan
jumlah 857 orang dengan rata-rata jumlah pasien perbulan 71 orang
(Data RSAM, 2015).
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti
(Nursalam, 2008). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 18 orang.
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental
sampling, yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada siapa saja
populasi yang memenuhi kriteria yang ada pada saat dilakukan
penelitian (Notoatmodjo, 2010).
Kriteria Inklusi:
a. Pasien dengan gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa
b. Usia 25-55 tahun
c. Pasien kooperatif
d. Pasien yang AV shunt /cimino yang bagus
e. Pasien yang pakai cateter doubel lumen (CDL)
Kriteria Ekslusi:
a. Pasien hipertensi (>180/100 Mmhg)
b. Pasien dengan akses dialisis di femoralis
c. Tidak bersedia menjadi responden
D. Pengumpulan Data
1. Prosedur Pengumpulan Data
a. Peneliti meminta izin penelitian ke RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi dan Ruangan Hemodialisa.
b. Setelah peneliti mendapatkan persetujuan penelitian, peneliti
menemui orang tua calon responden dan memberikan inform
concent.
c. Selanjutnya peneliti melakukan pengukuran kadar kreatinin
sebelum latihan fisik intra dialisis.
d. Peneliti melakukan perlakuan latihan fisik intra dialisis
e. Setelah diberikan perlakuan, peneliti mengukur kembali kadar
kreatinin sebelum latihan fisik intra dialisis.
f. Selanjutnya peneliti pengolah data hasil penelitian dengan
menggunakan uji statistik T (T-test) dependen two group pre
test-post test with control menggunakan uji statistik t-test independen.
E. Prosedur Penelitian
Sebelum dilakukan intervensi peneliti mengukur tekanan darah calon
melakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar kreatinin.
Selanjutnya peneliti menjelaskan cara latihan fisik intra dialysis. Setelah
1 jam dimulai dialysis responden mulai melakukan pemeriksaan laboratorium
untuk pengukuran kadar kreatinin darah responden.
F. Cara Pengolahan Data dan Analisa Data
1. Cara Pengolahan Data
Sebelum data dianalisa terlebih dahulu dilakukan pengolahan data
dengan cara sebagai berikut :
a. Editing
Editing merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan lembar
observasi atau formulir.
b. Coding
Coding merupakan kegiatan merubah data dalam bentuk huruf
menjadi angka.
c. Entry
Setelah lembar observasi terisi penuh dan benar, data diproses
dengan memasukkan data dari lembar observasi ke paket komputer
yaitu dengan program komputerisasi.
d. Cleaning
Pembersihan data merupakan kegiatan pengecekan kembali data
yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak, apakah
e. Processing
Kemudian selanjutnya data diproses dengan mengelompokkan data
ke dalam variabel yang sesuai dengan menggunakan program
komputerisasi.
2. Analisa Data
a. Analisa Univariat
Analisa ini menggambarkan distribusi frekuensi dari
masing-masing variabel yang diteliti. Variabel independen yang diteliti
yaitu latihan fisik intra dialisis dan variabel dependen yaitu kadar
kreatinin.
b. Analisis Bivariat
Pada penelitian ini digunakan analisis bivariat uji Beda Dua
Mean (t-test dependen). Tujuan pengujian ini adalah untuk
mengetahui perbedaan mean kadar kreatinin sebelum dan sesudah
latihan fisik intra dialisis.
Kriteria pengujian adalah bila p value derajat kepercayaan
95% atau α = 0,05. Jika nilai p value ≤ α (alpha), maka pengaruh
tersebut secara statistik ada pengaruh bermakna, tetapi jika p value >
α (alpha), maka secara statistik tidak signifikan atau tidak ada
pengaruh yang bermakna. Semua data pengolahan dilakukan dengan
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi merupakan salah satu Rumah
Sakit pendidikan tipe B yang ada di Sumatera Barat, yang terletak di pusat
Kota Bukittinggi yang merupakan Rumah Sakit Pemerintah Daerah Tk. I
yang berada di daerah Kotamadya TK. II dengan fasilitas cukup memadai
yang dapat melayani rujukan dari 7 daerah Tk. II di Sumatera Barat Bagian
Utara dan daerah-daerah perbatasan seperti Propinsi Riau, Propinsi Jambi
dan Sumatera Utara bagian Selatan.
RSUD. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi terletak diatas tanah seluas ±
40.000 m² berlokasi di Jln. Dr. A.Rivai-Bukittinggi. Adapun batas- batas
administratif RSUD. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi adalah sebagai
berikut:
1. Sebelah Utara : Komplek Perumahan Pemerintah Daerah
Bukittinggi
2. Sebelah Selatan : Jl.Dr.A.Rivai Bukittinggi
3. Sebelah Barat : Gelanggang Olah Raga Kota Bukittinggi
4. Sebelah Timur : Jalan Kesehatan
Penelitian ini dilakukan terhadap 18 orang sampel yang dibagi menjadi 2
kelompok yaitu kelompok yang dilakukan latihan fisik dan kelompok yang
tidak diberikan latihan fisik.
B. Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal yang
menjalani hemodialisis di Ruangan Hemodialisa RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi, yang terdiri dari 18 orang responden. Responden dalam
penelitian ini dikarakteristikkan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan
frekuensi hemodialisis.
Karakteristik responden dapat dilihat selengkapnya pada tabel 5.1
berikut:
Tabel 5.1
Karakteristik Responden
Karakteristik Responden Frekuensi %
Jenis kelamin
Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa karakteristik responden
berdasarkan jenis kelamin pada penelitian ini terbanyak adalah laki – laki
dengan jumlah 11 orang (61,11%). Menurut umur, mayoritas dari responden
berada pada rentang 41-50 tahun yaitu sebanyak 11 orang (61,11%).
Sedangkan berdasarkan frekuensi Hemodialisis semua responden
C. Hasil Penelitian
1. Analisa Univariat
a. Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada
Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Tabel 5.2
Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Kadar Kreatinin n Min Max Mean SD
Sebelum hemodialisis dengan latihan fisik
9 10,20 19,20 16,53 2,76
Berdasarkan tabel 5.2 terlihat rata-rata kadar kreatinin dari 9
orang sampel sebelum menjalani HD dengan latihan fisik Intra
Dialisis yaitu 16,53 dengan standar deviasi 2,76. Kadar Kreatinin
terendah adalah 10,20 dan yang tertinggi adalah 19,20.
b. Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada
Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Tabel 5.3
Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Kadar Kreatinin n Min Max Mean SD
Sesudah hemodialisis dengan latihan fisik
9 1,90 3,50 2,86 0,58
Berdasarkan tabel 5.3 terlihat rata-rata kadar kreatinin sesudah
9 orang sampel dengan standar deviasi 0,58. Kadar Kreatinin
terendah adalah 1,90 dan yang tertinggi adalah 3,50.
c. Rata-rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada
Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Tabel 5.4
Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Kadar Kreatinin n Min Max Mean SD
Dialisis yaitu 16,63 dengan standar deviasi 3,54. Kadar Kreatinin
terendah adalah 12,10 dan yang tertinggi adalah 22,30.
d. Rata-rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada
Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Tabel 5.5
Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Kadar Kreatinin n Min Max Mean SD
Sesudah hemodialisis tanpa latihan fisik
Berdasarkan tabel 5.5 terlihat rata-rata kadar kreatinin sesudah
menjalani HD tanpa latihan fisik Intra Dialisis yaitu dari 7,16 dari 9
orang sampel dengan standar deviasi 0,66. Kadar Kreatinin terendah
adalah 6,10 dan yang tertinggi adalah 8.
2. Analisa Bivariat
a. Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra
Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa
Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Tabel 5.6
Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa
Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Berdasarkan tabel 5.6 diketahui rata-rata kadar kreatinin
dengan latihan fisik intra dialisis adalah 13,68 dengan standar
deviasi 2,83. Terlihat bahwa terdapat perbedaan kadar kreatinin
pasien sebelum dan sesudah menjalani HD dengan latihan fisik Intra
Dialisis terlebih dahulu dengan nilai t hitung = 14,48 dan nilai
p value = 0,000 sehingga Ho ditolak yang berarti terdapat perbedaan
kadar kreatinin dengan latihan fisik Intra Dialisis sebelum dan
sesudah menjalani hemodialisa dengan interval penurunan kadar Kadar Kreatinin Kadar Kreatinin
kreatinin 13,68 pada pasien yang menjalani hemodialisa di Ruangan
Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016.
b. Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra
Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa
Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Tabel 5.7
Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa
Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Berdasarkan tabel 5.7 diketahui rata-rata kadar Kreatinin
adalah 9,48 dengan standar deviasi 3,30. Terlihat bahwa terdapat
perbedaan kadar Kreatinin pasien sebelum dan sesudah menjalani
hemodialisis tanpa latihan fisik Intra Dialisis terlebih dahulu dengan
nilai t hitung = 8,60 dan nilai p value = 0,000 sehingga Ho ditolak
yang berarti terdapat perbedaan kadar kreatinin sebelum dan
sesudah menjalani hemodialisa tanpa latihan fisik Intra Dialisis
dengan rata-rata kadar kreatinin = 9,48 pada pasien yang menjalani
hemodialisa di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun
2016.
Kadar Kreatinin Kadar Kreatinin t df P value Mean SD SE 95% CI
Lower Upper
sebelum - sesudah hemodialisis tanpa latihan fisik