• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS LATIHAN FISIK INTRA DIALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EFEKTIVITAS LATIHAN FISIK INTRA DIALISIS"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS LATIHAN FISIK INTRA DIALISIS

TERHADAP KADAR KREATININ PADA PASIEN

YANG MENJALANI HEMODIALISA DI

RSUD DR. ACHMAD MOCHTAR

BUKITTINGGI TAHUN 2016

SKRIPSI

Diajukan Sebagai

Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

OLEH:

LILIA FEBRITA

1414201082

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

(2)
(3)
(4)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FORT DE KOCK BUKITTINGGI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

Skripsi , Mei 2016

Lilia Febrita

1414201082

Efektivitas Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi

Tahun 2016

viii + 65 halaman + 9 tabel + 1 skema + 8 gambar + 7 lampiran

ABSTRAK

Pada saat melakukan hemodialisis pasien gagal ginjal sering mengalami kram otot yang disebabkan kurangnya aktifitas sehingga dapat meningkatkan kadar kreatinin. Latihan fisik intra dialisis didefenisikan sebagai kegiatan yang terencana yang dilakukan pada saat dilakukan hemodialisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas latihan fisik intra dialisis terhadap kadar kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016.

Desain penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan rancangan two group pre test-post test. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Maret 2016 terhadap seluruh pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di Ruangan Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 71 orang per bulan dengan metode pengambilan sampel yaitu dengan cara accidental sampling. Data yang terkumpul diolah dengan uji T test.

Hasil penelitian didapatkan rata-rata kadar kreatinin yaitu sebelum (16,53) dan sesudah (2,86) menjalani HD dengan latihan fisik Intra Dialisis dan Rata-rata kadar kreatinin yaitu sebelum (16,63) dan sesudah (7,16) menjalani HD tanpa latihan fisik Intra Dialisis. Terdapat efektifitas latihan fisik sebelum pemeriksaan HD pada pasien yang menjalani hemodialisa dengan dengan p value= 0,000.

Disimpulkan bahwa Latihan fisik Intra Dialisis pada pasien yang menjalani hemodialisa lebih efektif dibanding tanpa latihan fisik Intra Dialisis Pada pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016. Saran bagi RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi agar meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dengan penyedian sarana prasarana yang diperlukan untuk dapat meningkatkan manfaat latihan fisik pada pasien yang menjalani hemodialisis.

Daftar Bacaan: 21 (2005 - 2015)

(5)

FORT DE KOCK HEALTH SCIENCES COLLAGE BUKITTINGGI NURSING of SCIENCES PROGRAM

Research, May 2016

Lilia Febrita

1414201082

Effectiveness Of Physical Exercises Intra Dialysis To the Level Of Creatinin In Patients Undergoing Hemodialisis At The RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi 2016 physical exercises intra dialysis to the levels of creatinin in patients undergoing hemodialisa at the RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi 2016.

Design research is quasi experiment with the design of two group pre test – post test. This research has been conducted in March 2016 to all chronic renal failure patients undergoing hemodialisa in Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. The population in this study as many as 71 people per month with the sampling method by way of accidental sampling. The data collected is treated with test T test.

Research results didapatkanrRata average levels of creatinin (16.53) before and after (2,86) undergo physical exercises Intra HD with Dialysis and undergoing hemodialisa more effective than without Dialysis On the Intra physical exercise in patients undergoing hemodialisa at the RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi 2016. Suggestions for RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi in order to improve the quality of service of hospital with penyedian infrastructure that is required to be able to increase the benefits of physical exercise in patients undergoing hemodialysis.

Reading List: 21 (2005 - 2015)

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan kehadiran Allah SWT karena

telah memberikan nikmat kesehatan, kekuatan, pikiran yang jernih dan

keterbukaan hati sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul

“Efektivitas Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada

Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar

Bukittinggi Tahun 2016”.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah

memberikan bantuan, bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian

penulisan Skripsi ini, sebagai berikut:

1. Ibu Dr. Hj. Evi Hasnita, SPd, Ns, M.Kes, Ketua STIKes Fort De Kock

Bukittinggi.

2. Ibu Hj. Adriani, S.Kp, M. Kes selaku Ketua Prodi Ilmu Keperawatan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fort De Kock Bukittinggi

3. Ibu Direktur RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi yang telah

memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.

4. Ns. Lisavina Juwita, M. Kep, selaku pembimbing I dalam penyusunan

Skripsi ini yang telah meluangkan waktu untuk memberikan petunjuk,

nasehat, bimbingan, serta arahan kepada penulis.

5. Ns. Yelmi Reni Putri, S. Kep, MAN, selaku pembimbing II dalam

penyusunan Skripsi ini yang telah meluangkan waktu untuk memberikan

(7)

6. Bapak / Ibu Dosen beserta staf Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Fort De Kock Bukittinggi yang telah memberikan

ilmu pengetahuan, bimbingan serta nasehat selama menjalani pendidikan

7. Semua pihak yang telah membantu penulisan dan penyusunan Skripsi

yang tidak bisa disebutkan satu persatu

Dalam penyusunan Skripsi ini penulis sudah berusaha semaksimal

mungkin namun penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun demi kesempurnaan Skripsi ini. Akhir kata penulis ucapkan terima

kasih.

Bukittinggi, Juni 2016

(8)

DAFTAR ISI

BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep ... 34

B. Defenisi Operasional ... 34

C. Hipotesa ... 36

(9)

BAB VI PEMBAHASAN

A. Analisa Univariat ... 49 B. Analisa Bivariat ... 55

BAB VII PENUTUP

A. Kesimpulan ... 63 B. Saran ... 64

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 2 Informed Consent

Lampiran 3 Lembar Observasi

Lampiran 4 Surat Izin Penelitian

Lampiran 5 Master Tabel

Lampiran 6 Hasil Pengolahan Data

(11)

DAFTAR SKEMA

Skema Halaman

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Gerakan Pereganggan Otot Leher ... 27

2.2 Gerakan Pereganggan Otot Lengan... 27

2.3 Gerakan Pereganggan Otot Lengan... 28

2.4 Gerakan Pereganggan Otot Lengan... 28

2.5 Gerakan Pereganggan Otot Kaki ... 29

2.6 Gerakan Pereganggan Otot Kaki ... 29

2.7 Gerakan Latihan Inti Ekstremitas Atas (Tangan) ... 30

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Defenisi Operasional ... .... ... 34 5.1 Karakteristik Respoden ... 43 5.2 Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis

Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 ... 44 5.3 Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis

Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 ... 44 5.4 Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis

Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 ... 45 5.5 Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis

Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 ... 45 5.6 Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik

Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi

Tahun 2016 ... 46 5.7 Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik

Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi

Tahun 2016 ... 47 5.8 Efektifitas Latihan Fisik Intra Dialisis Dengan Tanpa Latihan

Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang

bersifat progresif dan irreversibel. Gangguan fungsi ginjal ini terjadi ketika

tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan

dan elektrolit sehingga menyebabkan retensi urea dan sampah nitrogen lain

dalam darah. Kerusakan ginjal ini mengakibatkan masalah pada kemampuan

dan kekuatan tubuh yang menyebabkan aktivitas kerja terganggu, tubuh jadi

mudah lelah dan lemas sehingga kualitas hidup pasien menurun (Smeltzer

dan Bare 2015, p. 1448).

Angka kejadian gagal ginjal kronik ini meningkat setiap tahunnya.

Pasien dengan GGK di seluruh dunia meningkat sejak tahun 1996. Pada

tahun 1996 jumlah penderita gagal ginjal di dunia sebanyak 1 juta orang dan

meningkat menjadi dua kali lipat pada tahun 2010 (Firman, 2010 dalam

Retno 2011).

Terapi penggantian ginjal renal replacement therapy (RRT) merupakan

salah satu terapi yang dipertimbangkan pada pasien dengan gagal ginjal

kronik (GGK) tahap akhir. Terapi penggantian ginjal dapat berupa dialysis

dan transplantasi ginjal. Salah satu tindakan dialysis adalah hemodialisa

merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit

akut dan memerlukan dialysis jangka pendek atau pasien dengan GGK yang

membutuhkan terapi jangka panjang (Smeltzer dan Bare 2015, p. 1457).

(15)

Hemodialisis pada penderita GGK akan mencegah kematian dan

memperpanjang umur harapan hidup. Namun demikian hemodialisis tidak

menyembuhkan dan memulihkan penyakit. Pasien tetap akan mengalami

banyak permasalahan dan komplikasi serta adanya berbagai perubahan pada

bentuk dan fungsi system dalam tubuh (Smeltzer dan Bare 2015, p. 1398).

Beberapa komplikasi yang sering dialami oleh pasien dengan

hemodialisis diantaranya hipotensi, emboli udara, nyeri dada, pruritus,

gangguan keseimbangan selama dialysis, mual dan muntah, kram otot yang

nyeri, dan peningkatan kadar uremik dalam darah (Smeltzer dan Bare 2015,

p. 1398).

Ginjal yang telah rusak tidak mampu mengeksresikan ureum sebagai

sampah akhir metabolisme tubuh. Substansi yang bersifat asam ini akan

menumpuk didalam tubuh dan bekerja sebagai racun dan toksin. Gejala

uremik dapat ditandai dengan peningkatan ureum di dalam darah. Salah satu

cara menurunkan kadar ureum dalam darah adalah dengan pengaturan diet

rendah protein (Guyton & Hall 2005, p. 515).

Sementara itu, kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin.

Kreatinin disintesis oleh hati, terdapat hampir semuanya dalam otot rangka,

disana ia terikat secara reversibel kepada fosfat dalam bentuk fosfokreatin,

yakni senyawa penyimpan energi. Akan tetapi sebagian kecil dari kreatinin

itu secara irreversibel berubah menjadi kreatin yang tidak mempunyai fungsi

sebagai zat berguna dan adanya dalam darah beredar hanyalah untuk

diangkut ke ginjal. Kreatinin dalam darah meningkat apabila fungsi ginjal

(16)

disamping itu massa otot juga menyusun secara perlahan (Guyton & Hall

2005, p. 519).

Kram otot pada pasien yang mengalami hemodialisis sebagai akibat dari

cairan dan elektrolit yang dengan cepat meninggalkan ruangan ekstra sel.

Selain itu pasein yang menjalani hemodialisis memiliki kekuatan otot yang

lebih lemah dibandingkan orang normal. Kelemahan ini disebabkan oleh

atrofi otot, kurang aktivitas, miopi dan neuropati otot atau kombinasi dari

beberapa faktor tersebut sebagai efek dari peningkatan kadar kreatinin di

dalam darah. Penguatan otot dapat dilakukan dengan melakukan kontrkasi

pada otot sehingga akan menimbulkan injury pada serabut otot. Injury yang

terjadi akan menyebabkan adanya respon tubuh untuk memperbaiki injury

dan pada akhirnya akan meningkatkan kekuatan otot dan berefek kepada

penurunan nilai kreatinin dalam darah (Smeltzer dan Bare 2015, p. 1398).

Penurunan kadar kreatinin darah dapat dilakukan dengan membatasi

masukan sodium, mengurangi konsumsi protein, menghindari makanan yang

mengandung fosfor ( labu, kerang, kacang-kacangan, kedelai dan susu rendah

lemak), batasi menggunakan makanan yang mengandung potassium (pisang,

bayam, dan kacang polong), dan latihan fisik. Latihan fisik intra dialisis

didefenisikan sebagai kegiatan yang terencana yang dilakukan pada saat

dilakukan hemodialisa. Latihan fisik penting dilakukan untuk meningkatkan

kesehatan tubuh (Potter dan Perry 2006, p. 1636).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Ruangan Hemodialisa

RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2015 didapatkan data jumlah

(17)

2015 sebanyak 857 orang. Dari data 15 orang pasien didapatkan rentang nilai

ureum pasien sebelum dilaksanakan hemosialisis terendah 93 mg/dl dan

tertinggi 225,3 mg/dl dan nilai kreatinin sebelum HD dengan rentang

terendah 8,1mg/dl dan tertinggi 11,7 mg/dl. Menurut Anggraini (2010) nilai

kreatinin pasien dengan gagal ginjal kronis setelah dilakukan hemodialisa

berkisar 5 md/dl – 10 mg/dl. Dari wawancara yang dilakukan kepada perawat

ruangan didapatkan data bahwa pada tahun 2014 pernah dilaksanakan latihan

fisik intra dialisis kepada pasien yang bertujuan untuk menurunkan kadar

kreatinin dalam darah. Namun kegiatan ini tidak rutin dilakukan karena

keterbatasan jumlah perawat.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meneliti

Efektivitas Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin

Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad

Mochtar Bukittinggi Tahun 2016”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditentukan rumusan masalah

penelitian bagaimanakah efektivitas latihan fisik intra dialisis terhadap kadar

kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Achmad

(18)

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui efektivitas latihan fisik intra dialisis terhadap

kadar kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr.

Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya Rata-rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra

Dialisis Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr.

Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

b. Diketahuinya Rata-rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra

Dialisis Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr.

Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

c. Diketahuinya Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra

Dialisis Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr.

Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

d. Diketahuinya Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra

Dialisis Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr.

Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

e. Diketahuinya Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan

Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah

Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi

(19)

f. Diketahuinya Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan

Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani

Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun

2016

g. Diketahuinya Efektifitas Latihan Fisik Intra Dialisis Dengan Tanpa

Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada Pasien

Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar

Bukittinggi Tahun 2016

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Agar hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai aplikasi ilmu yang

telah didapat selama perkuliahan dan sebagai bahan masukan dalam

menambah informasi, menambah ilmu dan wawasan ilmu pengetahuan.

2. Bagi Pasien yang menjalani Hemodialisis

Agar hasil penelitian ini dapat memberikan motivasi pasien yang

menjalani hemodialisis untuk melakukan latihan fisik sehingga diperoleh

hasil penurunan kadar kreatinin pada pasien gagal ginjal khususnya.

3. Bagi RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi

Agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi

rumah sakit, sehingga ke depan ada perencanaan dan tindakan atau

rancangan yang lebih baik dalam rangka untuk meningkatkan mutu

(20)

diperlukan untuk dapat meningkatkan manfaat latihan fisik pada pasien

yang menjalani hemodialisis.

4. Bagi Institusi pendidikan

Agar hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan informasi

dan bahan kepustakaan dalam pemberian Asuhan Keperawatan pada

pasien hemodialisa.

E. Ruang Lingkup

Penelitian ini membahas efektivitas latihan fisik intra dialisis terhadap

kadar kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr.

Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016. Variabel independen dalam

penelitian ini adalah latihan fisik intra dialisis dan variabel dependen dalam

penelitian ini adalah penurunan kadar kreatinin. Penelitian ini merupakan jenis

quasi eksperimen dengan teknik sampel accidental sampling. Desain

penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan rancangan two group pre

test-post test dengan kelompok intervensi dan kelompok control. Melihat

perbandingan kadar kreatinin dalam darah pada kelompok yang diberikan

perlakuan dan kelompok kontrol digunakan t-test independen. Penelitian ini

menggunakan lembar observasi sebagai alat ukur penelitian. Penelitian ini

(21)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Fisiologi Ginjal

Ginjal terletak secara retroperitoneal pada bagian posterior dinding

abdominal pada setiap sisi kolumnar vertebra diantara T12 - L3. Ginjal kanan

terletak lebih rendah sedikit berbanding ginjal kiri karena hati terletak di

bagian kanan. Arteri renal bercabang dari aorta abdominal. Arteri renal kanan

lebih panjang berbanding arteri renal kiri. Setiap arteri renal bercabang

menjadi 5 arteri segmental sehingga memasuki hilus. Dari sinus renal, arteri

segmental bercabang menjadi beberapa arteri lobar yang terdapat pada

kolumnar renal. Arteri ini bercabang lagi menjadi arkuata dan areteri

interlobular. Arteriol aferen yang bercabang daripada arteri interlobular akan

membentuk glomerulus. Manakala vena interlobular akan bergabung

membentuk vena arkuate dan seterusnya membentuk vena interlobar yang

akan bergabung menjadi vena renal yang membawa darah ke jantung via

vena kava (Potter & Perry 2006, p. 1679).

Ginjal memainkan peranan penting dalam fungsi tubuh, tidak hanya

dengan menyaring darah dan mengeluarkan produk-produk sisa, namun juga

dengan menyeimbangkan tingkat-tingkat elektrolit dalam tubuh, mengontrol

tekanan darah, dan menstimulasi produksi dari sel-sel darah merah.

Ginjal mempunyai kemampuan untuk memonitor jumlah cairan tubuh,

konsentrasi dari elektrolit-elektrolit seperti sodium dan potassium, dan

keseimbangan asam-basa dari tubuh. Ginjal menyaring produk-produk sisa

(22)

dari metabolisme tubuh, seperti urea dari metabolisme protein dan asam urat

dari uraian DNA. Dua produk sisa dalam darah yang dapat diukur adalah

blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin (Cr) (Guyton & Hall 2005, p. 520).

Ketika darah mengalir ke ginjal, sensor-sensor dalam ginjal memutuskan

berapa banyak air dikeluarkan sebagai urin, bersama dengan konsentrasi apa

dari elektrolit-elektrolit. Contohnya, jika seseorang mengalami dehidrasi dari

latihan olahraga atau dari suatu penyakit, ginjal akan menahan sebanyak

mungkin air dan urin menjadi sangat terkonsentrasi. Ketika kecukupan air

dalam tubuh, urin adalah jauh lebih encer, dan urin menjadi bening. Sistem

ini dikontrol oleh renin, suatu hormon yang diproduksi dalam ginjal yang

merupakan sebagian daripada sistem regulasi cairan dan tekanan darah tubuh

(Potter & Perry 2006. 1679).

B. Gagal Ginjal

1. Definisi

Gagal ginjal dapat terjadi dari suatu situasi akut atau dari

persoalan-persoalan kronis. Gagal ginjal akut merupakan suatu keadaan klinis yang

ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara mendadak dengan akibat

terjadinya peningkatan hasil metabolit seperti ureum dan kreatinin

(Guyton & Hall 2005, p. 512).

Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun

bersifat progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal

untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan

(23)

2. Epidemiologi

Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan sindrom klinis yang

bersifat progresif dan dapat menyebabkan kematian pada sebagian besar

kasus stadium terminal GGK. Apabila penyakit GGK seseorang telah

mencapai stadium berat atau terminal maka terapi yang dapat

meningkatkan harapan hidup penderita tersebut adalah dialisis dan yang

paling baik dengan transplantasi ginjal. Penyakit gagal ginjal kronik ini

merupakan penyakit yang diderita oleh satu dari sepuluh orang dewasa.

Sekiranya tanpa pengendalian yang tepat dan cepat, pada tahun 2015

penyakit ginjal diperkirakan bisa menyebabkan kematian hingga 36 juta

penduduk dunia (Guyton & Hall 200, p. 515).

Penyakit ginjal stadium terminal merupakan penyebab utama dari

morbiditas dan mortalitas di Amerika Serikat. Hampir satu dari 10.000

orang per tahun mengalami penyakit ginjal stadium terminal. Pada

tahun 1986 program penyakit ginjal stadium terminal dari Health Care

Financing Administration (HCFA) Medicare mencakup 114. 859 pasien

dengan biaya hampir 3 milyar dollar per tahun. Pada 1984 dilakukan

hampir 7000 tranplantasi ginjal, sedangkan pasien-pasien lainnya

menjalani hemodialisis atau dialisis peritoneal. Penyakit ginjal stadium

terminal merupakan program penyakit kronik yang terbesar di banyak

negara. Menurut penelitian Feest dan kawan-kawan Devon dan

Northwest, insiden penyakit ginjal stadium terminal berkisar 148 dari

(24)

Di Indonesia, peningkatan jumlah penderita gagal ginjal bisa dilihat

dari data kunjungan ke poliklinik ginjal dan banyaknya penderita yang

menjalani cuci darah (hemodialisis). Dari data dari wilayah Jabar dan

Banten dua tahun terakhir ini, bisa terlihat peningkatan jumlah pasien

yang menjalani hemodialisis. Pada tahun 2007 tercatat hanya 2148

pasien dan meningkat menjadi 2260 pada tahun 2008. Dari jumlah itu,

sekitar 30 persen pasien berusia produktif, yakni kurang dari 40 tahun.

Hasil penelitian Khan dan kawan-kawan di Grampian, insiden penyakit

ginjal stadium terminal berkisar 130 dari 1000.000 orang per tahun.

3. Etiologi

Pada gagal ginjal akut, fungsi ginjal hilang secara cepat. Daftar dari

penyebab-penyebab seringkali dikategorikan berdasarkan di mana

kerusakan telah terjadi (Guyton & Hall, p. 515).

a. Faktor prerenal

Faktor ini adalah disebabkan oleh pengaliran darah ke ginjal yang

berkurang. Contoh-contoh dari penyebab prerenal adalah

hipovolemia yang disebabkan oleh kehilangan darah, dehidrasi

dari kehilangan cairan tubuh akibat muntah, diare, berkeringat, dan

demam, konsumsi cairan yang sedikit sekali, konsumsi obat seperti

diuretik (water pills) yang mungkin menyebabkan kehilangan air

yang berlebihan serta obstruksi pengaliran darah ke ginjal yang

(25)

b. Faktor renal

Faktor renal merupakan kerusakan secara langsung pada ginjal

sendiri. Ini termasuk sepsis yang memicu kepada peradangan pada

ginjal dimana fungsi ginjal menjadi tidak adekuat. Ini adalah

disebabkan oleh pengambilan obat-obatan yang mengakibatakan

keracunan pada ginjal. Antara obatnya adalah obat anti peradangan

nonsteroid seperti ibuprofen dan naproxen serta yang lain-lain

adalah antibiotiK seperti aminoglycosides

[gentamisin(Garamycin),tobramycin], lithium (Eskalith, Lithobid),

obat-obatan yang mengandung iodine seperti yang disuntikan untuk

studi radiologi dengan dye (zat pewarna). Selain itu

Rhabdomyolysis adalah salah satu faktor renal yang menyebabkan

gagal ginjal akut. Ini adalah suatu situasi dimana terjadi penguraian

otot yang disignifikasi dalam tubuh, dan produk-produk degenerasi

dari serat otot menyumbat pada sistem penyaringan di ginjal.

Ini sering terjadi karena trauma dan luka. Glomerulonefritis

akut atau peradangan glomeruli ginjal merupakan satu faktor gagal

ginjal. Antara penyakit dapat menyebabkan peradangan ini adalah

sistemik lupus eritematosus, Wegener's granulomatosis, dan

sindroma Goodpasture.

c. Faktor post renal

Ini disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi

pengaliran urin yaitu obstruksi dari kantung kemih atau ureter yang

(26)

urin ke luar. Ketika tekanan meningkat ia turut mengefek ginjal.

Hipertrofi prostat turut mengobstruksi uretra dan menghalang

kantung kemih dari mengosong. Batu-batu ginjal juga dapat

memicu kepada obstruksi saluran kemih (Harsh Mohan).

Gagal ginjal kronis berkembang melalui waktu berbulan-bulan

dan bertahun-tahun. Penyebab-penyebab yang paling umum dari

gagal ginjal kronis dihubungkan pada diabetes yang tidak

terkontrol, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol serta

glomerulonefritis kronik. Di antara penyebab-penyebab yang tidak

umum adalah penyakit ginjal polikistik, refluks nefropati, batu di

ginjal dan kanker prostat (Harsh Mohan).

4. Klasifikasi

The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI) of the

National Kidney Foundation (NKF) mengklasifikasikan tahap penyakit

gagal ginjal kronis kepada berikut:

a. Tahap 1: kerusakan ginjal dengan (LFG normal atau > 90

mL/min/1.73 m

b. Tahap 2: penurunan ringan pada (LFG: 60-89 mL/min/1.73 m

c. Tahap 3: penurunan sedang pada (LFG: 30-59 mL/min/1.73 m

d. Tahap 4: penurunan berat di (LFG: 15-29 mL/min/1.73 m

(27)

5. Patofisiologi

Gambaran umum perjalanan gagal ginjal dapat diperoleh dengan

melihat hubungan antara bersihan kreatinin dan kecepatan Laju Filtrasi

Glomerulus (LFG) sebagai persentase dari keadaan normal, terhadap

kreatinin serum dan kadar blood urea nitrogen (BUN) dengan rusaknya

massa nefron secara progresif oleh penyakit ginjal kronik.

Perjalanan umum gagal ginjal dapat dibagi menjadi empat stadium.

Stadium ringan dinamakan penurunan cadangan ginjal. Selama stadium

ini kreatinin serum dan kadar BUN adalah normal dan penderita

asimptomatik. Dalam stadium sedang berlaku insufisiensi ginjal, dimana

lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. Pada tahap ini,

kadar BUN mulai meningkat diatas batas normal. Peningkatan

konsentrasi BUN ini berbeda-beda karena tergantung dari kadar protein

dalam diet. Pada stadium ini, kadar kreatinin serum juga mulai

meningkat melebihi kadar normal. Azotemia biasanya ringan, kecuali

bila penderita misalnya mengalami stress akibat infeksi, gagal jantung,

atau dehidrasi.

Pada stadium insufisiensi ginjal ini gejala-gejala nokturia dan

poliuria mulai timbul. Stadium berat dan stadium terminal gagal ginjal

kronik disebut gagal ginjal stadium akhir atau uremia. Gagal ginjal

stadium akhir timbul apabila sekitar 90% dari massa nefron telah hancur,

atau hanya sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh. Nilai LFG

hanya 10% dari keadaan normal, dan bersihan kreatinin mungkin sebesar

(28)

kadar BUN akan meningkat dengan mendadak sebagai respons terhadap

LFG yang mengalami sedikit penurunan. Pada stadium akhir gagal

ginjal, penderita mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah,

karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostasis cairan

dan elektrolit dalam tubuh. Urin menjadi isoosmotis dengan plasma pada

berat jenis yang tetap sebesar 1,010. Penderita biasanya menjadi

oligouria (pengeluaran kemih kurang dari 500 ml/hari) karena kegagalan

glomerulus meskipun proses penyakit mula-mula menyerang tubulus

ginjal. Kompleks perubahan biokimia dan gejala-gejala yang dinamakan

sindrom uremik mempengaruhi setiap sistem dalam tubuh. Pada stadium

akhir gagal ginjal, penderita pasti akan meninggal kecuali kalau ia

mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialysis

(Smeltzer & Bare 2015, p. 1448).

6. Gambaran Klinis dan Diagnosis

Manifestasi klinis pada pasien gagal ginjal banyak terdapat pada

seluruh sistem organ tersebut. Hal ini disebabkan karena organ ginjal

memegang peranan yang penting dalam tubuh yaitu sebagai organ yang

mengekskresikan seluruh sisa-sisa hasil metabolisme. Secara umum

pasien tersebut akan mengalami kelelahan dan kegagalan pertumbuhan.

Pada inspeksi ditemukan kulit pucat, mudah lecet, dan rapuh. Sedangkan

pada mata ditemukan gejala mata merah dan pada pemeriksaan

(29)

Gejala sistemik yang dapat ditemukan antara lain hipertensi,

penyakit vaskuler, hiperventilasi, asidosis, anemia, defisiensi imun,

nokturia, poliuria, haus, proteinuria, dan gangguan berbagai organ

lainnya. Bahkan pada penderita stadium lanjut terdapat gangguan fungsi

seksual seperti penurunan libido, impoten, amenore, infertilitas,

ginekomastia, galaktore. Tulang dan persendian juga dapat terjadi

gangguan seperti adanya rakhitis akibat defisiensi vitamin D dan juga

gout serta pseudogout. Letargi, tremor, malaise, mengantuk, anoreksia,

myoklonus, kejang, dan koma merupakan manifestasi klinis pada sistem

syaraf.

Diagnosis gagal ginjal dapat ditegakkan melalui anamnesis dan

pemeriksaan fisik yang menunjukkan adanya gejala-gejala sistemik

seperti gangguan pada sistem gastrointestinal, kulit, hematologi, saraf

dan otot, endokrin, dan sistem lainnya. Pada anamnesis diperlukan data

tentang riwayat penyakit pasien, dan juga data yang menunjukkan

penurunan faal ginjal yang bertahap.

Etiologi memegang peranan penting dalam memperkirakan

perjalanan klinis gagal ginjal kronik dan terhadap penanggulangannya.

Dalam anamnesis dan pemeriksaan penunjang perlu dicari faktor-faktor

yang memperburuk keadaan gagal ginjal kronik yang dapat diperbaiki

seperti infeksi traktus urinarius, obstruksi traktus urinarius, gangguan

perfusi dan aliran darah ginjal, gangguan elektrolit, pemakaian obat

nefrotoksik termasuk bahan kimia dan obat tradisional. Pemeriksaan

(30)

pemeriksaan laboratorium, EKG, USG, foto polos abdomen,

pemeriksaan pyelografi, pemeriksaan foto thorax, dan pemeriksaan

radiologi tulang.

Pemeriksaan darah yang mengukur kadar kreatinin dan BUN dalam

darah diperlukan untuk menegakkan diagnosa gagal ginjal dengan tepat.

Peningkatan kadar kreatinin setiap hari secara progressif merupakan

indikasi gagal ginjal akut. Kadar kreatinin juga merupakan indikator

yang baik untuk menentukan keparahan kerusakan ginjal; semakin tinggi

kadar kreatinin semakin parah kerusakan ginjal (Smeltzer & Bare 2015,

p. 1449).

7. Pemeriksaan Penunjang Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)

Dalam rangka mendapatkan diagnosis yang tepat pada penyakit

ginjal sudah tentu diperlukan kelengkapan data-data yang saling

mendukung satu dengan lainnya. Untuk itu diperlukan pemeriksaan

penunjang yang tepat dan terarah sehingga diagnosis penyakit ginjal

yang tepat dapat dipenuhi. Pada pelaksanaan sehari-hari ada lima bentuk

pemeriksaan penunjang untuk menilai fungsi struktur ginjal, yaitu

pemeriksaan serologi, pemeriksaan radiologi, biopsi ginjal, pemeriksaan

dipstick terhadap urin, perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang

ditentukan dengan memeriksa bersihan dari bahan-bahan yang

diekskresikan oleh filtrasi glomerulus (Potter & Perry 1006, p. 1693).

Pada penyakit gagal ginjal kronik, pemeriksaan penunjang yang

(31)

dengan pemeriksaan perhitungan laju filtrasi glomerulus. Dalam

pemeriksaan perhitungan laju filtrasi glomerulus terdapat beberapa

komponen yang harus diperhatikan seperti umur, berat badan, jenis

kelamin, dan kreatinin serum. Hal ini berdasarkan formula

Cockcroft-Gault yaitu:

Constant untuk laki-laki : 1,23 manakala untuk perempuan : 1,04

a. Ureum

Gugusan amino dicopot dari asam amino bila asam itu didaur

ulang menjadi sebagian dari protein lain atau dirombak dan

akhirnya dikeluarkan dari tubuh. Amino transferase (transaminase)

yang ada diberbagai jaringan mengkatalis pertukaran gugusan

amino antara senyawa-senyawa yang ikut serta dalam reaksireaksi

sintesis. Selain itu, deaminasi oksidatif memisahkan gugusan amino

dari molekul aslinya dan gugusan yang dilepaskan itu diubah

menjadi amoniak. Amoniak dihantar ke hati dan disana ia berubah

menjadi ureum melalui reaksi-reaksi bersambung. Ureum adalah

satu molekul kecil yang mudah mendifusi ke dalam cairan ekstrasel,

tetapi pada akhirnya ia dipekatkan dalam urin dan diekskresi. Jika

keseimbangan nitrogen dalam keadaan mantap, ekskresi ureum

kira-kira 25 gr setiap hari (Guyton & Hall 2005, p. 520).

Kadar ureum dalam serum mencerminkan keseimbangan antara

produksi dan ekskresi. Metode penetapan adalah dengan mengukur

(32)

nitrogen, di Amerika Serikat hasil penetapan disebut sebagai

nitrogen ureum dalam darah (Blood Urea Nitrogen, BUN). Dalam

serum normal konsentrasi BUN adalah 8-25 mg/dl. Nitrogen

menyusun 28/60 bagian dari berat ureum, karena itu konsentrasi

ureum dapat dihitung dari BUN dengan menggunakan faktor

perkalian 2,14 (Guyton & Hall 2005, p. 520).

Penetapan ureum tidak banyak diganggu oleh artefak. Pada pria

mempunyai kadar rata-rata ureum yang sedikit lebih tinggi dari

wanita karena tubuh pria memiliki lean body mass yang lebih besar.

Nilai BUN mungkin agak meningkat kalau seseorang secara

berkepanjangan makan pangan yang mengandung banyak protein,

tetapi pangan yang baru saja disantap tidak berpengaruh kepada

nilai ureum pada saat manapun. Jarang sekali ada kondisi yang

menyebabkan kadar BUN dibawah normal. Membesarnya volume

plasma yang paling sering menjadi sebab.

Kerusakan hati harus berat sekali sebelum terjadi BUN karena

sintesis melemah. Konsentrasi BUN juga dapat digunakan sebagai

petunjuk LFG. Bila seseorang menderita penyakit ginjal kronik

maka LFG menurun, kadar BUN dan kreatinin meningkat. Keadaan

ini dikenal sebagai azotemia (zat nitrogen dalam darah). Kadar

kreatinin merupakan indeks LFG yang lebih cermat dibandingkan

BUN. Hal ini terutama karena BUN dipengaruhi oleh jumlah

protein dalam diet dan katabolisme protein tubuh (LabTechnologist,

(33)

b. Kreatinin

Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin.

Kreatinin disintesis oleh hati, terdapat hampir semuanya dalam otot

rangka; disana ia terikat secara reversibel kepada fosfat dalam

bentuk fosfokreatin, yakni senyawa penyimpan energi. Reaksi

keratin + fosfat ↔ fosfokreatin bersifat reversibel pada waktu

energi dilepas atau diikat. Akan tetapi sebagian kecil dari kreatin itu

secara irreversibel berubah menjadi kreatin yang tidak mempunyai

fungsi sebagai zat berguna dan adanya dalam darah beredar

hanyalah untuk diangkut ke ginjal. Nilai normal untuk pria adalah

0,5 – 1,2 mg/dl dan untuk wanita 0,5 – 1 mg/dl serum. Nilai

kreatinin pada pria lebih tinggi karena jumlah massa otot pria lebih

besar dibandingkan jumlah massa otot wanita.

Banyaknya kreatinin yang disusun selama sehari hampir tidak

berubah kecuali kalau banyak jaringan otot sekaligus rusak oleh

trauma atau oleh suatu penyakit. Ginjal dapat mengekskresi

kreatinin tanpa kesulitan. Berkurang aliran darah dan urin tidak

banyak mengubah ekskresi kreatinin, karena perubahan singkat

dalam pengaliran darah dan fungsi glomerulus dapat diimbangi oleh

meningkatnya ekskresi kreatinin oleh tubuli. Kadar kreatinin dalam

darah dan ekskresi kreatinin melalui urin per 24 jam menunjukkan

variasi amat kecil, pengukuran ekskresi kreatinin dalam urin 24 jam

(34)

urin 24 jam dilakukan dengan cara benar (Guyton & Hall 2005, p.

518).

Kreatinin dalam darah meningkat apabila fungsi ginjal

berkurang. Jika pengurangan fungsi ginjal terjadi secara lambat dan

disamping itu massa otot juga menyusun secara perlahan, maka ada

kemungkinan kadar kreatinin dalam serum tetap sama, meskipun

ekskresi per 24 jam kurang dari normal. Ini bisa didapat pada pasien

berusia lanjut kadar BUN yang meningkat berdampingan dengan

kadar kreatinin yang normal biasanya menjadi petunjuk ke arah

sebab ureumnya tidak normal. Ureum dalam darah cepat meninggi

daripada kreatinin bila fungsi ginjal menurun; pada dialisis kadar

ureum lebih dulu turun dari kreatinin. Jika kerusakan ginjal berat

dan permanen, kadar ureum terus-menerus meningkat, sedangkan

kadar kreatinin cenderung mendatar. Kalau kreatinin dalam darah

sangat meningkat, terjadi ekskresi melalui saluran cerna (Guyton &

Hall 2005, p. 520).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan plasma

kreatinin, antara lain :

1) diet tinggi kreatinin dari daging atau suplemen kaya kreatinin

2) menurunnya sekresi kreatinin akibat kompetisi dengan asam

keton, anion organik (pada uremia), atau obat (simetidin, sulfa)

Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Oleh

karena itu kreatinin dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator

(35)

urea darah (BUN). Sedikit peningkatan kadar BUN dapat

menandakan terjadinya hipovolemia (kekurangan volume cairan);

namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl dapat menjadi indikasi

kerusakan ginjal. Kreatinin serum sangat berguna untuk

mengevaluasi fungsi glomerulus.

Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan kadar

kreatinin adalah : gagal ginjal akut dan kronis, nekrosis tubular

akut, glomerulonefritis, nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia,

pre-eklampsia, hipertensi esensial, dehidrasi, penurunan aliran darah

ke ginjal (syok berkepanjangan, gagal jantung kongestif),

rhabdomiolisis, lupus nefritis, kanker (usus, kandung kemih, testis,

uterus, prostat), leukemia, penyakit Hodgkin, diet tinggi protein.

Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin adalah :

Amfoterisin B, sefalosporin (sefazolin, sefalotin), aminoglikosid

(gentamisin), kanamisin, metisilin, simetidin, asam askorbat, obat

kemoterapi sisplatin, trimetoprim, barbiturat, litium karbonat,

mitramisin, metildopa, triamteren. Penurunan kadar kreatinin dapat

dijumpai pada : distrofi otot (tahap akhir), myasthenia gravis.

Untuk menilai fungsi ginjal, permintaan pemeriksaan kreatinin

dan BUN hampir selalu disatukan (dengan darah yang sama). Kadar

kreatinin dan BUN sering diperbandingkan. Rasio BUN/kreatinin

biasanya berada pada kisaran 12-20. Jika kadar BUN meningkat dan

kreatinin serum tetap normal, kemungkinan terjadi uremia non-renal

(36)

ginjal (peningkatan BUN lebih pesat daripada kreatinin). Pada

dialisis atau transplantasi ginjal yang berhasil, urea turun lebih cepat

daripada kreatinin. Pada gangguan ginjal jangka panjang yang

parah, kadar urea terus meningkat, sedangkan kadar kreatinin

cenderung mendatar, mungkin akibat akskresi melalui saluran

cerna.

Rasio BUN/kreatinin rendah (<12)>20) dengan kreatinin

normal dijumpai pada uremia prarenal, diet tinggi protein,

perdarahan saluran cerna, keadaan katabolik. Rasio BUN/kreatinin

tinggi (>20) dengan kreatinin tinggi dijumpai pada azotemia

prarenal dengan penyakit ginjal, gagal ginjal, azotemia pascarenal.

C. Hemodialisis

1. Pengertian Hemodialisis

Dialisis adalah proses pembuangan limbah metabolik dan kelebihan

cairan dari tubuh. Ada 2 metode dialisa, yaitu hemodialisis dan dialisis.

Hemodialisis berasal dari kata hemo = darah, dan dialisis = pemisahan

atau filtrasi. Pada prinsipnya hemodialisis menempatkan darah

berdampingan dengan cairan dialisat atau pencuci yang dipisahkan oleh

suatu membran atau selaput semi permeabel. Membran ini dapat dilalui

oleh air dan zat tertentu atau zat sampah. Proses ini disebut dialisis yaitu

proses berpindahnya air atau zat, bahan melalui membran semi

(37)

Terapi hemodialisis adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi

pengganti untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu

dari peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen,

urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semi

permeabel sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan

dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultra filtrasi ( Smeltzer & Bare

2015, p. 1397).

2. Tujuan Hemodialisis

Hemodialisis mempunyai tujuan, antara tujuannya adalah untuk

membuang produk metabolisme protein yaitu urea, kreatinin dan asam

urat, membuang air yang berlebihan dalam tubuh, memperbaiki dan

mempertahankan sistem buffer dan kadar elektrolit tubuh dan juga

memperbaiki status kesehatan penderita (Johnson 2005, p. 335).

3. Alasan Melakukan Dialysis

Dialisis dilakukan jika gagal ginjal menyebabkan kelainan fungsi

otak (ensefalopati uremik), perikarditis (peradangan kantong jantung),

asidosis (peningkatan keasaman darah) yang tidak memberikan respon

terhadap pengobatan lainnya, gagal jantung serta hiperkalemia (kadar

kalium yang sangat tinggi dalam darah) ( Smeltzer & Bare 2015, p.

1398).

4. Proses Hemodialisis

Dalam kegiatan hemodialisis terjadi 3 proses utama, yaitu proses

(38)

bahan terlarut akan berpindah ke dialisat karena perbedaan kadar di

dalam darah dan di dalam dialisat. Semakian tinggi perbedaan kadar

dalam darah maka semakin banyak bahan yang dipindahkan ke dalam

dialisat. Proses ultrafiltrasi adalah proses berpindahnya air dan bahan

terlarut karena perbedaan tekanan hidrostatis dalam darah dan dialisat.

Proses osmosis merupakan proses berpindahnya air karena tenaga kimia,

yaitu perbedaan osmolaritas darah dan dialisis ( Smeltzer & Bare 2015,

p. 1399).

5. Frekuensi Hemodialisis

Frekuensi, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa,

tetapi sebagian besar penderita menjalani dialisis sebanyak 3

kali/minggu. Program dialysis dikatakan berhasil jika penderita kembali

menjalani hidup normal, penderita kembali menjalani diet yang normal,

jumlah sel darah merah dapat ditoleransi, tekanan darah normal dan

tidak terdapat kerusakan saraf yang progresif ( Smeltzer & Bare 2015, p.

1401).

Dialisis bisa digunakan sebagai terapi jangka panjang untuk gagal

ginjal kronis atau sebagai terapi sementara sebelum penderita menjalani

transplantasi ginjal. Pada gagal ginjal akut, dialisis dilakukan hanya

selama beberapa hari atau beberapa minggu, sampai fungsi ginjal

(39)

6. Pengaruh Hemodialisis Pada Ureum Dan Kreatinin

Berdasarkan beberapa parameter yang sering digunakan sebagai

patokan untuk dilakukan hemodialisis adalah kadar ureum ≥ 20 mg/dL,

kadar kreatinin ≥ 8 mg/dL atau kalium ≥ 7 meq /dL. Kadar ureum dalam

darah cepat meninggi daripada kreatinin bila fungsi ginjal menurun.

Pada dialisis kadar ureum lebih dulu menurun berbanding kreatinin. Jika

terjadi kerusakan ginjal berat dan permanen, kadar ureum akan terus

meningkat sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar.

D. Panduan Latihan Fisik Intra Dialisis

Menurut panduan prosedur latihan fisik untuk pasien yang menjalani

Hemodialisa (Susanti 2011, p. 3-9):

1. Pemanasan (10 menit)

a. Peregangan otot leher

1) Pandangan lurus ke depan kemudian dekatkan telinga kanan

ke bahu, tahan selama 8 hitungan perlahan kembali ke posisi

semula, lakukan pada posisi sebaliknya.

2) Fleksikan kepala sampai meraih dada selama 8 hitungan.

(40)

Gambar 2.1

Gerakan Peregangan Otot Leher

b. Melakukan peregangan otot lengan

1) Duduk atau berdiri tegak, luruskan tangan ke depan setinggi

bahu, regangkan seluruh jari lalu buat kepalan tangan dan

lepaskan. Lakukan sebanyak 8 hitungan.

Gambar 2.2

(41)

2) Berdiri atau duduk tegak letakkan lengan di atas kepala lalu

perlahan miring ke kanan atau kiri selama 8 hitungan.

Gambar 2.3

Gerakan Peregangan Otot Lengan

3) Berdiri atau duduk tegak letakkan tangan di bahu dengan siku

diluar, buat lingkaran 8 kali pengulangan, lalu dekatkan siku ke

dada kemudian buka kembali sebanyak 8 kali pengulangan.

Gambar 2.4

(42)

c. Melakukan peregangan otot kaki

1) Duduk tegak, lekukkan badan, raih lutut dan tarik kearah dada,

cobalah menyentuhkan dahi ke lutut, lakukan semampunya dan

tahan selama 8 hitungan.

Gambar 2.5

Gerakan Peregangan Otot Kaki

2) Duduk tegak dengan kaki kearah lantai, berpegangan pada

kedua sisi, perlahan angkat kaki kanan lurus ke depan lalu ke

belakang. Lakukan hal yang sama pada sisi kaki lainnya.

Gambar 2.6

(43)

2. Latihan Inti (15 menit)

a. Untuk ekstremitas atas (tangan)

1) Posisi Duduk

a) Angkat barbel setinggi kepala lalu gerakkan ke atas lengan

dengan lurus lalu turunkan perlahan-lahan, lakukan 8 kali

pengulangan.

b) Angkat barbel sejajar bahu lalu gerakkan kearah pinggang

8 kali pengulangan

c) Angkat barbel sejajar dengan bahu lalu gerakkan kearah

kepala dengan melipat siku 8 kali pengulangan

d) Angkat barbel setinggi kepala lalu gerakkan ke belakang 8

kali pengulangan

e) Angkat barbel setinggi perut lalu gerakkan ke arah bahu 8

kali pengulangan.

Gambar 2.7

(44)

b. Untuk Ekstremitas bawah (kaki)

1) Posisi Tidur

a) Rapatkan kedua kaki lalau angkat perlahan sampai batas

maksimal yang bisa dilakukan tahan selama 8 hitungan.

b) Tekukkan kedua kaki, gerakkan perlahan kearah perut 8 kali

pengulangan

c) Tekuk kaki gerakkan seperti mengayuh sepeda, lakukan selama 8

kali pengulangan

d) Ikatkan ankle cuffis (kantong pasir) pada betis(bila ada) angkat

perlahan sejajar dengan tubuh, gerakkan bergantian untuk kaki kiri

dan kanan sebanyak 8 kali,terakhir tahan selama 8 hitungan.

e) Kedua kaki yang terpasang kantung pasir angkat sejajar dengan

tubuh secara bersamaan sebanyak 8 kali,terakhir tahan selama 8

hitungan

f) Buat sudut 90o, lalu gerakkan kearah dada sebanyak 8 kali

hitungan dan tahan selama 8 hitungan pada kaki kiri,selanjutnya

hal yang sama pada kaki kanan.

Gambar 2.8

(45)

3. Pendinginan (10 menit)

Tarik nafas lewat hidung maksimal sambil memutar lengan melewati

kepala lalu hembuskan perlahan melalui mulut. Lakukan sebanyak 8 kali

pengulangan.

4. Perubahan Kadar Kreatinin Setelah Latihan Fisik

Aktivitas (latihan fisik) yang dilakukan berulang-ulang akan

menyebabkan persedian ATP dalam otot menjadi berkurang. ATP adalah

simpanan energi didalam otot yang siap digunakan untuk latihan fisik.

Namun, simpanan ATP tidak bertahan lama, karena jumlah ATP yang

tersedia di dalam otot sangat terbatas. ATP yang tersedia didalam otot

hanya dapat melakukan aktivitas maksimal selam 20-30 detik saja.

Apabila ATP di dalam otoy berkurang selam melakukan aktivitas,

maka perlu adanya resintesa ATP kembali untuk melakukan aktivitas

berikutnya. sistem penyediaan energi pertama yang digunakan ATP yang

telah digunakan untuk aktivitas adalah sistem ATP-PC. Sistem ATP-PC

adalah bentuk penyediaan energi yang paling cepat dibandingkan dengan

sistem penyediaan energi lainnya. Namun sistem ATP-PC ini tidak

bertahan lama, karena jumlah PC (Phosphokreatin/creatine phosphate)

yang tersedia di dalam otot sangat terbatas, yaitu kira-kira 4 kali

banyaknya ATP di dalam otot.

Fosfokreatin dan ATP sama-sama disimpan di dalam sel otot, karena

ATP dan PC terdiri atas kelompok fosfat, maka mereka secara

bersama-sama disebut sebagai sistem fosfagen. Kebersama-samaan antara ATP dan PC

(46)

dikeluarkan. Hasil akhir dari pemecahan PC ini adalah Kreratin ( C=

creatin) dan fosfat inorganic (pi). Energi ini dipergunakan untuk resisten

ATP. ATP dipecahkan pada saat kontraksi otot berlangsung, kemudian

dibentuk kembali dari ADP + Pi oleh adanya energi yang berasal dari

pemecahan simpanan PC.

Fosfat kreatin adalah suatu xat seperti ATP berisi fosfat energi tinggi.

Tidak seperti ATP, fosfat kreatin tidak dapat digunakan secara langsung

untuk menggerakkan kontraksi otot, tetapi fosfat kreatin digunakan untuk

memperbaharui ATP, seperti dalam gambar dibawah ini.

Gambar 2.9

Fosfat Kreatin (FK), (Pate, Rusell R, 1994, Widiyanto, 2005)

Creatine Kinase

CP C + Pi+ energi (13000 Kalori)

Energi dan gugusan fosfat digunakan kembali untuk membentuk ATP dari ADP

(47)

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang

diberikan dan memberi landasan yang kuat terhadap judul yang dipilih sesuai

dengan identifikasi masalah (Notoatmodjo 2008, p.56). Rancangan penelitian

yang akan dilaksanakan oleh peneliti adalah quasi eksperimen dengan

pendekatan two group pretest post test with control. Penelitian ini dilakukan

untuk mengetahui efektivitas latihan fisik intra dialisis dengan penurunan

kadar kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di Ruangan

Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016.

Skema 3.1 Kerangka Konsep

B. Defenisi Operasional

Defenisi operasional adalah mendefenisikan variabel secara operasioanal

berdasarkan karakteristtik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti

Kadar Kreatinin latihan fisik

intra dialisis Kadar kreatinin

Kadar Kreatinin Hd tdk latihan Kadar Kreatinin

fisik

(48)

untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu

objek dan fenomena (Nursalam 2008, p.100).

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran

yang dimilki atau didapat oleh satuan penelitian tentang suatu konsep

pengertian tertentu (Nursalam 2008, p. 97).

(49)

C. Hipotesa

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah:

Ha : Efektifitas Latihan Fisik Intra Dialisis Terhadap Kadar Kreatinin Pada

Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad Mochtar

(50)

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab

pertanyaan penelitian dan mengidentifikasi kesulitan yang mungkin timbul

selama proses penelitian (Nursalam 2008, p. 85). Penelitian ini menggunakan

rancangan penelitian metode quasi eksperimen yang bertujuan untuk

mengetahui efektivitas latihan fisik intra dialisis dengan penurunan kadar dan

kreatinin pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Achmad

Mochtar Bukittinggi tahun 2016. Pendekatan desain penelitian dengan two

group pretest-post test with control. Uji statistik yang digunakan pada

penelitian ini adalah uji T (T-test) yaitu uji beda dua mean independen

dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% dengan α 5% dengan syarat apabila

data yang berdistribusi normal, kedua kelompok yang sama (dependen).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Januari 2016 di Ruangan

Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.

(51)

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi menurut Nursalam (2008, p. 90) adalah keseluruhan objek

penelitian atau objek yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di

Ruangan Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dengan

jumlah 857 orang dengan rata-rata jumlah pasien perbulan 71 orang

(Data RSAM, 2015).

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti

(Nursalam, 2008). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 18 orang.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental

sampling, yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada siapa saja

populasi yang memenuhi kriteria yang ada pada saat dilakukan

penelitian (Notoatmodjo, 2010).

Kriteria Inklusi:

a. Pasien dengan gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa

b. Usia 25-55 tahun

c. Pasien kooperatif

d. Pasien yang AV shunt /cimino yang bagus

e. Pasien yang pakai cateter doubel lumen (CDL)

(52)

Kriteria Ekslusi:

a. Pasien hipertensi (>180/100 Mmhg)

b. Pasien dengan akses dialisis di femoralis

c. Tidak bersedia menjadi responden

D. Pengumpulan Data

1. Prosedur Pengumpulan Data

a. Peneliti meminta izin penelitian ke RSUD Dr. Achmad Mochtar

Bukittinggi dan Ruangan Hemodialisa.

b. Setelah peneliti mendapatkan persetujuan penelitian, peneliti

menemui orang tua calon responden dan memberikan inform

concent.

c. Selanjutnya peneliti melakukan pengukuran kadar kreatinin

sebelum latihan fisik intra dialisis.

d. Peneliti melakukan perlakuan latihan fisik intra dialisis

e. Setelah diberikan perlakuan, peneliti mengukur kembali kadar

kreatinin sebelum latihan fisik intra dialisis.

f. Selanjutnya peneliti pengolah data hasil penelitian dengan

menggunakan uji statistik T (T-test) dependen two group pre

test-post test with control menggunakan uji statistik t-test independen.

E. Prosedur Penelitian

Sebelum dilakukan intervensi peneliti mengukur tekanan darah calon

(53)

melakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar kreatinin.

Selanjutnya peneliti menjelaskan cara latihan fisik intra dialysis. Setelah

1 jam dimulai dialysis responden mulai melakukan pemeriksaan laboratorium

untuk pengukuran kadar kreatinin darah responden.

F. Cara Pengolahan Data dan Analisa Data

1. Cara Pengolahan Data

Sebelum data dianalisa terlebih dahulu dilakukan pengolahan data

dengan cara sebagai berikut :

a. Editing

Editing merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan lembar

observasi atau formulir.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan merubah data dalam bentuk huruf

menjadi angka.

c. Entry

Setelah lembar observasi terisi penuh dan benar, data diproses

dengan memasukkan data dari lembar observasi ke paket komputer

yaitu dengan program komputerisasi.

d. Cleaning

Pembersihan data merupakan kegiatan pengecekan kembali data

yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak, apakah

(54)

e. Processing

Kemudian selanjutnya data diproses dengan mengelompokkan data

ke dalam variabel yang sesuai dengan menggunakan program

komputerisasi.

2. Analisa Data

a. Analisa Univariat

Analisa ini menggambarkan distribusi frekuensi dari

masing-masing variabel yang diteliti. Variabel independen yang diteliti

yaitu latihan fisik intra dialisis dan variabel dependen yaitu kadar

kreatinin.

b. Analisis Bivariat

Pada penelitian ini digunakan analisis bivariat uji Beda Dua

Mean (t-test dependen). Tujuan pengujian ini adalah untuk

mengetahui perbedaan mean kadar kreatinin sebelum dan sesudah

latihan fisik intra dialisis.

Kriteria pengujian adalah bila p value derajat kepercayaan

95% atau α = 0,05. Jika nilai p value ≤ α (alpha), maka pengaruh

tersebut secara statistik ada pengaruh bermakna, tetapi jika p value >

α (alpha), maka secara statistik tidak signifikan atau tidak ada

pengaruh yang bermakna. Semua data pengolahan dilakukan dengan

(55)

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi merupakan salah satu Rumah

Sakit pendidikan tipe B yang ada di Sumatera Barat, yang terletak di pusat

Kota Bukittinggi yang merupakan Rumah Sakit Pemerintah Daerah Tk. I

yang berada di daerah Kotamadya TK. II dengan fasilitas cukup memadai

yang dapat melayani rujukan dari 7 daerah Tk. II di Sumatera Barat Bagian

Utara dan daerah-daerah perbatasan seperti Propinsi Riau, Propinsi Jambi

dan Sumatera Utara bagian Selatan.

RSUD. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi terletak diatas tanah seluas ±

40.000 m² berlokasi di Jln. Dr. A.Rivai-Bukittinggi. Adapun batas- batas

administratif RSUD. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi adalah sebagai

berikut:

1. Sebelah Utara : Komplek Perumahan Pemerintah Daerah

Bukittinggi

2. Sebelah Selatan : Jl.Dr.A.Rivai Bukittinggi

3. Sebelah Barat : Gelanggang Olah Raga Kota Bukittinggi

4. Sebelah Timur : Jalan Kesehatan

Penelitian ini dilakukan terhadap 18 orang sampel yang dibagi menjadi 2

kelompok yaitu kelompok yang dilakukan latihan fisik dan kelompok yang

tidak diberikan latihan fisik.

(56)

B. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal yang

menjalani hemodialisis di Ruangan Hemodialisa RSUD Dr. Achmad

Mochtar Bukittinggi, yang terdiri dari 18 orang responden. Responden dalam

penelitian ini dikarakteristikkan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan

frekuensi hemodialisis.

Karakteristik responden dapat dilihat selengkapnya pada tabel 5.1

berikut:

Tabel 5.1

Karakteristik Responden

Karakteristik Responden Frekuensi %

Jenis kelamin

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa karakteristik responden

berdasarkan jenis kelamin pada penelitian ini terbanyak adalah laki – laki

dengan jumlah 11 orang (61,11%). Menurut umur, mayoritas dari responden

berada pada rentang 41-50 tahun yaitu sebanyak 11 orang (61,11%).

Sedangkan berdasarkan frekuensi Hemodialisis semua responden

(57)

C. Hasil Penelitian

1. Analisa Univariat

a. Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada

Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad

Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Tabel 5.2

Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Kadar Kreatinin n Min Max Mean SD

Sebelum hemodialisis dengan latihan fisik

9 10,20 19,20 16,53 2,76

Berdasarkan tabel 5.2 terlihat rata-rata kadar kreatinin dari 9

orang sampel sebelum menjalani HD dengan latihan fisik Intra

Dialisis yaitu 16,53 dengan standar deviasi 2,76. Kadar Kreatinin

terendah adalah 10,20 dan yang tertinggi adalah 19,20.

b. Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada

Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad

Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Tabel 5.3

Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Kadar Kreatinin n Min Max Mean SD

Sesudah hemodialisis dengan latihan fisik

9 1,90 3,50 2,86 0,58

Berdasarkan tabel 5.3 terlihat rata-rata kadar kreatinin sesudah

(58)

9 orang sampel dengan standar deviasi 0,58. Kadar Kreatinin

terendah adalah 1,90 dan yang tertinggi adalah 3,50.

c. Rata-rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada

Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad

Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Tabel 5.4

Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Menjalani Hemodialisa Di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Kadar Kreatinin n Min Max Mean SD

Dialisis yaitu 16,63 dengan standar deviasi 3,54. Kadar Kreatinin

terendah adalah 12,10 dan yang tertinggi adalah 22,30.

d. Rata-rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada

Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD Dr. Achmad

Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Tabel 5.5

Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sesudah Menjalani Hemodialisa Di RSUD

Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Kadar Kreatinin n Min Max Mean SD

Sesudah hemodialisis tanpa latihan fisik

(59)

Berdasarkan tabel 5.5 terlihat rata-rata kadar kreatinin sesudah

menjalani HD tanpa latihan fisik Intra Dialisis yaitu dari 7,16 dari 9

orang sampel dengan standar deviasi 0,66. Kadar Kreatinin terendah

adalah 6,10 dan yang tertinggi adalah 8.

2. Analisa Bivariat

a. Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra

Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa

Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Tabel 5.6

Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Dengan Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa

Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Berdasarkan tabel 5.6 diketahui rata-rata kadar kreatinin

dengan latihan fisik intra dialisis adalah 13,68 dengan standar

deviasi 2,83. Terlihat bahwa terdapat perbedaan kadar kreatinin

pasien sebelum dan sesudah menjalani HD dengan latihan fisik Intra

Dialisis terlebih dahulu dengan nilai t hitung = 14,48 dan nilai

p value = 0,000 sehingga Ho ditolak yang berarti terdapat perbedaan

kadar kreatinin dengan latihan fisik Intra Dialisis sebelum dan

sesudah menjalani hemodialisa dengan interval penurunan kadar Kadar Kreatinin Kadar Kreatinin

(60)

kreatinin 13,68 pada pasien yang menjalani hemodialisa di Ruangan

Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016.

b. Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra

Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa

Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Tabel 5.7

Perbedaan Rata-Rata Kadar Kreatinin Tanpa Latihan Fisik Intra Dialisis Pada Pasien Sebelum Dan Sesudah Menjalani Hemodialisa

Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Berdasarkan tabel 5.7 diketahui rata-rata kadar Kreatinin

adalah 9,48 dengan standar deviasi 3,30. Terlihat bahwa terdapat

perbedaan kadar Kreatinin pasien sebelum dan sesudah menjalani

hemodialisis tanpa latihan fisik Intra Dialisis terlebih dahulu dengan

nilai t hitung = 8,60 dan nilai p value = 0,000 sehingga Ho ditolak

yang berarti terdapat perbedaan kadar kreatinin sebelum dan

sesudah menjalani hemodialisa tanpa latihan fisik Intra Dialisis

dengan rata-rata kadar kreatinin = 9,48 pada pasien yang menjalani

hemodialisa di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun

2016.

Kadar Kreatinin Kadar Kreatinin t df P value Mean SD SE 95% CI

Lower Upper

sebelum - sesudah hemodialisis tanpa latihan fisik

Gambar

Gambar 2.1  Gerakan Peregangan Otot Leher
Gambar 2.3  Gerakan Peregangan Otot Lengan
Gambar 2.5 Gerakan Peregangan Otot Kaki
Gambar 2.7  Gerakan Latihan Inti Ekstremitas Atas (Tangan)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan Nilai Rata-rata (+ SD) Jumlah Eritrosit Pasca Latihan Fisik Maksimal (A); Nilai Hematokrit (B); Kadar Hemoglobin (C); Nilai Rata- rata Morfologi Eritrosit

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan kadar klorida serum sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas sedang pada mahasiswa Fakultas Kedokteran

Dalam penelitian ini peneliti menarik kesimpulan bahwa dalam melakukan latihan fisik intensitas ringan terdapat perbedaan kadar kalium serum yang signifikan antara sebelum dan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar klorida serum sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas ringan pada

Pada pasien stroke hemiparese kiri juga demikian, terdapat perbedaan yang bermakna pada kekuatan otot sebelum dan sesudah diberikan latihan gerak (rata-rata kenaikan nilai

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan kadar klorida serum sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas sedang pada mahasiswa Fakultas Kedokteran

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar klorida serum sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas ringan pada

Hasil penelitian di dapatkan terdapat perubahan denyut jantung, tekanan darah dan MAP sebelum dan sesudah Latihan dan terdapat perbedaan rata-rata profil hemodinamik antara sebelum dan