PSIKOLOGI KOGNITIF
Mata Kuliah Psikologi Umum 1
Dosen :
Lala Septiyani Sembiring, S.Psi, M.Psi, Psikolog
Vivi Amalia, S.Psi, M.Psi, Psikolog
KELOMPOK 1
Disusun oleh :
1. Kurniati Ramadhini (1310321002)
2. Vicky Amalia (1310321020)
3. M. Farizh W.A (1310322002)
4. Lidya Shinta Diantika (1310322014)
5. Fitri Anggraini (1310322027)
6. Dita Sari (1310322030)
7. Friska Indria Rahmi (1310322032)
8. Martha Marselina (0910352002)
UNIVERSITAS ANDALAS
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr, Wb.
Puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia dan rahmatnya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul “Psikologi Kognitif”. Shalawat beriringan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke masa yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Kami haturkan rasa terima kasih kami kepada semua pihak yang telah memberikan dukunan moril maupun materil dalam pembuatan makalah ini. Sehingga pembuatan makalah ini bisaberjalan dengan baik dan lancar tanpa ada halangan suatu apapun. Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan penulis dalam menganalisis perkembangan kognitif.
Mengingat keterbatasan pengetahuan dan keterampilan penulis, kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya makalah ini, Semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk kita semua.
Wassalamualaikum Wr,Wb.
Padang, 10 September 2013
Penulis
KATA PENGANTAR………i
DAFTAR ISI………ii
BAB I PENDAHULUAN………..1
1.1 Latar Belakang………..1
1.2 Rumusan Masalah………..1
1.3 Tujuan Penulisan……….2
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Psikologi Kognitif………..3
2.2 Sejarah Singkat Psikologi Kognitif……….……3
2.3 Metode Penelitian………5
2.4 Neurosains Kognitif……….7
2.5 Sensasi dan Persepsi………..7
2.6 Atensi………..14
2.7 Pengenalan Objek………15
2.8 Kesadaran……….16
2.9 Memori………17
2.10 Representasi Pengetahuan………18
2.11 Bahasa………..18
2.12 Perkembangan Kognitif………...19
2.13 Berpikir dan Formasi Konsep……….19
2.14 Kecerdasan Buatan………..20
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN……….21
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Psikologi kognitif merupakan perspektif secara teori yang memfokuskan pada dunia persepsi pemikiran ingatan manusia. Ia menggambarkan seseorang sebagai proses maklumat yang aktif menyerupai metafora dunia komputer. Pada pandangan psikologi kognitif, cara seseorang menambahkan maklumat menentukan pencapaian tahap kefahaman mereka.
Sebilangan konsep yang berkuasa telah muncul dalam psikologi kognitif dengan menjelaskan pertimbangan kuasa pendidikan. Antara konsep-konsep ini termasuk skema ide yang menggambarkan rangka kerja mental untuk pemahaman, pembentukan ingatan yaitu pandangan yang menyatakan pengetahuan adalah direka oleh seseorang apabila mereka menghadapi situasi baru dan tahap memproses yaitu tanggapan bahwa ingatan adalah yang keluar dari proses maklumat yang diterima. Disebabkan psikologi kognitif semakin
berkembang dalam bentuk yang lebih matang, ia mula memasukkan pengaruh sosial dalam perkembangan kognitif, perhubungan antara kognisi dan motivasi, kesedaran diri, strategi kognitif dan perkembangan kepakaran subjek dalam bidang matematik dan sains.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Pengertian psikologi kognitif 2. Sejarah singkat psikologi kognitif 3. Metode Penelitian
4. Neurosains kognitif 5. Sensasi / Persepsi 6. Atensi 13. Berpikir dan Formasi konsep
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum 1
2. Menjelaskan rumusan masalah mengenai Psikologi Kognitif
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Psikologi Kognitif
indera, diproses oleh jiwa seseorang sebelum diendapkan dalam kesadaran lalu diwujudkan dalam bentuk tingkah laku. Psikologi kognitif juga merupakan salah satu cabang dari psikologi dengan pendekatan kognitif untuk memahami perilaku manusia.
2.2 Sejarah singkat psikologi kognitif
Yunani kuno sampai abad ke-18
Sejarah dari psikologi kognitif berawal pada saat Plato (428-348SM) dan muridnya Aristotles (384-322SM) yang memperdebatkan mengenai cara manusia memahami pengetahuan maupun dunia serta alamnya. Plato berpendapat bahwa manusia memperoleh pengetahuan dengan cara menalar secara logis, aliran ini disebut sebagai rasionalis.
Lain halnya dengan Aristotles yang menganut paham empiris dan mempercayai bahwa manusia memperoleh pengetahuannya melalui bukti-bukti empiris. Perdebatan ini masih berlangsung seperti pertentangan Rasionalis dari Perancis, Rene Descartes (1596-1650), dan Empiris dari Inggris, John Locke (1632-1704), dengan tabularasa-nya. Seorang fisuf Jerman, Immanuel Kant, pada abad ke-18 berargumentasi bahwa baik rasionalisme maupun
empirisme harus bersinergi dalam membuktikan pengetahuan. Perdebatan ini meletakkan landasan dan memengaruhi cara berpikir di bidang ilmu psikologi maupun cabang ilmu lainnya. Saat ini ilmu pengetahun mendasarkan paham empiris untuk pencarian data dan pengolahan Psikologi kognitif dan analisis data menggunakan kerangka pikir rasionalis.
Abad ke-19 dan ke-20
Wilhelm Wundt (1832-1920) adalah seorang psikolog dari Jerman mengajukan ide untuk mempelajari pengalaman sensori melalui introspeksi. Dalam mempelajari proses
aliran fungsionalisme berpendapat bahwa bahwa penting bagi manusia untuk tahu apa dan mengapa mereka melakukan sesuatu. William James (1842-1910)adalah seorang
pragmatisme-fungsionalisme melontarkan gagasan mengenai atensi, kesadaran serta persepsi. Setelah itu munculah aliran assosiasi (Edward Lee Thorndike, 1874-1949) yang mulai menggunakan stimulus dan diikuti dengan aliran behaviorisme yang memasangkan antara stimulus dan respon dalam proses belajar. Pendekatan behaviorisme radikal yang dibawakan oleh B.F. Skinner (1904-1990) menyatakan bahwa semua tingkah laku
manusia untuk belajar, perolehan bahasa bahkan penyelesaian masalah dapat dijelaskan dengan penguatan antara stimulus dan respon melalui hadiah dan hukuman.
Namun pendekatan behaviorisme belum dapat menjawab alasan perilaku manusia yang berbeda misalnya melakukan perencanaan, pilihan dan sebagainya. Edward Tolman (1886-1959) percaya bahwa semua tingkah laku ditujukan pada suatu tujuan. Menggunakan eksperimen dengan tikus yang mencari makanan dalam maze, percobaan ini membuktikan bahwa terdapat skema atau peta dalam kognisi tikus. Hal ini membuktikan bahwa tingkah laku melibatkan proses kognisi. Oleh karena itu beberapa pihak mengakui Tolman sebagai Bapak Psikologi Kognitif Modern.
Selain Tolman, Albert Bandura (1925) juga mengkritik behaviorisme dengan menyatakan bahwa belajar pun dapat diperoleh melalui lingkungan sosial dari individu. Dalam perolehan bahasa, Noam Chomsky (1928) seorang linguis juga mengkritik behaviorisme dengan
menyatakan bahwa otak manusia dibekali dengan kemampuan untuk mengenali dan memproduksi bahasa.
2.3 Metode Penelitian
Metode penelitian adalah alat yang kita gunakan untuk memahami, menguji, dan
mengembangkan ide-ide baru. Metode penelitian yang digunakan dalam psikologi kognitif bersumber dari metode yang digunakan para peneliti Jerman (Wundt dkk) untuk
Dua jenis metode utama yaitu, (1) mengukur korelasi psikologis dengan dunia nyata dan (2) mendokumentasikan kasus-kasus unik.
1. Mengukur korelasi psikologis dengan dunia nyata
Metode – metode yang masuk dalam kategori ini adalah metode-metode yang secara spesifik mengukur reaksi atau respon terhadap peristiwa eksternal yang terjadi di dunia. a. Psikofisika (psychophysics)
Psikofisika adalah studi ilmiah tentang hubungan antara stimuli dengan sensasi dan persepsi yang ditimbulkan oleh stimuli tersebut.
b. Studi sel tunggal (single-cell study)
Studi sel tunggal telah digunakan oleh para peneliti seperti Hubel dan Wiesel (1959) yang memetakan korteks visual pada kucing. Asumsinya adalah apabila sel merespons sebuah stimulus visual maka terdapat hubungan antara stimulus tersebut dengan sel tertentu.
c. Studi waktu-reaksi
Studi waktu-reaksi adalah cirri khas psikologi kognitif yang meneliti proses-proses kognitif.
d. Studi priming
Dalam studi priming, sebuah stimulus disajikan sekilas (“prime”) dan setelah jeda beberapa saat, stimulus kedua disajikan dan partisipan diminta membuat penilaian terkait stimulus kedua.
e. Studi pelacakan bola mata
Pemrosesan informasi visual lazimnya melibatkan sebagian besar jaringan otak. Diasumsikan bahwa otak memerintahkan bola mata untuk memandang ke stimulus visual di dunia nyata yang penting bagi kinerja fungsi kognitif.
f. Studi lateralisasi (lateralization study)
berbeda. Asumsi yang mendasari jenis semacam ini menyatakan bahwa seandainya sebuah objek diperuntukkan bagi otak kiri, namun pada akhirnya diproses oleh otak kanan, akibatnya waktu pemrosesan akan lebih lama daripada bila objek itu sejak semula memang diperuntukkan untuk otak kanan.
2. Mendokumentasikan kasus-kasus unik a. Studi kasus
Para psikolog dapat mempelajari otak melalu proses reverse engineeringdimana mempelajari deficit atribut dan fungsi kognitif pada individu-individu yang mengalami kerusakan di bagian-bagian otaknya. Diasumsikan bahwa terdapat area-area khusus, terpusat, yang mengendalikan fungsi-fungsi tertentu dan tidak semata-semata bergantung pada jaringan neuron.
b. Studi pencitraan (imaging study)
Studi pencitraan dapat dikategorikan sebagai pencitraan yang menampilkan struktur, proses, atau strukutur sekaligus proses.
2.4 Neurosains kognitif
Neurosains kognitif adalah ilmu yang menyediakan dasar-dasar untuk lebih jauh lagi
menyelidiki isu-isu lama terkait pikiran dan tubuh. Neurosains kognitif modern berhubungan dengan penelitian-penelitian tentang lobotomy, frenologi, dan lokalisasi fungsi. Ilmuwan neurosains mempelajari cabang ilmu dari studi terhadap neuroanatomi, neurofisiologi, fungsi otak, kdan model cara kerja otak dari disiplin psikologi maupun dari disiplin ilmu computer.
Peralatan para ilmuwan neurosains meliputi EEG (Electroencephalography), CT (Computed axial Tomography), PET (Positron Emission Tomography), MRI (Magnetic Resonance Imaging), fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging), MEG
(Magnetoencephalography), TMS (Transcranial Magnetic Stimulation) dan Micro CT (X-ray Microtomography).
Sensasi (sensation) mengacu pada pendektesian dini terhadap energy dari dunia fisik. Studi ini umunya berkaitan dengan struktur dan proses mekanisme sensorik.
Persepsi (perception) melibatkan kognisi tingkat tinggi dalam penginterpretasian terhadap informasi sensorik.
Pada dasarnya, sensasi mengacu pada pendektesian dini terhadap stimuli, sedangkan
persepsi mengacu pada interpretasi hal-hal yang kita indera.
Pentingnya persepsi :
a. Gejala kognitif yang lebih tinggi tingkatannya. b. Dipengaruhi iltelektualitas masa lalu.
Proses persepsi :
Stimulus → memori respon → pattern recognition → atensi → STM → LTM.
Model persepsi :
a. Constructive perception, yaitu stimulus yang diterima akan diseleksi oleh memori sensoris.
b. Direct perception, yaitu adanya tambahan informasi dari lingkungan.
Macam-macam stimulus : a. Data driven : tunggal
b. Conceptually driven : kompleks
Faktor-faktor yang berperan dalam persepsi : 1. Objek yang dipersepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.
2. Alat indera, saraf, dan pusat susunan saraf
untuk mengadakan respon diperlukan saraf motoris. Alat indera, saraf, dan pusat susunan saraf merupakan syarat fisiologis dalam proses persepsi.
3. Perhatian/ atensi
Atensi atau perhatian adalah langkah pertama sebagai suatau persiapan dalam mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek. Perhatian adalah syarat psikologis dalam proses persepsi.
Jenis-jenis persepsi : 1. Visual Perception
Yang termasuk persepsi visual adalah perceptual constancies (kekonstanan
perceptual). Tujuan utama sistem perseptual kita adalah menentukan apa yang ada dan di mana keberadaannya, artinya menentukan identitas dan lokasi objek di dalam
lapangan penglihatan kita. Selain itu, bertujuan juga untuk mempertahankan penampilan objek konsatan walaupun kesannya pada retina berubah.
Kita menghayati suatu objek sebagai tetap relatif konstan tanpa memandang perubahan cahaya, posisi dari mana kita memandangnya, atau jarak objek dari kita. Kecenderungan ke arah kekonstanan ini disebut kekonstanan perseptual
(perceptual constancies).
Kekonstanan perceptual terdiri atas :
a. Kekonstanan Ukuran
Kecenderungan ukuran adalah kita menganggap ukuran benda relatif konstan tidak peduli berapa jaraknya. Contohnya, simpan dua pensil di depan mata kita dengan jarak yang berbeda. Pensil A 20 cm dan pensil B 50 cm. Pensil B terlihat lebih kecil daripada pensil A. Namun, pada kenyataannya kedua pensil tersebut ukurannya sama.
b. Kekonstanan Warna
melihat tomat yang matang melalui tabung yang menutup sekelilingnya, tomat dapat tampak berwarna apa saja, bisa biru, hijau, atau merah muda tergantung dari panjang gelombang yang terpantul.
c. Kekonstanan Bentuk
Kecenderungan bentukadalah kita menangkap bentuk konstan walaupun bayangan pada retina berubah. Contohnya, jika sebuah pintu membuka ke arah kita, bentuk bayangan pada retina mengalami seurutan perubahan. Bentuk pintu yang persegi 10 empat menghasilkan bayangan trapezoid, saat tepi yang bergerak ke arah kita menjadi lebih lebar dibandingkan tepi yang melekat pada engsel; kemudian bentuk trapezoid menjadi semakin pipih dan akhirnya yang terproyeksi ke retina adalah suatu bentuk batang vertical yang setebal ketebalan pintu. Namun, kita tetap suatu pintu yang membuka tidak berubah.
d. Kekonstanan Terang
Kekonstanan terang adalah keterangan yang dihayati dari suatu objek tertentu sulit berubah walaupun jumlah cahaya yang dipantulkan berubah secara dramatis. Contohnya, kain beludru akan sama hitamnya di bawah cahaya matahari dengan di bawah cahaya redup, walaupun ia memantulkan ratusan kali lebih banyak cahaya jika tersinari langsung oleh cahaya matahari.
2. Depth Perception
Persepsi jarak adalah kemampuan untuk melihat dunia dalam tiga dimensi dan untuk mempersepsikan jarak. Karena ada jarak diantara kedua mata, maka akan terjadi perbedaan gambar yang ditangkap oleh retina. Kemudian otak
mengintegrasikan dua gambaran kedalam satu gambar gabungan. Persepsi kedalaman terdiri atas :
a. Monocular Depth Cues
Monocular depth cues adalah persepsi yang diterima oleh satu mata yang
location in the picture plan, dan motion parallax.
b. Binocular Depth Cues
Binocular depth cues terjadi jika kedua mata menunjukkan gambar yang diambil dari bagian yang berbeda. Yang termasuk binocular depth cues adalah binocular
convergence, dan binocular disparity.
3. Form Perception
Persepsi bentuk adalah apa yang memungkinkan untuk membedakan satu
bentuk dari bentuk yang lain. Prinsip dari rekognisi bentuk penting tidak hanya dalam memahami persepsi manusia, tetapi juga membangun mesin berdasarkan system perseptual. Persepsi bentuk terbagi dalam dua bagian, pertama, bagaimana kita merekognisi bentuk, kedua bagaimana kita merekognisi bentuk dalam suatu pola, seperti huruf dan nomor.
Pendekatan gestalt mengemukakan bahwa the whole is different from the sum
of its individual parts (keseluruhan lebih baik daripada bagian-bagian yang disatukan).
a. Figure Ground
Kemampuan orang melihat benda tergantung dasar dan objeknya. Contohnya, ada gambar yang satu dipersepsikan sebagai vas bunga, persepsi kedua jika dilihat dalam bayang-bayang sebagai Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip.
b. Law of Proximity
Kecenderungan untuk melihat yang dekat sebagai satu kesatuan. Contohnya:
O O O O O O
c. Law of Similarity
x + O x + O x + O
d. Law of Good Continuation
Kecenderungan untuk melihat suatu kesatuan dari sesuatu yang berlangsung kontinu. Contohnya:
e. Law of Closure
Kecenderungan untuk melihat sebuah fenomena kemudian langsung membuat kesimpulannya.
Contohnya:
f. Law of Symmetry
Kecenderungan untuk mempersepsikan bentuk yang terdiri dari bayangan dari gambar aslinya.
g. Pattern Recognition
Melihat suatu bentuk tetapi sudah terlanjur berpikir apa yang sudah umum. Contohnya:
4. Motion Perception
Persepsi gerakan tidak tergantung secara eksklusif pada gerakan objek yang diobservasi. Stimulus bergerak pada visual kontras lebih tinggi yang bergerak lebih cepat daripada stimulus pada kontras yang lebih kecil, meskipun semuanya tidak persis bergerak dengan cepat. Persepsi gerak dari objek melewati retina dari relative menjadi stabil pada latar yang tidak bergerak. Jika stimulusnya di atas kepala kita, gambar pada retina ukurannya akan membesar. Gambar stimulus itu bukan meluas pada jarak yang konstan tetapi stimulusnya mendekat. Kelemahan dari persepsi bentuk ini adalah factor informasi tentang pergerakan kepala dan mata selama
informasi tentang perubahan pada gambar di retina. Yang termasuk motion perception yaitu :
a. Stroboscopic Motion
Contohnya adalah film dan kartun menggunakan prinsip stroboscopic. Film akan digambarkan dengan cepat pada frame tersendiri, ditunjukkan 24 frame perdetik. Kita melihat efek yang sama dalam tanda yang ditunjukkan mengalir pada gerakan cahaya. Ternyata aliran cahaya bergerak cepat berurutan pada bola lampu tersendiri bergerak on dan off.
5. Time Perception
Pada proses persepsi waktu terdapat dua indera yang berperan penting di
dalamnya, yaitu indera peraba (kulit) dan indera penglihatan (mata). Indera peraba memiliki kepekaan terhadap panas dingin (suhu) lingkungan sekitar. Tubuh manusia akan secara otomatis mengetahui waktu jika beranjak malam, akan hujan, ataupun dalam musim penghujan. Hal ini disebabkan karena perubahan suhu yang signifikan. Jika dibandingkan dengan suhu yang hangat pada siang hari, matahari yang bersinar, juga musim kemarau.
Pada indera penglihatan (mata), memiliki kepekaan terhadap cahaya. Sehingga secara otomatis memberikan informasi pada tubuh ketika hari sudah malam, karena semakin berkurangnya cahaya matahari yang menjadi stimulus pada visual kita, Contohnya, Orang yang hidup di gurun pasir akan lebih peka terhadap pergantian musim dibandingkan dengan orang yang hidup di wilayah beriklim tropis dalam menghadapi suhu yang berubah pada malam hari atau pada siang hari. Contoh lain menyebutkan bahwa pada siang hari orang akan bersemangat untuk melakukan aktivitas karena adanya sinar matahari, sedangkan pada malam hari orang mengurangi aktivitasnya karena pada malam hari kebanyakan waktunya digunakan untuk tidur. Aspek persepsi yang relevan dengan kognisi :
a. Pattern cognition : pengidentifikasian serangkaian stimulus penginderaan yang kompleks.
b. Pola : komposisi stimulus yang kompleks (eg, benda, wajah, huruf) yang disimpan dalam bentuk abstrak.
William james : Atensi adalah pemusatan pikiran, dalam bentuk yang jernih dan gambling, terhadap sejumlah objek simultan atau sekelompok pikiran.
Atensi adalah pemusatan upaya mental pada kejadian –kejadian sensorik atau kejadian – kejadian mental. Sejumlah besar gagasan kontemporer tentang atensi dibuat berdasarkan premis bahwa kapasitas system pemrosesan informasi untuk mengolah aliran input ditentukan oleh keterbatasan system tersebut.
Pemusatan (focalization)kesadaran adalah intisari atensi. Atensi mengimplikasikan adanya pengabaian objek-objek lain agar kita sanggup menangani objek-objek tertentu secara efektif. Dari sudut pandang psikologi kognitif masa kini, atensi mengacu pada sebuah proses kognitif yang menyeleksi informasi penting dari dunia di sekeliling kita melalui pancaindera, sehingga otak kita tidak secara berlebihan dipenuhi oleh informasi yang tidak terbatas jumlahnya.
Penelitian terhadap atensi mencakup lima aspek utama :
1. Kapasitas pemrosesan dan atensi selektif
Kita dapat memperhatikan sejumlah stimuli eksternal dari dunia eksternal, namun kita tidak dapat memperhatikan seluruh stimuli yang ada.
2. Tingkat rangsangan 3. Pengendalian atensi
Kita memiliki kendali terhadap pilihan stimuli yang kita perhatikan.
4. Kesadaran
Atensi membawa peristiwa-peristiwa ke alam kesadaran
5. Neurosains kognitif
Otak dan system saraf pusat (central nervous system) adalah pendukung anatomis bagi atensi, sebagaimana kognisi.
2.7 Pengenalan objek 1. Teori-teori perceptual
a. Persepsi konstruktif (constructive perception)
Menyatakan bahwa manusia “mengkonstruksi” persepsi dengna secara aktif memilih stimuli dengan menggabungkan sensasi dengan memori.
Menyatakan bahwa persepsi terbentuk dari perolehan informasi secara langsung dari lingkungan.
2. Pengenalan pola visual
Dipelajari melalui sejumlah perspektif teoretik : a. Psikologi gestalt
Bahwa persepsi pola – pola visual diorganisasikan sesuai prinsip keterdekatan (proximity), kesamaan (similarity) dan pengorganisasian spontan (spontaneous organization).
b. Pemrosesan bottom-up
Pengenalan objek dapat diawali oleh pengenalan terhadap pola, yang kemudian diikuti kesimpulan terhadap bentuk keseluruhan.
c. Pemrosesan top-down
Diawali dengan dibentuknya suatu hipotesis yang dibuat oleh pengamat, yang menyebabkan pengenalan terhadap keseluruhan pola dan diikuti pengenalan komponen-komponen pola.
d. Pencocokan template
Bahwa pengenalan objek terjadi ketika representasi internal stimuli tersebut sama persis dengan stimuli yang diindera system sensorik.
e. Analisis fitur
Bahwa pengenalan objek terjadi hanya setelah stimuli dianalisis berdasarkan komponen-komponen dasarnya.
f. Pengenalan prototype
Bahwa pengenalan terhadap objek terjadi sebagai hasil dari abstraksi terhadap stimuli, yang disimpan di dalam memori dan berfungsi sebagai suatu bentuk ideal, yang digunakan untuk mengevaluasi pola-pola yang diamati.
2.8 Kesadaran
Kesadaran (consciousness) adalah kesiagaan seseorang terhadap peristiwa-peristiwa dilingkungannya serta peristiwa-peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan dan sensasi-sensai fisik.
1. Kerangka kerja kesadaran
Karakteristik-karakteristik utama kerangka kerja : a. Attention (perhatian)
b. Wakefulness (kesiagaan) c. Architecture (arsitektur)
Atribut – atribut sekunder yang tercakup dalam kerangka kerja ini adalah emergence, selectivity dan subjectivity.
2. Fungsi – fungsi kesadaran
Menurut Baars dan McGovern (1996) a. Fungsi konteks-setting (context-setting)
b. Fungsi adaptasi dan pembelajaran (adaptation and learning) c. Fungsi prioritisasi (prioritizing)
d. Fungsi rekrutmen dan control (recruitment and control) e. Fungsi pengambilan keputusan (decision making)
f. Fungsi deteksi dan penyuntingan kekeliruan (error detection and editing) g. Fungsi monitor diri (self monitoring)
h. Fungsi pengorganisasian dan fleksibilitas (organization and flexibility) 3. Model kesadaran kontemporer yang paling berpengaruh
a. Model DICE dari Schater
b. Model teori medan kerja global dari Baars
2.9 Memori
1. Model-model meori ganda
a. James
Memori ganda berkembang mulai tahun 1800an, ketika James membedakan memori langsung yang disebut memori primer dan memori tidak langsung yang disebut
memori sekunder. Teori ini berdasarkan instropeksi.
b. Waugh dan Norman
Model behavioral pertama dikembang oleh Waugh dan Norman (1965). Model tersebut adalah model dualistic, mencakup memori primer dan memori sekunder. Waugh dan Norman mengembangkan model James dengan mengkuantifikasikan karakteristik-karakteristik memori primer.
c. Atkinson dan Shiffrin
Model yang disusun berdasarkan gagasan bahwa struktur-struktur memori bersifat stabil dan proses-proses control berupa factor-faktor tak tetap.
2.10 Representasi pengetahuan
Representasi pengetahuan secara visual a. Hipotesis penyandian ganda
Bahwa informasi disimpan dalam format proposisional-abstrak yang mendefinisikan objek, peristiwa dan hubungan antra objek-peristiwa tersebut, secara spesifik. c. Hipotesis ekuivalensi-fungsional
Bahwa imagery dan persepsi sangat serupa satu sama lain (terutama studi Shepard dan Kosslyn)
Dua jenis representasi untuk menjelaskan imagery antara lain, representasi langsung dan representasi alegoris.
2.11 Bahasa
Bahasa menurut psikologi kognitif adalah suatu system komunikasi yang di dalamnya pikiran-pikiran dikirimkan (transmitted) dengan perantaraan suara atau symbol. Terdapat tiga teori mengenai cara perolehan bahasa :
a. Bahasa adalah predisposisi genetic yang bersifat universal (teori Chomsky) b. Bahasa dipelajari melalui himpunan penguatan-penguatan (teori Skinner)
c. Perkembangan bahasa sebagai fungsi dari kemasakan biologis dan interaksi dengan lingkungan.
2.12 Perkembangan kognitif
Perkembangan kognisi pertama kali dirintis oleh penelitian Jean Piaget dai Swiss dan teori yang dikembangkan oleh Lev S. Vygotsky dari Rusia.
Prinsip-prinsip umum Piaget : a. Organisasi (organization)
Mengacu pada sifat dasar structural mental yang digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami dunia.
b. Adaptasi (adaptation)
Mencakup dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses perolehan informasi dari luar dan pengasimilasiannya dengan pengetahuan dan perilaku kita sebelumnya.
Cirri-ciri perkembangan kognitif adalah :
1. Bersifat kuantitatif
3. Adanya perubahan kualitatif
Ada empat tahap utama, yaitu tahap sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal.
2.13 Berpikir dan Formasi konsep
Berpikir adalah proses yang membentuk representasi mental baru melalui transformasi informasi oleh interaksi kompleks dari atribusi mental yang mencakup pertimbangan, pengabstrakan, penalaran, penggambaran, pemecahan masalah logis, pembentukan konsep, kreativitas dan kecerdasan.
Definisi awal konsep adalah “penggambaran mental, idea tau proses.”
Konsep formasi melibatkan bentuk yang tajam untuk mengklasifikasikan objek dan pencarian tata cara yang relevan dengan konsep tersebut. Aktifitas kognitif melibatkan proses-proses penting meliputi belajar, asosiasi, dan pengujian hipotesis.
Teori yang berpengaruh dalam pembentukan konsep adalah prinsip Asosiasi. Prinsip asosiasi mendalilkan bahwa pembelajaran konsep adalah hasil dari (1) menguatkan pasangan tepat dari sebuah stimulus dengan respon yang mengidentifikasikannya sebagai sebuah konsep (2) non-penguatan pasangan yang tidak tepat dari sebuah stimulus dengan respon untuk
mengidentifikasikannya sebagai konsep.
2.14 Kecerdasan buatan
Kecerdasan buatan mencakup setiap hasil dari produk computer yang dinilai cerdas jika dihasilkan oleh manusia.
Kepandaian buatan diartikan secara luas sebgaia cabang ilmu computer yang
BAB III
KEIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Psikologi kogntifif adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana arus informasi diterima dan ditangkap oleh indera, diproses oleh jiwa seseorang dan diendapkan di dalam kesadaran juga diwujudkan melalui bentuk tingkah laku atau tindakan. Psikologi kognitif dapat pula dipandang sebagai studi terhadap proses-proses yang melandasi dinamika mental
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
1. Solso L Robert, Otto H. Maclin, M. Kimberly Maclin (2007) Cognitive Psychology (8th
Ed) : Pearson education, Inc.
2. Sternberg, R.J.(2006) Cognitive Psychology(4th Ed). Belmont, CA : Thomson