A. Pengantar
Islam masuk ke Indonesia dari arah barat melalui jalur perdagangan. Tidak heran jika kawasan timur Indonesia sedikit tertinggal mengenal Islam. Bahkan, tak sedikit pula kawasan di ujung timur yang tidak sempat terjamah dakwah. Meski demikian, di Sulawesi Islam baru eksis setelah munculnya Kerajaan Gowa-Tallo. Kerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Makassar.
Kerajaan ini terletak di daerah Sulawesi Selatan. Secara geografis, Sulawesi Selatan memiliki posisi yang penting, karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkan daerah Makassar menjadi pusat persinggahan para pedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timur maupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan letak seperti ini mengakibatkan Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
Sebagai kerajaan besar, hadirnya Kerajaan Makassar juga meninggalkan berbagai kebudayaan yang tercipta pada masa kerajaan. Bahkan hasil kebudayaan tersebut sebagiannya masih dapat dinikmati hingga saat ini. Melalui makalah ini, maka akan diidentifikasi berbagai kebudayaan yang pernah ada pada masa Kerajaan Makassar. Disamping itu akan dipaparkan terlebih dahulu mengenai sejarah Kerajaan Makassar.
B. Sejarah Kerajaan Makassar
Sebelum Islam datang, Kerajaan Gowa telah berdiri dengan Tomanurung sebagai raja pertama.1 Namun, tidak banyak catatan sejarah yang menyebutkan perjalanan kerajaan tersebut. Kapan tepatnya berdiri kerajaan pun tidak ada dalam catatan sejarah. Menurut Prof Ahmad M Sewang dalam
1
Afriza Hanifa, “Lintasan Sejarah Kesultanan Gowa-Tallo (1) “ dalam http://www.repub lika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/02/20/n1a09j-memadukan-budaya-islam-dan-jawa-2habis (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI Sampai Abad XVII, Kerajaan Gowa diperkirakan berdiri pada abad ke-14.2
Gowa dan Tallo pra-Islam merupakan kerajaan kembar milik dua bersaudara. Pertengahan abad ke-16, pada masa pemerintahan Raja Gowa IV Tonatangka Lopi, ia membagi wilayah Kerajaan menjadi dua bagian untuk dua putranya, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero. Batara Gowa melanjutkan kekuasaan sang ayah yang meninggal dunia dengan memimpin Kerajaan Gowa sebagai Raja Gowa VII. Sedangkan adiknya, Karaeng Loe ri Sero, mendirikan kerajaan baru bernama Tallo.3 Dalam perjalanannya, dua kerajaan bersaudara ini dilanda peperangan bertahun-tahun. Hingga kemudian pada masa Gowa dipimpin Raja Gowa X, Kerajaan Tallo mengalami kekalahan. Kedua kerajaan kembar itu pun menjadi satu kerajaan dengan kesepakatan Rua Karaeng se’re ata (dua raja, seorang hamba).4 Sejak keduanya menyepakati perjanjian tersebut, maka yang menjadi Raja haruslah dari Kerajaan Gowa dan siapa pun yang menjabat sebagai Raja Tallo, maka ia menjabat sebagai mangkubumi Kerajaan Gowa. Para sejarawan kemudian menamakan kedua kerajaan Gowa dan Tallo dengan Kerajaan Makassar.
Sejak bersatunya Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi Kerajaan Makassar, maka sesuai perjanjian, yang diangkat sebagai raja adalah Raja Gowa yaitu I-Mangngarangi Daeng Manrabia dan Raja Tallo, I-Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka menjabat sebagai mangkubumi. Pada masa inilah Islam mulai masuk ke Kerajaan Makassar melalui tiga mubaligh yang dikirim oleh Raja Aceh Sultan Iskandar Muda. Mereka adalah Abdul Ma'mur Khatib Tunggal atau Dato' (Datuk) Ribandang yang berasal dari Minangkabau
2Afriza Hanifa, “Lintasan Sejarah Kesultanan Gowa-Tallo (1)“ dalam http://www.repub lika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/02/20/n1a09j-memadukan-budaya-islam-dan-jawa-2habis (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
3Afriza Hanifa, “Lintasan Sejarah Kesultanan Gowa-Tallo (1)“ dalam http://www.repub lika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/02/20/n1a09j-memadukan-budaya-islam-dan-jawa-2habis (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
Sumatra Barat, Khatib Sulaiman atau Dato' (Datuk) Patimang, dan Khatib Bungsu atau Dato' (Datuk) ri Tiro.5
Islam diterima baik oleh penguasa Kerajaan Makassar, Raja Gowa I-Mangngarangi Daeng Manrabia memeluk agama Islam dan ia diberi gelar Sultan Alauddin. Sedangkan mangkubumi I-Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka memeluk Islam di beri gelar Sultan Abdullah. Dua tahun sesudah Sultan Alauddin memeluk agama Islam, pada hari Jumat, tanggal 9 Nopember 1607 atau 19 Rajab 1016 H diadakanlah sholat Jumat pertama di Masjid Tallo dan dinyatakan bahwa penduduk Kerajaan Makassar telah memeluk Agama Islam dan Islam dijadikan sebagai agama resmi kerajaan.6 Dari Makassar, agama Islam menyebar ke berbagai daerah sampai ke Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.7
Sejak pemerintahan Sultan Alaudin, Kerajaan Makassar berkembang sebagai kerajaan maritim dan masyarakat hidup dengan aman, damai, dan makmur.8 Kerajaan Makassar semakin menapaki puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Malikulsaid (1639-1653). Kekuasaan dan pengaruhnya kian meluas dan diakui sebagai pemegang hegemoni dan supremasi di Sulawesi Selatan, bahkan kawasan Timur Indonesia. Selanjutnya Kerajaan Makassar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653-1669).9 Pada masa pemerintahannya Makassar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah-daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makassar. Perluasan daerah Makassar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat.
5 Wismoyo Nugraha, “Kerajaan Islam di Indonesia”, dalam http://wismoyonp.blogspot. com/2013/ 03/kerajaan-islam-di-indonesia.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
6 Nur Kasim, “Masa Kerajaan Gowa”, dalam http://nurkasim49.blogspot.com/2011/ 12/ii.html (diakses pada tanggal 14 Desember 2014).
7 Wismoyo Nugraha, “Kerajaan Islam di Indonesia”, dalam http://wismoyonp.blogspot. com/2013/ 03/kerajaan-islam-di-indonesia.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
8 Fatwa Faturohman, “Kesultanan Makassar Gowa Tallo”, dalam http://fatwarohman. blogspot.com/2013/10/kesultanan-makassar-gowa-tallo.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
Kemunduran Kerajaan Makassar disebabkan karena permusuhannya dengan VOC yang berlangsung sangat lama. Ditambah dengan taktik VOC yang memperalat Aru Palakka (Raja Bone) untuk mengalahkan Makassar. Kebetulan pada masa itu Kerajaan Makassar sedang bermusuhan dengan Kerajaan Bone sehingga Raja Bone setuju bekerja sama dengan VOC.10 Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harus mengakui kekalahannya dan menandatangai perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya tentu sangat merugikan kerajaan Makasar, yaitu:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar. b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makasar.
d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.11
Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasar terhadap Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan Hasannudin yaitu Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan Belanda. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makasar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makasar, dan Makasar mengalami kehancurannya.
C. Unsur Budaya dalam Kerajaan Makassar 1. Bahasa
Masyarakat di Kerajaan Makassar pada dasarnya adalah masyarakat asli Makassar. Para raja maupun masyarakat umum menggunakan bahasa Makassar asli yaitu lontara sebagai bahasa lisan dan menggunakan aksara lontara sebagai bahasa tulis. Aksara lontara secara resmi digunakan sebagai
10 Wismoyo Nugraha, “Kerajaan Islam di Indonesia”, dalam http://wismoyonp.blogspot. com/2013/ 03/kerajaan-islam-di-indonesia.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
aksara kerajaan Makassar pada masa Raja Gowa IX dan diberi nama Lontara Bilang Gowa-Tallo yang terdiri dari 18 huruf12 yaitu KA, GA, NGA, PA, BA, MA, TA, DA, NA, CA, JA, NYA, YA, RA, LA, WA, SA, A. Dalam karakter aslinya sebagai berikut:
Penggunaan bahasa lontara di Kerajaan Makassar dibuktikan dari banyaknya penulisan dan penyalinan buku-buku agama Islam dari bahasa Melayu ke bahasa Makassar (lontara) terutama pada abad ke-17 dan abad ke-18. Masuknya Islam tidak memiliki pengaruh besar terhadap bahasa yang digunakan di Kerajaan Makassar. Hanya saja terjadi penambahan pada huruf lontara yaitu huruf “Ha” sehingga jumlahnya menjadi 19 huruf. Lontara ini disebut Lontara Bilang-Bilang.13 Karakter asli dari huruf “Ha” yaitu:
2. Sistem Religi/ Keagamaan
Jauh sebelum datangnya Islam, masyarakat Makassar mempercayai adanya satu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal tersebut dikenal dengan istilah Dewata SeuwaE atau biasa disebut dengan Turei A’rana (kehendak yang tinggi). Mereka pula mempercayai adanya dewa yang bertahta di tempat-tempat tertentu. Seperti kepercayaan tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong yang disebut dengan nama Dewata Mattanrue.14
Masuknya Islam di Kerajaan Makassar tidak serta merta merubah sistem kepercayaan masyarakat yang telah mengakar sejak lama. Karena
12 Agung Bakar, “Lontara”, dalam http://agung-backcarz.blogspot.com/2014/02/lontara. html (diakses pada 14 Desember 2014).
13 Agung Bakar, “Lontara”, dalam http://agung-backcarz.blogspot.com/2014/02/lontara. html (diakses pada 14 Desember 2014).
Islam disebarkan melalui pola top down.15 Ahmad M Sewang dalam bukunya Islamisasi Kerajaan Gowa: abad XVI sampai abad XVII menuturkan, peristiwa masuk Islamnya Raja Gowa-Tallo merupakan tonggak sejarah dimulainya penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Pasalnya, terjadi konversi Islam secara besar-besaran pasca peristiwa tersebut. Penerimaan Islam dimulai dari sebuah dekrit yang dikeluarkan raja Makassar (Gowa-Tallo), Sultan Alauddin, pada 9 November 1607 M. Dekrit tersebut menyatakan Islam sebagai agama resmi kerajaan dan agama masyarakat.16 Pengaruh agama Islam dalam masyarakat Makassar kemudian meresap kedalam kepercayaan, norma-norma dan sistem masyarakat. Hal ini terlihat pada saat diterimanya agama Islam sebagai agama kerajaan dan diterapkannya syariah Islam melalui lembaga Parewa Sara’ (Pejabat Syariah) yaitu Ulama, Qadhi, dan Imam.
3. Sistem Kemasyarakatan/ Sosial
Masyarakat di Kerajaan Makassar sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut Pangadakkang. Pangadakkang adalah sistem pranata sosial yang berisi kitab undang-undang dasar tertinggi orang Makassar/Bugis. Sebelum Islam datang, Pangngadakkang terdiri dari 4 sendi yaitu: Ade’ (Adat istiadat), Rapang (Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan), Wari’ (Sistem protokoler kerajaan), dan Bicara (Sistem hukum). Kemudian bertambah satu Sara’ (syariah Islam) setelah Islam resmi diterima sebagai agama kerajaan.17 Penerapan syariah Islam dalam undang-undang Pangngadakkang misalnya aturan terhadap Wanita dalam berpakaian.
Sebelum Islam, sudah dikenal pakain Baju Bodo (baju yang lengannya
15 Penyebaran Islam dengan pola top down yaitu Islam terlebih dahulu disebarkan kepada penguasa. Setelah Islam diterima langsung oleh penguasa kerajaan kemudian disosialisasikan dan berkembang pada lapisan masyarakat bawah.
16 Sharifaul Hasanah, “Kerajaan Gowa Tallo”, dalam http://sharifaulhasanah.wordpress. com/2014/05/26/kerajaan-gowa-tallo/ (diakses pada 12 Desember 2014).
pendek), setelah Islam menjadi agama Kerajaan Makassar, maka Baju Bodo diganti menjadi Baju Labbu (baju lengan panjang).
Masyarakat Makassar juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari 3 (tiga) golongan yaitu golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan Anakarung atau Karaeng, golongan rakyat kebanyakan yang disebut to Maradeka dan masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba sahaya disebut dengan golongan Ata.18 Selain itu, dalam sistem sosial, juga dikenal adanya hubungan kekerabatan seperti: Sipa’anakang/sianakang (keluarga inti), Sipamanakang (sepupu), Sikalu-kaluki (persambungan keluarga), serta Sambori (sekampung).19 Kesemua kekerabatan yang tersebut terjalin erat antar satu dengan yang lain karena mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Oleh karena jika seorang membutuhkan yang lain, bantuan dan harapannya akan terpenuhi, bahkan mereka bersedia untuk segalanya.
Sirik na pacce merupakan prinsip hidup bagi suku Makassar. Sirik dipergunakan untuk membela kehormatan terhadap orang-orang yang mau memperkosa harga dirinya, sedangkan pacce dipakai untuk membantu sesama anggota masyarakat yang berada dalam penderitaan. Ini sesuai dengan ungkapan suku Makassar berbunyi Punna tena siriknu, paccenu seng paknia (kalau tidak ada siri’mu paccelah yang kau pegang teguh). Yang bermaksud, apabila sirik na pacce sebagai pandangan hidup tidak dimiliki seseorang, akan dapat berakibat orang tersebut bertingkah laku melebihi tingkah laku binatang karena tidak memiliki unsur kepedulian sosial, dan hanya mau menang sendiri.20
4. Mata Pencaharian/ Sistem Ekonomi
Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim dan sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Sehingga hasil
18 Agus Anwar, “Kerajaan Gowa Tallo”, dalam https://www.academia.edu/5703129/ Kerajaan_Gowa_Tallo(diakses pada 12 Desember 2014).
19 Fadilah Madjid, “Suku makassar”, dalam http://fadilahmadjid.blogspot.com/2011/ 06/makalah-karya-ilmiah-tentang-suku.html (diakses pada 14 Desember 2014).
perekonomian terutama diperoleh dari hasil pelayaran dan perdagangan. Pesatnya perkembangan Kerajaan Makassar sebagai pusat ditunjang oleh beberapa faktor :
a. Letak Kerajaan Makassar yang strategis yaitu sebagai penghubung pelayaran Malaka dan Jawa ke Maluku.
b. Memiliki pelabuhan yang baik karena di depan pelabuhan terdapat gugusan pulau kecil yang berguna untuk menahan gelombang dan angin, sehingga keamanan berlabuh di pelabuhan ini terjamin.
c. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang yang pindah ke Indonesia Timur untuk mencari daerah atau pelabuhan yang menjual belikan rempah-rempah.
d. Kemahiran penduduk Makasar dalam bidang pelayaran dan pembuatan kapal besar jenis Phinisi dan Lambo.21
Makassar berkembang sebagai pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing seperti Portugis, Inggris dan Denmark untuk berdagang di Makasar. Pelayaran dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut dengan Ade’ Aloping Loping Bicaranna Pabbalue22, sehingga dengan adanya hukum niaga
tersebut, maka perdagangan di Makasar menjadi teratur dan mengalami perkembangan yang pesat.
Selain perdagangan, Kerajaan Makassar juga mengembangkan kegiatan pertanian.23 Berkembangnya kegiatan pertanian di Kerajaan Makassar disebabkan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo masing-masing memiliki daerah persawahan yang luas dan subur. Karena luasnya daerah persawahan, maka kedua kerajaan ini merupakan penghasil beras yang
21 Fatwa Faturohman, “Kesultanan Makassar Gowa Tallo”, dalam http://fatwarohman. blogspot.com/2013/10/kesultanan-makassar-gowa-tallo.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
22 Ade’ Aloping Loping Bicaranna Pabbalue merupakan aturan atau Undang-Undang pelayaran dan perdagangan kemaritiman yang terdiri dari 21 pasal. Salah satu pasal menjelaskan tentang sewa perahu bagi orang-orang yang berlayar dan berdagang. (pasal 1). Dalam http://www.katailmu.com/2012/06/amanna-gappa.html.
melimpah yang diperdagangkan keseluruh pelabuhan antara lain Ternate, Jawa, Sumatera, Malaka, dan Manila (Filipina).
5. Peralatan Hidup/ Teknologi
Kerajaan Makassar memiliki benteng pertahanan yaitu benteng Kale Gowa, Sanrobone, dan Sombaopu, Benteng Tallo, Benteng Ujung Pandang dan Benteng Ujung Tanah. Benteng-benteng tersebut terbuat dari batu bata dan batu kuril yang dibangun secara gotong royong oleh masyarakat.24 Keberadaan benteng-benteng pertahanan di Kerajaan Makassar menunjukkan bahwa teknologi yang ada pada masa itu tergolong canggih. Disamping benteng pertahanan, sebagai kerajaan maritim tentunya peralatan hidup dan teknologi yang berkembang didominasi oleh benda-benda yang berhubungan dengan pelayaran seperti perahu dan kapal layar.
Pesatnya perkembangan teknologi di Kerajaan Makassar merupakan salah satu keberhasilan para raja Makassar. Pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-10 misalnya dikembangkan keterampilan seperti pandai besi, pembuat bangunan rumah dan perahu, pembuatan sumpit, dan senjata.25 Suksesi ini kemudian dilanjutkan oleh Sultan Alauddin dengan membuka lapangan pekerjaan seperti pertukangan dan membuat perahu, senjata keris, tombak dan alat pertanian sehingga rakyat hidup makmur, aman, dan damai.26
Kecanggihan teknologi di Kerajaan Makassar semakin terlihat disaat bangsa lain masih menggunakan sistem barter sebagai alat tukarnya, kerajaan Makassar telah memiliki alat tukar yang sah di dalam wilayah kekuasaannya yang diberi nama Jingara’ dan Kupa.27 Jingara’ adalah mata Uang Kerajaan Makassar yang terbuat dari emas murni. Sedangkan Kupa hanya terbuat dari campuran Timah dan Tembaga. Hal ini merupakan bukti
24http://nurkasim49.blogspot.com/2011/12/ii.html (diakses pada 14 Desember 2014).
25 Dodi Ilham, “Pendidikan Islam Masa Kerajaan Gowa”, dalam http://dodiilham.blogspot. com/2013/01/pendidikan-islam-masa-kerajaan-gowa_15.html (diakses pada 12 Desember 2014).
26http://www.sulsel.go.id/wisata/all (diakses pada 12 Desember 2014).
tingginya peradaban Kerajaan Makassar dan canggihnya teknologi yang ada sehingga mampu menghasilkan mata uang Kerajaan Makassar.
6. Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan di Kerajaan Makassar telah berkembang dengan baik bahkan sebelum masuknya Islam di Kerajaan Makassar. Yang mana sebelum tahun 1520 di Kerajaan Makassar telah memiliki nama-nama Bulan yang di gunakan di Kerajaan Makassar, yaitu:28
a. Naagai (Januari) b. Palagunai (Februari) c. Bisaakai (Maret) d. Jettai (April) e. Sarawanai (Mei) f. Pe’dawaranai (Juni)
g. Sujiwi (Juli)
h. Pacciekai (Agustus) i. Pociyai (September) j. Mangasierai (Oktober) k. Mangase’tiwi (November) l. Mangalompai (Desember)
Selain telah mengenal nama-nama bulan, masyarakat Suku Makassar juga telah memiliki kemampuan dalam membaca arah bintang. Hal ini disebabkan oleh profesi mereka yang sebagian besar dihabiskan pada aspek Maritim. Dan yang paling membanggakan bahwa pada abad ke-17 Mangkubumi Kerajaan Gowa yang bernama I Mangadacina Daeng Sitaba Karaeng Pattingaloang telah memiliki Teropong Bintang yang berasal dari pemberian Galileo galilei.29
Perkembangan ilmu pengetahuan kemudian semakin pesat setelah masuknya Islam di Kerajaan Makassar. Yang mana sejak Islam dijadikan sebagai agama resmi kerajaan, sistem pendidikan semakin berkembang. Mesjid Kalukubodoa misalnya, menjadi pusat pengajian Islam yang dikunjungi oleh siswa baik dari kerajaan Makassar maupun dari segenap negeri-negeri Bugis-Makassar lainnya yang telah menerima agama Islam. Pada masa pemerintahan Sultan Malikussaid Sultan Makassar ke-15, tiap-tiap negeri memiliki mesjid dan di tiap-tiap-tiap-tiap kampung memiliki langgar.
28 Sharifaul Hasanah, “Kerajaan Gowa Tallo”, dalam http://sharifaulhasanah.wordpress. com/2014/05/26/kerajaan-gowa-tallo/ (diakses pada 12 Desember 2014).
Selain dipergunakan untuk shalat, mesjid dan langgar juga digunakan sebagai tempat pengajian agama bagi anak-anak muda di tempat itu. Guru yang mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu Islam lainnya disebut anrong-gurunta atau anrong-gurunta.
Seterusnya Perkembangan ilmu pengetahuan di Kerajaan Makassar semakin tampak ketika dilakukannya penulisan dan penyalinan buku-buku agama Islam dari bahasa Melayu ke bahasa Makassar (lontara). Beberapa lontara tersebut diantaranya: Lontara perkawinan antara Sayidina Ali dengan Fatima, putri Rasululullah, Lontara Nabi Yusuf dan percintaan Laila dan Majnun, Kitta faraid (Kitab Hukum Pewarisan), dan Kitta Nika (Kitab Hukum Perkawinan).
7. Kesenian
Sebagai kerajaan maritim, kebudayaan yang banyak dihasilkan oleh masyarakat Makasar adalah benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo. Kapal Pinisi dan Lombo merupakan kebanggaan rakyat Makasar dan terkenal sampai mancanegara.30 Selain itu, benda-benda budaya dari Kerajaan Makassar yang dipergunakan di lingkungan kerajaan yang masih bisa dilihat di Museum Balla Lompoa di Jalan Hasannudin, Sanguminasa, Gow, yaitu:
a. Salokoa (mahkota Raja), memiliki berat 1768 gram, terbuat dari emas murni, dan ditaburi 250 berlian.
b. Ponto janga jangaya (Terbuat dari emas murni yang berat seluruhnya 985,5 gram, bentuknya seperti Naga yang melingkar sebanyak 4 buah. Dinamai “Mallimpuang” yang berkepala naga satu dan “Tunipalloang” yang berkepala naga dua, benda ini merupakan benda “Gaukang” (kebesaran Raja) dan dipakai pada pergelangan tangan.
c. Tobo kaluku ataurantai manila dengan berat 270 gram.
d. Kolara (kalung kebesaran yang terbuat dari emas murni seberat 2.182 gram).
e. Kancing gaukang (kancing emas) dengan berat 277 gram.
f. Lasippo berbentuk parang dari besi tua.
g. Sudanga berbentuk kalewang yang merupakan senjata sakti atribut raja.
h. Berang manurung (parang panjang).
i. Mata tombak tiga jenis.31
Sedangkan sebagai sebuah kerajaan yang identik dengan Islam, kesenian yang berkembang berupa seni kaligrafi yang terdapat pada mata uang kerajaan Makassar dan kaligrafi yang terdapat pada makam-makam raja Makasssar. Selain itu, terdapat pula seni tari yang tidak hanya sekedar dijadikan sebagai hiburan, tapi juga sebagai media dakwah Islam, yaitu: a. Tari Pepe-Pepeka Ri
Tarian Pepe-Pepeka Ri muncul bersamaan di jadikannya Islam sebagai agama resmi Kerajaan Makassar. Tarian ini merupakan salah satu alat pendukung Islamisasi yang dilakukan oleh Kerajaan Makassar di abad ke 17. Jadi disamping sebagai sarana untuk menghibur masyarakat, tarian ini juga berfungsi sebagai Media Dakwah Islam. Nuansa Islam dalam tarian ini dapat disaksikan dari mantera-mantera yang di ucapkan oleh pemainnya di antaranya adalah “Pepe-pepeka ri Makka lenterayya ri Madina Ya Allah Paroba Sai Na Takakbere dunia…”.32
b. Permainan Pa’raga
Pa’raga merupakan kesenian yang berkembang di Kerajaan Makassar sebelum masuknya Islam di Makassar. Kesenian ini memadukan unsur ketangkasan dan bela diri. Awalnya, gerakan-gerakan dalam pa’raga hanya gerakan bela diri biasa. Pada masa penetrasi agama Islam di wilayah Kesultanan Gowa, pa’raga menjadi media efektif untuk menyebarkan agama Islam di kalangan rakyat dengan memasukkan unsur musik dan nuansa Islam di permainan ini yaitu para pemain selalu melafalkan kalimat La ilaha illallah saat beratraksi. Pemain pa’raga biasanya adalah para pemuda yang terlatih baik. Mengenakan pakaian
31
https://gharra.wordpress.com/2013/03/09/peninggalan-kerjaan-gowa-di-museum-balla-lompoa/ (diakses pada 10 Desember 2014).adat yang terdiri dari passapu (penutup kepala khas Makassar berbetuk segi tiga), baju tutup (jas tradisional), dan lipa sabbe (sarung khas Makassar yang terbuat dari kain sutera).33
D. Penutup
Kerajaan Makassar merupakan perpaduan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Kerajaan ini berkembang menjadi kerajaan Islam ditandai dengan dijadikannya Islam sebagai agama resmi kerajaan pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, sultan pertama di Gowa yang memeluk Islam. Kerajaan Makassar kemudian berkembang pesat menjadi kerajaan maritim dan pusat perdagangan di Indonesia timur pada masa Sultan Malikulsaid dan Sultan Hasannudin. Seperti halnya kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, Kerajaan Makassar harus berakhir karena adanya VOC yang berusaha merebut wilayah kekuasaan Kerajaan Makassar.
Meski harus berakhir, Kerajaan Makassar yang pernah eksis di bumi Nusantara meninggalkan beragam kebudayaan yang masih ada hingga saat ini. Diantaranya berbagai koleksi perhiasan sultan yang dapat dilihat di Museum Balla Lompoa, kapal Pinisi dan Lombo, serta beragam peninggalan lainnya. Peninggalan tersebut merupakan bukti sejarah keberadaan Kerajaan Makassar yang harus terus dijaga dengan sebaik-baiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Bakar, Agung, “Lontara”, dalam http://agung-backcarz.blogspot.com/2014/02/ lontara.html (diakses pada 14 Desember 2014).
Faturohman, Fatwa, “Kesultanan Makassar Gowa Tallo”, dalam http://fatwaro hman.blogspot.com/2013/10/kesultanan-makassar-gowa-tallo.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
Hanifa, Afriza, “Lintasan Sejarah Kesultanan Gowa-Tallo (1) “ dalam
http://www. republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/02/20/n1a09j-mema dukan-budaya (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
Hasanah, Sharifaul, “Kerajaan Gowa Tallo”, dalam http://sharifaulhasanah.word press.com//kerajaan-gowa-tallo/ (diakses pada 12 Desember 2014).
http://mediacari.com/atraksi-paraga/ (diakses pada 10 Desember 2014).
https://gharra.wordpress.com/2013/03/09/peninggalan-kerjaan-gowa-di-museum-balla-lompoa/ (diakses pada 10 Desember 2014).
Ilham, Dodi, “Pendidikan Islam Masa Kerajaan Gowa”, dalam http://dodiilham. blogspot.com/2013/01/pendidikan-islam-masa-kerajaan-gowa_15.html (di akses pada 12 Desember 2014).
Kasim, Nur, “Masa Kerajaan Gowa”, dalam http://nurkasim49.blogspot.com/ 2011/12/ii.html(diakses pada tanggal 14 Desember 2014).
Kompasiana, “Setelah Sriwijaya dan Majapahit ada Kerajaan Gowa”, dalam
http://sejarah.kompasiana.com/2012/06/11/setelah-sriwijaya-dan-majap ahit-ada-kerajaan-gowa-469993.html (diakses pada 12 Desember 2014).
Madjid, Fadilah, “Suku makassar”, dalam http://fadilahmadjid.blogspot.com/2011 /06/makalah-karya-ilmiah-tentang-suku.html (diakses pada 14 Desember 2014).
Mardan, Suwandy, “Tari Pepe'-Pepeka Ri Makka, Salah Satu Jejak Kehadiran Islam di Tanah Makassar”, dalam http://jejakcelebes.blogspot.com/2012_ 06_01_archive.html (diakses pada 10 Desember 2014).
Nugraha, Wismoyo, “Kerajaan Islam di Indonesia”, dalam http://wismoyonp.blog spot.com/2013/ 03/kerajaan-islam-di-indonesia.html (diakses pada tanggal 12 Desember 2014).
Tahrir, Hizbut, “Kerajaan Gowa-Tallo [Ekspedisi Islam Oleh Serambi Madinah dari Timur – Bagian II]”, dalam http://hizbuttahrir.or.id/2008/05/31/ kerajaan-gowa-tallo/ (diakses pada 14 Desember 2014).