PROPOSAL SKRIPSI
Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit dengan Motode
Constructed Wetland
Disusun oleh:
Tifany Natasha 1109045043
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan dasar bagi kebutuhan dasar bagi kehidupan baik itu manusia, tumbuhan, dan hewan semua memerlukan air. Hal ini dapat terlihat semakin naik jumlah kependudukan maka semakin meningkat pula kebutuhan akan sumber daya air. Beban pengotoran air juga bertambah cepat sesuai dengan cepatnya pertumbuhan.
Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan merupakan salah satu penyumbang limbah bagi suatu daerah. Dalam pelaksanaannya rumah sakit menghasilkan limbah yang terdiri dari limbah padat, limbah gas dan limbah cair baik berjenis dari limbah medis maupun dari limbah non medis. Limbah rumah sakit seperti halnya limbah lain akan mengandung bahan-bahan organik dan anorganik, yang tingkat kandungannya dapat ditentukan dengan uji kotor umumnya seperti BOD, COD, TSS, pH, mikrobiologi, dan lain-lain.
Pengolahan air limbah yang mengandung bahan organik dapat dilakukan secara biologis yaitu pengolahan secara aerobik, anaerobik maupun gabungan antara aerobik dan anaerobik. Penggunaan tumbuhan air dengan sistem constructed wetland merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam pengolahan air limbah, salah satunya air limbah rumah sakit.
constructed wetland, media, dan mikroorganisme untukmengolah air limbah. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas air dan mengurangi efek berbahaya dari limbah, serta menyumbang upaya konservasi air.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil dari pengolahan air limbah rumah sakit dengan menggunakan metode Constructed Wetlands (CWs) dalam upaya menurunkan kadar BOD, COD, pH, dan logam berat sehingga aman dibuang ke badan air.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana efisiensi penyisihan kadar BOD, COD, pH serta logam berat pada air limbah rumah sakit dengan menggunakan sistem pengolahan constructed wetland.
2. Bagaimana efisiensi media tanam dalam pengolahan air limbah rumah sakit dengan metode constructed wetland.
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah atau ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:
1. Sistem wetland yang digunakan pada reaktor adalah subsurface constructed wetland aliran vertical.
2. Parameter yang diujikan pada air limbah rumah sakit adalah BOD, COD, pH serta logam berat.
1.4 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui efisiensi penyisihan kadar BOD, COD, pH serta logam berat pada air limbah rumah sakit dengan menggunakan sistem pengolahan
constructed wetland.
2. Mengetahui efisiensi media tanam yang digunakan dalam pengolahan air limbah rumah sakit dengan metode constructed wetland.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan informasi dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat dan juga Bangsa dan Negara.
2. Memberikan referensi dalam perancangan pengolahan air limbah rumah sakit dengan menggunakan metode constructed wetland.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Limbah
Limbah (waste) adalah sesuatu yang tidak dipakai, tidak digunakan, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Sedangkan FKM-UI mendifinisikan limbah atau sampah ialah benda bahan padat yang terjadi karena berhubungan dengan aktifitas manusia yang tidak dipakai lagi, tak disenangi dan dibuang dengan cara saniter kecuali buangan dari tubuh manusia (Kusnoputranto, 1986).
2.1.1 Limbah Rumah Sakit
Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme bergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang.
Arifin (2008) menyebutkan secara umum limbah rumah sakit dibagi dalam 2 (dua) kelompok besar, yaitu: 1) limbah klinis, 2) limbah non klinis baik padat maupun cair. Limbah klinis/medis padat adalah limbah yang terdiri dari limbah benda tajam, limbah infeksius, limbah laboratorium, limbah patologi atau jaringan tubuh, limbah sitotoksis, limbah farmasi, dan limbah kimiawi.
ke lingkungan rumah sakit yang disebabkan oleh teknik pelayanan kesehatan yang kurang memadai, kesalahan penanganan bahan-bahan terkontaminasi dan peralatan, serta penyediaan dan pemeliharaan sarana sanitasi yang masih buruk (Said, 1999).
2.1.1.1 Keterpaparan dan Parameter Limbah Rumah Sakit
Keterpaparan limbah rumah sakit hampir sama dengan limbah cair domestic, hanya saja yang zmembedakannya adalah adanya kandungan limbah infeksius dan kimia/toksik/antibiotic. Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme tergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang.
Pengukuran baku mutu kimia limbah cair bagi kesehatan rumah sakit sebagai berikut:
a. BOD (Biochemical Oxygent Demand)
BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesainsistem pengolahan secara biologis (SNI, 2008). Menurut Fardiaz (1992) BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jadi nilai BOD tidak menunjukkan jumlah bahan organic sebenarnya, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan tersebut.jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka berarti kandungan bahan-bahan yang membutuhkan oksigen tinggi.
b. COD (Chemical Oxygent Demand)
ini buangan organik akan dioksidasi oleh Kalium bichromat menjadi gas CO2, H2O serta sejumlah ion Chrom. Kalium bichromat atau K2Cr2O7digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) (Wardhana, 2000).
c. Derajat Keasaman (pH)
Menurut Fardiaz (1992), nilai pH yang normal sekitar antara 6 sampai 8, sedangkan pH air yang berpolusi, misalnya air buangan berbeda-beda tergantung dari jenis buangannya. pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Derajat keasaman (pH) menunjukan suatu proses reaksi yang berada dalam perairan seperti reaksi dalam kondisi asam atau basa. Derajat keasaman (pH) sangat berpengaruh terhadap tingkat toksisitas bahan beracun.
d. TSS (Total Suspended Solid)
TSS adalah jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membrane berukuran 0,45 mikron. Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui kekuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk menentukan efisiensi unit pengolahan air (SNI, 2008).
e. Fosfat
Fosfat dalam air terdapat sebagai ortofosfat, polifosfat dan organik fosfat jumlah kandungan ketiga fosfat tersebut dinyatakan sebagai total fosfat. Sumber fosfat di dalam air dapat berbentuk inorganik dan organik. Sumber utama fosfat inorganik adalah hasil dari buangan detergen, alat pembersih rumah tangga atau industry, sedangkan fosfat organik berasal dari makanan dan buangan rumah tangga/rumah sakit. Fosfat sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan organism dan merupakan factor yang menentukan produktifitas suatu perairan dan merupakan parameter untuk mendeteksi pencemaran air.
2.1.1.2 Standar Air Buangan
Tabel 2.1 Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit
Fospat Total (PO4) mg/L - 2
Kuman Golongan Koli MPN,/100mL
- - 10.000
Sumber: KepMen LH No 58 Tahun 1995 dan Perda Prov Kaltim No 2 Tahun 2011
2.2 Constructed Wetlands (Lahan Basah Buatan)
Instalasi pengolahan limbah cair biologis atau constructed wetland merupakan instalasi pengolahan limbah cair buatan yang dirancang dan dibuat berupa kolam atau saluran yang ditanami oleh tumbuhan-tumbuhan air dan proses penjernihan limbah cair dilakukan secara biologis dengan bantuan mikroorganisme, proses fisika dan kimia. Instalasi ini dirancang seperti proses penjernihan limbah cair yang ada di alam, tetapi dengan lingkungan yang dapat dikendalikan. Instalasi pengolahan limbah cair buatan ini mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan instalasi pengolahan limbah cair alami ( natural wetlands) yaitu lokasi bisa dipilih sesuai dengan keinginan, ukuran lebih fleksibel, pola aliran serta waktu tinggal bisa diatur (Brix dalam Kurniadie, 2011).
2.2.1 Tipe constructed wetland
Instalasi pengolahan limbah cair atau constructed wetland diklasifikasikan berdasarkan berbagai macam parameter, tetapi yang paling penting adalah berdasarkan tipe aliran yaitu aliran permukaan (free water surface flow) dan aliran bawah permukaan (subsurface water flow).
a. Free Water Surface Flow (FWS)
Instalasi pengolahan limbah cair dengan polaaliran permukaan atau free water surface constructed wetland (FWS) terdiri dari kolam atau saluran dengan menggunakan tanah atau medium untuk mendukung perakaran tumbuhan (jika ada) dan air. Sistem FWS ini sangant mirip dengan kondisi wetland secara alami (natural wetland) dan umumnya merupakan kolam yang ditanami berbagai jenis tanaman gulma air (Kurniadie, 2011).
Masalah dari instalasi pengolahan limbah cair dengan pola aliran permukaan atau
free water surface flow ini adalah areal lahan yang diperlukan lebih luas, banyak nyamuk, estetika kurang baik serta dapat menimbulkan bau. Berdasarkan jenis dari gulma air, instalasi pengolahan limbah cair free surface dibagi kedalam beberapa sistem, yaitu:
1) Sistem dengan menggunakan gulma air yang terapung bebas seperti gulma air
Elchornia crassibes, Pistia stratiotes, Lemna spp., Spirodela polyrhiza, Wolfia spp.
2) Sistem dengan menggunakan gulma air terapung dengan akar yang menempel pada tanah seperti gulma air Nymphaea spp., Nuphar lutea dan Nelumbo nucifera.
Jenis instalasi ini banyak dibuat di negara-negara tropis, karena jenis gulma iar ini tidak tahan pada cuaca dingin seperti negara-negara sub tropis serta tingkat pertumbuhan akan berkurang pada temperatur dibawah 10 ℃ . Instalasi ini banyak digunakan untuk mengolah limbah cair industry pertanian, peternakan, industry telstil, industry logam serta pestisida (Vymazal dan Kropfelova dalam Kurniadie, 2011).
b. Subsurface Flow System
Instalasi pengolahan limbah cair dengan menggunakan aliran subsurface flow system diklasifikasikan menurut arah dari aliran baik arah horizontal (HSF) dan arah vertical (VFS).
1. Horizontal Subsurface Flow (HSF)
Instalasi pengolahan limbah cair tipe horizontal atau constructed wetland with a horizontal subsurface flow (HF atau HSF) merupakan instalasi pengolahan limbah cair dimana limbah cair dimasukkan ke dalam inflow dan mengalir secara lambat melalui media yang porous secara horizontal menuju saluran outflow. Bahan-bahan organik pencemar didegradasi secara aerob dan anaerob oleh bakteri yang menempel pada bagian akar dan rhizome dari tumbuhan gulma air emergent dan permukaan media tumbuh. Oksigen yang diperlukan untuk degradasi aerobik diberikan secra langsung dari atmosphere
secara difusi atau keluarnya oksigen dari akar dan rhizome pada bagian
rhizosphere (Kurniadie, 2011). 2. Vertical Flow System (VFS)
Instalasi pengolahan limbah cair dengan menggunakan aliran vertikal atau
gulma air emergent adalah untuk menjaga supaya konduktivitas hidraulik bisa terjaga, sehingga filter bed tidak mudah mampet.
Proses utama penjernihan limbah cair pada instalasi pengolahan limbah cair tipe vertikal adalah sama dengan pada instalasi pengolahan limbah cair horizontal, tetapi filter bed pada sistem vertikal lebih bersifat aerob dibandingkan dengan sistem horizontal, sehingga proses nitrifikasi dan penurunan BOD lebih cepat, tetapi proses penurunan suspended solid lebih baik pada sistem pengolahan limbah cair tipe horizontal.
Proses eliminasi bahan organic dan unsure hara pencemar pada instalasi ini terjadi melalui proses (Kurniadie, 2011):
a) Adsorpsi dari koloid-koloid oleh media atau substrat
b) Pengikatan kapasitas kation dan anion pada mineral liat dan oksida Fe
c) Transformasi dari nutrisi/unsur hara bahan organik pencemar oleh mikroorganisme
d) Penghisapan oleh tanaman
Platzer dan Mauch dalam Kurniadie (2011) mengatakan bahwa instalasi pengolah limbah cair subsurface water flow system dengan aliran vertikal dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan efesiensi pembersih dari kandungan nutrisi pembersih serta bahan yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan dengan instalasi pengolah limbah cair subsurface water flow system dengan aliran horizontal. Selain itu Flasche dalam Kurniadie (2011) melaporkan bahwa instalasi pengolah limbah cair
subsurface water flow system dengan aliran vertikal mempunyai efesiensi pembersih lebih tinggi terhadap NH4N dan COD dibandingkan dengan instalasi pengolah limbah cair subsurface water flow system dengan aliran horizontal.
2.2.2 Komponen-komponen Constructed Wetland
a. Mikroorganisme
Mikroorganisme pada lahan basah buatan biasanya melekat pada permukaan perakaran dan substrat/media membentuk biofilm. Mikroorganisme berperan sangat penting dalam sistem lahan basah buatan karena mikroorganisme melaksanakan penguraian bahan-bahan organik baik secara aerobik maupun anaerobik. Mikroorganisme juga berperan dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi.
b. Tanaman
Tanaman adalah komponen terpenting yang berfungsi sebagai pendaur ulang bahan pencemar dalam air limbah untuk menjadi biomassa yang bernilai ekonomis dan menyuplai oksigen ke dasar air atau ke dalam substrat yang berkondisi anaerobik. Tanaman menggunakan energi matahari untuk menggerakan reaksi biokimia di dalam selnya, sehingga manusia tidak perlu lagi memasok energi listrik dalam proses pembersihan air limbah (Khiatuddin, 2003).
Tanaman pada lahan basah buatan berperan:
1) Penyedia oksigen bagi proses penguraian zat pencemar 2) Media tumbuh dan berkembangnya mokroorganisme
3) Penahan laju aliran sehingga memudahkan proses sedimentasi padatan, membantu proses filtrasi (terutama bagian perakaran tanaman) dan mencegah erosi.
4) Penyerap nutrient dan bahan-bahan pencemar lainnya
5) Pencegah pertumbuhan virus dan bakteri pathogen dengan mengeluarkan zat-zat tertentu semacam antibiotik.
1) Tanaman yang mencuat ke permukaan air (emergent aquatic macrophyte), merupakan tanaman air timbul yang berakar dibawah air dan berdaun di atas air.
2) Tanaman yang mengambang dalam air (submergent aquatic macrophyte), merupakan tanaman air yang keseluruhannya berada di dalam air.
3) Tanaman yang mengapung di permukaan air (floating plant), merupakan tanaman yang mempunyai akar di dalam air dengan daun di atas air.
c. Substrat/media
Substrat/media berperan sebagai tempat menempelnya mikroorganisme sehingga memperluas permukaan sistem lahan basah buatan. Selain itu, substrat juga berperan untuk menyokong tumbuhan air, membantu proses filtrasi (terutama pada lahan basah buatan beraliran bawah permukaan/subsurface flow) dan menampung sedimen. Jenis substrat sangat mempengaruhi waktu detensi, oleh karena itu pemilihan substrat yang tepat sangat menentukan keberhasilan sistem dalam mengolah air limbah.
Menurut Kurniadie (2011) substrat/media tumbuh tanaman merupakan salah satu faktor pendukung utama dalam instalasi penjernih limbah cair. Hal ini disebabkan karena proses biologi, kimia dan fisika dalam penjernihan limbah cair terjadi pada substrat yang ditanami dengan berbagai macam tumbuhan gulma air emergent (Netter, 1992). Jenis substrat yang digunakan sangat berpengaruh pada efisiensi pembersih dari instalasi pengolahan limbah cair (Netter, 1992). Sebelumnya banyak instalasi pengolahan limbah cair yang menggunakan tanah sebagai substrat (media tumbuh) tetapi banyak menimbulkan masalah terutama adanya aliran permukaan, pertumbuhan gulma air emergent yang kurang baik serta efisiensi pembersih yang kurang baik (Cooper, 1993).
1) Media tumbuh gulma air emergent merupakan tempat menempel mikroorganisme anaerob (dan atau anoxic juka terdapat nitrat) untuk dekomposisi bahan organik pencemar.
2) Mempengaruhu retention time (waktu tinggal).
3) Memberikan kesempatan bagi mikroorganisme untuk mendekomposisi bahan pencemar pada limbah cair.
4) Tersedianya oksigen yang kesemuanya akan berpengaruh pada efisiensi pembersih dari instalasi pengolahan limbah cair.
d. Kolom air
Kolom air dalam lahan basah buatan berperan penting, karena apabila kolom air terlalu dalam akan berpengaruh terhadap efisiensi lahan basah buatan.
2.3 Tanaman Iris pseudacorus
Tanaman Scirpus validus dan Iris pseudacorus memiliki kapasitas serapan hara lebih tinggi disbanding Typha orientalis, Pharagmites australis (Haimin Wu et all
dalam Suswati, 2012).
Tanaman Iris telah banyak digunakan sebagai tanaman holtikultura, karena tanaman ini dapat beradaptasipada kondisi oksigen yang rendah. Tanaman tersebut dapat hidup pada area-area yang memiliki kandungan zat organic terlarut yang sangat tinggi dan tanaman ini dapat menurunkan zat organic terlarut hingga 25% lebih dari satu tahun. Dalam 24 jam, dapat menurunkan E.coli sebesar 50%,
Salmonela hingga 70%, dan Entercoli hingga 60%. Hal tersebut dapat membuktikan bahwa tanaman Iris dapat menurunkan logam berat pada air limbah secara efisien dan ekonomis, karena kemampuan tanaman ini dalam menyerap logam serta dapat bertahan dalam kondisi tidak baik (Jacobs, Graves & Mangold, 2010).
tergenang. Biasanya, tanaman tersebut tumbuh di daerah-daerah yang memiliki kandungan air tanah yang cukup tinggi, tetapi tidak harus terendam, serta dapat tumbuh pada tanah berpasir yang kering. Tanaman ini dapat membentuk lapisan yang mengambang di air, tumbuh di daerah gambut dan terendam oleh tanah organic dan anorganik secara permanen. Di negara eropa, tanaman ini tetap berada pada daerah yang lebih tinggi dari rawa dan muara dengan salinitas hingga 24%. Tanaman ini sering ditemukan di rawa-rawa, dengan pH 3,6 – 7,7 dan membutuhkan kandungan nitrogen yang tinggi (Jacobs, Graves & Mangold, 2010).
2.4 Hipotesa awal
Tanaman Iris pseudacorus dapat menurunkan kadar BOD, COD, pH, dan logam berat dalam pengolahan limbah rumah sakit
BAB III
3.1 Waktu dan Tempat Riset
3.1.1 Waktu Riset
Waktu riset dilakukan mulai dari bulan September sampai dengan Desember 2014.
3.1.2 Tempat Riset
Riset Subsurface Constructed Wetland tipe vertical pada limbah rumah sakit berlokasi di Laboratorium Rekayasa Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman di Jl. Sambaliung No. 9 Kampus Gunung Kelua, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
a. Bak penampung awal
b. Bak reaktor Wetland kedap air c. Bak penampung akhir
d. pH meter e. Termometer f. Soil tester
3.2.2 Bahan
a. Sampel air limbah rumah sakit b. Tanaman Iris pseudacorus
c. Kerikil d. Air PDAM
Objek penelitian ini adalah air limbah yang berasal dari kegiatan salah satu rumah sakit di Kota Samarinda dan tanaman Iris pseudacorus.
3.4 Variabel Penelitian
3.4.1 Variabel Bebas
Variasi tanaman wetland yaitu bak dengan menggunakan tanaman Iris pseudacorus dan bak tanpa menggunakan tanaman sebagai bak pengontrol.
3.4.2 Variabel Terikat
Parameter air limbah rumah sakit yang diuji meliputi BOD, COD, pH, dan logam berat.
3.5 Tahap Penelitian
3.5.1 Tahap Persiapan
a. Studi pustaka, dilakukan untuk mendapatkan literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian baik buku-buku pustaka maupun hasil penelitian terdahulu.
b. Penyiapan bahan dan alat penelitian.
3.5.2 Tahap Penjenuhan Reaktor
Pada tahap ini dilakukan untuk melarutkan partikel-partikel halus yang berasal dari media agar terbentuk porositas media dengan baik. Pada tahap ini reactor yang telah siap diisi dengan menggunakan air PDAM dengan waktu tinggal yang diperlukan sebanyak 4 hari. Hal ini ditentukan ketika tidak ada lagi penurunan media apabila ditambahkan air lagi.
3.5.3 Tahap Aklimatisasi Tanaman
Tahapan ini merupakan tahap adaptasi tanaman dan media terhadap reaktor
wetland agar dapat menyesuaikan diri dari lingkungan baru dan dapat bertahan hidup. tahap aklimatisasi ini dilakukan selama 7 hari dengan pemberian air limbah laboratorium secara berkala mulai dari konsentrasi air limbah yang diberikan sebanyak 25%, 50%, 75%, hingga 100%.
3.5.4 Tahap Pengoperasian Reaktor Wetland
Tahap ini merupakan tahap dimana reactor diisi dengan air limbah yang dialirkan dengan menggunakan pipa yang dialirkan secara gravitasi ke inlet secara continue
yang dilakukan selama 6 hari.
3.6 Metode Pengumpulan Data
3.6.1 Data Primer
Data primer pada penelitian ini adalah kadar pH, BOD, COD, dan logam berat yang terkandung pada air limbah.
3.6.2 Data Sekunder
Data sekunder pada penelitian ini adalah jenis tanaman, jenis air limbah
3.7 Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan metode pemodelan pengolahan air limbah rumah sakit dengan menggunakan metode Constructed Wetland dengan skala penelitian untuk laboratorium. Teknik analisis data dilakukan dengan pendekatan kuantitatif untuk menentukan konsentrasi limbah yang tepat dalam menurunkan parameter pH, COD, BOD, dan logam berat.
Untuk mempermudah proses pengerjaan tugas akhir ini, maka dibuat diagram alir
- Penjenuhan tanaman selama 4 hari
- Aklimatisasi tanaman selama 7 hari
Penelitian : - Pengoperasian Reaktor - Pengamatan fisik tanaman
- Pengukuran harian parameter pH dan suhu reaktor
Analisis Laboratorium
Hasil
- Analisis efisiensi penyisihan parameter limbah dengan constructed wetland (BOD, COD, pH, dan Logam berat
- Analisis fisik tanaman (tinggi dan jumlah daun serta perubahan warna tanaman)
Kesimpulan dan saran
4.1 Deskripsi Penelitian 4.2 Kualitas Air Limbah 4.3 Analisis pH
4.4 Analisis Kadar BOD 4.5 Analisis Kadar COD
4.6 Analisis Kadar Logam Berat 4.7 Pengamatan Fisik Tanaman
1. Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius : Yogyakarta
2. Jacobs, J., M. Graves and J. Mangold. 2010. Plant Guide for Paleyellow Iris (Iris pseudacorus). USDA-Natural Resources Conservation Service, Montana State Office : Montana.
3. Kurniadie, Denny. 2011. Teknologi Pengoloahan Air limbah Cair secara Biologis. Widya Padjajaran.
4. Puspita, U. Ratna., Siregar, A. Sahri., Hidayati. N. Vita. 2011. Kemampuan Tumbuhan Air sebagai Agen Fitoremediator Logam Berat Kromium (Cr) yang Terdapat Pada Limbah Cair Industri Batik. Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2011, hlm 58 – 64 Vol. 39 No. 1 ISSN 0126 – 4265.