SISTEM TRANSPORTASI
Definisi
Sistem transportasi meliputi fasilitas-fasilitas yang tetap, arus lalu lintas yang ada, dan sistem kontrol yang memungkinkan orang dan berang dapat mengatasi hambatan geografis secara efisien dan efektif secara waktu dalam aktifitas yang diinginkan.
Fasilitas-fasilitas tetap meliputi:
komponen-komponen fisik dari sistem yang tetap dalam ruang dan merupakan jaringan lalu lintas (seperti ruas jalan, rel kereta) dan nodes/titik (seperti persimpangan, simpang susun, terminal, pelabuhan, dan bandara) dari sistem transportasi
Arus lalu lintas yang ada adalah:
satuan-satuan kendaraan yang melalui fasilitas-fasilitas yang ada, yang termasuk didalamnya adalah mobil, kontainer, gerbong kereta, dan lain-lain. Pada jalan raya, fasilitas-fasilitas tetap diharapkan dapat mengakomodasi secara luas jenis-jenis kendaran dari sepeda sampai trailer.
Sistem pengontrolan adalah:
terdiri dari sistem pengontrolan kendaraan dan pengontrolan arus lalu lintas. Pengontrolan kendaraan meliputi teknologi yang mengarahkan kendaraan dalam faslitas-fasilitas tetap, seperti kontrol manual atau otomatis.
Klassifikasi Jenis Transportasi
Secara garis besar dapat dibagi menjadi empat: 1. Transportasi darat
jalan raya, jalan rel 2. Transportasi air
danau, sungai, laut 3. Transportasi udara
domistik, internasional 4. Transportasi pipa
minyak, gas
Kerangka Permasalahan Transportasi
1. Masalah-masalah yang langsung berhubungan dengan pelayanan transportasi
seperti: macet, kapasitas tidak cukup, biaya pengguna mahal (tol), rendahnya tingkat pelayanan jalan, biaya operasional kendaraan yang tinggi
2. Masalah-masalah yang diakibatkan oleh adanya transportasi
seperti: polusi udara, polusi suara, konsumsi energi, pengembangan lahan yang tidak diinginkan, dampak yang tidak seimbang antara kelompok-kelompok masyarakat 3. Masalah-masalah yang mengakibatkan adanya transportasi
Elemen-elemen transportasi
1. Kendaraan, meliputi penggerak, kapasitas, keamanan 2. Jalan, meliputi kecepatan, kapasitas, dan guideway
3. Terminal, meliputi pemindahan moda, turun naik penumpang
4. Manajemen dan kontrol, meliputi keamanan, kapasitas maksimum, rambu, dan petunjuk
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Perencanaan Transportasi
Perencanaan adalah suatu aktifitas atau proses yang mengakaji potensi-potensi tindakan-tindakan dimasa mendatang untuk mengarahkan situasi atau sistem menuju arah yang diinginkan. Perencanaan didefinisikan sebagai rencana aksi-aksi yang akan diambil pada masa mendatang yang dilakukan saat ini.
Alasan-alasan perlunya melakukan perencanaan transportasi:
1. Mempengaruhi jumlah penduduk yang luas, dan keuntungan hanya untuk golongan tertentu
2. Membutuhkan dana yang besar
3. Proyek yang besar dan waktu konstruksi yang lama 4. Perencanaan jangka panjang (perlu perencanaan ekonomi) 5. Koordinasi antar departemen (instansi) sangat diperlukan
Perencanaan Transportasi Perkotaan
Masalah-masalah transportasi perkotaan: 1. Multi dimensi
Saling berkaitan antara sistem transportasi dengan seluruh sistem sosial ekonomi dimana pelayanan transportasi adalah sangat kuatnya interaksi antara tata guna lahan, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi
2. Solusi permasalahan sangat luas
Tidak hanya memiliki satu solusi, terdapat banyak solusi alternatif, misalnya untuk mengatasi kemacetan lalu lintas bisa diambil solusi jalan diperlebar atau jumlah bis diperbanyak atau dibuatkan jalan rel dan sebagainya.
3. Solusi mendesak dan jangka panjang sering tidak konsisten 4. Perencanaan sektor umum
Seluruh aspek dan konsekwensinya dari setiap keputusan harus dipertimbangkan 5. Kompetisi dalam kebutuhan dana
Seringkali menjadi suatu hal yang menjadi pertimbangan politis 6. Pengaruh hasil yang menjadi penyebab
Menjadi siklus perencanaan
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Siklus permasalah transportasi perkotaan
Perubahan Meningkatnya
nilai tanah
Siklus permasalahan penggunaan kendaraan pribadi dan angkutan umum
Pembatasan kend. frekwensi bis
Peningkatan biaya operasi bis Naiknya
ongkos Mobil menjadi lebih menarik
Bertambahnya kemacetan dan tundaan
Prioritas bis Subsidi
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Diktat Sistem Transportasi 2005 - K-02 Halaman 3 Peran pemerintah dalam transportasi meliputi:
1. Promosi
Promosi ini termasuk usaha pemerintah untuk menganjurkan atau melarang pada situasi tertentu tanpa diperlukannya undang-undang atau peraturan. Misalnya seperti penggunaan sabuk pengaman, pengurangan konsumsi energi, batas kecepatan dll. 2. Regulasi
Regulasi termasuk tindakan-tindakan dengan peraturan pada setiap orang atau perusahaan untuk keperluan masyarakat itu sendiri. Seperti, standarisasi bemper, polusi udara, penghematan mesin.
3. Investasi
Investasi meliputi bantuan keuangan, pelayanan, pembangunan dll.
Studi-studi perencanaan transportasi
Studi-studi perencanaan transportasi meliputi seluruh studi pengoperasian lalu lintas normal termasuk studi terspesialisasi untuk mendapatkan informasi yang akan digunakan dalam perencanaan transportasi. Kegunaan dari studi ini adalah untuk menganalisa dan mengumpulkan data yang menyangkut kebutuhan saat ini dan masa mendatang.
Studi-studi transportasi meliputi: 1. Inventarisasi
Inventarisasi merupakan dasar dari suatu proses perencanaan transportasi. Inventarisasi meliputi pengumpulan informasi yang ada untuk selanjutnya dimasukkan kedalam data base dan disajikan dalam bentuk yang memilki arti untuk dasar analisa transportasi.
• Inventarisasi Jalan Raya
Inventarisasi jalan raya meliputi informasi jaringan jalan yang digunakan oleh umum pada suatu wilayah. Pengumpulan data berhubungan dengan ruas jalan, petunjuk KM, atau persimpangan.
Inventarisasi jalan raya ini meliputi pengumpulan data geometrik dari jalan, alat-alat pengontrol, dan kondisi perkerasan.
Data geometrik jalan yang dikumpulkan terdiri dari lebar ROW dan jalan, lebar bahu jalan, median (dengan kerb atau marka), lebar lajur dan konfigurasinya, persimpangan, dan elemen-elemen lainnya yang mempengaruhi operasional jalan raya.
Alat-alat pengontrol yang dikumpulkan meliputi seluruh rambu, lampu lalulintas, marka jalan, dan petunjuk-petunjuk jalan yang ditempatkan disisi atau diatas jalan oleh badan yang memiliki wewenang untuk mengatur, memberi larangan, dan mengarahkan lalu lintas.
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Diktat Sistem Transportasi 2005 - K-02 Halaman 4 • Inventarisasi Parkir
Inventarisasi parkir terdiri dari informasi mengenai lokasi, kapasitas, batas waktu, dan karakteristik-karakteristik lainnya dari ruang parkir sepanjang ruas jalan (off-street parking).
Informasi yang dikumpulkan meliputi: jumlah ruang parkir, batas waktu dan jam beroperasi, kepemilikan (umum atau bukan), tarif parkir dan sistem pengumpulan, jenis fasilitas, serta tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang untuk bis dan taksi.
• Inventarisasi Angkutan Umum
Inventarisasi ini meliputi seluruh trayek angkutan umum dengan lokasi-lokasi pemberhentian, tempat transfer, dan terminal. Informasi dikumpulkan berdasarkan frekwensi pelayanan, jenis dan jam beroperasinya, termasuk jumlah kendaraan, ukuran, kapasitas tempat duduk, kapasitas maksimum, dan kondisinya. Angkutan umum juga dipisahkan berdasarkan pengelola bis, dan kombinasi dari angkutan kereta api dan bis.
• Pembagian Zona dan Tata Guna Lahan
Inventarisasi ini perlu dimasukkan dalam perencanaan untuk ketepatan data terutama pada wilayah yang mengalami pengembangan.
2. Studi Klassifikasi
Studi klassifikasi dilakukan untuk menyamakan persepsi dari fasilitas-fasilitas transportasi. Ada klassifikasi utama yaitu: kewenangan dan fungsi jaringan transportasi.
3. Studi Volume
Studi jumlah LHR (lalulintas harian rata-rata) Studi jumlah kendaraan per jam
Studi jumlah kendaraan pada jam sibuk Studi garis kordon
Studi screenline
Studi tingkat penggunaan kendaraan 4. Studi Kapasitas
5. Studi Pejalan Kaki Volume
Analisa kapasitas Kecepatan berjalan kaki 6. Studi Angkutan Umum
Kapasitas dan tingkat pelayanan Studi asal-tujuan angkutan umum Studi penggunaan angkutan umum
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Diktat Sistem Transportasi 2005 - K-02 Halaman 5 7. Studi Parkir
Ketersediaan dan kebutuhan parkir Karakteristik pengguna parkir Studi pemakaian parkir
Studi waktu parkir dan penggunaan tempat parkir Studi bongkar muat barang
Wilayah parkir 8. Studi Asal-Tujuan
Survai luar wilayah studi Survai dalam wilayah studi 9. Studi Dampak Lalulintas
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Teori Moda Transportasi Umum di Perkotaan
Konsep ini didasarkan pada model perkotaan karena perubahan populasi penduduk dan ukuran kota.
1. Kota dengan tingkat penduduk rendah
Terdiri hanya dari beberapa tempat tinggal, pabrik dan gedung lainnya dihubungkan dalam jaringan jalan. Misalnya seperti tergambar. Fasilitas jaringan jalan yang ada untuk kota kecil ini umumnya ada 3 tahap moda transportasi.
Tahap 1. Jalan kaki - pedestrians
Tahap awal system transportasi kota kecil masih dapat dicapai dengan berjalan kaki untuk menuju pusat-pusat kegiatan kota.
Dengan bertambahnya penduduk, berjalan kaki perlu waktu lama dan tidak nyaman, karena itu perlu kendaraan, yang dapat berupa mobbil, motor, dan sepeda.
Tahap 2. Mobil pribadi
Dengan terus bertambahnya penduduk, perlu pelayanan angkutan penumpang umum, yaitu berupa “taksi”. Dalam hal ini yang disebut taksi adalah kendaraan angkutan penumpang umum yang dapakai untuk membawa orang ke tempat tujuannya secara langsung, dapat berupa (ojek, taxi, dan angkutan lain).
Tahap 3. Taxi (kendaraan angkutan umum kecil)
Pengoperasian angkutan umum kecil, dengan jumlah penduduk yang meningkat akan menjadi andalan masyarakat akan angkutan umum. Namun demikian, jenis angkutan
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
umum pada kota kecil dapat beroperasi seperti taxi, dimana jalan yang dilalui belum berdasarkan pada rute tertentu, tetapi didasarkan pada permintaan tujuan penumpang. 2. Kota dengan jalan arteri dan bis
Dengan bertambahnya luas kota, melakukan perjalanan dengan kendaraan kecil menjadi tidak efisien dan jalan-jalan kecil menjadi sering macet. Untuk itu perlu jalan yang lebih lebar yang berfungsi sebagai urat nadi pergerakan berupa jalan arteri.
Tahap 4. Pelebaran / pembangunan jalan menjadi jalan arteri
Kota Kecil, Penambahan arteri dan pelayanan transportasi umum
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Pembangunan jalan dengan kapasitas yang lebih tinggi akan membawa konsekwensi keuntungan (+) dan kerugian diantaranya :
+ tingkat pelayanan yang lebih tinggi
+ biaya operasi per unit kendaraan yang lebih rendah + membangkitkan kegiatan ekonomi
- perlunya investasi yang lebih tinggi
- memerlukan fasilitas kendaraan yang lebih besar
Memperkenalkan angkutan umum kecil (mis: angkot) dengan rute tetap yang akan membawa perubahan:
+ biaya transportasi yang lebih rendah menjadi tersedia + meningkatkan kapasitas jalan
+ mengurangi kemacetan dan dampak negatif lingkungan - perlu subsidi untuk menarik lebih banyak penumpang
Bila telah berkembang jumlah pengguna angkutan umumnya, kapasitas angkutan kecil tidak lagi memadai sehingga perlu penggantian kendaraan umum kecil ke yang lebih besar, yang berarti:
+ kapasitas transportasi yang lebih besar + biaya oprasi per kendaraan yang lebih rendah + meningkatkan kenyamanan
- frekwensi kendaraan menjadi lebih rendah
Tahap 5: memperkenalkan kendaraan berkapasitas sedang dengan operasi yang fleksibel, kemudian kendaraan besar (bis) dengan jadwal tetap dan rute yang tetap
3. Kota menengah : Pemisahan moda
Dengan terus bertumbuhnya kota dan jumlah penduduk yang lebih besar, maka sarana angkutan umum perlu adanya moda transportasi angkutan umum yang terpisah dari pergerakan lalu lintas lainnya. Pemisahan moda ini dapat berupa penyediaan jalur khusus bis (buslane), penyediaan jalan khusus angkutan umum (busway).
Pemisahan moda kendaraan umum akan memberikan: + tingkat pelayanan dan unjuk kerja yang lebih tinggi + biaya operasi kendaraan yang lebih rendah
+ membawa penumpang lebih banyak
+ memberi dampak yang lebih baik akibat adanya perubahan lahan - perlunya tambahan lahan
- biaya investasi dan konstruksi yang lebih besar
Tahap 6: pemisahan moda transportasi sebagian
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Pemisahan moda transportasi yang dilakukan adalah dengan penggunaaan angkutan massal yang dapat berupa jalan rel atau jalan khusus, yang merupakan moda terpisah tanpa terganggu oleh arus lalu lintas lainnya.
Perbedaan antara moda transport yang menggunakan pengarah (rel) dengan tanpa kemudi dibandingkan dengan angkutan umum dengan kemudi, antara lain:
+ kapasitas dan produktifitas yang lebih besar kerena menggunakan kereta (kendaraan khusus tetentu)
+ biaya operasi per unit yang lebih murah dibandingkan dengan kapasitas yang ditawarkan
+ dapat menggunakan listrik, yang memiliki tingkat polusi rendah
+ kehandalan dan keamanan yang lebih besar, karena memiliki jalan tersendiri + penggunaan right-of-way (ROW) yang lebih kecil
+ dapat dioperasikan dalam terowongan atau overpass tanpa mengakibatkan kerusakan lingkungan yang besar
- tidak bersesuaian dengan jenis moda angkutan lainnya
- jaringan yang terbatas, tidak ekonomis untuk daerah dengan kepadatan rendah - fleksibel operasi yang lebih rendah (rerouting and detour)
- memerlukan investasi yang lebih besar
Tahap 7: memperkenalkan kereta LRT (light rail transit)
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Kota Sedang, Diperkenalkan penggunaan angkutan umum terpisah
Angkutan Umum dengan lajur terpisah
Pemisah jalan untuk kendaraan umum
Arteri Jalan Minor
4. Kota besar : ditambah dengan sistem angkutan umum yang dikontrol penuh
Dengan tingkat perjalanan yang tinggi, maka untuk meningkatkan kecepatan, kapasitas dan kehandalan perjalanan adalah dengan menyediakan sistem terkontrol untuk moda transport pribadi dan umum untuk rute-rute yang utama.
Tahap 8: membangun pemisahan jalan yang besar (freeway)/toll
Tahap 9: menyediakan sistem yang terkontrol penuh untuk angkutan umum
Perbandingan sistem kontrol otomatis dengan sistem kontrol manual: + tingkat pelayanan menjadi bertambah dan lebih baik
+ penggunaan energi yang lebih rendah karena pengendalian yang terprogram + tingkat keselamatan yang tinggi
+ biaya operasi yang lebih murah (jika penggunaan biaya tenaga kerja melebihi biaya sistem otomatis)
- biaya awal yang lebih besar
- diperlukan supervisi otomatis dan komunikasi otomatis dengan penumpang untuk menangani keamanan dalam keadaan darurat
Tahap 10: Sistem otomatis penuh
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Kota Besar, Penambahan moda angkutan umum yang cepat
Jalan Minor Arteri
Pemisah jalan untuk kendaraan umum
Angkutan Umum dengan lajur terpisah
Sistem Transportasi Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Diktat Sistem Transportasi 2005 - K-03 Halaman 7
Konsep perbandingan volume penumpang dengan jarak perjalanan
Transit unit capacity for heavy volumes (spaces/TU)
Max. freq
200 400 600 800 1000
Auto/fwy (40) Number in paranthese are operating speeds (km/h) at capacity volumes
1800
700
PEDOMAN XX-XX-2002
PANDUAN PENENTUAN KLASIFIKASI FUNGSI
JALAN DI WILAYAH PERKOTAAN
Prakata
Pedoman Penentuan Klasifikasi Fungsi Jalan di Wilayah Perkotaan ini dipersiapkan oleh Sub. Panitia Teknik Bidang Prasarana Transportasi di Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Pedesaan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, dengan konseptor Ir. Tasripin Sartiyono, MT dan dibantu oleh Tenaga Ahli PT. Skilladhi
Pedoman ini merupakan penyempurnaan dari Panduan Penentuan Klasifikasi Fungsi Jalan di Wilayah Perkotaan No. 10/T/BNKT/1990 yang dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan Jalan Kota (BINKOT). Dengan adanya pedoman ini, pedoman sebelumnya tidak berlaku.
Tata cara penulisan pedoman ini mengacu pada pedoman BSN NO. 8 tahun 2000.
Daftar isi
Prakata... i
Daftar isi...ii
Pendahuluan... iii
1 Ruang lingkup ... 1
2 Acuan normatif ... 1
3 Istilah dan definisi... 1
4 Struktur kawasan dan sistem jaringan jalan... 4
4.1 Struktur hirarki kota dan sisitem jaringan jalan primer... 4
4.2 Struktur kawasan kota dan sisitem jaringan jalan sekunder... 6
5 Kriteria yang dipertimbangkan dalam menetapkan klasifikasi fungsi jalan ... 8
5.1 Jalan arteri primer... 8
5.2 Jalan kolektor primer ... 11
5.3 Jalan lokal primer ... 113
5.4 Jalan arteri sekunder ... 144
5.5 Jalan kolektor sekunder... 166
5.6 Jalan lokal sekunder... 188
6 Tata cara menetapkan klasifikasi fungsi jalan ... 20
7 Penutup ... 211
Lampiran A Pola Pengembangan Kawasan………..22
8 Bibliografi………...35
Pendahuluan
Pedoman Penentuan Klasifikasi Fungsi Jalan di Wilayah Perkotaan dimaksudkan agar ada kesepakatan antara Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kota/Kabupaten dalam penentuan klasifikasi fungsi jalan yang ada di wilayah perkotaan.
Pedoman ini telah dibahas dan mendapat masukan dari Perguruan Tinggi maupun instansi terkait serta telah dikonsensuskan oleh anggota Sub. Panitia Teknik Bidang Prasarana Transportasi dan Panitia Teknik Bidang Konstruksi dan Bangunan.
Panduan Penentuan Klasifikasi Fungsi Jalan
Di Wilayah Perkotaan
1 Ruang lingkup
Buku panduan ini mencakup tata cara penentuan klasifikasi fungsi jalan di wilayah perkotaan yang terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan sekunder, meliputi sistem jaringan jalan dan kriteria untuk fungsi ruas jalan.
2 Acuan normatif
a. Undang-Undang Nomor : 13 Tahun 1980 Tentang Jalan. b. Peraturan Pemerintah Nomor : 26 Tahun 1985 Tentang Jalan. c. Undang-Undang Nomor : 24 Tahun 1992 Tentang Tata Ruang.
3 Istilah dan definisi
3.1
sistem jaringan jalan primer
sistem jaringan jalan yang disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata ruang dan struktur ruang wilayah nasional, yang menghubungkan simpul-simpul jasa distribusi.
3.2
jaringan jalan primer
jaringan jalan yang menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan wilayah, pusat kegiatan lokal, dan pusat kegiatan dibawahnya sampai ke persil dalam satu satuan wilayah pengembangan. Jaringan jalan primer menghubungkan pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan nasional antar satuan wilayah pengembangan. Jaringan jalan primer tidak terputus walaupun memasuki kota. Jaringan jalan primer harus menghubungkan kawasan primer. Suatu ruas jalan primer dapat berakhir pada suatu kawasan primer. Kawasan yang mempunyai fungsi primer antara lain : industri skala regional, terminal barang/pergudangan, pelabuhan, bandar udara, pasar induk, pusat perdagangan skala regional/grosir.
3.3
jalan arteri primer
jalan yang menghubungkan secara efisien antar pusat kegiatan nasional atau antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah.
3.4
jalan kolektor primer
jalan yang menghubungkan secara efisien antar pusat kegiatan wilayah atau menghubungkan antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal.
3.5
jalan lokal primer
jalan yang menghubungkan secara efisien pusat kegiatan nasional dengan persil atau pusat kegiatan wilayah dengan persil atau pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lokal, pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan dibawahnya, pusat kegiatan lokal dengan persil, atau pusat kegiatan dibawahnya sampai persil.
3.6
pusat kegiatan nasional (PKN)
pusat yang mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan internasional dan mempunyai potensi untuk mendorong daerah sekitarnya, pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yang melayani nasional atau melayani beberapa propinsi, pusat pengolahan/pengumpul barang secara nasional atau meliputi beberapa propinsi, simpul transportasi sacara nasional atau meliputi beberapa propinsi, pusat jasa pemerintahan untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi dan pusat jasa-jasa publik yang lain untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi.
3.7
pusat kegiatan wilayah (PKW)
pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yang melayani propinsi atau beberapa kabupaten, pusat pengolahan/pengumpul barang yang melayani propinsi atau beberapa kabupaten, simpul transportasi untuk satu propinsi atau beberapa kabupaten, pusat jasa pemerintahan untuk satu propinsi atau beberapa kabupaten dan pusat jasa-jasa yang lain untuk satu propinsi atau beberapa kabupaten.
3.8
pusat kegiatan lokal (PKL)
pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yang melayani satu kabupaten atau beberapa kecamatan, pusat pengolahan/pengumpul barang untuk satu kabupaten atau beberapa kecamatan, simpul transportasi untuk satu kabupaten atau beberapa kecamatan, pusat jasa pemerintahan untuk satu kabupaten atau beberapa kecamatan dan bersifat khusus karena mendorong perkembangan sektor strategis atau kegiatan khusus lainnya di wilayah kabupaten.
3.9
kota di bawah pusat kegiatan lokal
kota yang berperan melayani sebagian dari satuan wilayah pengembangannya, dengan kemampuan pelayanan jasa yang lebih rendah dari pusat kegiatan lokal dan terikat jangkauan serta orientasi yang mengikuti prinsip-prinsip di atas.
3.10
sistem jaringan jalan sekunder
sistem jaringan jalan yang disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata ruang kota yang menghubungkan kawasan-kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan.
3.11
jalan arteri sekunder
jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.
3.12
jalan kolektor sekunder
jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga.
3.13
jalan lokal sekunder
jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, menghubungkan kawasan sekunder dengan perumahan, kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan.
3.14 kawasan
suatu wilayah yang mempunyai fungsi dan atau aspek/pengamatan fungsional tertentu.
3.15
kawasan primer
kawasan kota yang mempunyai fungsi primer. Fungsi primer sebuah kota dihubungkan dengan pelayanan terhadap warga kota itu sendiri yang lebih berorientasi ke dalam dan jangkauan lokal. Fungsi primer dan fungsi sekunder harus tersusun teratur dan tidak terbaurkan. Fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua dan seterusnya terikat dalam satu hubungan hirarki.
3.16
kawasan sekunder
kawasan kota yang mempunyai fungsi sekunder. Fungsi sekunder sebuah kota dihubungkan dengan pelayanan terhadap warga kota itu sendiri yang lebih berorientasi ke dalam dan jangkauan lokal. Fungsi ini dapat mengandung fungsi yang terkait pada pelayanan jasa yang bersifat pertahanan keamanan yang selanjutnya disebut fungsi sekunder yang bersifat khusus. Fungsi primer dan fungsi sekunder harus tersusun teratur dan tidak terbaurkan. Fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua dan seterusnya terikat dalam satu hubungan hirarki.
3.17
fungsi primer
fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan pelayanan kota, dan wilayah pengembangannya.
3.18
fungsi sekunder
fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan penduduk kota itu sendiri.
3.19 wilayah
ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait pada yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek/pengamatan administratif pemerintahan dan atau aspek/pengamatan fungsional.
4 Struktur kawasan dan sistem jaringan jalan
4.1 Struktur hirarki kota dan sisitem jaringan jalan primer
Hubungan antar hirarki kota dengan peranan ruas jalan penghubungnya dalam sistem jaringan jalan primer diberikan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Tabel 1 disajikan dalam bentuk matrix dan Gambar 1 disajikan dalam bentuk diagram.
Tabel 1
Hubungan antar hirarki kota dengan peranan ruas jalan dalam sistem jaringan jalan primer
KOTA PKN PKW PKL PERSIL
PKN Arteri Arteri - Lokal
PKW Arteri Kolektor Kolektor Lokal
PKL - Kolektor Lokal Lokal
PERSIL Lokal Lokal Lokal Lokal
JALAN
JALAN LOKAL PRIMER JALAN KOLEKTOR PRIMER
JALAN LOKAL PRIMER JALAN ARTERI PRIMER
PERSIL
Gambar 1. Sistem Jaringan Jalan Primer
4.2 Struktur kawasan kota dan sisitem jaringan jalan sekunder
Struktur kawasan kota dapat dibedakan berdasarkan besarnya penduduk kota yang bersangkutan.
Hubungan antar kawasan kota dengan peranan ruas jalan dalam sistem jaringan jalan sekunder diberikan pada Tabel 2 dan Gambar 2. Tabel 2 disajikan dalam bentuk matrix dan Gambar 2 disajikan dalam bentuk diagram.
Tabel 2
Hubungan antar kawasan kota dengan peranan ruas jalan dalam sistem jaringan jalan sekunder
PRIMER SEKUNDER SEKUNDER SEKUNDER
I II III
Arteri Arteri - Lokal
-JALAN
JALAN LOKAL SEKUNDER(JLS) JALAN ARTERI SEKUNDER(JAS)
JALAN KOLEKTOR SEKUNDER(JKS) JALAN ARTERI SEKUNDER(JAS)
Perumahan
Gambar 2. Sistem Jaringan Jalan Sekunder
5 Kriteria yang dipertimbangkan dalam menetapkan klasifikasi fungsi jalan
Kriteria ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri umum yang diharapkan pada masing-masing fungsi jalan. Ciri-ciri ini dapat merupakan arahan fungsi jalan yang perlu dipenuhi/didekati. Sketsa hipotetis hirarki jalan kota dapat dilihat pada Gambar 3.
5.1 Jalan arteri primer
Untuk penentuan klasifikasi fungsi jalan arteri primer harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Kriteria-kriteria jalan arteri primer terdiri atas :
- Jalan arteri primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60 (enam puluh) km/jam.
- Lebar badan jalan arteri primer paling rendah 11 (sebelas) meter (Gambar 4).
- Jumlah jalan masuk ke jalan arteri primer dibatasi secara efisien. Jarak antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 500 meter.
- Persimpangan pada jalan arteri primer diatur dengan pengaturan tertentu yang sesuai dengan volume lalu lintasnya.
- Jalan arteri primer mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih besar dari fungsi jalan yang lain.
- Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup seperti rambu, marka, lampu pengatur lalu lintas, lampu penerangan jalan dan lain-lain.
- Jalur khusus seharusnya disediakan yang dapat digunakan untuk sepeda dan kendaraan lambat lainnya.
- Jalan arteri primer seharusnya dilengkapi dengan median.
b. Sifat-sifat jalan arteri primer terdiri atas :
- Jalan arteri primer dalam kota merupakan terusan jalan arteri primer luar kota. - Jalan arteri primer melalui atau menuju kawasan primer.
- Lalu lintas jarak jauh pada jalan arteri primer adalah lalu lintas regional. Untuk itu, lalu lintas tersebut tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik, dan lalu lintas lokal, dari kegiatan lokal (Gambar 5).
- Kendaraan angkutan barang berat dan kendaraan umum bus dapat diijinkan melalui jalan ini.
- Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan seharusnya tidak diijinkan.
- Jalan arteri primer sebaiknya dilengkapi dengan tempat istirahat pada tiap jarak 25 km.
Keterangan Gambar :
Kawasan Primer Sistem Primer
Kawasan Sekunder Jalan Arteri Sekunder
Perumahan Jalan Kolektor Sekunder
Batas Kota Jalan Lokal Sekunder
Terminal Angkutan Barang Kawasan
Industri
Kawasan Perdagangan Regional Pelabuhan & Pergudangan
Pergu-dangan Bandar
Udara
Gambar 3. Sketsa Hipotetis Hirarki Jalan Kota
Kondisi Minimal Ideal
Badan Jalan Jalur Lalu Lintas
2 m
Trotoar Median
0.25
Kondisi Minimal
Gambar 4. Penampang Tipikal Jalan Arteri Primer
Jalan Primer dan Jalan Arteri
Gambar 5. Konsep Klasifikasi Fungsi Jalan Dalam Hubungannya Dengan Tingkat Akses
5.2 Jalan kolektor primer
Untuk penentuan klasifikasi fungsi jalan kolektor primer harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Kriteria-kriteria jalan kolektor primer terdiri atas :
- Jalan kolektor primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 40 (empat puluh) km/jam.
- Lebar badan jalan kolektor primer paling rendah 9 (sembilan) meter (Gambar 6). - Jumlah jalan masuk ke jalan kolektor primer dibatasi secara efisien. Jarak antar
jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 400 meter.
- Persimpangan pada jalan kolektor primer diatur dengan pengaturan tertentu yang sesuai dengan volume lalu lintasnya.
- Jalan kolektor primer mempunyai kapasitas yang sama atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.
- Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup seperti rambu, marka, lampu pengatur lalu lintas dan lampu penerangan jalan.
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih rendah dari jalan arteri primer.
- Dianjurkan tersedianya jalur khusus yang dapat digunakan untuk sepeda dan kendaraan lambat lainnya.
b. Sifat-sifat jalan kolektor primer terdiri atas :
- Jalan kolektor primer dalam kota merupakan terusan jalan kolektor primer luar kota. - Jalan kolektor primer melalui atau menuju kawasan primer atau jalan arteri primer. - Kendaraan angkutan barang berat dan bus dapat diijinkan melalui jalan ini.
- Lokasi parkir pada badan jalan sangat dibatasi dan seharusnya tidak diijinkan pada jam sibuk.
Kondisi Minimal Ideal
Badan Jalan Jalur Lalu Lintas
1,5
Trotoar Median
0.25
Gambar 6. Penampang Tipikal Jalan Kolektor Primer
5.3 Jalan lokal primer
Untuk penentuan klasifikasi fungsi jalan lokal primer harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Kriteria-kriteria jalan lokal primer terdiri atas :
- Jalan lokal primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20 (dua puluh) km/jam.
- Lebar badan jalan lokal primer paling rendah 6 1/2 (enam setengah) meter (Gambar 7).
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya paling rendah pada sistem primer.
b. Sifat-sifat jalan lokal primer terdiri atas :
- Jalan lokal primer dalam kota merupakan terusan jalan lokal primer luar kota. - Jalan lokal primer melalui atau menuju kawasan primer atau jalan primer lainnya. - Kendaraan angkutan barang dan bus dapat diijinkan melalui jalan ini.
Badan Jalan Jalur Lalu Lintas
0.5
Bahu
5,5 m 0.5
Bahu
6.5m
Gambar 7. Penampang Tipikal Jalan Lokal Primer
5.4 Jalan arteri sekunder
Untuk penentuan klasifikasi fungsi jalan arteri sekunder harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Kriteria-kriteria jalan arteri sekunder terdiri atas :
- Jalan arteri sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 30 (tiga puluh) km/jam.
- Lebar badan jalan paling rendah 11 (sebelas) meter (Gambar 8). - Akses langsung dibatasi tidak boleh lebih pendek dari 250 meter.
- Persimpangan pada jalan arteri sekunder diatur dengan pengaturan tertentu yang sesuai dengan volume lalu lintasnya.
- Jalan arteri sekunder mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.
- Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup seperti rambu, marka, lampu pengatur lalu lintas, lampu jalan dan lain-lain.
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya paling besar dari sistem sekunder yang lain.
- Dianjurkan tersedianya jalur khusus yang dapat digunakan untuk sepeda dan kendaraan lambat lainnya.
- Jarak selang dengan kelas jalan yang sejenis lebih besar dari jarak selang dengan kelas jalan yang lebih rendah.
b. Sifat-sifat jalan arteri sekunder terdiri atas : - Jalan arteri sekunder menghubungkan :
i. Kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu. ii. Antar kawasan sekunder kesatu.
iii. Kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua. iv. Jalan arteri/kolektor primer dengan kawasan sekunder kesatu
- Lalu lintas cepat pada jalan arteri sekunder tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat.
- Kendaraan angkutan barang ringan dan bus untuk pelayanan kota dapat diijinkan melalui jalan ini.
- Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan sangat dibatasi dan seharusnya tidak diijinkan pada jam sibuk.
Kondisi Minimum Ideal
Separator
Jalur Lalu Lintas Jalur Lalu
Lintas
Trotoar Jalur Lalu
Lintas
Trotoar Median
0.25
2 m 6 m
1 m
7 m 2 m
Separator
Jalur Lalu Lintas 0.25 0.25 0.5
6 m
7 m 2 m
0.25
1 m 0.5 0.25 0.25
Badan Jalan Jalur Lalu Lintas
2 m
Bahu
7 m 2 m
Bahu
11 m
Kondisi Minimum
Gambar 7. Penampang Tipikal Jalan Arteri Sekunder
5.5 Jalan kolektor sekunder
Untuk penentuan klasifikasi fungsi jalan kolektor sekunder harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Kriteria-kriteria jalan kolektor sekunder terdiri atas :
- Jalan kolektor sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20 (dua puluh) km/jam.
- Lebar badan jalan kolektor sekunder paling rendah 9 (sembilan) meter (Gambar 9). - Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup.
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih rendah dari sistem primer dan arteri sekunder.
b. Sifat-sifat jalan kolektor sekunder terdiri atas :
- Jalan kolektor sekunder menghubungkan : i. Antar kawasan sekunder kedua.
ii. Kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga.
- Kendaraan angkutan barang berat tidak diijinkan melalui fungsi jalan ini di daerah pemukiman.
- Lokasi parkir pada badan jalan dibatasi.
Separator
Trotoar Median
0.25
Kondisi Minimum Ideal
Badan Jalan Jalur Lalu Lintas Bahu
Gambar 8. Penampang Tipikal Jalan Kolektor Sekunder
5.6 Jalan lokal sekunder
Untuk penentuan klasifikasi fungsi jalan lokal sekunder harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Kriteria-kriteria jalan lokal sekunder terdiri atas :
- Jalan lokal sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 10 (sepuluh) km/jam.
- Lebar badan jalan lokal sekunder paling rendah 6 1/2 (enam setengah) meter (Gambar 10).
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya paling rendah di bandingkan dengan fungsi jalan lain.
b. Sifat-sifat jalan lokal sekunder terdiri atas :
- Jalan lokal sekunder menghubungkan :
i. Antar kawasan sekunder ketiga atau dibawahnya. ii. Kawasan sekunder dengan perumahan.
- Kendaraan angkutan barang berat dan bus tidak diijinkan melalui fungsi jalan ini di daerah pemukiman.
Kondisi Minimum Ideal
Jalur Lalu Lintas
Trotoar 0.25
2 m 3 m 2 m
0.25
3 m
0.25
Bahu
Badan Jalan Jalur Lalu Lintas
1 m
Bahu
4,5 m 1 m
Bahu
6,5m
Kondisi Minimum
Gambar 9. Penampang Tipikal Jalan Lokal Sekunder
6 Tata cara menetapkan klasifikasi fungsi jalan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk menetapkan klasifikasi fungsi jalan terdapat pada diagram alir di bawah ini :
Peta jaringan jalan dan Peta tata guna lahan
Keseimbangan jaringan jalan dengan fungsi
Data volume lalu lintas Jenis kendaraan yang melalui ruas jalan
Lebar jalan Kesesuaian dengan
minimal kebutuhan
Sebagai bahan tambahan pertimbangan fungsi jalan Rute angkutan umum
Penentuan fungsi jalan yang sesuai
Keterangan :
a. Peta jaringan jalan.
b. Peta tata guna lahan, baik untuk keadaan sekarang maupun rencana pengembangannya di masa mendatang yang disertai dengan informasi lebih lengkap mengenai potensi aktifitas-aktifitas perdagangan, pergudangan, perkantoran, industri, pendidikan serta jasa-jasa lain baik yang bersifat regional maupun lokal. (untuk mengurangi konflik antara sistem transportasi dan tata guna lahan, keseimbangan/kesesuaian antara fungsi jaringan jalan dengan tata guna lahan perlu dipenuhi).
c. Volume kendaraan sesuai dengan jenisnya.
(Meskipun volume lalu lintas bergantung kepada beberapa faktor, tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa makin tinggi volume lalu lintas pada suatu ruas jalan makin tinggi pula klasifikasi jalan tersebut. Sebagai contoh bahwa volume lalu lintas bukan satu-satunya kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut : suatu ruas jalan yang melayani volume lalu lintas yang rendah dan berdasarkan volume ini bisa digolongkan pada jalan lokal seharusnya adalah jalan arteri sekunder jikalau jalan tersebut melayani kendaraan-kendaraan berat dan hanya satu-satunya ruas jalan yang menghubungkan jalan arteri. Sebaliknya, jalan-jalan yang memberikan akses ke daerah parkir suatu pusat pertokoan dan melayani lalu lintas yang tinggi tidak bisa digolongkan sebagai jalan arteri sekunder).
d. Lebar jalan, rambu-rambu lalu lintas serta fasilitas parkir kendaraan. e. Rute kendaraan umum bus dan bemo serta truk.
f. Proporsi lalu lintas menerus pada jalan-jalan utama. g. Rencana induk kota.
h. Data pendukung lain yang tersedia.
7 Penutup
Buku panduan ini telah memberikan arahan secara teknis dalam mempersiapkan penetapan klasifikasi fungsi jalan. Selanjutnya hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a.
b.
c.
Penetapan ruas-ruas jalan menurut peranannya dalam sistem jaringan jalan primer dan jalan arteri sekunder dilakukan secara berkala oleh Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah setelah mendengar pendapat Menteri Perhubungan sesuai dengan tingkat perkembangan wilayah yang telah dicapai.
Penetapan ruas-ruas jalan menurut peranannya dalam sistem jaringan jalan sekunder kecuali jalan arteri sekunder dilakukan secara berkala oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, atas usul Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan dengan memperhatikan petunjuk Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah dan Menteri Perhubungan sesuai dengan tingkat perkembangan kawasan kota yang telah dicapai.
Di dalam menentukan klasifikasi fungsi jalan, pedoman utama yang harus diikuti UU No.13 Tahun 1980 Tentang Jalan dan Rancangan Pengganti UU No.13 Tahun 1980 Tentang Jalan yaitu pasal 3 dan pasal 4 serta PP No. 26 Tahun 1985 Tentang Jalan dan Rancangan Pengganti PP No.26 Tahun 1985 Tentang Jalan yaitu pasal 4 sampai pasal 12. Isi pedoman utama ini telah dijabarkan pada bab pengertian.
1. DISTA ACEH
Kw. Banda Aceh dsk Banda Aceh PKW
Janthoi PKL
Sabang PKL
Sigli PKL
Kw. Lhokseumawe dsk Kl. Lhokseumawe PKW
Bireun PKL
Takengon PKL
Langsa PKL
Idi Rayeuk PKL
Kw. Pantai Barat Selatan Meulaboh PKL
Blang Pidi PKL
Labuhan Haji PKL
Tapaktuan PKL
Kutacane PKL
Singkil PKL
Subulussalam PKL
2. SUMATERA UTARA
Kw. Medan dsk Medan PKN
Lubuk Pakam PKL
Binjai PKL
Stabat PKL
Pangkalan Brandan PKL
Sidikalang PKL
Kabanjahe PKL
Tanjung Pura PKL
Brastagi PKL
Kw. Pematang Siantar dsk Pematang Siantar PKW
Perdagangan PKL
Serbelawan PKL
Tebingtinggi PKL
Kw. Rantau Prapat - Kisaran Rantau Prapat PKW
Kota Pinang PKL
Aek Kanopan PKL
Bandar Durian PKL
Kisaran PKW
Tanjung Balai PKL
Kuala Tanjung PKL
Kw. Tapanuli dsk Sibolga PKW
Padang Sidempuan PKL
Tarutung PKL
Kotanopan PKL
Gunung Tua PKL
Barus PKL
LAMPIRAN
POLA PENGEMBANGAN KAWASAN
FUNGSI KOTA NASIONAL NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT
Kw. Danau Toba dsk Prapat PKL
Balige PKL
Porsea PKL
Pangururan PKL
Siborong-borong PKL
Dolok Sanggul PKL
Kw. Nias dsk Gunung Sitoli PKL
Teluk Dalam PKL
3. SUMATERA BARAT
Kw. Padang Pariaman Padang PKW
Pariaman PKL
Painan PKL
Lubuk Alung PKL
Kw. Agam - Bukit Tinggi Bukittinggi PKL
Padangpanjang PKL
Payakumbuh PKL
Batusangkar PKL
Kw. Solok dsk Sawahlunto PKL
Solok PKL
Muaro Sijunjung PKL
Lubuk Sikaping PKL
4. RIAU
Kw. Pakanbaru dsk Pakanbaru PKW
Bangkinang PKL
Rumbai PKL
Pasir Pangaraian PKL
Kw. Dumai dsk Dumai PKL
Bagan Siapi-api PKL
Duri PKL
Bengkalis PKL
Kw. Rengat - Kuala Enok Rengat PKL
Kuala Enok PKL
Tembilahan PKL
Sie Akar PKL
Air Molek PKL
Teluk Kuantan PKL
Kw. Natuna dsk
Kw. Zona Batam dsk Batam PKN
Tanjung Pinang PKL
Tanjung Balai Karimun PKL
Selat Panjang PKL
Pulau Kijang PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
5. JAMBI
Kw. Muara Bulian dsk Jambi PKW
Muara Bulian PKL
Kuala Tungkal PKL
Muara Tembesi PKL
Muara Sabak PKL
Nipah Panjang PKL
Pelabuhan Dagang PKL
Kw. Muara Bungo - Sarolangun dsk Muara Bungo PKL
Bangko PKL
Sarolangun PKL
Muara Tebo PKL
Sungai Penuh PKL
Tanah Tumbuh PKL
Sungai Bengkal PKL
6. SUMATERA SELATAN
Kw. Palembang dsk Palembang PKN
Kayu Agung PKL
Sekayu PKL
Tanjung Batu PKL
Kw. Muara Enim dsk Muara Enim PKW
Lahat PKL
Baturaja PKL
Pagar Alam PKL
Tanjung Enim PKL
Prabumulih PKL
Martapura PKL
Kw. Lubuk Linggau dsk Lubuk Linggau PKL
Kw. Bangka - Belitung Pangkal Pinang PKL
Tanjung Pandan PKL
Manggar PKL
Sungai Liat PKL
Muntok PKL
7. BENGKULU
Kw. Bengkulu dsk Bengkulu PKW
Curup PKL
Argamakmur PKL
Kepahyang PKL
Kw. Manna dsk Manna PKL
Bintuhan PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
8 Lampung
Kw. Bandar Lampung dsk Bandar Lampung PKN
Metro PKL
Pringsewu PKL
Talang Padang PKL
Kalianda PKL
Labuan PKL
Meringgai PKL
Kota Agun PKL
Sekampung PKL
Bandar Jaya PKL
Sidamulya PKL
Bakauheni PKL
Jabung PKL
Kw. Mesuji dsk Mesuji PKL
Menggala PKL
Kw. Kotabumi dsk Kotabumi PKL
Liwa PKL
Krui PKL
Bukit Kemuning PKL
9 DKI
Kw. Jakarta dsk Jakarta PKN
10 Propinsi Jawa Barat
Kw. Bojonegoro-Merak-Cilegon dsk Cilegon PKW
Pandeglang PKL
Rangkas Bitung PKL
Kw. Penyangga DKI dsk Bekasi PKW
Tangerang PKL
Depok PKL
Parung Panjang PKW
Serpong PKL
Ciputat PKL
Cileungsi PKL
Mauk PKL
Teluk Naga PKL
Tambun PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
Cikampek PKL
Cikarang PKL
Jatiluhur PKL
Kw. Cirebon-Indramayu dsk Cirebon PKW
Indramayu PKL
Kw. Bopunjur dsk Bogor PKW
Cianjur PKL
Kw. Cekungan Bandung dsk Bandung PKN
Cimahi PKL
Padalarang PKL
Lembang PKL
Majalaya PKL
Cileunyi PKL
Banjaran PKL
Soreang PKL
Pengalengan PKL
Ciwidet PKL
Ciparay PKL
Sumedang PKL
Subang PKL
Kw. Priangan Timur Tasikmalaya PKL
Garut PKL
Ciamis PKL
Banjar PKL
Kw. Sukabumi dsk Sukabumi PKL
Pelabuhan Ratu PKL
Cibadak PKL
Kw. Pangandaran dsk Pangandaran PKL
11. JAWA TENGAH
Kw. Subosuko Surakarta PKW
Boyolali PKL
Sukoharjo PKL
Karang Anyar PKL
Tawangmanggu PKL
Klaten PKL
Sragen PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
Kw. Semarang - Demak Semarang PKN
Kw. Purwokerto dsk Banjarnegara PKL
Purwokerto PKW
Purbolinggo PKL
Banyumas PKL
Sukoarjo PKL
Kw. Kebumen dsk Kebumen PKW
Karang Anyer PKL
Gombong PKL
Kw. Cilacap dsk Cilacap PKW
Wagon PKL
Kroya PKL
Kw. Borobudur dsk Magelang PKW
Muntilan PKL
Mungkid PKL
Borobudur PKL
12. DI. YOGYAKARTA
Kw. Yogyakarta dsk Yogyakarta PKW
Bantul PKL
Sleman PKL
Prambanan PKL
Wates PKL
Wonosari PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
13. JAWA TIMUR
Kw. Gerbangkertosasila Surabaya PKN
Gresik PKL
Kw. Probolinggo - Pasuruan Pasuruan PKL
Probolinggo PKW
Kw. Kediri - Tulung Agung - Blitar Kediri PKL
Tulung Agung PKL
Blitar PKL
Kw. Situbondo - Bondowoso - Jember Situbondo PKL
Bondowoso PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
Kw. Madiun dsk Ponorogo PKL
Kw. Banyuwangi dsk Banyuwangi PKW
Muncar PKL
Genteng PKL
Glemmore PKL
14. BALI
Kw. Singaraja dsk Singaraja PKW
Seririt PKL
Kubutambahan PKL
Grokgak PKL
Kw. Denpasar - Ubud Kintamani Denpasar PKN
Gianyar PKL
15. NUSA TENGGARA BARAT
Kw. Mataram dsk Mataram PKW
Praya PKL
Selong PKL
Gerung PKL
Lembar PKL
Kw. Sumbawa Besar dsk Sumbawa Besar PKL
Semanung PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
16. NUSA TENGGARA TIMUR
Kw. Komodo dsk Labuan Bajo PKL
Reo PKL
Wanokaka PKL
Kodi PKL
Wai Kabubak PKL
Ruteng PKL
17. TIMOR TIMUR
Kw. Dili - Manatuto Dili PKW
Pante Makassar PKL
Kw. Suai - Ainaro Suai PKL
18. KALIMANTAN BARAT
Kw. Pontianak dsk Pontianak PKN
Mempawah PKL
Rasau Jaya PKL
Kw. Johar - Sanggau Sintang PKL
Sanggau PKL
Sekadau PKL
Nangapinuh PKL
Nangataman PKL
Tayan PKL
Balai Karangan PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
Kw. Singkawang dsk Bengkayang PKL
Singkawang PKL
Pemangkat PKL
Sambas PKL
Kw. Ketapang dsk Ketapang PKL
Kendawangan PKL
Nangatayap PKL
Kw. Kapuas Hulu dsk Putussibau PKL
19. KALTENG
Kw. Kuala Kapuas dsk Palangkaraya PKW
Kasongan PKL
Pulau Pisau PKL
Kuala Kapuas PKL
Kuala Kurun PKL
Lupak Dolom PKL
Kw. Sampit dsk Sampit PKL
Kotabesi PKL
Hanjalipan PKL
Kuala Kayan PKL
Parenggeran PKL
Tumbang Samba PKL
Kw. Pangkalan Bun Pangkalan Bun PKL
Kumai PKL
Nagabulik PKL
Kw. Buntok Buntok PKL
Ampah PKL
Tamiang Layang PKL
Pendang PKL
Kw. Muarateweh Muarateweh PKL
Purukcahu PKL
Muara Laung PKL
20. KAL - SELATAN
Kw. Banjarmasin dsk Banjarmasin PKW
Banjar Baru PKL
Martapura PKL
Pleihari PKL
Marabahan PKL
Tanjung PKL
Kw. Kandangan Kandangan PKL
Rantau PKL
Barabai PKL
Amuntai PKL
Kw. Batulicin dsk Batulicin PKL
Kotabaru PKL
Pagatan PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
21. KALTIM
Kw. Balikpapan - Samarinda Balikpapan PKN
Samarinda PKW
Bontang PKL
Tenggarong PKL
Kota Bangun PKL
Marangkayu PKL
Sangkulirang PKL
Kw. Tanjung Redep dsk Tanjung Redep PKL
Tanjung Selor PKL
Tanjung Palas
Tanjung Santan PKL
Sangkulirang PKL
Muarawahau PKL
Kw. Tarakan dsk Tarakan PKW
Nunukan PKL
Kw. Tanah Grogot dsk Tanah Grogot PKL
Muara Taloke PKL
22. SULAWESI UTARA
Kw. Gorontalo dsk Gorontalo PKL
Limboto PKL
Kw. Kotamobagu dsk Kotamobagu PKL
Modayang PKL
23. SULAWESI TENGAH
Kw. Palu dsk Palu PKW
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
Kw. Kolonedale dsk Kolonedale PKL
Tamata PKL
Takaloatos PKL
Kw. Toli-Toli dsk Toli-Toli PKW
Santigi PKL
24. SULAWESI SELATAN
Kw. Ujung Pandang dsk Ujung Pandang PKN
Pangkajene PKL
Maros PKL
Takalar PKL
Sunggu Minasa PKL
Kw. Palopo dsk Palopo PKW
Kw. Bulukumba - Watampone Sinjai PKL
Bulukumba PKL
Kw. Pare-Pare dsk Pare-Pare PKW
Pinrang PKL
25. SULAWESI TENGGARA
Kw. Kendari dsk Kendari PKW
Lasolo PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
26. MALUKU
Kw. Halmahera Utara Ternate PKW
Soa Siu PKL
Kw. Kep. Sulai dsk Falabisahaya PKL
27. IRIAN JAYA
Kw. Jayapura dsk Jayapura PKW
Abepura PKL
Demta PKL
Tengon PKL
Kw. Merauke dsk Merauke PKL
Kumbe PKL
Kw. Tembagapura dsk Timika PKL
Tembagapura PKL
Kw. Manokwari dsk Manokwari PKL
Ransiki PKL
Prafi PKL
Serui PKL
Kw. Wamena dsk Wamena PKL
Kurima PKL
LAMPIRAN ( Lanjutan )
NO. PROPINSI / KAWASAN DATAR KOTA DALAM KAWASAN DARAT FUNGSI KOTA NASIONAL
8 Bibliografi
- Rancangan Pengganti Undang-Undang Nomor : 13 Tahun 1980 Tentang Jalan.
- Rancangan Pengganti Peraturan Pemerintah Nomor : 26 Tahun 1985 Tentang Jalan.
- Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Sistem Transportasi
Halaman 1
PEMODELAN TRANSPORTASI
Sistem transportasi dapat dimodelkan dengan 4 langkah pentahapan:
1. Bangkitan Perjalanan
Tujuan dari model bangkitan perjalanan adalah untuk meramalkan jumlah perjalanan orang yang akan dimulai dan diakhiri dalam satu perjalanan zona analisa pada satu wilayah untuk hari yang mirip dari tahun target.
Sebelum diaplikasikan, model bangkitan lalu lintas harus dikalibrasi melalui obeservasi dalam tahun awal dengan berbagai macam survai perjalanan.
Klassifikasi perjalanan
Jenis perjalanan dapat diklassifikasikan menjadi: 1. Maksud perjalanan
• Bekerja
• Sekolah
• Belanja
• Sosial dan rekreasi
• Perjalanan lainnya
Bangkitan Perjalanan Distribusi Perjalanan Tata guna lahan dan proyeksi sosial ekonomi
Pemilihan Moda Pembebanan jaringan jalan
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Sistem Transportasi
Halaman 2
2. Waktu perjalanan
• Jam puncak (peak hour)
• Bukan jam puncak (off-peak hour) 3. Orang yang melakukan perjalanan
• Tingkat pendapatan
• Kepemilikan kendaraan
• Jumlah penghuni dan strukturnya
Zona
Data yang dibutuhkan dalam pembagian zona adalah:
• Zona harus terdiri dari kegunaan lahan secara umum sama
• Karakteristik dari tiap zona diusahakan sehomogen mungkin
• Batas zona harus mengikuti jalan utama, jalan kereta api, kanal dan hal lain yang membatasi perjalanan
Prosedur koleksi data Survai
1. Survai wawancara rumah (home interview survey) 2. Survai kendaraan angkutan
3. Survai wawancara di jalan 4. Survai angkutan umum Model Bangkitan Perjalanan
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Pemodelan bangkitan perjalanan bisa diperoleh dengan beberapa cara:
1. Berbasis zona dimana zona digunakan sebagai independent atau variable yang mencakup data populasi penduduk, pendapatan, tingkat pemilikan kendaraan, dsb.
2. Hose hold base, adalah model yang digunakan pada daerah yang memiliki karakteristik sama.
Definisi dasar
• Perjalanan (journey) adalah pergerakan satu arah dari titik asal ke titik tujuan.
• Home-based (HB) Trip. Ini adalah perjalanan yang berasal atau bertujuan ke rumah.
• Non-Home-based (NHB) Trip. Ini adalah perjalanan yang dilakukan seseorang yang bukan rumah menjadi awal atau akhir dari perjalanan.
• Pembangkit Perjalanan (Trip Production). Ini didefinisikan sebagai rumah atau perjalanan yang berasal dari NHB.
• Tarikan Perjalanan (Trip Attraction). Ini didefinisikan sebagai perjalanan bukan ke rumah atau tujuan dari perjalanan HB dan NHB.
Penarik
Rumah Tempat Kerja
Toko Tempat Kerja
• Bangkitan Perjalanan (Trip Generation)
Didefinisikan sebagai jumlah perjalanan yang dihasilkan oleh rumah-rumah dalam sebuah zona , bisa perjalanan HB atau NHB.
Model Faktor Pertunbuhan (Growth Factor)
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
i
T = jumlah perjalanan mendatang dalam zona i
= jumlah perjalanan saat ini dalam zona I ti
i
F = faktor bangkitan
yang menjadi masalah dalam hal ini adalah , dimana umumnya factor ini berhubungan dengan variable-variabe seperti populasi (P), tingkat pendapatan (I) dan tingkat kepemilikan kendaraan (C), sehingga persamaannya berubah menjadi:
i
dimana f adalah merupakan fungsi perkalian tanpa parameter dan d adalah tahun rencana serta c adalah tahun dasar.
Contoh:
Sebuah zona terdiri dari 250 rumah dengan 1 buah mobil dan 250 rumah tanapa mobil. Apabila tingkat bangkitan perjalanan rata-rata dari tiap grup :
Rumah yang memiliki kendaraan menghasilkan 6.0 perjalanan / hari, Rumah yang tidak memiliki kendaraan menghasilkan 2.5 perjalanan / hari. Maka jumlah perjalanan per hari dari zona tersebut adalah:
i
t = 250 x 2.5 + 250 x 6.0 = 2125 perjalanan/hari
Sistem Transportasi
DISTRIBUSI PERJALANAN
Kegunaan dari model distribusi perjalanan adalah untuk mencari besaran volume perjalanan didalam dan antar zona yang berpasangan (I dan J), dimana I adalah zona produksi dan J adalah zona penarik perjalanan.
zona 1 2 3 4
1 Q11 Q12 Q13 Q14 Qp1
2 Q21 Q22 Q23 Q24
3 Q31 Q32 Q33 Q34
Qa1
Jumlah perjalanan tiap baris adalah bangkitan perjlanan zona dan jumlah tiap kolom adalah penarik perjalanan zona.
Tiap zona memiliki keterkaitan untuk menarik perjalanan dari zona lain yang disebut
impedance.
Contoh: Dua buah pusat perbelanjaan (yang memiliki tingkat ketertarikan sama) berlomba untuk menarik pengunjung dari zona I. Jika jarak dari zona I ke kedua pusat perbelanjaan itu berbeda, maka orang yang tinggal di zona I akan lebih suka pergi ke tempat yang lebih dekat dari kedua pusat perbelanjaan yang sama.
P 1 P 2 2 7
Zona I
Impedance ini meliputi waktu perjalanan dan biaya-biaya umum lainnya, seperti biaya perjalanan yang dikeluarjan dan lainnya yang sejenis (pakir, toll, dsb.)
Ada beberapa model dalam proses distribusi perjalanan, yaitu gravity model (model gravitasi), dan model fratar.
Gravity Model
Model ini didasarkan atas dasar hukum Newton tentang gravitasi, dimana ketertarikan antar dua massa dipengaruhi oleh jarak antar massa tersebut. [F = k M1.M2 / (r2)]. Applikasi dari konsep ini pada distribusi perjalanan adalah:
dimana:
WIJ = fungsi mpedance antara kedua zona
Parameter k dapat dihilangkan dari persamaan dengan menerapkan keseimbanan hambatan bangkitan perjalanan, dimana jumlah dari semua tarikan perjalanan dari zona J yang berasal dari bangkitan perjalanan zona I harus sama dengan total bangkitan dari zona I atau
PI = ΣX QIX
substitusi kedua persamaan diatas (1) ke (2), maka
PI = k ΣX ( AX / WIXC ) (3), maka k
k = [ΣX ( AX / WIXC )]
substitusi (4) ke (1) :
QIJ = PI [(AJ / WIJC) / ΣX ( AX / WIXC )]
dimana yang didalam kurung adalah zona produksi dari zona I yang akan ditarik oleh zona J yang berkompetisi dari tarikan perjalanan zona-zona X (zona lainnya).
Formula model gravitasi ini sering juga ditulis:
∑
yang dikenal sebagai faktor waktu perjalanan, dan C adalah faktor friksi dalam kalibrasi. Akhirnya faktor sosial ekonomi ditambahkan dalam kalibrasi untuk memasukkan pengaruh yang belum tercakup. Persamaan model gravitasi menjadi:
Contoh aplikasi:
Perkiraan besran bangkitan dan ketertarikan perjalanan dari 4 zona diperkirakan dibawah ini.
Zona Bangkitan Ketertarikan 1 1500 0 2 0 3 3 2600 2 4 0 5
Kalibrasi dari model garavitasi untuk kota ini adalah c = 2.0, dan factor social ekonomi
adalah sama. Perkirakan besarnya volume pergerakan antar zona dengan impedance
sebagai berikut:
I \ J 1 2 3 4
1 5 10 15 20
2 10 5 10 15 3 15 10 5 10 4 20 15 10 5
Model gravirasi dihitug berdasarkan dua zona bangkitan perjalanan (I = 1 dan I = 3).
Untuk I = 1 dan P1 = 1500
J AJ F1J K1J AJ F1J K1J P1J Q1J
1 0 0.0400 1.0 0 0 0
2 3 0.0100 1.0 0.0300 0.584 875
3 2 0.0044 1.0 0.0089 0.173 260
4 5 0.0025 1.0 0.0125 0.243 365
∑ 0.0514 1.000 1500
Untuk I = 3 dan P1 = 2600
J AJ F3J K3J AJ F3J K3J P3J Q3J
1 0 0.0044 1.0 0 0 0
2 3 0.0100 1.0 0.03 0.188 488
3 2 0.0400 1.0 0.08 0.500 1300
4 5 0.0100 1.0 0.05 0.312 812
∑ 0. 16 1.000 2600
1177
Hasil akhir perhitungan tersaji dalam tabel distibusi perjalanan
I \ J 1 2 3 4
Kalibrasi Model Gravitasi
Model gravitasi hasrus dikalibrasi untuk mendapatkan parameter untuk tiap maksud perjalanan, berdasarkan pola observasi perjalanan. Parameter distribusi adalah factor waktu perjalanan dan kalibrasinya tergantung pada penyesuaian yang berulang dari factor friksi. Penyesuaian dilakukan menerus sampai didapatkan hasil yang mendekati nilai data tahun dasar ketika model gravitasi diterapkan pada tahun dasar bangkitan dan tarikan perjalanan.
Dari lima buah zona dalam suatu kota, dua diantaranya adalah zona perumahan dan tiga lainnya adalah zona non-residential. Besaran impedance pada tahun dasar antar zona dinyatakan dalam waktu perjalanan (menit) seperti ditunjukkan pada skema.
Zone I P A I | J 3 4 5
1 500 0 1 300 150 50
2 1000 0 2 180 600 220
3 0 2
4 0 3
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Pemilihan Moda Transportasi
Bangkitan Perjalanan
Pemilihan Moda
Distribusi Perjalanan Non-Transit Distribusi
Perjalanan Transit
Akhir perjalanan orang
Akhir Perjalanan Non-Transit Akhir Perjalanan
Transit
Bangkitan Perjalanan
Distribusi Perjalanan
Perjalanan Non-Transit Perjalanan
Transit
Akhir perjalanan orang
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
1. Model multinimial logit
∑
=
X U U
X K
e e K
p( )
Aplikasi Logit Model Contoh soal:
Dari suatu hasil studi, menunjukkan persamaan dalam pemilihan moda: Uk = ak – 0.25 X1 – 0.032 X2 – 0.015 X3 – 0.0002 X4
Dimana:
X1 = waktu akses dalam menit
X2 = waktu tunggu dalam menit
X3 = waktu mengangkut / membawa
X4 = biaya yang dikeluarkan dalam rupiah
Distribusi perjalanan meramalkan perjalanan QIJ = 5000 perjalanan orang/hari. Tahun
target pelayanan dari A (mobil) dan B (bis).
Atribut X1 X2 X3 X4
Mobil 5 0 20 100
Bis 10 15 40 50
Kalibrasi moda tertentu A = - 0.02 dan B = - 0.56 Jawab:
U(A) = - 0.745 dan U(B) = - 1.990
Masukkan ke persamaan logit : p(A) = 0.78 dan p(B) = 0.22 Pembagian ke tiap moda:
QIJ (A) = 0.78 . 5000 = 3900 perjalanan orang/hari.
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
Ringkasan
Kegunaan dari pemodelan pemilihan moda adalah untuk memperkirakan pilihan moda transportasi dari si pembuat perjalanan. Faktor-faktor yang yang mempengaruhinya adalah:
1. Karakteristik dari si pembuatan perjalanan 2. Karakteristik dari perjalanan
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
1 Pembebanan Perjalanan pada Jaringan Jalan
Tahap terakhir dari proses urutan perencanaan model transportasi adalah berkaitan dengan pilihan rute dari pembuat perjalanan antar zona yang diinginkan dengan moda transportasi dan mengakibatkan pergerakan lal lintas dalam jaringan jalan. Tahapan ini dapat dilihat sebagai model keseimangan antara perkiraan permintaan perjalanan dan penyediaan prasarana transportasi dari fasilitas fisik, dan untuk moda angkutan umum adalah frekuensi pelayanan yang tersedia.
IJK
Q adalah perkiraan permintaan pergerakan antar zona, pilihan rute pengguna jalan antar zona I dan J pada jaringan jalan dari moda transportasi K.
Gambar 1. embebanan jaringan, input dan output Deskripsi jaringan jalan
Analisa perjalanan zona ditetapkan sebagai node imajimer disebut zone centroid (pusat zona). Untuk menetapkannya dari node jaringan, biasanya ditetapkan sebagai nomor integer positif. Ruas jalan imajiner yang menghubungkan zone centroid dengan jaringan jalan disebut centroid connector. Meskipun bukan merupakan ruas jalan yang nyata,
centroid connector diberikan atribut sama dengan kondisi ruas jalan lainnya.
Gambar 2 menunjukkan jaringan jalan yang terdiri dari 5 zone centroid, 6 centroid
connector, 9 simpang, dan 12 ruas jalan. Nilai angka yang berada dalam kurung adalah
impedance ruas jalan sesuai dengan arah pergerakan yang ditunjukkan. Jaringan jalan ini ditunjukkan pula dalam Tabel 1 yang memperlihatkan hubungan langsung antar node.
IJK
Q
Diskripsi jaringan, ruas dan node Jalan
Model jaringan Jalan
IJKP
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
2 Gambar 2. Jaringan jalan
Tabel 1. hubungan ruas antar node
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
3 Algoritma rute terpendek
Tahap Urutan sudah kosong dan prosedur berakhir
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
4 Hasil akhir dari rute terpendek dari node 1 ke node lainnya :
Node j Impedance total ke node j
Node sebelum j
Oleh : Ir. Nur Hakim, MCE
5 Contoh:
Bebankan pergerakan kendaraan antar zona dari zona 1 pada jaringan jalan dari Gambar sebelumnya.
J 2 3 4 5
Q1J 800 500 600 200
800
8 7
6
600
10 11
9 600
200
12
800 500 1300
200
200
500 500
600 800
500 600 200 2100
1
3
5