IMPLIKASI YURIDIS ATAS PUTUSAN MAHKAMAH KOINSTITUSI TENTANG PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM SERENTAK TAHUN 2019
Teks penuh
Dokumen terkait
pelaksanaan pemilihan umum ”, dikaitkan dengan Pasal 22 E ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan, “ Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan
Para Pemohon yang merupakan Warga Negara Indonesia yang terpilih menjadi anggota DPD telah dirugikan hak konstitusionalnya oleh ketentuan Pasal 14 ayat (1) UU MPR, DPR, DPD, dan
Hak konstitusional Para Pemohon bersifat potensial akan dirugikan oleh berlakunya norma Pasal 169 huruf n dan Pasal 227 huruf i UU Pemilu Keberlakuan pasal a quo, berpotensi
Bahwa putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 42/PUU-XIII/2015 Tanggal 9 Juli 2015 menyatakan bahwa Pasal 7 huruf g Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang
Bahwa Pemohon adalah dokter warga negara Indonesia sebagai perorangan dan Tokoh Masyarakat Pulau Buru yang menganggap hak konstitusionalnya dirugikan oleh ketentuan Pasal
Sebagai penjabaran dari Pasal 67 ayat 2 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, Pasal 24A Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.62/Menhut-II/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Selain itu, dengan mempergunakan penafsiran sistematis atas ketentuan Pasal 6A ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan, ”Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai
23/PUU-XIX/2021, yaitu: “Menyatakan Pasal 235 ayat 1 dan Pasal 293 ayat 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Lembaran Negara