Fahrurrozi, 2012
Strategi Penggalangan Dana ....
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Berbagai upaya peningkatan mutu bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan, namun selalu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Terdapat tiga faktor utama yang meyebabkan mutu pendidikan selalu dibahas dan dibincangkan, yaitu: Pertama, isu pendidikan, yang concern terhadap prestasi/hasil sekolah yang diselenggarakan pemerintah. Kedua, isu politik yang concern terhadap persoalan distribusi keuangan dikaitkan dengan kebutuhan pendidikan vis-a-vis prioritas kepentingan publik lainnya. Ketiga, alasan ekonomi yang concern terhadap hubungan antara pengeluaran uang untuk pendidikan dengan keberhasilan ekonomi, khususnya dikaitkan dengan bangsa-bangsa kompetitor (Preedy, 1997: 2).
2 pembelajaran dan pengajaran. Proses transformasi tersebut selanjutnya akan berdampak pada mutu output pendidikan (Hoy, 2008: 292)
Selain masalah mutu di atas, terdapat persoalan lain yang selalu dibicarakan dalam dunia pendidikan, yaitu masalah kesamaan memperoleh pendidikan (equality). Jika mutu (quality) berbicara tentang level dan standar, maka equality berbicara tentang kekuasaan dan sumber daya. Dalam pendidikan, kedua konsep tersebut harus bersama. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap anak yang berumur 7 sampai 15 tahun harus menyelesaikan pendidikan dasar.
Undang-Undang tersebut berimplikasi pada kewajiban pemerintah untuk menuntaskan program wajib belajar 9 tahun. Untuk itu pemerintah menargetkan 100% angka partisipasi sekolah (APS) di tingkat SD dan 96% di SMP pada tahun 2009. Kemudian hal ini dituangkan dalam program Pendidikan untuk Semua (PUS) atau sering disebut sebagai Education for All
(EFA). Program Pendidikan untuk Semua (PUS) ditujukan untuk: 1) Seluruh
3 Walaupun demikian, masih terdapat tantangan yang perlu diperhatikan pemerintah, yaitu yang menyangkut pemerataan mutu dan pemerataan akses pendidikan, terutama untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pertama, tantangan yang berhubungan dengan pemerataan mutu pendidikan, yang di antaranya dapat dilihat dan kadang-kadang ditentukan oleh sejumlah aspek kelengkapan infrastruktur pendukung proses pendidikan, misalnya kondisi ruang kelas, tingkat pendidikan guru, rasio guru-siswa.
Dari segi kondisi umum fisik gedung dan ruang kelas, khususnya SD, diperoleh data bahwa bahwa dalam periode 2003-2007, jumlah SD meningkat rata-rata 315,33 buah. Bersamaan itu, jumlah ruang kelas juga meningkat, rata-rata 11.605,66. Kondisi ruang kelas ini bervariasi antara ‘baik’, ‘rusak ringan’ dan ‘rusak berat’ (Jurnal DIALOG, Edisi 3/November/Tahun II/2008).
4 Tabel 1.1. Rasio Sekolah-Siswa dan Guru-Siswa Tahun 2003-2007
Rasio 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 Sekolah-Siswa 1 : 178 1 : 175,9 1 : 175,24 1 : 178,99 Guru-Siswa 1 : 20,67 1 : 19,47 1 : 19,29 1 : 18,96
Sumber: Diringkas dari Jurnal DIALOG, Edisi 3/November/Tahun II/2008
Kedua, tantangan yang berhubungan dengan pemerataan akses pendidikan, yang salah satu di antaranya dapat dilihat melalui kesenjangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) antara tingkat SD, SMP, dan SMA.
Gambar 1.1. Angka Partisipasi Sekolah pada Berbagai Jenjang Pendidikan, 2004-2009
Sumber: Badan Pusat Statistik 2009
Semakin tinggi jenjang pendidikan justru akan semakin rendah Angka Partisipasi Sekolah (APS). Gambar 1.1. menunjukkan bahwa APS untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu pada anak usia 7-12 tahun selalu
96.77 83.49 53.48 97.14 84.02 53.86 97.39 84.08 53.92 97.6 84.26 54.61 97.83 84.41 54.7 97.95 85.45 55.09 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
2004 2005 2006 2007 2008 2009
5 mencapai nilai di atas 90%. Akan tetapi tidak demikian untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu anak usia 13-15. Pada jenjang pendidikan SMP ini, APS hanya menunjukkan kisaran 80-an% pada tahun 2004-2009. Kemudian pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), APS semakin mengalami penurunan. Nilai APS pada jenjang pendidikan SMA ini hanya mencapai nilai sebesar 50-an% tahun 2004-2009.
Catatan: Q1= Quintile termiskin dan Q5 = Quintile terkaya
Gambar 1.2. Partisipasi Sekolah Menurut Golongan Pendapatan 2004 Sumber: http://kfm.depsos.go.id/mod.php?mod=userpage&page_id=6
6 Berdasarkan data di atas, tampak bahwa masalah pemerataan mutu dan pemerataan akses pendidikan merupakan dua tantangan yang menjadi prioritas pembangunan pendidikan nasional. Dalam konteks itulah, kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan pemerataan mutu dan akses pendidikan, yang salah satu kebijakannya terkait dengan anggaran pendidikan, pemerintah menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20% dari total anggaran nasional. Anggaran tersebut selain digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, juga untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah masyarakat. Pemerintah untuk mensukseskan program pemerataan mutu dan pemerataan akses tersebut, memberikan bantuan operasional sekolah (BOS) kepada sekolah/madrasah. Walaupun demikian, bantuan pemerintah tersebut tidak dapat mencukupi semua kebutuhan operasional sekolah.
Menurut perhitungan Decentralized Basic Education (DBE) USAID, kebutuhan operasional siswa SD per bulan Rp 1.109.000 dan SMP Rp 1.595.000. Tahun 2009 BOS per tahun naik 50%. SD jadi Rp 397.000 di kabupaten dan Rp 400.000 di kota. SMP dan sederajat jadi Rp 570.000 di kabupaten dan Rp 575.000 di kota. Berdasar perhitungan mereka, BOS cuma bisa memenuhi kebutuhan operasional sekolah sekitar 36%.
Dari segi jumlah Sekolah/Madrasah, menurut laporan Kementerian Pendidikan Nasional, hingga tahun 2010 ini, terdapat 180.577 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtida’iyah di Indonesia (143.668 Sekolah/Madrasah Negeri
7 Sekolah/Madrasah (23.389 Sekolah/Madrasah Negeri dan 25.958 Sekolah/Madrasah Swasta). Sementara pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, terdapat 19.295 Sekolah/Madrasah (6.830 Sekolah/Madrasah Negeri dan 12.465 Sekolah/Madrasah Swasta) (http://npsn.jardiknas.org/index.php. Diakses tanggal 29 April 2010)
Terbatasnya anggaran pendidikan nasional, meski telah dinaikkan menjadi 20% dari total anggaran nasional, dan besarnya jumlah sekolah/madrasah di tanah air sebagaimana disebut di atas, menunjukkan bahwa pemerintah sampai saat ini belum mampu sepenuhnya mengatasi problem pendidikan nasional, terutama terkait soal anggaran. Dalam konteks inilah, pemerintah berharap partisipasi masyarakat, terutama Sekolah/Madrasah Swasta untuk turut secara proaktif mencerdaskan bangsa.
Untuk mengatur pemerataan mutu dan pemerataan akses pendidikan, baik di Negeri maupun Swasta, selanjutnya pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan pendidikan. Misalnya Peraturan Pemerintah No. l9 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa terdapat 8 standar pendidikan yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan. Salah satu di antaranya adalah standar pembiayaan pendidikan. Dalam pasal 62 dinyatakan, bahwa pembiayaan pendidikan mencakup biaya investasi, biaya operasional, dan biaya personal.
8 pendidikan berikut sumber-sumber dana pendidikan. Terkait dengan sumber dana ini, PP 48 2008 menyatakan bahwa untuk membiayai pendidikan, dana dapat berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dana pihak asing yang tidak mengikat atau sumber dana lain yang sah.
Pihak yang paling mendapatkan tantangan pendanaan adalah Sekolah/Madrasah Swasta. Dibanding Negeri, Sekolah/Madrasah Swasta dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menggalang dana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermutu. Bagi sekolah/madrasah Negeri pembiayaan dan pendanaan pendidikan hampir tidak menjadi masalah, karena sebagian besar sumber dana pendidikan berasal dari pemerintah pusat dan daerah. Sementara sumber dana dari masyarakat hanya sebagian kecil saja. Namun bagi Sekolah/Madrasah Swasta ini tentu menjadi masalah tersendiri. Berbeda dari negeri, sumber sekolah/madrasah swasta justru sebagian besar berasal dari masyarakat. Mereka dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam mengatasi persoalan biaya dan pendanaan pendidikannya.
9 Dari sekian banyaknya jumlah sekolah/madrasah swasta di Indonesia, tidak banyak yang dapat memberikan pendidikan yang bermutu sekaligus dapat diakses oleh seluruh lapisan sosial ekonomi masyarakat. Berdasarkan
prelemanary research yang dilakukan peneliti, Sekolah Juara dan Sekolah
SMART Ekselensia merupakan dua bentuk sekolah swasta Islam yang mulai menunjukkan eksistensinya dalam dunia pendidikan di Indonesia. Kedua sekolah tersebut merupakan sekolah swasta yang berciri khas Islam, yang akhir-akhir ini mendapat perhatian khusus dari masyarakat dan pemerintah.
Sekolah Juara merupakan sekolah unggulan dengan jenjang pendidikan SD dan SMP. Sekolah yang berada dalam binaan Rumah Zakat dan berpusat di kota Bandung ini, memiliki beberapa cabang yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, yaitu antara lain Medan, Pekanbaru, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Cimahi, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Di kota-kota tersebut Sekolah Juara baru fokus pada jenjang SD, sedangkan Sekolah Juara Bandung sebagai kantor pusat berjenjang pendidikan SD dan SMP. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang betul-betul tidak mampu dan tidak dipungut bayaran sedikitpun. Walaupun siswa-siswinya tidak dipungut bayaran, Sekolah Juara memberikan pendidikan bermutu dengan guru-guru yang ahli di bidangnya, kurikulum yang terpadu dengan pendidikan agama Islam serta berorientasi pada life Skill (Company Profile Sekolah Juara, 2010).
10 merupakan sekolah unggulan (khusus laki-laki) yang siswanya merupakan hasil seleksi ketat dari seluruh Indonesia. Pendidikan sekolah menengah yang biasanya ditempuh selama 6 tahun, diselesaikan hanya dalam 5 tahun. Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak dengan prestasi akademik yang cemerlang namun memiliki keterbatasan dalam hal ekonomi. Oleh karena itu, selama menempuh pendidikan di Sekolah SMART anak-anak tersebut tidak dipungut biaya sepeser pun. Sekolah ini berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa bertempat di Jampang, Bogor
(Profil LPI, 2010. Lihat juga
http://dinaauliyahusni.blogspot.com/2010/02/smart-ekselensia-indonesia). Sekolah yang berdiri tahun 2004 ini kini sudah bersertifikat internasional dan terakreditasi 'A'. Berbagai prestasi mulai tingkat daerah, nasional, dan multinasional telah diraih. Semua alumninya kini melanjutkan di beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia dan bahkan di luar negeri. Sistem pendidikan di SMART Ekselensia memiliki ciri khusus yakni penerapan kegiatan terpadu antara sistem pendidikan di sekolah dan pendidikan di asrama. Sistem pendidikan di sekolah terdiri dari kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler, sedangkan di asrama meliputi program pengembangan diri. Selain prestasi akademisnya yang terus digenjot, Sekolah SMART memberi pendidikan agama, seperti bahasa Arab, tahfidzul Qur’an,
11 Hal menarik dari dua sekolah di atas adalah kemampuannya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu dengan biaya yang tidak murah. Hal menarik lainnya adalah bahwa di kedua sekolah tersebut siswa-siswanya tidak dipungut bayaran sedikitpun. Ini tentu memunculkan pertanyaan, bagaimana kedua sekolah tersebut memperoleh dana untuk membiayai kebutuhan pendidikan yang tidak sedikit itu. Di sinilah Rumah Zakat (RZ) dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) berperan sangat banyak. Dua lembaga nirlaba tersebut merupakan lembaga
amil (pengumpul dana zakat, infak, sedekah), yang dalam beberapa tahun
terakhir mampu menggalang dana sosial yang luar biasa dari masyarakat di seluruh pelosok Indonesia, bahkan dari pihak luar negeri. Sehingga, tidak heran jika seluruh siswa-siswinya dibebaskan sama sekali dari biaya pendidikan.
12 Sikap dermawan terhadap sesama atau yang dikenal dengan filantropi merupakan potensi umat yang sudah mengakar pada diri umat Islam. Filantropi atau yang dalam Islam dikenal dengan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), merupakan ajaran Islam yang wajib dilakukan oleh umat Islam yang mampu. Melalui filantropi Islam ini, semestinya umat Islam bisa memanfaatkan untuk memberdayakan sumber daya manusia-nya (SDM) melalui berbagai jalur, di antaranya adalah jalur pendidikan.
Hasil penelitian Pusat Budaya dan Bahasa (PBB) UIN Syarif Hidayatullah menunjukkan bahwa potensi dana umat dari sektor ZIS yang mungkin digali mencapai 19.3 triliun rupiah per tahun. Angka ini diperoleh dari rata-rata sumbangan keluarga Muslim per tahun sebesar 409.267 rupiah dalam bentuk tunai (cash) dan 148.200 rupiah dalam bentuk barang (in kind). Jika jumlah rata-rata sumbangan ini dikalikan dengan jumlah keluarga Muslim di Indonesia sebesar 34,5 juta (data BPS tahun 2000), maka total dana yang dapat dikumpulkan mencapai 14,2 triliun. Sementara total sumbangan dalam bentuk barang sebesar 5,1 triliun rupiah (http://www.interseksi.org/data/philanthropy.html. Diakses tanggal 10 Agustus 2007).
13 suatu dugaan bahwa potensi dana yang besar itu belum tergali dan terkelola secara baik. Dengan kata lain, aspek manajemen dan akuntabilitas merupakan prioritas untuk dikembangkan
Salah satu instrumen strategis bagi peningkatan dan pengembangan SDM umat Islam adalah instrumen pendidikan. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan lulusan dan keluaran yang memiliki daya saing tinggi di pasar kerja dan keilmuan. Untuk menghasilkan lulusan dan keluaran pendidikan yang handal, tentu perlu diawali dengan mutu proses pendidikan. Harus diakui, bahwa proses pendidikan bermutu membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Mengingat pentingnya posisi pendidikan tersebut, maka filantropi Islam menjadi suatu alternatif dalam membantu pendanaan proses peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan Islam.
14 B. Identifikasi dan Perumusan Masalah
Kemampuan memberikan pendidikan yang terjangkau dan bermutu masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, dan tidak banyak lembaga pendidikan yang mampu menggalang dana untuk kepentingan pendidikan yang bermutu. Sekolah Juara dan Sekolah SMART Ekselensia merupakan binaan dua lembaga pengumpul dana ZIS. Dari segi kelembagaan tersebut, dapat diketahui bahwa penggalangan dana pendidikan tersebut berbasiskan potensi dana ZIS umat Islam di Indonesia yang menurut beberapa penelitian luar biasa besarnya. Walaupun potensi umat Islam tersebut sangat besar, persoalan yang kerapkali dihadapi adalah kesadaran masyarakat untuk berderma, terutama jika dikaitkan dengan berderma untuk peningkatan dan pengembangan mutu sumber daya manusia umat melalui pendidikan.
Melalui beberapa uraian di atas, fokus permasalahan peneltian ini adalah bagaimana strategi penggalangan dana (fundraising) untuk pendidikan yang dilakukan lembaga amil untuk penyelenggaraan pendidikan formal dalam rangka berpartisipasi dalam program pemerataan mutu dan pemerataan akses pendidikan. Dengan kata lain, bahwa program pemerataan mutu dan pemerataan akses pendidikan nasional menuntut peran dan partisipasi sekolah swasta. Berhasil tidaknya program tersebut oleh sekolah swasta, salah satunya ditentukan oleh faktor ketersediaan dana.
15 1. Apa filosofi penggalangan dana untuk pendidikan di Rumah Zakat dan
Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa?
2. Bagaimana program penggalangan dana untuk pendidikan di Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa?
3. Bagaimana pelaksanaan penggalangan dana untuk pendidikan di Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa?
4. Bagaimana dampak penggalangan dana untuk pendidikan di Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa terhadap penyelenggaraan pendidikan bermutu?
C. Tujuan Penelitian
Produk akhir dari penelitian ini adalah ditemukannya model pengembangan strategi penggalangan dana untuk penyelenggaraan pendidikan formal, khususnya Sekolah Juara dan Sekolah SMART Ekselensia. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis: 1. Filosofi penggalangan dana untuk pendidikan di Rumah Zakat dan
Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa.
2. Program penggalangan dana untuk pendidikan di Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa.
16 4. Dampak penggalangan dana untuk pendidikan di Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa terhadap penyelenggaraan pendidikan bermutu.
D. Manfaat/Signifikansi Penelitian
Studi ini memberikan sumbangan konseptual utamanya kepada administrasi pendidikan, di samping itu juga kepada studi pembiayaan pendidikan. Sebagai sebuah studi pembiayaan pendidikan yang bersifat aplikatif, studi ini memberikan sumbangan substansial kepada lembaga pendidikan maupun para administrator, khususnya terkait dengan penggalangan dana untuk membiayai pendidikan.
1. Manfaat Teoretis
Secara umum, studi ini memberikan sumbangan kepada pengembangan teori-teori administrasi pendidikan, terutama pada penggalangan dan pemanfaatan dana pendidikan. Sudah saatnya lembaga-lembaga pendidikan bergerak dari pendanaan konvensional pendidikan menuju kepada pendanaan inkonvensional untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, baik dari segi investasi maupun operasional pendidikan.
17 2. Manfaat Praktis
Pada tataran praktis, penelitian diharapkan dapat dijadikan media evaluasi diri bagi Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa untuk penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Juara maupun SMART Ekselensia. Di sisi lain, penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan model bagi penggalangan dana pendidikan di Sekolah/Madrasah di Indonesia, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermutu tinggi dan berdampak pada pencetakan keluaran yang berdaya saing tinggi.
E. Struktur Organisasi Penelitian
Fahrurrozi, 2012
Strategi Penggalangan Dana ....
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Bentuk dan Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang berupaya meneliti tentang sebuah subyek secara mendalam. Oleh karena itu, peneliti berusaha memahami dan menafsirkan apa makna semua perilaku dan peristiwa berbagai macam strategi penggalangan dana zakat, infak, sedekah (ZIS) untuk penyelenggaraan pedidikan bermutu dalam perpspektif peneliti sendiri, sebagai human instrument.
Adapun strategi penggalangan dana ZIS yang dimaskud adalah strategi yang dikonsepsikan dan terapkan oleh dua lembaga amil nasional, yaitu Rumah Zakat (RZ) dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI-DD) yang memiliki beberapa program yang mengarah pada peciptaan masyarakat mandiri. Dalam konteks penelitian ini, maka yang menjadi fokus penelitian adalah berbagai strategi penggalangan dana ZIS untuk penyelenggaraan pendidikan formal berkualitas, yaitu Sekolah Juara (binaan Rumah Zakat) dan Sekolah SMART Ekselensia (binaan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa).
140 dana untuk pendidikan, maka penelitian inijuga dikenal dengan penelitian naturalistik (Bogdan dan Biklen, 1988: 31).
B. Lokasi Penelitian dan Sumber Data
Penelitian ini dilakukan di Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa. Alasan dipilihkan dua lembaga tersebut adalah karena keduanya merupakan dua lembaga amil terbesar di Indonesia dan memiliki cabang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kemampuan mereka dalam menggalang dana ZIS dan kemanusiaan serta variasi program dan kebermanfaatannya bagi masyarakat, merupakan pertimbangan tersendiri sehingga kemudian keduanya dijadikan obyek penelitian.
141 Adapun data kedua tentang penyelenggaraan pendidikan formal berkualitas diperoleh dari SD Juara (binaan RZ) dan SMP-SMA SMART Ekselensia (binaan LPI DD). Sekolah Juara memiliki beberapa cabang yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Cimahi, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Namun dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan diri pada SD Juara Bandung yang berlokasi di Terusan Katamso Jl. Sukarajin I Cikutra, SD Juara Yogyakarta terletak di Jl. Gayam No. 09 Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, dan SD Juara Semarang yang berada di Kecamatan Pedurungan Semarang Timur. Ketiganya dijadikan sebagai representasi dari seluruh SD Juara yang ada. Sedangkan lokasi Sekolah SMART Ekselensia (jenjang SMP dan SMA) berada dalam komplek kantor LPI DD, yaitu di Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sekolah SMART terdapat di kota Bogor dan pada pertengahan 2011 juga didiran di Riau.
142 Sekolah Juara dan Sekolah SMART (actors) menggunakan berbagai media cetak dan elektronik yang dijumpai peneliti di beberapa tempat dan event (place).
Dalam penelitian ini, peneliti berupaya untuk mengembangkan sebuah eksplorasi tentang sebuah fenomena secara mendalam (indepth). Maka untuk memperoleh pemahaman yang baik, peneliti memilih sumber informasi (individu-individu dan situasi tempat) tertentu yang dipandang akan sangat membantu peneliti memahami sebuah fenomena. Oleh karena itu, peneliti memasuki sistuasi sosial RZ (berikut SD Juara di Bandung, Yogyakarta, dan Semarang) dan Lembaga Pengembangan Insani (berikut Dompet Dhuafa dan Sekolah SMART Ekselensia di Bogor). Peneliti melakukan wawancara dengan orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut dan melakukan pengamatan terhadap kegiatan penggalangan dana dan proses pembelajaran di sekolah. Selain itu, peneliti juga mengumpulkan dokumen-dokumen pendukung penelitian.
143 Strategis, Direktorat Riset dan Pengembangan, Bagian Keuangan, Departemen Pendidikan Formal, Kepala/Wakil Kepala Sekolah Juara Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Sementara itu, pihak Lembaga Pengembangan Insani yang memberikan infomasi terkait penelitian ini adalah Manajer Fundraising, Departemen Public Relation, Staf umum LPI, dan Pengasuh asrama siswa Sekolah SMART sekaligus Kepala Sekolah SMART Ekselensia.
C. Definisi Operasional Istilah 1. Strategi
Strategi identik dengan taktik atau kiat yang dirancang secara sistematik dan digunakan untuk mencapai sebuah tujuan secara efektif dan efisien. Ada beberapa alasan kenapa organisasi sangat memerlukan strategi, yaitu antara lain bahwa strategi dapat menentukan dan mengatur arahan atau acuan, strategi merupakan suatu kebutuhan untuk memfokuskan usaha dan mengarahkan kordinasi aktivitas, dan strategi juga diperlukan untuk menegaskan posisi suatu organisasi. Selain itu, strategi tidak hanya mengarahkan perhatian orang dalam bekerja, tapi juga memberi organisasi suatu makna sebagaimana yang diinginkan oleh
outsiders (Thompson, Fulmer and Strickland, 1992, 43-49).
2. Penggalangan Dana
144 untuk bersama-sama menyelenggarakan berbagai macam program dan kegiatan yang beroientasi pada penyelesaian masalah sosial. Secara definitif menurut Wirjana (2004: 12) penggalangan dana adalah suatu cara untuk membangun relasi dengan orang-orang yang memiliki nilai-nilai yang sama dengan nilai-nilai yang dipegang organisasi, agar mereka berkesempatan bertindak sesuai dengan nilai-nilai tersebut melalui pemberian dana untuk tujuan sosial kemanusiaan kepada organisasi.
3. Zakat, Infak, Sedekah
Zakat, infak, sedekah adalah ajaran dalam agama Islam tentang derma dengan ketentuan-ketentuan yang didasarkan pada al-Qur’an dan Hadits. Secara definitif, zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat–syarat yang telah ditentukan oleh agama (misalnya sudah mencapai nishab), dan disalurkan kepada orang–orang yang telah ditentukan pula (8 ashnaaf). Adapun infak berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Jika zakat ada nishab, infaq tidak mengenal
nishab. Infaq dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang
145 bersedekah dengan harta maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid,
tahlil, berhubungan suami-istri, dan melakukan kegiatan amr ma’ruf nahy
munkar adalah sedekah.
4. Dana Pendidikan
Dana berhubungan dengan sumber daya berupa uang (money) maupun bukan uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Dalam konteks pendidikan, dana merupakan sumber daya moneter yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan. Dalam PP No. 19/2005 Pasal 62 disebutkan, bahwa terdapat tiga jenis biaya, yaitu biaya investasi, operasional, dan personal.
146 5. Sekolah Swasta Islam
Sekolah swasta Islam merupakan salah satu bentuk pendidikan formal sekolah (non madrasah) yang dikelola masyarakat muslim, berjenjang pendidikan dasar dan menengah, dan memiliki ciri khas agama Islam. Dari segi kurikulum, selain mengacu pada kurikulum yang ditentukan Kementerian Pendidikan Nasional, Sekolah Swasta Islam juga memperkaya kurikulumnya dengan kurikulum tambahan pendidikan agama Islam dan lainnya secara lebih dibandingkan sekolah pada umumnya. Dalam konteks penelitian ini, sekolah swasta Islam (Sekolah Juara dan Sekolah SMART Ekselensia) adalah sebagai dampak dari penggalangan dana.
D. Teknik Pengumpulan Data
Guna memperoleh data yang holistik dan integratif, serta memperhatikan relevansi dengan fokus dan tujuan, maka pengumpulan data digunakan tiga teknik utama, yaitu : (1) wawancara mendalam (indepth
interview); (2) observasi; dan (3) studi dokumentasi (study of documents).
1. Wawancara Mendalam
147
interview) yang menggunakan petunjuk umum wawancara dan juga
merupakan kombinasi antara wawancara terpimpin dan tidak terpimpin. Dengan teknik ini, peneliti menggunakan beberapa pertanyaan yang akan diajukan. Bersamaan dengan itu, sebenarnya peneliti juga mengajukan pertanyaan secara bebas dan tidak harus berurutan, tergantung situasi dan kondisinya (Satori, 2010: 135).
Dalam konteks ini, peneliti telah menyiapkan pedoman wawancara umum yang dikembangkan dari pertanyaan penelitian. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan kepada semua informan sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing, sebagaimana dijelaskan dalam tabel 3.1.
148 Tabel 3.1. Kisi-kisi dan Sumber Data Wawancara
NO Pertanyaan Kisi-kisi Informan
RZ LPI-DD
1 Filosofi penggalangan dana untuk pendidikan
Situasi agama sosial politik yang melatarbelakangi pendirian lembaga Pendidikan dalam pandangan lembaga
Potensi dana
Pentingnya dana bagi program pendidikan Direktorat Program Strategi Direktorat Human Resource Development Departemen Pendidikan Formal Manajer Fundraising Departemen Public Relation Pengasuh asrama dan kepala sekolah 2 Program penggalangan dana untuk pendidikan Worldview lembaga
Misi lembaga
Program pendidikan lembaga
Sasaran dan KPI lembaga Direktorat Program Strategi Direktorat Human Resource Development Manajer Fundraising Departemen Public Relation 3 Pelaksanaan penggalangan dana Penguatan organisasi
Edukasi publik
Galang dan Layanan donasi
Transparansi dan akuntabilitas Direktorat Program Strategi Direktorat Human Resource Development Manajer Fundraising Departemen Public Relation
4 Dampak penggalangan dana untuk pendidikan bagi penyelenggaraan pendidikan bermutu Sumber-sumber dana
Perolehan dan distribusi dana pendidikan
149 Rincian proses pencarian data melalui wawancara tentang strategi penggalangan dana ZIS oleh Rumah Zakat untuk pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Wawancara dengan Direktorat Program Strategis, dilakukan pada tanggal 11 Maret 2011 pukul 15.00-16.30 di Pondokan Al-Barokah Yogyakarta. Adapun data yang dilacak adalah seputar basis filosofis, strategi penyadaran masyarakat, strategi penggalangan dana, pembiayaan pendidikan Sekolah Juara, dan mutu Sekolah Juara.
b. Wawancara dengan Kepala Departemen Pendidikan Formal, dilakukan pada tanggal 30 Maret 2011 pukul 09.00-11.30 di sekretariat pendidikan formal Jl. Tarumanegara Bandung. Adapun data yang dilacak adalah seputar basis filsofis Sekolah Juara, mutu pendidikan, dan pembiayaan pendidikan.
c. Wawancara dengan Direktorat Human Resource Development, dilakukan pada tanggal 31 Maret 2011 pukul 09.00-11.30 di kantor pusat Rumah Zakat Jl. Turangga Bandung. Adapun data yang dilacak adalah seputar filosofi penggalangan dan branding, penguatan manajemen, strategi penyadaran masyarakat, strategi penggalangan dana, distribusi dana, dan akuntabilitas.
150 akuntabilitas dan beberapa istilah dalam laporan keuangan Rumah Zakat.
e. Wawancara dengan Kepala SD Juara Bandung, dilakukan pada tanggal 31 Maret 2011 pukul 13.00-14.30 di Sekolah SD Juara Jl. Terusan Brigjend Katamso Bandung. Adapun data yang dilacak adalah seputar basis filsofis sekolah, rekrutmen dan seleksi, dan mutu pendidikan. f. Wawancara dengan Kepala SD Juara Yogyakarta, dilakukan pada
tanggal 29 November 2011 pukul 09.00-12.00 di Sekolah SD Juara Jl. Gayam Baciro Yogyakarta. Adapun data yang dilacak adalah seputar basis filsofis sekolah, rekrutmen dan seleksi, mutu pendidikan, dan pembiayaan pendidikan.
g. Wawancara dengan Tokoh Masyarakat NU, dilakukan pada tanggal 10 Februari 2012 ketika dalam perjalan bersama dari Semarang menuju Bandungan. Adapun data yang dilacak adalah seputar hubungan Rumah Zakat dengan partai politik (parpol) tertentu, sasaran program, dan pemanfaatan dana ZIS.
h. Wawancara dengan salah seorang di BAZDA Kota Semarang, dilakukan pada tanggal 12 Maret 2012 di kantor Jurusan Kependidikan Islam IAIN Walisongo. Adapun data yang dilacak adalah seputar hubungan Rumah Zakat dengan partai politik (parpol) tertentu, sasaran program, dan pemanfaatan dana ZIS
151 Adapun data yang dilacak adalah seputar hubungan Rumah Zakat dengan partai politik (parpol) tertentu, sasaran program, dan pemanfaatan dana ZIS.
Adapun rincian proses pencarian data melalui wawancara tentang strategi penggalangan dana ZIS oleh LPI DD untuk pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Wawancara dengan Pengasuh dan Kepala Sekolah SMART, dilakukan pada tanggal 4 April 2011 pukul 09.00-11.30 di Pondokan di Kantor Kepala Sekolah SMART di lingkungan LPI. Adapun data yang dilacak adalah seputar basis filosofis sekolah, mutu pendidikan Sekolah SMART, dan pembiayaan pendidikan.
b. Wawancara dengan Manajer Public Relation dan Fundraising LPI, dilakukan pada tanggal 20 April 2011 pukul 09.00-11.00 di kantor LPI Jl. Raya Parung Bogor. Adapun data yang dilacak adalah seputar basis filosofi penggalangan dana, program, penguatan manajemen, penggalangan dana, penyadaran masyarakat, dan akuntabilitas.
c. Wawancara dengan Public Relation LPI, dilakukan pada tanggal 9 Oktober 2011 dilakukan melalui email. Adapun data yang dilacak adalah seputar strategi penyadaran publik dan akuntabilitas.
152 adalah seputar hubungan Dompet Dhuafa dengan partai politik (parpol) tertentu, sasaran program, dan pemanfaatan dana ZIS.
e. Wawancara dengan seorang mantan relawan di Rumah Zakat dan aktivis Hizbut Tahrir Surabaya, dilakukan pada tanggal 12 Maret 2012 melalui telepon. Adapun data yang dilacak adalah seputar hubungan Dompet Dhuafa dengan partai politik (parpol) tertentu, sasaran program, dan pemanfaatan dana ZIS.
f. Wawancara dengan seorang Kepala Sekolah Swasta Islam di Jakarta sekaligus trainer di LPI-DD, dilakukan pada tanggal 16 Maret 2012 melalui telepon. Adapun data yang dilacak adalah seputar hubungan Rumah Zakat dengan partai politik (parpol) tertentu, sasaran program, dan pemanfaatan dana ZIS.
2. Observasi
153 Dalam kaitannya dengan observasi ini, peneliti melakukan pengamatan terhadap segala fenomena penggalangan dana yang dilakukan RZ dan LPI DD, misalnya suasana kerja amil dan staf di Rumah Zakat dan LPI-DD, pertemuan rutin mingguan, pelaksanaan penggalangan dana melalui berbagai macam media cetak (misalnya: harian, jurnal, annual
report, dan newsletter), visual (misalnya: website, spanduk, dan baliho),
maupun audiovisual (misalnya: iklan layanan masyarakat di beberapa stasiun televisi), dan program peningkatan kualitas guru. Selain itu, peneliti juga melakukan pengamatan terhadap suasana belajar dan proses pembelajaran di SD Juara Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Pengamatan juga dilakukan pada suasana belajar dan proses pembelajaran di sekolah SMP dan SMA SMART Ekselensia di Parung Bogor.
Rincian proses pencarian data melalui observasi tentang strategi penggalangan dana ZIS oleh Rumah Zakat untuk pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Observasi terhadap aktivitas belajar dan mengajar, dilakukan pada tanggal 10 Maret 2011 pukul 13.00-14.30 di SD Juara Yogyakarta. Adapun data yang dilacak adalah seputar mutu pendidikan.
154 c. Observasi terhadap aktivitas amil dan staf, dilakukan pada tanggal 5 Januari 2011 pukul 08.00-09.00 di Rumah Zakat Pusat Bandung. Adapun data yang dilacak adalah seputar penguatan manajemen dan komitmen amil dan staf.
d. Observasi terhadap aktivitas penggalangan dana melalui media iklan televisi, dilakukan sejak bulan januari sampai dengan Desember 2012. Adapun data yang dilacak adalah seputar isi pesan dan media penggalangan dana.
e. Observasi terhadap pelatihan guru Sekolah Juara se-DIY dan Jateng, dilakukan pada tanggal 11 Maret 2011 pukul 13.30-16.00 di Pondokan Al-Barokah Yogyakarta. Adapun data yang dilacak adalah seputar penguatan manajemen dan komitmen para guru.
f. Observasi terhadap aktivitas belajar mengajar, dilakukan pada tanggal 31 Maret 2011 pukul 11.00-13.00 di SD Juara Bandung. Adapun data yang dilacak adalah aktivitas belajar mengajar oleh guru dan aktivitas siswa saat istirahat dan waktu sholat.
g. Observasi terhadap brosur, spanduk, blog, dan website. dilakukan pada bulan April sampai dengan Desember 2011. Adapun data yang dilacak adalah seputar pesan-pesan penyadaran masyarakat, layanan donasi, dan jenis media yang digunakan.
155 a. Observasi terhadap acara pengarahan program karantina siswa menjelas ujian nasional, dilakukan pada tanggal 4 April 2011 pukul 09.00-12.00 di auditorium LPI DD. Adapun data yang dilacak adalah suasana dan semangat belajar para siswa.
b. Observasi terhadap beberapa pajangan sertifikat dan piagam penghargaan SMART, dilakukan pada tanggal 4 April 2011 pukul 08.00-09.00 di LPI DD. Adapun data yang dilacak adalah seputar bukti-bukti mutu pendidikan Sekolah SMART.
c. Observasi terhadap aktivitas amil dan staf, dilakukan pada tanggal 20 April 2011 pukul 08.00-09.00 di LPI DD. Adapun data yang dilacak adalah seputar penguatan manajemen dan komitmen amil dan staf. d. Observasi terhadap aktivitas belajar siswa, dilakukan pada tanggal 20
April 2011 pukul 12.00-13.30 di LPI DD. Adapun data yang dilacak adalah seputar mutu pendidikan, interaksi guru dan siswa, dan proses pembelajaran.
e. Observasi terhadap liflet, newsletter, dan website, dilakukan pada bulan April sampai dengan Desember 2011. Adapun data yang dilacak adalah seputar pesan-pesan penyadaran masyarakat, layanan donasi, dan jenis media yang digunakan.
156 3. Studi Dokumentasi
Dalam penelitian naturalistik, data banyak diperoleh melalui teknik sumber insani melalui wawancara dan observasi. Studi dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber-sumber non insani. Studi dokumentasi ini bersifat menguatkan dan melengkapi data yang sudah diperoleh melalui wawancara dan observasi.
Rincian proses pencarian data melalui studi dokumentasi tentang strategi penggalangan dana ZIS oleh Rumah Zakat untuk pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Dokumen berita harian Republika dan indosiar.com, diperoleh pada tanggal 15 Oktober 2010. Adapun data yang dilacak adalah basis filosofis pendirian Sekolah Juara dan mutu pendidikannya.
b. Dokumen berita indosiar.com, diperoleh pada tanggal 15 Oktober 2010. Adapun data yang dilacak adalah basis filosofis pendirian Sekolah Juara.
c. Dokumen company profile Rumah Zakat, diperoleh pada tanggal 15 Oktober 2010. Adapun data yang dilacak adalah basis filosofis pendirian Rumah Zakat.
157 e. Dokumen website Rumah Zakat, diperoleh pada tanggal 4 Mei 2011. Adapun data yang dilacak adalah filosofi, program, penguatan manajemen, penyadaran masyarakat, layanan donasi, mutu pendidikan, biaya pendidikan, dan laporan keuangan Rumah Zakat.
f. Dokumen annual report Rumah Zakat, diperoleh pada tanggal 4 Mei 2011. Adapun data yang dilacak adalah filosofi, program, penguatan manajemen, penyadaran masyarakat, layanan donasi, mutu pendidikan, biaya pendidikan, dan laporan keuangan Rumah Zakat.
Adapun rincian proses pencarian data melalui studi dokumentasi tentang strategi penggalangan dana ZIS oleh LPI DD untuk pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Dokumen newsletter CERDASIN LPI, diperoleh pada tanggal 7 Mei 2011. Adapun data yang dilacak adalah program penggalangan dana. b. Dokumen newsletter Donatur DD, diperoleh pada tanggal 7 Mei 2010
Adapun data yang dilacak adalah mutu pendidikan.
c. Dokumen company profile Sekolah SMART, diperoleh pada tanggal 7 Mei 2010. Adapun data yang dilacak adalah basis filosofis pendirian, mutu pendidikan dan pembiayaan pendidikan.
158 e. Dokumen company profile DD, diperoleh pada tanggal 12 Agustus 2011. Adapun data yang dilacak adalah basis filosofis pendirian, program, dan penguatan manajemen.
f. Dokumen company profile LPI DD, diperoleh pada tanggal 12 Agustus 2011. Adapun data yang dilacak adalah basis filosofis pendirian, program, mutu pendidikan dan pembiayaan pendidikan.
g. Dokumen laporan keuangan LPI DD, diperoleh pada tanggal 9 Oktober 2011. Adapun data yang dilacak adalah perolehan dana, distribusi dana, dan akuntabilitas keuangan.
E. Analisis Data
159 1. Reduksi data adalah proses pemilihan atau pengurangan, penyederhanaan, dan pentransformasian data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Dalam konteks ini peneliti melakukan beberapa klasifikasi data yang diperoleh dari pengumpulan data tentang strategi penggalangan dana yang dilakukan Rumah Zakat dan LPI-DD untuk penyelenggaraan pendidikan Sekolah Juara dan Sekolah SMART Ekselensia. Klasifikasi ini dilakukan untuk menentukan. mana data yang akan diambil dan dipakai serta mana yang tidak dipakai. Klisifikasi ini juga dilakukan untuk mengetahui mana data yang substantif dan mana yang bersifat suplementer. Oleh karena sifatnya yang mengklasifikasikan data-data di lapangan, maka proses ini disebut dengan perduksian data, yang layak dan memang wajar dilakukan dalam penelitian kualitatif.
2. Penyajian data, yaitu menyampaikan informasi yang tersusun dan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Setelah reduksi data tentang tentang strategi penggalangan dana yang dilakukan Rumah Zakat dan LPI-DD untuk penyelenggaraan pendidikan Sekolah Juara dan Sekolah SMART Ekselensia, maka tahap berikutnya adalah penyajian data-data yang diperoleh secara sistematik, penuh kepedulian, kreativitas dan usaha tanpa henti sampai berhasil menarik kesimpulan dan pemaknaan-pemaknaannya.
160 dilakukan Rumah Zakat dan LPI-DD untuk penyelenggaraan pendidikan Sekolah Juara dan Sekolah SMART Ekselensia, sekaligus karakteristik yang menonjol dalam kurikulum tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar 3.1.
Gambar 3.1. Model Analisis Mengalir Interaktif Sumber: Huberman dan Milles, 1984: 429.
Analisis data dengan model interaktif dilakukan sesudah pengumpulan data yang dilaksanakan menggunakan kalimat-kalimat, gambar-gambar dan sebagainya. Semua itu diatur sedemikian rupa sehingga merupakan kesatuan data yang telah dikumpulkan dan siap diadakan penarikan kesimpulan. Penyajian data ini dilakukan secara terus menerus, bahkan setelah selesai penyajian data namun masih dilakukan penelitian penyajian datanya. Kegiatan tersebut dimaksudkan agar data yang disajikan betul-betul valid.
Data Collection
Data Reduction
Data Display
161 F. Pengecekan Keabsahan Data Penelitian
Pengecekan keabsahan data pada dasarnya merupakan bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari penelitian kualitatif. Pelaksanaan pengecekan keabsahan data didasarkan pada empat kriteria yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability) (Moleong, 1989).
1. Kredibilitas
Pengecekan kredibilitas atau derajat kepercayaan dalam penelitian dilakukan dengan teknik pengecekan data melalui 4 cara, yaitu:
a. Persistent observation
Pengujian terhadap kredibilitas data melalui pengamatan secara terus menerus (Persistent observation). dalam konteks penelitian ini, peneliti berusaha melakukan observasi berulang-ulang terkait dengan fokus penelitian, baik di Rumah Zakat beserta Sekolah Juara, maupun Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa beserta Sekolah SMART.
b. Triangulation
162 Pendidikan Formal Sekolah Juara Rumah Zakat/Sekolah SMART LPI Dompet Dhuafa ke Kepala Sekolah dan pihak luar Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa.
Metode triangulasi juga dilaksanakan dengan cara memanfaatkan beberapa metode yang berbeda untuk mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh. Dalam hal ini peneliti antara lain, misalnya melakukan cross check terhadap apa yang diungkapkan informan dalam wawancara dengan Fundraising dan Public Relation, dengan dokumentasi yang ditemukan peneliti. Atau peneliti menindaklanjuti hasil wawancara dengan melakukan pengamatan terhadap situasi yang terkait dengan topik wawancara. c. Member Check
Pengujian terhadap kredibilitas data melalui member check dilakukan pada subjek wawancara secara tidak langsung dalam bentuk penyampaian rangkuman hasil wawancara yang sudah dibuat oleh peneliti. Dalam hal ini tidak setiap fokus penelitian mendapat member
check, namun pengakuan kebenaran data oleh pihak Rumah Zakat dan
LPI-DD dinyatakan memadai mewakili sumber informasi sasaran wawancara.
d. Referential Adequacy Checks
163 penelitian. Peneliti terus berupaya memperoleh referensi yang banyak tentang penggalangan dana untuk pendidikan di Sekolah Juara dan Sekolah SMART, baik di perpustakaan, surat kabar, hasil penelitian, maupun di situs internet.
2. Transferabilitas
Dalam konteks ini, peneliti melaporkan hasil penelitian secara rinci. Uraian laporan dilakukan agar dapat mengungkap secara khusus segala sesuatu yang diperlukan oleh pembaca, yaitu pemahaman tentang temuan-temuan yang diperoleh. Penemuan itu sendiri bukan bagian dari uraian rinci, melainkan penafsirannya yang diuraikan secara rinci dengan penuh tanggung jawab berdasarkan kejadian-kejadian nyata.
3. Dependabilitas
164 4. Konfirmabilitas
Fahrurrozi, 2012
Strategi Penggalangan Dana ....
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
BAB V
PENGEMBANGAN STRATEGI PENGGALANGAN DANA UNTUK PENDIDIKAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab 4, peneliti mencoba melakukan pengembangan strategi penggalangan dana Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI-DD) untuk pendidikan Sekolah Juara dan Sekolah SMART Ekselensia. Strategi penggalangan dana untuk pendidikan akan dikembangkan dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard, yang mengandung arti pendekatan laporan kinerja yang seimbang (balanced). Dikatakan seimbang karena pendekatan ini hendak mengukur kinerja organisasi secara komprehensif melalui empat dimensi utama, yakni: dimensi keuangan, pelanggan, proses bisnis internal dan dimensi learning and growth (Luis, 2007:27).
370 Adapun yang dimaksud dengan proses dimensi bisnis internal adalah semua daya upaya RZ dan LPI-DD dalam mengkomunikasikan misinya pada masyarakat donatur (ritel, komunitas, corporate). Misi kedua lembaga tersebut adalah mewujudkan kemandirian masyarakat melalui program pendidikan formal jenjang SD, SMP, SMA. Sedangkan yang dimaksud dengan dimensi learning and growth dalam konteks penelitian ini adalah proses penguatan organisasi melalui penguatan struktur organisasi dan pembinaan jejaring.
Berdasarkan pendekatan balanced scorecard, keterkaitan antar dimensi-dimensi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penguatan organisasi yang merupakan dimensi learning and growth, adalah fondasi awal sebuah organisasi dalam menjalankan bisnisnya. Dimensi ini sangat menentukan baik tidaknya kinerja bisnis internal organisasi.
2. Proses bisnis internal yang terdiri dari rencana dan pelaksanaan strategi penggalangan dana dan juga pelaksanaan pendidikan sekolah, merupakan konsekuensi logis dari learning and growth. Baik buruknya bisnis internal menentukan percaya tidaknya pelanggan.
371 4. Penerimaan dana merupakan konsekuensi logis dari kepuasan pelanggan, yaitu
muzakki dan mustahik. Semakin puas pelanggan, maka semakin besar
kerpercayaan mereka. Kepercayaan mereka diwujudkan melalui donasi.
Berdasarkan sub bab pembahasan terhadap hasil penelitian, diketahui bahwa Sekolah Juara dan Sekolah SMART diperuntukkan bagi masyarakat tidak mampu (dhuafa/mustahik). Dengan kata lain, bahwa masyarakat umum yang mampu dan tidak masuk kategori mustahik, tidak dapat mengakses pendidikan bermutu yang dibina Rumah Zakat (RZ) dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI-DD) tersebut. Adapun dasar kebijakan tersebut adalah bahwa RZ dan LPI-DD sebagai lembaga amil zakat harus menyampaikan atau mendistribuskan dana zakat kepada pihak yang berhak menerimanya, yaitu mustahik sebagai salah satu dari 8
ashnaf sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur’an.
Bertolak dari kondisi tersebut, peneliti melihat terdapat beberapa hal yang dapat dikritisi, yaitu antara lain:
1. Pendidikan bermutu sebagai sebuah bentuk dari human investment adalah hak setiap orang, tidak hanya untuk masyarakat miskin apalagi masyarakat mampu.
372 3. Kebijakan tentang sekolah untuk kaum miskin (dhuafa) merupakan pencitraan yang kurang positif bagi siswa dan dapat mengakibatkan munculnya rasa inferior pada diri siswa.
4. Terkait dengan masyarakat donatur (muzakki), mereka berasal dari masyarakat dengan tingkat ekonomi yang variatif. Di antara mereka mungkin bahkan sebagian besar di antara mereka adalah berasal dari masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Dengan tingkat ekonomi seperti itu belum tentu anak-anak mereka mendapatkan pendidikan bermutu di sekolah mereka, seperti yang diberikan di Sekolah Juara dan Sekolah SMART.
5. Terkait dengan penerimaan dana, dana yang diterima khusus untuk sekolah sebenarnya tidak cukup memenuhi kebutuhan biaya pendidikan sekolah. Selama ini sekolah mendapat subsidi dari sumber lain yang tidak terikat. Kondisi ini bisa jadi merupakan konsekuensi logis dari masalah-masalah di atas. Oleh karena itu perlu ada perluasan penerima manfaat sekolah, sehingga kepercayaan masyarakat meningkat. Ini akan berimbas pada kenaikan penerimaan dana untuk pendidikan formal. Perluasan juga dilakukan pada wadah penerimaan dana untuk memenuhi kebutuhan biaya investasi pendidikan.
373 syari’at dan masyarakat percaya terhadap akuntabilitas program maupun keuangan RZ dan LPI-DD. Itu terbukti dengan penerimaan dana secara umum yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun demikian, program yang selama ini berjalan perlu dievaluasi dan dikembangkan agar akses pendidikan lebih merata dan memperoleh kepercayaan masyarakat yang lebih luas lagi. Hal ini berhubungan dengan keberlanjutan (sustainbility) kedua lembaga tersebut sebagai organisasi penggalang dana, yang akan berdampak pada penyelenggaraan pendidikan berkualitas
374 Terkait dengan itu, terdapat beberapa pemikiran tentang komponen dan strategi pengembangan model penggalangan dana untuk pendidikan Sekolah Juara dan Sekolah SMART, yaitu:
1. Misi pengembangan kemandirian masyarakat melalui program pendidikan formal perlu diperluas lagi. Jika semula misinya adalah pemanfaat ZIS untuk sekolah hanya bagi orang miskin (mustahik), maka ke depan perlu diperluas dan dikembangkan, bahwa pendidikan Sekolah Juara dan Sekolah SMART untuk masyarakat umum yang lebih luas lagi. Sebagai sebuah bentuk dari human
investment dan dalam rangka berpartisipasi dalam program pemerataan mutu dan
pemerataan akses, maka siapapun berhak mengkases pendidikan di Sekolah Juara maupun Sekolah SMART, tentunya dengan sistem rekrutmen yang perlu ditentukan selanjutnya.
375 dan akuntabilitas program dan dana untuk memperoleh dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.
3. Dimensi proses bisnis internal, yang terdiri dari strategi penyadaran masyarakat, galang dan layanan donasi, akuntabilitas, dan program pendidikan sekolah, perlu dikembangkan lagi. Terdapat empat hal penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu: Pertama, mengembangkan wadah donasi untuk pendidikan. Jika selama ini banyak bertumpu pada ZIS, maka ke depan juga perlu dikembangkan wadah lain, misalnya wakaf untuk mengatasi masalah biaya investasi, seperti yang dihadapi Sekolah Juara terkait kepemilikan gedung sekolah. Berbagai macam strategi dan upaya untuk melakukan edukasi publik dan penggalangan dana melalui wadah wakaf efektif dan produktif perlu digalakkan.
Kedua, strategi galang donasi corporate, yang semula meraih kepercayaan
corporate melalui penerimaan corporate social responsibility (CSR), perlu
376 Ketiga, masih terkait dengan strategi galang donasi, RZ dan LPI-DD harus mengembangkan bentuk-bentuk usaha mandiri (unit usaha) yang bergerak di bidang layanan maupun produk. Terkait dengan itu, sebenarnya Dompet Dhuafa sebagai lembaga induk LPI telah melakukan itu. Hal ini yang perlu dikembangkan juga di Rumah Zakat dan LPI.
Keempat, khusus yang terkait dengan program pendidikan sekolah harus memperhatikan dan mengembangan aspek pemerataan mutu dan pemerataan akses, sebagaimana dijelaskan pada poin 1 di atas. Model pendidikan yang dikembangkan adalah model pendidikan inklusi. Jika selama ini model inklusi dipraktikkan dalam bentuk penempatan peserta didik, baik anak normal dan anak berkebutuhan khusus, dalam satu sekolah dan kelas, namun yang dimaksud pendidikan inklusi dalam konteks ini adalah penempatan bersama dan satu sekolah dan kelas yang terdiri dari siswa dari keluarga mustahik dan keluarga yang mampu. Sekolah inklusif memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat dan mendorong adanya partisipasi penuh dari komunitas sekolah, tidak hanya oleh para guru dan staf sekolah, tapi juga rekanan, orang tua, keluarga dan relawan (Boscardin, 1997: 466).
377 program dan penerima manfaat ZIS lebih cenderung ditentukan RZ dan LPI, ke depan peran dan partisipasi masyarakat ditingkatkan karena hal ini sangat berhubungan dengan kepercayaan masyarakat terhadap RZ dan LPI-DD.
4. Dimensi kepuasan pelanggan. Pada dimensi ini terdapat dua pihak masyarakat yang perlu mendapatkan kepuasan layanan, yaitu masyarakat donatur (stakeholder) dan masyarakat penerima manfaat (shareholder). Masyarakat donatur yang terdiri dari ritel, komunitas, corporate dalam konteks ini tidak hanya sekedar sebagai donatur, tetapi juga berhak mendapatkan dan merasakan program pendidikan sekolah. Dengan demikian masyarakat penerima manfaat selain mustahik juga masyarakat umum. Model pendidikan yang perlu dikembangkan adalah model pendidikan yang mengedepankan dua hal, yaitu kualitas dan ekualitas. Kualitas berbicara tentang standar, sedangkan ekualitas berbicara tentang kesamaan memperoleh kesempatan mendapat pendidikan berkualitas (Preedy, 1997: 34).
378 berasal dari masyarakat umum/mampu, jika dana umum kemanusiaan tidak cukup, kekurangannya dapat dibebankan pada wali siswa/orangtua siswa. Hal ini dapat diatur secara lebih jelas oleh RZ dan LPI-DD.
Khusus dana yang diperoleh melalui jalur/wadah wakaf harus dikelola dan didistribusikan untuk kepentingan yang menghasilkan produk abadi atau tidak habis pakai dalam jangka waktu yang sangat lama. Dana wakaf ini ada dua macam, yaitu wakaf tunai (cash) dan wakaf non-tunai berupa fisik bangunan atau tanah dan lainnya. Dalam konteks pendidikan, dana wakaf atau sejenisnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan biaya investasi sekolah. Sedangkan dana ZIS atau dana umum yang sejenis ZIS dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional sekolah.
379
[image:54.612.93.576.152.585.2]
Gambar 5.1. Model Pengembangan Strategi Penggalangan Dana Untuk Rumah Zakat dan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa
Galang& Layanan Donasi Akuntabilitas Kepercayaan Muzakki Public Awareness Pembinaan kinerja amil dan mitra Ritel Komunitas Corporate
Penerimaan Dana ZISW&Non ZISW
Misi ZIS-W dan Kemanusiaan Untuk Pendidikan Dimensi Learning& Growth Dimensi Bisnis Internal Dimensi Pelanggan Dimensi Keuangan Kemandirian Masyarakat Program Pendidikan Sekolah Inklusi Pembinaan Jejaring Staffing Galang Donasi
380 Setelah peta pengembangan strategi penggalangan dana untuk pendidikan dibuat, selanjutnya perlu ditentukan key performance indicator (KPI) dari masing-masing pengembangan atau disebut juga dengan ukuran (measure). KPI adalah indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja (Luis, 2007: 87). Berikut ini adalah beberapa KPI dari masing-masing dimensi pengembangan strategi.
Tabel 5.1. Indikator Pengembangan Strategi Penggalangan Dana
No. Dimensi Sasaran KPI
1 Dimensi keuangan Penerimaan dana
Penyaluran dana
- Meningkatnya perolehan dana ZIS - Meningkatnya
perolehan dana non-ZIS - Dana ZIS untuk
mustahik
- Dana non ZIS untuk umum
2 Dimensi pelanggan Kepercayaan muzakki (donatur)
Penerimaan manfaat oleh mustahik dan umum
- Loyalitas muzakki lama - Bertambahnya jumlah
muzakki baru
- Indeks Kepuasan
muzakki
- Indeks pengelolaan keluhan muzakki
- Pemenuhan kebutuhan pendidikan berkualitas bagi mustahik dan umum
- Pemberdayaan
381 3 Dimensi bisnis
internal
Public awareness
Galang&layanan donasi
Akuntabilitas program dan dana
- Citra organisasi di mata masyarakat
- Sampai dan diterimanya pesan kepada calon
muzakki (donatur)
- Kemudahan calon
muzakki dalam
berdonasi - Inovasi program
pendidikan inklusi - Kualitas program
pendidikan inklusi - Keterbacaan dan
aksesibilitas informasi program dan keuangan organisasi
4 Dimensi learning and growth
Staffing
Pembinaan jejaring Pembinaan kinerja
amil dan staf
- Meningkatnya kepuasan amil dan staf
- Tingkat keluar masuk
amil dan staf (turn over) - Meningkatnya
produktivitas amil dan staf
- Meningkatnya sikap, pengetahuan, dan keterampilan - Meningkatnya
presentase pelatihan
amil staf (training coverage)
- Kualitas budaya organisasi - Meningkatnya
382 Dalam kaitannya dengan pendidikan nasional, model pendidikan berkualitas yang diterapkan Sekolah Juara dan Sekolah SMART Ekselensia merupakan sebuah bentuk dari partisipasi masyarakat dalam mengatasi persoalan pendidikan nasional. Sebagaimana dijelaskan pada bab 1, bahwa terdapat dua tantangan pendidikan yang dihadapi pemerintah Indonesia yang hingga sampai saat ini belum terselesaikan secara tuntas, yaitu tantangan mutu pendidikan dan tantangan aksesibilitas pendidikan. Salah satu faktor penghambat masalah tersebut adalah terbatasnya kemampuan pemerintah dalam mendanai pendidikan. Sementara itu, masih banyak sekolah/madrasah yang jauh dari standar mutu, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Angka Partisipasi Sekolah (APS) masyarakat Indonesia, terutama jenjang pendidikan menangah, belum memuaskan.
383 Keberhasilan Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa’ tersebut dalam menggalang dana semestinya dapat menginspirasi pemerintah Indonesia dalam mengatasi persoalan pendanaan pendidikan nasional. Terkait dengan pemanfaatan potensi ZIS untuk kepentingan pendidikan nasional, sebenarnya terdapat beberapa alternatif yang bisa diterapkan, di antaranya adalah upaya pemerintah, dalam hal ini Kemendiknas, melakukan penggalangan dana ZIS untuk pendidikan. Namun persoalannya, masyarakat mungkin masih trauma dengan upaya penggalangan dana oleh pemerintah melalui BAZDA di era Orde Baru, yang disinyalir oleh sebagian pihak bahwa dana ZIS tersebut kemudian digunakan untuk kepentingan politik. Beberapa peneliti menyatakan bahwa masyarakat kini lebih percaya pada lembaga pengelola ZIS swasta daripada pemerintah. Maka tidak heran jika kemudian akhir-akhir ini banyak bermunculan lembaga-lembaga amil swasta dengan perolehan dana ZIS yang tidak sedikit. Dengan demikian, masalah pengelolaan ZIS menyangkut kredibilitas dan akuntabilitas lembaga ZIS.
Fahrurrozi, 2012
Strategi Penggalangan Dana ....
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchori. (2003). Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Anwar M.I. (2003). Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan, Bandung : Alfabeta.
Anwar, M.I. (1991) “Biaya Pendidikan dan Metode Penetapan Biaya Pendidikan”,
Mimbar Pendidikan, No. 1 Tahun X, 28-33).
Asia Pacific Philanthropy Consortium (APPC). (2001). “Strengthening Philanthropy in the Asia Pacific: An Agenda for Action” in Conference Report, July 16 - 17, Bali, Indonesia.
Bamualim, Chaider S. dan Irfan Abubakar (ed.) (2005). Revitalisasi Filantropi
Islam: Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf di Indonesia. Jakarta: PBB
UIN Syarif Hidayatullah.
Bamualim, Chaider S. dan Irfan Abubakar (ed.) (2006). Revitalisasi Filantropi
Islam dan Keadilan Sosial. Jakarta: PBB UIN Syarif Hidayatullah.
Bannis, Warrant and Burt Nannus. (1985). Leaders: The Strategies For Taking
Changes. New York: Harper & Row Publisher.
Bastian, Indra. (2006). Akuntansi pendidikan, Jakarta: Erlangga.
Becker, G.S. (1993). Human Capital : A Theoretical and Empirical Analysis, with
Special Reference to Education, Chicago and London : The University of
Chicago Press.
Blocher, J. et.al., (2001). Manajemen Biaya dengan Tekanan Stratejik, (Alih bahasa Susty Ambarini), Jakarta : Salemba Empat.
Bogdan, R.C., & Biklen, S.K. (1998). Qualitative Research For Education : An
Introduction to Theory and Methods, London : Ally and Bacon, Inc.
Bogler, Ronit. (1994). “University Researchers’ Views of Private Industry Implications for Educational Administrators, Academicians and the Funding Sources” dalam Journal of Educational Administration, Vol. 32
399 Boscardin, Mary Lynn. (1997). “The inclusive school Integrating diversity and solidarity through community-based management” dalam Journal of Educational Administration, Vol. 35 No. 5, 1997.
Bowen, Howard Rothman. (1980). The Cost of Higher Education, USA: Jossey-Bass Publisher.
Boyson, Jack K. (2001). Resources for Mobilizing Funding for Development
Projects, Small Grants Program, Social Development Department, World
Bank International Youth Foundation, Baltimore, Maryland USA.
Branson, Christopher M. (2008). “Achieving organisational change through values alignment” dalam Journal of Educational Administration Vol. 46
No. 3, 2008.
Bryson, John M. (2001). Strategic Planning for Public and Non Profit Organization, M. Mifatahuddin (penerjemah), 2001, Perencanaan
Strategis Bagi Organisasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bush, Tony. (2000). Leadership and Strategic Management in Education, London: Paul Chapman Publishing Ltd.
Caldwell, B.J., et.al. (1999). “The Role of Formula Funding of Schools in Different Educational Policy Contexts”, dalam Ross, K.N., & Levacie, R., (eds), Need – Based Resource Allocation in Education Via Formula Funding of Schools, Paris : International Institute for Educational
Planning.
Cheng, Kai-ming and Kam-cheung Wong. (1996). “School effectiveness in East Asia Concepts, origins and implications” dalam Journal of Educational
Administration, Vol. 34 No. 5, 1996,
Chiu, Ming Ming and Allan Walker. (2007). “Leadership for social justice in Hong Kong schools Addressing mechanisms of inequality” dalam Journal of Educational Administration.Vol. 45 No. 6, 2007.
Cohn, Elchannan. (1979). The Economic of Education. USA: University of South Carolina
Cooper, Bruce S. (1994). “Making Money matter in Education: A
Micro-Financial Model for Determining School-Level Allocations, Efficiency, and Productivity” dalam Journal of Education Finance. 20 (SUMMER
400 Crampton, Faith E.. (2009). “Spending on school infrastructure: does money matter?” dalam Journal of Educational Administration Vol. 47 No. 3,
2009.
Creswell, John W. (2008). Educational Research: Planning, Conducting, and
Evaluating Quantitative and Qualitative Research, USA: Pearson.
Davis, Stan and Christopher Meyer. (2000). Future Wealth. Boston: Harvard Business School Press.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1989). Analisis Biaya: Disajikan pada
Pelatihan Peningkatan Analisis Sistem Pendidikan, Jakarta: Biro
Perencanaan.
Dirgantoro, Crown.(2001). Manajemen Strategis. Jakarta
Dunn, William N. (2000). Public Policy Analysis. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Elkin, Graham. (2008). “Strategy and the internationalisation of universities” dalam International Journal of Educational Management Vol. 22 No. 3, 2008 pp. 239-250
Faruqi, Ismail Raji’ al-. (1988). Tauhid. Bandung: Pustaka.
Fattah, Nanang. (1999). Studi tentang Pembiayaan Pendidikan Sekolah Dasar di
Bandung, Disertasi UPI Bandung.
Fattah, Nanang. (2000). Ekonomi & Pembiayaan Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.
Fine, Seymour H. (1990). Social Marketing: Promoting The Causes of Public and Nonprofit Agencies. Boston: Allyn and Bacon.
Fisher, James L. (1989). The President and Fund Raising, Londong: Macmillan Publishing Company.
Fua, Seu’ula Johansson. (2007). “Looking towards the source social justice and leadership conceptualisations from Tonga” dalam Journal of Educational
Administration. Vol. 45 No. 6, 2007.
Gaffar, M.F. (1991). “Konsep dan Filosofi Biaya Pendidikan”, Mimbar Pendidikan,, No. 1 Tahun X, 56 – 60.
401 Halim, Abdul. (2006). Auditing, Jogjakarta.
Harahap, S. S. (2002). Teori Akuntansi, Edisi Revisi, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Hardjito, Dydiet. (1994). Perencanaan dengan Pendekatan PIP (Performance
Improvement Planning) dan Pemecahan Masalah, Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Hardjosoedarmo, Soewarso. (1996)., Bacaan Terpilih tentang Total Quality
Management, Yogyakarta: ANDI.
Harsey, Paul and Kenneth H. Blanchard. (1988). Management of Organizational
Behavior, New Hersey: Eagle Woof Cliffs.
Headington, Rita. (2000). Monitoring, Assesment, Recording, reporting and
Accountability, Meeting the Standards. London: David Fulton Publishers.
Heck, Ronald H. (2009). “Teacher effectiveness and student achievement Investigating a multilevel cross-classified Model” dalam Journal of Educational Administration Vol. 47 No. 2, 2009.
Hill, Charles W.L., Gareth R, Jones, Peter Galvin. (2004). Strategic Management:
An Integrated Approach. Australia: Wiley-Houghton Mifflin.
Hought, J.R. (1981). A Study of School Costs, Great Britain: NFER Nelson Publishing Company.
Hoy, Wayne K. (2008). Educational Administration: Theory, Research and
Practice. New York: McGraw-Hill
http://kfm.depsos.go.id/mod.php?mod=userpage&page_id=6. Diakses tanggal 29 April 2010.
Error! Hyperlink reference not valid.. Diakses tgl 29 April 2010. http://pendis.depag.go.id/index.php. Diakses tgl 3 Februari 2010. http://www.interseksi.org/data/philanthropy.html.
http://www.mailarchive.com/[email protected]/. Diakses tgl 10 Agustus 2010
402 Huberman, Michael dan Mattew B. Milles. (1984). Data Management and
Analysis Methods, Amerika: New York Press.
Hunt, S.W. (2003). “Tactical Issues Best Practice Solution In Budgeting”,
Financial Executive, December, 2003.
Iswoyo, Setiyo, Hamid Abidin. (2006). In Kind Fundraising: Panduan Praktis
Menggalang Hibah Barang bagi Organisasi Nirlaba. Jakarta:
PIRAMEDIA.
Ivy, Jonathan. (2008). “A new higher education marketing mix: the 7Ps for MBA Marketing” dalam International Journal of Educational Management Vol.
22 No. 4, 2008
Jalal, F., dan Dedi Supriadi. (2001)., Reformasi