DAFTAR PUSTAKA
Agus Widarjono. 2005. Ekonometrika, Teori dan Aplikasi. Ekonisia. Yogyakarta.
Agasha,Nimrod. (2006). “ Determinant of Export Growth Rate in Uganda 1987 – 2006”. Uganda Revenue Authority, Research and Planning, Kampala, Uganda.24pgs.Tersedia : [email protected].
Badan Pusat Statistik. 2011. Indikator Ekonomi Jawa Barat. BPS. Tidak diterbitkan.
___________________. 2009. Indikator Ekonomi Jawa Barat. BPS. Tidak diterbitkan.
___________________. 1997. Jawa Barat Dalam Angka. BPS. Tidak diterbitkan. ___________________. 1988. Jawa Barat Dalam Angka. BPS. Tidak diterbitkan.
Boediono. 2001. Ekonomi Internasional (edisi 1). BPFE UGM : Yogyakarta. Cristian Kaengke. (2005). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ekspor
Kopi Robusta Indonesia Pada Tahun 1971-2001. Skripsi Unpad. Tidak diterbitkan.
Datin.(2006).”Ekspor Tekstil ditargetkan 1,3 Milyar Dollar AS”.(Online). Tersedia :
http://www.disperindag-jabar.go.id/?pilih=lihat&id=1849.(Rabu,20 Desember 2006).
_____.(2006).”Ekspor tekstil Bisa Capai Kondisi Terburuk”. (Online). Tersedia : http://disperindag.jabarprov.go.id/?pilih=lihat&id=1111.(Kamis 2 Maret 2006).
Dewi Astuti. “Perang Kurs Ancam Ekspor RI”. (online). Tersedia :
http://[email protected].
Dornbusch, Rudiger dan Fischer, Stanley. 1997. Makroekonomi Edisi Keempat. Erlangga : Jakarta.
Hendra Halwani. 2005. Ekonomi Internasional dan Globalisasi ekonomi (edisi Kedua). Ghalia : Bogor.
Gujarati, Damodar. 2001. Ekonometrika Dasar. Erlangga : Jakarta. _______________. 1995. Ekonometrika Dasar. Erlangga : Jakarat. Hamdy Hady. 2001. Ekonomi Internasional. Ghalia : Jakarta.
Herviani Ayuditya Ningrum. (2007). Pengaruh Investasi, Nilai Tukar dan Harga Relatif Ekspor terhadap Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia Periode 1983-2003. Skripsi UPI. Tidak diterbitkan.
Krugman, Paul R. 1995. Ekonomi Internasional, Teori dan Kebijakan edisi kedua. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Kusnendi. 2002. Seri Kuliah Teoritika Ekonomi Teori Makroekonomi II Model Keynesian III. Modul Pada Program Pendidikan Ekonomi Koperasi UPI. Tidak diterbitkan.
________. 2002. Seri Kuliah Teoritika Ekonomi Teori Makroekonomi 1 Model Fluktuasi Ekonomi Jangka Pendek. Modul Pada Program Studi Pendidikan Ekonomi Koperasi UPI. Tidak diterbitkan.
Mafizur Rahman, Mohammad.(2010).”The Factors Affecting Bangladesh’s Exports: Evidence from The Grafity Model Analys”. The Journal of Developing Area. Nashville: Fall 2010.vol.44, lss. 1;pg.229,16 pgs. Tersedia : www.proquest.com
Mankiw, N Greory. 2004.Teori Makroekonomi. Erlangga : Jakarta. Mohammad Nazir. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia : Jakarta. Muana Nanga. 2001. Makroekonomi. Erlangga : Jakarta.
M.Fauzi. (1996). Analisis Ekspor Komoditas Kopi Sumsel di Pasar Internasional. Tesis Unpad. Tidak diterbitkan.
Nur Alfiyah. “ BI Luncurkan Depositi Valas” (Online) Tersedia :
Nurdin Nawawi. (2008). Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Ekspor Kopi Indonesia ke Jepang Periode 1984 – 2006. Skripsi UPI. Tidak diterbitkan.
Pass, Chistopher and Lowes, Bryan. (1994). Kamus Lengkap Ekonomi I. Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga.
Permatasari.(2011).”Pengusaha Tekstil Jabar Curhat dengan Mendag”. (Online). Tersedia :
http://economy.okezone.com/read/2011/02/12/20/424182/pengusaha- tekstil-jabar-curhat-dengan-mendag. (Sabtu, 12 Februari 2011).
Roberto Purba.(2010).”Jabar Ingin Jadi Pusat TPT Nasional”.(Online).Tersedia: http://bisnis-jabar.com/index.php/2010/09/jabar-ingin-jadi-pusat-tpt-nasional/.(16 September 2010).
Sadono Sukirno. 2002. Ekonomi Makro. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Salvator, Dominick. 1997. Ekonomi Internasional (edisi kelima, Jilid 1). Erlangga : Jakarta.
________________. 1996. Ekonomi Internasional (edisi keempat, jilid I). Erlangga: Jakarta
Samuelson, Paul A. Dan Nordhaus, William D. (1999). Makroekonomi. Edisi keempatbelas. Jakarta : Erlangga
_______________________________________. (1995). Makroekonomi. Jakarta : Erlangga
Sandra Karina.(2011).”Lonjakan Harga Kapas Bakal Hambat Industri Tekstil”. (Online).tersedia :
http://economy.okezone.com/read/2011/07/31/320/486411/lonjakan-harga-kapas-bakal-hambat-industri-tekstil.(31 Juli 2011).
Santi Aryanti. (2010). Analisis Faktor – Faktor Yang mempengaruhi Daya saing Ekspor Pada Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Indonesia Periode Tahun 1989-2008. Skripsi UPI. Tidak diterbitkan.
Tulus Tambunan. 2001. Perdagangan Internasional dan neraca pembayaran teori dan temuan empiris. Jakarta : PT.Pustaka LP3S.
______________. 2004. Perdagangan Internasional dan neraca pembayaran teori dan temuan empiris. PT.Pustaka LP3S : Jakarta.
Tri Wibowo dan Hidayat Amir..”Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar”. (Online).Tersedia :
http://mashidayat.files.wordpress.com/2007/12/02-faktor-yang-mempengaruhi-nilai-tukar-kek-des-2005.pdf.(2 Desember 2010).
Yulia Sari. “Saatnya Pemerintah Membuat Kebijakan Melindungi Industri TPT”.
(Online). Tersedia :
http://www.akatiga.org/index.php/artikeldanopini/lainnya/73-kebijakantpt
---Wikipedia Jawa Barat.(Online). Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam Iaju yang semakin pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi dan komunikasi sangat penting, yang dapat menyebabkan terjadinya penipisan batas-batas antar negara ataupun antar daerah di suatu wilayah.
Proses globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan di dalam perekonomian dunia, yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam laju yang semakin pesat, mengikuti kemajuan teknologi yang juga prosesnya semakin cepat. Perkembangan ini telah meningkatkan kadar hubungan saling ketergantungan dan juga mempertajam persaingan antar negara, tidak hanya dalam perdagangan internasional tetapi juga dalam kegiatan investasi, finansial dan produksi. Globalisasi ekonomi ditandai dengan semakin menipisnya batas-batas kegiatan ekonomi atau pasar secara nasional atau regional, tetapi semakin mengglobal menjadi “satu” proses yang melibatkan banyak negara.
produksi dan perakitan dengan organisasi manajemen yang semakin efisien, dan semakin pesatnya perkembangan perusahaan multinasional di hampir seantero dunia. Selain itu, penyebab-penyebab lainnya adalah semakin banyaknya industri yang bersifat footloose akibat kemajuan teknologi (yang mengurangi pemakaian sumber daya alam), semakin tingginya pendapatan rata-rata per kapita, semakin majunya tingkat pendidikan mayarakat dunia, ilmu pengetahuan dan teknologi di semua bidang, dan semakin banyaknya jumlah penduduk dunia.
Bagi banyak negara, perdagangan internasional khususnya ekspor berperan sebagai motor penggerak perekonomian nasional, ekspor dapat menghasilkan devisa, selanjutnya dapat digunakan untuk membiayai impor dan pembangunan sektor-sektor ekonomi di dalam negeri (Tambunan, 2001: 02).
Sebagai pelantara terjadinya hubungan internasional ekspor merupakan salah satu kegiatan pertukaran barang dan jasa dari satu atau beberapa Negara. Di Indonesia ekspor ini terbagi dalam dua golongan yaitu ekspor migas dan non-migas. Pada periode tahun 1980-an peran migas sangat dominan kontribusinya terhadap devisa Negara, penerimaan besar ini diperoleh dari adanya peristiwa oil-boom, sehingga peran migas sangat tinggi dibanding dengan non-migas.
Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri Indonesia bertumpu kepada minyak bumi dan gas sebagai komoditi ekspor utama penghasil devisa. Hal tersebut dilakukan selain karena Indonesia kaya akan minyak bumi dan gas alam juga didukung oleh terjadinya pasang naik harga minyak bumi di pasar dunia (oil boom) yang terjadi pada tahun 1970-an sampai pada awal tahun 1980-an. Dengan adanya pasang naik harga minyak menjadikan negara pengekspor minyak termasuk Indonesia mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan keuntungan tersebut digunakan sebagai sumber dana paling utama bagi Indonesia di dalam membiayai pelaksanaan pembangunan.
penerimaan devisa dari ekspor minyak bumi. Oleh sebab itu, pemerintah berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan menyusun langkah penyesuaian ekonomi dan perombakan kebijakan untuk menata kembali struktur perekonomian agar berkurang ketergantungannya terhadap minyak bumi sebagai sumber pendapatan pemerintah.
Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah pada saat itu ialah dengan menggalakan sektor non migas, terutama sektor industri pengolahan (manufaktur). Sektor non migas diharapkan sebagai sektor yang mampu mengantikan peran sektor migas. Akan tetapi, industri pengolahan yang berkembang pada saat itu tidak berorientasi keluar (ekspor) tetapi lebih berorientasi ke dalam (subtitusi impor) artinya hasil industri hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik atau dalam negeri saja.
Sampai pada perkembangannya saat ini, industri pengolahan yang berkembang di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata mengingat kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai hampir 30%, disamping itu sektor ini juga merupakan penyumbang devisa terbesar bagi negara (Republika. 27 November 2010).
Berikut ini adalah tabel mengenai kontribusi beberapa sektor/ lapangan usaha terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia :
Tabel 1.1
Kontribusi Beberapa Sektor / Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia
Tahun 1993 dan 2010 (dalam persen)
No Sektor / Lapangan Usaha Tahun
1993 2010
1 Pertanian 17,81 16,57
2 Pertambangan 9,53 10,97
3 Industri pengolahan 22,30 26,33
4 Listrik, gas, air bersih 1,00 2,85
5 Konstruksi 6,83 4,74
6 Perdagangan, hotel dan restaurant 16,72 16,08 7 Pengangkutan dan komunikasi 7,00 7,15
8 Keuangan dan persewaan 8,51 5,53
9 Jasa-jasa 10,30 9,78
PDB 100,00 100,00
Sumber : BPS, Pendapatan Nasional Indonesia, 1993 dan 2010
Hal yang sama juga dapat dilihat pada kontribusi PDRB Jawa Barat terhadap pertumbuhan ekonominya, dimana sektor industri pengolahan merupakan andalan utama bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat.
Berikut ini adalah tabel mengenai kontribusi beberapa sektor/ lapangan usaha terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat :
Tabel 1.2
Kontribusi Beberapa Sektor / Lapangan Usaha Terhadap PDRB Jawa Barat
Tahun 1993 dan 2010 (dalam persen)
No Sektor / Lapangan Usaha Tahun
1993 2010
1 Pertanian 14,20 13,85
2 Pertambangan 10,57 12,45
3 Industri pengolahan 22,30 27,33
4 Listrik, gas, air bersih 3,00 3,10
5 Konstruksi 3,23 4,75
6 Perdagangan, hotel dan restaurant 11,50 12,08 7 Pengangkutan dan komunikasi 7,60 8,15
8 Keuangan dan persewaan 9,51 7,53
9 Jasa-jasa 18,22 10,76
PDB 100,00 100,00
Sumber : BPS,Jawa Barat dalam Angka, 1993 dan 2010
Berdasarkan tabel 1.2 tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1993 kontribusi industri pengolahan adalah yang paling tinggi yakni sebesar 23,30% disusul sektor jasa - jasa 18,22% dan sektor pertanian 14,20%. Bahkan pada tahun 2010 pun sektor industri pengolahan ini tetap menjadi unggulan dalam kontribusinya terhadap PDRB di Jawa Barat dengan nilai persentasi sebesar 27,33% .
waktu lama telah dikenal dan diakui memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) khususnya dalam bentuk tenaga kerja yang murah. Adapun beberapa komoditas unggulan tersebut terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1.3
Perkembangan Ekspor Komoditas Unggulan Hasil Industri di Jawa Barat Tahun 2007-2010
(dalam juta dollar)
No Jenis Barang Tahun
2007 2008 2009 2010
1 TPT dan Produk TPT 3.822,0 3.688,0 3.205,0 3.087,0 2 Alat listrik, Ukur, Fotografi 2.757,5 2.192,1 2.271,2 2.304,2
3 Kayu Olahan 2.561,2 2.265,3 2.251,6 2.161,4
4 Minyak Nabati 1.669,4 1.364,3 2.548,7 2.910,6 5 Kertas dan barang dari kertas 2.291,3 2.034,3 2.097,5 2.007,3 6 Barang dan logam tidak mulia 2.367,0 2.042,9 1.902,5 2.493,7 7 Karet Alam Olahan 1.319,9 1.207,5 1.560,6 2.909,1 8 Meubel dan bagian – bagiannya 1.508,5 1.414,3 1.501,9 1.558,8
9 Bahan Kimia 1.286,3 1.238,4 1.272,2 1.535,1
10 Makanan Olahan 955,5 1.042,5 1.184,1 1.242,3 11 Industri Lainnya 8.605,2 8.861,1 8.947,8 9.147,5
Sumber : BPS.Jawa Barat
Perubahan lingkungan perdagangan internasional yang mengarah ke ekonomi global dihadapkan kepada berbagai masalah pengembangan ekspor, yang sekaligus merupakan tantangan untuk dapat memanfaatkan peluang dalam era globalisasi tersebut. Penurunan tarif dan penghapusan hambatan non tarif di negara-negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang yang mencapai angka rata-rata 0-5%, mengakibatkan persaingan sangat ditentukan oleh kualitas, harga dan lain-lain.
Kendala yang dihadapi saat ini adalah menurunnya harga pasar dunia sebagai akibat deflasi. Gejala penurunan harga inilah yang menjelaskan mengapa pertumbuhan ekspor TPT dari sisi volume terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan. Masuknya secara resmi negara China dan Taiwan menjadi anggota WTO juga dipastikan akan menjadi tantangan produk ekspor Jawa Barat, mengingat selama ini China merupakan pesaing karena produk andalan ekspornya memiliki kesamaan dengan produk ekspor Indonesia seperti halnya pada komoditi Tekstil dan Produk Tekstil (Santi Aryanti,2010: 86).
untuk bisa bersaing dengan industri TPT dari negara – negara lain yang memang memiliki produktivitas lebih tinggi dibanding industri TPT Jawa Barat.
Berikut ini disajikan tabel realisasi ekspor produk TPT di Provinsi Jawa Barat:
Tabel 1.4
Realisasi Ekspor Komoditas TPT di Provinsi Jawa Barat
Berdasarkan tabel 1.4, realisasi volume dan nilai ekspor komoditas TPT di Jawa Barat cenderung berfluktuatif, dengan nilai ekspor terbesar yakni pada tahun 2007 sebesar 3,8 M US$, dan ternyata selang tiga tahun setelahnya yakni pada tahun 2008 sampai 2009 mengalami penurunan kembali masing – masing senilai US$ 3.6 M dan US$ 3,2 M. Hal ini bisa disebabkan karena pada waktu itu Jawa Barat mulai merasakan dampak dari dibukanya perdagangan bebas, yakni produk TPT Jawa Barat ini kalah bersaing dengan produk tekstil dari China di salah satu negara tujuan ekspor TPT utama Jawa Barat yakni Amerika Serikat (Datin. 2006). Kemudian pada tahun 2010 volume dan nilai ekspor induustri TPT ini kembali menurun menjadi 854.920 ton dengan nilai US$ 3,08 M akibat adanya kisruh politik di Mesir yang berkepanjangan, tentu saja hal ini bisa mempengaruhi volume dan nilai ekspor TPT Jawa barat, mengingat sebagian besar pengusaha TPT di Jawa barat ini mengekspor produk ke Dubai yang nantinya di distribusikan ke negara lain termasuk Mesir (Yulia Sari.2010).
Ada sejumlah faktor penting yang membuat kemerosotan daya saing ekspor industri termasuk industri TPT di Jawa Barat. Diantaranya adalah buruknya infrastruktur, rendahnya produktivitas, lemahnya penguasaan teknologi yang membuat Industri TPT ini lemah dalam inovasi baik produk maupun proses produksi, ekonomi biaya tinggi dan adanya rasa ketidakpastian untuk melakukan bisnis yang akhirnya berpengaruh terhadap rendahnya investasi (Tulus Tambunan, 2006:8).
Selain itu, kondisi perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar ikut pula mempengaruhi pertumbuhan ekspor pada umumnya. Depresiasi rupiah yang terjadi setelah krisis telah mendongkrak daya saing ekspor.
Dornbrush Rudringer (1997:86) yang menyatakan bahwa “ekspor sangat
tergantung dengan relatif harga ekspor, apabila terjadi kenaikan harga barang ekspor maka akan memacu volume ekspor suatu komoditas”.
Dengan semakin tingginya biaya tenaga kerja tentu berpengaruh pula terhadap tingginya biaya produksi. Tingginya biaya produksi yang terjadi di dalam negeri juga ikut menjadi permasalahan yang pelik pada industri TPT. Kondisi tersebut pada akhirnya mengakibatkan tingginya harga jual dipasaran domestik dan itu berarti juga secara riil harga komoditi tersebut bila ditinjau dari pasar internasional akan terlihat semakin menurun. Padahal semakin besarnya selisih antara harga internasional dan harga domestik akan semakin mendorong komoditas tersebut.
penulis angkat dalam penelitian ini adalah : “PENGARUH HARGA RELATIF, NILAI TUKAR, DAN INVESTASI TERHADAP EKSPOR INDUSTRI
TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL DI JAWA BARAT PERIODE 1984 –
2010”
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh harga relatif industri TPT, nilai tukar, dan investasi terhadap ekspor industri TPT di Jawa Barat periode 1984 – 2010 ?
2. Bagaimana pengaruh harga relatif industri TPT terhadap ekspor industri TPT di Jawa Barat periode 1984 – 2010 ?
3. Bagaimana pengaruh nilai tukar terhadap ekspor industri TPT di Jawa Barat periode 1984 – 2010 ?
4. Bagaimana pengaruh Investasi terhadap ekspor industri TPT di Jawa Barat periode 1984 – 2010 ?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh harga relatif industri TPT, nilai tukar dan investasi terhadap ekspor industri TPT di Jawa Barat periode 1984 – 2010. 2. Untuk mengetahui pengaruh harga relatif industri TPT terhadap ekspor
3. Untuk mengetahui pengaruh nilai tukar terhadap ekspor industri TPT di Jawa Barat periode 1984 – 2010.
4. Untuk mengetahui pengaruh investasi terhadap ekspor industri TPT di Jawa Barat periode 1984 – 2010.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis
a. Mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor industri TPT di Jawa Barat.
b. Memperkaya khasanah keilmuan khususnya dalam bidang ekonomi makro. 2. Manfaat Praktis
a. Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam membuat dan merumuskan kebijakan terutama yang berkaitan dengan ekspor seperti quota ekspor untuk melindungi prosusen dan pengusaha di Jawa Barat.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Yang menjadi objek dari penelitian ini adalah ekspor industri tekstil dan produk tekstil. Fokus yang akan diteliti adalah faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor industri TPT Jawa Barat periode 1984-2010, yaitu : harga relatif produk industri TPT, Nilai Tukar, dan investasi.
3.2 Metode penelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif-Analitis. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan objek penelitian untuk mengungkapkan suatu masalah atau fakta yang ada secara sistematis, faktual dan akurat serta sifat-sifat hubungan antara fenomena yang diselidiki. Sedangkan metode analitis digunakan menguji hipotesis – hipotesis dan mengadakan interpretasi yang lebih dalam tentang hubungan ataupun pengaruh antar variabel (Moh.Nazir,2005:89).
3.3 Operasionalisasi Variabel
Untuk memudahkan penjelasan dan pengolahan data, maka variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini dijabarkan dalam bentuk konsep teoritis, konsep empiris, dan konsep analitis seperti terlihat pada tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Konsep
Teoritis
Konsep Empiris Konsep Analitis Skala
uang lainnya periode 1984 –
3.4 Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah jenis data sekunder berupa data time series tentang nilai ekspor TPT, investasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar dan harga relatif ekspor selama periode 1984-2010.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Dokumentasi, merupakan teknik pengumpulan data dengan mencatat data-data yang sudah ada. Studi ini digunakan untuk mencari atau memperoleh hal-hal atau variabel-variabel berupa catatan, laporan serta dokumen yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas.
2. Studi Kepustakaan, yaitu mempelajari teori-teori yang ada atau literatur-literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Referensi studi kepustakaan diperoleh melalui jurnal, perpustakaan, jasa informasi yang tersedia baik itu dari surat kabar, artikel, penelitian terdahulu yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.
3.6. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
3.6.1 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Untuk membuktikan apakah Harga Relatif, Kurs dan Investasi berpengaruh terhadap Nilai Ekspor. Model dalam penelitian ini adalah:
Y = f (X1, X2, X3 )
Hubungan tersebut dapat dijabarkan ke dalam bentuk fungsi regresi sebagai berikut:
Keterangan :
Y = Ekspor TPT
ß0 = Konstanta ß1, ß2, ß3 = Koefisien regresi X1 = Harga Relatif Ekspor X2 = Nilai Tukar
X3 = Investasi e = error variabel
3.6.2 Uji Hipotesis
3.6.2.1 Uji Hipotesis Parsial
Pengujian hiotesis secara individu dengan uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel bebas X terhadap variabel terikat Y Pengujian hipotesis secara individu dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
i i ise t
ˆ
Keputusan menolak atau menerima H0:
1. Jika thitung > ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima (variabel bebas X berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Y),
3.6.2.2 Uji Hipotesis Simultan (Uji F)
Pengujian hipotesis secara keseluruhan merupakan penggabungan (overall significance) variabel bebas X terhadap variabel terikat Y, untuk mengetahui
seberapa pengaruhnya. Uji t tidak dapat digunakan untuk menguji hipotesis secara keseluruhan.
Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
F=
K = jumlah parameter estimasi termasuk intersep atau konstanta Kriteria uji F adalah:
1. Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima dan H1 ditolak (keseluruhan variabel bebas X tidak berpengaruh terhadap variabel terikat Y),
2. Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak dan H1 diterima (keseluruhan variabel bebas X berpengaruh terhadap variabel terikat Y).
3.6.3 Koefisien Determinasi yang Disesuaikan (R2)
Dalam regresi berganda kita menggunakan koefisien determinasi yang disesuaikan untuk mengukur seberapa baik garis regresi yang kita punyai. Dalam hal ini kita mengukur seberapa besar proporsi variasi variabel dependen dijelaskan oleh semua variabel indepnden (Agus Widarjono,2005: 86).
turunnya variabel dependen secara bersama-sama. Koefisien determinasi
Untuk mengetahui besarnya kemampuan variabel bebast dan menjelaskan variabel dependen maka dilakukan uji determinasi dengan rumus sebagai berikut :
R2= semakin mendekati satu maka model tersebut baik dan tingkat kedekatan antara variabel bebas dan variabel terikatpun semakin dekat atau erat. Sebaliknya, jika R2 semakin menjauhi angka satu, maka model tersebut dapat dinilai kurang baik karena hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat jauh atau tidak erat.
dipakai untuk nilai variabel – variabel bebas ini. Agar variabel – variabel bebas ini dapat saling dibandingkan, maka variabel – variabel bebas ini hendaklah dinyatakan dalam bentuk standard deviation-nya masing – masing. Koefisien beta yang disebut juga standard regression coefficient didapat dengan menggunakan rumus :
β = .(bk)
Sy Sk
dimana:
β : koefisien beta
Sk : Standar deviasi variabel endogen (X) Sy : Standar deviasi variabel eksogen (Y) bk : koefisien regresi variabel yang dianalisis.
3.6.4 Uji Asumsi Klasik
3.6.4.1Multikolinieritas
Multikolinieritas adalah kondisi adanya hubungan linear antar variabel independen.
1 Cara Mendeteksi Multikoliniaritas
a. Mendeteksi nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai thitung. Jika R2 tinggi (biasanya berkisar 0,8 – 1,0) tetapi sangat sedikit koefisien regresi yang signifikan secara statistik, maka kemungkinan ada gejala multikolinieritas. b. Melakukan uji kolerasi derajat nol. Apabila koefisien korelasinya tinggi, perlu
c. Regresi Auxiliary, yakni menguji multikolinearitas hanya dengan melihat hubungan secara individual antara satu variabel independen dengan satu variabel independen lain.
d. Metode deteksi klien, yakni dengan cara membandingkan koefisien determinasi auxiliary dengan koefisien determinasi (R2) model regresi aslinya.
2 Akibat Multikolineritas
a. Estimator masih bisa bersifat BLUE, tetapimemiliki varian dank ovarian yang besar sehingga sulit dipakai sebagai alat estimasi
b. Interval estimasi cenderung lebar dan nilai statistic uji t akan kecil, sehingga menyebabkan variabel independen tidak signifikan secara statistik dalam mempengaruhi variabel independen.
c. Walaupun secara individu variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen melalui uji statistik t, namun nilai koefisien determinasi (R2) masih relatif tinggi
3. Menghilangkan Multikoliniaritas
a. Biarkan saja model kita mengandung multikoliniaritas, karena estimatornya masih bersifat BLUE.
b. Tambahkan datanya bila memungkinkan, karena masalah multikolinearitas biasanya muncul karena jumlah pbservasinya sedikit.
c. Hilangkan salah satu variabel indevendent, terutama yang memiliki hubungan linear yang lebih kuat dengan variabel lain.
3.6.4.2 Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan tidak memiliki varian yang sama. Heteroskedastisitas merupakan suatu fenomena dimana estimator regresi bias, namun varian tidak efisien (semakin besar sample, semakin besar varian). Jika asumsi itu tidak dapat dipenuhi maka dapat dikatakan terjadi penyimpangan. Penyimpangan terhadap faktor pengganggu sedemikian itu disebut heteroskedastisitas.
1. Cara mendeteksi heteroskedastisitas:
a. Metode Informal
Yakni menguji masalah heteroskedastisitas dengan mendeteksi pola residual melalui sebuah grafik. Jika tidak terjadi heteroskedastisitas maka kita tidak mempunyai pola yang pasti dari residual. Sebaliknya jika residual mempunyai sifat heteroskedastisitas, residual ini akan menunjukkan pola tertentu. (Agus Widarjono, 2005:147)
b. Metode Park
Park mengungkapkan metode bahwa σ2 merupakan fungsi dari variabel bebas yang dinyatakan sebagai berikut:
σ2 = α Xβ
Persamaan ini dijadikan linier dalam bentuk persamaan log sehingga menjadi:
Ln σ2
=α + β Ln Xi + vi
Karena σ2
i umumnya tidak diketahui, maka ini dapat ditaksir dengan menggunakan ûi sebagai proxy, sehingga:
c. Metode Glesjer
Metode Glesjer mengusulkan untuk meregresikan nilai absolut residual yang diperoleh atas variabel bebas. (Gujarati, 1995: 371). Bentuk yang diusulkan oleh Glesjer dalah model sebagai berikut:
I ûi I = α + βX + vi
d. White Test
Secara manual uji ini dilakukan dengan meregres residual kuadrat (U2t) dengan variabel bebas, variabel bebas kuadrat dan perkalian variabel bebas. Dapatkan nilaiR2 untuk menghitung, χ2 dimana χ2 = n * R2 (Gujarati, 1995: 379). Pengujiannya adalah jika χ2hitung < χ2tabel, maka hipotesis adanya heteroskedastisitas dalam model ditolak. (Agus Widarjono, 2005: 162).
2. Akibat heteroskedastisitas adalah:
a. Estimator metode kuadrat terkecil tidak mempunyai varian yang minimum (tidak lagi best), sehingga hanya memenuhi karakteristik LUE (Linear Unbiased estimator). Meskipun demikian estimator metode kuadrat terkecil
masih bersifat linear dan tidak bias.
b. Perhitungan Standard Error tidak dapat dipercaya lagi kebenarannya karena varian tidak minimum. Varian tidak minimum mengakibatkan estimasi regresi tidak efisien.
c. Uji hipotesis yang didasarkan pada uji t dan uji F tidak dapat lagi dipercaya,karena Standard Error-nya tidak dapat dipercaya.
3. Langkah-langkah menghilangkan Heteroskedastis
b. Metode White
c. Metode Transformasi.
3.6.4.2Autokorelasi
Dalam suatu analisa regresi dimungkinkan terjadinya hubungan antara variabel-variabel bebas atau berkorelasi sendiri, gejala ini disebut autokorelasi. Istilah autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu atau ruang.
Autokorelasi merupakan suatu keadaan dimana tidak adanya korelasi antara variabel penganggu (disturbance term) dalam multiple regression. Faktor-faktor penyebab autokorelasi antara lain terdapat kesalahan dalam menentukan model, penggunaan lag dalam model dan tidak dimasukkannya variabel penting (Agus Widarjono, 2005: 155).
1. Cara Mendeteksi Autokorelasi
1) Graphical method, metode grafik yang memperlihatkan hubungan residual dengan trend waktu.
2) Runs test, uji loncatan atau uji Geary (geary test).
3) Uji Breusch-Pagan-Godfrey untuk korelasi berordo tinggi, Pengujiannya adalah jika χ2hitung < χ2tabel, maka hipotesis adanya autokorelasi dalam model ditolak.
2. Akibat adanya Autokorelasi
1. Parameter yang diestimasi dalam model regresi OLS menjadi bias dan varian tidak minim lagi sehingga koefisien estimasi yang diperoleh kurang akurat dan tidak efisien.
2. Varian sampel tidak menggambarkan varians populasi, karena diestimasi terlalu rendah (underestimated) oleh varians residual taksiran.
3. Model regresi yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk menduga nilai variabel terikat dari variabel bebas tertentu.
4. Uji t tidak akan berlaku, jika uji t tetap disertakan maka kesimpulan yang diperoleh pasti salah.
3. Penyembuhan Aurokorelasi
1. Metode generalized difference equation.
2. Jika struktur autokorelasi diketahui bisa dilakukan dengan cara seperti: a) Metode diferensi pertama
b) Estimasi ρ didasarkan pada Berendblutt-Webb c) Estimasi ρ didasarkan pada statistic D Durbin Watson d) Estimasi ρ dengan metode dua langkah Durbin
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada unit SPI (Satuan Pengawas Intern) dan divisi penjualan pada delapan BUMN yang berkantor pusat di Bandung mengenai hubungan antara profesionalisme Satuan Pengawas Intern dengan efektivitas sistem pengendalian internal penjualan dapat disimpulkan bahwa :
1. Gambaran profesionalisme Satuan Pengawas Intern pada delapan BUMN yang berkantor pusat di Bandung berada pada kategori sangat memadai. Secara keseluruhan, gambaran efektivitas sistem pengendalian internal penjualan pada delapan BUMN yang berkantor pusat di Bandung telah dilaksanakan dengan efektif.
2. Profesionalisme Satuan Pengawas Intern memiliki hubungan yang kuat dengan Efektifitas Sistem Pengendalian Internal Penjualan pada delapan BUMN. Dengan Satuan Pengawas Intern yang profesional akan memiliki sistem pengendalian internal penjualan yang efektif.
5.2 Saran
yang berkantor pusat di Bandung telah bersikap profesional dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan Standar Profesi Audit Internal. Akan tetapi, kualifikasi Sumber Daya Manusia pada unit SPI harus senantiasa dikembangkan melalui pelatihan, seminar, serta pendidikan berkelanjutan agar wawasan dan pengetahuan auditor semakin luas dan update. Dengan semakin berkualitasnya auditor, maka tingkat kesadaran
profesionalisme akan semakin tinggi sehingga dalam melakukan analisis dan memberikan rekomendasi akan semakin baik. Selain itu pimpinan audit internal harus lebih baik lagi dalam mengelola bagian audit internal. 2. Berdasarkan data yang diperoleh dan telah diolah, sistem pengendalian
intern penjualan pada delapan BUMN yang berkantor pusat di Bandung sudah berjalan efektif. Akan tetapi untuk pencegahan terjadinya penyimpangan terkait penjualan maka diperlukan adanya suatu pengawasan (monitoring) yang lebih ketat lagi. Sehingga tidak timbul penyalahgunaan atau hal-hal yang menyebabkan kerugian perusahaan. 3. Untuk peneliti selanjutnya yang tertarik dengan penelitian sejenis,
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK...i
KATA PENGANTAR ... ...ii
DAFTAR ISI ... ...iii
DAFTAR TABEL ... ...vi
DAFTAR GAMBAR ... ...vii
BAB I PENDAHULUAN ... ...1
1.1 ... Latar Belakang Masalah ... ...1
1.2 Rumusan Masalah ... ...11
1.3 ... Tujua n dan Manfaat Penelitian ... ...12
BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teori ... ...13
2.1.1 Teori Perdagangan Internasional ... ...13
2.1.1.1 TeoriPerdagangan Internasional Klasik ... ...14
2.1.1.2 Teori Perdagangan Internasional Modern ... ...17
2.1.1.3 Teori Perdagangan Internasional Alternatif ... ...18
2.1.1.4 Faktor Penyebab Timbulnya Perdagangan Internasional...24
2.1.1.5 Hambatan Perdagangan Internasional ... ...27
2.1.1.6 Peranan Perdagangan Internasional dalam Perekonomian Nasional... ...30
2.1.2 Konsep Ekspor ... ...32
2.1.3. Konsep Harga Relatif ... ...34
2.3.1.1 Pengertian Harga Relatif ... ...34
2.3.1.2 Keterkaitan Harga Relatif Terhadap Ekspor ... ,,,,,35
2.1.4 Konsep Nilai Tukar ... ...36
2.1.4.2 Sistem Penetapan Nilai Tukar ... ...37
2.1.4.3 Keterkaitan Nilai Tukar Terhadap Ekspor ... ...37
2.1.5 Konsep Investasi ... ...42
2.1.5.1 Pengertian Investasi ... ...42
2.1.5.2 Keterkaitan Investasi Terhadap Ekspor ... ...42
2.1.6 Hasil Penelitian Terdahulu ... ...44
2.2 Kerangka Pemikiran...48
2.3 Hipotesis...52
BAB III METODE PENELITIAN ... ...53
3.1 Objek Penelitian ... ...53
3.2 Metode Penelitian... ...63
3.3 Operasional Variabel ... ...54
3.4 Jenis dan Sumber Data ... ...55
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... ...56
3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... ...56
3.6.1 Teknik Analisis Data ... ...56
3.6.2 Pengujian Hipotesis ... ...57
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... ....65
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... ....65
4.1.1 Profil Industri TPT Jawa Barat ... ....65
4.1.2 Perkembangan Industri TPT Jawa Barat ... ....70
4.2 Gambaran Umum Variabel Penelitian...72
4.2.1 Perkembangan Ekspor TPT Jawa Barat Periode 1984-2010...72
4.2.2 Perkembangan Harga Relatif Ekspor Periode 1984-2010...76
4.2.3 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Periode 1984-2010 ... ....80
4.2.4 Perkembangan Investasi Pada Industri TPT Jawa Barat Periode 1984 -2010...84
4.3 Hasil Penelitian ... ....88
4.3.1 Pengujian Model Penelitian ... ....88
4.3.3 Pengujian Hipotesis ... ....93
4.4 Pembahasan ... ... 95
4.3.1 Pengaruh Harga Relatif Terhadap Ekspor TPT ... ... 96
4.3.2 Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Ekspor TPT ... ... 98
4.3.3 Pengaruh Investasi Terhadap Ekspor TPT ... .. 101
4.5 Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pendidikan ... 104
BABV KESIMPULAN DAN SARAN ... ...109
5.1 Kesimpulan ... ...109
5.2 Saran ... ...110
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN