BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Wajib Daftar Usaha Bagi Pelaku Usaha E-Commerce
Teknologi dan informasi telah berkembang pesat diberbagai negara dengan memberikan insentif untuk setiap inovasi yang muncul dengan mendukung pertumbuhan dalam segala bidang, khususnya di bidang perekonomian dunia.
Pesatnya perkembangan perdagangan membuat interaksi antar individu lintas batas tidak dapat terhindari, hal ini menjadikan tumbuhnya E-Commerce. E-Commerce menjadi lebih disukai oleh pelaku usaha, hal ini karena memberikan banyak keuntungan seperti jangkauan pasar yang luas sehingga menekan biaya promosi dan operasional. Pemerintah juga melihat potensi besar dalam dunia industri E- Commerce untuk menghubungkan antara pasar lokal dan internasional dengan industri lainnya. Untuk mengembangkan E-Commerce dengan membuka akses bagi pelaku usaha sehingga dapat memasuki dunia E-Commerce secara global, Presiden Jokowi telah menunjuk Alibaba Group sebagai penasihat (Deloitte, Makalah, 2019:
19).
Indonesia sebagai salah satu pasar E-Commerce besar dipastikan membutuhkan sebuah regulasi khusus yang akhirnya direspon Pemerintah Indonesia dengan membuat dan menerbitkan PP PMSE. Peraturan ini merupakan kelanjutan implementasi dari Pasal 66 UU Perdagangan. Pelaksanaan dan penerapan peraturan hukum ini masih memiliki beberapa problematika sehingga membutuhkan perhatian, karena peraturan ini masih sangat umum dan luas sehingga sulit menyentuh pelaku usaha E-Commerce untuk mendaftarkan usahanya. Dalam hal ini, problematika pelaksanaan wajib daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce yang dibagi menjadi 2 (dua), yaitu problematika normatif dan non-normatif.
commit to user
1. Problematika Normatif
a. Ketidaklengkapan Klasfisikasi Pelaku Usaha E-Commerce yang Wajib Melakukan Daftar Usaha
PP PMSE merupakan landasan utama pengaturan aktivitas E- Commerce di Indonesia, dengan kata lain PP PMSE merupakan acuan dalam hukum bagi pelaku usaha E-Commerce di Indonesia. Tujuan diterbitkannya PP PMSE selain mengklarifikasi regulasi yang spesifik dengan E-Commerce juga mewajibkan seluruh pelaku usaha E- Commerce untuk mendaftarkan usahanya guna mendapatkan izin usaha serta membuat aktivitas perdagangan berlangsung secara fair dan terpercaya secara hukum guna melindungi kepentingan nasional.
Berdasarkan tujuan dikeluarkannya peraturan tersebut, PP PMSE secara eksplisit menyebutkan bahwa seluruh kategori pelaku usaha E-Commerce baik dalam negeri maupun luar negeri wajib memiliki izin usaha guna legalitas pelaku usaha dan peningkatan kepercayaan hukum oleh konsumen terhadap pelaku usaha. Akan tetapi kategori pelaku usaha E-Commerce yang wajib mendaftarkan usahanya masih dijabarkan secara umum dan kurang mendetail.
Untuk lebih memahami hal tersebut, berikut ini terdapat uraian mengenai klasifikasi pelaku usaha yang wajib melakukan daftar usaha yang telah tertuang dalam Pasal 5 PP PMSE.
Klasifikasi pelaku usaha yang wajib melakukan daftar usaha tertuang dalam Pasal 5 PP PMSE yang berbunyi:
“Pelaku Usaha pada PMSE meliputi:
a. Pelaku Usaha Dalam Negeri yang meliputi:
1. Pedagang dalam negeri;
2. PPMSE dalam negeri;
3. Penyelenggara Sarana Perantara dalam negeri;
b. Pelaku Usaha Luar Negeri yang meliputi:
1. Pedagang luar negeri; commit to user
2. PPMSE luar negeri;
3. Penyelenggara Sarana Perantara luar negeri.”
Penjelasan Pasal 5 PP PMSE pelaku usaha diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis, yaitu:
1) Pedagang (Merchant)
Setiap pihak yang menjual produk atau menawarkan jasanya melalui sisitem elektronik, baik yang menggunakan fasilitas yang dimiliki dan dikelola sendiri atau melalui fasilitas yang dimiliki dan dikelola oleh Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik lain maka termasuk dalam definisi pedagang. Contoh dari pedagang antara lain pemilik toko online dan pemilik bisnis ritel online.
2) Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (yang selanjutnya disebut PPMSE dalam penulisan ini) adalah pelaku usaha yang menyediakan fasilitas komunikasi elektronik untuk perdagangan atau transaksi komersial. Pelaku usaha tersebut menyelenggarakan jasanya dengan menyediakan sistem aplikasi untuk digunakan sebagai sarana komunikasi elektronik guna memfasilitasi kegiatan usaha perdagangan dan/atau penyelesaian E-Commerce yang meliputi berbagai model bisnis. Model bisnis PPMSE menurut PP PMSE antara lain:
a) Retail Online, merupakan pedagang yang memiliki sarana sistem elektronik sendiri;
b) Marketplace, merupakan wadah dimana pedagang dapat memasarkan produknya. Contohnya yaitu Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Lazada dan OLX;
c) Iklan Baris Online, merupakan platform yang mempertemukan penjual dan pembeli dengan commit to user
seluruh proses transaksi terjadi tanpa melibatkan PPMSE;
d) Platform Pembanding Harga;
e) Daily Deals.
3) Penyelenggara Sarana Perantara
Penyelenggara Sarana Perantara (yang selanjutnya disebut PSP dalam penulisan ini) merupakan pelaku usaha yang menyediaka fasilitas komunikasi elektronik selain penyelenggara telekomunikasi yang berfungsi sebagai perantara elektronik antara pengirim dan penerima. Contoh dari PSP antara lain marketplace seperti Shopee, Zalora maupun Tokopedia. Namun PSP tidak diwajibkan mempuyai izin usaha jika tidak menerima manfaat secara langsung atau tidak terlibat langsung dalam kontrak dari transaksi yang terjadi, seperi Kaskus yang hanya sebagai forum berjualan.
Untuk bisa melakukan kegiatan E-Commerce, pelaku usaha dalam negeri dapat membentuk perusahaan peorangan atau badan usaha. Bentuk yang sama dapat berlaku pula untuk PSP. Sedangkan untuk PPMSE selain perusahaan perorangan atau badan usaha, juga dapat dilakukan oleh masyarakat maupun instansi penyelenggara negara. Lebih rimgkasnya terkait bentuk usaha bagi pelaku usaha E- Commerce dapat ditemukan melalui tabel dibawah ini.
commit to user
Pelaku Usaha Bentuk Usaha
Pedagang (Merchant) Orang Perseorangan atau Badan Usaha
Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE)
Orang Perseorangan, Badan Usaha, Masyarakat atau Instansi Penyelenggara Negara
Penyelenggara Sarana Perantara (PSP)
Orang Perseorangan atau Badan Usaha
Tabel 1
Bentuk Badan Usaha bagi Pelaku Usaha E-Commerce (Sumber: Toha, Artikel EasyBiz, 4 Februari 2020)
Perlu diperhatikan bahwa Pasal 5 PP PMSE tidak mengatur mengenai aktivitas E-Commerce di media sosial. Seperti yang kita ketahui bahwa pelaku usaha E-Commerce tidak hanya bertransaksi mengenai produknya melalui PPMSE, akan tetapi melalui media sosial juga. Apalagi bagi pelaku usaha E-Commerce yang masih baru memasuki dunia E-Commerce. Pelaku usaha E-Commerce yang masih baru memasuki dunia E-Commerce lebih memilih media sosial sebagai tempat transaksi E-Commerce karena jangkauan pasar yang luas serta adanya fitur-fitur yang mendukung pemasaran produk. Oleh karena itu, ketentuan ini tidak berlaku bagi pelaku usaha E-Commerce memasarkan produknya di media sosial seperti Instagram, Facebook, Whatsapp, Line maupun Telegram.
Menurut penjabaran diatas, maka jelas terlihat adanya ketidaklengkapan klasifikasi pelaku usaha yang wajib mendaftarkan usahanya dalam melakukan kegiatan E-Commerce. Adanya ketidaklengkapan klasifikasi pelaku usaha di PP PMSE akan berakibat adanya ketidakpastian hukum mengenai pelaku usaha E-Commerce
commit to user
yang menggunakan media sosial sebagai tempat transaksi E- Commerce.
Hasil wawancara dengan Ibu Eliyah selaku Kepala Bidang Perdagangan di Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang pada tanggal 2 Maret 2021, alasan pemerintah bahwa perizinan daftar usaha di media sosial tidak diatur dalam PP PMSE karena izin usaha hanya ditekankan dan diperuntukkan kepada pelaku usaha E-Commerce yang memiliki keinginan penuh untuk berbisnis tidak hanya digunakan sebagai usaha sampingan saja. Ibu Eliyah juga menjelaskan, bahwa media sosial juga memiliki kemampuan tinggi untuk menjangkau pasar. Pelaku usaha E-Commerce yang melakukan kegiatan E-Commerce dengan memasarkan produknya di media sosial dengan tujuan komersial dan meskipun hanya sebagai usaha sampingan juga termasuk kedalam klasifikasi pelaku usaha E-Commerce yang wajib mendaftarkan usahanya, yaitu Pedagang Dalam Negeri. Hal ini disebabkan media sosial sebagai PPMSE yang memfasilitasi pelaku usaha E-Commerce untuk melakukan transaksi komersial.
Gambar 3
Diagram Model Bisnis yang Digunakan Responden (100 Pelaku Usaha E-Commerce)
7
25
1 2 0
65
0 15 30 45 60 75
Pemilik Sarana E- Commerce
Pengguna Sarana PPMSE
Iklan Baris Online
Platform Pembanding
Harga
Daily Deals Media Sosial
Model Bisnis
commit to user
Berdasarkan hasil penelitian dan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pelaku usaha E-Commerce, sebanyak 28 (dua puluh delapan) pelaku usaha E-Commerce memasarkan produknya melalui PPMSE berupa Shopee dan 65 (enam puluh lima) pelaku usaha E-Commerce memilih memasarkan produknya di media sosial seperti Facebook, Instagram dan WhatsApp. Hal ini menimbulkan sebuah kekhawatiran bagi pelaku usaha E-Commerce, khususnya PPMSE yangmana pedagang-pedagang yang belum memiliki izin usaha kemungkinan akan berpindah ke media sosial karena tidak adanya peraturan khusus terhadap media sosial di PP PMSE. Dan ketika konsumen berbelanja kepada pelaku usaha E-Commerce yang memasarkan produknya di media sosial kemudian mengalami misalnya penipuan, maka tidak ada perlindungan hukum bagi konsumen karena pelaku usaha E-Commerce tersebut tidak memiliki legalitas usaha.
b. Penegakan Hukum yang Kurang Optimal
Perkembangan teknologi informasi telah menciptakan berbagai media baru bagi pelaku usaha E-Commerce untuk melakukan kegiatan di bidang perdagangan. Kegiatan perdagangan sebelumnya dilaksanakan secara langsung atau tatap muka antar pelaku usaha konvensional dengan konsumen, kini kegiatan perdagangan dapat dilaksanakan secara online tanpa perlu tatap muka secara langsung.
Kegiatan perdagangan secara online biasa disebut dengan E- Commerce. Perkembangan ini tentu membawa banyak manfaat dalam kegiatan E-Commerce, salah satunya salah kegiatan usaha dapat berjalan lebih mudah dan cepat. Pelaku usaha E-Commerce baru juga dapat memulai usahanya dengan lebih mudah serta dengan modal yang relatif murah bahkan tanpa modal sekalipun.
Disisi lain, terdapat pula beberapa kekurangan dari E- Commerce. Melihat beberapa tahun kebelakang, banyak manfaat yang commit to user
diberikan E-Commerce berdampak lurus dengan pertumbuhan pelaku usaha E-Commerce yang semakin banyak. Begitu banyak pelaku usaha E-Commerce baru yang memasarkan produknya melalui marketplace. Yangmana tidak jarang pula pelaku usaha E-Commerce melakukan penipuan, seperti produk tidak sesuai dengan apa yang dipasarkan di marketplace atau bahkan produk yang telah dibayar oleh konsumen tidak dikirim oleh pelaku usaha. Ditambah dengan sifat online yang seringkali tidak ada bentuk kontrak yang jelas antara pelaku usaha dengan konsumen sehingga konsumen kesulitan untuk menuntut haknya. Hal ini dinilai sangat merugikan konsumen juga merugikan pelaku usaha yang kehilangan kepercayaan dari konsumen dalam melakukan E-Commerce.
Sebagai bentuk regulasi terhadap kegiatan E-Commerce, Pemerintah mewajibkan seluruh pelaku usaha E-Commerce untuk memiliki izin usaha, sebagaimana diatur dalam Pasal 15 PP PMSE yang berbunyi
(1) Pelaku Usaha wajib memiliki izin usaha dalam melakukan kegiatan PMSE.
(2) Penyelenggara Sarana Perantara dikecualikan dari kewajiban memiliki izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika:
a. Bukan merupakan pihak yang mendapatkan manfaat (beneficiary) secara langsung dari transaksi; atau
b. Tidak terlibat langsung dalam hubungan kontraktual para pihak yang melakukan PMSE.
(3) Dalam rangka memberikan kemudahan bagi Pelaku Usaha untuk memiliki izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengajuan izin usaha dilakukan melalui Perizinan Berusaha Terintegrasi
“
commit to user
Secara Elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bagi PPMSE mengacu pada norma, standar, prosedur dan kriteria yang diatur dengan Peraturan Menteri.”
Izin usaha yang dimaksud adalah SIUPMSE. Pelaku usaha E- Commerce yang tidak memiliki SIUPMSE dapat dikenai sanksi administratif sesuai dengan Pasal 80 PP PMSE. Sanksi administratif tersebut berupa peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu sejak peringatan pertama diterbitkan.
Apabila pelaku usaha E-Commerce tidak melakukan perbaikan setelah diberikan peringatan, maka pelaku usaha E-Commerce yang bersangkutan akan dimasukkan kedalam daftar prioritas pengawasan bahkan sampai pencabutan izin usaha.
Adapun kegiatan ini akan diawasi dan dibina oleh Menteri sebagaimana tertuang pada 76 Ayat (1) PP PMSE yang berbunyi:
“(1) Menteri berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap PMSE.”
Mengingat perkembangan E-Commerce yang cukup pesat dan dapat bersifat lintas sektoral, maka dalam melaksanakan pengawasan dan pembinaan, Menteri menunjuk petugas pegawas dibidang perdagangan. Yang nantinya petugas tersebut juga dapat meminta dukungan tim asistensi pengawasan yang dapat bersifat lintas sektoral dan multistakeholder.
Berbicara sejauh mana efektivitas hukum, maka pertama-tama kita harus mengukur sejauh mana peraturan hukum itu ditaati atau tidak ditaati. Jika suatu peraturan hukum diataati oleh sebagian besar target sasaran maka akan dikatakan peraturan hukum yang bersangkutan efektif (Salim, H.S dan Nurbani, E.S, 2013: 375). commit to user
Adapun dalam peraturan wajib daftar usaha dirasa masih kurang tegas, karena sanksi terakhir yang diberikan PP PMSE ketika ada pelaku usaha E-Commerce yang belum atau tidak memiliki izin usaha dalam berkegiatan E-Commerce adalah peringatan secara tertulis hingga pencabutan izin usaha. Banyaknya pelaku usaha E-Commerce yang belum bahkan tidak memiliki izin usaha akan dijelaskan pada Gambar 4 dan Gambar 5. Yang nantinya diperkuat oleh hasil wawancara dengan narasumber terkait. Kemudian seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa PP PMSE hanya mewajibkan pelaku usaha E-Commerce yang memasarkan produknya melalui PPMSE untuk memiliki izin usaha. PP PMSE tidak mengatur mengenai kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce yang memasarkan produknya melalui media sosial. Sedangkan dalam realitanya, banyak pelaku usaha yang menggunakan media sosial dalam transaksi E-Commerce. Sehingga lemahnya penerapan sanksi terhadap pelanggar wajib daftar usaha ini menjadi salah satu faktor yang dapat membuat pelanggar terus menerus melakukan praktek terlarang tersebut (Nurhasan, 2013: 22).
Sekilas adanya kewajiban daftar usaha menambah market entry barrier, yangmana mayoritas pelaku usaha E-Commerce perorangan hanya berjualan sebagai pekerjaan sampingan maupun masih merasa sebagai usaha rumahan yang tidak perlu memiliki izin usaha. Selain itu, pelaku usaha E-Commerce perorangan mayoritas adalah reseller dan dropshipper yang bertindak sebagai broker dari produsen atau pedagang pertama. Karena bukan sebagai pedagang pertama, para reseller dan dropshipper merasa tidak perlu memiliki izin usaha.
commit to user
Gambar 4
Diagram Kepemilikan Izin Usaha oleh Responden (100 Pelaku Usaha E-Commerce)
Wawancara dan penelitian juga dilaksanakan dengan pelaku usaha E-Commerce yang bertindak sebagai responden dan diperoleh hasil bahwa, hanya sebanyak 3 (tiga) pelaku usaha E-Commerce sudah memiliki izin usaha. Hal ini dibenarkan oleh Ibu Eliyah selaku Kepala Bidang Perdagangan di Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang dalam wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 2 Maret 2021, bahwa pelaksanaan wajib daftar usaha masih sulit diterapkan. Disebabkan karena mayoritas pelaku usaha E-Commerce di Kabupaten Pemalang adalah pelaku usaha mikro dan informal yang minim pemahaman mengenai izin usaha, juga sanksi yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan tidak memberikan efek jera, karena sampai saat ini bagi pelaku usaha E-Commerce yang belum dan tidak memiliki izin usaha belum diberi adanya sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Hal ini disebabkan selain teritorinya yang luas juga karena banyaknya pelaku usaha E-Commerce yang belum atau tidak terjangkau oleh pemerintah. Adapun pemerintah disini yaitu Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang belum bekerjasama secara optimal dengan instansi
3
93
4 0
15 30 45 60 75 90 105
Memiliki Tidak Memiliki Dalam Proses
Kepemilikan Izin Usaha
commit to user
pemerintah lain maupun lembaga swasta untuk melaksanakan tupoksinya, yaitu pembinaan dan pengawasan terhadap pelaku usaha E-Commerce yang belum atau tidak mendaftarkan usahanya.
Gambar 5
Diagram Daftar Izin Usaha di Dinas PMPTSP Tahun 2020
Adapun dilakukan wawancara yang dilaksanakan pada 10 Maret 2021 dengan Bapak Khaeron selaku Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Pemalang. Hasil dari wawancara tersebut adalah diperolehnya data Daftar Izin Usaha di Dinas PMPTSP Tahun 2020, hanya sebanyak 150 (seratus lima puluh) pelaku usaha E-Commerce yang sudah memiliki izin usaha.
Permasalahan lain mengenai ketidakoptimalan penegakan hukum pada PP PMSE adalah dalam peraturan hukum ini hanya memfokuskan perlindungan hukum bagi konsumen yang dianggap sebagai pihak yang lemah dan dapat dirugikan oleh pelaku usaha, tidak menyinggung perlindungan hukum bagi pelaku usaha E- Commerce yang telah memiliki legalitas usaha.
Tidak adanya pengaturan yang menyinggung mengenai tindakan atau upaya apa yang dapat dilakukan pemerintah atau pihak terkait apabila pelaku usaha E-Commerce yang telah memiliki legalitas usaha, mengalami kerugian yang disebabkan oleh konsumen.
150
1672
403
2005
934
0 500 1000 1500 2000 2500
Perdagangan Melalui Media
Elektronik
Perdagangan dan Reparasi
Penyedia Jasa Industri Hotel dan Restoran
Daftar Izin Usaha di Dinas PMPTSP Tahun 2020
commit to user
Dalam hal ini contohnya adalah tindakan hit and run, yang artinya secara nyata konsumen telah melanggar kesepakatan dan melanggar hak pelaku usaha E-Commerce untuk menerima pembayaran sesuai dengan kesepakatan. Apabila konsumen melakukan hit and run maupun tindakan lain yang merugikan pelaku usaha E-Commerce, jelas konsumen juga telah melanggar kewajibannya dalam melakukan transaksi, yaitu harus beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa serta konsumen harus membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati. Contoh lainnya adalah dalam E-Commerce ada suatu sistem pembayaran yaitu COD yangmana pelaku usaha E-Commerce akan memuat produk atau barang yang akan dijual melalui foto produk dengan mencantumkan spesifikasi barang, harga dan nomor pelaku usaha E-Commerce yang dapat dihubungi. Dalam hal ini keuntungan yang dimiliki konsumen adalah dapat memeriksa produk atau barang terlebih dahuku sebelum melakukan pembayaran dengan pelaku usaha E-Commerce melalui kurir pengiriman. Akan tetapi pelaku usaha E-Commerce kerap dirugikan yaitu wanprestasi, dimana produk atau barang yang sudah dikirim sesuai dengan pesanan kemudian konsumen tidak tanggungjawab dalam pembayaran melalui COD karena konsumen tidak dapat dihubungi atau tidak jujur dalam memberikan informasi.
Hal ini dapat menimbulkan kerugian terhadap pelaku usaha E- Commerce yangmana kerugian tersebut dapat berupa kerugian bahan pokok yang digunakan dalam usahanya.
2. Problematika Non-Normatif
a. Rendahnya Kesadaran dan Pemahaman Masyarakat akan Pentingnya Wajib Daftar Usaha
Urgenitas wajib daftar usaha di Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan pemahaman pelaku usaha E-Commerce atau E- Commerce entrepreneurs awareness akan pentingnya usaha tersebut commit to user
memiliki izin. Penyebab kemunculan problematika-problematika perihal wajib daftar usaha bukan hanya karena faktor untuk mencari keuntungan atau biasa disebut faktor ekonomi. Melainkan berkaitan dengan kondisi sosial-budaya masayarakat. Kondisi sosial-budaya masyarakat Indonesia masih dalam masa transisi industrial yang belum semuanya mengerti dan memahami kewajiban daftar usaha, khususnya bagi pelaku usaha E-Commerce.
Selain pada masyarakat, hal ini berdampak pada peraturan hukum juga. Dimana hukum diciptakan untuk mengatur juga mencerminkan masa peralihan yang bila dianalogikan sebagai wajah hukum yang berpijak pada 2 (dua) kaki dengan langkah yang berbeda, yakni satu kaki melangkah pada hukum modern sementara kaki yang satunya masih menapak pada hukum tradisional. Demikian pula dengan hukum yang mengatur mengenai kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce, selain secara normatif yang masih banyak mengandung masalah untuk diberlakukan di Indonesia, juga secara kultural masih banyak mengalami problem dalam pelaksanaannya.
Untuk lebih memahami hal tersebut, berikut ini terdapat uraian mengenai siapa saja yang masih memiliki kesadaran dan pemahaman rendah mengenai pentingnya daftar usaha, yaitu:
1) Pegawai di Instansi
Salah satu indikator negara hukum adalah keberhasilan dalam penegakan hukumnya. Dikatakan berhasil karena peraturan hukum sudah seharusnya dan sudah waktunya untuk dijalankan dan ditaati oleh seluruh elemen masyarakat.
Ketiadaan dan kurang maksimalnya penegakan hukum dapat berimplikasi terhadap kredibilitas para pembentuk, pelaksana hingga masyarakat sebagai target dari peraturan hukum itu sendiri. Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto dalam bukunya (1983: 80) beberapa faktor yang mempengaruhi penegakan hukum yakni faktor hukumnya, commit to user
faktor penegak hukum, faktor sarana atau fasilitas, faktor masyarakat dan faktor kebudayaan.
Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara yang dilaksanakan pada 4 Maret 2021 di Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Pemalang, banyak dari pegawai di instasi tersebut yang masih tidak memahami peraturan mengenai wajib daftar usaha. Ini dikarenakan mayoritas pegawai di instansi terkait tidak mendapatkan arahan ketika ada peraturan hukum baru seperti kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce.
Selain kurangnya pemahaman mengenai peraturan hukum, pegawai di instansi terkait juga berpedoman bahwa kantor hanya memiliki sifat pelayanan, yangmana mereka hanya akan mengeluarkan izin jika ada yang mendaftarkan usahanya. Juga karena rendahnya pemahaman mengenai peraturan hukum, para pegawai di instansi tersebut belum sepenuhnya mensosialisasikan kepada masyarakat khususnya pelaku usaha E-Commerce untuk segera mendaftarkan usahanya guna mendapat kepastian dan perlindungan hukum. Sehingga pegawai di instansi tersebut tidak dapat melayani dan mengayomi masyarakat sesuai dengan tugas dan bidangnya yang akibatnya pelaksanaan wajib daftar usaha sendiri tidak dapat terlaksana dengam efektif.
2) Pelaku Usaha E-Commerce
Berdasarkan PP PMSE disebutkan bahwa pelaku usaha yang telah melakukan kegiatan perdagangan melalui E- Commerce sebelum berlakunya PP PMSE, wajib untuk menyesuaikan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun commit to user
sejak PP PMSE berlaku. Maka Pemerintah berharap pada akhir tahun 2021 dengan masa transisi 2 (dua) tahun ini akan dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur penegakan peraturan hukum terhadap pelaku usaha guna memenuhi kewajiban daftar usaha sehingga dalam kegiatannya memiliki izin.
Gambar 6
Diagram Pemahaman Wajib Daftar Usaha oleh Responden
(100 Pelaku Usaha E-Commerce)
Hasil penelitian dan wawancara dengan Ibu Eliyah selaku Kepala Bidang Perdagangan di Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang pada 4 Maret 2021 serta wawancara dengan pelaku usaha E-Commerce yang bertindak sebagai responden, mengenai kendala atau hambatan yang dihadapi dalam melakukan pelaksanaan wajib daftar usaha adalah yang Pertama, kesadaran pelaku usaha bahwa pentingnya mendaftarkan usahanya masih rendah. Sebanyak 15 (lima belas) pelaku usaha E-Commerce yang bertindak sebagai responden sebenarnya sudah mengetahui adanya kewajiban daftar usaha, akan tetapi mereka tidak mau untuk
15
22
63
0 15 30 45 60 75
Mengetahui Wajib Daftar Usaha
Mungkin Mengetahui Tidak Mengetahui Wajib Daftar Usaha
Pemahaman Wajib Daftar Usaha
commit to user
mendaftarkan usahanya karena masih berpendapat bahwa usaha mereka merupakan usaha kecil maupun usaha sampingan yang tidak memerlukan izin usaha, selain itu alasan mereka tidam mendaftarkan usahanya adalah karena mereka tidak bertindak sebagai produsen atau pembuat produk utama serta mereka enggan apabila diwajibkan untuk membayar pajak jika telah memiliki izin usaha yang berakibat menaikan harga jual barang dan/atau jasa. Hal ini sesuai dengan Gambar 4, bahwa hanya sebanyak 3 (tiga) responden yang telah memiliki izin usaha dan sebanyak 4 (empat) responden yang izin usahanya baru diproses.
Permasalahan ini juga didukung dengan data yang diberikan oleh DPMPTSP dalam Gambar 5.
Selain itu, sebanyak 93 (sembilan puluh tiga) pelaku usaha E-Commerce yang bertindak sebagai responden penelitian tidak mengetahui adanya peraturan hukum yang mewajibkan seluruh pelaku usaha E-Commerce untuk mendaftarkan usahanya serta beralasan bahwa mereka tidak mengetahui mengenai kewajiban daftar usaha karena tidak adanya sosialisasi yang berikan oleh pemerintah.
Kedua, kegiatan sosialisasi terkait kewajiban daftar usaha yang telah dijalankan oleh instansi terkait tidak efektif.
Selama dalam kurun waktu hampir 2 (dua) tahun ini, sosialisasi yang dilakukan secara fisik oleh Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang contohnya dilaksanakan di beberapa kecamatan, misalnya Kecamatan Pemalang pada tanggal 21 Oktober 2020. Sosialisasi fisik tersebut dihadiri oleh sebagian besar pelaku usaha yang melakukan kegiatan perdagangan melalui E-Commerce, akan tetapi mereka masih kurang pengetahuan mengenai sistem elektronik sehingga untuk mendaftarkan commit to user
usahanya melalui sistem OSS masih banyak hambatan.
Selain itu, tidak ada pembinaan oleh pegawai di Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang maupun Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Pemalang mengenai cara pengoperasian sistem OSS untuk pendaftaran usaha E-Commerce. Adapun salah satu responden yang memasarkan produknya melalui marketplace Shopee dan Tokopedia menyebutkan bahwa ketika pelaku usaha E- Commerce memasarkan produknya melalui PPMSE tidak ada persyaratan yang mengharuskan pelaku usaha mengunggah dokumen izin usaha.
b. Ketakutan Pelaku Usaha E-Commerce akan Kewajiban Membayar Pajak
Indonesia sebagai salah satu pasar E-Commerce besar di Asia Tenggara telah memiliki regulasi industry tersebut yaitu memberlakukan PP PMSE. Akan tetapi kepentingan dalam PP PMSE masih perlu perhatian, khususnya pelaku usaha E-Commerce mengenai kepedulian mereka untuk memenuhi persyaratan memasuki dunia E-Commerce di Indonesia, antara lain izin usaha, kewajiban perpajakan, kode etik bisnis (business conduct) atau perilaku usaha (code of practice), standarisasi produk Barang dan/atau Jasa dan hal lainnya perlu segera ditindak lanjuti oleh pemerintah guna kepatuhan dan penyesuaian dengan peraturan hukum tersebut. Pasal 8 PP PMSE yang berbunyi:
“Terhadap kegiatan usaha PMSE berlaku ketentuan dan mekanisme perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”
Artinya setiap pelaku usaha E-Commerce yang yang melakukan transaksi dan telah memiliki izin usaha maka wajib untuk membayar commit to user
pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sebelum diberlakukannya PP PMSE pada 25 November 2019, pada tahun 2018 pemerintah telah mengeluarkan peraturan hukum mengenai perpajakan bagi atas E-Commerce yaitu Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.010/2018 tentang Perlakukan Perpajakan atas Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Akan tetapi peraturan tersebut ditarik dan dicabut oleh pemerintah yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.010/2019 tentang Pencabutan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.010/2018 tentang Perlakukan Perpajakan atas Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Hal ini menunjukan ketidaksiapan masyarakat khususnya pelaku usaha E- Commerce terhadap pengenaan pajak dalam kegiatan transaksinya.
Padahal pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.010/2019 tentang Pencabutan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.010/2018 tentang Perlakukan Perpajakan atas Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, tidak ada pengaturan baru mengenai peraturan tersebut, semuanya sesuai dengan peraturan perpajakan yang selama ini diberlakukan dan dijalankan dengan baik oleh pelaku usaha konvensional. Baik berupa kepemilikan NPWP, kewajiban menyetor PPh dan melaporkan SPT, kewajiban dikukuhkan sebagai PKP (jika sudah memenuhi batasan omset atau karenanya menjadi PKP) serta kewajiban untuk memungut PPN.
Adanya kewajiban membayar pajak adalah untuk menyetarakan kedudukan antara pelaku usaha E-Commerce dengan pelaku usaha konvensional.
Kemudian mengenai pemungutan PPN, pelaku usaha E- Commerce harus memenuhi kriteria sesuai dengan Peraturan Jendral Pajak Nomor PER-12/PJ/2020 Tahun 2020 tentang Batasan Kriteria Tertentu Pemungut Serta Penunjukan Pemungut, Pemungutan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Atas Pemanfaatan commit to user
Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak Dari Luar Daerah Pabean di Dalam Daerah Pabean Melalui Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Adapun kriteria tersebut diatur pada Pasal 4 yang berbunyi:
“Batasan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat (1) meliputi:
1) Nilai transaksi dengan Pembeli di Indonesia melebihi Rp 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) tahun atau Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dalam 1 (satu) bulan; dan/atau
2) Jumlah traffic atau pengakses di Indonesia melebihi 12.000 (dua belas ribu) dalam 1 (satu) tahun atau 1.000 (seribu) dalam 1 (satu) bulan.”
Membuka toko secara online dan tidak memiliki toko secara fisik tidak menjadikan pelaku usaha E-Commerce terbebas dari kewajiban membayar pajak. Karena pada dasarnya, setiap pelaku usaha yang melakukan kegiatan jual-beli baik secara konvensional maupun E-Commerce wajib membayar pajak kepada negara.
Kewajiban membayar pajak inilah yang seringkali tidak disadari oleh pelaku usaha E-Commerce dan konsumen.
Berdasarkan wawancara dengan beberapa responden yang dilaksanakan pada 4 Maret 2021, bahwa mereka sebenarnya mengetahui mengenai kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E- Commerce. Akan tetapi mereka enggan mendaftarkan usahanya, selain karena baru merambah dunia E-Commerce juga karena adanya kewajiban membayar pajak. Mereka berasumsi ketika mereka mendaftarkan usahanya dan membayar pajak maka akan berdampak dengan menurunnya minat konsumen dalam berbelanja produknya, karena mau tidak mau mereka harus menaikan harga produk yang mereka jual guna mendapat keuntungan dan kewajiban membayar pajak. Seperti yang kita tau bahwa salah satu keuntungan dalam commit to user
transaksi E-Commerce adalah harganya yang lebih murah dibandingkan dengan usaha konvensional. Selain itu juga masih banyak pelaku usaha E-Commerce yang tidak tahu bahwa mereka harus membayar pajak, sehingga banyak dari mereka yang tidak memiliki NPWP.
Selain wawancara dengan responden, juga dilaksanakan wawancara dengan dengan Bapak Khaeron, S.H., M.M. selaku Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Pemalang pada 10 Maret 2021. Hasil dari wawancara tersebut adalah pemerintah dalam hal perizinan usaha tidak memungut pajak. Jadi pelaku usaha E-Commerce tidak perlu khawatir akan kewajiban membayar pajak setelah usahanya didaftarkan. Akan tetapi hal yang disampaikan Bapak Khaeron, S.H., M.M tidak sesuai dengan Pasal 8 PP PMSE.
Hal ini membuat masyarakat khususnya pelaku usaha E- Commerce di Kabupaten Pemalang merasa bingung akan kebenaran yang ada mengenai perpajakan pada E-Commerce jika sudah dilaksanakan daftar usaha. Sehingga semakin banyak pula pelaku usaha E-Commerce yang enggan mendaftarkan karena antara peraturan hukum dan penuturan dari pemangku kebijakan berbeda.
c. Meningkatnya Aktivitas Perdagangan Melalui E-Commerce Pertumbuhan pasar E-Commerce di Indonesia terus mengalami kenaikan yang signifikan setiap tahunnya. E-Commerce menjadi alternatif bagi masyarakat Indonesia, baik pelaku usaha maupun konsumen untuk memasarkan dan membeli produk secara online.
Hasil wawancara pada 4 Maret 2021 dengan Ibu Eliyah selaku Kepala Bidang Perdagangan di Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang dan Gambar 3, banyaknya keuntungan yang diberikan oleh E-Commerce baik kepada pelaku usaha E-Commerce maupun konsumen tentu akan diiringi dengan commit to user
meningkatnya jumlah pelaku usaha E-Commerce. Selain keuntungan yang menjadi faktor meningkatnya aktivitas E-Commerce, juga banyak PPMSE yang menyediakan sarana transaksi E-Commerce, semakin banyaknya platform transaksi E-Commerce yang disediakan semakin meningkat pula pelaku usaha E-Commerce yang memiliki akun E-Commerce lebih dari satu. Akan tetapi ketika pelaku usaha E- Commerce memasarkan produknya baik melalui PPMSE maupun media sosial, tidak ada persyaratan yang mengharuskan pelaku usaha untuk mengunggah dokumen izin usaha. Hal ini tentu akan berpotensi semakin meningkat pula usaha-usaha illegal. Maka semakin tidak optimal penegakan hukum PP PMSE terhadap kewajiban daftar usaha.
Melihat meningkatnya usaha-usaha illegal dan ketidaktegasan regulasi mengenai E-Commerce tentu berimplikasi kepada tanggungjawab baik pelaku usaha E-Commerce terhadap konsumen maupun konsumen terhadap pelaku usaha E-Commerce. Mengingat banyak pelaku usaha E-Commerce maupun konsumen yang masih minim kesadaran dan pemahaman pentingnya wajib daftar usaha dan belum memiliki kesiapan mental dalam menghadapi tantangan yang diberikan oleh E-Commerce, hal tersebut tentunya menjadi desakan agar pemerintah dapat secara tegas dan cepat untuk melakukan pengawasan dan pembinaan bagi seluruh pelaku usaha E-Commerce yang belum dan/atau tidak memiliki izin usaha agar segera mendaftarkan usahanya yang nantinya dapat memberikan pengaruh dalam mengontrol kegiatan transaksi melalui E-Commerce.
Mengingat pihak-pihak dalam E-Commerce E-Commerce memiliki peran penting dalam bersaing antar perusahaan dan usaha perseorangan di pasar global.
B. Upaya Penyelesaian Problematika Pelaksanaan Wajib Daftar Usaha Bagi Pelaku Usaha E-Commerce
commit to user
Perkembangan teknologi dan informasi khususnya dalam hal sektor perdagangan yang melahirkan E-Commerce dengan seiring berjalannya waktu terdapat beberapa tantangan yang dihadapi seperti kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha. Perkembangan pembangunan instrumen hukum dalam halnya wajib daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce guna memiliki legalitas adalah prioritas saat ini. Di Indonesia, kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E- Commerce sudah memiliki peraturan hukum sendiri, yaitu PP PMSE.
Berdasarkan PP PMSE, setiap pelaku usaha yang melakukan kegiatan usaha E-Commerce wajib memiliki izin usaha. Izin usaha yang dimaksud adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan peraturan perundang- undangan dan memuat hal-hal yang wajib di daftarkan oleh setiap pelaku usaha serta disahkan oleh pejabat berwenang atas nama Menteri, Pimpinan Lembaga, Gubernur atau Bupati/Walikota. Daftar usaha penting bagi pemerintah guna melakukan pembinaan, pengarahan dan pengawasan serta menciptakan iklim dunia usaha yang sehat. Dikarenakan daftar usaha mencatat keterangan yang dibuat secara benar yang diberikan oleh pelaku usaha sehingga dapat lebih menjamin perkembangan dan kepastian hukum dalam dunia perdagangan khususnya E- Commerce.
Wajib daftar usaha merupakan hal penting untuk memberikan perlindungan kepada pelaku usaha yang bonafide dan kepada konsumen yang berniat mengadakan hubungan transaksi dengan pelaku usaha. Sukardono mengatakan bahwa dengan didaftarkannya usaha dapat mencegah timbulnya persepsi buruk bagi konsumen mengenai kegiatan usaha yang dijalankan yang nantinya mempengaruhi kegiatan-kegiatan perdagangan lainnya (seperti dikutip Budi Suharto, Skripsi, 2017: 15). Bentuk perlindungan hukum bagi pelaku usaha secara represif terdapat pada penegakan hukum yang adil, objektif dan responsif. Namun permasalahannya dalam pembahasan sebelumnya ditemukan problematika pelaksanaan wajib daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce yaitu ketidaklengkapan klasifikasi pelaku usaha E-Commerce yang wajib melakukan daftar usaha dalam Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, penegakan hukum yang kurang optimal, rendahnya kesadaran dan pemahaman commit to user
akan pentingnya daftar usaha dan meningkatnya aktivitas perdagangan menggunakan E-Commerce. Berdasarkan problematika pelaksanaan wajib daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce ditemukan beberapa penyelesaian dari hasil penelitian sebagai berikut:
1. Reformulasi Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik
Problematika ketidaklengkapan klausul yang terdapat pada Pasal 5 PP PMSE menjadi pemantik untuk menentukan klasifikasi pelaku usaha yang wajib mendaftarkan usahanya dalam kegiatan transaksi E- Commerce. Dalam pembahasan solusi pertama akan dijelaskan solusi klasifikasi pelaku usaha yang wajib mendaftarkan usahanya. Dalam reformulasi Pasal 5 PP PMSE akan dijelaskan pertimbangan klausul klasifikasi pelaku usahanya yang wajib mendaftarkan usahanya, dengan melihat beberapa realita yang ada dan kesesuaian dengan peraturan hukum lainnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, formulasi adalah perumusan. Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan dilakukan perumusan terhadap unsur-unsur yang diatur didalamnya.
Namun, ketika unsur yang diatur mendapati sebuah permasalahan karena adanya klausula yang tidak lengkap dan tidak sesuai dengan kenyataan maka perlu dirumuskan ulang atau sering disebut reformulasi. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik dibentuk dengan tujuan mengklarifikasi regulasi yang spesifik mengenai E-Commerce yaitu Pasal 66 UU Perdagangan, juga untuk mewajibkan seluruh pelaku usaha yang melakukan transaksi E-Commerce untuk mendaftarkan usahanya guna mendapatkan legalitas dalam berkegiatan. Kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce tersebut patutnya membutuhkan argumentasi dan pertimbangan yang jelas.
Gunanya agar ketika pelaksanaan wajib daftar usaha ada kesesuaian antara peraturan hukum dengan keadaan yang sebenarnya.
commit to user
Ketentuan tersebut mengikat kepada seluruh pelaku usaha yang melaksanakan transaksi E-Commerce. Secara umum, kewajiban daftar usaha baik bagi pelaku usaha konvensional maupun E-Commerce juga diatur dalam Pasal 24 UU Perdagangan. Sesuai dengan pasal tersebut bahwa setiap kelompok usaha maupun individu yang melakukan kegiatan usaha diwajibkan untuk mendaftarkan kegiatan perdagangannya. Salah satu klasifikasi pelaku usaha yang wajib mendaftarkan usahanya menurut UU Perdagangan adalah pelaku usaha E-Commerce. Hal ini dijawab oleh diterbitkannya PP PMSE yangmana seluruh pelaku usaha E-Commerce wajib mendaftarkan usahanya. Klasifikasi pelaku usaha yang wajib mendaftarkan usahanya menurut PP PMSE adalah Pedagang (Merchant), PPMSE dan PSP. Pada PP PMSE tidak mewajibkan pelaku usaha yang menggunakan media sosial sebagai tempat transaksi untuk mendaftarkan usaha. Padahal realitanya, banyak sekali pelaku usaha pendatang baru yang menggunakan media sosial sebagai tempat transaksi E-Commerce.
Ini disebabkan karena media sosial memilili beberapa keunggulan bagi pelaku usaha yang baru memulai melaksanakan kegiatan usaha. Adapun keunggulan media sosial sebagai tempat transaksi E-Commerce menurut salah satu pelaku usaha yang menjadi responden penelitian, yaitu:
a) Memperluas pangsa pasar
Pemasaran produk dan/atau jasa secara online dapat memperluas target konsumen yang selama ini tidak terjangkau selama melakukan transaksi secara offline. Hal ini harus dibarengi dengan strategi dan sasaran yang spesifik. Contohnya responden menggunakan Facebook ads, Instagram ads dan Whatsapp business sebagai tempat usaha. Ini karena media sosial tersebut menyajikan konten iklan produk kepada orang-orang yang menunjukan jenis perilaku yang relevan dengan yang pelaku usaha inginkan. Sehingga memungkinkan pelaku usaha mendapatkan hasil maksimal dari marketing tersebut.
b) Memudahkan konsumen dalam memberikan feedback commit to user
Sosial media memberikan akses kepada konsumen untuk dapat memberikan feedback secara langsung terhadap produk dan/atau jasa yang dibelinya dari pelaku usaha. Contohnya ketika pelaku usaha meluncurkan produk baru dan dibagikan di media sosial, maka secara langsung pelaku usaha dapat mengetahui pendapat dari konsumen. Hal ini pula yang dialami oleh responden, bahwa responden menggunakan Facebook dan Instagram sebagai media sosial utama untuk melakukan transaksi E-Commerce. Pada media sosial tersebut, ketika pelaku usaha meluncurkan produk dan/atau jasa baru maka konsumen dapat memberi pendapat atau tanggapan melalui kolom komentar yang tersedia. Dengan hal ini respon yang diberikan konsumen terhadap usaha yang dimiliki pelaku usaha terlihat sangat jelas.
c) Meningkatkan brand awareness
Media sosial merupakan alat pemasaran produk dan/atau jasa yang kuat untuk membangun kesadaran merek. Dengan adanya media sosial, produk dan/atau jasa lokal dapat dipasarkan dengan mudah karena dengan media sosial, pelaku usaha dapat dengan mudah terhubung atau berinteraksi dengan konsumen. Ditambah pada media sosial banyak sekali fitur-fitur yang dapat digunakan secara gratis untuk melakukan pemasaran suatu produk dan/atau jasa dengan target atau sasaran yang telah ditentukan. Adapun salah satu cara untuk meningkatkan brand awareness menurut responden adalah bermitra dengan para influencer ternama untuk melakukan promosi dimedia sosialnya, sehingga dapat meningkatkan eksistensi pelaku usaha di E-Commerce.
d) Dapat menganalisa pelaku usaha lain yang bertindak sebagai kompetitor
Pelaku usaha yang menggunakan media sosial untuk kegiatan E- Commerce bisa mendapatkan informasi penting dari kompetitor yang ada. Selain itu, pelaku usaha juga bisa menggunakan media commit to user
sosial untuk melihat kelebihan dan kekurangan kompetitor, yaitu dengan memperhatikan strategi yang digunakan kompetitor dalam kegiatan E-Commerce. Pelaku usaha juga bisa melihat siapa saja follower kompetitornya sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan strategi marketing pada produk dan/atau jasanya.
Penggunaan media sosial sebagai sarana berdagang telah menduduki peringkat kedua setelah penggunaan media sosial sebagai alat berbagi informasi (apjii, https://www.apjii.or.id, diakses 12 Maret 2021). Hal membuktikan bahwa media sosial erat kaitannya dengan E-Commerce, baik dari segi pemasarannya, layanan yang disediakan maupun kelebihan- kelebihan lainnya. Banyak pelaku usaha yang sudah lama maupun yang baru memulail kegiatan E-Commerce menggunakan media sosial sebagai salah satu sarana untuk bertransaksi. Bahkan mayoritas pelaku usaha memilih media sosial sebagai sarana utama dalam bertransaksi daripada PPMSE maupun PSP. Namun dalam keberjalanan kegiatan E-Commerce, peraturan hukum tidak mengatur mengenai kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha yang menggunakan media sosial sebagai sarana E- Commerce. Sehingga pelaku usaha tersebut tidak memiliki legalitas dan perlindungan hukum ketika melaksanakan kegiatan E-Commerce. Selain itu, konsumen yang membeli produk dan/atau jasa dari media sosial, ketika mereka mengalami sebuah kerugian tidak dapat menuntut haknya karena pelaku usahanya tidak memiliki legalitas dalam berkegiatan E-Commerce.
Padahal dalam Pasal 2 Ayat (2) Permendag 50/2020 pelaku usaha yang menggunakan media sosial sebagai sarana kegiatan E-Commerce juga merupakan pelaku usaha E-Commerce karena media sosial termasuk dalam sistem elektronik. Hal konkret mengenai, apakah pelaku usaha E- Commerce di media sosial tidak diwajibkan untuk mendaftarkan usahanya? Hal ini belum dapat dijelaskan oleh PP PMSE selaku peraturan hukum yang mengatur mengenai kegiatan E-Commerce secara khusus, sehingga terkait klasifikasi pelaku usaha yang wajib mendaftarkan commit to user
usahanya dalam Pasal 5 PP PMSE harus ditambahkan, yang dalam penelitian ini penambahan klausul tersebut harus didasarkan pada pertimbangan:
a) Berdasarkan tujuan perdagangan
Kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce dipertimbangkan berdasarkan apakah pelaku usaha E-Commerce di media sosial tersebut memiliki tujuan komersial atau tidak.
b) Berdasarkan sifat wajib daftar usaha
Sesuai dengan Pasal 3 UU WDP bahwa wajib daftar usaha bersifat terbuka bagi semua pihak. Yang dimaksud dengan sifat terbuka adalah daftar usaha dapat digunakan oleh berbagai pihak sebagai sumber informasi.
c) Berdasarkan substansi media sosial
Media sosial merupakan sarana bagi pelaku usaha maupun konsumen untuk berbagai informasi. Seingga pada prinsipnya, seiring berkembangnya internet yang berdampak positif bagi E- Commerce, maka berkembang pula pengguna media sosial sebagai sarana kegiatan E-Commerce. Media sosial sendiri memiliki banyak layanan yang mendukung pelaku usaha dalam berkegiatan E-Commerce, seperti adanya kolom kontak, promosi hingga adanya insight penjualan yang mendukung pelaku usaha untuk berinteraksi dengan konsumen.
d) Dampak kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce di media sosial
Dampak dari wajibnya daftar usaha bagi pelaku usaha E- Commerce di media sosial tersebut harus dirumuskan dan dikorelasikan dengan peraturan hukum yang telah ada, misalnya dengan menetapkan bahwa pelaku usaha E-Commerce di media sosial merupakan klasifikasi pedagang (merchant) yang bertujuan komersial dalam menjual produk dan/atau jasa dan memiliki intensi untuk berbisnis. commit to user
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka penulis merekomendasikan rumusan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, yaitu:
Pasal 5 (1) Pelaku Usaha PMSE meliputi:
a. Pelaku Usaha Dalam Negeri yang meliputi:
1. Pedagang dalam negeri;
2. PPMSE dalam negeri; dan
3. Penyelenggara Sarana Perantara dalam negeri;
b. Pelaku Usaha Luar Negeri yang meliputi:
1. Pedagang luar negeri;
2. PPMSE luar negeri;
3. Penyelenggara Sarana Perantara luar negeri.
(2) Pedagang dalam negeri dan Pedagang luar negeri yang dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 1 dan huruf b angka 1 termasuk pedagang yang melakukan PMSE melalui media sosial yang menyediakan sarana PMSE.
Kewajiban daftar usaha bagi seluruh pelaku usaha termasuk pelaku usaha E-Commerce di media sosial, bertujuan untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat dan pelaku usaha E-Commerce memiliki legalitas resmi yang mendapatkan pengakuan sah dari pihak yang berkepentingan dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Selain itu juga untuk mendapatkan kepastian usaha sehingga memudahkan untuk meluaskan usahanya atau melakukan investasi baru karena izin usaha merupakan salah satu dokumen syarat pengajuan peminjaman modal serta untuk mendapatlan pembinaan dan pengarahan dari pemerintah baik mengenai permodalan maupun manajemen usaha.
2. Optimalisasi Penegakan Hukum terhadap Wajib Daftar Usaha Bagi Pelaku Usaha E-Commerce
commit to user
Berbagai teori hukum mengatakan bahwa hukum harus selalu berimbang layaknya simbol Dewi Themis yang melambangkan keseimbangan keadilan, tetapi hukum tidaklah bisa jika bersifat diam atau kaku. Sudah sewajarnya hal ini merupakan salah satu fase hakiki dari hukum dimana satu pihak hukum harus mengandung unsur kepastian dan prediktabilitas, sehingga peraturan hukum haruslah stabil. Akan tetapi dilain pihak, hukum haruslah dinamis sehingga selalu dapat mengikuti dinamika perkembangan manusia (Nazarudin Lathif, Jurnal Pakuan Law Review, Vol. 3, No. 1, Januari-Juni 2017: 73).
Demikianlah mengenai E-Commerce, regulasi terkait E-Commerce pun perlu diperbarui mengikuti permasalahan baru yang ada. Seperti yang kita ketahui bahwa E-Commerce secara umum telah diatur pada UU Perdagangan dan secara khusus diatur pada PP PMSE. Dari sedemikian rupa peraturan, ini terjadi karena perkembangan masa dan juga perkembangan budaya dibidang perdagangan yang melibatkan diharuskannya perubahan atau pembaharuan peraturan. Misalnya yang baru di PP PMSE yakni adanya kewajiban pelaku usaha E-Commerce untuk mendaftarkan usahnya guna memiliki legalitas yang tertuang pada Pasal 15 Ayat PP PMSE.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Pemalang pada tahun 2020 telah mendata sejumlah 150 (seratus lima puluh) pelaku usaha E-Commerce yang sudah mendaftarkan usahanya.
Banyak pelaku usaha yang masih belum memiliki izin usaha karena beberapa hal, seperti kurangnya sosialisasi terkait kewajiban daftar usaha dari pemerintah setempat, sanksi yang diberikan ketika pelaku usaha E- Commerce tidak memiliki izin usaha hanya sebatas peringatan tertulis hingga pencabutan izin usaha, tidak adanya layanan pengaduan yang diberikan pemerintah apabila pelaku usaha E-Commerce yang sudah memiliki legalitas dirugikan oleh konsumen serta masih rendahnya
commit to user
kesadaran dan pemahaman mengenai pentingnya wajib daftar usaha baik dari penegak hukum maupun pelaku usaha E-Commercenya sendiri.
Jadi peningkatan dalam hal penegakan pada peristiwa kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce sangatlah mungkin untuk dilakukan, mengingat teknologi berkembang secara cepat. Oleh karena itu dalam mengatasi problematika yang timbul dari adanya pelaksanaan wajib daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce, maka tindakan ini perlu dilakukan agar problematika tersebut dapat teratasi.
Izin usaha merupakan bentuk persetujuan atau pemberian izin dari pihak berwenang atas penyelenggaraan kegiatan usaha. Tujuannya adalah untuk memberikan pembinaan, arahan serta pengawasan kegiatan E- Commerce sehingga bisa tertib dan menciptakan pemerataan kesempatan kerjasama terwujudnya keindahan dan keseimbangan E-Commerce.
Namun pada prakteknya masih banyak pelaku usaha E-Commerce yang tidak mendaftarkan usahanya sehingga perlu adanya penegakan hukum bagi pelaku usaha E-Commerce yang tetap melakukan kegiatan transaksi E-Commerce meskipun tidak memiliki izin usaha. Adapun optimalisasi penegakan hukum terhadap wajib daftar usaha yaitu menerapkan adanya penegakan hukum yang bersifat preventif maupun represif. Yaitu dengan cara pembinaan dan pengawasan sebagai penegakan hukum secara preventif dan sanksi administrasi sebagai penegakan hukum secara represif.
Dalam hal pembinaan dan pengawasan, seperti yang tercantum dalam Pasal 76 Ayat (2) PP PMSE bahwa Menteri Perdagangan dapat berkoordinasi dengan menteri, kepala lembaga non kementerian dan pimpinan otoritas terkait serta pemerintah daerah. Kemudian dalam melaksanakan pengawasan, Menteri Perdagangan dapat menunjuk petugas pengawas di bidang perdagangan yang nantinya dibantu oleh tim asistensi pengawasan yang telah dibentuk oleh Menteri Perdagangan. Karena telah tercantum secara jelas di peraturan perundang-undanngan, maka Menteri Perdagangan dapat dengan segera melaksanakan tugas tersebut agar dapat commit to user
tercapainya tujuan dikeluarkannya peraturan ini, yaitu berjalannya kegiatan perdagangan secara fair serta pengamanan kepentingan nasional dari dampak E-Commerce luar negeri.
Mengenai pelaku usaha E-Commerce yang belum atau tidak mendaftarkan usahanya, akan menyulitkan pemerintah dalam melakukan pengawasan karena adanya pengawasan merupakan akibat dari proses daftar usaha sehingga apabila pelaku usaha E-Commerce tidak mendaftarkan usahanya dan tidak memiliki izin usaha, bagaimana pemerintah dapat mengawasi usaha itu? Maka dalam hal ini pemerintah dapat memberikan sanksi berupa penghentian kegiatan usaha yang merupakan bentuk dari paksanaan nyata, akan tetapi dengan cara yang berbeda jika dibandingkan dengan usaha pada umumnya. Jika usaha konvensional dengan cara penutupan usaha yang dapat dilakukan dengan memberi peringatan lalu menutup toko, maka penerapan sanksi ini pada pelaku usaha E-Commerce dapat dilakukan dengan memblokir akses atau akun pada marketplace maupun platform lain agar pelaku usaha E- Commerce tidak dapat menjalankan kegiatan usahanya lagi untuk sementara waktu sampai pelaku usaha E-Commerce mendaftarkan usahanya dan memiliki legalitas dalam berkegiatan E-Commerce.
Pemberian sanksi ini dimaksud untuk membantu menegakan kewajiban daftar usaha agar sejalan dengan peraturan perundang- undangan yang ada meskipun membutuhkan waktu yang lumayan lama karena meningkatnya aktivitas E-Commerce yang sulit dijangkau oleh pemerintah. Selain itu, bentuk optimalisasi penegakan hukum PP PMSE pada problematika pelaku usaha E-Commerce yang sudah memiliki legalitas usaha dirugikan oleh konsumen adalah dengan memberlakukan teori perlindungan hukum represif bagi konsumen yang melakukan wanprestasi. Sanksi yang dapat diberikan dapat berupa membayar kerugian yang diderita oleh pelaku usaha E-Commerce maupun membayar biaya perkara apabila sampai diperkarakan ke pengadilan. Tujuannya selain menyeimbangkan hak dan kewajiban dari para pihak juga untuk commit to user
memberikan efek jera kepada konsumen yang telah melakukan pelanggaran.
3. Peningkatan Public Awareness atau Kesadaran Masyarakat Tentang Pentingnya Wajib Daftar Usaha
Public awareness atau kesadaran masyakarat khususnya pegawai instansi terkait maupun pelaku usaha E-Commerce terhadap wajib daftar usaha masih rendah dan berbanding terbalik dengan urgensitas wajib daftar usaha di Indonesia. Usaha E-Commerce yang perlu didaftarkan agar usaha E-Commerce yang dimiliki memiliki kepastian hukum. Masyarakat Indonesia masih dengan mudahnya mengatakan bahwa usahanya masih merupakan usaha kecil atau rumahan yang tidak memerlukan izin, serta tidak adanya persyaratan mengunggah dokumen izin usaha ketika melakukan kegiatan E-Commerce baik di PPMSE maupun sosial media.
Selain itu juga di kalangan pegawai instansi terkait, tidak adanya arahan ketika adanya peraturan hukum baru yang bersangkutan dengan tupoksinya. Oleh karena itu dalam menyikapi penyelesaian problematika wajib daftar usaha perlu melakukan peningkatan public awareness atau kesadaran masyarakat akan pentingnya legalitas usaha dalam kegiatan E- Commerce.
Peningkatan public awareness atau kesadaran masyarakat dapat dilakukan dengan pendekatan kepada subyek terkait, yaitu pegawai di instansi terkait maupun pelaku usaha E-Commerce dengan sosialisasi.
Sosialisasi merupakan proses interaksi sosial dimana orang memperoleh pengetahuan, nilai, sikap dan perilaku esensial untuk berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Tujuan sosialisasi dalam hal wajib daftar usaha adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya wajib daftar usaha dan agar masyarakat khususnya pelaku usaha E-Commerce dapat selaras dengan nilai dan norma yang berlaku di Indonesia serta meminimalisir terjadinya penyalahgunaan usaha E-Commerce. Proses sosialisasi di dalam kehidupan masyarakat ada 2 (dua) jenis yaitu commit to user
sosialisasi langsung dan tidak langsung. Berikut ini penjelasan mengenai jenis-jenis sosialisasi:
a) Sosialisasi Langsung
Sosialisasi secara langsung merupakan tahap sosialisasi yang dilaksanakan dengan cara tatap muka tanpa menggunakan perantara alat komunikasi tertentu, contoh media komunikasi telephone atau video conference. Sosialisasi secara langsung dengan tujuan menyampaikan ke masyarakat akan pentingnya wajib daftar usaha. Masyarakat khususnya penegak hukum terkait dan pelaiku usaha E-Commerce diharap sadar untuk melaksanakan wajib daftar usaha agar memiliki legalitas dan kepastian hukum dalam melakukan kegiatan E-Commerce.
Sosialisasi ini dapat dilakukan oleh instansi pemerintah seperti Dinas Koperasi dan UMKM Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu bersama beberapa kementerian di Indonesia seperti Kementerian Perdagangan ataupun non-pemerintah seperti Indonesian E-Commerce Association (idEA) yang dilaksanakan di segala lapisan pegawai di instansi terkait dan pelaku usaha E-Commerce. Sosialiasasi secara langsung perlu digerakan lebih massif lagi agar mendapat perhatian dan respon positif dari masyarakat untuk bertindak.
b) Sosialisasi Tidak Langsung
Sosialisasi tidak langsung adalah bentuk sosialisasi menggunakan perantara atau alat komunikasi dalam proses sosialisasinya seperti video conference, media sosial, website, surat elektronik dan yang lainnya. Namun sosialisasi tidak langsung juga dapat berpotensi munculnya berita hoax ataupun berita yang belum terbukti kebenarannya sehingga informasi yang disampaikan tidak sempurna. Sosialisasi tidak langsung kepada masyarakat khususnya penegak hukum terkait dan pelaku commit to user
usaha E-Commerce akan pentingnya wajib daftar usaha terutama daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce dapat dilakukan di media sosial seperti Instagram, Facebook dan Twitter yang merupakan media sosial resmi milik instansi pemerintah maupun pihak swasta yang menjadi wadah E-Comerce yang telah memiliki legalitas serta dapat menggunakan website resmi. Selain itu, sosialisasi tidak langsung dapat juga dengan menggandeng influencer. Influencer merupakan orang-orang yang memiliki follower atau pengikut atau penonton yang cukup banyak di media sosial dan dapat mempunyai pengaruh kuat untuk mempengaruhi masyarakat.
Sejauh ini instansi pemerintah dan pihak swasta lainnya belum mensosialisasikan mengenai wajib daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce secara merata karena keterbatasan waktu, tempat dan sumber daya manusia. Alangkah baiknya menggandeng influencer agar sosialisasi yang disampaikan lebih menyeluruh atau lebih luas jangkauannya. Penyampaian materi sosialisasi secara tidak langsung juga perlu informatif yang mudah dipahami oleh segala kalangan. Mengingat dalam dunia E-Commerce, influencer memiliki peran besar sebagai promotor produk yang dimiliki oleh pelaku usaha E-Commerce.
Peningkatan public awareness atau kesadaran masyakarat yang dilaksanakan melalui sosialisasi secara langsung dan tidak langsung sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan lebih paham akan pentingnya kewajiban daftar usaha bagi pelaku usaha E-Commerce terhadap aktivitas E-Commerce yang mulai berkembang saat ini. Tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan public awareness atau kesadaran masyakarat, sosialisasi ini juga bertujuan untuk mendampingi pelaku usaha E-Commerce yang belum dan tidak tahu mengenai prosedur pendaftaran usahanya. Karena tidak dipungkiri, mayoritas masyarakat Indonesia khususnya pelaku usaha E-Commerce hanya pandai melakukan commit to user
kegiatan E-Commerce saja akan tetapi untuk hal penting seperti pengoperasian website resmi terutama yang menyangkut hukum, mereka masih kurang pandai dan perlu adanya pendampingan dari pihak yang bertanggungjawab secara langsung.
commit to user