• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tersedia online di: Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Tersedia online di: Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

*) Penulis

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

PENGARUH RASIO ND/D TERHADAP KEBUTUHAN AIR PELANGGAN PDAM KOTA SEMARANG CABANG SELATAN

Juntara Semilu Rosesar*), Ganjar Samudro**), Irawan Wisnu Wardana**) Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Jl. Prof. Soedarto, SH Tembalang, Semarang, Indonesia 50275 [email protected]

Abstrak

Kebutuhan air yang semakin meningkat menjadi acuan PDAM untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas pelayanannya. Kondisi masyarakat menjadi hal yang dipertimbangkan dalam pengembangan jaringan distribusi.

Selama ini dalam merencanakan dan mengembangkan jaringan distribusi, PDAM masih menggunakan pedoman Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 18 Tahun 2007 untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan air seperti faktor jam puncak (peak hour), faktor harian maksimum (maximum day), dan besar pemakaian air rata-rata. Akan tetapi, pedoman tersebut tidak dapat diterapkan di setiap wilayah karena tiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan bervariasi. Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik (ND/D) menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi dalam menentukan kebutuhan air di wilayah pelayanan. Rasio ND/D dibagi menjadi 3 tingkat dimana analisis kebutuhan air dilihat melalui fluktuasi pemakaian air yang dilakukan selama 14 hari. Rasio yang digunakan diambil berdasarkan rasio tiga wilayah meliputi Srondol Asri (0,005), Taman Setyabudi (0,049) dan Banyumanik (0,075). Hasil menunjukkan bahwa Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik memiliki pengaruh terhadap kebutuhan air rata-rata perkapita dimana semakin tinggi rasio ND/D maka kebutuhan air perkapita menjadi semakin kecil.

Kata kunci : Rasio ND/D Kebutuhan air, Faktor jam puncak, Faktor harian maksimum.

Abstract

[D/ND Ratio Influence Toward Costumer Water Demand of PDAM South Semarang Branch] The Increasing of clean water’s demands has become reference for PDAM to improved the quality and quantity of the services. The society conditions were considered on distribution pipelines development.Until now, PDAM has still used Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 18 Tahun 2007 as their guideline on planning and development of distribution pipelines to determined influencing factors in clean water demands such as peak hour and day’s maximum, and also the water consumptions average. However, the guideline couldn’t be applied to every area, because every area had certain and varying characteristics. Domestic an non-domestic ratio (ND/D) became one of factors that could influenced and determined water demands on the service area. ND/D ratio divided in 3 levels where the demands analysis could be observed by water consumption fluctuation in 14 days. The applied ratio that determine based on ratio on 3 different areas, Srondol Asri (0,005), Taman Setyabudi (0,049) and Banyumanik (0,075). The result indicated the ratio had influence on water demand averages per capita, where the higher the ratio the lesser water demands per capita.

Keywords : Ratio of ND/D, Water demand per capita, peakhour, maximum daily.

(2)

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

PENDAHULUAN

Pengembangan sistem jaringan distribusi atau biasa disebut SPAM merupakan kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non-fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.

Kebutuhan air yang semakin meningkat menjadi acuan PDAM untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas pelayanannya. Kondisi masyarakat menjadi hal yang dipertimbangkan dalam pengembangan jaringan distribusi. Dalam hal ini khusunya pengaruh komposisi domestik dan non domestik (ND/D) sangat erat kaitannya dengan faktor – faktor kebutuhan air di masyarakat. Besarnya nilai- nilai komposisi tersebut juga bervariasi dilihat dari karakteristik dan luas wilayah dilayani oleh PDAM.

Selama ini dalam merencanakan dan mengembangkan jaringan distribusi, PDAM masih menggunakan pedoman Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 18 Tahun 2007 untuk menentukan faktor- faktor yang mempengaruhi kebutuhan air seperti Faktor Jam Puncak (peak hour), Faktor Harian Maksimum (maximum day), dan besar pemakaian air rata-rata. Akan tetapi, pedoman tersebut tidak dapat diterapkan di setiap wilayah dikarenakan tiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan bervariasi.

Berdasarkan permasalahan yang ada maka dari itu diperlukanlah sebuah pendekatan terhadap wilayah pelayanan PDAM untuk mengetahui faktor- faktor kebutuhan air yang dipengaruhi Rasio Non Domestik dan Domestik. Pendekatan tersebut dilihat dari besarnya pemakaian air di tiap wilayah pelayanan PDAM.

PDAM Kota Semarang memiliki lima cabang pelayanan yaitu Utara, Barat, Selatan, Timur dan Tengah. Tiap – tiap cabang melayani beberapa kecamatan. Wilayah studi penelitian saat ini berfokus pada wilayah pelayanan cabang selatan. Wilayah pelayanan PDAM khususnya Cabang Selatan terdiri dari tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Banyumanik, Kecamatan Tembalang dan Sebagian Kecamatan Candisari. Tiga Kecamatan tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang masih perlu dilakukannya anilisis kebutuhan air untuk pengembangan selanjutnya dikarenakan Tiga

Kecamatan tersebut dalam beberapa tahun ke depan akan mengalami peningkatan kebutuhan air dilihat dari peruntukan wilayahnya. Saat ini jumlah pelanggan aktif sampai dengan September 2014 di PDAM wilayah pelayan Cabang Selatan sebanyak 25.515 pelanggan.

Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi pedoman atau acuan PDAM Kota Semarang dalam merencanakan maupun mengembangkan jaringan distribusinya agar lebih baik dalam pelayanannya.

Selain itu, diharapkan juga dapat menekan biaya perencanaan dalam penentuan desain yang tepat dan efisien.

METODOLOGI PENELITIAN 1. Tujuan Operasional

Dalam melakukan sebuah penelitian diperlukan sebuah tujuan operasional penelitian.

Dalam tujuan operasional penelitian dipaparkan tentang data-data yang dibutuhkan sehingga dapat dijadikan sebuah panduan untuk melakukan penelitian. Untuk memepermudah penyampaian tujuan operasional penelitian dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Tujuan Operasional

No. Tujuan Operasional Data yang

Dibutuhkan Hasil 1. Mengetahui Rasio Non

Domestik dan Domestik di wilayah pelayanan PDAM Cabang Selatan, Kota Semarang.

- Data Pelanggan PDAM - Zona DMA

- Komposisi Rasio Non Domestik dan Domestik 2. Menganalisis pengaruh

Rasio Non Domestik dan Domestik terhadap faktor – faktor kebutuhan air, diantaranya kebutuhan air perkapita, faktor jam puncak, dan faktor harian maksimum serta kehilangan air di wilayah pelayanan PDAM Cabang Selatan, Kota Semarang.

- Grafik fluktuasi pemakaian air - Pemakaian air

rekening bulan Desember 2014

- Kebutuhan air perkapita - Faktor jam

puncak - Faktor harian

maksimum - Kehilangan air

2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini membutuhkan waktu 6 bulan ( September 2014 – Februari 2015). Pengamatan dilapangan dilakukan dengan pembacaan terhadap tiga meter induk PDAM Kota Semarang Cabang Selatan selama 14 hari pada tanggal 1–14 Desember 2014. Selanjutnya melakukan penyebaran kuesioner dan wawancara terhadap pelanggan di tiga wilayah pelayanan meter induk yang terpilih selama 30 hari.

(3)

Tersedia online di: http://ejournal Jurnal

Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data dan analisis terhadap hasil pengamatan yang telah dilakukan. Pengolahan dan analisis data ini memerlukan waktu ± 2 bulan.

GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 1. Distric Meter Area (DMA)

Distric Meter Area atau meter induk area adalah wilayah jaringan distribusi air yang sudah terisolir atau tidak adanya inter-koneksi dari jaringan lain dan hanya ada satu input meter induk. PDAM Cabang Semarang Selatan memiliki 13 DMA yang tersebar di dua kecamatan yaitu di

Tembalang dan Kecamatan Banyumanik.

Setiap DMA memiliki Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik yang berbeda

rincian Rasio Non Domestik dan Domestik DMA di PDAM Cabang Semarang Selatan :

Tabel 2. Rasio Non Domestik dan Domes

No. Zona DMA

Rasio (%) Domestik Non

Domestik

1 Villa Aster 100

2 Dinar Elok 99.8 0.2

3 Tembalang Pesona Asri

99.6 0.4

4 Dinar Mas 99.5 0.5

5 Srondol Asri 99.5 0.5

6 Bukit Kencana Jaya 99.3 0.7

7 Gombel Permai 99.2 0.8

8 Graha estetika 99.2 0.8

9 Srondol Bumi Indah 99.1 0.9

10 Mega Bukit Mas 99.0 1

11 Duta Bukit Mas 98.9 1.2

12 Taman Setyabudi 95.3 4.

13 Banyumanik 93.0 7.0

Sumber: Data Sekunder, 2014

Setelah melakukan analisis rasio masing masing DMA, maka dihasilkan 3 DMA

yang berbeda dan mewakili tingkat rasio rendah, sedang, dan tinggi, yaitu : Zona Srondol Asri, Zona Taman Setyabudi, dan Zona Banyumanik.

a. Zona Srondol Asri

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

kan dengan pengolahan data dan analisis terhadap hasil pengamatan yang telah dilakukan. Pengolahan dan analisis data ini

GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

atau meter induk area adalah wilayah jaringan distribusi air yang sudah koneksi dari jaringan lain dan hanya ada satu input meter induk. PDAM Cabang Semarang Selatan memiliki 13 DMA yang tersebar di dua kecamatan yaitu di Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Banyumanik.

Rasio Kegiatan Non yang berbeda-beda. Berikut Rasio Non Domestik dan Domestik tiap DMA di PDAM Cabang Semarang Selatan :

Rasio Non Domestik dan Domestik

Jumlah Pelanggan Non

Domestik

0 104

0.2 563

0.4 262

0.5 375

0.5 414

0.7 1876

0.8 506

0.8 506

0.9 350

1.0 294

1.2 163

4.7 215

7.0 1267

Setelah melakukan analisis rasio masing- DMA dengan rasio yang berbeda dan mewakili tingkat rasio rendah, sedang, dan tinggi, yaitu : Zona Srondol Asri, Zona Taman Setyabudi, dan Zona Banyumanik.

Meter induk zona Srondol Asri melayani distribusi air untuk pelanggan perumahan Srondol Asri dan sebagian warga Cepersari. Meter induk ini melayani 414 pelanggan yang terdiri dari 412 pelanggan domestik dan 2 pelanggan non domestik.

Meter induk terletak di pinggir Jala

sehingga aman dan tidak mengganggu aktivitas warga ketika dalam pembacaan meter induk.

Perbandingan komposisi Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik di wilayah Srondol Asri termasuk yang rendah. Perbandingan dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 1. Perbandingan Rasio Non Domestik &

Domestik Zona Srondol Asri

b. Zona Taman Setyabudi

Meter induk zona Taman Setyabudi melayani distribusi air untuk pelanggan perumahan Khususnya Taman Setyabudi. Meter induk ini melayani 215 pelanggan yang terdiri dari 205 pelanggan domestik dan 10 pelanggan non domestik. Pelanggan non domestik yang dilayani adalah aktivitas ruko yang berada di Perumahan Taman Setyabudi.

Gambar 2. Perbandingan Rasio Non Domestik &

Domestik Zona Taman Setyabudi

c. Zona Banyumanik

Meter induk zona Banyumanik melayani distribusi air untuk pelanggan perumnas daerah Banyumanik. Perumnas yang dilayani terdiri dari Gaharu, Rasamala dan Jati. Jumlah pelanggan yang dilayani cukup besar yaitu 1.267 pelanggan aktif yang terdiri dari 1178 pelanggan domestik dan 89 pelanggan non domestik. Pelanggan non domestik yang dilayani adalah aktivitas pertokoan, sarana ibadah, sarana pendidikan, dan aktivitas niaga lainnya. Meter induk terletak di kawasan Reservoir Banyumanik yang berada di Jalan Nusa Ind

99.5 0.5

9.53 4.7

s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan

ona Srondol Asri melayani distribusi air untuk pelanggan perumahan Srondol Asri dan sebagian warga Cepersari. Meter induk ini melayani 414 pelanggan yang terdiri dari 412 pelanggan domestik dan 2 pelanggan non domestik.

Meter induk terletak di pinggir Jalan Kyai Mojo sehingga aman dan tidak mengganggu aktivitas warga ketika dalam pembacaan meter induk.

Rasio Kegiatan Non di wilayah Srondol Asri termasuk yang rendah. Perbandingan dapat dilihat

Rasio Non Domestik &

Zona Srondol Asri

Meter induk zona Taman Setyabudi melayani distribusi air untuk pelanggan perumahan Khususnya Taman Setyabudi. Meter induk ini melayani 215

dari 205 pelanggan domestik dan 10 pelanggan non domestik. Pelanggan non domestik yang dilayani adalah aktivitas ruko yang berada di Perumahan Taman Setyabudi.

Rasio Non Domestik &

Zona Taman Setyabudi

eter induk zona Banyumanik melayani distribusi air untuk pelanggan perumnas daerah Banyumanik. Perumnas yang dilayani terdiri dari Gaharu, Rasamala dan Jati. Jumlah pelanggan yang dilayani cukup besar yaitu 1.267 pelanggan aktif nggan domestik dan 89 pelanggan non domestik. Pelanggan non domestik yang dilayani adalah aktivitas pertokoan, sarana ibadah, sarana pendidikan, dan aktivitas niaga lainnya. Meter induk terletak di kawasan Reservoir Banyumanik yang berada di Jalan Nusa Indah II.

Jumlah Domestik Jumlah Non Domestik

Jumlah Domestik Jumlah Non Domestik

(4)

Tersedia online di: http://ejournal Jurnal

Gambar 3. Perbandingan Rasio Non Domestik &

Domestik Zona Banyumanik

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Menentukan Meter Induk Penelitian Dalam penelitian ini dianalisis

atau DMA yang berada di wilayah PDAM Cabang Selatan Kota Semarang. Meter induk atau

akan diambil untuk dianalisis adalah meter induk atau DMA yang sudah terisolasi atau tidak ada interkoneksi dari wilayah lain. PDAM Cabang Selatan Kota Semarang memiliki 13 meter induk atau DMA yang tersebar di dua Kecamatan yaitu Kecamatan Banyumanik dan Kecamatan Tembalang.

Tiga meter induk atau DMA yang terpi

pembacaan stand meter selama 24 jam dalam waktu 14 hari.

Lokasi penelitian tersebut dipilih ber

metode sampel. Sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu (Arikunto, 2006:138

menentukan titik meter induk atau DMA

diukur harus menentukan jumlah kelas, lebar kelas dan batas kelas terlebih dahulu dengan menggunakan rumus statistika (J. Supranto, 1926 : 73).

1.1 Menentukan Jumlah Kelas

Perhitungan jumlah kelas digunakan untuk menghitung berapa jumlah sampel yang

dari 13 meter induk atau DMA berdasarkan rasio non domestiknya. Dalam penentuan jumlah kelas digunakan rumus sebagai berikut :

K = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 13 = 4,7 ~ 4

Dimana :

K = banyaknya kelas

N = banyaknya nilai observasi / Jumlah meter

induk atau DMA

Berdasarkan perhitungan menentukan jumlah kelas, maka didapatkan jumlah kelas sebanyak 4 kelas.

93.0

7.0 Jumlah

Domestik Jumlah Non Domestik

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

Rasio Non Domestik &

Zona Banyumanik

Menentukan Meter Induk Penelitian

3 meter induk yang berada di wilayah PDAM Cabang Selatan Kota Semarang. Meter induk atau DMA yang akan diambil untuk dianalisis adalah meter induk yang sudah terisolasi atau tidak ada interkoneksi dari wilayah lain. PDAM Cabang 3 meter induk atau yang tersebar di dua Kecamatan yaitu Kecamatan Banyumanik dan Kecamatan Tembalang.

yang terpilih dilakukan pembacaan stand meter selama 24 jam dalam waktu Lokasi penelitian tersebut dipilih berdasarkan . Sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya :138). Dalam DMA yang akan us menentukan jumlah kelas, lebar kelas dan batas kelas terlebih dahulu dengan menggunakan rumus statistika (J. Supranto, 1926 : 73).

Perhitungan jumlah kelas digunakan untuk menghitung berapa jumlah sampel yang dianalisis berdasarkan rasio non Dalam penentuan jumlah kelas

= banyaknya nilai observasi / Jumlah

Berdasarkan perhitungan menentukan jumlah kelas, maka didapatkan jumlah kelas sebanyak 4

1.2 Menentukan Lebar Kelas

Lebar kelas dihitung guna menentukan lebar interval setiap kelas berdasarkan rasio non domestik dari 13 meter induk atau DMA, dimana rasio non domestik terbesar adalah 7% %, yang terkecil adalah 0 %. Untuk menentukan besarnya kelas (panjang interval) digunakan rumus :

= ± 1

Dimana :

c = Perkiraan interval kelas k = Banyak kelas

Xn = Nilai observasi terbesar X1 = Nilai observasi terkecil

Sehingga dapat dihitung sebagai berikut : c =Batas Atas − Batas

4 c =7 − 0

4

= 1,75

Dari perhitungan diatas sehingga didapatkan interval masing-masing kelasnya sebesar 1,7 Setelah mendapatkan besar interval, maka didapatkan jumlah meter induk sesuai kelasnya.

1.3 Menentukan Batas Kelas

Dalam menentukan batas kelas akan terlihat jumlah meter induk / DMA yang termasuk dalam nilai masing-masing interval yang telah ditentukan.

Sehingga didapatkan jumlah meter induk atau / untuk masing-masing interval yang selanjutnya dapat dipilih di tiap masing-masing nilai interval kelasnya.

Tabel 3. Meter Induk Kelas Interval

Kelas

Meter Induk atau

1 0 – 1,75 Bukit Kencana, Villa Aster, Dinar Elok, Dinar Mas, Tembalang Pesona Asri, Srondol Bumi Indah, Graha Estetika, Mega Bukit Mas, Duta Banyumanik, dan Srondol Asri

2 1,76 – 3,50

3 3,51 – 5,25 Taman Setyabudi 4 5,26 – 7.0 Banyumanik Jumlah

Domestik Jumlah Non Domestik

s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan

Menentukan Lebar Kelas

Lebar kelas dihitung guna menentukan lebar / n rasio non domestik , dimana rasio non

%, yang terkecil adalah 0 %. Untuk menentukan besarnya kelas (panjang

1

Sehingga dapat dihitung sebagai berikut : Batas Bawah

Dari perhitungan diatas sehingga didapatkan masing kelasnya sebesar 1,75.

mendapatkan besar interval, maka didapatkan jumlah meter induk sesuai kelasnya.

Menentukan Batas Kelas

Dalam menentukan batas kelas akan terlihat yang termasuk dalam masing interval yang telah ditentukan.

apatkan jumlah meter induk atau / DMA masing interval yang selanjutnya dapat masing nilai interval kelasnya.

Meter Induk

Meter Induk atau DMA

Bukit Kencana, Villa Aster, Dinar Elok, Dinar Mas, Tembalang Pesona Asri, Srondol Bumi Indah, Graha Estetika, Mega Bukit Mas, Duta Banyumanik, dan Srondol

- Taman Setyabudi Banyumanik

(5)

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

Dari hasil perhitungan, maka didapatkan 3 kelas untuk memenuhi rasio ND/D rendah, sedang dan tinggi, selanjutnya dipilih 3 meter induk dari masing-masing kelas untuk dilakukan pembacaan selama 14 hari dalam waktu 24 jam. Meter induk yang terpilih yaitu : Srondol Asri, Taman Setyabudi, dan Banyumanik.

2. Kebutuhan Air perkapita a. Zona Srondol Asri

Hasil didapatkan pemakaian air rata-rata sebesar 12.123 m3. Pemakaian tersebut tercatat dalam pemakaian air rekening bulan Desember 2014 Sehingga pemakaian air rata perkapita dapat ditentukan sebagai berikut:

Didapatkan debit pemakaian :

= 12.123 m3

= 391,064 m3/ hari

= 391.064,5 liter / hari Pemakaian air rata-rata perkapita :

=

= . , /

=944,6 liter/SR/hari

Dari hasil perhitungan dihasilkan pemakaian air perkapita 944,6 liter/SR/hari. Hasil ini didapatkan dengan peryataan bahwa 1 pelanggan mewakili 5 orang dalam pemakaiannya.

Selain menentukan kebutuhan air perkapita, kehilangan air juga dapat ditentukan dengan cara mencari selisih antara pemakaian air rekening dan pemakaian air dari pengkuran meter induk selama 14 hari. Kehilangan air dapat ditentukan dengan cara sebegai berikut :

Debit air pengukuran = 21.263 m3 Debit air rekening = 12.123 m3 Kehilangan air :

=(Q pengukuran – Q rekening)/ Q pengukuran

= (21.263 m3 – 12.123 m3) / 21.263 m3

= 0.429 ~ 43 %

Didapatkan kehilangan air sebesar 43 % di Zona Srondol Asri. Kehilangan diatas nilai standar kehilangan air berdasarkan PDAM bahwa standar kehilangan air sebesar 30 %.

b. Zona Taman Setyabudi

Hasil didapatkan pemakaian air rata-rata sebesar 4.961 m3. Pemakain tersebut tercatat dalam pemakaian air rekening bulan Desember 2014

Sehingga pemakaian air rata perkapita dapat ditentukan sebagai berikut:

Didapatkan debit pemakaian :

= 4.961 m3

= 160,0322 m3/ hari

= 160.032,2 liter / hari Pemakaian air rata-rata perkapita :

=

= . , /

= 744,3 liter/SR/hari

= 186 liter/orang/hari

Dari hasil perhitungan dihasilkan pemakaian air perkapita 744,3 liter/SR/hari. Hasil ini didapatkan dengan peryataan bahwa 1 pelanggan mewakili 4 orang dalam pemakaiannya.

Setelah mendapatkan kebutuhan air perkapita, selanjutanya menentukan kehilangan air. Kehilangan air dapat ditentukan dengan cara mencari selisih antara pemakaian air rekening dan pemakaian air dari pengkuran meter induk selama 14 hari. Kehilangan air dapat ditentukan dengan cara sebegai berikut : Debit air pengukuran = 6.316 m3

Debit air rekening = 4.961 m3 Kehilangan air :

(Q pengukuran – Q rekening)/ Q pengukuran

= (6.316 m3 – 4.961 m3) / 6.316 m3

= 0.21 ~ jika dalam persentase diporoleh hasil 21 % Didapatkan kehilangan air sebesar 21 % di Zona Srondol Asri. Kehilangan dibawah nilai standar kehilangan air PDAM yang menyatakan bahwa kehilangan air yang tertinggi sebesar 30 %.

c. Zona Banyumanik

Dari hasil didapatkan pemakaian air rata-rata sebesar 22.569 m3. Pemakain tersebut tercatat dalam pemakaian air rekening bulan Desember 2014 Sehingga pemakaian air rata perkapita dapat ditentukan sebagai berikut:

Didapatkan debit pemakaian :

= 22.569 m3

= 728,0322 m3/ hari

= 728.032,2 liter / hari Pemakaian air rata-rata perkapita :

=

= . , /

= 574,6 liter/SR/hari

= 144 liter/orang/hari

(6)

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

Dari hasil perhitungan dihasilkan pemakaian air perkapita 574,6 liter/SR/hari. Hasil ini didapatkan dengan peryataan bahwa 1 pelanggan mewakili 5 orang dalam pemakaiannya.

Setelah mendapatkan kebutuhan air perkapita, selanjutanya menentukan kehilangan air. Kehilangan air dapat ditentukan dengan cara mencari selisih antara pemakaian air rekening dan pemakaian air dari pengkuran meter induk selama 14 hari. Kehilangan air dapat ditentukan dengan cara sebegai berikut : Debit air pengukuran = 143.279 m3

Debit air rekening = 22.569 m3 Kehilangan air :

(Q pengukuran – Q rekening)/ Q pengukuran

= (143.279 m3 – 22.569 m3) / 143.279 m3

= 0.84 ~ jika dalam persentase diporoleh hasil 84 % 3. Faktor Jam Puncak

Pemakaian air sangat bervariasi, hal ini dipengaruhi aktivitas pemakaian tiap jamnya sehingga mengalami fluktuasi pemakaian tiap jamnya. Dalam menentukan faktor jam puncak di tiap wilayah membutuhankan pemakaian air rata-rata dalam satu hari sehingga didapatkan pemakaian air tertinggi dalam satu hari. Pemakaian air maksimum tersebut dapat menentukan faktor jam puncak atau biasa disebut fjp.

a. Zona Srondol Asri

Dalam menentukan faktor jam puncak di Zona Srondol Asri dapat dilihat pada grafik di gambar 4.

Didapatkan pemakaian tertinggi pada pukul 03.00 wib. Fluktuasi pemakaian air sangat berpengaruh terhadap faktor jam puncak. Pemakaian tiap jam sangat bervariatif dikarenakan kondisi aktivitas penggunaannya dipelanggan pun bervariasi.

Fjp = Q rata-rata jam puncak/ rata-rata pemakaian air (Diambil pemakaian jam 03.00)

= 21,33 m3/ jam / 16,29 m3/ jam

= 1,31

Gambar 4. Grafik Fluktuasi Pemakaian Air Zona Srondol Asri

b. Zona Taman Setyabudi

Dihasilkan pemakaian air tertinggi pada jam 07.00 sebesar 12,66 m3/ jam, maka didapatkan nilai faktor jam puncak pada Taman Setyabudi yaitu 1,49.

Grafik fluktuasi pemakaian air Zona Taman Setyabudi tiap jam sebagai berikut :

Gambar 5. Grafik Fluktuasi Pemakaian Air Zona Taman Setyabudi

c. Zona Banyumanik

Zona Banyumanik menghasilkan pemakaian air tertinggi pada jam 17.00 sebesar 246,36 m3/ jam, Sehingga dihasilkan nilai faktor jam puncak pada Zona Banyumanik yaitu 1,26. Akan tetapi, Q rata- rata tiap jam harus dikurangi lebih dulu dengan nilai kehilangan air. Contoh perhitungan dalam menentukan faktor jam puncak (fjp) sebagai berikut :

Gambar 6. Grafik Fluktuasi Pemakaian Air Zona Banyumanik

4. Faktor Harian Maksimum

Aktivitas Masyarakat yang berbeda setiap hari tentunya mempengaruhi besar pemakaian air dalam satu hari sehingga mengalami fluktuasi pemakaian air harian. Dalam hal ini masing-masing wilayah atau

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00

00.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 06.00 07.00 08.00 09.00 10.00 11.00 12.00 13.00 14.00 15.00 16.00 17.00 18.00 19.00 20.00 21.00 22.00

Q (m3 / jam)

Jam Pemakaian

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00

00.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 06.00 07.00 08.00 09.00 10.00 11.00 12.00 13.00 14.00 15.00 16.00 17.00 18.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00

Q (m3/jam)

Jam Pemakaian

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00

00.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 06.00 07.00 08.00 09.00 10.00 11.00 12.00 13.00 14.00 15.00 16.00 17.00 18.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00

Q (m3/jam)

Jam Pemakaian

(7)

Tersedia online di: http://ejournal Jurnal

meter induk juga mengalami fluktuasi pemakaian air harian.

a. Zona Srondol Asri

Pemakaian air tebesar pada hari Kamis Minggu ke 2 , yaitu sebesar 875,8 m

tetapi, pemakaian air harus dikurangi dengan nilai kehilangan air.

Fhm = Q hari Kamis (Minggu ke 2) / Q rata = 499,2 m3/ hari / 391,0 m3/ hari = 1,28

Gambar 7. Grafik Fluktuasi Harian Pemakaian Air Zona Srondol Asri

b. Zona Taman Setyabudi

Dari data didapatkan pemakaian air rata harian sebesar 204,8 m3/ hari. Pemakaian air tebesar pada hari Kamis di Minggu ke 2 , yaitu

m3/ hari.

faktor harian maksimum dapat ditentukan sebagai berikut :

Fhm = Q hari Kamis (Minggu ke 2) / Q rata

= 167,6 m3/ hari / 161,8 m3/ hari = 1,28

Gambar 8. Grafik Fluktuasi Harian Pemakaian Air Zona Taman Setyabudi

c. Zona Banyumanik

0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0

Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Senin

Q m3/hari

Hari Pemakaian Air

140.0 145.0 150.0 155.0 160.0 165.0 170.0

Q m3/hari

Hari Pemakaian Air

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

meter induk juga mengalami fluktuasi pemakaian air

Pemakaian air tebesar pada hari Kamis Minggu ke 2 , yaitu sebesar 875,8 m3/ hari. Akan tetapi, pemakaian air harus dikurangi dengan nilai

= Q hari Kamis (Minggu ke 2) / Q rata-rata

Fluktuasi Harian Pemakaian

didapatkan pemakaian air rata-rata / hari. Pemakaian air tebesar pada hari Kamis di Minggu ke 2 , yaitu sebesar 212,2 faktor harian maksimum dapat ditentukan

= Q hari Kamis (Minggu ke 2) / Q rata-rata / hari

Fluktuasi Harian Pemakaian Zona Taman Setyabudi

Dari data didapatkan pemakaian air rata sebesar 4.637 m3/ hari. Pemakaian air hari Sabtu ke 2 , yaitu sebesar 5.778 m

Gambar 9. Grafik Fluktuasi Harian Pemakaian Air Zona Banyumanik

faktor harian maksimum dapat ditentukan sebagai berikut :

Fhm = Q hari Sabtu (Minggu ke 2) / Q rata

= 924,5 m3/ hari / 741,9 m

= 1,28

5. Analisis Pemakaian Air Secara Sosial Analisis sosial dilakukan dengan cara menyebarkan quesioner kepada pelanggan PDAM yang tinggal di masing-masing Zona yang dilayani meter induk yang dilakukan pembacaan. Tujuan dari penyebaran quesioner ini untuk mengetahui pemakaian air di wilayah tersebut berdasarkan kegiatan domestik dan non domestik yang dilakuka sehari-hari secara rutin.

5.1 Kuesioner Srondol Asri

Analisis sosial Srondol Asri bertujuan untuk mengetahui besar pemakaian perkapitanya dan mengetahui pola pemakaian air berdasarkan kegiatan yang menggunakan air serta mengetahui tingkat kehilangan air. Kuesioner dianalisis dengan jumlah sample 10% dari populasi yaitu sebesar 41 pelanggan di Zona Srondol Asri.

Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu

Hari Pemakaian Air

Hari Pemakaian Air

0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0 700.0 800.0 900.0 1000.0

Q m3/hari

Hari Pemakaian Air

50.00.0 100.0 150.0 200.0 250.0 300.0 350.0 400.0

10.0 358.0

314.0

112.2

liter / hari

Kegiatan Pemakaian Air

s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan

Dari data didapatkan pemakaian air rata-rata harian Pemakaian air tertebesar pada hari Sabtu ke 2 , yaitu sebesar 5.778 m3/ hari.

Grafik Fluktuasi Harian Pemakaian Banyumanik

faktor harian maksimum dapat ditentukan

= Q hari Sabtu (Minggu ke 2) / Q rata-rata / hari / 741,9 m3/ hari

Analisis Pemakaian Air Secara Sosial Analisis sosial dilakukan dengan cara

epada pelanggan PDAM masing Zona yang dilayani meter induk yang dilakukan pembacaan. Tujuan dari penyebaran quesioner ini untuk mengetahui pemakaian air di wilayah tersebut berdasarkan kegiatan domestik dan non domestik yang dilakukan

Analisis sosial Srondol Asri bertujuan untuk mengetahui besar pemakaian perkapitanya dan mengetahui pola pemakaian air berdasarkan kegiatan yang menggunakan air serta mengetahui tingkat sioner dianalisis dengan jumlah sample 10% dari populasi yaitu sebesar 41 pelanggan

Hari Pemakaian Air

112.2

37.5 11.1 13.7 12.3

Kegiatan Pemakaian Air

(8)

Tersedia online di: http://ejournal Jurnal

Gambar 10. Pemakaian Air Secara Sosial Zona Srondol Asri

5.2 Kuesioner Taman Setyabudi

Analisis sosial Taman Setyabudi bertujuan untuk mengetahui besar

perkapitanya dan mengetahui pola pemakaian air berdasarkan kegiatan yang menggunakan air serta mengetahui tingkat kehilangan air.

Kuesioner dianalisis dengan jumlah sample 10% dari populasi yaitu sebesar 21

di Taman Setyabudi.

Gambar 11. Pemakaian Air Secara Sosial Zona Taman Setyabudi

5.3 Kuesioner Banyumanik

Kuesioner dianalisis dengan jumlah sample 10% dari populasi. Jumlah pelanggan di Zona Banyumanik sebanyak 1.267 pelanggan sehingga jumlah sampel responden yaitu sebesar 120 pelanggan di Banyumanik.

Gambar 12. Pemakaian Air Secara Sosial Zona Banyumanik

6. Hubungan Rasio Non Domestik dan Domestik Terhadap Kebutuhan Air

Dalam penelitian ini memiliki tujuan menganilisis pengaruh Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik terhadap

air, antara lain adalah :

200 4060 10080 120140 160

11.2

142.6 138.2

31.4 46.1

liter/hari

Kegiatan Pemakaian Air

9.4 94.3

144.2

14.3 40.3 200

4060 10080 120 140160

Liter/hari

Kegiatan Pemakaian Air

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

Pemakaian Air Secara Sosial Zona Srondol Asri

Analisis sosial Taman Setyabudi bertujuan untuk mengetahui besar pemakaian perkapitanya dan mengetahui pola pemakaian air berdasarkan kegiatan yang menggunakan air serta mengetahui tingkat kehilangan air.

Kuesioner dianalisis dengan jumlah sample

% dari populasi yaitu sebesar 21 pelanggan

Pemakaian Air Secara Sosial Zona

Kuesioner dianalisis dengan jumlah sample 10% dari populasi. Jumlah pelanggan di Zona Banyumanik sebanyak 1.267 pelanggan sehingga jumlah sampel responden yaitu sebesar 120

Pemakaian Air Secara Sosial Zona

Rasio Non Domestik dan Terhadap Kebutuhan Air Dalam penelitian ini memiliki tujuan

Rasio Kegiatan Non terhadap kebutuhan

6.1. Pengaruh Rasio Non Domestik dan Domestik Terhadap Pemakaian Air perkapita

Gambar 13. Pemakaian Air Perkapita

Dari hasil analisis data pemakaian air per kapita masing-masing meter induk atau DMA menunjukan adanya pengaruh kegiatan Rasio Non Domestik dan Domestik Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik yang rendah menghasilkan pemakaian air rata rata perkapita sebesar 944,6 liter/SR sedangkan untuk Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik

mengalami penurunan sehingga pemakaian air rata-rata perkapita untuk meter induk atau DMA Taman Setyabudi

liter/SR/hari. Pemakaian air rata

meter induk atau DMA Banyumanik menjadi pemakaian air minimum yaitu se

liter/SR/hari. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah pelanggan non domestik yang bervariatif di tiap wilayah. Pelanggan non domestik memiliki pengaruh terhadap kebutuhan air perkapita dikarenakan semakin besar jumlah pelanggan non domestik maka pemakaian air pelanggan non domestik akan semakin turun per pelanggan. Hal ini dibuktikan dari perubahan kebutuhan air non domestik yang semakin menurun seperti pada tabel dibawah ini.

46.1

19.2 10.6 130

Kegiatan Pemakaian Air

40.3

11.4 5.4 6.5

Kegiatan Pemakaian Air

0 200 400 600 800 1000

Srondol Asri Taman Setyabudi 944.6

Pemakaian air perkapita (l/SR/hari)

Wilayah Pelayanan

s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan

Rasio Non Domestik dan Terhadap Pemakaian Air

Pemakaian Air Perkapita

Dari hasil analisis data pemakaian air masing meter induk atau menunjukan adanya pengaruh kegiatan Rasio Non Domestik dan Domestik. Pada Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik yang rendah menghasilkan pemakaian air rata-

944,6 liter/SR/hari, Rasio Kegiatan Non tingkat menengah mengalami penurunan sehingga pemakaian air rata perkapita untuk meter induk atau Taman Setyabudisebesar 744,3 /hari. Pemakaian air rata-rata pada Banyumanik menjadi um yaitu sebesar 574,6 /hari. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah pelanggan non domestik yang bervariatif di tiap wilayah. Pelanggan non domestik memiliki pengaruh terhadap kebutuhan air perkapita dikarenakan semakin besar jumlah pelanggan non domestik maka emakaian air pelanggan non domestik akan semakin turun per pelanggan. Hal ini dibuktikan dari perubahan kebutuhan air non domestik yang semakin menurun seperti pada

Taman Setyabudi

Banyumanik 744.3

574.6

Wilayah Pelayanan

(9)

Tersedia online di: http://ejournal Jurnal

Berdasarkan gambar diatas menunjukan adanya pengaruh

Domestik dan Domestik terhadap kebutuhan air perkapita. Sehingga didapatkan sebuah persamaan linear dengan rumus

6,41x. Persamaan ini untuk menentukan besar kebutuhan air perkapita dengan cara sibtusikan variabel x dengan nilai rasio non domestik di suatu zona maka akan dihasilkannya nilai besar kebutuhan air perkapita suatu Zona DMA.

6.2. Pengaruh Rasio Non Domestik dan Domestik Terhadap Faktor Jam Puncak

Gambar 15. Faktor Jam Puncak

Grafik diatas menunjukan adanya perubahan arah kenaikan faktor jam puncak di wilayah pelayanan Banyumanik. Wilayah pelayanan Srondol Asri memiliki faktor jam puncak sebesar 1,31, selanjutnya untuk wilayah dengan Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik rendah mengalami kenaikan faktor jam puncak yang signifikan sekitar 1,49 untuk meter induk atau Perumahan Taman Setyabudi. Akan tetapi terjadi penurunan nilai faktor jam puncak di wilayah Banyumanik dengan nilai faktor jam puncak sebesar 1,26.

Berdasarkan gambar menunjukan tidak adanya hubungan atau pengaruh Kegiatan Non Domestik dan Domestik terhadap faktor jam puncak. Hal ini disebabkan adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi pola pemakaian air seperti

1.1 1.15 1.2 1.25 1.3 1.35 1.4 1.45 1.5

Srondol Asri Taman Setyabudi 1.31

1.49

Faktor Jam Puncak

Wilayah Pelayanan

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

Berdasarkan gambar diatas menunjukan adanya pengaruh Rasio Non terhadap kebutuhan air perkapita. Sehingga didapatkan sebuah an linear dengan rumus y = -355,93 + Persamaan ini untuk menentukan besar kebutuhan air perkapita dengan cara sibtusikan variabel x dengan nilai rasio non domestik di suatu zona maka akan dihasilkannya nilai besar kebutuhan air

Rasio Non Domestik dan Terhadap Faktor Jam Puncak

Faktor Jam Puncak

Grafik diatas menunjukan adanya perubahan arah kenaikan faktor jam puncak di wilayah pelayanan Banyumanik. Wilayah pelayanan Srondol Asri memiliki faktor jam puncak sebesar 1,31, selanjutnya untuk Rasio Kegiatan Non rendah mengalami kenaikan faktor jam puncak yang signifikan sekitar 1,49 untuk meter induk atau DMA Perumahan Taman Setyabudi. Akan tetapi terjadi penurunan nilai faktor jam puncak di nik dengan nilai faktor jam menunjukan tidak adanya hubungan atau pengaruh Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik terhadap faktor jam puncak. Hal ini faktor lain yang akaian air seperti

waktu pengaliran atau kontinuitas aliran dan tingkat kehilangan air.

6.3. Pengaruh Rasio Non Domestik dan Domestik Terhadap Faktor Harian Maksimum

Gambar 16. Faktor Harian Maksimum Pada gambar menunjukan adanya perubahan kenaikan faktor harian maksimum yang kurang stabil. Wilayah perumahan Srondol Asri memiliki nilai faktor harian maksimum yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai faktor harian maksimum wilayah Taman Setyabudi yaitu sekitar 1

faktor harian maksimum Taman Setyabudi sebesar 1.04. Sedangkan, pada tingkat Kegiatan Non Domestik dan Domestik tinggi mengalami kenaikan sehingga menjadi 1.26 untuk wilayah Banyumanik. Hal menunjukan belum terlihat adanya pengaruh atau hubungan antara Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik

harian maksimum. Nilai faktor harian maksimum yang fluktuatif ini terlihat dipengaruhi faktor lain seperti waktu pengaliran atau kontinuitas aliran dan tingkat kehilangan air serta kondisi masyarakat yang dilayani.

Taman Setyabudi Banyumanik 1.49

1.26

Wilayah Pelayanan

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4

Srondol Asri Taman Setyabudi 1.28

Faktor Harian Maksimum

Wilayah Pelayanan

s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan

waktu pengaliran atau kontinuitas aliran dan

Rasio Non Domestik dan Terhadap Faktor Harian

Faktor Harian Maksimum menunjukan adanya perubahan kenaikan faktor harian maksimum yang kurang stabil. Wilayah perumahan Srondol Asri memiliki nilai faktor harian maksimum yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai faktor harian maksimum wilayah Taman Setyabudi yaitu sekitar 1,28 dan nilai faktor harian maksimum Taman Setyabudi sebesar 1.04. Sedangkan, pada tingkat Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik yang tinggi mengalami kenaikan sehingga menjadi 1.26 untuk wilayah Banyumanik. Hal menunjukan belum terlihat adanya pengaruh Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik terhadap faktor harian maksimum. Nilai faktor harian maksimum yang fluktuatif ini terlihat dipengaruhi faktor lain seperti waktu pengaliran atau kontinuitas aliran dan tingkat rta kondisi masyarakat yang

Taman Setyabudi

Banyumanik 1.04

1.25

Wilayah Pelayanan

(10)

Tersedia online di: http://ejournal Jurnal

6.4. Pengaruh Rasio Non Domestik dan Domestik Terhadap Kehilangan Air

Kehilangan air dalam perencanaan menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan agar dalam merencanakan besar kebutuhan air suatu daerah terpenuhi dengan baik. Nilai kehilangan air ditiap wilayah pastilah berbeda dikarenakan tiap daerah memiliki kebiasaan yang berbeda pula dalam pemakaian airnya.

Dari hasil yang didapatkan bahwa Rasio Non Domestik dan Domestik memiliki pengaruh terhadap kehilangan air, dikarenakan setiap daerah memiliki ciri masyarakat yang berbeda dan masalah lingkungan yang berbeda pula. Hal tersebut diperkuat dengan adanya literatur dari

2. SARAN

a. Penelitian ini adalah studi awal dalam menentukan standar dalam menganalisis kebutuhan air dalam perencanaan Sistem Penyediaan Air Minum. Dari hasil analisis ini disarakan untuk dilakukan tahap berikutnya yaitu tahap Perencanaan dan Desain, yang didalamnya terdapat perhitungan detail engineering desain dan anggaran biaya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Layla dan M. Anis, 1980. Water Supply Engineering Design, 3rd Edition

Science Publishers, Inc. Michigan, USA.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI

Rineka Cipta. Jakarta

Babbit, Harold E. 1967. Water Supply Engineering 6th Edition. McGraw-Hill Book Company.

USA

0%

50%

100%

Srondol Asri Taman Setyabudi

Banyumanik 43%

21%

Kehilangan Air

Wilayah Pelayanan

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

Rasio Non Domestik dan Terhadap Kehilangan Air

Kehilangan air dalam perencanaan menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan agar dalam merencanakan besar kebutuhan air suatu daerah dapat terpenuhi dengan baik. Nilai kehilangan air ditiap wilayah pastilah berbeda dikarenakan tiap daerah memiliki kebiasaan yang berbeda Dari hasil yang didapatkan bahwa Rasio Non Domestik dan Domestik tidak memiliki pengaruh terhadap kehilangan air, dikarenakan setiap daerah memiliki ciri-ciri masyarakat yang berbeda dan masalah lingkungan yang berbeda pula. Hal tersebut diperkuat dengan adanya literatur dari

(Sasongko, 1991) yang menyatakan penggunaan air dipengaruhi ciri

dan masalah lingkungan. Selain itu, (Goh, 2003) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa kehilangan air disebabkan kebocoran pipa, kerusakan meteran air, pengananan yang lambat, dan pengerjaan perbaikan. Menurut (Goh, 2003) juga menyatakan di beberapa negara berkembang, kehilangan air yang terjadi dengan tingkat yang cukup tinggi sekitar 30 – 60 % dalam pendistribusiannya.

PENUTUP 1. KESIMPULAN

Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebegai berikut :

a. Rasio Kegiatan Non Domestik

yang terpilih di Wilayah PDAM Cabang Selatan Kota Semarang, antara lain m

Asri 0,005 meter induk Taman Setyabudi 0,049 dan meter induk Banyumanik 0,075

b. Terdapat pengaruh rasio kegiatan D

kebutuhan air, seperti pemakaian air perkapita.

Akan tetapi belum ada pengaruh yang signifikan terhadap faktor jam puncak dan faktor harian maksimum serta kehilangan air.

Penelitian ini adalah studi awal dalam menentukan standar dalam menganalisis kebutuhan air dalam perencanaan Sistem Penyediaan Air Minum. Dari hasil analisis ini disarakan untuk dilakukan tahap berikutnya yaitu tahap Perencanaan dan Desain, yang didalamnya terdapat perhitungan detail engineering desain dan anggaran biaya.

b. PDAM Tierta Moedal Kota Semarang sebaiknya melakukan kajian kehilangan air secara berkala dan melakukan pengisolasi jaringan kembali, berupa pendataan ulang jaringan yang terisolasi khususnya PDAM Cabang Selatan.

Water Supply Edition. Ann Arbor Science Publishers, Inc. Michigan, USA.

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI. Penerbit

er Supply Engineering Hill Book Company.

Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. 2009. Pedoman Penurunan Air Tak Berekening (Non Revenue Water) Pokok dan Fungsi BPPPSPAM No. 295 Tahun 2005. Studio BPPSPAM. J

Ditjen Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum 1996. Kriteria Perencanaan Air Bersih Jakarta

Ibnu, Hariyanti. Ir. 1997. Rekayasa Lingkungan Universitas Gunadarma. Jakarta.

Banyumanik 84%

Wilayah Pelayanan

s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan

(Sasongko, 1991) yang menyatakan air dipengaruhi ciri-ciri penduduk dan masalah lingkungan. Selain itu, (Goh, 2003) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa kehilangan air disebabkan kebocoran pipa, kerusakan meteran air, pengananan yang lambat, dan pengerjaan perbaikan. Menurut juga menyatakan di beberapa negara berkembang, kehilangan air yang terjadi dengan tingkat yang cukup tinggi

60 % dalam pendistribusiannya.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebegai Rasio Kegiatan Non Domestik dan Domestik yang terpilih di Wilayah PDAM Cabang Selatan Kota Semarang, antara lain meter induk Srondol duk Taman Setyabudi 0,049, er induk Banyumanik 0,075.

Terdapat pengaruh rasio kegiatan D/ND terhadap kebutuhan air, seperti pemakaian air perkapita.

Akan tetapi belum ada pengaruh yang signifikan terhadap faktor jam puncak dan faktor harian

serta kehilangan air..

ta Moedal Kota Semarang sebaiknya melakukan kajian kehilangan air secara berkala dan melakukan pengisolasi jaringan kembali, berupa pendataan ulang jaringan yang terisolasi khususnya PDAM

Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Pedoman Penurunan Air Tak Berekening (Non Revenue Water). Tugas Pokok dan Fungsi BPPPSPAM No. 295 Tahun 2005. Studio BPPSPAM. Jakarta.

Ditjen Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Tahun Kriteria Perencanaan Air Bersih.

. Rekayasa Lingkungan.

Universitas Gunadarma. Jakarta.

(11)

Tersedia online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 3 (2015)

Goh, Kim Chuan. 2003. Water Supply In Singapore : Challenges and Choice. Greener Management International. Summer 2003:42.

Kamala, A dan D.L Kanth Rao. 1993. Environmental Engineering Water Supply, Sanitary Engineering and Pollution. McGraw-Hill.

New Delhi.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907 Tahun 2002. Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Jakarta.

Mays, Larry W. 2000. Water Distribution Systems Handbook. American Water Works Association. McGraw-Hill Companies. USA Hidayat, Ibnu Noor. 2010. Analisis Kebutuhan Air

Berdasarkan Unit Pemakaian Air. Skripsi.

Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro. Semarang.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2007 Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Jakarta

Prasifka, David W. 1998. Current Trend in Water- Supply Planning. Van Nostrad Reinhold Company. New York.

Sasongko, Djoko. Ir. 1991. Teknik Sumber Daya Air Edisi ke-3. Erlangga. Jakarta.

Sekaran, umar. 2006. Metode Penelitian Bisnis.

Salemba Empat. Jakarta

Steel, EW. Terence J. McGhee. 1990. Water Supply and Sewerage. McGraw-Hill Book Co.

Singapore.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung.

Sukamardijaya, Harun., Richardus Harjoko, Soepangat Soemarto, Soetiman, M. Masduki HS, Benny Chatib, dan Munsir Arfandy. 1994.

Draft Guidelines For Design And Construction of Public Water Supply Systems.

Institiut Teknologi Bandung. Bandung.

Syahputra, Benny. 2000. Penentuan Faktor Jam Puncak dan Harian Maksimum Terhadap Pola Pemakaian Air Domestik Di Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Universitas Islam Sultan Agung. Semarang.

Sumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Beta.

Jakarta.

Supranto, J. 2008. Statistik : Teori dan Aplikasi Edisi Ketujuh. Erlangga. Jakarta.

Swamsee,P.K dan Sharma, A.K. 1990.

Reorganization of water distribusion on system. John Wiley & Sons, Inc. New Jersey.

Twort, Alan C., Don D. Ratnayaka, dan Malcom J.

Brandt. 2000. Water Supply 5th Edition.

Elsevier Ltd. USA.

Qasim, Syed R. 2000. Water Works Engineering Planning, Design , and Operation. Chiang, Patel & Yerby, Inc. Dallas. Texas.

Viesman, Warren JR., Mark J Hammer, Elizabeth M Perez, dan Paul A Chadik. 2009. Water Supply and Pollution Control (Eight Edition).

Pearson Education. New Jersey.

Referensi

Dokumen terkait

Reverse engineering pada blok silinder dan comp- head dilakukan untuk mengetahui bentuk dan ukuran actual dari part tersebut dengan membuat 3D surface or solid menggunakan

Pulau kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km² (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya. Daerah tertentu adalah daerah

Fase pertama Inisialisasi Sumber Makanan dijelaskan melalui Tabel 2.13 berikut yang merupakan hasil dari persamaan (1)

Dan yang kusesali adalah aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi.. Kalau aku

Pilih Unit kemudian pilih program dari Rancangan Awal renja yang akan di-load lalu klik tombol Load data dari Ranwal

Sekarang kita akan menambahkan CSS pada halaman HTML kita untuk memperindah tampilan form.. Sebagian besar CSS posisi form dan status messages di tengah jendela, dan form style

10) SKAI atau Pejabat Eksekutif yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan fungsi audit intern telah menyampaikan laporan pelaksanaan audit intern kepada Direktur Utama dan