DETERMINAN PENAWARAN TENAGA KERJA USIA MUDA DI KOTA MAKASSAR
DETERMINANTS OF YOUNG AGE LABOR SUPPLY IN MAKASSAR
ISTIANA AMINUDDIN P0400214007
PROGRAM STUDI EKONOMI SUMBER DAYA PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS HASANUDIN 2017
DETERMINAN PENAWARAN TENAGA KERJA USIA MUDA DI KOTA MAKASSAR
DETERMINANTS OF YOUNG AGE LABOR SUPPLY IN MAKASSAR
Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Magister
Program Studi Ekonomi Sumber Daya
Disusun dan Diajukan Oleh
ISTIANA AMINUDDIN P0400214007
PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS HASANUDIN
MAKASSAR 2017
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Istiana Aminuddin
Nomo Mahasiswa : P0400214007
Program Studi : Ekonomi Sumber Daya
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar- benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, Agustus 2017 Yang menyatakan,
Istiana Aminuddin
i KATA PENGANTAR
Alhamdulillah wa syukurillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Sang Maha Penguasa atas segala yang terjadi di muka bumi ini, Sang Maha Pengatur yang bijaksana atas kehidupan setiap hamba Nya, yang telah memberi berkah dan rahmat untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini. Serta salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi tuntunan terbaik untuk keselamatan dunia dan akhirat.
Melalui tesis ini penulis mengangkat masalah mengenai penawaran tenaga kerja usia muda berdasarkan data yang menunjukkan cukup banyak anak usia sekolah khususnya lulusan Sekolah Menengah Pertama yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena faktor kemiskinan yang masih melanda sebagian besar rumah tangga di Kota Makassar sebagai lokasi penelitian penulis. Tentunya masalah ini sangat memprihatinkan mengingat para pekerja usia muda tersebut tidak dapat melanjutkan pendidikan.
Tesis yang berjudul “Determinan Penawaran Tenaga Kerja Usia Muda di Kota Makassar” menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar yang merupakan kota terpadat penduduknya di Provinsi Sulawesi Selatan dengan kegiatan ekonomi yang paling sibuk sehingga menarik banyak tenaga kerja usia muda untuk ikut berpartisipasi dengan mengenyampingkan pendidikan. Penulis bermaksud untuk mengetahui
ii determinan tenaga kerja usia muda yang dalam hal ini adalah tenaga kerja tamatan SLTP atau SLTA yang berada pada usia 15-24 tahun yang sedang bekerja karena berbagai alasan.
Penulis memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyelesaian dan perampungan tesis ini. Dalam proses penyelesaian tesis ini, penulis tak dapat menafikkan segala halangan dan rintangan.
Namun, berkat bantuan dari berbagai pihak, penulis mampu menyelesaikan ujian-ujian tersebut.
Untuk itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Kepada Bapak Dr. H. Madris, DPS., SE., M.Si sebagai ketua Komisi Penasihat dan Bapak Dr. Sanusi Fattah, SE,. M.Si sebagai anggota Komisi Penasihat atas segala bimbingan, arahan,dan kritikan yang membangun yang diberikan dalam menyelesaikan tesis ini. Untuk itu penulis dengan tulus mengucapkan banyak terima kasih.
2. Kepada Bapak Dr. Anas Iswanto Anwar, SE., MA sebagai Ketua Program Studi Ekonomi Sumber Daya PPs UNHAS penulis mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang penulis terima selama mengikuti program S2. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen yang pernah mengajar penulis selama menempuh pendidikan di program S2 ini, serta kepada seluruh tim penguji yaitu Ibu Prof. Hj. Rahmatia, SE., MA., Ibu Dr.
iii Fatmawati, SE., M.Si, dan Bapak Dr. Sabir, SE., M.Si yang telah meluangkan waktu dalam meneliti keabsahan dan memberikan kritik serta saran yang sangat berguna atas penyempurnaan tesis ini.
3. Kepada dua orang terhebat yang penulis miliki, Bapak dan Ibu penulis (Drs. Aminuddin, M.Si dan Dra. Hj Maryam). The everything of my life. Tidak ada satu kata pun yang bisa merepresentasekan
rasa terima kasih, sayang, cinta dan bangganya penulis untuk kalian berdua. Semoga kebahagiaan dunia akhirat ditujukan untuk kalian.
4. Kepada adik-adik penulis, Annisahrawani Am, Trialivia Aminuddin, dan Muhammad Ihza Fauzan Am. Kalian harta penulis yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Semoga kalian sukses dengan karir dan pendidikan yang sedang kalian tempuh. Jadilah kebanggakan ibu dan bapak. Doaku selalu menyertai kalian.
5. Kepada keluarga besar H. Abdul Azis dan keluarga besar Halib.
sejauh apapun penulis melangkah, tidak akan sukses tanpa doa dari kalian, keluarga yang selalu penulis rindukan, menjadi tempat pulang paling indah.
6. Kepada teman-teman sejurusan di Pasca Sarjana ekonomi sumber daya FEB UH 2014 yang sangat kompak dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah dan selalu membantu penulis selama masa perkuliahan hingga penyusunan tesis ini. Kepada Kak Indah, Kak
iv Esti, Mughni, Kak Ahmad, Kak Djuanda, Kak Syamsul, Hendy, Kak Nanang dan teman-teman sejurusan.
7. Kepada teman-teman penulis yang telah menemani penulis selama penyusunan tesis ini. Semua teman-teman yang membantu menyebar kuesioner penelitian, yang sekedar menanyakan perkembangan tesis penulis, dan turut membantu memberikan ide, saran, kritikan, terima kasih yang sebesar-besarnya penulis haturkan.
8. Dan terakhir, kepada Hadi Kusuma Ningrat, semoga menjadi teman hidup yang disiapkan Allah SWT untuk penulis hingga akhir hayat.
Insha Allah.
Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih terdapat kekurangan dan keterbatasan yang penulis tidak sadari keberadaannya. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan karya ini. Akhir kata, semoga tesis ini member manfaat bagi khalayak yang membutuhkan.
Sekian dan terima kasih. Wassalam.
Makassar, Agustus 2017
Penulis
v DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN SAMPUL I
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
ABSTRAK xiv
ABSTRACT xv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 12
C. Tujuan Penelitian 12
D. Manfaat Penelitian 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoretis 14
1. Teori tentang Ketenagakerjaan 14
2. Teori tentang Kesempatan Kerja 16 3. Teori tentang Penawaran Tenaga Kerja 17 4. Teori tentang Tenaga Kerja Usia Muda 20 5. Keterkaitan teoritis dengan Variabel Penelitian 21 5.1 Hubungan antara Upah dengan Penawaran 21
Tenaga Kerja Usia Muda
5.2 Hubungan antara Non Labor Income dengan 23 Penawaran Tenaga Kerja Usia Muda
5.3 Hubungan antara Beban Tanggungan Rumah 24 Tangga dengan Penawaran Tenaga Kerja Usia Muda
vi 5.4 Hubungan antara Status Migran Orang Tua 25
Dengan Penawaran Tenaga Kerja Usia Muda
5.5 Hubungan Jenis Pekerjaan dengan Penawaran 26 Tenaga Kerja Usia Muda
5.6 Hubungan Jenis Kelamin dengan Penawaran 27 Tenaga Kerja Usia Muda
B. Studi Empiris Terkait Sebelumnya 28
C. Kerangka Konseptual Penelitian 30
D. Hipotesis 33
BAB III METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian 35
B. Jenis dan Sumber Data 35
C. Populasi dan Sampel 36
D. Metode Analisis 37
E. Defenisi Operasional 40
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Kondisi Umum Daerah Penelitian 42
B. Kondisi Umum Ketenagakerjaan 45
1. Perkembangan Angkatan Kerja 48
2. Perkembangan Tenaga Kerja Usia Muda Di Kota 49 Makassar
3. Perkembangan Upah Minimum Di Provinsi Sulawesi 51 Selatan
C. Deskripsi Hasil Penelitian 52
1. Responden Menurut Jam Kerja Per Minggu 52
2. Responden Menurut Upah 53
3. Responden Menurut Non Labor Income 56 4. Responden Menurut Beban Ekonomi Rumah Tangga 58 5. Responden Menurut Status Migran Orang Tua 60 6. Responden Menurut Jenis Pekerjaan 62 7. Responden Menurut Jenis Kelamin 64
vii D. Hasil Estimasi Determinan Penawaran Tenaga Kerja Usia 67
Muda di Kota Makassar
E. Pembahasan Hasil Estimasi Determinan Penawaran 73 Tenaga Kerja Usia Muda di Kota Makassar
1. Upah 73
2. Non Labor Income 79
3. Beban Ekonomi Rumah Tangga 82
4. Status Migran Orang Tua 85
5. Jenis Pekerjaan 87
6. Jenis Kelamin 89
BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan 93
B. Saran 94
DAFTAR PUSTAKA 97
viii DAFTAR TABEL
Hal Tabel 1.1 Partisipasi Angkatan Kerja Dalam Kegiatan Ekonomi 6
Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan Di Kota Makassar, 2015
Tabel 1.2 Distribusi Presentase Pekerja Menurut Kelompok Umur 8 Kota Makassar Tahun 2015
Tabel 1.3 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang 9 Bekerja Selama Seminggu Yang Lalu Menurut Jumlah Jam Kerja Seluruhnya dan Jenis Kelamin Di Kota Makassar Tahun 2015
Tabel 1.4 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang 11 Bekerja Selama Seminggu Yang Lalu Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Di Kota Makassar Tahun 2015
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk 43 Menurut Kecamatan di Kota Makassar Tahun 2013-2015 Tabel 4.2 Presentase Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas 46
Menurut Jenis Kegiatan Selama Seminggu Yang Lalu Dan Jenis Kelamin di Kota Makassar Tahun 2015
Tabel 4.3 Perkembangan Angkatan kerja Sulawesi Selatan Tahun 49 2006-2015
Tabel 4.4 Perkembangan Upah Minimum Provinsi Sulawesi 51
ix Selatan Tahun 2010-2015
Tabel 4.5 Distribusi Responden Menurut Jumlah Jam Kerja Per 53 Minggu
Tabel 4.6 Distribusi Responden Menurut Upah 54 Tabel 4.7 Distribusi Responden Menurut Upah dan Jam Kerja 55
Tenaga Kerja Usia Muda Di Kota Makassar
Tabel 4.8 Distribusi Responden Menurut Non Labor Income 56 Tabel 4.9 Distribusi Responden Menurut Non Labor Income dan 57
Jam Kerja Tenaga Kerja Usia Muda
Tabel 4.10 Distribusi Responden Menurut Beban Ekonomi Rumah 58 Tangga
Tabel 4.11 Distribusi Responden Menurut Jam Kerja dan Beban 59 Ekonomi Rumah Tangga
Tabel 4.12 Distribusi Responden Menurut Status Migran Orang Tua 61 Tabel 4.13 Distribusi Responden Menurut Jam Kerja dan Status 62
Migran Orang Tua
Tabel 4.14 Distribusi Responden Menurut Jenis Pekerjaan 63 Tabel 4.15 Distribusi Responden Menurut Jam Kerja dan Jenis 64
Pekerjaan
Tabel 4.16 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin 65 Tabel 4.17 Distribusi Responden Menurut Jam Kerja dam Jenis 66
Kelamin
Tabel 4.18 Hasil Analisis Penawaran Tenaga Kerja Usia Muda 69
x Di Kota Makassar Menggunakan Pengujian Model
Regresi Linear Berganda
xi DAFTAR GAMBAR
Hal Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian 32
xii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian
Lampiran 2 Hasil Rekap Data Responden
Lampiran 3 Hasil Estimasi Software SPSS 22 For Windows
xiii ABSTRAK
ISTIANA AMINUDDIN. Determinan Penawaran Tenaga Kerja Usia Muda di Kota Makassar (dibimbing oleh Madris dan Sanusi Fattah).
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dari upah, non labor income, beban ekonomi rumah tangga, status migran orang tua, jenis pekerjaan, dan jenis kelamin terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
Penelitian ini menggunakan data primer 2016. Metode pengambilan sampel secara purposif untuk memperoleh 150 responden.
Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa upah, beban ekonomi rumah tangga, status migran orang tua, dan jenis pekerjaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar. Sementara non labor income dan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
Kata Kunci : Upah, non labor income, beban ekonomi rumah tangga, status migran orang tua, penawaran tenaga kerja usia muda
xiv ABSTRACT
ISTIANA AMINUDDIN. Determinants of Young Age Labor Supply in Makassar (supervised by Madris and Sanusi Fattah)
This study aimed to determine the effects of wage, non-labor income, household economic burden, parental migrant status, type of work, and gender of young age labor supply in Makassar.
This research used primary data of 2016. The samples were chosen using the purposive sampling technique in order to obtain 150 respondents. The method of analysis used was the multiple linear regression analysis.
The research results indicated that the wage, household economic burden, parental migrant status, and type of work had a positive and significant effect on young age labor supply in Makassar. Meanwhile, the non-labor income and gender had no effect on young age labor supply in Makassar.
Keywords : wage, non-labor income, household economic burden, parental migrant status, young age labor supply
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Salah satu persoalan terbesar dalam masyarakat, khususnya di Negara sedang berkembang seperti Indonesia, adalah kemiskinan.
Persoalan kemiskinan mendorong pekerja usia muda memasuki pasar kerja. Pekerja usia muda merupakan modal manusia yang dimiliki rumah tangga miskin. Untuk menambah penghasilan rumah tangga, anak lah yang menjadi sasaran untuk dilibatkan dalam pasar kerja. Kemiskinan menyebabkan ketidakmampuan pekerja usia muda ini membeli leasure time untuk bersekolah dan menikmati masa muda.
Masalah ketenagakerjaan merupakan masalah umum yang dihadapi oleh setiap Negara baik Negara maju terlebih Negara sedang berkembang. Masalah ketenagakerjaan tentunya tidak lepas dari masalah-masalah mengenai angkatan kerja dan penganguran, tingkat upah, serta masalah produktivitas tenaga kerja (Todaro, 2000).
Tenaga kerja merupakan faktor yang penting dalam proses produksi, sebagai sarana produksi tenaga kerja lebih penting dari pada sarana produksi yang lain seperti bahan mentah, tanah, air, dan sebagainya. Karena manusialah yang menggerakkan faktor produksi tersebut untuk menghasilkan barang. Penyediaan tenaga kerjapun sifatnya terbatas karena tidak semua penduduk merupakan tenaga kerja, hanya penduduk yang telah mencapai umur minimum tertentu baru bisa
2 dianggap sebagai tenaga kerja potensial atau angkatan kerja. Itupun tidak semua angkatan kerja terlibat dalam kegiatan ekonomi karena yang terlibat dalam kegiatan ekonomi hanyalah mereka yang bekerja.
Permasalahan dari ketenagakerjaan yaitu mengenai penawaran tenaga kerja yang merupakan gambaran pasar tenaga kerja dan peningkatan tenaga kerja yang akan terserap dalam dunia kerja. Seperti pasar lainnya, pasar tenaga kerja dalam perekonomian dikendalikan oleh kekuatan penawaran dan permintaan. Namun pasar tenaga kerja berbeda dari sebagian besar pasar lainnya karena permintaan tenaga kerja merupakan tenaga kerja turunan (derived demand) dimana permintaan akan tenaga kerja sangat tergantung dari permintaan akan output yang dihasilkannya (Mankiw, 2007).
Penduduk yang bekerja dapat dibedakan menurut kelompok umur.
Tujuannya adalah untuk melihat kontribusi pekerja usia muda, pekerja usia produktif dan pekerja usia tua dalam pasar tenaga kerja. Idealnya, mayoritas penduduk yang bekerja dalam pasar tenaga kerja berusia produktif yang berusia 15 hingga 64 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan penduduk usia muda dan penduduk usia lanjut dapat turut andil dalam pasar tenaga kerja. Hal ini antara lain disebabkan adanya rasa tanggung jawab untuk mencari nafkah, membantu ekonomi rumah tangga atau keluarga, adanya kebutuhan akan sosialisasi, kondisi rumah tangga yang miskin, adanya kesempatan kerja dan pengakuan dari masyarakat.
3 Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan salah satu indikator penting dalam kegiatan perekonomian karena indikator ini bisa menjadi ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkat persediaan tenaga kerja sehingga mempunyai arti penting bagi keperluan perencanaan pembangunan khususnya di bidang ketenagakerjaan baik secara regional maupun nasional. TPAK penduduk usia muda biasanya rendah karena pada masa-masa tersebut umumnya mereka masih bersekolah dan merasa belum mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah.
Akan tetapi jika kita melihat kondisi saat ini tidak sedikit penduduk usia muda yaitu penduduk yang berumur 15 hingga 24 tahun meninggalkan sekolah untuk bekerja. Keterlibatan penduduk usia muda dalam kegiatan perekonomian tidak terlepas dari kondisi ekonomi rumah tangga yang termasuk ke dalam kategori penduduk miskin. Oleh karena itu, penduduk usia muda tersebut harus bekerja keras untuk memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangganya agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam banyak kasus, walaupun telah bekerja dengan jam kerja yang relatif panjang, pendapatan yang diperoleh sebagian besar penduduk tersebut masih relatif rendah. Agar tetap bisa bertahan hidup, rumah tangga miskin berusaha mengerahkan seluruh tenaga yang ada untuk mencari nafkah walaupun tenaga tambahan tersebut adalah anak mereka yang masih dalam usia sekolah.
4 Selain persoalan di atas, pendidikan juga merupakan hal yang mempengaruhi penambahan atau perubahan jam kerja pada tenaga kerja terutama yang berusia muda. Bagi kebanyakan keluarga,pendidikan merupakan investasi karena dianggap bahwa mereka yang mempunyai pendidikan yang tinggi mempunyai harapan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Semakin tinggi pendidikan akan semakin baik pula pekerjaan yang diperoleh sehingga upah yang didapatkan juga semakin tinggi.
Hal ini berarti terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan upah, begitupun pendidikan dengan penawaran tenaga kerja usia muda. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang diperlukan untuk pengembangan diri. Semakin tinggi tingkat pendidikan menyebabkan semakin mudah menerima serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi, sehingga akan meningkatkan produktivitas untuk mendapatkan upah layak yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pengaruh tingkat pendidikan terhadap jam kerja penduduk usia muda cukup besar. Hal ini menggambarkan bahwa upah yang akan diterima oleh pekerja sangat tergantung dari mutu modal manusia yang dimiliki pekerja tersebut. Semakin tinggi atau baik mutu modal manusia yang dimiliki pekerja, produktivitasnya semakin tinggi, maka upah atau pendapatan atau balas jasa yang pekerja tersebut terima dari hasil pekerjaannya juga semakin besar.
5 Fenomena penduduk usia muda yang ikut serta dalam kegiatan ekonomi baik yang memperoleh upah maupun tidak, sebenarnya bukanlah suatu hal baru, bahkan pekerja usia muda ini sebenarnya merupakan persoalan klasik. Semakin lama semakin banyak pekerja usia muda yang terpaksa bekerja, baik yang terlibat langsung secara ekonomi di pasar kerja maupun yang membantu orang tua untuk menambah pendapatan rumah tangga.
Berbagai pekerjaan digeluti oleh anak yang bersekolah, putus sekolah, bahkan ada yang tidak sempat bersekolah. Padahal pada usia anak kebutuhan yang seharusnya dipenuhi oleh mereka adalah mendapatkan pendidikan. Sayangnya, dikarenakan faktor kemiskinan mereka terpaksa bekerja. Meskipun ada beberapa anak yang mengatakan ingin bekerja karena bisa memiliki penghasilan sendiri, bayarannya yang menarik atau karena anak tersebut tidak suka sekolah. Hal tersebut tetap merupakan hal yang tidak diinginkan karena tidak menjamin masa depan anak tersebut.
Hal tersebut di atas didukung oleh data yang dikeluarkan BPS Kota Makassar terkait fenomena keikutsertaan angkatan kerja muda dalam bekerja berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan serta jenis kegiatannya.
Berdasarkan Tabel 1.1 diperoleh bahwa jumlah anak yang menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang masuk dalam angkatan kerja sebesar 67.423 orang dan yang berstatus
6 bekerja sebesar 65.998 orang. Angka ini tentu merupakan angka yang cukup besar jika dilihat dari peraturan pemerintah wajib belajar selama 12 tahun yang mengharuskan anak bersekolah hingga tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) sehingga dianggap sudah bisa masuk dalam pasar tenaga kerja. Namun pada kenyataannya, penduduk usia muda ini seharusnya melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA tetapi memutuskan untuk bekerja. Serta sebesar 157.647 anak dari lulusan SMA juga memutuskan bekerja dengan kemampuan dan skill yang belum memadai dibandingkan dengan lulusan diploma dan sarjana.
Tabel 1.1
Partisipasi Angkatan Kerja Dalam Kegiatan Ekonomi
Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan di Kota Makassar, 2015
Tingkat Pendidikan Angkatan
Kerja Bekerja
Tingkat Penyerapan
Angkatan Kerja Tidak/Belum Pernah
Sekolah
7.337 7.337 1,00
Tidak/Belum Tamat SD 21.312 21.312 1,00
Sekolah Dasar 60.679 58.761 0,97
Sekolah Menengah Pertama
67.423 65.998 0,98 Sekolah Menengah Atas 188.108 157.647 0,84 Sekolah Menengah Atas
Kejuruan
51.101 35.381 0,69 Diploma/I/II/III/Akademi 28.026 27.448 0,98
Universitas 169.174 147.970 0,87
Jumlah 593.160 521.854 0,88
Sumber: BPS Kota Makassar, diolah.
Menurut Mulyadi (2008) munculnya anak yang bekerja merupakan masalah sosial ekonomi yang cukup memprihatinkan, karenda idealnya
7 usia 15 tahun mereka seharusnya hanya menimba ilmu pengetahuan dan tidak terbebani mencari nafkah. Tetapi malah sebaliknya, banyak penduduk usia muda yang terputus sekolahnya karena bekerja. Pekerja usia muda merupakan suatu fenomena yang sudah kompleks dan berlangsung lama terutama di Negara berkembang termasuk di Indonesia.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kondisi anak itu sendiri, latar belakang keluarganya atau pengaruh orang tua, serta kondisi ekonomi dan budaya.
Menurut Darwin (2006), ada beberapa hal yang mempengaruhi penduduk usia muda bekerja, yakni kemiskinan, pendidikan, dan penetrasi pasar. Salah satu penyebab utama penduduk usia muda terpaksa bekerja adalah kemiskinan. Pada keluarga miskin, anak merupakan jaminan hidup keluarga. Begitupun pada penelitian yang dilakukan oleh Levine menunjukkan bahwa tujuan mempunyai anak dalam masyarakat miskin lebih bersifat kuantitatif, artinya semakin banyak anak akan semakin kuat jaminan sosial ekonomi keluarga (Levine dalam Irwanto, 1994).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Makassar diperoleh bahwa pada tahun 2015 jumlah tenaga kerja usia muda yakni tenaga kerja berumur 15-24 tahun sebesar 77.478 orang dimana terbagi atas dua kelompok umur yakni sebesar 16.545 orang pada kelompok umur 15-29 tahun dan sebesar 60.933 orang pada kelompok umur 20-24 tahun (Tabel 1.2).
8 Tabel. 1.2
Distribusi Presentase Pekerja Menurut Kelompok Umur Kota Makassar Tahun 2015
Kelompok Umur (Tahun)
Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
(1) (2) (3) (4)
15-19 9.024 7.521 16.545
20-24 32.469 28.464 60.933
25-29 47.130 28.721 75.851
30 ke atas 234.666 133.859 368.525
Jumlah 323.289 198.565 521.854
Sumber: BPS Kota Makassar, diolah.
Penduduk usia muda yang bekerja dengan alasan umur dan keterbatasan kemampuan yang dimiliki, kebanyakan dari mereka bekerja di sektor-sektor informal seperti menggarap lahan keluarga, pedagang asongan, tukang parkir, penjual koran, dan lain sebagainya. Selain itu pekerja usia muda memilih untuk bekerja juga didorong oleh diri sendiri yakni pola pikir praktis mereka yang lebih memilih bekerja dan migrasi ke kota dibanding melanjutkan sekolah. Dengan kondisi tersebut menyebabkan tingkat pendidikannya menjadi rendah. Jika tingkat pendidikan formal penduduk rendah akan berdampak pada keterampilan dan kemampuan penduduk yang rendah sehingga produktivitas akan menjadi rendah yang menyebabkan pendapatan juga rendah.
Apabila penduduk usia muda memilih untuk bersekolah maka akan meningkatkan kualitas dari tenaga kerja usia muda, karena pendidikan mampu untuk menghasilkan tenaga kerja yang bermutu tinggi, mempunyai pola pikir dan cara bertindak yang modern. Itulah sebabnya pendidikan
9 dianggap sebagai sarana untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Pada kelompok tenaga kerja usia muda, tidak terdapat perbedaan pada jam kerja seperti pada kelompok tenaga kerja lainnya seperti pada kelompok tenaga kerja produktif dan tenaga kerja lanjut usia. Seperti yang diketahui bahwa jumlah jam kerja yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada tahun 2017 yakni 40 jam per minggu dimana sebanyak 8 jam kerja per hari untuk 5 hari kerja per minggu dan 7 jam kerja per hari untuk 6 hari kerja per minggu. Adapun data terkait jumlah jam kerja adalah sebagai berikut.
Tabel 1.3
Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu Menurut Jumlah Jam Kerja Seluruhnya dan
Jenis Kelamin di Kota Makassar Tahun 2015
Jumlah Jam Kerja Seluruhnya
(Jam)
Jenis Kelamin
Total Laki-laki Perempuan
1-14 5.698 3.021 8.719
15-34 29.824 28.216 58.040
35+ 285.517 165.162 450.679
Jumlah 323.289 198.565 517.438
Sumber: BPS Kota Makassar.
Pasar tenaga kerja dapat digolongkan menjadi pasar tenaga kerja terdidik dan pasar tenaga kerja tidak terdidik. Kedua bentuk pasar tenaga kerja tersebut berbeda dalam beberapa hal. Pertama, tenaga terdidik pada umumnya mempunyai produktivitas kerja lebih tinggi dari pada yang tidak terdidik. Produktivitas pekerja pada dasarnya tercermin dalam tingkat
10 upah atau penghasilan pekerja, yaitu berbanding lurus dengan tingkat pendidikannya. Kedua, dari segi waktu, ketersediaan tenaga kerja terdidik haruslah melalui proses pendidikan dan pelatihan. Ketiga, dalam proses pengisian lowongan, pengusaha memerlukan lebih banyak waktu untuk menyeleksi tenaga kerja terdidik daripada tenaga kerja tidak terdidik.
penawaran tenaga kerja adalah suatu hubungan antara tingkat upah dengan jumlah tenaga kerja (Simanjuntak, 2005). Jadi dapat dikatakan bahwa meningkatkan mutu pendidikan akan meningkatkan penghasilan individu dan masyarakat yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Artinya pendidikan merupakan investasi di masa depan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki tenaga kerja usia muda sangat berperan penting dalam menentukan dimana mereka akan bekerja. Rendahnya pendidikan yang dimiliki akan menyebabkan jenis pekerjaan yang dikerjakan pekerja usia muda ini hanya seputar sektor dagang atau sektor jasa karena hanya sektor tersebut yang tidak membutuhkan kemampuan khusus bagi pekerjanya.
Seperti yang diketahui bahwa kemampuan atau skill yang dimiliki seseorang berbanding lurus dengan pendidikannya. Semakin rendah pendidikan maka pengetahuan, keahlian, kemampuan khusus, dan produktivitas juga akan rendah. Adapun data mengenai lapangan pekerjaan di Kota Makassar adalah sebagai berikut.
11 Tabel 1.4
Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis
Kelamin di Kota Makassar Tahun 2015
Lapangan Pekerjaan Utama
Jenis Kelamin
Total Laki-laki Perempuan
Pertanian, Kehutanan,
Perburuan, dan Perikanan 5.475 - 5.475
Industri Pengolahan 29.197 13.213 42.410
6 87.184 93.785 180.969
9 87.268 66.284 153.552
Pertambangan, Penggalian,
Listrik, Gas, Air, Bangunan, 7,8 114.165 25.283 139.448 Jumlah 323.289 198.565 521.854 Sumber: BPS Kota Makassar.
Faktor tingkat upah juga dapat mempengaruhi penduduk usia muda untuk masuk atau tidak ke pasar tenaga kerja, dimana jika tingkat upah tinggi maka makin banyak penduduk akan masuk ke dalam pasar tenaga kerja sehingga secara otomatis meningkatkan partisipasi angkatan kerja usia muda. Akan tetapi jika tingkat upah rendah maka penduduk lebih memilih untuk tidak bekerja atau lebih memilih untuk bersekolah dengan tujuan bisa meningkatkan kemampuan atau keterampilan sehingga dapat berpengaruh terhadap produktivitas kerja di masa yang akan datang.
Perbaikan upah berarti peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat. Peningkatan pendapatan masyarakat akan meningkatkan permintaan akan barang dan jasa yang kemudian pada gilirannya secara makro mendorong perusahaan untuk menambah produksi (Ilham, 2010).
12 Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas maka menarik untuk diteliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran tenaga kerja usia muda Kota Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dapat dituliskan sebagai berikut:
1. Apakah Upah berpengaruh terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
2. Apakah non labor income berpengaruh terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
3. Apakah beban ekonomi rumah tangga berpengaruh terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
4. Apakah ada perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar berdasarkan status migran orang tua.
5. Apakah ada perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar berdasarkan jenis pekerjaan
6. Apakah ada perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar berdasarkan jenis kelamin.
B. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah di atas, makan tujuan penelitian yang dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh Upah terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
13 2. Untuk mengetahui pengaruh non labor income terhadap penawaran
tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
3. Untuk mengetahui pengaruh beban ekonomi rumah tangga terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
4. Untuk mengetahui perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar berdasarkan status migran orang tua.
5. Untuk mengetahui perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar berdasarkan jenis pekerjaan
6. Untuk mengetahui perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar berdasarkan jenis kelamin.
C. Manfaat penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai masukan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam merumuskan kebijakan yang tepat mengenai ketenagakerjaan yang berkaitan dengan determinan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
2. Sebagai referensi dan bahan pertimbangan bagi penelitian berikutnya terutama yang berhubungan dengan masalah yang sama, sekaligus menjadi sumbangan pemikiran yang dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan.
14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoretis 1. Teori tentang Ketenagakerjaan
Menurut UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 1 tentang Ketenagakerjaan, yang disebut tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Jadi, tenaga kerja merupakan semua orang yang bersedia untuk sanggup bekerja tanpa batasan umur tertentu. Tenaga kerja meliputi mereka yang bekerja untuk diri sendiri ataupun anggota keluarga yang tidak menerima bayaran berupa upah atau mereka yang sesungguhnya bersedia dan mampu untuk bekerja, dalam arti mereka menganggur dengan terpaksa karena tidak ada kesempatan kerja.
Menurut BPS (2016), bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan tujuan memperoleh nafkah atau membantu memperoleh nafkah paling sedikit satu jam secara terus-menerus selama seminggu yang lalu.
Sementara yang dimaksud dengan mencari pekerjaan adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh pekerjaan. Penduduk yang mencari pekerjaan dibagi menjadi penduduk yang pernah bekerja dan penduduk yang belum penuh bekerja.
Pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja hanya dibedakan oleh batasan umur yang masing-masing berbeda untuk setiap negara. Di
15 Indonesia batasan umur minimal 15 tahun tanpa batasan umur maksimal.
Pemilihan batasan umur 15 tahun berdasarkan kenyataan bahwa pada umur tersebut sudah banyak penduduk yang bekerja karena sulitnya ekonomi keluarga mereka.
Berdasakan uraian di atas, dapat dilihat bahwa Indonesia tidak memiliki batasan umur maksimum tenaga kerja, karena Indonesia belum mempunyai jaminan sosial nasional, dimana hanya pegawai negeri yang menerima tunjangan hari tua. Sedangkan tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan swasta hanya sebagian kecil saja yang menerima tunjangan hari tua, namun tunjangan ini juga biasanya tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan mereka. Oleh sebab itulah mereka yang sudah mencapai usia pensiun biasanya masih tetap aktif dalam kegiatan ekonomi makanya tetap digolongkan sebagai tenaga kerja, itulah mengapa sebabnya di Indonesia tidak menganut batasan umur maksimum.
Dalam pasar tenaga kerja, perusahaan akan mendapat laba lebih bila mereka dapat mengamati sinyal dari para pekerjanya. Ketika perusahaan memiliki pekerja dengan produktivitas rendah maka perusahaan akan berusaha untuk meningkatkan produktivitas para pekerjanya dengan member upah yang tinggi sehingga para pekerja juga berusaha untuk meningkatkan produktivitasnya. Namun jika tingkat upah melebihi biaya yang dikeluarkan, perusahaan akan menurunkan tingkat upah yang justru menurunkan laba perusahaannya (Prasetya, 2012).
16 2. Teori tentang Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja mengandung pengertian bahwa besarnya kesediaan usaha produksi untuk mempekerjakan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses produksi, yang dapat berarti lapangan pekerjaan atau kesempatan yang tersedia untuk bekerja yang ada dari suatu saat dari kegiatan ekonomi. Kesempatan kerja dapat tercipta apabila terjadi permintaan tenaga kerja di pasar kerja sehingga dengan kata lain kesempatan kerja juga menujukkan permintaan terhadap tenaga kerja (Sudarsono, 1998).
Kesempatan kerja berubah dari waktu ke waktu, perubahan tersebut terjadi akibat perubahan dalam perekonomian. Hal ini sesuai dengan konsep dalam ekonomi bahwa permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan (derived demand) dari permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa dalam perekonomian. Apabila perekonomian berkembang maka penyerapan tenaga kerja juga bertambah, pertumbuhan ekonomi mampu membawa pengaruh positif bagi kesempatan kerja dan produktivitas tenaga kerja (Simanjuntak, 2005).
Perluasan kesempatan kerja merupakan suatu usaha untuk mengembangkan sektor-sektor penampungan kesempatan kerja dengan produktivitas rendah. Usaha perluasan kesempatan kerja tidak terlepas dari faktor-faktor seperti, pertumbuhan jumlah penduduk dan angkatan
17 kerja, pertumbuhan ekonomi, tingkat produktivitas tenaga kerja, atau kebijaksanaan mengenai perluasan kesempatan kerja itu sendiri.
Kebijaksanaan negara dalam kesempatan kerja meliputi upaya- upaya untuk mendorong pertumbuhan dan perluasan kesempatan kerja di setiap daerah serta perkembangan kuantitas dan kualitas angkatan kerja yang tersedia agar dapat memanfaatkan seluruh potensi pembangunan di daerah masing-masing.
3. Teori tentang Penawaran Tenaga Kerja
Penawaran tenaga kerja juga diartikan sebagai penyediaan tenaga kerja yaitu jumlah tenaga kerja yang tersedia di pasar kerja.
Menurut Simanjuntak (2005), penyediaan tenaga kerja merupakan jumlah usaha atau jasa kerja yang tersedia dalam masyarakat untuk menghasilkan barang dan jasa. Penyediaan tenaga kerja ditentukan oleh jumlah dan kualitas tenaga kerja. Jumlah dan kualitas tenaga tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti jumlah penduduk, struktur umur, tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja, jumlah penduduk yang sedang bersekolah dan mengurus rumah tangga, tingkat penghasilan dan kebutuhan rumah tangga, pendidikan, latihan, jam kerja, motivasi dan etos kerja, tingkat upah dan jaminan sosial, kondisi dan lingkungan kerja, kemampuan manajerial dan hubungan industrial, serta berbagai macam kebijakan pemerintah.
Menurut Tarigan (2005), apabila sesorang menawarkan tenaga kerja, maka hal yang ditawarkan bukan dirinya sebagai manusia
18 seutuhnya melainkan waktu. Maka unit hitung bagi tenaga kerja sebenarnya bukan jumlah orang tetapi waktu.
Penawaran tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang dapat disediakan oleh pemilik tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah dalam jangka waktu tertentu. Dalam teori klasik sumber daya manusia (pekerja) merupakan individu yang bebas mengambil keputusan untuk bekerja atau tidak. Bahkan pekerja juga bebas untuk menetapkan jumlah jam kerja yang diinginkannya. Teori ini didasarkan pada teori tentang konsumen, dimana setiap individu bertujuan untuk memaksimumkan kepuasan dengan kendala yang dihadapinya (Lidya, 2011).
Penawaran atau penyediaan tenaga kerja mengandung pengertian jumlah penduduk yang sedang dan siap untuk bekerja serta pengertian kualitas usaha kerja yang diberikan. Secara umum, penyediaan tenaga kerja di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah penduduk, jumlah tenaga kerja, jumlah jam kerja, pendidikan, produktivitas dan lain-lain. Untuk pengaruh jumlah penduduk dan struktur umum semakin banyak penduduk dalam umur anak-anak, maka semakin kecil jumlah yang tergolong tenaga kerja.
Kenyataan di atas menunjukkan tidak semua tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja siap untuk bekerja, karena ada sebagian dari mereka masih bersekolah, mengurus rumah tangga dan tergolong lain-lain penerima pendapatan. Dengan kata lain, jika semakin banyak jumlah orang bersekolah dan mengurus rumah tangga, maka semakin kecil
19 penyediaan tenaga kerja. Jumlah yang siap bekerja dan yang belum bersedia untuk bekerja dipengaruhi oleh kondisi keluarga, kondisi ekonomi dan sosial secara umum, dan kondisi pasar kerja itu sendiri.
Jumlah tenaga kerja keseluruhan yang tersedia tergantung pada jumlah penduduk, persentase jumlah penduduk yang memilih masuk angkatan kerja, dan jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh angkatan kerja. Jumlah tenaga kerja keseluruhan yang ditawarkan tergantung pada upah pasar. Jadi, dapat dilihat bahwa penawaran tenaga kerja merupakan suatu gejala yang rumit.
Dengan kata lain, jumlah penduduk tertentu yang memilih masuk ke dalam angkatan kerja maupun jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh para angkatan kerja, keduanya tergantung pada upah pasar. Analisis jangka panjang tentang penawaran tenaga kerja memperkenalkan kepada individu waktu yang diperlukan untuk melakukan penyesuaian yang lebih lengkap terhadap perubahan-perubahan partisipasi tenaga kerja.
Meskipun tingkat partisipasi angkatan kerja secara keseluruhan menunjukkan kecenderungan yang relatif konstan, namun terdapat pergeseran yang dramatik soal umur dan komposisi jenis kelamin dalam angkatan kerja. Terutama terdapat penambahan yang besar dalam tingkat partisipasi angkatan kerja di kalangan wanita yang telah menikah dan penurunan dalam tingkat partisipasi kaum pekerja yang berusia lanjut, berusia anak-anak, dan berusia lebih muda.
20 4. Teori tentang Tenaga Kerja Usia Muda
Berdasarkan pemahaman internasional, kelompok usia yang digunakan untuk mengklasifikasi orang muda biasa disebut remaja dengan rentan usia 15-19 tahun dan orang dewasa muda dengan rentan usia 20-24 tahun (ILO, 2004). Sedangkan menurut BPS bahwa penduduk usia muda di Indonesia adalah mereka yang berada dalam kelompok usia 15 hingga 29 tahun.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah suatu indikator ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang penduduk yang aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari merujuk pada suatu waktu dalam periode survei. TPAK adalah bagian dari penduduk usia kerja, 15 tahun ke atas yang mempunyai pekerjaan selama seminggu yang lalu, baik yang bekerja maupun yang sementara tidak bekerja karena suatu sebab seperti menunggu panenan atau cuti. Di samping itu, mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi sedang mencari pekerjaan juga termasuk dalam kelompok angkatan kerja.
Sementara itu, penduduk yang bekerja atau mempunyai pekerjaan adalah mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan melakukan pekerjaan atau bekerja untuk memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu jam dalam seminggu yang lalu dan tidak boleh terputus.
Semakin besar tingkat partisipasi angkatan kerja akan menyebabkan semakin besar jumlah angkatan kerja. Begitu pula
21 sebaliknya, semakin besar jumlah penduduk yang masih sekolah dan yang mengurus rumah tangga akan menyebabkan semakin besar jumlah yang tergolong bukan angkatan kerja dan akibatnya semakin kecil tingkat partisipasi angkatan kerja.
Pada negara-negara yang sudah maju, TPAK cenderung tinggi pada golongan umur dan tingkat pendidikan tertentu. Pola TPAK perempuan dapat memberikan petunjuk yang berguna dalam mengamati arah dan perkembangan aktifitas ekonomi di suatu negara atau daerah.
Berlainan dengan laki-laki, umumnya perempuan mempunyai peran ganda sebagai ibu yang melaksanakan tugas rumah tangga, mengasuh dan membesarkan anak dan bekerja untuk menambah penghasilan keluarga (Mantra, 2003).
Simanjuntak (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat partisipasi angkatan kerja adalah jumlah penduduk yang masih bersekolah, jumlah penduduk yang mengurus rumah tangga, umur, tingkat upah. pendidikan, kegiatan ekonomi dan tinggal yang dibedakan antara kota dan desa.
5. Keterkaitan Teoretis dengan Variabel Penelitian
5.1 Hubungan antara Upah terhadap penawaran tenaga kerja usia muda
Menurut UU No. 13 Tahun 2003, upah adalah hak pekerja atau buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja atau buruh
22 yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja atau buruh dan keluarganya atas suatu pekerja dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. Besarnya upah ditentukan berdasarkan perjanjian antara pengusaha dengan pekerja atau serikat kerja.
Tingkat upah memiliki hubungan dengan penawaran tenaga kerja. Menurut Simanjuntak (2005), upah dipandang sebagai beban oleh perusahaan karena semakin besar tingkat upah akan semakin kecil proporsi keuntungan yang dinikmati oleh perusahaan. Oleh karena itu, kenaikan tingkat upah direspon oleh perusahaan dengan menurunkan jumlah tenaga kerja.
Sesuai dengan penelitian Kurniawan (2008), bahwa besarnya tenaga kerja yang diserap dipengaruhi oleh tingkat upah riil. Menurut teori permintaan tenaga kerja, kuantitas tenaga kerja yang diminta akan menurun sebagai akibat dari kenaikan upah. Apabila tingkat upah naik, sedangkan input lainnya tetap, berarti harga tenaga kerja relatif lebih mahal dari pada input lain. Situasi ini mendorong pengusaha untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja yang harganya relatif mahal dengan input-input lain yang harga relatifnya lebih murah guna mempertahankan keuntungan yang maksimum.
Secara teoritis terdapat hubungan antara erat antara jumlah jam kerja dan upah, karena kenaikkan tingkat upah akan menghasilkan
23 harga waktu sehingga sebagian orang cenderung menambah jam kerja untuk mendapatkan upah yang lebih besar. Pada sisi lain, bagi tenaga kerja usia muda dengan upah yang tinggi cenderung akan mengurangi penggunaan alokasi waktu kegiatan kerja dan menambah waktu luangnya ( Ballante dan Jackson, 2010).
Adapun Menurut Monika (2014) bagi kebanyakan keluarga, pendidikan merupakan investasi karena itu mereka yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi mempunyai harapan untuk memperoleh upah yang tinggi pula. Semakin tinggi tingkat upah di pasar kerja maka partisipasi angkatan kerja baik laki-laki maupun perempuan akan mengalami peningkatan. Artinya, terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan upah, begitupun upah dengan penawaran tenaga kerja usia muda.
5.2 Hubungan antara non labor income terhadap penawaran tenaga kerja usia muda
Menurut Nilakusmawati (2010), kesulitan ekonomi memaksa kaum muda dari kelas ekonomi rendah untuk ikut berperan dalam meningkatkan pendapatan keluarganya yaitu orang tuanya dengan bekerja di luar sektor domestik. Keterlibatan kaum muda dalam pasar tenaga kerja didorong oleh pengaruh faktor keterdesakan/kesulitan ekonomi keluarga, selain adanya faktor kesempatan kerja.
Jika pendapatan orang tua (non labor income) tinggi, maka anak tidak ikut dalam kegiatan ekonomi karena non labor income cukup
24 untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dan sebaliknya. Menurut Nam (1991), terdapat hubungan negatif antara latar belakang ekonomi dengan upah tenaga kerja usia muda. Penduduk usia muda dengan latar belakang ekonomi yang lebih rendah hampir dua sampai tiga kali lebih mungkin untuk dipekerjakan dibanding dengan latar belakang ekonomi keluarga dengan status tinggi. Pada keluarga dengan status ekonomi tinggi, maka anak bekerja bukan untuk mencari tambahan pendapatan, melainkan untuk menunjukkan eksistensi mereka.
5.3 Hubungan antara beban ekonomi rumah tangga terhadap penawaran tenaga kerja usia muda
Jumlah anggota keluarga menentukan tingkat curahan jam kerja dari hasil yang dikerjakan karena anggota keluarga dalam usia kerja merupakan sumbangan tenaga kerja maka usaha untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan kerja akan dapat dipenuhi, dengan demikian akan dapat meningkatkan taraf hidup.
Di samping itu dengan semakin banyaknya anggota keluarga yang ikut makan dan hidup, memaksa anggota keluarga dalam usia kerja untuk mencari tambahan pendapatan (Bakir dan Manning, 1984).
Jumlah anggota keluarga menentukan jumlah kebutuhan keluarga.
Semakin banyak anggota keluarga berarti relatif semakin banyak pula jumlah kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi sehingga cenderung lebih mendorong seseorang untuk ikut bekerja guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya (Effendy, 2013).
25 5.4 Hubungan antara status migran orang tua terhadap penawaran tenaga kerja usia muda
Pendapatan per kapita, penyediaan kesempatan kerja yang cukup, distribusi pendapatan yang merata dalam perkembangan pembangunan, serta kemakmuran antar daerah dan merubah struktur perekonomian merupakan tujuan-tujuan dari pembangunan. Namun kenyataan yang ada, masih besarnya distribusi pendapatan dan pembangunan yang tidak merata. Akibatnya terjadilah kesenjangan ekonomi yang makin parah, baik antar pusat dan daerah ataupun daerah dengan daerah lainnya. Kenyataan tersebut yang kemudian memicu adanya mobilitas tenaga kerja dari daerah yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang kurang baik menuju daerah yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, yaitu antara wilayah pedesaan dan wilayah perkotaan.
Faktor pesatnya pertumbuhan ekonomi di kota besar serta pesatnya pertumbuhan penduduk dengan persebaran yang tidak merata, membuat sebagian besar penduduk terdorong melakukan mobilitas ke kota yang lebih besar tersebut. Di kota tujuan tersebut terdapat kesempatan kerja yang lebih besar dengan jenis pekerjaan yang beragam, adanya berbagai fasilitas, dan dari segi ekonomi mereka yang melakukan mobilitas tersebut mengharap suatu kehidupan layak dengan pendapatan yang lebih besar dari pada di daerah asal.
26 Semakin tinggi kesadaran pendidikan membuat generasi muda merasa kehidupan di daerah asal makin tidak menarik. Mereka pun memilih untuk bergerak ke kota yang lebih maju untuk mengenyam pendidikan dengan kualitas yang lebih baik dengan fasilitas yang lebih lengkap (Purnomo, 2004). Pada akhirnya mereka mengharapkan penghasilan yang lebih besar dibandingkan daerah asal dari pekerjaan yang sesuai dengan bidang mereka.
Tenaga kerja pedesaan yang terpaksa memutuskan menjadi migran dengan bekerja ke kota atau daerah lain tersebut tentunya mempunyai latar belakang berbeda, salah satu diantaranya karena tekanan kondisi sosial ekonomi yang tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Adanya harapan untuk memperoleh kesempatan kerja dengan tingkat upah yang lebih baik, mendorong tenaga kerja pedesaan memilih alternatif melakukan migrasi komutasi ke kota atau daerah lain demi mencukupi kebutuhan hidupnya.
5.5 Hubungan antara Jenis pekerjaan terhadap penawaran tenaga kerja usia muda
Jenis pekerjaan adalah macam-macam pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang atau ditugaskan kepada seseorang yang sedang bekerja atau yang sementara tidak bekerja (BPS, 2016). Dalam penelitian ini jenis pekerjaan kemudian dibedakan atas dua sektor yakni sektor dagang dan sektor jasa. Dianggap bahwa tenaga kerja usia muda belum memiliki skill atau keterampilan khusus .
27 Jenis pekerjaan dapat mempengaruhi penawaran tenaga kerja penduduk usia muda. Apabila jenis pekerjaan penduduk usia muda di sektor jasa maka penduduk tersebut akan cenderung untuk menambah curahan waktunya untuk bekerja. Sedangkan apabila jenis pekerjaan yang dilakukan di sektor dagang maka curahan waktu untuk pekerjaan luar lebih sedikit dan waktu yang dicurahkan untuk leisure akan lebih banyak.
5.6 Hubungan antara jenis kelamin terhadap penawaran tenaga kerja usia muda
Tingkat partisipasi kerja laki-laki selalu lebih tinggi dari tingkat partisipasi kerja perempuan karena laki-laki dianggap pencari nafkah yang utama bagi keluarga, sehingga pekerja laki-laki biasanya lebih selektif dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan aspirasinya baik dari segi pendapatan maupun kedudukan dibanding pekerja perempuan. Hampir semua laki-laki yang telah mencapai usia kerja terlibat dalam kegiatan ekonomi karena laki-laki merupakan pencari nafkah utama dalam keluarga (Simanjuntak, 2005).
Banyak yang menganggap bahwa peningkatan kerja para pekerja berdasarkan jenis kelamin tenaga kerjanya. Jenis kelamin dapat menunjukkan tingkat produktivitas seseorang. Secara universal, tingkat produktivitas laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dimiliki perempuan seperti fisik yang kurang kuat, dalam bekerja cenderung menggunakan
28 perasaan, dan faktor biologis seperti harus cuti ketika melahirkan.
Namun dalam keadaan tertentu produktivitas perempuan lebih tinggi daripad laki-laki, misalnya dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Dalam pekerjaan yang membutuhkan proses produksi perempuan biasanya lebih teliti dan sabar.
B. Studi Empiris Terkait Sebelumnya
Banyak penelitian tentang determinan penawaran tenaga kerja usia muda yang merujuk pada lamanya jam kerja. Berikut ini akan dikemukakan beberapa hasil studi empiris yang pernah dilakukan menggunakan model yang relatif sama dengan penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2008) di Kabupaten Lombok Tengah yang memiliki penduduk dengan kondisi rata-rata pendidikan usia kerja hanya pendidikan dasar, harapan hidup yang rendah, dan daya beli rendah. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik dengan variabel tetap adalah keputusan berangkat dan tidak berangkat, sedangkan variabel tidak tetapnya adalah usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan dan jumlah tanggungan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan penawaran tenaga kerja akan terus berlangsung karena tidak adanya peluang kerja di daerah asal. Tingkat pendapatan yang rendah, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan rendah serta kesulitan memperoleh pekerjaan dengan tingkat upah yang memadai mendorong para wanita untuk berangkat berulang kali menjadi tenaga kerja wanita .
29 Adnan (2008) dalam penelitiannya mengenai pengaruh PDRB dan jumlah penduduk yang masih bersekolah terhadapa tingkat partisipasi angkatan kerja di Sulawesi Selatan. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa PDRB memberikan pengaruh positif dan signifikan sedangkan jumlah penduduk yang masih bersekolah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat partisipasi angkatan kerja.
Adanya hubungan yang signifikan antara pendapatan per kapita, mutu sumber daya manusia, tingkat upah, dan tingkat kemiskinan dengan penawaran tenaga kerja usia muda di Takalar. Dimana tingkat kemiskinan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap partisipasi pekerja anak dalam bekerja di usia muda dengan mengenyampingkan kewajibannya untuk sekolah dan menimba ilmu pengetahuan (Akbar, 2014).
Di samping itu, penelitian yang dilakukan Ratna (2015) yang menemukan bahwa variabel penelitian seperti penghasilan pekerja usia muda, penghasilan orang tua, umur, jumlah anggota rumah tangga, dan status sekolah berpengaruh sangat signifikan terhadap penawaran tenaga kerja penduduk usia muda, sedangkan status migrasi orang tua serta status anak tidak memberikan pengaruh. Anak yang hidup dalam kemiskinan tidak memiliki kesempatan yang sama dengan anak lainnya akan pendidikan. Disebabkan karena umumnya mereka menanggung kewajiban untuk mencari nafkah atau membantu orang mencari nafkah.
Pada penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pekerja usia muda sektor
30 informal rentan mengalami eksploitasi ekonomi. Makassar sebagai daerah yang berkembang pesat menuju kota urban juga tidak memberi perhatian lebih tentang pekerja anak.
Penelitian-penelitian terdahulu di atas memberikan gambaran bahwa ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi atau berkaitan dengan penawaran tenaga kerja usia muda.
C. Kerangka Konseptual Penelitian
Kerangka konseptual penelitian ini merupakan susunan alur berpikir tentang penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
Pekerja usia muda dengan alasan umur dan keterbatasan kemampuan yang dimiliki, kebanyakan dari mereka bekerja di sektor-sektor informal.
Selain itu pekerja usia muda memilih untuk bekerja juga didorong oleh diri sendiri yakni pola pikir praktis mereka yang lebih memilih bekerja dan migrasi ke kota dibanding melanjutkan sekolah. Dengan kondisi tersebut maka tingkat pendidikan mereka menjadi rendah. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penawaran tenaga kerja usia muda (15-24 tahun) dalam kegiatan ekonomi di Kota Makassar yakni upah, non labor income, beban ekonomi rumah tangga, status migran orang tua, jenis
pekerjaan, dan jenis kelamin.
Besarnya tenaga kerja yang diserap dipengaruhi oleh tingkat upah riil. Menurut teori permintaan tenaga kerja, kuantitas tenaga kerja yang diminta akan menurun sebagai akibat dari kenaikkan upah. Apabila tingkat upah naik, sedangkan input lainnya tetap, berarti harga tenaga kerja relatif
31 lebih mahal dari pada input lain. Situasi ini mendorong pengusaha untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja yang harganya relatif mahal dengan input-input lain yang harga relatifnya lebih murah guna mempertahankan keuntungan yang maksimum.
Kesulitan ekonomi memaksa kaum muda dari kelas ekonomi rendah untuk ikut berperan dalam meningkatkan pendapatan keluarganya yaitu orang tuanya dengan bekerja di luar sektor domestik. Keterlibatan kaum muda dalam pasar tenaga kerja didorong oleh pengaruh faktor keterdesakan atau kesulitan ekonomi keluarga, selain adanya faktor kesempatan kerja.
Jumlah anggota keluarga menentukan jumlah kebutuhan keluarga. Semakin banyak anggota keluarga berarti relatif semakin banyak pula jumlah kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi sehingga cenderung lebih mendorong seseorang untuk ikut bekerja guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.
Terjadinya migrasi desa ke kota biasanya didorong oleh tertinggalnya pertumbuhan desa dibandingkan pertumbuhan kota.
Selanjutnya faktor sempitnya lapangan pekerjaan yang terjadi di desa akan mendorong perilaku mobilitas penduduk tersebut semakin tinggi.
Salah satunya akibat dari menyempitnya lahan pertanian karena digunakan untuk areal pemukiman, sektor manufaktur, jasa, dan kebiasaan orang tua untuk membagi tanah mereka sebagai warisan pada keturunan-keturunannya. Pada akhirnya mereka mengharapkan
32 penghasilan yang lebih besar dibandingkan daerah asal dari pekerjaan yang sesuai dengan bidang mereka dengan bermigrasi.
Jenis pekerjaan dapat mempengaruhi penawaran tenaga kerja penduduk usia muda. Apabila jenis pekerjaan penduduk usia muda di sektor dagang maka penduduk tersebut akan cenderung untuk menambah curahan waktunya untuk bekerja. Sedangkan apabila jenis pekerjaan yang dilakukan di sektor jasa maka curahan waktu untuk pekerjaan luar lebih sedikit dan waktu yang dicurahkan untuk leisure akan lebih banyak.
Tingkat partisipasi kerja laki-laki selalu lebih tinggi dari tingkat partisipasi kerja perempuan karena laki-laki dianggap pencari nafkah yang utama bagi keluarga, sehingga pekerja laki-laki biasanya lebih selektif dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan aspirasinya baik dari segi pendapatan maupun kedudukan dibanding pekerja perempuan. Hampir semua laki-laki yang telah mencapai usia kerja terlibat dalam kegiatan ekonomi karena laki-laki merupakan pencari nafkah utama dalam keluarga.
Berdasarkan beberapa referensi serta studi empiris yang diperoleh maka disusun kerangka konseptual yang disajikan pada Gambar 2.1.
33 Gambar. 2.1. Kerangka Pikir Penelitian
D. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikir di atas (Gambar 2.1) maka dirumuskan hipotesis penelitian ini, sebagai berikut:
1. Upah berpengaruh terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
2. Non labor income berpengaruh terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
3. Beban ekonomi rumah tangga berpengaruh terhadap penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar.
Upah (X1)
Non Labor Income (X2)
Beban Ekonomi RT (X3)
Jam Kerja Per minggu
(Y) Status Migran Orang
Tua (X4)
Jenis Pekerjaan (X5) Jenis Kelamin
(X6)
34 4. Ada perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota
Makassar berdasarkan status migran orang tua.
5. Ada perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar berdasarkan jenis pekerjaan.
6. Ada perbedaan penawaran tenaga kerja usia muda di Kota Makassar berdasarkan jenis kelamin.