Semnaskan-UGM XV | Dewan Redaksi - iii
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL TAHUNAN XV
HASIL PENELITIAN PERIKANAN DAN KELAUTAN TAHUN 2018 JILID II : MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN
DEWAN REDAKSI
Diterbitkan oleh : Departemen Perikanan - Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Penanggung jawab : Ketua Departemen Perikanan – Fakultas Pertanian UGM
Pelindung : Jamhari, S.P., M.P., Dr.
Penyunting : Alim Isnansetyo, Ir., M.Sc., Dr.
Alimuddin, Ir., M.Sc., Dr.
Amir Husni, S.Pi., M.P., Dr.
Bambang Triyatmo, Ir., M.P., Dr.
Bejo Slamet, Drs., M.Si.
Charles P. H. Simanjutak, S.Pi., M.Si., Ph.D.
Dini Wahyu Kartika Sari, S.Pi., M.Si., Ph.D.
Djumanto, Ir., M.Sc., Dr.
Dwiyitno, Dr.
Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Dr.
Ervia Yudiati, Ir, M.Sc., Dr.
Fajar Basuki, Ir., M.S., Dr.
Farida Ariyani, Ir., M.App.Sc.
Fronthea Swastawati, Ir., M.Sc., Dr.
Hamdan Syakuri, S.Pi., M.Si., Dr. rer.nat Ign. Hardaningsih, Ir, M.Si., Dr.
Indah Istiqomah, S.Pi., M.Sc., Ph.D.
Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc., Ph.D.
Latif Sahubawa, Dr., Ir., M.Si.
M.F. Raharjo, Ir., Dr., Prof.
Mala Nurilmala, S.Pi., M.Si., Dr.
Muhammad Nursid, S.Pi., M.Si., Dr.
Munasik, Ir., M.Sc., Dr.
Murwantoko, Ir., M.Si., Dr.
Namastra Probosunu, Drs., M.Si.
Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., Dr.
Nurjanah, Ir., M.S., Dr., Prof.
R.A. Siti Ari Budhiyanti, S.TP., M.P., Dr.
Riza Y. Setyawan, S.Kel., M.Sc., Dr. rer.nat.
Rustadi, Ir., M.Sc., Dr., Prof.
iv - Semnaskan-UGM XV | Dewan Redaksi
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
Sarjito, Ir., M.App.Sc., Dr.
Satrijo Saloko, Ir., M.P., Dr.
Senny Helmiyati, S.Pi., M.Sc.
Sharifuddin Bin Andy Omar, M.Sc., Dr, Prof Suadi, S.Pi., M.Sc., Ph.D.
Subaryono, Ir., M.A., Ph.D.
Triyanto, Ir., M.Si., Dr.
Tuty Arisuryanti, Dra., M.Sc., Ph.D.
Ustadi, Ir., M.P., Dr., Prof.
Redaksi Pelaksana : Dini Wahyu Kartika Sari, S.Pi., M.Si., Ph.D.
Faizal Rachman, S.Si., M.Sc.
Anes Dwi Jayanti, S.Pi., M.Si.
Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si.
Afif Whelly Artissandi Cahyaningtyas Dwi Umayah Feni Susanti
Tribuana Maharani Muria
Alamat Redaksi : Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Telp/Fax. 0274-551218
Semnaskan-UGM XV | ISSN - v
Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Seminar Nasional Tahunan XIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (2018:Yogyakarta) Prosiding Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Tahun 2018 Jilid II: Manajemen Sumberdaya Perikanan
Penyunting Isnansetyo, A... (et al.) Yogyakarta
Departemen Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, 2018
ISSN: 2477-6327
1. Isnansetyo, A.
@ Hak Cipta dilindungi undang-undang All rights reserved
Penyunting: Isnansetyo, A. et al.
Diterbitkan oleh:
Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2018
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin dari
penyunting
Semnaskan-UGM XV | Kata Pengantar - vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselenggaranya “SEMINAR NASIONAL TAHUNAN XV HASIL PENELITIAN PERIKANAN DAN KELAUTAN TAHUN 2018” Departemen Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.
Pengembangan IPTEK yang bersifat dasar, strategis, terapan dan adaptif dalam bidang perikanan dan kelautan serta dukungan kelembagaan yang kuat sangat diperlukan untuk menunjang pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kegiatan seminar nasional tahunan hasil penelitian perikanan dan kelautan dilaksanakan dalam rangka inventarisasi penelitian- penelitian yang telah dilakukan dan mengetahui teknologi yang telah dihasilkan.
Makalah yang dipresentasikan pada seminar telah melalui tahap seleksi abstrak dan berjumlah kurang lebih 300 makalah dari berbagai perguruan tinggi, instansi pemerintah, lembaga penelitian dan pengembangan baik pemerintah maupun swasta. Makalah yang dipresentasikan sebagian diterbitkan dalam Prosiding dan dalam bentuk jurnal yang dikelola oleh Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
Makalah-makalah yang diterbitkan dalam prosiding ini telah dievaluasi oleh reviewer, dewan redaksi dan diperbaiki melalui proses koreksi substansi, penyuntingan, penyeragaman sistematika, pembetulan pengetikan dan pengaturan tata letak.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada:
1. Rektor Universitas Gadjah Mada 2. Dekan Fakultas Pertanian UGM 3. Ketua Departemen Perikanan UGM 4. Pemakalah dan peserta dalam seminar ini
5. Semua pihak yang turut serta dalam mensukseskan seminar dan membantu penerbitan prosiding ini.
Akhirnya, kami mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penyelenggaraan seminar maupun penyajian prosiding ini. Harapan kami, semoga prosiding ini dapat bermanfaat.
Yogyakarta, November 2018
Tim Penyunting
Semnaskan-UGM XV | Daftar Isi - ix
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Dewan Redaksi ... iii
ISSN ... v
Kata Pengantar ... vii
Daftar Isi ... ix BIDANG KELAUTAN
KL-01 ANALISA KESESUAIAN WISATA PANTAI DI PULAU SAEBUS, PULAU SAUR DAN PULAU SAPANGKUR, KABUPATEN SUMENEP
Mohammad F. Akbari dan Zainul Hidayah
1
KL-02 SENYAWA POLISIKLIK AROMATIK HIDROKARBON (PAH) DALAM AIR LAUT DAN SEDIMEN DI MUARA SUNGAI CIMANDIRI, PELABUHAN RATU
Edward15
KL-06 STOK KARBON PADA BAGIAN ATAS SEDIMEN AREA PADANG LAMUN DI HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA
Supriadi Mashoreng, Chair Rani, Abdul Haris, Ahmad Faizal dan Inayah Yasir
27
KL-15 BIOAKTIVITAS EKSTRAK RUMPUT LAUT COKLAT SARGASSUM DUPLICATUM DARI PERAIRAN PANTAI JEPARA SEBAGAI ANTIBAKTERI MULTI RESISTEN Staphylococcus aureus
Wilis A. Setyati, Muhammad Zainuddin dan Rini Pramesti35
KL-16 ANALISIS NILAI MIC DAN MBC EKSTRAK SARGASSUM BERBEDA SPESIES DARI PERAIRAN PANTAI TELUKAWUR JEPARA TERHADAP BAKTERI MDR Staphylococcus aureus
Muhammad Zainuddin, Wilis A. Setyati dan Rini Pramesti
41
KL-18 ANALISIS KOMPONEN UTAMA PERAIRAN TERHADAP DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN RUMPUT LAUT COKLAT Sargassum duplicatum DI PANTAI JEPARA
Person P. Renta, Muhammad Zainuddin, Wilis A. Setyati dan Rini Pramesti
47
KL-19 ANALISIS MULTIVARIABEL PARAMETER PERAIRAN TERHADAP KELIMPAHAN DAN STRUKTUR KOMUNITAS RUMPUT LAUT COKLAT SARGASSUM DI PANTAI TELUKAWUR JEPARA
Misbahus Surur, Wilis A. Setyati, Rini Pramesti dan Muhammad Zainuddin
53
BIDANG MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN A
MA-01 KOMUNITAS IKAN PADA STRUKTUR ISIS (INTEGRATED SUBSTRAT FOR INSITU SURVIVAL) DI PULAU WANGI-WANGI, WAKATOBI
Nanda R. Prasetiawan dan Adiguna R. Nugraha59
MA-05 KECENDERUNGAN DAN TANTANGAN PENGELOLAAN RESTORASI MANGROVE DI DESA LABUHAN, KECAMATAN BRONDONG,
KABUPATEN LAMONGAN
Rudianto dan Nia Nurdiana69
x - Semnaskan-UGM XV | Daftar Isi
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
MA-06 MONITORING POPULASI IKAN SIDAT (Anguilla spp.) FASE GLAS EEL DI MUARA SUNGAI PROGO YOGYAKARTA
Agung Budiharjo81
MA-07 POTENSI DAN KONDISI KESEHATAN KOMUNITAS MANGROVE DI DESA LATDALAM MALUKU TENGGARA BARAT
J. Pietersz dan Laura Siahainenia
89
MA-15 KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DI PERAIRAN PANTAI LAMPUNG SELATAN
Selvia Oktaviyani dan Wanwan Kurniawan
97
MA-17 KARAKTERISTIK MORFOMETRIK Strombus luhuanus (GASTROPODA:
STOMBIDAE)
Prulley A. Uneputty, Sara Haumahu dan Yona A. Lewerissa
111
MA-18 PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENGELOLAAN EKOSISTEM LAGUNA NEGERI IHAMAHU, MALUKU TENGAH
Laura Siahainenia, S.F. Tuhumury, P.A. Uneputty dan N.C. Tuhumury121
BIDANG MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN B
MB-01 STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG DAN PERSENTASE
PENUTUPAN KARANG DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG WILAYAH KABUPATEN NATUNA
Muhammad Fauzi, Rusliadi, Iskandar Putra, Jurianto M. Nur, Ika F. Hasibuan dan Sukirno Mus
127
MB-06 KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI WILAYAH PANTAI PASIR PUTIH KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR
Ariesia A. Gemaputri, Ida A. A. Pongoh dan Ikhsan Ferdiansyah
137
MB-07 KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI DI PERAIRAN PROBOLINGGO SEBAGAI DAERAH POTENSIAL PENANGKAPAN IKAN
Ully Wulandari, Indra Wirawan dan Maria Agustini
145
MB-12 PENANGKAPAN DAN KONSUMSI IKAN HERBIVOR (FAMILI SCARIDAE DAN SIGANIDAE) DI PULAU KARIMUNJAWA, JEPARA
Maula Nadia, Anisa Nabila, M. D. A. Malik, Juwita A. Pusposari dan Haries Sukandar
153
MB-16 ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG LAHAN UNTUK TAMBAK DI SMK NEGERI 3 PARIAMAN
Usman Bulanin, Masrizal dan Erni Juita161
MB-17 LAJU PENANGKAPAN ELASMOBRANCHII OLEH NELAYAN TANJUNG LUAR PADA BERBAGAI ALAT TANGKAP
Agus A. Sentosa dan Joni Haryadi
171
BIDANG MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN C
MC-05 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RUMPUT LAUT SARGASSUM BERBEDA SPESIES DARI PERAIRAN PANTAI TELUKAWUR JEPARA TERHADAP RADIKAL BEBAS DPPH
Rini Pramesti, Muhammad Zainuddin dan Wilis A. Setyati
179
Semnaskan-UGM XV | Daftar Isi - xi
BIDANG SOSIAL EKONOMI
SE-07 MOTIVASI PEREMPUAN PEDAGANG IKAN SEGAR DAN KONTRIBUSI PENDAPATANNYA TERHADAP EKONOMI RUMAH TANGGA DI NEGERI PIRU KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Venda J. Pical dan Herlin Talapessy
185
SE-16 MANAJEMEN RISIKO PADA PENJUALAN IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN DI SEPANJANG RUAS JALAN UTAMA LARANTUKA - BORU
Dati Nawastuti dan Ani Suryani193
BIDANG POSTER MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN
PM-02 SOME POPULATION PARAMETERS ON FISH OF THE COMMON CARP (Cyprinus carpio, Linnaeus, 1758) IN LAKE PANIAI, PAPUA
Yoga C. Ditya dan Samuel
203
PM-03 KEANEKARAGAMAN MAKROALGA: STUDI AWAL KELIMPAHAN Gelidium sp. DI PANTAI KRAKAL GUNUNG KIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Dhini A. Pratiwi, Wiwin K. P. Sari dan Petrus R. Pong-Masak
215
PM-04 KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR EKOLOGI PLANKTON DI DANAU CALA SUMATERA SELATAN
Sevi Sawestri, Tuah N. M. Wulandari dan Herlan
225
PM-05 ESTIMASI POTENSI PRODUKSI IKAN DI PERAIRAN DANAU CALA, SUMATERA SELATAN
Tuah N. M. Wulandari dan Sevi Sawestri
233
PM-06 ESTIMASI KELIMPAHAN STOK IKAN DENGAN METODE
HIDROAKUSTIK DI PERAIRAN DANAU CALA SUMATRA SELATAN
Tuah N. M. Wulandari, Herlan dan Freddy Supriyadi239
PM-08 ESTIMASI STOK DAN POTENSI PERIKANAN DI DANAU RANAU
Herlan
245
PM-09 PREDIKSI KUALITAS SEDIMEN DI PERAIRAN SEKITAR KOTA TERNATE DENGAN PENDEKATAN ANALISIS INDEKS
Edward
255
PM-10 KAJIAN ZAT HARA (FOSFAT DAN NITRAT) DENGAN KESUBURAN PERAIRAN DI SUNGAI MAMBERAMO PROVINSI PAPUA
Mirna Dwirastina dan Dwi Atminarso
271
PM-11 PENYEBARAN KOMPOSISI KELAS ZOOPLANKTON DI WADUK KEULILING KABUPATEN ACEH BESAR
Mirna Dwirastina dan Yoga C. Ditya
275
PM-12 KERAGAMAN MAKROZOOBENTOS DI WADUK KOTO PANJANG KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU
Makri dan Aroef H. Rais
283
PM-13 DISTRIBUSI OKSIGEN TERLARUT DAN BEBERAPA FAKTOR FISIKA DAN KIMIA PERAIRAN DI DANAU TONDANO SULAWESI UTARA
Makri291
PM-14 TINJAUAN KEGIATAN PERIKANAN TANGKAP DI WADUK BATU BULAN KABUPATEN SUMBAWA PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT
Khoirul Fatah
299
xii - Semnaskan-UGM XV | Daftar Isi
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
PM-15 STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI PERAIRAN DANAU MANINJAU SUMATERA BARAT
Subagdja
305
PM-16 STATUS TROFIK DAN ESTIMASI POTENSI PRODUKSI IKAN DI PERAIRAN DANAU TONDANO, SULAWESI UTARA
Subagdja dan Safran Makmur
313
PM-19 RESPONS FUNGSIONAL KOMUNITAS IKAN SEBAGAI INDIKATOR KELESTARIAN IKAN DI DANAU RANAU SUMATERA SELATAN
Khoirul Fatah dan Safran Makmur323
PM-20 BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN KEPERAS (Cyclocheilichthys apogon) DI WADUK BATUTEGI TANGGAMUS PROVINSI LAMPUNG
Marson329
PM-24 DNA BARCODING DISCLOSE UNFORSEEN DIVERSITY OF FRESHWATER PRAWN IN KUMBE RIVER, PAPUA
Arif Wibowo dan Yoga C. Ditya337
PM-25 KARAKTERISTIK BIOMETRIK DARI TUJUH SPESIES GASTROPODA FAMILI MURICIDAE
Sara Haumahu
343
PM-26 KONDISI PERAIRAN SUNGAI KEDURANG, KABUPATEN BENGKULU SELATAN SEBAGAI HABITAT IKAN SIDAT (Anguilla spp.)
Rezki A. Suhaimi, Dwi Atminarso dan Arif wibowo
353
PM-28 KELIMPAHAN ORGANISME FITOPLANKTON DAN HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI PERAIRAN DI WADUK BATUTEGI, PROVINSI LAMPUNG
Taufiq Hidayah dan Aroef H. Rais
361
Daftar Peserta ... 231
Indeks Penulis ... 235
Indeks Kata Kunci ... 237
Semnaskan-UGM XV | Poster Manajemen Sumberdaya Perikanan (PM-03) - 215
KEANEKARAGAMAN MAKROALGA: STUDI AWAL KELIMPAHAN Gelidium sp.
DI PANTAI KRAKAL GUNUNG KIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Dhini A. Pratiwi*, Wiwin K.P. Sari dan Petrus R. Pong-Masak Loka Riset Budidaya Rumput Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Jl. Pelabuhan Etalase Perikanan, Desa Tabulo Selatan, Kecamatan Mananggu 96265 Provinsi Gorontalo
*e-mail: [email protected] Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan Gelidium sp., keanekaragaman dan potensi makroalga yang ada di Pantai Krakal Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sampling makroalga dilakukan di daerah intertidal pada saat air surut menggunakan metode transek kuadrat dengan ulangan sebanyak 10 kali. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2017. Hasil penelitian menunjukkan adanya 9 (Sembilan) spesies makroalga yang terbagi dalam 3 (tiga) golongan yaitu Rhodophyta 3 spesies, Chlorophyta 4 spesies dan Phaeophyta 2 spesies. Gelidium sp. memiliki nilai penting (INP) tertinggi sebesar 98,55 yang diperoleh dari penjumlahan nilai kelimpahan relatif (Di) 40,41%, penutupan relatif (RCi) 41,48% dan frekuensi relatif (Fi) 16,67%. Sedangkan makroalga yang memiliki INP terendah sebesar 1,80 adalah Padina boryana. Makroalga dengan INP tertinggi memiliki peranan terpenting dalam komunitasnya. Gelidium sp. merupakan makroalga paling melimpah yang memiliki nilai ekonomis penting sebagai penghasil agar dan memiliki peranan paling penting dalam komunitas. Keanekaragaman makroalga di Pantai Krakal masuk dalam kriteria sedang, yang artinya Pantai Krakal memiliki kondisi ekosistem seimbang dan tekanan ekologis sedang.
Kata Kunci : Gelidium sp., INP, kelimpahan, makroalga, pantai krakal, transek kuadrat Pengantar
Makroalga merupakan organisme yang banyak dijumpai hampir di seluruh pesisir Indonesia, terutama di pesisir yang mempunyai rataan terumbu karang. Makroalga berperan sebagai produsen primer yang menyokong kehidupan organisme lain pada tingkat tropik yang lebih tinggi di dalam suatu perairan. Selain itu, makroalga juga mempunyai fungsi yang tidak kalah penting, yaitu sebagai tempat ikan berlindung, biofilter bagi laut, serta dimanfaatkan oleh manusia sebagai makanan (Campbell et al. 2003). Makroalga bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya karena dapat memproduksi zat-zat organik melalui proses fotosintesis yang bermanfaat bagi ekosistem laut. Makroalga juga dikenal sebagai rumput laut merupakan tumbuhan thallus (Thallophyta), dimana organ-organ berupa akar, batang dan daun belum dapat dikenali dengan jelas (belum sejati). Makroalga umumnya hidup di dasar laut dengan substrat berupa pasir, pecahan karang, karang mati, serta benda-benda keras yang terendam di dasar laut (Yudasmara, 2011).
Pantai Krakal merupakan salah satu pantai yang berada di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai Krakal merupakan pantai berpasir putih dengan substrat pantai terutama berupa karang mati dan karang berpasir, yang sangat cocok sebagai habitat tumbuhan dan hewan laut. Pada daerah pasang surut, paparan cahaya matahari sangat mempengaruhi keberadaan makroalga.
Makroalga pada daerah pasang surut ini sangat membutuhkan cahaya matahari untuk melangsungkan fotosintesis. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Stephani, et al. (2014) bahwa Pantai Krakal di Kabupaten Gunung Kidul memiliki karakteristik perairan yang sangat jernih dan ombaknya yang besar sehingga mengurangi pengendapan sedimen.
Wilayah intertidal Pantai Krakal merupakan daerah yang paling mudah dan banyak berinteraksi dengan aktivitas manusia, karena daerah ini merupakan wilayah peralihan antara ekosistem perairan dengan ekosistem daratan Stephani et al. (2014). Selain itu,
PM-03
216 - Semnaskan-UGM XV | Pratiwi et. al.
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
daerah intertidal juga merupakan wilayah laut yang paling besar memperoleh tekanan baik secara fisik maupun kimia. Daerah ini akan terendam air laut pada waktu air pasang dan akan menjadi daerah terbuka pada saat air laut surut sehingga sangat cocok bagi habitat makroalga. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat yang paling mudah untuk dieksploitasi.
Pantai Krakal merupakan salah satu lokasi sumber bibit Gelidium sp. yang melimpah.
Namun, masyarakat sekitar mulai melakukan eksploitasi secara berlebih, karena Gelidium sp. memiliki nilai ekonomis tinggi terutama di pasar ekspor. Jika eksploitasi berlebihan hanya dibiarkan saja, maka dapat mengurangi populasinya di alam, karena hingga saat ini makroalga tersebut belum ada yang membudidayakan.
Penelitian ini merupakan rangkaian dari kegiatan survei awal ketersediaan sumber bibit makroalga bernilai ekonomis Gelidium sp. untuk mendukung kegiatan domestikasi dan adaptasi Gelidium sp. yang merupakan kegiatan dari DIPA Loka Riset Budidaya Rumput Laut Tahun 2017. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kelimpahan Gelidium sp., keanekaragaman dan potensi makroalga di Pantai Krakal Gunung Kidul sebagai informasi dasar dalam pemanfaatan yang berkesinambungan, baik bagi pemerintah setempat maupun masyarakat disekitar lokasi.
Bahan dan Metode
Bahan
Bahan yang digunakan yaitu petak kuadran transek berukuran 100 cm x 100 cm dan didalamnya dibuat plot berukuran 20cm x 20 cm, alat tulis water proof, kamera bawah air dan kamera digital.
Metode
Pengambilan data
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2017 di perairan Pantai Krakal yang terletak di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi penelitian ditentukan pada daerah intertidal dengan makroalga Gelidium sp. yang melimpah. Titik awal penentuan garis transek yaitu pada koordinat 8°08’50.8”LS 110°35’43.3”BT (Gambar 1).
Gambar 1. Lokasi pengambilan data di Pantai Krakal Gunung Kidul.
Pengambilan sampel makroalga dilakukan dengan metode transek kuadrat. Transek kuadrat dibuat berukuran 100 cm x 100 cm dan didalamnya dibuat plot berukuran 20 cm x 20 cm untuk memudahkan pengamatan terhadap obyek (Gambar 2). Pengambilan data informasi kelimpahan rumput laut dilakukan dengan transek kuadrat yang diletakkan sejajar garis pantai, dimana jarak antar transek kuadrat sejauh 4 m. Pengambilan data dilakukan sebanyak 10 ulangan transek kuadrat.
Semnaskan-UGM XV | Poster Manajemen Sumberdaya Perikanan (PM-03) - 217 Gambar 2. Desain peletakan transek kuadrat.
Pengamatan dilakukan dengan mencatat jenis rumput laut serta tutupan rumput laut yang ditemukan dalam tiap luasan kuadran transek. Identifikasi jenis rumput laut menggunakan buku panduan menurut Sung Min Boo & Yong Deok Ko (2012). Data yang diperoleh dari pengukuran penutupan jenis makroalga digunakan untuk menghitung kelimpahan relatif, penutupan relatif, frekuensi relatif dan indek nilai penting (INP) serta keanekaragaman menggunakan rumus dan kriteria Indeks Shannon-Wienner (Tabel 1).
Analisa Data
Kelimpahan relatif (Di)
Kelimpahan digunakan untuk mengetahui kepadatan individu dalam suatu ekosistem. Untuk menghitung kelimpahan relatif digunakan rumus (Sriyanto, 2013) yaitu:
Di =ni
N x 100%
Di : Kelimpahan relatif (%) ni: jumlah individu setiap jenis N : jumlah individu seluruh jenis Penutupan relatif jenis (RCi)
Penutupan menggambarkan penguasaan suatu spesies tumbuhan di tempat tersebut.
Penutupan relatif dihitung dengan membandingkan antara luas area penutupan suatu spesies dengan luas area penutupan seluruh spesies:
RCi = Luas area penutupan jenis i
Luas total area seluruh jenisx 100%
Frekuensi relatif (Fi)
Frekuensi menggambarkan penyebaran suatu spesies tumbuhan di suatu vegetasi.
Frekuensi relatif dihitung berdasarkan perbandingan antara frekuensi suatu spesies dengan frekuensi seluruh spesies:
Fi = Jumlah plot ditemukan jenis i
Jumlah total plot yang diamati x 100%
Indeks Nilai Penting (INP)
Indeks Nilai Penting (INP) menggambarkan pentingnya peranan suatu spesies dalam komunitas. INP dihitung dengan rumus:
218 - Semnaskan-UGM XV | Pratiwi et. al.
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
INP = Di + RCi + Fi Indeks keanekaragaman penutupan jenis (HC’)
Berdasarkan persentase penutupan setiap jenis rumput laut dihitung keanekaragaman jenisnya menggunakan modifikasi Indeks Shannon-Wienner.
HC′ = ∑ (ni N) . ln (ni
N)
t
i
HC’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener ni = tutupan individu jenis ke-i
N = total tutupan individu seluruh jenis t = Jumlah spesies
Tabel 1. Indeks keanekaragaman beserta kriterianya (Krebs, 1978).
Nilai Kriteria
< 1 Keanekaragaman rendah, distribusi dari individu jenis rendah, stabilitas komunitas rendah, tekanan ekologi tinggi
1-3 Tingkat keanekaragaman sedang, distribusi tiap jenis sedang, stabilitas komunitas sedang, tekanan ekologi sedang
> 3 Keanekaragaman tinggi, distribusi tiap jenis tinggi, stabilitas komunitas tinggi, tekanan ekologi rendah
Variabel-variabel lingkungan yang diukur secara langsung (in situ) di lapangan meliputi suhu, salinitas, kedalaman, kecerahan, kecepatan arus dan derajat keasaman. Pengukuran variabel fosfat dan nitrat dilakukan secara ex-situdi Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hasil dan Pembahasan
Makroalga yang ditemukan di Pantai Krakal, Kabupaten Gunung Kidul sebanyak 9 spesies dari divisi Rhodophyta, Chlorophyta dan Phaeophyta. Jumlah makroalga terbanyak yang ditemukanadalah jenis Gelidium sp. Terbanyak kedua yang ditemukan yaitu Boodlea coacta dan selanjutnya Cladophora columbiana (Tabel 2).
Tabel 2. Spesies makroalga yang ditemukan di Pantai Krakal Gunung Kidul.
No. Spesies Makroalga Divisi
1. Gelidium sp. Rhodophyta
2. Gloiopeltis complanata Rhodophyta
3. Boodlea coacta Chlorophyta
4. Cladophora feredayi Chlorophyta
5. Ishige foliacea Phaeophyta
6. Cladophora columbiana Chlorophyta
7. Ulva conglobata Chlorophyta
8. Amphiroa cryptarthrodia Rhodophyta
9. Padina boryana Phaeophyta
Beberapa jenis makroalga yang ditemukan, 3 (tiga) diantaranya termasuk dalam filum Rhodophyta (alga merah). Makroalga ini umumnya berwarna merah, merah kekuningan, hingga merah gelap kehijauan karena dominasi pigmen phycoerythrin (Trono, 1974).
Rhodophyta jenis Gelidiumsp. mendominasi spesies makroalga yang ditemukan (Gambar 3). Gelidium corneum memiliki percabangan talus lateral dan meruncing pada bagian ujung.
Semnaskan-UGM XV | Poster Manajemen Sumberdaya Perikanan (PM-03) - 219
(a) (b) (c)
Gambar 3. Makroalga Gelidium sp.(a), Gloiopeltiscomplanata(b) dan Amphiroa cryptarthrodia (c).
Makroalga Gelidium sp. memiliki kandungan agar dengan kekuatan gel (gel strength) lebih tinggi daripada Glacilaria, sehingga Gelidiumsp. sangat potensial sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik, dan makanan. Sesuai dengan Utomo (2011) yang menyatakan bahwa Gelidium dan Gelidiella diprediksi memiliki kualitas agar yang lebih tinggi dengan potensi sebesar 4.500 ton/tahun. Namun, ketersediaan Gelidium masih mengandalkan eksploitasi dari alam dan jika hal tersebut dilakukan secara berlebihan dikhawatirkan dapat berakibat pada berkurangnya populasi alami.
Gelidium sp. sangat melimpah di Pantai Selatan Jawa, salah satunya di Pantai Krakal yang berada di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai Krakal merupakan pantai berpasir putih dengan substrat pantai terutama berupa karang mati dan karang berpasir, yang sangat cocok sebagai habitat makroalga. Gelidium sp.tumbuh melimpah pada daerah intertidal yang terpengaruh langsung oleh pasang surut.
Alga merah lainnya yang ditemukan melekat pada karang mati/bebatuan yaitu Gloiopeltis complanata dan Amphiroa cryptarthrodia. Gloiopeltiscomplanata atau disebut juga Endocladia complanata memiliki karakteristik warna cokelat kemerahan, dengan percabangan talus yang rimbun menggerombol pada bagian ujung (Gambar 3b).
Ciri karakteristik morfologi Amphiroa yaitu talus bersegmen pendek, pada bagian bawah silindris, sedangkan bagian atas agak runcing. Rimbun dengan percabangan talus dichotomus atau bercabang dua dan dapat mencapai tinggi sekitar 5-10 cm. Substansi talus keras dan rapuh mengandung zat kapur (Gambar 3c).
Kelompok Chlorophyta memiliki jumlah individu terbanyak dilokasi pengamatan. Terdapat pula 4 (empat) jenis makroalga yang termasuk dalam kelas Chlorophyta. Umumnya, makroalga ini berwarna hijau hingga hijau kekuningan karena didominasi oleh klorofil (Trono, 1988). Makroalga yang ditemukan dalam genus Boodlea memiliki talus berwarna hijau muda, berbentuk spons dan habitatnya menempel pada karang mati (Tampubolon, 2013).
Boodlea coacta hidup menempel sangat kuat pada substrat berupa karang/bebatuan.
Spesies ini memiliki talus berbentuk seperti kumpulan benang tebal yang terkadang menutupi makroalga jenis lain (Gambar 4a).
220 - Semnaskan-UGM XV | Pratiwi et. al.
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
(a) (b) (c) (d)
Gambar 4. Makroalga Boodlea coacta (a), Cladophora feredayi (b), Cladophora Columbiana (c) dan Ulva conglobata (d).
Cladophora adalah alga hijau yang berbentuk seperti benang bercabang hijau. Bentuk benang atau jaringnya sangat kuat dan sangat tipis (Gambar 4). Cladophora feredayi hidup melekat pada substrat bebatuan/karang mati berdampingan dengan makroalga jenis lain.
Makroalga ini banyak terdapat pada daerahintertidal yang akan terpapar sinar matahari jika air laut surut. Cladophora columbiana tumbuh melekat erat pada substrat bebatuan/karang mati. Makroalga ini berbentuk seperti karpet (Gambar 4c) yang tumbuh menutupi substrat.
Makroalga ini sangat melimpah di daerah intertidal.
Ulva conglobate tersusun dari lembaran-lembaran tipis transparan yang berwarna hijau (Gambar 4d). Keberadaan makroalga ini dipengaruhi oleh gelombang pasang surut. Saat gelombang air laut kencang, biasanya makroalga Ulva sangat mudah terbawa arus. Ulva sp.
merupakan salah satu makroalga yang telah dimanfaatkan sebagai makanan olahan di wilayah Gunung Kidul yaitu dalam bentuk keripik.
Terdapat 2 (dua) jenis spesies lainnya termasuk dalam kelompok Phaeophyta (alga cokelat) (Gambar 5). Umumnya, makroalga ini berwarna cokelat, cokelat pucat hingga cokelat kemerahan karena didominasi pigmen xantophyll (Trono, 1988). Ishige foliacea memiliki tekstur talus yang tebal berbentuk lembaran (Gambar 5a) dan ditemukan melekat erat pada bebatuan/karang mati.Padina boryana mempunyai bentuk khas seperti kipas dengan talus tipis (Gambar 5b).Padina hidup dengan melekatkan diri pada substrat bebatuan/karang mati.
Makroalga ini termasuk salah satu jenis rumput laut coklat yang memiliki potensi sebagai sumber alginat.
(a) (b)
Gambar 5. Makroalga Ishige foliacea(a) dan Padina boryana (b).
Gelidiumsp. memiliki nilai kerapatan relatif, penutupan relatif dan frekuensi relatif tertinggi dari spesies lainnya (Tabel 3). Semakin besar nilai frekuensinya maka semakin besar pula peluangkehadiran jenis dalam suatu plot, artinya ketiga jenis makroalga yang memiliki frekuensi relatif sama sebesar 16,67% yaitu Gelidium sp., Boodlea coacta, dan Cladophora columbiana memiliki peluang kehadiran tertinggi atau jenis yang palingsering dijumpai pada setiap plot pengamatan.
Semnaskan-UGM XV | Poster Manajemen Sumberdaya Perikanan (PM-03) - 221 Tabel 3. Nilai kelimpahan relatif (Di), penutupan relatif (RCi), frekuensi relatif (Fi), indeks nilai
penting (INP), indeks keanekaragaman penutupan jenis (H’C) dari makroalga yang ditemukan di Pantai Krakal, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
No Spesies Makroalga Di (%) RCi (%) Fi (%) INP H’C
1. Gelidium sp. 40,41 41,48 16,67 98,55 0,37
2. Gloiopeltis complanata 1,60 0,95 6,67 9,22 0,11
3. Boodlea coacta 24,08 13,06 16,67 53,80 0,31
4. Cladophora feredayi 3,64 1,22 11,67 16,52 0,16
5. Ishige foliacea 7,80 4,22 15,00 27,02 0,22
6. Cladophora columbiana 19,07 37,80 16,67 73,53 0,34
7. Ulva conglobata 3,09 1,02 10,00 14,11 0,14
8. Amphiroa cryptarthrodia 0,23 0,21 5,00 5,44 0,07
9. Padina boryana 0,09 0,04 1,67 1,80 0,03
Total 100,00 100,00 100,00 300,00 1,75
Indeks nilai penting (INP) menggambarkan peran suatu jenis alga terhadap komunitas alga jenis lain, semakin tinggi nilai INP suatu jenis relatif terhadap jenis lainnya, maka semakin tinggi peranan jenis pada komunitas tersebut. INP adalah parameter kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan. Hasilpengamatan menunjukkan bahwa makroalga Gelidium sp. memiliki peranan terbesar dalam komunitas makroalga. Spesies-spesies yang dominan dalam suatu komunitas tumbuhan akan memiliki indeks nilai penting yang tinggi, sehingga spesies yang paling dominan tentu saja memiliki indeks nilai penting yang paling besar (Indriyanto, 2008).
Makroalga selain bermanfaat untuk manusia, juga sangat dibutuhkan sebagai sumber makanan, tempat berlindung dan bertelur bagi beberapa jenis ikan. Peranannya dalam ekosistem, makroalga dapat berperan sebagai penahan gelombang air laut di daerah pesisir pantai. Nilai keanekaragaman ditentukan oleh dua faktor penting yaitu jumlah famili dan jumlah individu dari masing-masing jenis sehingga jumlah individu sangat menentukan nilai keanekaragaman. Apabila individu yang ada pada suatu habitat menyebar secara merata, maka nilai keanekaragaman jenis pada habitat tersebut cenderung akan tinggi pula (Sinyo &
Somadayo, 2013).
Keanekaragaman makroalga di lokasi pengamatan sebesar 1,75 menunjukkan kategori sedang (1 < H’ < 3). Suatu komunitas memiliki tingkat keanekaragaman sedang bila nilai keanekaragaman adalah 1-3. Nilai tersebut menjelaskan bahwa perairan pantai Krakal memiliki kondisi ekosistem seimbang dan tekanan ekologis sedang. Suatu komunitas dikatakan mempunyai kenekaragaman jenis tinggi, jika komunitas itu disusun oleh banyak jenis dengan kelimpahan tiap jenis yang sama atau hampir sama. Sebaliknya, jika komunitas itu disusun oleh sangat sedikit jenis atau hanya sedikit saja jenis yang dominan, maka keanekaragaman jenisnya rendah (Soegianto, 1994).
Untuk mengetahui keseimbangan komunitas digunakan indeks keseragaman, yaitu ukuran kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas. Semakin mirip jumlah individu antar spesies (semakin merata penyebarannya) maka semakin besar derajat keseimbangan.
Suhu permukaan air laut secara umum termasuk dalam kisaran suhu yang cocok dengan kondisi hidrologis makroalga. Suhu air dan pH merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup makroalga. Suhu perairan yang cocok untuk kehidupan makroalga yaitu antara 27–30 °C, sehingga suhu air masih dalam kisaran yang dapat memberikan toleransi terhadap tumbuhan laut untuk bertahan hidup.Hasil pengukuran parameter fisik lingkungan perairan (suhu air, salinitas, pH) menunjukkan bahwa kualitas perairan Pantai Krakal Gunung Kidul padakisaran yang dapat memberikan toleransi hidup bagi makroalga.
222 - Semnaskan-UGM XV | Pratiwi et. al.
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
Kelimpahan Gelidium sp. sangat di pengaruhi oleh fluktuasi lingkungan perairan sebagai habitatnya, seperti suhu permukaan air laut, kecepatan angin dan upwelling (Hernandez- Guererro, et al. 2000). Hasil penelitiannya menunjukkan hubungan erat antara fluktuasi lingkungan dengan kelimpahan relatif spesies tersebut. Krupek et al. (2012) juga menyatakan bahwa variasi temporal dan spasial mempengaruhi kelimpahan dan keragaman makroalga.
Tabel 4. Nilai parameter kualitas perairan di lokasi pengamatan.
No Parameter Satuan Kisaran Nilai
1. Suhu air °C 27 - 29
2.
3.
Salinitas pH
ppt 33 – 34,5 7,4 - 8 4. Fosfat (P-PO4) ml/l 1,55 – 1,90 5. Nitrat (N-NO3) ml/l 0,07 – 1,25
Secara umum kondisi perairan dikatakan masih cukup baik dan subur untuk mendukung pertumbuhan makro alga. Salinitas optimum untuk pertumbuhan makroalga sebagaimana dijelaskan oleh Lobban dan Harison (1992), salinitas yang optimal bagi pertumbuhan makroalga berada pada kisaran 24-38 ppt.
Hasil analisis kadar fosfat menunjukkan kisaran nilai 1,55-1,90 ml/l dan kadar nitrat berkisar antara 0,07-1,25 ml/l (Tabel 4). Kadar nitrat yang lebih besar dari 0,2 ppm akan mengakibatkan eutrofikasi (pengkayaan) yang menstimulir pertumbuhan alga dan tumbuhan air secara pesat (Effendi, 2003). Batas terendah konsentrasi fosfat untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara 0,018–0,090 ppm apabila nitrogen dalam bentuk nitrat, sedangkan bila nitrogen dalam bentuk amonium batas tertinggi berkisar pada 1,78 ppm (Yuniarsih, 2014). Nilai kadarnitrat dan fosfat perairan Pantai Krakal yang cenderung tinggi mengakibatkan pertumbuhan makroalga yang tidak terkendali, khususnya Chlorophyta yang menganggu Gelidium. Sehingga kondisi tersebut kurang mendukung bagi kehidupan Gelidium sp. yang bernilai ekonomis, karena pertumbuhannya terhambat oleh makroalga jenis lain yang mengalami pertumbuhan lebih pesat. Nilai fosfat dan nitrat yang tinggi kemungkinan berasal dari pemukiman yang ada di sekitar lokasi.
Secara hidrologis, perairan Pantai Krakal mampu mendukung pertumbuhan berbagai macam makroalga. Pantai Krakal dapat dijadikan sebagai lokasi sumber bibit Gelidium sp., karena keberadaannya melimpah di wilayah tersebut. Makroalga Gelidium sp. menjadi target para pengepul rumput laut, karena spesies ini sangat diminati pasar ekspor sebagai penghasil agar yang dibutuhkan oleh industri global. Sehingga eksploitasi dialam perlu diperhatikan, karena saat pengamatan di lapangan banyak pencari Gelidium yang mengeksploitasi dengan cara salah yang dapat merusak ekosistem. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam melakukan upaya konservasi makroalga bernilai ekonomis ini sangat penting, agar dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Makroalga yang ditemukan di Pantai Krakal sebanyak 9 (Sembilan) spesies dari golongan Rhodophyta, Chlorophyta dan Phaeophyta. Gelidium sp.merupakan makroalga paling melimpah yang memiliki nilai ekonomis penting sebagai penghasil agar dan memiliki peranan paling penting dalam komunitas. Keanekaragaman makroalga di Pantai Krakal masuk dalam kriteria sedang, yang artinya pantai Krakal memiliki kondisi ekosistem seimbang dan tekanan ekologis sedang.
Saran
Pemerintah setempat disarankan agar melakukan suatu upaya konservasi terutama untuk makroalga bernilai ekonomis agar eksploitasi dialam tidak berlebihan, dan menjaga agar masyarakat sekitar tidak membuang limbah domestik ke pantai. Dengan demikian keberadaan makroalga dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.
Semnaskan-UGM XV | Poster Manajemen Sumberdaya Perikanan (PM-03) - 223 Ucapan Terima Kasih
Penelitian ini didanai oleh DIPA APBN 2017. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Loka Riset Budidaya Rumput Laut dan Teknisi Litkayasa Twynnugroho Hadi Wiyanto, A.Md yang secara langsung telah membantu selama pengambilan data di lapangan. Terima kasih juga kepada Prof. Dr. Gadis Sri Haryani dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang telah banyak membimbing penulis dalam penyusunan makalah ini.
Daftar Pustaka
Boo, S. M., & Y.D. Ko. 2012. "Marine plants from Korea." Seoul: Marine & Extreme Genome Research Centre Program.
Campbell, N.A., J.B. Reece, & L.G. Mitchell. 2003. Biologi Jilid 2 (Alih bahasa oleh Wasmen Manalu). Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Effendi, I. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelola Sumber Daya dan Lingkungan Perairan.
Yogyakarta: Kanisius. p:249
Hernández-Guerrero, J. Claudia., M. Casas-Valdez, S. Ortega-García, & S. Hernández- Vazquez. 2000. "Effect of climatic variation on the relative abundance of the red alga Gelidium robustum in Baja California Sur, Mexico." Journal of Applied Phycology.12(2): 177-183.
Indriyanto. 2008. Ekologi hutan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Krebs, C.J. 1978. "Ecology: the Experimental Analysis of Distribution and Abundance., (Harper and Row Publishers Inc.: New York.).Lobban dan Herison. Faktor–Faktor Lingkungan. Manado: UNSRAT, 1992.
Palallo, A. 2013. "Distribusi Makroalga pada Ekosistem Lamun Dan Terumbu Karang Di Pulau Bonebatang, Kecamatan Ujung Tanah, Kelurahan Barrang Lompo Makassar."
Skripsi), Makassar, Program Studi Ilmu Kelautan.
Krupek, R. Antonio, C.C. Zanini Branco, & C.K. Peres. 2012. Spatial variations at different observational scales and the seasonal distributions of stream macroalgae in a Brazilian subtropical region. Brazilian Journal of Botany 35 (3): 249-257.
Romimohtarto. 2001. Biologi Laut. Cetakan III. Jakarta: Djambatan.
Sinyo, Y., & N.Somadayo. 2013. Studi keanekaragaman jenis makroalga di Perairan Pantai Pulau Dofamuel Sidangoli Kecamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halmahera Barat.
Jurnal Bioedukasi. 1(2): 67 – 75.
Soegianto, A. 1994. Ekologi kuantitatif: Metode analisis populasi dan komunitas. Jakarta:
Usaha Nasional.
Stephani, W, G.W. Santosa, & S. Sunaryo. 2014. "Distribusi Makroalgae di Wilayah Intertidal Pantai Krakal, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta." Journal of Marine Research 3(4): 633-641.
Tampubolon, A., S. Grevo, Gerung, & B. Wagey. 2013. Biodiversitas Alga Makro Di Lagun Pulau Pasige, Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis. 2(1): 35-43.
Trono Jr, G.C. 1974. Eucheuma farming in the Philippines. UP Natural Science Research Centre, Quezon City.
Utomo, B.S.B. 2011. "Prospek Pengembangan Teknologi Pengolahan Rumput Laut di Indonesia." Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Jakarta.
224 - Semnaskan-UGM XV | Pratiwi et. al.
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
Yudasmara & G. Ari. 2015. "Analisis keanekaragaman dan kemelimpahan relatif algae mikroskopis di berbagai ekosistem pada kawasan intertidal Pulau Menjangan Bali Barat." Jurnal Sains dan Teknologi 4(1).
Yuniarsih, E. 2014. Tingkat Penyerapan Nitrogen dan Fosfor Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma spinosum pada Sistem IMTA di Teluk Gerupuk. Institut Pertanian Bogor, Bogor.