• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1. Sistem Pakar

2.1.1. Kecerdasan Buatan

Kecerdasan buatan adalah suatu ilmu yang mempelajari cara membuat komputer melakukan sesuatu seperti yang dilakukan manusia. Definisi lain, kecerdasan buatan (Artificial Intelegence) merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu hal yang dalam pandangan manusia adalah cerdas. ( Kusrini, 2006 )

Ilmu yang mempelajari cara membuat komputer dapat bertindak dan memiliki kecerdasan seperti manusia disebut kecerdasan buatan. Bidang- bidang yang termasuk dalam kecerdasan buatan antara lain: penglihatan komputer (conputer vision), pengolahan bahasa alami (natural language processing), robotika (robotics), sistem syaraf buatan (artificial neural sustems), dan sistem pakar (expert system).

Pada dasarnya sistem pakar diterapkan untuk mendukung aktivitas pemecahan masalah. Beberapa aktifitas pemecahan yang dimaksud antara lain:

pembuatan keputusan (designing making), pemaduan pengetahuan (knowladge fusing), pembuatan desain (designing), perencanaan (planning), prakiraan (forecasting), pengaturan (regulating), pengendalian (controlling), diagnosis (diagnosing) dan pelatihan (tutoring), selain itu sistem pakar juga dapat berfungsi sebagai asisten yang pandai dari seorang pakar. (Kusrini, 2006).

(2)

2.1.2. Definisi dan Tujuan Sistem Pakar

Sistem pakar adalah sistem berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru kerja dan membandingkan tingkat keahliannya dari para ahli (Andi, 2003).

Sistem pakar adalah sebuah teknik inovatif baru dalam menangkap dan memadukan pengetahuan. Kekuatan sistem ini terletak dalam kemampuannya memecahkan masalah-masalah praktis saat para ahli atau pakar berhalangan.

Kemampuan yang dimiliki sistem pakar disebabkan terdapatnya basis pengetahuan yang berupa pengetahuan non-formal yang sebagian besar berasal dari pengalaman.

Tujuan pengembangan sistem pakar sebenarnya bukan untuk menggantikan peran manusia, tetapi untuk mensubstitusikan pengetahuan manusia ke dalam bentuk sistem, sehingga dapat digunakan oleh orang banyak.

Ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan keahlian di dalam sistem pakar, antara lain:

1. Masyarakat awam non-pakar dapat memanfaatkan keahlian didalam bidang tertentu tanpa kehadiran langsung seorang pakar.

2. Meningkatkan produktivitas kerja, yaitu bertambah efisiensi pekerjaan tertentu serta hasil solusi kerja.

3. Penghematan waktu dalam menyelesaikan masalah yang kompleks.

4. Memberikan penyederhanaan solusi untuk kasus-kasus yang kompleks dan berulang-ulang.

5. Pengetahuan dari seorang pakar dapat didokumentasikan tanpa ada batas waktu.

(3)

6. Memungkinkan penggabungan berbagai bidang pengetahuan dari berbagai pakar untuk dikombinasikan.

2.1.3. Ciri dan Karateristik Sistem Pakar

Ada beberapa ciri dan karakteristik yang membedakan sistem pakar dengan sistem yang lain. Ciri dan karakteristik ini menjadi pedoman utama dalam pengembangan sistem pakar. Ciri dan karakteristik yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan sistem pakar merupakan suatu konsep, bukan berbentuk numerik. Hal ini dikarenakan komputer melakukan proses pengolahan data secara numerik sedangkan keahlian dari seorang pakar adalah fakta dan aturan-aturan, bukan numerik.

2. Informasi dalam sistem pakar tidak selalu lengkap, subyektif, tidak konsisten, subyek terus berubah dan tergantung pada kondisi lingkungan sehingga keputusan yang diambil bersifat tidak pasti dan tidak mutlak “ya” atau

“tidak” akan tetapi menurut kebenaran tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan sistem untuk belajar secara mandiri dalam menyelesaikan masalah-masalah dengan pertimbangan-pertimbangan khusus.

3. Kemungkinan solusi sistem pakar terhadap suatu permasalahan adalah bervariasi dan mempunyai banyak pilihan jawaban yang dapat diterima.

Semua faktor yang ditelusuri memiliki ruang masalah yang luas dan tidak pasti. Oleh karena itu diperlukan fleksibilitas sistem dalam menangani kemungkinan solusi dari berbagai permasalahan.

4. Perubahan atau pengembangan pengetahuan dalam sistem pakar dapat terjadi setiap saat bahkan sepanjang waktu sehingga diperlukan kemudahan dalam modifikasi sistem untuk menampung jumlah pengetahuan yang semakin besar dan semakin bervariasi.

5. Pandangan dan pendapat setiap pakar tidaknya selalu sama, yang oleh karena

(4)

pasti benar. Setiap pakar akan memberikan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan faktor subyektif.

6. Keputusan merupakan bagian terpenting dari sistem pakar. Sistem pakar harus memberikan solusi yang akurat berdasarkan masukkan pengetahuan meskipun solusinya sulit sehingga fasilitas informasi sistem harus selalu diperlukan.

Berikut ini merupakan perbandingan antara sistem pakar, sistem konvensional dan kepakaran manusia, seperti pada Tabel 2.1.

(5)

Tabel 2.1 Perbandingan antara Sistem Pakar, Sistem Konvensional dan Kepakaran Manusia.

Kepakaran Manusia Sistem Pakar Sistem Konvensional Menggunakan

pengetahuan dalam bentuk rules atau secara heuristics untuk memecahkan permasalahan

Memproses pengetahuan yang terekspresikan dalam bentuk rules dan

menggunakan penalaran simbolis untuk

memecahkan permasalahan

Memproses data dan menggunakan algoritma untuk memecahkan permasalahan numeris

Pengetahuan terdapat pada otak manusia

Terdapat pemisahan yang jelas antara pengetahuan dan pemrosesan

Tidak memisahkan pengetahuan dari struktur control dalam memproses pengetahuan tersebut Mampu menjelaskan garis

besar dan detil penalaran

Menelusuri rules yang terpicu dalam proses Tanya-jawab dan menjelaskan bagaimana konklusi di capai.

Tidak menjelaskan bagaimana konklusi di capai

Menggunakan penalaran dari informasi yang tidak pasti, tidak lengkap dan kabur (fuzzy)

Memungkinkan penalaran yang tidak pasti dari data yang tidak lengkap, tidak pasti dan kabur (fuzzy)

Menggunakan data yang lengkap dan pasti

Dapat membuat kesalahan jika informasi tidak lengkap atau kabur

Dapat membuat kesalahan jika informasi tidak lengkap atau kabur

Tidak menghasilkan solusi apapun atau menghasilkan solusi yang salah jika data tidak lengkap atau kabur Melalui proses

pembelajaran bertahun untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah

Kemampuan pemecahan masalah dapat ditingkatkan cukup dengan

menambahkan kaidah- kaidah yang baru

Memodifikasi code program untuk

meningkatkan kemampuan pemecahan masalah

(6)

Inference Engine

Working Memory Knowladge base User Interface

Developer Interface User

Developer Explanation Facility

2.1.4. Arsitektur Sistem Pakar

Arsitektur sistem pakar dapat dilihat pada Gambar 2.1, dibawah ini

Gambar 2.1 Arsitektur Sistem Pakar (Sumber : M.Arhami , 2003)

Adapun penjelasan Gambar 2.1, sebagai berikut:

1. Mesin inferensi (Inference Engine), merupakan otak dari sistem pakar yang mengandung mekanisme fungsi berpikir serta metodologi yang digunakan untuk melakukan penalaran terhadap informasi-informasi dalam basis pengetahuan dan memformulasikan konklusi.

2. Tempat penyimpanan sementara (Working Memory), merupakan tempat penyimpanan fakta-fakta yang diketahui dari hasil menjawab pertanyaan.

3. Fasilitas penjelasan (Explanation Facility), merupakan suatu fasilitas yang memberikan penjelasan saat user mengetahui apakah yang menjadi solusi dari suatu permasalahan.

4. Basis pengetahuan (Knowladge Base), merupakan representasi pengetahuan dari seorang atau beberapa pakar yang diperlukan untuk memahami, memformulasikan dan memecahkan masalah, dimana basis pengetahuan terdiri dari dua elemen yaitu fakta dan aturan.

5. Pemakai (User), merupakan orang yang menggunakan sistem.

6. Pembangun sistem (Developer), merupakan orang yang berhak melakukan perubahan terhadap sistem.

(7)

Pakar

Fasilitas Akuisisi Pengetahuan

User Interface

Mesin Inferensi Fasilitas Penjelasan

Sistem

Fasilitas Belajar Sendiri Basis

Pengetahuan Basis Aturan

DBMS

Pemakai

Konsultasi Fakta dan

Query Fakta dan

Aturan

Fakta yang dikembalikan Fakta baru

Fakta yang disimpan Fakta dan

Aturan Fakta dan

Aturan

2.1.5. Komponen Sistem Pakar

Suatu sistem disebut sebagai sistem pakar jika mempunyai ciri dan karakteristik tertentu. Hal ini juga harus didukung oleh komponen-komponen sistem pakar yang mampu menggambarkan tentang ciri dan karakteristik tersebut. Komponen- komponen sistem pakar adalah sebagai berikut (Hartati, 2008):

a. Basis Pengetahuhan (Knowladge Base) b. Mesin Inferensi (Inference Machine) c. Fasilitias Penjelasan (Explanation Facility)

d. Fasilitas Akuisisi Pengetahuan (Knowladge Acquisition Facility) e. Fasilitas Pelatihan Sendiri (Self-Training Facility)

f. Antar Muka Pemakai (User Interface)

Pada Gambar 2.2 menunjukkan komponen-komponen dari sebuah sistem pakar.

(8)

a. Basis pengetahuan (Knowladge Base)

Basis pengetahuan merupakan kumpulan pengetahuan bidang tertentu pada tingkatan pakar dalam format tertentu. Pengetahuan ini diperoleh dari akumulasi pengetahuan pakar dan sumber lain yang dapat berupa buku, majalah, jurnal ilmiah dan sebagainya.

b. Mesin Inferensi (Inference Machine)

Mesin inferensi adalah bagian dari sistem pakar yang melakukan penalaran dengan menggunakan isi daftar aturan berdasarkan urutan dan pola tertentu.

Selama proses konsultasi antar sistem dan pemakai, mesin inferensi menguji aturan satu demi satu sampai kondisi aturan itu benar.

Secara umum ada dua teknik utama yang digunakan dalam mesin inferensi untuk pengujian aturan, yaitu penalaran maju (Forward Reasoning) dan penalaran mundur (Reverse Reasoning).Dalam penalaran maju, aturan-aturan diuji satu demi satu dalam urutan tertentu. Urutan ini mungkin berupa urutan pemasukan aturan kedalam basis aturan atau juga urutan lain yang ditentukan oleh pemakai. Saat tiap aturan diuji, sistem pakar akan mengevaluasi apakah kondisinya benar atau salah. Jika kondisinya benar, maka aturan itu disimpan kemudian aturan berikutnya diuji. Sebaliknnya kondisinya salah, aturan ini tidak disimpan dan aturan berikutnya diuji.

c. Fasilitas Penjelasan (Explanation Facility)

Fasilitas penjelasan sistem merupakan bagian dari sistem pakar yang memberikan penjelasan tentang bagaimana program dijalankan, apa yang harus dijelaskan kepada pemakai tentang suatu masalah, memberikan rekomendasi kepada pemakai, mengakomodasi kesalahan pemakai dan menjelaskan bagaimana suatu masalah terjadi.

Fasilitas penjelasan sistem harus mampu menjelaskan bagaimana harus memeriksa sekering yang putus atau bagaimana memeriksa aki motor, sehingga pemakai dapat mengerti dengan jelas apa yang harus dilakukannya. Dalam sistem pakar, fasilitas penjelasan sistem sebaiknya diintegrasikan ke dalam tabel basis pengetahuan dan basis aturan karena hal ini lebih memudahkan perancangan sistem.

(9)

d. Fasilitas Akuisisi Pengetahuan (Knowladge Acquisition Facility)

Fasilitas ini merupakan suatu proses untuk mengumpulkan data-data pengetahuan akan suatu masalah dari pakar. Bahan pengetahuan dapat ditempuh dengan beberapa cara, misalnya mendapatkan pengetahuan dari buku, jurnal ilmiah, para pakar dibidangnya, laporan, literature dan seterusnya. Sumber pengetahuan tersebut dijadikan dokumentasi untuk dipelajari, diolah dan diorganisasikan secara terstruktur menjadi basis pengetahuan.

Sumber pengetahuan tersebut harus dapat diperoleh dengan kemampuan untuk mengolah data-data tersebut menjadi solusi yang efisien, komunikasi yang baik dan kerja sama tim yang solid. Karena itu semua kemampuan menjadi hal yang mutlak diperlukan oleh seorang pengembang sistem.

e. Fasilitas Belajar Sendiri (Self-training Facility)

Pakar manusia selalu berusaha untuk memutahirkan pengetahuannya. Ketika sistem pakar menemukan data baru selama proses inferensi, informasi ini dapat ditambahkan dalam basis pengetahuan. Menggunakan fasilitas pelatihan, sistem pakar menerima fakta baru dan membandingkannya dengan fakta yang telah ada.

Jika fakta baru yang ditemukan tersebut tidak terdapat dalam domain basis pengetahuan, maka fakta baru tersebut merupakan kandidat yang dapat dimasukkan dalam basis pengetahuan.

f. Antar Muka Pemakai (User Interface)

Antar muka pemakai memberikan fasilitas komunikasi antara pemakai dan sistem, memberikan berbagai fasilitas informasi dan berbagai keterangan yang bertujuan untuk membantu mengarahkan alur penelusuran masalah sampai ditemukan solusi.

2.1.6. Bidang-Bidang Pengembangan Sistem Pakar

Ada beberapa bidang pengembangan sistem pakar yang ditunjukkan pada Tabel 2.2.

(10)

Tabel 2.2 Bidang-Bidang Pengembangan Sistem Pakar

Bidang Penjelasan

Konfigurasi Merakit komponen yang benar pada sebuah sistem dengan cara yang benar

Diagnosis Penelusuran permasalahan berdasarkan bukti-bukti hasil observasi Instruksi Memberikan instruksi dan pengajaran tertentu terhadap suatu topic-

permasalahan

Interpretasi Menjelaskan data hasil observasi

Monitor Membandingkan data observasi dengan data yang diharapkan dan- menganalisanya

Perencanaan Merencanakan suatu pekerjaan

2.1.7. Keuntungan dan Kelemahan Sistem Pakar

Ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan mengembangkan sistem pakar, antara lain:

1. Meningkatkan produktivitas kerja, yaitu bertambah efisiensi pekerjaan tertentu serta hasil solusi kerja.

2. Penghematan waktu dalam menyelesaikan masalah yang kompleks.

3. Memberikan penyederhanaan solusi untuk kasus-kasus yang kompleks dan berulang-ulang.

4. Pengetahuan dari seorang pakar dapat didokumentasikan tanpa ada batas waktu.

5. Memungkinkan penggabungan berbagai bidang pengetahuan dari berbagai pakar untuk dikombinasikan.

Selain banyak manfaat yang diperoleh, ada juga kelemahan pengembangan sistem pakar, yaitu:

1. Daya kerja dan produktivitas manusia menjadi berkurang karena semuanya dilakukan secara otomatis oleh sistem.

2. Pengembangan perangkat lunak sistem pakar lebih sulit dibandingkan dengan perangkat lunak konvensional.

(11)

Defenisi masalah Kebutuhan sistem Evaluasi solusi alternatif Vertifikasi pendekatan sistem Penyesuaian pengaturan masukan Fase I Inisialisasi

Kasus

Konseptualisasi rancangan dan desain Strategi pengembangan

Materi pengetahuan Komputasi materi Kemudahan pengenalan Analisa efesiensi Fase II Analisis dan

Desain Sistem

Membangun prototype Pengujian dan pengembangan Demonstrasi dan kemudahan analisa Penyelesaian desain

Fase III Prototype dasar kasus

2.1.8. Tahapan Pengembangan Sistem Pakar

Terdapat 6 fase pengembangan sistem pakar seperti diperlihatkan pada Gambar 2.3. Fase-fase tersebut adalah:

1. Fase Inisialisasi Kasus

2. Fase Analisis dan Desain Sistem 3. Fase Prototype Dasar Kasus 4. Fase Pengembangan Sistem 5. Fase Implementasi Sistem 6. Fase Implementasi Tahap Lanjut

A

(12)

Fase VI

Implementasi Tahap Lanjut

Operasional

Perawatan dan pengembangan sistem Evaluasi sistem secra periodik

Proses inputan pemakai

Instalasai, demonstrasi dari penerapan sistem Orientasi dan latihan

Keamanan Dokumentasi

Integrasi dan pengujian kasus Fase V

Implementasi Sistem

Gambar 2.3 Tahapan Pengembangan Sistem Pakar

Adapun penjelasan Gambar 2.3 adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi

Tahap ini merupakan tahap untuk mengkaji dan membatasi masalah yang akan diimplementasikan dalam sistem. Setiap masalah yang diidentifikasi harus di cari solusi, fasilitas yang akan dikembangkan, penentuan jenis bahasa pemrograman dan tujuan yang ingin dicapai dari proses pengembangan tersebut.

2. Konseptualisasi

Hasil identifikasi masalah dikonseptualisasikan dalam bentuk relasi antar data, hubungan antar pengetahuan dan konsep-konsep penting dan ideal yang akan diterapkan dalam sistem. Konseptualisasi juga menganalisis data-data penting yang harus didalami bersama dengan pakar dibidang permasalahan tersebut.

3. Formalisasi

Pada tahap formalisasi konsep-konsep tersebut diimplementasikan secara formal, misalnya memberikan ketegori sistem yang akan dibangun, mempertimbangkan beberapa faktor pengambilan keputusan seperti keahlian manusia, kesulitan dan tingkat kesulitan yang mungkin terjadi, dokumentasi kerja dan sebagainya.

A

(13)

4. Implementasi

Tahap implementasi dimulai dengan membuat garis besar masalah kemudian memecahkan masalah ke dalam modul-modul. Untuk memudahkan maka harus diidentifikasi:

a. Apa saja yang menjadi inputan

b. Bagaimana prosesnya digambarkan dalam bagan alur dan basis aturannya.

c. Apa saja yang menjadi output atau hasil dan kesimpulannya.

Sesudah itu semuanya diubah dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh komputer dengan menggunakan tahapan fase seperti pada Gambar 2.3.

5. Evaluasi

Sistem pakar yang selesai dibangun, perlu untuk dievaluasi untuk menguji dan Menemukan kesalahannya. Dalam evaluasi akan ditemukan bagian-bagian yang harus dikoreksi untuk menyamakan permasalahan dan tujuan akhir pembuatan sistem.

6. Pengembangan sistem

Pengembangan sistem bertujuan agar sistem yang dibangun tidak menjadi usang dan investasi sistem tidak sia-sia. Hal pengembangan sistem yang paling berguna adalah proses dokumentasi sistem dimana didalamnya tersimpan semua hal yang penting yang dapat menjadi tolak ukur pengembangan sistem pada masa mendatang termasuk didalamnya adalah kamus pengetahuan masalah yang diselesaikan.

2.2. Representasi Pengetahuan

Pengetahuan yang didapatkan pada proses akuisisi pengetahuan tidak bisa diaplikasi begitu saja dalam sistem pakar. Pengetahuan harus direpresentasikan dalam format tertentu dan akan dihimpun dalam suatu basis pengetahuan.

(14)

2.2.1. Model Representasi Pengetahuan

Representasi pengetahuan dimaksudkan untuk mengorganisasikan pengetahuan dalam bentuk tertentu. Untuk membuat sistem pakar yang efektif harus dipilih representasi pengetahuan yang tepat. Beberapa model representasi pengetahuan yang penting:

a. Jaringan Semantik (Semantic Nets) b. Bingkai (Frames)

c. Kaidah Produksi (Production Rule)

2.2.2. Jaringan Semantik (Semantic Nets)

Jaringan semantik adalah teknik representasi pengetahuan yang digunakan untuk informasi proposional. Yang dimaksud dengan informasi proporsional adalah pernyataan yang mempunyai nilai benar atau salah. Sebagai contoh, sebuah bujur sangkar mempunyai empat sisi. Informasi proporsional merupakan bahasa deklaratif karena menyatakan fakta.

Representasi jaringan semantik merupakan penggambaran grafis dari pengetahuan yang memperlihatkan hubungan hirarkis dari obyek-obyek.

Komponen dasar untuk merepresentasikan pengetahuan dalam bentuk jaringan semantik adalah simpul (node) dan penghubung (link). Objek direpresentasikan oleh simpul dan hubungan antar obyek-obyek dinyatakan oleh penghubung yang di beri label untuk menyatakan hubungan yang direpresentasikan. Contoh jaringan semantik terlihat pada Gambar 2.4.

(15)

SISTEM OPERASI

Pembuatan program

Eksekusi program Akses ke perangkat I/O Akses terkontrol ke file Deteksi error dan respon

Pembuatan program

Memiliki layanan

Gambar 2.4 Contoh Jaringan Semantik

2.2.3. Bingkai (Frames)

Bingkai berupa kumpulan slot-slot yang berisi atribut untuk mendeskripsikan pengetahuan. Pengetahuan yang termuat dalam slot dapat berupa kejadian, lokasi, situasi ataupun elemen-elemen lainnya. Bingkai digunakan untuk representasi pengetahuan deklaratif.

Bingkai memuat deskripsi sebuah obyek dengan menggunakan tabulasi informasi yang berhubungan dengan obyek. Jadi bingkai mengelompokkan atribut sebuah obyek. Dengan demikian bingkai membantu menirukan cara seorang mengorganisasikan informasi tentang sebuah obyek menjadi kumpulan data.

Contoh bingkai terlihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Contoh Bingkai

Slot Fillers

Nama Sepeda motor Honda astrea

Spesialisasi Jenis kendaraan beroda dua bermesin

Pembuat Honda

Isi silinder 120 cc

(16)

2.2.4. Kaidah Produksi (Production Rule)

Kaidah menyediakan cara formal untuk merepresentasikan rekomendasi, arahan atau strategi. Kaidah produksi dituliskan dalam bentuk jika-maka (if-then). Kaidah if-then menghubungkan antesenden (antecedent) dengan konsekuensi yang diakibatkannya (Hartati, 2008). Berbagai struktur kaidah if-then yang menghubungkan obyek atau atribut sebagai berikut:

IF Premis THEN konklusi IF masukan THEN keluaran IF kondisi THEN tindakan IF antesenden THEN konsekuen IF Data THEN hasil

IF Tindakan THEN tujuan

Premis mengacu pada fakta yang harus benar sebelum konklusi tertentu dapat diperoleh. Masukan mengacu pada data yang harus tersedia sebelum keluaran dapat diperoleh. Kondisi mengacu pada keadaan yang harus berlaku sebelum tindakan dapat diambil. Data mengacu pada informasi yang harus tersedia sehingga sebuah hasil dapat diperoleh. Tindakan mengacu pada kegiatan yang harus dilakukan sebelum hasil dapat diharapkan.

Representasi pengetahuan yang digunakan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini adalah kaidah produksi. Ada empat kriteria dalam memilih teknik representasi pengetahuan:

1. Kemampuan representasi, artinya teknik yang dipilih harus mampu merepresentasikan semua jenis pengetahuan yang akan dimasukan ke dalam sistem pakar.

2. Kemudahan dalam penalaran, artinya teknik yang dipilih mudah diproses untuk mendapatkan kesimpulan.

3. Efisiensi proses akuisisi, artinya teknik yang dipilih harus mampu membantu pemindahan pengetahuan dari pakar ke dalam komputer.

(17)

Kaidah 1 (cf = 0.8) :

IF beberapa tombol keyboard tidak berfungsi (cf = 0,65) AND keyboard tidak merespon sama sekali (cf = 0.7) AND keyboard bisa bekerja setelah dibersihkan (cf = 0.3 ) AND hubungkan ke kompoter lain tetap tidak respon ( cf = 0.8 ) THEN Keyboard Kotor

Cf konklusi = 0.24

4. Efisiensi proses penalaran, artinya teknik yang dipilih harus dapat melakukan efisiensi dalam proses mencapai kesimpulan.

Kaidah produksi sangat popular karena formatnya sangat fleksibel.

Hampir semua macam pengetahuan dapat ditulis dalam bentuk yang sesuai dengan format kaidah if-then. Kaidah semacam ini umumnya sangat mudah ditulis, dan secara relatif mudah membentuk pangkalan pengetahuan yang impresif dengan cepat.

Kaidah produksi diformat ke dalam dua bagian. Pertama bagian If yang menyatakan premis, kondisi atau antecedent. Biasanya disebut kaidah sebelah kiri kedua, bagian kaidah produksi then yang menyatakan konklusi, konsekuensi yang akan menggantikan kondisi sebelah kiri, bila ternyata sudah sesuai. Jika premis benar atau kondisinya cocok, maka bagian sebelah kanan juga benar. Kaidah ini di sebut picu. Jika kaidah sebelah kanan biasa diimplementasikan, maka kaidah tersebut sudah dipacu. Beberapa kaidah yang diberikan dalam contoh di bawah ini menunjukkan beberapa bentuk pengetahuan peluang diekspresikan ke dalam bentuk format kaidah produksi yaitu:

Dari contoh tersebut diatas, setiap kaidah tersusun dari apa yang disebut clouse. Clouse adalah semacam kalimat yang terdiri dari subyek, kata kerja dan objek yang menyatakan beberapa fakta. Pada setiap clouse terdapat satu clouse If dan satu clouse Then. Bagian kaidah if mungkin berisi lebih dari satu premis, dan masing-masing berisi clouse. Setiap kaidah yang mempunyai lebih dari satu

(18)

Jenis pengetahuan yang bisa ditampilkan dengan kaidah-kaidah adalah sangat luas. Pengetahuan teori yang sudah ada dalam buku-buku biasanya bisa dialihkan kedalam format kaidah. Hampir disemua sistem yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, membutuhkan yang sudah diakumulasi oleh seorang pakar selama bertahun-tahun. Hal ini disebut pengetahuan empiris, yaitu jenis pengalaman cut-and-error yang hanya didapatkan dari keterlibatan langsung dalam pemecahan masalah secara praktis. Pengetahuan ini disebut pengetahuan heuristic.

Hal yang tidak boleh dilupakan dalam kaidah produksi adalah bahwa kaidah produksi menampilkan se-kelumit pengetahuan individual. Hal ini biasanya dihubungkan dengan banyak kaidah. Kaidah tersebut dikaitkan secara bersama-sama untuk membentuk garis penalaran. Misalnya, kesimpulan dari satu kaidah mungkin bisa menjadi premis bagi yang lainnya. Ini adalah kumpulan atau jaringan kaidah yang membentuk pangkalan pengetahuan.

2.3. Faktor Ketidakpastian

Suatu pernyataan kondisi maupun aksi tidak selalu memberikan derajat kepastian yang penuh, akan tetapi kadang-kadang tergantung pada suatu faktor tertentu, karena dalam kenyataannya para pakar seringkali berurusan dengan fakta-fakta yang tidak menentu dan tidak pasti. Untuk itu sistem pakar juga harus dapat menangani masalah kekurangpastian dan ketidakpastian. Teknik yang sudah digunakan untuk menangani hal tersebut diantaranya adalah nilai pendekatan Bayes (Bayesian Approach), faktor kepastian (Certainty Factor), teori Dempstre- Shafer (Arhami, 2003).

2.3.1. Pendekatan Bayes (Bayesian Approach)

Didasarkan pada teori probabilitas/peluang. Peluang menunjukkan kemungkinan sesuatu akan terjadi atau tidak dengan rumus dasarnya:

(19)

( ) J u ma lk a e i

d i a n

J u m l a

X

P =

Misalkan dari 10 orang sarjana, 3 orang mengusai bahasa pemrograman Visual Basic sehingga peluang untuk memilih sarjana yang menguasai bahasa Visual Basic adalah:

P(0) = 0.3

Kelemahan teori peluang ini adalah nilai peluang dapat dipercaya jika menggunakan data yang cukup besar. Kelemahan lainnya adalah teknik ini lebih dekat pada persoalan-persoalan yang bersifat frekuentif, padahal dalam kenyataan banyak yang bersifat kemungkinan. Dengan demikian penggunaan pendekatan Bayes ini sangat terbatas pada persoalan-persoalan tertentu saja.

2.3.2. Faktor Kepastian (Certanty Factor)

Certainty Factor semula dikembangkan pada MYCIN. Faktor kepastian adalah suatu cara penggabungan kepercayaan (belief) dan ketidakpercayaan (disbelief) menjadi suatu nilai. Pendekatan ini dapat dijabarkan dalam rumus berikut:

RIk(cf) = min{Pi(cf)} untuk semua Pi (cf) ≥δ i cfk = RIk(cf) * [ RIk(cf) ]

dimana : RIk(cf) : Faktor keyakinan premis dari aturan ke- k Pi(cf) : Faktor keyakinan premis ke- i

δ : Nilai ambang dari faktor keyakinan premis cfk : Faktor keyakinan hasil dari suatu aturan Rk(cf) : Faktor keyakinan dari aturan ke- k

Certainty factor atau CF merupakan nilai yang menyatakan tingkat keyakinan dari premis atau kaidah tertentu. Nilai CF memiliki selang antara 1 dan 0. Pada Gambar 2.5 diberikan ilustrasi penggunaannya. Pendekatan nilai tingkat

(20)

itu sendiri adalah 0.8 maka faktor kepercayaan gabungan dari premis-premis yang ada adalah : RIk(cf) = min{Pi(cf)} = min {0.7,0.8,0.3,0.65} = 0.3

Selanjutnya untuk menentukan faktor kepercayaan output (faktor kepercayaan konklusi) dapat dihitung dengan : cfk = RIk(cf) * [ RIk(cf) ] = 0.3 * 0.8 = 0.24

Gambar 2.5 Faktor Kepercayaan dengan Beberapa Premis Gabungan

2.3.3. Teori Dempster-Shafer

Merupakan model ketidakpastian yang menggunakan rentang probabilitas. Eviden dibagi-bagi secara terpisah, kemudian dihitung nilai probabilitasnya. Hal ini mengakibatkan perhitungan bilangan yang agak rumit, dan dalam kasus permasalahan yang besar, perhitungan nilai ketidakpastiannya akan semakin komplek. Dilihat dari sistem rentang yang digunakan, maka metode faktor kepastian (CF) dapat dipandang sebagai kasus khusus dari teori Dempster-Shafer.

2.4. Metode Forward Chaining

Metode Forward Chaining (alur maju) adalah suatu metode pengambilan keputusan yang umum digunakan dalam expert system. Proses pencarian dengan metode forward chaining berangkat dari kiri ke kanan, yaitu dari premis menuju kepada kesimpulan akhir, metode ini sering disebut data driven (yaitu pencarian

RIk(cf) = Min {0.3}

0.8 0.3 0.65

AND Kaidah

RIk(cf) = 0.8

Cfk = RI(cf) * [RIk(cf) Premis

Konklusi (cf) = 0.24 0.7

(21)

dikendalikan oleh data yang diberikan).Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat contoh pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Contoh Aturan-Aturan Menggunakan Penalaran Forward Chaining.

No. Aturan

R-1 IF A & B THEN C R-2 IF C THEN D R-3 IF A & E THEN F R-4 IF A THEN G R-5 IF F & G THEN D R-6 IF G & E THEN H R-7 IF C & H THEN I R-8 IF I & A THEN J R-9 IF G THEN J R-10 IH J THEN K

Pada Tabel 2.4 terlihat ada 10 aturan yang tersimpan dalam basis pengetahuan. Fakta awal yang diberikan hanya : A & F (artinya : A & F bernilai benar ). Ingin dibuktikan apakah K bernilai benar (hipotesis K)?

Langkah-langkah inferensi adalah sebagai berikut:

a. Dimulai dari R-1, A merupakan fakta sehingga bernilai benar, sedangkan B belum bisa diketahui kebenarannya, sehingga C pun juga belum bisa diketahui kebenarannya. Oleh karena itu kita tidak mendapatkan informasi apapun pada R-1 ini. Sehingga kita menuju ke R-2.

b. Pada R-2 kita tidak mengetahui informasi apapun tentang C, sehingga kita juga tidak bisa memastikan kebenaran D. oleh karena itu kita tidak mendapatkan informasi apapun pada R-1 ini. Sehingga kita menuju ke R-3.

c. Pada R-3, baik A maupun E adalah fakta sehingga jelas benar. Dengan demikian F sebagai konsekuen juga ikut benar. Sehingga sekarang kita

(22)

d. Pada R-4, A adalah fakta sehingga jelas benar. Dengan demikian G sebagai konsekuen juga ikut benar. Sehingga sekarang kita mempunyai fakta baru yaitu G. karena G bukan hipotesis yang hendak kita buktikan, maka penelusuran kita lanjutkan ke R-5.

e. Pada R-5, baik F maupun G bernilai benar berdasarkan aturan R-3, dan R-4.

dengan demikian G sebagai konsekuen juga ikut benar. Sehingga sekarang kita mempunyai fakta baru yaitu D. karena D bukan hipotesis yang hendak kita buktikan, maka penelusuran kita lanjutkan ke R-6.

f. Pada R-6, baik A maupun G adalah benar berdasarkan fakta dari R-4. dengan demikian H sebagai konsekuen juga ikut benar. Sehingga sekarang kita mempunyai fakta baru yaitu H. karena H bukan hipotesis yang hendak kita buktikan, maka penelusuran kita lanjutkan ke R-7.

g. Pada R-7, meskipun H benar berdasarkan R-6, namun kita tidak tahu kebenaran C, sehingga I pun juga belum bisa diketahui kebenarannya. Oleh karena itu kita tidak mendapatkan informasi apapun pada R-7 ini. Sehingga kita menuju ke R-8.

h. Pada R-8, meskipun A benar karena fakta, namun kita tidak tahu kebenaran I, sehingga J pun juga belum bisa diketahui kebenarannya. Oleh karena itu kita tidak mendapatkan informasi apapun pada R-8 ini. Sehinga kita melanjutkan ke R-9.

i. Pada R-9, J bernilai benar karena G benar berdasarkan R-4. Karena J bukan hipotesis yang hendak kita buktikan maka penelusuran kita lanjutkan ke R- 10.

j. Pada R-10, K bernilai benar karena j benar berdasarkan R-9. Karena h sudah merupakan hipotesis yang hendak kita buktikan, maka terbukti bahwa K adalah benar.

Tabel munculnya fakta baru pada saat inferensi terlihat pada Tabel 2.5.

sedangkan alur inferensi terlihat pada Tabel 2.5.

(23)

Tabel 2.5 Fakta Baru pada saat Inferensi Aturan Fakta Baru

R-3 F

R-4 G

R-5 D

R-6 H

R-9 J

R-10 K

R-9 R-10

R-4 Fakta

R-5

R-6 R-3

Fakta

Gambar 2.6 Alur inferensi Forward Chaining

2.5. Alat Bantu Pembangun Sistem Pakar

Untuk membangun sistem pakar diperlukan alat bantu (tool). Alat Bantu tersebut dapat berupa bahasa pemrograman tingkat tinggi atau dengan perangkat lunak (commercial expert system shell). Bahasa pemrograman tingkat tinggi yang khusus ditujukan untuk aplikasi kecerdasan buatan adalah LISP (List Processing) dan PROLOG (Programming Logic) bahasa ini adalah bahasa pemrograman yang deklaratif yang mempermudah dan mempercepat waktu pemrograman ketika menggunakan representasi pengetahuan. Namun demikian bahasa pemrograman

A

G

J K

E

F D

H

(24)

sistem pakar (Hartati, 2008). Dalam hal ini penulis menggunakan pemrograman visual basic sebagai alat Bantu untuk membangun sistem pakar.

2.6. Data Flow Diagram (DFD)

Data Flow Diagram (DFD) adalah gambaran sistem secara logika. Gambaran ini tergantung pada perangkat keras, perangkat lunak, struktur data atau organisasi (Hartono, 1990). Simbol-simbol yang digunakan dalam pemakaian data flow diagram dapat dilihat pada Tabel 2.6.

Tabel 2.6 Data Flow Diagram (DFD)

No Simbol Keterangan

1 Ekternal entity adalah kesatuan dari lingkungan luar sistem yang dapat berupa orang, organisasi atau sistem lainnya yang memberikan input/output dari sistem

2 Data Flow (arus data), mengalir diantara proses, simpanan data, dan kesatuan luar. Arus data sebaiknya diberi nama dengan jelas

3 Proses adalah kegiatan atau kerja yang dilakukan oleh orang lain, mesin atau komputer dari hasil suatu arus data yang masuk ke dalam sistem

4 Simpanan data adalah data yang dapat berupa file / database

(25)

2.7. Dasar-Dasar Troubleshooting pada Hardware Komputer

Permasalahan yang oleh hardware komputer kadang kala merupakan masalah kecil yang tidak memerlukan tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai komputer. Mengingat banyaknya jenis dan komponen hardware yang terdapat dalam komputer, maka penulis hanya melakukan pembahasan pada beberapa hardware yang umumnya paling sering menimbulkan masalah. Namun bukan berarti bahwa sistem pakar yang dihasilkan hanya mampu mendiagnosa kerusakan hardware yang dibahas disini saja, karena basis pengetahuan dapat ditambahkan untuk troubleshooting hardware yang lainnya.

2.7.1. Troubleshooting pada Printer

Masalah-masalah yang dapat timbul pada piranti output printer adalah sebagai berikut:

1. Printer tidak mau mencetak

Jika printer tidak mau mencetak meskipun power sudah dalam posisi hidup dan kertas sudah terpasang dengan baik maka dapat disebabkan antara lain karena:

a. Masalah pada driver printer.

b. kerusakan pada program aplikasi yang digunakan.

c. Printer tidak di pilih sebagai default printer atau d. Kerusakan pada printer itu sendiri.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah perlu dilakukan diagnosa terhadap kemungkinan-kemungkinan penyebabnya dan dilakukan langkah perbaikan.

2. Respon printer lambat mencetak

Jika printer lambat mencetak, maka kemungkinan pertama yang terjadi adalah printer memiliki antrian pekerja yang cukup panjang, atau dapat juga

(26)

3. Printer gagal menarik kertas

Permasalahan ini sering terjadi pada printer jenis ink-jet. Kebanyakan disebabkan karena roda penarik yang sudah aus. Kemungkinan lain adalah karena tinta yang hampir habis.

4. Printer tidak terdeteksi oleh program

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan printer tidak terdeteksi oleh tersambung secara serial dengan perangkat lain seperti scanner atau zip drive pada pararel port. Meskipun hal tersebut di ijinkan, namum dalam kondisi tertentu sering menimbulkan masalah. Misalnya ketika akan melakukan proses scan gambar pada saat printer sedang mencetak. Untuk mengatasinya gunakan peralatan secara bergantian.

5. Kertas pada printer macet

Kertas macet yang biasa disebut dengan istilah paper jam dapat terjadi karena beberapa sebab antara lain tumpukan kertas yang terlalu tebal pada paper tray printer, jenis kertas yang mudah menempel satu dengan lainnya atau roller pada printer yang sudah aus.

6. Koneksi printer jaringan gagal

Masalah ini dapat ditimbulkan oleh beberapa hal antara lain setting jaringan yang kurang benar atau driver printer yang bermasalah. Jika masalahnya pada setting jaringan, maka harus dilakukan langkah-langkah diagnosa jaringan termasuk nama komputer yang terhubung pada printer tersebut dan nama printer- nya. Pastikan pula printer tersebut sudah di-sharing dengan benar.

2.7.2. Troubleshooting pada Mouse

Masalah-masalah yang dapat timbul pada piranti input mouse antara lain:

1. Mouse tidak bekerja saat proses booting selesai

Pada saat proses booting selesai, mouse sama sekali tidak memberikan respon, sehingga primary and secondary button tidak berfungsi. Hal ini disebabkan karena kabel pada mouse tersebut mengalami kerusakan putus,

(27)

sehingga mouse tidak berfungsi lagi. Solusi yang harus ditempuh adalah mengganti mouse yang rusak dengan yang baru dan yang sesuai dengan yang digunakan.

2. Mouse tidak dikenali komputer

Pada saat proses booting muncul jendela kesalahan dengan pesan “Windows did not detect a mouse attached to komputer…”. Pesan tersebut terjadi karena tidak terdeteksinya mouse oleh sistem operasi yang dapat disebabkan antara lain:

a. Karena kabel mouse tidak tertancap dengan baik.

b. Driver mouse yang bermasalah.

c. Port I/O mouse rusak atau d. Mouse itu sendiri rusak.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah:

a. Periksa kembali kabel mouse yang tertancap pada serial port, jika memang terjadi kelonggaran pada kabel tersebut maka pasang kembali kabel mouse dengan benar.

b. Jika driver yang bermasalah, langkah yang harus dilakukan adalah meng- Update driver pada mouse yang sesuai dengan tipe mouse yang dipakai.

c. Jika port I/O yang bermasalah maka langkah yang harus ditempuh adalah mengganti motherboard dengan yang sesuai yang diharapkan.

d. Jika mouse itu sendiri yang rusak, ganti dengan mouse yang baru yang sesuai dengan tipe mouse yang digunakan.

3. Pointer mouse meloncat-loncat

Masalah pointer mouse yang meloncat-loncat disebabkan karena:

a. Kotornya komponen bola mouse.

b. Bagian pengarah pada mouse tertutup

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah:

1) Untuk itu lakukan pembersihan pada bola mouse dan roda-roda bola mouse.

2) Langkah yang harus diambil adalah membongkar mouse dan

(28)

tertutupnya bagian pengarah pada mouse dikarenakan abu atau rambut yang masuk kebagian dalam mouse.

Jika langkah yang dilakukan diatas tidak membantu, maka kemungkinan terjadi kerusakan pada board mouse sehingga mouse tersebut perlu diganti sesuai dengan mouse yang digunakan.

2.7.3. Troubleshooting pada Keyboard

Masalah-masalah yang dapat timbul pada piranti input keyboard antara lain:

1. Keyboard mengalami masalah saat komputer melakukan proses booting Pada saat proses booting tiba-tiba komputer terhenti dan muncul pesan kesalahan “Keyboard error or no keyboard present”. Pesan terserbut berarti CPU mendeteksi kerusakan pada keyboard atau keyboard tidak ditemukan. Masalah ini dapat ditimbulkan antara lain karena:

a. Kabel keyboard tidak tertancap dengan benar ke CPU atau port keyboard.

b. Tombol yang ditekan sehingga tombol terbenam dipapan keyboard.

c. Port keyboard bermasalah.

d. Keyboard yang rusak.

e. Tumpahnya cairan ke keyboard.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah :

1) Periksa kembali kabel keyboard yang tertancap pada port keyboard, jika memang terjadi kelonggaran pada kabel tersebut maka pasang kembali kabel keyboard dengan benar dan jangan dipaksa dalam pemasangan kabel 2) Tombol-tombol yang tidak berfungsi karena terbenam diatas keyboard maka yang harus dilakukan adalah memukul dengan pelan-pelan bagian bawah keyboard sehingga tombol-tombol yang terbenam bisa kembali seperti semula, jika tidak berhasil maka satu-satunya cara adalah dengan membongkar keyboard dan mengembalikan tombol-tombol seperti semula.

(29)

3) Jika port keyboard yang bermasalah maka langkah yang harus ditempuh adalah mengganti motherboard atau jika bisa ganti port keyboard yang sesuai dengan yang diharapkan.

4) Jika keyboard itu sendiri yang rusak, ganti dengan keyboard yang baru yang sesuai dengan tipe keyboard yang digunakan.

5) Cara mengatasi adanya tumpahan cairan pada keyboard adalah dengan mencucinya kembali dengan air panas sampai bersih lalu jemur hingga kering selama dua hari, lalu coba digunakan lagi.

2. Sebagian tombol yang ada pada keyboard tidak berfungsi dengan baik.

Sebagai tombol-tombol keyboard yang tidak berfungsi seperti tombol-tombol khusus yaitu NumLock, CapsLock, dan ScrollLock yang disebabkan karena:

a. Kotornya keyboard sehingga membuat sebagian tombol tidak berfungsi b. Masalah terdapat pada driver keyboard.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah :

1) Membersihkan keyboard dari kotoran/debu yang menempel dengan cara mencuci semua tombol-tombol atau membersihkan hanya menggunakan kuas.

2) Jika driver keyboard yang bermasalah, langkah yang harus dilakukan adalah meng-Update driver pada keyboard yang sesuai dengan tipe keyboard yang dipakai.

2.7.4. Troubleshooting pada Monitor

Masalah-masalah yang dapat timbul pada piranti monitor antara lain:

1. Monitor mengalami pergeseran layar ketika mengubah resolusi

Penyebab dari pergeseran layar tersebut adalah adanya kemungkinan kurangnya penyetelan pembesaran layar yang secara otomatis atau monitor tidak mampu menyamakan video yang sesuai dengan yang diharapkan.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah

(30)

Dan periksa kembali driver monitor apakah sudah ter-install jika belum lakukan peng-installan.

2. Monitor tidak mau hidup

Penyebab tidak hidup monitor bisa terjadi karena:

a. Tombol power yang kurang tekan.

b. Kabel power yang kurang tertancap.

c. Kabel video yang terpasang kurang benar.

d. Bengkoknya pin pada kabel video.

e. Problem pada sinyal video board video adapter CRT.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah:

Untuk masalah tombol power, kabel power, kabel video lakukan pemeriksaan ulang terhadap kabel-kabel yang dimaksud.

Untuk masalah pin pada kabel video yang bengkok agar dapat dilurusi dengan hati-hati dan jangan sampai patah, jika itu terjadi maka kabel video harus diganti.

Untuk masalah pada sinyal video board, video adapter CRT lakukan pemeriksaan pada jenis atau tipe monitor yang digunakan dan keadaan atau kondisi dari monitor itu sendiri, melakukan pengaturan penyesuaian antara vertikal dan horizontal pada monitor.

3. Monitor menjadi gelap saat booting Windows

Pada saat proses booting monitor hidup dengan normal namun mendadak gelap ketika loading Windows. Kemungkinan penyebab yang paling besar adalah konfigurasi driver monitor yang tidak tepat. Misalnya memilih resolusi yang terlalu tinggi atau frekuensinya terlalu tinggi.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan memilih booting secara Safe-Mode dan mengkonfigurasi ulang resolusi atau frekuensinya yang sesuai dengan kemampuan daya tampung monitor akan resolusi yang diberikan dan VGA card yang digunakan.

4. Tampilan tiba-tiba rusak dan komputer hang

(31)

Jika tiba-tiba muncul titik-titik yang berwarna pada monitor yang akhirnya menyebabkan komputer macet, biasanya disebabkan karena suhu pada komputer atau graphic card yang terlalu panas.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan mengatasinya lakukan upaya pendinginan secara maksimal, salah satu caranya dengan memberikan kipas tambahan.

5. Ukuran tampilan tidak sesuai keinginan

Jika terdapat tampilan icon, font atau menu dan tampilan lain yang terlalu besar atau terlalu kecil, biasanya disebabkan karena pemilihan resolusi yang kurang sesuai. Setiap kartu VGA memiliki batas resolusi minimal dan- maksimal.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan cara melakukan pemeriksaan dari Control Panel.

6. Tampilan pada monitor tampak buram

Penyebab tampilan pada monitor menjadi tampak buram dan kontras warna tidak bisa diatur secara maksimal adalah faktor usia monitor itu sendiri. Sebuah monitor yang berusia lebih dari 3 tahun akan mengalami aus pada komponen- komponenya terutama melemahnya tembakan sinar electron dari tabung katoda monitor. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah diperlukan diagnosa oleh seorang teknisi monitor.

7. Monitor seperti berkedip saat digunakan

Hal ini bisa terjadi karena ada masalah pada setting refresh rate monitor tersebut. Pengaturan nilai refresh rate yang terlalu kecil dapat menyebabkan monitor seperti bergoyang atau berkedip. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan mengubah setting refresh rate ke nilai yang tepat.

8. Bercak kebiru-biruan pada sudut monitor

Munculnya bercak tidak berwarna atau kebiru-biruan pada salah satu sudut monitor disebabkan adanya medan magnet yang dihasilkan dari beberapa piranti elektronik dari monitor. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan

(32)

monitor . jika tidak berhasil maka harus di bawa ke teknisi untuk memberikan degaussing yang lebih kuat.

9. Tidak adanya masukan pesan sinyal pada monitor

Ini terjadi saat kabel monitor yang dihubungkan ke VGA card dicabut. Hal ini disebabkan karena longgarnya- hubungan kabel monitor ke monitor itu sendiri dan komponen atau perangkat keras yang terdapat dalam monitor itu sendiri yang sudah rusak. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah melakukan konsultasi dengan seorang teknisi monitor.

10. Monitor tidak mau bekerja

Hal ini disebabkan karena panas yang berlebihan atau perpindahan monitor yang sering dilakukan yang dapat menyebabkan letak fuse bergeser dari kedudukan semula. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah melakukan konsultasi dengan seorang teknisi monitor tapi jika bisa buka sekering pada bagian belakang monitor dan rapatkan kembali ketempatnya.

2.7.5. Troubleshooting pada Floppy Disk Drive

Masalah-masalah yang dapat timbul pada piranti Floppy Disk Drive antara lain:

1. Floppy Disk Drive failure

Pada saat booting muncul pesan kesalahan “floppy driver failure” dan komputer terhenti. Kemungkinan penyebab masalah ini antara lain :

a. floppy disk yang memang rusak.

b. Setting BIOS yang salah

c. Confliction dengan perangkat keras lain.

d. Sambungan-sambungan kabel yang kurang tepat.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah:

1) Jika kerusakan yang terjadi pada floppy disk itu sendiri maka harus diganti sesuai dengan yang digunakan.

2) Yang harus dilakukan adalah masuk ke dalam konfigurasi BIOS dengan melakukan penekanan tombol DELETE saat proses booting dan yang

(33)

harus diperiksa adalah setting ukuran dari floppy disk drive floppy disk drive yang digunakan.

3) Jika pergantian floppy yang baru dan pengaturan pada setting BIOS tidak mendapatkan hasil berarti terjadi kerusakan pada perangkat keras, yang- harus dilakukan uji motherboard yang ada dengan komputer lain atau uji kabel data yang lama dengan yang lain.

4) Perketat hubungan floppy antar kabel power dan kabel data.

2. Blue screen ketika akses floppy

Ketika akan mengakses Floppy Disk dari windows explorer, tampil layar menjadi biru dan muncul pesan “A fatal exception OE has occurred…”. Jika ini terjadi maka kemungkinan yang paling besar adalah terjadi kerusakan driver untuk floppy disk.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan meng-install ulang driver floppy disk melalui Control Panel.

3. Keluar bunyi aneh dan floppy drive tidak bekerja sebagai mana mestinya saat mengakses disket

Hal ini sebabkan karena 2 (dua) hal yaitu kotornya head pada floppy drive dan disket yang digunakan sudah rusak. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah membersihkan floppi drive dengan disket pembersih dan gunakan disket yang bisa digunakan atau masih baru.

2.7.6. Troubleshooting pada Central Processing Unit (CPU)

Masalah-masalah yang dapat timbul pada CPU antara lain:

1. CPU tidak bisa hidup

Kemungkinan yang paling umum kabel power CPU (Central Processing Unit) longgar atau belum terpasang. Solusi yang harus dilakukan adalah memeriksa kembali kabel power tersebut, jika tidak hidup juga berarti pin konektor untuk kabel power sudah putus.

(34)

Adanya kemungkinan kabel speaker pada CPU belum terpasang atau speaker yang ada di CPU sudah rusak. Solusi yang harus dilakukan adalah memeriksa ulang kabel tersebut. Dan coba speaker tersebut ke komputer lain jika tidak berfungsi berarti rusak.

3. Saat boot dimulai, CPU mengeluarkan bunyi satu beep, ada terdapat sepuluh beep.

Mengingat banyaknya variasi beep yang terdapat dalam komputer, maka penulis hanya melakukan pembahasan pada satu beep yang umumnya paling sering terjadi. Satu beep berarti proses refresh pada sebagai perangkat keras gagal.

Penyebab yang mungkin terjadi dari masalah ini adalah:

a. Chip memory yang buruk b. Chip DMA yang buruk

c. Chip memory addressing yang buruk pada motheboard

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan mematikan komputer, lalu rapatkan kembali kedudukan chip memory atau SIMM, lalu tes ulang, karena chip DMA langsung disolder pada motherboard, maka setiap masalah pada chip ini hanya bisa diselesaikan dengan menggantinya. Jika komputer tidak memiliki AMIBIOS dan mengeluarkan bunyi satu beep maka segera hubungi teknis yang berpengalaman penuh.

4. CPU tidak mau diboot sama sekali dari hard disk maupun floppy disk

Kemungkinan penyebab masalah ini terjadi pada kesalahan pemasangan kabel, pemasangan jumper.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan memeriksa apakah semua kabel yang digunakan sudah terpasang dengan benar dan penyetingan jumper sudah tepat. Jika belum ada perubahan lepaskan semua card yang dipakai lalu pasang kembali satu persatu dengan pelan.

5. Saat boot CPU mengeluarkan bunyi beep normal tapi tidak ada tampilan video pada layar.

Kemungkinan terjadi pada kabel yang menghubungkan monitor ke CPU.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan memeriksa kabel tersebut dan dan VGA card yang digunakan.

(35)

2.7.7. Troubleshooting pada Hard disk

Masalah-masalah yang dapat timbul pada hard disk antara lain:

1. Hard disk tidak terdeteksi

Pada saat proses booting muncul pesan “Boot disk failure pleas insert boot sistem…”. Hal ini terjadi karena hard disk tidak terdeteksi oleh komputer, disebabkan oleh:

a. Tidak terpasangnya kabel data atau kabel power ke hard disk b. Terjadi kesalahan pemasangan kabel data ke motherboard c. Hard disk sudah rusak atau bad sector.

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah:

1) Pemeriksaan ulang harus dilakukan terhadap kabel data dan kabel power, dimana yang harus diperiksa adalah uji kabel, apakah layak dipakai apa tidak, pemasangan kabel sesuai dengan konektor pada hard disk juga pemasangan kabel power harus sesuai dengan konektor power yang ada pada hard disk dan juga pada konfigurasi BIOS merek dan ukuran hard disk harus tertera, jika tidak berarti hard disk tidak terdeteksi.

2) Kesalahan pemasangan kabel data ke motherboard sering terjadi dimana terjadi penukaran pasang antara primary slave (IDE1) dan secondary slave (IDE2), biasanya untuk hard disk kabel data dipasang pada primary slave.

3) Untuk mengetahui kondisi hard disk apakah sudah rusak dapat dilakukan dengan cara memformatnya, jika format yang dilakukan tidak berhasil 100 persen berarti sudah terjadi bad sector pada hard disk dan hard disk harus diganti.

2. Sektor pada hard disk yang bermasalah tidak ditemukan Kemungkinan yang dialami oleh hard disk tersebut adalah:

a. Hard disk rusak

b. Hard disk tidak mampu untuk membaca lagi

(36)

luar Windows yang mampu memperbaiki dan menemukan sektor yang bermasalah.

3. Hard disk cepat panas dan berbunyi.

Adanya benturan terhadap hard disk atau adanya bad sector yang menyebabkan terjadi panas dan bunyi. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan melakukan format tingkat rendah dan ini hanya bisa lakukan oleh teknisi.

4. Disk bad (disk rusak)

Beberapa bagian dari sistem hard disk rusak. Solusi yang dilakukan adalah periksa kemungkinan yang paling murah terlebih dulu kabel hard disk didalam Central Processing Unit yang mungkin longgar. Lalu periksa apakah hard disk berputar, dengan merasa getaran atau mendengar suara, copot kabel power pada hard disk lalu pasang kembali, jika tidak jalan juga ganti dengan kabel yang lain, jika sama juga berarti hard disk rusak dan harus diganti.

Gambar

Tabel 2.1 Perbandingan antara Sistem Pakar, Sistem Konvensional dan   Kepakaran Manusia
Gambar 2.1 Arsitektur Sistem Pakar  (Sumber : M.Arhami ,  2003)
Tabel 2.2 Bidang-Bidang Pengembangan Sistem Pakar
Gambar 2.3 Tahapan Pengembangan Sistem Pakar
+6

Referensi

Dokumen terkait

1) Dewan Komisaris berarti Organ Perusahaan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus serta memberi nasihat kepada Direksi. 2) Direksi berarti Organ

 berikut> onset gangguan lebih awal, factor pencetus tidak jelas, riwayat kehidupan sebelum terjadinya gangguan kurang baik, fase prodromal terjadi cukup lama, adanya

Berdasarkan hasil penelitian tindakan diatas, dapat dilihat adanya perubahan pada pertemuan di satu siklus yaitu peningkatan aktivitas konselor sebaya, aktivitas siswa

Analisis data dilakukan secara deskriptif meliputi pola penyakit dan pola peresepan (jenis dan golongan antibiotika, rute pemakaian, bentuk sediaan, aturan

Di dalam meneliti film killers ini peneliti juga menemukan sebuah motif yang besar dibalik pengembangan ide cerita dan penambahan banyak unsur kekerasan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka masalah umum dalam penelitian ini adalah “Apakah dengan menggunakan metode pengalaman langsung pada

Penjaga kebun binatang mengatakan bahwa jika dia menambahkan 10 tahun dengan umur beruang dan kemudian dua kali lipatnya, beruang akan berumur 90 tahun.. Berapa

Di atas sudah sangat jelas bahwa peneliti pasti akan melakukan observasi langsung dan terstruktur untuk mendapatkan pengalaman secara langsung sekaligus mendapatkan