• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PASAL 32 UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS TENTANG SERAH TERIMA PROTOKOL NOTARIS PENGGANTI DENGAN NOTARIS (Studi di Kota Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI PASAL 32 UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS TENTANG SERAH TERIMA PROTOKOL NOTARIS PENGGANTI DENGAN NOTARIS (Studi di Kota Medan)"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

NEZA DWI ANDIKA 177011066/M.Kn

MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Notaris Pengganti adalah seseorang yang untuk sementara diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris. Setelah pengangkatan Notaris Pengganti yang dilantik oleh Majelis Pengawas Wilayah, Notaris dan Notaris Pengganti wajib membuat berita acara serah terima protokol. Notaris yang menjalankan cuti wajib menyerahkan Protokol Notaris kepada Notaris Pengganti dan Protokol tersebut diserahkan kembali kepada Notaris setelah cuti berakhir.

Serah terima jabatan tersebut dibuatkan berita acara dan disampaikan kepada Majelis Pengawas Wilayah dimana hak ini diatur di dalam Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris. Namun dalam praktiknya pada saat masa cuti Notaris berakhir, tidak adanya dibuat berita acara serah terima protokol baik dari Notaris kepada Notaris Pengganti, maupun Notaris Pengganti kepada Notaris saat masa cuti Notaris Pengganti berakhir.

Jenis Penelitian ini menggunakan penelitian yuridis normatif, yaitu suatu pendekatan yang menggunakan konsep legal positif dengan cara mengkaji penerapan kaidah atau norma dalam hukum positif. dengan menganalisis UU. No.

2/2014 tentang Perubahan UU. No. 30/2004, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. 61/2016, didukung hasil wawancara sebagai alat bantu penelitian ini dengan 2 Notaris, 2 Notaris Pengganti, dan 2 Majelis Pengawas.

Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris di Kota Medan tidak sesuai ketentuan yang seharusnya, Berita acara serah Terima Protokol Notaris dibuat sebanyak 2 (dua) tahap, yaitu pada saat Notaris Pengganti menjalankan jabatannya serta menerima Protokol Notaris dan pada saat Notaris Pengganti berakhir masa jabatannya serta menyerahkan kembali protokol tersebut kepada Notaris yang digantikan tersebut. Akan tetapi hal tersebut bertitik tolak dengan ketentuan yang telah diatur oleh Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris, adanya ketidak sesuaian antara ketentuan tersebut dengan praktik yang berlangsung pada Notaris ataupun Notaris Pengganti dalam menjalankan jabatannya. sanksi administratif berupa teguran secara lisan sesuai dengan ketentuan Pasal 85 Undang-undang Jabatan Notaris terkait Pasal 32 Undang- undang Jabatan Notaris berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Hukum dan Ham Nomor 61 Tahun 2016 Pasal 5 huruf e.

Kata Kunci: Notaris Pengganti, Implementasi Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris

(7)

Substitute Notary is someone who is temporarily appointed as a Notary to replace a Notary who is on leave, sick, or temporarily unable to carry out his position as a Notary. After the appointment of the Substitute Notary who is appointed by the Regional Supervisory Board, the Notary and the Substitute Notary must make the minutes of protocol handover. The notary who runs the leave must submit the Notary Protocol to the Replacement Notary and the Protocol is returned to the Notary after the leave ends. The handover of the position shall be made an official report and submitted to the Regional Supervisory Council where this right is regulated in Article 32 of the Notary Position Law. However, in practice when the Notary leave period ends, no minutes are made for the handover of protocols from the Notary to the Replacement Notary, or the Replacement Notary to the Notary when the replacement Notary leave ends.

This type of research uses normative juridical research, which is an approach that uses positive legal concepts by examining the application of rules or norms in positive law. by analyzing the law. No. 2/2014 concerning Amendment of Law. No. 30/2004, Minister of Law and Human Rights Regulation No. 61/2016, supported by the results of the interview as a tool for this study with 2 Notaries, 2 Substitute Notaries, and 2 Supervisory Councils.

The results of the study showed that the implementation of Article 32 of the Notary Position Act in Medan City was not in accordance with the supposed provisions. The minutes of the handover of the Notary Protocol were made in 2 (two) stages, namely when the Substitute Notary carried out his position and accepted the Notary Protocol and when the Notary Public The substitute ends his term and returns the protocol to the replaced Notary Public. However, this point starts with the provisions stipulated by Article 32 of the Notary Position Law, there is a discrepancy between the provisions and the practices that take place at the Notary or Substitute Notary in carrying out his position, administrative sanctions in the form of verbal reprimand in accordance with the provisions of Article 85 of the Notary Position Act related to Article 32 of the Notary Position Act based on the provisions of the Minister of Law and Human Rights Regulation No. 61 of 2016 Article 5 letter e.

Keywords: Substitute Notary, Implementation of Article 32 Act of Notary Position

(8)

penulisan tesis yang berjudul "Implementasi Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris Tentang Serah Terima Protokol Notaris Pengganti Dengan Notaris".

Penulisan tesis inimerupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (M.Kn) pada program studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Penulisan tesis ini melibatkan banyak pihak yang telah membantu dan mendorong penulis dalam proses penulisan tesis sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Ucapan terimakasih yang tidak terhingga penulis sampaikan dengan penuh rasa hormat kepada:

1. Prof Dr. Runtung, S.H., M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara 2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

3. Notaris Dr. Suprayitno, SH. M.kn selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis.

4. Dr. Henry Sinaga, SH, MKn selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis.

(9)

6. Dr. Ferry Susanto Limbong, SH, MHum selaku penguji sidang tesis yang telah memberikan saran perbaikan untuk kesempurnaan penulisan tesis.

7. Dr. Tony, SH, MKn selaku penguji sidang tesis yang telah memberikan saran perbaikan untuk kesempurnaan penulisan tesis.

8. Bapak dan ibu dosen Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu serta bimbingan yang sangat bermanfaat selama penulis mengikuti kegiatan perkuliahan.

9. Ibunda Intan Maulidiana dan ayahanda Effian Riswan, serta Phounna Mandira Chalandri yang telah membrikan doa, motivasi, cinta serta dukungan yang tiada henti-hentinya kepada penulis selama mengikuti perkuliahan hingga dapat menyelesaikan penulisan tesis dengan baik.

10. Teman-teman angkatan 2017 Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara yang saling membantu dalam proses perkuliahan dan penyelesaian tesis.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa tesis ini tidak luput dari kekurangan.

semoga tesis ini dapat berguna bagi perkembangan dan memperluas ilmu hukum kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia.

Medan, 10 Januari 2020

Penulis

NEZA DWI ANDIKA

(10)

Tempat/Tanggal Lahir : Banda Aceh, 18 Januari 2020

Alamat : Komplek Perumahan Ajun Lamhasan, Kec.

Peukan Bada, Kab. Aceh Besar.

Jenis Kelamin : Perempuan

Kewrganegaraan : Indonesia

Nama Ayah : Effian Riswan

Nama Ibu : Intan Maulidiana

II. PENDIDIKAN

Sekolah Dasar : SDN 01 Banda Aceh (1999-2006) Sekolah Menengah Pertama : SMPN 1 Banda Aceh (2006-2009) Sekolah Menengah Atas : SMAN 1 Banda Aceh (2009-2012) Perguruan Tinggi (S1) : Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala

(2012-2016)

Perguruan Tinggi (S2) : Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara (2017-2020)

(11)

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penulisan ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Keaslian Penulisan ... 9

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 10

1. Teori ... 10

2. Konsepsi ... 21

G. Metode Penelitian ... 22

1. Jenis dan Sifat Penelitian Data ... 22

2. Sumber Data ... 23

3. Teknik Pengumpulan Data ... 25

4. Analisis Data ... 26

BAB II: PENGATURAN HUKUM TENTANG NOTARIS PENGGANTI DALAM MEMEGANG PROTOKOL NOTARIS YANG DIGANTIKAN ... 28

A. Notaris Pengganti ... 28

B. Dasar Hukum Notaris Pengganti ... 33

C. Tugas dan Fungsi Notaris Pengganti ... 37

D. Kewajiban Notaris Pengganti ... 39

E. Kedudukan Notaris Pengganti ... 45

F. Syarat Pengangkatan Notaris Pengganti ... 48

G. Pengaturan Hukum Notaris Pengganti Dalam Memegang Protokol Notaris Yang Digantikan ... 51

1. Protokol Notaris ... 51

2. Beralihnya Protokol Notaris Kepada Notaris Pengganti ... 57

BAB III: IMPLEMENTASI PASAL 32 UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS TENTANG SERAH TERIMA PROTOKOL NOTARIS PENGGANTI KEPADA NOTARIS DI KOTA MEDAN ... 65

(12)

B. Implementasi Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris Tentang Serah Terima Protokol Notaris Pengganti Kepada Notaris di

Kota Medan ... 82

1. Pengawasan Terhadap Notaris Pengganti... 82

2. Serah Terima Protokol Antara Notaris dan Notaris Pengganti ... 89

BAB IV : PENERAPAN SANKSI TERHADAP PELANGGARAN PASAL 32 UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS TENTANG SERAH TERIMA PROTOKOL NOTARIS PENGGANTI KEPADA NOTARIS DI KOTA MEDAN ... 96

A. Peranan Notaris Pengganti Dalam Melakukan Serah Terima Protokol ... 96

1. Tinjauan Umum Tentang Berita Acara Serah Terima Protokol Notaris ... 96

2. Tanggung Jawab Notaris dan Notaris Pengganti Tentang Berita Acara Serah Terima Protokol ... 101

B. Penerapan Sanksi Terhadap Pelanggaran Pasal 32 Undang- undang Jabatan Notaris Tentang Serah Terima Protokol Notaris Kepada Notaris Pengganti di Kota Medan ... 106

1. Pelanggaran Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris Tentang Berita Acara Serah Terima Protokol Notaris ... 106

2. Sanksi dan Akibat Hukum Notaris dan Notaris Pengganti Apabila Serah Terima Protokol Tidak Dilaksanakan ... 111

BAB IV: PENUTUP ... 121

A. Kesimpulan ... 121

B. Saran ... 122

DAFTAR PUSTAKA ... 123

(13)

1

Eksistensi hukum ditengah-tengah masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan kehidupan masyarakat, sehingga hukum sering diesebut gejala sosial.1 Oleh karena itu pengaturan Jabatan Notaris di Indonesia diatur melalui Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya di singkat UUJN), Sesuai ketentuan pada Pasal 1 angka 1 UUJN tentang Jabatan Notaris, "Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya".

Eksistensi hukum ditengah-tengah masyarakat memang tidak berdiri sendiri, artinya hukum mempunyai keterkaitan yang erat dengan kehidupan masyarakat. Hukum bahkan dibutuhkan dalam pergaulan yang sederhana sampai pergaulan yang luas antar bangsa, karena hukumlah yang menjadi landasan aturan permainan dalam tata kehidupan. Oleh karena itu dalam menjalankan tugas dan jabatannya Notaris memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam bidang hukum keperdataan yang diatur dalam perundang-undangan, dimana kewenangan Notaris diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN menjelaskan bahwa:

Notaris berwenang membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang- undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam Akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan Akta, menyimpan Akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan Akta, semuanya itu sepanjang pembuatan Akta itu tidak juga ditugaskan atau

1 Hasim Purba, Suatu Pedoman Memahami Ilmu Hukum, Cahaya Ilmu, Medan, 2006, h. 2.

(14)

dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-undang.

Dalam menjalankan jabatannya Notaris mempunyai hak cuti sebagaimana diatur dalam Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32 UUJN, setiap Notaris yang diangkat sebagai pejabat negara wajib mengambil cuti dan menunjuk Notaris Pengganti, dan permohonan cuti tersebut diajukan kepada Majelis Pengawas Pusat.2 Notaris dapat mengambil cuti setelah 2 (dua) tahun setelah terhitung setelah melaksanakan sumpah jabatannya di mana hal ini diatur di dalam Pasal 25 UUJN. Sesuai dengan karakter jabatan Notaris yaitu harus berkesinambungan selama Notaris masih dalam masa jabatannya, maka Notaris yang bersangkutan wajib menentukan jangka waktu untuk masa cutinya dan wajib untuk menunjuk Notaris Pengganti.3 Pengaturan tentang Notaris Pengganti diatur dalam Pasal 1 angka 3 UUJN Tahun 2014 yaitu "Notaris Pengganti adalah seseorang yang untuk sementara diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris", ketentuan pasal ini untuk menjaga kesinambungan jabatan Notaris sepanjang kewenangan Notaris masih melekat pada Notaris yang digantikan.4

Dalam menjalankan tugas jabatannya, salah satu kewajiban Notaris dalam bidang administrasi adalah menyimpan dan memelihara segala dokumen termasuk

2 Pasal 37 ayat (1) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01.HT.03.01 Tahun 2006, tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Perpindahan, dan Pemberhentian Notaris.

3 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik terhadap UU No.30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Refika Aditama, Bandung, 2007, h. 102.

4 Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Refika Aditama, Bandung, 2009, h. 43.

(15)

di antaranya kumpulan akta dan berbagai dokumen lainnya yang biasa dikenal dengan Protokol Notaris. Menurut ketentuan Pasal 1 ayat (13) UUJN Tahun 2014, disebutkan bahwa Protokol Notaris adalah kumpulan dokumen yang merupakan arsip negara yang harus disimpan dan dipelihara oleh Notaris. Penjelasan Pasal 62 UUJN Tahun 2014, menyebutkan bahwa Protokol Notaris terdiri atas:

a. minuta Akta;

b. buku daftar akta atau repertorium;

c. buku daftar akta di bawah tangan yang penandatanganannya dilakukan di hadapan Notaris atau akta di bawah tangan yang didaftar;

d. buku daftar nama penghadap atau klapper;

e. buku daftar protes;

f. buku daftar wasiat; dan

g. buku daftar lain yang harus disimpan oleh Notaris berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam praktiknya Notaris dapat menunjuk seorang Notaris Pengganti yang lazimnya adalah salah satu karyawan yang bekerja di kantornya. Notaris menyerahkan Protokol Notarisnya kepada Notaris Pengganti, sehingga dalam penguasaan Notaris Pengganti terdapat protokol notaris dari notaris yang digantikan oleh Notaris Pengganti dan protokol yang meliputi akta-akta yang dibuatnya sendiri. Notaris Pengganti baru dapat menjalankan tugasnya setelah dilantik oleh instansi yang berwenang, di dalam menjalankannya berwenang membuat akta sebagaimana Notaris. Setelah pengangkatan Notaris Pengganti yang dilantik oleh Majelis Pengawas Wilayah, Notaris dan Notaris Pengganti wajib membuat berita

(16)

acara serah terima protokol sebagaimana hal ini diatur di dalam Pasal 32 UUJN Tahun 2014, bahwa dalam penyerahan Protokol Notaris, Notaris wajib:

(1) Notaris yang menjalankan cuti wajib menyerahkan Protokol Notaris kepada Notaris Pengganti.

(2) Notaris Pengganti menyerahkan kembali Protokol Notaris kepada Notaris setelah cuti berakhir.

(3) Serah terima sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibuatkan berita acara dan disampaikan kepada Majelis Pengawas Wilayah.

(4) Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dapat dikenai sanksi berupa:

a. peringatan tertulis;

b. pemberhentian sementara;

c. pemberhentian dengan hormat; atau d. pemberhentian dengan tidak hormat.

Notaris yang menjalankan cuti wajib menyerahkan protokol notaris kepada Notaris Pengganti dan Protokol tersebut diserahkan kembali kepada Notaris setelah cuti berakhir. Serah terima jabatan tersebut dibuatkan berita acara dan disampaikan kepada Majelis Pengawas Wilayah,5 dan walaupun cuti Notaris telah berakhir dan Protokol telah diserahkan kepada Notaris, tetapi Notaris Pengganti tetap bertanggung jawab atas setiap akta yang dibuatnya.6

Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya bahwa Protokol Notaris

5 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

6 Pasal 65 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

(17)

merupakan salah satu arsip negara menurut Pasal 1 ayat (13) UUJN Tahun 2014.

Oleh karenanya Protokol Notaris haruslah diperlakukan layaknya dokumen negara yang harus disimpan dan dijaga agar tetap autentik, dengan demikian Protokol Notaris sebagai kumpulan dokumen harus selalu disimpan dan dipelihara dalam keadaan apapun meskipun Notaris pemilik protokol tengah cuti maupun meninggal dunia. Notaris dalam mengemban jabatan sebagai Pejabat Umum dibatasi oleh umur biologis yaitu hingga 65 tahun, hal ini tentunya akan berdampak juga terhadap Protokol Notaris yang disimpannya.7

Seorang Notaris Pengganti yang baru diangkat untuk menggantikan Notaris yang berhenti atau meninggal dunia, di dalam Protokol Notaris yang diberikan mendapatkan minuta akta, salinan akta maupun repertorium yang usianya sudah lebih dari dua puluh lima tahun, dihitung sejak tanggal 1 (satu) bulan Januari dalam tahun di mana Protokol tersebut telah diserahkan, maka Protokol yang usianya sudah lebih dari dua puluh lima tahun itu harus dipindahkan kepada Majelis Pengawas daerah. Apabila Notaris yang telah menyerahkan Protokol Notaris kepada Notaris lain yang sudah meninggal dunia, maka Notaris penyimpan Protokol tidak bertanggung jawab atas proses pembuatan akta itu bila terjadi masalah pada akta tersebut. Akta itu sendiri sudah menjamin pembuktian diri baik dari segi formil dan materiil. Dalam hal ini hakim harus percaya kecuali yang menggugat dapat membuktikan sebaliknya. Jadi pemegang Protokol sama sekali tidak bertanggung jawab atas segala masalah yang timbul dari Protokol yang telah

7 Afipudin, Implikasi Hukum Protokol Notaris Sebagai Arsip Negara, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Medan, h. 4.

(18)

diserahkan kepadanya.8

Notaris dalam menyerahkan Protokol kepada Notaris Pengganti harus membuat berita acara dan dicatat di dalam reportorium saat melakukan serah terima tersebut, setelah masa cuti Notaris berakhir, dalam menyerahkan kembali Protokol Notaris dari Notaris Pengganti kepada Notaris, juga membuat berita acara dan dicatat di dalam reportorium. Reportorium merupakan kegiatan Notaris dalam mencatat semua akta yang dibuat oleh atau di hadapannya baik dalam bentuk minuta akta maupun originali dengan mencantumkan nomor urut, nomor bulanan, tanggal, sifat akta dan nama para penghadap. Serta serangkaian kegiatan Notaris dalam melakukan serah terima Protokol Notaris dan pelaporan tiap bulannya oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah Notaris sesuai dengan Daerah Kerja Notaris. Segala kegiatan Notaris harus dicantumkan di dalam reportorium, reportorium harus di catat dan tidak adanya batasan dalam membuat reportorium.

Namun dalam praktiknya pada saat masa cuti Notaris berakhir, tidak adanya dibuat berita acara serah terima protokol baik dari Notaris kepada Notaris Pengganti, maupun Notaris Pengganti kepada Notaris saat masa cuti Notaris Pengganti berakhir, serta fungsi Notaris Pengganti langsung berakhir setelah masa cuti Notaris yang digantikan telah habis masa cutinya, di mana Notaris langsung menjalankan kembali fungsinya sebagai pejabat negara. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul "Implementasi Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris Tentang Serah Terima Protokol Notaris Pengganti Dengan Notaris (Studi di Kota Medan)", yang nantinya kelak

8 Nuzulla Khairani, Tesis Analisis Yuridis Tentang Tanggung jawab Notaris Atas Protokol Notaris Yang Diserahkan Kepadanya, Universitas Indonesia, Depok, 2011, h. 54.

(19)

dapat memberikan saran dan masukan terhadap praktek kenotariatan dan lembaga yang terkait dalam penegakkan hukum di Indonesia.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka penelitian tesis ini akan di fokuskan pada efektivitas penerapan pelaksanaan peraturan Pasal 32 UUJN yang tersusun dalam suatu judul tesis: "Implementasi Pasal 32 Undang-undang Jabatan Notaris Tentang Serah Terima Protokol Notaris Pengganti Dengan Notaris (Studi di Kota Medan)". Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penulisan tesis ini adalah:

1. Bagaimana Pengaturan Hukum tentang Notaris Pengganti dalam memegang Protokol Notaris yang digantikan?

2. Bagaimana Implementasi Pasal 32 undang-undang Jabatan Notaris tentang serah terima Protokol Notaris Pengganti kepada Notaris di kota Medan?

3. Bagaimana Penerapan sanksi terhadap pelanggaran Pasal 32 undang-undang Jabatan Notaris tentang serah terima Protokol Notaris Pengganti kepada Notaris di kota Medan?

C. Tujuan Penulisan

Secara umum tujuan sebuah penulisan adalah untuk mencari atau menemukan kebenaran atau pengetahuan yang benar. Adapun yang menjadi tujuan pembahasan dari tesis ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaturan hukum tentang Notaris Pengganti dalam memegang Protokol Notaris yang digantikan.

2. Untuk mengetahui dan menganalisa implementasi Pasal 32 undang-undang

(20)

Jabatan Notaris tentang serah terima Protokol Notaris Pengganti kepada Notaris di kota Medan.

3. Untuk mengetahui dan menganalisa penerapan sanksi terhadap pelanggaran Pasal 32 undang-undang Jabatan Notaris tentang serah terima Protokol Notaris Pengganti kepada Notaris di kota Medan.

D. Manfaat Penulisan

Penelitian ini juga mempunyai manfaat dari segi kegunaan teoritis dan kegunaan praktis, yaitu :

1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan serta manfaat bagi pengembangan ilmu hukum khususnya di bidang kenotariatan, sehingga dapat memberikan gambaran, mengenai implementasi pasal 32 undang-undang Jabatan Notaris tentang serah terima Protokol Notaris Pengganti kepada Notaris di kota Medan, serta menambah pengetahuan serta wawasan penulis sendiri.

2. Kegunaan Praktis

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan serta manfaat bagi masyarakat maupun pejabat negara sebagai acuan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial terkait dengan implementasi pasal 32 undang-undang Jabatan Notaris tentang serah terima Protokol Notaris Pengganti kepada Notaris di kota Medan.

(21)

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran dan informasi tentang keaslian penelitian yang dilakukan, belum ada penelitian secara spesifik tentang Pertanggung jawaban hukum Notaris Pengganti berkaitan dengan Protokol Notaris yang dipegangnya, namun ada beberapa penelitian yang mendekati dengan judul dan rumusan masalah, antara lain:

1. An Nissa Lubis, Tahun 2014, dengan Judul Analisa yuridis kesalahan materil akta notaris dan akibat hukumnya (Studi putusan pengadilan negeri No.

635/PDT.G/2013/PN.MDN).

a. Bagaimanakah kriteria akta notaris dan akibat hukumnya terhadap akta otentik yang memiliki kesalahan materil?

b. Bagaimanakah pertanggungjawaban notaris dan perlindungan hukum terhadap notaris apabila terdapat kesalahan materil dalam akta yang dibuatnya?

c. Bagaimanakah pertimbangan pengadilan Negeri Medan dan akibat hukum kesalahan materil akta notaris dalam Putusan No.635/Pdt.G/2013/ PN.Mdn?

2. Miftahul Husna, Tahun 2015, dengan Judul Pertanggungjawaban Hukum Notaris Pengganti Setelah Selesai Dalam Menjalankan Jabatannya (Studi di kota Medan).

a. Bagaimana dasar pemberian pertanggungjawaban hukum Notaris Pengganti yang diberikan oleh notaris sebelumnya?

b. Bagaimana sistem pertanggungjawaban atas substansi protokol Notaris Pengganti setelah berakhir dalam menjalankan tugas jabatannya?

(22)

c. Bagaimana perlindungan hukum Notaris Pengganti apabila melakukan kesalahan dalam hubungan dengan akta yang dibuatnya setelah berakhir dalam menjalankan tugas jabatannya.

3. Nuzulla Khairani, Tahun 2011, dengan Judul Analisis Yuridis Tentang Tanggung Jawab Notaris Atas Protokol Notaris Yang Diserahkan Kepadanya.

a. Mengapa Notaris harus memelihara dan menjaga Protokol Notaris yang telah diserahkan kepadanya?

b. Bagaimanakah suatu Protokol Notaris dapat beralih kepada Notaris lainnya?

Berdasarkan penelusuran tersebut, maka terdapat perbedaan penelitian yang akan dilakukan peneliti dengan judul tersebut di atas, yaitu penelitian fokus terhadap Pertanggungjawaban Hukum Notaris Pengganti Berkaitan dengan Protokol Notaris yang dipegangnya.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori dapat diartikan sebagai sistem yang berisi proposisi-proposisi yang telah diuji kebenarannya, sehingga dapat memberikan suatu pemahaman tertentu. dalam arti lain teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi.9 Suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan tidak adanya kebenaran.10

9 J.J.J. Wuisman, penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid I, FE UI, Jakarta, 2006, h. 75.

10 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian Hukum, Mandar Maju, Bandung, 1994, h.

80.

(23)

Kerangka teori merupakan landasan teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari kebenaran yang dianalisis. Kerangka teori yang dimaksud adalah kerangka pemikiran atau pendapat-pendapat, teori tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.11 Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi.12 Teori hukum dapat digunakan untuk menganalisis dan menerangkan pengertian hukum dan konsep yuridis, yang relevan untuk menjawab permasalahan yang muncul dalam penelitian hukum.13

Kerangka teori atau disebut juga dengan istilah landasan teori adalah seperangkat definisi, konsep serta proporsi yang telah disusun rapi serta sistematis tentang variabel- variabel dalam sebuah penelitian. Landasan teori ini akan menjadi dasar yang kuat dalam sebuah penelitian yang akan dilakukan. Pembuatan landasan teori yang baik dan benar dalam sebuah penelitian menjadi hal yang penting karena landasan teori ini menjadi sebuah pondasi serta landasan dalam penelitian tersebut.

Fungsi teori dalam penelitian adalah untuk mensistematiskan penemuan- penemuan penelitian, membuat ramalan atau prediksi atas dasar penemuan dan menyajikan penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan. Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan obyek yang dijelaskan dan harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.14

Kerangka teori menguraikan jalan pikiran menurut kerangka yang logis, artinya mendudukkan masalah penelitian yang telah dirumuskan di dalam kerangka

11 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Cintra Aditya Bakti, Bandung, 2012, h. 269.

12 J.J.J. Wuisman, penyunting M. Hisyam, op.cit , h. 203.

13 Salim, HS, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 2010, h.

54. 14 M. Solly Lubis, Op, Cit, h. 80.

(24)

teoritis relevan yang mampu menerangkan masalah tersebut. Upaya tersebut ditujukan untuk menjawab atau menerangkan masalah yang telah dirumuskan.15 Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu sektor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.16 Kemudian mengenai disetujui atau tidak disetujui yang dijadikan masukan dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.17

Bagi seorang peneliti, suatu teori atau kerangka teori mempunyai berbagai kegunaan, di mana kegunaan tersebut paling sedikit mencakup hal-hal sebagai berikut:

a. Teori tersebut berguna untuk mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.

b. Teori sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi.

c. Teori biasanya merupakan ikhtisar dari hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang hendak diteliti.

d. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan muncul lagi pada masa-masa mendatang.

e. Teori memberi petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada pengetahuan penelitian.18

Teori ilmu hukum dapat diartikan sebagai ilmu atau disiplin hukum yang dalam perspektif interdisipliner dan eksternal secara kritis menganalisis berbagai aspek gejala hukum, dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik dan memberikan penjelasan sejernih mungkin tentang bahan hukum yang tersaji dari kegiatan yuridis dalam kenyataan masyarakat. Objek telaahnya adalah gejala

15 I Made Wirartha, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006, h. 23.

16 Ibid, h. 30.

17 Ibid, h.. 80.

18 Soerjono Soekanto, Ringkasan Metodologi Penelitian Hukum Empiris, Ind Hill Co, Jakarta, 1990, h. 67.

(25)

umum dalam hukum dan kritik ideological terhadap hukum.19 Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Teori Kepastian Hukum

Fungsi penggunaan teori kepastian hukum ini adalah untuk mendapatkan sebuah jaminan dan memberikan perlindungan hak-hak debitur dan kreditur dalam setiap perjanjian kredit yang dibuat oleh pejabat yang berwenang yaitu notaris.

Menurut Utrecht teori kepastian hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum (recht zakerheit) dalam pergaulan manusia dan hubungan-hubungan dalam pergaulan masyarakat.

Hukum menjamin kepastian pada pihak yang satu terhadap pihak yang lain.20 Kepastian hukum merupakan asas terpenting dalam perbuatan hukum dan dalam penegakan umum bahwa peraturan perundang-undangan dapat memberikan kepastian hukum yang lebih kuat dibandingkan dengan hukum kebiasaan, hukum adat atau hukum yurisprudensi.

Namun perlu diketahui bahwa kepastian hukum peraturan perundang- undangan tidak semata-mata diletakkan dalam bentuk yang tertulis . Bagir Manan menyatakan bahwa “untuk benar-benar menjamin kepastian hukum suatu perundang-undangan selain memenuhi syarat formal, harus pula memenuhi syarat- syarat lain yaitu jelas dalam perumusannya, konsisten dalam perumusannya baik secara intern maupun ekstern, penggunaan bahasa yang tepat dan mudah dimengerti oleh orang yang membacanya”.21

19 Bernard Arief Sidharta, Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum, Mandar Madju, Bandung, 2009, h. 122.

20 E. Utrecht, Pengantar dalam Hukum Indonesia, Balai Buku Ichtiar, Jakarta, 1967, h. 47.

21 Bagir Manan, Pembinaan Hukum Nasional, Alumni, Bandung, 2000, h. 225.

(26)

Teori kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yaitu yang pertama harus adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak dilakukan, dan yang kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu, individu itu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim yang satu dengan yang lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputuskan.22

Sebagaimana diketahui bahwa tujuan hukum adalah untuk mengayomi masyarakat, hukum harus diterapkan secara efesien dan setiap masyarakat harus mematuhi hukum yang diterapkan dalam peristiwa kongkrit. Pada dasarnya tidak boleh menyimpang sesuai istilah fiat justitia et perear mundus (meskipun dunia ini runtuh hukum harus tetap ditegakkan). Itulah yang diinginkan dari kepastian hukum. Kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap tindakan sewenang-wenang yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum yang hakiki, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan menjadi tertib, karena hukum bertugas menciptakan kepastian hukum bertujuan ketertiban masyarakat.23

Sudikno Mertokusumo menyatakan “masyarakat mengharapkan adanya

22 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Pranada Media Group, Jakarta, 2008, h. 158.

23 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Yogyakarta, 1993, h.. 1.

(27)

kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum, masyarakat akan lebih tertib”. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk ketertiban masyarakat, tanpa kepastian hukum orang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya sehingga akhirnya timbul keresahan, tetapi jika menitik beratkan pada kepastian hukum dan ketat dalam menaati peraturan hukum maka akibatnya akan kaku serta akan menimbulkan rasa tidak adil.24

Gustav Radburch menyatakan “kepastian hukum merupakan bagian dari tujuan hukum”.25 Sedangkan Utrecht menyatakan “untuk menjamin suatu kepastian dii tengah-tengah masyarakat dan hanya keputusan yang dapat membuat kepastian hukum sepenuhnya, maka hukum bersifat sebagai alat untuk mencapai kepastian hukum”.26 Kepastian hukum dimaknai dalam suatu aturan yang bersifat tetap, yang bisa dijadikan sebagai pedoman di dalam menyelesaikan masalah-masalah.27

Hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum (rechszekerheid) dalam pergaulan manusia, di mana dalam tugas itu dapat disimpulkan bahwa harus menjamin keadilan serta hukum terap berguna, dan dapat disimpulkan pula yaitu hukum dapat menjaga agar dalam lingkungan masyarakat tidak terjadi main hakim sendiri (eigenrichting).

b. Teori Kewenangan

Dalam melaksanakan fungsi pemerintahan, kekuasaan dan kewenangan sangatlah penting, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata

24 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty Yogyakarta, 2003, h. 136.

25 Muhamad Erwin, Filsafat Hukum: Refleksi Kritis Terhadap Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011, h. 123.

26 E. Utrecht dan Moh. Saleh Jindang, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, Ichtiar Baru, Jakarta, 1983, h. 42.

27 Theo Hujibers, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Kanisius, Yogyakarta, 1992, h.

42.

(28)

“wewenang” memiliki arti, hak dan kekuasaan untuk bertindak, kewenangan, kekuasaan membuat keputusan, memerintah dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain.28

Istilah wewenang digunakan dalam bentuk kata benda. Istilah ini sering kali dipertukarkan dengan istilah kewenangan. Istilah wewenang atau kewenangan sering disejajarkan dengan istilah “bevoegheid” dalam istilah hukum Belanda.

Dalam kepustakaan hukum administrasi Belanda soal wewenang menjadi bagian penting dan bagian awal dari hukum administrasi, karena obyek hukum administrasi adalah wewenang pemerintah (bestuurbevoegdheid).

Menurut Phillipus M. Hadjon, jika dicermati ada sedikit perbedaan antara istilah kewenangan dengan istilah bevoegheid. Perbedaan tersebut terletak pada karakter hukumnya. Istilah bevoegheid digunakan dalam konsep hukum publik maupun dalam konsep hukum privat. Dan di dalam hukum kita istilah kewenangan atau wewenang seharusnya digunakan dalam konsep hukum publik.29 Wewenang secara umum diartikan sebagai kekuasaan untuk melakukan semua tindakan hukum publik.

Secara teoritis, kewenangan yang bersumber dari peraturan perundang- undangan tersebut diperoleh melalui tiga cara yaitu atribusi, delegasi dan mandat:

a) Kewenangan atribusi, Indroharto mengatakan bahwa pada atribusi terjadi pemberian wewenang pemerintah yang baru oleh suatu ketentuan dalam

28 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990, h. 101.

29 Phillipus M. Hadjon, Makalah Tentang Wewenang, Universitas Airlangga, Surabaya, 1986, h. 20.

(29)

peraturan perundang-undangan. Disini dilahirkan atau diciptakan suatu wewenang baru.30

b) Kewenangan delegasi Pada delegasi terjadilah pelimpahan suatu wewenang yang telah ada oleh badan atau jabatan tata usaha Negara yang telah yang memperoleh wewenang pemerintahan secara atributif kepada badan atau jabatan tata usaha Negara lainnya.31

c) Mandat Pemberian wewenang oleh organ pemerintahan kepada organ lain untuk mengambil keputusan atas namanya.

Dari ketiga sumber kewenangan di atas dalam pembahasan penelitian ini menggunakan kewenangan delegasi di mana terjadinya suatu pelimpahan wewenang oleh pemerintah secara atributif kepada badan atau Jabatan Tata Usaha Negara Lainnya. Komponen pengaruh merupakan penggunaan wewenang dimaksud untuk mengendalikan perilaku subyek hukum, komponen dasar hukum bahwa wewenang itu selalu harus dapat ditunjuk dasar hukumnya dan komponen konformitas hukum mengandung makna adanya standar wewenang (semua jenis wewenang) dan standar khusus (untuk jenis wewenang tertentu).

c. Teori Tanggung Jawab

Teori tanggung jawab hukum merupakan teori yang menganalisis tentang tanggung jawab subjek hukum atau pelaku yang telah melakukan perbuatan melawan hukum atau perbuatan pidana untuk memikul biaya atau kerugian atau

30 Ridwan HR, op, cit, h. 104.

31 Indroharto, Usaha Memahami Undang-undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Beberapa Pengertian Dasar Hukum Tata Usaha Negara, Buku I, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1991, h. 91.

(30)

melaksanakan pidana atas kesalahannya maupun karena kealpaannya.32 Dalam Bahasa Indonesia, kata tanggung jawab berarti keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya). Menanggung diartikan sebagai bersedia memikul biaya (mengurus, memelihara), menjamin, menyatakan keadaan kesediaan untuk melaksanakan kewajiban.33

Tanggung jawab secara etimologi adalah kewajiban terhadap segala sesuatunya atau fungsi menerima pembebanan sebagai akibat tindakan sendiri atau pihak lain. Sedangkan pengertian tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (jika terjadi sesuatu dapat dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya). Menurut kamus hukum ada 2 (dua) istilah pertanggungjawaban yaitu liability (the state of being liable) dan responsibility (the state or fact being responsible). Menurut Hans Kelsen (1971:95):34

"Sebuah konsep yang berhubungan dengan konsep kewajiban hukum adalah konsep tanggung jawab (pertanggung jawaban) hukum. Bahwa seorang bertanggung jawab secara hukum atas perbuatan tertentu atau bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi bila perbuatannya bertentangan.

Biasanya, yakni bila sanksi ditujukan kepada pelaku langsung, seorang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Dalam kasus ini subjek dari tanggung jawab hukum identik dengan subjek dari kewajiban hukum."

Liability merupakan istilah hukum yang luas, dimana liability menunjuk pada pertanggungjawaban hukum, yaitu tanggung jawab gugat akibat kesalahan

32 Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Disertasi dan Tesis, Rajawali Pres, Jakarta, 2013, h. 7.

33 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1989, h. 899.

34 Jimly Asshiddiqie dan M. Ali Safa'at, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, Sekertariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta, 2006, h. 95.

(31)

yang dilakukan oleh subjek hukum, sedagkan istilah responsibility menunjuk pada pertanggung jawaban politik.35 Liability didefenisikan untuk menunjuk semua karakter hak dan kewajiban. Liability juga merupakan kondisi tunduk kepada kewajiban secara aktual atau potensial, kondisi bertanggung jawab terhadap hal-hal yang aktual atau mungkin seperti kerugian, ancaman, kejahatan, biaya atau beban, kondisi yang menciptakan tugas untuk melaksanakan Undang-undang dengan segera atau pada masa yang akan datang.

Sedangkan responsibility berarti hal yang dapat di pertanggung jawabkan atau suatu kewajiban dan termasuk putusan, keterampilan, kemampuan, dan kecakapan. Responsibility juga berarti kewajiban bertanggung jawab atas Undang- Undang yang dilaksanakan, dan memperbaiki atau sebaliknya memberi ganti rugi atas kerusakan apapun yang telah ditimbulkannya. Prinsip tanggung jawab hukum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1) Liability based on fault, beban pembuktian yang memberatkan penderita. Ia baru memperoleh ganti kerugian apabila ia berhasil membuktikan adanya unsur kesalahan pada pihak tergugat, kesalahan merupakan unsur yang menentukan pertanggung jawaban, yang berarti bila tidak terbukti adanya kesalahan, tidak ada kewajiban memberi ganti kerugian. Pasal 1865 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “barang siapa mengajukan peristiwa- peristiwa atas nama mendasarkan suatu hak, diwajibkan membuktikan peristiwa-peristiwa itu, sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-

35 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, h. 337.

(32)

peristiwa guna membantah hak orang lain, diwajibkan membuktikan peristiwa-peristiwa itu”.

2) Strict liability (tanggung jawab mutlak) yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian.36 Dalam penyelenggaraan suatu Negara dan pemerintahan, pertanggungjawaban itu melekat pada jabatan yang juga telah dilekati dengan kewenangan, dalam perspektif hukum publik, adanya kewenangan inilah yang memunculkan adanya pertanggungjawaban, sejalan dengan prinsip umum; “geen bevegdedheid zonder verantwoordelijkheid; there is no authority without responsibility; la sulthota bila mas-uliyat” (tidak ada

kewenangan tanpa pertanggungjawaban).37

Fungsi teori pada penelitian tesis ini adalah memberikan arah atau petunjuk serta menjelaskan gejala yang diamati, oleh karena itu, penelitian diarahkan kepada ilmu hukum positif yang berlaku, yaitu larangan bagi Notaris yang telah di angkat dalam memenuhi kelengkapan berkas di Majelis Pengawas Daerah (MPD). Setiap teori, sebagai produk ilmu, tujuannya adalah memecahkan masalah dan membentuk sistem.38

2. Konsepsi

Konsepsi adalah pemahaman yang terbangun dalam akal dan pikiran penelitian untuk menggunakan teori dan observasi antara abstrak dan kenyataan.

Konsepsi dapat diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang

36 Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1988, h. 334.

37 Ridwan HR, Op, Cit,. h. 352.

38 Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, Cahaya Atma Pustaka, Jakarta, 2012, h. 5.

(33)

digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi oprasional.39 Kerangka konseptual merupakan suatu pengarahan dan pedoman yang lebih konkrit kepada kerangka teoritis yang seringkali bersifat abstrak. Meskipun demikian suatu kerangka konseptual belaka, kadang-kadang dirasakan masih juga abstrak sehingga diperlukan defenisi-defenisi oprasional. Defenisi merupakan keterangan mengenai maksud untuk memakai sebuah lambing secara khusus yaitu menyatakan apa arti sebuah kata.40

Agar tidak terjadi perbedaan pengertian tentang konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu diuraikan pengertian-pengertian konsep yang dipakai, yaitu:

a. Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam UUJN atau berdasarkan Undang-undang lainnya.

b. Notaris Pengganti adalah seseorang yang untuk sementara diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris.

c. Protokol Notaris adalah kumpulan dokumen yang merupakan arsip negara yang harus disimpan dan dipelihara oleh Notaris sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

d. Akibat Hukum adalah akibat yang ditimbulkan dari larangan merangkap jabatan yang dilarang dalam UUJN.

39 Suryadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, h. 15.

40 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cetakan Ketiga Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1986, h. 132.

(34)

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif yaitu meneliti bahan kepustakaan atau penelitian terhadap data sekunder. Data penelitian yuridis normatif berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier, didukung oleh data primer di lapangan.41 Selanjutnya Johnny Ibrahim menyatakan,

“Penelitian yuridis normatif dapat dan harus memanfaatkan hasil-hasil penelitian ilmu empiris, namun ilmu-ilmu empiris tersebut berstatus sebagai ilmu bantu (hulp wetenschap) sehingga tidak mengubah hakikat ilmu hukum sebagai ilmu

normatif”.42 Selaras dengan pendapat Johnny Ibrahim, Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji menyatakan, “hasil penelitian empiris perlu dan dapat digunakan pada penelitian yuridis normatif karena memperoleh kejelasan dan pemahaman dari permasalahan penelitian berdasarkan realitas yang ada.43 Pada masyarakat yang modern yang dinamis dan struktur masyarakat yang semakin kompleks, keputusan hukum (legal decision) tidaklah semata-mata disandarkan pada pertimbangan normatif hukum, tetapi juga memperhitungkan faktor-faktor nonhukum lainnya.44

41 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012, hlm. 12.

42 Johnny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Malang: Bayumedia Publishing, 2008, hlm.315.

43 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta: 1983, hlm.78.

44 Steven M. Barkan dalam Fundamentals of Legal Reasearch, Jacobstein, Roy M. Mersky dan Donald J. Dunn, The Foundation Press, Westbury, New York, 1994, hlm.1. disebutkan “…the process of legal research often involves investigation into other relevan dispilines” Cara pendekatan (approach) yang digunakan dalam suatu penelitian normatif akan memungkinkan seseorang peneliti untuk memanfaatkan hasil-hasil temuan ilmu hukum empiris dan ilmu-ilmu lain untuk kepentingan dan analisis serta eksplanasi hukum tanpa mengubah karakter ilmu hukum sebagai ilmu normatif.

Berbagai bahan hukum banyak yang memiliki sifat empiris seperti perbandingan hukum, sejarah hukum, dan kasus-kasus hukum yang telah diputus. Jhonny Ibrahim, Op. Cit. hlm. 299 - 300.

(35)

Penelitian dalam pelaksanaannya diperlukan dan ditentukan alat-alatnya, jangka waktu, cara-cara yang dapat ditempuh apabila mendapat kesulitan dalam proses penelitian. Penelitian harus dilakukan secara metodelogis, sistematis, dan konsisten. Metodelogis yang dimaksud berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu, sistematis adalah berdasarkan pada suatu sistem, dan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dengan suatu kerangka tertentu.45 Tahapan pertama penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum objektif (norma hukum), yaitu dengan mengadakan penelitian terhadap masalah hukum. Tahapan kedua penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif (hak dan kewajiban).

Sifat penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis. Penelitian deskriptif analitis yakni suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Penelitian deskriptif analitis merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecenderungan yang tengah berlangsung kemudian dianalisis dan dilakukan pengambilan kesimpulan atas permasalahan yang di teliti.46

2. Sumber Data

45 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, Grafindo Persada, Jakarta, 2001, h. 42.

46 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2010, h. 35.

(36)

Sumber Data yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara mencari dan mempelajari data sekunder atau studi kepustakaan (library research), dan dibantu oleh penelitian lapangan (field research) untuk melengkapi dan mendukung data sekunder. Pengumpulan data adalah bagian penting dalam suatu penelitian, karena dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diterapkan. Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan.47 Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.48

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer, yang merupakan bahan hukum yang mengikat berupa peraturan Perundang–undangan antara lain dari :

1) Undang–undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.

2) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.01.HT.03.01 Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan Perpindahan, dan Pemberhentian Notaris.

3) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 61 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penjatuhan Sanksi Administratif Terhadap Notaris.

47 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, h. 10.

48 Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, h. 38.

(37)

4) Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia M-01.H.T.03.01 Tahun 2003 tentang Kenotariatan.

5) Kode Etik Notaris Kongres Luar Biasa Ikatan Notaris Indonesia Banten, 29-30 Mei 2015

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder, yang merupakan bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat dalam kumpulan pustaka yang bersifat sebagai penunjang dari bahan hukum primer yang terdiri dari :

1) Buku – buku;

2) Jurnal – jurnal:

3) Artikel – artikel media;

4) Dan berbagai tulisan lainnya.

c. Bahan Hukum Tersier atau bahan non hukum, yang berupa kamus, ensiklopedia dan lain – lain.49 Dan data primer sebagai data pendukung dikumpulkan melalui wawancara.

3. Teknik dan Pengumpulan Data

Teknik dan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) yang memiliki tujuan untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi serta pemikiran konseptual, baik itu peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya.50

49 Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2010, h. 156-59.

50 Jhonny Ibrahim, Op.cit, h.192.

(38)

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan (library research). Studi kepustakaan (library research) adalah serangkaian usaha untuk

memperoleh data dengan jalan membaca, menelaah, mengklarifikasi, mengidentifikasi, dan dilakukan pemahaman terhadap bahan-bahan hukum yang berupa peraturan perundang-undangan serta buku-buku literature yang ada relevansinya dengan permasalahan penelitian. Hasil dari kegiatan pengkajian tersebut kemudian dibuat ringkasan secara sistematis sebagai inti sari hasil pengkajian studi dokumen. Tujuan dari teknik dokumentasi ini adalah untuk mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, pendapat-pendapat atau penemuan- penemuan yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.51

4. Analisis Data

Analisa data merupakan merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam polo, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.52 Dalam penelitian yuridis normatif pada hakikatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis untuk memudahkan pekerjaan analisis dan kontruksi.53

Pengolahan, analisis dan konstruksi data penelitian hukum normatif dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis terhadap kaidah hukum lalu kemudian konstruksi dilakukan dengan cara memasukkan pasal-pasal ke dalam kategori- kategori atas dasar pengertian-pengertian dari sistem hukum tersebut. Data yang

51 Edi Ikhsan dan Mahmul Siregar, Metode Penelitian Dan Penulisan Hukum Sebagai Bahan Ajar, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009, h. 24.

52 Ibid, h. 28.

53 Sahyono Makmun, Metode Penelitian Hukum, Intitama Sejahtera, Jakarta, 2006, h. 24.

(39)

telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan analisis data kualitatif, yaitu sebagai berikut: 54

a. Mengumpulkan bahan hukum, berupa inventarisasi peraturan perundang- undangan yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalam perbuatan melawan hukum.

b. Memilih bahan hukum yang sudah dikumpulkan dan selanjutnya melakukan sistematisasi bahan hukum sesuai dengan permasalahan yang dikaji di dalam penelitian yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalam perbuatan melawan hukum.

c. Menganalisis bahan hukum dengan membaca dan menafsirkannya untuk menemukan kaidah, asas dan konsep yang terkandung di dalam bahan hukum tersebut khususnya yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalam perbuatan melawan hukum.

d. Menemukan hubungan konsep, asas dan kaidah tersebut dengan menggunakan teori sebagai pisau analisis.

Penarikan kesimpulan untuk menjawab permasalahan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif. Metode deduktif dilakukan dengan membaca, menafsirkan dan membandingkan hubungan-hubungan konsep, asas, kaidah yang terkait sehingga memperoleh kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penulisan yang dirumuskan.

54Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Rosda Karya, Jakarta, 2008, h. 48.

(40)

BAB II

PENGATURAN HUKUM NOTARIS PENGGANTI DALAM MEMEGANG PROTOKOL NOTARIS YANG DIGANTIKAN

A. Notaris Pengganti

Kehadiran Notaris Pengganti dalam lembaga kenotariatan sangat membantu notaris-notaris di Indonesia dalam menjalankan kewenangannya sebagai pejabat pembuat akta. Tidak hanya notaris saja yang merasa dibantu, tetapi juga masyarakat, karena kegiatan yang berkaitan dengan akta atau hal lainnya tidak terganggu pada saat seorang notaris berhalangan untuk menjalankan tugas dan kewenangannya. Pasal 1 UUJN Tahun 2014 menyebutkan bahwa “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta oentik dan kewenangan lainnya sebagaimana maksud dalam Undang-undang ini atau berdasarkan undang- undang lainnya”. Mengenai Pejabat Umum diartikan sebagai pejabat yang diserahi tugas untuk membuat akta otentik yang melayani kepentingan publik, dan kualifikasi seperti itu diberikan kepada Notaris.

Berdasarkan ketentuan diatas Notaris adalah pejabat umum yang punya kewenangan untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan, selama pembuatan akta tersebut tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Pemberian wewenang, kepada pejabat atau instansi lain, seperti kantor Catatan Sipil, tidak berarti memberikan kualifikasi sebagai pejabat umum tapi hanya menjalankan fungsi sebagai pejabat umum saja ketika membuat akta-akta yang ditentukan oleh aturan hukum, dan kedudukan

(41)

mereka tetap dalam jabatannya semula sebagai Pegawai Negeri.55

Adanya Notaris dirasa begitu penting untuk membantu kehidupan masyarakat yang membutuhkan alat bukti teretulis. Berhubungan dengan alat bukti tertulis dapat dilihat dalam Pasal 1867 KUHPerdata bahwa pembuktian dengan tulisan harus dilakukan dengan tulisan-tulisan otentik maupun tulisan di bawah tangan.

Dapat di simpulkan bahwa akta terdiri dari akta otentik dan akta di bawah tangan, akta di bawah tangan dibuat dalam bentuk bebas dan tidak di hadapan pejabat umum, sengaja dibuat oleh para pihak sendiri.56 Pengaturan mengenai akta otentik juga terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, diatur dalam pasal 1868. Pasal 1868 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyatakan bahwa suatu akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang- undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya. Sehubungan dengan ketentuan Pasal 1868 KUHPerdata tersebut, dengan tegas ditentukan dalam Pasal 1 angka 7 Undang- undang Jabatan Notaris bahwa akta notaris adalah akat otentik yang dibuat oleh atau di hadapan notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam UUJN- P.57

Akta otentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris tersebut, bukan hanya karena diharuskan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga karena

55 Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris dan PPAT di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2005, h. 17.

56 Rahmat Hasan Ashari Hasibuan, Kelalaian Notaris Mengeluarkan Salinan Ketika Minuta Akta Belum Ditandatangani (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Kisaran Nomor:657/Pid.B/2015Pn.kis), Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2017, h.

68. 57 Sutrisno, “komentar Undang-undang Jabatan Notaris”, Bahan Ajar, Medan, Tanggal 1 januari 2007, h. 470-471.

(42)

dikehendaki oleh para pihak yang berkepentingan untuk memastikan hak dan kewajiban para pihak demi kepastian, namun juga melihat syarat sahnya perjanjian seperti suatu sebab yang halal dimana objek yang di perjanjikan tidak dilarang oleh peraturan perundang-undangan tidak bertentangan dengan kepentingan umum dan kesusilaan yang mana jika tidak terpenuhi statusnya akan batal demi hukum,58 ketertiban dan perlindungan hukum bagi para pihak yang berkepentingan sekaligus bagi masyarakat secara keseluruhan sehingga diharapkan dapat menghindari terjadinya sengketa. Dalam hal terjadi sengketa, maka akta otentik yang merupakan alat bukti terkuat dan terpenuh dapat memberi solusi terbaik bagi penyelesaian perkara secara murah dan cepat.

Akta Pihak adalah akta yang dibuat di hadapan Notaris atas permintaan para pihak, Notaris berkewajiban untuk mendengarkan pernyataan atau keterangan para pihak yang dinyatakan atau diterangkan sendiri oleh para pihak di hadapan Notaris.

Pernyataan atau keterangan para pihak tersebut oleh Notaris dituangkan dalam akta Notaris. 59 Suatu Akta tetap dikatakan Akta otentik jika Akta tersebut sepanjang tidak ada orang atau pihak lain yang mempermasalahkan ke-otentikan akta tersebut dan seseorang itu tidak dapat membuktikan bahwa Akta tersebut cacat, maka Akta itu tetap dianggap berasal dari pejabat yang berwenang dan sah demi hukum.60

Baik sifat dari jabatan notaris maupun keluhuran dari martabat jabatannya itu

58 Rudy Haposan Siahaan, Hukum Perikatan Indonesia (Teori dan Perkembangan), Inteligensia Media, Malang, h. 78.

59 Boysal Parulian Sihombing, Unsur Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Oleh Notaris Dalam Pembuatan Akta, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2016, h.

87.

60 Syafrida Yanti, Akibat Hukum Terhadap Pembuatan Akta Otentik yang Tidak Memenuhi Kewajiban Notaris Sebagaimana Mestinya DIamanatkan Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (Analisis Putusan No.9/Pdt.G/2010/PN-MBo), Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2014, h. 15.

(43)

mengharuskan adanya tanggung jawab dan kepribadian serta etika hukum yang tinggi. Jabatan yang dipangku oleh Notaris adalah suatu jabatan kepercayaan dimana masyarakat mempercayakan perbuatan hukum mereka kepadanya, yang dengan sendirinya pula membawa tanggung jawab yang berat baginya. Dalam menjalankan suatu jabatannya Notaris dituntut untuk selalu memiliki kecermatan, ketelitian, jujur, berhati-hati serta kondisi tubuh yang prima. Secara umum kesalahan dan kurang konsentrasi mempengaruhi kualitas pekerjaan seseorang oleh karena itu Notaris dapat menggunakan hak cutinya sebagaimana bunyi Pasal 25 ayat (1) UUJN Tahun 2014. Dengan demikian apabila seorang Notaris cuti, diwajibkan baginya menunjuk Notaris Pengganti, artinya bahwa Notaris Pengganti ada karena Notaris sedang cuti, karena sakit, sedang menjabat sebagai pejabat negara atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris.61 Notaris Pengganti merupakan seorang yang untuk sementara diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris. Notaris Pengganti merupakan seorang yang untuk sementara diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris. 62

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 UUJN Tahun 2014 jo Pasal 33 ayat (2) UUJN Tahun 2014 adalah dimaksudkan untuk mengatur kedudukan hukum (rechtpositie) dari Notaris Pengganti yakni sebagai Notaris. Dengan kedudukan

61 Ibid, h. 73.

62 Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.

Referensi

Dokumen terkait

Jika ketentuan Pasal 44 ayat (1) UUJN dan Pasal 44 UUJN dilanggar oleh Notaris, maka akan dikenakan sanksi sebagaimana tersebut dalam Pasal 84 UUJN, yaitu akta

Notaris Notaris merupakan pejabat umum yang harus di lindungi dan dijaga harkat serta martabatnya. Hal imi didasarkan pada kewenangan notaris Yang diatur pada

Mengingat ketentuan Pasal 65 UUJNP yang menjelaskan bahwa tanggung jawab Notaris terhadap setiap akta yang dibuatnya akan tetap melekat meskipun Protokol Notaris telah

Namun akan tetap berlaku ketentuan hukum pidana kepada calon notaris yang magang karena perbuatan pidana yang dilakukan yang melanggar ketentuan-ketentuan hukum yang

Notaris Notaris merupakan pejabat umum yang harus di lindungi dan dijaga harkat serta martabatnya. Hal imi didasarkan pada kewenangan notaris Yang diatur pada

Tidak dilaksanakannya kewenangan tersebut secara yuridis tampaknya disebabkan oleh adanya dualisme pengaturan hukum tentang pengawasan terhadap notaris, yaitu

Makna pasal 16A ayat (2) jika dilihat sepintas tanpa dilakukan penfsiran maka pasal 16A ayat (2) ini dapat bermakna calon Notaris magang berwenang membuat akta,

Makna pasal 16A ayat (2) jika dilihat sepintas tanpa dilakukan penfsiran maka pasal 16A ayat (2) ini dapat bermakna calon Notaris magang berwenang membuat akta,