• Tidak ada hasil yang ditemukan

Naskah Akademik RUU Jabatan Notaris 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Naskah Akademik RUU Jabatan Notaris 2014"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI DAFTAR ISI Halaman Judul ... i Halaman Judul ... i Daftar Isi ... ii Daftar Isi ... ii BAB BAB I I PENDAHULUAN...PENDAHULUAN... .... 11 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang ... ... 11 1.2 1.2 Identifikasi Masalah Identifikasi Masalah ... .. 33 1.3 1.3 Tujuan dan KegTujuan dan Kegunaan unaan ... ... 44 1.4 1.4 Metode Metode Pendekatan Pendekatan ... ... 44 BAB II BAB II KAJIAN TEORITIS KAJIAN TEORITIS DAN KAJIAN DAN KAJIAN EMPIRIS EMPIRIS ... ... 77 2.1 2.1 Kajian Teoritis Kajian Teoritis ... ... 77 2.1.1 Pengertian 2.1.1 Pengertian Notaris Notaris ... ... 1515 2.1.2 Tinjuan Jabatan Notaris... 19

2.1.2 Tinjuan Jabatan Notaris... 19

2.1.3 Tanggung Jawab Notaris... 22

2.1.3 Tanggung Jawab Notaris... 22

2.2 Kajian Empiris 2.2 Kajian Empiris ... ... 2424 2.2.1 Notaris Pengganti Khusus 2.2.1 Notaris Pengganti Khusus ... ... 2424 2.2.2 Magang ... 26

2.2.2 Magang ... 26

2.2.3 Usia Pensiun ... 27

2.2.3 Usia Pensiun ... 27

2.2.4 Kewenangan Notaris dalam Membuat Akta Terkait 2.2.4 Kewenangan Notaris dalam Membuat Akta Terkait Pertanahan ... Pertanahan ... ... ... 2929 2.2.5 Kewenangan Notaris dalam Membuat Akta Risalah 2.2.5 Kewenangan Notaris dalam Membuat Akta Risalah Lelang ... 32

Lelang ... 32

2.2.6 2.2.6 Notaris Yang Notaris Yang Diangkat Sebagai Diangkat Sebagai Pajabat Negara Pajabat Negara ... .. 3333 2.2.7 2.2.7 Pelaksanaan Pengawasan Pelaksanaan Pengawasan Notaris Notaris ... 35... 35 BAB III

BAB III EVALUASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN ... EVALUASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN ... 3737 3.1

3.1 Peraturan Lelang Peraturan Lelang ... ... 3737 3.2

3.2 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ... ... 3838 3.3

3.3 UU No. 5 UU No. 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria ... .. 3939 3.4

3.4 UU No. 20 UU No. 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun Tahun 2011 Tentang Rumah Susun ... ... 3939 3.5

(2)

3.6

3.6 UU No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak AtasUU No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Jo. UU No. 20

Tanah Jo. UU No. 20 Tahun 2000 Tentang Perubahan atasTahun 2000 Tentang Perubahan atas UU No. 21 Tahun 1997 Tentang

UU No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak AtasBea Perolehan Hak Atas

Tanah ... 41

Tanah ... 41

3.7 3.7 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan RetribusiUU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ... 43

Daerah ... 43

3.8 3.8 UU No. 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, LaguUU No. 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, Lagu Kebangsaan dan Kebangsaan dan Lambang Negara Lambang Negara ... .... 4343 BAB IV BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS ...LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS ... .. 4545 4.1 Landasan Filosofis 4.1 Landasan Filosofis ... .. 4545 4.2 4.2 Landasan SLandasan Sosiologis osiologis ... ... 4545 4.3 4.3 Landasan Yuridis Landasan Yuridis ... ... 4646 BAB V BAB V ARAH, TUJUAN ARAH, TUJUAN DAN MATERDAN MATERI MUATAN I MUATAN PERUBAHAN PERUBAHAN ... .. 4747 5.1 5.1 Arah dan TujuaArah dan Tujuan Perubahan n Perubahan ... .. 4747 5.2 5.2 Materi Muatan Perubahan Materi Muatan Perubahan ... .... 4747 BAB VI PENUTUP ... 50

BAB VI PENUTUP ... 50

DAFTAR PUSTAKA ... 51

(3)

3.6

3.6 UU No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak AtasUU No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Jo. UU No. 20

Tanah Jo. UU No. 20 Tahun 2000 Tentang Perubahan atasTahun 2000 Tentang Perubahan atas UU No. 21 Tahun 1997 Tentang

UU No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak AtasBea Perolehan Hak Atas

Tanah ... 41

Tanah ... 41

3.7 3.7 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan RetribusiUU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ... 43

Daerah ... 43

3.8 3.8 UU No. 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, LaguUU No. 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, Lagu Kebangsaan dan Kebangsaan dan Lambang Negara Lambang Negara ... .... 4343 BAB IV BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS ...LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS ... .. 4545 4.1 Landasan Filosofis 4.1 Landasan Filosofis ... .. 4545 4.2 4.2 Landasan SLandasan Sosiologis osiologis ... ... 4545 4.3 4.3 Landasan Yuridis Landasan Yuridis ... ... 4646 BAB V BAB V ARAH, TUJUAN ARAH, TUJUAN DAN MATERDAN MATERI MUATAN I MUATAN PERUBAHAN PERUBAHAN ... .. 4747 5.1 5.1 Arah dan TujuaArah dan Tujuan Perubahan n Perubahan ... .. 4747 5.2 5.2 Materi Muatan Perubahan Materi Muatan Perubahan ... .... 4747 BAB VI PENUTUP ... 50

BAB VI PENUTUP ... 50

DAFTAR PUSTAKA ... 51

(4)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

1.1

1.1 Latar BelakangLatar Belakang

Hukum merupakan bidang yang tidak dapat dipisahkan dari Hukum merupakan bidang yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, sehingga dimana ada masyarakat disitu ada kehidupan masyarakat, sehingga dimana ada masyarakat disitu ada hukum (

hukum (ubi societas ibi ius ubi societas ibi ius ). Cicero mengatakan bahwa tata hukum). Cicero mengatakan bahwa tata hukum harus mengacu pada penghormatan dan perlindungan bagi harus mengacu pada penghormatan dan perlindungan bagi keluhuran martabat manusia. Hukum berupaya menjaga dan keluhuran martabat manusia. Hukum berupaya menjaga dan mengatur keseimbangan antara kepentingan atau hasrat individu mengatur keseimbangan antara kepentingan atau hasrat individu  yang egoistis dengan kepenting

 yang egoistis dengan kepentingan bersama an bersama agar tidak terjadi agar tidak terjadi konflik.konflik. Kehadiran hukum seharusnya menegakkan keseimbangan Kehadiran hukum seharusnya menegakkan keseimbangan perlakuan antara hak perorangan dengan hak bersama. Oleh karena perlakuan antara hak perorangan dengan hak bersama. Oleh karena itu, secara hakiki hukum haruslah pasti dan adil sehingga dapat itu, secara hakiki hukum haruslah pasti dan adil sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

berfungsi sebagaimana mestinya.

Hal tersebut menunjukkan pada hakikatnya para penegak Hal tersebut menunjukkan pada hakikatnya para penegak hukum baik hakim, jaksa, Notaris dan polisi adalah pembela hukum baik hakim, jaksa, Notaris dan polisi adalah pembela kebenaran dan keadilan sehingga para penegak hukum tersebut kebenaran dan keadilan sehingga para penegak hukum tersebut harus menjalankan dengan itikad baik dan ikhlas, sehingga profesi harus menjalankan dengan itikad baik dan ikhlas, sehingga profesi hukum merupakan profesi terhormat dan luhur (

hukum merupakan profesi terhormat dan luhur (officium nobile officium nobile ).). Oleh karena mulia dan terhormat maka para penegak hukum sudah Oleh karena mulia dan terhormat maka para penegak hukum sudah semestinya merasakan profesi ini sebagai pilihan dan sekaligus semestinya merasakan profesi ini sebagai pilihan dan sekaligus panggilan hidupnya untuk melayani sesama di bidang hukum.

panggilan hidupnya untuk melayani sesama di bidang hukum.

Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) menjamin kepastian, ketertiban, Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum. Jaminan kepastian, ketertiban, dan dan perlindungan hukum. Jaminan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum dalam masyarakat mensyaratkan adanya perlindungan hukum dalam masyarakat mensyaratkan adanya tulisan sebagai wujud perbuatan, perjanjian, dan ketetapan hukum tulisan sebagai wujud perbuatan, perjanjian, dan ketetapan hukum  yang

 yang memiliki memiliki kekuatan kekuatan pembuktian pembuktian terkuat terkuat dan dan terpenuh. terpenuh. SalahSalah satu tulisan yang mempunyai kekuatan pembuktian terkuat dan satu tulisan yang mempunyai kekuatan pembuktian terkuat dan terpenuh adalah akta Notaris. Akta Notaris merupakan akta otentik terpenuh adalah akta Notaris. Akta Notaris merupakan akta otentik karena dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, karena dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta itu dibuatnya.

untuk itu di tempat di mana akta itu dibuatnya.

Akta Notaris sebagai bukti otentik mempunyai peranan penting Akta Notaris sebagai bukti otentik mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum di dalam kehidupan masyarakat, dalam setiap hubungan hukum di dalam kehidupan masyarakat, karena dalam akta tersebut ditentukan secara jelas hak dan karena dalam akta tersebut ditentukan secara jelas hak dan kewajiban para pihak, sehingga dapat menjamin kepastian dan kewajiban para pihak, sehingga dapat menjamin kepastian dan perlindungan hukum bagi masyarakat. Akta Notaris mempunyai perlindungan hukum bagi masyarakat. Akta Notaris mempunyai

(5)

peranan penting di setiap hubungan hukum dalam kehidupan peranan penting di setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat, misalnya dalam kegiatan bisnis, kegiatan di bidang masyarakat, misalnya dalam kegiatan bisnis, kegiatan di bidang perbankan, kegiatan sosial, dan sebagainya. Peranan akta otentik perbankan, kegiatan sosial, dan sebagainya. Peranan akta otentik dewasa ini dirasakan semakin meningkat sejalan dengan dewasa ini dirasakan semakin meningkat sejalan dengan berkembangnya tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai berkembangnya tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai hubungan ekonomi maupun sosial, baik di tingkat nasional, hubungan ekonomi maupun sosial, baik di tingkat nasional, regional, maupun global. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa regional, maupun global. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa untuk menjamin adanya kepastian, ketertiban dan perlindungan untuk menjamin adanya kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum maka dibutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik hukum maka dibutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa, atau perbuatan hukum yang mengenai keadaan, peristiwa, atau perbuatan hukum yang diselenggarakan melalui jabatan tertentu.

diselenggarakan melalui jabatan tertentu.

Profesi Notaris adalah profesi yang semi publik. Dikatakan Profesi Notaris adalah profesi yang semi publik. Dikatakan sebagai profesi semi publik oleh karena jabatan publik namun sebagai profesi semi publik oleh karena jabatan publik namun lingkup kerja mereka berada dalam konstruksi hukum privat. lingkup kerja mereka berada dalam konstruksi hukum privat.11

Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta tidak Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta tidak ditempatkan di lembaga yudikatif, legislatif, maupun eksekutif. ditempatkan di lembaga yudikatif, legislatif, maupun eksekutif. Dengan demikian, seorang Notaris harus memiliki posisi yang netral Dengan demikian, seorang Notaris harus memiliki posisi yang netral dan keterangan yang dibuatnya dapat diandalkan sebagai alat bukti dan keterangan yang dibuatnya dapat diandalkan sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh. Namun demikian, bukti tertulis yang bersifat terkuat dan terpenuh. Namun demikian, bukti tertulis yang bersifat otentik ternyata pada pelaksanaannya tidak hanya dibuat oleh otentik ternyata pada pelaksanaannya tidak hanya dibuat oleh Notaris sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun Notaris sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut UUJN), tetapi 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut UUJN), tetapi  juga

 juga oleh oleh pejabat pejabat lain lain sebagai sebagai amanat amanat dari dari peraturan peraturan perundang- perundang-undangan sehingga menimbulkan tumpang tindih dan konflik undangan sehingga menimbulkan tumpang tindih dan konflik kepentingan yang berujung pada ketidakpastian hukum.

kepentingan yang berujung pada ketidakpastian hukum.

UUJN yang sudah berumur kurang lebih 7 tahun merupakan UUJN yang sudah berumur kurang lebih 7 tahun merupakan penggantian dari

penggantian dari Staatsblad Staatsblad   1860 Nomor 3 tentang Peraturan  1860 Nomor 3 tentang Peraturan  Jabatan

 Jabatan Notaris. Notaris. Dalam Dalam kurun kurun waktu waktu tersebut, tersebut, pelaksanaanpelaksanaan beberapa ketentuan dalam UUJN tidak dapat diimplementasikan beberapa ketentuan dalam UUJN tidak dapat diimplementasikan dengan baik, seperti persoalan kewenangan pembuatan akta dengan baik, seperti persoalan kewenangan pembuatan akta berkenaan dengan pertanahan, kewenangan dalam pembuatan berkenaan dengan pertanahan, kewenangan dalam pembuatan risalah lelang, relevansi Notaris pengganti khusus, pengambilan risalah lelang, relevansi Notaris pengganti khusus, pengambilan minuta akta Notaris dalam proses penyidikan, kewenangan minuta akta Notaris dalam proses penyidikan, kewenangan pengawasan oleh majelis pengawas terhadap Notaris, kelembagaan pengawasan oleh majelis pengawas terhadap Notaris, kelembagaan majelis pengawas, persoalan magang bagi calon Notaris, isu rangkap majelis pengawas, persoalan magang bagi calon Notaris, isu rangkap  jabatan

 jabatan terselubunterselubung g pada pada Notaris Notaris yang yang diangkat diangkat sebagai sebagai pejabatpejabat negara, serta harmonisasi dengan peraturan perundang-undangan negara, serta harmonisasi dengan peraturan perundang-undangan seperti peraturan tentang penggunaan bahasa dalam dokumen seperti peraturan tentang penggunaan bahasa dalam dokumen resmi.

resmi.

1

1  Shidarta,  Shidarta, Moralitas Profesi Hukum Moralitas Profesi Hukum , (Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), hal., (Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), hal.

127. 127.

(6)

Perubahan UUJN tersebut dimaksudkan untuk lebih Perubahan UUJN tersebut dimaksudkan untuk lebih menegaskan dan memantapkan tugas, fungsi, dan kewenangan menegaskan dan memantapkan tugas, fungsi, dan kewenangan Notaris sebagai pejabat yang menjalankan pelayanan publik sehingga Notaris sebagai pejabat yang menjalankan pelayanan publik sehingga lebih menjamin perlindungan dan kepastian hukum bagi lebih menjamin perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat. Selain itu, perubahan UUJN dimaksudkan agar ada masyarakat. Selain itu, perubahan UUJN dimaksudkan agar ada sinkronisasi antar peraturan perundang-undangan sehingga tugas, sinkronisasi antar peraturan perundang-undangan sehingga tugas, fungsi, dan kewenangan Notaris dapat dilaksanakan dengan baik. fungsi, dan kewenangan Notaris dapat dilaksanakan dengan baik.

RUU Perubahan atas UUJN merupakan usul inisiatif Dewan RUU Perubahan atas UUJN merupakan usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Republik Indonesia (DPR RI) dan Perwakilan Rakyat Indonesia Republik Indonesia (DPR RI) dan ditugaskan kepada Badan Legislasi DPR RI untuk menyiapkan RUU ditugaskan kepada Badan Legislasi DPR RI untuk menyiapkan RUU beserta Naskah Akademisnya sebagaimana tercantum dalam beserta Naskah Akademisnya sebagaimana tercantum dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2011 Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2011 berdasarkan Keputusan DPR RI No. 02B/DPR RI/II/2010-2011 berdasarkan Keputusan DPR RI No. 02B/DPR RI/II/2010-2011 tanggal 14 Desember 2010 yang sekarang sudah masuk Prolegnas tanggal 14 Desember 2010 yang sekarang sudah masuk Prolegnas Prioritas Tahun 2012 berdasarkan Keputusan DPR RI No. 08/DPR Prioritas Tahun 2012 berdasarkan Keputusan DPR RI No. 08/DPR RI/II/2011-2012 tanggal 16 Desember 2012.

RI/II/2011-2012 tanggal 16 Desember 2012. 1.2

1.2 Identifikasi MasalahIdentifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diidentifikasikan beberapa pokok permasalahan sebagai dapat diidentifikasikan beberapa pokok permasalahan sebagai berikut:

berikut: 1.

1. Kewenangan Notaris dalam pembuatan akta Kewenangan Notaris dalam pembuatan akta pertanahanpertanahan dikaitkan dengan kewenangan Pejabat Pembuat Akta Tanah dikaitkan dengan kewenangan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

(PPAT).  Terdapat

 Terdapat tumpang tumpang tindih tindih kewenangkewenangan an pengaturan pengaturan pembuatanpembuatan akta pertanahan antara dua pejabat umum yang dinaungi oleh akta pertanahan antara dua pejabat umum yang dinaungi oleh instansi yang berbeda, yaitu Notaris di bawah Kementerian instansi yang berbeda, yaitu Notaris di bawah Kementerian Hukum dan HAM, sementara PPAT di bawah Badan Pertanahan Hukum dan HAM, sementara PPAT di bawah Badan Pertanahan Nasional.

Nasional. 2.

2. Batasan tugas dan kewenangan Notaris dikaitkan dengan tugasBatasan tugas dan kewenangan Notaris dikaitkan dengan tugas dan kewenangan Pejabat Lelang dalam membuat risalah lelang. dan kewenangan Pejabat Lelang dalam membuat risalah lelang.  Terdapat

 Terdapat tumpang tumpang tindih tindih kewenangkewenangan an pengaturan pengaturan pembuatanpembuatan akta pertanahan antara dua pejabat umum yang dinaungi oleh akta pertanahan antara dua pejabat umum yang dinaungi oleh instansi yang berbeda, yaitu Notaris di bawah Kementerian instansi yang berbeda, yaitu Notaris di bawah Kementerian Hukum dan HAM, sementara Pejabat Lelang di bawah Hukum dan HAM, sementara Pejabat Lelang di bawah Kementerian Keuangan.

Kementerian Keuangan. 3.

3. Belum Belum adanya adanya pengaturan pengaturan yang yang komprehensif komprehensif mengenaimengenai ketentuan persyaratan magang bagi calon Notaris.

ketentuan persyaratan magang bagi calon Notaris. 4.

4. Rasionalisasi usia pensiun Notaris yang belum diatur secaraRasionalisasi usia pensiun Notaris yang belum diatur secara tegas.

(7)

5. Pengaturan terhadap pengawasan pelaksanaan jabatan Notaris  yang sampai saat ini belum bisa dilaksanakan sepenuhnya.

6. Relevansi keberadaan Notaris pengganti khusus dalam perkembangannya saat ini.

7.  Terdapat penafsiran rangkap jabatan dalam hal Notaris yang menjadi pejabat negara.

1.3 Tujuan dan Kegunaan

 Tujuan penyusunan Naskah Akademik adalah untuk menyediakan kajian akademik yang logis dan rasional terkait dengan isu-isu perubahan UUJN, baik kajian studi pustaka maupun hasil pengumpulan data di lapangan sebagai bahan dasar perumusan perubahan atas UUJN. Sedangkan kegunaan Naskah Akademik ini adalah menjadi pedoman dalam penyusunan perubahan UUJN berdasarkan pada pokok-pokok materi muatan yang akan diubah. 1.4 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan naskah akademik ini, yaitu metode yuridis normatif dan yuridis empiris. Metode yuridis normatif dilakukan melalui studi dokumen atau literatur (data sekunder), dengan cara mengumpulkan informasi melalui peraturan perundang-undangan, buku-buku, hasil kajian atau referensi lainnya, dan penelusuran data serta informasi melalui website  yang berkaitan dengan bidang kenotariatan.

Adapun metode yuridis empiris dilakukan dengan mengkaji dan menelaah data primer yang diperoleh secara langsung dari para narasumber atau pakar, para pemangku kepentingan, dan masyarakat.

Masukan dari para pemangku kepentingan dan para pakar dilakukan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang dilakukan di Badan Legislasi DPR RI pada tanggal 14-16 Maret 2011 dan diskusi tim asistensi dengan para pakar pada tanggal 15-16 Maret 2011. Para pihak yang telah diundang oleh Badan Legislasi dalam RDPU adalah:

1. Ikatan Notaris Indonesia (INI).

2. Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT). 3. Ikatan Pejabat Lelang Indonesia (IPLI).

4. Kementerian Hukum dan HAM. 5. Badan Pertanahan Nasional (BPN).

(8)

Selain itu, Badan Legislasi telah mengundang pakar kenotariatan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dari Universitas Padjadjaran,  yaitu Prof. Dr. Wiratni Ahmadi, SH.

Pengumpulan data ke lapangan telah dilakukan pada tanggal 18-21 April 2011 di 2 (dua) provinsi, yaitu Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan, dengan pemangku kepentingan maupun para pakar sebagai berikut:

1. Provinsi Sumatera Utara

a. Pengurus Wilayah INI/IPPAT Sumatera Utara.

b. Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU).

c. Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah Sumatera Utara.

d. Kementerian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Sumatera Utara.

e. Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Sumatera Utara.

2. Provinsi Sulawesi Selatan

a. Kementerian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Sulawesi Selatan, Majelis Pengawas Notaris Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan Majelis Pengawas Daerah Kabupaten Gowa.

b. Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Hasanuddin (UNHAS).

c. Pengurus Wilayah INI/IPPAT Sulawesi Selatan.

d. Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Sulawesi Selatan.

Adapun masukan dari masyarakat diperoleh dari Kunjungan Kerja Badan Legislasi DPR RI pada tanggal 19-21 Mei 2011 di 3 (tiga) provinsi, yaitu Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Provinsi Bali dengan pemangku kepentingan maupun para pakar sebagai berikut:

1. Provinsi Jawa Tengah

Masukan dari Provinsi Jawa Tengah berasal dari:

a. Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah. b. Kanwil Badan Pertanahan Nasional Jawa Tengah. c. Pengurus Wilayah INI Jawa Tengah.

d. Pengurus Wilayah IPPAT Jawa Tengah.

e. Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro. f. Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Magelang. g. Pengurus Daerah INI/IPPAT Kabupaten Magelang. 2. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

(9)

a. Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Daerah Istimewa Yogyakarta.

b. Kanwil Badan Pertanahan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta.

c. Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Daerah Istimewa Yogyakarta.

d. Pengurus Wilayah INI Daerah Istimewa Yogyakarta. e. Pengurus Wilayah IPPAT Daerah Istimewa Yogyakarta.

f. Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 3. Provinsi Bali

Masukan dari Provinsi Bali berasal dari:

a. Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Bali. b. Kanwil Badan Pertanahan Nasional Bali.

c. Kelompok Ahli Bidang Hukum Pemerintah Provinsi Bali. d. Pengurus Wilayah INI/IPPAT Bali.

(10)

BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN KAJIAN EMPIRIS

2.1 Kajian Teoritis

Peranan hukum dalam mengatur kehidupan masyarakat sudah dikenal sejak masyarakat mengenal hukum, sebab hukum itu dibuat untuk mengatur kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Pada dasarnya hukum berfungsi untuk menciptakan dan memelihara keamanan serta ketertiban. Fungsi hukum berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat yang meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat yang bersifat dinamis yang memerlukan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan sesuai dengan amanah yang tertuang di dalam UUD 1945.2  Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kepastian

hukum dalam berbagai bidang kehidupan.

Pentingnya kepastian hukum berimbas kepada hak dan kewajiban seseorang sebagai subyek hukum dalam masyarakat.  Jaminan kepastian, ketertiban, serta perlindungan hukum dalam masyarakat telah mensyaratkan adanya tulisan sebagai wujud perbuatan, perjanjian, dan hubungan hukum yang memiliki kekuatan pembuktian terkuat dan terpenuh, salah satunya dalam bentuk akta Notaris.

Akta Notaris merupakan akta otentik karena dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta itu dibuatnya. Hal ini sesuai dengan Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Akta Notaris sebagai alat bukti otentik mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat, misalnya dalam kegiatan bisnis, kegiatan di bidang perbankan, pertanahan, dan kegiatan sosial. Peranan akta otentik dewasa ini dirasakan semakin meningkat sejalan dengan berkembangnya tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai hubungan ekonomi maupun sosial, baik di tingkat nasional, regional, maupun global. Dengan demikian, untuk menjamin adanya kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum maka dibutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai

2  Lihat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

(11)

keadaan, peristiwa, atau perbuatan hukum yang diselenggarakan melalui jabatan tertentu.

Menurut Sudikno Mertokusumo, akta adalah surat sebagai alat bukti yang diberi tanda tangan yang memuat peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan, yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian. Pembuktian merupakan salah satu langkah dalam proses perkara perdata. Pembuktian diperlukan karena adanya bantahan atau penyangkalan dari pihak lawan atau untuk membenarkan sesuatu hak yang menjadi sengketa.3

Senada dengan Sudikno Mertokusumo, Pitlo mengemukakan bahwa akta adalah surat yang diberi tanda tangan yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar daripada suatu hak atau perikatan yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian.4

Menurut Subekti, akta adalah suatu tulisan yang semata-mata dibuat untuk membuktikan sesuatu hal peristiwa, karenanya suatu akta harus ditandatangani. Ketentuan Pasal 1 ayat (7) UUJN menyatakan bahwa akta Notaris adalah akta yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini.5

Dari beberapa pengertian mengenai akta yang dikutip tersebut,  jelaslah bahwa tidak semua surat atau tulisan dapat disebut akta, melainkan hanya surat-surat yang memenuhi syarat tertentu. Adapun syarat yang harus dipenuhi agar suatu surat atau tulisan dapat disebut sebagai akta adalah:

1. Surat itu harus ditandatangani.

Keharusan ditandatangani suatu surat untuk dapat disebut akta ditentukan dalam Pasal 1874 KUHPerdata. Tujuan dari keharusan penandatanganan adalah untuk memberikan ciri sebuah akta yang satu dengan akta yang lainnya, sebab tanda tangan dari setiap orang mempunyai ciri tersendiri yang berbeda dengan tanda tangan orang lain. Dan dengan penandatangannya itu seseorang dianggap menjamin tentang kebenaran dari apa  yang ditulis dalam akta tersebut.

3

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata di Indonesia , Yogyakarta: Liberty, 1981, hal. 149.

4 Ibid, hal. 110.

5 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata , Jakarta: PT. Intermesa, Cetakan ke XVIII,

(12)

Yang dianggap sebagai tulisan di bawah tangan adalah akta  yang ditandatangani di bawah tangan, surat, daftar, surat urusan rumah tangga dan tulisan-tulisan lain yang dibuat tanpa perantaraan seorang pejabat umum. (KUHPerd. 1875, 1878, 1880 dst., 1902; S. 1867-29.) (s.d.t. dg. S. 1916-42, 43; s.d.u. dg. S. 1919-609, 775.) Dengan penandatanganan sebuah tulisan di bawah tangan disamakan pembubuhan suatu cap jempol dengan suatu pernyataan yang bertanggal dari seorang notaris atau seorang pejabat lain yang ditunjuk undang-undang, yang menyatakan bahwa pembubuh cap jempol tersebut dikenalnya atau telah diperkenalkan kepadanya, bahwa isi akta telah dijelaskan kepada orang itu, dan bahwa setelah itu cap jempol tersebut dibubuhkan pada tulisan tersebut di hadapan pejabat  yang bersangkutan. Pegawai ini harus membukukan tulisan

tersebut. Dengan undang-undang dapat diadakan aturan-aturan lebih lanjut tentang pernyataan dan pembukuan termaksud. (S. 1916-46; RBg. 286.)

 Jadi untuk dapat digolongkan sebagai akta suatu surat harus ada tanda tangannya seperti yang disyaratkan dalam Pasal 1869 KUHPerdata bahwa suatu akta yang, karena tidak berkuasa atau tidak cakapnya pegawai dimaksud di atas (Pasal 1868 KUHPerdata) atau karena suatu cacat dalam bentuknya, tidak dapat diperlakukan sebagai akta otentik namun demikian mempunyai kekuatan sebagai tulisan di bawah tangan jika ia ditandatangani oleh para pihak.

Keharusan adanya tandatangan bertujuan untuk membedakan akta yang satu dari akta yang lainnya atau akta  yang dibuat oleh orang lain, jadi fungsi tandatangan tidak lain adalah untuk memberikan ciri sebuah akta atau untuk mengindividualisir sebuah akta karena identifikasi dapat dilihat dari tanda tangan yang dibubuhkan pada akta tersebut dan dengan penandatanganan itu seseorang dianggap menjamin tentang kebenaran dari apa yang ditulis dalam akta itu. Yang dimaksudkan dengan penandatangan dalam akta ini adalah membubuhkan nama dari si penanda tangan, sehingga membubuhkan paraf, yaitu singkatan tanda tangan saja dianggap belum cukup, nama tersebut harus ditulis tangan oleh si penandatangan sendiri atas kehendaknya sendiri. Dipersamakan dengan tanda tangan pada suatu akta dibawah tangan adalah sidik jari (cap jari atau cap jempol) yang dikuatkan dengan suatu keterangan yang diberi tanggal oleh seorang Notaris atau pejabat

(13)

lain yang ditujuk oleh undang-undang, yang menyatakan bahwa ia mengenal orang yang membubuhkan sidik jari atau orang itu diperkenalkan kepadanya, dan bahwa isi akta itu telah dibacakan dan dijelaskan kepadanya, kemudian sidik jari itu dibubuhkan pada akta di hadapan pejabat tersebut, pengesahan sidik jari ini lebih dikenal dengan waarmerking .

2. Surat itu harus memuat peristiwa yang menjadi dasar sesuatu hak atau perikatan. Jadi surat itu harus berisikan suatu keterangan yang dapat menjadi bukti yang dibutuhkan, dan peristiwa hukum yang disebut dalam surat itu haruslah merupakan peristiwa hukum yang menjadi dasar dari suatu hak atau perikatan.

3. Surat itu diperuntukkan sebagai alat bukti

 Jadi surat itu memang sengaja dibuat untuk dijadikan alat bukti. Menurut ketentuan aturan Bea Materai Tahun 1921 dalam Pasal 23 ditentukan antara lain: bahwa semua tanda yang ditanda tangani yang diperbuat sebagai buktinya perbuatan kenyataan atau keadaan yang bersifat hukum perdata dikenakan bea materai tetap sebesar Rp.25,-. Oleh karena itu sesuatu surat yang akan diuji pembuktian di pengadilan harus ditempeli bea materai secukupnya(sekarang sebesar Rp.6.000,-). Berdasarkan ketentuan dan syarat-syarat tersebut di atas, maka surat jual beli, surat sewa menyewa, bahkan sehelai kwitansi adalah suatu akta, karena ia dibuat sebagai bukti dari suatu peristiwa hukum dan tanda tangani oleh berkepentingan.

Akta Notaris adalah akta otentik, suatu tulisan yang sengaja dibuat untuk membuktikan suatu peristiwa atau hubungan hukum tertentu. Sebagai suatu akta yang otentik, yang dibuat dalam bentuk  yang sudah ditentukan oleh Undang-Undang (Pasal 38 UUJN), dibuat di hadapan pejabat-pejabat (pegawai umum) yang diberi wewenang dan di tempat di mana akta tersebut dibuat. Maka akta Notaris itu memberikan kekuatan pembuktian yang lengkap dan sempurna bagi para pihak yang membuatnya. Kesempurnaan akta Notaris sebagai alat bukti, maka akta tersebut harus dilihat apa adanya, tidak perlu dinilai atau ditafsirkan lain, selain yang tertulis dalam akta tersebut.

Akta Notaris merupakan perjanjian para pihak yang mengikat mereka yang membuatnya, oleh karena itu syarat-syarat sahnya perjanjian harus dipenuhi. Pasal 1320 KUHPerdata yang mengatur tentang syarat sahnya perjanjian, ada syarat subyektif yaitu syarat

(14)

 yang berkaitan dengan subjek yang mengadakan atau membuat perjanjian, yang terdiri dari kata sepakat dan cakap bertindak untuk melakukan suatu perbuatan hukum, dan syarat obyektif yaitu syarat  yang berkaitan dengan perjanjian itu sendiri atau berkaitan dengan objek yang dijadikan perbuatan hukum oleh para pihak, yang terdiri dari suatu hal tertentu dan sebab yang tidak dilarang.6

Akibat hukum tertentu jika syarat subyektif tidak terpenuhi maka perjanjian dapat dibatalkan sepanjang sepanjang ada permintaan oleh orang-orang tertentu atau yang berkepentingan. Syarat obyektif ini ika tidak dipenuhi, maka perjanjian batal demi hukum, tanpa perlu ada permintaan dari para pihak, dengan demikian perjanjian dianggap tidak pernah ada dan tidak mengikat siapa pun.

Syarat subyektif perjanjian dicantumkan dalam akta Notaris dalam awal akta dan syarat obyektif dicantumkan dalam Badan Akta sebagai isi akta, Isi akta merupakan perwujudan dari Pasal 1338 KUHPerdata mengenai kebebasan berkontrak dan memberikan kepastian dan perlindungan hukum kepada para pihak mengenai perjanjian yang dibuatnya. Dengan demikian, jika dalam awal akta , terutama syarat-syarat para pihak yang menghadap Notaris tidak memenuhi syarat subyektif, maka atas permintaan orang tertentu tersebut dapat dibatalkan. Jika dalam isi akta tidak memenuhi syarat objektif, maka dianggap membatalkan seluruh badan akta, termasuk membatalkan syarat objektif. Syarat subjektif ditempatkan sebagai sebagai bagian dari awal akta, dengan alasan meskipun syarat subyektif tidak dipenuhi sepenjang tidak ada pengajuan pembatalan dengan cara gugatan dari orang-orang tertentu, maka isi akta yang berisi syarat objektif tetap mengikat para pihak, hal ini berbeda jika syarat objektif tidak dipenuhi, maka akta dianggap tidak pernah ada.

Menurut bentuknya akta dapat dibagi menjadi akta otentik dan akta di bawah tangan. Pengertian akta otentik dapat ditemukan dalam pasal 1868 KUHPer yaitu akta yang di dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta itu dibuatnya atau dengan kata lain akta otentik adalah akta  yang dibuat oleh pejabat yang diberi wewenang untuk itu oleh penguasa menurut ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan baik

6 Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris dan PPAT Indonesia , Bandung: Mandar

(15)

dengan maupun tanpa bantuan dari yang berkepentingan, yang mencatat apa yang dimintakan untuk dimuat di dalamnya oleh yang berkepentingan.

Suatu akta otentik dapat dibagi lebih lanjut menjadi akta yang dibuat oleh pejabat dan akta yang dibuat oleh para pihak. Akta otentik yang dibuat oleh pejabat merupakan akta yang dibuat oleh pejabat yang memang berwenang untuk itu dengan mana pejabat itu menerangkan apa yang dilihat serta apa yang dilakukannya. Adapun akta otentik yang dibuat oleh para pihak berarti akta tersebut dibuat oleh pejabat yang berwenang atas inisiatif dari para pihak yang berkepentingan tersebut, contohnya adalah akta jual beli, akta hibah, dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud dengan akta di bawah tangan ialah akta yang sengaja dibuat untuk pembuktian oleh para pihak tanpa bantuan dari seorang pejabat jadi hanya antara para pihak yang berkepentingan saja. Dalam KUHPer diatur dalam Pasal 1875 bahwa suatu tulisan di bawah tangan yang diakui oleh orang terhadap siapa tulisan itu hendak dipakai, atau yang dengan cara menurut undang-undang dianggap sebagai diakui, memberikan terhadap orang-orang yang menandatanganinya serta para ahli warisnya dan orang-orang yang mendapat hak dari pada mereka bukti yang sempurna seperti suatu akta otentik, dan demikian pula berlakulah ketentuan pasal 1871 untuk tulisan itu.

Akta mempunyai dua fungsi yaitu fungsi formil (formalitas causa ) dan fungsi alat bukti ( probationis causa ). Fungsi formil artinya akta berfungsi untuk lengkapnya atau sempurnanya suatu perbuatan hukum, jadi bukan sahnya perbuatan hukum. Jadi adanya akta merupakan syarat formil untuk adanya suatu perbuatan hukum. Fungsi alat bukti berarti akta mempunyai fungsi sebagai alat bukti, karena sejak awal akta tersebut dibuat dengan sengaja untuk pembuktian di kemudian hari.

Sifat tertulisnya suatu perjanjian dalam bentuk akta ini tidak membuat sahnya perjanjian tetapi hanyalah agar dapat digunakan sebagai alat bukti di kemudian hari. Akta Otentik sebagai Alat Bukti  yang Sempurna, pembuktian dalam hukum acara mempunyai arti  yuridis berarti hanya berlaku bagi pihak-pihak yang berperkara atau  yang memperoleh hak dari mereka dan tujuan dari pembuktian ini adalah untuk memberi kepastian kepada Hakim tentang adanya suatu peristiwa-peristiwa tertentu. Maka pembuktian harus dilakukan oleh para pihak dan siapa yang harus membuktikan atau  yang disebut juga sebagai beban pembuktian berdasarkan pasal 163 HIR ditentukan bahwa barang siapa yang menyatakan ia mempunyai

(16)

hak atau ia menyebutkan sesuatu perbuatan untuk menguatkan haknya itu atau untuk membantah hak orang lain, maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu. Ini berarti dapat ditarik kesimpulan bahwa siapa yang mendalilkan sesuatu maka ia yang harus membuktikan.

Menurut sistem dari HIR hakim hanya dapat mendasarkan putusannya atas alat-alat bukti yang sudah ditentukan oleh UndangUndang. Menurut pasal 164 HIR alat-alat bukti terdiri dari : 1. Bukti tulisan;

2. Bukti dengan saksi; 3. Persangkaan;

4. pengakuan; 5. sumpah.

Untuk dapat membuktikan adanya suatu perbuatan hukum, maka diperlukan alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian Dalam hal ini agar akta sebagai alat bukti tulisan mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, maka akta tersebut harus memenuhi syarat otentisitas yang ditentukan oleh undang-undang, salah satunya harus dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang berwenang. Dalam hal harus dibuat oleh atau di hadapan pejabat  yang berwenang inilah profesi Notaris memegang peranan yang sangat penting dalam rangka pemenuhan syarat otentisitas suatu surat atau akta agar mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna karena berdasarkan pasal 1 UUJN Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik.

Akta otentik merupakan alat bukti yang sempurna, sebagaimana dimaksud dalam pasal 1870 KUHPerdata. Akta otentik memberikan diantara para pihak termasuk para ahli warisnya atau orang yang mendapat hak dari para pihak itu suatu bukti yang sempurna tentang apa yang diperbuat/ dinyatakan di dalam akta ini. Kekuatan pembuktian sempurna yang terdapat dalam suatu akta otentik merupakan perpaduan dari beberapa kekuatan pembuktian dan persyaratan yang terdapat padanya. Ketiadaan salah satu kekuatan pembuktian ataupun persyaratan tersebut akan mengakibatkan suatu akta otentik tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat sehingga akta akan kehilangan keotentikannya dan tidak lagi menjadi akta otentik.

(17)

Dalam suatu akta otentik harus memenuhi kekuatan pembuktian lahiriah, formil dan materil, yaitu :7

1. Kekuatan pembuktian lahiriah, yang dimaksud dengan kekuatan pembuktian lahir berarti kekuatan pembuktian yang didasarkan atas keaadaan lahir akta itu sendiri. Menurut Efendi, Bachtiar dkk, kekuatan pembuktian lahir sesuai dengan asas “ acta publica  probant seseipsa ” yang berarti suatu akta yang lahirnya tampak sebagai akta otentik serta memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan maka akta itu berlaku atau dapat dianggap sebagai akta otentik sampai terbukti sebaliknya.

2. Kekuatan Pembuktian Formil, artinya dari akta otentik itu dibuktikan bahwa apa yang dinyatakan dan dicantumkan dalam akta itu adalah benar merupakan uraian kehendak pihak-pihak  yang menghadap pada saat yang tercantum dalam akta. Secara

formil, akta otentik menjamin kebenaran dan kepastian hari, tanggal, bulan, tahun, pukul (waktu) menghadap, dan para pihak  yang menghadap, tanda tanga para pihak, Notaris dan saksi dan

tempat akta dibuat. Dalam arti formil pula akta Notaris membuktikan kebenaran dari apa yang disaksikan yaitu yang dilihat, didengar dan dialami sendiri oleh Notaris sebagai Pejabat Umum dalam menjalankan jabatannya. Akta dibawah tangan tidak mempunyai kekuatan pembuktian formil, terkecuali bila si penanda tangan dari surat/akta itu mengakui kebenaran tanda tangannya.

3. Kekuatan Pembuktian Materiil, merupakan kepastian tentang materi suatu akta, bahwa apa yang tersebut dalam akta merupakan pembuktian yang sah terhadap pihak-pihak yang membuat akta. Keterangan yang disampaikan pengahadap kepada Notaris dituangkan dalam akta dinilai telah benar. Jika keterangan para penghadap tidak benar, maka hal tersebut adalah tanggung jawab para pihak sendiri.

4. Nilai Pembuktian Akta Otentik Dalam Putusan Pengadilan

Pejabat Notaris fungsinya mencatatkan apa-apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap Notaris tersebut. Notaris tidak berkewajiban untuk menyelidiki secara materil apa-apa yang dikemukakan oleh penghadap Notaris tersebut sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku.  Jika kemudian ternyata terbukti bahwa yang menghadap Notaris tersebut bukanlah orang yang sebenarnya, sehingga menimbulkan kerugian orang yang sebenarnya, maka

7Bachtiar, Efendi dkk, Surat Gugat dan Hukum Pembuktian dalam Perkara

(18)

pertanggungjawaban pidana tidak dapat dibebankan kepada Notaris.

Karena unsur kesalahannya tidak ada, dan Notaris telah melaksanakan tugas jabatan sesuai aturan hukum yang berlaku, maka Notaris tersebut harus dilepaskan dari tuntutan.8  Notaris

sebagai pengemban amanat dan kepercayaan masyarakat dan perannya yang penting dalam lalu lintas hukum, sudah selayaknya Notaris mendapatkan perlindungan hukum dalam menjalankan  jabatannya termasuk pula dalam hal Notaris diduga melakukan pelanggaran kode etik dan dugaan unsur pidana harus dikedepankan asas praduga tak bersalah dan peranan yang serius dari perkumpulan untuk memberikan perlindungan hukum. Dalam gugatan untuk menyatakan akta Notaris tersebut tidak sah, makaharus dibuktikan ketidakabsahan dari aspek lahiriah, formil dan materil akta Notaris.

2.1.1 Pengertian Notaris

Munculnya lembaga Notaris dilandasi kebutuhan akan suatu alat bukti yang mengikat selain alat bukti saksi. Adanya alat bukti lain yang mengikat, mengingat alat bukti saksi kurang memadai lagi sebab sesuai dengan perkembangan masyarakat, perjanjian-perjanjian yang dilaksanakan anggota masyarakat semakin rumit dan kompleks. Istilah Notaris pada dasarnya berasal dari kata “notarius ” (bahasa latin), yaitu nama yang diberikan pada orang-orang Romawi di mana tugasnya menjalankan pekerjaan menulis atau orang-orang yang membuat catatan pada masa itu, yang kemudian menjadi istilah atau titel bagi golongan orang penulis cepat atau stenografer. Notaris sendiri adalah salah satu cabang dari profesi hukum yang tertua di dunia. Hampir selama seabad lebih, eksistensi Notaris dalam memangku jabatannya didasarkan pada ketentuan Reglement Of Het Notaris Ambt In Nederlandsch No. 1860 : 3 yang mulai berlaku 1 Juli 1860. Dalam kurun waktu itu, Peraturan  Jabatan Notaris mengalami beberapa kali perubahan. Pada saat ini, Notaris telah memiliki Undang-Undang tersendiri dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN).

8 Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administrasi terhadap Notaris sebagai Pejabat

(19)

Pengertian Notaris dalam sistem  Civil Law   yang diatur dalam Pasal 1 Ord, stbl. 1860 nomor 3 tentang Jabatan Notaris di Indonesia mulai berlaku tanggal 1 Juli 1860 yang kemudian diterjemahkan oleh R. Soegondo disebutkan pengertian Notaris adalah: Pejabat umum, khususnya (satu-satunya) yang berwenang untuk membuat akta-akta otentik tentang semua tindakan, perjanjian-perjanjian, dan keputusan-keputusan yang diharuskan oleh perundang-undangan umum untuk dikehendaki oleh yang berkepentingan bahwa hal itu dinyatakan dalam surat otentik, menjamin tanggalnya, menyimpan akta-akta dan mengeluarkan grosse, salinan-salinan (turunan-turunan) dan kutipan-kutipannya, semuanya itu apabila pembuatan akta-akta demikian itu atau dikhususkan itu atau dikhususkan kepada pejabat-pejabat atau orang-orang lain.

Demi untuk kepentingan Notaris dan untuk melayani kepentingan masyarakat Indonesia, maka pemerintah berupaya untuk memberikan paying hukum pada profesi Notaris sehingga pada tanggal 6 Oktober 2004 telah disahkan Peraturan Jabatan Notaris yang kita sebut dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN). Berdasarkan sejarah, Notaris adalah seorang pejabat Negara/pejabat umum yang dapat diangkat oleh Negara untuk melakukan tugas-tugas Negara dalam pelayanan hukum kepada masyarakat demi tercapainya kepastian hukum sebagai pejabat pembuat akta otentik dalam hal keperdataan.

 Tugas Notaris adalah mengkonstantir hubungan hukum antara para pihak dalam bentuk tertulis dan format tertentu, sehingga merupakan suatu akta otentik. Ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.9  Jasa

Notaris dalam proses pembangunan dirasakan semakin lama semakin meningkat, hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan hukum di dalam masyarakat. Sesuai dengan kewenangan  yang dimilikinya, maka Notaris merupakan pejabat umum  yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya. Jabatan Notaris ini tidak dapat ditempatkan di lembaga legislatif, eksekutif ataupun  yudikatif. Notaris diharapkan memiliki posisi netral, sehingga

9 Tan Thong Kie, Studi Notariat, Serba-serbi Praktek Notaris, Buku I (Jakarta :PT

(20)

apabila ditempatkan di salah satu dari ketiga badan negara tersebut maka Notaris tidak lagi dapat dianggap netral. Dengan posisi netral tersebut, Notaris diharapkan untuk memberikan penyuluhan hukum untuk dan atas tindakan hukum yang dilakukan Notaris atas permintaan kliennya. Dalan hal melakukan tindakan hukum untuk kliennya, Notaris juga tidak boleh memihak. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Notaris haruslah memiliki kedudukan yang netral sehingga keterangan yang dibuatnya dapat diandalkan sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh.

Secara teoritis pembatasan kekuasaan negara yang dikemukakan oleh John Locke ataupun Montesquie, kekuasaan dalam negara harus dipisahkan menjadi 3 (tiga) bagian yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri dengan tugasnya masing-masing, yaitu:

1. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan membuat peraturan perundang-undangan yang berlaku di dalam negara;

2. Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menyelenggarakan peraturan perundang-undangan maupun mengawasai pelaksanaannya;

3. Kekuasaan yudikatif, yaitu kekuasaan yang tidak termasuk kedua kekuasaan tersebut di atas.

Kemudian teori tersebut dikembangkan oleh Montesquie  yang lebih menekankan pada pemisahaan kekuasaan negarav  yang lebih tegas. Kekuasaan negara haruslah dipisahkan

menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:

1. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membuat peraturan perundang-undangan;

2. Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan; dan

3. Kekuasaan yudikatif, yaitu kekuasaan untuk mepertahankan peraturan perundang-undangan.

Meskipun kemudian timbul beberapa teori-teori kekuasaan negara lainnya seperti teori catur praja dari Van Vollenhoven, teori panca praja dari Lemaire dan teori dwi paraja dari A.M. Donner, namun teori kekuasaan negara dari  John Locke dan Montesquie selalu menjadi rujukan dan pembahasan kekuasaan negara. Kekuasaan negara dianggap tidak terbatas, sehingga kekuasaan negara yang telah dipisahkan atau dibagikan seperti tersebut di atas, tidak akan menghabiskan kekuasaan negara. Kekuasaan negara

(21)

masih tetap ada bahkan dpaat diberikan kepada institusi-institusi lain yang dikehendaki oleh negara.

Salah satu fungsi negara yaitu dapat memberikan pelayanan umum kepada rakyatnya. Pemisahan atau pembagian kekuasaan negara seperti tersebut di atas, khususnya eksekutif dengan tugas untuik melayani kepentingan umum dalam bidang hukum publik. Eksekutif biasa disebut dengan Pemerintah. Namun dalam hukum adminsitrasi mereka yang mengsiis posisi di eksekutif disebut sebagai Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Tidak semua [pelayanan umum tersebut dapat dilakukan oleh eksekutif, karena adanya batasan-batasan yang boleh dilakukan oleh eksekutif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai jabatan di eksekutif. Dan jika eksekutif sebagai pejabat tata usaha negara mengeluarkan suatu keputusan yang bersifat konkrit, individual dan final ternyata merugikan orang-perorangan atau badan hukum perdata lainnya, maka yang merasa dirugikan dapat mengajukan keputusan tersebut ke PTUN atau jika terlebih dapat menempuh prosedur banding atau keberatan.

Seorang Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya harus memiliki keterampilan profesi di bidang hukum juga harus dilandasi dengan tanggung jawab dan moral yang tinggi serta pelaksanaan terhadap tugas jabatannya maupun nilai-nilai dan etika, sehingga dapat menjalankan tugas  jabatannya sesuai dengan ketentuan hukum dan kepentingan

masyarakat. Notaris dalam melaksanakan tugasnya secara profesional harus menyadari kewajibannya, bekerja sendiri,  jujur, tidak berpihak dan penuh rasa tanggung jawab dan memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat yang memerlukan jasanya dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan umum (public). Dalam melaksanakan tugas dan  jabatannya seorang Notaris harus berpegang teguh pada Kode

Etik Jabatan Notaris sebab tanpa itu, harkat dan martabat profesionalisme akan hilang.10

Salah satu bentuk pelayanan negara kepada rakyatnya  yaitu negara memberikan kesempatan kepada rakyat untuk

memperoleh tanda bukti atau dokumen hukum yang berkaitan dengan hukum perdata, untuk keperluan tersebut maka diberikanlah kepada Pejabat Umum yang dijabat oleh

10 Suhrawardi K. Lubis, Etika Profesi Hukum, (Sinar Grafika, Jakarta, 2006), hal.

(22)

Notaris. Dan minuta atas akta tersebut menjadi milik negara  yang harus disimpan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sebagai bentuk yang menjalankan kekuasaan negara maka yang diterima oleh Notaris dalam kedudukan sebagai jabatan haruslah memakai lambang negara yakni burung garuda,

Dengan konstruksi tersebut, maka dapat diartikan bahwa Notaris menjalankan sebagian kekuasaan negara dalam bidang hukum perdata untuk melayani kepentingan rakyat yang memerlukan bukti atau dokumen hukum berbentuk akta otentik yang diakui oleh negara sebagai bukti  yang sempurna. Otensitas akta Notaris bukan pada kertasnya

namun akan tetapi akta yang dibuat di hadapan Notaris sebagai Pejabat Umum dengan segala kewenangannya sesuai dengan Pasal 1868 KUH Perdata, yang berbunyi:

“ Suatu akta otentik ialah suatu akta yang di dalam bentuk  yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana akta dibuatnya. ”

2.1.2 Tinjauan Jabatan Notaris

 Jabatan Notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum. Secgara substantif akta Notaris dapat berupa:

1. suatu keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dikehendaki para pihak agar dituangkan dalam bentuk akta otentik untuk dijadikan sebagai alat bukti;

2. berdasarkan peraturan perundang-undangan bahwa tindakan hukum tertentu wajib dibuat dalam bentuk akta otentik.

Dengan dasar seperti ini mereka yang diangkat sebagai Notaris harus mempunyai semangat untuk melayani masyarakat, dan atas pelayanan tersebut maka masyrakat  yang telah merasa dilayani oleh Notaris sesuai dengan tugas  jabatannya dapat memberikan honorarium kepada Notaris. Oleh karena itu Notaris tidak berarti apa-apa jika masyarakat tidak membutuhkannya. Menurut Herlien Budiono, berdasarkan pada nilai moral dan etik Notaris, maka

(23)

pengembangan jabatan Notaris adalah pelayanan kepada masyarakat (klien) secara mandiri dan tidak memihak dalam bidang kenotariatan yang pengembangannya dihayati sebagai panggilan hidup bersumber pada semangat pengabdian terhadap sesama manusia demi kepentingan umum serta berakar dalam penghormatan terhadap martabat manusia pada umumnya dan martabat Notaris pada khususnya.

Adanya Jabatan Notaris dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud untuk membantu melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dikehendaki oleh para pihak agar dituangkan dalam bentuk akta otentik untuk dijadikan sebagai alat bukti yang berdasarkan peraturan perundangundangan bahwa tindakan hukum tertentu wajib dibuat dalam bentuk akta otentik. Aturan hukum Jabatan Notaris di Indonesia, dari pertama kali banyak mengalami perubahan dan bermacam-macam. Dari beberapa aturan hukum yang ada, kemudian dimasukkan ke dalam satu aturan hukum, yaitu UUJN. Misalnya tentang pengawasan, pengangkatan dan pemberhentian Notaris. Dengan lahirnya UUJN maka telah terjadi unifikasi hukum dalam pengaturan Notaris di Indonesia dan UUJN merupakan hukum tertulis sebagai alat ukur bagi keabsahan Notaris dalam menjalankan tugas  jabatannya. Mengenai pengangkatan Notaris ditentukan dalam Pasal 3 UUJN yang ditambah lagi syarat sebagaimana tersebut dalam Bab II Pasal 2 ayat (1) dan Tata Cara Pengangkatan Notaris diatur dalam Bab III, Pasal 3-8 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01.HT.03.01 Tahun 2006.

Pengertian Jabatan harus berlangsung terus menerus (berkesinambungan) dapat diberlakukan kepada Notaris, meskipun seseorang sudah pensiunan dari jabatannya sebagai Notaris, atau dengan berhentinya seseorang sebagai Notaris, maka berhenti pula kedudukannya sebagai Notaris. Sedangkan Notaris sebagai Jabatan, akan tetapi ada akta-akta yang dibuat di hadapan atau oleh Notaris yang sudah pensiun tersebut akan tetap diakui dan akan disimpan (sebagai suatu kesinambungan) oleh notaries pemegang protokolnya. Notaris tidak dapat melakukan tindakan apapun, seperti merubah isi akta, tapi yang dapat

(24)

dilakukannya yaitu merawat dan mengeluarkan salinan atas permintaan para pihak yang namanya tersebut dalam akta atau para ahli warisnya. Mereka yang menjalankan tugas  jabatan Notaris oleh umur biologis. Umur yuridis akta Notaris bila sepanjang masa, sepanjang aturan hukum yang mengatur jabatan Notaris masih ada, dibandingkan dengan umur biologi Notaris sendiri yang akan berakhir karena notaries meninggal dunia.

Peraturan Jabatan Notaris yang terdiri beberapa substansi kemudian dimasukkan dalam satu aturan hukum,  yaitu UUJN. Misalnya tentang pengawasan, pengangkatan, dan pemberhentian Notaris. Dengan lahirnya UUJN maka telah terjadi unifikasi hukum dalam pengaturan Notaris di Indonesia dan UUJN merupakan hukum tertulis sebagai alat ukur bagi keabsahan Notaris dalam menjalankan tugas  jabatannya.

Notaris sebagai pejabat publik mempunyai karakteristik sebagai berikut :11

1. Sebagai Jabatan

UUJN merupakan unifikasi dibidang pengaturan jabatan Notaris, artinya satu-satunya aturan hukum dalam bentuk undangundang yang mengatur Jabatan Notaris di Indonesia, sehingga segala hal yang berkaitan dengan Notaris di Indonesia harus mengacu kepada UUJN.  Jabatan Notaris merupakan suatu lembaga yang

diciptakan oleh Negara. Menempatkan Notaris sebagai  jabatan merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas  yang sengaja dibuat oleh aturan hukum untuk keperluan dan fungsi tertentu (kewenangan tertentu) serta sifat berkesinambungan sebagai suatu lingkungan pekerjaan tetap.

2. Notaris mempunyai kewenangan tertentu

Setiap wewenang yang diberikan kepada jabatan harus dilandasi aturan hukumnya sebagai batasan agar jabatan dapat berjalan dengan baik dan tidak bertabrakan dengan wewenang jabatan lainnya. Dengan demikian, jika seorang pejabat (Notaris) melakukan tindakan tidak di luar wewenang yang telah ditentukan, dapat dikategorikan sebagai perbuatan melanggar wewenang. Wewenang

11 Habib Adjie,Sanksi Perdata dan Administrasi Terhadap Notaris sebagai Pejabat

(25)

Notaris yang dimaksud antara lainadalah membuat akta, bukan membuat surat seperti Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) atau membuat surat lain, seperti Surat Keterangan Waris (SKW).

3. Diangkat dan diberhentikan oleh Menteri

Dalam UUJN Pasal 2 menentukan bahwa Notaris diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, dalam hal ini menteri  yang membidangi kenotariatan (Pasal 1 angka 14 UUJN). Notaris meskipun secara administratif diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, tidak berarti Notaris menjadi subordinasi (bawahan) dari yang mengangkatnya, pemerintah. Dengan demikian Notaris menjalankan tugas  jabatannya bersifat mandiri, tidak memihak siapa

menjalankan tugas jabatannya tidak dapat dicampuri oleh pihak yang mengangkatnya atau oleh pihak lain.

4.  Tidak menerima gaji atau pensiun dari yang mengangkatnya.

Notaris walaupun diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah tetapi tidak menerima gaji dan pensiun dari pemerintah. Notaris hanya menerima honorarium dari masyarakat yang telah dilayaninya atau dapat memberikan pelayanan cuma-cuma untuk mereka yang tidak mampu.

5. Akuntabilitas atas pekerjaannya kepada masyarakat

Kehadiran Notaris untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan dokumen hukum (akta) otentik dalam bidang hukum perdata, sehingga Notaris mempunyai tanggung jawab untuk melayani masyarakat  yang dapat menggugat secara perdata, menuntut biaya, ganti rugi, dan bunga jika ternyata akta tersebut dapat dibuktikan dibuat tidak sesuai dengan aturan hukum  yang berlaku.

2.1.3 Tanggung Jawab Notaris

Notaris dalam melaksanakan tugas dan jabatannya sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik dapat dibebani tanggung jawab atas perbuatannya sehubungan dengan pekerjaannya dalam membuat akta tersebut. Tanggung jawab tersebut sebagai kesediaan dasariah untuk melaksanakan kewajibannya. Ruang lingkup pertanggungjawaban Notaris meliputi kebenaran materil atas akta yang dibuatnya.

(26)

Notaris tidak bertanggung jawab atas kelalaian dan kesalahan isi akta yang dibuat di hadapannya, melainkan Notaris hanya bertanggung jawab bentuk formal akta otentik sesuai yang diisyaratkan oleh undang-undang. Mengenai tanggung jawab Notaris selaku pejabat umum yang berhubungan dengan kebenaran materil dibedakan menjadi empat poin, yaitu :12

1.  Tanggung jawab Notaris secara perdata terhadap kebenaran materil terhadap akta yang dibuatnya, Konstruksi yuridis yang digunakan dalam tanggung jawab perdata terhadap kebenaran materil terhadap akta yang dibuat oleh Notaris adalah konstruksi perbuatan melawan hukum.

2.  Tanggung jawab Notaris secara pidana terhadap kebenaran materil dalam akta yang dibuatnya. Mengenai ketentuan pidana tidak diatur di dalam UUJN namun tanggung jawab Notaris secara pidana dikenakan apabila Notaris melakukan perbuatan pidana. UUJN hanya mengatur sanksi atas pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris terhadap UUJN, sanksi tersebut dapat berupa akta yang dibuat oleh Notaris tidak memiliki kekuatan otentik atau hanya mempunyai kekuatan sebagai akta di bawah tangan. Terhadap Notarisnya sendiri dapat diberikan sanksi yang berupa teguran hingga pemberhentian dengan tidak hormat.

3.  Tanggung jawab Notaris berdasarkan Paraturan Jabatan Notaris terhadap kebenaran materil dalam akta yang dibuatnya, Tanggung jawab Notaris disebutkan dalam Pasal 65 UUJN yang menyatakan bahwa Notaris bertanggung jawab atas setiap akta yang dibuatnya, meskipun protokol Notaris telah diserahkan atau dipindahkan kepada pihak penyimpan protokol Notaris. 4.  Tanggung jawab Notaris dalam menjalankan tugas

 jabatannya berdasarkan kode etik Notaris. Hubungan kode etik Notaris dan UUJN memberikan arti terhadap profesi Notaris itu sendiri. UUNJ dank ode etik Notaris menghendaki agar Notaris dalam menjalankan tugasnya, selain harus tunduk pada UUJN juga harus taat pada kode etik profesi serta harus bertanggung jawab terhadap

12 Abdul Ghofur Anshori, Lembaga Kenotariatan Indonesia , Yogyakarta: UII Press,

(27)

masyarakat yang dilayaninya, organisasi profesi (Ikatan Notaris Indonesia atau INI) maupun terhadap negara.

Menurut Abdul Kadir Muhammad,13  Notaris dalam

menjalankan tugas dan jabatannya harus bertanggung jawab, artinya :

1. Notaris dituntut melakukan pembuatan akta dengan baik danbenar. Artinya akta yang dibuat itu memenuhi kehendak hukum dan permintaan pihak berkepentingan karena jabatannya.

2. Notaris dituntut menghasilkan akta yang bermutu. Artinya akta yang dibuatnya itu sesuai dengan aturan hukum dan kehendak para pihak yang berkepentingan dalam arti sebenarnya, bukan mengada-ada. Notaris menjelaskan kepada pihak yang berkepentingan kebenaran isi dan prosedur akta yang dibuatnya itu.

3. Berdampak positif, artinya siapapun akan mengakui akta Notaris itu mempunyai kekuatan bukti sempurna.

2.2 Kajian Empiris

2.2.1 Notaris Pengganti Khusus

Menurut Pasal 1 angka 4 UUJN, Notaris Pengganti Khusus adalah seseorang yang diangkat sebagai Notaris khusus untuk membuat akta tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat penetapannya sebagai Notaris karena di dalam satu daerah kabupaten atau kota terdapat hanya seorang Notaris, sedangkan Notaris yang bersangkutan menurut ketentuan undang-undang ini tidak boleh membuat akta dimaksud. Pengaturan Notaris Pengganti Khusus perlu dikaitkan dengan tempat kedudukan Notaris dan wilayah  jabatan Notaris.

Pasal 18 ayat (1) UUJN mengatur mengenai tempat kedudukan Notaris, bahwa Notaris mempunyai tempat kedudukan di daerah kabupaten atau kota, dan menurut Pasal 18 ayat (2) UUJN, Notaris mempunyai wilayah jabatan meliputi seluruh wilayah provinsi dari tempat kedudukannya. Pasal 18 UUJN mempunyai arti bahwa Notaris tidak hanya dapat membuat akta untuk masyarakat yang datang ke tempat kedudukan Notaris, tetapi Notaris juga berwenang

(28)

membuat akta yang meliputi kabupaten atau kota lain dalam provinsi yang sama.

Keberadaan Notaris Pengganti Khusus sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka 4, jika dikaitkan dengan Pasal 18 UUJN tentang wilayah jabatan Notaris maka keberadaan Notaris Pengganti Khusus tidak relevan, karena pada saat seorang Notaris bermaksud membuat akta untuk dirinya sendiri atau keluarganya sementara ditempat kedudukan Notaris yang bersangkutan hanya ada seorang Notaris yaitu dirinya sendiri, maka Notaris yang bersangkutan atau keluarganya dapat menggunakan jasa Notaris lain dalam wilayah jabatan yang sama.

 Terkait dengan persoalan ini, terdapat dua pendapat. Pertama, keberadaan Notaris Pengganti Khusus masih relevan dan perlu dipertahankan, mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat luas dan juga pembangunannya belum bisa dikatakan merata, masih menunjukkan suatu kenyataan adanya daerah-daerah yang terpencil, sehingga masih memungkinkan suatu keadaan dalam satu daerah tertentu formasinya hanya baru terisi oleh satu orang Notaris saja.14

Pendapat kedua mengatakan bahwa Notaris Pengganti Khusus sudah tidak relevan lagi karena saat ini sudah banyak Notaris, sehingga pada saat seorang Notaris bermaksud membuat akta untuk dirinya sendiri atau keluarganya sementara ditempat kedudukan Notaris yang bersangkutan hanya ada seorang Notaris yaitu dirinya sendiri, maka Notaris yang bersangkutan atau keluarganya dapat menggunakan jasa Notaris lain dalam wilayah jabatan  yang sama. Namun yang perlu diperhatikan adalah formasi (penyebaran) Notaris agar tidak terkonsentrasi di kota besar15.

14  Akademisi di Magister Kenotariatan Universitas Hasanudin, Masukan RDPU,

Pakar, dan Penelitian Terhadap Revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang  Jabatan Notaris, lampiran 2, hal. 13; Kanwil Kemenhukham Jateng, Pengwil INI-IPPAT Yogyakarta, dan akademisi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Hasil Kunjungan Kerja Badan Legislasi DPR RI Revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, lampiran 3, hal. 15.

15  Pengwil INI-IPPAT SUMUT, dan KPKNL Medan, Akademisi di Magister

Kenotariatan Universitas Sumatera Utara dan Kanwil Kemenhukham, Masukan RDPU, Pakar, dan Penelitian Terhadap Revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang  Jabatan Notaris, lampiran 2, hal. 13.

(29)

 Tidak relevannya Notaris pengganti khusus pada saat ini antara lain karena:

1. Pertumbuhan calon Notaris yang cukup pesat dengan dibukanya program kenotariatan di hampir semua perguruan tinggi negeri unggulan.

2. Formasi Notaris yang cukup besar. Saat ini di Indonesia formasi jabatan Notaris yang tersedia + 18 ribu dan sementara ini sudah diisi 11 ribu untuk populasi penduduk 230 juta. Sebagai perbandingan, di Jepang dengan jumlah penduduk 126 juta terdapat 500 Notaris. Belanda dengan jumlah penduduk 18 juta terdapat 1439 Notaris dan China dengan penduduk 1,3 milyar mempunyai 1500 Notaris.16

3. Notaris mempunyai wilayah jabatan meliputi seluruh wilayah provinsi dari tempat kedudukannya.

4.  Tindakan Notaris atau keluarganya untuk membuat akta bagi dirinya atau keluarganya bersifat insidental saja.

Berdasarkan pada kenyataan di atas keberadaan Notaris Pengganti Khusus untuk saat ini sudah tidak relevan mengingat jika di sebuah kabupaten atau kota hanya ada seorang Notaris, dan Notaris tersebut ingin membuat akta untuk dirinya atau keluarganya, maka Notaris yang bersangkutan dapat datang kepada Notaris yang berkedudukan di kabupaten atau kota sepanjang masih dalam provinsi yang sama, sehingga tidak perlu lagi untuk mengangkat Notaris Pengganti Khusus.

2.2.2 Magang

Magang merupakan salah satu metode pembelajaran langsung bagi setiap peserta didik yang sedang mengikuti pendidikan untuk jenjang tertentu maupun bagi para lulusan baru ( fresh graduated ) yang akan menjalankan profesi tertentu sebagai wahana peningkatan kompetensi bagi yang bersangkutan. Magang merupakan wahana alih pengetahuan dan keterampilan (transfer knowledge and skills ) dari orang  yang sudah pengalaman kepada peserta magang. Oleh karena itu, dalam magang setidak-tidaknya seorang peserta magang harus mendapatkan pembelajaran langsung untuk

16  Dirjen AHU Kemenhukham, Seminar Peluang dan Tantangan Notaris di Era

(30)

meningkatkan 3 (tiga) kompetensi, yaitu: kompetensi profesional, kompetensi personal dan kompetensi sosial.

UUJN mengamanatkan bahwa salah satu syarat untuk diangkat menjadi Notaris adalah magang di kantor Notaris selama 12 (dua belas) bulan. Dalam praktik, calon Notaris

 yang mengikuti program magang sebagaimana

dipersyaratkan oleh undang-undang mengalami banyak kendala, antara lain sulitnya mendapatkan tempat magang bagi calon Notaris, tidak adanya kurikulum atau prosedur baku pemagangan calon Notaris, dan Notaris tempat magang tidak sepenuhnya memberikan ilmunya dengan alasan kerahasiaan jabatan atau kesibukan, serta belum ada kriteria bagi Notaris yang mampu atau cakap untuk memberikan ilmu praktik kenotariatan untuk magang calon Notaris. Dengan permasalahan tersebut, persyaratan jangka waktu magang selama 12 (dua belas) bulan tidak cukup mengasah kemampuan profesional calon Notaris, baik kendala waktu maupun kendala teknis, sehingga persyaratan magang pada saat ini sebatas formalitas.

Kewajiban menerima magang oleh Notaris dalam UUJN tidak disertai dengan sanksi yang tegas bagi Notaris yang menolak calon Notaris untuk magang. Sementara kemampuan profesional, personal dan sosial para Notaris didapatkan selama proses magang. Semakin meningkatnya kemampuan para Notaris dalam melaksanakan tugasnya sebagai pejabat umum, akan berpengaruh pada pelayanan mutu jasa hukum yang akan diberikan kepada masyarakat. Kemampuan tersebut tidak akan meningkat apabila para calon Notaris hanya berbekal teori yang didapat dari pendidikan formal kenotariatan semata atau magang yang dilakukan dengan waktu yang terbatas.

2.2.3 Usia Pensiun

Usia pensiun merupakan salah satu isu yang sering dipersoalkan oleh Notaris. Bahkan beberapa Notaris pernah mengajukan  judicial review   atas usia pensiun Notaris ke Mahkamah Konstitusi, namun ditolak oleh majelis hakim Mahkamah Konstitusi.17

17  Ilma Hairinasari, “MK tolak perpanjangan batas usia pensiun Notaris”,

http://www.primaironline.com/berita/hukum/mk-tolak-perpanjangan-batas usia-pensiun-Notaris. diakses 3 Maret 2011.

(31)

Notaris merupakan pejabat publik yang diangkat oleh negara untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan imbalan yang disepakati oleh Notaris dan masyarakat  yang dilayani. Dalam hal ini, Notaris di sisi lain berkaitan secara yuridis dan administratif kepada negara, namun dari sisi praktik ekonomis Notaris mencari sendiri pendapatannya dengan batasan sampai pada usia tertentu.

UUJN mengatur usia pensiun Notaris adalah 65 (enam puluh lima) tahun yang dapat diperpanjang selama 2 (dua) tahun dengan mempertimbangkan kesehatan Notaris. Dalam praktiknya, hampir seluruh Notaris mengajukan perpanjangan masa jabatan pada saat yang bersangkutan mencapai usia 65 (enam puluh lima) tahun, walaupun kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk menjalankan jabatannya. Pasal 8 ayat (2) UUJN tidak mengatur lebih lanjut mengenai persyaratan maupun parameter yang digunakan untuk mengukur kondisi kesehatan Notaris, sehingga penyampaian syarat administrasi berupa surat keterangan sehat dari dokter dianggap mampu untuk mengajukan perpanjangan masa jabatan. Ketidaksesuaian surat yang menerangkan keadaan kesehatan Notaris dengan kondisi kesehatan Notaris yang sebenarnya dapat berpengaruh pada menurunnya mutu pelayanan jasa Notaris kepada masyarakat. Oleh karena itu, Pasal 8 ayat (2) UUJN memberi celah untuk melakukan pelanggaran hukum dalam pelaksanaan jabatan Notaris.

Selain itu, proses untuk mendapatkan persetujuan perpanjangan masa jabatan Notaris membutuhkan waktu  yang relatif lama. Adanya jangka waktu tersebut berpotensi

menimbulkan cacat administrasi yang dapat mengakibatkan ketidakpastian hukum. Sebagai contoh pada saat Notaris  yang sudah berusia 65 (enam puluh lima) tahun dan sedang mengajukan permohonan perpanjangan masa jabatan Notaris, yang bersangkutan tetap melaksanakan jabatannya, padahal belum ada kepastian persetujuan perpanjangan masa jabatan Notaris.

Berkaitan dengan hal tersebut, ada tiga pendapat tentang usia pensiun bagi Notaris. Pertama, bahwa usia pensiun tetap pada usia 65 tahun yang selanjutnya dapat diperpanjang untuk masa 2 (dua) tahun sebagaimana diatur dalam UUJN. Pendapat ini didasarkan argumentasi bahwa

Referensi

Dokumen terkait

ketentuan Pasal 4, Pasal 16 dan Pasal 54 UUJN maka jelas bahwa untuk merahasiakan isi akta beserta hal-hal yang diberitahukan kepada notaris sehubungan dengan pembuatan akta

UUJN tidak memberikan penjelasan apapun mengenai kewenangan Notaris membuat akta Risalah Lelang, terkait kewenangan notaris membuat akta Risalah Lelang tersebut untuk

Maka dalam sanksi perdata ini notaris F bersalah karena telah melanggar pasal melanggar ketentuan pasal 52 ayat (1) UUJN, yaitu membuat akta untuk diri sendiri, istri/suami

Pasal 52 ayat (1) UUJN, misalnya telah ditentukan bahwa Notaris tidak diperkenankan membuat akta untuk diri sendiri, istri/suami, atau orang lain yang mempunyai hubungan

Pembuatan akta oleh notaris akta merupakan bentuk pelaksanaan kewenangan utama notaris, di samping kewenangan-kewenangan lain sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (1) dan

Jika ketentuan Pasal 44 ayat (1) UUJN dan Pasal 44 UUJN dilanggar oleh Notaris, maka akan dikenakan sanksi sebagaimana tersebut dalam Pasal 84 UUJN, yaitu akta yang dibuat

Pasal 15 ayat 1 UUJN dengan tegas telah menyatakan, bahwa Notaris berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang

Jika ketentuan pasal pasal 44 ayat 1 UUJN dan pasal 44 UUJN dilanggar oleh Notaris, maka akan dikenakan sanksi sebagaimana tersebut dalam pasal 84 UUJN, yaitu akta yang dibuat dihadapan