• Tidak ada hasil yang ditemukan

DENGAN RAHMA TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DENGAN RAHMA TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERII/IUKIMAN

(Peraturan Menteri Perumahan Rakyak Republik Indonesia Nomor 01 Tahu n 2014 t a n g g a l 2 9 J a n u a r i 2 0 1 4 )

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal59 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perumahan Rakyat tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman;

Menglngat :

1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indone- sia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indone- sia Nomor 4844):

2. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4438);

3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011tentang P e r u m a h a n d a n K a w a s a n P e r m u k i m a n (Lembaran Negara Republik lndonesia Thhun 2011 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5188);

4. Undang-undang Nomor20Tahun 2011tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik In- donesia Tahun 2011 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5252):

5. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indone- sia Nomor 4574);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/

Kota (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4737);

7. Peraturan Presiden Nomor 4T Tahun 200g t e n t a n g P e m b e n t u k a n d a n O r g a n i s a s i Kementerian Negara;

8. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 t e n t a n g K e d u d u k a n , T u g a s , d a n F u n g s i Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas, dan FungsiEselon I Kementerian Negara;

9. Keputusan Presiden Nomor5g/pTahun ZO11;

10. Peraturan Menteri Negara perumahan Rakyat Nomor 21 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perumahan Rakyat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Perurnahan Rakyat Nomor 31 Tahun 2011:

MEMUTUSI(AN:

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANAALOKASI KHUSUS BIDANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal I

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Dana Alokasi Khusus Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman yang selanjutnya disebut D A K , a d a l a h d a n a y a n g b e r s u m b e r d a r i pendapatan APBN yang dialokasikan kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan keter- sediaan rumah yang layak hunidan terjangkau bagi Mas yarakatBerpenghasilan Rendah.

2. Komponen Dana Alokasi Khusus, adalah air minum, air limbah, persampahan, jaringan distribusi listrik dan penerangan jafan umum, yang merupakan bagian dari Prasarana dan Sarana, serta Utilitas Umum.

Wafta Perundang-U ndangan/8 Juli 201 4 Ul

(2)

3.

4 .

S a t u a n K e r j a P e r a n g k a t D a e r a h y a n g selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat d a e r a h p a d a p e m e r i n t a h d a e r a h s e l a k u pengguna anggaran/pengguna barang.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah selanjutnya d i s e b u t R e n c a n a K e r j a a d a l a h d o k u m e n perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.

Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan findung, baik berupa kawasan perkotaan moupun:perdesaan, yang berfu ngsi sebagai lingkungan teinpat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan y a n g m e n d u k u n g p e r i k e h i d u p a n d a n penghidupan.

Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi s e b a g a i te m p a t t i n g g a l y a n g l a y a k h u n i , saranapembinaan kel ua rga, cerminan harkat dan m a r t a b a t p e n g h u n i n y a , s e r t a a s e t b a g i pemiliknya.

Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang selanjutnya disingkat MBR adalah masyarakat y a n g m e m p u n y a i k e t e r b a t a s a n d a y a b e l i sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperolehrumah.

Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, dan/

atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

Deputi adalah Deputi Bidang Pengembangan Kawasan.

Kementerian adalah Kementerian Perumahan Rakyat.

Menteri adalah Menteri Perumahan Rakyat.

Pasal 2

Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Kementerian dan pemerintah daerah dalam p e r e n c a n a a n , p e l a k s a n a a n , p e m b i n a a n , pengawasan, pemantauan, evaluasi, pelaporan dan penilaian kinerja terhadap kegiatan yang dibiayai melalui DAK.

Pasal 3 Tujuan Peraturan Menteri ini untuk:

a. menjamin tertib perencanaan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pemantauan, evaluasi,

Warta Perundang-Undangan/8 Juli 201 4

pelaporan dan penilaian kinerja DAK yang ' dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota;

b, menjamin pelaksanaan koordinasi antara Kementerian dengan kementerian/lembaga terkait, instansi di provinsi, dan di kabupaten/

k o t a d a l a m p e r e n c a n a a n , p e l a k s a n a a n , pembinaan, pengawasan, pemantauan, evaluasi, pelaporan dan penilaian kinerja kegiatan DAK;

dan

c . m e n i n g k a t k a n e f i s i e n s i d a n e f e k t i v i t a s penggunaan DAK.

Pasal 4

Ruang lingkup pengaturan dalam Peraturan Menteri ini meliputi komponen DAK, perencanaan, kriteria lokasi dan kriteria teknis, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pemantauan, evaluasi, pelaporan dan penilaian kinerja.

BAB II

KOMPONEN DANA ALOKASI KHUSUS Pasal 5

Komponen DAK meliputi:

a . p r a s a r a n a d a n s a r a n a a i r m i n u m , b e r u p a penyediaan jaringan air minum;

b. sarana air limbah komunal, berupa sistem p e n g o l a h a n a i r l i m b a h t e r p u s a t s k a l a permukiman;

c. tempat pengolahan sampah terpadu;

d. jaringan distribusi listrik, berupa trafo, tiang, dan kabel distribusi listrik dari sumber Perusahaan Listrik Negara atau sumber alternatif; dan e. penerangan jalan umum, berupa trafo, tiang,

lampu, dan kabel listrik dari sumber PLN atau sumber alternatif.

Pasal 6

Komponen DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal5 untuk mendukung pembangunan rumah umum dan rumah khusus berupa rumah tapak dan rumah susun.

Rumah umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi MBR.

Rumah khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan khusus.

5.

6.

7.

8 .

9.

1 0 . 1 1 . 12.

( 1 )

(2)

(3)

U2

(3)

(4) Rumah tapak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan unit bangunan tidak bertingkat atau bertingkat, yang sebagian atau seluruhnya berada pada bidang permukaan tanah atau air dengan fungsi sebagai tempat tinggal atau hunian layak hunidan dimilikioleh orang perorangan.

(5) Rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bangunan gedung bertingkatyang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapidengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.

(6) Rumah khusus berupa rumah tapak dan rumah susun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas, tanah yang merupakan Barang Milik Negara dan/atau Barang Milik Daerah.

Pasal 7

Komponen DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 yang telah selesai pembangunan diberikan logo DAK sesuai tahun anggaran berjalan.

BAB III PERENCANAAN

Pasal 8

(1) Kementerian melalui Deputi melakukan proses perencanaan kegiatan yang dibiayai DAK dalam

h a l :

a. merumuskan kriteria teknis pemanfaatan DAK;

b. melakukan pengumpulan data teknis DAK;

c. memberikan rekomendasi alokasi DAK untu k setiap kabupaten/kota;

d. melakukan pembinaan teknis pada proses penyusunan Rencana Kegiatan dalam bentuk pendampingan dan konsuftasi; dan e. melakukan evaluasi dan sinkronisasi atas usulan Rencana Kegiatan (RK) dan per- ubahannya.

(2) Alokasi DAK ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.

(3) Bupati/walikota penerima DAK membuat Rencana Kegiatan secara partisipatif ber-

dasarkan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

(4) Penyusunan Rencana Kegiatan harus mem- p e r h a t i k a n t a h a p a n p e n y u s u n a n p r o g r a m , p e n y a r i n g a n , p e n y u s u n a n p e m b i a y a a n , pemilihan dan penetapan lokasi, dan jenis kegiatan serta metoda pelaksanaan yang b e r p e d o m a n p a d a p e r a t u r a n p e r u n d a n g - undangan.

( 5 ) R e n c a n a Kegiatan dan perubahannya disampaikan ke Kementerian melalui Deputi untuk dilakukan evaluasi.

BAB IV

KRITERIA LOKASI DAN KRITERIA TEKNIS Pasal I

(1) Pelaksanaan DAK harus memenuhi kriteria lokasi dan kriteria teknis.

(2) Kriteria lokasisebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada perumahan baru atau pengembangan perumahan yang telah ada.

(3) Kriteria teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kriteria yang yang wajib dipenuhi untuk komponen DAK.

Pasal 10 Kriteria lokasi meliputi:

a. lokasi telah disetujui dengan diterbitkan izin lokasi oleh bupati/wal ikota ;

b. lokasisesuaidengan Rencana Tata Ruang Wilayah kabupaten/kota;

c. lokasi telah memiliki rencana tapak (site plan) yang disahkan oleh dinas teknis terkait;

d . p a d a l o k a s i p e r u m a h a n b a r u , a t a u pengembangan perumahan yang telah ada;

dan

e. tanah untuk pembangunan komponen DAK harus jelas lokasi, luasan, maupun batasan fisik tanah, dan tidak dalam sengketa.

Selain memenuhi persyaratan lokasi sebagai- mana dimaksud pada ayat (1) untuk pem- bangunan perumahan baru harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. tersedianya sumberdan pasokan air baku untuk air minum sampai ke lokasi; dan ( 1 )

(2)

Warta Perundang-U ndangan/8 J uli 201 4

w

(4)

b. tersedianya sumberdan pasokan jaringan distribusi listrik sampai ke lokasi.

Pasal 11

(1) Kriteria teknis prasarana dan sarana air minum meliputi:

a. tersedia sumber air baku atau air minum;

b. tersediatanahuntukpembangunanjaringan air minum; dan

c . d i l a k u k a n s e c a r a t e r p a d u d e n g a n pelaksanaan pembangunan perumahan.

(2) Kriteria teknis sarana air limbah komunat meliputi:

a. tersedia tanah untuk pembangunan pra- sarana air limbah' :

b. dapat dibangun pada lokasi ruang terbuka;

dan

c . d i l a k u k a n s e c a r a t e r p a d u d e n g a n pelaksanaan pembangu nan perumahan.

(3) Kriteria teknis tempat pengolahan sampah terpadu meliputi:

a. tersedia tanah untuk pembangunan sarana pengolahan sampah terpadu; dan

b. pembangunan harus mempertimbangkan kriteria perencanaan;

c . d i l a k u k a n secara terpadu dengan pelaksanaan pembangunan perumahan.

(4) Kriteria teknis jaringan distribusi fistrik meliputi:

a. tersediasumberliskikdanjaringan distribusi listrik sampai ke lokasi pembangunan perumahan;

b. daya listrik terpasang; dan

c . d i l a k u k a n s e c a r a t e r p a d u d e n g a n pelaksanaan pembangunan perumahan.

(5) Kriteria teknis penerangan jalan umum meliputi:

a. tersedia sumber listrik atau sumberalternatif lain; dan

b . d i l a k u k a n s e c a r a t e r p a d u d e n g a n pelaksanaan pembangunan perumahan.

BAB V PEIAKSANAAN

Pasal 12

(1) Kegiatan DAK dilaksanakan oleh SKPD di kabupaten/kota.

(21 SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ' merupakan SKPD yang menangani urusan

perumahan dan kawasan permukiman.

(3) SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertugas melaksanakan kegiatan yang dananya b e r s u m b e r d a r i D A K s e b a g a i m a n a t e l a h d itetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan.

(4) Kepala SKPD bertanggung jawab secara teknis dan keuangan terhadap pelaksanaan kegiatan yang didanai DAK kepada bupati/walikota.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penunjukan SKPD yang menangani urusan perumahan dan kawasan permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan BupatiMalikota.

Pasal 13

(1) DAK digunakan untuk mendanai pembangunan fisik seluruh atau sebagian komponen DAK.

(2) Pendanaan pembangunan fisik sebagaimana d i m a k s u d p a d a a y a t ( 1 ) , t e r m a s u k d a n a pendamping yang dialokasikan dari Anggaran P e n d a p a t a n B e l a n j a D a e r a h p e m e r i n t a h kabupaten/kota.

(3) Dana pendamping sebagaimana disebutkan pada ayat(Z)merupakan dana yang disediakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota untuk pelaksanaan penerimaan hibah.

(4) Dalam hal dana pendamping berupa uang maka b e s a r a n d a n a s e s u a i dengan ketentuan Kementerian Keuangan.

(5) Ketentuan mengenai pelaksanaan DAK serta persyaratan teknis komponen DAK sebagaimana tercantu m dalam lampiran Peratu ran Menteri ini.

BAB VI PEMBINAAN

Pasal 14

(1) Kementerian melakukan pembinaan DAK;

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

Warta Perundang-U ndangan/8 Juli 201 4

w

(5)

(3)

(4)

(5)

(6)

a. melakukan sosialisasi DAK;

b . m e l a k u k a n k o o r d i n a s i d a n f a s i l i t a s i pelaksanaan DAK;

c . m e l a k u k a n p e m a n t a u a n , e v a l u a s i d a n penilaian kinerja;dan

d. memberikan masukan dan saran terhadap permasalahan dan kendala pelaksanaan DAK.

Pembinaan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Tim Koordinasi sebagai organisasipelaksana DAK yang terdiri dari:

a. tingkatKementerian;

b. tingkat provinsi; dan c. tingkatkabupaten/kota.

Ketentuan lebih lanjut mengenai Tim Koordinasi t i n g k a t K e m e n t e r i a n s e b a g a i m a n a y a n g dimaksud pada ayat (3) huruf a ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

Ketentuan lebih lanjut mengenai Tim Koordinasi tingkat provinsi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) huruf b ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.

Ketentuan lebih lanjut mengenai Tim Koordinasi tingkat kabupaten/kota sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) huruf c ditetapkan dengan Keputusan BupatiAffalikota.

BAB VII PENGAWASAN

Pasal 15

(1) Pengawasan pelaksanaan DAK dilakukan terhadap kemajuan realisasi pembangunan fi sik komponen DAK, kemajuan realisasi keuangan, dan kemajuan realisasi pembangunan rumah.

(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh bupati/walikota dan inspektorat atau badan pengawas daerah kabupaten/kota terhadap SKPD yang ditunjuk untuk menangani urusan perumahan dan kawasan permukiman.

BAB VIII

PEMANTAUAN, EVALUASI, DAN PET.APORAN Pasal 16

Tim Koordinasi ti ngkat Kementerian, ting kat provinsi, dan tingkat kabupaten/kota melaku kan pemantauan dan evaluasi sesuai dengan kewenangannya.

Warta Perundang-lJndangan/B Juli 2014 ,:

Pasal17

( 1 ) Pemantauan p e l a k s a n a a n D A K d i l a k u k a n terhadap:

a. aspek teknis; dan b. aspekkeuangan.

( 2 ) Pemantauan a s p e k te k n i s sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:

a. kesesuaian komponen DAKdengan usutan kegiatan dalam Rencana Kegiatan;

b. kesesuaian pemanfaatan DAK dalam Rencana Kegiatan dengan petunjuk teknis pelaksanaan penggunaan DAK; dan c. realisasi waktu pelaksanaan, lokasi, dan

sasaran pelaksanaan dengan perencanaan.

(3) Pemantauan aspek keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b metiputi:

a. realisasi terbangunnya komponen DAK sebagaimana dimaksud dalam pasal S ayat (1), sesuai dengan jumlah pagu anggaran dan dana pendamping yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Keuangan ;

b . r e a l i s a s i k e u a n g a n s e s u a i d e n g a n kemajuan pembangunan fisik komponen DAK.

Pasaf 18

(1) Evaluasi dilakukan terhadap pemanfaatan DAK di kabupaten/kota.

(2) Evaluasi pemanfaatan DAK meliputi:

a. pencapaian sasaran DAK berdasarkan masukan, proses, keluaran, dan hasil;

b. pencapaianmanfaatdaripelaksanaanDAK;

dan

c. dampak dari pelaksanaan DAK.

Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan untuk menilai kinerja pelaksanaan DAK di kabupaten/kota.

Pasal 19

Pelaporan pelaksanaan DAK, meliputi:

a. laporan triwulan; dan b. laporan akhir.

Kepala SKPD kabupaten/kota menyusun dan menyampaikan laporan triwulan dan laporan akhir pelaksanaan DAK kepada bupati/walikota melalui sekretaris daerah, paling lama S (lima) (3)

( 1 )

(2)

w

(6)

(3)

hari kerja setelah berakhirnya pelaksanaan triwulan dan berakhirnya tahun anggaran.

Bupati/wal ikota menyam paikan laporan triwu lan pelaksanaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeridan Menteri melalui Deputi paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah berakhirnya pelaksanaan triwulan dengan tembusan kepada gubernur.

Bupati/walikota menyampaikan laporan akhir pelaksanaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeridan Menteri melalul Deputi paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah berakhirnya tahun anggaran dengan tembusan kepada gubernur.

BAB IX PENILAnN KINERJA

Pasal 20

Penggunaan DAK yang akan dinilai, meliputi:

a. kesesuaian Rencana Kegiatan (RK)dengan arahan pemanfaatan dan lingkup kegiatan DAK;

b. kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan Rencana Kegiatan (RK);

c . p e n c a p a i a n s a s a r a n k e g i a t a n y a n g dilaksanakan;

d. dampakdan manfaatpelaksanaan kegiatan;

dan

e. kepatuhan dan ketertiban pelaporan.

Penggunaan DAK yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berakibat pada penilaian kinerja yang negatif, akan disampaikan dalam laporan Menteri kepada Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, dan Menteri Dalam Negeri.

Hasil penilaian kinerja menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan DAK oleh Menteri melalui Deputi.

K i n e r j a p e n g g u n a a n D A K a k a n d i j a d i k a n pertimbangan dalam usulan pengalokasian DAK oleh Menteri pada tahun anggaran berikutnya.

P e n y i m p a n g a n d a l a m p e n g g u n a a n D A K , dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan

perundang-undangan dan menjadi tanggung .' jawab SKPD dikabupaten/kota.

' BAB X

KETENTUAN PENUTUP Pasal 21

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Per- aturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor40 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Perumahan Dan Kawasan Permukiman Tahun Anggaran 201 3 d icabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal22

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan p e n e m p a t a n n y a d a l a m B e r i t a N e g a r a R e p u b l i k lndonesia

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 29 Januari 2A14 MENTERI PERU MAHAN RAI(YAf,

REPUBLIK INDONESIA, ttd.

DJAN FARIDZ

Diundangkan di Jakarta pada tanggal 11 Februari 2014 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA, ttd.

AMIR SYAMSUDIN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 204

*) Lampiran tidak diterbitkan (4)

( 1 )

(2)

(3)

(4)

(5)

Warta Peru nd ang- U nd ang an/8 J u I i 20 1 4

w

Referensi

Dokumen terkait

Persentase jumlah calon anggota legislatif dan jumlah anggota legislatif di Kab. Takalar tahun 2019 dari calon anggota legislatif secara keseluruhan yaitu berjumlah 450 orang

(1) Dalam hal terdapat selisih kurang antara jumlah dana penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Umum Bidang Angkutan Laut Untuk Penumpang Kelas Ekonomi yang telah

bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 7 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penugasan Kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Untuk

Taman nasional dan kawasan konservasi lainnya yang potensi keanekaragaman hayatinya tinggi, terdapat spesies langka dan flagship, atau mempunyai fungsi pelindung hulu sungai,

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non Exclusive Royalty – Free Rights) atas

Sejarah adalah ilmu yang meneliti gambaran dengan penglihatan yang singkat untuk merumuskan fenomena kehidupan, yang berhubungan dengan perubahan-perubahan yang

Begitu pula dengan Pilkada, bahwa yang diberikan tugas untuk menyelengarakan pilkada adalah KPU yang dilaksanakan oleh KPUD di tingkat/wilayah Provinsi dan

Di tahun ini bertaburan dengan berbagai film animasi diantaranya Legenda Buriswara, Nariswandi Piliang,Satria Nusantara yang kala itu masih menggunakan kamera film seluloid