• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengunyah Buah Pir Jenis Ya Lie Dapat Menaikkan ph Saliva. Chewing Ya Lie Pear Can Increase Saliva ph

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Mengunyah Buah Pir Jenis Ya Lie Dapat Menaikkan ph Saliva. Chewing Ya Lie Pear Can Increase Saliva ph"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

38

Erica Meiliana, Naning Nur Handayatun*

Jurusan Keperawatan Gigi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi, Jl. HA Salim No 09, Kota Baru, Jambi, Indonesia

Email: [email protected]

Abstrak: Saliva adalah cairan kental yang diproduksi oleh kelenjar ludah. Salah satu fungsi saliva adalah pembersih mekanis yang dapat mengurangi akumulasi plak.

Mengkonsumsi buah dapat merangsang kecepatan sekresi saliva. Tujuan penelitian untuk mengetahui peningkatan pH saliva sebelum dan setelah mengunyah buah pir jenis Ya Lie. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan rancangan pre and post-test control group design dengan jumlah sampel sebanyak 10 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Cara pengambilan data dengan mengukur pH saliva responden menggunakan pH meter sebelum (pretes) dan setelah 10 menit (postes 1) dan 15 menit (pos tes 2) mengunyah buah pir.

Berdasarkan hasil penelitian didapat perbedaan nilai pH sebelum dan setelah 10 menit dan 15 menit mengunyah buah pir dengan nilai p-value 0,008. Rata-rata pH saliva meningkat dari 7,43 sebelum sebelum mengunyah buah pir dan menjadi 8,25 setelah 10 menit mengunyah buah pir. Kesimpulannya adalah terjadi peningkatan pH Saliva yang signifikan setelah pengunyahan buar pir jenis Ya lie.

Kata Kunci: pH saliva; buah pir

Abstract: Saliva is a thick liquid produced by salivary glands. The lubricative function of saliva helps mechanical cleansing and decrease dental plaque accumulation. Fruit consumption can stimulate saliva secretion and increases salivary flow rate. The aim of this study was to investigate the comparison of salivary pH pre and post Ya Lie pear chewing in children of 10-12 years old in SDN 67/IV Legok Jambi. The advantage of this study is to improve the utilization of pear for oral health. This is a quasi experiment with pre and post-test control group design. 10 subjects were recruited by purposive sampling method. Salivary pH was measured using pH-meter before chewing pear and 10 minutes and 15 minutes after chewing pear. The present study showed significance difference of salivary pH pre and post pear chewing (p=0,008). Mean salivary pH were increased from 7,43 to 8,25 at 10 minutes after chewing. Future research is needed with a bigger number of subjects.

This study showed that pear has good benefit especially for preventing caries in children age 10-12 years old.

Keywords: salivary pH, pear

PENDAHULUAN

Salah satu permasalahan gigi dan mulut yang sering terjadi pada masyarakat adalah karies. Karies adalah suatu penyakit yang mengakibatkan

demineralisasi, kavitasi dan hancurnya jaringan keras gigi oleh aktivitas mikroba yang mengubah glukosa sisa makanan menjadi asam yang dapat merusak jaringan gigi.1

(2)

Paparan asam dari makanan atau minuman dalam waktu lama di dalam mulut dapat menyebabkan perubahan pH saliva sehingga terjadi demineralisasi karena permukaan gigi menjadi asam. pH saliva yang rendah (asam) dari jumlah saliva yang kurang akan menyebabkan resiko terjadinya karies. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya karies gigi yaitu dengan menjaga derajat keasaman (pH) saliva.2

Mengkonsumsi jenis makanan tertentu dapat mempengaruhi pH saliva.

Mengunyah makanan yang banyak mengandung serat seperti buah dan sayuran dapat mempengaruhi pH saliva.

Mengkonsumsi buah, seperti pir dapat untuk kesehatan rongga mulut terutama buah yang mengandung banyak serat dapat menghilangkan plak gigi sehingga tidak berkembang menjadi karies. 3

Menurut Worl Health Organization (WHO) tahun 2012, bahwa 90% anak- anak sekolah di seluruh dunia pernah menderita karies gigi. Prevalensi karies gigi yang tertinggi terdapat di Asia dan Amerika Latin. Data terbaru yang dirilis oleh Oral Health Media Centre pada April 2012, memperlihatkan sebanyak 60-90% anak usia sekolah dan hampir

semua orang dewasa di seluruh dunia memiliki permasalahan gigi.4

Karies menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius pada anak usia sekolah terutama Sekolah Dasar (SD).

Prevalensi akan terus meningkat seiring bertambahnya umur. Anak usia 6 tahun telah mengalami karies pada gigi tetapnya sebanyak 20%, meningkat 60% pada usia 8 tahun, 85% pada 10 tahun dan 90% pada usia 12 tahun.5 Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi mencapai 63,7% pada anak berusia 10-14 tahun.6

Konsumsi sayur dan buah diperlukan tubuh sebagai sumber vitamin, mineral dan serat dalam mencapai pola makan sehat sesuai anjuran pedoman gizi seimbang untuk kesehatan yang optimal. Sebagian vitamin dan mineralyang terdapat dalam sayur dan buah mempunyai fungsi sebagai antioksidan sehingga dapat mengurangi kejadian penyakit tidak menular terkait gizi, sebagai dampak dari kelebihan atau kekurangan gigi.7

Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa secara nasional perilaku penduduk umur >10 tahun yang kurang mengkonsumsi sayur dan buah masih

(3)

95,4%.8 Konsumsi sayur dan buah yang belum memadai berpengaruh terhadap suplai vitamin, mineral serta serat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini sangat disayangkan mengingat bahwa memperbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan yang berserat dan berair dapat membantu membersihkan rongga mulut dan merangsang sekresi saliva yang berguna untuk melindungi gigi.

Salah satu buah yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia ialah buah pir.

Berdasarkan penelitian tentang perubahan pH saliva setelah mengkonsumsi buah apel rome beauty dan manalagi2 didapati kesimpulan bahwa buah tersebut berpengaruh terhadap perubahan pH saliva. Buah pir hampir sama seperti buah apel hanya saja kandungan air dalam buah pir lebih banyak, oleh sebab itu, buah pir lebih disenangi karena dapat menghilangkan rasa dahaga. Buah pir merupakan buah yang termasuk pembersih alami rongga mulut atau self cleansing.3

Pir adalah salah satu buah yang memiliki kandungan senyawa katekin.

Sifat antibakteri pada katekin disebabkan oleh adanya gugus pyrigallol dan gugus galloil. Katekin ini mampu menghambat pembentukan plak

gigi dengan cara menghambat perlekatan bakteri Streptococcus mutans pada permukaan gigi serta mampu mendenaturasi protein sel bakteri sehingga bakteri tersebut mati .9

Keasaman saliva dapat diukur dengan satuan pH (potential of Hydrogen). Skala pH berkisar 0-14, dengan perbandingan terbalik, dimana semakin rendah nilai pH maka semakin banyak asam dalam larutan, sebaliknya, meningkatnya nilai pH berarti bertambahnya basa dalam larutan. Pada pH 7, tidak ada keasaman atau kebasaan larutan, dan disebut netral. Air ludah secara normal sedikit asam pH-nya 6,5 dapat berubah sedikit dengan perubahan kecepatan aliran dan perbedaan waktu dalam sehari, titik kritis untuk kerusakan gigi adalah 5,5 dan ini terlampaui sekitar 2 menit setelah gula masuk dalam plak .10

Menurut Amerongen derajat asam saliva dipengaruhi oleh perubahan seperti:1) Irama siang dan malam (perputaran waktu siang dan malam yang selalu berulang setiap sekitar 24 jam 2) Diet kaya karbohidrat akan menaikkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri mulut dan menurunkan kapasitas buffer, sedangkan diet kaya protein

(4)

mempunyai efek menaikkan karena protein sebagai sumber makanan bakteri 3) Perangsang kecepatan sekresi saliva, misalnya mengunyah permen karet dan menaikkan kapasitas buffer 4) Derajat asam yang konstan di dalam saliva, selama makan dan minum sangat penting bagi perlindungan gigi geligi terhadap pengaruh asam.11

Buah pir dengan jenis Ya Lie yang paling umum dijumpai dan banyak dijual pada umumnya di berbagai tempat seperti di swalayan, supermarket, maupun pasar yang menjual buah-buahan di Kota Jambi.

Buah jenis ini memiliki bentuk membesar di bagian bawah dan langsing di bagian pangkal buah dengan warna kekuning-kuningan. Harga buah pir cukup terjangkau, dengan kisaran harga sebesar Rp.11.000 - 40.000/kg.

Tentu saja selain harga yang terjangkau, tekstur buah pir yang mengandung banyak air ini cenderung disukai oleh banyak orang selain karena rasanya yang manis juga dapat melepas dahaga.

Survey yang telah dilakukan sebelumnya ialah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut pada murid SDN 67/IV Kecamatan Telanaipura Kota Jambi pada bulan Februari tahun 2018 dengan kesimpulan

bahwa sebesar 96% murid SDN 67/IV Kelurahan Legok memiliki karies.

Murid SDN 67/IV tersebut memiliki karies dikarenakan selain waktu dan menyikat gigi yang kurang tepat, juga kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung serat.

METODE PENELITIAN

Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan pH sebelum dan setelah mengunyah buah pir Ya Lie.

Jenis penelitian adalah eksperimental semu dengan pre and pre and post test control group desain. Sampel penelitian adalah 10 responden murid SDN 67/IV Kelurahan Legok Kota Jambi yang berumur 10-12 tahun, sebagai kelompok kontrol sekaligus kelompok perlakuan. Kriteria inklusi subyek penelitian adalah anak yang kooperativ dan bebas karies serta bersedia menjadi responden penelitian dan diizinkan oleh orang tuannya.

pH saliva diukur menggunakan pH meter. Kelompok kontrol dan perlakuan pada responden yang sama hanya dilakukan pada hari yang berbeda. Cara mengukur pH saliva dengan cara mencelupkan elektroda kedalam larutan yang akan diukur. Hasil pengukuran akan terlihat berupa angka. Skor 0-6 bersifat asam, 7= bersifat netral, 8-14 = bersifat basa.

(5)

Pada hari pertama, responden menyikat gigi tanpa menggunakan pasta gigi sampai skor plak 0. Setelah menyikat gigi, responden kemudian meludah ke dalam pot saliva untuk diperiksa pH salivanya. Pada kelompok perlakuan responden mengunyah buah pir dan setelah 10 menit responden meludah ke dalam pot saliva yang kemudian diperiksa pH salivanya. Lima belas menit kemudian, responden meludah ke dalam pot saliva yang kemudian diperiksa kembali pH salivanya. Pada hari kedua, responden melakukan hal sama pada hari pertama tanpa mengunyah buah pir.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian pada pemeriksaan pH saliva pada sebelum (pre tes) dan setelah 10 menit (postes 1) dan 15 menit (postes 2) pada kelompok kontrol dan perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Distribusi Hasil Rata-rata pH Saliva Responden Sebelum dan Setelah Mengunyah Buah Pir Jenis Ya Lie Pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan

Rata –rata pH saliva Sebelum

(pretes)

10’

(postes 1)

15’

(postes 2)

Perlakuan 7,43 8,25 8,24

Kontrol 7,52 7,01 7,72

Pada pemeriksaan awal, pH saliva responden ternyata dalam kondisi basa dikarenakan semua responden bebas karies. Namun pH berbeda dengan penelitian12 dimana responden yang bebas karies rata rata mempunyai pH 6,68 ± 0,36. Hal ini kemungkinan disebabkan pasta gigi yang dipakai oleh responden di rumah dan sebelum makan bolu dapat menyebabkan pH saliva meningkat, dimana pasta gigi yang mengandung sorbitol dan xylitol mempunyai sifat menstimulasi aliran saliva sehingga meningkatkan laju saliva dimana saliva mengandung bikarbonat yang dapat meningkatkan kapasitas buffer.

13Namun karena ke dua kelompok menggunakan pasta gigi yang sama hal ini tidak mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu, rata-rata masyarakat di Kelurahan Legok dimana respoden tinggal mengkonsumsi ikan yang didapat dari danau sekitar tempat tinggal mereka serta sayur kontrol karena memang banyak ditemukan tanaman sayur kontrol di sepanjang parit sekitar rumah warga. Hal tersebut kemungkinan akan mempengaruhi pH saliva responden dikarenakan responden setiap hari mengkonsumsi

(6)

makanan yang mengandung protein dan juga selalu mengkonsumsi sayuran

Berdasarkan 43 ontr 1, diketahui bahwa pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol memiliki rata-rata pH yang berbeda pada 10 menit setelah mengunyah buah pir, dimana pada kelompok perlakuan nilai pH meningkat dari 7,43 menjadi 8,25 dan kontro stabil menjadi 8,24 pada 15 menit setelahnya. Pada kelompok kontrol yang tidak mengunyah buah pir setelah 10 menit turun dari 7,52 menjadi 7,01 dan kembali naik menjadi 7,72 pada 15 menit kemudian. Untuk lebih jelasnya terlihat di gambar 1.

Kenaikan pH pada kelompok perlakuan pH saliva akan meningkat karena terjadi proses mekanis dalam mulut yang dapat merangsang sekresi saliva.

Gambar 1. Perbedaan pH Saliva Sebelum dan Setelah Mengunyah Buah Pir Jenis Ya Lie Pada Kelompok Perlakuan dan Kontrol

Rata-rata pH saliva pada kelompok kontrol sebesar 7,52 turun sebesar 0,51

menjadi 7,01 dikarenakan tidak adanya aktivitas di dalam rongga mulut sehingga menyebabkan pH menurun, namun setelahnya pada 15 menit kemudian meningkat sebesar 0,71 menjadi 7,72 hal ini disebabkan karena adanya perubahan kecepatan aliran saliva seiring berjalannya waktu sehingga pada 15 menit setelahnya jumlah saliva meningkat dan berakibat pada naiknya pH saliva tersebut.10

Tabel 1 menunjukkan nilai perbedaan pH saliva antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan rentang nilai yang tidak jauh berbeda dan memiliki hasil yang sama- sama signifikan. Kelompok perlakuan memiliki nilai pH pada sebelum mengunyah buah pir sebesar 7,43 dalam kategori netral sedangkan pada menit ke 10 dan 15 pH saliva meningkat menjadi 8,25 dan turun sedikit menjadi 8,24 namun kategorinya menjadi basa, hal ini dikarenakan kelompok perlakuan mengunyah buah pir yang merupakan buah dengan kadar air tinggi, selain membantu membersihkan gigi dan mulut yang dikenal dengan self cleansing juga dapat merangsang sekresi saliva yang berpengaruh terhadap pH saliva.14

(7)

Uji Friedman dilakukan untuk melihat perbedaan antara tiga variabel pengukuran pada masing masing kelompok kontrol dan perlakuan.

Tabel 2. Hasil Uji Friedman pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan Nilai Ph

Perlakuan Kontrol

Sebelum Setelah 10’ Setelah 15’ Sebelum Setelah 10’ Setelah 15’

Mean Rank 1,20 2,40 2,40 2,20 1,00 2,80

p-value 0,008 0,000

Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa pada kelompok perlakuan memiliki nilai p value sebesar 0,008 <

0,05 sedangkan pada kelompok kontrol memiliki nilai p value sebesar 0,000 <

0,05 sehingga dua kelompok tersebut terdapat perbedaan yang bermakna antara sebelum dan setelah mengunyah buah pir jenis Ya Lie. Uji Wilcoxon Sign Rank Test digunakan untuk melihat variable mana yang berbeda.

Tabel 3. Hasil Uji Perbedaan pH Saliva antara Sebelum dan Setelah 10 Menit, Sebelum dan Setelah 15 Menit dan Antara 10 Menit dan 15 Menit Mengunyah Buah Pir Jenis Ya Lie

Hasil uji Wilcoxon Sign Test Waktu (Perlakuan) (Kontrol)

p value p value

Sebelum dan 10' 0,008 0,005 Sebelum dan 15' 0,007 0,041 Antara 10' dan15' 0,569 0,005

Berdasarkan tabel 3 pada kelompok perlakuan diketahui bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara sebelum dan setelah 10 menit, sebelum

dan 15 menit, sedangkan antara 10 dan 15 menit tidak terdapat perbedaan setelah mengunyah buah pir jenis Ya Lie. Jika dilihat kembali pada gambar 1 terlihat jelas bahwa setelah mengunyah buah pir terjadi kenaikan pH yang signifikan dan stabil sampai menit ke 15. Apabila dilihat pada kelompok kontrol terjadi penurunan pH yang signifikan setelah 10 menit dan pH baru akan naik lagi setelah 15 menit.

Derajat keasaman (pH) saliva yang normal berkisar antara 6,7-7,3. Derajat keasaman dan kapasitas penyangga saliva dapat dipengaruhi oleh irama siang dan malam, diet, dan perangsangan kecepatan sekresi.

Pengaruh irama siang dan malam menunjukkan bahwa pH saliva akan tinggi setelah bangun pagi, tetapi kemudian menurun dengan cepat, pada saat 15 menit setelah makan, derajat asam saliva akan meninggi karena adanya rangsangan mekanis, namun setelah 30-60 menit menjadi rendah.

(8)

Diet yang mempengaruhi kapasitas buffer saliva adalah kaya karbohidrat,

karena mampu menurunkan kapasitas buffer saliva, sedangkan diet kaya serat

dan diet kaya protein mempunyai efek meningkatkan buffer saliva. Diet kaya karbohidrat meningkatkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri mulut, sedangkan protein sebagai sumber makanan bakteri, meningkatkan sekresi zat-zat basa seperti ammonia.

Jika sekresi dirangsang, maka dapat meningkatkan system buffer sehingga pH saliva pun meningkat.11

Hal ini disebabkan adanya aktivitas pengunyahan buah pir yang memiliki kandungan air dan juga pada proses pengunyahan tersebut telah merangsang kecepatan sekresi saliva sehingga produksi saliva meningkat dan menyebabkan pH saliva meningkat pada 10 menit setelah mengunyah buah pir.11Kemudian pH turun sebesar 0,01 menjadi 8,24 setelah 15 menit berikutnya. Hasil ini menjadikan alasan mengunyah buah pir cukup baik dalam meningkatkan pH saliva bagi anak yang memiliki karies untuk mencegah munculnya karies baru.

KESIMPULAN

Pengunyahan buah pir Ya Lie dapat menaikkan pH saliva sehingga setelah

10 menit tidak melakukan aktivitas pengunyahan tidak terjadi penurunan pH saliva.

SARAN

Penelitian ini bermanfaat untuk mulut yang kondisinya asam atau atau yang banyak karies, sehingga dengan mengunyah buah pir dapat menaikkan pH. Perlu penelitian lebih lanjut tentang buah pir untuk menjaga kesehatan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendanai penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. FJ Harty RO. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC; 1995.

2. Endah K. Perubahan pH Saliva Setelah Mengunyah Apel Rome Beauty dan Manalagi. J Wiyata.

2015;2(1).

3. Kasma E.H. Perbandingan Efektivitas Mengunyah Buah Pir dan Bengkoang Terhadap Penurunan Indeks Plak Pada Siswa SDN Gambut 9 Kabupaten Banjar.

Dentino(JurKedGigi).

2014;2(1):24–8.

4. Silaban, S. Gunawan,Paulina N.

Wicaksono D. Prevalensi Karies Gigi Geraham Pertama Permanen

(9)

Pada Anak Umur 8-10 Tahun di SD Kelurahan Kawangkoan Bawah, , hlm.2. J e-GiGi. 2013;2.

5. Oktavilia D, Probosari N S.

Perbedaan OHI-S DMF-T dan def-t Pada Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Letak Geografis di Kabupaten Situbondo. e J Pustaka Kesehat. 2014;2(1).

6. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Laporan Nasional. 2018.

7. Kementerian Kesehatan RI.

Pedoman Gizi Seimbang,. Jakarta;

2014.

8. Kementerian Kesehatan RI.

Laporan Riskesdas 2018. Laporan Riskesdas Nasional 2018. Jakarta;

2018.

9. Sendi, Marsela. Niken, Probosari.

Dyah S. Pengaruh Mengonsumsi Buah Nanas (Ananas comosus I .merr) dan Buah Pir (Pyrus bretschneideri) terhadap Jumlah Koloni Streptococcus sp. Dalam Saliva Anak Usia 10-12 Tahun, (no.1), J Kedokt Gigi Stomatognatic. 2015;12(1).

10. Bestford. Mengeai Gigi Anda Petunjuk Bagi Orangtua. Jakarta:

Arcan; 1995.

11. Amerongen A. Ludah dan Kelenjar Ludah Arti bagi Kesehatan Gigi.

Yogyakarta: Gajah Mada University Press; 1992.

12. Nisak R. Perbedaan Volume , Ph Dan Kadar Kalsium Saliva Karies Dan Bebas Karies Oleh : Universitas Sumatera Utara. 2015;

13. Sari NYG. Permen Karet Xylitol Yang Dikunyah 5 Menit Meningkatkan Dan Memperta- hankan pH Saliva Perokok Selama 3 Jam. Denpasar; 2011.

14. Wiworo HD. Buah Mentimun Dan Tomat Meningkatkan Derajat Keasaman (pH) Saliva Dalam Rongga Mulut. J Ris Kesehat.

2016;5(1).

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Ketika manusia mencoba untuk untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika mereka berusaha meraih kesejahteraan pribadi melalui sumber daya yang ada, atau

Tidak boleh diklasifikasikan sebagai kerusakan serius terhadap mata atau bahan iritasi

Sehingga dalam hal ini manajemen perlu menetapkan pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan aset tersebut baik yang merupakan pengeluaran modal (capital

Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kepuasan terhadap layanan internet banking Mandiri yang tergolong cukup tinggi, yang diindikasikan dengan

Puji syukur kepada Allah Subch ᾱ nahu Wa T a’ᾱ la yang telah memberikan rahmat, nikmat, hidayah, dan barakah-Nya yang tak terhingga, serta shalawat dan salam penulis haturkan

Kemampuan representasi simbolik siswa kelas XII IPA SMA Negeri di kabupaten Sambas pada soal nomor 1c dalam menuliskan persamaan reaksi hidrolisis garam dari senyawa

Jadi pada tingkatan karakteristik lingkungan belajar Active telah menunjukkan bahwa siswa di kelas menggunakan aplikasi Microsoft word dalam membuat makalah atau laporan