• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KERANGKA TEORI"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

KERANGKA TEORI

A. Teori Relevan

1. Komunikasi Massa

Berdasarkan asal kata, komunikasi atau communication berasal dari kata Latin yaitu communis yang berarti “sama”, communico, communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (Mulyana, 2008:46). Dari asal kata tersebut, komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu amakna, atau suatu pesan dianut secara sama. Harold Lasswell menggambarkan komunikasi sebagai “Who says what in which channel to whom with what effect” yang dalam bahasa Indonesia diartikan siap amengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?. Dari definisi ini, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi sendiri terdiri dari 5 unsur yaitu :

a. Sumber (Source), pihak yang memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi.

Sumber yang juga sering disebut dengan istilah pengirim (sender), penyandi (enocoder), dan komunikator (comunicator) ini bisa jadi seorang individu, kelompok, perusahaan, bahkan jadi suatu negara.

b. Pesan yaitu apa yang disampaikan atau dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima.

(2)

c. Saluran atau media, alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesan kepada penerimanya.

d. Penerima (receiver), orang yang menerima pesan dari sumber.

e. Efek, apa yang terjadi kepada penerima setelah menerima pesan, misalnya bertambahnya pemahaman, adanya perubahan sikap, dan terhibur (Mulyana, 2008:69-71).

Secara luas, komunikasi dapat diartikan sebagai . Komunikasi sendiri terdiri dari beberapa jenis, yaitu : komunikasi massa, komunikasi organsisasi, komunikasi publik, komunikasi kelompok kecil, komunikasi antarpribadi, dan komunikasi intrapribadi.

Komunikasi massa adalah proses penciptaan makna bersama antara media dan khalayaknya. Pada dasarnya, komunikasi massa adalah komunikasi yang dilakukan melalui media mssa, baik media cetak maupun media elektronik.

Media massa sendiri merupakan alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan serempak dan cepat kepada audiens yang sifatnya heterogen dan luas.

Pengertian lain dari komunikasi massa datang dari Jay Black dan Frederick C. Whitney, mereka menyebutkan “ Mass communicaction is a process whereby mass-produced message are transmitted to large, anonymous, and heterogeneous masses of receiver”. Dalam bahasa Indonesia diartikan : Komunikasi massa adalah proses dimana pesan yang diproduksi secara massal disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen.

(3)

Kata anonim berarti bahwa audience atau penerima pesan cenderung asing satu sama lain atau tidak saling mengenal. Pengertian heterogem disini merujuk pada latar belakang audiens yang beragam mulai dari status, pekerjaan, ataupun jabatan dan dengan karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Komunikasi massa memiliki ciri-ciri sebagai berikut film (Nurudin, 2003:14):

a. Komunikator dalam komunikasi massa melembaga

Komunikator di dalam komunikasi massa bukan hanya satu orang melainkan kumpulan dari orang orang yang merupakan gabungan berbagai macam unsur yang bekerja sama dalam sebuah lembaga. Bisa dikatakan bahwa dalam komunikaso massa yang menjadi komunikator adalah lembaga media massa itu sendiri.

Menurut Alexis S Tan, komunikator dalam komunikasi massa adalah organisasi sosial yang mampu memproduksi pesan dan kemudian mengirimkan pesan secara serempak kepada audiens yang banyak dan terpisah. Oleh karena itu, komunikaror dalam komunikasi massa adalah media massa baik cetak maupun eletronik seperti surat kabar, majalah, televisi, dan radio.

b. Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen

Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen/beragam yang artinya audience terdiri dari beragam pendidikan, umur, jenis kelamin, satutus sosial ekonomi, punya jabatan yang beragam, mempunyai agama atau

(4)

kepercayaan yang tidak sama. Lebih lanjut, Herbert Blumer memberikan ciri- ciri tentang karakteristik komunikan sebagai berikut;

c. Audience dalam komunikasi massa sangalah heteogen

Berisi individu-individu yang tidak tahu satu sama lainnya dan juga tidak saling berinteraksi.

d. Tidak memiliki kepemimpinan atau organisasi formal.

e. Pesannya bersifat Umum

Dalam komunikasi massa, pesan yang disampaikan tidak ditujukan untuk golongan tertentu melainkan untuk khalayak yang plural.

f. Komunikasinya berlangsung satu arah

Dalam komunikasi massa, komunikasi hanya berasal dari media massa itu sendiri. Individu sebagai komunikan tidak bisa memberikan umpan balik langsung.

g. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan

Dalam komunikasi massa, pesan akan disebarkan secara serempak.

h. Komunikasi massa mengandalkan peralatan teknis

Media massa yang merupakan alat utama dalam penyampaian pesan memerlukan peralatan teknis dalam menyebarkan pesannya seperti pemancar untuk media elektronik.

(5)

i. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper

Gatekeeper berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, dan mengemas informasi atau pesan agar pesan lebih mudah dipahami. Gatekeeper yang dimaksud dalam media massa antara lain: reporter, editor, kameraman, sutradara, dan lembaga sensor.

2. Media Massa Baru (New media)

Roger Fidler mengenalkan istilah “mediamosphosis” yang diartikan sebagai tranformasi dari media komunikasi dan berdasarkan pada perkembangan teknologi (Syaibani, 2011:5). Pengertian lain dari new media datang dari Terry Flew. Terry Flew mengatakan : “forms of media contents that combine and integrate data, text, sound, and images of all kinds;are stored in digital format;

and are increasingly distributed trough networks”. Dari pengertian tersebutdapat diketahui bahwa new media ditekankan pada format isi media yang dikombinasikan dan kesatuan data baik teks, suara, gambar, dan sebagainya dalam platform digital (Syaibani, 2011:5-6). Pengertian lain dari new media adalah penggunaan digital media atau sering disebut internet.

Menurut Martin Lister, media baru atau new memiliki beberapa karakteristik merujuk pada kata “new”, sebagai berikut :

a. Bentuk pengalaman baru dari text, hiburan, kesenangan, dan pola penggunaan media.

b. Cara baru dalam mempresentasikan dunia.

(6)

c. Bentuk hubungan baru antara pengguna dengan konsumen dengan teknologi media.

d. Bentuk pengalaman baru dari identitas diri maupun komunitas dalam berinteraksi dalam waktu, tempat, dan ruang.

e. Bentuk konsepsi baru dari hubungan manusia secara biologis dan teknologi media.

f. Pola baru dalam organisasi dan produksi, serta integrasi dalam media yaitu budaya, industri ekonomi, ases informasi, kepemilikan, kontrol, dan undang-undang.

Dari penjabaran karakteristik menurut Lister diatas, dapat disimpulkan bahwa new media mencakup berbagai aspek dari kehidupan manusia bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri.

Selain itu, Dennis McQuail (Nurudin, 2003:31) juga mendeskripsikan komunikasi massa sebagai berikut :

a. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang akan menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa. Media juga merupakan insitusi yag memiliki nilai dan norma tersendiri.

b. Media massa merupakan sumber kekuatan, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat yang dapat digunakan untuk pengganti sumber daya lainnya.

c. Media merupakan norma yang semakin berperan untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan bermasyarakat.

(7)

d. Media berperan sebagai wahana perngembangan kebudayaan termasuk pengembangan tata cara, mode, gaya hidup, dan norma-norma.

e. Media menjadi sumber dominan bagi khalayak untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial. Media juga menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.

New media juga memiliki perbedaan karakteristik audien dengan old media, Perbedaan tersebut tergambar dalam tabel 2.1

(8)

Tabel 2.1 Perbedaan Karakteristik Audien Old Media dan New media

No Spesifikasi Old Media New media

1. Pola komunikasi yang banyak terjadi

One to many Many to Many

2. Level/ tingkatan interaktivitas

Sangat rendah Kuat

3. Isi Pesan Producer-

generated content

Local content

User-generated contents

Global content

4 Peran audien

secara umum

Pasif Aktif

5 Konstruksi media secara umum

Kurang bersifat partisipatif

Media partisipatif

Sumber : Nurudin, Komunikasi Massa

Dalam tabel 2.1 disebutkan bahwa karakteristik audince dalam new media juga berbeda dengan old media. Hal ini menandakan bahwa terjadi perubahan karakteristik audince. Di dalam new media audien bersifat aktif yang sebelumnya dalam old media dikatakan bahwa audien bersifat pasif. New media memiliki 6 kategori, yaitu :

(9)

a. Interaktif, media baru dinilai lebih interaktif jika dibandingkan dengan media massa konvensional. Pada media massa konvensional, komunikasi dua arak memang sudah terjadi, namun hal tersebut masih melalui seleksi oleh gatekeeper.

b. Hipertekstual, pesan dan informasi dari media massa konvensional seperti televisi, radioo, dan koran kembali dimuat di platform new media dengan tampilan new media.

c. Jaringan, di dalam media baru internet terdapat berbagai macam jaringan yang ditujukan untuk mempermudah orang dalam menemukan dan menggunakan internat untuk mencari informasi.

d. Dunia maya. Hal ini merupakan salah satu kelemahan dari media baru, karena sifatnya yang maya maka identitas seseorang maupun kelompok baik yang berperan sebagai komunikator maupun komunikan menjadi tidak jelas dan tidak bisa dipercaya.

e. Simulasi, media baru tentu memiliki ataupun masih menggunakan beberapa hal dari media massa lama yang masih dapat dimasukan kedalam media baru.

f. Digital, dalam media baru yang juga berada dalam dunia digital semua hal akan diproses menggunakan mesin yang digerakan oleh sistem informasi yang menggunakan kode atau nomer yang dibuat oleh manusia.

Selian itu, dikatakan bahwa hadirnya new media turut merubah pola komunikasi dari masyarakat sendiri. Hadirnya internet membawa perubahan pada cara berkomunikasi individu dengan individu lainnya

(10)

3. Budaya Pop

Budaya popoler (popular culture) atau yang biasa disebut dengan budaya pop dapat diidentifikasikan melalui budaya massa. Salah satu tokoh yang mengungkapkan gagasan mengenai budaya pop secara gamblang adalah William.

“popular”dipandang dari sudut pandang orang dan bukannya dari mereka yang mencari persetujuan atau kekuasaan atas mereka.

Sekalipun demikian, pengertian awal tidaklah mati, Budaya populer bukan diidentifikasikan oleh rakyat tetapi oleh orang lain, dan masih menyandang dua makna kuno : jenis karya interfior (bdk. Sastra populer, pers populer yang dibedakan dengan pers berkualitas); dan karya yang secara sengaja dibuat agar disukai orang (jurnalisme populer dibedakan dengan jurnalisme demokratik, atau hiburan populer); maupun pengertian modern yang disukai oleh banyak orang, yang tentunya pada banyak kasus bertumpang tindih dengan pengertian lama. Pengertian mutakhir budaya populer sebagai kebudayaan yang sebenarnya dibuat oleh orang-orang untuk kepentingan mereka sendiri yang sama sekali berbeda dengan semua pengetian di atas. Pengertian ini juga sering kali digantikan pada masa lalu sebagai budaya rakyat, tetapi pengertian ini juga merupakan salah satu penekanan modern yang penting.”

Berdasarkan pemaparan dari William diatas dapat diketahui juga bahwa istilah populer memiliki 4 makna, yakni: 1) banyak disukai orang, 2)jenis kerja rendahan, 3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang, 4)budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri.

Dasawarsa 1920-an hingga 1930-an merupakan sebuah titik balik bagi budaya populer. Hal ini bersamaan dengan munculnya sinema dan radio, produksi massal dan konsumsi kebudayaan, bangkitnya fasisme dan kematang demokrasi liberal di berbagai negara Barat.

(11)

Budaya pop berkaitan dengan istilah budaya massa. Budaya massa sendiri adalah budaya populer yang ada melalui teknik industrial produksi massa dan dipasarkan guna mendapatkan keuntungan dari khalayak. Budaya massa ini kemudian berkembang karena adanya kemudahan reproduksi yang diberikan oleh teknologi seperti percetakan, fotografi, rekaman suara, dan lainnya (Tressia, Skripsi, 2012:37).

Sedangkan, Hebdige dalam Subandy memandang budaya populer sebagai artefak yang ada, seperti film, kaset, acara televisi, alat transportasi, pakaian, dan sebagainya (Ibrahim, 2011: xxvii). Budaya populer kian hari kian berkembang, ada pula istilah budaya pop yang diposkan secara online. Menurut

Derry Mayendra

(http://derrymayendra.blogspot.com/2011/10/budayapopuler.html, akses 5 Mei 2019) budaya pop yang diposkan secara online memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Relativisme, artinya budaya pop merelatifkan semuanya sehingga tidak ada batasan apapun yang mutlak salah ataupun benar.

b. Pragmatisme, artinya budaya pop menerima apa saja yang memiliki manfaat tanpa memperhatikan apakah hal yang diterima tersebut benar atau salah.

c. Sekulerisme, Budaya pop dinilai mendorong penyebarluasan sekulerisme sehingga agama tidak lagi dipentingkan karena agama dinilai tidak menjawab kebutuhan hidup manusia pada masa ini.

d. Hedonisme, budaya pop berfokus pada emosi dan pemuasannya daripada intelek.

(12)

e. Materialisme, budaya pop mendorong paham materialisme uyang juga sudah banyak dipegang oleh masyarakat modern sehingga manusia semakin memuja kekayaan materi.

f. Popularitas, budaya populer hampir memengaruhi semua orang khususnya orang muda dan remaja tanpa dibatasi latar belakang etnik, keagaamaa, status sosial, tingkat pendidikan, dan sebagainya.

g. Kontemporer, budaya pop adalah sebuah kebudayaan yang menawarkan nilai-nilai yang bersifat sementara, kontemporer, tidak stabil, dan terus berubah.

h. Kedangkalan (banalisme), hal ini dapat dilihat dengan munculnya teknologi yang memberikan kemudahan hidup yang menyebabkan manusia menjadi kehilangan makna hidup karena kemudahan tersebut.

i. Hibrid, hal ini merujuk pada penggabungan kemudahan-kemudahan yang ada dari suatu produk.

j. Penyeragaman rasa, bergesernya keragaman yang ada di penjuru dunia menjadi suatu keseragaman.

k. Budaya hiburan, budaya pop harus merupakan segala sesuatu yang bersifat menghibur.

l. Budaya konsumerisme, artinya masyarakat yang senantiasa merasa kurang dan tidak puas secara terus menerus sehingga menjadi masyarakat yang konsumtif.

m. Budaya instan, munculnya segala sesuatu yang bersifat instan baik dari segi makanan maupun hal lainnya.

(13)

n. Budaya massa, budaya massa diakibatkan oleh kemudahan reproduksi yang diberikan oleh teknologi seperti fotografi, percetakan, dan perekam suara, dan lain sebagainya.

o. Budaya visual, budaya pop berkaitan erat dengan budaya visual yang juga disebut sebagai budaya gampar atau budaya figural.

p. Budaya ikon, ditandai dengan munculnya banyak ikon budaya berupa manusia, maupun artefak bangunan.

q. Budaya gaya, hal ini merujuk kepada bagaimana gaya lebih dipentingkan daripada esensi, substansi, dan makna.

r. Hiperealitas, juga diatikan sebagai reliras semu (virtual reality) yang telah menghapuskan perbedaan antara yang nyata dan yang semu.

s. Hilangnya batasan-batasan, budaya populer menolak segala perbedaan seperti: tidak adanya batasan antara hal yang ber,oral dan tidak bermoral, yang bermutu dan tidak bermutu, yang baik dan jahat, tidak adanya batasan waktu, dan sebagainya. Perbedaan tersebut kemudian hanya dimanipulasi guna kebutuhan pemasaran.

(14)

4. YouTube

Gambar 2.1 : Logo Youtube

Sumber : www.google.com

YouTube merupakan salah satu contoh new media. Hal ini dikarekan dalam pengaksesannya dibutuhkan internet. Youtube merupakan situs berbagi video yang menyediakan berbagai informasi berupa “gambar bergerak” (Aria Indhi,

https://www.kompasiana.com/ariaindhi/597000eded967e0aed056e12/fenomen a-youtube-sebagai-media-penyiaran-di-zaman-modern?page=all, akses 15 April 2019. Selain itu, youtube juga dapat diartikan sebagai sebuah website untuk berbagi video ataupun menonton video yang dibagikan oleh berbagai pihak (Galerinfo, https://www.galerinfo.com/pengertian-youtube/, akses 15 April 2019).

YouTube sendiri didirakan pada Februari 2002 oleh 3 orang mantan karyawan PayPal, yaitu Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim. YouTube juga merupakan salah satu platform yang berada di internet dengan perkembangan yang pesat. Berdasarkan pernyataan dari pihak google mewakili

(15)

YouTube, hampir sepertiga pengguna internet adalah pengguna Youtube. Lebih lanjut, lembaga riset pasar Statista memprediksi bahwa YouTube akan berkembang lebih pesat hingga mencapai jumlah 1,8 milyar pengguna pada tahun 2021 (Praditya, https://id.techinasia.com/fakta-perkembangan-youtube- di-Indonesia, akses pada 16 Mei 2019).

YouTube memiliki beberapa karakteristik yang membuat YouTube menjadi salah satu platform online yang digemari masyarakat sehingga dapat berkembang pesat (Faiqah, et al., Jurnal Komunikasi KAREBA, 3(2), Desember 2016: 261), yaitu :

a. Tidak ada batasan durasi dalam pengunggahan video.

b. Sistem pengamanan yang mulai akurat. YouTube tidak memperbolehkan video-video yang mengandung unsur SARA.

c. Berbayar. YouTube memberikan penawaran bai setiap orang atau individu yang mengunggah videonya ke youtube dan mendapatkan minimal 100 penonton maka akan diberikan honorarium dengan diikuti syarat dan ketentuan.

d. Sistem offline. Sistem ini memungkinkan pra pengguna youtube untuk dapat menonton video dalam keaadaan tidak terhubung internet tetapi sebelumnya pengguna haru smendownload video tersebut.

e. Tersedia editor sederhana. Youtube menawarkan pengguna untuk mengedit videonya terlebih dahulu sebelum diungga. Menu yang ditawarkan youtube ini berupa pemotongan video, filter warna, atau menambakan efek perpindahan video.

(16)

5. YouTube Channel “Jurnalrisa”

Youtube Channel “Jurnalrisa” adalah saluran YouTube yang dimiliki oleh seorang youtuber bernama Risa Saraswati. Risa Saraswati sendiri merupakan seorang public figure yang dikenal sebagai seorang indigo. Risa lahir di Bandung pada tanggal 24 Februari 1985. Risa memulai karirnya menjadi seorang vokalis di sebuah band bernama Homogenic pada tahun 2002-2009.

Pada tahun 2012, Risa Saraswati merilis sebuah buku yang berjudul Danur yang diterbitkan oleh Bukune. Danur sendiri merupakan sebuah buku yang bercerita tentang pengalaman pribadi Risa Saraswati terkait hal gaib. Setelah itu, Risa Saraswati semakin dikenal publik dengan kemampuan supranaturalnya. Buku tulisannya pun menjadi populer hingga diangkat ke layar kaca dengan judul yang sama yaitu Danur pada tahun 2017.

Risa Saraswati memulai saluran YouTube “Jurnalrisa” pada tanggal 29 Agustus 2017. Hingga saat ini subcriber (pelanggan) dari youtube channel

“Jurnalrisa” sudah mencapai angka 2.495.560 subcriber. Jumlah ini menjadikan channel youtube Jurnalrisa menjadi channel youtube bertema mistik di Indonesia yang memiliki subscriber terbanyak.

(17)

Gambar 2.2 YouTube Statistic Jurnalrisa

Sumber : http://socialblade.com , diakses 10 Mei 2019

Gambar 2.3 Youtube Progress Graphs

Sumber : http://socialblade.com, diakses pada tanggal 10 Mei 2019

Youtube channel “Jurnalrisa” sendiri memiliki 2 segmen khusus yakni jurnalrisa dan tanyarisa. Tanyarisa merupakan segmen atau video yang berisi

(18)

konten tanya jawab bersama Risa saraswati dan team jurnalrisa mengenai berbagai macam hal khususnya tentang hal-hal yang berbau mistis. Sedangkan, segmen jurnalrisa sendiri merupakan video yang kontennya adalah ekspedisi mistis mengunjungi tempat-tempat yang dinilai mistis di mana Risa Saraswati mengungkap hal-hal gaib dengan kemampuan supranatural mereka termasuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan mahkluk gaib. Dalam jurnalrisa, Risa Saraswati menggaet sepupu-sepupunya yang juga memiliki kemampuan supranatural dan kemudian mereka dijuluki sebagai tim jurnalrisa. Tim jurnalrisa terdiri dari Risa Saraswati dan beberapa saudara sepupu Risa yang juga memiliki kemampuan supranatural.

6. Terpaan Media

Terpaan media atau media exposure sendiri dalam ilmu komunikasi diartikan sebagai perilaku yang muncul akibat penggunaan media. Menurut Rosengren, terpaan media merupakan penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis media yang dikonsumsi, dan berbagai hubungan antara individu konsumen dengan isi media yang dikonsumsi secara keseluruhan (Supriyadi, Skripsi, 2010).

Terpaan media juga merupakan frekuensi dan intensitas individu dalam menggunakan atau mengonsumsi media. Intensitas dapat dihitung dengan menggunakan indikator frekuensi dan durasi ketika menggunakan media.

Terpaan media juga diartikan sebagai banyaknya informasi yang diperoleh dari penggunaan media yang meliputi frekuensi, atensi, dan durasi penggunaan

(19)

media (Flander, 2009:851).. Frekuensi dapat juga diartikan sebagai seberapa sering pengguna media menggunakan media dalam suatu waktu (Ardianto dan Komala, 2014:167). Sedangkan, durasi mengacu pada seberapa lama audiens menggunakan media tersebut.

Selain itu, terpaan juga dapat diukur berdasarkan atensi atau perhatian yang diberikan khalayak ketika menggunakan suatu media. Terpaan media juga kemudian dinilai akan memberikan dan menimbulkan beberapa efek pada diri khalayak sebagai penerima pesan dari media. Selain itu penggunaan media yang kemudian menimbulkan terpaan media juga dipengaruhi oleh motivasi. Motivasi merupakan alasan bagi seseorang untuk menggunakan media. Segala dorongan dan alasan audiens yang menyebabkan penggunaan media dan tujuan audiens dalam menggunakan media tersebut. Motivasi atau alasan kemudian dihubungkan dengan fungsi media massa sebagai berikut :

a. Informasi;

b. Identitas pribadi;

c. Interaksi Sosial;

d. Hiburan.

Pengertian terpaan media juga datang dari pakar lain yaitu Kristen (2013:31) :

Media exposure is more complicated than access because is ideal not only with waht her a person is within physicaly (range of particural mass medium) but also whether person is actually exposed to the message. Exposure is hearing, seeing, reading, or most generally, experiencing with at least a minimal amount of interest the mass media message. The exposure may occur to an individual or group level.

(20)

Dari pengertian tesebut, dapat dilihat bahwa terpaan media massa bukan hanya melihat seperapa dekat audiens dengan media massa secara fisik tetapi juga apakah audiens benar-benar terbuka dengan pesan-pesan yang disampaikan media tersebut.

7. Konstruksi Sosial

Istilah konstruksi sosial atas realitas ini pertama kali diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Ia menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, yang mana individu akan menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.

Berger dan Luckmann menyebut konstruksi sosial sebagai konstruktivisme yang dilihat sebagai kerja kognitif individu untukmenafsirkan dunia realitas yang ada karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang sekitarnya. Individu kemudian akan mengembangkan sendiri pemahaman atas realitas tersebut berdasarkan pemahaman yang sudah ada sebelumnya.

Realitas memiliki pengertian hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksisosial terhadap dunia sosial di hadapannya. Realitas sosial dibentuk untuk dapat memengaruhi presepsi dan pemikiran orang lain, sehingga apa yang telah dibentuk dalam realitas tersebut akan menjadi norma dan keyakinan yang diikuti oleh khalayak (Bungin, 2001:9). Berger dan Luckmann juga memberikan pengertian mengenai realitas sosial yang diartikan sebagai pemahaman yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang di tengah

(21)

masyarakat, seperti konsep, kesadaran umum, wacana publik, sebagai hasil dari konstruksi sosial (Bungin, 2007:192). Lebih lanjut, Perter dan Luckmann mengemukakakn bahwa realitas sosial dikonstruksi melalui tiga tahapan sebagai berikut :

a. Ekternalisasi

Eksternalisasi atau penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Tahap ini merupakan tahap pertama atau tahap yang mendasar dalam pola perilau interaksi antara individu dengan produk- produk sosial masyarakatnya. Tahap ini terjadi ketika produk sosial hadir di tengah masyarakat, kemudian individu akan melakukan ekternalisasi atau penyesuaian diri ke dalam dunia sosio-kulturalnya sebagai bagian dari produk manusia.

b. Objektivasi

Objektivasi yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubyektitif yang dilembagakan. Tahap ini dapat terjadi dengan individu tidak saling bertemu, Artinya obyektivasi itu bisa terjadi melalui penyebaran opini sebuah produk sosial yang berkembang dalam masyarakat melalui diskurus opini masyarakat terhadap produk sosial tanpa haru sterjadi tatap muka antara individu dengan pencipta produk sosial tersebut.

Hal yang paling penting pada tahap ini adalah melakukan signifikasi dengan penggunaan tanda-tanda.

(22)

c. Internalisasi

Internalisasi yaitu proses di mana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya. Dikatakan juga bawa internalisasi dalam artian umum merupakan dasarbagi pemahaman mengenai “sesama saya”, yaitu pemahaman individu dan orang lain serta bagi pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dan kenyataan sosial (Bungin, 2011:15-19).

Realitas sosial yang dimaksudkan oleh Berger dan Luckmann terdiri dari tiga relitas, yaitu relitas objektif, relitas simbolis, dan realitas subyektif. Realitas objektif adalah relitas yang terbentuk dari pengalaman di dunia obyekif yang berada di luar individu, realitas ini dinggap sebagai kenyataan. Realitas simbolis merupakan ekspresi simbolis dari realitas obyektif dalam berbagai bentuk.

Sedangkan, realitas subyektif adalah realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali realitas obyektif dan simbolis ke dalam individu melalui proses internalisasi (Subiakto, 1997:93).

Konstruksi sosial media massa memiliki posisi untuk mengoreksi substansi kelemahan dan melengkapi “konstruksi sosial atas realitas”, dengan menempatkan selurug kelebihan media massa dan efek media pada keunggulan

“konstruksi sosial media massa”. Konstruksi sosial media massa terjadi dalam beberapa tahap sebagai berikut : a) tahap menyiapkan materi konstruksi; b) tahap sebaran konstruksi; c) tahap pembentukan konstruksi; serta d) tahap konfirmasi.

(23)

Gambar 2.4 Proses Konstruksi Sosial Media Massa

Sumber : www.google.com

Berdasarkan gambar 2.1 tergambar bagaimana proses terjadinya konstruksi sosial media massa.

Dalam pembahasan mengenai konstruksi sosial media massa terdapat juga istilah realitas media. Realitas media adalah realitas yang dikonstruksi oleh media dalam dua model, yaitu : a) Model peta analog; dan b) model refleksi realitas.

Model peta analog yaitu model dimana realitas sosial dikonstruksi oleh media berdasarkan sebuah model analogi sebagaimana suatu realitas itu terjadi secara rasional. Selain itu, realitas ini juga dibangun berdasarkan kosntruksi sosial media massa, seperti analogi kejadian yang semestinya terjadi, bersifat

(24)

rasional dan dramatis. Sedangkan model refleksi realitas adalah model yang merefleksikan suatu kehidupan yang pernah terjadi di dalam masyarakat.

8. Tayangan Mistik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah mistik diartikan sebagai subsistem yang ada dalam hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan; tasawuf; suluk; hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia yang biasa. Sedangkan, istilah gaib menurut KBBI diartikan sebagai sesuatu yang tersembunyi, tidak kelihatan, abstrak, lenyap dan tidak diketahui sebab- sebabnya (https://kbbi.web.id, akses 25 April 2019).

Murthadha Muthahari (2003:125-126) mendefinisikan kata gaib sebagai tersembunyi dari tangkapan panca indera, pengelihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan rasa. Sedangkan, Aliya Harb (2003:45) mengatakan bahwa kata gaib (metafisik) hampir sama dengan misteri, misteri sendiri merupakan konsep epistimologi, sedangkan metafisika merupakan konsep ontologi. Misteri berarti segala sesuatu yang tidak kita ketahui sedangkan metafisika merujuk pada keberadaan yang tak tampak, sesuatu yang rahasia dan memiliki kemampuan yang tidak dapat diungkap oleh apapun.

Tayangan mistik diartikan sebagai sebuah konstruksi sosial sutradara film mistik terhadap bentuk “kengerian” pada obyek-obyek cerita yang oenuh dengan upaya konstruksi (Bungin, 2007:330). Tayangan mistik juga dikatgorikan dalam beberapa bentuk (Bungin, 2007:330-331), seperti :

(25)

 Mistik semi-sains, yaitu film yang berhubungan dengan fiksi ilmiah.

 Mistik-fiksi, film mistik hiburan yang tida masuk akal karena bersifat fiksi

yang diciptakan untuk menyajikan misteri, suassana mencekam, dan kengerian kepada audiens.

 Mistik-horor, film yang lebih banyak mengeksploitasi dunia lain,seperti

jin. Setan, dan kekuatan-kekuatan supranatural seseorang.

9. Remaja

Istilah remaja yang juga disebut dengan istilah adolescene berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang atinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan” (Mohammad Ali, 2016:9). Hurlock mengatakan bahwa rentang ini memiliki tempat yang tidk jelas yakni tidak bisa dikategorikan dakam kelompok anak-anak maupun dewasa.

Menurut Sri Rumini dan Sri Sundari, masa remaja merupakan peralihandari masa anak-anak menuju masa dewasa. Dalam masa ini remaja mengalami perkembangan di semua aspek dan fungsi guna memasuki masa dewasa. (Anna, 2014:19). Menurut Mappiare , masa remaja berlangsung dari usia 13 hingga 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun hingga 22 tahun bagi pria.

Rentang usia ini kemudian dibagi menjadi dua bagian yaitu pada usia 12/13 taun hingga 17/18 tahun merupakan masa remaja awal, dan usia 17/18 tahun hingga 21/22 tahun adalah masa remaja akhir (Mohammad Ali, 2016:9).

Menurut Hurlock, tugas perkembangan remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan dan berusaha untuk

(26)

mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas perkembangan remaja (Mohammad Ali, 2016:10) adalah berusaha :

a. Mampu menerima keadaan fisiknya;

b. Mampu menerima dan memahami peras seks usia dewasa;

c. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis;

d. Mencapai kemandirian emosional;

e. Mencapai kemaandirian ekonomi;

f. Mengembangkan konsep dan keterampilaan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat;

g. Memahami dan mengintrernalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua;

h. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewaasa;

i. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan;

j. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jaawab kehidupan keluarga;

Remaja juga memiliki karakteristik tersendiri. Masa remaja seringkali dikenal dengan masa mencari jati diri atau yang juga disebut ego identitas (ego identity). Hal tersebut terjadi karena masa remaja merupakan masa peralihat dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Oleh karenanya karakteristik umum perkembangan remaha adalah bahwa remaja merupakan masa perilahid dari anak menuju dewasa yang juga setingkali menunjukan sifat-sifat karakteristik, seperti kegelisahan, kebingungan karena terjadinya pertentangan, mengkhayal,

(27)

aktivitas berkelompok, serta keinginan untuk mencoba segala sesuatu (Mohammad Ali,2016: 16-18)

10. Pandangan Kristen tentang Hal Gaib

Kristen sendiri merupakan salah satu agama yang dipeluk oleh masyarakat Indonesia. Umat Kristen di Indonesia. Kristen berasal dari kata Kristus. Kristen memiliki arti seperti Kristus, mengikuti cara hidup Kristus.

Kristus berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu Χριστός, Kristόs yang berarti

“yang diurapi”. Dalam agama Kristen sendiri mahkluk gaib atau mahluk gaib memiliki arti yang sama dengan roh-roh. Roh sendiri dibagi menjadi dua yaitu roh baik dan roh jahat. Menurut Alkitab, ada beberapa macam roh, yakni : 1) Roh Kudus, 2) Malaikat, 3) Lucifer, 4) Setan/satan (iblis), 5) hantu, 6) Legion, 7) jin.

Setan atau satan adalah perwujudan dari antagonisme yang bersumber dari agama-agama Samawi. Kata Setan dalam Agama Kristen dikaitkan dengan Lucifer, sedangkan dalam Islam dikaitkan dengan iblis. Setan dengan huruf besar disebut sebanyak dua kali di dalam Alkitab yakni dalam kitab Wahyu 12:9 dan 20:2 yang didalamnya setan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Iblis”.

Istilah hantu juga disebutkan di dalam Alkitab yakni dalam nats Lukas 24:39 yang menyatakan bawa hantu itu tidak berdaging dan tidak bertulang. Dari ayat ini dapat diartikan bahwa hantu itu memang ada tetapi tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Hantu-hantu tidak diciptakan oleh Allah melainkan oleh setan atau iblis.Dalam Matius 12:24,26 juga disebutkan bahwa hantu-hantu itu

(28)

merupakan malaikat yang tidak taat dan menjelma. Di dalam 2 Petrus 2:4, dikatakan juga bahwa meski terlihat bahwa hantu tidak bebas menjelma tetapi dia bisa memasuki dan merasuki manusia ataupun binatang. Bahkan dalam Matius 12:43-45 yang adalah satu perikop berjudul “Kembalinya roh jahat”

mengungkap fakta bahwa roh jahat juga bisa menggunakan benda-benda mati seperti rumah, benda keramat, dan jimat.

Fenomena roh jahat merasuki tubuh manusia juga sekali diceritakan di dalam Alkitab yakni disaat Legion merasuki tubuh seorang pria di Gadara.

Legion merupakan sekumpulan roh jahat. Kejadian ini diceritakan di dalam Lukas 8:27-33. Dalam peristiwa ini juga menunjukan kekuasaan Tuhan Yesus.

Tuhan berhasil memerintahkan Legion untuk pergi dari tubuh pria tersebut dan menyuruh roh tersebut untuk pindah ke dalam kawanan babi. Hal ini menunjukan bahwa roh jahat yang juga diartikan sebagai setan atau sejenisnya ini takut kepada-Nya dan mematuhi perintah-Nya.

Selain itu, kerasukan setan sendiri dalam alkitab yaitu dalam Markus 5:15. Dalam ayat tersebut kerasukan dituliskan sebagai daimonizomenon. Kata itu memiliki arti : To be possessed by a demon or evil spirit; afflicted by demon or evil spirit; vexed by demon or evil spirit (Julianto, 2008:38). Kemudian, dalam alkitab juga dituliskan bawa penyebab terjadinya kerasukan adalah hukuman dari Allah sendiri. Pada kisah Saul yang ditulis pada 1 Samuel 16:14-16, Saul daganggu oleh roh jahat karena dari ayat-ayat sebelumnya Saul diceritakan memberontak Allah dengan melaukan spirtisme, yaitu melakukan hubungan dengan medium untuk menghubungi arwah (Julianto, 2008:47-48). Ha ini juga

(29)

berarti bahwa anggapan kerasukan setan terjadi ketika manusia berkomunikasi dengan setan serta mempraktikan dan mempercayai ilmu sihir dan jimat-jimat tertentu.

Pandangan agama Kristen terhadap hal gaib tergambar dari beberapa ayat-ayat Alkitab. Salah satu hal yang terkait dengan hal gaib adalah adanya jin.

Dalam alkitab sendiri jin disebutkan di dalam beberapa ayat yakni :

a. Imamat 17:7 “Janganlah mereka mempersembahkan lagi korban mereka kepada jin-jin itu adalah zinah. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi mereka turun temurun.”

b. II Tawarikh 11:15 “dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak- anak lembu jantan yang dibuatnya.”

c. Yesaya 13:21 “tetapi yang akan berbaring di sana ialah binatang gurun, dan rumah-rumah mereka akan penuh dengan burung hantu; burung-burung unta akan diam di sana, dan jin-jin akan melompat-lompat.”

Dari ketiga ayat tersebut tergambarkan bahwa jin yang dimaksud dalam alkitab adalah jin yang berada di padang gurun dan mampu mengintimidasi dan menipu bangsa-bangsa sehingga mereka takut dan mempersembahkan hewan atau melakukan ritual kepada jin-jin.

(30)

Imamat 17:7 berbunyi “ Janganlah mereka mempersembahkan lagi korban mereka kepada jin-jin, sebab menyembah jin-jin itu adalah zinah. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi mereka turun- temurun”. Dari ayat tersebut diketahui bahwa Tuhan melarang manusia untuk bergaul dan takluk kepada jin-jin. Barangsiapa bergaul dengan jin akan dianggap berzinah. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara bersama dengan Pendeta Eko Prasetyo.

Oke, jadi ada beberapa ayat memang di dalam Alkitab yang menyinggung persoalan tentang gaib. Dari ayat-ayat tersebut sudah jelas kalau kita memang tidak boleh bergaul dan berhubungan dengan hal-hal gaib. Kalau itu terjadi bisa saja terjadi gangguan. Kalau dari kita gama Kristen sendiri tidak memberi ruang yang banyak untuk gaib, justru secara tegas mengatakan tidak usah (berhubungan dengan hal gaib). Pendeta Eko menyampaikan bahwa dari ayat tersebut sudah jelas dikatakan bahwa manusia tida perlu untuk melaukan hubungan dengan hal gaib. (Wawancara dengan Pendeta Eko, tanggal 20 Juni 2019)

Selanjutnya, menurut pernyataan Pendeta Eko Prasetyo yang didasarkan pada ayat alkitab ditekankan bahwa kita tidak boleh merasa takut kepada roh- roh jahat. Hal tersebut terlihat dalam ayat 1 Yohanes 4:4 yang berbunyi “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang berada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia”. Hal ini juga terlihat dari Bilangan 23:23 yang menegaskan bahwa semua yang menyenangkan Allah tidak perlu takut kepada mahkluk halus.

Firman Allah juga mengajarkan bawa roh orang mati tidak menjadi gentayangan dan tidak bisa mencelakai siapa pun. Hal ini terdapat dalam Pengkhotbah 9:5. Selain itu, dikatakan bawa roh jahat lah yang kemudian

(31)

menyamar menjadi orng yang telah mati untuk mengelabuhi orang-orang. Itulah sebabnya “roh”terlihat seperti rupa orang yang telah meninggal.

Dalam ayat Imamat 19:31 “ Janganlah kamu berpaling pada arwah- arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah Tuhan, Allahmu.”.

Dalam ayat ini dikatakan bahwa manusia tidk boleh dengan sengaja mencari arwah-arwah.

11. Teori Kultivasi

Dalam melakukan penelitian terhadap fenomena tersebut, peneliti menggunakan teori kultivasi. Teori kultivasi dikemukakan oleh George Gerbner.

Dalam bukunya, Morissan (2013:519) mengatakan bahwa teori kultivasi yang juga disebut dengan “analisis kultivasi” adalah teori yang memperkirakan dan menjelaskan pembentukan presepsi, pengertian, dan kepercayaan mengenai dunia sebagai hasil dari mengonsumsi pesan media dalam jangka panjang.

Teori kultivasi sendiri melihat efek media massa yang lebih bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran sosial budaya dari pada individual.

Analisis kultivasi menaruh perhatian penuh pada komunikasi yang dilakukan media massa mealui tayangan yang mereka hadirkan secara kumulatif dan dalam jangka panjang.

Gerbner juga berpendapat bahwa “sebagian besar yang kita ketahui, atau yang kita pikir kita ketahui adalah tidak pernah kita alami sendiri”. Pernyataan ini merujuk kepada bagaimana khalayak menganggap dan mempercayai apa

(32)

yang ditampilkan melalui tayangan dalam media merupakan kejadian yang terjadi sesungguhnya walau mungkin mereka sendiri belum mengalaminya.

Proses kultivasi terjadi dalam dua cara, yaitu mainstreaming dan resonasi. Mainstreaming adalah proses mengikuti arus utama yang terjadi ketika berbagai simbol, informasi, dan ide yang ditayangkan TV mendominasi atau mengalahkan simbol, informasi, dan ide yang berasal dari sumber lain. Weat and Tarner juga mengatakan bahwa proses ini merupakan kecenderungan bagi penonton kelompok berat untuk menerima realitas relitas budaya dominan yang ditampilkan oleh media walau relitas yang digambarkan tersebut tidak sama dengan yang sebenenarnya (Morissan, 2013:523).

Resonasi adalah kulitivasi terjadi saat realitas yang disajikan televisi sama dengan realitas sehari-hari yang dihadapi oleh penonton. Kondisi ini memiliki efek yang lebih besar, walaupun realitas yang ditayangkan oleh media merupakan gaung atau gema yang artinya sama dengan realitas di masyarakat, namun justru hal ini dapat menghambat tumbuhnya realitas sosial terhambat untuk berkembang menjadi lebih positif (Morissan, 2013:543).

Selain itu ada pendapat lain mengenai proses kultivasi, ada tiga proses yang diajukan dalam efek kultivasi ini yaitu : (1) pemirsa akan belajar fakta- fakta yang disajikan oleh televisi (learning); (2) pemirsa membangun kepercayaan di dunia nyata dengan fakta-fakta dari televisi (construction); (3) kemudian mereka akan membangun keyakinan secara umum terhadap fakta

(33)

yang mereka dapatkan dan menyamaratakan dengan fakta yang ada di dunia ini (Shrum, 2009 : 66-89)

Dikatakan juga bahwa teori kultivasi ini melhat media massa sebagai agenda sosialisasi, dimana penonton televisi dapat mempercayai apa yang ditampilkan oleh televisi berdasarakan seberapa sering mereka menontonnya.

Untuk menunjukan bagaimana televisi sebagai media massa memengaruhi pandangan khalayak terhadap realitas sosial, para peneliti teori kultivasi , menganalisis menggunakan 4 tahapan (Santoso dan Setiansah, 2010:101), yaitu :

a. Message system analysis yang mengalisis isi pesan program televisi

b. Formulation of question about viewers ralities yaitu pertanyaan-pertanyaan yang berisi tentang realitas sosial penonton televisi.

c. Survey the audiens yaitu menanyakan kepada mereka seputar apa yang mereka konsumsi dari media,

d. Membandingkan realitas sosial antara penonton berat (heavy viewers) dan orang yang jarang menonton televisi.

Keempat tahapan tersebut kemudian disimpulkan menjadi dua jenis analisis (Santoso dan Setiansah, 2010:101) :

a. Analisis isi (content analysis) : mengidentifikasikan tema-tema utama yang disajikan oleh televisi sebagai media massa

b. Analisis khalayak (audience research) : melihat pengaruh tema-tema tersebut kepada penonton.

(34)

Di dalam jurnal “Cultivation Theory: Effect and Underlying Process”

juga mengemukakan tentang perkembangan dari teori kultivasi sendiri, yaitu kemungkinan new media dalam memberikan efek pengaruh kepada khalayak dan lebih besar dari pada televisi di era sekarang ini. Media baru ini menyediakan konten baru dan pengalaman menonton baru yang dapat berkonstribusi pada penyempurnaan teori kultivasi dan proses-proses yang mendasarinya (Shrum, 2009:66-89).

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teori kultivasi oleh George Gerbner untuk mengetahui pengaruh terpaan tayangan Vlog

“Jurnalrisa”, terhadap pemahaman gaib sesuai ajaran agama Kristen.

B. Penelitian Terdahulu

1. Jurnal berjudul “Tayangan Mistik Televisi dan Respon Kultural : Suatu Tinjauan Sosiologi Komunikasi” oleh Hekdi dan Alfitri.

Di dalam jurnal ini membahas mengenai maraknya tayangan yang berbau mistis di televisi. Televisi berada di posisi menentukan, karena kemampuannya menciptakan suatu realitas, membungkus suatu fenomena, dan mempertontonkannya kepada publik. Penulis ingin menekankan bagaimana televisi menghadirkan realitas kepada masyarakat yaitu adanya dunia gaib. Di Indonesia sendiri program dengan gendre seperti itu mendapat perhatian yang besar dari masyarakat. Hal tersebut karena adanya latar belakang budaya masyarakat.

Realitas akan dunia gaib yang dihadrkan media juga merupakan realitas yang ada di tengah masyarakat Indonesia sejak jaman dahulu, dan

(35)

terus diceritakan dari generasi tua ke generasi penerusnya. Pada konteks inilah kita melihat kedekatan masyarakat terhadap hal-hal mistik dan mengandung nilai magis merupakan perjalanan sejarah yang terus berlangsung sampai sekarang. Dalam jurnal ini juga melihat fenomena tayangan mistis melalui kacamata sosiologi komunikasi.

Tinjauan ini menguatkan pernyataan mengenai bagaimana media massa memiliki kekuatan dan kewenangan yang besar terhadap massa komunikan.

Melalui kekuatan audiovisualnya, televisi mampu mengahadirkan realitas yang kemudian diteruskan dan mempengaruhi komunikasn atau dalam hal ini pemirsa.

Realitas yang dihadirkan media sendiri cenderung di dramatisir. Hal ini kemudian disebut simulacrum, tiruan dari yang aslinya dan cenderung melampaui arti yang sebenarnya. Media massa terus menunjukan kekuatannya dalam hal mempertontonkan hal gaib karena adanya latar belakang masyarakat yang memiliki kepercayaan terhadap hal gaib juga, sehingga hal ini semakin memperkuat realitas yang disajikan media terutama dalam hal ini televisi dan menjadikan tayangan yang menarik bagi publik.

2. Jurnal berjudul “Cultivation Theory: Effect and Underlying Process” oleh L. J SHRUM

Di dalam jurnal ini dituliskan tentang bagaimana proses psikologi dalam pengaruh televisi dan efek kultivasi. Teori tentang efek ini pada umumnya menjelaskan mengenai respon atau reakti terhadap konten yang disajikan oleh sebuah program yang ada di TV. Mempelajari juga tentang

(36)

hubungan input variable (informasi media serta karakteristiknya) dan output variable (perilaku, kepribadian, dan keyakinan).

Ada tiga proses yang diajukan dalam efek kultivasi ini yaitu : (1) pemirsa akan belajar fakta-fakta yang disajikan oleh televisi (learning); (2) pemirsa membangun kepercayaan di dunia nyata dengan fakta-fakta dari televisi (construction); (3) kemudian mereka akan membangun keyakingan secra umum terhadap fakta yang mereka dapatkan dan menhyamaratakan dengan fakta yang ada di dunia ini.

Di dalam jurnal ini juga mengemukakan tentang perkembangan dari teori kultivasi sendiri, yaitu kemungkinan new media dalam memberikan efek pengaruh kepada khalayak dan lebih besar dari pada televisi di era sekarang ini. Media baru ini menyediakan konten baru dan pengalaman menonton baru yang dapat berkonstribusi pada penyempurnaan teori kultivasi dan proses-proses yang mendasarinya.

3. Skripsi berjudul “ Pengaruh Terpaan Tayangan Reality Show “ Dua Dunia” di TRANS7 Terhadap Tingkat Kepercayaan Audience Akan Hal-hal Mistis (Studi Pada Masyarakat Dinoyo JL MT. Haryono XI RT 01 / RW 03 Malang)” oleh Fajar Hidhayat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

Skripsi ini meneliti tentang bagaimana pengaruh tayangan reality show bertema mistik “Dua Dunia” terhadap tingkat kepecayaan masyarakart terhadap hal-hal mistis. Reality show “Dua Dunia” sendiri mengangkat tentang banyak mitos dan budaya klenik yang ada di Indonesia. Pendekatan

(37)

yang digunakan peneliti adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survey dan dengan tipe penelitian eksplanatif. Populasi penelitian adalah masyarakat Dinoyo JL MT Haryono XI RT 01/ RW 03 Malang yang memenuhi kriteria yaitu masyarakat yang menonton tayangan reality show tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan teknik total sampling dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi.

Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan positif antara terpaan tanyangan “Dua Dunia” dan tingkat kepercayaan akan hal-hal mistis. Selain itu, untuk mengetahui variabel X memiliki pengaruh signifikan atau tidak dilakukan uji F. Berdasarkan F-test diketahui bahwa variabel X memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y.

C. Hipotesis

Berdasarkan latar berlakang, rumusan masalah, tujuan, serta kerangka pemikiran di atas, maka rumusan hipotesis dari penelitian ini adalah:

“Ada pengaruh yang signifikan antara terpaan tayangan vlog bertema mistik pada YouTube channel “Jurnalrisa” terhadap pemahaman gaib berdasarkan ajaran agama Kristen di kalangan siswa-siswi Kristen SMP N 4 Surakarta.”

(38)

D. Definisi Konseptual dan Operasional 1. Definisi Konseptual

Definisi konseptual adalah definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karateristik-karakteristis dari variabel tersebut yang dapat dipahami.

Dalam penelitian ini, definisi konseptualnya adalah sebagai berikut :

a. Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah terpaan tayangan Vlog bertema mistis yaitu tayangan pada YouTube channel “Jurnalrisa”.

 Terpaan, terpaan adalah keadaan dimana khalayak terkena pengaruh dari

pesan-pesan yang disebarkan oleh suatu media. Hal ni terjadi ketika khalayak menerima, melihat, atau membaca pesan yang disebarkan oleh media atau memiliki pengalaman dan perhatian terhadap pesan-pesan tersebut.

 Tayangan video blog bertema mistik, Video blog atau yang biasa disingkat

vlog adalah sebuah video dokumentasi jurnalistik yang berada di dalam sebuah website yang dapat berisi tentang hidup, pikiran, opini, dan ketertarikan. Tayangan mistik sendiri merupakan sebuah konstruksi sosial terhadap bentuk-bentuk “kengerian” pada objek-objek cerita yang penuh dengan upaya konstruksi. Konstruksi sosial pada tayangan mistik adalah ada yang berupa ilmiah atau yang benar-benar rekayasa konstruksi yang dibangun dibangun berdasarkan imaji terhadap objek mistik tertentu.

(39)

 Jadi, terpaan tayangan vlog bertema mistik pada YouTube channel

“Jurnalrisa” diartikan sebagai keadaan dimana khalayak terkena pengaruh pesan-pesan dalam tayangan vlog pada YouTube channel “Jurnalrisa” yang berisi konten mistik.

Terpaan tayangan vlog bertema mistik pada YouTube channel “Jurnalrisa”, dapat diukur menggunakan indikator :

a) Frekuensi menyaksikan tayangan “Jurnalrisa” diukur dari seberapa sering menonton tayangan “Jurnalrisa”.

b) Durasi menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”. Diukur dari seberapa lama menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”.

c) Atensi atau tingkat perhatian menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”. Diukur dari keseriusan responden dalam menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”.

d) Daya Tarik menyaksikan tayangan “Jurnalrisa” diukur dari seberapa tertarik responden terhadap tayangan “Jurnalrisa” dan konten tayangan mistik pada umumnya.

b. Variabel dependen

Variabel dependen dari penelitian ini adalah “pemahaman gaib berdasarkan ajaran agama”. Setiap agama tentu telah mengajarkan ajaran mengenai gaib itu sendiri.

 Pemahaman : berasal dari kata paham yang memiliki pengertian sesuatu hal

yang kita pahami dan kita mengerti dengan benar. Pemahaman mencakup kemampuan untuk dapat menangkap makna dan arti dai bahan yang dipelajari.

(40)

 Gaib : sesuatu yang tersembunyi, tidak kelihatan, abstrak, lenyap dan tidak diketahui sebab-sebabnya.

 Ajaran agama Kristen : segala sesuatu yang diajarkan didalam agama Kristen.

 Jadi, pemahaman tentang gaib sesuai ajaran agama Kristen adalah

kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari segala sesuatu yang diajarkan dalam agama Kristen tentang gaib.

2. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati. Pada penelitian ini definisi operasionalnya dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Variabel independen

Pada penelitian ini variabel independennya adalah terpaan tayangan video blog (Vlog) bertema mistik pada YouTube channel “Jurnalrisa”. Kegiatan ini adalah kegiatan menonton dan mengamati tayangan yang diunggah pada YouTube channel “Jurnalrisa”. Tayangan Vlog jurnalrisa sendiri diunggah rata- rata seminggu satu kali dengan durasi rata-rata setiap episode/video yang diungga adalah 40-60 menit.

(41)

Tabel 2.2 Operasionalisasi Variabel Independen

Variabel Definisi Indikator Skala

Skala Interval Pengaruh terpaan

tayangan bertema mistis pada YouTube channel

“Jurnalrisa”

Terpaan didefinisikan sebagai keadaan dimana khalayak terkena pengaruh dari pesan- pesan yang disebarkan oleh suatu media

Frekuensi

- Berapa kali menonton tayangan vlog dalam satu bulan

- Perencanaan waktu untuk menonton

Durasi

Berapa lama menonton

tayangan vlog

“Jurnalrisa”

Atensi

ii. Perhatian terhadap tayangan vlog iii. Ketertarikan

terhadap tayangan

Antusiasme dan Daya Tarik terhadap Tayangan

(42)

i. Selalu ingin mengetahui update terbaru dari tayangan ii. Mengulang episode

dalam “Jurnalrisa”

iii. Kemudahan dalam memahami isi pesan tayangan vlog

iv. Kepercayaan

terhadap isi pesan tayangan vlog

Untuk setiap jawaban digunakan skala interval dan diberi nilai sesuai dengan klasifikasi sebagai berikut :

 Tinggi, nilai 3

 Sedang, nilai 2

 Rendah, nilai 1

Kemudian untuk dapat melihat tinggi rendahnya pengaruh terpaan tayangan video blog bertema mistik pada YouTube channel “Jurnalrisa”, maka

(43)

pertanyaan nomer 1 sampai dengan nomor 5 dirangking. Rumus untuk mencari kelas interval yaitu :

𝑖 =𝑅 𝑛

R= nilai tertinggi-nilai terendah

Keterangan :

i = interval, jarak antar kelas

n = jumlah kelas

R = Range

(44)

b. Variabel dependen : Pemahaman mengenai gaib menurut ajaran agama

Tabel 2.3 Operasionalisasi Variabel Dependen

Variabel Definisi Indikator Skala

Pemahaman gaib menurut ajaran agama (Y)

Kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari gaib

1. Pemahaman konten tayangan Jurnalrisa yang berkaitan dengan Gaib

 Konten tayangan

“Jurnalrisa”

menggambarkan tentang roh jahat dan roh baik.

 Dalam tayangan

“Jurnalrisa”, hal gaib digambarkan sebagai makhluk halus

Skala Likert

(45)

2. Pemahaman Gaib berdasarkan ayat Alkitab

 Setelah menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”, saya menganggap roh orang yang meninggal bisa menjadi makhluk halus dan bergentayangan.

(Pengkotbah 9:5)

 Setelah menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”, saya menjadi takut untuk berada di tempat-tempat tertentu. (1 Yohanes 4:4 dan Bilangan 23:23)

 Setelah menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”, saya takut saat malam hari karena makhluk halus bisa menampakan diri pada malam hari. (1 Yohanes 4:4 dan Bilangan 23:23)

(46)

 Manusia boleh dan bisa

saja berbicara dengan makhluk gaib. (Imamat 17:7)

 Makhluk gaib bisa masuk

dan keluar dengan mudah dari tubuh manusia (fenomena kerasukan) (Markus 5 :15)

 Setelah menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”, saya percaya manusia bisa dan diperbolehkan untuk memiliki teman gaib atau bergaul dengan makhluk halus. (Imamat 17:7, 1 Samuel 16:14-16)

 Setelah menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”, saya percaya akan adanya kemampuan supranatural.

 Setelah menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”,

(47)

saya percaya bahwa ada dan diperbolehkan untuk melakukan ritual-ritual untuk hal gaib, misal : jin.

 Setelah menyaksikan tayangan “Jurnalrisa”, saya beranggapan bahwa boleh saja kita melakukan uji nyali/mencari arwah- arwah/makhluk halus.

(Imamat 19:31)

Untuk mengetahui variabel ini, akan diajukan beberapa pertanyaan menggunakan skala likert yang akan menguji pemahaman mengenai gaib menurut ajaran agama dan perubahan pemahaman mengenai gaib setelah menonton tayangan vlog bertema mistik dalam YouTube “Jurnalrisa”. Setelah data diperoleh, nilai jawaban responden kemudian di rangking dan dikelompokan ke dalam kategori berdasarkan interval nilai yang diperoleh menggunakan rumus :

𝑖 =𝑅 𝑛

R= nilai tertinggi-nilai terendah

(48)

Keterangan :

i = interval, jarak antar kelas

n = jumlah kelas

R = Range

Referensi

Dokumen terkait

29. Pada kegiatan kedua, kami diajak Ibu Gilang untuk mengunjungi berbagai divisi dan ruangan yang ada di stasiun radio tersebut, yakni dari studio, dapur rekaman,

Populasi dalam penelitian ini adalah para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), dan yang menjadi sampel adalah seluruh mahasiswa dari program studi

sikap apatis siswa dapat tereduksi dengan baik, pada saat inilah reactive teaching perlu diterapkan. Ada empat ciri guru yang reaktif : 1) guru menjadikan siswa

Metode observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. 9 Manfaatnya akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, akan dapat diperoleh

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen

Karya Tulis Ilmiah ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN TRIMESTER III, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN MASA ANTARA (KB SUNTIK 3 BULAN) PADA NY.. D, UMUR

[r]

lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada