• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENJADI PENDIDIK PROFESIONAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENJADI PENDIDIK PROFESIONAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MENJADI PENDIDIK PROFESIONAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Dr. Siti Sarah, S.Pd.Si., M.Pd.

Dr. Tuti Marjan Fuadi, S.Pd., M.Pd.

Dr. Soka Hadiati, M.Pd., M.Si.

Dr. Dian Aswita, S.Pd., M.Pd.

Syifa Saputra, M.Pd.

Editor:

Fadhillah, S.T., S.Pd.I., M.Pd.

Penerbit K-Media Yogyakarta, 2021

(3)

Copyright © 2021 by Penerbit K-Media All rights reserved

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang No 19 Tahun 2002.

Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektris maupun mekanis, termasuk memfotocopy, merekam atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa

izin tertulis dari Penulis dan Penerbit.

Isi di luar tanggung jawab percetakan

Penerbit K-Media Anggota IKAPI No.106/DIY/2018 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

e-mail: [email protected]

MENJADI PENDIDIK PROFESIONAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

x + 115 hlm.; 15,5 x 23 cm

ISBN: 978-623-316-490-0

Penulis : Siti Sarah,...[et al.]

Editor : Fadhillah, S.T., S.Pd.I., M.Pd.

Tata Letak : Dr. Dian Aswita, S.Pd., M.Pd.

Desain Sampul : Nur Huda A.

Cetakan 1 : Oktober 2021

(4)

PROLOG

PENDIDIK PROFESIONAL:

PENENTUAN PERADABAN MASA DEPAN Prof. Dr. Fauzi, M.Ag.

Guru Besar Ilmu Pendidikan

Wakil Rektor I UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Berbicara pendidikan tentu tidak bisa dilepaskan dari unsur manusiawi yang menjadi penentu eksistensi proses pendidikan. Unsur manusiawi tersebut tidak lain adalah pendidik. Dalam konteks proses dan praktek pendidikan, pendidik menjadi elemen vital bagi tercapainya kualitas pendidikan. Pendidik akan menentukan arah dan target proses sekaligus output dan outcome dari seluruh layanan pendidikan yang ada.

Aktivitas pendidikan menuntut adanya pendidik yang memiliki kompetensi memadai agar bisa menghadirkan mutu pendidikan. Diantara parameter kualitas pendidikan adalah lahirnya generasi yang betul-betul unggul, memiliki kepribadian, akhlak mulia, cakap, terampil dan mampu eksis, serta survive di tengah-tengah perubahan. Dunia terus berubah, dinamika kehidupan mengalami perubahan yang luar biasa karenanya menuntut hadirnya pendidik yang dapat menjalankan tugas dalam rangka melaksanakan target pendidikan bagi lahirnya generasi masa depan yang tangguh dan dapat eksis dalam kehidupan.

Kehadiran pendidik yang memiliki keahlian, kecakapan, dan integritas yang unggul akan menjadi penentu bagi kokohnya bangunan mutu pendidikan di era revolusi industri ini. Revolusi industri 4.0 dengan berbagai capaian dan tantangan yang ada menuntut hadirnya pendidik yang memiliki kecakapan dan keahlian memainkan peran-peran strategis dalam rangka mewujudkan layanan pendidikan sesuai dengan dinamika perubahan yang sangat cepat dan seringkali tak menentu.

(5)

Kecepatan kemajuan teknologi informasi menuntut hadirnya para pendidik yang dapat secara cerdas, kreatif, cermat, dan bijaksana di dalam melaksanakan tugasnya dengan sikap progresif dan proaktif sehingga mampu menjawab tuntutan problem hari ini serta dapat memprediksi perubahan- perubahan di masa depan. Hadirnya pendidik profesional mutlak adanya, dari pendidik profesional inilah pendidikan di masa depan akan dapat di desain, dirancang bagi lahirnya generasi masa depan yang terus akan berdialektika dengan perubahan zaman yang terus berubah. Saat ini dunia telah memasuki apa yang disebut dengan society 5.0, era dimana segalanya harus serba cepat dan tepat, super smart society, masyarakat yang super cerdas dengan perangkat-perangkat teknologi informasi yang sangat canggih. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi salah satu penanda kemajuan yang sedang bergerak hari ini.

Pendidik profesional di era society 5.0 harus memiliki empat kecakapan dasar sebagaimana visi pendidikan di era abad 21. Pertama, pendidik profesional harus memiliki kecakapan berfikir kritis dan problem solving. Secara personal pendidik harus memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menemukan nilai baru, mengatasi masalah secara tepat. Pendidik harus kritis terhadap persoalan, tanggap terhadap persoalan, serta mampu menawarkan gagasan-gagasan orisinil, gagasan genuine bagi solusi masalah yang dihadapi oleh umat manusia. Kedua, kecakapan komunikasi. Pendidik profesional di era revolusi industri harus memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Komunikasi kemanusiaan baik dalam tataran lokal, nasional, maupun dalam tataran global. Penguasaan bahasa internasional menjadi niscaya untuk dimiliki oleh pendidik di era revolusi industri. Kemampuan komunikasi juga mensyaratkan adanya penguasaan media sekaligus kemampuan mengkomunikasikan gagasan-gagasannya kepada dunia. Ketiga, kecakapan kolaboratif. Keberadaan pendidik profesional tidak akan berhasil tanpa adanya kolaborasi dengan sumber daya manusia yang lain. Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh kesiapannya untuk saling bersinergi membangun kolaborasi, membangun kekuatan bersama agar masing-masing

(6)

keunggulan bisa menyatu menjadi gerakan besar bagi perubahan dunia pendidikan. Keempat, kreativitas dan inovasi. Pendidik profesional harus kreatif, harus inovatif, dapat melahirkan karya-karya baru, temuan-temuan baru, inovasi baru, bahkan gebrakan baru. Untuk melakukan perubahan di dunia ini dibutuhkan temuan-temuan penting.

Oleh karena itu kemampuan riset, pengembangan model- model pembelajaran, temuan-temuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kerja-kerja seorang pendidik. Apa yang ditemukan melalui kerja inovatif dan kreativitas itulah yang pada akhirnya akan menjadi sumber belajar, sumber aktivitas pendidikan yang dilakukannya.

Dengan kemampuan, kreativitas, dan inovasinya akan memberikan inspirasi bagi peserta didiknya untuk terus berkarya sebagaimana spirit yang digagas dan dikembangkan oleh para pendidiknya.

Pendidikan hari ini akan menjadi penentu kehidupan masa depan. Begitupun peran dan kinerja pendidikan hari ini akan menjadi penentu bagi lahirnya generasi masa depan. Dari generasi-generasi unggul inilah peradaban masa depan akan di tentukan. Dari manakah menyiapkan masa depan? Tentu jawabannya dari pendidikan hari ini. Siapakah penentunya?

Tentu jawabannya adalah pendidik-pendidik yang bertugas pada saat ini. Estafet kehidupan akan terus berjalan, dengan karya nyata para pendidik.

Book chapter ini merupakan salah satu buku referensi mengenai bagaimana menjadi pendidik professional di era RI 4.0. Semoga buku ini dapat menjadi sumber bacaan yang bermanfaat bagi para pendidik dan calon pendidik di masa mendatang. Akhir kata, semoga buku ini dapat memacu para penulis maupun pembaca untuk terus berkarya dan memperkaya diri dengan berbagai ilmu pengetahuan melalui bahan bacaan.

Semoga Allah SWT selalu merahmati dan meridhoinya.

Purwokerto, Oktober 2021

(7)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan buku ”Menjadi Pendidik Profesional di Era Revolusi Industri 4.0”.

Book chapter ini merupakan buku kolaborasi yang dituliskan oleh beberapa dosen dari berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, yaitu dari Universitas Serambi Mekkah Aceh, IKIP PGRI Pontianak, Universitas Al Muslim Aceh, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dan Universitas Abulyatama Aceh.

Adapun book chapter ini tidak akan selesai tanpa bantuan, diskusi dan dorongan serta motivasi dari beberapa pihak, walaupun tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.

Akhirnya, penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Dengan demikian, para penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan serta perkembangan lebih lanjut pada book chapter ini.

Wassalamu’alaikumsalam, Wr.Wb.

Tim Penulis

(8)

DAFTAR ISI

PROLOG ... iii

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PROFESIONALISME PENDIDIK ... 1

A. Pendahuluan ... 1

B. Pengertian, Prinsip-prinsip, Unsur Profesionalisme Pendidik ... 4

a. Pengertian ... 4

b. Unsur-unsur profesionalisme ... 5

C. Strategi Pengembangan Profesionalisme ... 6

a. Merencanakan dan menentukan kebutuhan pendidik ... 7

b. Pembinaan dalam pengembangan profesionalisme pendidik ... 8

c. Aktivitas dan efektivitas pengembangan profesionalisme ... 9

d. Profesionalisme dalam perbaikan mutu pembelajaran ... 12

D. Konsep Profesionalisme Pendidik ... 15

a. Profesionalisme berbasis sistem ... 17

b. Profesionalisme berbasis kreatifitas ... 20

BAB II PENDIDIK PROFESIONAL: KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI DI ERA 4.0 ... 27

A. Pendahuluan ... 28

B. Pengertian Pendidik Profesional ... 31

C. Era Revolusi Industri 4.0 ... 32

(9)

E. Kompetensi Pendidik Profesional di Era 4.0 ... 39

F. Penutup ... 46

BAB III KARAKTERISTIK PENDIDIK PROFESIONAL ... 48

A. Karakteristik Kepribadian ... 48

B. Karakteristik Pengetahuan, Pemahaman dan Keterampilan Pedagogik ... 53

1. Teaching & Learning ... 54

2. Mata Pelajaran dan Kurikulum ... 58

3. Assessment, Monitoring, dan Memberi Umpan Balik ... 60

4. Kerja Tim, Kolaborasi, & Komunitas Profesional ... 61

BAB IV KOMPONEN-KOMPONEN PENDIDIK PROFESIONAL ... 65

A. Content Knowledge (CK) ... 68

B. Pedagogical Knowledge (PK) ... 68

C. Technological Pedagogical Knowledge (PCK) ... 70

D. Technological Knowledge (TK) ... 72

E. Technological Content Knowledge (TCK) ... 73

F. Technological Pedagogical Knowledge (TPK) ... 73

G. Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) ... 74

BAB V PENINGKATAN KREATIVITAS PENDIDIK PROFESIONAL DALAM PEMBELAJARAN .... 80

A. Pendahuluan ... 80

B. Peningkatan Kreativitas Pendidik Profesional dalam Pembelajaran Abad 21 ... 83

(10)

C. Peningkatkan Kreativitas Pendidik dalam

Pembelajaran sesuai Kerangka TPACK ... 90

1. Penguasaan Pengetahuan Terkait Materi, Pedagogik, dan Teknologi ... 90

2. Pengintegrasian Teknologi dalam Pembelajaran Berdasarkan Kerangka TPACK ... 92

3. Pembelajaran Berbasis Riset ... 95

4. Publikasi ilmiah ... 96

DAFTAR PUSTAKA ... 99

INDEKS ... 109

PROFIL PENULIS ... 112

PROFIL EDITOR ... 115

(11)
(12)

BAB I

PROFESIONALISME PENDIDIK

A. Pendahuluan

Pendidikan di Indonesia banyak mengalami permasalahan, khususnya terkait dengan mutu dan manajemen pendidikan, mengingat negari ini begitu luas ditambah lagi jumlah penduduk yang padat. Pendidik adalah figur sentral pada penyelenggaraan pembelajaran, karena pendidik merupakan wujud yang sangat diharapkan untuk memacu keberhasilan anak didik (Sopian, 2016). Jika kurikulum telah dirancang, jika pendidik sebagai pelaksana kurikulum tidak dapat menerapkannya secara profesional, maka tidak akan terlaksana dengan baik, dan terwujudnya tujuan pendidikan yang bermutu ada di tangan pendidik.

Keberhasilan mutu peserta didik di sekolah dan lembaga pendidikan tinggi tentunya sangat bergantung dalam melaksanakan pendidikan, sebagai faktor kunci dalam mengupayakan peningkatan mutu pendidikan.

Peran pendidik berada pada posisi strategis yang sangat penting bagi setiap orang. Arah upaya reformasi pendidikan adalah tercapainya kualitas peserta didik dan lembaga pendidikan.

(13)

Melihat kehidupan saat ini, dunia pendidikan perlu mengambil berbagai langkah untuk memprediksi kemunduran pendidikan. Kemunduran ini telah membawa salah satunya pada tema pendidikan itu sendiri, yaitu manusia dapat disebut pendidik dalam bahasa pendidikan. Pendidik adalah titik sentral, karena pendidik adalah manusia instruktur, pembimbing dan pendidik yang memberikan segala macam ilmu untuk generasi mendatang, mereka membuat hidup lebih baik.

Profesionalisme pendidik adalah bagian terpenting dari dunia pendidikan, dan aspek profesional pendidik akan dipahami. Dengan demikian, perkembangan dunia pendidikan dapat mengatasi segala tantangan yang ada.

Tantangan internal disebabkan kurangnya pemahaman tentang aspek profesional pendidik dan tantangan eksternal, yaitu pembentukan dampak negatif yang kuat pada pengembangan tujuan pendidikan dan penekanan pada budaya modern, menyebabkan ketidakmampuan dan kurangnya prinsip untuk pendidik di dunia pendidikan.

Begitu pentingnya profesionalisme dalam pendidikan, perlu ada penataan dan konsep, dan perjuangan dari berbagai pihak, baik orang tua dan pendidik (Putri & Nugroho, 2016).

Profesionalisme pendidik maksudnya adalah skala ukuran yang berupa suatu penilaian, tujuan, dan mutu sesuatu

(14)

keterampilan yang bertanggungawab terhadap kewenangan di bidang yang sesuai dengan kemampuan ataupun bidang seseorang (Nurzaman et al., 2019). Profesionalisme memilki 2 kriteria utama, yaitu antara tuntutan hidup serta keahlian.

Islam menandakan wacana profesi atau pekerjaan semua itu wajib dilakukan menggunakan niat lapang dada. Pendidik yang profesional ialah pendidik yang mempunyai kemampuan untuk melakukan tugas proses mengajar.

Dimana profesional pendidik merupakan seseorang yang mempunyai kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang kependidikan (Mu`ammaroh, 2014; Sopian, 2016). Pendidik profesional harus mempunyai kapasitas keilmuan yang tinggi, sesuai dengan kemampuan akademik dan non akademik.

Menjadi pendidik yang profesional merupakan bukanlah sebuah profesi yang praktis, tapi harus memiliki keinginan, keahlian dan keterampilan.

Di saat tuntutan zaman semakin berat, tuntutan profesionalisme dalam bekerja menjadi sebuah keniscayaan.

Keterampilan dan perilaku profesional yang mampu dan setia mengembangkan serta mengabdikan profesinya. Maka seorang pendidik dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan secara disipliner, maupun dalam meningkatkan kualitas yang interdisipliner (Susanto, 2020), sehingga mampu melahirkan anak didik yang mempunyai wawasan

(15)

pengetahuan yang luas dan pola disiplin hidup yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

B. Pengertian, Prinsip-prinsip, Unsur Profesionalisme Pendidik

a. Pengertian

Pendidik ialah semua orang yang berwenang dan bertanggungjawab dalam pembinaan dan pendampingan, baik yang dilakukan secara individual juga klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Seluruh kegiatan aktivitas yang dijalankan oleh pendidik wajib memfokuskan diri untuk anak didiknya, dalam pengembangan bakat, minat, dan kemampuan- kemampuan lain sehingga mampu berkembang ke arah yang baik.

Dalam menjalankan tugas, pendidik harus mampu untuk menciptakan suatu lingkungan pendidikan menjadi wahana yang edukatif, sehingga logika serta kecerdasan murid dapat difungsikan dan dikembangkan. Tugas pendidik bukan bagian dari sebuah profesi, namun juga menjadi suatu tugas humanisme serta kemasyarakatan artinya menjadi penghubung antara sekolah dengan masyarakat (Roqib

(16)

& Nurfuadi, 2020). Pendidik dalam mendidik bertugas untuk:

1) Menciptakan individu anak yang harmonis, sinkron pancasila;

2) mempersiapkan anak didik sebagai masyarakat yang baik.

3) sebagai bagian dari mediator dalam belajar;

4) pendidik adalah pembimbing dan perentara antara sekolah dan warga ;

5) penegak kedisiplinan, administrator, dan model dalam melayani siswa pada segala hal;

6) pendidik merupakan perencana dalam pengembangan kurikulum serta pemimpin (guidance worker) dalam berbagai kegiatan siswa;

Dengan melihat poin-poin di atas, profesi pendidik harus benar-benar berdasarkan panggilan hati nurani, sehingga dapat melaksanakan tugas dengan ikhlas. Selain itu pendidik harus mendapatkan haknya sesuai tanggungjawab yang dimiliki dan patut diperjuangkan dengan upah yang maksimal.

b. Unsur-unsur profesionalisme

Unsu-unsur prefosialisme pelaksanaan usaha pengembangan profesionalitas pendidik di suatu

(17)

lembaga pendidikan, akan ditemukan beberapa faktor pendukung, diantaranya:

1) memiliki kerjasama antar instansi terkait;

2) memiliki semangat dan loyalitas yang tinggi dalam mengembangkan tugasnya;

3) menerima setiap masukan dan saran yang diberikan oleh para supervisor dan pihak lain;

4) berbagi kualitas keprofesionalannya yang mana hal ini adalah hal yang sangat baik bagi dirinya atau sekolah tempat pendidik tadi mengajar.

Dengan adanya progam pengembangan profesionalisme pendidik, peran para Pendidik disuatu lembaga pendidikan, lebih efektif dan efesien untuk menjalankan tugasnya dan bisa membawa perubahan pada anak didiknya sebagai bagian dari tujuan pendidikan yang dibutuhkan.

C. Strategi Pengembangan Profesionalisme

Strategi pengembangan profesional pendidik perlu segera dilaksanakan dalam pengelolaan tenaga kependidikan.

Karena pengembangan profesional pendidik akan mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi peningkatan mutu Pendidikan (Roqib & Nurfuadi, 2020). Peran pendidik dalam keseluruhan rencana pengembangan pendidikan dapat

(18)

diwujudkan dengan menumbuhkembangkan inovasi dan kreativitas peserta didik. Oleh karena itu, dalam melatih kualitas profesional pendidik, lembaga pendidikan harus mengikuti beberapa langkah pengembangan.

a. Merencanakan dan menentukan kebutuhan pendidik Perencanaan kebutuhan tenaga pendidik merupakan langkah awal dalam tahap pengelolaan tenaga pendidik. Oleh karena itu perlu dilakukan rekrutmen tenaga pendidik dengan menganalisis kebutuhan untuk menentukan formasi pegawai (kebutuhan tenaga pendidik) (Putri & Nugroho, 2016).

Tiga hal diperlukan untuk menentukan kebutuhan pegawai, yaitu:

1) Jumlah dan kriteria pegawai yang ada dapat diketahui dari daftar pegawai yang ada;

2) Beban kerja yang ada dan tugas atau unit yang menjalankan misi lembaga pendidikan;

3) Kemampuan karyawan untuk bekerja dapat diketahui dengan memperkirakan kemampuan karyawan untuk menyelesaikan tugas tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Jika diketahui beban kerja dan kemampuan kerja pendidik secara keseluruhan, maka dapat dihitung jumlah dan jenis pegawai yang dibutuhkan untuk

(19)

melaksanakan tugas tersebut, sehingga organisasi/lembaga dapat menentukan jumlah dan kriteria pegawai yang dibutuhkan (Masram & Mu`ah, 2015; Rakhmawanto, 2018).

Suatu perencanaan akan mudah bagi institusi pendidikan dalam peningkatan kualitas, baik itu kualitas institusi maupun kualitas tenaga pendidik yang berimplikasi pada anak didik, sehingga mampu diyakini dapat memberikan kontribusi secara nyata dalam dunia pendidikan (Lailatussa`adah, 2015).

b. Pembinaan dalam pengembangan profesionalisme pendidik

Pembinaan dan pengembangan dapat meningkatkan kualitas dan layanan, untuk memenuhi kualifikasi, menjadi lembaga yang terakreditasi (Nurfuadi, 2019). Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan profesionalisme pendidik, yaitu:

1) kecakapan pendidik, yaitu kecakapan komunikasi secara pribadi;

2) kemampuan akal budi manusia mempertanyakan, mengubah, dan mengembangkan unsur-unsur budayanya, salah satunya dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang semakin maju;

(20)

3) standarisasi kependidikan dan penerapannya yang mengalami perkembangan dari waktu kewaktu;

4) pergeseran pola interaksi pendidik dan peserta didik yang selaras dengan taraf kematangan dan perkembangan pola pikir peserta didik;

5) pendidikan yang merupakan tujuan ultimate goal bagi siswa merupakan tolak ukur dalam refleksi serta realisasi nilai-nilai hidup bagi pendidik atau tenaga pendidik tersebut.

Secara umum dalam aktivitas pengembangan profesionalitas terus dibina, dengan membentuk struktur organisasi yang khusus menangani pengembangan profesionalisme pendidik (Jannah, 2017; Tambusai & Umami, 2018).

c. Aktivitas dan efektivitas pengembangan profesionalisme

Aktivitas pengembangan profesionalisme pendidik bisa dilakukan melalui upaya:

1) Pembinaan profesi

Urusan pembinaan profesi di lembaga pendidikan, mempunyai perencanaan dan progam kerja kedepan, yang merupakan titik tolak bagi pelaksanaan pengembangan profesionalisme pendidik (Putri &

Nugroho, 2016; Susanto, 2020). Dengan rencana

(21)

tersebut maka landasan untuk mengadakan penilaian dikemudian hari bisa diukur melalui tingkat efektifitasnya dan efesiensinya yang terbagi menjadi dua progam yaitu:

a) Progam jangka pendek, yaitu terwujudnya perangkat kinerja pendidik dan peningkatan perangkat kinerja pendidik, sedangkan yang dimaksud perangkat kinerja pendidik adalah buku kerja pendidik I yang berisi (Kurikulum Pendidikan, silabus RPP), dan buku kerja pendidik II berisi (kalender pendidikan, progam tahunan, progam semester, progam harian), dan buku kerja pendidik III, misalnya (absensi kehadiran siswa, soal ulangan harian, daftar nilai, analisis hasil ujian, daftar pegangan pendidik). Adapun yang dimaksud dengan peningkatan kinerja pendidik adalah melalui pelatihan-pelatihan atau penataran, misalnya: pelatihan khusus desain pembelajaran, kemahiran berbahasa, pelatihan pembelajaran multmedia dan lain sebagainya.

b) Progam Jangka Panjang: yaitu rencana yang ingin dicapai oleh Lembaga pendidikan untuk jangka panjang dan membutuhkan waktu yang

(22)

lama, akan tetapi pada pelaksanaannya sudah dimulai dari sekarang. Adapun progamnya adalah:

 aplikasi komputer atau kemampuan operasional komputer bagi para pendidik- pendidik dan kepemilikannya;

 kursus Bahasa Asing;

 studi banding;

 achievement motivation training atau disingkat menjadi AMT;

 menjadikan pendidik menjadi seorang TOT melalui pelatihan AMT yang pernah dipelajarinya yaitu training of trainers;

 mensituasikan pola pembelajaran aktif kerja kelompok;

 pembentukan kelompok studi atau team work.

2) Melalui tugas belajar

Dalam upaya pengembangan profesional para pendidik, institusi pendidikan harus selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan melalui tugas belajar (in-service education) dilakukan dengan memberi keringanan

(23)

beban tugas mengajar bagi pendidik ketika sedang studi lanjut.

d. Profesionalisme dalam perbaikan mutu pembelajaran Dalam meningkatkan profesionalisme pendidik dalam memperbaiki mutu pembelajaran di lembaga pendidikan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu:

1) diharuskannya siswa dan pendidik memiliki akses terhadap teknologi, informasi dan komunikasi di kelas, dan sekolah pada umumnya;

2) menyediakan materi terbaru pada setiap pertemuan;

3) mewajibkan pendidik untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan media-media informasi untuk membantu siswa agar tercapai standar akademik yang bermutu. Dengan demikian berkembangnya Teknologi Informasi secara cepat, telah terjadi pergeseran arah pandang tentang proses pembalajaran baik di kelas maupun daring (Andriani, 2015).

Sejalan dengan perkembangan Teknologi Informasi telah terjadi perubahan pandangan mengenai

(24)

pembelajaran, adapun perubahan itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) peran pendidik telah berubah dari:

 sebagai sumber ilmu pengetahuan, sumber utama informasi, ahli dalam penguasaan materi, dan sumber segala jawaban, menjadi fasilitator, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra dalam belajar,

 sebagai pengendali dan pengarah dalam pembelajaran, menjadi pemberi solusi alternatif dan penanggungjawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran;

2) peran siswa telah berubah dari:

 penerima informasi menjadi partisipan yang aktif,

 mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan,

 pembelajaran sebagai suatu aktivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran kolaboratif dengan anak didik lainnya.

 pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada pendidik telah bergesar menjadi berpusat pada anak didik.

(25)

Siswa memerlukan bimbingan baik dari pendidik maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan Teknologi Informasi.

Pendidik memegang peran penting dan mampu menguasai seluk beluk Teknologi Informasi serta mempunyai kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak didik secara efektif (Andriani, 2015). Peran pendidik sebagai sumber pemberi informasi harus berubah menjadi manajer pembelajaran dengan berbagai peran-peran tertentu, karena pendidik bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya bagian dari sumber informasi (Wijaya et al., 2016).

Siswa-siswa dalam pembelajaran tradisional dipandang sebagai “kertas kosong” yang dapat digoresi informasi oleh pendidik yang menggunakan metode didaktik dalam menyampaikan informasi kepada siswanya (Putri & Nugroho, 2016). Namun, dalam pembelajaran era teknologi, siswa dipandang sebagai siswa yang mampu berpikir kritis dan dapat memunculkan berbagai hasil temuan.

Dalam peningkatan mutu pendidikan, pendidik berada pada posisi yang sangat strategis bagi upaya reformasi pendidikan dan berorientasi pada pencapaian kualitas anak didik dan lembaga pendidikan. Upaya

(26)

yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam sebuah institusi pendidikan menjadi tidak berarti jika tidak disertai oleh adanya pendidik yang professional (Mukhid, 2007). Dengan demikian, profesional seorang pendidik dapat diukur dari sisi aktifitas kreativitas dan pengembangan terhadap mutu pendidikan (Wijaya et al., 2016). Seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk mampu meningkatkan kemampuan secara disipliner, tetapi juga mempunyai kualitas yang interdisipliner. Contohnya adalah peningkatan keahlian di luar bidang keahlian yang dimiliki, dan mendapatkan pengakuan dalam bentuk sertifikat kompetensi.

D. Konsep Profesionalisme Pendidik

Kecakapan mendidik amat diperlukan agar tujuan pendidikan dapat dicapai semaksimal mungkin. Ini berarti kinerja pendidik harus mampu bekerja secara profesional.

Profesi merupakan suatu pernyataan bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada pekerjaan yang merasa terpanggil untuk menjadi pendidik.

Dalam profesi pendidik setidaknya ada beberapa ciri- ciri khusus bagi seseorang tatkala seorang pendidik itu ingin

(27)

berkarir secara profesional dan ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:

1) memiliki fungsi dan peran sosial;

2) memiliki keahlian dan ketrampilan yang diperoleh dengan penggunaan teori dan metode ilmiah;

3) didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas ketika diperoleh saat masa pendidikan;

4) aplikasi dan sosialisasi terhadap nilai-nilai profesional serta memiliki kode etik yang baik;

5) kebebasan untuk memberikan judgement terhadap pemecahan masalah dalam lingkup aktivitas kerjanya;

6) memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi;

7) ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya

Mengingat besarnya peran pendidik terhadap perkembangan anak, maka pendidik dituntut untuk lebih kompeten dalam profesinya, dilihat dari syarat administratif yang dimilikinya apakah sudah sesuai dengan kriteria yang diinginkan, mulai dari segi latar belakang pendidikan formal pendidik, jenjang pendidikan harus strata satu, berasal dari fakultas kependidikan, memberikan subsidi bagi pendidik yang akan melanjutkan studinya (Mukhid, 2007). Dengan bertambahnya jenjang pendidikan para pendidik, maka kinerja para pendidik akan meningkat. Selain itu

(28)

pembelajaran di lembaga pendidikan akan berjalan lebih efektif dan tujuan lembaga pendidikan akan mudah tercapai, hal itu tak menyurutkan motif utama bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang mulia.

a. Profesionalisme berbasis sistem

Dunia pendidikan kita pernah mengenal konsep altruistik yang menyebut pendidik adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Konsep ini menggambarkan bahwa pendidik merupakan sosok yang bekerja untuk dunia pendidikan dengan ikhlas atau tanpa pamrih.

Mendidik adalah pekerjaan mulia yang senantiasa memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Menjadi pendidik tidaklah bermotifkan materi, tetapi keutamaan moral, yaitu bagaimana mencerdaskan peserta didik (Santosa, 2010).

Sekalipun dikemudian hari sang perserta didik akan melupakan sang pendidik atau pekerjaan tersebut tak menjadikan seorang pendidik menjadi kaya atau berkecukupan.

Konsep tersebut memang penuh dengan kebaikan dan keutamaan. Namun, seiring perubahan dinamika dan tuntutan waktu, konsep itu tak lagi dipandang cukup untuk dijadikan topangan bagi dunia pendidikan. Konsep altruisme kemudian direvisi

(29)

menjadi konsep profesionalisme. Revisi atas konsep tersebut sejatinya tidak dimaksudkan untuk merevisi nilai keutamaan pengorbanan dan kemuliaan proses pendidikan. Konsep altruistik pendidik sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dilihat mengandung kelemahan tidak hanya secara ekonomis, di mana seorang pendidik tidak memperoleh imbalan yang layak dari pekerjaannya, tetapi juga lemah di dalam standardisasi dan sistem (Santosa, 2010). Konsep pahlawan tanpa tanda jasa menyulitkan adanya standar kualifikasi dan kompetensi bagi pendidik dan kependidikan. Secara sistem, konsep tersebut juga menempatkan aktor pendidikan terbatas pada person atau pribadi, tetapi tidak pada struktur atau sistem.

Konsep profesionalisme yang sedang diterapkan melalui beberapa kebijakan pemerintah bisa dibaca sebagai upaya untuk keluar dari jalan buntu konsep lama di dalam memperbaiki kualitas pendidikan.

Namun demikian, menurut penulis, pemerintah relatif baru menekankan pada aspek (1) imbalan kerja dan (2) standarisasi kompetensi. Sementara masih ada satu hal yang penting dan masih tampak terabaikan, yaitu (3) sistem. Sementara itu indikator yang menunjukkan pemerintah sangat menekankan dimensi ke dua, yaitu

(30)

kualifikasi dan kompetensi juga sangat jelas (Lailatussa`adah, 2015). Pendekatan sistem ini juga menghargai bahwa setiap pelaku pendidikan memiliki andil yang setara di dalam setiap proses. Dalam konteks ini, pelaku utama pendidikan tidak lagi terletak pada pribadi seorang pendidik, tetapi juga unsur lain yang sering dilupakan, yaitu tenaga pendidikan.

Bila dianalogikan ke dalam dunia medis, misalnya, maka pelaku utama bukan hanya dokter, tetapi di sana juga ada apoteker, perawat, logistik, bagian informasi, keamanan, petugas kebersihan dan lain-lain. Semua unsur ini berpengaruh pada kualitas layanan terhadap pasien. Dokter yang berkualitas dan profesional tidak akan bisa bekerja dengan baik tanpa adanya profesioanalisme dan kerjasama dari unsur para medis atau tenaga medis lain. Dengan demikian, sistem pendidikan juga tidak hanya terdiri dari pendidik, tetapi di sana juga ada konselor, pustakawan, laboran, penjaga sekolah, petugas kebersihan, dan sebagainya. Dalam konteks inilah seharusnya bisa ditangkap semangat kerjasama atau kolaborasi berbagai unsur di dalam sistem pendidikan dalam kerangka-profesionalisme.

(31)

Beberapa fenomena tersebut tentu saja mengabaikan arti penting untuk menempatkan profesionalisme di dalam kerangka sistem.

Profesionalisme masih dominan berbasis personal.

Padahal menempatkan praksis pendidikan pada personal hanya akan menciptakan praksis pendidikan yang rapuh. Yang hebat adalah personalnya yaitu pendidik, tetapi bukan sistemnya, yaitu seluruh komponen pendidik dan tenaga kependidikan.

Profesionalisme berbasis sistem mengandaikan pendidikan bekerja berdasarkan proses kerjasama dan saling melayani di antara berbagai unsur di dalam pendidikan dalam rangka mencapai tujuan.

Profesionalisme berbasis sistem tidak menempatkan salah satu unsur lebih pahlawan dibanding yang lain.

b. Profesionalisme berbasis kreatifitas

Kecenderungan kedua yang nampak dari fenomena senifikasi yang sedang berlangsung sekarang bagi pendidik adalah fenomena mekanistis.

Fenomena ini ditandai dengan sebatas memenuhi syarat-syarat yang lebih bersifat formal seperti sertifikat, piagam, surat keterangan dan sebagainya.

Ada kesan persoalan profesionalisme menjadi berhenti ketika sertifikat sudah diperoleh. Sampai saat

(32)

ini tidak ada mekanisme yang mengatur bagaimana menjamin pelaksanaan kompetensi pasca sertifikasi bagi pendidik. Bila itu yang terjadi maka, profesionalisme berhenti sebatas sebagai konsep.

Dengan menghafalkan konsep seolah semuanya sudah selesai. Padahal yang lebih penting di dalam profesionalisme adalah mempertemukan konsep dengan realitas.

Tantangan profesionalisme di dunia global adalah bagaimana mendialektikan profesionalisme dengan berbagai kenyataan dunia yang terus berubah dengan cepat; bagaimana menjadikan profesionalisme sebagai "katakerja" yang selalu bergerak dan bukan

"kata benda'' yang beku; bagaimana mentransformasikan dan mengintegrasikan berbagai fenomena dan wacana ke dalam proses pendidikan di dalam satu tarikan nafas. Inilah suatu kondisi yang bisa disebut sebagai profesionalisme kreatif.

Profesionalisme kreatif diperlukan bukan untuk menggantikan konsep profesionalisme, tetapi untuk mengekstensifkan dan mengintensifkan konsep profesionalisme itu sendiri (Sellang, 2016). Perubahan tersebut adalah tantangan bagi profesionalitas pendidik dan atau tenaga kependidikan.

(33)

Pengembangan profesional pendidik berarti suatu pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas dan pengembangan karir tenaga profesional pendidik. Ada tiga hal yang bisa dilakukan lembaga pendidikan dalam mewujudkan Profesionalisme pendidik dalam mengajar dan ketiga hal di atas yaitu, progam pre- service education, progam in-service education, dan progam in-service training (Mustofa, 2007). Dengan program tersebut pendidik semakin berkembang.

Potensi profesi dan kompetensi tenaga pendidik lebih efektif untuk mencapai tujuan jika didukung oleh strategi pengembangan profesional pendidik melalui upaya kepala sekolah, UPP (urusan pembinaan profesi) dan studi lanjut.

Pekerja professional tentu sudah menguasai kompetensi teknis sesuai dengan bidangnya. Dia dengan mudah menemukan unsur seni dalam aktivitasnya. Dia akan mampu menghayati estetika, mata hatinya terbuka melihat kekayaan dan keindahan profesi yang dijalaninya. Sehingga akan memicu motivasi untuk kreatif, berdaya cipta, dan inovatif (Santosa, 2010).

(34)

Dalam dunia global, perubahan terjadi di segala bidang, yang dipacu oleh kehadiran teknologi komunikasi dan informasi. Revolusi di dalam bidang ini telah melahirkan fenomena baru yang bernama

"desa global" (global village), di mana orang bisa saling kenai, berkomunikasi dan mengetahu berbagai peristiwa dengan begitu dekat dan intensif walau terpisah di dalam jarak ruang dan waktu (Zamroni Muhamad, 2009). Revolusi tersebut juga menghasilkan konsep "dunia datar", yaitu dunia dalam layar monitor, di mana seluruh penjuru dunia bisa disaksikan melalui layar monitor yang datar.

Di antara tujuan pendidik kognitif dan pendidikan personal-sosial terdapat sejumlah kontradiksi. Pendidikan kognitif lebih menaruh perhatian pada pencapaian pengetahuan dan sarana intelektual untuk meraih dan memahami informasi.

Sementara itu pendidikan personal dan social, menitik beratkan pada nilai dan kemampuan yang memungkinkan individu bisa bekerja dan tinggal di dalam kelompok (Santosa, 2010; Zulkarnain, 2015).

Pendidikan kognitif bekerja dengan logika kompetisi, sementara pendidikan personal-sosial bekerja dengan logika kooperasi. Di dalam kompetisi, hal terpenting

(35)

adalah bagaimana membuat orang menjadi pemenang, sementara di dalam kooperasi hal terpenting adalah bagaimana membuat orang bisa saling toleran, menghargai, menghormati dan bahkan kalau perlu mengalah demi pihak lain.

Dilema kedua adalah homogenisasi dan heterogenisasi. Di setiap waktu di dunia pendidikan selalu ada upaya untuk rekaya perubahan pendidikan dan mengorientasikan individu pada pilihan-pilihan.

Dan setiap rekayasa didalam dunia pendidikan sering mensyaratkan konsistensi sehingga cenderung mengabaikan variasi-variasi yang dilakukan oleh individu (Rizal, 2017). Kontradiksi terdapat pada sentralisasi, desentralisasi, otoritas dan variasi.

Kebijakan sentralisasi pendidikan lebih dominan mengarah pada penyeragaman konsepdan aplikasi, sementara desentralisasi lebih mengarah pada pilihan- pilihan yang beragam di dalam konsep dan aplikasi (Yunita et al., 2017).

Otoritas pendidikan lebih menyukai praktik pendidikan yang seragam sehingga mudah dikendalikan dan diukur, sementara praktisi pendidikan seringkali lebih menyukai variasi. Variasi bisa terjadi pada dua tingkat, yaitu apa dan

(36)

bagaimana. Pada tingkat apa, individu dimungkinkan untuk memilih inovasi dan prioritas yang berbeda.

Pada tingkat bagaimana, setiap individu dimungkinkan untuk bekerja dengan sarana yang berbeda dari inovasi yang sama (Somantri, 2014).

Dilema ketiga adalah kontradiksi antara keterbukaan dan privatisme profesional. Keterbukaan profesional menghendaki keterbukaan dan transparansi di dalam mengontrol dan mengkritisi profesi tenaga pendidik. Siapapun yang berkepentingan dengan dunia pendidikan harus memiliki akses terhadap kinerja tenaga pendidikan.

Sesama pendidik boleh saling melihat dan mengkritik cara mengajar pendidik yang lain (Mubin, 2018).

Sementara privatisme menghendaki ketertutupan.

Sehingga ruang kelas menjadi ruang kedap terhadap intervensi oleh siapapun.

(37)

“The mediocre teacher tells.

The good teacher explains.

The superior teacher demonstrates.

The great teacher inspires”

~ William Arthur Ward ~

(38)

BAB II

PENDIDIK PROFESIONAL: KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI DI ERA 4.0

Peningkatan profesionalitas seorang pendidik di era revolusi industri 4.0 sangat penting dalam menghadapi perkembangan zaman dan perubahan yang terjadi begitu cepat. kehadiran teknologi yang semakin canggih tidak dapat dihindari, kemunculan smartphone, internat yang kemudian menghadirkan kecerdasan buatan dan telah memberikan dampak ke segala bidang, termasuk bidang pendidik. Oleh karena itulah sangat diperlukan pendidik yang profesional memenuhi kualifikasi akademik, kompeten dan menjadi panutan. Profesionalitas pendidik harus terus ditingkatkan secara terencana dan berkelanjutan dengan meningkatkan kompetensi. Ada limakompetensi yang harus dimiliki oleh guru pada era Revolusi Industri 4.0 ini yaitu: mampu melakukan proses mendidik atau pembelajaran berbasis internet, mampu melakukan proses mendidik di masa 4.0 dengan mempunyai kemampuan wirausaha (entrepreneurship) dari produk siswa yang kreatif dan inovatif, tidak meninggalkan budaya lokal sehingga proses pendidikan seharusnya berbasis budaya lokal, mempunyai kemampuan dan keunggulan dalam memecahkan masalah, mempunyai kemampuan dalam memprediksi dengan tepat

(39)
(40)

Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) No 3 Tahun 2020 Pasal 15 ayat 1yang mengaungkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) semakin membuat proses pendidikan di perguruan tinggi lebih bebas dan merdeka, dalam artikata banyak sekali trobosan baru muncul yang sebelumnya tidak diperbolehkan dalam aturan seperti kebijakan pertukaran pelajar baik antar prodi dalam perguruan tinggi yang sama, maupun antar perguruan tinggi yang berdeda. Ada delapa program yang luar biasa terjadi di dunia kampus hari ini, sehingga diharapkan mampu menghasilkan mahasiswa yang kreatif, inovatif, dengan pengembangan potensi diri yang optimal sesuai dengan skill dan bakat yang dimiliki. Berikut adalah delapan program MBKM yang sedang di dorong oleh Kementerian untuk diimplementasikan.

(41)

Gambar 1. Bentuk Kegiatan Pembelajaran (Sumber: Ditjen Dikti Kemdikbud, 2020)

Kedelapan program MBKM dapat mewakili berbagai minat dan bakat yang dimiliki oleh mahasiswa sehingga pengembangan skill dan bakat difasilitasi oleh program MBKM dengan pengakuan dalam konversi SKS mata kuliah yang ada pada masing-masing program studi. Kebijakan ini diharapkan untuk meningkatkan komptensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian.

(42)

Selain itu di era 4.0 proses pembelajaran lebih ditekankan kepada pengembangan kemampuan peserta didik menggali sendiri pengetahuan dari sumber-sumber informasi dengan menggunakan internet, sebagai wahana bagi mereka untuk belajar. Proses belajar hari ini tidak terbatas lagi dengan jarak dan waktu. Akses internet telah memudahkan para pendidik dan peserta didik untuk mengakses berbagai informasi yang ingin diketahui. Berbagai hasil penelitian yang terpublis dalam jurnal juga dapat diakses dengan mudah. Selain itu buku bacaan juga dapat diakses secara gratis, demikian juga dengan berbagai fasilitas video pembelajaran yang membuat materi yang sulit dipahami menjadi lebih mudah dimengerti dengan adanya video-video yang menarik dan bagus yang disajikan dalam you tube.Pemanfaatan infrastruktur ICT dan perangkat pembelajaran virtual telah memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menemukan sumber-sumber belajar yang berkualitas, merekam data, menganalisis data dapat dilakukan dengan mudah hari ini. Dengan kemajuan teknologi zaman ini maka pengembangan soft-skills, berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan pemecahan masalah akan dapat dilakukan dengan bantuan teknologi era 4.0. Materi-materi yang sulit dipraktikumkan semisal materi tentang sel, sistem pencernaan, sistem reproduksi, sistem peredaran darah dan

(43)

semisalnya yang sulit di sediakan preparatnya dapat dibantu oleh aplikasi sehingga muncul lab virtual yang seakan-akan rill dan asli. Sehingga kendala praktikum juga sudah teratasi dengan kemajuan teknologi. Dari fakta diatas sangat jelas bahwa proses pendidikan di era 4.0 banyak mengalami perubahan dan seorang pendidik juga peserta didik harus memahaminya.

E. Kompetensi Pendidik Profesional di Era 4.0

Pendidik hari ini menekankan pada digitaliasi pendidikan. Perubahan proses pembelajaran dalam dunia pendidikan adalah suatu keniscayaan. Guru atau dosen di zaman ini dituntut untuk mengubah cara pandang pendidikan baik dari sisi metode pembelajaran, model pembelajaran, strategi dalam pembelajaran bahkan teknik dalam mengajar.Guru dan dosen sebagai seorang pendidik seharusnya mengikuti perkembangan zaman, melek terhadap teknologi, tidak boleh gagap dengan teknologi (gaptek).

Di era 4.0 ruang belajar atau ruang kuliah bukan hanya ruang kelas, ruang belajar menjadi sangat luas dan tidak terbatas waktu serta jarak. Hari ini dunia virtual dapat menjadi kelas dan kampus. Berbagai aplikasi yang sangat mendukung proses pembelajaran virtual, saat ini berbagai aplikasi telah memudahkan para dosen dan guru dalam proses

(44)

pembelajaran. Guru dan dosen dapat memanfaatkan berbagai aplikasi yang mendukung proses belajar seperti aplikasi edmodo, camstudio, google classroom, skype, zoom, cyberlink youcame danwebsite. Teknologi dalam pembelajaran terus mengalami perkembangan. Namun pada dasarnya teknologi dapat dikategorikan menjadi dua kelompok. Dua kelompok tersebut adalah technology based learnig dan technology based web learning. Adapun yang termasuk dalam technology based learnig ini pada prinsipnya terdiri dari audio informasi (audio, voice, mail telephone) dan video informasi teknologi (video tape, video text, video messaging. Sedangkan untuk technology based web learning pada dasarnya merupakan data informasi teknologi (bulletin board, internet, email, tele-collaboration).

Teknologi yang diadopsi dalam proses pembelajaran dikombinasikan dengan memanfaatkan teknologi audio atau data, maupun teknologi video. Diantara banyaknya fasilitas internet, menurut Onno (1997) ada lima aplikasi standar internet yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan Pendidikan yakni; email, mailing list (milis), news group, world wide web (www), zoom, moodle, Edmodo. Dalam proses pembelajaran daring ada tiga kategori dasar seperti yang diungkapkan oleh Rosenberg (2001); pertama, pembelajaran virtual merupakan proses belajar bersifat

(45)

jaringan yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan dan sharing pembelajaran serta informasi.

Kedua, pembelajaran daring dikirim kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. Ketiga, pembelajaran melalui virtual memiliki cara pandang pembelajaran yang luas, solusi bagi pembelajaran dengan memberi hasil yang lebih baik.

Beberapa manfaat pembelajaran virtual di era 4.0 adalah antara lain; 1) vitual teacher resources, yang dapat mengatasi keterbatasan jumlah guru dan dosen, sehingga siswa atau mahasiswa tidak harus secara intensif memerlukan dukungan guru atau dosen, 2) virtual school system, dapat membuka peluang menyelenggarakan pendidikan tinggi tanpa memerlukan ruang dan waktu. Keunggulan sistem pembelajaran virtual ini ialah daya tampung siswa dan mahasiswa tidak terbatas dan siswa atau mahasiswa dapat melaksanakan proses belajar kapan saja dan dimana saja, 3) cyber education resourcesatau dot com learning resources system merupakan pendukung pembelajaran virtual, dimana dapat membantu akses terhadap artikel ataupun jurnal elektronik yang tersedia secara bebas dan gratis di dalam internet. Beberapa aplikasi yang banyak digunakan dan

(46)

diadopsi oleh para guru atau dosen dalam proses mengajar secara virtual.

Tabel 1. Aplikasi Pembelajaran Daring No

Jenis Pembelajaran

Daring

Keterangan 1 Zoom Cloud

Meetings

Aplikasi zoom merupakan sebuah aplikasi yang mengizinkan penggunanya untuk bertemu dengan orang lain melalui dunia maya.

Zoom didirikan pada tahun 2011 oleh Eric Yuan. Zoom menjadi tenar akibat wabah Covid 19. Laporan terupdate menunjukkan bahwa pengguna harian zoom mencapai 300 juta di beberapa pekan terakhir. Saat ini zoom menjadi pilihan nomor satu di tengah pandemi virus yang melemahkan berbagai sektor baik ekonomi, kesehatan bahkan pendidikan.

2 Google Classrom

Aplikasi google classroom dirilis pertama pada tanggal 12 agustus 2014 oleh google. Dengan google classroom seorang pengajar dapat menghemat waktu dan kertas.

Seorang dosen dapat membuat kelas, memberikan tugas, berkomunikasi, dan melakukan pengelolaan, semua dalam satu tempat. Kelebihan google classroom ialah dapat menyimpan semua materi, soal secara otomatis di dalam folder google drive.

Ditambah lagi google classroom

(47)

gratis, dapat diakses perorangan, tanpa iklan. Adapun negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka penggunakan google classroom yang tinggi.

3 WhatsApp WhatsApp merupakan aplikasi yang mengizinkan pengguna melakukan obrolan. Aplikasi ini paling laris di dunia. Aplikasi WhatsApp didukung dengan future audio call dan video call. Saat ini WhatsApp sudah membolehkan penggunanya melakukan video call dengan jumlah peserta maksimal 4 orang. Namun pada masa pandemi ini pengguna dapat melakukan video call sebanyak 8 orang.

4 Google meet Aplikasi google meet merupakan salah satu platform komunikasi yang dipopulerkan oleh google. Aplikasi ini mengizinkan penggunanya mengirimkan pesan instan, percakapan video, SMS, dan fitur VOI. Aplikasi google meet pertama sekali diluncurkan pada tahun 2017.

Aplikasi ini gratis dan penggunanya dapat melakukan video konferensi dengan 100 anggota serta tampilan video yang berkualitas.

5 Skype Layanan yang diberikan oleh aplikasi ini adalah video conference.

Pengguna aktif harian skype terus naik mencapai 70% atau 40 juta.

Microsof selaku pemilik skype mengatakan bahwa mereka juga melihat peningkatan panggilan

(48)

melalui skype to skype hingga 220%.

Saat ini skype mempunyai 200 juta pengguna aktif. Kelebihan aplikasi skype ini juga tidak membatas jumlah peserta video konferensi serta memungkinkan penggunanya untuk membuat panggilan lewat web browser, tanpa mengharuskan pengguna lain mendaftar akun baru atau mendownload aplikasi skype.

6 Webex Aplikasi webex mengizinkan penggunanya melakukan video konferensi dengan jumlah peserta 100 orang dalam sekali panggilan telefon. Aplikasi ini memiliki kualitas yang sangat baik. Aplikasi ini juga memberikan beberapa fasilitas antara lain; screen sharing, google assistant, google home hub, fitur untuk mendownload dokumen, fitur pengrekam suara percakapan, bahkan tersedia juga papan virtual untuk menggambar.

7 Email Sebuah aplikasi yang mengizinkan pengguna mengirimkan surat serta dokumen. Aplikasi ini merupakan sebuah program surat elektronik bawaan di system operasi Mac Os X Apple Inc. saat masa pamdemik banyak diantara dosen perguruan tinggi memanfaatkan email sebagai media kirim mengirim dokumen.

8 Edmodo Edmodo merupakan sebuah aplikasi yang mampu mempertemukan sejumlah orang (dosen dan mahasiswa) secara online. Kedua

(49)

pihak dapat berhubungan, berkomunikasi dan berinteraksi, tanpa memperhatikan waktu atau tempat. Aplikasi ini di desain untuk menfasilitasi hubungan permanen dan aman antara yang mengajar dengan mereka yang belajar. Di dalam apliaksi ini hanya anggota saja yang boleh masuk, sehingga orang dari luar kelompok tidak akan bisa memperoleh akses ke dalam aplikasi. Hal ini membuat lebih aman dan nyaman. Dalam aplikasi ini kita dapat mengirim dokumen, mengerjakan tugas, mendesain soal, serta dapat juga mengupload berbagai video.

9 Camstudio Aplikasi camstudio merupakan sebuah aplikasi yang mengizinkan penggunanya merekam digital dari layar. Aplikasi ini dapat membuat video dalam format AVI. Ia juga dapat mengkonfersikan AVI ke dalam format flash yang tertanam dalam file SWF. Aplikasi ini free dan dapat diakses dengan mudah.

Hasil rekaman kecil, pengaturan menu yang sederhana serta mudah digunakan. Bagi dosen di perguruan tinggi dapat memanfaatkan aplikasi ini untuk merekan tutorial, mengajar dari rumah serta merekammnya sehingga mahasiswa tetap dapat memperoleh materi langsung dari dosennya.

(50)

F. Penutup

Ada limakompetensi yang harus dimiliki oleh guru pada era Revolusi Industri 4.0 ini yaitu: mampu melakukan proses mendidik atau pembelajaran berbasis internet, mampu melakukan proses mendidik di masa 4.0 dengan mempunyai kemampuan wirausaha (entrepreneurship) dari produk siswa yang kreatif dan inovatif, tidak meninggalkan budaya lokal sehingga proses pendidikan seharusnya berbasis budaya lokal, mempunyai kemampuan dan keunggulan dalam memecahkan masalah, mempunyai kemampuan dalam memprediksi dengan tepat akan perubahan yang terjadi dan dapat mengatur strategi dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi dan yang terakhir adalah terkait dengan kesulitan anak dalam memahami materi ajar, sehingga sangat dituntut seorang pendidik menjadi konselor/psikolog.

(51)

“It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge”.

~ Albert Einstein ~

(52)

BAB III

KARAKTERISTIK PENDIDIK PROFESIONAL

Setiap pendidik ingin dikatakan atau disebut sebagai pendidik profesional, namun indikator apa yang digunakan dalam penyematan seseorang sebagai pendidik profesional?

Apakah karena pengetahuan dan Intelligence Quotients (IQ) yang dimiliki, minat dan bakat, atau keterampilan serta karakteristik yang dimilikinya? Berikut adalah beberapa ulasan mengenai karakteristik pendidik profesional.

A. Karakteristik Kepribadian

Seorang pendidik profesional diharapkan memiliki kemauan untuk mempelajari dan mengevaluasi kinerjanya secara inovatif, serta dapat menularkan cara kerja positif tersebut kepada rekan kerja disekitarnya. Compton, et. al.

(2019), menyebutkan bahwa seorang pendidik profesional adalah seorang praktisi yang reflektif; tidak menghakimi dan siap untuk memeriksa biasnya sendiri secara teratur; harus memiliki rasa humor dan semangat untuk hidup dan belajar;

memiliki rasa ingin tahu, tertarik untuk mengeksplorasi sikap, filosofi dan pendekatan baru serta terbuka untuk pembelajaran yang baru; memiliki kemampuan untuk tetap

(53)
(54)

"One child, one teacher, one book, one pen can change the world.”

~ Malala Yousafzai ~

(55)

BAB IV

KOMPONEN-KOMPONEN PENDIDIK PROFESIONAL

Pendidik dan peserta didik bersinergi dalam aktivitas pendidikan yang melibatkan lingkungan. Keberhasilan Pendidikan tentu saja tidak terlepas dari peran pendidik yang profesional. Pendidik profesional merupakan kebutuhan untuk mendorong terwujudnya mutu pendidikan yang berkualitas. Pendidik yang profesioanl harus dapat merencanakan pembelajaran dengan baik, menjalankan pembelajaran yang optimal, serta melalukan asesmen dan evaluasi dengan tepat. Menurut UU No 14 tahun 2005 tentang Pendidik dan Dosen, pendidik profesional harus memiliki kompetensi dasar dalam pendidikan, antara lain kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kompetensi kepribadian. Pendidik yang profesional harus memiliki kemampuan pada komponen kinerja, bahan pengajaran, penyesuaian kepribadian, dan sikap.

Pendidik harus memiliki beberapa pengetahuan (Knowledge) antara lain: pengetahuan konten, pengetahuan pedagogis umum termasuk strategi pengelolaan dan pengorganisasian kelas, pengetahuan kurikulum terkait materi, pengetahuan konten pedagogis (perpaduan konten dan pedagogi yang merupakan keunikan pengajar sebagai wujud

(56)

profesionalisme), pengetahuan awal dan karakteristik peserta didik, pengetahuan tentang pendidikan (manajemen kelas, managemen sekolah, karakter dan budaya masyarakat), dan pengetahuan tentang tujuan pendidikan dan nilai pendidikan.

Abad 21 menggiring pendidik profesional untuk menguasai Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Pendidik di abad 21 dituntut dapat menyampaikan materi dengan metode yang menarik serta dapat mengintegrasikan teknologi di dalam pembelajaran.

Komponen TPACK yang meliputi kepribadian, sosial, pedagogik dan profesional. Pendidik tidak hanya menguasai pengetahuan tetapi juga keterampilan dan sikap yang baik.

Pendidik yang profesional mampu mengembangkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan.

Pendidik dituntut cakap teknologi digital sesuai tuntutan dalam pembelajaran di abad 21. Kegiatan belajar mengajar pada abad 21 harus memadukan antara penggunaan teknologi, pengetahuan dasar keilmuan dan kecakapan pedagogis. Kombinasi antara pengetahuan materi, pedagogi dan kecakapan dan menggunakan teknologi dikenal dengan istilah TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge).

TPACK digambarkan berupa hubungan komplek antara pengetahuan teknologi, pedagogi dan konten materi. Ketiga

(57)

komponen tersebut memiliki interaksi dan hubungan antara satu dengan yang lain serta irisan antara komponen satu dengan lainnya memunculkan komponen baru. Ilustrasi TPACK yang terbagi menjadi tujuh domain pengetahuan yang meliputi 1) Content Knowledge (CK); 2) Pedagogical Knowledge (PK); 3) Technological Knowledge (TK); 4) Pedagogical Content Knowledge (PCK); 5) Technological Content Knowledge (TCK); 6) Technological Pedagogical Knowledge (TPK); dan 7) Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK).

Technological pedagogical and content knowledge (TPACK) adalah kerangka kerja untuk berpikir tentang pengetahuan yang dibutuhkan pendidik untuk membuat keputusan instruksional sehubungan dengan mengintegrasikan teknologi digital sebagai alat pembelajaran.

Kerangka TPACK dibangun di atas deskripsi PCK untuk menjelaskan bagaimana pemahaman pendidik tentang teknologi Pendidikan. PCK saling berhubungan untuk menghasilkan pengajaran yang efektif dengan mengintegrasikan teknologi. Tiga komponen utama yaitu:

konten, pedagogi, dan teknologi. Masing-masing komponen disajikan sebagai berikut:

(58)

A. Content Knowledge (CK)

Content Knowledge/Pengetahuan Konten merupakan pengetahuan pendidik mengenai konten ilmu yang akan diajarkan. Pengetahuan tentang konten sangat penting bagi pendidik. Pendidik yang profesioanal harus menguasai materi yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Pengetahuan konten meliputi pengetahuan terkait konsep dan teori serta praktik terbaik untuk mengembangkan pengetahuan tersebut. Pengetahuan ini bertumpu pada dua dasar yaitu akumulasi literatur dan studi di area konten, serta sejarah dan filosofis tentang sifat pengetahuan di bidang studi tersebut. Sifat pengetahuan antar bidang ilmu memiliki perbedaan karakteristik sehingga pendidik harus memahami lebih mendalam dasar-dasar pengetahuan dari bidang ilmu yang diajarkan.

B. Pedagogical Knowledge (PK)

Pedagogical Knowledge/Pengetahuan Pedagogis adalah pengetahuan pendidik tentang proses dan praktik mengajar. Pengetahun pedagogis meliputi pengetahuan terkait cara siswa belajar, manajemen kelas secara umum, keterampilan merencanakan pembelajaran, dan penilaian kompetensi siswa. Pengetahuan pedagogis juga mencakup

(59)

karakteristik siswa, dan strategi evaluasi hasil belajar.

Pendidik yang memiliki pengetahuan pedagogis baik akan mampu mengarahkan siswa dalam membangun pengetahuan dan memperoleh keterampilan. Pendidik dapat melatih pemikiran dan sikap positif siswa dalam belajar. Pengetahuan pedagogis membutuhkan pemahaman tentang teori kognitif, sosial, dan perkembangan pembelajaran serta menguasai penerapannya di kelas.

Teori kognitif Piaget membagi tahap perkembangan intelektual ke dalam empat tahapan. yaitu: sensori motor (0-2 tahun), pra operasional (2-7 tahun), operasional konkrit (7-11 tahun), operasional formal (11 tahun keatas).

Pada usia 0-2 tahun anak memasuki perkembangan sensori motor ditandai dengan kemampuan untuk mengorganisasikan indera melalui gerakan-gerakan fisik.

Usia 2-7 tahun anak masuk pada tahap pra operasional ditandai dengan pembentukan konsep-konsep yang stabil dan hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep.

Usia 7-11 tahun anak berada di tahap operasional konkrit, pada tahap ini terjadi aktivitas mental pada objek-objek atau peristiwa-peristiwa nyata. Usia 11 tahun ke atas anak masuk pada tahap operasional formal dimana anak mampu berfikir abstrak. Tahap perkembangan kognitif Piaget ini

(60)

menjadi dasar pertimbangan untuk memilih praktik pedagogis yang tepat untuk siswa.

C. Technological Pedagogical Knowledge (PCK)

Technological Pedagogical Knowledge (PCK) /Pengetahuan Konten Pedagogis merupakan pengetahuan pedagogi yang digunakan untuk mengajar konten tertentu.

Konseptualisasi PCK adalah gagasan tentang transformasi bahan pelajaran yang digunakan untuk mengajar.

Transformasi terjadi ketika pendidik menafsirkan materi pelajaran, menemukan berbagai cara untuk mewakilinya, dan mengadaptasi dan menyesuaikan bahan ajar dengan konsepsi alternatif dan pengetahuan awal siswa. PCK mencakup inti pengajaran, pembelajaran, kurikulum, penilaian, dan pelaporan. PCK merupakan pengetahuan terkait pemikiran awal siswa, strategi pengajaran alternatif, dan semua yang penting untuk pengajaran yang efektif.

Gambar 2 berikut menunjukkan beberapa domain yang memengaruhi PCK. Lima domain pengetahuan di sekitar domain PCK yaitu peserta didik, sekolah, materi pelajaran, kurikulum dan pedagogi.

(61)

Gambar 2. Hubungan dan Interaksi beberapa Domain Pengetahuan

Gambar 3 berikut menunjukkan evolusi pengetahuan pendidik menjadi struktur pengetahuan yang lebih terintegrasi. Idenya adalah untuk menekankan sifat dinamis dari interaksi antara domain pengetahuan yang berbeda, menyoroti bagaimana pengalaman diarahkan untuk menggabungkan dan mengintegrasikan domain pengetahuan. Pengalaman persiapan pendidik dirancang untuk membantu dalam evolusi menuju struktur yang kompleks dan terintegrasi tanpa domain yang sama sekali berbeda atau terpisah dari yang lain. Dengan pengalaman mengajar di luar program persiapan pendidik, garis yang

(62)

menghubungkan domain menggambarkan PCK muncul sebagai campuran domain, sehingga pemikiran dan pengambilan keputusan pendidik mencerminkan interaksi dan integrasi domain. PCK sebagai cara berpikir baru tentang pertumbuhan pengetahuan dalam mengajar.

Gambar 3. Evolusi PCK menuju Struktur Pengetahuan yang Terintegrasi

D. Technological Knowledge (TK)

Pengetahuan Teknologi merupakan cara berpikir tertentu dan bekerja dengan teknologi yang dapat diterapkan ke semua alat dan sumber daya teknologi.

Melalui pengetahuan teknologi, indivisu dapat

(63)

teknologi informasi, dan mengembangkan cara yang berbeda untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Konseptualisasi TK ini tidak melihat hasil akhir melainkan proses.

E. Technological Content Knowledge (TCK)

Technological Content Knowledge/ Pengetahuan Konten Teknologi (TCK) adalah pemahaman mengenai teknologi dan konten yang saling berhubungan, mempengaruhi dan membatasi. Pendidik harus menguasai materi pelajaran dan memahami cara agar materi pelajaran dapat diubah dengan teknologi tertentu. Pendidik perlu memahami teknologi secara spesifik dan menentukan teknologi yang sesuai dengan materi pelajaran. Pendidik perlu memahami bahwa konten dapat mengubah teknologi atau sebaliknya.

F. Technological Pedagogical Knowledge (TPK)

Technological Pedagogical Knowledge/Pengetahuan Pedagogis Teknologi adalah pemahaman mengenai pengajaran dan pembelajaran yang dapat berubah ketika penerapan teknologi tertentu. Pendidik perlu memahami pedagogis dan kendala dari berbagai penerapan teknologi dalam strategi pedagogis. Untuk membangun TPK,

(64)

diperlukan pemahaman lebih mendalam tentang kendala dan keterjangkauan teknologi dan konteks ilmu.

Pemahaman tentang keterjangkauan teknologi dan pemanfaatannya adalah bagian penting dari pemahaman TPK. TPK sangat penting karena tidak semua perangkat lunak dirancang untuk tujuan pendidikan. Program perangkat lunak seperti Microsoft Office Suite (Word, PowerPoint, Excel, Entourage, dan MSN Messenger) dirancang untuk lingkungan bisnis. Teknologi berbasis web seperti: blog atau podcast dirancang untuk tujuan hiburan, komunikasi, dan media sosial social. Pendidik harus mengembangkan keterampilan penggunaan teknologi yang paling umum, mengkonfigurasi ulang perangkat lunak untuk tujuan pedagogis. Oleh karena itu, TPK membutuhkan pemahaman teknologi yang berwawasan lingkungan, kreatif, dan diperlukan pemikiran terbuka untuk kemajuan pembelajaran dan meningkatkan pemahaman siswa.

G. Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK)

Technological Pedagogical Content Knowledge/

Pengetahuan Konten Pedagogis Teknologi (TPACK) adalah sebuah bentuk pengetahuan yang muncul dari

(65)

ketiga inti komponen (isi, pedagogi, dan teknologi).

Gambar 4 berikut mewakili esensi TPACK yang mengarahkan pada perpotongan tiga disiplin yaitu konten, teknologi, dan pengajaran dan pembelajaran sebagai TPACK. Mengajar dan belajar digunakan untuk menggabungkan pengetahuan tentang kurikulum, peserta didik, dan sekolah dengan pedagogi.

Gambar 4. TPACK sebagai Persimpangan Domain Pengetahuan yang Dibutuhkan Guru untuk Mengajar

dengan Teknologi

TPACK muncul dari interaksi antara konten, pedagogi, dan pengetahuan teknologi. TPACK adalah pemahaman mengenai pengajaran yang efektif dengan memanfaatkan teknologi yang membutuhkan pemahaman tentang representasi konsep menggunakan teknologi,

Referensi

Dokumen terkait