EFEK MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING BERBASIS KOLABORATIF DAN SIKAP ILMIAH TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA.

33 

Teks penuh

(1)

EFEK MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING BERBASIS KOLABORATIF DAN SIKAP ILMIAH TERHADAP

HASIL BELAJAR SISWA

PROPOSAL TESIS

Diajukan Untuk Seminar Proposal

OLEH:

MARISAH SIHOMBING NIM : 8126176015

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)

EFEK MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING BERBASIS KOLABORATIF DAN SIKAP ILMIAH TERHADAP

HASIL BELAJAR SISWA

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Pada

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh:

MARISAH SIHOMBING NIM : 8126176015

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(3)
(4)
(5)
(6)

i

ABSTRAK

Marisah Sihombing (NIM : 8126176015) Efek Model Pembelajaran Inquiry Training Berbasis Kolaboratif dan Sikap Ilmiah Terhadap Hasil Belajar Fisika.

Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran Inquiry Training berbasis kolaboratif dan model pembelajaran Direct Instruction. 2) Untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi dan sikap ilmiah rendah. 3) Untuk mengetahui apakah ada interaksi antara model pembelajaran inquiry training berbasis kolaboratif, model direct instruction dan sikap ilmiah untuk meningkatkan hasil belajar. Sampel dalam penelitian ini dilakukan secara cluter random sampling sebanyak dua kelas, dimana kelas pertama sebagai kelas eksperimen diterapkan model pembelajaran Inquiry Training berbasis kolaboratif dan kelas kedua sebagai kelas kontrol diterapkan model pembelajaran Direct Instruction. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu instrumen keterampilan proses sains dalam bentuk uraian sebanyak 10 soal yang telah dinyatakan valid dan reliabel. dan angket sikap ilmiah sebanyak 25 pertanyaan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar fisika yang beraspek keterampilan proses sains siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry training berbasis kolaboratif lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diajarkan dengan Model pembelajaran Direct Instruction. Hasil belajar fisika yang beraspek keterampilan proses sains dengan sikap ilmiah tinggi lebih baik dibandingkan dengan sikap ilmiah rendah. Terdapat interaksi antara kedua model pembelajaran yaitu model pembelajaran inquiry training berbasis kolaboratif, model pembelajaran direct instruction dan tingkat sikap ilmiah terhadap hasil belajar siswa.

(7)

ii

ABSTRACT

Marisah Sihombing (NIM: 8126176015) The Effect of Inquiry Training Learning Model-Based Collaborative and Scientific Attitude Towards Collaborative Physic’s Outcomes.

The purposes of the research are:1) To determine the differences in learning outcomes of students with Inquiry Training models based collaborative and Direct Instruction teaching models, 2) To determine differences in learning outcomes of students who have high scientific attitude and low scientific attitude. 3) To determine whether there is an interaction between Inquiry Training models based collaborative, direct instruction models and scientific attitude to improve learning outcomes. The sample in this study conducted in a random sampling of two classes, where the first class as a class experiment applied Inquiry Training models based collaborative and the second class of controls implemented Direct Instruction models. The instruments used in this research instrument science process skills in narrative of 10 questions and the scientific attitude questionnaire as much as 25 questions that have been declared valid and reliable. The results were found: the learning physics through science process skills of students using Inquiry Training models based collaborative is better than students taught by the Direct Instruction learning model. Learning outcomes through physics science process skills with high scientific attitude is better than the low scientific attitude. There is interaction between the Inquiry Training models based collaborative, direct instruction models and the scientific attitude to improve the scientific attitude on science process skills of students.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan kasihNya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Efek Model Pembelajaran Inquiry Training Berbasis Kolaboratif dan Sikap Ilmiah Terhadap Hasil Belajar Fisika”.

Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Pendidikan pada Program Pasca Sarjana Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Medan.

Selama penyusunan tesis ini, Penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Oleh karena itu Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tesis ini, yaitu kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ibnu Hajar Damanik, M.Pd selaku Rektor Universitas Negeri Medan.

2. Bapak Prof. Dr. H. Abdul Muin Sibuea, M.Pd selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.

3. Bapak Prof. Dr. Sahyar, M.S., M.M selaku Ketua Jurusan Pendidikan Fisika Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan dan sekaligus Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian tesis ini.

4. Bapak Prof. Dr. Nurdin Bukit, M.Si selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Fisika Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan dan sekaligus

sebagai Narasumber I yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian tesis ini.

5. Ibu Dr. Retno Dwi Suyanti, M.Si selaku dosen pembimbing II yang telah banyak menyalurkan ilmu dan pengetahuan kepada Penulis selama menjadi Dosen Pembimbing.

(9)

telah banyak membantu Penulis dalam memberikan arahan dan bimbingan dalam penyelesaian tesis ini.

7. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Fisika Program Pascasarjana yang telah memberikan ilmu pengetahuan selama Penulis kuliah di Program

Pascasarjana jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Medan. 8. Bapak Drs. Darwin Siregar, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 15

Medan dan Bapak Drs L. Silalahi, M.Pd selaku guru bidang study Fisika yang telah memberikan kesempatan dan membantu kepada Penulis untuk mengadakan penelitian.

9. Kedua Orangtuaku yang tersayang, Keluarga Alm. S. Sihombing (Ayah) dan Dra. H. Simanjuntak (Ibu), saudara-saudaraku (Kak Marintan Sihombing S.P /A. Nainggolan), Abang Manotas Sihombing, S.Hut, M.M, dan adik Maratur Sihombing, S.H beserta keponakan ku yang kusayangi Sorta, Sonia, Surya Dinda dan Sandro Mora yang tiada henti-hentinya memberikan doa, kasih sayang, dukungan, semangat dan khususnya dukungan dana sehingga Penulis dapat menyelesaikan tesis ini. 10.Teman-teman angkatan III Tahun 2012 khususnya Kelas B (Asister,

Andriono, Asiroha, Herlopen, Sri, Purnama, Dodi, Lia dll) yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah banyak memberikan masukan dan membantu Penulis dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan baik pikiran maupun motivasi dalam penyelesaian tesis ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih belum sempurna, oleh karena itu masukan dan daran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan

demi kesempurnaan tesis ini.

Terima kasih.

Medan, 23 Maret 2015

Penulis ,

(10)

iii 2.1.2. Pengertian Hasil Belajar 15 2.1.3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar 17 2.1.4 Hakekat dan Pengertian Model Pembelajaran 18

2.1.5. Model Pembelajaran Inquiry Training 23 2.1.6. Pembelajaran Kolaboratif 41 2.1.8. Model Pembelajaran Inquiry Training berbasis Kolaboratif 50

2.1.7. Model Pembelajaran Langsung 52

2.1.9. Prosedur Pembelajaran 58

2.1.10. Hasil Belajar Aspek KPS 64

(11)

iv

2.1.12. Kerangka Konspetual 84

2.2. Hasil Penelitian yang Relevan 89

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 91

3.2. Populasi dan Sampel 91

3.3. Variabel Penelitian 91

3.4. Jenis dan Desain Penelitian 92

3.4.1. Prosedur Penelitian 95

3.5. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 96

3.5.1. Instrumen Tes Hasil Belajar 96

3.5.2. Instrumen Skala Sikap Ilmiah 96

3.6. Uji Coba Instrumen 97

3.7. Teknik Analisis Data 101

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Hasil Penelitian 109

4.1.1 Pretes Hasil Belajar 109

4.1.2 Sikap Ilmiah 114

4.2. Postes Hasil Belajar 115

4.2.1. Pembelajaran Berbasis Kolaboratif 115

4.2.2. Hasil Belajar Aspek KPS 116

4.3 Pengujian Hipotesis 120

4.4. Pembahasan Hasil Penelitian 126

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan 132

5.2 Saran 133

(12)

vi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1. Data Nilai rata-rata KKM 6

Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Langsung 30

Tabel 2.2. Pengembangan Sintaks Model Inquiry Training 51

Tabel 2.3. Langkah-langkah Model Pembelajaran DI 55

Tabel 2.4. Perbedaan Teacher Centerd dan Student Centered 57

Tabel 2.5. Deskripsi Skor Sikap Ilmiah 63

Tabel 2.6. Indikator da Sub Indikator HB Aspek KPS 73

Tabel 2.1.8. . Penelitian Yang Relevan 82

Tabel 3.1. Desain Penelitian 92

Tabel 3.2. Kisi-Kisi Tes HB Aspek KPS 96

Tabel 3.3. Hasil Uji Validitas Item Soal 98

Tabel 3.4. Hasil Uji Reliabilitas Item Soal 99

Tabel 3.5. Hasil Indeks Kesukaran Item Soal 101

Tabel 3.6. Rumus ANAVA Unsur Persiapan ANAVA dua Jalur 104 Tabel 3.7. Rancangan Tabel Interaksi ANAVA dua Jalur 105 Tabel 4.1 Data Pretes Kelas Kontrol dan Eksperimen 109

Tabel 4.2. Output Uji Normalitas Pretes Siswa 110

Tabel 4.3. Uji Normalitas Pretes 111

Tabel. 4.4. Output Uji Homogenitas Pretes 112

Tabel 4.5. Uji Homogenitas Pretes 113

Tabel 4.6. Uji Kesamaan Pretes 113

Tabel 4.7. Sikap Ilmiah 114

Tabel 4.8. Pembagian Kelompok Sikap Ilmiah 115

Tabel 4.10. Hasil Belajar Kelas DI dan IT 117

Tabel 4.11. Hasil Belajar Sikap Ilmiah Rendah dan Tinggi 118 Tabel 4.12. HB Kelas DI dan IT dengan SI Tinggi dan Rendah 119

Tabel 4.13. Data Desain Fakorial Rata-rata HB 120

(13)

vii

Tabel 4.15. Hasil Uji Homogenitas 121

Tabel 4.16. Data Faktor Antar Kelompok 121

Tabel 4.17. Statistik Anava Dua Jalur 122

Tabel 4.18. Output Perhitungan Anava Dua Jalur 122

(14)

v

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 3.1. Skema Pelaksanaan Penelitian 94

Gambar 4.1. Grafik Pretes Kelas Kontrol dan Eksperimen 110 Gambar 4.2. Diagram Distribusi Normal Kelas Kontrol 111 Gambar 4.3. Diagram Distribusi Normal Kelas Eksperimen 112 Gambar 4.4. Persentase Pembelajaran Berbasis Kolaboratif 116

Gambar 4.5. Grafik Postes HB Kelas DI dan TI 117

Gambar 4.6. Grafik Postes HB Sikap Ilmiah Tinggi dan Rendah 118

Gambar 4 .7.Grafik HB Kelas DI dan IT 119

(15)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Instrumen Tes Hasil Belajar 137

Lampiran 2. Kegiatan Observasi Pembelajaran Kolaboratif 149 Lampiran 3. Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP) 150

Lampiran 4. Lembar Kerja Siswa 162

Lampiran 5. Bahan Ajar 187

Lampiran 6. Lembar Observasi Peneliti 222

Lampiran 7. Lembar Validasi Angket Sikap Ilmiah 223

Lampiran 8. Instrumen Penilaian Sikap Ilmiah 225

Lampitan 9. Laporan Kegiatan Observasi Pembelajaran Kolaboratif 227

Lampiran 10. Hasil Penelitian Pretes 228

Lampiran 11. Hasil Penelitian Postes 232

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Arus kemajuan zaman yang ditandai dengan semakin pesatnya ilmu

pengetahuan dan teknologi ini merupakan hal yang tidak dapat kita hindari

melainkan harus kita ikuti. Demikian pula dunia pendidikan selalu mengalami

perkembangan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu kita dengan berbagai cara

berusaha meningkatkan perkembangan pendidikan untuk mencerdaskan

kehidupan bangsa dan negara.

Kemajuan bangsa hanya dimungkinkan oleh perluasan pendidikan oleh

setiap anggota bangsa itu sendiri. Pendidikan bukan lagi diperuntukkan bagi suatu

golongan elite yang sangat terbatas melainkan bagi seluruh rakyat.

Undang-Undang Dasar 1945 menginginkan agar setiap warga negara mendapat

kesempatan belajar seluas luasnya. Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional

(KPPN) mengemukakan agar pendidikan kita bersifat semesta, menyeluruh dan

terpadu. Memberi kesempatan belajar saja belum cukup memadai bila jumlah

yang tinggal kelas dan putus sekolah masih tinggi. Masih perlu dipikirkan jalan

agar setiap murid mendapat bimbingan agar ia berhasil menyelesaikan

pelajarannya dengan baik. (dalam Nasution : 2011).

Untuk menyelesaikan pelajaran dengan baik perlu meningkatkan kualitas

pembelajaran dengan melakukan perbaikan, pendekatan pembelajaran dapat

(17)

2

terhadap rutinitas pendekatan pembelajaran yang selama ini pembelajaran hanya

difokuskan pada guru saja yang aktif sedangkan siswa pasif hanya menurut apa

yang diperintahkan oleh guru, dan mendengarkan guru. Dengan bergulirnya

reformasi dan otonomi pendidikan para guru diharapkan semakin kreatif dalam

mengembangkan pendekatan pembelajarannya. Belajar konvensional yang

menempatkan guru pada pihak aktif dan siaga pada pihak pasif harus diganti

dengan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam

proses pembelajaran agar hasil pembelajaran dapat berjalan dengan baik. (dalam

Zarkasi : 2009)

Indikator berhasilnya pelajaran dengan baik dilihat dari prestasi belajar.

Dimana prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan

eksternal. Penyebab utama dari kesulitan belajar (learning disabilities) adalah

faktor intenal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurolgis, sedangkan

penyebab utama problema belajar adalah faktor eksternal, yaitu berupa antara lain

strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak

membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan

(reinforcement) yang tidak tepat. Dalam kelas yang siswanya memiliki

kemampuan heterogen, guru akan menciptakan interaksi belajar yang kompetitif

karena ia beranggapan bahwa kompetisi dapat meningkatkan motivasi yang pada

gilirannya juga akan meningkatkan prestasi belajar pada anak. Guru tersebut lupa

bahwa kompetisi akan individu yang memiliki kekuatan tidak seimbang dapat

menimbulkan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) bagi yang

(18)

3

belajar dalam suasana kelas yang kompetitif semacam itu maka dapat diramalkan

bahwa mereka akan menjadi anak yang putus asa, yang tidak hanya berakibat

buruk bagi pencapaian prestasi belajar yang optimal tetapi juga berakibat buruk

bagi pembentukan kepribadiannya. (dalam Abdurrahman : 2011).

Ada masalah dan tantangan yang harus diatasi oleh guru Indonesia. Yang

pertama adalah, guru mata pelajaran perlu menambah pemahaman tentang materi

buku pelajaran yang ia ajar dan meningkatkan kemampuan untuk merancang

pelaksanaan pembelajaran, yaitu bagaimana materi itu diajarkan secara sistematis

kepada siswa. Untuk mengatasi masalah ini perlu disediakan tempat dan waktu

dimana sesama guru satu sekolah secara berkala melakukan studi tentang materi

pelajaran serta membuat media atau alat perga yang lebih berguna.

Yang kedua adalah, pada forum refleksi pasca pembelajaran meskipun

para guru pengamat (observer) menyampaikan fakta berupa masalah siswa yang

ia amati, belum terjadi langkah berikutnya, yakni para peserta forum saling belajar

atau saling mengasah “keterampilan atau teknik” yang dapat diambil secara

refleks oleh guru model (pedagogical tact) agar masalah itu dapat diatasi. Jalan

keluar untuk itu adalah para guru perlu lebih banyak berdiskusi tentang“ keterampilan atau teknik” yang refleks tersebut.

Yang ketiga adalah perlu memiliki rasa tanggung jawab sebagai profesi

guru, yaitu berupa pengalaman kepada siswa untuk memahami materi pelajaran.

(19)

4

hanya belum punya pengalaman dan kebiasaan untuk merancang pembelajaran

berdasarkan sistematik materi pelajaran. (dalam Masaaki: 2012)

Proses pembelajaran fisika di SMA pada saat ini secara umum belum

berdampak terhadap kemampuan siswa memecahkan masalah. Pembelajaran

fisika sebagian besar hanya menekankan pada aspek produk seperti menghapal

konsep-konsep, prinsip-prinsip atau rumus tidak memberikan kesempatan siswa

terlibat aktif dalam proses fisika serta tidak dapat menumbuhkan sikap ilmiah

siswa. Beberapa penelitian pembelajaran berbasis konstruktivis telah dilakukan

untuk melihat efektivitasnya dalam konstruksi pengetahuan oleh siswa sendiri dan

menumbuh kembangkan sikap ilmiah.Hal ini dilakukan sesuai dengan pendapat

Bruner dalam Dahar (1996), bahwa selama kegiatan belajar berlangsung

hendaknya siswa dibiarkan mencari atau menemukan sendiri makna segala

sesuatu yang dipelajari. Siswa perlu diberikan kesempatan berperan memecahkan

masalah seperti yang dilakukan para ilmuwan, agar mereka mampu

memahami konsep-konsep dalam bahasa mereka .

Pelajaran Fisika sering dirasakan sebagai mata pelajaran yang sulit untuk

diajarkan oleh guru dan sulit dipahami oleh siswa. Oleh karena itu, tidak

mengherankan apabila mata pelajaran Fisika merupakan salah satu pelajaran yang

oleh sebagian siswa dipandang sulit. Berbagai kesulitan tersebut dapat disebabkan

karena berbagai konsep, prinsip, hukum, serta teori yang rumit. Apalagi hal ini

ditambahkan oleh guru yang kurang menunjukkan contoh penerapannya dalam

(20)

5

Konsep fisika yang bersifat abstrak yang harus diserap siswa dalam waktu

yang relatif terbatas menjadikan ilmu fisika menjadi salah satu mata pelajaran

yang paling sulit bagi siswa sehingga banyak siswa yang gagal dalam belajar.

Pada umumnya siswa cenderung dengan hafalan dari pada secara aktif

membangun pemahaman mereka sendiri terhadap konsep fisika. Hal inilah yang

terjadi di sekolah peneliti, kurangnya pengetahuan guru tentang strategi

pembelajaran yang inovatif bagi pelajaran fisika, kurangnya kegiatan praktikum

dan masih belum memahami dengan baik cara pelaksanaan model maupun

metode yang inovatif. Yang membuat motivasi dan hasil belajar yang dicapai

rendah.

Menurut Nasution, masalah yang sangat penting yang kita hadapi ialah

bagaimana usaha agar sebagian besar dari murid-murid dapat belajar dengan

efektif dan menguasai bahan pelajaran dan keterampilan-keterampilan yang

dianggap essensial bagi perkembangannya selanjutnya dalam masyarakat yang

kian hari kian kompleks. Bila kita ingin agar seseorang mau belajar terus

sepanjang hidupnya, maka pelajaran di sekolah harus merupakan pengalaman

yang menyenangkan bagi dirinya. Murid yang sering frustasi karena mendapat

nilai yang rendah, selain mendapat teguran, kecaman dan celaan akan benci

terhadap pelajaran formal dan tidak mempunyai cukup motivasi untuk

melanjutkan pelajarannya. Sehingga siswa akan sulit mengerti mengenai konsep

dari yang dipelajarinya, yang dalam hal ini salah satunya adalah pelajaran fisika.

(21)

6

Berdasarkan hasil observasi ke sekolah dengan melihat daftar nilai fisika

yang masih rendah seperti tercantum dalam tabel 1.1. dibawah ini:

Tabel 1.1: Data nilai rata-rata KKM Mata Pelajaran Fisika Tahun

Pelajaran

Nilai Rata-rata Nilai Tuntas (KKM)

2010/2011 64,00 70,00

2011/2012 65,00 70,00

2012/2013 68,00 75,00

Sumber : Dokumen SMA NEGERI 15 MEDAN

Penguasaan konsep fisika oleh siswa akan lebih berhasil jika diterapkan

model pembelajaran sesuai yang dapat membuat siswa mencari, menemukan dan

memahami fisika itu sendiri sehingga siswa dapat membangun konsep-konsep

fisika atas dasar nalarnya sendiri yang kemudian dikembangkan atau mungkin

diperbaiki oleh guru yang mengajar. Salah satu model yang cocok untuk

pembelajaran yang bertujuan agar siswa dapat mengusai konsep fisika adalah

model Inquiry salah satunya adalah dengan menggunakan model inquiry training.

Melalui model pembelajaran ini siswa diharapkan aktif mengajukan

pertanyaan mengapa sesuatu terjadi kemudian mencari dan mengumpulkan serta

memproses data secara logis untuk selanjutnya mengembangkan strategi

intelektual yang dapat digunakan untuk dapat menemukan jawaban atas

pertanyaan tersebut.Model pembelajaran inquiry training dimulai dengan

menyajikan peristiwa yang mengandung teka-teki kepada siswa. Siswa-siswa

(22)

masalah-7

masalah yang masih menjadi teka-teki tersebut. Guru dapat menggunakan

kesempatan ini untuk mengajarkan prosedur pengkajian sesuai dengan

langkah-langkah model pembelajaran inquiry training.

Menurut Masaaki, (2012) Guru hendaknya kreatif memulai pembelajaran,

dan untuk melakukan kreatifitas teresebut guru tidak harus mengubah segala cara

yang telah dilakukan selama ini dan memulai cara yang baru dari nol. Dan pada

proses pembelajaran konvensional yang diprakarsai guru, melibatkan semua siswa

agak sulit, maka untuk memperbaiki kondisi tersebut, perlu adanya dialog dan

kolaborasi. Ada 3 faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, yaitu :1.

Kualitas tugas yang diberikan kepada siswa dan RPP yang menarik. 2.

Menerapkan kegiatan kolaborasi dengan pihak lain (secara berpasangan atau

kelompok kecil).3. Keaktifan, semangat, kognisi dan emosi siswa pada waktu

pelajaran. Pembelajaran kolaboratif akan memberi pengaruh positif pada

perkembangan kognitif siswa. (Masaaki: 2012)

Sikap atau attitude menjadi faktor kesuksesan seseorang. Sikap lebih

terletak pada yang kita tampilkan dan bukan bagaimana kita memandang diri kita

sendiri. Misalnya sikap positif dapat mengubah kepribadian yang membosankan

menjadi menyenangkan. Kehidupan sehari-hari kita dipengaruhi oleh sikap, baik

sikap kita terhadap diri kita maupun sikap kita terhadap orang lain.

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada diatas maka penulis merasa

(23)

8

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah-masalah dalam

penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Kurangnya kemampuan guru dalam mengajarkan materi pelajaran yang

sesuai dengan kemampuan siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang

berbeda.

2. Model pembelajaran masih berorientasi pada satu arah saja yang lebih banyak

didominasi oleh guru sedangkan siswa pasif.

3. Staretegi pembelajaran masih banyak yang tidak sesuai (keliru).

4. Hasil belajar fisika siswa masih rendah.

5. Lemahnya siswa dalam memahami konsep fisika.

6. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah fisika masih kurang.

7. Siswa merasa bosan dan putus asa akan sistem penilaian persaingan

(kompetesi) di kelas yang dilakukan oleh guru.

1.3. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya ruang lingkup masalah, keterbatasan waktu, dana serta

kemampuan peneliti maka perlu adanya pembatasan masalah.

1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran Model

Pembelajaran Inquiry Training berbasis kolaboratif dan model pembelajaran

Direct Instruction.

2. Selama kegiatan pembelajaran, peneliti membatasi pada sikap ilmiah dan

(24)

9

aspek yaitu: mengamati (observasi), mengelompokkan (klasifikasi),

menafsirkan (interpretasi), mengajukan pertanyaan, berhipotesis,

merencanakan percobaan/ penelitian, menggunakan alat dan bahan,

menerapkan konsep, berkomunikasi.

3. Materi pembelajaran pada penelitian ini hanya dibatasi pada materi Listrik

Dinamis di Kelas X Semester II.

1.4.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan batasan

masalah yang telah dikemukakan diatas, maka dibuat rumusan masalah sebagai

berikut :

1. Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan

menggunakan model pembelajaran inquiry training berbasis kolaboratif dan

model pembelajaran Direct Instruction ?

2. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki sikap

ilmiah tinggi dan siswa yang memiliki sikap ilmiah rendah?

3. Apakah terdapat interaksi antara kedua model pembelajaran dan sikap

ilmiah terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Listrik Dinamis?

1.5.Tujuan Penelitian

(25)

10

1. Mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan

menggunakan model pembelajaran inquiry training berbasis kolaboratif dan

model pembelajaran DI.

2. Mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki

sikap ilmiah tinggi dan sikap ilmiah rendah.

3. Mengetahui apakah terdapat interaksi model pembelajaran inquiry training

berbasis kolaboratif dan sikap ilmiah untuk meningkatkan hasil belajar.

1.6. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya bagi para

pengajar fisika tentang bagaimana cara penggunaan model pembelajaran inquiry

training berbasis kolaboratif untuk pengajaran fisika di SMA.

a. Bagi siswa

- Meningkatkan motivasi belajar dan kepercayaan diri siswa

- Memotivasi siswa untuk lebih terampil dan berani

- Meningkatkan hasil belajar bidang studifisika

b. Bagi guru

- Menambah pengetahuan tentang strategi pembelajaran yang

mengembangkan proses berfikir ilmiah.

- Mengembangkan keterampilan mengelola proses pembelajaran.

- Merangsang minat untuk menjadi guru yang kreatif dan inovatif.

c. Bagi sekolah

- Meningkatkan kualitas sesuai dengan landasan iman dan taqwa

(26)

11

- Terciptanya pembelajaran bidang studi Fisika di SMA Negeri 15

Medan yang lebih berkualitas.

1.6. Defenisi Operasional

1. Model pembelajaran Inquiry Training berbasis kolaboratif adalah salah satu

model pembelajaran latihan untuk mencari, menemukan dan menggali

informasi secara bersama-sama (kolaborasi). Dimana dalam proses

pembelajaran ini, siswa harus saling membantu dalam memberikan informasi

yang sebanyak-banyaknya dan membantu temannya yang kurang mengerti.

Untuk mengangkat jiwa kolaborasi siswa diperlukan peran guru. Berdasarkan

pada konsep metode ilmiah, ia mencoba untuk mengajarkan kepada siswa

beberapa keterampilan penelitian. Jadi guru memberikan masalah dan

membimbing siswa untuk aktif dalam kegiatan kolaborasi/ bekerjasama

dengan membentuk denah ruangan belajar seperti pola huruf “U” dan

memberi bantuan apabila siswa ada yang tidak aktif dalam kegiatan

kolaborasi, sedangkan siswa mememecahkan masalah melalui pengamatan,

percobaan atau prosedur penelitian, jadi kelas yang diharapkan guru adalah

kelas yang ribut, dimana masing-masing siswa harus memberikan

komentarnya. Model pembelajaran yang fokus tehadap kemampuan siswa

untuk mengamati, menyusun data, memahami informasi, membentuk konsep,

(27)

12

dengan siswa lain yang memiliki kemampuan yang berbeda untuk

memadukan hasil pemikiran didalam kelompoknya.

2. Model pembelajaran langsung (Direct Instruction) pada penelitian ini adalah

suatu model pengajaran aktif yang bersifat teacher center.yaitu salah satu

pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar

siswa yang berkaitan dengan pengetahuan dekleratif dan pengetahuan

prosedural yang tersturuktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola

kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Selain itu, model

pembelajaran langsung ditujukan pula untuk membantu siswa mempelajari

keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan

selangkah demi selangkah. (Trianto:41).

3. Sikap ilmiah dalam penelitian ini adalah kecenderungan siswa untuk belajar

memecahkan masalah, menilai ide dan informasi, membuat keputusan

berdasarkan bukti yang telah dikumpulkan dan dievaluasi secara objektif.

Siswa yang memiliki prosedur ini dikatakan memiliki sikap ilmiah.

(Brossard, et all :2005)

4. Hasil belajar yang ada dalam penelitain ini yaitu hasil belajar dengan aspek

keterampilan proses sains meliputi: melakukan pengamatan (observasi),

inferensi, mengajukan pertanyaan, menafsirkan hasil pengamatan

(interpretasi), mengelompokkan (klasifikasi), meramalkan (prediksi),

berkomunikasi, membuat hipotesis), merencanakan percobaan atau

penyelidikan, menerapkan konsep atau prinsip keterampilan menyimpulkan

(28)
(29)

126

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN 5.1 SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka

dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Hasil belajar dengan aspek keterampilan proses sains siswa yang

menggunakan model pembelajaran inquiry training berbasis kolaboratif lebih

baik dibandingkan dengan hasil belajar fisika beraspek keterampilan proses

sains siswa yang diajarkan dengan Model pembelajaran Direct Instruction

(DI).

2. Hasil belajar fisika yang beraspek keterampilan proses sains dengan sikap

ilmiah tinggi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar fisika dengan sikap

ilmiah rendah di kelas eksperimen, dan sebaliknya di kelas kontrol.

3. Terdapat interaksi antara kedua model pembelajaran, yaitu model Inquiry

Training berbasis kolaboratif dan model Direct Instruction dalam

mempengaruhi hasil belajar siswa beraspek keterampilan proses sains. Pada

kelas eksperimen, sikap ilmiah lebih dominan memberikan pengaruh

(30)

127

5.2 . SARAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diajukan beberapa saran, antara

lain:

1. Model pembelajaran Inquiry training berbasis kolaboratif dapat dijadikan

salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa

dengan aspek keterampilan proses sains.

2. Materi yang disajikan hendaknya lebih kreatif dalam konteks sikap ilmiah,

agar siswa terangsang dalam meningkatkan hasil belajar yang beraspek

keterampilan proses sains.

3. Perlunya membiasakan anak melakukan kegiatan percobaan baik dengan

menggunakan model pembelajaran inquiry training berbasis kolaboratif agar

siswa lebih dapat bekerjasama dengan baik karena hakekat dari pendidikan

IPA bukan hanya produk, tetapi proses dan sikap perlu juga diasah dengan

membiasakan siswa pada kegiatan percobaan.

4. Kepada peneliti lanjut yang ingin meneliti permasalahan yang sama

disarankan melakukan penelitian pada lokasi dan materi bahasan yang

berbeda serta melibatkan guru dalam penelitian agar siswa benar-benar aktif

(31)
(32)
(33)

Figur

Tabel 4.15. Hasil Uji Homogenitas
Tabel 4 15 Hasil Uji Homogenitas . View in document p.13
Gambar 3.1. Skema Pelaksanaan Penelitian
Gambar 3 1 Skema Pelaksanaan Penelitian . View in document p.14
Tabel 1.1: Data nilai rata-rata KKM Mata Pelajaran Fisika
Tabel 1 1 Data nilai rata rata KKM Mata Pelajaran Fisika . View in document p.21

Referensi

Memperbarui...