• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAYANAN BIMBINGAN BERBASIS CULTIVATING PEACE DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI HIDUP DAMAI REMAJA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "LAYANAN BIMBINGAN BERBASIS CULTIVATING PEACE DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI HIDUP DAMAI REMAJA."

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

LAYANAN BIMBINGAN

BERBASIS CULTIVATING PEACE DALAM

PENGEMBANGAN KOMPETENSI HIDUP DAMAI REMAJA

TESIS

diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan dalam Bidang

Bimbingan dan Konseling

Oleh

Nadia Aulia Nadhirah NIM 1303266

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING DEPARTEMEN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

SEKOLAH PASCASARJANA

(2)

LAYANAN BIMBINGAN

BERBASIS CULTIVATING PEACE DALAM

PENGEMBANGAN KOMPETENSI HIDUP DAMAI REMAJA

Oleh

Nadia Aulia Nadhirah

Sebuah tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Sekolah Pasca Sarjana

Nadia Aulia Nadhirah 2015 Universitas Pendidikan Indonesia

Agustus 2015

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

(3)

NADIA AULIA NADHIRAH LAYANAN BIMBINGAN

BERBASIS CULTIVATING PEACE DALAM

PENGEMBANGAN KOMPETENSI HIDUP DAMAI REMAJA disetujui dan disahkan oleh:

Pembimbing

Dr. Ilfiandra, M.Pd. NIP 19721124 199903 1 003

Penguji 1

Mengetahui,

Ketua Progam Studi Bimbingan dan Konseling

(4)

ABSTRAK

Nadia Aulia Nadhirah (2015). Layanan Bimbingan Berbasis Cultivating Peace dalam Pengembangan Kompetensi Hidup Damai Remaja. Tesis. Dibimbing oleh Dr.Ilfiandra, M.Pd. Program Studi Bimbingan dan Konseling Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia.

Penelitian dilatarbelakangi oleh fenomena remaja yang mengalami perubahan dramatis sehingga menimbulkan konflik internal atau eksternal. Kecemasan dan akumulasi stress dari transisi berkelanjutan semakin bertambah ketika konflik tidak dikendalikan secara efektif. Layanan bimbingan berbasis cultivating peace merupakan program yang menanamkan budaya damai pada remaja. Penelitian bertujuan menguji efektivitas layanan bimbingan berbasis cultivating peace dalam mengembangkan kompetensi hidup damai peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, metode eksperimen kuasi, pretest dan posttest control group design. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi Tahun Ajaran 2014/2015 dan yang dijadikan sampel penelitian kelompok kontrol sebanyak 25 peserta didik dan kelompok eksperimen sebanyak 28 peserta didik yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah instrumen kompetensi hidup damai dari APEID dengan menggunakan pola penyekoran rating scale. Hasil uji efektifitas layanan berbasis cultivating peace dibuktikan secara empiris tidak efektif dalam mengembangkan kompetensi hidup damai peserta didik. Berdasarkan hasil uji U-Mann Whitney dengan perolehan p = 0.247, dikarenakan p > 0.05 berarti layanan bimbingan berbasis cultivating peace tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengembangan kompetensi hidup damai peserta didik.

(5)

Abstract

Nadhirah, Nadia Aulia (2015), Guidance Service based Cultivating Peace in Developing Adolescents Peace Living Competencies. A thesis. Supervised by Dr.Ilfiandra, M.Pd., Guidance and Couseling Study Program. School of Postgraduate Studies, Indonesia University of Education.

This research done due to phenomenon of adolescent that have experienced dramatical changes, causing internal or external conflict. Anxiety and stress accumulated from long transition will only increase when conflict is not effectively controlled. Cultivating peace based guidance service is a program which put peace culture into adolescent. The research aims evaluate the effectiveness of cultivating peace based guidance service in developing peaceful life competency among participant. The research use quantitative, quasi experimental method, pretest and posttest control group design. Participants are students of 10th grade at SMA Negeri 2, Kota Sukabumi, academic year 2014-2015, with total 161 students and sample control group of 25 students and the experimental group were 28 students were determined by purposive sampling technique. Instrument used is peaceful life competency instrument by APEID. The cultivating peace based guidance service test result has proven empirically ineffective in developing a peaceful life competency among participant. Based on the Mann-Whitney U test result with p = 0247, with p>0.05 means cultivating peace based counseling service has unsignificant influence on the development of peaceful life competency among participants.

(6)

DAFTAR ISI

A. Latar Belakang Penelitian 1

B. Rumusan Masalah Penelitian 8

C. Tujuan Penelitian 10

D. Manfaat Penelitian 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA LAYANAN BIMBINGAN BERBASIS CULTIVATING PEACE DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI HIDUP DAMAI REMAJA

12

A. Konsep Damai 12

B. Budaya Damai pada Remaja 14

C. Layanan Bimbingan berbasis Cultivating Peace 25

D. Asumsi dan Hipotesis 33

BAB III METODE PENELITIAN 34

A. Desain Penelitian 34

B. Partisipan Penelitian 36

C. Populasi dan Sampel 36

D. Definisi Operasional Variabel 36

E. Intrumen Penelitian 39

F. Prosedur Penelitian 43

E. Teknik Analisis Data 54

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 55

A. Hasil Uji Empiris Efektifitas Layanan Bimbingan berbasis Cultivating Peace dalam Mengembangkan Kompetensi Hidup Damai Peserta Didik

55

1. Hasil Uji Efektifitas Layanan Bimbingan berbasis Cultivating Peace

(7)

Peace dari Tiap Dimensi dan Indikator Kompetensi Hidup Damai Peserta Didik

3. Dinamika Perubahan Psikologis Kompetensi Hidup Damai Pasca Intervensi Layanan Bimbingan berbasis Cultivating Peac

58

B. Pembahasan Hasil Penelitian 61

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 86

A. Simpulan 86

B. Rekomendasi 86

DAFTAR PUSTAKA 88

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Kemarahan dan kekerasan pada remaja menjadi topik penting untuk pendidik hari ini dan psikolog sekolah (Lochman, Powell, Clanton, McElroy, hlm.155). Penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan konflik telah lama terjadi di masyarakat (Bertrand, 2005; Colombijn & Lindblad, 2002), serta tidak sulit menjumpai perkelahian, bullying, dan percekcokan antar remaja (Deutsch, 2001; Rais, 1997). Masa remaja merupakan masa yang sarat akan konflik, karena pada masa perkembangan ini tiap individu mengalami perubahan yang sangat kompleks, yaitu perubahan fisik, pola perilaku, peran sosial, serta merupakan masa pencarian identitas untuk menjadi diri sendiri sebagai individu (Hurlock, 2000, hlm. 206). Perubahan-perubahan tersebut bagi sebagian remaja merupakan situasi yang tidak menyenangkan dan sering menimbulkan masalah. Permasalahan-permasalahan tersebut menuntut suatu penyelesaian agar tidak menjadi beban yang dapat mengganggu perkembangan selanjutnya. Remaja yang sedang mengalami perubahan fisik dan emosional yang dramatis, sering terlalu sensitif tentang diri mereka sendiri. Remaja khawatir tentang kualitas pribadi atau kekurangan yang ada pada dirinya, tetapi baik kekurangan atau kelebihan yang ada pada dirinya hampir tidak terlihat orang lain.Oleh karena itu, remaja mudah terbawa arus, tidak jarang cepat merasa bahagia menjadi sedih, dan merasa pintar menjadi bodoh (US Departement of Education, 2005, hlm. 6-7).

(9)

ketidaksempurnaan orang lain serta melihat permasalahan yang terjadi sebagai permasalahan sendiri daripada menyerahkan permasalahan pada orang tua (Shantz & Hartup, 1992). Sehingga remaja mengalami transisi untuk menuju kematangan yang kemungkinan meningkat timbulnya konflik.

Fenomena konflik antarpeserta didik yang paling serius terjadi adalah tawuran pelajar. Tawuran pelajar bukan hanya merupakan kenakalan remaja, tetapi sudah cenderung menjadi perilaku kriminal karena konflik sering disertai dengan kekerasan, perusakan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Sekitar 250.000 kasus pembunuhan remaja terjadi sepanjang tahun 2013, yaitu 43% dari total jumlah pembunuhan global setiap tahun (Koran Sindo, 2014). Berdasarkan data Direktorat Bimbingan Masyarakat Kepolisian Metro Jaya, pada tahun 2000 terdapat 96 kasus tawuran antarpelajar yang menyebabkan 43 korban luka dan 13 korban meninggal. Sebagai akibat dari ketidak mampuan dalam memecahkan konflik secara damai, konflik sosial meningkat menjadi konflik fisik yang menggunakan kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan konflik.

Konflik dibagi menjadi dua jenis, yaitu intrapersonal conflict (konflik intrapersonal) dan interpersonal conflict (konflik interpersonal) (Hunt & Metcalf, 1996, hlm. 97). Konflik interpersonal dalam suatu hubungan pada masa remaja ialah interaksi oposisi, yang dilihat sebagai rangkaian suatu bagian hubungan interpersonal yang alami dari harapan-harapan peran yang terkait dengan transisi tingkat usia dan perubahan kematangan (Shantz & Hartup, 1992). Selanjutnya disebutkan bahwa kecemasan dan akumulasi stress dari transisi yang berlipat ganda akan semakin bertambah ketika konflik dimunculkan ataupun konflik tidak dikendalikan secara efektif. Artinya, jika remaja tidak dapat mengembangkan budaya damai dalam penyelesaian konflik, maka konflik tidak dapat terhindari.

(10)

kasus mengenai konsep perdamaian pada remaja usia 12-16, bahwa remaja dapat memahami konsep kedamaian, karakteristik dan norma yang berhubungan dengan kedamaian sesuai dengan perspektif yang dipertimbangkan dirinya sendiri. Artinya, pada remaja awal sudah memahami sifat saling atau timbal balik hubungan interpersonal.

Tantangan untuk hidup bersama dalam damai dan harmoni semakin tinggi, termasuk bagi kalangan pendidik, sementara peserta didik sendiri juga dihadapkan pula pada tantangan dalam kehidupan personal remaja. Laporan dari International Commision on Education for Twenty-first Century atau yang lebih dikenal dengan Delors Report (1996) telah mengidentifikasi tujuh ketegangan yang mengancam kemanusiaan yang berimplikasi langsung terhadap nilai-nilai, yaitu: konflik antara global-lokal, universal-individual, tradisional-modern, pertimbangan jangka pendek-jangka panjang, kompetisi-kooperasi, ekspansi ilmu-kemampuan asimilasi, dan antara spritual-material. Sementara itu, respon tradisional melalui doktrin disiplin tradisional cenderung sebagai solusi yang tidak selamanya menghasilkan perubahan perilaku peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik-futuristik yang mengembangkan budaya damai di sekolah.

Pendidik dihadapkan tidak hanya dengan efek langsung dari kemarahan dan agresi, seperti ancaman kekerasan dan konflik antara peserta didik, tetapi juga dengan efek tidak langsung yang muncul dalam bentuk kesulitan belajar dan masalah penyesuaian (Lochman, Powell, Clanton, McElroy, hlm. 155). Budaya damai merupakan proses aktif, positif, partisipatif dalam menghargai keragaman, toleransi terhadap perbedaan, mendorong upaya dialog, dan menyelesaikan konflik dengan semangat saling pengertian dan kerja sama (UNESCO). UNESCO menyatakan bahwa perdamaian lebih dari tidak adanya perang. Maka, keadilan dan kesetaraan bagi semua sebagai dasar untuk hidup bersama dalam harmoni dan bebas dari kekerasan. Ide-ide ini mencerminkan ekspresi kedamaian dari budaya yang melihat kedamaian dalam hal positif termasuk karakteristik tertentu (Sheriff & Swigonski, 2006, hlm. 3).

(11)

perdamaian), dan negara-negara, masyarakat, dan budaya (perdamaian internasional) (Mayton, 2009, hlm.v). Maksudnya, membangun perdamaian, membuat perdamaian, dan menjaga perdamaian adalah penting, tetapi perlu disadari perubahan dalam pendidikan memerlukan pendekatan pada masing-masing aspeknya (Plucker, 2000, hlm. 5).

Masalah kekerasan remaja bukanlah hal yang baru, kekerasan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi di luar sekolah seperti halnya di lingkungan masyarakat maupun keluarga. SMA Negeri 2 Kota Sukabumi merupakan sekolah yang tidak jarang ditemukan kasus bullying yang berakhir pada kekerasan. Kekerasan tidak hanya benturan fisik, tetapi berupa perkataan kasar yang menyebabkan efek psikologis. Guru BK mencatat terdapat lima kasus kekerasan fisik maupun verbal yang dilakukan oleh peserta didik dalam kurun waktu satu bulan pada Tahun Ajaran 2014/2015. Kekerasan fisik merupakan akhir dari adanya kekerasan verbal. Kekerasan terjadi dikarenakan permasalahan mengenai penyesuaian sosial, intra personal dan keterampilan sosial. Kekerasan tidak hanya fisik saja, emosional dan lisan pun merupakan kekerasan yang dapat merusak, meskipun efeknya tidak mudah terlihat, dalam hal ini ialah psikologis (Plucker, 2000, hlm. 4). Menurut hasil wawancara dengan guru BK di SMA Negeri 2 Kota Sukabumi, peserta didik yang menjadi korban bullying merasa tidak percaya diri, cemas, dan dendam, sehingga memiliki keinginan untuk membalas yang telah dialami. Selain itu, fenomena seperti remaja yang tidaksopan, k urangnya rasa hormat dan komunikasi yang konstruktif, membentuk dasar dari kekerasan baik verbal maupun fisik. Seperti halnya pernyataan Plucker (2000, hlm. 4) fenomena tersebut menjadi awal mula kekerasan fisik.

(12)

Berdasarkan studi pendahuluan dan observasi diperlukan layanan bimbingan sebagai upaya melatih peserta didik untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan mengambil keputusan, seperti pembelajaran berbasis masalah dan membantu peserta didik untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dengan mengembangkan kompetensi hidup damai dalam dirinya. Dampak dari remaja yang tidak merasa damai akan terjadi permusuhan, terisolasi, mengganggu proses belajar, sehingga baik remaja maupun sekolah sulit untuk mencapai tujuan bersama (Harris, 2000, hlm. 6).

Pendidikan kedamaian dapat terjadi melalui berbagai metode dan teknik dengan perencanaan yang matang. Asumsi didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, pendidikan di sekolah pasti dicapai seluruh segmen masyarakat (yaitu, remaja) karena sekolah adalah wajib dan semua anak-anak dan remaja diminta untuk menghadirinya. Kedua, sekolah merupakan lembaga sosial yang formal, bersifat disengaja, dan memiliki kemungkinan besar untuk mencapai misi pendidikan perdamaian karena memiliki kewenangan, legitimasi, sumber daya, metode, dan kondisi untuk melaksanakannya. Ketiga, sekolah berlangsung pada usia wajib belajar, dan remaja yang masih dalam proses perkembangan, lebih terbuka terhadap ide-ide dan informasi baru. Oleh karenanya, remaja diperlukan untuk mempelajari pesan dan informasi di sekolah dan memperlakukan remaja dengan tepat dalam mengatasi permasalahan tanpa kekerasan (Bar-Tal & Rosen, 2009, hlm. 8).

Lasser & Adams (2007, hlm. 6-7) berdasarkan review yang telah dilakukan, merekomendasikan sekolah seyogyanya merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kurikulum kedamaian yang dapat diintegrasikan pada layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Peserta didik diberikan pengetahuan tentang perkembangan diri, keterampilan sosial, serta aplikasi rasa damai pada diri sendiri baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat.

(13)

akademik dan karir. Peserta didik diharapkan mampu berkembang dengan baik dalam pendidikan dengan menjadi pribadi yang utuh.

Berkaitan dengan bimbingan dan konseling, Kartadinata (2011) mengemukakan “Kajian bimbingan dan konseling terfokus pada pengembangan (perilaku) individu untuk mewujudkan keberfungsian diri dalam lingkungan, membantu individu berkembang secara efektif”. Bimbingan dan konseling membantu untuk mengembangkan potensi individu mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal. Indikator optimal ialah individu telah mampu mandiri.

Remaja yang sedang dalam masa badai dan tekanan atau sering disebut sebagai “strom and stress” menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuian diri maupun lingkungan sosialnya. Salah satu tugas perkembangan yang paling sulit bagi remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial (Hurlock, 2004). Seperti halnya disebutkan dalam standar kopetensi kemandirian perserta didika (Dirjen PMPTK, 2007) bahwa salah satu tugas perkembangan ialah kematangan hubungan sebaya. Dalam kematangan hubungan sebaya remaja dituntut untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Adanya interaksi tersebut menyebabkan remaja mengalami beberapa persoalan dalam hubungannya dengan orang lain. Berkaitan dengan hal tersebut, remaja dituntut untuk menyelesaiakan persoalan dalam proses interaksi dengan damai dan tanpa kekerasan baik verbal maupun nonverbal. Oleh karena itu, agar mencapai perkembangan sosial yang optimal, remaja seyogyanya memiliki kompetensi hidup damai sebagai upaya penyelesaian konflik yang dihadapinya.

(14)

rekonsiliasi yang dapat dimobilisasi untuk membangun kembali masyarakat dan mempromosikan perdamaian (Kirmayer, 2010, hlm. 1).

Di negara barat telah lama dikenal program conflict resolution education, peace education, violence prevention, violence reduction yang terbukti berdampak positif terhadap prestasi akademik, keterampilan dan kesehatan psikologis peserta didik (Jhonson dan Jhonson, 1996). Berdasarkan perspektif tersebut, maka bimbingan dan konseling perlu menata pendekatan, melakukan reformasi konten dan konteksnya sehingga budaya damai tidak hanya menjadi bagian layanan bimbingan dan konseling melainkan gaya hidup semua orang yang tercermin dalam perilaku hormat, peduli, toleran sehingga komunitas sekolah dapat menjadi “the way we do things around here” (Bodine & Crawford, 1996).

Cultivating peace merupakan model yang menanamkan budaya damai pada remaja. Layanan bimbingan sebagai upaya memfasilitasi peserta didik dalam mengoptimalkan perkembangan remaja, dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan budaya damai sehingga remaja memiliki kompetensi hidup damai. Berdasarkan pemaparan, fokus penelitian ialah upaya meningkatkan kompetensi hidup damai pada peserta didik melalui layanan bimbingan berbasis cultivating peace.

Cultivating peace mengajak pada peserta didik ke dalam wilayah pembangunan perdamaian. Cultivating peace merupakan proses yang panjang dan sulit (Mukpo, 2003). Tantangan dimulai dengan berlatih perdamaian pada diri sendiri bahkan ketika memiliki pikiran yang agresif. Maka dari itu perlu adanya rangsangan keinginan untuk bertindak dalam meningkatkan budaya damai melalui cultivating peace. Budaya damai memiliki sensorik dan aspek tertentu yang memberikan pengalaman langung, sehingga dapat berpikir tentang kehidupan budaya damai dan harmonis tidak dengan adanya kekerasan.

(15)

Dalam konteks Indonesia, masih relatif sulit menemukan hasil penelitian tentang pengembangan budaya damai, meskipun visi pendidikan nasional sudah mengarah pada peace education dan global education. Beberapa prakarsa penelitian mengenai budaya damai telah dilakukan oleh Ilfiandra (2009,2011,2012), Kartadinata (2013) yang mengkaji mengenai pendidikan resolusi konflik, layanan bimbingan untuk mengembangkan kompetensi hidup damai dan harmoni, dan model pedagogik dan bimbingan dan konseling untuk pengembangan mindset kedamaian. Rekomendasi dari berbagai hasil penelitian ini salah satunya adalah perlunya upaya sistematis dan komprehensif untuk mengembangkan kedamaian melalui jalur pendidikan formal.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Pengembangan budaya damai bukan merupakan perkara yang mudah dan cepat dalam prosesnya. Pada prosesnya penerapan budaya damai bersifat berkesinambungan dan terintegrasi dalam setiap pilar pendidikan yang diberikan kepada peserta didik, khususnya bimbingan dan konseling. Pengembangan budaya damai belum menjadi salah satu upaya guru bimbingan dan konseling dalam setiap proses layanan bimbingan dan konseling. Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling masih belum sistematis dan menunjukan hasil. Hal tersebut dapat dilihat dari indikator keberhasilan perkembangan peserta didik di sekolah yang masih belum menyeluruh dan belum merasakan adanya layanan bimbingan dan konseling seutuhnya berdasarkan wawancara dengan guru bimbingan dan konseling di sekolah.

(16)

perusakan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Dengan demikian, terdapat indikasi banyak remaja tidak mampu mengembangkan budaya damai

Di sekolah belum terdapat layanan bimbingan khusus yang berorientasi pada pengembangan budaya damai. Sementara , di negara barat telah lama dikenal program conflict resolution education, peace education, violence prevention, violence reduction yang terbukti berdampak positif terhadap prestasi akademik, keterampilan dan kesehatan psikologis peserta didik (Jhonson dan Jhonson, 1996). Sekolah dapat diposisikan sebagai tempat remaja belajar hidup secara beradab dengan orang lain untuk mempersiapkan peran sebagai orang tua, anggota masyarakat, pemimpin, dan kalangan profesional yang produktif. Oleh karena itu, sekolah seyogyanya memfasilitasi peserta didik dalam meningkatkan kompetensi hidup damai sebagai upaya mengembangkan budaya damai melalui layanan bimbingan dan konseling. Kedatipun demikian belum terdapat perangkat pendukung layanan untuk budaya damai yang memadai.

Cultivating peace merupakan program yang menanamkan budaya damai pada remaja. Cultivating peace diimplimentasikan dalam layanan bimbingan sebagai upaya pengembangan budaya damai. Melalui layanan bimbingan berbasis cultivating peace peserta didik diberikan latihan untuk meningkatkan kompetensi hidup damai sebagai upaya menerapkan budaya damai dalam dirinya. Sehingga pada akhirnya peserta didik dapat memiliki kompetensi hidup damai serta menanamkan budaya damai dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapai tanpa melalui kekerasan.

Berdasarkan fenomena yang dipaparkan, maka rumusan masalah penelitian adalah bagaimana layanan bimbingan berbasis cultivating peace efektif dalam meningkatkan kompetensi hidup damai pada remaja?

Berdasarkan pemaparan latar belakang, identifikasi masalah, dan rumusan masalah, permasalahan tersebut diuraikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut.

(17)

2. Apakah layanan bimbingan berbasis cultivating peace efektif dalam meningkatkan kompetensi hidup damai pada peserta didik Kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi.

C. Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian bertujuan menghasilkan layanan bimbingan berbasis cultivating peace dalam meningkatkan kompetensi hidup damai pada peserta didik di sekolah. Lebih khusus, tujuan penelitian adalah memperoleh data empirik mengenai:

1. Impelementasi cultivating peace dalam layanan bimbingan berdasarkan masukan penimbangan ahli mulai dari konstruk, struktur, konten dan perangkat penyelenggaraannya layanan bimbingan dan konseling,

2. Efektivitas layanan bimbingan berbasis cultivating peace dalam meningkatkan kompetensi hidup damai pada peserta didik Kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi.

D. Manfaat Penelitian

Setelah rumusan tujuan dapat tercapai, maka penelitian ini dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis.

1. Secara Teoritis

Hasil Penelitian diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan bimbingan dan konseling, khususnya mengenai budaya damai pada remaja serta layanan bimbingan meningkatkan kompetensi hidup damai.

2. Secara Praksis

Adapun manfaat penelitian secara praksis yang diperoleh adalah sebagai berikut.

(18)
(19)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Pendekatan kuantitatif sebagai pendekatan yang memungkinkan dilakukannya pencatatan data berupa angka-angka, pengolahan statistik, struktur dan percobaan kontrol. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengkaji dinamika kompetensi hidup damai pada remaja dan efektivitas layanan bimbingan berbasis cultivating peace dalam upaya meningkatkan kompetensi hidup damai pada remaja. Laporan akhir untuk pendekatan pada umumnya memiliki struktur yang ketat dan konsisten mulai dari pendahuluan, tinjauan pustaka, landasarn teori, metode penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan.

Sesuai dengan fokus, permasalahan, dan tujuan penelitian, metode penelitian menggunakan metode eksperimen kuasi (quasi experiment). Desain yang digunakan dalam eksperimen kuasi adalah pre test-post test control group design (pre test-post test dua kelompok). Pada dua kelompok, sama-sama dilakukan pretest dan posttest. Kelompok eksperimen diberikan intervensi berupa layanan bimbingan berbasis cultivating peace, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi, yang tervisualisasikan pada gambar berikut.

(Creswell, 2012, hlm. 316)

(20)

B. Partisipan Penelitian

Lokasi penelitian di SMAN 2 Kota Sukabumi. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ialah peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi Tahun Ajaran 2014/2015 merupakan kategori usia remaja. Pertimbangan dalam menentukan partisipan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Remaja yang mengalami perubahan fisik secara drastis mengakibatkan perubahan-perubahan pada aspek emosional. Bentuk reaksi emosi tidak hanya berupa lisan tapi juga dapat berakibat kekerasan fisik.

2. Studi pendahuluan memaparkan bahwa tidak jarang terjadi kasus kekerasan terutama dalam bentuk verbal di lingkungan pergaulan peserta didik.

3. Peserta didik kelas X merupakan peserta didik yang sedang mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan baru.

C. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik SMAN 2 Kota Sukabumi Kelas X

Tahun Ajaran 2014/2015 dengan jumlah 161 peserta didik. Subjek yang dijadikan sampel

dalam penelitian adalah peserta didik Kelas X.7 SMAN 2 Kota Sukabumi Tahun Ajaran

2014/2015 berjumlah 28 peserta didik. Pengambilan sampel penelitian menggunakan

non-probability sample dengan cara mengambil sampel kelas yang memiliki nilai rata-rata terendah dari kelas yang lainnya.

D. Definisi Operasional Variabel

Penelitian ini terdiri dari dua konsep pokok operasional variabel, diantaranya: 1. Variabel bebas yaitu layanan bimbingan berbasis cultivating peace.

2. Variabel terikat yaitu kompetensi hidup damai.

Secara rinci dipaparkan definisi operasional masing-masing variable sebagai berikut:

a. Kompetensi Hidup Damai

(21)

Secara operasional, yang dimaksud dengan kompetensi hidup damai dalam penelitian ini adalah kecakapan peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi tahun ajaran 14-2015 terhadap pernyataan tertulis tentang hidup damai yang merujuk pada konsep UNESCO yang kemudian dielaborasi oleh Asian-Pasific of Education Innovation for Development (APEID) yang meliputi nilai inti dan nilai-nilai terkait sebagai berikut: cinta, keharuan, harmoni, toleransi, mengasuh dan berbagi, interdependensi, pengenalan jiwa orang lain, perasaan berterima kasih. Nilai inti tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.

1) Indikator dimensi cinta meliputi: rasa harga diri, percaya dan penghormatan, kecaman diri yang positif, keterbukaan, memperhatikan orang-orang lain, ketaatan/kesetiaan, rasa berkorban, rasa rekonsiliasi/perdamaian, keberanian kesopanan santunan, dan daya tahan. 2) Indikator dimensi keharuan/rasa iba meliputi: keramahan, kekuatan

moral/daya tahan, kepekaan atas kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain, kebajikan, mengasuh, dan bersifat mendukung.

3) Indikator dimensi harmoni meliputi: saling percaya dan memahami, rasa memiliki/arti budaya kerjasama/kolaborasi, komunikasi yang mangkus (efektif), perhatian pada kebaikan bersama, rasa rekonsiliasi, dan keinginan untuk konsensus.

4) Indikator dimensi toleransi meliputi: saling menghormati, kesediaan menerima dan tulus penghormatan pada perbedaan-perbedaan pribadi dan budaya (bhinneka tunggal ika), penyelesaian pertikaian secara damai, penerimaan dan penghargaan kemajemukan budaya, penghormatan kepada kelompok-kelompok minoritas dan orang-orang asing, rasa humor, kesopanan/keramahtamahan, dan hati yang terbuka.

(22)

6) Indikator dimensi pengenalan jiwa orang lain meliputi: penghargaan kepada orang lain, penghormatan dan penghargaan pada kehidupan, keyakinan atas potensi material dan spiritual, komitmen pada perkembangan manusia yang asli kepercayaan pada semangat manusia, kebebasan pemikiran, kata hati dan keyakinan, ketenangan/kekuatan batin, integritas/kejujuran, keadilan, dan sikap reflektif/kesamadian.

7) Indikator dimensi rasa berterima kasih meliputi penghargaan, penghormatan, dan kesediaan menerima.

b. Layanan Bimbingan berbasis Cultivating Peace

Layanan bimbingan berbasis cultivating peace dalam penelitian adalah serangkaian kegiatan bimbingan dasar yang tersencana secara sistematis, terarah dan terpadu berdasarkan model cultivating peace yang diciptakan dan didistribusikan oleh Class Connecions yang disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi Tahun Ajaran 2014-2015, berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan instrument kompetensi hidup damai yang diberikan pada tahap pre-test. Struktur layanan yang dikembangkan meliputi: rasional, deskripsi kebutuhan, tujuan, sasaran layanan, pengembangan tema, tahapan kegiatan dan evaluasi dalam upaya meningkatkan kompetensi hidup damai peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi.

(23)

generalisasi. Evaluasi berfokus pada eksplorasi yang dilakukan konselor melalui pertanyaan reflektif untuk mengetahui perasaan, pikiran, dan pengalaman peserta didik selama bereksperientasi dengan sebuah rekayasa pengalaman yang dikreasikan konselor. Sedangkan kegiatan generalisasi lebih pada bagaimana peserta didik menterjemahkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh selama konseling dalam kehidupan mereka sehari-hari.

E. Instrumen Penelitian

1. Kisi-kisi Instrumen Pengumpul Data

Instrumen yang digunakan ialah angket kompetensi hidup damai. Instrumen diadaptasi dari penelitian Ilfiandra, Ipah, & Dadang (2010) untuk mengungkap kompetensi hidup damai dan harmoni yang merujuk pada konsep UNESCO yang dielaborasi oleh Asian-Pasific of Education Innovation for Development (APEID).

Kisi-kisi instrumen kompetensi hidup damai dikembangkan dari definisi operasional variabel penelitian yang di dalamnya terkandung dimensi dan indikator untuk kemudian dijabarkan dalam bentuk pernyataan skala.

2. Pedoman Skoring

Instrumen mencoba mengukur indikator-indikator kompetensi hidup damai peserta didik SMA Negeri 2 Kota Sukabumi dari setiap dimensi dan indikatornya, yang dungkap dengan menggunakan pola penyekoran dengan menyediakan sembilan alternatif jawaban. Sembilan alternatif jawaban atau disebut dengan rating scale terdapat pada tabel 3.1, sebagai berikut.

Tabel 3.1

Pola skor Opsi Alternatif Rating Scale

Pernyataan Opsi Alternatif Respon

Favorabel (+) 1 2 3 4 5 6 7 8 9

3. Uji Kelayakan Instrumen

(24)

M.Pd. Proses uji kelayakan instrument dilakukan selama tujuh kali revisi, dimulai dari pemeriksaaan kesesuaian definisi operasional dengan kisi-kisi sampai pada kesesuaian kisi-kisi dengan pernyataan. Selain itu, uji kelayakan berupa konten, konstruk dan redaksi dalam setiap pernyataan, serta pengantar dan penutup instrument yang akan disebar luaskan pada sampel penelitian.

4. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Validitas merupakan tingkat penafsiran kesesuaian hasil instrumen dengan tujuan yang di inginkan suatu instrumen (Creswell, 2012, hlm.159). Pengujian validitas dilakukan pada seluruh butir pernyataan (item) instrumen dengan menggunakan rumus spearman correlation. Tujuan menggunakan spearman correlation untuk mengukur keeratan hubungan tiap jawaban responden yang memiliki skala ordinal, dalam perhitungan validitas butir pernyataan digunakan bantuan program SPPS 17.0.

Setelah uji validitas setiap item selanjutnya instrumen tersebut diuji tingkat realibiltasnya, realibilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas instrumen. Tujuan uji reliabilitas untuk mengetahui tingkat kepercayaan dan ketepataanya instrumen sehingga mampu menghasilkan skor-skor secara konsisten. Dalam pengujian realibiltas instrumen digunakan rumus crobanch’s alpha dalam proses pengujian realibiltias digunakan bantuan program SPPS 17.0.

Untuk menginterpretasikan hasil perhitungan koefisien validitas menggunakan klasifikasi menurut Robert & Jones (2010), dapat dilihat pada tabel 3.2.

Tabel 3.2

Interpretasi Koefisien Validitas

No Interpretasi Koefisien Validitas Kualifikasi

1 Very high >.50

2 High .40 - .49

3 Moderate/Acceptable .21 - .40

4 Low/Unacceptable <.20

(25)

Tabel 3.3 Koefisien Realibilitas

No Koefisien Realibilitas Kualifikasi

1 Very high >.90

2 High .80 - .89

3 Acceptable .70 - .79

4 Moderate/Acceptable .60 - .69

5 Low/Unacceptable <.59

Perangkat instrument kompetensi hidup damai selanjutnya diuji cobakan pada tanggal 16 Maret 2015 kepada 305 orang responden dengan sistem built-in.

Instrumen yang telah diujicobakan kemudian dihitung dan diolah dengan bantuan

program SPSS 17.0. Dari hasil perhitungan dan pengolahan terhadap 60 pernyataan

menghasilkan 56 butir pernyataan memiliki indeks validitas yang signifikan pada p <

0.05. Pernyataan yang tidak valid yaitu: (a) indikator harga diri (butir pernyataan nomor

1); (b) indikator kecaman diri yang positif (butir pernyataan 3 & 4); dan (c) indikator

komunikasi yang mangkas (efektif) (butir pernyataan 23).

Uji reliabilitas instrumen kompetensi hidup damai peserta didik menggunakan metode Cronbach’s Alfpha dibantu dengan SPSS 17.0. Dari uji reliabilitas didapatkan tingkat reliabilitas instrumen sebesar 0.908. Berdasarkan kategori tingkat koefisien realibilitas menggunakan klasifikasi menurut Robert & Karyn (2010) tingkat derajat kepercayaan dan keterandalan instrumen termasuk pada kategori tinggi sekali, dengan demikian instrumen kompetensi hidup damai peserta didik dapat menghasilkan skor secara konsisten dan juga dapat digunakan oleh peneliti. Berikut kisi-kisi instrument setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

Tabel 3.4

Kisi-Kisi Instrumen Kompetensi Hidup Damai

DIMENSI INDIKATOR NOMOR

PERNYATAAN

1. Cinta 1.1 Percaya dan Penghormatan 1

1.2 Keterbukaan 2

1.3 Memperhatikan orang lain 3 & 4

1.4 Ketaatan/kesetiaan 5

1.5 Rasa berkorban 6

1.6 Rasa rekonsiliasi/perdamaian 7

1.7 Keberanian 8

(26)

DIMENSI INDIKATOR NOMOR PERNYATAAN

1.9 Daya tahan 10

2. Keharuan atau rasa iba 2.1 Keramahan 11

2.2 Kekuatan moral/daya tahan 12

2.3 Kepekaan atas kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain

13

2.4 Kebajikan 14

2.5 Mengasuh 15

2.6 Bersifat mendukung 16

3. Harmoni 3.1 Saling percaya dan memahami 17

3.2 Rasa memiliki/arti budaya/kolaborasi 18

3.3 Kerjasama/kolaborasi 19

3.4 Perhatian pada kebaikan bersama 20

3.5 Rasa rekonsiliasi 21

3.6 Keinginan untuk konsensus 22

4. Toleransi 4.1 Saling menghormati 23

4.2 Kesediaan menerima dan tulus 24 & 25 4.3 Penghormatan pada perbedaan-perbedaan

pribadi dan budaya (bhinneka tunggal ika)

26

4.4 Penyelesaian pertikaian secara damai 27 4.5 Penerimaan dan penghargaan kemajemukan

budaya

28 & 29

4.6 Penghormatan kepada kelompok-kelompok minoritas dan orang-orang asing

30

4.7 Rasa humor, kesopanan/ keramah tamahan, hati yang terbuka

6. Interdependensi 6.1 Rasa terkait dengan orang-orang lain 36 6.2 Globalisasi/nasionalisme dan internasionalisme 37

6.3 Rasa berguna 38

6.4 Tanpa kekerasan 39

6.5 Peran serta aktif 40

6.6 Saling menghormati antar bangsa 41 6.7 Tanggung jawab dan kerjasama kreatif dan

kolektif

42

6.8 Kepemimpinan transformasional 43

6.9 Komitmen ke masa depan 44

7. Pengenalan jiwa orang lain 7.1 Penghargaan kepada orang lain 45 7.2 Penghormatan dan penghargaan pada

kehidupan

46

7.3 Keyakinan atas potensi material dan spiritual 47 7.4 Komitmen pada perkembangan manusia yang

asli

48

7.5 Kepercayaan pada semangat manusia 49 7.6 Kebebasan pemikiran, kata hati dan keyakinan 50

7.7 Ketenangan/kekuatan batin 51

7.8 Integritas/kejujuran, keadilan 52

(27)

DIMENSI INDIKATOR NOMOR PERNYATAAN

8.2 Penghormatan 55

8.3 Kesediaan menerima 56

D. Prosedur Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian, prosedur penelitian eksperimen kuasi dilaksanakan dalam tahap, sebagai berikut.

1. Pengumpulan data dalam rangka pelaksanaan intervensidengan menyebarkan instrumen kompetensi hidup damai yang telah layak disebarkan kepada peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi (setelah diuji validitas dan reliabilitas).

2. Menetapkan sampel penelitian yang mendapat hasil rata-rata kelas terendah. Sampel yang mendapatkan rata-rata terendah menjadi kelas eksperimen. 3. Penyusunan layanan bimbingan berbasis cultivating peace dalam

mengembangkan kompetensi hidup damai peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi, yang kemudian dipertimbangkan oleh pakar untuk menghasilkan layanan bimbingan yang layak.

4. Pretest dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan pengumpulan data untuk mengungkapkan need asessment dalam pemberian layanan bimbingan berbasis cultivating peace.

5. Memberikan intervensi layanan bimbingan berbasis cultivating peace pada kelas eksperimen. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan intervensi yang akan dilakukan.

a. Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol.

b. Memberikan intervensi layanan bimbingan berbasis cultivating peace terhadap kelas eksperimen.

c. Kelas eksperimen merupakan kelas yang memiliki rata-rata terendah dari kelas yang lain.

(28)

A. Rasional

Kemarahan dan kekerasan pada remaja menjadi topik penting untuk pendidik hari ini dan psikolog sekolah (Lochman, Powell, Clanton, McElroy, 155). Penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan konflik telah lama terjadi di masyarakat (Bertrand, 2005; Colombijn & Lindblad, 2002), serta tidak sulit menjumpai perkelahian, bullying, dan percekcokan antar remaja (Deutsch, 2001; Rais, 1997). Masa remaja merupakan masa yang sarat akan konflik, karena pada masa perkembangan ini tiap individu mengalami perubahan yang sangat kompleks, yaitu perubahan fisik, pola perilaku, peran sosial, serta merupakan masa pencarian identitas untuk menjadi diri sendiri sebagai individu (Hurlock, 2000, hlm. 206). Perubahan-perubahan tersebut bagi sebagian remaja merupakan situasi yang tidak menyenangkan dan sering menimbulkan masalah. Permasalahan-permasalahan tersebut menuntut suatu penyelesaian agar tidak menjadi beban yang dapat mengganggu perkembangan selanjutnya.

Konflik sosial, akademik, dan psikologis merupakan konflik yang sering muncul pada remaja. Konflik antar peserta didik yang paling serius terjadi adalah tawuran pelajar. Tawuran pelajar bukan hanya merupakan kenakalan remaja, tetapi sudah cenderung menjadi perilaku kriminal karena konflik sering disertai dengan kekerasan, perusakan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Remaja melakukan tindak kekerasan, perusakan atau penganiayaan dikarenakan belum memahami cara pemecahan konflik. Faktor munculnya konfik pada remaja diantaranya yaitu pengaruh hormon, tuntutan peran untuk menjadi dewasa, perkembangan kemampuan kognitif yang mulai memahami ketidakkonsistenan dan ketidaksempurnaan orang lain serta melihat permasalahan yang terjadi sebagai permasalahan sendiri daripada menyerahkan permasalahan pada orang tua Shantz & Hartup (1992). Remaja mengalami transisi untuk menuju kematangan yang kemungkinan meningkat timbulnya konflik.

(29)

pula pada tantangan dalam kehidupan personal remaja. Pendidik dihadapkan tidak hanya dengan efek langsung dari kemarahan dan agresi, seperti ancaman kekerasan dan konflik antara peserta didik, tetapi juga dengan efek tidak langsung yang muncul dalam bentuk kesulitan belajar dan masalah penyesuaian (Lochman, Powell, Clanton, McElroy, hlm. 155). Budaya damai merupakan proses aktif, positif, partisipatif dalam menghargai keragaman, toleransi terhadap perbedaan, mendorong upaya dialog, dan menyelesaikan konflik dengan semangat saling pengertian dan kerja sama (UNESCO).

Penting bagi peserta didik untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling untuk mencapai pribadi yang utuh dengan memfasilitasi atau membantu peserta didik keluar dari masalah-masalah yang dapat menghambat perkembangannya baik secara fisik maupun psikis dalam bidang pribadi, sosial, akademik dan karir. Peserta didik diharapkan mampu berkembang dengan baik dalam pendidikan dengan menjadi pribadi yang utuh.

Berdasarkan studi pendahuluan dengan menggunakan instrumen kompetensi hidup damai yang disebarkan pada satu angkatan peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi, diperoleh data sebagai berikut.

Tabel

Hasil Studi Pendahuluan

Peserta didik Kelas X SMA Negeri 2 Kota Sukabumi Tahun Ajaran 2014-2015

Kelas X.1 X.2 X.3 X.4 X.5 X.6 X.7 X8 X.9

Mean Rank 419 394,87 385,52 413,13 405,50 353,68 342,52 386,37 382,23

Tabel 1 diketahui, bahwa peserta didik kelas X.7 memiliki rata-rata yang lebih rendah dibandingkan dengan kelas yang lain. Hal lain yang ditunjukan adalah standar deviasi yang tinggi dibandingkan dengan kelas lain, artinya terdapat keberagaman kompetensi hidup damai para peserta didik di kelas X.7. Kompetensi hidup damai pada peserta didik kelas X.7 ditinjau dari dimensi cinta, keharuan, harmoni, toleransi, peduli dan berbagi, interdependensi, dan pengenalan jiwa orang lain serta indikator-indikator, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga puluh indikator dibawah rata-rata dari lima puluh dua indikator dan tujuh dimensi kompetensi hidup damai peserta didik.

(30)

dengan teman sebaya dan mengambil keputusan, seperti pembelajaran berbasis masalah dan membantu peserta didik untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dengan mengembangkan kompetensi hidup damai dalam dirinya. Dampak dari remaja yang tidak merasa damai akan terjadi permusuhan, terisolasi, mengganggu proses belajar, sehingga baik remaja maupun sekolah sulit untuk mencapai tujuan bersama (Harris, 2000, hlm. 6).

Di negara barat telah lama dikenal program conflict resolution education, peace education, violence prevention, violence reduction yang terbukti berdampak positif terhadap prestasi akademik, keterampilan dan kesehatan psikologis peserta didik (Jhonson dan Jhonson, 1996). Berdasarkan perspektif tersebut, maka bimbingan dan konseling perlu menata pendekatan, melakukan reformasi konten dan konteksnya sehingga budaya damai tidak hanya menjadi bagian layanan bimbingan dan konseling melainkan gaya hidup semua orang yang tercermin dalam perilaku hormat, peduli, toleran sehingga komunitas sekolah dapat menjadi

the way we do things around here” (Bodine & Crawford, 1996).

Cultivating peace merupakan model yang menanamkan budaya damai pada remaja. Layanan bimbingan sebagai upaya memfasilitasi peserta didik dalam mengoptimalkan perkembangan remaja, dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan budaya damai sehingga remaja memiliki kompetensi hidup damai. Berdasarkan pemaparan, fokus penelitian ialah upaya meningkatkan kompetensi hidup damai pada peserta didik melalui layanan bimbingan berbasis cultivating peace.

(31)

Secara umum, layanan bimbingan berbasis cultivating peace bertujuan mengembangkan budaya damai di sekolah. Secara khusus tujuan layanan bimbingan berbasis cultivating peace mengembangkan kompetensi hidup damai yang dibangun melalui dimensi kemampuan cinta, keharuan, harmoni, toleransi, interdependesi, pengenalan dan terima kasih.

C. Asumsi

Asumsi lanyanan bimbingan dan konsleing berbasis cultivating peace adalah sebagai berikut.

1. Perdamaian tidak hanya soal perang. Perdamaian adalah keadilan, kesetaraan, kebebasan dari penindasan, diskriminasi dan segala bentuk kekerasan baik fisik maupun psikis. Perdamaian merupakan kasih sayang, empati, keamanan ekonomi dan lingkungan, martabat budaya dan apresiasi untuk semua manifestasi unik individu.

2. Remaja perlu memiliki optimisme dan keyakinan bahwa tindakan yang dilakukan dapat membuat perubahan. Remaja perlu diyakinkan bahwa kekerasan tidak hanya satu-satunya cara dalam mengambil keputusan.

3. Remaja seyogyanya memiliki kemampuan, keinginan, dan menerima perbedaan setiap individu.

4. Mendidik untuk perubahan tidak hanya tentang ceramah pada remaja bahwa remaja harus bertindak, tetapi ini adalah tentang membantu remaja memahami kelambanan perubahan yang terjadi sebagai sebuah pilihan dan membuat remaja harus bertindak langsung

5. Guru bimbingan dan konseling sebagai pendidik mempunyai tanggung jawab untuk mendorong remaja memberikan kesempatan nyata membangun keterampilan dalam komunikasi, observasi, aplikasi, pemahaman dan juga membangun pikiran dasar untuk bertindak, sehingga damai dapat ditanamkan melalui layanan dasar yang diberikan kepada peserta didik.

(32)

pengembangan dan penilaian terhadap dinamika perubahan perilaku peserta didik.

7. Cultivating Peace menyediakan berbagai macam model untuk mengambil tindakan nyata dengan cara-cara inovatif, reflektif dan aplikatif. Cultivating Peace mengajak remaja untuk berpikir dan memahami keadaan lingkungan, mengambil tindakan tanpa kekerasan, dan melakukan perubahan perilaku untuk menciptakan budaya damai di lingkungan sekitar.

D. Fokus Perkembangan Kompetensi

Secara garis besar layanan bimbingan berbasis cultivating peace berfokus pada pengembangan kompetensi hidup damai merujuk pada konsep UNESCO yang kemudian dielaborasi oleh Asian-Pasific of Education Innovation for Development (APEID) yang meliputi nilai inti dan nilai-nilai terkait sebagai berikut: cinta, keharuan, harmoni, toleransi, mengasuh dan berbagi, interdependensi, pengenalan jiwa orang lain, perasaan berterima kasih.

Berdasarkan hasil pengolahan data, fokus pengembangan kompetensi pada indikator yang masih dibawah rata-rata. Adapun indikator yang dikembangkan sebagai berikut.

1. Dimensi cinta, yang meliputi percaya dan penghormatan; keterbukaan, ketaatan/kesetiaan, rasa berkorban, rasa rekonsiliasi/perdamaian, dan keberanian.

2. Dimensi keharuan atau rasa iba, yang meliputi keramahan, kepekaan atas kebutuhan orang lain, dan mengasuh

3. Dimensi harmoni, yang meliputi saling percaya dan memahami, rasa memiliki/arti budaya/kolaborasi, kerjasama, komunikasi yang efektif, perhatian pada kebaikan bersama, rasa rekonsiliasi, dan keinginan untuk consensus.

4. Dimensi toleransi, yang meliputi saling menghormati, penyelesaian pertikaian secara damai, dan penghormatan kepada kelompok minoritas.

(33)

6. Dimensi interdependensi, yang meliputi rasa terkait dengan orang lain, nasionalisme, rasa berguna, tanpa kekerasan, peran serta aktif, tanggung jawab dan kerjasama kreatif, dan kepemimpinan transformasional.

7. Dimensi pengenalanjiwa orang lain, yang meliputi penghargaan kepada orang lain.

(34)

Tabel

Rencana Kegiatan Layanan Bimbingan Berbasis Cultivating Peace Dalam Pengembangan Kompetensi Hidup Damai Pada Remaja

Tujuan Indikator Nama Kegiatan Strategi Waktu Sarana

1. Peserta didik mampu memahami makna damai 2. Peserta didik mampu

mengeksplorasi konsep damai dihadapan teman-temannya 3. Peserta didik dapat terlibat

proses perdamaian melalui pembelajaran 3. 3 Kertas karton berbeda warna 4. Double tip

1. Peserta didik paham tentang penyebab terjadinya kekerasan 2. Peserta didik mampu mengenali

beberapa perspektif tentang penyebab terjadi konflik dan tindakan kekerasan berdasarkan video yang ditayangkan dan pengalaman pribadi.

3. Peserta didik memahami faktor penyebab konflik dan tindakan kekerasan baik yang berasal dari diri sendiri atau orang lain.

4. Peserta didik mampu mengelola emosi ketika merasa mulai terjadi indikasi akan terjadinya konflik dan kekerasan

1. Peserta didik memiliki perhatian pada kebaikan bersama

2. Peserta didik memiliki kepekaan atas

kebutuhan-45 menit 1. Video tentang peserta didik minoritas

(35)

Tujuan Indikator Nama Kegiatan Strategi Waktu Sarana peserta didik minoritas

3. Peserta didik dapat mengidentifikasi hak asasi manusia minoritas dalam suatu lingkungan 4. Peserta didik dapat melindungi

peserta didik mininoritas di sekolah berdasarkan identifikasi konsekuensi pengambilan tindakan. 5. Peserta didik mampu mengajak

teman untuk menciptakan iklim damai di sekolah

kebutuhan orang lain

3. Peserta didik memiliki kemurahan hati

4. Peserta didik memiliki rasa hormat pada kelompok minoritas

1. Peserta didik mampu membangun budaya damai melalui gambar-gambar yang ditampilkan

2. Peserta didik mampu menghubungkan konsep damai dengan kemanan diri maupun secara global.

3. Peserta didik mampu mengajak temannya untuk menciptakan budaya damai di sekolah

1. Peserta didik memahami berbagai perspektif tentang etika aksi sosial 2. Peserta didik mampu membangun

kerangka pribadi untuk

mengidentifikasi bentuk tindakan yang paling tepat dan paling efektif untuk memajukan budaya damai

3. Peserta didik memiliki keramahan

45 menit 1. Video mengenai bullying 2. Kertas A4

Spidol warna

1. Peserta didik mampu memahami permasalahan yang ada di sekitar lingkungannya.

(36)

Tujuan Indikator Nama Kegiatan Strategi Waktu Sarana 2. Peserta didik mampu memahami

apa masalah di lingkungan sekitar memerlukan tindakan dan siapa yang bertanggung jawab dalam penyelesaiannya.

3. Peserta didik mampu menyelesaikan permasalahan tanpa kekerasan melalui kelompok kerjasama, membangun konsensus dan negosiasi.

2. Peserta didik memiliki rasa saling percaya dan memahami 3. Peserta didik memiliki

keinginan untuk consensus 4. Peserta didik dapat peran serta

aktif

Jawab

1. Peserta didik mampu mengeksplorasi hambatan untuk mengambil tindakan dan kondisi yang mendorong partisipasi 2. Peserta didik mampu

mengidentifikasi tantangan yang akan dihadapi dan kekhawatiran mengenai pengambilan tindakan.

1. Peserta didik dapat bertanggung jawab dan bekerjasama kreatif dan kolektif mengidentifikasi kontribusi yang telah dilakukan untuk membangun budaya damai di sekitar lingkungannya.

2. Peserta didik mampu menerapkan apa yang telah mereka pelajari melalui eksplorasi topik dengan membangun komitmen terhadap membangun budaya damai di 3. Peserta didik memiliki

(37)

E. Langkah-langkah

Layanan bimbingan berbasis cultivating peace terdiri dari tiga tahap. Tahap awal, fokusnya adalah mengakrabkan antar peserta didik dan meleburkan suasana (ice breaking). Selain itu, diberikan pula stimulasi berupa pertanyaan-pertanyaan untuk mengeksplorasi pengetahuan peserta didik, cerita, ilustrasi, tayangan video, pengalaman pribadi serta lembar kerja yang disesuaikan dengan indikator kompetensi hidup damai yang dikembangkan. Tahap inti, tahap ini disebut juga tahap kerja karena. Pada tahap ini digunakan berbagai macam strategi yang digunakan yaitu diskusi, brainstorming, permainan dan role model. Tahap akhir, terdapat dua kegiatan yaitu evaluasi dan generalisasi. Evaluasi berfokus pada eksplorasi yang dilakukan konselor melalui pertanyaan reflektif untuk mengetahui

perasaan, pikiran, dan pengalaman peserta didik selama bereksperientasi dengan sebuah

rekayasa pengalaman yang dikreasikan konselor. Sedangkan kegiatan generalisasi lebih

pada bagaimana peserta didik menterjemahkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang

diperoleh selama konseling dalam kehidupan mereka sehari-hari.

F. Evaluasi dan Indikator Keberhasilan

Efektivitas layanan bimbingan berbasis cultivating peace dilakukan melalui analisis kuantitatif berupa pengujian perbedaan skor kompetensi hidup damai antara peserta didik yang dijadikan kelompok eksperimen dengan peserta didik kelompok control. Indikator keberhasilan dari layanan bimbingan berbasis cultivating peace ini secara keseluruhan dapat dilihat dari self-evaluation dan planning yang dilakukan pada akhir sesi treatment.

6. Postest dilaksanakan seminggu setelah kegiatan intervensi layanan bimbingan berbasis cultivating peace. Posttest diberikan pada kelas ekperimen dan kelas kontrol.

(38)

E. Teknik Analisis Data

Analisis efektivitas layanan bimbingan berbasis cultivating peace untuk meningkatkan kompetensi hidup damai peserta didik dilakukan dengan menganalisis perbedaan tingkat kompetensi hidup damai antara kondisi pretest dan postest. Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini menggunakan teknik U-Mann-Withnay (non parametik) dan Kolmogorov Smirnov.

Hipotesis dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut “Layanan Bimbingan berbasis Cultivating Peace dapat Meningkatkan Kompetensi Hidup Damai pada

Peserta didik”. Dalam hipotesis, layanan berbasis cultivating peace diperlakukan

sebagai independent variable sedangkan kompetensi hidup damai diperlakukan sebagai dependent variable. Untuk keperluan pengujian, hipotesis penelitian tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam hipotesis statistik sebagai berikut.

Hipotesis Statistik : H0 : µ1 = µ2

H1 : µ1 > µ2

Kriteria pengujiannya, Ho ditolak jika: harga µ1 yang diperoleh berdasarkan data

(39)

BAB V

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Berdasarkan hasil uji efektifitas pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan berbasis cultivating peace, maka skor antara pretest dan posttest kelas ekperimen dan kelas kontrol tidak terdapat perbedaan yang terlalu signifikan. Hal ini berarti layanan bimbingan berbasis cultivating peace tidak efektif untuk mengembangkan kompetensi hidup damai peserta didik. Berdasarkan uji efektifitas terhadap dimensi dan indikator kompetensi hidup damai, layanan bimbingan berbasis cultivating peace efektif dalam mengembangkan kompetensi hidup damai pada dimensi cinta dengan indikator rasa berkorban dan rasa rekonsiliasi/perdamaian, serta dimensi interdependensi dengan indikator rasa guna, indikator kesediaan menerima dengan tulus dan penghargaan.

Ketidakefektifan layanan disebabkan faktor-faktor yang mempengaruhi penanaman budaya damai pada prosesnya, kurang terlibatnya pihak sekolah dalam pelaksanaan budaya damai di sekolah, serta tidak didampingi nilai-nilai inti kedamaian yang lain. Oleh karena itu implikasi layanan bimbingan berbasis cultivating peace hendaknya dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak yang bersangkutan seperti guru, lingkungan belajar dan orang tua. Pendeskripsian inti permasalahan lebih rinci agar pencapaian tujuan lebih jelas dan tepat sasaran serta disertai oleh nilai-nilai inti kedamaian yang lain.

B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis penelitian terhadap pegembangan kompetensi hidup damai peserta didik, maka dikemukakan beberapa rekomendasi sebagai berikut.

1. Bagi konselor

(40)

dengan kelas yang lainnya dengan tidak mengesampingkan kelas yang lain. Layanan bimbingan berbasis cultivating peace memiliki layanan yang mengajak peserta didik untuk berpikir, berdiskusi dan melakukan tindakan nyata dalam pelaksanaannya. Penerapan budaya damai pada peserta didik memiliki waktu yang cukup lama untuk mengetahui perubahan, maka seyogyanya guru BK dapat mengimplikasikan layanan bimbingan berbasis cultivating peace pada setiap kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan kepada peserta didik, sehingga peserta didik tidak hanya memiliki kompetensi hidup damai, tetapi memiliki nilai-nilai damai dalam kehidupannya.

Guru BK diharapkan dapat mengoptimalkan upaya kolaborasi dengan orang tua, guru mata pelajaran, wali kelas, kepala sekolah dan personel sekolah lainnya sebagai pengontrol aktivitas dan sistem pendukung utama dalam perubahan perilaku peserta didik.

2. Bagi peneliti selanjutnya

Rekomendasi ditujukkan kepada para peneliti yang akan mengembangkan atau memperkokoh kajian serta konsep budaya damai dan kompetensi hidup damai peserta didik.

a. Peneliti selanjutnya diharapkan memiliki instrumen pendamping dalam melakukan penelitian untuk mengetahui kondisi atau situasi damai yang diharapkan.

b. Penelitian dengan menggunakan metode kuasi eksperimen masih memiliki kekurangan, peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan metode campuran (mix method) agar hasil atau perubahan yang dialami dapat diamati secara lebih akurat dengan adanya muatan kualitatif.

c. Penelitian selanjutnya diharapkan melakukan observasi perubahan perilaku peserta didik secara langsung diluar jam intervensi, sehingga dapat diketehui apakah peserta didik menerapkan kompetensi yang dikembangkan selama sesi intervensi.

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Adams, David. (2000). Toward a global movement for a culture of peace. Peace and Conflict: Journal of Peace Psychology, 6(3), 259–266. Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Aryani, Farida. (2009). Model pendidikan damai dan hak asasi manusia (pd-ham) untuk mencegah kekerasan di sekolah. Tersedia di

http://digilib.unm.ac.id/files/disk1/7/unm-digilib-unm-faridaarya-301-1-artikel-m.pdf.

ASCA. (2004). ASCA national standards for students. Alexandria, VA: Author Aquino, K., Tripp, T.M., & Bies, R.J. (2006). Getting even or moving on? power,

procedural justice, and types of offense as predictors of revenge, forgiveness, reconciliation, and avoi&ce in organizations. Journal of Applied Psychology, 91: 653-668.

Barash, David P. & Webel, Charles. P. (2014). Peace and conflict studies (third edition). Sage Publication. Tersedia di http://www.sagepub.com/upm-data/55624_Chapter_1.pdf

Bar-Tal, Daniel & Rosen, Yagial. (2009). Peace education in societies involved in intractable conflicts: Direct and Indirect Models. Journal Tersedia di :

http://rer.sagepub.com/content/79/2/557 [2 Mei 2013]

Bertrand, J. (2005). Nationalism and ethnic conflict in indonesia. London: CambridgeUniversity Press.

Bodine, R.J., Crawford, D.K. (1996). The handbook of conflict resolution education, a guide to building quality programs in schools. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.

Brown, Nina W. (1994). Group counseling for elementary and middle school children. Greenwood Publishing Group.

Castro, Loreta N. & Galace, Jasmin N. (2010). Peace education: A Pathway to a Culture of Peace. Philippines: Center for Peace Education.

Clarke-Habibi, Sara. (2004). Transforming worldviews the case of education for peace in bosnia and herzegovina. Journal. Tersedia di :

http://jtd.sagepub.com/content/3/1/33 [1 Mei 2014]

(42)

Creswell, John W. (2012). Educational research: Planning, Conducting and Evaluating Quantitative and Qualitative Research (4th ed). Boston: Pearson Education.

Colombijn, F., & Lindblad. (2002). Roots of the violence in Indonesia. Singapura: Instituteof Southeast Asia Studies.

De Rivera, Josep. (2004). Assessing the basis for a culture of peace in contemporary societies. Journal. Tersedia di :

http://jpr.sagepub.com/content/41/5/531 [13 mei 2014]

Deutsch, M.(2000). The handbook of conflict resolution: Theory and Practice.San Francisco: Jossey Bass Publisher.

Deutsch, M. (2001). Cooperation and conflict resolution: Implications for consulting psychology. Consulting Psychology Journal. Tersedia di :

http://connection.ebscohost.com/c/speeches/14415436/cooperation-conflict-resolution-implications-consulting-psychology

Dirjen PMPTK. (2007). Rambu-rambu penyepenggaraan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Jakarta: Depdiknas.

Drummond, J. Robert & Jones, D. Karyn. (2010). Assessment procedures for counselor and helping professionals (7th ed). Boston, MA: Pearson.

Elmi, Afyare Abdi. (2009). Peace education in canada: Teacher Perceptions of the Cultivating Peace Education Program. Journal of Contemporary Issues in Education, 2009, 4(2), pp.41-54. Tersedia di:

http://ojs.educ.ualberta.ca/index.php/jcie/

Ekadjati, Edi S. (2005). Kebudayaan sunda (suatu pendekatan sejarah): Cetakan kedua. Jakarta: Pustaka Jaya

Erikson, E.H.(1987). Identity: Youth and Crisis. New York: Norton & Company Fisher, S., Ludin, J., Williams, S., Williams, S., Abdi, D.I., & Smith, R. (2000).

Mengelola konflik: keterampilan dan strategi untuk bertindak. Terj.: Kartikasari, S.N., Tapilatu, M.D., Maharani, R.M., & Rini, D.N. Jakarta: The British Council.

Galtung, Johan. (2010). Peace studies and conflict resolution: The Need for

Transdisciplinarity. Tersedia di:

http://tps.sagepub.com/content/47/1/20.short [13 Mei 2014]

(43)

Johan, Galtung. (1967). Theories of peace: A Synthetic Approach to Peace Thinking. Oslo: International Peace Research Institute.

Hadjam, M.Noor Rochman & Widhiarso, Wahyu. (2003).Budaya damai anti kekerasan (peace and anti violence). Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Umum

Harris, Ian M. (2000). Peace-building responses to school violence. Journal. Tersedia di : http://bul.sagepub.com/content/84/614/5 [13 Mei 2014]

Hunt, M.P. & Metcalf, L.E.(1996). Teaching high school social studies, problems in reflective thinking and sosial understanding. New York: Harper & Brothers Publishers.

Hurlock, E. B. (2000). Perkembangan anak. Jilid II. Jakarta : Erlangga.

Hurlock, E. B. (2004). Psikologi perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga

Ilfiandra. (2009). Model konseling resolusi konflik berlatar belakang bimbingan komprehensif untuk mengembangkan kompetensi hidup damai dan harmoni peserta didik daerah rawan komplik. Laporan Penelitian.Bandung : LPPM Universitas Pendidikan Indonesia.

International Commision on Education for Twenty-first Century. (1996). Learning: The Treasure Within. UNESCO

Jhonson, D.W. dan Jhonson, R.T. (1996). Conflict resolution and peer mediation program in elementary and secondary schools : A Review of The Research, Review of Educational Research, 66, 459-506.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).(2002). Departemen pendidikan nasional edisi ke-3.Balai Pustaka, Jakarta: Gramedia.

Kartadinata, S. (2011). Penegasan keilmuan dan profesi bimbingan. Makalah. Kuliah Umum Jurusan PPB FIP UPI Tahun Akademik 2011/2012. Bandung: tidak diterbitkan.

Kartadinata, S. (2013). Model layanan pedagogis serta bimbingan dan konseling untuk pengembangan mindset kultur kedamaian. Laporan penelitian. Bandung : LPPM Universitas Pendidikan Indonesia.

Kohlberg, L & Hersh, R. H. (1977). Moral development: A review of the theory. Theory into Practice, 16 (2), 53-59.

Koran Sindo. (2014). Artikel: Kekerasan Remaja. Terbit, Selasa 16 Desember

(44)

http://nasional.sindonews.com/read/937804/18/kekerasan-remaja-1418695836

Kirmayer, J Laurance (2010). Peace, conflict, and reconciliation: Contributions of Cultural Psychiatry. Journal . Tersedia di

http://tps.sagepub.com/content/47/1/5 [13 Mei 2014]

Lasser, Jon & Adams, Krysta. (2007). The effects of war on children school

psychologists’ role and function. Journal. Tersedia di

http://spi.sagepub.com/content/28/1/5 [13 April 2014]

Lochman John E, Powell Nicole R, Clanton Nancy, McElroy Heather K. Anger

and aggreasion. Journal. Tersedia di :

http://www.nasponline.org/publications/booksproducts/nas-cbiii-05-1001-009-r02.pdf

Matsuura, K. (2002). UNESCO—Mainstreaming the culture of peace. Retrieved from http://www.unesdoc.unesco.org/images/0012/001263/126398e.pdf. Mayton, M. Daniel. (2009). Nonviolence and peace psychology. USA: Springer McEvoy-Levy, S., (2001). Youth as social and political agents: Issues in

Post-Settlement PeaceBuilding. Kroc Institute, Occasional Paper.

Mukpo, Mipham J.(2003). Cultivating peace in times of argdresion. Shambhala Sun column.

Moawad, Nazli. (1996). From a culture of violence to a culture of peace: An Agenda for Peace and a Culture of Peace.UNESCO Publishing.

Montiel, C.J. (2002). Sociopolitical forgiveness. Peace Review, 14, 271-277 Nair, Gopinath. (2009). Peace education and conflic resolution in school. Health

Administrator Vol: XVII, Number 1: 38-42, pg. Tersedia di:

http://medind.nic.in/haa/t05/i2/haat05i2p38.pdf.

Nelson, Linden L.(1994). Peace education from a psychological perspective: contributions of the peace and education working group of the american psychological association Div. 48. Journal. Tersedia di:

http://www.psysr.org/about/committees/peace_education/Peace_Education _from_a_Psychological_Perspective.htm

Gambar

Gambar 3.1 Desain Penelitian
Tabel 3.1 Pola skor Opsi Alternatif
Tabel 3.2 Interpretasi Koefisien Validitas
Tabel 3.3 Koefisien Realibilitas
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut dapat dilihat dari prinsip pencatatan akuntansi yang digunakan dari generasi pertama sampai generasi ketiga, persamaannya sampai ke generasi

Perkembangan bank syariah dewasa ini mulai membaik,hal ini ditandai dengan makin menjamurnya bank bank yang berlandaskan prinsip syariah,selain itu banyak pula cabang dari bank

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak

Berdasarkan hasil analisis data observasi aktifitas dosen maka perlu adanya langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan pada siklus II, yaitu: Pada tahap inti : (1) Dosen

Berdasarkan Perpres 70 Tahun 2012 dan sehubungan dengan telah selesainya evaluasi dokumen kualifikasi untuk pekerjaan PPengadaan Laboratorium Keperawatan Maternitas (Lelang ulang)

penguasa. Syirik merupakan kedhaliman dan penganiayaan terhadap diri sendiri. Sebab orang musyrik menjadikan dirinya sebagai hamba dari makhluk yang merdeka. Syirik juga

: ueehe4ad uveputue1 uuler8ay uuus4qad Suuuaured up4wntunSua6J ',vto7, trBnnql,J gI 1vffiuu1 vIoT umlvJ- VLO : JotuoN utsBndusg IsnW uarydnqrx aplas uuSuuna;1 uvr8vg uuevffiw|

Berdasarkan hasil wawancara di atas dengan informan maka dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan nomor kelas suatu bahan pustaka yang dilakukan pustakawan pada perpustakaan