• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembalikan Marwah BPDP-KS : Koreksi atas 2 Tahun Kinerja BPDP-KS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mengembalikan Marwah BPDP-KS : Koreksi atas 2 Tahun Kinerja BPDP-KS"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Mengembalikan Marwah BPDP-KS : Koreksi atas 2 Tahun Kinerja BPDP-KS

Jakarta, 15 Juni 2017

Petani kelapa sawit, Masyarakat Sipil dan akademisi mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh pemerintah untuk membentuk BPDP-KS (Badan Pengelola Dana Perkebunan) Kelapa Sawit. Ini merupakan sebuah “gong” untuk membangkitkan kelapa sawit Indonesia secara khusus perkebunan Rakyat Indonesia. Sebagaimana diketahui, luas perkebunan rakyat saat ini kurang lebih 42 % dari total luasan 11,3 Juta Ha perkebunan sawit Indonesia. BPDP tentunya menjadi pusat harapan petani kelapa sawit untuk memajukan perkebunan rakyat, menjadi petani sebagai subyek menuju kemandirian dan kesejahteraan petani sawit Indonesia. Harapan kita semua, komitment pemerintah untuk menghadirkan BPDP mampu menjembatani agar masa depan perkebunan sawit Indonesia adalah perkebunan rakyat.

Petani juga mengapresiasi bahwa kerja-kerja BPDP telah sukses dan mampu memungut biaya dari pelaku usaha perkebunan sebesar Rp. 11, 7 Triliun selama kurang lebih hingga saat ini. Petani perkebunan rakyat hanya berharap agar dana ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan sumber daya manusia, Penelitian dan pengembangan, promosi perkebunan, Peremajaan tanaman perkebunan, dan atau sarana dan prasana perkebunan sebagaimana yang di amanatkan oleh UU perkebunan No 39 tahun 2014 pasal 93 ayat 4.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan—selanjutnya ditulis UU 39/2014—mengamanatkan skema pembiayaan usaha perkebunan melalui tiga bentuk.

Pertama, pembiayaan oleh pemerintah pusat bersumber dari APBN. Kedua, pembiayaan oleh pemerintah daerah bersumber dari APBD. Ketiga, pembiayaan dari pelaku usaha perkebunan bersumber dari dana yang tiga sumber, yakni, (i) dana yang dihimpun oleh pelaku usaha perkebunan; (ii) dana dari masyarakat; dan (iii) dana dari sumber lain yang sah menurut peraturan perundang-undangan.1

Dana usaha perkebunan yang dihimpun dari selain APBN dan APBD digunakan secara limitatif untuk tujuan sebagai berikut:

1. Pengembangan sumber daya manusia;

2. Penelitian dan pengembangan;

3. Promosi perkebunan;

1 Lihat Pasal 93 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU 39/2014.

(2)

4. Peremajaan tanaman perkebunan; dan/atau 5. Sarana dan prasarana perkebunan.2

Secara lebih spesifik pengaturan tentang penghimpunan dana perkebunan oleh pelaku usaha diperintahkan UU 39/2014 agar diatur dengan peraturan pemerintah.3 Sehingga terbit Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan—selanjutnya ditulis PP 24/2015.

Dalam konteks perkebunan kelapa sawit, penghimpunan dana pelaku usaha perkebunan diperintahkan oleh PP 24/2015 diatur dengan peraturan presiden.4 Sehingga terbit Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit—selanjutnya ditulis Perpres 61/2015—yang mengalami sekali perubahan dengan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2016—selanjutnya ditulis Perpres 24/2016.

Dalam Pasal 20 ayat (1) Perpres 61/2015 diamanatkan kepada Menteri Keuangan (Menkeu) untuk membentuk sebuah Badan Pengelola Dana usaha perkebunan yang bersumber dari selain APBN dan APBD. Di sektor perkebunan kelapa sawit, Menkeu menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.01/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKS)—selanjutnya ditulis PMK 113/PMK.01/2015.

Serikat Petani Kelapa Sawit menyatakan, sejak tahun 2015, BPDPKS menghimpun dana dari ekspor CPO sebesar 50 dolar Amerika Serikat per ton atau setara 750 dolar Amerika Serikat per metrik ton sawit. Dana yang berhasil dikumpulkan sampai 2016 adalah Rp 11,7 triliun. BPDPKS mencanangkan dukungan untuk B20 pada 2017 sebesar Rp 9,6 triliun.

Angka tersebut lebih dari setengah target pungutan dana pada 2017 yang sebesar Rp 10,3 triliun.

2 Pasal 93 ayat (4) UU 39/2014.

3 Pasal 93 ayat (5) UU 39/2014.

4 Lihat Pasal 5 ayat (4), Pasal 15 ayat (2), Pasal 24, dan Pasal 25 ayat (3) PP 24/2015.

(3)

(Sumber, Warta Beacukai, Volume 47, Nomor 9, September 2015, hlm 7).

Padahal disinyalir, pengelolaan pungutan dana oleh BPDPKS diduga hanya akan menguntungkan oknum tertentu belaka dalam industri kelapa sawit. Sebuah kemungkinan yang sungguh keluar dari tujuan pembentukan BPDPKS. Kasak kusuk eksistensi BPDPKS yang keluar dari pakem tujuan pembentukannya, ternyata juga didukung oleh kurang diterapkannya prinsip transparansi dan akuntabilitas, baik secara kelembagaan maupun kaitannya dengan masyarakat, dalam pengelolaan BPDPKS.

Hari ini tepatnya tanggal 15 Juni 2017 dimana BPDP tepat berusia 2 tahun, merupakan waktu yang tepat bagi petani dan masyarakat sipil Indonesia untuk memberikan catatan-catatan atas dasar apa yang dialami oleh petani kelapa sawit Indonesia. Catatan khusus ini bertujuan untuk;

(4)

1. Memberikan peringatan dini secara khusus bagi BPDPKS untuk merubah arah, strategi, perencanaan, dan peraturan serta lebih peka pada situasi-situasi di perkebunan sawit khususnya perkebunan rakyat. Jika tidak, BPDPKS ini akan gagal.

2. Memberikan peringatan bagi pemerintah khususnya kementerian-kementerian terkait yang tergabung dalam dewan pengawas dan komite pengarah sebagai pemandu BPDP, untuk memperkuat petani perkebunan rakyat dan tidak berpihak pada perkebunan besar dan industri biodiesel.

3. Memberitahukan kepada Bapak Presiden Jokowi, bahwa Badan Pengelola Dana Perkebunan yang telah dibentuk oleh Presiden melalui peraturan presiden telah

“salah jalan” dan tidak tepat sasaran bagi rakyat Indonesia di perkebunan yang berjumlah kurang lebih 5 juta kepala keluarga.

4. Memberikan dukungan bagi dinas-dinas perkebunan dan kabupaten-kabupaten penghasil kelapa sawit untuk memperjuangkan keadilan dalam system bagi hasil kelapa sawit yang belum memberikan keuntungan bagi daerah kabupaten kota.

5. Memberitahukan lembaga perwakilan daerah khususnya DPRD, DPR-RI, DPD untuk melakukan evaluasi kebijakan dan penerapan Badan Pengelola Dana Perkebunan.

6. Meminta KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) untuk bekerja sama dengan BPDP untuk mencegah terjadinya korupsi.

Beberapa situasi dan kondisi selama kurang lebih 2 tahun terakhir, tanpa segan-segan kami nyatakan bahwa BPDP hanya mau mengurusi industri biodiesel. Untuk petani sawit?

Dipersulit.

Pertama : Terkait dengan Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit. BPDP dalam beberapa kali ajang pertemuan di beberapa tempat menyampaikan jika kehadiran BPDP dapat mengintervensi Harga pembelian TBS (Tandan Buah Segar) petani kelapa sawit. Hingga saat ini, tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pembelian TBS yang dilakukan oleh perusahaan dan pabrik selalu tinggi sebelum kehadiran BPDP dan harga-nya selalu stabil. Harga TBS di seluruh provinsi selalu fluktuatif atau kadang naik dan kadang turun.

Hal ini mencemaskan petani sawit, dimana janji BPDP itu untuk stabilkan harga? Harga pembelian TBS sebagai pusat perhatian petani, karena tingginya harga pembelian TBS oleh pabrik dan perusahaan akan membawa harapan kehidupan bagi keberlanjutan kehidupan keluarga petani untuk membeli makan, rumah, pakayan dan pendidikan anak-anak petani.

BPDP beranggapan dengan subsidi biodiesel bagi industri biodiesel akan mencegah over supply karena ketersediaan pasar baru dalam negri. Menurut kami, untuk mencegah over supply tidak dengan cara membuat pasar baru namun harus mengintervensi sektor hulu dengan cara menghentikan ekspansi perkebunan kelapa sawit yang mana tradisi ekspansi oleh perusahaan-perusahaan besar kelapa sawit masih dilakukan saat ini.

Kedua; Untuk memajukan perkebunan rakyat Indonesia, hal-hal yang paling penting adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurut kami, kualitas sumber daya manusia petani akan membantu menjembatani petani sawit sebagai pelaku utama dalam perkebunan sawit Indonesia. BPDP harus menjadi solusi untuk mengatasi ketidak-tahuan

(5)

petani kelapa sawit akan standar teknis budidaya perkebunan yang tepat dan sesuai dengan standar teknis perkebunan, ketidak-tahuan petani akan informasi perkebunan lestari, dan minimnya informasi-informasi yang membangkitkan kreativitas petani kelapa sawit. Sehingga produktivitas sawit rakyat lebih tinggi dari saat ini yang hanya mencapai 12 ton/ha/ tahun. Dengan perhatian pada peningkatan kualitas SDM petani diharapkan kesejahteraan petani lebih baik dan pengelolaan sawit berkelanjutan itu menjadi nyata dan dijalankan oleh perkebun rakyat.

Ketiga; Peremajaan kelapa sawit sebagaimana yang menjadi salah satu tujuan hadir BPDP belum memberikan gambaran bahwa program ini akan memberikan manfaat bagi petani kelapa sawit. Sangat disayangkan, program peremajaan ini dengan model bantuan permodalan sebesar 25 juta/ ha akan gagal dan tidak menarik petani sawit untuk terlibat dalam program ini. Sebagaimana program peremajaan sawit dalam program revitalisasi perkebunan yang dimulai sejak tahun 2007 hingga 2014 hanya mewarisi kegagalan dan masalah. Harus di antisipasi, BPDP akan mengalami nasib serupa dengan program-program sebelumnya yang tidak memberikan manfaat bagi petani kelapa sawit namun hanya memberi rasa untung bagi pelaku usaha perkebunan besar.

Sebagaimana yang di atur oleh BPDP, bahwa bantuan permodalan untuk peremajaan petani kelapa sawit sebesar 25 juta/ ha akan diberikan kepada petani melalui kelompok/

kelembagaan petani jika petani memiliki dana sendiri atau petani mampu meminjam dari lembaga perbank-kan dengan cara kredit sebesar 35 juta/ha. Di samping itu, skema yang ditawarkan dengan pola management satu atap dimana seluruh kebun-kebun rakyat dikelola oleh perusahaan hanya akan menciptakan konflik di perkebunan dimasa yang akan datang. Kedua hal penting ini, menjadi tantangan besar bagi petani kelapa sawit. Bagi petani yang tidak memiliki uang sebanyak 35 juta/ha untuk peremajaan, hanya dapat pasrah atau “mau tidak mau” mereka harus terlibat dalam program ini dengan terpaksa.

Keempat; legalitas petani kelapa sawit seperti STDB (Surat Tanda Daftar Budidaya) dan sertifikat kebun harus menjadi prioritas untuk diselesaikan oleh BPDP juga. Dua hal ini sangat mendasar atas hak kepemilikan atas kebun yang dikelola oleh petani. STDB sebagai surat registrasi kebun yang di keluarkan oleh kepala daerah, dan Sertifikat kebun sebagai alas hak atas tanah. Jika petani sudah memiliki alas hak, maka keamanan usaha jangka panjang mendapatkan perlindungan yang lebih baik. Saat ini, belum ada petani pekebun mandiri (petani swadaya) yang mendapatkan STDB atau Sertifikat Tanah yang didukung oleh BPDP-KS.

Kelima; Kelembagaan BPDP khususnya Dewan Pengawas dan juga Komite pengarah yang terdiri dari kementerian-kementerian terkait seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Posisi kementerian-kementerian ini akan mempersulit konsolidasi dan tata laksana internal untuk mempercepat fungsi-fungsi yang di jalankan. Selain itu, posisi dewan pengawas dan juga komite pengarah, hanya membuat BPDP ini menjadi sebuah lembaga

(6)

yang lemah akan akuntabilitas, transparansi, partisipasi dan pengawasan. Keterlibatan mereka dalam posisi-posisi itu hanya akan membuat lembaga ini akan terus di recoki oleh kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi. Siapa yang mengawasi BPDP?

Keenam: Pembangunan best practise pada level perkebunan tidak memadai. Sampai saat ini, kita sangat sulit menemukan contoh-contoh terbaik yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan sawit dan petani pekebun mandiri dan bagaimana menihilkan pembakaran lahan skala luas. Praktek-praktek terbaik dari kelapa sawit dan pendekatan keberlanjutan, perkebunan sawit skala besar dengan masyarakat dan food security hingga bagaimana contoh-contoh terbaik relasi antara perusahaan, masyarakat dan perempuan dalam konteks HAM. Jika terdapat contoh-contoh tersebut, dapat ditiru dan dikembangkan secara luas.

Terkait dengan hal tersebut di atas, khususnya terkait dengan promosi perkebunan dan sisi lain sawit Indonesia belum memiliki contoh terbaiknya, apa yang Indonesia akan promosikan? BPDP harus membangun jejaring yang kuat untuk memperbanyak contoh-contoh terbaiknya dan kementerian-kementerian terkait dapat mendukung dengan peraturan-peraturan yang lebih baik.

Penyelundupan Hukum?

Pasal 93 ayat (4) UU 39/2014 mengamanatkan secara limitatif penggunaan dana dari pelaku usaha perkebunan yang tidak berasal dari APBN dan APBD dalam lima hal. Akan tetapi, dalam aturan pelaksananya ketentuan ini disimpangi dengan menambahkan tujuan tambahan dari perintah Pasal 93 ayat (4) UU 39/2014 tersebut.

Dalam Pasal 9 ayat (2) PP 24/2015, tambahan atas tujuan penggunaan dana dari usaha perkebunan yang tidak berasal dari APBN dan APBD diatur sedemikian:

Pasal 9

(2) Penggunaan dana untuk kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk dalam rangka:

a. perkembangan perkebunan; dan

b. pemenuhan hasil perkebunan untuk kebutuhan pangan, bahan bakar nabati (biofuel), dan hilirisasi industri perkebunan.

Apabila bunyi Pasal 9 ayat (2) PP 24/2015 disandingkan dengan bunyi Pasal 93 ayat (4) UU 39/2014, maka ada penambahan ketentuan baru. Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan—selanjutnya ditulis UU 12/2011—pada Pasal 12 menyatakan, “Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.” Kalimat ini memiliki arti bahwa materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang.

(7)

Demikian, tidak bertentangannya materi muatan Peraturan Pemerintah terhadap Undang-Undang dapat dimaknai dalam tiga lingkup:

1. Tidak menambah materi muatan Undang-Undang;

2. Tidak mengurangi materi muatan Undang-Undang; dan/atau 3. Tidak menghapus materi muatan Undang-Undang.

Jelaslah bahwa materi muatan yang diatur dalam Pasal 9 ayat (2), khususnya pada huruf b PP 24/2015 yang berbunyi, “pemenuhan hasil perkebunan untuk kebutuhan pangan, bahan bakar nabati (biofuel), dan hilirisasi industri perkebunan” menambah materi yang diatur sebelumnya dalam Pasal 93 ayat (4) UU 39/2014. Bukankah yang demikian ini patutlah dianggap sebagai penyelundupan hukum? Bahwa PP 24/2015 menambah sesuatu yang tidak diperintahkan oleh UU 39/2014.

Tak berhenti hanya di Peraturan Pemerintah, penyelundupan hukum ini ternyata juga diikuti oleh PP 61/2015. Dalam Pasal 11 ayat (2) dinyatakan:

Pasal 11

(2) Penggunaan dana yang dihimpun untuk kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk dalam rangka pemenuhan hasil perkebunan kelapa sawit untuk kebutuhan pangan, hilirisasi industri perkebunan kelapa sawit, serta penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabatijenis biodesel.

Bagaimana mungkin bunyi Pasal 11 ayat (2) Perpres 61/2015 yang menyebut “bahan bakar nabati jenis biodesel” berbeda dengan bunyi Pasal 9 ayat (2) PP 24/2015 yang menyebutkan “bahan bakar nabati (biofuel)”. Bukankah hal ini adalah penyelundupan hukum yang super ngawur?

Nirtransparansi Dan Monopoli Pengelolaan Dana

Kurangnya transparansi pengelolaan dana dari pungutan ekspor kelapa sawit, misalnya, ditunjukkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Kajian Sistem Pengelolaan Kelapa Sawit.5 Sampai 2016, setidaknya terjadi selisih kurang bayar dan selisih lebih bayar terhadap pungutan dana ekspor kelapa sawit. Jumlah selisih kurang bayar sampai Agustus 2016 mencapai lebih dari Rp 2 miliar dan selisih lebih bayar mencapai lebih dari Rp 10 miliar. Adanya selisih pembayaran tersebut disebabkan oleh surveyor—dalam hal ini yang ditunjuk adalah PT Sucofindo (Persero)—tidak menerbitkan notifikasi yang memuat nominal nilai pungutan.6 Kondisi selisih bayar itu diperparah dengan BPDPKS tidak

5 Lihat KPK, 2016, Kajian Sistem Pengelolaan Komoditas Kelapa Sawit, Direktorat Penelitian dan Pengembangan Kedeputian Bidang Pencegahan KPK RI, Jakarta.

6Ibid., hlm 36.

(8)

melakukan rekonsiliasi data pembayaran pungutan ekspor dengan Dirjen Bea dan Cukai Kemenkeu.7

Penyaluran dana pungutan dari ekspor kelapa sawit pada faktanya banyak mengalir ke perusahaan besar perkelapa-sawitan, bukan ke industri rakyat atau pekebun rakyat. Kajian KPK mencatat, per 2016, kurang lebih 81,8 persen biaya subsidi mandatori penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati jenis biodesel dinikmati oleh empat perusahaan besar saja. Terdiri dari PT Damex Biofuel (sebanyak Rp 330 miliar), PT Musim Mas (Rp 543 miliar), PT Wilmar Bionergi (Rp 779 miliar) dan PT Wilmar Nabati Indonesia (Rp 1,02 triliun). Bahkan tampak sekali bahwa satu grup perusahan (PT Wilmar) mendapatkan kucuran dana yang sangat besar (sampai Rp 1,8 triliun).8 Mengalirnya dana pungutan kelapa sawit ke korporasi besar untuk subsidi biodesel ini dapat dianggap sebagai sebuah monopoli.9

Praktik demikian di sisi yang lain semakin menjepit posisi rakyat pekebun dan petani kelapa sawit. Misalnya, keterangan pers yang disampaikan Ketua Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia, mendesak supaya Menkeu mencabut PMK 114/PMK.05/2015 yang sudah diubah dengan PMK 30/PMK.05/2016 tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum

7Ibid., hlm 37.

8Ibid., hlm 38.

9 Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, pada Pasal 1 angka 1 mencatat definisi monopoli dengan penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usahan. Sedangan Pasal 1 angka 2 menjelaskan arti praktik monopoli dengan pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan/atau pemasaran atas barang dan/atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum.

(9)

BPDPKS. Pasalnya, dua PMK itu menjadikan petani plasma kelapa sawit semakin tidak memiliki posisi tawar di rantai proses industri kelapa sawit.10

Pungutan ekspor Crude Palm Oil Supporting Fund yang dibebankan ke korporasi, dibebankan kembali ke petani yang mengakibatkan turunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Selain itu juga ditambahkan bahwa BPDPKS yang mengurus hal tersebut dianggap gagal menjalankan perannya, khususnya dalam promosi dan advokasi perkebunan sawit Indonesia.11 Belum lagi, kesepakatan lain seperti Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP) yang sempat diinisiasi memicu terjadinya praktik kartel dan monopoli dalam industri sawit nasional serta bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.12

Penutup

Menkeu Sri Mulyani menekankan bahwa keadilan yang diciptakan dari industri kelapa sawit Indonesia harus dapat dinikmati oleh rakyat. Keadilan tidak boleh membuat perusahaan kelapa sawit semakin kaya. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan rakyat pekebun dan petani kelapa sawit tidak mendapatkan akses atau keuntungan yang cukup dari perkebunan kelapa sawit.13 Pesannya sangat jelas, keadilan kelapa sawit harus diarahkan dan didapatkan oleh rakyat.

Langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah mengkoreksi adanya penyelundupan hukum yang ada di dalam Pasal 9 ayat (2) PP 24/2015 jo Pasal 11 ayat (2) Perpres 61/2015. Pemerintah harus mengembalikan marwah penggunaan dana usaha perkebunan yang tidak berasal dari APBN dan APBD ke dalam Pasal 93 ayat (4) UU 39/2014.

BPDPKS harus mengoreksi kembali kebijakannya, khususnya dalam penentuan dan penyaluran dana yang dihimpun dari pelaku usaha perkebunan kelapa sawit agar tidak terjadi monopoli maupun praktik monopoli. Selain itu, BPDPKS Meninjau dan merancang kembali subsidi mandatori biodesel, mengawasi pelaksanaan surveyor, dan lebih aktif dalam mendampingi rakyat pekebun dan petani kelapa sawit.[]

10 Inilah.com, Petani Sawit: Bubarkan BPDP, Hapus Pungutan CPO, diunggah pada 5 Mei 2017, pukul 06:09 WIB.

11Ibid.

12 Metrotvnews.com, KPPU: IPOP Perkuat Praktik Monopoli Pelaku Kelapa Sawit, diunggah pada 14 April 2016, pukul 16:44 WIB.

13 Lihat, Detikfinance.com, Sri Mulyani: Jangan Ada Perusahaan Sawit Kaya, Tapi Petani Tak Menikmati, diunggah pada 2 Mei 2017, pukul 19:31 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

1) Laporan laba-rugi bentuk langsung ( single-step income statement ) Dalam format ini, hanya ada dua pengelompokkan yaitu: pendapatan dan beban. Pendapatan dikurangkan dengan beban

[r]

dilakukan Astuti dengan judul penelitian “Pengaruh Penerapan Model Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT) Terhadap Hasil belajar Matematika Siswa Kelas VII

Perubahan warna yang terjadi dari merah muda menjadi hijau dan untuk penggunaan indikator kulit ubi jalar ungu, titik akhir titrasi yang diperoleh yaitu pada penambahan 19,2 mL

Pada hari Kamis tanggal Dua Puluh bulan Juli tahun Dua Ribu Tujuh Belas, Panitia Pengadaan Alat Laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Jayapura,

Tulus, M.Si selaku Ketua Departemen Matematika FMIPA USU, seluruh Staff dan Dosen Program Program Studi D3 Teknik Informatika FMIPA USU, pegawai FMIPA USU dan rekan- rekan

[r]

Konsep pergerakan tersebut dapat dilihat dari bentuk bangunan yang memanjang dan pergerakan dari tower A ke tower B, bentuk tatanan lansekap bangunan pada