• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 MPLS (Multiprotocol Label Switching)

2.1.1 Teknologi MPLS

Multiprotocol Label Switching (MPLS) adalah suatu metode forwarding (meneruskan data melalui suatu jaringan dengan menggunakan informasi dalam label yang dilekatkan pada IP), sehingga memungkinkan router untuk meneruskan paket dengan hanya melihat label dari paket itu, tidak perlu melihat IP alamat tujuannya atau MPLS dapat diartikan sebuah rangkaian jaringan node-node yang bisa men-switch dan men-route berdasarkan label yang dipasang pada setiap paket [16].

Dengan MPLS masih dapat diperoleh keuntungan :

1. Mengurangi banyaknya proses pengolahan di IP routers. Serta memperbaiki proses pengiriman suatu paket data

2. Menyediakan Quality of Service (QoS) dalam jaringan Backbone. Sehingga setiap layanan paket yang dikirimkan akan mendapat perlakuan dengan skala prioritas.

7

(2)

MPLS bekerja dengan melabeli paket – paket data dengan label untuk menentukan rute dan prioritas pengiriman paket tersebut yang didalamnya memuat informasi penting yang berhubungan dengan informasi routing suatu paket (label switching) [16]

2.2 MPLS – TE (Multi Protocol Label Switching – Traffic Engineering)

MPLS Traffic Engineering (MPLS TE) merupakan implementasi yang berkembang dalam jaringan penyedia layanan saat ini. MPLS yang diadopsi dalam jaringan operator selular telah meningkat bermacam–macam karena kemampuan inheren TE. MPLS TE memungkinkan jaringan MPLS dan diaktifkan untuk mereplikasi dan memperluas kemampuan TE dari Layer 2 ATM dan Frame Relay jaringan. MPLS menggunakan informasi reachability yang disediakan oleh Layer 3 protokol routing dan beroperasi seperti jaringan 2 Layer ATM. Dengan MPLS, kemampuan TE diintegrasikan ke dalam Layer 3, yang dapat diterapkan untuk penggunaan bandwidth yang efisien antara router dalam jaringan SP (Service Provider).

TE adalah proses pengaturan trafik melewati ke jaringan backbone untuk memfasilitasi efisiensi penggunaan bandwidth yang tersedia antara sepasang router. Sebelum MPLS TE, rekayasa trafik dilakukan baik oleh IP atau ATM, tergantung pada protokol yang digunakan antara dua sisi router dalam jaringan.

TE tradisional di jaringan IP dilakukan baik oleh IP atau melalui ATM.

(3)

TE dengan IP sebagian besar dilaksanakan oleh manipulasi biaya antar muka ketika beberapa jalur ada antara dua endpoint dalam jaringan.Selain itu, rute statis diaktifkan kemudi lalu lintas di sepanjang jalur khusus untuk tujuan.

Gambar 2.1 Blok Sistem MPLS – TE [3]

2.2.1 Komponen MPLS-TE

Komponen MPLS-TE dapat dibedakan menjadi :

1. Manajemen Path, merupakan proses pemilihan rute berdasarkan kriteria tertentu. Pemilihan ini bisa dilakukan secara administrative atau otomatis menggunakan protokol CR-LDP (constraint based routing LDP, digunakan untuk mengurangi pekerjaan manual TE). Manajemen path juga me-manage path, menjaga path selama proses transmisi dan mematikannya setelah proses selesai. Terdapat beberapa macam atribut pada path, yang digunakan dalam manajemen path, yaitu :

(4)

a) Atribut parameter trafik, merupakan karakteristik trafik yang akan ditransfer. Berupa nilai puncak, nilai rata-rata, ukuran burst yang dapat terjadi, dll. Informasi ini diperlukan untuk menentukan resource yang diperlukan dalam trunk trafik.

b) Atribut pemilihan dan pemeliharaan path generik, merupakan aturan yang digunakan untuk memilih trafik dan menjaganya supaya tetap hidup.

c) Atribut prioritas, menunjukkan prioritas trunk trafik. Digunakan saat pemilihan path maupun ketika mengalami kegagalan dalam network.

d) Atribut pre-emption, untuk menjamin bahwa prioritas trunk trafik yang tinggi dapat melalui jalur path yang lebih baik.

e) Atribut perbaikan, merupakan perilaku trunk trafik dalam keadaan gagal, meliputi deteksi kegagalan, pemberitahuan, dan perbaikan.

f) Atribut policy, menetukan tindakan yang diberikan terhadap trafik yang melebihi batas. Perlakuannya, bisa dibatasi, ditandai, atau diteruskan begitu saja.

2. Penempatan trafik, setelah LSP terbentuk, trafik harus dikirim melalui LSP. Manajemen trafik akan mengelola proses tersebut, melakukan fungsi pemisahan (membagi trafik atas kelas-kelas tertentu) dan pengiriman (memetakan trafik ke LSP).

3. Penyebaran keadaan network, bertujuan membagi informasi topologi ke seluruh LSR dalam network, menggunakan protokol seperti IGP.

(5)

Penyebaran informasi ini meliputi bandwidth link maksimal, alokasi trafik maksimal, pengukuran TE default, bandwdith yang dicadangkan untuk tiap kelas prioritas, dan atribut-atribut kelas resource. Informasi tersebut diperlukan untuk memilih rute terbaik dalam pembentukan LSP.

4. Manajemen network, meliputi konfigurasi network, pengukuran network, dan penanganan kegagalan network. Pengukuran yang dilakukan sama seperti pada paket lainnya, seperti traffic flow (melihat pada statistika hasilnya), pathloss (dengan monitoring pada ujung-ujung LSP dan mencatat trafik yang hilang), pathdelay (dengan mengirim paket probe ke seberang LSP, kemudian mengukur waktunya), juga dapat membangkitkan notifikasi dan alarm jika parameter yang ditentukan tersebut sudah diambang batas. Ada 2 protokol yang digunakan pada MPLS-TE, yaitu RSVP-TE untuk mendukung distribusi label dan routing eksplisit, dan CR-LDP yang dibuat untuk distribusi label.

2.2.2 Arsitektur MPLS-TE

MPLS dapat menggunakan mekanisme traffic engineering (TE) untuk meminimalisis kongesti dan meningkatkan performansi jaringan. TE memodifikasi pola routing untuk memberikan pemetaan aliran trafik terhadap resource jaringan secara efisien. Pemetaan yang efisien ini dapat mengurangi kemungkinan congesti dan meningkatkan kualitas layanan khususnya pada parameter jitter, packet loss dan perlakuan pada paket. MPLS memperluas protokol IP dan memanfaatkan kemampuan forwarding MPLS untuk mendukung

(6)

TE. MPLS TE menghadirkan kemampuan Explicit Routing dalam jaringan MPLS.

Ingress Label Switch Router (LSR) dapat menentukan Label Switch Path (LSP) menuju Engress LSR yang didefinisikan secara explicit termasuk rangkaian Intermediate Router yang harus dilalui. MPLS TE menggunakan RSVP yang diperluas dan paradigma forwarding MPLS untuk mendukung explicit routing.

Gambar 2.2 Contoh Topologi MPLS-TE [3]

2.3. Resource Reservation Protocol (RSVP)

RSVP merupakan protokol pemesanan resource yang dipakai untuk integrated service. Protokol RSVP dipakai oleh host untuk meminta QoS dari jaringan untuk dipakai oleh aplikasi tertentu. RSVP juga dipakai oleh router untuk mengantar permintaan QoS ke semua node sepanjang jalur aliran data dan dipakai untuk membangun dan memelihara kondisi jaringan. RSVP didesain untuk beroperasi dengan protokol peroutingan unicast dan multicast, sehingga RSVP

(7)

bukan protokol perutingan. Proses awal, RSVP memeriksa database perutingan lokal untuk mendapatkan route. Protokol perutingan menentukan dimana paket akan diteruskan. RSVP hanya fokus dengan QoS paket tersebut yang diteruskan dengan perutingan. Untuk mendapatkan efisiensi, RSVP membuat receiver bertanggung jawab dalam permintaan QoS. Permintaan QoS dari aplikasi host di receiver dilewatkan ke proses RSVP lokal. Kemudian protokol RSVP membawa permintaan ke semua node (host dan router) sepanjang path data menuju sumber data, tetapi hanya sejauh lokasi router path data yang dimiliki receiver.

QoS diimplementasikan pada aliran data terpisah melalui mekanisme traffic control. Mekanisme tersebut terdiri dari packet classifier, admission control, packet scheduler. Selama pembangunan reservasi, permintaan QoS RSVP dilewatkan melaui dua modul lokal yaitu admission control dan policy control.

Admission control menentukan apakah node memiliki ketersediaan resource yang cukup untuk menyuplai QoS yang diminta. Policy control menentukan apakah user memiliki izin administratif untuk melakukan reservasi.

Jika kedua proses berhasil, selanjutnya parameter – parameter di-set dalam packet classifier dan interface layer link (misal packet scheduler) untuk mendapatkan QoS yang diinginkan. Jika terdapat proses yang gagal maka program RSVP mengirimkan pemberitahuan kesalahan kepada proses aplikasi yang meminta.

Mekanisme protocol RSVP menyediakan fasilitas dalam pembuatan dan pemeliharaan reservasi pada path. RSVP mengirim dan mengontrol parameter QoS dan policy control sebagai data yang tertutup, kemudian melewatkannya ke

(8)

modul policy control dan traffic control yang sesuai untuk penerjemahan. Pada modul RSVP di pengirim secara periodik mengirim pesan path RSVP yang menggunakan karakteristik aliran data untuk menjelaskan trafik yang dihasilkan oleh pengirim. Ketika modul RSVP di receiver menerima pesan Path, aplikasi host penerima mengecek karakteristik aliran data yang diminta dan memberi keputusan apakah resource harus dipesan. Sesekali keputusan dibuat untuk meminta reservasi resource jaringan, aplikasi host mengirim permintaan ke modul RSVP lokal dalam setup penyusunan reservasi.

Kemudian penerima modul RSVP membawa permintaan sebagai pesan Resv ke semua node sepanjang jalur data balik sampai menuju pengirim. RSVP merupakan protokol pen-setup reservasi resource yang didesain untuk layanan terintegrasi internet. RSVP dipakai oleh host untuk meminta QoS dari jaringan untuk aliran data aplikasi. Sebuah aplikasi memerlukan RSVP untuk meminta end-to-end QoS yang spesifik untuk streaming data. RSVP bertujuan untuk secara efisien men-setup jaminan resouce reservation QoS yang dapat mendukung routing protocol unicast dan multicast dan dapat ditempatkan pada pengantar dalam group multicast yang besar.

Dasar dari RSVP adalah meminta spesifikasi untuk end-to-end Qos yang dibutuhkan dan definisi dari set data paket untuk menerima QoS. RSVP berguna untuk lingkungan dimana QoS reservation data didukung oleh lokasi resource dari pada penambahan resource. RSVP mendukung akses pada pelayanan internetworking yang terintegrasi dimana host dan network bekerja untuk mencapai penjaminan kualitas pengiriman end-to-end. Semua host, router dan

(9)

komponen lain dalam infrastruktur elemen jaringan antara pengirim dan penerima harus mendukung RSVP. Tiap-tiap elemen jaringan ini mencadangkan resource sistem, seperti bandwidth, CPU dan buffer memory, untuk memenuhi permintaan QoS. Hal inilah yang diharapkan, meskipun demikian, akan memerlukan biaya tambahan pada ISP untuk mencadangkan resource-nya untuk RSVP pemesanan QoS. Kontrol QoS RSVP memerlukan pesan-pesan yang dikirimkan untuk mencadangkan resource sepanjang node (router dan host) selama pencadangan pengantaran pada penerima.

RSVP merupakan inisiatif dari penerima, RSVP meminta resource hanya dalam satu arah. RSVP merupakan protokol kontrol jaringan yang membolehkan penerima data meminta QoS end-to-end untuk aliran datanya.

Aplikasi real-time menggunakan RSVP untuk meminta resource yang diperlukan pada router sepanjang jalur transmisi, sehingga bandwidth yang diminta dapat tersedia ketika transmisi dilakukan. RSVP merupakan komponen utama Integrated Services. RSVP digunakan untuk melakukan reservasi sumber jaringan. Ketika aplikasi di host (penerima aliran data) meminta QoS untuk aliran data tersebut, maka digunakan RSVP untuk menyampaikan permintaan tersebut kepada router sepanjang jalur aliran data. RSVP bertanggung jawab dalam hal negosiasi parameter – parameter jaringan dengan router tersebut. Jika reservasi telah dilakukan, RSVP juga bertanggung jawab dalam hal pemeliharaan kondisi host dan router untuk menyediakan layanan yang diminta.

(10)

2.3.1 Model Reservasi RSVP

Dasar permintaan reservasi RSVP terdiri dari flowspec dan filter spec, dua hal tersebut disebut flow descriptor. Flowspec menentukan QoS yang diinginkan.

Filter spec bekerja sama dengan spesifikasi sesi mendefinisikan paket data flow untuk menerima QoS yang didefinisikan oleh flowspec. Flowspec digunakan untuk menyusun parameter-parameter packet scheduler di node atau mekanisme layer link yang lain saat filter spec dipakai untuk menyusun parameter-parameter dalam packet classifier. Paket data yang dialamatkan ke sesi tersendiri tetapi tidak match pada filter spec pada sesi tersebut akan dianggap sebagai trafik best-effort.

Tabel. 2.1 Reservasi pada RSVP [3]

Sender Selection

Reservations

Distinct Shared

Explicit Fixed -Filter (FF) style Shared-Explicit (SE) style Wildcard (None defined) Wildcard-Filter (WF) style

Salah satu model reservasi lebih memperhatikan pemeliharaan reservasi/

pemesanan untuk pengirim yang berbeda dengan sesi yang sama yaitu membangun reservasi distinct untuk setiap pengirim upstream.

(11)

 Wildcard-filter (WF)

Mode reservasi Wildcard-Filter menggunakan pilihan membagi pemilihan reservasi dan sender. Gaya reservasi ini menetapkan reservasi tunggal untuk semua sender di suatu sesi. Reservasi dari sender yang berbeda digabungkan bersama-sama sepanjang alur dengan demikian hanya permintaan reservasi yang paling besar yang akan digunakan bersama oleh semua sender.

 Fixed-filter (FF)

Model reservasi Fixed-Filter menggunakan reservasi dengan pilihan yang berbeda dan seleksi sender eksplisit. Artinya bahwa reservasi yang berbeda diciptakan untuk paket data dari sender tertentu. Paket dari sender yang berbeda dalam sesi yang sama tidak membagi reservasi.

 Shared-explicit (SE)

Reservasi model SE membuat reservasi tunggal untuk meng-cover aliran dari suatu subset sender ditetapkan. Oleh karena itu, suatu daftar sender harus dimasukkan ke dalam permintaan reservasi dari receiver.

2.4 Konsep VoIP

H.323, protokol Aplication Layer IP Telephone, pada awalnya tidak menarik perhatian sampai Vocaltec dan Cisco mendirikan Voice Over IP Forum (VoIP Forum) untuk membuat standart bagi produk-produk VoIP. Ketika perusahaan

(12)

software dan hardware utama menyadari potensial yang terkandung dalam Internet Telephone, mereka mendorong forum VoIP menjadi bagian dari IMTC (Internasional Multimedia Teleconferencing Consortium). Dengan perubahan minor, H.323 terlihat paling cocok dalam lingkungan WAN yang populer Internet.

Dalam VoIP, suara diubah menjadi data dan dikirim lewat jaringan Internet.

Penggunaan protokol Internet ini digunakan karena packet switch-nya tidak pernah menganggur. Sehingga, kalau ada kanal kosong langsung diisi suara-suara lain yang dikirimkan ke alamat-alamat yang dituju. Network IP dapat berupa network paket apapun, termasuk ATM, Frame Relay, Internet, Intranet, atau line E1, dimana suara-suara lain yang dikirimkan ke alamat-alamat yang dituju. VoIP menawarkan transportasi sinyal yang lebih murah, feature tambahan, dan transparansi terhadap data komputer. Hambatan VoIP saat ini adalah kehandalannya yang di bawah telephone biasa, dan soal standarisasi menyangkut interoperabilitas.

2.4.1 Konsep Teknologi Voice Over IP

Teknologi VoIP adalah cara berkomunikasi suara (voice) melalui jaringan Internet, sehingga komunikasi jarak jauh SLJJ maupun SLI dapat dilakukan dengan biaya lokal. Dan, telepon akan berdering secara normal dan kita hanya bisa menebak setelah melakukan pembicaraan karena suaranya, kadang tidak sejernih layanan operator resmi SLI. Beberapa keuntungan penggunaan VoIP baik bagi pelanggan, maupun penyedia jasa internet telepone adalah:

(13)

Gambar 2.3 Philosofi Dasar Jaringan Voice Over IP [9]

 Cost reduction

Dengan adanya feature silence supresion dan voice activity detection (VAD), bandwidth jaringan yang ada dapat sekaligus dipakai untuk transmisi data dan suara. Selain itu, karena informasi dikirimkan dalam bentuk paket. Sehingga satu kanal dapat dipakai bersama-sama, sehingga biaya percakapan untuk interlokal dan internasional dapat direduksi.

Reduksi biaya waktu pecakapan mencapai 50% - 60%.

 Simplification.

Integrasi jaringan voice dan data memudahkan standarisasi dan minimisasi perangkat yang digunakan.

(14)

 Consolidation.

Kemampuan penanganan gangguan, dan konsolidasi serta kombinasi operasional lebih efisien.

 Advanced application.

Keuntungan jangka panjang dari VoIP meliputi support untuk multimedia dan aplikasi multiservice.

Dalam VoIP, suara diubah menjadi data dan dikirim lewat jaringan Internet.

Penggunaan protokol Internet ini digunakan karena packet switch-nya tidak pernah menganggur. Sehingga, kalau ada kanal kosong langsung diisi suara-suara lain yang dikirimkan ke alamat-alamat yang dituju. Hanya saja kadang kala ketika suara masuk, kanal yang diminta sudah terisi suara lain sehingga pembicaraan bisa terputus (drop) sejenak.

(15)

* TEKNOLOGI PC-PC TELEPHON 1998

TEKNOLOGI 1994

* PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR

* PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PHONE-PHONE

SOLUSI DAN APLIKASI 1999-SEKARANG

* INTEROPERABILITY

* PENGEMBANGAN BERBAGAI MACAM APLIKASI

PLATFORM

*PENINGKATAN JUMLAH GATEWAY

Gambar 2.4 Bagan Perkembangan Teknologi VoIP [9]

Motivasi pengembangan VoIP berangkat dari beberapa keuntungan dari segi teknologi, platforn, maupun solusi dan aplikasi penggunaan VoIP, baik di sisi pengguna maupun penyedia jasa internet telepone. Perkembangan teknologi itu dapat digambarkan seperti pada gambar-2.4 Komponen-komponen H.323 yang digunakan pada jaringan VoIP antara lain:

 H.323 Gatekeepers.

Gatekeeper adalah peralatan yang mengendalikan dan mengatur panggilan untuk terminal. Gatekeeper menyediakan layanan: translasi alamat, kontrol admisi, dan kontrol akses dari endpoint, managemen bandwidth, dan kemampuan routing.

(16)

 Terminal

Terminal atau client adalah end-point dimana data stream H.323 dan pensinyalan berasal dan berakhir. Teminal dapat berupa PC multimedia dengan protokol yang sesuai dengan standard H.323 atau peralatan yang berdiri sendiri sebagai Universal Serial Bus (USB) IP Telepone.

 H. 323 Gateways

Gateway menghubungkan jaringan data dan jaringan telpon. Gateway bertanggung jawab untuk menyediakan berbagai translasi yang dibutuhkan untuk transmisi melalui prosedur kontrol dan pensinyalan. Gateway terdiri dari: media gateway, media gateway controller, dan modul pensinyalan.

 Multipoint Control Unit

Mutipoint Control Unit adalah endpoint jaringan yang menyediakan kemampuan bagi tiga atau lebih terminal dan gateway untuk melakukan multipoint conference. MCU terdiri atas multipoint controller (MC) dan multipoint processor (MP).

Sedangkan stack protokol terminal H.323 adalah sebagai berikut:

(17)

VIDEO AUDIO CONTROL AND MANAGEMENT DATA

H. 261 H.263

G.711 G.722 G.

723.1, G72 G729

RTCF

H. 225 RAS

H.225 SIGNALING

H.245 CONTROL

RTP X.224 CLASS 0 T.125

UDP TCP

T. 123 NETWORK (IP)

DATA LINK (IEEE 802.3)

Gambar 2.5 Protokol H.323

2.5 PARAMETER QoS

QOS (Quality of Service) adalah teknologi yang diterapkan pada jaringan yang memungkinkan administrator jaringan untuk dapat menangani berbagai efek akibat terjadinya kemacetan (congestion) pada lalu lintas aliran paket di dalam jaringan Parameter QoS menggolongkan kualitas transfer yang diberikan oleh suatu koneksi yang diperoleh dengan membandingkan unit data pada sisi masukan dan keluaran interface. Parameter-parameter QoS pada jaringan MPLS- TE yang diamati meliputi:

(18)

2.5.1 Delay

Delay adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan suatu paket untuk menempuh route dari asal ke tujuan. Delay dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, congestion atau juga waktu proses yang lama. Menurut standart ITU- T G.729, nilai Delay paling baik berkisar antara 0 – 40 ms. Ambang delay optimal dengan kualitas suara berdasarkan kualitas suara subjektif adalah sebagai berikut [16]:

Sangat baik : 0 s/d 150 ms

Baik : 150-250 ms

Masih dapat diterima (reasonable) : 250-350 ms Perhitungan delay, dapat dilihat pada persamaan dibawah ini:

2.5.2 Jitter

Jitter didefiniskan juga sebagai variasi delay yang diakibatkan oleh panjang queue dalam suatu waktu pengolahan data, reassemble paket-paket data di akhir pengiriman akibat kegagalan sebelumnya dan proses pengiriman paket dalam media. Jitter dapat dikatakan juga sebagai variasi delay jaringan.

(19)

Gambar 2.6 Ilustrasi Jitter Suatu Paket Data

Jitter dapat diilustrasikan seperti pada gambar 2.6, suatu source mengirimkan paket data A-B-C-D, setiap paket dikirimkan ke destination dengan variasi delay (jitter) yang berbeda-beda, antara paket A dan B terdapat variasi delay sebesar 80 ms, antara paket B dan C sebesar 60 ms, dan antara paket C dan D sebesar 20 ms.

Menurut versi TIPHON (Telecommunications and Internet Protocol Harmonization Over Network) (Joesman 2008), besarnya jitter dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 2.2 Pengkategorian Jitter Kategori Jitter Besar Jitter

Very Good 0 ms

Good 75 ms

Medium 125 ms

Bad 225 ms

(20)

2.5.3 Packet Loss

Packet loss adalah didefinisikan sebagai kegagalan transmisi paket IP mencapai tujuannya. Paket loss dapat terjadi ketika sebuah paket dibuang oleh jaringan karena tidak dapat diteruskan pada output interface. Untuk aplikasi real-time dan multimedia, packet loss maksimum yang dapat ditolerir adalah sebesar 25%. Di atas itu, maka terjadi blip atau clipping pada audio dan freeze up pada video. Ada beberapa alasan kenapa terajadi packet loss antara lain :

 Congestion yang disebabkan terjadinya antrian yang berlebihan dalam jaringan.

 Node yang bekerja melebihi kapasitas buffer.

 Memory yang terbatas pada node.

 Policing, atau control terhadap jaringan untuk memastikan bahwa jumlah trafik yang mengalir sesuai dengan besarnya bandwidth. Jika besarnya trafik yang mengalir di dalam jaringan melebihi dari kapasitas bandwidth yang ada maka policing control akan membuang kelebihan trafik yang ada.

Nilai packet loss sesuai dengan versi TIPHON (Telecommunications and Internet Protocol Harmonization Over Network) (Joesman 2008) sebagai berikut:

(21)

Tabel 2.3 Pengkategorian Packet Loss

Kategori Degredasi Packet Loss

Very Good 0 %

Good 3 %

Medium 15 %

Bad 25 %

Di dalam implementasi jaringan IP, nilai packet loss ini diharapkan mempunyai nilai yang minimum. Secara matematis diekspresikan dengan persamaan sebagai berikut :

2.5.4 Throughput

Throughput adalah kecepatan (rate) transfer data efektif, yang diukur dalam bps.

Throughput merupakan jumlah total kedatangan paket yang sukses yang diamati pada destination selama interval waktu tertentu dibagi oleh paket data maksimum yang dikirim. Throughput sendiri dapat diartikan sebagai bandwidth aktual yang terukur saat pengiriman data.

(22)

Perhitungan throughput, dapat dilihat pada persamaan dibawah ini:

2.6 Penyebab QoS yang Buruk

Terdapat beberapa faktor pengganggu dalam jaringan yang menyebabkan turunnya nilai QoS, antara lain:

a. Redaman, yaitu jatuhnya kuat sinyal karena pertambahan jarak pada media transmisi. Untuk mengatasi hal ini dalam suatu jaringan, perlu digunakan repeater sebagai penguat sinyal.

b. Distorsi, yaitu fenomena yang disebabkan bervariasinya kecepatan propagasi karena perbedaan bandwidth. Untuk itu, dalam komunikasi dibutuhkan bandwidth transmisi yang memadai. Dianjurkan digunakan pemakaian bandwidth yang seragam, sehingga distorsi dapat dikurangi.

c. Noise, yaitu sinyal-sinyal yang tidak diinginkan yang selalu ada dalam suatu jaringan. Noise menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Noise akan mengganggu kualitas dari sinyal terima yang diinginkan dan akhirnya mengganggu proses penerimaan dan pengiriman data.

(23)

2.7 Perbaikan QoS

Dalam usaha menjaga dan meningkatkan nilai QoS, dibutuhkan teknik untuk menyediakan utilitas jaringan, yaitu mengklasifikasikan dan memprioritaskan setiap informasi sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Sebagai contohnya, terdapat paket data yang bersifat sensitif terhadap delay tetapi tidak sensitif terhadap packet loss seperti VoIP, ada juga paket yang bersifat sensitif terhadap packet loss tetapi tidak sensitif terhadap delay seperti transfer data.

Untuk itu perlu dilakukan pengklasifikasian paket dan pengurutan prioritas paket dari yang paling tinggi sampai terendah.

2.8 Review Publikasi Tugas Akhir ”Simulasi dan Analisis Performansi QoS Pada Aplikasi Video Live Streaming Menggunakan Protokol RSVP di Jaringan MPLS-TE”

Dalam tugas akhir Setyo Adi Pratomo [13] dilakukan emulasi dengan menggunakan emulator GNS3 dan analisa menggunakan software Wireshark guna mengetahui performansi QoS dari jaringan yang dirancang.Parameter performansi QoS jaringan yang dianalisa adalah delay, jitter, packet loss, dan throughput. Dari pengujian dan analisis diketahui bahwa penggunaan jaringan MPLS-TE dapat menghasilkan nilai QoS serta MOS yang lebih baik bila dibandingkan dengan tanpa menggunakan jaringan MPLS-TE. Dilihat dari delay rata-rata yang dihasilkan oleh jaringan MPLS-TE untuk background traffic terpadat sebesar rata- rata 46,869 ms, throughput sebesar 100.549,709 bps, dan packet loss sebesar

(24)

22,921 %. Hal tersebut menunjukan bahwa dengan menggunakan jaringan MPLS- TE dapat menghasilkan performansi QoS yang lebih baik bila dibandingkan dengan jaringan MPLS biasa maupun jaringan yang menggunakan routing protokol tradisional.

Gambar

Gambar 2.1 Blok Sistem MPLS – TE [3]
Gambar 2.2 Contoh Topologi MPLS-TE [3]
Gambar 2.3 Philosofi Dasar Jaringan Voice Over IP [9]
Gambar 2.4 Bagan Perkembangan Teknologi VoIP [9]
+4

Referensi

Dokumen terkait

regression test, that parents’ education level does not influence. the children’s

[r]

a) Dalam memberikan kredit, BPR wajib mempunyai keyakinan atas kemampu- an dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan perjanjian. b) Dalam memberikan kredit,

Kegiatan ini ditujukan untuk memahamkan dan melatih keterampilan siswa dalam berdiskusi tentang contoh pemanfaatan gaya otot dalam kehidupan sehari-hari dan menemukan informasi

Pelaksanaan penambahan penyertaan modal negara pada International Development Asso"i"tion sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan pasal 3 dilakukan oleh

Artinya remaja putri yang tidak memiliki kebiasaan sarapan berisiko 6 kali lebih besar untuk mempunyai kadar hemoglobin yang rendah dibandingkan dengan subjek

Untuk jumlah token lebih dari satu dalam ring, panjang paket dan latency stasiun harus sinkron sehingga busy token tidak berkembang cukup jauh sampai akhirnya kemudian

[r]