• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. SIMULASI DAN OPTIMASI DESAIN AKUSTIK SALLE FRANCE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "5. SIMULASI DAN OPTIMASI DESAIN AKUSTIK SALLE FRANCE"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

5. SIMULASI DAN OPTIMASI DESAIN AKUSTIK SALLE FRANCE

5.1. Optimasi Reverberation Time Salle France 5.1.1. Strategi Optimasi

Optimasi desain akustik pada ruang Serbaguna, Salle France CCCL ini merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk mewadahi aktivitas-aktivitas yang ada di dalamnya, yaitu aktivitas jenis Speech dan Music dengan akustik yang optimal. Karena kondisi Speech dan Music memiliki standard Reverberation Time (RT) yang berbeda, yaitu 0.5-1 detik untuk Speech dan 1-2 detik untuk Music, maka desain akustik yang diharapkan adalah desain akustik yang adaptable dan fleksibel, sehingga mampu mewadahi kedua jenis aktivitas secara optimal. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara mengubah ataupun menambah beberapa elemen interior dengan jenis, luasan, letak material yang berbeda, agar mendapatkan RT yang optimal untuk masing-masing fungsinya.

Telah dilihat pada bab sebelumnya, untuk ruang Salle France dalam kondisi Speech sudah memenuhi persyaratan atau standard sebuah ruang Speech, sedangkan pada ruang dengan kondisi Music, RT belum memenuhi standard, dan masih berada di bawah standard sebuah ruang Music. RT pada kondisi ruang Music berkisar antara 0.8-0.94 detik. Sedangkan standard RT untuk sebuah ruang Music menurut Doelle adalah 1-2 detik. Karena RT pada Salle France dalam kondisi Music belum memenuhi standard, sedangkan pada kondisi Speech sudah memenuhi, maka optimasi dilakukan pada ruang Salle France dalam keadaan Music terlebih dahulu. Setelah itu, optimasi dilakukan pada ruang dengan kondisi Speech dengan beberapa perubahan.

Jadi, tahap optimasi kali ini pertama-tama ditujukan untuk menaikan RT ruang pada kondisi Music terlebih dahulu, baru kemudian optimasi ditujukan pada kondisi Speech, dengan cara menurunkan RT ruang pada kondisi musik yang telah dioptimasi sebelumnya. Upaya ini dilakukan agar mendapatkan 2 RT ruang yang optimal untuk 2 jenis fungsi. Untuk pengoptimasian desain akustik kali ini, peneliti menggunakan perhitungan manual dan komputerisasi dengan bantuan program Autodesk Analysis Ecotect 2011.

(2)

Gambar 5.1. Bagan Strategi Optimasi (Sumber: Penulis, 2011)

5.1.2. Penentuan Sampel Optimasi

Penentuan sampel optimasi adalah penentuan sampel yang akan digunakan untuk melakukan optimasi RT ruangan. Sampel optimasi meliputi penutup permukaan elemen interior (pemilihan material, perubahan luasan, dan letak elemen, serta penambahan elemen baru), dan bermacam-macam kondisi occupancy. Perubahan pada beberapa elemen interior, akan mempengaruhi kualitas akustik suatu ruang. Untuk pengoptimasian kualitas akustik ruang dengan kondisi Speech dan Music, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu dalam pengaplikasian elemen baru sebaiknya bersifat adaptable agar dapat berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan dan agar bisa mendapatkan RT yang optimal sesuai fungsinya, selain itu juga memperhatikan persyaratan-persyaratan pokok konservasi yang berlaku. Untuk mengoptimalkan fungsi Speech, dibutuhkan RT yang lebih kecil, sehingga dibutuhkan material dengan koefisien serap yang lebih besar, sedangkan untuk ruang dengan kondisi Music, dibutuhkan RT yang besar,

(3)

sehingga dibutuhkan material dengan koefisien yang lebih kecil. Dengan kata lain, disarankan menggunakan lebih banyak material yang memantul untuk ruang dalam kondisi Music.

5.1.3. Simulasi Akustik dan Desain Ruang Salle France

Simulasi akustik dilakukan dengan tujuan agar dapat menemukan solusi desain akustik yang optimal dan sesuai standard. Namun karena Salle France berada pada bangunan konservasi, maka dalam pengoptimasianya, selain mencari solusi desain akustik yang paling optimal dalam pemenuhan standard RT, juga harus tetap memperhatikan persyaratan-persyaratan pokok dari bangunan konservasi yang berlaku, yaitu perusakkan minimum, dapat dikembalikan ke kondisi semula dan dapat mewakili jaman tertentu.

• Ruang Salle France Kondisi Music

Karena ruang Salle France pada kondisi music masih belum memenuhi standard RT (masih dibawah standard), sedangkan pada kondisi speech sudah memenuhi standard, maka langkah optimasi desain akustik terlebih dahulu dilakukan pada ruang Salle France pada kondisi Music. Untuk ruang pada kondisi Music memerlukan RT yang lebih besar, dibandingkan dengan ruang pada kondisi Speech, maka dari itu diperlukan material dengan koefisien absorpsi yang kecil, seperti kaca, akrilik, marble, dan sebagainya. Dalam pengoptimasian ini, ada beberapa alternatif yang ditawarkan, namun hanya 1 alternatif yang nantinya akan dipilih.

Tabel 5.1. Optimasi Ruang Salle France Kondisi Music Alternatif 1 ALTERNATIF 1 SIMULASI SALLE FRANCE-MUSIC-OCCUPANCY 100%

No. Objek Material Luas

Permukaan Koef. A

1 Lantai Teraso 54.02 0.02 1.08

2 Dinding Dinding Bata Plaster 64.13 0.02 1.28 3 Dinding Akrilik Akrilik 84.8 0.01 0.85 4 Plafon-Steel Steel 82.86 0.1 8.29 5 Plafon-Akrilik Akrilik 0 0.01 0 6 Pintu Kayu Jati Kayu Jati (Solid) 9.23 0.67 6.19 7 Pintu Gypsum Gypsum 14.9 0.05 0.75 8 Gorden Main

Entrance Fabric Ringan 6.3 0.11 0.7

(4)

9 Kusen Kayu Jati Kayu Jati (Solid) 4.46 0.67 2.98 10 Pintu Kayu Biasa Kayu 3.73 0.1 0.37 11 Jendela Kaca Halus 4.46 0.01 0.045 12 Kursi Penonton

Tengah Kayu      

13 Kursi Penonton

Samping Kayu      

39.68

14 Speaker Speaker 1.8 0.45 0.81

15 Panel Belakang Akrilik 3.88 0.01 0.039 16 Balok Ekspos Akrilik 40.46 0.01 0.4 17 Kolom Dekoratif Dinding Bata Plaster 7.06 0.02 0.14

18 Piano Kayu 1.67 11.5 19.23

19 Lukisan Akrilik 7.5 0.01 0.08 20 Benda Permanen

Kanan Fabric Ringan 7.29 0.11 0.8 21 Benda Permanen Kiri Fabric Ringan 6.25 0.11 0.69

A Total 84.39

Volume 540.2544

Reverberation Time (RT) 1.03

: Perubahan yang Dilakukan Untuk Optimasi Ruang Salle France

(Sumber : Penulis 2011)

Pada alternatif 1 terdapat beberapa perubahan elemen interior yang terletak pada perubahan material, luasan, ataupun peletakkannya. Perubahan- perubahan yang terjadi pada ruang Salle France. antara lain:

• Layar LCD dan kayu di atasnya dilepas.

• Memberi aksen pada dinding dengan material akrilik.

• Pintu kayu yang sudah tidak berfungsi pada sisi dinding sebelah kanan dan kiri, ditutup dengan gypsumboard.

• Mengubah letak gorden pada Main Entrance menjadi lebih tipis (koef 0.11) dan merubah letak menjadi 3.4m dari lantai.

• Mengubah material pintu gudang pada sisi dinding Salle France sebelah kanan, dengan pintu kayu biasa, seperti pada Main Entrance.

• Melapisi jendela dengan material kaca halus atau akrilik yang nantinya akan diberi sealant.

• Adanya pengurangan speaker, yaitu pada speaker yang sudah tidak difungsikan lagi.

(5)

• Perubahan material panel belakang, dari bahan kayu menjadi akrilik

• Melapisi balok ekspos dengan akrilik.

• Perubahan material yang digunakan untuk lukisan.

Tabel 5.2. Optimasi Ruang Salle France Kondisi Music Alternatif 2 ALTERNATIF 2 SIMULASI SALLE FRANCE-MUSIC-OCCUPANCY 100%

No. Objek Material Luas

Permukaan Koef. A

1 Lantai Teraso 54.02 0.02 1.08

2 Dinding Dinding Bata Plaster 64.13 0.02 1.28 3 Dinding Akrilik Akrilik 84.8 0.01 0.85

4 Plafon-Steel Steel 32.93 0.1 3.29 5 Plafon-Akrilik Akrilik 49.92 0.01 0.5 6 Gorden-Pintu Kayu

Jati Kayu Jati (Solid) 11.06 0.11 1.22 7 Pintu Gypsum Gypsum 14.9 0.05 0.75 8 Gorden Main

Entrance Fabric Ringan 6.31 0.11 0.7 9 Kusen Kayu Jati Kayu Jati (Solid) 4.46 0.67 2.984 10 Pintu Kayu Biasa Kayu 3.73 0.1 0.374 11 Jendela Kaca Halus 4.46 0.01 0.045 12 Kursi Penonton

Tengah Kayu      

13 Kursi Penonton

Samping Kayu      

39.68

14 Speaker Speaker 1.8 0.45 0.81

15 Panel Belakang Akrilik 3.88 0.01 0.04 16 Balok Ekspos Akrilik 40.46 0.01 0.4 17 Kolom Dekoratif Dinding Bata Plaster 7.06 0.02 0.14

18 Piano Kayu 1.67 11.5 19.23

19 Lukisan Akrilik 7.5 0.01 0.08 20 Benda Permanen

Kanan Fabric Ringan 7.29 0.11 0.8 21 Benda Permanen Kiri Fabric Ringan 6.25 0.11 0.69

A Total 74.93

Volume 540.2544

Reverberation Time (RT) 1.16

: Perubahan yang Dilakukan Untuk Optimasi Ruang Salle France

(Sumber : Penulis 2011)

(6)

Sedikit berbeda dari alternatif 1, pada alternatif 2 ini terdapat beberapa perubahan pada elemen interiornya Perubahan-perubahan yang terjadi sebagian besar sama dengan perubahan pada alternatif 1, perubahannya meliputi:

• Layar LCD dan kayu di atasnya dilepas.

• Memberi aksen pada dinding dengan material akrilik.

• Melapisi beberapa bagian plafon dengan akrilik (transparan),

• Memberi gorden pada 2 pintu kayu jati pada sisi dinding bagian depan.

• Pintu kayu yang sudah tidak berfungsi pada sisi dinding sebelah kanan dan kiri, ditutup dengan gypsumboard.

• Mengubah letak gorden pada Main Entrance menjadi lebih tipis (koef 0.11) dan merubah letak menjadi 3.4m dari lantai.

• Mengubah material pintu gudang pada sisi dinding Salle France sebelah kanan, dengan pintu kayu biasa, seperti pada Main Entrance.

• Melapisi jendela dengan material kaca halus atau akrilik yang nantinya akan diberi sealant.

• Adanya pengurangan speaker, yaitu pada speaker yang sudah tidak difungsikan lagi.

• Perubahan material panel belakang, dari bahan kayu menjadi akrilik

• Melapisi balok ekspos dengan akrilik.

• Perubahan material yang digunakan untuk lukisan.

Tabel 5.3. Optimasi Ruang Salle France Kondisi Music Alternatif 3 ALTERNATIF 3 SIMULASI SALLE FRANCE-MUSIC-OCCUPANCY 100%

No. Objek Material Luas

Permukaan Koef. A

1 Lantai Teraso 54.02 0.02 1.08

2 Dinding Dinding Bata Plaster 64.13 0.02 1.28 3 Dinding Akrilik Akrilik 84.8 0.01 0.85

4 Plafon-Steel Steel 49.82 0.1 4.98 5 Plafon-Akrilik Akrilik 33.04 0.01 0.33

(7)

6 Pintu Kayu Jati Kayu Jati (Solid) 9.23 0.67 6.19 7 Pintu Gypsum Gypsum 14.9 0.05 0.75 8 Gorden Main

Entrance Fabric Ringan 6.31 0.11 0.7 9 Kusen Kayu Jati Kayu Jati (Solid) 4.46 0.67 2.98 10 Pintu Kayu Biasa Kayu 3.73 0.1 0.37 11 Jendela Kaca Halus 4.46 0.01 0.04 12 Kursi Penonton

Tengah Kayu      

13 Kursi Penonton

Samping Kayu      

39.68

14 Speaker Speaker 1.8 0.45 0.81

15 Panel Belakang Akrilik 3.89 0.01 0.04 16 Balok Ekspos Akrilik 40.46 0.01 0.44 17 Kolom Dekoratif Dinding Bata Plaster 7.06 0.02 0.144

18 Piano Kayu 1.67 11.5 19.234

19 Lukisan Akrilik 7.5 0.01 0.075 20 Benda Permanen

Kanan Fabric Ringan 7.29 0.11 0.84 21 Benda Permanen Kiri Fabric Ringan 6.25 0.11 0.69

A Total 81.42

Volume 540.2544

Reverberation Time (RT) 1.07

: Perubahan yang Dilakukan Untuk Optimasi Ruang Salle France

(Sumber : Penulis 2011)

Pada alternatif 3 perubahannya sama dengan perubahan pada alternatif 1.

Letak perbedaannya hanya terdapat pada beda luasan akrilik pada plafon, sehingga mempengaruhi luasan plafon material Steel pula.

Tabel 5.4. Rekap 3 Alternatif Optimasi Ruang Salle France Kondisi Music

MUSIC-SIMULASI Alt. 1 Alt. 2 Alt. 3 Occupancy

RT (detik) RT (detik) RT (detik)

STANDARD (detik)

100% 1.03 1.16 1.07 1-2

75% 1.07 1.21 1.11 1-2

50% 1.11 1.26 1.15 1-2

25% 1.16 1.32 1.2 1-2

0% 1.2 1.39 1.26 1-2

: Alternatif untuk Ruang Salle France, Kondisi Music yang Terpilih

(Sumber : Penulis 2011)

(8)

Tabel 5.5. Optimasi Reverberation Time Salle France-Music dengan Autodesk Ecotect Analysis 2011

SALLE FRANCE-MUSIC   Occupancy (%) 100%

Volume 540.254 m3   FREQ. ABSPT. RT(60) Surface Area 783.244 m2   63Hz: 23.545 2.45 Optimum RT (500Hz - Speech) 0.72 s   125Hz: 67.07 1.1 Optimum RT (500Hz - Music) 1.30 s   250Hz: 51.639 1.08 Volume per Seat 5.872 m3   500Hz: 52.347 1.05 Minimum (Speech) 4.532 m3   1kHz: 48.222 1.08 Minimum (Music) 8.478 m3   2kHz: 48.238 0.97

      4kHz: 50.979 0.9

      8kHz: 4.753 0.57

      16kHz: 7.102 0.57

(Sumber : Penulis, 2011)

Gambar 5.2. Grafik Reverberation Time Salle France-Music-Occupancy 100%

(Sumber : Penulis, 2011)

Tabel 5.6. Optimasi Reverberation Time Salle France-Music (dengan beberapa occupancy) menggunakan Autodesk Ecotect Analysis 2011

Occupancy (%) 0% 25% 50% 75% 100%

Occupancy 0 23 46 69 92

FREQ. ABSPT. RT(60) RT(60) RT(60) RT(60) RT(60) 63Hz: 23.545 2.98 2.83 2.69 2.57 2.45 125Hz: 67.07 1.18 1.16 1.14 1.12 1.1 250Hz: 51.639 1.4 1.3 1.22 1.15 1.08 500Hz: 52.347 1.31 1.23 1.16 1.1 1.05

(9)

1kHz: 48.222 1.3 1.24 1.18 1.13 1.08 2kHz: 48.238 1.17 1.12 1.06 1.02 0.97 4kHz: 50.979 0.97 0.95 0.94 0.92 0.9 8kHz: 4.753 0.46 0.49 0.52 0.54 0.57 16kHz: 7.102 0.51 0.52 0.54 0.56 0.57

(Sumber : Penulis, 2011)

Pada tabel 5.4. dapat dilihat terdapat 3 alternatif optimasi desain akustik.

Dari 3 alternatif yang ada, alternatif yang terpilih dan dirasa terbaik untuk kondisi music pada ruang Salle France adalah alternatif ke-2. Dengan pertimbangan, RT yang dihasilkan (dengan occupancy 0%-100%) pada perhitungan alternatif ke-2 paling mendekati RT optimal untuk music. RT untuk ruang music adalah 1-2detik, dan RT optimal ruang music adalah 1.5 detik, sedangkan RT pada alternatif 2 berkisar antara 1.16-1.39 detik. Untuk keakuratan perhitungan, pada alternatif ke- 2 juga telah dilakukan optimasi dengan program Autodesk Ecotect Analysis 2011, yaitu pada tabel 5.5 dan 5.6. dengan kisaran 1.05-1.31 detik. Dengan perbedaan yang tidak terlalu signifikan, maka perhitungan optimasi desain akustik Salle France pada kondisi music bisa dikatakan sudah akurat, yaitu berkisar antara 1.05-1.39 detik.

Berikut adalah penjelasan detail mengenai penambahan elemen-elemen baru pada interior ruang Salle France (alternatif ke-2):

• Layar LCD dan kayu di atasnya dilepas.

Jadi untuk tayangan LCD, langsung diarahkan pada dinding bagian depan.

Hal ini bertujuan untuk mengurangi perabot yang menutupi elemen asli bangunan konservasi. Sesuai dengan peraturan konservasi GSA, yaitu hindari penambahan elemen baru yang menututpi elemen asli ruang.

Sehingga untuk sorotan LCD dapat langsung diarahkan ke dinding. Selain itu pelepasan layar LCD ini juga bertujuan untuk menaikkan RT ruang Music yang masih terlalu rendah.

• Memberi aksen pada dinding dengan material akrilik.

Tujuan utama dalam pemberian aksen ini adalah untuk mendapatkan RT pada ruang kondisi musik yang memenuhi standard. Dipilih material- material dengan koefisien absorpsi yang rendah, agar nilai RT dapat

(10)

menjadi lebih besar. Namun, akrilik menjadi pilihan utama, karena sifatnya yang transparan, dan ringan sehingga tidak terlalu banyak merusak dinding. dan dapat tetap mengekspos material asli bangunan konservasi tersebut.

• Melapisi beberapa bagian plafon dengan akrilik (transparan), Luasan plafon dengan material steel menjadi berkurang. Dipilih material-material dengan koefisien absorpsi yang rendah, agar nilai RT dapat menjadi lebih besar. Namun, akrilik menjadi pilihan utama, karena sifatnya yang transparan, dan ringan sehingga tidak terlalu banyak merusak dinding. dan dapat tetap mengekspos material asli bangunan konservasi tersebut.

• Memberi gorden pada 2 pintu kayu jati pada sisi dinding bagian depan.

Penambahan gorden ini dengan alasan untuk mengurangi penyerapan suara pada ruang. Sehingga bisa menaikkan RT yang ada. Selain itu juga berperan dalam upaya insulasi suara. Kelebihan dari penambahan gorden ini adalah sifatnya yang fleksibel, bisa dilepas atau diganti sewaktu-waktu.

• Pintu kayu yang sudah tidak berfungsi pada sisi dinding sebelah kanan dan kiri, ditutup dengan gypsumboard.

Pintu kayu yang sudah tidak berfungsi ini menggunakan material kayu jati, dan terdapat jalusi pada pintu tersebut. Pintu ini berbatasan dengan dapur, perpustakaan, dan kantor. Pada masing-masing perbatasan sudah diberi benda-benda seperti lemari/rak/kulkas, dan sebagainya, jadi pintu tersebut memang sudah tidak dapat difungsikan. Penggantian pintu kayu ini dengan gypsumboard bertujuan untuk mencari koefisien serap yang kecil, sehingga mendapatkan hasil RT yang lebih besar. Selain itu pergantian pintu ini tidak bersifat permanen, dalam artian dapat dikembalikan ke bentuk semula sesuai dengan persyaratan bangunan konservasi dalam penambahan elemen baru. Dan juga dapat membantu meminimalisir kebocoran suara yang terjadi.

• Mengubah letak gorden pada Main Entrance menjadi lebih tipis (koef 0.11) dan merubah letak menjadi 3.4m dari lantai.

(11)

Tujuannya adalah untuk mengurangi material dengan koefisien yang besar. Sehingga hasil perhitungan RT bisa menjadi lebih besar. Selain itu upaya ini tidak merusak bangunan konservasi, dimana sesuai dengan peraturan bangunan konservasi, yaitu perusakkan yang seminim mungkin.

• Mengubah material pintu gudang pada sisi dinding Salle France sebelah kanan, dengan pintu kayu biasa, seperti pada Main Entrance.

Bertujuan untuk memperoleh koefisien absorpsi material yang lebih kecil, namun perubahan ini masih sesuai dengan keadaan ruang yang ada. Selain itu pergantian pintu ini tidak bersifat permanen, dalam artian dapat dikembalikan ke bentuk semula sesuai dengan persyaratan bangunan konservasi dalam penambahan elemen baru.

• Melapisi jendela dengan material kaca halus atau akrilik yang nantinya akan diberi sealant.

Sesuai dengan GSA, yaitu tidak boleh menghilangkan jendela, sehingga upaya yang dilakukan adalah melapisi jendela dengan kaca, yang kemudian nantinya diberi sealant untuk mengikat kaca dan untuk mengurangi kebocoran suara. Kaca dipilih karena sifatnya yang transparan, sehingga elemen bangunan asli masih dapat terekspos, selain itu perawatannya yang tergolong mudah, dan memiliki koefisien yang kecil, sehingga dapat menaikkan RT. Perubahan ini sifatnya temporer, sehingga dapat dikembalikan ke bentukkan semula.

• Adanya pengurangan speaker, yaitu pada speaker yang sudah tidak difungsikan lagi.

Dilakukan pengurangan speaker, karena pada ruang Salle France terdapat 7 speaker namun hanya 2 speaker yang masih befungsi, jadi untuk speaker yang sudah tidak berfungsi dipindahkan dari ruangan tersebut.

• Perubahan material panel belakang, dari bahan kayu menjadi akrilik Panel pada dinding belakang ini ditujukan agar dinding belakang tidak cepat kotor. Panel kayu ini akan diganti menjadi akrilik dengan pertimbangan akrilik memiliki koefisien absorpsi yang lebih kecil daripada kayu, sehingga bisa mendapatkan RT yang lebih besar. Selain itu akrilik sifatnya transparan, dan ringan sehingga tidak terlalu banyak merusak

(12)

dinding. dan dapat tetap mengekspos material asli bangunan konservasi tersebut (sesuai dengan persyaratan bangunan konservasi GSA).

• Melapisi balok ekspos dengan akrilik.

Akrilik dipilih untuk melapisi balok ekspos dengan pertimbangan akrilik memiliki koefisien absorpsi yang lebih kecil daripada kayu, sehingga bisa mendapatkan RT yang lebih besar. Selain itu akrilik sifatnya transparan, dan ringan sehingga tidak terlalu banyak merusak dinding. dan dapat tetap mengekspos material asli bangunan konservasi tersebut (sesuai dengan persyaratan bangunan konservasi GSA).

• Perubahan material yang digunakan untuk lukisan.

Mengubahnya dengan material yang memiliki ketebalan dan dilapisi akrilik pada bagian depannya. Tujuannya adalah mencari koefisien absorpsi yang kecil, selain itu juga melakukan repetisi material, sehingga kesatuan desain dalam Salle France bisa tercipta.

Antara alternatif 1, 2, dan 3, porsi perubahan/penambahan elemen baru pada interiornya hampir sama, yaitu pada plafonnya (perbedaan terletak pada jumlah luasan plafon akrilik), namun perubahan pada plafon ini tidak mengurangi unsur bangunan lama yang ada, karena pelapis yang digunakan adalah akrilik transparan, sehingga elemen asli bangunan masih dapat terlihat. Perbedaan penambahan elemen baru terletak pada penambahan jumlah gorden pada alternatif 2. Jadi, selain persyaratan RT yang terpenuhi, paling mendekati angka optimal untuk ruang pada kondisi music, juga masih memenuhi persyaratan bangunan konservasi, sehingga peneliti memilih alternatif 2 untuk optimasi ruang Salle France dalam kondisi music. Tahap berikutnya, untuk optimasi ruang dalam kondisi speech akan langsung berangkat dari alternatif 2 ruang Salle France pada kondisi music ini.

• Ruang Salle France Kondisi Speech

Berangkat dari salah satu alternatif yang telah dipilih pada kondisi music, yaitu alternatif 2, berikut tabel pengoptimasian untuk ruang Salle France dalam kondisi Speech, dengan beberapa perubahan.

(13)

Tabel 5.7. Optimasi Ruang Salle France Kondisi Speech

ALTERNATIF 2 SIMULASI SALLE FRANCE-SPEECH-OCCUPANCY 100%

No. Objek Material Luas

Permukaan Koef. A

1 Lantai Teraso 51.59 0.02 1.03

2 Dinding Dinding Bata Plaster 64.13 0.02 1.28 3 Dinding Akrilik Akrilik 84.8 0.01 0.85

4 Plafon-Steel Steel 32.93 0.1 3.29

5 Plafon-Akrilik Akrilik 49.92 0.01 0.5 6 Pintu Kayu Jati Kayu Jati (Solid) 9.23 0.67 6.19 7 Pintu Gypsum-

Gorden Gypsum 22.03 0.55 12.12

8 Gorden Main

Entrance Fabric Ringan 6.3 0.55 3.47 9 Kusen Kayu Jati (2) Kayu Jati (Solid) 1.78 0.67 1.194 10 Pintu Kayu Biasa Kayu 5.51 0.55 3.03 11 Jendela Kaca Halus 1.78 0.01 0.018 12 Kursi Penonton

Tengah Kayu      

13 Kursi Penonton

Samping Kayu      

39.68

14 Speaker Speaker 1.8 0.45 0.81

15 Panel Belakang Fabric Berat 3.88 0.55 2.14 16 Balok Ekspos Akrilik 40.46 0.01 0.4 17 Kolom Dekoratif Dinding Bata Plaster 7.06 0.02 0.14

18 Piano Kayu 1.67 11.5 19.23

19 Lukisan Kanvas+frame kayu 9.54 20 Kursi Pembicara Bangku

empuk+orrang 1.04 0.9 0.93

21 Meja Pembicara Bangku

Empuk+orang 5.27 0.9 4.74

22 Papan Kayu 1.25 0.1 0.13

23 Benda Permanen

Kanan Fabric Ringan 7.29 0.11 0.8 24 Benda Permanen Kiri Fabric Ringan 6.25 0.11 0.69

A Total 112.2

Volume 540.2544

Reverberation Time (RT) 0.77

: Perubahan yang Dilakukan Untuk Optimasi Ruang Salle France (dari alternatif music)

(Sumber : Penulis 2011)

(14)

Untuk ruang dengan kondisi Speech dibutuhkan RT yang lebih kecil, dibandingkan dengan ruang pada kondisi Music maka dari itu diperlukan material dengan koefisien absorpsi yang lebih besar, seperti kayu, kain, dan sebagainya.

Sedikit berbeda dari alternatif 2 pada kondisi music, pada optimasi ruang Salle France kondisi speech terdapat beberapa perubahan pada elemen interiornya.

Perubahan-perubahannya meliputi elemen-elemen yang fleksibel, dan mudah perubahannya seperti gorden, lukisan, dan tidak lagi mengubah elemen interior seperti plafon, dinding, pintu dan jendela.(perubahan dari kondisi music):

• Melapisi pintu kayu yang ditutup gypsumboard dengan gorden berat (koef 0.55).

Sifatnya fleksibel, bisa dilepas dan dipasang kembali sesuai kebutuhan ruang pada saat itu. Gorden berat ini koefisien absorpsinya lebih besar daripada gorden tipis, sehingga dapat berpengaruh pada RTnya juga.

Penambahan gorden ini juga tidak merusak bangunan asli, sesuai dengan persyaratan konservasi, yaitu perusakkan seminim mungkin.

• Perubahan material panel belakang dengan memberi soft furnishing (fabric berat).

Panel belakang tergolong cukup fleksibel dan mudah untuk diubah-ubah.

Dari material dengan koefisien absorpsi kecil menjadi material engan koefisien absorpsi yang besar.

• Mengubah ukuran, material, dan jumlah lukisan.

Lukisan menggunakan material kanvas (fabric medium) dengan frame kayu. Tujuannya adalah mencari koefisien absorpsi yang lebih besar, selain itu juga melakukan repetisi material, sehingga tercipta kesatuan desain dalam Salle France.

• Papan Tulis

Penambahan papan tulis untuk membantu pembicara memperlancar proses penjelasan pada seminar/diskusi.

• Pada kondisi speech terdapat meja dan kursi pembicara di bagian depan ruang.

Pemberian softfurnishing pada bagian depan meja. Detail meja pembicara dapat dilihat pada Gambar 5.2.

(15)

(a) (b) Gambar 5.3. Gambar Meja Pembicara

(a) Meja Pembicara Asli; (b) Meja Pembicara Sesudah re-desain (Sumber: Penulis, 2011)

Tabel 5.8. Rekap Optimasi Ruang Salle France Kondisi Speech

SPEECH-SIMULASI Alt. 2

Occupancy

RT (detik)

STANDARD (detik)

100% 0.77 0.5-1

75% 0.8 0.5-1

50% 0.82 0.5-1

25% 0.84 0.5-1

0% 0.87 0.5-1

(Sumber : Penulis 2011)

Tabel 5.9. Optimasi Reverberation Time Salle France-Speech dengan Autodesk Ecotect Analysis 2011

SALLE FRANCE-SPEECH   Occupancy (%) 100%

Volume 540.254 m3   FREQ. ABSPT. RT(60) Surface Area 783.244 m2   63Hz: 23.545 2.18 Optimum RT (500Hz - Speech) 0.72 s   125Hz: 63.695 1.07 Optimum RT (500Hz - Music) 1.30 s   250Hz: 59.612 0.89 Volume per Seat 5.872 m3   500Hz: 67.033 0.79 Minimum (Speech) 4.532 m3   1kHz: 69.324 0.76 Minimum (Music) 8.478 m3   2kHz: 66.842 0.72

      4kHz: 67.161 0.71

      8kHz: 4.753 0.7

      16kHz: 7.102 0.7

(16)

(Sumber : Penulis, 2011)

Gambar 5.4. Grafik Reverberation Time Salle France-Speech-Occupancy 100%

(Sumber : Penulis, 2011)

Tabel 5.10. Optimasi Reverberation Time Salle France-Speech(dengan beberapa occupancy) menggunakan Autodesk Ecotect Analysis 2011

Occupancy (%) 0% 25% 50% 75% 100%

Occupancy 0 23 46 69 92

FREQ. ABSPT. RT(60) RT(60) RT(60) RT(60) RT(60) 63Hz: 23.545 2.58 2.47 2.36 2.27 2.18 125Hz: 63.695 1.15 1.13 1.11 1.09 1.07 250Hz: 59.612 1.1 1.04 0.99 0.94 0.89 500Hz: 67.033 0.93 0.89 0.85 0.82 0.79

1kHz: 69.324 0.87 0.84 0.81 0.79 0.76 2kHz: 66.842 0.84 0.81 0.78 0.75 0.72 4kHz: 67.161 0.76 0.75 0.73 0.72 0.71 8kHz: 4.753 0.66 0.67 0.68 0.69 0.7 16kHz: 7.102 0.67 0.68 0.69 0.69 0.7

(Sumber : Penulis, 2011)

Pada tabel 5.6. dapat dilihat optimasi ruang Salle France pada kondisi Speech. Optimasi yang dilakukan pada ruang ini berangkat dari alternatif yang sudah terpilih sebelumnya, yaitu ruang Salle France pada kondisi Music. Dengan mengganti beberapa material dari kondisi Music, dapat dilihat pada tabel di atas, pada occupancy 0-100% RT yang didapat sudah memenuhi standard, dan sudah mendekati RT optimal untuk Speech. RT optimal Speech adalah 0.75 detik, sedangkan RT pada optimasi ruang Speech berkisar antara 0.77-0.87 detik. Untuk keakuratan perhitungan, juga telah dilakukan optimasi dengan program Autodesk

(17)

Ecotect Analysis 2011, yaitu pada tabel 5.9 dan 5.10. dengan kisaran 0.79-0.93 detik. Dengan perbedaan yang tidak terlalu signifikan, maka perhitungan optimasi desain akustik Salle France pada kondisi speech bisa dikatakan sudah akurat, yaitu berkisar antara 0.77-0.93 detik.Dengan demikian didapatkan hasil perhitungan RT yang memenuhi standard RT ruang Salle France pada kondisi Speech dan juga memenuhi persyaratan konservasi yang ada.

5.1.4. Kesimpulan Optimasi

Optimasi desain akustik dilakukan pada ruang serbaguna pada CCCL, yaitu Salle France. Salle France memiliki 2 fungsi ruang dengan kondisi yang berbeda, yaitu kondisi Speech dan kondisi Music. Untuk ruang dengan kondisi Speech sudah memenuhi standard RT ruang Speech, sedangkan untuk ruang dalam kondisi music masih berada dibawah standard. Maka dari itu optimasi dilakukan pada ruang dalam kondisi music terlebih dahulu baru kemudian optimasi dilakukan untuk ruang kondisi Speech. Optimasi dilakukan dengan tujuan agar memperoleh RT yang optimal dan sesuai standard mulai dari occupancy 0-100%.

Pengoptimasian dilakukan dengan cara mengubah, menambahkan, atau mengurangi material-material yang digunakan, seperti pada dinding, plafon, jendela, pintu, dan elemen-elemen interior lainnya untuk mendapatkan RT yang sesuai standard. Namun dalam pengoptimasiannya, tetap harus memperhatikan batasan-batasan atau persyaratan-persyaratan pokok konservasi yang berlaku.

Hasil pengoptimasian terbaik pada ruang Music adalah pada alternatif 2, yaitu dengan RT yang berkisar antara 1.05 -1.39 detik. Sedangkan optimalisasi pada ruang Speech RT berkisar antara 0.77-0.83 detik.

5.2. Pengaplikasian Desain Akustik Salle France

Pengaplikasian desain akustik pada elemen interior Salle France, baik ruang pada kondisi Music maupun Speech dapat dilihat pada gambar-gambar potongan dan beberapa detail di bawah ini.

(18)

Gambar 5.5. Kondisi Asli Dinding Depan (Sumber: Penulis 2011)

  

Gambar 5.6. Kondisi re-Desain (Musik dan Speech) Dinding Depan (Sumber: Penulis 2011)

(19)

Gambar 5.7. Kondisi Asli Dinding Belakang (Sumber: Penulis 2011)

 

Gambar 5.8. Kondisi re-Desain (Musik dan Speech Dinding Belakang (Sumber: Penulis 2011)

(20)

Gambar 5.9. Kondisi Asli Dinding Kanan (Sumber: Penulis 2011)

  Gambar 5.10. Kondisi re-Desain (Musik dan Speech) Dinding Kanan

(Sumber: Penulis 2011)

(21)

Gambar 5.11. Kondisi Asli Dinding Kiri (Sumber: Penulis 2011)

  Gambar 5.12. Kondisi re-Desain (Musik dan Speech) Dinding Kiri

(Sumber: Penulis 2011)

(22)

Gambar 5.13. Kondisi Asli Plafon (Sumber: Penulis 2011)

Gambar 5.14. Kondisi re-Desain Plafon (Musik dan Speech) (Sumber: Penulis 2011)

5.3. Insulasi Ruang Salle France

5.3.1. Kebocoran Suara pada Salle France

Insulasi akustik yang kurang baik akan berakibat keluar masuknya suara, baik suara dari dalam yang merambat ke luar maupun suara dari luar yang merambat masuk ke dalam ruang. Dimana dapat mengganggu aktivitas yang ada.

(23)

Ruang-ruang yang berada di sekitar dan berbatasan langsung dengan Salle France antara lain:

• Berbatasan dengan dinding depan : café dan area bar

• Berbatasan dengan dinding kanan : dapur (cafe), gudang, perpustakaan

• Berbatasan dengan dinding belakang : galeri, dan mediatek

• Berbatasan dengan dinding kiri : kantor akuntansi, kantor Humas, Budaya, dan Ilmiah Komunikasi.

Sedangkan pengaruh suara yang ada di dalam ruang Salle France terhadap ruang-ruang di sekitarnya, sekaligus kebocoran suara yang terjadi dapat dilihat pada gambar grafik di bawah ini.

 

Gambar 5.15. Grafik Hasil Pengukuran di Ruang Sekitar Salle France Dengan dan Tanpa Sumber bunyi pada Ruang Salle France

(Sumber: Analisis Penulis, 2011)

Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, pada analisis kebocoran suara, yaitu jarak yang signifikan antara grafik biru dan grafik merah menandakan adanya kebocoran suara yang cukup besar. Sedangkan jarak antara grafik biru dan grafik merah yang tidak signifikan menandakan kualitas insulasi yang cukup baik, dan minimnya kebocoran suara yang terjadi. Dapat dilihat, bahwa tingkat kebocoran suara pada dapur, gudang, perpustakaan, mediatek tergolong cukup besar. Sedangkan kebocoran suara pada galeri dan café cukup

(24)

terasa namun tidak terlalu besar. Untuk kantor, kebocoran suaranya sangat kecil dan tidak signifikan.

Maka dari itu, peneliti mengambil kesimpulan untuk memperbaiki insulasi pada ruang Salle France, agar ruang-ruang disekitarnya tidak lagi terganggu dan dapat menjalankan aktivitasnya masing-masing dengan lebih optimal. Pada bab sebelumnya juga telah dijelaskan bahwa terjadinya kebocoran suara sedikit banyak disebabkan oleh adanya celah pada elemen pembatas ruang seperti dinding, pintu, ataupun jendela. Celah-celah yang dimaksud bisa berasal dari muai susut kayu pada pintu, lubang kunci, jalur kabel, jendela, jalusi pintu, dan celah-celah lainnya yang tidak kasat mata.

 

Gambar 5.16. Celah-Celah pada Elemen Pembatas di Salle France (Sumber: Penulis, 2011)

Insulasi akan dilakukan pada semua batasan ruang. Baik pada elemen yang berbatasan dengan dapur, gudang, maupun perpustakaan, hingga kantor, karena ada beberapa ruang yang dindingnya tidak penuh hingga atas seperti dinding batas gudang dengan perpustakaan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kebocoran suara yang terjadi, baik dari dalam maupun luar Salle France. Dari sekian celah yang terdapat pada Salle France, diantaranya dapat dilihat pada gambar diatas.

Adapun daftar celah-celah pada Salle France yang hendak diatasi, antara lain:

(25)

a. Plafon. Terdapat celah pada plafon, hal ini dapat dilihat ketika ada pesawat yang lewat, bunyi pesawat, petir, hujan, terdengar hingga ke dalam ruang. Dan bunyi yang terdengar di dalam ruang cukup keras.

Gambar 5.17. Celah pada Plafon (Sumber: Penulis, 2011)

b. Lubang pada dinding belakang. Dimana lubang tersebut menembus hingga ruang mediatek. Diameter lubangnya 6cm, sedangkan kedalamanya sama denngan tebal dinding, yaitu 30cm.

Gambar 5.18. Lubang pada Dinding Belakang (Sumber: Penulis, 2011)

c. Lubang Kunci. Karena bangunan yang ditempati adalah bangunan lama, jadi model lubang kunci pada beberapa pintu di Salle France juga masih model yang lama, yaitu dengan lubangnya yang cukup besar. Lubang kunci ini juga meruapakn salah satu penyebab kebocoran suara pada Salle France.

(26)

Gambar 5.19. Lubang Kunci (Sumber: Penulis, 2011)

d. Bagian bawah pintu-pintu kayu dan jalusi. Meliputi pintu pada dinding depan, dinding kanan, dan dinding belakang.

Gambar 5.20. Celah pada Bagian Bawah Pintudan Jalusi (Sumber: Penulis, 2011)

e. Jarak antar kayu pada pintu, yaitu antara daun pintu dengan daun pintu ataupun daun pintu dengan kusen. Meliputi pintu pada dinding depan, dinding kanan, dan dinding belakang.

Gambar 5.21. Celah Antar Pintu-Pintu dan Pintu-Kusen (Sumber: Penulis, 2011)

(27)

f. Jendela. Meskipun sudah dilapisi tripleks, namun masih

memungkinkan suara bocor dari celah tersebut. Meliputi jendela pada dinding depan, dan dinding kanan.

Gambar 5.22. Celah pada Jendela (Sumber: Penulis, 2011)

5.3.2. Upaya Insulasi Suara pada Salle France

• Material-Material yang Digunakan

Upaya insulasi Suara pada Salle France dilakukan dengan memberi elemen-elemen tambahan seperti glasswool, rubber atau karet dan spons eva, sealant, serta acourette mat.

Gambar 5.23. Contoh Glasswool yang Digunakan Untuk Insulasi Suara

Gambar 5.24. Contoh Rubber dan acourette mat yang Digunakan untuk Insulasi Suara

(28)

• Pengaplikasiannya pada Salle France

Detail-detail pengaplikasian upaya insulasi suara yang akan dilakukan pada Salle France, dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini:

a. Plafon. Pemberian glasswool pada celah-celah rangka plafon, yang kemudian ditutup dengan karet atau rubber dan dilapisi accourete mat. Menggunakan rubber karena sifatnya yang elastis diharapkan dapat mengikuti bentukkan rangka plafon dan dapat meminimalisir kebocoran suara.

 

Gambar 5.25. Upaya Insulasi pada Plafon (Sumber: Penulis, 2011)

b. Lubang jalur kabel pada dinding belakang. Lubang ini cukup besar, dengan diameter 6cm, dan merupakan lubang sumber kebocoran suara pada ruang mediatek dan perpustakaan. Upaya insulasi yang dilakukan adalah dengan memberi glasswool pada lubang tersebut, yang kemudian ditutup dengan karet/rubber. Menggunakan rubber karena sifatnya yang elastis diharapkan dapat mengikuti bentukkan lubang dan dapat meminimalisir kebocoran suara.

 

Gambar 5.26. Upaya Insulasi pada Lubang Jalur Kabel pada Dinding Belakang

(Sumber: Penulis, 2011)

Rubber 

Rangka  plafon 

Glasswool 

Accourete  mat 

(29)

c. Lubang Kunci. Lubang kunci juga merupakan salah satu penyebab kebocoran suara pada Salle France. Hal ini dapat dilihat pada angka yang muncul pada Sound Level Meter (SLM), dimana menunjukkan angka yang lebih tinggi ketika di letakkan pada lubang kunci, dibandingkan bila tidak diletakkan pada lubang tersebut. Upaya insulasi yang dilakukan adalah dengan memberi penutup lubang yang fleksibel dengan menggunakan material rubber yang diberi engsel putar agar bisa berputar.

  Gambar 5.27. Upaya Insulasi pada Lubang Kunci

(Sumber: Penulis, 2011)

d. Celah bawah pada pintu. Muai susut kayu dalam jangka waktu yang lama, mengakibatkan timbulnya celah-celah kecil pada pintu-pintu di Salle France.

upaya insulasi yang dilakukan adalah dengan memberikan material rubber yang fleksibel, dalam artian dapat naik dan turun sesuai ketinggian lantai yang dilewati nantinya oleh pintu. Membuat armaturnya, dengan jalur naik turun berupa rel dan dilengkapi dengan pemberat besi pada bagian atas rubber agar rubber dapat naik turun dengan baik. Untuk detail insulasi suara pada celah pintu kayu bagian bawah ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

(30)

  Gambar 5.28. Upaya Insulasi pada Celah Bawah Pintu

(Sumber: Penulis, 2011)

e. Jalusi pintu dan jendela.

 

Gambar 5.29. Upaya Insulasi pada Jalusi Pintu (Sumber: Penulis, 2011)

Jalusi pintu pada Salle France saat ini sudah ditutup dengan tripleks, namun masih terdapat kebocoran suara, maka dari itu upaya insulasi yang dilakukan adalah menambah lapisan tripleks tersebut dengan tripleks, accourete mat dan

(31)

rubber, seperti pada gambar di atas. Kemudian diberi sealant pada tepiannya.

Setelah itu diberi frame agar unsur estetika yang ada tetap terjaga.

f. Celah antara pintu dengan kusen dan daun pintu dengan daun pintu. Untuk celah kebocoran pada pintu ini, upaya insulasi suaranya adalah dengan memberi rubber pada sisi yang tepat. Dengan maksud agar tidak mengalami kesulitan dalam membuka atau menutup pintu. Pengaplikasian letak rubber dapat dilihat pada gambar-gambar di bawah ini,

 

Gambar 5.30. Tampak Atas Pintu Sebelum Mendapat Perlakuan Insulasi (Sumber: Penulis, 2011)

 

Gambar 5.31. Sambungan Pintu dengan Kusen Sebelum Mendapat Perlakuan Insulasi

(Sumber: Penulis, 2011)

Gambar 5.32. Sambungan Anatar Pintu Sebelum Mendapat Perlakuan Insulasi

(Sumber: Penulis, 2011)

 

(32)

  Gambar 5.33. Upaya Insulasi Suara pada Pintu Kayu Jati

(Sumber: Penulis, 2011)

  (a)

    

(b) (c)

Gambar 5.34. Upaya Insulasi Suara pada Pintu Main Entrance (a) daun pintu dengan kusen; (b) daun pintu dengan daun pintu kondisi

tertutup; (c) daun pintu dengan daun pintu kondisi terbuka (Sumber: Penulis, 2011) 

Referensi

Dokumen terkait

individu dan rumah tangga lebih besar (76,8%) dibandingkan peran kesenjangan ekonomi di tingkat provinsi (23,2%) terhadap kejadian kegemukan pada dewasa di Indonesia..

Hasil penelitian menunjuukan bahwa pertambahan bobot organ, bobot organ relatif yakni hati, jantung, pankreas, ginjal, paru-paru, limpa, jumlah erotrosit, kadar hemoglobin,

maka dapat meningkatkan loyalitas konsumen. 4) β 3 = 0,184, adalah koefisien regresi variabel sikap pada merek yang bertanda positif artinya bahwa semakin tinggi sikap

Tujuan: Mengetahui faktor prognostik yang mempengaruhi kejadian palsi serebral pada dua tahun pertama kehidupan anak dengan riwayat kejang neonatus dan

 Bagi pengusul yang tidak melakukan seminar hasil penelitian atau terlambat menyerahkan : (1) Laporan Kemajuan Penelitian atau (2) Laporan Akhir Penelitian (tanpa dijilid,

Dalam mendukung klien, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mempersiapkan petunjuk pengoperasian dan pemeliharaan sistem bagi klien. Hal-hal yang

Rumah, yaitu oikos menurut Luhrmann bukan hanya sekadar menjadi konteks dasar dari pertemuan suatu kelompok dalam berba- gai jenis kelompok di atas, tetapi: 22 “merupa- kan

Metode kualitatif digunakan untuk menggali informasi dari sisi pemerintah daerah untuk kemudian dapat di gambarkan bagaimana proses kelembagaan dan kewenangan yang