PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA DENGAN TAX AVOIDANCE SEBAGAI VARIABEL INTERVENING

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Nasional Pakar ke 2 Tahun 2019 ISSN (P) : 2615 - 2584

Buku 2: Sosial dan Humaniora ISSN (E) : 2615 - 3343

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA DENGAN TAX AVOIDANCE SEBAGAI VARIABEL

INTERVENING

Friscasyllia Lavenia Lolana, Susi Dwimulyani

Jurusan Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti Email: friscasyllialavenia@yahoo.com

Abstrak

Tujuan dari penelitian adalah untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh good corporate governance terhadap manajemen laba dengan tax avoidance sebagai variabel intervening. Penelitian ini menggunakan 45 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling dari periode 2014 sampai 2017. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 144 data. Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode metode analisis regresi berganda sebagai metode analisis statistik dan analisis jalur untuk menguji variabel intervening. dalam model penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, kualitas audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba, dan tax avoidance berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Komisaris independen dan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Hasil dari analisis jalur menemukan bahwa hanya kualitas audit melalui tax avoidance yang mempunyai pengaruh signifikan secara tidak langsung terhadap manajemen laba.

Kata kunci: Komisaris Independen, Kualitas Audit, Tax Avoidance, Manajemen Laba.

Pendahuluan

Manajemen laba merupakan campur tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan yang tujuannya untuk dilaporkan kepada pihak eksternal dengan tujuan tertentu. Manajemen laba dapat mengurangi kredibilitas dari laporan keuangan karena tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang sesungguhnya (Abdilah et al, 2016). Menurut Rahman, et al. (2013) salah satu motivasi manajemen laba adalah meminimalkan pajak. Perusahaan menganggap pajak sebagai beban, maka perusahaan akan melakukan usaha untuk meminimalisasi pembayaran pajak. Tindakan yang dilakukan perusahaan untuk meminimalisasi pajak dapat berupa tindakan yang legal maupun ilegal menurut undang-undang atau disebut dengan tax avoidance dan tax evasion. Perusahaan dalam melakukan perencanaan pajak cenderung memilih cara yang aman dengan menghindari pajak secara legal, yaitu melakukan tax avoidance. Manajemen laba dan tax avoidance yang merupakan penyimpangan yang dapat dicegah dengan adanya good corporate governance (GCG). Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) mendefinisikan GCG sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antar pemegang, pengurus perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya dan pertumbuhan integritas perusahaan. Dewan komisaris merupakan inti dari corporate governance untuk melakukan pengawasan terhadap kebijakan pengurusan perusahaan dan memberikan nasihat kepada direksi termasuk pengawasan terhadap pelaksanaan rencana jangka panjang perseroan. Proporsi dewan komisaris yang tinggi akan meminimalkan kecurangan dalam pelaporan perpajakan sehingga meningkatkan intregritas nilai

(2)

informasi keuangan (Sunarsih dan Handayani). Salah satu prinsip utama untuk membuat kebijakan corporate gorvernance adalah transparasi. Transparasi dapat diukur melalui kualitas audit. Kualitas audit dapat diukur dengan menggunakan ukuran KAP. Laporan keuangan yang diaudit oleh auditor KAP The Big Four dipercaya lebih berkualitas sehingga menampilkan nilai perusahaan yang sebenarnya (Sunarsih dan Handayani).

Dengan adanya good corporate governance mampu meningkatkan pengawasan yang lebih optimal dan dapat mempengaruhi manajemen dalam membuat kebijakan penghindaran pajak. Perusahaan yang tidak melakukan penghindaran pajak maka labanya akan lebih tinggi dibanding dengan yang melakukan penghindaran pajak. Karena dengan laba yang lebih tinggi maka manajamen akan termotivasi untuk melakukan manajemen laba.

Terdapat beberapa penelitian-penelitian sebelumnya yang meneliti pengaruh corporate governance terhadap tax avoidance menurut beberapa peneliti seperti Annisa dan Kurniasih (2012), Pohan (2008), Yuniarwati et al (2017), serta Sunarsih dan Oktaviani (2016). Peneliti yang meneliti corporate governance terhadap manajemen laba yaitu Abdillah et al (2016), serta Christiani dan Nugrahanti (2014). Tetapi penelitian pengaruh good corporate governance terhadap manajemen laba dengan tax avoidance sebagai variabel intervening sebelumnya belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengembangkan penelitian ini dengan memperbarui periode penelitian. Selain itu, adanya perbedaan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ini apakah hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya.

Studi Pustaka

Teori dan Perumusan Hipotesis

Menurut Jensen dan Meckling (1976) teori keagenan menjelaskan tentang hubungan kontraktual antara pihak yang mendelegasikan keputusan tertentu (principal) dengan pihak yang menerima pendelegasian tersebut (agent). Terjadinya konflik kepentingan antara principal dan agent karena kemungkinan agent bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal. Sebagai agen, manajer bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik. Sistem perpajakan di Indonesia menggunakan self assessment system yang dapat memberikan kesempatan bagi agent untuk menghitung penghasilan kena pajak serendah mungkin, Hal ini dilakukan karena agent akan memperoleh keuntungan yang tidak bisa didapatkan dari kerjasama dengan principal (Rosalia, 2017).

Teori akuntansi positif berkaitan dengan memprediksi tindakan seperti pilihan kebijakan akuntansi oleh manajer perusahaan dan bagaimana respon manajer tersebut terhadap standar akuntansi baru yang diusulkan (Scott, 2006). Menurut Watts dan Zimmerman (1986) dalam Aditama dan Puwarningsih (2014), tiga hipotesis utama dalam teori akuntansi positif yaitu (1) The Bonus Plan Hypothesis dimana manajer akan cenderung menggunakan metode-metode akuntansi yang dapat mempermainkan besar kecilnya angka-angka akuntansi dalam laporan keuangan. (2) Debt Covenant Hypothesis berkaitan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi perusahaan di dalam penjanjian utang. Ketika perusahaan mulai terancam melanggar perjanjian utang, maka manajer perusahaan akan berusaha untuk menghindari terjadinya perjanjian utang tersebut dengan cara memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan pendapatan atau laba. (3) The Political Cost Hypothesis, Scott (2006) menyatakan bahwa perusahaan yang berhadapan dengan biaya politik, cenderung melakukan rekayasa penurunan laba dengan tujuan untuk meminimalkan biaya politik yang harus mereka tanggung.

(3)

Komisaris Independen Terhadap Manajemen Laba

Keberadaan komisaris independen diharapkan memainkan peran penting dalam memastikan penerapan praktik GCG yang baik sehingga meringankan praktik manajemen laba oleh seorang manajer. Penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani et al.

(2015) dan Laily (2017) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh komisaris independen terhadap manajemen laba. Berbeda dengan penelitian Abdillah et al. (2016) yang menyatakan komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Ha1 Komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba

Audit yang dilakukan oleh KAP big four ditafsirkan sebagai kualitas yang lebih baik daripada yang oleh KAP non-big four. KAP big four memiliki sistem yang lebih baik dan juga memiliki lebih banyak sumber daya yang tersedia untuk digunakan sehingga lebih sedikit waktu yang diperlukan untuk melakukan audit. Selain itu, auditor yang bekerja di KAP big four menunjukkan tingkat keahlian yang lebih tinggi karena selalu membuat upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan auditornya (Annisa dan Kurniasih, 2012). Maka KAP big four lebih tinggi dalam menghambat praktik manajemen laba (Amijaya dan Prastiwi, 2013). Hasil penelitian Dinuka (2014) mengemukakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara kualitas audit terhadap manajemen laba. Tetapi hasil penelitian Laily (2017) dan Husain (2017) menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh antara kualitas audit terhadap manajemen laba.

Ha2 Kualitas audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Tax Avoidance Terhadap Manajemen Laba

Struktur dan transaksi tax avoidance biasanya sangat kompleks dan rahasia yang dapat menyebabkan manajer terlibat dalam kegiatan yang tidak aman bagi pemegang saham. Informasi asimetri tersebut menyebabkan tingginya peluang para manajer untuk melakukan manajemen laba (Putri et al, 2016). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Tanno (2015) mengemukakan bahwa terdapat pengaruh positif antara tax avoidance terhadap manajemen laba. Berbeda dengan hasil penelitian Husain (2017) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh antara tax avoidance terhadap manajemen laba.

Ha3 Tax avoidance berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

Komisaris Independen Terhadap Tax Avoidance

Sari (2014) menyatakan bahwa kehadiran komisaris independen dalam dewan komisaris mampu meningkatkan pengawasan kinerja direksi. Dengan semakin banyak komisaris independen maka pengawasan manajemen akan semakin ketat. Manajemen memiliki motif untuk memaksimalkan laba bersih agar meningkatkan bonus dengan mengurangi biaya-biaya, termasuk mengurangi pajak. Maka diharapkan jika semakin besar proporsi komisaris independen dalam perusahaan akan meningkatkan pengawasan sehingga dapat mencegah penghindaran pajak perusahaan yang dilakukan oleh manajemen (Sunarsih dan Handayani). Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilah (2014) menyatakan bahwa variabel komisaris independen tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Di lain pihak, Sunarsih dan Oktaviani (2016) menyatakan terdapat pengaruh negatif antara variabel komisaris independen terhadap tax avoidance.

Ha4 Komisaris independen berpengaruh negatif terhadap tax avoidance.

Kualitas Audit Terhadap Tax Avoidance

Kualitas audit memiliki pengaruh pada tax avoidance, bahwa laporan keuangan yang diaudit oleh KAP The big four dapat mengurangi terjadinya penghindaran pajak.

(4)

Jika nominal pajak terlalu tinggi untuk dibayarkan biasanya akan memaksa perusahaan untuk melakukan penggelapan pajak, maka semakin berkualitas audit suatu perusahaan, perusahaan tersebut cenderung tidak melakukan manipulasi laba untuk kepentingan perpajakan (Sunarsih dan Handayani). Hasil penelitian Winata (2014) menyatakan tidak terdapat pengaruh signifikan antara kualitas audit terhadap tax avoidance.

Ha5 Kualitas audit berpengaruh negatif terhadap tax avoidance.

Komisaris Independen Terhadap Manajemen Laba dengan Tax Avoidance Sebagai Variabel Mediasi.

Komisaris independen dalam fungsinya juga memberikan saran dan pendapat pada proses pengambilan keputusan. Dalam pengambilan proses pengambilan keputusan komisaris independen tidak mengetahui banyak mengenai internal perusahaan dan perencanaan penghindaran pajak melainkan lebih menjelaskan risiko biaya yang harus ditanggung perusahaan akibat penghindaran pajak (Armstrong et al., 2015).

Ha6 Komisaris indenpeden berpengaruh negatif terhadap manajemen laba dengan tax avoidance sebagai variabel mediasi.

Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba dengan Tax Avoidance Sebagai Variabel Mediasi.

Perusahaan yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) The Big Four biasanya menghasilkan kualitas audit yang semakin baik, dan akan semakin sulit melakukan kebijakan penghindaran pajak. Dengan demikian, apabila semakin berkualitas audit suatu perusahaan, maka perusahaan tersebut cenderung tidak melakukan manipulasi laba untuk kepentingan. Mekanisme tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan digunakan sebagai tameng oleh manajemen yang melakukan manajemen laba (Putri et al, 2016).

Ha7 Kualitas audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba dengan tax avoidance sebagai variabel mediasi.

Keterkaitan antara variabel independen, variabel intervening dan variabel dependennya dapat digambarkan dalam suatu model penelitian sebagai berikut:

Metode Penelitian

Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah manajamen laba.

Manajemen laba merupakan campur tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan yang tujuannya untuk dilaporkan kepada pihak eksternal dengan tujuan tertentu (Abdilah et al, 2016). Variabel independen dalam penelitian ini yaitu dewan komisaris dan kualitas audit. Dewan Komisaris Independen didefinisikan sebagai pihak yang tidak berafiliasi dengan pemegang saham pengendali, tidak memiliki afiliasi dengan direksi atau komisaris di internal dan tidak menjabat sebagai direktur perusahaan terkait (Sari, 2014). Menurut De Angelo (1981), kualitas audit adalah kemungkinan dimana seorang auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran yang ada dalam sistem akuntansi kliennya. Variabel intervening dalam penelitian ini yaitu tax avoidance

Komisaris Independen

Tax Avoidance Kualitas Audit

Manajemen Laba

(5)

merupakan upaya penghindaran pajak secara legal yang tidak melanggar peraturan perpajakan yang dilakukan wajib pajak (Rahman, et al. 2013). Dalam penelitian ini terdapat variabel kontrol yang di ambil dari penelitian Tala dan Karamoy (2017) dan Gerayli et al. (2011) yaitu profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, dan rasio arus kas operasional.

Pengukuran Variabel Penelitian

Pengukuran variabel dependen, variabel independen dan variabel kontrol dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Pengukuran Variabel

Variabel Pengukuran Skala

Manajemen Laba Rasio

Komisaris Independen

Rasio Kualitas Audit 1 = perusahaan diaudit oleh KAP big four

0 = perusahaan diaudit oleh KAP non big four Nominal

Tax Avoidance Rasio

Profitabilitas Rasio

Leverage Rasio

Ukuran Perusahaan Ln Total Aset Rasio

Arus Kas

Operasional Rasio

Manajemen laba dalam penelitian ini menggunakan proksi discretionary accruals.

Dalam penelitian Dewi dan Khoiruddin (2016) Perhitungan manajemen laba adalah sebagai berikut:

– CFOit (1)

(2) (3) Keterangan :

Dait : Discretionary accrual perusahaan i pada tahun t Tait : Total akrual perusahaan i pada tahun t

NIit : Laba bersih perusahaan i pada tahun t

CFOit : Aliran kas dari aktivitas operasi perusahaan i pada tahun t NDAit: Non discretionary accrual perusahaan i pada tahun t TAit-1 : Total accrual perusahaan i pada tahun t-1

Ait-2 : Total aktiva perusahaan i pada tahun t-2 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id dengan mengumpulkan data dari laporan tahunan perusahaan pada tahun 2014-2017. Obyek penelitian ini adalah

(6)

perusahaan manufaktur. Unit analisis dalam penelitian ini yaitu organisasi dengan sampel perusahaan manufaktur. Pengambilan sampel menggunakan metode statistik purposive sampling. Kriteria sampel yang digunakan adalah:

1) Perusahaan yang konsisten terdaftar di BEI pada tahun 2014-2017.

2) Perusahaan yang laporan keuangannya dalam mata uang Rupiah.

3) Perusahaan yang laporan keuangannya berakhir pada tanggal 31 Desember.

4) Perusahaan manufaktur yang membayar pajak selama tahun 2014-2017.

5) Perusahaan memperoleh laba positif sebelum pajak pada tahun 2014-2017.

Metode Analisis Data

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur. Model persamaan linear berganda yang digunakan sebagai berikut:

(4) (5) Keterangan:

α : Bilangan konstanta : Koefisien regresi linear KI : Komisaris Independen KA : Kualitas Audit

ROA : Profitabilitas LEV : Leverage

SIZE : Ukuran Perusahaan OCF : Arus Kas Operasional AVO : Tax Avoidance

EM : Manajemen Laba ε : Standard error Hasil dan Pembahasan

Dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014 sampai 2017, sampel yang digunakan adalah sebanyak 45 perusahaan. Sampel penelitian yang menjadi data penelitian dipilih berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan sebagai berikut:

Tabel 2. Prosedur Pemilihan Sampel

No. Keterangan Jumla

h

Data 1. Perusahaan yang konsisten terdaftar di Bursa Efek Indonesia

(BEI) pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2017. 81 324 2. Perusahaan yang tidak mencantumkan laporan keuangannya

dalam mata uang Rupiah.

(16) (64) 3. Perusahaan yang laporan keuangannya tidak berakhir pada

tanggal 31 Desember. (2) (8)

4. Perusahaan yang tidak membayar pajak pada tahun 2014 sampai

dengan tahun 2017. (12) (48)

5. Perusahaan yang tidak memperoleh laba positif pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2017.

(6) (24)

6. Data Outlier. (36)

Total data perusahaan manufaktur yang digunakan. 144 Sumber: Kriteria Penelitian

(7)

Hasil statistik deskriptif berdasarkan variabel digambarkan pada Tabel berikut:

Tabel 3. Statistik Deskriptif

Variabel n Minimum Maksimum Mean Std. Deviation

EM 124 -0,1995 0,1773 -0,0091 0,0833

KI 124 0,2857 0,6000 0,3859 0,0757

AVO 124 -0,4347 -0,1081 -0,2583 0,0546

ROA 124 0.0041 0,3098 0,1152 0,0743

LEV 124 0,0005 0,7617 0,3692 0,1629

SIZE 124 25,3317 32,0399 28,4191 1,6172

OCF 124 -0,0776 0,2738 0,0855 0,0726

Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS22

Dalam penelitian ini, variabel independen yaitu ukuran KAP diukur dengan menggunakan variabel dummy. Oleh karena itu, jika pengukurannya menggunakan variabel dummy maka hasil analisis dapat dilihat melalui tabel hasil distribusi frekuensi.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kualitas Audit

Sumber: Hasil Pengelolaan Data SPSS22

Uji normalitas dengan uji statistik non-parametik Kolmogorov-Smirnov (K-S) pada data dan diperoleh Asymp. Sig. (2-tailed) sebelum outlier sebesar 0,000, namun setelah dilakukan uji outlier dan dikeluarkan 36 data outlier, hasil kedua model regresi menjadi normal. Dalam penelitian ini telah dilakukan uji asumsi klasik seperti uji autokorelasi (uji Langrange Multiplier), uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas (uji Glejser). Hasil uji asumsi klasik tidak ditemukan adanya autokorelasi ataupun multikolineritas pada kedua model regresi. Namun ditemukan ada nya heteroskedastisitas terhadap variabel kontrol pada model regresi pertama dan kedua.

Hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Hasil Uji Statistik t

Dependent Variable: Earning Management Sumber: Hasil Pengelolaan Data SPSS

Frequency Percent

Valid KAP non Big Four 60 48,4

KAP Big Four 64 51,6

Total 144 100,0

Variabel B Sig. Keterangan

(Constant) -0,070 0,587

KI 0,123 0,159 Ha1 ditolak

KA -0,041 0,010 Ha2 diterima

AVO 0,322 0,008 Ha3 diterima

ROA -0,504 0,000

LEV 0,039 0,354

SIZE 0,003 0,518

OCF 0,874 0,000

(8)

Dependent Variable: Tax Avoidance Sumber: Hasil Pengelolaan Data SPSS

Berdasarkan dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa untuk komisaris independen (KI) menunjukkan nilai sig. sebesar 0,159 ≥ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif pertama (Ha1) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel komisaris independen tidak berpengaruh secara parsial terhadap variabel manajemen laba pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Tetapi untuk variabel kualitas audit (KA) menunjukkan nilai sig. sebesar 0,010 ≤ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif kedua (Ha2) diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kualitas audit berpengaruh secara parsial terhadap variabel manajemen laba pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Dengan nilai beta yang diperoleh dari hasil pengujian yang ditunjukkan pada tabel 11 sebesar -0,041, maka hal ini menunjukkan bahwa variabel kualitas audit berpengaruh negatif terhadap variabel manajemen laba dan untuk variabel tax avoidance (AVO) menunjukkan nilai sig. sebesar 0,008 ≤ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif ketiga (Ha3) diterima.

Hal ini menunjukkan bahwa variabel tax avoidance berpengaruh secara parsial terhadap variabel manajemen laba pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Dengan nilai beta yang diperoleh dari hasil pengujian yang ditunjukkan pada tabel 11 sebesar 0,322, maka hal ini menunjukkan bahwa variabel tax avoidance berpengaruh positif terhadap variabel manajemen laba.

Variabel komisaris independen (KI) menunjukkan nilai sig. sebesar 0,399 ≥ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif ketiga (Ha4) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel komisaris independen tidak berpengaruh secara parsial terhadap variabel tax avoidance pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia dan variabel kualitas audit (KA) menunjukkan nilai sig. sebesar 0,590 ≥ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif keempat (Ha5) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kualitas audit tidak berpengaruh secara parsial terhadap variabel tax avoidance pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

Hasil untuk uji analisis jalur pengaruh langsung yang diberikan komisaris independen (KI) terhadap manajemen laba (EM) sebesar 0,123. Sedangkan pengaruh tidak langsung komisaris independen melalui tax avoidance (AVO) terhadap manajemen laba adalah -0,0183 yang diperoleh dari perkalian antara beta KI terhadap AVO (-0,057) dengan nilai beta AVO terhadap EM (0,322). Dapat diketahui bahwa nilai pengaruh langsung lebih besar dibandingkan dengan nilai pengaruh tidak langsung, maka dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif keenam (Ha6) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung komisaris independen melalui tax avoidance tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Berdasarkan dari hasil pengujian pengaruh langsung yang diberikan kualitas audit (KA) terhadap manajemen laba (EM) sebesar -0,041. Sedangkan pengaruh tidak langsung kualitas audit melalui tax avoidance (AVO) terhadap manajemen laba adalah -0,0019 yang diperoleh dari perkalian antara beta KA terhadap AVO (-0,006) dengan nilai beta AVO terhadap EM (0,322). Dapat diketahui bahwa nilai pengaruh langsung lebih kecil dibandingkan dengan nilai

Variabel B Sig. Keterangan

(Constant) -0,337 0,001

KI -0,057 0,399 Ha4 ditolak

KA -0,006 0,590 Ha5 ditolak

ROA 0,182 0,012

LEV -0,025 0,451

SIZE 0,003 0,349

(9)

pengaruh tidak langsung, maka dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif ketujuh (Ha7) diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung kualitas audit melalui tax avoidance mempunyai pengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Maka pengaruh total yang diberikan kualitas audit terhadap manajemen laba melalui tax avoidance yaitu sebesar -0,0019 maka variabel kualitas audit berpengaruh negatif secara tidak langsung melalui tax avoidance terhadap manajemen laba.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah komisaris independen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, kualitas audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba, dan tax avoidance berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Komisaris independen dan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Komisaris independen melalui tax avoidance secara tidak langsung tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap manajemen laba, tetapi kualitas audit melalui tax avoidance secara tidak langsung mempunyai pengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan teori atas hasil bukti empiris mengenai good corporate governance terhadap tax avoidance serta tax avoidance terhadap manajemen laba untuk perusahaan terbuka. Bagi kontribusi praktik dapat sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan manajemen laba sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan bagi kebijakan dapat menentukan perilaku perusahaan saat melakukan manajemen laba dengan perilaku penghindaran pajak yang legal. Dalam penelitian ini penulis menyadari bahwa penulisan ini masih memiliki keterbatasan dan kekurangan, sehingga menyebabkan penelitian ini menjadi kurang sempurna. Keterbatasan yang muncul dalam penelitian yaitu sebagai berikut pengukuran terhadap variabel manajemen laba hanya berfokus terhadap manajemen laba akrual saja.

Setelah penulis menyadari adanya keterbatasan dalam penelitian ini maka penulis memberikan saran bagi peneliti selanjutnya sehingga dapat menyempurnakan penelitian mendatang hendaknya mempertimbangkan unsur manajemen laba riil (Pujilestari dan Herusetya, 2013) dan dapat menambah variabel-variabel lainnya yang juga dapat mempengaruhi manajemen laba seperti struktur kepemilikan, komite audit, dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Abdillah, Selvy Yulita, R. Anastasia Endang Susilawati, dan Nanang Purwanto. 2016.

Pengaruh Good Corporate Governance Pada Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2014), Journal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), Vol. 7 No.2: 1-14.

Aditama dan Purwaningsih. 2014. Pengaruh Perencanaan Pajak Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Non Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

MODUS: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 26, No.1: 33-50.

Amijaya, Muhammad Dody, dan Andri Prastiwi. 2013. Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba. Diponegoro Journal of Accounting, Vol. 2, No. 3: 1-13.

Annisa, N. A. dan Kurniasih, L. 2012. Pengaruh Corporate Governance terhadap Tax Avoidance, Jurnal Akuntansi dan Auditing, Vol. 8, No. 2, Mei: 123-132.

Armstrong, Christopher S., Jennifer L. Blouin, Alan D. Jagolinzer, and David F. Larcker.

2015. Corporate Governance, Incentives, and Tax Avoidance. Journal of Accounting and Economics, Vol. 60, No. 1: 1-17.

(10)

Christiani, Inggrid, dan Yeterina Widi Nugrahanti. 2014. Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 16, No. 1: 52-62.

DeAngelo, Linda Elizabeth. 1981. Auditor Size And Audit Quality. Journal of Accounting and Economics, Vol. 3, No. 3: 183-199.

Dewi, Eva Rosa S., dan Moh. Khoiruddin. 2016. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Yang Masuk Dalam Jakarta Islamic Index Tahun 2012-2013. Management Analysis Journal, Vol. 5, No. 3: 156-166.

Dinuka, V.K., Zulaikha. (2014). Analisis Pengaruh Audit Tenure, Ukuran Kap Dan Diversifikasi Geografis Terhadap Manajemen Laba. Diponegoro Journal Of Accounting, Vol.

3, No. 3: 1-11.

Fadhilah, Rahmi. 2014. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Tax Avoidance (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI 2009-2011), Jurnal Akuntansi, Vol. 2, No. 1: 1-22.

Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI). MUC Business Advisory Services. 2018.

Diakses tanggal 8 November 2018. http://muc-advisory.com/

Gerayli, Mahdi Safari, Abolfazl Momeni Yanesari, dan Ali Reza Ma’atoofi. 2011. Impact of Audit Quality on Earnings Management: Evidence from Iran, International Research Journal of Finance and Economics, No. 66: 77-84.

Husain, T. 2017. Pengaruh Tax Avoidance dan Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba, Jurnal Online Insan Akuntansi, Vol. 2 No. 1: 137-156.

Jensen, Michael C. dan William H. Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs, and Ownership Structure, Journal of Financial Economics, Vol. 3, No. 4: 305-360.

Laily, Nujmatul. 2017. The Effects of Good Corporate Governance and Audit Quality on Earnings Management. Journal of Accounting and Business Education, Vol. 2, No. 1: 134-143.

Oktaviani, Rona Naula, Emrinaldi Nur, Vince Ratnawari. 2015. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kualitas Laba dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening, Jurnal SORO, Vol. 10, No. 1: 36-53.

Pohan, H. T. 2008. Pengaruh Good Corporate Governance, Rasio Tobin’s q, Perata Laba terhadap Penghindaran Pajak pada Pe-rusahaan Publik. http://hotmanpohan.

blogspot.com

Pujilestari, Reisha, dan Antonius Herusetya. 2013. Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba Transaksi Real - Pengakuan Pendapatan Strategis, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 15, No. 2: 75-85.

Putri, Anne, Abdul Rohman, dn Anis Chariri. 2016. Tax Avoidance, Earnings Management, and Corporate Governance Mechanism (An Evidence From Indonesia).

International Journal of Economic Research, Vol. 13, No. 4: 1931-1943.

Putri, Anne, dan Aries Tanno. 2015. The Role of Earnings Management in Relation Between Tax Avoidance and Investor Reaction : The Case of Indonesia, International Journal of Research in Business and Technology, Vol. 7, No 1: 867-872.

Rahman, Md. Musfiqur, Mohammad Moniruzzaman, dan Md. Jamil Sharif. 2013.

Techniques, Motives, and Controls of Earning Management, International Journal of Information Technology and Business Management, Vol. 11 No. 1: 22-34.

(11)

Rosalia, Yuliesti. 2017. Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas dan Corporate Governance Terhadap Penghindaran Pajak, Jurnal Ilmu dan Riset Akuntantsi, Vol. 6 No. 3: 891-909.

Sari, G.M. (2014). Pengaruh Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, Kompensasi Rugi Fiskal dan Struktur Kepemilikan terhadap Tax Avoidance (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI tahun 2008-2012), Jurnal WRA, Vol. 2 No. 2:

491-512.

Scott, William R. 2006. Financial Accounting Theory. Fourth Ed: Prentice Hall International Inc.

Sunarsih, Uun, dan Kartika Oktaviani. 2016. Good Corporate Governance In Manufacturing Companies Tax Avoidance, Etikonomi, Vol. 15 No. 2: 85-96.

Sunarsih, Uun, dan Puput Handayani. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Penghindaran Pajak Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia, Jurnal Akuntansi, Vol. 12 No. 2: 163-185.

Tala, Olifia dan Herman Karamoy. 2017. Analisis Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia, Journal Accountability, Vol. 8, No.1:57-64.

Winata, Fenny. 2014. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Tax Avoidance Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013. Tax & Accounting Review, Vol. 4, No. 1: 1-11.

Yuniarwati, I Cenik Ardana, Sofia Prima Dewi, Caroline Lin. 2017. Factors That Influence Tax Avoidance in Indonesia Stock Exchange, Chinese Business Review, Vol. 16, No. 10: 510- 517.

Figur

Tabel 1. Pengukuran Variabel

Tabel 1.

Pengukuran Variabel p.5
Tabel 3. Statistik Deskriptif

Tabel 3.

Statistik Deskriptif p.7
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kualitas Audit

Tabel 4.

Distribusi Frekuensi Kualitas Audit p.7
Related subjects :