• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KEJAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KEJAYA"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Sejarah Pendidikan Islam

MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN,

KEJAYAAN DAN KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah perkembangan pendidikan sebenarnya mengikuti sejarah Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, periodesasi sejarah pendidikan Islam dapat dikatakan berada dalam periodesasi sejarah Islam itu sendiri. Harun Nasution membagi periodesasi ini ke dalam periode klasik, pertengahan dan modern.1 Secara garis besar dari ketiga

periodesasi tersebut dapat diperinci kembali menjadi lima masa yaitu; .masa hidupnya Nabi Muhammad SAW, masa khulafaurrasyidin, masa dinasti Ummawi, masa dinasti Abbasiyah dan masa dari runtuhnya Baghdad sampai sekarang.

Kelima periodesasi tersebut lebih kental pada periodesasi penulisan sejarah Islam. Peneliti Sejarah Pendidikan islam yang lain membagi secara lebih kompleks periodesasi dalam penulisan Sejarah Pendidikan Islam yaitu ; pertama, Periode pembinaan pendidikan Islam yang berlangsung pada masa Nabi Muhammad SAW selama lebih kurang 23 tahun sejak beliau menerima wahyu hingga wafatnya. Dalam periode ini Rasulullah adalah guru dan para sahabat adalah murid-muridnya. Kedua, periode pertumbuhan pendidikan Islam yang berlangsung sejak wafatnya Rasulullah sampai dengan akhir kekuasaan dinasti Umawi. Pada masa ini yang memegang peran sentral adalah para sahabat Nabi dan generasi tabi’in. Ketiga, periode kejayaan pendidikan islam berlangsung dari awal munculnya kekuasaan Abbasiyah higga runtuhnya kota Baghdad akibat serangan tentara Mongol. Pada periode ini yang memegang peranan penting bukan hanya ulama, tapi juga ilmuwan-ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dan banyak pula mereka yang tidak memeluk agama Islam. Periode keempat adalah tahap kemunduran yang berlangsung sejak jatuhnya Baghdad hingga penaklukan Napoleon atas Mesir pada abad ke 18. Hal ini ditandai dengan

(2)

berpindahnya pusat kebudayaan dunia dari timur ke dunia barat. Kelima, tahap pembaruan pendidikan islam yaitu ditandai dengan masuknya Napoleon ke Mesir sampai saat ini. Pemegang peranan penting dalam tahap ini adalah para pembaharu Islam yang tampil ke dalam lintasan sejarah. Periode ini ditandai dengan penyerapan unsur-unsur pendidikan barat ke dalam pendidikan Islam.2

Mempelajari Sejarah Pendidikan Islam amat penting, terutama bagi pelajar-pelajar agama Islam dan pemimpin-pemimpin Islam. Dengan mempelajar-pelajari Sejarah Pendidikan Islam kita dapat mengetahui sebab kemajuan dan kemunduran Islam baik dari cara didikannya maupun cara ajarannya. Khusunya pendidikan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Sebagai umat Islam, hendaknya kita mengetahui sejarah tersebut guna menumbuhkembangkan wawasan generasi mendatang di dalam pengetahuan sejarah tersebut. Sejarah Pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW terdapat dua periode. Yaitu periode Makkah dan periode Madinah.

Pada periode Makkah, Nabi Muhammad lebih menitik beratkan pembinaan moral dan akhlak serta tauhid kepada masyarakat Arab yang bermukim di Makkah dan pada peroide di Madinah Nabi Muhammad SAW melakukan pembinaan di bidang sosial politik. Disinilah pendidikan Islam berkembang pesat.

B. Rumusan Masalah

1. Kapan dan bagaimana terjadinya masa pertumbuhan, perkembangan dan kejayaan pendidikan Islam ?

2. Kapan dan mengapa terjadi masa kemunduran pendidikan Islam?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Kapan dan bagaimana terjadinya masa pertumbuhan, perkembangan dan kejayaan pendidikan Islam .

2. Untuk mengetahui kapan dan mengapa terjadi masa kemunduran pendidikan Islam.

(3)

BAB II

MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN, KEJAYAAN DAN KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM

I. MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ISLAM (MASA RASULULLAH)

1. Pendidikan Islam Periode Makkah

Pembinaan pendidikan di masa Rasulullah dapat dibagi menjadi dua, yaitu saat Rasulullah berada di Makkah dan setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebelum diutus menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dididik oleh Allah melalui pengalaman, pengenalan dan peran sertanya dalam kehidupan masyarakat. Allah menjaganya dari kebiasaan-kebiasaan kaum kafir Quraisy yang buruk seperti mabuk-mabukan, berzina ataupun menyembah berhala. Rasulullah pun diberikan tanggung jawab sebagai penggembala kambing, dimana para Nabi semuanya adalah penggembala.3

Setelah memasuki usia ke 40 tahun, Allah mengutusnya untuk menyebarkan ajaran Islam kepada umat. Tahap pertama dalam penyampaian dakwah ini disebarkan dalam kalangan terbatas seperti pada keluarga terdekat dan teman dekatnya. Orang pertama yang masuk ke dalam agama ini adalah Khadijah, istrinya, Ali bin Abi Thalib seorang sepupunya, Zaid bin Haritsah anak angkatnya dan Abu Bakar seorang teman dekatnya. Melalui Abu Bakar banyak pula orang-orang yang masuk Islam seperti Zubair bin Awwam, Usman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin ‘Auf.4 Setelah dakwah secara tertutup barulah masuk ke dalam

fase berdakwah secara terbuka.

Rumah Arqom bin Abil Arqom adalah madrasah Nabi yang pertama dalam mendidik dan mengajarkan Al-Qur’an. Banyak kaum Quraisy yang masuk Islam dengan menghadap Nabi di rumah Arqom ini. Diantaranya adalah Mushab bin Umair

3 Hadist Shahih Riwayat Imam Bukhari, Ijara : 2

(4)

dan Umar bin Khatab. Kisah Umar bin Khatab pertama kali masuk Islam sangat menarik jika kita cermati.

Suatu hari Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Safa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamzah, Abu Bakar, Ali dan juga sahabat yang lain yang tidak ikut hijrah ke Etiopia. Nua’im secara tidak sengaja berpapasan dan bertanya hendak kemana Umar pergi. “ Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraisy khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia. “Engkau hanya akan menipu diri sendiri, Umar” Kata Nua’im “ Jika engkau menganggap bahwa Bani Abdul Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dan selesaikan permasalahan mereka” Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang menbimpa keluarganya. Nu’aim menjawab “ Saudara ipar, keponakan yang bernama Said serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anda menghubungi mereka”. Umar cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabab sedang membaca surat Taha dari sepotong tulisan Al-Qur’an. Saat mereka dengar suara Umar, Khabab lari masuk ke kamar kecil, sedang Fatimah mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al-Qur’an dan diletakkan di bawah pahanya”.5

Dari keterangan kisah di atas dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an telah ditulis pada periode awal Islam. Ketika ayat Al-Qur’an turun Rasulullah memanggil para sahabatnya untuk menghapalkan ayat Al-Qur’an yang turun tersebut dan beberapa orang menuliskannya. Penekanan pendidikan pada masa hidup Nabi Muhammad baik di Mekkah maupun di Madinah adalah pembacaan dan penghafalan Al-Qur’an. Perlu digaris bawahi di sini Al-Qur’an bukan berasal dari teks tertulis yang kemudian dihafalkan, namun berasal dari hafalan yang kemudian dituliskan.6

Dalam periode Mekkah ini terdapat beberapa sahabat yang menjadi guru dalam mengajarkan Al-qur’an. Mereka adalah :

1. Ibnu Mas’ud adalah orang pertama yang mengajarkan Al-qur’an di Mekkah

5 Ibnu Hisyam, Siroh Nabawiyah Ibnu Hisyam (Jakarta : darul Falah, 2008).

(5)

2. Khabbab mengajarkan Al-qur’an pada Fatimah (saudara perempuan Umar bin Khatab) dan suaminya Sa’id bin Zaid

3. Mushab bin Umair dikirim oleh Nabi Muhammad SAW ke Madinah sebagai guru mengaji Al-qur’an.7

Hasil pendidikan Al-qur’an dalam periode Mekkah ini cukup memuaskan walaupun harus berhadapan dengan siksaan dari kaum musyrikin kota Mekkah. Para sahabat dengan semangat mengajarkan Al-qur’an di kabilah-kabilahnya dan orang – orang yang ditemui olehg meraka. Adapun hasil pendidikan Al-qur’an di Mekkah ini antara lain bisa dilihat dari :

1. Saat Nabi Muhammad tiba di Madinah, beliau diperkenalkan oleh seorang anak muda bernama Zaid bin Tsabit, anak lelaki berusia sebelas tahun yang telah menghafal enam belas surah Al-qur’an

2. Barra menjelaskan bahwa ia sudah mengenal seluruh surah Al-Muffasal (terdiri dari surat Al-Qaf hingga akhir Al-qur’an) sebelum Nabi Muhammad tiba di Madinah.8

Dalam periode Mekkah ini titik tekan materi pembelajaran adalah masalah tauhid yang mendalam untuk mengikis habis kesyirikan-kesyirikan yang mungkin masih melekat di hati para sahabat dan membuat pertentangan tegas dengan kepercayaan masyarakat Quraisy. Intisari ajaran tauhid tersebut adalah sebagaimana yang tercermin dalam surat Al-Fatihah. Pokok-pokoknya adalah :

1. Bahwa Allah adalah pencipta alam semesta yang sebenarnya. Dialah satu-satunya yang menguasai dan mengatur alam ini sedemikian rupa, sehingga merupakan tempat yang sesuai dengan kehidupan manusia. Dia pulalah yang telah mengatur kehidupan manusia, mendidik dan membimbingnya, sehingga mendapatkan kehidupan sebagaimana yang mereka alami. Oelh karenanya, hanya Dialah yang memiliki segalanya, yang berhak mendapatkan pujian. Manusia harus memuji-Nya karena semua makhluk pun memuji-Nya juga. Memuji Allah harus dilasanakan langsung kepada-Nya, bukan seperti kebiasaan masyarakat yang memuji Tuhan dengan perantaraan berhala-berhala mereka. Berhala-berhala tersebut sebenarnya tidak berarti apa-apa, tidak memberikan mudarat ataupun manfaat dalam kehidupan mereka, sedangkan yang memberi

7 Ibid, hal 65

(6)

nikmat dan segala kebutuhan hidup pada hakikatnya adalah Allah. Itulah sebabnya Dialah yang berhak mendapatkan pujian tersebut

2. Bahwa Allah telah memberikan nikmat, memberikan segala keperluan bagi semua makhluk-Nya dan khusus kepada manusia ditambah dengan petunjuk dan bimbingan agar mendapatkan kebahagiaan hidup yang sebenar-benarnya. Allah telah memberikan keperluan hidup, membimbing dan mendidik manusia dengan penuh kasih sayang, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Pengertian bahwa Allah bersifat Rahman dan Rahim tersebut, memberikan dorongan untuk menjabarkan sifat kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama manusia, yang berbeda dengan sikap permusuhan antarsuku yang membudaya di kalangan bangsa Arab pada masanya. Berbeda pula dengan perlakuan mereka yang sewenang-wenang terhadap kaum yang lemah dan tak berdaya.

3. Bahwa Allah adalah raja hari kemudian, telah memberikan pengertian bahwa segala amal perbuatan manusia selama di dunia akan diperhitungkan di sana. Segala perbuatan yang baik dan perbuatan jahat walau sebesar biji sawi akan dibalas oleh-Nya secara setimpal. Pengertian tersebut bertentangan dengan kepercayaan oirang Arab selama ini , bahwa hari pembalasan itu tidak ada atau tidak ada hidup setelah mati.

4. Bahwa Allah adalah sesembahan yang sebenarnya dan satu-satunya. Hanya kepada Allah segala bentuk pengabdian ditujukan. Penyembahan kepada selain Allah, tidaklah benar dan harus dihapuskan. Segala bentuk penyembahan dan pengabdian kepada Allah harus sesuai dan menurut apa yang dikehendaki oleh Nya, bukan menurut selera manusia sendiri. Pengertian tersebut mendorong untuk melaksanakan pengabdian kepada Allah secara bertanggung jawab. Segala perbuatan dan pengabdian manusia harus dikerjakan karena Allah semata, bukan karena berhala-berhala.

5. Bahwa Allah adalah penolong yang sebenarnya dan oleh karenanya hanya kepada Nyalah manusia harus meminta pertolongan. Pengertian ini sekaligus membatalkan permintaan pertolongan kepada selain Allah

(7)

bahwa jalan yang ditempuh selama ini bukanlah jalan Allah. Demikian pula jalan hidup orang-orang Yahudi dan Nasrani yang dikenal selama ini, buikanlah jalan hidup yang dibenarkan Allah.9

Namun dakwah Rasulullah mendapatkan tantangan yang luar biasa dari kaum kafir Quraisy. Rasulullah mencoba kembali dakwahnya ke Tha’if namun gagal pula. Kemudian, setiap msuim haji Rasulullah mengunjungi kemah-kemah jama’ah untuk menyampaikan ajaran tauhid tersebut. Namun hanya satu jam’ah dari Yatsrib yang menerima ajakannya.

Dari sinilah usaha untuk memperkenalkan Islam kepada seluruh masyarakat Yatsrib (Madinah) dimulai. Rasulullah mengutus Mush’ab bin Umair untuk mendakwahkan Islam ke sana. Mush’ab tidaklah mengecewakan Rasulullah. Pada awalnya penduduk Islam di Madinah hanya 12 orang saja. Namun haji pada musim selanjutnya, 70 orang Islam tiba di Mekkah. Mush’ab dengan cerdik mendekati para pemuka-pemuka Kabilah yang ada di Madinah seperti Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah. Dengan masuknya Islam mereka, maka berbondong-bondonglah penduduk Yatsrib masuk ke dalam Islam.10 Dengan kesuksesan Mush’ab

bin Umair ini dimulailah periodesasi dakwah dan penyebaran pendidikan Islam di Madinah dengan peristiwa Hijrah sebagai pintu gerbangnya.

Mahmud Yunus menerangkan beberapa hal berkaitan dengan pendidikan Islam pada masa Mekkah ini bahwa pembinaan pada periode ini meliputi :

1. Pendidikan keagamaan yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.

2. Pendidikan akliyah dan ilmiyah yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Allah akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya, sedangkan mereka dulu belum belum mengetahuinya. Untuk mempelajari hal tersebut haruslah dengan banyak membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat.

3. Pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad SAW mengajarkan sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.

9 Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta : Bumi Aksara, 2004) hal23-25

(8)

4. Pendidikan jasamani (kesehatan) yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan, dan tempat kediaman.11

2. Pendidikan Islam Periode Madinah

Jika pada periode Makkah ciri pendidikan Islam lebih dititik tekankan pada pendalaman tauhid, maka pada periode Madinah ini lebih ditekankan pada aspek sosial dan politik dengan cakupan yang lebih luas dengan tetap disandarkan pada penjiwaan terhadap tauhid itu sendiri.12

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi ketika tiba di Madinah adalah mendirikan Masjid sebagai pusat ibadah dan pusat Pendidikan Islam kaum muslimin. Dalam hal ini Rasulullah membuatkan sebuah Suffah di dalam masjid yang berfungsi sebagai tempat belajar pemberantasan buta huruf, dengan menyediakan makanan dan tempat tinggal.13

Qatadah menyebutkan terdapat sembilan ratus orang yang menjadi ahli suffah tersebut walaupun ulama lainnya menyatakan hanya empat ratus orang. Saat Nabi mengajarkan Al-Qur’an maka sahabatseperti Abdullah bin Said al-Ash, Ubadah bin Shamit dan Ubay bin Ka’ab mengajarkan dasar-dasar penting membaca dan menulis.14 Selain itu Rasulullah juga membacakan Al-Qur’an kepada para tokoh

terkemuka yang bukan ahlu-suffah seperti Abdullah bin Salam 9seorang Yahudi yang masuk Islam), Ubay bin Ka’ab, Hisyam bin Hakim, Umar bin Khatab dan Ibnu Mas’ud. Selain itu banyak pula utusan yang tiba ke Madinah, masuk Islam dan diajarkan Al-Qur’an oleh Rasulullah dengan diberi makanan dan tempat penginapan.15

Perang badar yang dimenangkan oleh kaum muslimin membuat banyak para tawanan perang. Untuk menebus diri mereka, mereka diminta untuk membayar seribu hingga empat ribu dirham. Jika tawanan perang tersebut adalah orang tak mampu banyak yang dibebaskan tanpa tebusan oleh Rasulullah.16 Banyak pula dari mereka

yang dapat membaca dan menulis, menebus diri mereka dengan mengajarkan sahabat-sahabat Rasulullah membaca dan menulis.17 Dengan cara ini Rasulullah secara cerdas

mencoba memberantas buta huruf di kalangan para sahabatnya.

11 Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta : Bumi Aksara, 2004) hal 27

12 Ibid, hal 33

13 M.M. Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text From Revelation to Compilation ( Jakarta : Gema Insani Press, 2005) hal 66

14 Ibid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Sunan, vi : 125-16

15 Ibid

16 Ibnu Hisyam, Siroh Nabawiyah Ibnu Hisyam jilid 1 (Jakarta : Darul Falah, 2005) hal 635

(9)

Banyak pula murid-murid Rasulullah menjadi guru untuk kaum muslimin yang lain ataupun diutus untuk mengajarkan Al-Qur’an pada orang lain. Tokoh-tokoh sahabat itu antara lain : Ubadah bin Shamit mengajarkan Al-Qur’an pada masa kehidupan Rasululah SAW, Ubay bin Ka’ab mengajarkan Al-Qur’an pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Ia juga mengajarkan seorang buta di rumahnya, Abu said Al-Khudri, Sahl bin Said Al-Anshari, Uqbah bin Amir, Jabir bin Abdullah, Anas bin malik, Muadz bin Jabal dikirim ke Yaman, Abu Ubaid dikirim ke Najran, wabra’ bin Yuhannas mengajar Al-Qur’an di San’a (yaman)kepada Ummu Said binti Buzrug semmasa kehidupan Nabi Muhammad SAW.18

Hasil dari pendidikan ini adalah munculnya para Huffaz di kalangan para sahabat. Banyak para sahabat yang kemudian di bunuh pada peristiwa bir Ma’unah.19

Nama-nama mereka yang masih hidup dan mengajarkan Al-qur’an di Madinah dan daerah-daerah kekuasaan Islam lainnya adalah ; Ibnu Mas’ud, Abu Ayyub, Abu Bakar As-shidiq, Abu Darda’, Abu Zaid, Abu Musa Al-Ashari, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Ummu Salamah, Tamim Ad-Dari, Sa’ad bin Mundhir, Hafsah, Zaid bin Tsabit, Salim Maula Abu Hudzaifah, Sa’ad bin Ubadah, Sa’ad bin Ubaid Al-Qari, Sa’ad bin Mundhir, Shihab al-Qurashi, Talhah, Aisyah, Ubadah bin Shamit, Abdullah bin Sa’ib, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr, Utsman bin Affan, Atta bin Markayud (orang persia yang tinggal di Yaman), Uqbah bin Amir, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khatab, Amr bin Al-Ash, Fudhail bin Ubaid, Qays bin abi Sa’sa’a, Mujamma bin Jariya, Maslama bin Makhlad, Muadz bin Jabal, Muadz Abu Halima, Ummu Warqah, dan Abdul Wahid.20

Selain menghafal Al-Qur’an, tradisi akademik yang dikembangkan oleh Rasulullah adalah penulisan Al-Qur’an.21 Kebiasaan Nabi yang memanggil para

sahabat yang bisa menulis setelah wahyu turun untuk menghapalkan ayat tersebut dan menuliskannya, telah memunculkan banyak sahabat yang menjadi penulis Al-Qur’an. Mereka adalah; Abban bin Said, Abu Umama, Abu Ayub Al-Anshari, Abu Bakar As-Shidiq, Abu Hudzaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu ‘Abbas, Ubay bin Ka’ab, Al-Arqam, Usaid bin Hudair, Aus, Buraida, Bashir, Tsabit bin Qais, Ja’far bin Abi Thalib,

18 M.M. Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text From Revelation to Compilation ( Jakarta : Gema Insani Press, 2005), hal 68.

19 Ibnu Hisyam, Siroh Nabawiyah Ibnu Hisyam jilid 1 (Jakarta : Darul Falah, 2005) hal 151-154

20 M.M. Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text From Revelation to Compilation ( Jakarta : Gema Insani Press, 2005) hal 69-70

(10)

Jahm bin Sa’ad, Suhaim, Hatib, Hudzaifa, husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa’id, Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Tsabit, Sa’ad bin Abi Rabi’, Sa’ad bin Ubadah, Sa’id bin Sa’id, Shurahbil bin Hasna, Thalhah, Amir bin Fuhaira, ‘Abbas, Abdullah bin Arqom, Abdullah bin Abi Bakar, Abdullah bin Rawahah, Abdullah bin Zaid, Abdullah bin Sa’ad, Abdullah bin Abdullah, Abdullah bin Amr, Utsman bin Affan, Uqba, Al-‘ala bin Uqbah, Ali bi abi Thalib, Umar bin Khatab, Amr bin al-ash, Muhammad bin Maslama, Mu’adz bin jabal, Mu’awiyah, Ma’n bin adi, Mu’aqib bin Mughirah, Mundhir, Muhajir dan Yazid bin abi Sufyan.22

Zuhairini dkk menerangkan bahwa pendidikan pada periode Mekkah ini adalah Pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan. Materi pokok pendidikan ini adalah pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam piagam Madinah, yang dalam prakteknya diperinci lebih lanjut dan disempurnakan dengan ayat-ayat yang turun selama periode Madinah. Tujuan pendidikan ini adalah agar pokok pikiran yang terkandung dalam konstitusi Madinah ini diakui tidak hanya di Madinah saja tapi juga untuk seluruh jazirah Arabia. Pelaksanaan praktek ini dijabarkan dalam bentuk a) Pendidikan Ukhuwah (persaudaraan) dimana Rasulullah mempersuadarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin untuk mengokohkan umat Islam, b) Pendidikan Kesejahteraan Sosial, c) pendidikan anak yang terdiri dari pendidikan tauhid, pendidikan Salat dan pendidikan adab dan sopan santun dalam keluarga dan masyarakat, pendidikan kepribadian, d) Pendidikan pertahanan dan keamanan.23

II. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (PASCA RASULULLAH)

a. Periode Khulafaurrasyidin

Sistem pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin dilakukan secara mandiri tidak dikelola oleh pemerintah kecuali pada masa Khalifah Umar bin Khatab yang turut campur dalam materi lembaga pendidikan Kutab. Sahabat-sahabat Rasulullah telah mendirikan majelis-majelis ilmu mereka masing-masing.

Seiring dengan perkembangan wilayah Islam, maka pusat pendidikan Islam tidak hanya ditemukan di Madinah saja. Tapi telah menyebar ke daerah lainnya seperti Basrah dan Kufah (Iraq), Palestina dan Damsyiq (Syam) dan kota Fustat (Mesir).24

22 M.M. Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text From Revelation to Compilation ( Jakarta : Gema Insani Press, 2005al 72-73

(11)

Tenaga pengajar dan ahli pendidikan di masing-masing daerah adalah tokoh-tokoh sahabat yang mendirikan Majelis dan madrasah masing-masing. Mereka adalah:

1. Madrasah dan Majelis Ilmu Di Makkah

Sahabat yang mengajar di Makkah adalah Muadz bin Jabal. Beliau memiliki spesifikasi dalam bidang Al-qur’an dan hukum-hukum halal dan haram dalam Islam. Nantinya Madrasah ini dilanjutkan oleh Ibnu Abbas yang datang ke Mekkah pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Ibnu Abbas mengajarkan Fiqh, tafsir, hadist dan sastra. Ibnu Abbaslah yang membuat Madrasah Mekkah ini berkembang dan terkenal.

Tercatat beberapa murid-murid madrasah Mekkah ini yang akan memainkan peran penting dalam Islam. Diantaranya adalah; Mujahid bin Jabbar ahli tafsir Qur’an, Atta’ bin Abi Rabbah seorang yang ahli dalam ilmu Fiqh, serta Tawus bin Kaisan seorang Fuqaha dan Mufti yang ada di Mekkah. Generasi selanjutnya dari Madrasah ini adalah; Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid Al-zanji. Imam asy-Syafi’i sebelum berangkat ke Madinah belajar dengan dua ulama tersebut.25

2. Madrasah Madinah

Madrasah Madinah lebih terkenal dibandungkan dengan madrasahh-madrasah lainnya di masa itu. Hal ini terkait dengan banyaknya para sahabat Nabi yang menetap di Madinah seperti Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Selain itu para Khulafaur rasyidin tinggal di daerah ini. Madrasah Madinah inilah yang yang nantinya melahirkan ulama-ulama terkemuka seperti; Said Al-Musayab, Urwah bin Zubair, dan generasi setelahnya yaitu Ibnu SyihabAl-Zuhri.26

3. Madrasah Basrah

Para sahabat di Basrah yang mengajarkan ilmunya di sana adalah Abu Musa Al-Asy’ari dan Anas bin Malik yang terkenal dengan keahliannya di bidang Fiqh, hadist dan Al-Qur’an. Generasi penerus madrasah Basrah yaitu Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin.27

4. Madrasah Kufah

Guru utama Madrasah Kufah dari kalangan sahabat adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Ibnu Mas’ud adalah utusan resmi Khalifah Umar bin

24 Iskandar Engku dan Siti Zubaidah, Sejarah Pendidikan Islamu (Bandung : Rosdakarya, 2014) hal 16.

25 Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta : Bumi Aksara, 2004) hal 72.

26 Ibid, hal 73.

(12)

Khatab untuk mengajarkan agama kepada masyarakat Kufah. Madrasah Kufah inilah yang nantinya akan melahirkan banyak ulama kelas satu di antaranya : Alqamah, Al-Aswad, Masruq, Al-harits bin Qais dan amr bin Syurahbil. Angkatan selanjutnya madrasah ini melahirkan ulama seperti Abu Hanifah.28

5. Madrasah Damsyik

Di Damsyik para guru dari sahabat Nabi adalah Muadz bin Jabal, Ubadah dan Abu Darda. Ketiga sahabat tersebut diutus pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Madrasah ini kemudian diteruskan oleh para murid-murid meraka di antaranya adalah Abu Idris Al-Khailany, Makhul Al-Dimasyqi, Umar nin Abdul Aziz dan Raja’ bin Haiwah. Akhirnya muncullah seorang ulama mazhab yang terkenal Imam Al-Auza’i.29 6. Madrasah Fustat (Mesir)

Sahabat yang mendirikan Madrsah dan menjadi guru di sana adalah Amr bin Ash yang merupakan ahli hadist dan penulis hadist. Penggantinya adalah Yazid bin Abu Habib Al-Nuby dan Abdullah bin Abu Ja’far bin Rabi’ah. Murid Yazid yang paling terkenal adalah Abdullah bin Lahi’ah.30

Pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq, Al-Qur’an mulai dikumpulkan untuk dibukukan. Hal ini mengingat banyaknya sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan perang. Untuk tugas besar ini, ditunjuklah Zaid bin Tsabit. Metode Zaid dalam menyusun Al-Qur’an adalah dengan menyeleksi ragam tulisan yang telah ada sebelumnya yang dimiliki masyarakat. Syaratnya adalah orang itu hafal ayat tersebut dan ia menuliskannya dengan didukung oleh dua

orang saksi.31

Perhatian para khalifah terhadap Al-Qur’an tidak pernah terputus. Pekerjaan besar dalam menyatukan ragam bacaan Al-Qur’an yang dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan kuat dalam tubuh kaum muslimin terjadi pada masa Utsman bin Affan menjadi khalifah.32 Maka Utsman menunjuk dua belas orang yang ahli

Al-Qur’an untuk memecahkan masalah ini yang dikomandoi oleh Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab. Dua belas orang tersebut antara lain;Said bin Al-Ash, Nafi’ bin Zubair bin Amr bin Naufal, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Az-Zubair,

28 Ibid, hal 74

29 ibid

30 Ibid, hal 75

31 M.M. Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text From Revelation to Compilation ( Jakarta : Gema Insani Press, 2005.

(13)

Abdurrahman bin Hisham, Kathir bin Aflah, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Malik bin Abi Amir, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Amr bin Ash.33

Terdapat metode pendidikan khas kaum muslimin yang telah dikembangkan sejak jaman Rasulullah hingga sekarang. Metode ini adalah sistem sanad yang digunakan untuk menguji otensitas sebuah riwayat. Sistem ini bermula dari zaman Rasulullah dan berkembang menjadi ilmu tersendiri pada akhir abad pertama hijriyah. Landasannya adalah pada kebiasaan sahabat untuk menghadiri majelis Rasulullah secara bergiliran. Sahabat yang tidak hadir mendapatkan pelajaran dari yang hadir apa yang telah dilihat dan didengar oleh mereka. Ketika menyampaikan pengajaran tersebut, mereka menyebutkan “ Rasulullah melakukan hal ini dan ini”. Dermikian juga ketika informasi itu sampai ke tangan ketiga, ia akan menyebutkan secara lengkap berita tersebut.

Pada awalnya sistem Isnad ini tidak terlalu dipentingkan. Namun berhubungan dengan fitnah besar yang melanda kaum muslimin, maka sistem isnad ini diwajibkan untuk menghindari informasi-informasi palsu yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Pada masa selanjutnya semangat mencari ilmu yang otentik, mendorong para sarjana untuk melakukan Rihlah yaitu pengembaraan dalam mencari hadits.34 Hal inilah yang

membuat ditemukannya banyak hadits dengan ungkapan-ungkapan yang sama namun berasal dari belahan dunia yang berbeda yang masing-masing melacak kembali asal-usulnya yang bermuara pada sumber yang sama yaitu Rasulullah SAW, sahabat dan Thabi’in.

Syarat-syarat diterimanya suatu riwayat pun menggunakan standar yang ketat. Standar penerimaan ulama terhadap suatu riwayat dengan melihat pada beberapa hal yaitu;

1. Pribadi para periwayat. Para rawi dalam sistem isnad benar-benar orang yang selamat aqidahnya, bagus akhlaknya, amanah, selalu shalat berjamaah, tidak pernah berdusta walaupun sekali semenjak dewasa dan bebas dari cacat mental. Selain itu kemampuan dan akurasinya dalam bidang hadist dan ilmu sudah mumpuni. Baik akhlak maupun kemampuan akademik harus mendapatkan pengakuan dari para Imam / Sarjana Muslim yang telah memenuhi kualitas seperti yang dititurkan di atas

33 Ibid, hal 99-100

(14)

2. Sanad Riwayat itu sendiri. Seperti klarifikasi hubungan guru dan murid yang harus memiliki saksi dari para sarjana yang lainnya, jaringan riwayat yang tidak terputus serta pemeriksaan silang menyeluruh terhadap isnad-isnad lainnya.35

3. Matan / isi Riwayat tersebut. Apakah matannya bertentangan dengan hadist yang lebih shahih atau tidak, apakah matannya Gharib (aneh), ataukah matannya bertentangan dengan Al-Qur’an ataukah tidak.36

b. Periode Dinasti Umayyah

Pada masa dinasti Umayyah, perkembangan Islam semakin pesat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Jika masa sebelumnya pendidikan Islam dilaksanakan di Kuttab, Shuffah ataupun di rumah-rumah para ulama dan Masjid, maka pada masa ini pendidikan Islam juga dilakukan di dalam Istana untuk mengajar dan mendidik keluarga-keluarga kerajaan. Selain itu para penguasa dinasti Umayyah seringkali mengadakan majelis-majelis keilmuwan. Mu’awiyah sendiri serimg menyelenggarakan majelis-majelis tersebut dengan mengundang ulama, sastrawan, dan ahli sejarah untuk memberikan penjelasan pada Mu’awiyah sejarah bangsa Arab melalui syair-syair arab, cerita-cerita persia dan sistem pemerintahan serta administrasi kerajaan Persia.37

Pada masa ini mulai terjadi pembidangan dalam ilmu tafsir, hadist, fikih dan ilmu kalam. Dalam bidang hadist muncul sosok seperti Hasan Al-Bashri, dalam bidang fiqih terdapat ulama terkemuka bernama Ibnu Shihab Al-Zuhri, dalam bidang ilmu kalam muncullah nama Washil bin Atha’ yang merupakan peletak dasar Mu’tazilah. Selain itu berkembang pula Bahasa Arab. Kecenderungan untuk mempelajari bahasa Al-Qur’an dan pemerintahan, kebutuhan orang-orang non arab yang telah ditaklukkan dengan bahasa Arab dan banyaknya orang-orang non arab yang menggunakan bahasa Arab namun dialeknya dianggap merusak bahasa Arab menyebabkan besarnya tuntutan akan pendalaman bahasa Arab sehingga lahirlah ilmu bahasa Arab. Tokoh-tokohnya natara lain Abu Al-aswad ad-Duali (murid Ali bin Abi Thalib) dan Sibawaih.38

35 (Lukas 1 : 1-3)

36 Al-A’zami, Hadist Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994)

37 Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan islam (jakarta:Logos, 1999) hal 22

(15)

Selain itu muncullah sekolah Al-Badiyah. Sekolah Al-Badiyah adalah sekolah bagi para Pangeran dinasti Umayah. Badiyah adalah nama gurrun pasir di Suriah dimana suku-suku Badui tinggal dengan mempertahankan kemurnian adat dan bahasa mereka. Pelajaran yang diberikan adalah berburu, menunggang kuda / unta, memeras anggur dan menggubah syair. Para pangeran berusaha untuk menyerap bahasa Arab murni yang tidak tercemar denggan bahasa Aramaik. Tempat ini pula tempat pengungsian keluarga kerajaan dari wabah penyakit yang menjangkiti kota.39

Kondisi Mekkah dan Madinah yang cukup tenang dari hiruk pikuk politik membuat banyak calon ulama datang dan belajar di kedua kota suci ini pada masa Dinasti Umayyah. Madinah terkenal dengan banyaknya ahli hadist. Dua orang ahli hadist yang tinggal di Madinah adalah Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar. Mekkah terkenal dengan kemampuan ulamanya dalam menafsirkan Al-Qur’an dan ilmu fikih. Ulama yang terkenal adalah Ibnu Abbas, sepupu Rasulullah SAW.40

Kekuasaan Islam yang membentang luas ternyata membuat bangsa Arab mengadopsi ilmu pengetahuan daerah yang ditaklukkannya. Lama kelamaan peran Mekkah dan Madinah sebagai pusat intrelektual kaum muslimin tersaingi dengan hadirnya dua kota besar di Irak, yaitu Basrah dan Kufah. Tokoh terpandang di Kufah yang merupakan ahli hadist dan qiro’ah adalah ibnu Mas’ud dan Al-Sya’bi yang dikirim oleh khalifah Abdul Malik dalam sebuah delegasi penting untuk raja Bizantium di Konstantinopel.41

Selain ilmu hadist, Qur’an dan bahasa Arab, penulisan sejarah mendapatkan prioritas terbesar. Keinginan para pembesar istana yang ingin mengetahui kisah hidup para Nabi dan orang-orang besar terdahulu yang menjadi landasan penulisan buku-buku tentang penaklukan (Maghazi) dan Sirah. Siroh yang paling tertua mungkin adalah siroh Ibnu Ishak yang kemudian menjadi rujukan bagi Ibnu Hisyam untuk menulis sirohnya pula. Atas undangan Mu’awiyah hadir pula tokoh seperti Abid bin Syaryah untuk memberitahu khalifah tentang raja-raja Arab masa lalu dan suku mereka. Abid menulis sebuah buku berjudul Kitab Al-Muluk wa Akhbar Al-madin (Buku tentang para raja dan sejarah bangsa-bangsa terdahulu). Selain itu muncul pula tokoh ahli asal-usul Wahb bin Munnabih dan Ka’ab Al-Ahbar.42

39 Philip K Hitti, History of The arabs (Jakarta : Serambi, 2008) hal 242

40 Ibid, hal 292

41 Ibid, hal 304

(16)

Kebudayaan literer juga berkembang pada masa dinasti Umayyah. Kegandrungan pada puisi dan pidato, membuat bidang ini mendapatkan perhatian khusus. Tokoh-tokoh cendekiawan dalam bidang ini antara lain; Abdul Hamid Al-Katib, ‘Ali Al-ahnaf, Ibnu Qays, Akhtam ibn Shayfi, Umar bin Abi Rabi’ah, Jamil dari Bani ‘Udzrah yang sukses dengfan karyanya yang legendaris Layla Majnun, Miskin Al-darimi, Hammad Al-Rawiyah dan lain sebagainya.43

Sekolah puisi pun dibangun pada masa dinasti Umayyah yang dikepalai oleh Farazdaq (640-728) dan Jarir (W.729). sekolah puisi di ibukota kerajaan dikepalai oleh Al-Akhtal (640-710). Mereka adalah penggubah puisi satir dan puisi pujian. Sedangkan sekolah secara formal, Philip K Hitti berpendapat belum ada pada masa dinasti Umayyah ini. Selain ke Badiyah, pada masa Abdul Malik, seorang guru dipanggil ke Istana untuk mendidik putra Khalifah. Masyarakat luas yang ingin mendapatkan pendidikan akan menggunakan masjid untuk mempelajari Al-Qur’an dan Hadist. Karena itu guru-guru pertama dalam Islam adalah para pembaca Qur’an (Qarra’). Umar bin Abdul Aziz mengirimkan Yazid bin Habib ke Mesir sebagai hakim agung di sana. Di Kuffah terdapat tokoh al-Dhahak ibnu Muzahim yang mendirikan semacam sekolah dasar (Kuttab) dan tidak memungut bayaran dari siswa. Pada abad kedua hijriyah seorang badui yang tidak diketahui namanya mendirikan sekolah di Basrah dengan memungut bayaran.44

Sedangkan dalam ilmu pengobatan dan kedokteran, kedokteran arab lebih terpengaruh pada pengobatan yunani dan Persia. Dokter-dokter Arab pada masa ini adalah Harits bin Kaladah dari Taif yang menuntut ilmu di Persia. Ia adalah orang arab pertama yang belajar ke Persia dan mendapatkan gelar kehormatan sebagai “dokter Arab”. Karirnya sebagai dokter dilanjutkan dengan anaknya Al-Nadzr. Selain itu tterdapat tabib istana yang menonjol seperti Ibnu Utsal, dan Tayazhuq. Seorang dokter di Basrah bernama Masarjawayh pada masa Marwan bin hakam mencoba mbenerjemahkan sebuah naskah ke dalam bahasa arab tentang pengobatan Suriah yang awalnya ditulis dalam bahasa Yunani.

Ilmu lainnya adalah ilmu kimia. Khalid putra Khalifah Umayah kedua dan seorang filsuf merupakan orang Islam pertama yang menerjemahkan buku-buku dalam bahasa Yunani dan Koptik tentang Kimia ke dalam bahasa Arab. Selain itu Ja’far Ah-Shadiq seorang keturunan Ali bin Abi Thalib dan salah satu dari 12 Imam

43 Ibid, hal 312 - 315

(17)

Syi’ah disebut- sebut menulis naskah tentang astrologi dan kimia. Namun hal ini telah ditentang poleh sarjana-sarjana modern. Dalam sejarah kita bisa melacak judul karya pada masa dinasti Umayah. Namun mengutip ungkapan Philip K Hitti bahwa;

“Kenyataan paling tidak menyenangkan seputar kehidupan intelektual pada masa Umayyah adal;ah bahwa ia tidak mewariskan kepada kita sumber-sumber berbentuk dokumen yang bisa dijadikan bahan kajian”.45

III. MASA KEJAYAAN PENDIDIKAN ISLAM

Seperti dijelaskan di atas, masa kejayaan pendidikan Islam adalah saat Bani Abbasiyah berkuasa hingga jatuhnya Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam karena serbuan bangsa Mongol. Keilmuwan Islam pada masa ini sebenarnya adalah perpaduan antara berbagai macam warisan peradaban yang berada di bawah naungan Islam dengan melalui proses absorpsi kelebihan budaya lain lalu memodifikasi dengan berbagai ide baru sehingga menjadi jembatan penghubung antara tradisi keilmuwan masa lalu dan masa depan.46

Proses transmisi literatur Hellenestik tidak bisa terlepas dari peran para sarjana yang ahli dalam bidang pemikiran Helenestik. Migrasi sarjana-sarjana athena, Alexandria dan Byzantium ke dalam wilayah-wilayah perlindungan Islam membawa warisan ilmu ke dalam dunia Islam.47 Penerjemahan karya pun marak dilakukan

dengan didirikannya Baitul Hikmah. Dalam sejarahnya Khalifah al-Ma’mun pun memberikan kompensasi yang besar bagi ilmuwan yang mampu menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani ke bahasa Arab.

Pengaruh Filsafat Hellenestik ini akhirnya memberi pengaruh pada bidang agama. Banyaknya muncul aliran kalam yang beragam adalah salah satu akibat dari pengaruh filsafat Hellenestik ini. Seperti Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah dan lain sebagainya. Hal ini berlangsung hingga Imam Al-Ghazali memewnangkan penggunaan dialektika dan logika yang terbatas, karena khawatir jika digunakan secara serampangan akan berakibat pada hilangnya keimanan dalam hati.48

Selain dalam bidang agama, filsafat helenestik ini mempengaruhi pula bidang ilmu lainnya seperti kedokteran, aljabar, kimia, Astronomi dan lain sebagainya. Hal

45 Ibid, hal 320

46 Ehsan Masood, Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pelopor hebat di bidang Sains Modern. Diterjemahkan oleh Fahmy Yamani (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2009).

47 Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan islam (Jakarta: Logos, 1999) hal 27

(18)

ini dibuktikan dengan munculnya banyak ilmuwan yang ahli dalam bidang-bidang tersebut.

Setidaknya terdapat tujuh lembaga pendidikan pada masa Dinasti Abbasiyah. Diantaranya adalah;

1. Lembaga pendidikan dasar (Kuttab) 2. Lembaga pendidikan Masjid (Al-Masjid) 3. Kedai Pedagang Kitab (al-Bawanit al-Waraqin) 4. Tempat tinggal para ulama (Manazil Al-Ulama) 5. Sanggar seni dan sastra

6. Perpustakaan (Daar Al-Kutb Wa Daar Al-Ilm) 7. Lembaga pendidikan sekolah (al-Madrasah).49

Masing-masing lembaga pendidikan ini memiliki karakteristiknya masing-masing. Namun secara umum seluruh lembaga pendidikan tersebut dapat dibedakan menjadi empat tingkat yaitu; pertama, tingkat rendah yang terdiri dari Kuttab, rumah, toko, pasar dan istana, kedua, tingkat sekolah menengah yang mencangkup Masjid, sanggar seni, dan ilmu pengetahuan sebagai lanjutan pelajaran di Kuttab. Ketiga tingkat perguruan tinggi yang meliputi madrasah dan perpustakaan seperti Bait Al-Hikmah dan Daar al-ulum di Kairo.

Pada tingkat pendidikan rendah, kurikulum yang diajarkan anatara lain; membaca dan menghafal Al-qur’an, pokok-pokok agama seperti Wudhu’, shalat dan puasa, menulis, kisah orang-orang besar, membaca dan menghafal syair-syair, menghitung dan pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya.50 Namun bukan berarti

kemudian kurikulum ini berlaku untuk semua wilayah. Di Maghribi (Maroko) hanya diajarkan Al-qur’an, menulis dan syair sedangkan di andalusia selain ketiga pelajaran tersebut ditambah dengan khath (tulisan indah) dan pokok-pokok nahwu sharaf. Di Tunisia lebih ditekankan pada hafalan qur’an selain Hadist dan ilmu-ilmu pokok agama.

Waktu belajar di Kuttab dilakukan pada pada pagi hari hingga waktu shalat ashar. Sekolah di mulai dari hari sabtu hingga hari kamis sedangkan pada hari Jum’at sekolah diliburkan. Selain itu pada saat 1 syawal dan idul adha serta hari tasyrik sekolah diliburkan. Jam pelajaran di bagi menjadi tiga yaitu pelajaran al-Qur’an di pagi hari hingga waktu duha, menulis dimulai dari waktu dhuha hingga waktu Dzuhur

49 Iskandar Engku dan Siti Zubaidah, Sejarah Pendidikan Islamu (Bandung : Rosdakarya, 2014) hal 23

(19)

dan pelajaran ilmu lainnya seperti Nahwu, bahasa Arab, syair dan berhitung dimulai setelah dzuhur hingga ashar.51

Pada tingkat dasar ini, pendidikan tidak menggunakan sistem klasikal, tanpa bangku, meja dan papan tulis. Guru mengajar anak secara satu persatu. Metode yang digunakan adalah metode pengulangan dan hafalan. Artinya guru mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an di depan murid dan murid mengikutinya kemudian murid wajib menghafalkan apa yang disebutnya tadi. Hafalan tersebut tidak hanya sebatas pada hafalan Al-Qur’an dan hadist. Namun juga merembet pada ilmu-ilmu lainnya seperti syair, lagu (wazn) sehingga murid mampu menghafalnya dengan mudah.

Pada jenjang pendidikan menengah, pelajaran yang diajarkan antara lain; Al-Qur’an, bahasa Arab dan kesusasteraan, Fiqih, Tafsir, hadits, Nahwu / Sharaf/balaghah, ilmu-ilmu eksak, mantiq, falak, tarikh, ilmu-ilmu kealaman, kedokteran dan musik.52

Sedangkan metodologi pengajaran pada masa ini menurut Hasan ‘Abd ‘Al secara garis besar dibagi menjadi dua. Pertama, metode pengajaran bidang keagamaan yang diterapkan pada materi materi seputar Fiqh, tata bahasa, teologi / ilmu kalam, menulis, lagu dan sejarah. Kedua, metode pengajaran bidang intelektual yang meliputi olahraga, ilmu-ilmu eksakta, filsafat, kedokteran dan musik yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab serta ilmu-ilmu kebahasaan.53

Dalam jenjang pendidikan tinggi, secara umum pendidikan tinggi memiliki dua fakultas. Pertama fakultas Ilmu-ilmu agama serta bahasa dan sastra Arab yang mengkaji ilmu-ilmu berupa, Tafsir, Hadist, fiqih dan ushul fiqih, Nahwu / sharaf, Balaghah, bahasa dan sastra arab. Kedua, fakultas ilmu-ilmu hikmah/ Filsafat yang mendalami mantiq (logika), ilmu-ilmu alam dan kimia, musik, ilmu eksakta, ilmu ukur, ilmu falak, ilmu-ilmu teologi, ilmu tentang hewan, ilmu-ilmu tentang tumbuhan, ilmu kedokteran. Pelajaran ini se,muanya diajarkan dan belum memiliki spesifikasi tersendiri. Spesialisasi tersebut ditentukan setelah tamat dari perguruan tinggi berdasarakan bakat dan kecenderungan masing-masing siswa.

Metode yang digunakan dalam pendidikan tinggi adalah halaqah. Guru duduk di atas alas duduk sedangkan siswa melingkari sang guru. Guru memberikan materi kepada semua siswa yang hadir. Sebelum mengajar sang guru menyusun sebuah Ta’liqah atau semacam silabus yang ditulis oleh masing-masing tenaga pengajar

51 Ibid, hal 24-25

52 ibid

(20)

berdasarkan catatan perkuliahannya ketika menjadi mahasiswa, hasil bacaan dan pendapatnya tentang materi yang bersangkutan.

Sedangkan metode-metodde pengajaran dilakukan dengan beberapa metode yaitu :

1. Metode ceramah (Al-Muhadlaroh). Dalam metode ini guru menyampaikan materi kepada mahasiswa dengan diulang-ulang sehingga mereka hafal terhadap yang dikatakannya. Metode ini terbagi menjadi dua cara yaitu: metode dikte (Al-Imla) dan metode pengajuan terhadap guru (Al-Qira’at ‘ala al-syaikh aw al-ardl)

2. Metode diskusi (Al-Muhadzarah). Metode ini digunakan untuk menguji argumentasi-argumentasi yang diajukan sehingga dapat teruji.

3. Metode koresponden jarak jauh (al-ta’lim bi al-murasilah). Metode yang digunakan para mahasiswa untuk bertanya pada guru yang jauh secara tertulis pula.

4. Metode rihlah ilmiah. Metode ini dilakukan oleh para siswa baik secara pribadi maupun secara kelompok untuk datang berkunjung ke rumah ulama untuk berdiskusi, bertukar pikiran dan bertanya tentang suatu permasalahan. Biasanya jarak yang ditempuh cukup jauh.54

Selain Dinasti Abbasiyah, Dinasti Fatimiyah (Syiah) pun tidak ketinggalan dalam memajukan bidang pendidikan. Panglima Jauhar as-Sakili mendirikan masjid Al-Azhar pada tahun 359 H/ 970 M dan selesai pembangunannya pada tahun 671 M. Di samping sebagai masjid tempat dilaksanakannya sholat jum’at, dalam perkembangannya masjid al-Azhar berkembang menjadi lembaga pendidikan yang cukup besar. Bermula dari fuqaha terkenal dan pejabat-pejabat pemerintahan Bani fatimiyah yang b erkumpul di Al-azhar untuk mendengarkan kuliah mum yang disampaikan oleh Hakim agung Abu Hanifah Nu’man bin Muhammad al-Qirawani dengan menggunakan prinsip-prinsip syi’ah.

Al-Azhar pun berkembang dengan luar biasa. Tidak hanya ilmu-ilmu keagamaan saja yang diajarkan namun juga ilmu-ilmu umum seperti Kedokteran, musik, Filsafat, matematika dan lain sebagainya diajarkan pula. Namun sejak Shalahudin Al-Ayubi berhasil mematahkan dinasti fatimiyah, Al-Azhar ditutup selama 98 tahun dan baru dibuka saat Sultan Al-zahir Baibars berkuasa.

(21)

Bentuk selanjutnya dari lembaga pendidikan Islam adalah Madrasah. Namun hadirnya madrasah tidak mereduksi pendidikan yang telah ada pada kuttab maupun masjid. Perbedaan madrasah dan lembaga pendidikan lainnya terletak pada komplerksitas kurikulum yang diajarkan, tidak terletak pada sistem dan metode pembelajaran.55

Madrasah-madrasah yang berkembang pada masa ini antara lain;

1. Madrasah Nizhamiyah. Madrasah ini didirikan oleh pembesar zaman Seljuk dan didirikan oleh Nizhamudin Al-Mulk. Madrasah ini terdapat Baghdad, Balk, Naisyabur, Harat, Isfahan, Basrah, Marw, Mausul dan lain-lain. Namun madrasah Nizhamiyah Baghdadlah yang paling besar. Para guru madarasah ini antara lain Syiraz, Al-ghazali, Ibnu Shabagh, Al-ghazali, Ibnu Al-Anbar dan lain-lain. Kurikulumnya lebih menitikberatkan pada pendalaman fiqh dan tidak diajarkan ilmu filsafat. Selain fiqh diajarkanm pula ilmu nahwu dan ilmu kalam. Metode pembelajaran yang dikembangkan adalah ceramah dimana guru menjelaskan pembelajaran dan diiringi dengan tanya jawab oleh murid kepada sang guru

2. Madrasah Nurudin az-Zanki. Madrasah ini didirfikan oleh Nurudin az-Zanki di Damaskus. Fasilitasnya sudah cukup lengkap dengan luas dan kelengkapan kelas serta WC yang tersedia. Kurikulum madrasah ini khusus mengajarkan fiqh mazhab Hanafi dan bahasa Arab. Guru-gurunya yang terkenal adalah Burhanudin Mas’ud dan Imaduddin bin al-Thursusi.

3. Madrasah Al-Mustanshiriyah. Madrasah ini terletak di Baghdad dan didirikan oleh khalifah al-Mustanshir billah. Fasilitas madrasah ini cukup mewah pada zamannya. Diantaranta terdapat tempat belajar, tenmpat tidur, tempat makan, perpustakaan, rumah sakit, rumah obat, gudang, tempat mandi, dapur, kebun dan masjid. Kurikulumnya adalah mengajarkan Fiqh mazhab empat, hadist, ilmu qur’an, bahasa Arab, kedokteran dan ilmu pasti

4. Sekolah Kedokteran. Di Damaskus terdapat dua sekolah kedokteran yaitu dahuriyah yang didirikan oleh Muhazzibudin Dakhur dan Madrasah Al-Danishiriyah yangg didirikan Imanudin Al-Danisary. Pengermbangan ilmu kedokteran pun sangat bergantung pada rumah sakit.56

55 Arief Subhan, lembaga pendidikan Islam Indonesia abad ke 20 : Pergulatan antara Modernitas dan identitas (Jakarta : UIN Jakarta Press, 2009) hal 33

(22)

Di Spanyol pun tidak ketinggalan dalam kegiatan intelektual yang sama. Pusat-pusat kegiatan intelektual berada di Sevilla, Kordova, granada, Murcia, Toledo dan kota-kota lain. Bayak sekolah-sekolah dan perpustakaan yang didirikan dimana mereka memberikan pelajaran bebas mengenai ilmu dan sastra. Salah satu kota yang memiliki kegiatan intelektual paling dinamis adalah Cordova. Ilmu-ilmu seperti Geografi, Astronomi, Kimia, Sejarah dan kesusteraan mewarnai peradaban eropa di abad-abad yang mendatang.57 Observatorium pun dibangun pada menara Sevila. Ini

merupakan observatorium pertama di eropa

Ibnu Khaldun sendiri dalam bukunya Muqaddimah secara panjang lebar menjelaskan tentang ilmu-ilmu yang diajarkan kepada siswa saat ia hidup. Daftar pelajaran tersebut adalah :

1. Ilmu tafsir dan ilmu qiraat 2. Ilmu-ilmu hadits

3. Ilmu fiqih termasuk di dalamnya ilmu tentang hukum waris fiqih 4. Ilmu faraidl

5. Ilmu ushul Fiqh dan cabang-cabangnya, dialektika dan soal-soal kontroversial

6. Ilmu Kalam 7. Ilmu Tasawuf 8. Ilmu ta’bir mimpi 9. Ilmu filsafat 10. AlJabar

11. Aritmetika bisnis 12. Ilmu mekanika

13. Ilmu pengukuran tanah 14. Ilmu optika

15. Astronomi 16. Ilmu mantiq 17. Ilmu kedokteran 18. Fisika

19. Ilmu pertanian 20. Metafisika

21. Ilmu sihir dan Azimat

(23)

22. Ilmu rahasia surat 23. Ilmu Kimia58

1. Peradaban Dan Kemajuan Yang Dicapai Pada Masa Golden Age A. Perkembangan Intelektual.

Secara garis besar Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Hal ini dapat dilihat dari adanya gerakan penerjemahan buku dari berbagai bangsa dan bahasa. Sehingga dengan gerakan penerjemahan buku tersebut, lahirlah para tokoh Islam sesuai dengan keahliannya.

1. Ilmu Umum A. Ilmu Filsafat

 Al-Kindi (809-873 M) buku karangannya sebanyak 236 judul.

 Al Farabi (wafat tahun 916 M) dalam usia 80 tahun.

 Ibnu Bajah (wafat tahun 523 H)

 Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H)

 Ibnu Shina (980-1037 M). Karangan-karangan yang terkenal antara lain: Shafa, Najat, Qoman, Saddiya dan lain-lain.

 Al Ghazali (1085-1101 M). Dikenal sebagai Hujjatul Islam, karangannya: Al-Munqizh Minadl-Dlalal ,Tahafutul Falasifah, Mizanul Amal, Ihya Ulumuddin, dan lain-lain.

 Ibnu Rusd (1126-1198 M). Karangannya: Kulliyaat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah, dan lain-lain.

B. Bidang Kedokteran

 Jabir bin Hayyan (wafat 778 M). Dikenal sebagai bapak Kimia.

 Hurain bin Ishaq (810-878 M). Ahli mata yang terkenal disamping sebagai penterjemah bahasa asing.

 Thabib bin Qurra (836-901 M)

 Ar Razi atau Razes (809-873 M). Karangan yang terkenal mengenai cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bahasa latin.

C. Bidang Matematika

(24)

 Umar Al Farukhan: Insinyur Arsitek Pembangunan kota Baghdad.

 Al Khawarizmi: Pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar), penemu angka (0).

D. Bidang Astronomi

Berkembang subur di kalangan umat Islam, sehingga banyak para ahli yang terkenal dalam perbintangan ini seperti :

 Al Farazi : pencipta Astro lobe

 Al Gattani/Al Betagnius

 Abul wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan

 Al Farghoni atau Al Fragenius

E. Bidang Seni Ukir

Beberapa seniman ukir terkenal: Badr dan Tariff (961-976 M) dan ada seni musik, seni tari, seni pahat, seni sulam, seni lukis dan seni bangunan.

2. Ilmu Naqli - Ilmu Tafsir

Para mufassirin yang termasyur: Ibnu Jarir ath Tabary, Ibnu Athiyah al Andalusy (wafat 147 H), As Suda, Mupatil bin Sulaiman (wafat 150 H), Muhammad bin Ishak dan lain-lain.

- Ilmu Hadist

Muncullah ahli-ahli hadist ternama seperti: Imam Bukhori (194-256 H), Imam Muslim (wafat 231 H), Ibnu Majah (wafat 273 H),Abu Daud (wafat 275 H), At-Tarmidzi, dan lain-lain.

- Ilmu Kalam

Dalam kenyataannya kaum Mu’tazilah berjasa besar dalam menciptakan ilmu kalam, diantaranya para pelopor itu adalah: Wasil bin Atha’, Abu Huzail al Allaf, Adh Dhaam, Abu Hasan Asy’ary, Hujjatul Islam Imam Ghazali.

- Ilmu Tasawuf

Ahli-ahli dan ulama-ulamanya adalah : Al Qusyairy (wafat 465 H). Karangannya : ar Risalatul Qusyairiyah, Syahabuddin (wafat 632 H). Karangannya : Awariful Ma’arif, Imam Ghazali : Karangannya al Bashut, al Wajiz dan lain-lain.

(25)

faham/mazhabnya dalam zaman ini adalah: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan Para Imam Syi’ah.59

B. Perkembangan Peradaban di Bidang Fisik

Perkembangan peradaban pada masa daulah Bani Abbasiyah sangat maju pesat, karena upaya-upaya dilakukan oleh para Khalifah di bidang fisik. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan – bangunan yang berupa:

- Kuttab, yaitu tempat belajar dalam tingkatan pendidikan rendah dan menengah.

- Majlis Muhadharah,yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana,ahli pikir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah.

- Darul Hikmah, Adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid. Ini merupakan perpustakaan terbesar yang di dalamnya juga disediakan tempat ruangan belajar.

- Madrasah, Perdana menteri Nidhomul Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikansekolah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini, dengan nama Madrasah.

- Masjid, Biasanya dipakai untuk pendidikan tinggi dan tahassus.

Pada masa Daulah Bani Abbassiyah, peradaban di bidang fisik seperti kehidupan ekonomi: pertanian, perindustrian, perdagangan berhasil dikembangkan oleh Khalifah Mansyur.60

2. Perkembangan Islam Di Spanyol

Sejak pertama kali Islam menginjakkan kakinya di tanah Spanyol sampai masa runtuhnya kejayaan umat Islam. Pretensi tersebutsangat menggembirakan umat Islam selama kurang lebih tujuh setengah abad.61 Menurut Lewis sebagaimana yang dikutip

Sudirman kejayaan yang didapatkan umat Islam sekitar delapan abad.Di Spanyol sejatinya bangsa Arab memperoleh kemenangan paling besar serta paling lama di Eropa walaupun juga derita yang dialaminya begitu tidak dahsat. Sejarah tersebut dapat dibagi dalam beberapa periode, ada yang mengatakan tiga masa saja, yang

59 Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995, hlm. 276 - 278

60 Ma’ruf Misbah dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas III, Semarang: CV. Wicaksana, h. 61

(26)

pertama: saat dipimpin oleh wakil khlaifah dari Damaskus, masa yang dipimpin para Amir dan masa yang dipimpn oleh seorang khalifah, hal diatas pembagian menurut Hamka. Namun dalam makalah ini penulis cenderung mengambil pembagian periode menjadi enam masa sebagaimana yang terdapat didalam bukunya Badri Yatim.

a. Periode Pertama (711 M – 755 M)

Periode pertama ini, Spanyol dibawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus.Stabilitas Negara pada saat ini belum begitu membaik, dikarenakan gangguan dari pihak internal Negara dan juga dari pihak ekstenal.

Problem internal berupa pertikaian atau perselisihan diantara petinggi Negara, baik perbedaan etnis dan golongan. Dan juga perbedaan interpretasi antara khalifah di Damaskus dengan gubernur Afrika Utara yang berpusat di daerah Qairawan, satu sama lain menganggap diri merekalah yang paling berhak atas daerah Spanyol.Faktor eksternalnya adalah datangnya sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang tinggal di daerah pegunungan, kenyataannya mereka sangat benci kepada Islam yang akhirnya mereka membuat kekuatan.62 Namun dengan memakan waktu sekitar 500 tahun

mereka mampu mengusir Islam dari bumi Andalus.

Menurut Badri Yatim di dalam etnis orang Arab terbagi menjadi dua golongan yang secara terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan).63 Konsekuensinya dengan terjadinya perbedaan interpretasi diatas

pada masa itu pergantian wali atau gubernur Spanyol mencapai dua puluh kali atau dalam referensi yang lain mencapai dua puluh tiga kali (732-755) dalam waktu yang sangat singkat. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah sering terjadinya pertumpahan darah atau perang antar saudara, antara suku Barbar asal Afrika Utara dan bangsa Arab.64Kondisi yang demikian tidak banyak pergerakan yang bisa dilakukan menuju

kawasan musuh di Utara, kendati mereka telah melakukan sejumlah serangan yang banyak mengugurkan para gubernur.65 Periode pertama diakhiri dengan datangnya

Abdurrahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.

b. Periode Kedua (755 M – 912 M)

62 Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit: Amzah, 2010, hal. 168.

63 Badri Yatim, op. cit., hal. 94.

64 Sudirman, Islam Dan Peradaban Spanyol – Catatan Kritis Beberapa Factor Penyebab Kesuksesan Islam Spanyol, Penerbit: Fakultas Syari’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, hal. 7.

(27)

Pada periode pertama Spanyol dibawah pemerintahan wali, namu pada periode kedua ini Spanyol berada dibawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (gubernur atau panglima) tetapi tidak tunduk kepada pemerintahan Islam yang saat itu khalifah dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang diberi gelar ad-Dakhil (yang masuk ke Spanyol).66

Abdurrahman ad-Dakhil adalah keturunan Bani Umayyah, ia berhasil lolos dari kepungan dan kejaran dari Bani Abbasiyah yang telah menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Ia melakukan perjalanan ke Palestina, Mesir dan Afrika Utara sampai tiba di Cheuta. Dari pengembaraan tersebut iamendapatkan bantuan dari suku Barbar dari Afrika Utara dan Klien Syria pada rezim Umayyah di Spaanyol untuk menyusun kekuatan bersenjata. Selanjutnya ia berhasil mendirikan Dinasti Bani Umayyah di Spanyol.Pemerintahan setelah Abdurrahman ad-Dakhil (755-788 M) adalah Hisyam ibn Abdurrahman (788-796 M), Hakam ibn Hisyam (796-822 M), Abdurrahman al-Ausath (822-852 M), Muhammad ibn Abdurrahman al-Ausat (852-886 M), Munzir ibn Muhammad ((852-886-888 M) dan Abdullah ibn Muhammad (888-912).

Kondisi pada periode ini mulai membaik.Kemajuan pada bidang politik maupun dalam bidang peradaban.Masing-masing dari penguasa memiliki prestasi yang berbeda satu sama lainnya. Tantangan yang dihadapi Abdurrahman ad-Dakhil datang dari berbagai penjuru, baik dari dalam maupun luar negeri, sedangkan musuhnya yang dari luar Islam datang dari Charli Magne (yang pasukannya dapat melintasi pegunungan Pyrenia). Namun beriringnya waktu dan gagahnya Abdurrahman ad-Dakhil menghadapinya ia mampu mendirikan masjid Cordova, sekolah-sekolah di kota-kota penting Spanyol dan lain sebagainya. Hisyam I merupakan seorang yang dikenal dengan sumbangsihnya dalam penegakan hukum Islam. Hakam I adalah seorang pembaharu dalam bidang persenjataan atau kemiliteran. Abdurrahman al-Ausath seorang yang haus akan ilmu, sejarah juga mencatat bahwa filsafat mulai masuk pada masa ini yaitu di zamanya Abdurrahman al-Ausath, ia mengundang berbagai ahli agar datang ke Spanyol. Spanyol merupakan tempat yang banyak dikunjungi orang untuk menimba berbagai bidang keilmuan.

Realitas pada abad ke-9 tersebut nampaknya masih mendapatkan beberapa goncangan dari luar Islam oleh karenanya kekacauan sering terjadi. Dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari Martyrdom atau kesyahidan. Reaksi

(28)

yang muncul dari pihak Kristen fanatik tersebut tidak sepenuhnya didukung kelompok mereka, dengan melihat beberapa gereja-gereja tatkala itu. Tidak adanya simpati dari golongan mereka sendiri dikarenakan mereka berasumsi bahwa pemerintahan Islam mengembangkan “Kebebasan Agama”. Orang-orang Kristen diperbolehkan membuat yurisprudensi sesuai dengan ideologi mereka, berbagai bentuk peribadatan tidak dihalangi oleh pemerintahan Islam. Islam selalu membawa ajaran yang harmonis, mereka diperbolehkan membuat gereja-gereja, biara-biara disamping asrama rahib atau tempat lainnya. Bahkan mereka diizinkan untuk membantu atau menjadi pegawai pada instansi kemiliteran. Peristiwa yang perlu di catat juga pada periode ini adalah adanya gangguan yang serius datangnya dari umat Islam sendiri. Gerakan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Dan juga orang-orang yang tidak puas memberontak pula dan membangkitkan revolusi, pemberontak yang paling terkenal dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga.

Abdullah ibn Muhammad adalah seorang yang tangguh, ia mampu mengatasi kerusuhan atau goncangan yang ada mulai masa awal hingga akhir masa pemerintahannya. Ia bukan hanya mendapat tantangan dari Spanyol pedalaman namun aristokrasi Arab menentangnya juga.

c. Periode Ketiga (912 M – 1013 M)

Pada periode ketiga ini Islam mulai terlihat nyata dengan kemajuan dan kejaan yang menyaingi peradaban Daulah Abbasiyah di Baghdad. Masa ini berawal dari pemerintahan Abdurrahman An-Nashir sampai munculnya raja-raja kelompok yang dikenal dengan sebutan muluk at-Thawaif. Abdurrahman an-Nashir telah mendirikan universitas Cordova dan menambah koleksi buku-buku atau kitab-kitab hingga mencapai ribuan. Begitu pula dengan Hakam II seorang kolektor buku atau kitab dan mendirikan perpustakaan pribadi.

3. BAGHDAD PUSAT KEJAYAAN ABBASIYAH

A. Tentang Bagdad

(29)

Asal mula namanya tidak diketahui pasti: ada yang percaya ia berasal dari bahasa Persia untuk “pemberian Tuhan” (“bag” (Tuhan) dan “dad” (pemberian)), sementara yang lainnya yakin bahwa ia berasal dari sebuah kalimat dalam bahasa Aramaik yang berarti “kandang domba.” Sebuah dinding yang melingkar dibangun di sekeliling kota ini sehingga Bagdad dikenal sebagai “Kota Bulat”.

B. Awal Perkembangan

Dalam jangka waktu satu generasi sejak didirikan, Bagdad telah menjadi pusat pendidikan dan perdagangan. Beberapa sumber memperkirakan ia hanya memiliki lebih dari sejuta penduduk, meski yang lainnya menyatakan bahwa angka sebenarnya bisa jadi hanya sebagian dari jumlah tersebut.

Sebagian besar penduduknya berasal dari seluruh Iran terutama dari Khorasan. Banyak dari kisah-kisah dalam Seribu Satu Malam berlokasi di Bagdad pada periode ini—yang disebut “Madinat as-Salam” (“Kota Kedamaian”) oleh Shahrazad—dan mengisahkan pemimpinnya yang paling dihormati, Kalifah kelima, Harun al-Rashid. Kisah Seribu Satu Malam, termasuk cerita Sindbad yang termasyhur, melambangkan kehebatan budaya Bagdad selama masa keemasannya sebagai pemimpin dunia Arab dan Islam yang diakui.

Pada abad ke-8 dan 9, Bagdad dianggap sebagai kota terkaya di dunia. Para pedagang Tiongkok, India, dan Afrika Timur bertemu di sini, bertukaran benda-benda kebudayaannya dan melambungkan Bagdad menjadi renaisans intelektual. Rumah sakit dan observatorium dibangun; para penyair dan seniman dibina; dan karya besar Yunani diterjemahkan ke bahasa Arab.

Bagdad adalah salah satu dari kota terbesar dan paling kosmopolitan di dunia dan menjadi rumah bagi umat Muslim, Kristiani, Yahudi, dan penganut paganisme dari seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah.

Kota Bagdad didirikan di tepi barat Tigris di suatu waktu antara tahun 762 dan 767 oleh kekholifahan Abbasiyah yang dipimpin oleh Kalifah al-Mansyur. Kota ini kemungkinan dibangun di bekas sebuah perkampungan Persia. Kota ini menggantikan Ctesiphon, ibu kota Kekaisaran Persia dan Damaskus sebagai ibu kota sebuah kekaisaran Muslim yang mencakup wilayah dari Afrika Utara hingga Persia.

(30)

Dikitari 3 tembok benteng, kota ini terbagi jadi 4 bagian sama, dengan 4 jalan utama dari istana kholifah ke arah masjid agung dan terus menyebar ke seluruh Iraq. Meliputi kira-kira 2 mil pada tepi timur antara gerbang alun-alun al-Mu’azzam di utara dan alun-alun ash-Shorqui di selatan. Pada zaman modern pun kota kuno Bagdad masih bisa dikenali dalam istana Abbasiyah dari akhir abad ke-12 atau 13, dalam basaar-basaar penuh tembaga dan emas, serta di masjid dan pemandian umum, yang dibangun 4 abad kekuasaan kerajaan Ottoman (1535-1918).

Bentuk melingkar Bagdad tentu saja merupakan bukti bahwa ia mencontoh daripada kota-kota Persia seperti Firouzabad di Persia. Malah kini diketahui bahwa kedua desainer yang disewa al-Mansyur untuk merencanakan kota tersebut adalah Nowbakht, mantan Zoroastrian Persia, dan Mashallah, seorang bekas Yahudi dari Khorasan, Iran.

Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Setelah masa al-Manshur, kota Baghdad menjadi lebih termasyur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya al-Ma’mun (813-833).

C. Masa Kejayaan

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, Baghdad menjadi pusat kegiatan intelektual, musik, puisi, kesastraan dan filsafat mulai berkembang. Sinar ilmu pengetahuan tambah bercahaya yang demikian karena negara-negara bagian dari kerajaan Islam raya berlomba-lomba dalam memberi kedudukan terhormat kepada para ulama dan para pujangga.

Adapun zaman keemasan khusus dalam bidang ilmu pengetahuan adalah periode yang sedang kita bicarakan, demikian Jarji Zaldan melukiskan masa daulat Abbasiyah IV, karena dalam masa tersebut berbagai ilmu pengetahuan telah matang, pertumbuhannya telah sempurna dan berbagai kitab yang bermutu telah cukup banyak dikarang terutama ilmu bahasa, sejarah, geografi, adab, dan filsafat.

(31)

semangat riset, maka para ahli pengetahuan, para alim ulama berhasil menemukan berbagai keahlian berupa penemuan keahlian bidang-bidang ilmu pengetahuan.

Khalifah al-Mansur, telah mengadakan penyelidikan terkait keistimewaan pada tempat yang telah dipilih untuk menjadi ibukota kerajaannya. Tentu, ia juga telah melibatkan diri di dalam membuat segala persiapan dan pelaksanaannya.

Banyak para ilmuan dari berbagai daerah datang ke kota ini untuk mendalami ilmu pengetahuan yang dituntutnya. Dari kota inilah memancar sinar kebudayaan dan peradapan Islam keseluruh dunia. Prestise, supremasi ekonomi, dan aktivis intelektual merupakan tiga keistimewaan kota ini.

Kebesarannya tidak terbatas pada negeri Arab, tetapi meliputi seluruh negeri Islam. Baghdad ketika itu menjadi pusat peradapan dan kebudayaan yang tertinggi di dunia. Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang pesat. Banyak buku filsafat yang sebelumnya dipandang sudah ‘mati’ dihidupkan kembali dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Khalifah al-Makmum memiliki perpustakaan yang dipenuhui dengan beribu-ribu buku ilmu pengetahuan. Perpustakaan itu bernama Bait al-Hikmah.

IV. MASA KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Periode Kemunduran Baghdad

Semua kemegahan, keindahan, dan kehebatan kota Baghdad yang dibangun pertama kali oleh khalifah al-Manshur itu hanyalah tinggal kenangan. Semuanya seolah-olah hanyut dibawah oleh sungai Tigris, setelah kota ini dibumihanguskan oleh tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan tahun 1258 M.

Di luar daerah kekuasaan Mongol berkuasa daulah keturunan Turki. Mereka barkuasa dari perbatasan Siria di sebelah Timur sampai keperbatasan Mesir di sebelah Barat, terdiri daulah Mamluk di Mesir dan Daulah Ustmani di Asia Kecil. Sedangkan keturunan Arab berkuasa di Yaman dan Maghribi.

(32)

Sultan-sultan Mamluk di Mesir, walaupun daerahnya tidak mengalami penyerbuan Mongol, tetapi diserbu oleh Salibiyah, ditambah lagi sultan-sultan Mamluk bukan dari satu keturunan sehingga secara praktis daulah Mamluk pun tidak sempat membangun. Dengan demikian masa Mongol ini merupakan masa perpecahan yang sangat parah di dalam sejarah kebudayaan Islam. Semua bangunan kota, termasuk istana tersebut dihancurkan. Pasukan Mongol itu juga meruntuhkan perpustakaan yang merupakan bidang ilmu dan membakar buku-buku yang terdapat didalamnya.

Selain itu, penguasaan Mongol atas daulah Islam hampir memusnahkan unsur Arab dan bahasanya, juga agama Islam. Dengan tindakan pemusnahan, pembakaran, dan pembunuhan selama peperangan maka ratalah kota daerah yang dikuasai. Mereka bunuh penduduknya, mereka rampas hartanya, mereka runtuhkan gedung-gedungnya. Mereka bakar kutubul khanahnya, maka musnahlah perbendaharaan kebudayaannya. Namun suatu hal yang luar biasa bahwa Jenghis Khan yang merunthkan semua itu, diantara keturunannya ada yang bangun menjadi pemelihara dan pembangun kembali agama dan kebudayaan Islam.

Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk, dan tahun 1508 M oleh tentara oleh tentara kerajaan Safawi. Dan sekarang Kota Baghdad, ibu kota Irak sekarang memang mengambil lokasi yang sama, tetapi ia sama sekali tidak mencerminkan kemajuan kota Baghdad lama.67

B. AL-GHAZALI, TASAWUF DAN KEMUNDURAN UMAT ISLAM

Diakui atau tidak, kelahiran tasawuf dalam peta sejarah perkembangan Islam setidaknya sempat memelitikkan bara api sebuah kontroversi. Tak bisa disangkal, karena kelahiran tasawuf memang cukup menyentak dan sebagai jalan hidup untuk merengguh kedamaian hati, ternyata tak terelakkan kalau pada awalnya dipicu dari persoalan politik yang tak terselesaikan. Dengan alasan tak mau terpuruk dalam sebuah perdebatan tentang kekuasaan (politik) dan ketuhanan (teologi), sekelompok orang kemudian menghindari sengketa dan dunia yang membingungkan itu dengan jalan menyingkir ke gua-gua dan masuk ke daerah pedalaman.

Tetapi dengan pilihan tak mau ambil pusing, memikirkan kericuhan dunia politik yang cukup pelik, pilihan hidup dengan mengundurkan diri untuk merengkuh kedamaian hati semacam itu ternyata pada akhirnya juga bukan satu pilihan yang

(33)

diam-diam kemudian lepas dari serangan. Setidaknya, ada dua serangan yang berupaya menghantam keberadaan tasawuf itu.

Serangan pertama, datang dari umat Islam sendiri (kaum fuqaha) yang berusaha mempertanyakan keberadaan tasawuf di tengah kehidupan umat Islam berkaitan dengan syari`ah. Sebab, bagaimana pun juga dalam perkembangan tasawuf di kemudian hari diakui banyak kalangan telah diwarnai unsur dari agama dan budaya lain. Bahkan dalam tingkat tertentu yang lebih mendalam, dengan adanya faham yang cukup rahasia untuk dikatakan (kepada kaum awam) telah memicu adanya sebuah sengketa. Kematian al-Hallaj di tiang gantungan, setidaknya bisa dijadikan satu contoh akan kerincuhan itu. Belum lagi, soal butir-butir dari buah pemikiran tasawuf yang ditilik dari segi syari`ah kadang memang bertentangan atau malah bertolak belakang.

Adapun serangan yang kedua, justru datang dari kalangan filsuf dan ilmuwan (baik Muslim maupun Barat) yang mengagungkan keberadaan akal . Sebab, sebagai jalan hidup yang ditempuh kaum sufi untuk menemukan kebenaran hakiki, tasawuf secara epistimologi telah dianggap mengesampingkan akal (rasio). Sebaliknya, tasawuf dalam menemukan kebenaran lebih berpihak intuisi (dzauqiyah). Dengan kerangka epistimologi seperti itulah, kalangan ini kemudian mengklaim tasawuf itu antirasionalitas. Bahkan yang lebih ekstrim dan parah lagi adalah adanya satu tuduhan bahwa karena tasawuf-lah, umat Islam kemudian mengalami kemunduran dan yang harus bertanggung jawab atas semua itu tak lain adalah al-Ghazali karena pengaruh ajaran dan pemikiran tasawuf-nya dianut sebagian besar umat Islam.

Dengan berpijak pada konteks di atas, tak pelak kalau kemudian ada beberapa hal dalam tulisan ini yang patut untuk dipertanyakan. Apa benar bahwa tasawuf itu sebuah jalan hidup yang sia-sia? Apa benar pula kalau tasawuf itu (apalagi setelah kemunculan al-Ghazali yang cukup memiliki pengaruh kuat dan disegani dalam dunia Islam) sepi dari penalaran atau rasionalitas? Lebih jauh lagi, benarkah kalau kemunduran umat Islam semata-mata dipicu pengaruh tasawuf Al-Ghazali sehingga ia patut bertanggung jawab?

Referensi

Dokumen terkait

Selain dua hal sebagaimana tersebut diatas, dalam UU Desa tersebut akan ada pembagian kewenangan tambahan dari pemerintah daerah yang merupakan kewenangan

A financial audit involves an examination of financial planning and reporting process, the conduct of financial operations, the reliability and integrity of financial records, and

government, as well as by immigrants theselves.12 Thus when Congress eliminated the quota system, large numbers of Filipinos already wanted to come to the United

Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi dengan metode dengan teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dan

Ukuran kalus yang terbesar dihasilkan dari eksplan pucuk dengan perlakuan 1,5 ppm BAP, sedangkan pada perlakuan kinetin, diperoleh dari eksplan daun dengan

Kemampuan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik, sebanyak 88% (58 orang) kepala sekolah dianggap

Dengan teknik inilah peneliti mendapatkan data atau hasil berupa nilai atau skor dari tes yang diadakan pada waktu penelitian, kemudian nilai atau kor yang

Akibat hukum dari suatu akta yang se- harusnya dibuat dihadapan PPAT tetapi ka- rena penerima hak tidak memenuhi syarat mendapatkan suatu hak atas tanah maka ak- tanya harus