1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Penerapan good corporate governance (GCG) di Indonesia memang baru dimulai pada 1999, setelah ekonomi Indonesia porak poranda dihantam krisis moneter setahun sebelumnya.
Namun demikian, setelah 20 tahun berlalu, praktik itu belum menemukan hasil sepadan.
Setidaknya itulah yang ditemukan oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), sebuah institusi terkemuka di bidang pelatihan, konsultansi, dan riset untuk industri keuangan.
Berdasarkan hasil riset LPPI (2018), nilai rata-rata praktik GCG dalam beberapa tahun belakangan memang terlihat membaik. Pada 2016, nilainya berada di level 2,16 setahun setelahnya berada di level 2,07 dan data terakhir tahun 2018 berada di level 2,02. Makin mendekati satu, maka praktik GCG sebuah bank dinilai makin baik. Dalam riset LPPI, ketika pertama kali diterapkan pada 2006, nilai rata-rata GCG industri perbankan berada di kisaran satu, yang berarti sangat baik.
Baru setahun sejak diterapkan, nilai GCG perbankan terlihat memburuk. Bahkan, dalam periode 2008-2010 penerapan GCG perbankan terlihat ada perbaikan, peringkatnya kembali memburuk dan mencapai puncaknya pada 2015.
Jika ditelusuri ke belakang, hasil kajian LPPI ditemukan beberapa kasus diantaranya adalah: pada tahun 2011, kita ingat ada kasus besar di industri perbankan ketika kasus pembobolan Citibank oleh pegawai private banking. Pada tahun 2012 juga ada kasus besar yaitu pembobolan dana yang dilakukan pegawai Bank Mega terhadap simpanan dari Elnusa, perusahaan sektor minyak dan gas milik negara, yang kasusnya berlarut-larut hingga 2013. Pada tahun 2014 ada kasus pembobolan dana dan juga skimming kartu debit dan kredit yang menimpa Bank Mandiri.
Total dana yang dicuri berjumlah puluhan miliar rupiah. Kemudian pada 2015, mencuat kasus besar yang menimpa Bank BTPN ketika dana Rp 22 miliar milik Pemerintah Kota Semarang raib dari deposito yang dikelola bank itu. Pemkot menyimpan uang sebesar Rp 22 miliar yang didepositokan ke BTPN sejak 2007, dalam bentuk rekening giro.
Sejak 2006, perbankan nasional, telah diwajibkan menjalankan GCG berdasarkan aturan Bank Indonesia tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Kemudian sejak 2016, peraturan mengenai GCG merujuk kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 55/POJK.03/2016 dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) No. 13/SEOJK.03/2017 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum.
Dalam aturan itu, setiap bank umum yang beroperasi di Indonesia harus menilai sendiri GCG-nya (self assessment) dengan menggunakan suatu ukuran tertentu, paling kurang 1 (satu) kali dalam setahun. Hasil self assessment ini kemudian dilaporkan kepada otoritas.
Salah satu acuan GCG adalah yang telah diterbitkan oleh OECD prinsip-prinsip tersebut berlaku internasional dan telah diadopsi oleh negara anggota G20, anggota world bank, dan juga komite Basel. Secara garis besar, tata kelola perusahaan yang baik harus memenuhi enam prinsip sebagai berikut (OECD, 2015):
1. Tata kelola korporat yang efektif (ensuring the basis for an effective corporate governance framework). Prinsip ini menekankan bagaimana alokasi sumber daya yang efisien. Alokasi
ini harus didukung oleh pemerintah dan regulasi yang memadai.
2. Hak pemegang saham, perlakuan yang setara, dan fungsi kunci kepemilikan” (the right and equitable treatment of shareholder and key ownership functions) sebagai prinsip penilaian tentang hak dasar pemegang saham termasuk hak atas informasi dan partisipasi pemegang saham dalam RUPS dan keputusan keputusan penting.
3. Investor institusional, pasar modal dan perantara lainnya” (insitutional investors, stock markets, and other intermediaries). Prinsip ini menilai adakah perbedaan sikap antara pemilik perseorangan dan kepemilikan oleh badan. Lalu bagaimana peran proksi dari institusi keuangan terhadap pengendalian di perusahaan.
4. Peran pihak-pihak berkepentingan dalam tata kelola korporat (the role of stakeholders in corporate governance). Bahwa tata kelola yang baik akan menjembatani hubungan antara korporasi dan stakeholders, antara keduanya terdapat hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dan perlu untuk dijaga agar tidak terjadi perampasan hak satu dan yang lain.
5. Pengungkapan dan transparansi (disclosure and transparency) yang akan menilai tentang apa saja yang perlu diungkap oleh korporasi. Tidak hanya faktor-faktor financial, ada juga faktor tujuan perusahaan, kepemilikan kunci, faktor resiko, anggota dewan, dan transaksi pihak berelasi.
6. Tanggung jawab dewan (the responsibilities of board). Sebagai dasar penilaian tentang peranan kunci dari dewan. Banyak hal akan dinilai yaitu independensi, tugas dan peranan, serta kualifikasi dari anggota dewan.
Dengan diterapkannya prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang telah distandarisasi oleh OECD, berdampak pada kinerja perusahaan. Kinerja manajemen perusahaan dalam menjalankan operasional perusahaan tercermin dalam laporan keuangan perusahaan.
Menurut Hery (2012), laporan keuangan merupakan alat informasi yang menghubungkan perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan, yang menunjukan kondisi kesehatan keuangan perusahaan dan kinerja perusahaan. Untuk dapat menginterpretasikan angka-angka yang terkandung dalam laporan keuangan, pemakai harus dapat membaca catatan laporan keuangan (notes to the financial statements) dan memahami asumsi-asumsi yang dipakai dalam mencatat akun-akun laporan keuangan.
Stake-holders sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan yang disusun oleh manajemen perusahaan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2015), menyatakan bahwa “Pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial. Karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyrakat.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dibuat oleh manajemen, dapat dianalisa masing-masing komponen laporan keuangan, untuk mengetahui gambaran kinerja perusahaan.
Kinerja perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio keuangan. Investor melakukan penanaman modal salah satunya dengan melihat rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Return on Asset (ROA) karena dapat memberikan gambaran tingkat pengembalian keuntungan yang dapat diperoleh investor atas investasinya (Prasinta, 2012). Dengan menggunakan ROA sebagai proksi kinerja perusahaan, investor dapat melihat bagaimana perusahaan mengoptimalkan penggunaan asetnya untuk memaksimalkan laba.
Dengan demikian semakin besar ROA suatu perusahaan, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan dan semakin baik pula posisi perusahaan dari segi penggunaan aset.
Penelitian pengaruh GCG terhadap kinerja keuangan banyak dilakukan peneliti sebelumnya. Diantaranya yang dilakukan oleh Puspitasari dan Ernawati (2010) menguji Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Badan Usaha. Penelitian Puspitasari dan Ernawati (2010) menggunakan obyek semua badan usaha yang terdaftar di BEI periode 2005 sampai dengan 2007, tidak terbatas pada sektor tertentu. Ruang lingkup obyek penelitian ini dibatasi hanya pada badan usaha yang secara konsisten tepat waktu menyerahkan laporan keuangan pada BEI. Penelitian menggunakan metode regresi berganda hasilnya menunjukkan bahwa komisaris independen berpengaruh positif tidak singnifikan terhadap ROA, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, konsentrasi kepemilikan dan utang dalam suatu badan usaha akan membawa dampak positif bagi rasio profitabilitas badan usaha ROA. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Melia (2015) bahwa variabel indenpenden antara lain dewan komisaris, komisaris indenpenden, dan kepemilikan manajerial dengan variabel kontrol ukuran perusahaan secara bersama – sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen yaitu ROA.
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, beberapa gap penelitian pengaruh good corporate governance terhadap kinerja perusahaan , dan kasus-kasus yang menimpa sektor keuangan, peneliti tertarik untuk membuktikan kembali pengaruh corporate governance terhadap kinerja perusahaan. Karena pentingnya sektor keuangan sebagai penggerak perekonomian dan rentan kasus penyelewengan dan fraud, peneliti lebih fokus mengambil obyek pada sektor keuangan khususnya sub sektor perbankan dan asuransi.
Dalam penelitian ini, good corporate governance sebagai variabel independen diproksikan dengan kepemilikan institusional, komisaris independen, dan komite audit. Kinerja sebagai variabel dependen diproksikan oleh Return on Assets (ROA). Obyek penelitian yang digunakan yaitu kelompok perusahaan sektor keuangan sub sektor asuransi dan sub sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil judul:
“Pengaruh Struktur Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Sektor Keuangan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
Apakah ada pengaruh struktur good corporate governance (GCG) terhadap kinerja keuangan perusahaan sektor keuangan, sub sektor bank dan asuransi yang terdaftar di BEI?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan secara empiris pengaruh struktur Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terbagi menjadi dua manfaat utama yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis sebagai berikut:
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada perusahaan dan para pemegang saham yang ingin menerapkan konsep Corporate Governance terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan, khususnya bagi perusahaan sektor keuangan, sub sektor asuransi dan bank. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan kepada para pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan.
b. Manfaat Praktis 1) Bagi Investor
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan informasi bagi para investor dalam hal keputusan berinvestasi dan sebagai wacana tentang pentingnya good corporate governance (GCG) dalam suatu perusahaan.
2) Bagi penelitian selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dan tambahan referensi bagi penelitian selanjutnya yang tertarik terhadap tema Good Corporate Governance