PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG SPIRULINA (Spirulina platensis) DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI TELUR DAN KONVERSI
RANSUM PADA PUYUH (Coturnix coturnix japonica)
SKRIPSI
OLEH
YORIX FRANS DETRO WENDI E10017049
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS JAMBI
2021
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG SPIRULINA (Spirulina platensis) DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI TELUR DAN KONVERSI
RANSUM PADA PUYUH (Coturnix coturnix japonica)
Yorix Frans Detro Wendi dibawah bimbingan Noferdiman
1dan Zubaidah
2RINGKASAN
Tanaman Spirulina (Spirulina platensis) merupakan mikroalga alga hijau biru yang mempunyai protein sekitar 50-70%, dan kaya akan asam amino esensial, seperti metoinin, triptofan, dan lisin, serta menggandung pigmen klorofil, beta karoten, dan xantofil. Spirulina dapat tumbuh dan hidup di air tawar dan air payau atau air laut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung Spirulina dalam ransum terhadap produksi telur dan konversi ransum pada puyuh.
Penelitian dilaksanakan di Fapet Farm Fakultas Peternakan Universitas Jambi pada tanggal 23 Juli sampai 01 Oktober 2020. Penelitian ini menggunakan puyuh sebanyak 200 ekor. Perlakuan yang dicobakan adalah penambahan tepung Spirulina dalam ransum yang meliputi: P0 (0% Spirulina ), P1 (1% Spirulina), P2 (2% Spirulina), dan P3 (3% Spirulina). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan.
Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, produksi telur, bobot telur, massa telur, dan konversi ransum. Pada Paubah yang dipengaruhi oleh perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung Spirulina dalam ransum sampai taraf 3% berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produksi telur dan konversi ransum, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, bobot telur, dan massa telur. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa produksi telur pada P3 nyata lebih tinggi dibandingkan dengan P0, dan konversi ransum pada P1, P2, P3 nyata lebih rendah dibandingkan dengan P0.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penambahan 1% tepung Spirulina (Spirulina platensis) dalam ransum dapat menurunkan angka konversi ransum walaupun belum dapat meningkatkan produksi telur secara nyata.
Keterangan :
1)Pembimbing Utama
2)
Pembimbing pendamping
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Penambahan Tepung Spirulina (Spirulina platensis) dalam Ransum Terhadap Produksi Telur dan Konversi Ransum Pada Puyuh (Coturnix coturnix japonica)”
adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk pustaka di bagian akhir skripsi ini sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah yang berlaku.
Jambi, Juni 2021
Yorix Frans Detro Wendi
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 08 Agustus 1999, sebagai anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Yakub Majid dan Ibu Rika Wati. Penulis telah menyelesaikan jenjang pendidikan diantaranya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 24/IX Pudak, Muaro Jambi Tahun 2011.
Sekolah Menengah Pertama (SMPN) SATAP Muaro Jambi Tahun 2014.
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Muaro Jambi Tahun 2017.
Penulis mengambil Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pada tahun 2017
penulis diterima sebagai Mahasiswa Program Studi Peternakan Fakultas
Peternakan Universitas Jambi melalui jalur SNMPTN dan pada semester tiga
memilih Jurusan Produksi Ternak. Penulis merupakan penerima Beasiswa
Bidikmisi. Penulis aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Korps Sukarela Palang
Merah Indonesia Unit Perguruan Tinggi Universitas Jambi (KSR PMI UPT
UNJA). Pada tahun 2019-2020 penulis merupakan Komandan UKM KSR PMI
UPT Universitas Jambi. Penulis melaksanakan Praktek lapang pada semester VII
(ganjil) tahun akademik 2019/2020 yang bertempatan di peternakan Sumber
Berkah Mandiri milik Bapak Edison yang berada di Jl. Beradat RT.16 No.21
Kenali Besar Kecamatan, Alam Barajo Kota Jambi. Penulis mengikuti kegiatan
Magang Pengganti Kukerta selama 60 hari pada tanggal 11 November 2020 s.d
11 Januari 2021 di PT. Super Unggas Jaya Farm Jambi.
i
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan petunjuk-Nya serta kesempatan yang telah dianugrahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penambahan Tepung Spirulina (Spirulina platensis) dalam Ransum Terhadap Produksi Telur dan Konversi Ransum Pada Puyuh (Coturnix coturnix japonica)”. Skripsi ini merupakan persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Program Studi Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian skripsi ini telah melibatkan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah memberikan kontribusi dalam penelitian dan penyelesaian penulisan skripsi, oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Dr. Ir. Noferdiman, M.P. selaku pembimbing utama, dan Prof. Dr. Ir. Zubaidah, M.S. selaku pembimbing pendamping yang selama ini telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dan sudah menjadi teman berdiskusi serta memberikan saran, masukan, nasehat, bimbingan dan motivasi kepada penulis dari penelitian hingga menyelesaikan skripsi. Ir. Dodi Devitriano, M.P. selaku pembimbing akademik yang telah penulis anggap sebagai orangtua sendiri dan telah memberikan masukan dan saran serta bimbingan selama menempuh pendidikan kuliah di Fakultas Peternakan.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. Agus Budiansyah, M.S.
selaku Dekan Fakultas Peternakan, Dr. Ir. H. Syafwan, M.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Kerjasama dan Sistem Informasi, Dr. Ir. Suparjo, M.P. selaku Wakil Dekan Bidang Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. Yatno, S.Pt., M.Si.
selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Ir. Endri Musnandar, M.S. selaku Ketua Jurusan/Program Studi Peternakan serta seluruh staf pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Dr. Ir. Noferdiman, M.P.
selaku dosen pembimbing lapang (Farm Experience) yang telah membimbing
serta memberikan masukan, saran dan nasehat kepada penulis. Dr. Ir. Endri
Musnandar, M.S. selaku dosen pembimbing lapang (Magang Pengganti KKN)
ii
yang telah membimbing dan memotivasi penulis selama ini. Prof. Dr. Ir. Abdul Aziz, M.Si, Ir. Wiwaha Anas Sumadja, M.Sc., Ph.D, Ir. Sestilawarti, M.P, selaku pembahas sidang skripsi saya yang telah memberikan kritik dan saran serta masukan dalam skripsi ini.
Selanjutnya kepada kedua orang tua saya tercinta, Bapak Yakub Majid dan Ibu Rika Wati yang selama ini selalu memberikan kasih sayang dalam bentuk usaha, do’a dan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adik- adikku tercinta Yora Frans Tiara, Willy Prabowo, Cantika Aquini Akhiriya, Naqueenza Anugra Yarika, serta keluarga besar dari ayah dan ibu yang selalu menjadi penyemangat sehingga penulis dapat melewati segala hambatan dalam menyelesaikan skripsi. Kekasih tersayang Ainun Anggini dan orang terdekat penulis Chandro Januari Butar-Butar S.E. Randi Anggelo S.E dan Al Huzairi, Amd.Vet yang telah banyak membantu, mendengar keluh kesah, serta senior Fakultas Peternakan Universitas Jambi lainnya yang telah dianggap sebagai Abang sendiri bagi penulis, telah banyak memberikan masukan, nasehat serta motivasi penulis.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Teman seperjuangan (AminalScience_A’17) teman-teman satu angkatan 2017 yang telah banyak mendukung dan memberikan masukan dan semangat kepada penulis selama ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu, rekan tim penelitian Spirulina platensis Foni Alexsi, dan Riki Adhi Saputra, teman Magang Pengganti KKN Foni Alexsi, Riki Adhi Saputra, Rada Yamerbuke, Rizky Wulandari, dan Widya Anggeraini serta seluruh staf, karyawan dan semua orang yang terlibat di PT. Super Unggas Jaya Unit Jambi yang telah bekerjasama dalam melaksanakan penelitian, telah banyak membantu dalam menyelesaikan penelitian penulis serta memberikan semangat, dukungan dan pengalaman baru kepada penulis.
Sahabat-sahabat penulis (Seconds.Fam) Tiya Wulandari, Tri Riski Ramadayanti, Soleha, Desi Itqun Minannar, Novia Fajar Lestari, Yuni Prasetyani, Junaidi Aditya, Robianto, Elik Marwanto, David Levi, Almi Darmawan, dan M.
Hilal Assegaf, (Fapet Hitz 2017) Ayoga Fanahari Pralasya, M. Hari Setiabudi,
Riki Adhi Saputra, dan Shera Aditya Pratama Keluarga besar KSR PMI UPT
Universitas Jambi dan (KentangSquad’16) yang telah dianggap sebagai keluarga
iii
penulis sendiri dan banyak membantu dan memotivasi penulis selama ini baik didalam maupun diluar bangku perkuliahan dan orang-orang yang telah banyak membantu penulis selama ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu, terimakasih atas masukan, nasehat dan dukungannya.
Data penelitian ini telah disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan Seri 8 (STAP VIII) “Peluang dan Tantangan Pengembangan Peternakan terkini untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan”
Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman pada tanggal 24-25 Mei 2021. Laporan penelitian ini adalah hasil upaya maksimal penulis dengan bantuan berbagai pihak. Kritik atas kekurangannya laporan ini semoga dapat diperbaiki oleh peneliti-peneliti berikutnya untuk kasus penelitian lebih lanjut. Akhir kata penulis banyak mengucapkan ribuan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis, semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal kepada kita semua.
Jambi, Juni 2021
Yorix Frans Detro Wendi
iv
DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA... i
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR TABEL... v
DAFTAR GAMBAR... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 3
1.3. Manfaat... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 4
2.1. Puyuh (Coturnix-coturnix Japonica)... 4
2.2. Spirulina (Spirulina platensis)... 5
2.3. Konsumsi Ransum... 7
2.4. Produksi Telur... 7
2.5. Bobot Telur... 8
2.6. Massa Telur ... 9
2.7. Konversi Ransum ... 9
BAB III. MATERI DAN METODE... 10
3.1. Tempat dan Waktu ... 10
3.2. Materi dan Peralatan... 10
3.3. Metode... 10
3.3.1. Persiapan Kandang ... 10
3.3.2. Pembuatan Ransum ... 11
3.3.3. Pengambilan Data ... 13
3.4. Rancangan Penelitian ... 13
3.5. Peubah yang Diamati ... 13
3.6. Analisis Data ... 14
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15
4.1. Konsumsi Ransum... 15
v
4.2. Produksi Telur ... 16
4.3. Bobot Telur ... 17
4.4. Massa Telur ... 18
4.5. Konversi Ransum ... 19
BAB V. PENUTUP... 21
4.5. Kesimpulan ... 21
4.5. Saran... 21
DAFTAR PUSTAKA ... 22
LAMPIRAN ... 27
vi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Kebutuhan zat makanan dalam ransum puyuh fase layer (%) ... 8
2. Kandungan zat makanan bahan penyusun ransum perlakuan (%) ... 11
3. Komposisi bahan makanan penyusun ransum perlakuan (kg) ... 12
4. Kandungan zat makanan ransum perlakuan (%) ... 12
5. Rataan konsumsi ransum puyuh umur 6 sampai 13 minggu (gram/ekor /hari)…... 15
6. Rataan produksi telur puyuh umur 6 sampai 13 minggu (%) ... 16
7. Rataan bobot telur puyuh umur 6 sampai 13 minggu (gram/butir) ... 17
8. Rataan massa telur puyuh umur 6 sampai 13 minggu (gram/ekor/hari) .. 18
9. Rataan konversi ransum puyuh umur 6 sampai 13 minggu... 19
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Analisis ragam konsumsi ransum puyuh selama penelitian (gram/ekor
/hari) ... 27
2. Analisis ragam produksi telur puyuh selama penelitian (%) ... 28
3. Analisis ragam bobot telur puyuh selama penelitian (gram/butir)... 30
4. Analisis ragam massa telur puyuh selama penelitian (gram/ekor/hari) 31
5. Analisis ragam konversi ransum puyuh selama penelitian ... 32
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Puyuh (Coturnix coturnix japonica) merupakan salah satu unggas darat yang memiliki ukuran tubuh kecil namun mampu memproduksi telur tinggi berkisar 250-300 butir per ekor per tahun (Choeronisa et al., 2016). Ternak unggas ini dapat dikembangbiakan dan dapat dijadikan sebagai sumber protein hewani. Potensi yang besar dimiliki oleh ternak puyuh selain menghasilkan daging juga dapat menghasilkan telur. Puyuh memiliki prospek cukup tinggi untuk dikembangbiakan. Kemampuan tumbuh dan berkembangbiak puyuh sangat cepat, dalam waktu sekitar 42 hari puyuh telah mampu berproduksi. Pemeliharaan puyuh membutuhkan modal yang relatif kecil bila dibandingkan dengan pemeliharaan komoditas unggas lainnya karena siklus hidupnya yang pendek dan tidak memerlukan lahan yang luas (Dewi et al., 2016).
Feed supplement merupakan bahan pakan tambahan yang berupa zat-zat nutrisi, terutama zat nutrisi mikro yang dicampurkan kedalam ransum sehingga dapat memenuhi kandungan nutrisi dari ransun tersebut. Penggunaan Feed supplement dalam ransum berfungsi untuk melengkapi atau meningkatkan ketersedian zat nutrisi mikro yang seringkali kandungannya dalam ransum kurang, meningkatkan produktivitas dan kesehatan ternak serta meningkatkan efesiensi produksi. Melalui Ta’inindari dan Sopandi (2013), Feed supplement yang ada pada masa kini umumnya berupa zat-zat nutrisi, terutama seperti vitamin, mineral atau asam amino, yang dapat memberikan pengaruh terhadap pertambahan bobot badan, konsumsi ransum dan produksi telur puyuh. Tanaman yang memiliki kandungan zat nutrisi lengkap dan kaya akan asam amino tersebut diantarnya adalah tanaman Spirulina (Spirulina platensis).
Menurut Christwardana et al., (2013) Tanaman Spirulina (Spirulina
platensis) merupakan mikroalga alga hijau biru yang mempunyai sumber protein
sekitar 50-70% yang potensial bagi hewan ternak, Spirulina dapat tumbuh dan
hidup di air tawar dan air payau atau air laut. Spirulina (Spirulina platensis)
merupakan salah satu tanaman yang pada kondisi optimal akan tumbuh baik dan
2
menghasilkan jumlah yang memadai, dalam waktu 1 hari jumlahnya mencapai 1,516. 10³ unit/ml. Adanya pembelahan sel yang membuat pertumbuhan Spirulina menjadi cepat (Hariyati, 2008). Potensi tumbuhnya Spirulina (Spirulina platensis) pada daerah yang beriklim hangat dan perairan basah baik itu di air tawar dan di air asin, terutama di Provinsi Jambi tumbuh di daerah rawa tadah hujan, anak sungai, di kolam ikan, danau, dan perairan lainnya.
Menurut Widjastuti et al., (2019), Bahwa penambahan tepung Spirulina platensis dalam formula ransum ayam sentul petelur dengan level 2 % akan meningkatkan produksi telur. Penambahan tepung Spirulina dengan level 0,5%, 1%, 1,5% didalam formula ransum ayam petelur akan meningkatkan rasio efesiensi protein, sehingga proses pencernaan dalam tubuh ternak digunakan dalam proses metabolisme tubuh untuk menghasilkan performa produksi telur yang lebih baik (Lokapirnasari et al., 2011). Kelemahan tanaman Spirulina apabila digunakan dalam jumlah yang banyak dalam pakan karena mengandung zat anti nutrisi berupa senyawa tannin, flavonoid, glikosida, alkaloid, dan saponin (Fithriani et al., 2015).
Tanaman Spirulina (Spirulina platensis) memiliki potensi yang cukup baik untuk dijadikan bahan pakan pelengkap bagi ternak unggas karena mengandung protein sekitar 50-70%, vitamin B-12, chlorophyll, mineral esensial dan carotenoids, serta merupakan suatu senyawa komplek yang kaya akan asam amino esensial, metoinin (1,3-2,75), sistin (0,5-0,7), triptofan (1-1.95), dan lisin (2,6- 4,63) (Christwardana et al., 2013). Menurut Widjastuti et al., (2019), Spirulina mengandung protein yang tinggi yaitu 65-75%, asam amino esensial, karetonoid, beta-karoten dan xantofil yang tinggi, yang bermanfaat dalam penyediaan kandungan nutrisi dalam tubuh sehingga dapat digunakan sebagai suplemen pakan untuk meningkatkan produksi telur.
Kandungan nutrisi yang lengkap pada Spirulina platensis belum diketahui
secara pasti pengaruhnya terhadap produksi telur puyuh, dengan demikian
Spirulina platensis perlu di uji secara biologis untuk mengetahui kualitas
nutrisinya. Salah satu cara dengan diberikan secara langsung kepada puyuh untuk
melihat pengaruh penggunaan Spirulina platensis dalam ransum terhadap
produksi telur dan konversi ransum pada puyuh.
3
Bedasarkan uraian diatas dan masih belum banyaknya publikasi mengenai tanaman Spirulina platensis maka perlu dilakukan suatu penelitian yang berjudul Pengaruh penambahan tepung Spirulina (Spirulina platensis) dalam ransum terhadap produksi telur dan konversi ransum pada puyuh (Coturnix coturnix japonica).
1.2.Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung Spirulina (Spirulina platensis) sampai taraf 3 % dalam ransum terhadap produksi telur dan konversi ransum pada puyuh.
1.3. Manfaat
Penelitian ini diharapkan memberikan informasi ilmiah mengenai manfaat
penambahan tepung Spirulina (Spirulina platensis) dalam ransum terhadap
produksi telur dan konversi ransum pada puyuh.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Puyuh (Coturnix-coturnix Japonica)
Puyuh yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis Coturnix coturnix japonica. Puyuh merupakan unggas daratan yang memiliki tubuh kecil, berkaki pendek, dan tidak dapat terbang tinggi. Puyuh pemakan biji- bijian namun juga pemakan serangga dan mangsa berukuran kecil lainnya (Destia et al., 2017). Melalui Mahmudah et al., (2015) Puyuh merupakan salah satu unggas yang sangat berpotensi untuk di kembangkan sebagai penghasil telur karena dapat berproduksi sebanyak 250-300 butir/ekor/tahun.
Puyuh adalah jenis unggas yang telah mengalami domestikasi. Puyuh terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah puyuh jepang (Coturnix-coturnik japonica), puyuh jenis ini yang sering diternakkan oleh banyak kalangan masyarakat sebagai penghasil daging dan telur (Subekti & Hastuti 2013).
Klasifikasi puyuh melalui Prihatman (2000) sebagai berikut:
Kingdom : Animallia Filum : Chordata Class : Aves Ordo : Galliformes Sub- ordo : Phasianoidea Family : Phasianidae Genus : Cortunix
Spesies : Cotunix cotunix japonica
Puyuh memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan unggas lain
diantaranya adalah pertumbuhan cepat, dewasa kelamin lebih cepat, interval
generasi yang sangat cepat dan produktifitas telur yang relatif tinggi (Latif et al.,
2017). Menurut Widyastuti et al., (2014), puyuh juga memberi keuntungan dari
daging sebagai salah satu alternatif yang mendukung ketersediaan protein hewani
dengan harga murah dan mudah didapat, di samping itu bulu dan bahkan kotoran
puyuh dapat dimanfaatkan.
5
Menurut Prihatman (2000) menyatakan bahwa fase starter puyuh (1-3 minggu), fase Grower (3-6 minggu), fase layer (lebih dari 6 minggu) memiliki ukuran kandang dan peralatan yang sama. Burung puyuh unggul mempunyainama ilmiah Coturnix-coturnix japonica, pejantan mempunyai berat 140 - 143 gram dan betina 143- 146 gram (Armen, 2005).
2.2. Spirulina(Spirulina platensis)
Tanaman Spirulina platensis merupakan mikroalga hijau biru yang mengandung nutrisi protein tinggi sekitar 55-70%, sehingga banyak digunakan sebagai pakan alami (Ulya et al., 2018). Prasadi (2018), menyatkan bahwa Spirulina platensis adalah mikroalga yang memiliki kandungan nutrisi lengkap, terutama kandungan protein yang tinggi menyebabkan Spirulina platensis memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional.
Menurut Christwardana et al., (2013), Spirulina (Spirulina Platensis) mengandung protein sekitar 50-70%, vitamin B-12, chlorophyll, mineral esensial dan carotenoids, serta merupakan suatu senyawa komplek yang kaya akan asam amino esensial, metoinin (1,3-2,75), sistin (0,5-0,7), triptofan (1-1.95), dan lisin (2,6-4,63). Tanaman Spirulina (Spirulina Platensis) menggandung pigmen klorofi (0,08%), beta karoten (0,23%) dan xantofil (0,12 - 0,15%) (Buwono &
Nurhasanah, 2018).
Tanaman Spirulina (Spirulina Platensis) dengan protein yang tinggi dibanding sumber lain sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pakan alami bagi ternak. Selain memiliki kandungan protein yang tinggi, mikroalga ternyata juga banyak sekali kandungan gizi mulai dari Sumber karotenoid dengan kandungan b-karoten dan xantofil yang cukup tinggi, dan banyak sekali vitamin lainnya serta memiliki kandungan mineral yang tinggi (Nurzamzam, 2015).
Menurut Widjastuti et al., (2019), menyatakan bahwa Spirulina mengandung
asam amino esensial, karetonoid, beta-karoten dan xantofil yang tinggi, serta
memiiki protein yang tinggi yaitu (82% Spirulina segar) dan (65-75% Spirulina
kering), sehinga dapat digunakan sebagai suplemen pakan untuk memberikan
produktivitas dan produksi telur.
6
Klasifikasi ilmiah untuk Spirulina melalui Noriko et al., (2011) adalah sebagai berikut.
Kingdom : Protista Divisi : Cyanophyta Kelas : Cyanophyceae Ordo : Nostocales Famili : Oscilatoriaceae Genus : Spirulina
Spesies : Spirulina platensis
Gambar 1. Tanaman dan tepung Spirulina (Spirulina Platensis)
Menurut Christwardana et al., (2013), tanaman Spirulina platensis dapat
bertahan hidup pada suhu 15ºC, dan memiliki suhu untuk tumbuh secara optimal
berkisar 34-40ºC. Pada kondisi optimal Spirulina platensis dalam waktu 1 hari
jumlahnya dapat mencapai 1,516.10³ unit/ml (Hariyati, 2008). Spirulina (Spirulina
platensis) mengandung vitamin B12, klorofil, karotenoid, mineral, asam
gammaolenic (GLA). Spirulina mengandung asam amino esensial, termasuk
leusin (540 mg / 10 g), lisin (290 mg / 10 g), metionin (140 mg / 10 g), threonine
(320 mg / 10 g), tryptophane (90 mg / 10 g), dan (valin 400 mg / 10 g)serta
mengandung karbohidrat 13,6% (Widjastuti et al., 2019).
7
2.3. Konsumsi Ransum
Total ransum yang dikonsumsi puyuh petelur jantan selama 7 minggu sebanyak 547,75 gram per ekor (Dewi et al., 2016). Menurut Achmanu et al., (2011), Konsumi puyuh dengan lantai kandang rapat dan renggang adalah 21,05 gram/ekor/hari. Sedangkan Konsumsi ransum puyuh yang diberi ampas tahu fermentasi dalam ransum berkisar 10,67-10,83 gr/ekor/hari (Widodo et al., 2013).
Konsumsi ransum pada berbagai perlakuan flock size memiliki nilai rataan berkisar antara 21,33 sampai dengan 26,41 gr/ekor/hari (Choeronisa et al., 2016) penelitian Triyanto (2007), yang menyatakan rataan konsumsi ransum puyuh umur 6-13 minggu adalah 22,24 gram/ekor/hari. Konsumsi pakan memiliki beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurut Ahmadi (2014), menyatakan bahwa faktor utama yang mempengaruhi konsumsi pakan adalah kandungan energi, karena semakin baik kandungan energi yang terdapat didalam bahan pakan maka semakin baik pakan yang dikonsumsi.
Sifat allelomimetik (tingkah laku meniru) dapat mempengaruhi aktivitas puyuh dari berbagai flock yang mempengaruhi jumlah konsumsi ransum. Semakin banyak populasi maka jumlah pakan yang dikonsumsi semakin banyak, artinya perbandingan antara populasi, berbanding lurus dengan jumlah konsumsi ransum (Choeronisa et al., 2016).
2.4. Produksi Telur
Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) fase layer (umur 10 minggu) berkisar antara 48,41 % sampai 64,44 % (Choeronisa et al., 2016), dan menurut Ahmadi (2014), menyatakan bahwa rataan produksi telur puyuh umur 8-14 minggu yang diberi ransum komersil adalah 67,89%. Saerang et al., (1998) menyatakan bahwa produksi telur puyuh yang baik berkisar antara 75-80%.
Menurut Widjastuti & Kartasudjana (2006), dimana rataan tertinggi
produksi telur puyuh hanya mencapai 53,02 %. Kemampuan produksi telur puyuh
akan di capai pada umur 5 bulan dengan persentasi bertelur rata-rata 76% (Zahra
et al., 2012).
8
Kurangnya energi yang diperoleh oleh puyuh pada pakan, dan energi yang banyak terbuang saat mengambil atau pun pakan akan berpengaruh terhadap produksi telur. Sehingga energi yang diperlukan untuk produksi telur tidak cukup (Armen, 2005). Produksi telur puyuh umur 6-17 minggu berkisar 51,79% sampai 62,52%, dengan rataan produksi telur sebesar 57,01% (Bachari et al., 2006).
Tabel 1. Kebutuhan zat makanan dalam ransum puyuh fase layer
Zat Makanan Layer (Umur > 6 minggu)
Protein kasar 20
Lemak kasar 3.96
Serat kasar 4.40
Kalsium 2.5
Fosfor 0.55
Energi Metabolisme (kkal/kg) 2700
Sumber : NRC (National Research Council), (1994).
2.5.Bobot Telur
Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) umur 8-14 minggu dengan penambahan tepung daun jati menghasilkan bobot telur bekisar antara 10,24-10,37 gram (Ahmadi, 2014) sedangkan Bobot telur puyuh 7 mingggu sampai dengan 15 minggu adalah 10–12 gram (Setiawan, 2006). Menurut pendapat Sependini (2017), bahwa berat telur puyuh adalah antara 10,06 - 10,21gram.
Rata-rata berat telur puyuh yang di dapatkan bekisar antara 11,04 – 12,17
gram (Widjastuti & Kartasudjana, 2006). Imbangan dari protein dan energi sangat
berpengaruh terhadap bobot telur yang dihasillkan puyuh. Salah satu faktor yang
mempengaruhi berat telur puyuh yang normal adalah kandungan nutrisi pada
ransum hal ini dikarenakan ransum yang diberikan oleh ternak puyuh memiliki
kandungan nutrisi yang baik sehinngga dapat menghasilkan bobot telut yang
normal (Ahmadi, 2014).
9
2.6. Massa Telur
Massa telur puyuh yang diberi pakan mengandung produk fermentasi dengan Neurospa crassa adalah 6,85-7,20 gram/ekor/hari dengan massa telur pada perlakuan kontol 6,85 gram/ekor/hari (Nuraini et al., 2012). Menurut Muslim et al., (2012), massa telur puyuh yang diberikan campuran dedak dan ampas tahu fermentasi dengan Manascus purpureus adalah 4,40-4,98 gram/ekor/hari dengan massa telur perlakuan kontrol adalah 4,40 gram/ekor/hari.
Menurut Mawaddah et al., (2018), menyatakan massa telur berkaitan erat dengan bobot telur dan produksi serta sangat dipengaruhi oleh kandungan dan kualitas protein ransum. Massa telur puyuh yang diberi mikrokapsul minyak ikan adalah 4,42-4,67 gram/ekor/hari, dan pada perlakuan kontrol adalah 4,63 gram/ekor/hari (Sestilawarti et al., 2013).
2.7. Konversi Ransum
Konversi ransum pada puyuh umur 9 - 12 minggu mencapai 1,98 - 2,29 Zahra et al., (2012), sedangkan menurut Luthfi et al., (2015), yang diberi larutan ekstrak kunyit berkisar antara 3,01-3,52 dengan rataan konversi pada kontrol yaitu 3,52. Berdasarkan penelitian Triyanto, (2007), konversi ransum pada pencahayaan yang berbeda adalah sekitar 3,25 – 3,67.
Widjastuti & Kartasudjana (2006), menyatakan konversi pakan pada puyuh umur 5 - 6 minggu adalah 3,25. Sedangkan konversi pakan digunakan untuk mengukur keefisiensian penggunaan pakan dalam memproduksi telur (Setiawan, 2006). Konversi pakan puyuh petelur sangat dipengaruhi oleh banyaknya ransum yang dikonsumsi, dengan imbangan yang baik maka akan menghasilkan angka konversi yang baik (Maknun et al., 2015).
Choeronisa et al., (2016), Angka konversi pakan yang semakin kecil
menunjukkan bahwa ransum yang dikonsumsi oleh puyuh dapat digunakan sudah
cukup efisien dikarenakan ransum yang digunakan untuk membentuk satuan telur
terhitung rendah, begitu juga sebaliknya. Angka konversi pakan menunjukkan
berapa banyak jumlah ransum yang dikonsumsi untuk menghasilkan setiap satuan
produksi.
10
BAB III
MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi dan kandang di Fapet Farm Fakultas Peternakan Universitas Jambi pada tanggal 23 Juli sampai 01 Oktober 2020.
3.2. Materi dan Peralatan
Materi yang di gunakan pada penelitian ini adalah puyuh yang berumur 3 minggu (bibit) sebanyak 200 ekor yang di dapat dari Usaha Ternak puyuh Sumber Berkah Mandiri Kecamatan Alam Barajo Kota Jambi. Bahan ransum terdiri dari tepung Spirulina, jagung giling, tepung ikan, bungkil kedele, dedak, bungkil kelapa, minyak sawit, mineral dan top mix. Tepung Spirulina (Spirulina Platensis) diperoleh dari PT Polaris Sinar Intan Tangerang. Bahan lain di Kandang puyuh yang di gunakan untuk pemeliharaan adalah kandang puyuh tipe colony yang terdiri dari 20 unit kandang yang berukuran 65x40x40 cm
3perunit kandang yang di lengkapi dengan tempat pakan, tempat minum, dan lampu pijar. Timbangan dengan merk camry kapasitas 5 kg dengan skala 1 gram di gunakan untuk menimbang pakan dan neraca Ohaus dengan skala 1 gram untuk menimbang bobot telur.
3.3. Metode Penelitian
3.3.1.Persiapan Kandang
Persiapan penelitian yang pertama adalah menyiapkan kandang, kandang
terlebih dahulu di bersihkan kemudian dicat menggunakan kapur, setelah kandang
kering dilakukan penyemprotan setiap sisi kandang dengan desinfektan upaya
kandang bebas dari mikroorganisme yang masih menempel di kandang, kemudian
diamkan kandang selama 7 sampai 14 hari, lalu puyuh dimasukkan kedalam
kandang dengan keadaan di sekitar kandang yang bersih. Penempatan perlakuan
pada kandang dan penempatan puyuh ke dalam kandang di lakukan secara acak.
11
Urutan kandang dari nomor 1 sampai 20 kemudian lakukan pengacakan perlakuan beserta ulangannya menggunakan undian. Selanjutnya puyuh ditimbang bobot badannya kemudian diberi nomer 1 sampai 200, setelah itu puyuh ditempatkan secara acak pada kandang yang masing-masing berisi 10 ekor.
3.3.2. Pembuatan Ransum
Ransum yang digunakan terdiri dari bahan tepung Spirulina plantesis, jagung giling, tepung ikan, bungkil kedele, dedak, bungkil kelapa, mineral dan top mix. Ransum yang digunakan disusun sesuai dengan kebutuhan zat makanan puyuh. Penyusunan ransum dilakukan dengan cara mencampur bahan pakan yang jumlahnya sedikit dan teksturnya lebih halus,kemudian di tambahkan dengan bahan pakan yang jumlahnya banyak sedikit demi sedikit. Selanjutnya ransum tersebut dicampur dengan Spirulina sedikit demi sedikit sampai ransum menjadi homogen. Ransum yang digunakan disusun sesuai dengan kebutuhan zat makanan ternak puyuh. Ransum diberikan secara addlibitum dengan tiga kali pemberian dalam sehari yaitu pagi, siang dan sore.
Tabel 2. Kandungan zat makanan bahan penyusun ransum perlakuan (%)
Bahan Pakan BK PK LK SK Ca P ME
Tepung Spirulina 86.48
h46.81
h2.93
h12.07
h0.59
h0.38
h1644
hJagung giling 87.71
b8.60
c3.47
a1.43
a0.01
c0.13
c3329
cTepung ikan 92.55
a49.64
a11.78
a4.41
a9.23
d4.59
d2820
eBungkil kedele 86.36
a46.51
a2.33
a0.65
a0.69
d0.76
d3070
dDedak 91.04
a11.85
a4.27
a23.33
a0.46
d0.62
d2530
dBungkil kelapa 90.14
a11.42a 10.66
a6.36
a0.46
d0.62
d1525
eMinyak sawit - - 94.30
g- - - 8812
gMineral 95.00
f- - - 32.00
f1.14
f-
Top mix - - - - 5.38
f1.14
f-
Keterangan : BK : Bahan Kering, PK : Protein Kasar, LK : Lemak Kasar, SK : Serat Kasar, Ca : Kalsium, P : Posfor, ME : Energi Metabolik.
a)Hasil Analisis Lab : Fakultas Peternakan Universitas Jambi Tahun 2018. b) Adreani (2017). c) Amrullah (2003). d) Jamludin (2014). e) Nelwida (2009). f) PT.Medion, Bandung.
g)Hartadiet al.(1980)h)Hasil Analisis Lab:Teknologi dan Industri Pakan Universitas Andalas 2019.
12
Perlakuan yang diberikan penambahan tepung Spirulina dalam ransum adalah sebagai berikut.
P0 = Ransum Basal 100% + 0% Tepung Spirulina P1 = Ransum Basal 100% + 1% Tepung Spirulina P2 = Ransum Basal 100% + 2% Tepung Spirulina P3 = Ransum Basal 100% + 3 % Tepung Spirulina
Tabel 3. Komposisi bahan makanan penyusun ransum perlakuan
(kg)Bahan
Makanan
Komposisi
P0 P1 P2 P3
Jagung Giling 41,0 41,0 41,0 41,0
Tepung Ikan 9,5 9,5 9,5 9,5
Bungkil
Kedele 21,0 21,0 21,0 21,0
Dedak 12,0 12,0 12,0 12,0
Bungkil
Kelapa 11,0 11,0 11,0 11,0
Minyak Sawit 0,5 0,5 0,5 0,5
Mineral
(CaCO3) 4,0 4,0 4,0 4,0
Top Mix 1,0 1,0 1,0 1,0
Spirulina 0,0 1,0 2,0 3,0
Jumlah 100 101 102 103
Keterangan : P0 (Ransum basal + 0% tepung Spirulina), P1 (Ransum basal + 1% tepung Spirulina P2 (Ransum basal + 2% tepung Spirulina) P3 (Ransum basal + 3% tepung Spirulina).
Tabel 4. Kandungan zat makanan ransum
perlakuan(%)
Zat Makanan
Ransum Perlakuan
P0 P1 P2 P3
Bahan Kering 85,48 85,49 85,50 85,51
Protein Kasar 19,86 20,13 20,39 20,64
Serat Kasar 6,62 6,67 6,72 6,77
Lemak Kasar 5,15 5,12 5,10 5,08
Kalsium 2,48 2,46 2,44 2,42
Fosfor 0,97 0,96 0,96 0,95
EM (kkal/kg) 2787,26 2775,94 2764,84 2753,96
Sumber :Hasil Analisis Laboratorium Teknologi dan Industri Pakan Universitas Andalas 2020.
13
3.3.3. Pengambilan Data
Pengambilan data dimulai dari produksi telur tercapai minimal 5% dari setiap unit perlakuan (North dan Bell, 1990) pada umur 6 sampai 13 minggu.
Konsumsi pakan dihitung setiap minggu dengan cara mengumpulkan sisa pakan kemudian ditimbang dan dicari selisih antara pakan yang diberikan dengan pakan sisa, untuk mendapatkan konsumsi pakan per minggu. Pengambilan telur dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali yaitu pada pagi hari pukul 07.00 WIB dan malam hari pada pukul 19.00 WIB. Kemudian jumlah telur dihitung dan ditimbang bobot telur perbutir dengan menggunakan timbangan digital.
3.4. Rancangan penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) (Steel, R.G.
dan H.J. Torrie1984), yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Model matematis dari Rancangan Acak Lengkap (RAL) adalah sebagai berikut.
Yij = µ + αi +Eij
i = 1, 2, 3, 4 (banyaknya perlakuan) j = 1, 2, 3, 4, 5 (banyaknya ulangan) Yij = Nilai pengamtan yang diukur
µ = Pengaruh dari rata-rata peubah yang diamati αi = Pengaruh perakuan ke - i
Eij = Pengaruh galat percobaan ulangan ke - j dan perlakuan ke – i 3.5. Paubah yang Diamati
Paubah yang diamati adalah konsumsi ransum, produksi telur puyuh (quail day), bobot telur dan konversi ransum, mulai umur 6 sampai 13 minggu.
Konsumsi ransum dihitung dari selisih antara ransum yang diberikan dengan sisa ransum pada waktu yang sama yang dinyatakan dalam g/ekor/minggu.
Konsumsi Ransum dihitung berdasarkan rumus berikut:
Konsumsi Ransum = Ransum yang diberikan (gram/ekor/hari) – Ransum sisa
(gram/ekor/hari).
14
Produksi telur dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah telur dengan jumlah puyuh tiap unit kandang dikali 100%.
Produksi Telur di ketahui berdasarkan rumus berikut:
Produksi telur (quail day) =
x 100%
Bobot telur didapat dengan cara menimbang telur dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 1g dinyatakan dalam (gram).
Massa telur dihitung dengan cara produksi telur dikali dengan bobot telur.
Massa telur
= Produksi Telurx
Bobot TelurKonversi ransum dihitung berdasarkan perbandingan antara konsumsi ransum dengan massa telur dalam minggu yang sama.
Konversi ransum =
3.6. Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis statistik menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL). Apabila terdapat pengaruh yang nyata maka dilanjutkan dengan
Uji Jarak Berganda Duncan.
15
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Konsumsi Ransum
Rataan konsumsi ransum puyuh pada masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan konsumsi ransum puyuh umur 6 sampai 13 minggu (gram/ekor/hari).
Perlakuan Konsumsi ransum
P0 P1 P2 P3
23,21 ± 0,55 22,24 ± 0,64 22,58 ± 0,99 22,98 ± 0,24
Keterangan : P0 (Ransum Basal + 0% Tepung Spirulina), P1 (Ransum Basal + 1% Tepung Spirulina P2 (Ransum Basal + 2% Tepung Spirulina) P3 (Ransum Basal + 3%
Tepung Spirulina).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan tepung Spirulina (Spirulina platensis) sampai taraf 3 % dalam ransum memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum (Tabel 5). Hal ini diduga karena jumlah konsumsi ransum yang sama atau tidak berbeda nyata (P>0.05) pada masing-masing perlakuan juga disebabkan oleh bentuk fisik atau tekstur dari ransum yang diberikan hampir sama yaitu berbentuk tepung. Kondisi ini sesuai dengan pendapat Kartasudjana dan Suprijatna (2006) yang menyatakan bahwa jumlah ransum yang dikonsumsi ayam dipengaruhi oleh bentuk ransum yang diberikan. Disisi lain, tidak berbeda nyata (P>0.05) pada rataan konsumsi ransum antara masing-masing perlakuan dapat disebabkan oleh kandungan energi metabolis ransum yang hampir sama pada masing-masing perlakuan tersebut.
Kondisi ini sesuai dengan pendapat Desserheine (1998) bahwa kandungan energi metabolis ransum mempengaruhi terhadap jumlah ransum yang dikonsumsi unggas, semakin tinggi energi dalam ransum maka semakin rendah jumlah ransum yang dikonsumsi.
Hasil penelitian Subekti dan Hastuti (2013), bahwa rataan konsumsi ransum puyuh yang diberi penambahan vitamin C berkisar antara 21,34-24,40 gram/ekor/hari dengan rataan konsumsi pada kontrol yaitu 21,34 gram/ekor/hari.
Hasil penelitian ini lebih tinggi dari penelitian Sestilawarti et al., (2013), dimana
16
rataan konsumsi ransum puyuh yang diberi mikrokapsul minyak ikan adalah 20,17-20,75 gram/ekor/hari dengan rataan konsumsi pada kontrol yaitu 20,75 gram/ekor/hari. Hasil penelitian ini juga lebih tinggi dari penelitian Noferdiman et al., (2019), bahwa rataan konsumsi ransum puyuh yang diberi penambahan enzim mannanase dalam ransum yang mengandung bungkil inti sawit berkisar antara 21,56 -20,76 gram/ekor/hari dengan rataan konsumsi pada kontrol yaitu 21,56 gram/ekor/hari.
4.2. Produksi Telur
Rataan produksi telur puyuh pada masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan produksi telur puyuh umur 6 sampai 13 minggu (%).
Perlakuan Produksi Telur
P0 P1 P2 P3
56,83
a± 3,32 59,34
ab± 5,63 61,46
ab± 3,33 64,62
b± 1,91
Keterangan : Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05). P0 (Ransum Basal + 0% Tepung Spirulina), P1 (Ransum Basal + 1% Tepung Spirulina P2 (Ransum Basal + 2% Tepung Spirulina) P3 (Ransum Basal + 3% Tepung Spirulina).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan tepung Spirulina
(Spirulina platensis) sampai taraf 3 % dalam ransum memberikan pengaruh yang
nyata (P<0,05) terhadap produksi telur (Tabel 6). Hasil uji lanjut Duncan
menunjukkan bahwa P0 tidak berbeda nyata dengan P1 dan P2, namun berbeda
nyata dengan P3. Hal ini terkait dengan penambahan tepung Spirulina (Spirulina
platensis), 3 % yang memiliki protein yang cukup tinggi dan senyawa komplek
yang kaya akan asam amino sehingga dapat diserap secara optimal dan zat gizi
pada ransum terutama protein untuk pembentukan telur terpenuhi sehingga
produksi telur meningkat. Menurut Widjastuti et al., (2019), Penggunaan
spirulina 1,5-2% yang dapat memberikan kontribusi asam amino lisin dan
metionin yang lebih tinggi, kandungan lisin dan metionin dalam Spirulina sangat
memengaruhi produksi telur, dan akan menghasilkan produksi telur yang lebih
tinggi. Menurut Lokapirnasari et al., (2011), penambahan tepung Spirulina dalam
ransum dapat digunakan sebagai suplement pakan dan meningkatkan produksi
17
telur. Menurut Rasyaf (1991), bahwa ransum yang dikonsumsi unggas harus dapat memenuhi segala kebutuhan unsur-unsur gizi bagi unggas tersebut, sehingga menghasilkan produksi yang optimal.
Hasil penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Gunawan et al., (2015), bahwa rataan produksi telur puyuh yang diberi empelur sagu fermentasi dalam ransum adalah 38,40-56,53% dengan rataan produksi telur pada kontrol yaitu 56,53%. Hasil ini juga lebih tinggi dari penelitian Sestilawarti et al., (2013), bahwa rataan produksi telur puyuh yang diberi mikrokapsul minyak ikan adalah 52,23-55,79% dengan rataan produksi telur pada kontrol yaitu 55,79%. Hasil penelitian ini lebih rendah dari hasil penelitian Luthfi et al., (2015), bahwa rataan produksi telur puyuh yang diberi larutan ekstrak kunyit adalah 58,03-70,31%
dengan rataan produksi telur pada kontrol yaitu 58,03%.
4.3. Bobot Telur
Rataan bobot telur puyuh pada masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan bobot telur puyuh umur 6 sampai 13 minggu (gram/butir).
Perlakuan Bobot Telur
P0 P1 P2 P3
10,43 ± 0,34 10,73 ± 0,35 10,40 ± 0,21 10,29 ± 0,70
Keterangan :
P0 (Ransum Basal + 0% Tepung Spirulina), P1 (Ransum Basal + 1% Tepung Spirulina P2 (Ransum Basal + 2% Tepung Spirulina) P3 (Ransum Basal + 3%Tepung Spirulina).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan tepung Spirulina (Spirulina platensis) sampai taraf 3 % dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap bobot telur puyuh (Tabel 7). Hal ini dikarenakan jenis dan umur puyuh yang digunakan pada penelitian ini sama, pakan yang diberikan berasal dari sumber yang sama dan kandungan nutrisinya hampir sama.
Menurut Yuwanta (2010), salah satu faktor yang mempengaruhi berat telur adalah
faktor genetik terutama umur ternak, umur saat dewasa kelamin dan saat
peneluran. Dilanjutkan bahwa berat telur meningkat selaras dengan umur ternak
dan mencapai nilai proporsional terhadap bobot badan ternak. Didukung oleh
18
pendapat Mastika et al., (2014) berat telur dipengaruhi oleh genetik ternak, umur ternak, sistem pemeliharaan dan lingkungan.
Bobot telur pada penelitian ini lebih besar dibandingkan dengan penelitian Noferdiman et al., (2019), dimana bobot telur puyuh yang diberi penambahan enzim mannanase dalam ransum yang mengandung bungkil inti sawit berkisar antar 9,94–10,25gram/butir dengan rataan bobot telur pada kontrol yaitu 10,25gram/butir. Menurut penelitian Subekti dan Hastuti (2013), bobot telur puyuh yang diberi penambahan vitamin C berkisar antara 10,16–10,22 gram/butir dengan rataan bobot telur pada kontrol yaitu 10,16 gram/butir. Bobot telur pada penelitian ini lebih kecil dibandingkan dengan penelitian Luthfi et al., (2015), bobot telur puyuh yang diberi larutan ekstrak kunyit berkisar antara 11,09-11,21 gram/butir dengan rataan bobot telur pada kontrol yaitu 11,09 gram/butir.
4.4.Massa Telur
Rataan massa telur puyuh pada masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan massa telur puyuh umur 6 sampai 13 minggu (gram/ekor/hari).
Perlakuan Massa telur
P0 P1 P2 P3
5,92 ± 0,21 6,36 ± 0,48 6,39 ± 0,35 6,65 ± 0,42
Keterangan :
P0 (Ransum Basal + 0% Tepung Spirulina), P1 (Ransum Basal + 1% Tepung Spirulina P2 (Ransum Basal + 2% Tepung Spirulina) P3 (Ransum Basal + 3%Tepung Spirulina).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan tepung Spirulina (Spirulina platensis) sampai taraf 3 % dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap massa telur (Tabel 8). Rataan nilai massa telur bervariasi yaitu P0 sebesar 5,92 gram/ekor/hari, P1 sebesar 6,36 gram/ekor/hari, P2 sebesar 6,39 gram/ekor/hari, P3 sebesar 6,65 gram/ekor/hari. Hal ini menunjukan bahwa penambahan tepung spirulina tidak mempengaruhi nilai dari massa telur.
Tingginya massa telur pada P3 karena pada penelitian ini bobot telur dan produksi telur yang dihasilkan tinggi sehingga massa telur yang dihasilkan menjadi tinggi.
Menurut Sestilawarti et al., (2013), persentase produksi telur dan berat telur
19
mempengaruhi produksi massa telur, sedangkan produksi massa telur dan konsumsi ransum mempengaruhi konversi ransum. Mawaddah et al., (2018), menyatakan bahwa massa telur erat kaitanya dengan bobot telur dan produksi serta sangat dipengaruhi oleh kandungan dan kualitas protein ransum.
Hasil penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Maknun et al., (2015), dimana massa telur puyuh yang diberi pakan tepung limbah penetasan telur puyuh adalah 5,43-6,08 gram/ekor/hari dengan massa telur pada perlakuan kontrol adalah 5,43 gram/ekor/hari. Pada penelitian Yunita et al., (2015), massa telur puyuh yang diberi tepung limbah rumput laut fermentasi adalah 5,08-8,38 gram/ekor/hari dengan massa telur pada perlakuan kontrol adalah 8,38 gram/ekor/hari. Hasil penelitian Allaily et al., (2020), dimana massa telur puyuh yang diberi pakan tepung limbah penetasan telur puyuh adalah 5,31-6,18 gram/ekor/hari.
4.5.Konversi Ransum
Rataan konversi ransum puyuh pada masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan konversi ransum puyuh umur 6 sampai 13 minggu.
Perlakuan Konversi ransum
P0 P1 P2 P3
3,93
a± 0,22 3,51
b± 0,21 3,54
b± 0,04 3,47
b± 0,25
Keterangan : Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05). P0 (Ransum Basal + 0% Tepung Spirulina), P1 (Ransum Basal + 1% Tepung Spirulina P2 (Ransum Basal + 2% Tepung Spirulina) P3 (Ransum Basal + 3% Tepung Spirulina).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa bahwa penambahan tepung
Spirulina (Spirulina platensis) sampai taraf 3 % dalam ransum memberikan
pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap konversi ransum (Tabel 9). Hal ini
dikarenakan penambahan 3% tepung Spirulina berpengaruh nyata lebih rendah
dari pada penambahan 0% tepung Spirulina, angka yang didapatkan menjelaskan
bahwa konversi ransum menurun seiring penambahan tepung Spirulina dalam
ransum. Menurunnya angka konversi ransum yang didapat diduga karena
konsumsi ransum yang rendah pada (Tabel 5) sejalan dengan produksi telur yang
tinggi pada (Tabel 6). Menurut Muslim et al., (2012) bahwa peningkatan
20
konsumsi diiringi dengan produksi yang baik, maka angka konversi ransum yang dihasilkan akan baik pula. Semakin baiknya angka konversi menandakan pakan yang diberikan dimanfaatkan dengan baik oleh ternak. Menurut Winata et al., (2017), semakin rendah angka konversi pakan berarti efisiensi penggunaan pakan semakin tinggi dan sebaliknya semakin tinggi angka konversi pakan berarti tingkat efisiensi pakan semakin rendah.
Konversi ransum pada penelitian ini tidak jauh berbeda dari penelitian Noferdiman et al., (2019), dimana konversi ransum puyuh yang diberi penambahan enzim mannanase berumur 7-14 minggu dalam ransum yang mengandung bungkil inti sawit adalah 3.84-3,90 dengan rataan konversi pada kontrol yaitu 3,87. Konversi ransum pada penelitian Yunita et al., (2015), yang diberi ransum yang mengandung tepung limbah rumput laut fermentasi umur puyuh 8 minggu adalah 3,17-6,26 dengan rataan konversi pada kontrol yaitu 3,17.
Hasil penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Ahmadi (2014), rataan konversi ransum puyuh berumur 8-14 minggu dengan penambahan tepung daun jati sebesar 3,30-3,62.
21
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penambahan 1% tepung Spirulina (Spirulina platensis) dalam ransum dapat menurunkan angka konversi ransum walaupun belum dapat meningkatkan produksi telur secara nyata.
5.2. Saran
Penambahan tepung Spirulina (Spirulina platensis) dapat digunakan pada
level 1 % dalam ransum.
22
DAFTAR PUSTAKA
Achmanu, A., M. Muharlien, dan S.Salaby. 2011. Pengaruh lantai kandang (rapat dan renggang) dan imbangan jantan-betina terhadap konsumsi pakan, bobot telur, konversi pakan dan tebal kerabang pada burung puyuh. Jurnal Ternak Tropika. 12: 2–15.
Ahmadi, S., 2014. Produktivitas Puyuh Petelur Coturnix Coturnix Japonica yang diberi Tepung Daun Jati ( Tectona grandis Linn . f .) dalam Ransum.
Skripsi. Departemnen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Insutut Pertanian Bogor, Bogor.
Allaily, Z,. C. A. Fitri,. dan Ilham. 2020. Pengaruh substitusi sebagian ransum komersil ayam petelur dengan bahan pakan campuran fermentasi tepung limbah ikan leubim (Canthidermis maculata) dan daun indigofera terhadap penampilan produksi telur puyuh. Jurnal Peternakan Nusantara. 20 (1): 56- 62.
Armen. 2005. Upaya Peningkatan Produksi Telur Burung Puyuh. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Padang.
Bachari, I., Roeswandy, dan Nasution, A. 2006. Pemanfaatan solid dekanter dan suplementasi mineral zinkum dalam ransum terhadap produksi burung puyuh ( coturnix-coturnix japonica ) umur 6 – 17 minggu dan daya tetas.
Jurnal Agribisnis Perternakan, 2 (2), 72–77.
Buwono, N. R., dan Nurhasanah, R. Q. 2018. Studi pertumbuhan populasi spitulina sp. pada skala kultur yang berbeda. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 10 (1), 26–33.
Choeronisa, S., Sujana, E., dan Widjastuti, T. 2016. Perfoma produksi telur puyuh (Coturnix coturnix japonica) yang di pelihara pada flock size yang berbeda. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, 1–7.
Christwardana, M., Nur, M. A., dan Hadiyanto. 2013. Spirulina platensis potensinya sebagai bahan pangan fungsional. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 2(1), 1–4.
Destia, M., Sudrajat, D., dan Dihansih, E. 2017. Pengaruh rasio panjang dan lebar kandang terhadap produktivitas burung puyuh (coturnix coturnix japonica) periode produksi. Jurnal Peternakan Nusantara, 3 (2), 57–64.
Desserheine, S.D.S. 1998. Penggunaan Aspergillus Niger untuk Meningkatkan
Nilai Gizi Bungkil Inti Sawit Dalam Ransum Broiler. Tesis. Pascasarjana
IPB, Bogor.
23
Dewi, R. R., Sujana, E., dan Anang, A. 2016. Performa pertumbuhan puyuh (coturnix-coturnix japonica) petelur jantan hasil persilangan warna bulu hitam dan coklat umur 0-7 minggu. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 1–9.
Fithriani, D., Amini, S., Melanie, S., dan Susilowati, R. 2015. Uji fitokimia, kandungan total fenol dan aktivitas antioksidan mikroalga Spirulina sp., Chlorella sp., dan Nannochloropsis sp. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan Dan Perikanan, 10 (2), 101–109.
Gunawan, A,. Muh. S. Djaya dan I. Arisandi. 2015. Subtitusi Empulur Sagu Fermentasi Dalam Ransum Terhadap Produksi Telur Burung Puyuh Umur 50-99 Hari.
Hariyati, R. 2008. Pertumbuhan dan biomassa spirulina sp dalam skala laboratoris. Laboratorium Ekologi dan Biosistematik Jurusan Biologi FMIPA Undip, 10 (1), 19–22.
Kartasudjana, R., dan E. Suprijatna. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Latif, S., Suprijatna, E., dan Sunarti, D. 2017. Performans produksi telur puyuh yang diberi ransum tepung limbah udang fermantasi. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan, 27 (3), 44–53.
Lokapirnasari, W. P., Soewarno, dan Dhamayanti, Y. 2011. Potensi crude spirulina terhadap protein effisiensi rasio pada ayam petelur. Jurnal Ilmiah Kedokteran Hewan, 2 (1), 5–8.
Luthfi, M. I,. H. Nur, dan Anggraen. 2015. Pengaruh penambahan larutan ekstrak kunyit (curcuma domestica) dalam air minum terhadap Produksi Telur Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica). Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda Bogor. Vol.1 (2): 81.
Mahmudah, N., Sarengat, W., dan Suprijatna, E. 2015. Pengaruh sistem kandang bertingkat dan penggunaan ampas teh dalam ransum terhadap performan puyuh petelur (cortunix cortunix japonica). Animal Agriculture Journal, 4 (1), 54–62.
Maknun, L., Kismiati, S., dan Mangisah, I. 2015. Performans produksi burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) dengan perlakuan tepung limbah penetasan telur puyuh. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan, 25 (3), 53–58.
Mastika, M., A. W. Puger dan T. I. Putri. 2014. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Produksi dan Kualitas Telur. Udayana Press. Denpasar.
24
Mawaddah, S., Hermana, W., dan Nahrowi. 2018. Pengaruh pemberian tepung deffated larva bsf (hermetia illucens) terhadap performa produksi puyuh petelur (coturnix coturnix japonica). Jurnal Ilmu Nutrisi Dan Teknologi Pakan, 16 (3), 47–51.
Muslim, Nuraini, dan Mirzah. 2012. Pengaruh pemberian campuran dedak dan ampas tahu fermentasi dengan monascus purpureus terhadap performa burung puyuh. Jurnal Peternakan, 9 (1), 15–26.
Noferdiman, Sestilawarti, dan Zubaidah. 2019. Penggunaan Bungkil Inti Sawit dan Enzim Mannanase dalam Ransum terhadap Performa Produksi Telur Puyuh (Coturnix coturnix japonica) . Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Vol. 8, No.1: 11-19.
Noriko, N., Masduki, A., Perdana, A. T., Mudrikah, E., Primasatya, E., dan Canadianti, S. F. 2011. Fungsionalisasi limbah cair industri tahu tradisional primkopti jakarta barat sebagai media tumbuh spirulina platensis. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains Dan Teknologi, 1 (1), 38–
41.
Nort, M.O., dan Bell, D.D., 1990. Edition 9
th. Commercial Chicken Production Manual. 4th Edition.
NRC. 1994. Nutrien Requirement of Poultry National Academy Science, Washington DC.
Nuraini, Sabrina, dan S. A. Latif. 2012. Penampilan dan kualitas telur puyuh yang diberi pakan mengandung produk fermentasi dengan Neurospora crassa.
Jurnal Peternakan Indonesia. 14(2) : 385-391.
Nurzamzam, D. 2015. Pengaruh pemberian spirulina dalam ransum terhadap kualitas interior telur ayam arab. Fakultas Peternakan UNPAD, 1–13.
Prasadi, O. 2018. Pertumbuhan dan biomasa spirulina sp. dalam media pupuk sebagai bahan pangan fungsional. Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan, 10 (2), 119.
Prihatman, K., 2000. Budi Daya Burung Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica), Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas.
Rasyaf, M. 1991. Pengelolaan Produksi Telur – Edisi Kedua. Kasinius.
Yogyakarta.
Saerang, J., Yuwanta, T., dan Nasroedin. 1998. Pengaruh minyak nabati dan
lemak hewani dalam ransum puyuh petelur terhadap performan daya tetas
kadar kolesterol telur dan plasma darah. Buletin Peternakan, 22, 96–101.
25
Sependini, W. 2017. Pengaruh Penggunaan Enzim Mananase dalam Ransum yang Mengandung Bungkil Inti Sawit (BIS) Terhadap Produksi Telur Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica). Skripsi. Universitas Jambi. Jambi.
Sestilawarti, Mirzah, dan Montesqrit. 2013. Pengaruh pemberian mikrokapsul minyak ikan dalam ransum puyuh terhadap performa produksi. Jurnal Peternakan Indonesia, 15(1), 69–74.
Setiawan, D. 2006. Performa Produksi Burung Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica) Pada Perbandingan Jantan dan Betina Yang Berbeda. Skripsi.
Program Studi Teknologi Produksi Ternak, Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Situmorang, N.A., L.D. Mahfudz dan U. Atmomarsono. 2013. Pengaruh pemberian tepung Rumput laut (Gracilaria Verrucosa) dalam ransum terhadap efisiensi protein ayam broiler. Animal Agricultural Journal. 2 (2):
49-56.
Subekti, E., dan Hastuti, D. 2013. Budidaya puyuh (coturnix coturnic japonica) di pekarangan sebagai sumber protein hewani dan penambah income keluarga. Fakultas Pertanian, Universitas Wahid Hasyim Semarang, 9 (1), 1–10.
Steel, R.G. dan H.J. Torrie. 1984. Prinsip dan Prosedur Statistik. Suatu pendekatan biometrik. Alih bahasa : B. Sumantri. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Ta’inindari, Y., dan Sopandi, T. 2013. Reduksi kadar lemak dan kolesterol telur puyuh yang diberi pakan serbuk daun seligi (phyllanthus buxifolius muell) sebagai feed supplement. Fakultas MIPA Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, 6 (2), 1–6.
Triyanto. 2007. Performa Produksi Burung Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica) Periode Produksi Umur 6-13 Minggu pada Lama Pencahayaan yang Berbeda. Skripsi. Program Studi Teknologi Produksi Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Ulya, S., Sedjati, S., & Yudiati, E. 2018. Kandungan protein spirulina platensis pada media kultur dengan konsentrasi nitrat. Buletin Oseanografi Marina, 7(2), 98–102.
Widjastuti, T., dan Kartasudjana, R. 2006. Pengaruh pembatasan ransum dan implikasinya terhadap performa puyuh petelur pada fase produksi pertama.
J.Indon.Trop.Anim.Agric. 31, 162–166.
26
Widjastuti, T., Sujana, E., dan Balia, R. 2019. Penambahan spirulina sebagai suplemen pakan dalam ransum pada produksi dan kualitas telur ayam sentul. International Jurnal on Advanced Science Engineering Information Technology, 9 (1), 379–383.
Widodo, A. R., Setiawan, H., Sudiyono, Sudibya, dan Indreswari, R. 2013.
Kecernaan nutrien dan performan puyuh (coturnix coturnix japonica) jantan yang diberi ampas tahu fermentasi dalam ransum. Tropical Animal Husbandry, 2 (1), 51–57.
Widyastuti, W., Mardiati, Siti, M., dan Saraswati, Tyas, R. 2014. Pertumbuhan puyuh (coturnix coturnix japonica) setelah pemberian tepung kunyit (curcuma longa L.) pada pakan. Buletin Anatomi Dan Fisiologi, 22 (2), 12–20.
Winata, N., K. Prasen, dan S. Tana. 2017. Pertumbuhan puyuh (Coturnix coturnix japonica) setelah pemeliharaan dengan cahaya monokromatik. Buletin Anatomi dan Fisiologi. Vol.2 (2):134-139.
Yunita, W. K,. W. Sarengat dan E. Suprijatna. 2015. Penggunaan tepung limbah rumput laut (Gracilaria verrucosa) terfermentasi dalam ransum terhadap performans uyuh petelur (Coturnix coturnix japonica). Vol. 4(1): 121-126.
Yuwanta, T. 2010. Telur dan Kualitas Telur. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Zahra, A. A., Sunarti, D., dan Suprijatna, E. 2012. Pengaruh pemberian pakan
bebas pilih (free choice feeding) terhadap performans produksi telur
burung puyuh (coturnix coturnix japonica). Animal Agricultural Journal,
1(1), 1–11.
27
LAMPIRAN
Lampiran 1. Analisis ragam konsumsi ransum puyuh selama penelitian (gram/ekor/hari).
Ulangan
Perlakuan
P0 P1 P2 P3 Total
1 23,71 22,32 23,93 23,03 93,00
2 22,44 22,61 22,48 22,58 90,10
3 23,71 22,68 21,17 23,22 90,79
4 23,31 22,45 22,91 23,04 91,71
5 22,89 21,12 22,43 23,03 89,47
Jumlah 116,07 111,18 112,92 114,90 455,06
Rataan 23,21 22,24 22,58 22,98
SD 0,55 0,64 0,99 0,24
FK = (455,06)
220 = 10354,15
JKT = (23,71
2+ 22,32
2+ 223,93
2+ 23,03
2+ + 23,03
2) -FK
= 10363,94 – 10354,15
= 9,79
JKP = 116,07
2+ 111,18
2+ 112,92
2+ 114,90
2– FK 5
= 10356,95 – 10354,15
= 2,80 JKG = JKT – JKP
= 9,79– 2,80
= 6,99 KTP = JKP / dBp
= 2,80/ 3
= 0,93 KTG = JKG/dBg
= 6,99/ 16
= 0,44
28