• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP PETANI TERHADAP PENERAPAN SERTIFIKASI ROUNDTABLE SUSTAINABLE PALM OIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SIKAP PETANI TERHADAP PENERAPAN SERTIFIKASI ROUNDTABLE SUSTAINABLE PALM OIL"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

SIKAP PETANI TERHADAP PENERAPAN SERTIFIKASI

ROUNDTABLE SUSTAINABLE PALM OIL (RSPO) OLEH UNIT DAGANG LESTARI (UD. LESTARI) DI DESA BANDAR REJO, KECAMATAN

BANDAR MASILAM, KABUPATEN SIMALUNGUN, PROVINSI SUMATERA UTARA

SKRIPSI

OLEH :

LISA SYAHFITRI PURBA 170304054

AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)

BANDAR MASILAM, KABUPATEN SIMALUNGUN, PROVINSI SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Oleh

LISA SYAHFITRI PURBA 170304054

AGRIBISNIS

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(3)

Ketua Anggota

(Ir. M. Jufri, M.Si) (Emalisa, SP, M.Si) NIP. 196011101988031003 NIP. 197211181998022001

Tanggal Lulus: 12 Agustus 2021

Judul Skripsi : SIKAP PETANI TERHADAP PENERAPAN SERTIFIKASI ROUNDTABLE SUSTAINABLE PALM OIL (RSPO) OLEH UNIT DAGANG LESTARI (UD. LESTARI) DI DESA BANDAR REJO, KECAMATAN BANDAR MASILAM, KABUPATEN SIMALUNGUN, PROVINSI SUMATERA UTARA

Nama : LISA SYAHFITRI PURBA

NIM : 170304054

Program Studi : AGRIBISNIS

Disetujui Oleh:

Komisi Pembimbing

(4)

Terhadap Penerapan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Oleh Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara”. Telah dipertahankan di depan dewan penguji Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan diterima untuk memenuhi sebagian dari persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pertanian.

Pada Tanggal, 12 Agustus 2021 Komisi Penguji Skripsi,

Ketua : (Ir. M. Jufri, M.Si)

NIP. 19601110198803100 ………

Anggota : 1. (Emalisa, SP, M.Si)

NIP. 197211181998022001 ………

2. (Dr. Ir. Salmiah, M.S)

NIP. 195702171986032001 ………

3. (Nurul Fajriah Pinem, SP, M.Si)

NIP. 198204282015042001 ………

(5)

i ABSTRAK

Lisa Syahfitri Purba (170304054) dengan judul “Sikap Petani Terhadap Penerapan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Oleh Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara” penelitian ini dibimbing oleh Bapak Ir. M. Jufri, M.Si sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Emalisa, SP, M.Si sebagai Anggota Komisi Pembimbing.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sertifikasi RSPO oleh UD. Lestari kepada petani di Desa Bandar Rejo dan untuk menganalisis sikap petani terhadap penerapan sertifikasi RSPO yang dilakukan oleh UD. Lestari di Desa Bandar Rejo.

Metode penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 29 petani. Data penelitian diperoleh dari data sekunder dan data primer. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan teknik penskalaan likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sertifikasi RSPO dilakukan dengan menjunjung tinggi persyaratan utama yaitu petani harus dapat menunjukkan bahwa mereka memenuhi lima kriteria kelayakan serta memenuhi prinsip dan kriteria RSPO dan dari penelitian yang dilakukan jumlah petani yang menyatakan sikap positif sebanyak 62,06% dan yang menyatakan sikap negatif sebanyak 37,93%.

Kata kunci: Sikap, Petani, Sertifikasi, RSPO

(6)

ii ABSTRACT

Lisa Syahfitri Purba (170304054) with the thesis title is “Farmers' Attitudes towards the Implementation of Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Certification by Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) in Bandar Rejo Village, Bandar Masilam District, Simalungun Regency, North Sumatera Province” this research guided by Bapak Ir. M. Jufri, M.Si as a Chair of the Advisory Commission and Ibu Emalisa, SP, M.Si as a Member of the Advisory Commission.

The aim of this study is to analyze the RSPO certification by UD. Lestari to farmers in Bandar Rejo Village and to analyze farmers’ attitudes towards the implementation of RSPO certification carried out by UD. Lestari in Bandar Rejo Village. The method of determining the sample was carried out using a simple technique random sampling with a total sample of 29 farmers. The research data were obtained from secondary data and primary data. The data analysis methods that used in this study was a qualitative descriptive method and likert scaling. The results of the study show that the application of certification The RSPO was carried out by upholding the main requirements, namely that smallholders must can demonstrate that they meet the five eligibility criteria as well as meet the RSPO principles and criteria and from the research conducted, the number of farmers who expressed a positive attitude was 62.06% and those who expressed a positive attitude negative as much as 37.93%..

Keywords: Attitude, Farmers, Certification, RSPO

(7)

iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Lisa Syahfitri Purba, lahir di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 26 April 2000.

Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari Bapak Samsudin Purba dan Ibu Rolastri.

Pendidikan formal yang ditempuh penulis adalah sebagai berikut:

1. Tahun 2005 masuk SD Swasta Taman Siswa Bandar Tinggi dan lulus tahun 2011.

2. Tahun 2011 masuk SMP Negeri 1 Sei Suka Kab. Batubara dan lulus tahun 2014.

3. Tahun 2014 masuk SMA Negeri 1 Sei Suka Kab. Batubara dan lulus tahun 2017.

4. Tahun 2017 menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SBMPTN.

Kegiatan yang diikuti penulis selama masa perkuliahan:

1. Mengikuti PKKMB di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada tahun 2017.

2. Mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat Program Studi Agribisnis di Desa Mardinding dan Desa Sala Bulan pada tahun 2018 dan 2019.

3. Anggota divisi pemberdayaan perempuan PEMA FP-USU 2019.

4. Anggota divisi keagamaan IMASEP FP-USU 2020.

5. Mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) secara daring di Desa Pariksabungan Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2020 dari bulan Juli.

(8)

iv

6. Melaksanakan penelitian skripsi tahun 2021 di Desa Bandar Rejo Kecamatan Bandar Masilam Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara.

(9)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatan gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dengan judul “Sikap Petani Terhadap Penerapan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Oleh Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara”.

Sebagai rasa syukur pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Ir. M. Jufri, M.Si, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan serta saran dan selalu memberikan banyak nasihat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Ibu Emalisa, S.P, M.Si, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan serta saran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec, selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Bapak Ir. M. Jufri, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

4. Kedua orangtua tercinta yaitu Bapak Samsudin Purba dan Ibu Rolastri serta kedua adik tersayang Achyar Cholis dan Romi Dihardi serta keluarga yang selalu

(10)

vi

memberikan doa, kasih sayang dan dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini tepat pada waktunya.

5. Bapak Ir. Luhut Sihombing, M.P, selaku dosen pembimbing akademik penulis yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, saran dan nasihat sehingga penulis dapat menyelesaikan masa perkuliahan dengan baik.

6. Seluruh dosen di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara khususnya di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah membekali ilmu pengetahuan kepada penulis selama masa perkuliahan.

7. Seluruh pegawai di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara khususnya pegawai di Program Studi Agribisnis yang telah membantu penulis dalam proses administrasi.

8. UD. Lestari, Kepala Desa, Perangkat Desa dan sampel yang telah bersedia menjadi sampel untuk memberikan data, informasi yang berkaitan dengan penelitian ini.

9. Abang kakak senior dan seluruh teman-teman angkatan 2017 yang telah banyak membantu dan memberi semangat kepada penulis selama masa perkuliahan hingga proses penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan karena keterbatasan yang dimiliki penulis. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, amin.

Medan, Agustus 2021

Penulis

(11)

vii DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 4

1.3 Tujuan penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka ... 6

2.1.1 Petani ... 6

2.1.2 Kelapa Sawit ... 8

2.1.3 Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) ... 10

2.2 Landasan Teori ... 14

2.2.1 Teori Sikap ... 14

2.3 Penelitian Terdahulu ... 20

2.4 Kerangka Pemikiran ... 21

2.5 Hipotesis Penelitian ... 22

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 23

3.2 Metode Penentuan Sampel ... 23

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 24

3.4 Metode Analisis Data ... 25

3.5 Definisi dan Batasan Operasional ... 26

3.5.1 Definisi ... 26

3.5.2 Batasan Operasional ... 27

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ... 28

4.1.1 Luas dan Letak Geografis Desa ... 28

4.1.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2020 ... 28

4.1.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2020 ... 29

4.1.4 Sarana dan Prasarana Tahun 2020 ... 30

(12)

viii

4.2 Karakteristik sampel ... 30

4.2.1 Luas Lahan ... 31

4.2.2 Umur ... 31

4.2.3 Tingkat Pendidikan ... 32

4.2.4 Pengalaman Bertani ... 33

4.3 Gambaran umum Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) ... 33

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Penerapan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) oleh Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara ... 36

5.2 Sikap Petani Terhadap Penerapan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) oleh Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara ... 41

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 43

6.2 Saran ... 44 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

ix

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

1.1 Luas Lahan Tanaman Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2016- 2020

1

2.3 Penelitian Terdahulu 20

4.1 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2020

28 4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun

2020

29 4.3 Sarana dan Prasarana di Desa Bandar Rejo Tahun 2020 30 4.4 Karakteristik Sampel Berdasarkan Luas Lahan 31

4.5 Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur 32

4.6 Karakteristik Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan 32 4.7 Karakteristik Sampel Berdasarkan Pengalaman Bertani 33 4.8 Sikap Petani Terhadap Penerapan Sertifikasi RSPO di Desa

Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun

42

(14)

x

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

1. Skema Kerangka Pemikiran 22

(15)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul

1. Karakteristik Petani Sampel di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun

2. Pernyataan Positif dan Pernyataan Negatif Sikap Petani Terhadap Penerapan Sertfikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) oleh UD.

Lestari

3. Jawaban Sampel Terhadap Pernyataan Sikap

4. Total Nilai Skala Kategori Jawaban Sampel Terhadap Pernyataan Sikap 5. Skor Sikap dan Interpretasinya

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perkebunan Indonesia memiliki komoditas unggulan yaitu kelapa sawit. Hasil olahan dari kelapa sawit adalah minyak kelapa sawit atau yang di sebut dengan Crude Palm Oil (CPO). Minyak kelapa sawit merupakan komoditas andalan Indonesia dan penyumbang devisa terbesar bagi negara. Hal ini dapat dilihat bahwa minyak kelapa sawit menjadi komoditas unggulan ekspor dari negara Indonesia ke berbagai negara di dunia. Meningkatnya kebutuhan minyak nabati domestik serta besarnya potensi ekspor minyak kelapa sawit (CPO) telah memicu pesatnya pertumbuhan luas kebun sawit di tanah air (Purba dan Ardiyanti, 2021).

Peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia berjalan sejajar dengan peningkatan luas perkebunan sawit Indonesia. Seperti dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1.1 Luas Lahan Tanaman Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2016-2020

No Tahun Luas Lahan (Juta Ha)

1. 2016 11,2

2. 2017 12,4

3. 2018 14,3

4. 2019 14,5

5. 2020 14,9

Jumlah 67,3

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2021

Berdasarkan Tabel 1.1 luas lahan tanaman kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2016 sampai tahun 2020 mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 luas lahan sawit Indonesia sebesar 11,2 juta Ha, pada tahun 2017 sebesar 12,4 juta Ha, pada tahun 2018 sebesar 14,3 juta Ha, pada tahun 2019 sebesar 14,5 juta Ha, dan pada tahun 2020 sebesar 14,9 juta Ha (Badan Pusat Statistik, 2021).

(17)

2

Perkembangan industri minyak sawit Indonesia yang cepat telah menarik perhatian masyarakat dunia, khususnya produsen minyak nabati utama dunia. Indonesia menjadi negara produsen minyak sawit terbesar dunia sejak 2006. Pada 2016, Indonesia berhasil mengungguli Malaysia. Share produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia telah mencapai 53,4% dari total Crude Palm Oil (CPO) dunia, sedangkan Malaysia memiliki pangsa sebesar 32%. Demikian halnya dalam pasar minyak nabati global, sejak 2004 minyak sawit juga berhasil mengungguli minyak kedelai (soybean oil). Pada 2004, total produksi Crude Palm Oil (CPO) mencapai 33,6 juta ton, sedangkan minyak kedelai adalah 32,4 juta ton. Pada 2016, share produksi Crude Palm Oil (CPO) dunia mencapai 40% dari total nabati utama dunia, sedangkan minyak kedelai memiliki pangsa sebesar 33,18%

(United States Department of Agriculture, 2016).

Petani rakyat sebagai pelaku rantai pasok hulu memiliki peranan penting dalam menciptakan sistem rantai pasok yang terintegrasi dalam mengatasi isu berkelanjutan dan meningkatkan produktivitas. Dewasa ini, industri kelapa sawit Indonesia dihadapkan dengan isu keberlanjutan yang menjadi tantangan bagi seluruh pelaku rantai pasok, khususnya petani rakyat sebagai produsen. Menurut Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) anti sawit melakukan kampanye negatif terhadap industri minyak sawit Indonesia. Kampanye tersebut mempengaruhi opini semua rantai pasok mulai dari konsumen, produsen, industri dan kelembagaan pendukung hingga pemerintah (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, 2016).

Perkebunan kelapa sawit Indonesia diklaim tidak ramah lingkungan dan tidak mengarah pada pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan. Kebakaran hutan dan

(18)

lahan dalam pembukaan maupun perluasan lahan mengakibatkan banyak ekosistem hutan yang rusak. Rusaknya ekosistem ini berimbas pada terganggunya rantai makanan dan hilangnya spesies langka. Pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak jarang menimbulkan konflik lahan dan konflik sosial yang mengganggu kehidupan masyarakat sekitar (Sibarani et al., 2016).

Isu-isu yang dimunculkan ini bertolak belakang dengan fakta-fakta dari pemerintah Indonesia. Indonesia sebagai pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, sebenarnya memiliki potensi pasar yang besar di Eropa karena kebutuhan minyak kelapa sawit di Eropa memang cukup besar, namun dengan adanya isu-isu tersebut maka Indonesia tidak dapat mengaktualisasikan kepentingan nasionalnya dan produk minyak sawit Indonesia semakin sulit memasuki Kawasan Uni Eropa (Sally, 2016) .

Untuk menghadapi persoalan perdagangan sawit ke Uni Eropa ternyata mudah, yakni hanya dengan memiliki sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).

Persoalannya terletak pada proses yang rumit, memerlukan biaya, penilaian- penilaian yang tidak “fair”. Cara-cara inilah yang membuat perusahaan perkebunan dan petani sawit memperoleh sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai “pintu masuk” memuluskan ekspor minyak sawit Indonesia ke Uni Eropa (Erwan, 2017).

Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) merupakan standar dan ukuran yang dapat digunakan dalam cakupan internasional serta berkelanjutan untuk produk-produk yang dihasilkan dari kelapa sawit. RSPO dan ISPO memiliki Principles and Criteria (P&C) yang

(19)

4

berfokus pada hukum, ekonomi, lingkungan, kebutuhan sosial untuk produksi kelapa sawit berkelanjutan. Di dalam Principles and Criteria (P&C) RSPO dan ISPO terdapat teknik budidaya dan pengelolaan kelapa sawit yang baik atau Good Agricultual Practices (GAP) yang dapat mendukung pembangunan kelapa sawit berkelanjutan secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Pembukaan lahan tanpa bakar, menggunakan pupuk organik, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara organik, menggunakan bibit bersertifikat, dan menggunakan lahan bebas konflik merupakan bagian dari praktik-praktik keberlanjutan pada GAP (Yutika et al., 2019).

Saat ini di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara sedang dilaksanakan penerapan sertifikasi RSPO yang dilakukan oleh UD. Lestari dengan mengikuti standar dan kriteria yang telah ditetapkan. Sertifikasi ini dilakukan agar petani sawit rakyat menerapkan praktik- praktik sawit berkelanjutan, sehingga sawit Indonesia dapat diterima internasional dan meningkatan produksi yang akan mempengaruhi pendapatan petani sawit di desa ini. Maka dari itu peneliti tertarik untuk mengambil judul Sikap Petani terhadap Penerapan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) oleh Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana penerapan sertifikasi RSPO oleh UD. Lestari kepada petani di Desa Bandar Rejo?

2. Bagaimana sikap petani terhadap penerapan sertifikasi RSPO yang dilakukan oleh UD. Lestari di Desa Bandar Rejo?

(20)

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisis penerapan sertifikasi RSPO oleh UD. Lestari kepada petani di Desa Bandar Rejo.

2. Untuk menganalisis sikap petani terhadap penerapan sertifikasi RSPO yang dilakukan oleh UD. Lestari di Desa Bandar Rejo.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai tambahan informasi bagi para petani sawit.

2. Sebagai informasi dan bahan evaluasi bagi pemerintah mengenai penerapan sertifikat RSPO di Indonesia.

3. Sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.

4. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

(21)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Petani

Secara umum, yang dimaksud dengan petani adalah orang yang memanfaatkan hasil bumi seperti bercocok tanam atau memelihara hewan ternak demi tercapainya tujuan sesuai yang diharapkan. Meskipun demikian, apabila dilihat dari hubungannya dengan lahan, maka petani dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain :

1) Petani pemilik penggarap ialah petani yang memiliki lahan usaha sendiri serta lahannya tersebut diusahakan atau digarap sendiri dan status lahannya disebut lahan milik.

2) Petani penyewa ialah petani yang menggarap tanah orang lain atau petani lain dengan status sewa. Alasan pemilik lahan menyewakan lahan miliknya karena membutuhkan uang tunai dalam jumlah yang cukup besar dalam waktu singkat atau lahan yang dimilikinya itu terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Besarnya nilai sewa lahan biasanya ada hubungan dengan tingkat produktivitas lahan usaha yang bersangkutan, makin tinggi produktivitas lahan tersebut makin tinggi pula nilai sewanya. Namun, dalam praktiknya nilai sewa lahan usaha tani sawah berkisar antara 50-60% dari produktivitasnya, misalnya apabila per hektar hasilnya sebesar 1-1,2 ton gabah kering per tahun, maka nilai sewanya harus senilai gabah tersebut pada waktu terjadi transaksi. Lamanya waktu sewa biasanya minimal satu tahun untuk selanjutnya dapat diperpanjang kembali sesuai dengan perjanjian antara pemilik tanah dan penyewa.

(22)

3) Petani penyakap (penggarap) ialah petani yang menggarap tanah milik petani lain dengan sistem bagi hasil. Produksi yang diberikan penyakap kepada pemilik tanah ada yang setengahnya atau sepertiga dari hasil yang diperoleh dari hasil lahan digarapnya. Biaya produksi usaha tani dalam sistem sakap ada yang dibagi dua dan ada pula yang seluruhnya ditanggung penyakap, kecuali pajak tanah dibayar oleh pemilik tanah.

4) Petani penggadai adalah petani yang menggarap lahan usaha tani orang lain dengan sistem gadai. Adanya petani yang menggadaikan lahan miliknya, karena petani pemilik lahan tersebut membutuhkan uang tunai yang cukup besar dalam waktu mendesak, tanah miliknya tersebut tidak mau pindah ke tangan orang lain secara mutlak. Namun, adanya hak gadai tersebut secara berangsur-angsur pindah haknya menjadi milik penggadai. Hal ini terjadi apabila uang gadai yang pertama tidak dapat dikembalikan pada waktu yang telah ditetapkan atau uang gadainya terlalu besar, sehingga tidak mungkin lagi untuk dikembalikan. Dalam keadaan demikian biasanya penggadai menambah uang gadainya sesuai dengan nilai atau harga tanah.

Petani adalah orang yang mengelola salah satu atau beberapa sub sektor yang termasuk dalam sektor pertanian dengan tujuan untuk dijual, serta menanggung resikonya sendiri. Seiring dengan perkembangannya sektor pertanian tidak hanya bertindak sebagai penyedia bahan makanan saja. Akan tetapi juga tumbuh menjadi sektor dengan tujuan untuk di produksi dalam skala besar atau menjadi pertanian industrial dan mulai menerapkan teknologi yang ada (Aisyiyah, 2018).

Berikut pembagian petani berdasarkan sub sektor pertanian menurut Badan Pusat Statistik (2020):

(23)

8

1. Petani sub sektor tanaman pangan seperti: padi, palawija.

2. Petani sub sektor hortikultura seperti: sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman obat-obatan.

3. Petani sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) seperti: kelapa, kopi robusta, cengkeh, tembakau, dan kapuk odolan. Jumlah komoditas ini juga bervariasi antara daerah.

4. Petani sub sektor peternakan seperti: ternak besar (sapi, kerbau), ternak kecil (kambing, domba, babi, dan lain-lain), unggas (ayam, itik, dan lain-lain), hasil-hasil ternak (susu sapi, telur, dan lain-lain).

5. Petani sub sektor perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya.

Pada sub sektor perikanan meliputi semua kegiatan penangkapan, pembenihan, dan budidaya segala jenis ikan dan biota air lainnya, baik yang berada di air tawar, air payau maupun air laut. Komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan perikanan meliputi segala jenis ikan, crustacea, mollusca, rumput laut, dan biota air lainnya yang diperoleh dari penangkapan (di laut dan perairan umum) dan budidaya (laut, tambak, keramba, jaring apung, kolam, dan sawah).

2.1.2 Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tumbuhan tropis yang tergolong dalam famili Palmae dan berasal dari Afrika Barat. Meskipun demikian, dapat tumbuh di luar daerah asalnya termasuk di Indonesia. Hingga kini tanaman ini telah diusahakan dalam bentuk perkebunan dan pabrik kelapa sawit (Muliani et al., 2017).

(24)

Kelapa sawit termasuk tumbuhan yang tingginya dapat mencapai 0-24 meter.

Bunga dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil, apabila masak berwarna merah kehitaman dan daging buahnya padat. Tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan nasional, selain mampu menyediakan lapangan kerja, hasil dari tanaman ini juga merupakan sumber devisa negara yaitu sebagai penghasil minyak, bahan industri maupun bahan bakar (Hasibuan dan Maman, 2016).

Tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan saat ini terdiri dari dua jenis yang umum ditanam yaitu E. guineensis dan E. oleifera. Antara dua jenis tanaman kelapa sawit tersebut mempunyai fungsi dan keunggulan didalamnya. Jenis E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi sedangkan E. oleifera memiliki ukuran tanaman yang tidak tinggi. Banyak orang sedang menyilangkan kedua spesies ini untuk mendapatkan spesies yang produksinya tinggi dan mudah dipanen. Jenis E.

oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik yang ada. Tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan nasional (Fatimah, 2020).

Taksonomi tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Famili : Palmaceae

Subfamili : Cocoideae Genus : Elaeis

(25)

10

Spesies : Elaeis guineensis Jacq.

(Syahputra, 2018).

Elaeis berasal dari kata Elaion yang dalam bahasa Yunani berarti minyak.

Guineensis berasal dari kata Guinea yaitu Pantai Barat Afrika dan Jacq singkatan dari Jacquin seorang Botanist dari Amerika. Varietas Elaeis guineensis Jacq. cukup beragam dan biasanya diklasifikasikan atas tipe buah, bentuk luar, tebal cangkang, warna buah dan lain-lain (Prayogi et al., 2016).

2.1.3 Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO)

Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) merupakan organisasi yang tidak mengutamakan keuntungan finansial dalam menjalankan kegiatan atau usahanya, yang tujuannya untuk menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit: Produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pelestarian lingkungan atau konservasi alam, dan LSM sosial. RSPO bersama para pemangku kepentingan bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk minyak sawit berkelanjutan. Perwakilan beragam pemangku kepentingan pada struktur kepemimpinan RSPO dialokasikan secara adil bagi setiap sektor. Dengan ini, RSPO mengikuti filosofi "roundtable" dengan memberikan hak yang sama bagi setiap kelompok pemangku kepentingan untuk membawa agenda yang spesifik, memfasilitasi kerjasama dan kepentingan berbagai pihak menuju tujuan yang sama dan membuat keputusan berdasarkan konsensus.

(26)

Pada 2001, Worldwide Fund for Nature (WWF) mulai mengeksplorasi kemungkinan roundtable untuk minyak sawit berkelanjutan. Hasilnya adalah kerja sama informal antara Aarhus United UK Ltd, Golden Hope Plantations Berhad, Migros, Malaysian Palm Oil Association, Sainsbury’s dan Unilever bersama WWF pada tahun 2002. Sebagai respon terhadap dorongan global bagi pengelolaan minyak sawit berkelanjutan, Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) dibentuk pada tahun 2004 dengan tujuan untuk mempromosikan pertumbuhan dan penggunaan produk-produk minyak sawit berkelanjutan melalui standar global kredibel dan keterlibatan para pemangku kepentingan. Anggota-anggota pendirinya adalah Aarhus United UK Ltd., Karlshamns AB (Swedia), Malaysian Palm Oil Association (MPOA), Migros Genossenschafts Bund (Switzerland), Unilever NV (Netherlands), dan Worldwide Fund for Nature (WWF). Organisasi-organisasi berikut juga turut aktif di Dewan Eksekutif RSPO sejak awal Golden Hope Plantations Berhad (Malaysia), Loders Croklaan (Netherlands), Pacic Rim Palm Oil Ltd.(Singapore), dan The Body Shop (UK). Kantor Pusat organisasi ini berlokasi di Zurich, Swiss, sedangkan sekretariat berlokasi di Kuala Lumpur dengan kantor perwakilan di Jakarta.

A. Tujuan RSPO

Roundtable mempromosikan praktik produksi minyak sawit bekelanjutan yang membantu mengurangi penggundulan hutan, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menghargai kehidupan masyarakat pedesaan di negara penghasil minyak sawit.

RSPO menjamin bahwa tidak ada hutan primer baru atau kawasan bernilai konservasi tinggi lainnya yang dikorbankan untuk perkebunan kelapa sawit, bahwa perkebunan menerapkan praktik terbaik dan bahwa hak-hak dasar dan kondisi

(27)

12

hidup jutaan pekerja perkebunan, petani kecil, dan masyarakat asli dihargai sepenuhnya.

Dengan pandangan inilah, Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) secara proaktif terlibat dengan petani kelapa sawit, pengolah sawit, perusahaan, pengecer, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan investor untuk bekerja sama menuju suplai global minyak sawit yang diproduksi dengan bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

B. Visi dan Misi RSPO a. Visi

RSPO akan mentransformasi pasar untuk menetapkan standar minyak sawit berkelanjutan.

b. Misi

1. Untuk memajukan produksi, pengadaan, keuangan, dan penggunaan produk- produk minyak kelapa sawit berkelanjutan;

2. Untuk mengembangkan, mengimplementasi, memverifikasi, memastikan, dan meninjau secara berjangka standar global yang kredibel bagi seluruh rantai suplai minyak sawit berkelanjutan;

3. Untuk mengawasi dan mengevaluasi dampak ekonomis, lingkungan, dan sosial dari penggunaan minyak kelapa sawit berkelanjutan di pasaran;

4. Untuk berinteraksi dan berkomitmen pada semua pemangku kepentingan di seluruh rantai suplai, termasuk pemerintahan dan konsumen;

5. Rantai suplai termasuk ekosistem, komunitas, petani, pedagang, pengolah, produsen barang konsumen, pengecer, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil.

(28)

C. Prinsip dan Kriteria (P&C) RSPO

Prinsip dan kriteria RSPO untuk Sustainable Palm Oil Production (P&C RSPO) merupakan panduan umum untuk produksi minyak sawit secara berkelanjutan.

Roundtable telah menentukan dasar dan kriteria praktis untuk menentukan produksi berkelanjutan minyak sawit. Mereka memastikan hak fundamental pemilik tanah sebelumnya, komunitas lokal, pekerja perkebunan, petani kecil dan keluarganya dihargai dan diperhitungkan secara penuh, bahwa tidak ada hutan primer atau kawasan bernilai konservasi tinggi telah ditebang untuk produksi minyak sawit sejak November 2005, dan bahwa pemilik lumbung serta perkebunan mengurangi jejak lingkungannya.

Roundtable telah menciptakan dua sistem sertifikasi berdasarkan P&C RSPO: Satu, untuk memastikan minyak sawit diproduksi secara berkelanjutan, dan untuk memastikan keintegritasan perdagangan minyak sawit berkelanjutan di mana minyak sawit yang dijual sebagai minyak berkelanjutan sesuai dengan minyak sawit yang diproduksi di perkebunan bersertifikasi. Kedua, sistem melibatkan badan sertifikasi pihak ketiga. Berkat sistem sertifikasi yang ketat, pengolah minyak sawit dan konsumen bisa yakin bahwa produknya mengandung atau mendukung minyak sawit berkelanjutan.

P&C RSPO harus ditinjau setiap lima tahun sekali. Walau Dewan Eskekutif RPSO percaya bahwa P&C tetap akan relevan dan dibutuhkan, peninjauan secara reguler memastikan bahwa P&C dapat dibuat lebih efektif. Dengan demikian dokumen P&C Generik akan ditinjau ulang pada 2012. Perubahan yang diajukan terhadap

(29)

14

P&C akan diputuskan di Majelis Umum (GA9) pada November 2012 (RSPO Facsheet).

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Teori Sikap A. Pengertian Sikap

Menurut Fesbein dan Ajzen, sikap merupakan penilaian yang menyeluruh terhadap perilaku atau tindakan yang akan diambil (Afnis, 2018).

Sikap merupakan suatu ekspresi perasaan seseorang yang menggambarkan kesukaannya atau ketidaksukaannya terhadap suatu objek (Damiati et al., 2017).

Sikap sebagai suatu bentuk perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (Unfavourable) pada suatu objek.

Sikap adalah suatu pola perilaku, kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana yang merupakan respon terhadap stimulasi sosial yang telah terkoordinasi. Sikap dapat juga diartikan sebagai aspek atau penilaian positif atau negatif terhadap suatu objek (Rinaldi, 2016).

Menurut Allport, sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek, kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen ini bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) (Bambi, 2018).

Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman dan latihan sepanjang perkembangan individu. Sebagai makhluk

(30)

sosial, manusia tidak lepas dari pengaruh interaksi dengan orang lain (eksternal), selain makhluk individual (internal) (Katharina dan Lit, 2016).

Menurut Muhadjir, sikap ditinjau dari unsur-unsur pembentuknya dapat dibedakan menjadi tiga hal yaitu sikap yang transformatif, transaktif dan transinternal. Sikap yang transformatif merupakan sikap yang lebih bersifat psikomotorik atau kurang disadari. Sikap yang transaksional merupakan sikap yang lebih mendasar pada kenyataan objektif, sedang sikap yang transinternal merupakan sikap yang lebih dipedomani oleh nilai-nilai hidup (Shahar, 2018).

Sikap seseorang terhadap objek tertentu dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut atau yang menjadi landasan seseorang tersebut sebagai pengalaman hidupnya. Orang yang telah didalam dirinya telah tertanam nilai-nilai tertentu dalam mental atau kepribadiannya, tentunya akan menghadapi dan merespon sesuatu tersebut akan diwarnai oleh nilai-nilai yang diyakininya (Mahmudah, 2016).

Sikap Positif

Sikap Positif yaitu sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.

Sikap Negatif

Sikap Negatif yaitu sikap yang menunjukkan penolakan atau tidak menyetujui norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.

(Daulay et al., 2014).

(31)

16

B. Faktor-Faktor Pembentuk Sikap

Sikap manusia tidak terbentuk sejak manusia dilahirkan. Sikap manusia terbentuk melalui proses sosial yang terjadi selama hidupnya, dimana individu mendapatkan informasi dan pengalaman. Proses tersebut dapat berlangsung didalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Menurut Azwar, faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah sebagai berikut:

1) Pengalaman Pribadi, sesuatu yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial.

Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap.

2) Kebudayaan, kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila kita hidup dalam budaya yang mempunyai norma longgar bagi pergaulan heteroseksual, sangat mungkin kita akan mempunyai sikap yang mendukung terhadap masalah kebebasan pergaulan heteroseksual.

3) Orang Lain yang Dianggap Penting, seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak dan tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berati khusus bagi kita, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Diantara orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami dan lain-lain.

4) Media Massa, media massa sebagai sarana komunikasi. Berbagai bentuk media massa mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan

(32)

orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.

5) Institusi atau Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama, sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.

6) Faktor Emosi dalam Diri Individu, bentuk sikap tidak semuanya ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego (Senja et al., 2020).

C. Tingkatan Sikap

Beberapa komponen sikap dapat membantu dalam pembentukan sikap. Di dalam pembentukan sikap terdapat beberapa tingkatan. Beberapa tingkatan tersebut memiliki perbedaan satu sama lain dan dapat terjadi pada setiap orang. Menurut Notoatmodjo (2007) sikap terdiri atas 4 tingkatan yang dimulai dari terendah hingga tertinggi, yaitu:

a. Menerima (receiving). Menerima berarti mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan.

b. Merespons (responding). Memberikan jawaban jika diberikan pertanyaan, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan merupakan indikasi sikap. Tidak memperhatikan benar atau salah, hal ini berarti individu tersebut menerima ide tersebut.

c. Menghargai (valuing). Pada tingkat ini, individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mediskusikan suatu masalah.

(33)

18

d. Bertanggung jawab (responsible). Merupakan sikap yang paling tinggi, dengan segala risiko bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah dipilih (Aminudin, 2016).

D. Ciri-ciri Sikap

Menurut Bambang dalam Riyanti (2018) mengungkapkan bahwa sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan, orang-orang atau kejadian-kejadian. Ciri-ciri sikap adalah sebagai berikut:

a. Sikap itu dipelajari (learnability), sikap merupakan hasil belajar ini perlu di bedakan dari motif-motif psikologi lainnya. Misalnya, lapar dan haus adalah motif psikologi yang tidak dipelajari, sedangkan pilihan kepada memilih makanan Eropa adalah sikap.

b. Memiliki kestabilan (stability), sikap bermula dari dipelajari, kemudian menjadi lebih kuat, tetap, dan stabil, melalui pengalaman. Misalnya perasaan suka dan tidak suka terhadap warna tertentu (spesifik) yang sifatnya berulang-ulang atau memiliki frekuensi yang tinggi.

c. Personal-societal significance, sikap melibatkan hubungan antara seseorang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. Jika seseoarang merasa bahwa orang lain menyenangkan terbuka serta hangat, maka ini akan sangat berarti bagi dirinya, ia merasa bebas dan favorable.

d. Berisi kognisi dan afeksi, komponen kognisi daripada sikap adalah berisi informasi yang faktual, misalnya objek itu dirasa menyenangkan atau tidak menyenangkan.

e. Approach-avoidance directionality, bila seseorang memiliki sikap yang favorable terhadap semua objek, mereka akan mendekati dan membantunya,

(34)

sebaliknya bila seseorang memiliki sikap yang unfavorable, mereka akan menghindarinya.

E. Komponen Sikap

Menurut Azwar (2000) sikap memiliki komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (affective), dan komponen konatif (conative). Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercaya oleh individu pemilik sikap, komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional, dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang.

a. Komponen Kognitif, Komponen pertama dari sikap kognitif seseorang yaitu pengetahuan dan persepsi yang diperoleh melalui kombinasi pengalaman langsung dengan objek sikap dan informasi tentang objek itu yang diperoleh dari berbagai sumber. Pengetahuan dan persepsi yang dihasilkannya biasanya membentuk keyakinan artinya keyakinan konsumen bahwa objek sikap tertentu memiliki beberapa atribut dan bahwa perilaku tertentu akan menyebabkan hasil tertentu.

b. Komponen Afektif, Komponen yang berkaitan dengan emosi atau perasaan konsumen terhadap suatu objek. Perasaan itu mencerminkan evaluasi keseluruhan konsumen terhadap suatu objek, yaitu suatu keadaan seberapa jauh konsumen merasa suka atau tidak suka terhadap objek itu evaluasi konsumen terhadap suatu merek dapat diukur dengan penilaian terhadap merek dari “sangat jelek” sampai “sangat baik” atau dari “sangat tidak suka”

sampai sangat suka.

c. Komponen Konatif, komponen yang berkaitan dengan kemungkinan atau

(35)

20

kecenderungan bahwa seseorang akan melakukan tindakan tertentu yang berkaitan dengan objek sikap, komponen konatif seringkali diperlukan sebagai suatu ekpresi dari niat konsumen untuk membeli.

Ketiga komponen tersebut konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen afektif, dengan tendensi perilaku sebagai komponen konatif (Damiati et al., 2017).

2.3 Penelitian Terdahulu

Nama Tahun Judul Hasil

Pinta Marito Daulay, Yusak Maryunianta dan Emalisa

2014 Sikap dan Perilaku Petani Terhadap Kinerja Penyuluh

Pertanian di

Kabupaten Padang Lawas (Kasus: Desa Gunung Manobot Kec.

Lubuk Barumun Kab.

Padang Lawas)

Tingkat keberhasilan pelaksanaan tugas pokok penyuluh pertanian di daerah penelitian adalah tinggi dan sikap petani terhadap kinerja penyuluh pertanian adalah positif, karena berdampak baik bagi petani dan sesuai dengan kebutuhan petani dalam mengelola usahatani.

Farmelia R.

Hutasoit, Sakti Hutabarat dan Didi Muwardi

2015 Analisis Persepsi Petani Kelapa Sawit Swadaya bersertifikasi

RSPO dalam

Menghadapi Kegiatan Peremajaan

Perkebunan Kelapa Sawit di Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan

Analisis persepsi dengan mengukur enam aspek peremajaan memperlihatkan tingkat persepsi petani yang sangat baik. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat partisipasi petani untuk melakukan peremajaan akan lebih baik sekaligus menunjukkan bahwa petani siap untuk melakukan kegiatan peremajaan.

(36)

Fitri Yutika, Eko Ruddy Cahyadi, Heti Mulyati

2019 Perilaku Petani Pola Swadaya dan Plasma terhadap Praktik Produksi Kelapa Sawit Berkelanjutan di Kampar, Riau

Meningkatkan nilai sikap petani plasma terhadap keberlanjutan dengan pemahaman akan manfaat yang dapat diperoleh dari praktik-praktik

keberlanjutan, dapat meningkatkan niat petani plasma untuk menerapkan praktik- praktik produksi kelapa sawit berkelanjutan.

2.4 Kerangka Pemikiran

UD. Lestari berkomitmen untuk menerapkan sertifikasi RSPO di gudang sawit mereka, dan memberikan penyuluhan, pelatihan serta praktik-praktik sawit berkelanjutan kepada petani rakyat di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Penerapan sertifikasi RSPO ini tentunya mengundang tanggapan dari para petani berupa sikapnya terhadap penerapan sertifikasi tersebut. Sikap tersebut dibagi atas sikap positif dan sikap negatif.

Berdasarkan uraian diatas penulis mendeskripsikan dalam bentuk kerangka pemikiran.

(37)

22

Secara sistematis kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut:

2.5 Hipotesis Penelitian

1. Penerapan sertifikasi RSPO sudah dilaksanakan menyeluruh di daerah penelitian.

2. Sikap petani terhadap penerapan sertifikasi RSPO yang dilakukan positif.

UD. Lestari

Sikap Positif

Penerapan Sertifikasi RSPO

Sikap Petani

Sikap Negatif Keterangan :

: Menyatakan Pengaruh

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

(38)

23 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun. Pemilihan daerah penelitian ini dilakukan dengan sengaja (purposive) dengan pertimbangan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani kelapa sawit dan merupakan petani swadaya murni serta tempat dilakukannya penerapan sertifikasi RSPO oleh UD. Lestari. (Lihat Tabel 4.2) 3.2 Metode Penentuan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016: 80).

Populasi dalam penelitian ini adalah petani sawit rakyat di Desa Bandar Rejo, kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Jumlah petani sawit rakyat yang mengikuti penerapan RSPO adalah sebanyak 40 petani.

Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode simple random sampling. Teknik simple random sampling ialah teknik pengambilan sampel dimana semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama- sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel.

Menurut Sugiyono (2017: 126) untuk menentukan jumlah sampel dapat menggunakan Rumus Slovin yaitu sebagai berikut:

(39)

24

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁𝑒2 Dimana :

n = Besaran Sampel N = Jumlah Populasi

e = Estimasi Kesalahan (α: 10%)

Maka perhitungan dalam menentukan ukuran jumlah sampel menggunakan Rumus Slovin adalah sebagai berikut:

𝑛 = 40

1 + (40)(0,1)2 n = 28,57

n = 29

Dari perhitungan di atas maka diperoleh besaran sampel sebesar 29 orang.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Sikap petani terhadap penerapan sertifikasi RSPO oleh UD. Lestari di Desa Bandar Rejo diperoleh dengan menggunakan 2 jenis data, yaitu: Data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lapangan, dengan menggunakan kuesioner, wawancara langsung dan pengamatan langsung di lapangan terhadap petani yang mengikuti sertifikasi RSPO. Sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber-sumber lain yang relevan dengan penelitian ini yaitu Badan Pusat Statistik, Kantor Kepala Desa Bandar Rejo, UD. Lestari, serta media internet yang sesuai.

(40)

3.4 Metode Analisis Data

Untuk masalah 1 dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan sampel dideskriptifkan secara menyeluruh.

Untuk masalah 2 dianalisis dengan menggunakan teknik penskalaan Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial.

Adapun skor untuk pernyataan positif adalah “Sangat Setuju” (SS) = 5, “Setuju”(S)

= 4, “Ragu-ragu” (R) = 3, “Tidak Setuju”(TS)= 2, dan“Sangat Tidak Setuju” (STS)

= 1. Sedangkan untuk pernyataan negatif adalah “Sangat Setuju” (SS) = 1, “Setuju”

(S) = 2, “Ragu-ragu” (R) = 3, “Tidak Setuju” (TS) = 4, dan “Sangat Tidak Setuju”

(STS) = 5.

Untuk mengukur skala likert tersebut digunakan rumus:

𝑇 = 50 + 10 [𝑋 − 𝑋̅

𝑆 ] Keterangan:

T : skor standar S : standar deviasi X : skor sampel X̅ : rata-rata skor Kriteria uji :

- Jika T ≥ 50, maka sikap positif - Jika T ≤ 50, maka sikap negatif (Sugiyono, 2019: 68).

(41)

26

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan penelitian ini maka perlu dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut:

3.5.1 Definisi

1. Petani adalah orang yang memanfaatkan hasil bumi seperti bercocok tanam atau memelihara hewan ternak demi tercapainya tujuan sesuai yang diharapkan.

2. Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) merupakan organisasi yang tidak mengutamakan keuntungan dalam menjalankan kegiatan atau usahanya, yang tujuannya untuk menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit: produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pelestarian lingkungan atau konservasi alam, dan LSM sosial.

3. Sertifikasi RSPO adalah standar dan ukuran yang dapat digunakan dalam cakupan internasional serta berkelanjutan untuk produk-produk yang dihasilkan dari kelapa sawit.

4. Sikap adalah penilaian yang menyeluruh terhadap perilaku atau tindakan yang akan diambil.

5. Sikap positif adalah sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.

6. Sikap negatif adalah sikap yang menunjukkan penolakan atau tidak menyetujui norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.

(42)

3.5.2 Batasan Operasional

1. Penelitian dilakukan di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

2. Sampel dalam penelitian ini adalah petani sawit rakyatyang mengikuti sertifikasi RSPO di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

3. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2021.

(43)

28 BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

4.1.1 Luas dan Letak Geografis Desa Bandar Rejo

Desa Bandar Rejo merupakan salah satu dari desa yang terletak di Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Desa Bandar Rejo memiliki luas wilayah 8486 km2 dan terletak di daerah dataran rendah. Untuk mencapai Desa Bandar Rejo jarak yang harus ditempuh adalah 6,4 km dari ibukota kecamatan atau 20 menit perjalanan. Sedangkan dari Medan menuju Desa Bandar Rejo jarak yang harus ditempuh sekitar 105 km dengan waktu perjalanan ± 3 jam.

Batas-batas wilayah Desa Bandar Rejo adalah sebagai berikut:

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Batubara - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Batubara - Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Jati Rejo

- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bandar Tinggi

4.1.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2020

Jumlah penduduk di Desa Bandar Rejo pada tahun 2020 adalah 4.361 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 2.033 KK. Distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2020 Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

Laki-laki 2.196 50,36

Perempuan 2.165 49,64

Jumlah 4.361 100,00

Sumber : Kantor Kepala Desa Bandar Rejo 2021

(44)

Berdasarkan Tabel 4.1dapat dilihat distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa Bandar Rejo menunjukkan jumlah paling banyak yaitu jenis kelamin laki- laki sebesar 2.196 jiwa dengan persentase 50,36%.

4.1.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2020 Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Bandar Rejo terdiri dari petani, buruh tani/nelayan, buruh pabrik, PNS, pegawai swasta, wirasawasta/pedagang, TNI, POLRI, bidan (swasta/honorer), perawat (swasta/honorer), tidak bekerja dan lainnya. Distribusi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2020 Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

Petani 1.045 23,96

Buruh tani/nelayan 83 1,90

Buruh pabrik 229 5,25

PNS 38 0,87

Pegawai swasta 201 4,61

Wiraswasta/pedagang 763 17,50

TNI 10 0,23

POLRI 7 0,16

Bidan (swasta/honorer) 8 0,18

Perawat (swasta/honorer) 19 0,44

Tidak bekerja 852 19,54

Lainnya 1.055 24,19

Jumlah 4.361 100,00

Sumber : Kantor Kepala Desa Bandar Rejo 2021

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat distribusi penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Bandar Rejo dari sub sektor pertanian sebanyak 1.045 jiwa dengan persentase 23,96%. Ini berarti masyarakat di Desa Bandar Rejo dominan bermata pencaharian sebagai petani.

(45)

30

4.1.4 Sarana dan Prasarana Tahun 2020

Fasilitas sarana dan prasarana di Desa Bandar Rejo, kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun cukup baik dilihat dari jumlah fasilitas yang tersedia seperti fasilitas sarana pendidikan, layanan masyarakat, dan tempat ibadah seperti terlihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Sarana dan Prasarana di Desa Bandar Rejo Tahun 2020 Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit) Sekolah

a) TK/PAUD 3

b) SD/MI 4

c) SMP/MTs 1

d) SMA/MA 1

Tempat Ibadah

a) Masjid 7

b) Mushola 5

Layanan Masyarakat

a) Kantor Desa 1

b) Puskesmas 2

c) Posyandu 7

d) Praktik Bidan 1

e) Toko Obat 1

f) Pasar 3

Jumlah 36

Sumber : Kantor Kepala Desa Bandar Rejo 2021

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat sarana dan prasarana di Desa Bandar Rejo untuk sekolah jumlah terbanyak yaitu Sekolah Dasar sebanyak 4 unit, untuk tempat ibadah jumlah terbanyak yaitu masjid sebanyak 7 unit, dan untuk layanan masyarakat jumlah terbanyak yaitu posyandu sebesar 7 unit.

4.2 Karakteristik Sampel

Karakteristik sampel yang meliputi luas lahan, umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman bertani dapat diuraikan sebagai berikut:

(46)

4.2.2 Luas Lahan

Luas lahan usaha tani dalam penelitian ini merupakan luas hamparan tanah yang digunakan untuk melakukan usaha tani. Luas lahan dikategorikan kedalam tiga kelompok yaitu: a) Sempit adalah luas lahan yang dikelola kurang dari 1 hektar, b) Sedang adalah luas lahan yang dikelola untuk usaha tani antara 1 hektar sampai dengan 2 hektar, (3) Luas adalah luas lahan yang dikelola untuk usaha tani lebih dari 2 hektar. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, luas lahan petani sawit yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat diklassifikasikan sebagai berikut:

Tabel 4.4 Karakteristik Sampel Berdasarkan Luas Lahan

Luas lahan (Ha) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

<1 19 65,51

1 – 2 8 27,59

≥2 2 6,90

Jumlah 29 100,00

Sumber : Data Primer diolah

Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat karakteristik petani berdasarkan luas lahan usahatani kelapa sawit di Desa Bandar Rejo jumlah terbanyak memiliki luas lahan

<1 ha yaitu sebanyak 19 jiwa dengan persentase 65,51%. Sedangkan luas lahan paling sedikit adalah ≥2 ha yaitu sebanyak 2 jiwa dengan persentase 6,90%.

4.2.2 Umur

Umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sikap petani terhadap penerapan sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) di daerah penelitian. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, umur petani sawit yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat diklassifikasikan sebagai berikut:

(47)

32

Tabel 4.5 Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur

Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

20 – 40 6 20,69

41 – 60 21 72,41

≥60 2 6,90

Jumlah 29 100,00

Sumber : Data Primer diolah

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat karakteristik petani berdasarkan umur di Desa Bandar Rejo yang paling tinggi berumur 41-60 tahun yaitu sebanyak 21 jiwa dengan persentase 72,41 %, sedangkanyang paling sedikit adalah umur ≥60 tahun sebanyak 2 jiwa dengan persentasi 6,90%.

4.2.3 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi petani dalam menerima pengetahuan dan pengalaman baru serta sikap petani dalam menerima penerapan sertifikasi RSPO di daerah penelitian. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, tingkat pendidikan petani kelapa sawit rakyat yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat diklassifikasikan sebagai berikut:

Tabel 4.6 Karakteristik Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

SD 8 27,59

SMP/sederajat 6 20,69

SMA/sederajat 13 44,82

S1 2 6,90

Jumlah 29 100,00

Sumber : Data Primer diolah

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat karakteristik petani berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Bandar Rejo yang paling tinggi adalah tingkat pendidikan SMA/sederajat yaitu 13 jiwa dengan persentase 44,82%, sedangkan jumlah terkecil adalah tingkat pendidikan S1 yaitu 2 jiwa dengan persentase 6,90%.

(48)

4.2.4 Pengalaman Bertani

Pengalaman bertani merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penerapan sertifikasi RSPO didaerah penelitian. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pengalaman bertani petani kelapa sawit rakyat yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat diklassifikasikan sebagai berikut:

Tabel 4.7 Karakteristik Sampel Berdasarkan Pengalaman Bertani Pengalaman Bertani Jumlah (jiwa) Persentase (%)

5-10 12 41,38

11-15 6 20,69

≥15 11 37,93

Jumlah 29 100,00

Sumber : Data Primer diolah

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat karakteristik petani berdasarkan pengalaman bertani di Desa Bandar Rejo yang paling tinggi yaitu 5-10 tahun dengan jumlah petani sebanyak 12 jiwa dengan persentase 41,38%.

4.3 Gambaran Umum Unit Dagang Lestari (UD. Lestari)

Unit Dagang Lestari (UD. Lestari) merupakan gudang sawit yang berada di Desa Sei Suka Deras, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara. Gudang sawit ini disahkan sekitar tahun 2009 berdasarkan Akte Notaris Resmi. Alasan didirikannya UD. Lestari adalah sebagai wadah untuk berdagang yang memiliki badan hukum sehingga bisa menjadi partner kerja Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Adapun kriteria khusus untuk Tandan Buah Segar (TBS) yang diterima di UD. Lestari ini sesuai dengan standar pabrik yaitu TBS yang masak, segar, berasal dari sumber-sumber yang jelas bukan hasil curian dan bukan dari tempat-tempat yang kualitas tanahnya membuat hasil TBS nya tidak bagus. Harga yang diberikan oleh UD. Lestari kepada pedagang kelapa sawit juga harga yang kompetitif dengan para pesaing dan tidak

(49)

34

memonopoli harga serta penentuan harga yang sangat terbuka. Ada sekitar 50 karyawan termasuk supir yang bekerja di UD. Lestari ini.

Kegiatan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO)

UD. Lestari menerima sertifikasi sawit berkelanjutan atau Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) yang pertama di Sumatera Utara. Awal mula UD. Lestari mengikuti sertifkasi RSPO ini dikarenakan UD. Lestari merupakan rekanan dalam memasok TBS ke PTPN III, sebelumnya PTPN III sudah terlebih dahulu mengikuti sertifkasi RSPO kemudian UD. Lestari diajak untuk mengikuti sertifkasi RSPO ini.

Penyerahan sertifikat RSPO itu dilakukan di Sei Suka, Batu Bara pada Rabu, 20 September 2017 kepada 63 petani swadaya yang tergabung dalam UD. Lestari yang dihadiri oleh Alexander Maha, Senior Executive Vice President (SEVP) Bidang Produksi PTPN III (Persero), pimpinan PT Unilever dan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) The Sustainable Trade Initiative. Ketiga lembaga ini adalah mitra yang saling berkolaborasi dalam membangun program sertifikasi RSPO. Sertifikasi dari RSPO sangat bermanfaat bagi petani karena mereka belajar melengkapi dirinya dengan pengetahuan yang mendalam tentang praktik-praktik pertanian yang baik (Good Agriculture Practices), menggunakan pupuk dan pestisida serta teknik memanen yang baik, perbaikan kualitas kebun petani, dan dengan sertifikasi RSPO petani swadaya secara langsung akan mendapatkan legalitas lahan dari pemerintah. UD.

Lestari akan menfasilitasi legalitas kebun petani mandiri yang berkomitmen masuk dalam sertifikasi RSPO.Sertifikasi ini juga memungkinkan para petani untuk menjual tandan buah segar pada harga premium sehingga meningkatkan pendapatan para petani.

(50)

UD. Lestari bersama dengan Forum Petani Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) memulai kegiatan pelatihan guna mempercepat praktik minyak sawit berkelanjutan di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Batubara. Ini adalah salah satu program besar dari UD. Lestari untuk mendorong agar petani yang berada di Kabupaten Batubara dan Simalungun dapat terlibat dalam sertifikasi RSPO. Sejak Bulan Agustus 2019, berbagai kegiatan telah dilakukan oleh UD. Lestari dengan dukungan dan bantuan dari FORTASBI. Dari kegiatan pendaftaran anggota baru, hingga pelatihan-pelatihan pada petani mandiri telah dilakukan, dan masih berlangsung hingga saat ini. Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Unilever, sebagai bentuk komitmen Unilever dalam mendukung petani mengimplementasikan standar minyak sawit berkelanjutan di Sumatera Utara.

UD. Lestari memecahkan rekor untuk kategori petani swadaya bersertifikat RSPO dengan anggota petani bersertifikat RSPO terbanyak di Indonesia. UD. Lestari kini mencapai 626 Anggota, yang sebelumnya hanya berkisar 63 anggota petani. Selain memiliki anggota terbanyak, UD. Lestari juga memegang rekor dengan pertambahan anggota terbanyak yaitu mencapai 800% dalam waktu 1 tahun. Dalam rencana UD. Lestari, tahun 2021 ini akan ada penambahan anggota baru lagi sebesar 300 petani, dan direncanakan pada Audit Eksternal tahun 2021, anggota UD.

Lestari mencapai 900 petani. Anggota UD. Lestari saat ini sudah tersebar di Kabupaten Batubara dan Simalungun, dan akan mulai menyebar ke Kabupaten terdekat lainnya.

(51)

36 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Penerapan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Oleh UD.

Lestari di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Penerapan Sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Oleh UD. Lestari di Desa Bandar Rejo, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara dilakukan secara sederhana mencakup prosedur masuk yang lebih mudah, serta adanya dukungan yang diberikan oleh UD. Lestari dan pihak RSPO agar semakin banyak petani yang ikut serta.

Untuk dapat berpartisipasi dalam standar petani RSPO, pertama-tama petani harus mendaftar dan melengkapi dokumen persyaratan seperti: fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan legalitas lahan, menandatangani surat pernyataan sebagai anggota RSPO (isinya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan sebagai petani RSPO). Petani harus menunjukkan bahwa mereka memenuhi lima kriteria kelayakan sebagai berikut:

1. Anggota kelompok petani perorangan mampu menunjukkan bahwa mereka memiliki hak dan legalitas untuk memanfaatkan lahan.

2. Perkebunan/lahan milik berlokasi di areal-areal yang berada di luar kawasan yang diklassifikasikan sebagai taman nasional atau kawasan lindung, sebagaimana diatur oleh hukum nasional.

3. Jika akan ada penanaman baru, petani berkomitmen bahwa mereka akan berkonsultasi dengan kelompok masyarakat adat dan masyarakat setempat, dimana konsultasi dimaksud akan disesuaikan dengan kondisi setempat, dan memastikan dihormatinya hak dan kepentingan dari para pihak terdampak.

(52)

4. Petani berkomitmen untuk tidak menggunakan api dalam menyiapkan penanaman kembali (peremajaan kebun) atau untuk keperluan manajemen limbah.

5. Petani berkomitmen untuk tidak menggunakan buruh anak. (Usia minimum pekerja sebagaimana diatur dalam interpretasi atau hukum nasional harus dipatuhi, dan anak di bawah usia 18 tidak diperkenankan melakukan pekerjaan apa pun yang berbahaya bagi kesehatan, keselamatan atau moral anak.

Contohnya pekerjaan yang melibatkan penggunaan bahan berbahaya, penyemprotan, pengangkatan beban berat, dan panen). Selain itu, bahkan jika anak anggota keluarga bekerja di perkebunan, maka waktu kerjanya tetap harus dibatasi di luar jam sekolah, akhir pekan atau libur, dan tidak diperkenankan mengganggu kegiatan sekolah atau pendidikan.

Penerapan sertifikasi RSPO mengikuti prinsip dan kriteria dari standar petani RSPO, petani juga harus dapat memenuhi prinsip dan kriteria sebagai persyaratan untuk mendapatkan sertifikasi RSPO, dimana usulan standar petani RSPO terdiri dari prinsip dan kriteria sebagai berikut:

1. Legalitas, Penghormatan terhadap Hak atas Tanah dan Kesejahteraan Masyarakat.

- Petani perorangan dapat menunjukkan hak pemanfaatan lahan tersebut sesuai hukum yang berlaku.

- Petani dan petak lahan/lahan miliknya berlokasi di areal-areal yang berada di luar kawasan yang diklassifikasikan sebagai taman nasional atau kawasan lindung, sebagaimana diatur oleh hukum nasional, regional atau lokal.

Gambar

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi penurunan kapasitas lahan akibat alih guna lahan hutan menjadi lahan perkebunan kakao, dimana lahan hutan

Gambar 4.4 menunjukkan hubungan antara lendutan yang terjadi pada ketiga benda uji tipe balok tunggal yang diuji dalam posisi horizontal terhadap waktu

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar logam timbal yang terkandung di dalam sediaan eye-liner pencil yang beredar di Kota Pontianak dengan

Teori transportasi yang penulis coba uraikan adalah metode stepping stone dengan northwest corner sebagai teknik untuk mencari solusi awal dalam mengatasi masalah tersebut.

[r]

Sehubungan itu, kajian ini cuba menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan dan agihan pendapatan di kawasan transmigrasi dan kawasan bukan

Jumpstart Coalition for Personal Financial Literacy (2005) conducted a survey on the financial literacy of high school students in the United States about the

Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh langung dan tidak langsung (dengan melalui persepsi manajer atas informasi akuntansi keuangan) dari faktor proses