• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI DAN KONSEP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI DAN KONSEP"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN TEORI DAN KONSEP

A. Toilet Training

Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. (Hidayat A. A., 2009)

Salah satu tugas mayor masa todler adalah toilet training. Kontrol volunter dari spingter ani dan urethra dicapai pada waktu anak dapat berjalan dan biasanya terjadi antara usia 18-24 bulan. Namun, faktor kesiapan psikofisiologis sangat berpengaruh pada kesiapan toilet training. (Wong, 2008)

Toilet training (mengajarkan balita ke toilet) adalah cara balita untuk mengontrol kebiasaan membuang hajatnya di tempat yang semestinya, sehingga tidak sembarang membuang hajatnya. Beberapa ahli berpendapat toilet training efektif bisa diajarkan pada anak usia 18 bulan sampai dengan 3 tahun, karena anak usia 18 bulan memiliki kecakapan bahasa untuk mengerti dan berkomunikasi. (Rahmi, 2008)

Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Dengan toilet training diharapkan dapat melatih anak untuk mampu buang air kecil dan buang air besar di tempat yang telah ditentukan. Selain itu, toilet training juga mengajarkan anak untuk dapat membersihkan kotorannya sendiri dan memakai kembali celananya. (Asti, 2008)

Pada tahap usia 1 sampai 3 tahun atau usia toddler, kemampuan sfingter uretra untuk mengontrol rasa ingin defekasi mulai berkembang. Sedangkan menurut Gupte (2004) sekitar 90% bayi mulai mengembangkan kontrol kandung kemihnya dan perutnya pada umur 1 tahun hingga 2,5 tahun. Dan toilet training ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 24 bulan. (Hidayat, 2005)

Latihan Mengontrol Berkemih Dan Defekasi Pada Anak

Orang tua harus diajarkan bagaimana cara melatih anak untuk mengontrol rasa ingin berkemih, di antaranya pot kecil yang bias diduduki anak apa bila ada, atau langsung ke toilet, pada jam tertentu secara regular. Misalnya, setiap dua jam anak dibawa ke toilet untuk berkemih. Anak didudukan pada toilet atau pot yang bias diduduki dengan cara menapakkan kaki dengan kuat pada lantai sehingga dapat membantu untuk mengejan.

(2)

Latihan untuk merangsang rasa untuk mengejan ini dapat dilakukan selama 5 sampai 10 menit. Selama latihan, orang tua harus mengawasi anak dan kenakan pakaian anak yang mudah untuk dibuka. (Supartini, 2004)

B. Faktor – Faktor Yang Mendukung Toilet Training Pada Anak 1. Kesiapan fisik

a. Usia telah mencapai 18-24 bulan b. Dapat jongkok kurang dari 1 jam

c. Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan

d. Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan pakaian 2. Kesiapan mental

a. Mengenal rasa ingin berkemih dan defekasi

b. Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih c. Keterampilan kognitif untuk mengikuti dan meniru perilaku orang lains 3. Kesiapan psikologis

a. Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu

b. Mempunyai rasa ingin tahu dan rasa penasaran terhadap kebiasaan orang dewasa dalam buang air kecil, dan buang air besar

c. Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat dicelana dan ingin segera diganti segera

4. Kesiapan orang tua

a. Mengenal tingkat kesiapan anak dalam berkemih dan defekasi

b. Ada keinginan untuk melakukan waktu untuk latihan berkemih dan defekasi pada anak

c. Tidak mengalami konflik tertentu atau stress keluarga yang berarti (perceraian).

(Wong, 2008)

C. Anak dikatakan sudah siap dalam toilet training apabila :

1. Anak lebih sering mengucapkan kata “ aku bisa “ , yang menunjukan bahwa dia ingin lebih mandiri.

(3)

2. Anak sudah memiliki waktu buang air yang teratur, dan mungkin mukanya berubah merah dan berkosentrasi keras sebagai tanda akan segara buang air besar

3. Dia cukup cekatan untuk menaik – turun celananya sendiri.

4. Dia sangat tertarik saat ayahnya pergi ke toilet dan meniru gerak – geriknya.

5. Dia semakin berkembang secara fisik sehingga dapat berjalan dan duduk ditoilet.

6. Dia dapat membedakan apa itu buang air besar dan buang air kecil dan mungkin mengatakan keinginanya saat popoknya diganti.

7. Kita mungkin mengamati bahwa popoknya semakin jarang basah, bertahan kering sampai 3 – 4 jam. Hal ini menunjukan control dan kapasitas kandung kemihnya yang semakin membaik.

8. Dia mengerti kata – kata kita dan mampu mengikuti instruksi sederhana, seperti “ ambil bonekaku “.

9. Dia mulai mengetahui sensasi tanda dia perlu buang air dan menunjukan ketidaknyamananya dengan berlaku resah atau merengek.sebentar lagi ia akan dapat memberitahu kita secara langsung.

10. Dia mungkin akan resah dan bereaksi keras apabila popoknya sudah kotor.

11. Dia mungkin merenggut lepas popoknya setiap buang air kecil, yang berarti dia dapat menghabiskan sekitar sepuluh popok sehari. Jika ini terjadi, akal sehat kita akan mengatakan, “ sudah saatnya memulai latihan toilet “. (Gillbert, 2003)

D. Hal – hal Yang Perlu Diperhatikan Selama Toilet Training 1. Hindari pemakaian popok sekali pakai.

2. Ajarkan anak mengucapkan kata – kata yang berhubungan dengan buang air kecil dan buang air besar dengan benar.

3. Motivasi anak untuk melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci tangan dan kaki sebelum tidur dan cuci muka disaat bangun tidur

4. Jangan memarahi anak saat dalam melakukan toilet training. (Hidayat A. A., 2005)

E. Hasil Penelitian Tentang Toilet Training

Dari hasil penelitian 10 orang tua yang memiliki anak usia toddler, diketahui bahwa 7 orang tua memiliki kesulitan melakukan toilet training dengan alasan belum

(4)

mengerti benar cara cepat melakukan toilet training, sedangkan 3 orang ibu telah melakukan toilet training diusia anak 2 tahun, terutama melatih bagimana dan dimana anak – anak mereka BAB dan BAK, tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training sebagian besar tidak baik sebanyak 63,8%. Penerapan toilet training pada anak usia toddler (1 – 3 tahun) sebagian besar tidak diterapkan sebanyak 56,4%. Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training dengan penerapan toilet training pada anak usia toddler (1 – 3 tahun ) dengan nilai p : 0,000,. Dimana terjadi suatu hubungan yang signifikan. (Luqmansyah, 2008)

Hasil penelitian dari (Batuatas, 2011) dalam penelitiannya berjumlah 22 orang tua toddler yang berada diPAUD kelurahan pelaju ulu. Pengumpilan data dengan menggunkan kuesioner sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan toilet training toddler. Dan didapatkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna pengetahuan (p value = 1,00 > α = 0,05), sikap ( p value = 1,00 >α =0,05), dan tindakan ( p value = 0,12 >α =0,05) orang tua sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang toilet training toddler. Oleh karena itu, pelatihan atau pendidikan kesehatan toilet training toddler supaya sering dilakukan agar perilaku orang tua terhadap anak menjadi lebih baik.

F. Pengkajian dalam Toilet Training

Pengkajian terhadap toilet training merupakan sesuatu yang harus diperhatikan sebelum anak melakukan buang air kecil dan buang air besar, mengingat anak yang melakukan buang air besar atau kecil akan mengalami proses keberhasilan dan kegagalan, selama buang air kecil dan besar. Proses tersebut akan dialami oleh setiap anak untuk mencegah terjadinya kegagalan maka dilakukan suatu pengkajian sebelum melakukan latihan toilet yang meliputi pengkajian fisik, pengkajian psikologis, dan pengkajian intelektual. (Hidayat A. A., 2009)

1. Pengkajian Fisik

Pengkajian fisik yang harus diperhatikan pada anak yang akan melakukan buang air kecil dan besar dapat meliputi kemampuan motorik kasar seperti berjalan, duduk, meloncat dan kemampuan motorik halus seperti mampu melepas celana sendiri.

Kemampuan motorik ini harus mendapat perhatian karena kemampuan untuk buang air besar ini lancar dan tidaknya dapat ditunjang dari kesiapan fisik sehingga ketika anak berkeinginan untuk buang air kecil dan besar sudah mampu dan siap untuk melaksanakannya.Selain itu, yang harus dikaji dalam buang air besar yang sudah teratur, sudah tidak mengompol setelah tidur, dan lain-lain.

(5)

2. Pengkajian Psikologis

Pengkajian psikologis yang dapat dilakukan adalah gambaran psikologis pada anak ketika akan melakukan buang air kecil dan besar seperti anak tidak rewel ketika akan buang air besar, anak tidak menangis sewaktu buang air besar atau kecil, ekspresi wajah menunjukkan kegembiraan dan ingin melakukan secara mandiri, anak sabar dan sudah mau tetap tinggal di toilet selama 5-10 menit tanpa rewel atau meninggalkannya, adanya keinginan kebiasaan toilet training pada orang dewasa atau saudaranya, adanya ekspresi untuk menyenangkan pada orangtuanya.

3. Pengkajian Intelektual

Pengkajian intelektual pada latihan buang air kecil dan besar antara lain kemampuan anak untuk mengerti buang air kecil atau besar, kemampuan mengkomunkasikan buang air kecil dan besar, anak menyadari timbulnya buang air besar dan buang air kecil, mempunyai kemampuan kognitif untuk meniru perilaku yang tepat seperti buang air kecil dan besar pada tempatnya serta etika dalam buang air kecil dan buang air besar. Dalam melakukan pengkajian kebutuhan buang air kecil dan besar, terdapat beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan selama toilet training, diantaranya :

a. Hindari pemakaian popok sekali pakai atau diapers dimana anak akan merasa aman.

b. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang khas yang berhubungan dengan buang air besar.

c. Mendorong anak melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci muka saat bangun tidur, cuci tangan, cuci kaki, dan lain-lain.

d. Jangan marah bila anak gagal dalam melakukan toilet training.

G. Intervensi

Menurut Hidayat (2009) banyak cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam melatih anak untuk buang air besar dan kecil, di antaranya :

1. Teknik Lisan

Merupakan usaha untuk melatih anak dengan cara memberikan instruksi pada anak dengan kata-kata sebelum atau sesudah buang air kecil dan besar. Cara ini kadang- kadang merupakan hal biasa yang dilakukan pada orang tua akan tetapi apabila kita perhatikan bahwa teknik lisan ini mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk buang air kecil atau buang air besar dimana dengan lisan ini persiapan psikologis pada anak akan semakin matang dan akhirnya anak mampu dengan baik dalam melaksanakan buang air kecil dan buang air besar.

(6)

2. Teknik Modelling

Merupakan usaha untuk melatih anak dalam melakukan buang air besar dengan cara meniru untuk buang air besar atau memberikan contoh.

Cara ini dapat dilakukan dengan memberikan contoh-contoh buang air kecil dan buang air besar atau membiasakan buang air kecil dan besar secara benar.

Dampak yang jelek pada cara ini adalah apabila contoh yang diberikan salah sehingga akan dapat diperlihatkan pada anak akhirnya anak juga mempunyai kebiasaan yang salah.

Selain cara tersebut diatas terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan seperti melakukan observasi waktu pada saat anak merasakan buang air kecil dan besar, tempatkan anak diatas pispot atau ajak ke kamar mandi, berikan pispot dalam posisi aman dan nyaman, ingatkan pada anak bila akan melakukan buang air kecil dan buang air besar, dudukkan anak diatas pispot atau orang tua duduk atau jongkok di hadapannya sambil mengajak bicara atau bercerita, berikan pujian jika anak berhasil jangan disalahkan dan dimarahi, biasakan akan pergi ke toilet pada jam-jam tertentu dan beri anak celana yang mudah dilepas dan dikembalikan.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Elfira (2014) menjelaskan adanya bonus yang diberikan kepada manajer maupun karyawan pada perusahaan manufaktur dapat

Berdasarkan fenomena gap dan research gap yang telah dipaparkan sebelumnya, peneliti bermksud untuk melakukan penelitian terhadap pengaruh manajemen modal kerja (periode

Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK Faktorial) yang terdiri atas dua faktor, faktor pertama yaitu kultivar Yak saudi, Ra Chi Nee Pan Dok (RCN) dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh antara struktur aktiva, profitabilitas, price earning ratio, dan pertumbuhan penjualan

Konsep struktur data seperti ini sedikit mirip dengan konsep object dalam bahasa pemrograman modern (walaupun di dalam pascal juga terdapat konsep tentang object). Record juga mirip

Dengan dibuatnya laporan biaya kualitas secara khusus dan berkala diharapkan pihak manajemen perusahaan dapat melakukan pengendalian atas kualitas produk serta

Tabel 3 menunjukkan bahwa ibu hamil yang menjadi responden penelitian ini sebagian besar memiliki perilaku kesehatan baik dalam mengkonsumsi makanan bergizi selama

Untuk menghasilkan sebuah gasing daripada kayu pokok jambu, apakah teknik arca yang sesuai digunakan.. Mengapakah seni reka bentuk industri adalah suatu bidang yang penting pada