I
ISSN: 2686 – 3219
TEKNOKOM : Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sistem Komputer
Published by : Department of Computer Engineering, Universitas Wiralodra Jl. Ir. H. Juanda KM.03, Singaraja, Indramayu - Jawa Barat 45312
TEKNOKOM | Volume 2, Number 1, 2019 | Pages 1 – 64 CONTACT
TEKNOKOM : Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sistem Komputer
Department of Computer Engineering, Universitas Wiralodra
Jl. Ir. H. Juanda KM.03, Singaraja, Indramayu - Jawa Barat 45312
Email : [email protected] EDITOR-IN-CHIEF
Taufik Hidayat
Universitas Wiralodra, Indonesia MANAGING EDITOR
Indra Surya Permana
Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon, Indonesia Stephanie Betha Rossi Hersianie
Universitas Wiralodra, Indonesia
COPYEDITORS Denni Ismunandar
Universitas Wiralodra, Indonesia Cucu Handayani
STIKOM Poltek Cirebon, Indonesia Haryati
STMIK WIT Cirebon, Indonesia
EDITORIAL BOARD Zool Hilmi Ismail
Universiti Teknologi Malaysia, Malaysia Vishwajeet Shankhwar
Dr B R Ambedkar National Institute of Technology Jalandhar, India
Ivan Kristianto Singgih
Korea Advanced Institute of Science and Technology, South Korea
Harry Candra Sihombing
Universitas Mercu Buana, Indonesia T. Husain
STMIK Widuri, Indonesia Eka Purnama Harahap Universitas Raharja, Indonesia Teguh Kartiko Wibowo
Universitas Mercu Buana, Indonesia Selamet Kurniawan
Universitas Mercu Buana, Indonesia Darsanto
Universitas Wiralodra, Indonesia Wahyu Ariandi
STIKOM Poltek Cirebon, Indonesia
LAYOUT EDITORS Susi Widyastuti
STIKOM Poltek Cirebon, Indonesia ASSISTANT TO THE EDITORS Dewi Siti Nurjanah
Universitas Wiralodra, Indonesia Imam Baiquni
Universitas Wiralodra, Indonesia
IT SUPPORT
Team IT Engineering faculty Universitas Wiralodra, Indonesia Bibliographic information ISSN:2621-8070
e-ISSN:2686-3219 Published: quarterly TEKNOKOM Online https://teknokom.unwir.ac.id
II
TABLE OF CONTENTS
M ANF AAT PENER APAN M ARKETING ONLINE (M ENG GUN AK AN E-COMM ERCE D AN M EDI A S OSI AL) B AGI USAH A M IKRO, KE CIL D AN M ENENG AH (UM KM )
Mukhsin ... 1 - 10
R ANC ANG AN AL AT INDIK ATOR LEVEL TEGANG AN B AT ER AI BERB ASIS OPE R AT ION AL AM PLIFIER (OP AM P)
Muh Pauzan... 11 - 16
IM PLEM ET ASI M ETODE AHP ( AN ALITYC AL HIER ARCHY PROCESS) D AL AM PENENTU AN TEM PAT WISAT A AGRO (STUDI K ASUS DI KEC AM AT AN PE G ANT EN AN, PAM EKAS AN, M ADUR A)
Hoiriyah Hoiriyah, Syaiful Bahri ... 17 - 22
R ANC ANG AN SISTEM INF ORM ASI ADM INISTR ASI J AS A PEL ABUHAN K APAL T ANKER (STUDI K ASUS: PT. PERT AM IN A (PERSERO) RU VI B ALONG AN)
Mukhfid, Maman Suparman ... 23 - 30
PENER APAN M ODEL PENG EM B ANG AN G AM EGDLC (G AM E DEVELOPM ENT LIFE CYCLE )D AL AM M EM BANGUN G AM E PL ATF ORM BERB ASIS M OBILE
Rio Andriyat Krisdiawan, Darsanto ... 31 - 40
SISTEM M ONITORING M ESIN M ENGGUN AK AN M ULT IPROSESOR SERI AVR D ENG AN M ETODA POOLING
Eko Travada SP, Darsanto ... 41 - 46
DEVICE-TO-DEVICE (D2D) COMM UNI C ATION PAD A J ARING AN SELUL AR
R. Purnama... 47 - 56
AN ALISA SOFTWARE GRB L CONTROLLER UNTUK M ESIN M INI CNC PLOTTER 3 - AXIS DENG AN M ENGGUN AK AN M IKROKON TROLER ATM EGA 328
Herwani Suwandi, Septian Tri Setianto ... 57 - 64
About this Journal
TEKNOKOM Copyright Transfer Agreement
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
1
MANFAAT PENERAPAN MARKETING ONLINE (MENGGUNAKAN E-COMMERCE DAN MEDIA SOSIAL) BAGI USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM)
Mukhsin
Teknik Komputer, Fakultas Teknik, Universitas Wiralodra [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara berkomunikasi masyarakat namun juga metode perdagangannya. Pertumbuhan e-commerce yang semakin banyak berguna menjadi tempat jual-beli barang secara online yang bisa digunakan oleh pengusaha. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), dimana marketplace untuk UMKM dimanfaatkan oleh pemilik usaha kecil menengah. Selama ini kendala yang selalu dihadapi oleh UMKM adalah masalah pemasaran, apalagi untuk UMKM di daerah. Media Sosial masih sebagai aktifitas pribadi, itu yang masih terlihat di pelaku UMKM, belum terjadi adanya kesungguhan Media Sosial menjadi bagian aktifitas strategis yang mewakili usaha. UMKM menjadi bagian dari perhatian karena kemampuan memahami bidang IT memang masih sangat beragam, sehingga kepedulian terhadap UMKM dimulai dari lingkungan sekitar dengan memacu partisipasi UMKM menggunakan media yang terjangkau menurut daya konsumsi UKM. Dengan adanya e-commerce merupakan peluang bagi UMKM, karena dengan menggunakan marketplace memungkinkan pasar UMKM akan lebih luas dan promosi lebih murah. Dari sisi promosi keuntungan berjualan di marketplace untuk UMKM melalui online adalah bisa menjaring lebih banyak pelanggan yang lebih luas. Semua orang yang terhubung dengan internet bisa melihat promosi tanpa terbatasi oleh geografis.
Kata Kunci: e-commerce, marketplace, media sosial, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)
ABSTRACT
Technological developments have not only changed the way people communicate but also the methods of trading. The growing use of e-commerce is becoming a place for buying and selling goods online that can be used by entrepreneurs. This opportunity is not overlooked by micro, small and medium enterprises (MSMEs), where the marketplace for MSMEs is utilized by small and medium business owners. So far, the obstacles that have always been faced by MSMEs are marketing problems, especially for MSMEs in the regions. Social Media is still a private activity, that is still visible in MSME actors, there has not been any seriousness in Social Media being a part of strategic activities that represent business. MSMEs are part of the attention because the ability to understand the IT field is still very diverse, so that concern for MSMEs starts from the surrounding environment by spurring the participation of MSMEs using affordable media according to the power of SME consumption.
With the existence of e-commerce is an opportunity for MSMEs, because using the marketplace allows the MSME market to be broader and promotions cheaper. In terms of promotion the benefits of selling in the marketplace for MSMEs through online is to be able to attract more customers. Everyone connected to the internet can see promotions without being geographically limited.
Keywords: e-commerce, marketplace, social media, micro small and medium enterprises (MSMEs).
I. PENDAHULUAN
Di era globalisasi informasi bergerak sangat cepat dan menjadi pelaku bisnis untuk memenangkan persaingan. Perkembangan strategi pemasaran kini sangat pesat didukung dengan kemajuan teknologi informasi saat ini.
Internet melalui e- commerce dan media online membuka peluang bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk memasarkan dan menumbuhkan jaringan usaha di seluruh belahan
dunia usaha. Untuk itu pelaku UMKM dituntut menjadi bagian dari komunitas global dengan pemanfaatan teknologi informasi melalui e- commerce dan media sosial, jika mereka tidak mengikuti perkembangan teknologi informasi akan tertinggal jauh dan kalah dalam persaingan.
E-commerce dan media online merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pelaku UMKM untuk memasarkan produknya selain dapat memperluas akses pasar. UMKM harus
2
melihat manfaat e-commerce dan media sosial untuk akses pasar secara mudah dan effisien seiring era globalisasi yang pasti akan dihadapi.
Kondisi ini menuntut UMKM untuk memilih yang efektif dan mengenai sasaran. Pemasaran melalui e-commerce dan media sosial membuat pelaku bisnis UMKM dapat langsung berkomunikasi dengan pembelinya, sehingga mereka dapat memproleh keuntungan yang lebih besar.
E-commerce dan media sosial untuk pemasaran produk UMKM dapat memproleh manfaat serta keuntungan karena lebih murah dan effisien. Selain itu e-commerce dan media sosial juga memiliki akses tanpa batas, saat sebuah bisnis memiliki alamat di internet, apa yang ditampilkan dalam internet dapat diakses oleh pengunjung dari belahan dunia manapun selama didaerah tersebut memiliki akses internet.
Semakin sering alamat tersebut dikunjungi, semakin besar pula potensi untuk memperoleh pendapatan.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi tidak selamaya berakibat positif, tetapi banyak pula hal negatif yang ditimbulkan contohnya adanya beberapa oknum yang memanfaatkan kelemahan dari pemasaran melalui e-commerce dan media sosial yaitu rentan terhadap penipuan. Banyaknya konsumen yang tertarik dengan produk yang ditawarkan pada e-commerce dan media sosial membuat mereka mencari produk yang sama tetapi dengan harga yang jauh lebih murah mengakibatkan para konsumen lupa akan kualitas dari produk ataupun perusahaan yang menawarkan produk tersebut.[2]
A. Marketing Online
Pemasaran (Marketing) adalah proses merencanakan dan melaksanakan konsep, penerapan harga, promosi, dan distribusi ide (hasil pemikiran), barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang dapat memuas-kan tujuan individu maupun organisasi.[5]
Maka karenanya proses marketing meliputi baik aspek mental maupun aspek fisik. Mental dalam arti bahwa para penjual harus mengetahui apa yang diinginkan para pembeli dan pembeli harus mengetahui apa yang dijual. Fisik dalam arti bahwa benda-benda harus dipindahkan ke tempat-tempat diamana mereka dibutuhkan pada waktu mereka dibutuhkan.[2]
E-Marketing is the marketing side of E- Commerce, it consists of company efforts to
communicate abaout, promote and sell products and services over the internet. E-Marketing is the marketing side of E-Commerce, which is the work of a company to communicate something, promote, and sell goods and services over the internet.[5]
Perkembangan teknologi informasi khususnya internet sangat mempengaruhi dunia marketing, bahkan banyak yang beranggapan penggunaan internet untuk marketing adalah pilihan yang tepat pada saat ini. Tingginya pengguna internet berbanding lurus dengan pemanfaatannya di kehidupan sehari-hari khususnya bidang marketing, sehingga dikatakan bahwa marketing online mulai populer sejalan dengan makin pupulernya penggunaan internet.[3]
Dalam pemasaran online lewat dunia maya, ada orang yang menyebut Cyber Marketing sebagai internet marketing. Yang sering disingkat dengan e-marketing. Beberapa konsep cyber marketing mencakup perencanaan strategi, analisa situasi, analisa costumer, pengembangan pasar dan produk, positioning, dan konsep- konsep lain. Akan tetapi, banyak diantara prinsip, teknik, dan taktik cyber marketing ini yang memang berakar pada strategi pemasaran tradisional meskipun implementasinya berbeda.
Dimensi baru yang telah menyatu ke dalam, khususnya lanskap bisnis internet ini ialah pemasaran pesan-pesan iklan melalui media promosi internet jenis calssified, promosi berbasis testimonial di situs web, pemasaran melalui situs pencari, serta pemasaran dan pembelian berbasis email marketing.[4]
B. E-Commerce
Electronic commerce (e-commerce) merupakan konsep yang bisa digambarkan sebagai proses jual beli barang pada internet atau proses jual beli atau pertukaran produk, jasa, dan informasi melalui jaringan informasi termasuk internet.[8]
Electronic Commerce (E-Commerce) secara umum merupakan kegiatan bisnis (perniagaan/perdagangan) atau jasa yang berhubungan erat dengan konsumen (Consumers), Manufaktur, Internet Service Provider (ISP) dan Pedagang Perantara (Intermediateries) dengan menggunakan media elektronik. Dalam hal ini media elektronik utama dengan menggunakan internet. [6]
Bryan A. Garner juga menyatakan bahwa
“E-Commerce the practice of buying and selling
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
3 goods and services trough online consumer
services on the internet. The e, ashortened from electronic, has become a popular prefix for other terms associated with electronic transaction”.
Dapat dikatakan bahwa pengertian e-commerce yang dimaksud adalah pembelian dan penjualan barang dan jasa dengan menggunakan jasa komputer online di internet.[4]
E-commerce juga dapat diartikan sebagai suatu proses berbisnis dengan memakai teknologi elektronik yang menghubungkan antara perusahaan, konsumen dan masyarakat dalam bentuk transaksi elektronik dan pertukaran/penjualan barang, servis, dan informasi secara elektronik.[6]
E-commerce menggambarkan cakupan yang luas mengenai teknologi, proses, dan praktek yang dapat melakukan transaksi bisnis tanpa menggunakan kertas sebagai sarana mekanisme transaksi. Penggunaan transmisi data secara elektronik untuk membantu proses bisnis.[8]
C. Media Sosial
Social media is a term that covers not only New Media platforms but also implies the inclusion of systems like FriendFeed, Facebook, and others that are generally regarded as social networks. The idea is that various media platforms have social components and as a medium of public communication.[1]
Media sosial adalah perkembangan mutakhir dari teknologi - teknologi perkembangan web baru berbasis internet, yang memudahkan semua orang untuk dapat berkomunikasi, berpartisipasi, saling berbagi, dan membentuk sebuah jaringan secara online, sehingga dapat menyebarluaskan konten secara sendiri. Media jejaring sosial merupakan situs yang menjadi tempat orang- orang berkomonukasi dengan teman-teman mereka, yang mereka kenal di dunia nyata dan dunia maya. Media sosial adalah paradigma media baru dalam konteks industri pemasaran.[14]
D. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Usaha mikro, kecil, dan menengah atau biasa disingkat UMKM. Hal ini telah diatur didalam Undang-Undang Nomor. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Ada juga Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang kemitraan yang menjadi pelaksanaan lebih lanjut.[12] Berikut adalah pengertian dari UKM yang terdapat didalam Undang-Undang Nomor 9 Pasal 1 Tahun 1995: [10]
a. Usaha Kecil adalah kegiatan ekkonomi rakyat yaang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjuaalan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini,
b. Usaha Menengah dan Usaha Besar adalah kegiatan ekonomi yang mempunyai kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar daro kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan usaha kecil.
Adapun pengertian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 sebagai berikut : [11]
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini.
Sesuai dengan pengertian di atas bahwa ada perbedaan yang sangat jelas antara usaha mikro dengan kecil dan usaha kecil dengan menengah.
Perbedaan yang besar itu dari segi asset ataupun omzet yang di dapatkan atau dihasilkan dari usaha yang dijalankan.
4
II. METODE PENELITIAN
A. Metode Penulisan Karya Ilmiah
Penulisan karya ilmiah ini dimaksud agar penulis dapat mendeskriptifkan pemanfaatan e- commerce dan media sosial dalam strategi pemasaran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Dalam Penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan metode penulisan deskriptif. Metode deskriptif dapat kita diartikan sebagai cara atau proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau menjabarkan keadaan subjek atau objek dalam penelitian yang dapat berupa orang, lembaga, masyarakat dan yang lainnya yang pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang ada dan benar apa adnya tanpa ada pengurangan dan penambahan.
B. Sasaran Khalayak/Responden
Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis mencoba untuk menentukan sasaran responden yang tidak lain adalah para pelaku UMKM khususnya di Kab. Indramayu. Penentuan sasaran ini dikarenakan penulis ingin mengetahui implementasi e-commerce dan media sosial terhadap perkembangan, peningkatan pemasaran dan peningkatan produktivitas usaha kecil menengah.
C. Teknik Pengumpulan Data
Disini dalam teknik pengumpulan data, penulis memakai beberapa Teknik yaitu wawancara dan observasi lapangan. Wawancara yang dimaksud ialah mencoba mendapatkan informasi yang diperlukan kepada narasumber yang sudah dipilih terlebih dahulu. Dalam Teknik wawancara informasi yang didapatkan bisa dalam wanwancara langsung yaitu bertemu atau bertatap muka langsung dengan narasumber.
Adapun wawancara yang dilakukan melalui media elektronik. Tujuan dari adanya wawancara ini tidak lain adalah mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penulisan karya ilmiah ini tanpa melupakan fakta yang sebenarnya.
Observasi lapangan adalah Teknik pengumpulan data yang sangat popular saat ini.
Hal ini dikarenakan dalam prosesnya penulis mendaapatkan banyak data secara langsung dan benar adanya. Dengan melakukan Teknik observasi ini diharapkan penulis dapat menyajikan / menjabarkan gambaran realistic kejadian untuk mencapai tujuan penulis.
D. Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah statistik deskriptif dan analisis kualitatif yang dimana data yang telah dikumpulkan dijabarkan kedalam tulisan karya ilmiah serta ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.
Dalam proses penulisan karya ilmiah ini penulis juga membaca beberapa buku mencoba untuk mangaitkan dengan beberapa teori yang dianggap berkaitan oleh penulis.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah melakukan pencarian data-data yang dibutuhkan serta menganilis data yang terkumpul penulis mendapatkan hasil untuk menulis hasil karya ini. Diharapkan hasil analisis yang dilakukan oleh penulis bisa menjabarkan dengan apa adanya sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.
A. Karakteristik UMKM
Subyek dalam penelitian ini adalah pemilik atau pengelola UMKM dengan jenis usaha jasa, industri atau dagang. Bidang usaha subyek penelitian di antaranya jasa fotografi, event organizer dan travel agnet, dagang makanan/minuman, industri makanan, garment, dan kerajinan. Sebagian besar UKM yang diteliti telah berdiri antara 0-5 tahun dan 5-10 tahun.
Tabel 1. Karakteristik UKM Karakteristik n (%) Jenis Usaha
Jasa 6 (40,0%)
Dagang 4 (26,6%)
Industri 5 (33,3%)
Bidang Usaha
Makanan 5 (33,3%)
Fotografi 1 (6,7%)
Event Organizer 2 (13,3%)
Garment 1 (6,7%)
Kerajinan 3 (20,0%)
Travel Agent 3 (20,0%) Lama Usaha telah berdiri
0 – 5 th 4 (26,6%)
5 – 10 th 6 (40,0%)
> 10 th 5 (33,3%)
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
5 B. Implementasi E-Commerce dan Media
Sosial Pada UMKM
Seluruh UMKM yang dijadikan obyek pada penelitian ini telah mengimple-mentasikan e- commerce dan media sosial sebagai media informasi dan komunikasi perusahaan. Sebagian besar UMKM memanfaatkan berbagai jenis e- commerce dan media sosial untuk memasarkan dan mengiklankan produk barang dagang dan jasa perusahaan. Hampir seluruh UMKM menggunakan e-commerce bukalapak.com, tokopedia.com dan media sosial Facebook, twitter dan instagram untuk menampilkan profil perusahaan dan galeri produk perusahaan.
Sebagian besar perusahaan menggunakan BBM, WhatsApp, dan e-mail untuk media informasi/komunikasi perusahaan dan pemasaran produk dari perusaahan.
Disamping itu, sebagian UMKM juga menggunakan media Blog, Line, dan Youtube untuk menampilkan profil perusahaan dan sebagai media informasi (e-commerce) perusahaan. Hampir setengah dari UMKM yang di observasi mengalokasikan anggaran biaya operasional sebesar Rp.500.000-Rp.1.000.000 untuk mengelola e-commerce dan media sosial sebagai media informasi/komunikasi dan pemasaran perusahaan. Dan sebagian besar UMKM memperbaharui informasi di media sosial setiap hari.
Tabel 2. Implementasi Penggunaan E- Commerce dan Media Sosial di UMKM UKM.
Variabel N %
Jenis E-Commerce
Website/Blog 5 33,3%
Bukalapak.com 13 86,6%
Tokopedia.com 10 66,6%
Jenis Media Sosial
Facebook 15 100,0%
Twitter 10 66,6%
Instagram 12 80,0%
Black Berry Messager (BBM)
6 40,0%
WhatsApp (WA) 15 100,0%
Line 5 33,3%
Youtube 7 46,6%
E-mail 12 80,0%
Biaya Operasional/Bulan
Rp. 100.000 – 200.000 5 33,3%
Rp. 201.000 – 500.000 4 26,6%
Variabel N %
Rp. 501.000 – 1.000.000 6 40,0%
Frekuensi Update
Harian 12 80,0%
Mingguan 2 13,3%
Bulanan 1 6,6%
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti menunjukkan e-commerce bukalapak dan tokopedia lebih dikenal oleh kalangan pelaku UMKM dibanding dengan beberapa e-commerce lain yang ada di Indonesia. Media sosial Facebook, twitter, dan intagram, cenderung lebih disukai karena kemudahannya dalam membagikan informasi dan menarik perhatian dari target pasar.
Facebook dengan fungsi like dan kemudahan fitur share untuk berbagi informasi sesama pengguna facebook memberikan efek viral yang dapat meningkatkan performa pemasaran produk, ditambah dengan kemudahan berinteraksi dengan komentar sebelumnya memberikan efek domino untuk memperkuat image produk.
Twitter dengan fitur retweet, follower, dan subscriber dapat memudahkan membagikan informasi produk dan memberikan manfaat yang luar biasa dalam memasarkan produk.
Instagram dengan kemudahan memposting tampilan visual berupa still image dan short video, akan menjadikan produk yang paling sering di upload akan memiliki kecenderungan lebih tinggi menarik perhatian dari konsumen.
Jenis media sosial lain yang berpotensi dan juga dapat dimanfaatkan sebagai komunikasi pemasaran perusahaan namun belum digunakan oleh obyek penelitian ini diantaranya Google+, Linkedln, Pinterest, Tumblr, MySpace.
C. Efektivitas Penerapan E-Commerce dalam Perkembangan UMKM
Electronic Commerce (E-Commerce) merupakan salah satu jenis implementasi teknologi dalam hal meningkatkan persaingan bisnis dan penjualan produk produk dengan memasarkan berbagai macam produk atau jasa, baik dalam bentuk fisik maupun digital.
Dengan adanya layanan jasa berupa E- Commerce yang dapat secara cepat dapat dinikmati oleh pelanggan maupun pemilik produk dan jasa maka segala layanan yang diinginkan oleh para pelanggan dapat segera ditindak lanjuti dengan secepat mungkin, sehingga pemilik produk dan jasa tersebut akan
6
mampu memberikan pelayanan yang terbaik dan tercepat bagi para pelanggan. Sebelumnya, pelanggan yang ingin membeli suatu produk diharuskan untuk mendatangi tempat dari penjual produk sendiri dan hal itu sangatlah tidak efisien bagi para pelanggan yang mempunyai kesibukan- kesibukan padat.
Dengan adanya layanan E-Commerce ini maka pelanggan dapat mengakses serta melakukan pesanan dari berbagai tempat. Dengan adanya era teknologi yang canggih saat ini para pelanggan yang ingin mengakses E-Commerce tidak harus berada di suatu tempat, hal itu dikarenakan di kota kota besar di Indonesia telah banyak tempat tempat yang menyediakan suatu fasilitas akses internet untuk memasuki situs E- Commerce.[13]
Disisi lain dengan segala kemudahan yang diberikan oleh E-Commerce tentunya juga akan memberikan efek bagi para pemilik produk dan jasa yang tak terkecuali adalah para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Namun kesiapan UMKM menggunakan E-Commerce sendirilah yang akan menentukan perkembangan UMKM tersebut.
Secara umum ada berbagai manfaat yang didapatkan ketika melakukan perdagangan dengan sistem e-commerce. Menurut Sholekan (2009) manfaat yang didapatkan adalah sebagai berikut: [6]
1. Keuntungan bagi perusahaan
Memperpendek jarak. Perusahaan dapat lebih mendekatkan diri dengan konsumen.
Perluasan Perluasan pasar. Jangkauan pemasaran menjadi luas dan tidak terbatas oleh area geografis.
Perluasan jaringan mitra bisnis.
Efisiensi.
2. Keuntungan bagi konsumen
Efektif Konsumen bisa memperoleh informasi produk yang dibutuhkan dan bertransaksi dengan cepat.
Aman secara fisik. Hal ini dikarenakan konsumen tidak perlu datang langsung ke toko.
Fleksibel. Konseumen dapat melakukan transaksi dimana saja.
3. Keuntungan bagi masyarakat umum
Mengurangi polusi dan pencemaran lingkungan.
Membuka peluang kerja baru.
Meningkatkan sumber daya manusia.
D. Manfaat Jika UMKM Menggunakan E- commerce
1. Meningkatkan Jangkauan Konsumen
Dengan menggunakan e-commerce pelaku UMKM tentu bisa lebih mengenalkan produk mereka ke pasar yang lebih luas, melalui internet dan social media batasan wilayah dan jarak bisa diatasi, apalagi dengan adanya jasa kurir seperti PT POS, Jne, Tiki dan sebagainya.
2. E-commerce Mampu Meningkatkan Pendapatan.
Dengan semakin dikenalnya produk dari sebuah UMKM maka secara otomatis konsumen juga semakin bertambah, dan hasilnya UMKM akan mampu berkembang hingga meningkatkan sumber lapangan pekerjaan baru.
3. Menyumbang Pendapatan Daerah Regional Bruto
Ketika UMKM mulai merambah pasar nasional dan global dengan memanfaatkan internet dan e-commerce, pemerintah sendiri berjanji untuk membantu membuka kerjasama-kerjasama dengan negara-negara lain agar produk UMKM bisa diterima di negara tersebut. Selain itu perputaran uang yang mengalir antar daerah akan mengurangi kesenjangan sosial dan membentuk ekosistem perekonomian yang merata di seluruh Indonesia.[13]
E. Pengaruh Implementasi Media Sosial terhadap Pengembangan UMKM
Pengimplementasian media sosial pada UMKM memberikan manfaat di antaranya sebagai galeri produk, mendata kebutuhan supplier, mendata kebutuhan distributor, survey target konsumen, dan memantau konsumen. Di samping itu media sosial juga bermanfaat sebagai forum disukusi, membantu pengambilan keputusan, memberikan respon pada konsumen, mendata kebutuhan konsumen, sebagai media pemasaran dan iklan, dan sebagai saran kontak personal dengan konsumen.[7]
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
7 Gambar 1. Manfaat Penggunaan Media Sosial
Sosial media merupakan salah satu media yang mempermudah komunikasi interaktif antara pengusaha dengan siapapun, termasuk konsumen, dan berbagai pihak yang berkepentingan, kapanpun dan berada dimanapun. Sosial media sangat membantu sebagai penghubung informasi dan komunikasi dari produsen ke konsumen di manapun mereka berada dan berapapun jaraknya.
Manfaat yang paling penting dari media sosial ini adalah tidak berbayar dan tidak memerlukan software khusus.[7]
F. Manfaat Paling dirasakan Penerapan Marketing Online bagi UMKM
Banyaknya manfaat penggunaan media sosial dalam mengembangkan UMKM merupakan salah satu faktor pendorong yang kuat bagi UMKM untuk terus memanfaatkan media sosial dalam rangka mengembangkan usahanya, meningkatkan penjualan produk, melakukan komunikasi dengan konsumen, serta mengembangkan jaringan pasar yang lebih luas lagi.[9]
Secara umum, pengelola UMKM dalam penelitian ini merasakan manfaat penerapan marketing online (penggunaan e-commerce dan media sosial) yang terbagi menjadi 7 jenis manfaat, meliputi: 1) Sebagai sarana iklan/promosi yang tercepat, praktis dan gratis, 2) Membantu brand awareness dan target audience, 3) Menambah pelanggan dan memperluas pangsa pasar, 4) Sebagai sarana pemasaran, 5) Mempermudah interaksi dan komunikasi dengan calon pembeli, 6) Meningkatkan penjualan secara signifikan, dan 7) Meningkatnya pengetahuan
dalam membuat keputusan bisnis.
Tabel 3. Manfaat yang paling dirasakan Pengelola UMKM menerapkan marketing online.
Manfaat yang paling dirasakan
Pernyataan Pengelola UMKM 1. Sebagai sarana
iklan/promosi yang tercepat, praktis dan gratis
Iklan/promosi tercepat dan praktis
Promosi secara cepat dan tepat gratis
Broadcast informasi 2. Membantu
brand
awareness dan target audience
Brand awareness dan mencari target audience lebih mudah
3. Menambah pelanggan dan memperluas pangsa pasar
Jadi banyak orang yang tahu tentang promosi dan akhirnya banyak pembeli
Memiliki banyak pelanggan dari medsos
Mendapatkan order dari luar kota (Kab.
Indramayu)
Promosi produk menjadi lebih cepat
Perusahaan lebih mudah dan lebih cepat dikenal pasar
memperbanyak
konsumen, memperluas pasar, (produk) lebih di kenal
Ada peningkatan dalam pemasaran
Orderan meningkat
Peningkatan jumlah konsumen dan omzet.
4. Sebagai sarana pemasaran
Sebagai sarana yang baik dalam pemasaran
Pemasaran jadi mudah 5. Mempermudah
interaksi dan komunikasi dengan calon pembeli
Mempermudah interaksi dengan konsumen dan calon pembeli
Menghemat waktu dan tenaga
Mempermudah closing (persetujuan transaksi)
sarana efektif berkomunikasi dan Mempermudah interaksi dengan pelanggan
8
Manfaat yang paling dirasakan
Pernyataan Pengelola UMKM
(untuk) kontak dengan pelanggan dan suplier”
komunikasi lebih lancar dan efisien
mengetahui kebutuhan dan keinginan
konsumen
hubungan bisnis dengan customer terjalin lebih baik
6. Meningkatkan penjualan secara signifikan
Meningkatkan traffic (penjualan)
Mendongkrak penjualan
Omset meningkat secara signifikan
7. Meningkatnya pengetahuan dalam membuat keputusan bisnis
meningkatnya pengetahuan dalam membuat keputusan bisnis
mengetahui kompetitor dan bisa mempelajari apa yang harus dilakukan selanjutnya
jadi lebih update karena mempelajari produk lain melalui media social G. Penambahan Profit UMKM Setelah
Menerapkan Marketing Online
Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan marketing online (penggunaan e- commerce dan media sosial) pada UMKM membantu meningkatkan volume penjualan pada UMKM. Peningkatan penjualan paling banyak dirasakan UMKM sebesar 10-50%. Hasil dari penelitian menjelaskan bahwa keuntungan yang diterima oleh UKM berkorelasi sangat kuat dengan adopsi dari Teknologi Informasi.
Gambar 2. Peningkatan penjualan produk UMKM setelah penerapan marketing online.
Penerapan marketing online (penggu-naan e- commerce dan media sosial) pada UMKM dapat meningkatkan jumlah penjualan UMKM hingga lebih dari 100%, tapi sebagian besar peningkatan penjualan masih kurang dari 50%. Berdasarkan hasil observasi terhadap UMKM dan marketing online yang digunakan, UMKM yang ber-hasil meningkatkan penjualan hingga lebih dari 100%
karena Penerapan marketing online sebagai ujung tombak pemasaran dan komunikasi informasi UMKM, serta selalu melakukan update informasi produk dan perusahaan setiap hari. Sedangkan UMKM dengan peningkatan penjualan kurang dari 50%, sebagian besar karena relatif jarang untuk melakukan update informasi dengan frekuensi update mingguan bahkan bulanan.
Keterbatasan penelitian ini adalah dilakukan secara cross sectional dan penilaian peningkatan penjualan berdasarkan wawancara dengan pemilik atau pengelola UMKM, sehingga tidak bisa diukur perubahan volume penjualan antara sebelum dan sesudah menerapkan marketing online.
IV. KESIMPULAN
Penelitian ini menyimpulkan bahwa UMKM yang di observasi telah menerapkan marketing online (penggunaan e-commerce dan media sosial) dalam perusahaannya. E-Commerce yang paling dikenal adalah bukalapak dan tokopedia, Media sosial yang paling banyak digunakan adalah Facebook, Twitter dan Instagram.
Bagi sebagian besar UMKM manfaat penerapan marketing online adalah untuk komunikasi personal dengan konsumen, Pemasaran dan iklan, mendata kebutuhan konsumen, memberikan respon pada konsumen, membantu pengambilan keputusan dan sebagai forum diskusi dengan konsumen.
Berdasarkan penelitian penerapan marketing online dapat meningkatkan penjualan hingga lebih dari 100% apabila perusahaann melakukan update informasi secara konsisten melalui e- commerce ataupun media sosial setiap hari.
Pengusaha UMKM perlu memanfaatkan e- commerce dan media sosial secara optimal dan secara konsisten melakukan update informasi setiap hari untuk mengembangkan pangsa pasar dan meningkatkan penjualan produk.
Penerapan marketing online memberikan efek bagi perkembangan pelaku UMKM mulai dari produktivitas hingga daya bertahan usaha.
Meskipun dengan adanya peningkatan penjualan hingga produktivitas dari para pelaku UMKM,
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
9 bantuan pemerintah terkait pemasaran melalui
marketing online (E-Commerce dan media sosial) dinilai masih rendah yang ditunjukkan dengan hanya disediakannya layanan konsultasi dan pelatihan saja serta belum adanya paltform marketing online yang dibutuhkan pelaku UMKM untuk memasarkan produknya melalui sistem yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melakukan pengukuran peningkatan penjualan secara akurat sehingga analisa pengaruh penerapan marketing online terhadap peningkatan penjualan bisa dilakukan lebih akurat.
Efektivitas Penerapan marketing online pada UMKM tentu masih membutuhkan berbagai macam perbaikan, hal ini juga dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pembangunan perekonomian di wilayah Kab. Indramayu.
DAFTAR PUSTAKA
[1] A. O. Jagongo and C. Kinyua, The social media and entrepreneurship growth (a new business communication paradigm among SMEs in Nairobi), 2013.
[2] Andi Ashari, Pemanfaatan Media Sosial dalam Strategi Pemasaran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Tema : Entrepreneur And Information Technolog, Jurnal, Fakultas Sosial dan Ilmu Politik ,Universitas Komputer Indonesia.
[3] Arif Ardiyanto, Analisis Penggunaan Media Sosial Dalam Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Kemasan Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali, Skripsi, Jurusan Manajemen Bisnis Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Surakarta, 2018.
[4] Karagozoglu, N, and M. Lindell, Electronic Commerce Strategy, Operations, and Performance inSmall and Medium Sized Enterprises, Journal of Small Business and Enterprise Development, 2004.
[5] Kotler, P., Keller, K.L., Marketing Management, Prentice Hall, New Jersey, 2012.
[6] Miftahus Sholihin, Siti Mujilahwati, Dampak Pemanfaatan E-Commerce Terhadap Peningkatan Penjualan di UMKM (Studi Kasus Ninda Bros Lamongan), Jurnal TeknikA, Vol 8 No 1, Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Islam Lamongan, 2016.
[7] Moch Hari Purwidiantoro, Dany Fajar Kristanto S.W., Widiyanto Hadi, Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM), Jurnal EKA CIDA, Vol. 1 No. 1, AMIK Cipta Darma Surakarta, 2016
[8] Suyanto, M., Aplikasi IT untuk UKM Menghadapi Persaingan Global, Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 2005.
[9] Swasta Priambada, Potensi Media Sosial Bagi Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) di Malang Raya, Jurnal, Seminar Nasional Sistem Informasi Indonesia, Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, 2017 [10] Undang-Undang Nomor. 9 tahun 1995
tentang Usaha Kecil.
[11] Undang-Undang No 20 tahun 2008 Tentan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.
[12] Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 Tentang Kemitraan.
[13] Yuswan Tio Arisandi, Efektivitas Penerapan E-Commerce Dalam Perkembangan Usaha Kecil Menengah di Sentra Industri Sandal Dan Sepatu Wedoro Kabupaten Sidoarjo, Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Departemen Administrasi, Fakulas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, 2017
[14] Zarrella, Dan, The Social Media Marketing Book, PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2010.
10
Halaman ini sengaja dikosongkan
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
11
RANCANGAN ALAT INDIKATOR LEVEL TEGANGAN BATERAI BERBASIS OPERATIONAL AMPLIFIER (OP AMP)
Muh Pauzan
Teknik Komputer, Fakultas Teknik, Universitas Wiralodra [email protected]
ABSTRAK
Telah dilakukan rancangan alat indikator level tegangan dengan memanfaatkan operational amplifier (op amp) sebagai komparator. Alat yang dibuat digunakan untuk mengetahui level tegangan dua baterai Li-Ion 3.7V yang disusun seri. Tegangan habis (end voltage) untuk dua baterai adalah 6 V dan tegangan maksimumnya 8.4 V. Tapi pada alat yang dibuat ditentukan 8 V sebagai tegangan maksimum. Terdapat empat indikator, pertama indikator LED merah untuk 25% (6.5V) tegangan baterai, LED kuning untuk 50%
(7V), LED hijau untuk 75% (7.5V) dan LED biru untuk 100% (8V) tegangan baterai. LED akan menyala jika output op amp adalah high. Output high terjadi jika tegangan masuk 𝑉in yang melalui pin 2 lebih besar daripada tegangan referensi 𝑉ref pada pin 3 op amp. Dilakukan perhitungan secara teoritis kemudian dibuat rangkaiannya menggunakan software Proteus.
Kata Kunci: operational amplifier, baterai, komparator, Proteus.
ABSTRACT
A voltage level indicator have been built by using of operational amplifier (op amp) as comparator. The device is used to know the level voltage of two Li-Ion Battery 3.7V in series configuration. The batteries have 6 V end voltage and 8.4 V maximum voltage. But 8 V maximum voltage is used in the device. There are four level indicator; a red LED for 25% (6.5V) of maximum voltage, a yellow LED for 50% (7V), a green LED for 75% (7.5V) and a blue LED for 100% (8V) of battery’s voltage. LED would glow if 𝑉𝑖𝑛 through pin 2 is greater than 𝑉𝑟𝑒𝑓 through pin 3 on op amp. Theoretical calculation have beenstudied before creating the circuit by Proteus software.
Keywords: operational amplifier, battery, comparator, Proteus.
I. PENDAHULUAN
Operational amplifier (Op amp) merupakan komponen aktif yang berfungsi sebagai operasi matematik pada suatu tegangan listrik seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pengintegralan, penurunan serta pembanding (komparator) [1]. Op amp banyak diterapkan pada rangkaian-rangkaian analog listrik seperti sebagai penguat tegangan, penjumlahan dua sumber tegangan, penguat selisih antara dua tegangan dan lain-lain.
Cara kerja op amp sebagai komparator adalah op amp diberikan tegangan masuk 𝑉in melalui pin 2, sedangkan pin 3 dijadikan sebagai tegangan pembandingnya (𝑉ref). Jika 𝑉in < 𝑉ref maka output (melalui pin 6) adalah 0, sedangkan jika 𝑉in > 𝑉ref maka outputnya sama dengan 𝑉cc. Salah satu aplikasinya yaitu op amp digunakan sebagai indikator level tegangan baterai.
Gadgettronicx [2] merangkai alat indikator level tegangan pada baterai laptop (12V Baterai Li-Ion). Digunakan 4 op amp karena terdapat 4 level indikator tegangan
yaitu: 25%, 50%, 75% dan 100% tegangan baterai. Output op amp dihubungkan dengan LED dengan ketentuan LED warna merah untuk tegangan 25%, warna kuning untuk level tegangan 50%, warna hijau untuk level tegangan 75% dan warna biru untuk level tegangan 100%. Dioda zener 1N47333A yang memiliki tegangan nominal 5.1V digunakan sebagai regulator tegangan dan dihubungkan dengan pin 2 op amp.
Powergen522 [3] juga merangkai alat indikator level tegangan untuk 12V baterai Li-Ion namun IC yang digunakan adalah LM3915.
Pada situs instructables [4] digunakan IC op amp LM339N sebagai komparator untuk 3.7V baterai Li-Ion. Digunakan tegangan referensi 4.2V untuk indikator tegangan 100%. 4.2V adalah tegangan maksimum baterai [5] sehingga jika dicas pada waktu yang relatif lama pada kondisi penuh maka akan menimbulkan panas sehingga akan memperpendek waktu pakai baterai tersebut.
12
Berdasarkan referensi yang disajikan, penulis mencoba untuk merancang alat indikator level tegangan 2 baterai Li-Ion 3.7V yang disusun seri. Dipilih rangkaian seri karena alat-alat elektronika yang digunakan sehari-hari banyak yang memakai 2 baterai bahkan lebih seperti remote control mobil mainan, remote control drone dan lain- lain. Hal lain yang diperhatikan adalah supaya waktu pengisian baterai lebih pendek karena 2 baterai diisi secara bersamaan. Pada perancangan sistem ini juga diberikan indikator baterai penuh saat tegangan kedua baterai pada 8.0V, tidak digunakan pada tegangan maksimum 8.4V karena hal tersebut akan mempercepat waktu pakai baterai sehingga baterai tidak tahan lama. Agar supaya saat tegangan mencapai 8.0V diketahui maka ditambahkan buzzer pada rangkaian. Buzzer berfungsi mengeluarkan suara saat baterai yang dicas penuh.
Digunakan 4 indikator nyala lampu: LED merah untuk 25%, LED kuning untuk 50%, LED hijau untuk 75% dan LED biru untuk 100% tegangan. Alat didesain menggunakan software Proteus. Fokus penelitian ini adalah membandingkan parameter-parameter seperti tegangan dan arus secara perhitungan teori dengan hasil dari simulasi proteus.
II. METODE PENELITIAN
Perancangan alat Indikator level tegangan baterai dengan software proteus ini menggunakan komponen-komponen sebagai berikut:
Resistor
Kapasitor
IC741 (Op Amp)
LED
Dioda Si 1N4001
Proteus digunakan untuk merancang dan simulasi rangkaian, hal ini dilakukan sebagai cara untuk memastikan bahwa alat yang dibuat dapat beroperasi sebagaimana yang diinginkan. Pada proteus juga bisa dibuat rangkaiannya pada papan PCB (Printed Board Circuit).
A. Perancangan Sistem
Gambar 1. Blok perancangan alat indikator level tegangan
B. Algoritma Sistem
Algoritma adalah rangkaian-rangkaian yang dilakukan oleh sistem, dimulai dari input sampai dengan output. Algoritma alat indikator level tegangan yang dirancang adalah sebagai berikut:
Gambar 2. Proses LED menyala sebagai indikator level tegangan baterai
Mulai
V_in, V_ref, V_output
input V_in
selesai V_output high
LED menyala V_in > V_ref ?
output input Tegangan
Baterai
Regulator Tegangan
Tegangan masuk Op Amp Tegangan
Referensi Op Amp
Op Amp sebagai komparator
LED menyala tanda level tegangan baterai
sudah
belum
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
13 C. Diagram Rangkaian
Rangkaian lengkap alat indikator level tegangan baterai menggunakan Proteus dapat dilihat pada gambar di bawah:
Gambar 3. Rangkaian alat indikator level tegangan baterai III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Perancangan alat indikator level tegangan baterai melalui beberapa tahap yaitu tahap perhitungan teori dan kemudian perancangannya pada software Proteus.
A. Perhitungan teoretik
Dua buah baterai Li-Ion masing-masing 3.7V dirangkai seri seperti pada gambar di bawah ini:
Gambar 4. Dua baterai Li-Ion 3.7V dirangkai seri
Satu baterai Li-Ion memiliki tegangan maksimum 4.2V [6] maka untuk dua buah
baterai dirangkai seri memiliki tegangan maksimum 8.4V. Alat yang dibuat disetting tegangan maksimumnya pada 8.0V hal ini dilakukan supaya baterai memiliki lifetime yang lebih lama.Sebuah baterai Li-Ion memiliki tegangan habis (end voltage) 3.0V artinya jika baterai digunakan terus-menerus maka alat yang digunakan akan mati saat tegangan baterainya mencapai 3.0 volt. Oleh karena itu pada rancangan alat ini, ditentukan tegangan minimal untuk dua baterai adalah 3 + 3 = 6 volt. Jadi rentang tegangan dari indikator baterai 0% sampai dengan 100%
adalah dari 6V-8V. Penulis membagi level tegangan menjadi 4 sehingga tiap kenaikan 0.5 volt tegangan baterai bertambah 25%.
Tabel berikut menjelaskan level tegangan dengan LED sebagai indikatornya:
Tabel 1. Hubungan level tegangan dengan nyala LED sebagai indikator Tegangan Dalam % Indikator
8 V 100% LED biru on
7.5 V 75% LED hijau on
7 V 50% LED kuning on
6.5 V 25% LED merah on Regulator tegangan yang digunakan adalah 6 buah dioda silikon yang memiliki total tegangan 4.2 volt. Dioda silikon digunakan karena tidak ada di pasaran dioda zener yang memiliki tegangan nominal 4.2 volt, biasanya 5.1 volt, 10 volt dan seterusnya.4.2 V adalah tegangan input pada 𝑉REF maka tegangan masukan ke 𝑉in harus lebih kecil dari 4.2V, maka digunakan rumus sebagai berikut:
Tabel 2. Pembagi tegangan 8 V pada baterai Persentase Perkalian 𝑉in(V)
100% 8 ×1
3
2.67
75% 7.5 ×1
3
2.50
50% 7 ×1
3
2.33
25% 6.5 ×1
3
2.17
Tegangan referensi untuk setiap IC op amp (IC741) harus lebih kecil daripada tegangan input pada tabel 2 di atas.
Berdasarkan tabel 2 di atas maka ditentukan nilai 𝑉ref < 𝑉in untuk tiap
14
persentase tegangan. 𝑉ref untuk tegangan 100% adalah:
𝑉ref 1 < 2.67 maka diatur 𝑉ref = 2.65 V.
2.65 =𝑅2+ 𝑅3+ 𝑅4+ 𝑅5 𝑅tot 𝑉ref 2.65 =𝑅2+ 𝑅3+ 𝑅4+ 𝑅5
𝑅tot 4.2 𝑅2+ 𝑅3+ 𝑅4+ 𝑅5= 0.631 𝑅tot… (1) Begitu juga dengan 𝑉ref 2 untuk tegangan 75%, 𝑉ref 2< 2.5 maka ditentukan 𝑉ref 2 = 2.48;
2.48 =𝑅3+ 𝑅4+ 𝑅5 𝑅tot 𝑉ref 2.48 =𝑅3+ 𝑅4+ 𝑅5
𝑅tot 4.2 𝑅3+ 𝑅4+ 𝑅5= 0.59𝑅tot… (2) Sedangkan untuk 𝑉ref 3 dengan tegangan 50%
harus memiliki nilai < 2.33 V maka:
2.31 =𝑅4+ 𝑅5 𝑅tot 𝑉ref 2.31 =𝑅4+ 𝑅5
𝑅tot 4.2 𝑅4+ 𝑅5= 0.55𝑅tot… (3)
Level tegangan 25% memiliki 𝑉in = 2.17 V maka 𝑉ref 4 ditentukan sebesar 2.15 V;
2.15 = 𝑅5 𝑅tot𝑉ref 2.15 = 𝑅5
𝑅tot4.2 𝑅5= 0.5119𝑅tot… (4)
Dengan memberikan nilai 𝑅5= 5 𝑘Ω maka diperoleh:𝑅4= 330 Ω, 𝑅3= 400 Ω, 𝑅2= 410 Ω dan 𝑅1= 3,7 kΩ. Nilai-nilai 𝑅 tersebut dimasukkan pada rangkaian gambar 2.3 di atas.
B. Perancangan pada Proteus
Setelah melakukan kalkulasi secara teori, dibuat rangkaian alat menggunakan Proteus seperti yang ditunjukkan pada gambar 3 untuk menguji apakah perhitungan secara teori sesuai dengan simulasi maka dilakukan variasi tegangan baterai yaitu pada persentase 25% yaitu 6.5 V, 50% yaitu 7 V, 75% pada 7.5 V dan 100% pada 8 V. Hasil simulasinya adalah sebagai berikut:
(a) (b) (c) (d)
Gambar 5 (a) saat tegangan 25% (b) 50% (c) 75% dan (d) 100%
Berdasarkan hasil simulasi Proteus pada gambar 5 di atas, LED merah menyala saat tegangan baterai 6.5 V, LED kuning (dan merah) menyala saat tegangan 7 V, LED hijau (merah dan kuning) menyala saat tegangan 7.5 V serta LED biru (merah, kuning dan hijau) menyala saat tegangan 8V.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa perancangan secara teoretik tepat sehingga hasilnya sesuai dengan nyala LED untuk tiap-tiap persentase tegangannya.
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan dari rancangan alat yang dibuat adalah sebagai berikut:
1. Dioda Silikon bisa digunakan sebagai regulator pengganti dioda zener tegangan jika nilai tegangan yang diinginkan tidak ada pada dioda zener
2. Konsep pembagi tegangan sangat penting dalam menentukan𝑉in dan 𝑉ref
3. Perhitungan teoretik dengan simulasi menggunakan Proteus memiliki hasil yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Learn.adafruit. 2019. “end voltage of Li- Ion”.
https://learn.adafruit.com/li-ion-and- lipoly-batteries?view=all
Diakses pada 12 Februari 2019
[2] gadgetronicx. 2019. “battery level indicator”.
https://www.gadgetronicx.com/battery- charge-indicator-circuit-diagram/
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
15 Diakses pada 12 Februari 2019
[3] powergen522.blogspot. 2018. “battery voltage level indicator”.
https://www.owergen522.blogspot.com/
2018/02/12v-battery-voltage-level- indicator-and.html
Diakses pada 12 Februari 2019
[4] instructables. 2019. “battery level indicator”.
https://www.instructables.com/id/Li- Ion-battery-level-indicator/
Diakses pada 12 Februari 2019
[5] batteryuniversity. 2019. “how to make battery long lifetime”.
https://batteryuniversity.com/learn/articl e/do_and_dont_battery_table
Diakses pada 12 Februari 2019
[6] Datasheet. 2010. Lithium-Ion Battery.
EEMB Co,.Ltd.
16
Halaman ini sengaja dikosongkan
TEKNOKOM Vol. 2 No. 1 Maret 2019 ISSN: 2621-8070
17
IMPLEMETASI METODE AHP (ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS) DALAM PENENTUAN TEMPAT WISATA AGRO (STUDI KASUS DI KECAMATAN PEGANTENAN, PAMEKASAN, MADURA)
Hoiriyah1, Syaiful Bahri2
1Sistem Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Islam Madura
2Sistem Informasi, Fakultas Teknik ,Universitas Islam Madura
1[email protected], 2 [email protected]
ABSTRAK
Penggunaan sistem penunjang keputusan pada saat ini sudah semakin banyak digunakan tidak hanya saja oleh para pakar pengambil keputusan tetapi juga oleh masyarakat dalam penentuan pilihan terhadap suatu hal.
Mengunjungi tempat wisata bagi masyarakat sekarang telah menjadi sebuah kebutuhan. Informasi yang relevan dan akurat tentang tempat wisata perlu disajikan lebih interaktif, agar pengguna informasi merasa terbantu. Karena itu dibutuhkan sebuah metode untuk dapat menyajikan informasi yang disampaikan, karena itu data diolah menggunakan metode sistem penunjang keputusan yang memberikan layanan interaksi dengan pengguna dengan menentukan nilai bobot kepentingan untuk setiap kriteria. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Beberapa kriteria penunjang keputusan antara lain Ketersediaan sumber daya dan daya tarik wisata, Fasilitas pariwisata dan fasilitas umum, Aksesebilitas, Kesiapan dan Keterlibatan masyarakat, dan Posisi strategis pariwisata.
Berdasarkan nilai yang telah diberikan pada kriteria dan alternatif maka didapat hasil bahwa nilai Desa Plakpak mendapatkan rangking pertama dengan persentase 11.2 %, ditingkat kedua yaitu Desa Tebul Timur dengan persentase 10.4 %, diperingkat tiga Desa Tlagah 10.3 %, maka Desa terbaik adalah Desa Plakpak.
Kata Kunci: Sistem Pendukung Keputusan (SPK), Wisata Agro, Analitycal Hierarchy Process (AHP).
ABSTRACT
The use of support systems at this time is increasingly plural can only be done by the expert results of the decision but also by the community in pricing. Finding the right place to be needs. Relevant and accurate information about tourist attractions needs to be presented more interactive, so that information users find it helpful. Therefore, a method is needed to be able to present the information submitted, therefore the data is processed using a method of supporting system that provides services with the user to determine the value for each criterion. The method used in determining the information presented is Analitycal Hierarchy Process (AHP). AHP developed a model of decision support system (SPK) developed by Thomas L. Saaty. The supporting steps of this model will describe the complex multi-factor or multi-criteria problem created by the hierarchy. Some things that can be done include resources and tourist attraction, public facilities and public facilities, Accessibility, Readiness and community economy, and for tourism Based on the values that have been given to the criteria and alternatives, the results obtained that the value of the Village Plakpak get the first rank with a percentage of 11.2%, the second level is Tebul Timur Village with a percentage of 10.4%, ranked third in the Village Tlagah 10.3% , the best village is Plakpak Village.
Keyword(s): Decision Support System (DSS), Tourism, Analitycal Hierarchy Process (AHP).
I. PENDAHULUAN
Pembangunan kepariwisataan perlu terus diupayakan guna menjadi sub sektor yang dapat meningkatkan perekonomian nasional dan daerah. Pariwisata sebagai industri jasa, menjadi pendorong utama perekonomian dunia sehingga banyak negara berusaha menjadikan negerinya sebagai objek yang kaya akan daya tarik kepariwisataan. Meningkatnya
perkembangan teknologi informasi telah mengharuskan industri pariwisata serta berbagai industri lainnya untuk menerapkannya. Seiring pesatnya perkembangan teknologi tersebut membuka peluang untuk mempromosikan daerah wisata yang dapat dioptimalkan. Secara umum teknologi informasi akan sangat bermanfaat
18
dalam penyajian informasi yang cepat, mudah dan akurat yang sangat dibutuhkan oleh wisatawan. Salah satu dari sekian banyak teknologi informasi yang bermanfaat bagi wisatawan dan dapat diakses dengan mudah dari manapun adalah internet. (Palit, Talumingan and Rumagit, 2017)[4].
Saat ini perkembangan teknologi informasi sudah sedemikian pesat tidak hanya teknologi perangkat keras dan perangkat lunak saja, tetapi metode komputasi juga ikut berkembang. Salah satu metode komputasi yang cukup berkembang saat ini adalah metode sistem pengambilan keputusan (Decisions Support System). Dalam teknologi informasi, sistem pengambilan keputusan merupakan cabang ilmu yang letaknya diantara sistem informasi dan sistem cerdas. Proses pengambilan keputusan dari berbagai alternatif yang ada maka dibutuhkan adanya suatu kriteria. Setiap kriteria harus mampu menjawab satu pertanyaan penting mengenai seberapa baik suatu alternatif dapat memecahkan suatu masalah yang dihadapi.
Salah satu permasalahan pengambilan keputusan yang dihadapkan pada berbagai kriteria adalah proses pemilihan obyek wisata.
Banyak metode yang dapat digunakan dalam sistem pengambilan keputusan. Salah satu metode tersebut yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Konsep metode AHP adalah merubah nilai-nilai kualitatif menjadi nilai kuantitatif, (Ranius, 2015)[5].
Untuk mempermudah calon wisatawan dalam mengetahui lebih banyak mengenai tempat wisata dengan informasi yang akurat dan rekomendasi pemilihan objek wisata yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang dipilih, maka dibutuhkan sebuah sistem komputerisasi yang memuat seluruh informasi daerah wisata secara online, dengan metode sistem pendukung keputusan Penentuan Tempat Wisata Agro di Kecamatan Pegantenan Dengan metode AHP (Analytic Hirearchy Process) diharapkan dapat digunakan untuk mendapatkan informasi dan pendukung keputusan pemilihan objek wisata secara efektif.
A. Kajian Pustaka
(Ranius, 2015), telah membuat penelitian tentang Sistem Pendukung Keputusan (SPK) sistem pendukung keputusan penentuan tempat tujuan wisata unggulan di kota palembang dengan mengunakan metode AHP. , Aplikasi yang dibuat merupakan sistem yang dikemas untuk menentukan tempat tujuan wisata unggulan sehingga dapat memberikan masukan untuk mengetahui wisata yang dijadikan detinasi unggulan. Kota Palembang merupakan diantara kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti tersebut tahun 16 Juni. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang.
Palembang merupakan kota terbesar kedua di Pulau Sumatera. Selain terkenal dengan pempeknya, Palembang juga mempunyai potensi wisata yang tidak kalah dengan kota lainnya di Sumatera. AHP merupakan suatu model sistem pendukung keputusan (SPK) yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki.
Dahriani Tanjung, 2015, telah membuat penelitian tentang pemilihan objek wisata di sumatera utara dengan metode analytical hierarchy process (ahp), dalam menyelesaikan persoalan dengan menggunakan sistem perangkingan berdasarkan bobot global.
Dengan adanya Sistem Pendukung Keputusan untuk memilih objek wisata dengan menggunakan metode Analitic Hierarchy Process (AHP) dan pengujian sistem dengan menggunakan software Super Decisions diharapkan dapat membantu pengunjung dalam pemilihan objek wisata dan dapat menghasilkan suatu hasil optimal yang memenuhi rasa kepuasan yang tinggi bagi pengunjung objek wisata. Dari hasil uji coba yang dilakukan dengan Tools Super Decisions diperoleh model keputusan dengan prioritas yaitu untuk seluruh bobot/prioritas kriteria dan alternatif [7].
(Bintoro et al., 2018), telah membuat penelitian tentang Sistem Penunjang Keputusan Tujuan Wisata Air Terjun di Kota Bogor Menggunakan Metode AHP Setiap wisatawan memiliki kriteria yang harus dipertimbangkan. Mulai dari biaya, jarak