TINDAKAN SECTIO CAESARE
Analisa Selisih Tarif Rill Rumah Sakit Dan Tarif INA
- CBG’s Di Rsu. Imelda Pekerja Indonesia MedanPenulis
Marta Simanjuntak, SST.MIK., MKM
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Maha Esa sehingga penulis bisa menyelesaikan buku yang berjudul Analisa Selisih Harga Tarif Rill Rumah Sakit Dan Tarif INA -
CBG’s Pada Tindakan Sectio Caesare ( SC ) Di RSU. ImeldaPekerja Indonesia Medan. Adapun tujuan dari disusunnya penelitian ini adalah supaya para pembaca selanjutnya dapat mengetahui bagaimana cara membuat penelitian terkait INA
- CBG’s di Pelayanan Kesehatan. Penulis menyadaripenulisan ini tidak dapat terlaksana tanpa bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih yang tidak terhingga kepada keluarga, sahabat, rekan-rekan, dan pihak- pihak lainnya yang membantu secara moral dan material bagi tersusunnya penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih terdapat kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat.
Medan, 28 Mei 2021 Penulis
Marta Simanjuntak, SST.MIK., MKM
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Daftar isi ... ii
Pendahuluan ... 1
Jaminan Kesehatan Nasional ... 9
A. BPJS Kesehatan ... 9
B. Pengertian INA-CBG’s ... 10
C. Sistem Casemix ... 11
D. Pengertian Indonesia Case Based Groups (INA CBG’s) 11 E. Tarif INA CBG’s ... 12
F. Tarif Riil Rumah Sakit ... 13
G. Tarif Pelayanan Rumah Sakit ... 14
H. Tarif Jasa Pelayanan Rumah sakit ... 15
I. Faktor-faktor Pertimbangan Penetapan Tarif Rumah Sakit ... 18
J. Ekonomis, Efisiensi, dan Efektivitas ... 19
K. Rekam Medis ... 19
L. Penelitian Terdahulu ... 20
Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 23
1. Sejarah RSU. Imelda Pekerja Indonesia Medan ... 23
2. Visi dan Misi ... 24
3. Keguanaan Reka Medis ... 29
4. Fasilitas Pelayanan di RSU. Imelda Pekerja Indonesia .. 24
5. Pelayanan Poliklinik Spesialis di RSU. Imelda Pekerja
Indonesia ... 25
Pekerja Indonesia ... 29
Tarif INA CBG’S 5.2 ... 33
Penetepan Tarif Rill RSU. Imelda Pekerja Indonesia ... 37
Tarif INA-CBG’S RSU. Imelda Pekerja Indonesia ... 41
Selisih Tarif Rill ... 43
Faktor Selisish Tarif Riil ... 46
Upaya RSU. Imelda Pekerja Indonesia ... 50
Kesimpulan ... 52
Saran ... 54
Daftar Pustaka ... 55
Biografi Penulis ... 58
PENDAHULUAN
Kesejahteraan warga di suatu negara tidak hanya dilihat dari tingkat pendidikan yang dimiliki, tetapi juga bagaimana tingkat kesehatan warga di negara tersebut. Kesehatan merupakan kebutuhan manusia yang utama oleh karena itu pembangunan di bidang kesehatan perlu dilaksanakan.
Pembangunan kesehatan merupakan pembangunan nasional maka pemerintah sebagai institusi tertinggi yang bertanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan harus memenuhi kewajiban dalam penyediaan sarana pelayanan kesehatan. Pelaksanaan pembangunan di bidang kesehatan melibatkan seluruh warga negara Indonesia, karena pembangunan kesehatan mempunyai hubungan yang dinamis dengan sektor lainnya.
Kesehatan merupakan salah satu hak asasi manusia yang diakui di seluruh dunia. Kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagaipelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatanyang menyeluruh oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat secara terarah, terpadu danberkesinambungan, adil dan merata, serta aman, berkualitas, dan terjangkau oleh masyarakat (Undang-Undang, 2009).
Status kesehatan telah meningkat pesat di banyak negara, khususnya pemerintah yang berkomitmen untuk cakupan universal pelayanan kesehatan berdasarkan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip perawatan kesehatan primer, tetapi masih banyak yang harus dilakukan (WHO, 2010).
Pembangunan kesehatan yang dilakukan pemerintah saat ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi–tingginya agar terwujud manusia Indonesia yang bermutu, sehat dan produktif. Setiap warga negara tanpa terkecuali masyarakat miskin dan rentan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan berkualitas sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar tahun 1945. Kesehatan menjadi prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode tahun 2010–2014 dan terus menjadi isu prioritas dalam RPJMN periode tahun 2015-2019.
Setiap Negara memiliki asuransi kesehatan untuk masyarakat dengan tujuan kesejahteraan masyarakat. Seperti halnya dengan Singapura mereka memiliki filosofi sistem kesehatan dengan 3M (Medisave, medishield, dan medifund).
Medisave merupakan asuransi kesehatan nasional dimana setiap orang menabung uang untuk kebutuhan kesehatan mereka, disimpan dari 7-9 persen dari gaji yang didapatkan perbulan dan dari perusahan juga memberikan kontribusi tersebut sebesar 13 persen.
Medishield adalah untuk menunjang medisave untuk membantu anggota memenuhi Kelas B2 / C atau jika ada tagihan rawat inap besar sedangkan Medifund adalah seperti dana cadangan yang abadi yang dipersiapkan oleh pemerintah Singapura untuk orang-orang singapura yang tidak mampu untuk membayar tagihan rumah sakit (Yui 2012)
Untukmengatasihalitu, World Health Assembly (WHA) ke- 58 tahun 2005 di Jenewa mendorong setiap negara mengembangkan Universal Health Coverage (UHC) atau cakupan kesehatan semesta bagi seluruh penduduknya. Maka pemerintah Indonesia melaksanakannya melalui Program Jaminan Kesehatan atau Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) (Permenkes, 2014).
Untuk pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasionalmaka dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk melaksanakan program Jaminan Sosial di seluruh Indonesia. BPJS
dibentuk menjadi2 (dua), yaitu BPJS Kesehatandan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatandan BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan kecelakaankerja, jaminan haritua, jaminan pensiun, danjaminan kematian (Undang-Undang, 2011).
Dalam rangka pelaksanaan Jaminan Kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional telah ditetapkan tarif pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan dengan pol apembayaran Indonesian Case Base Groups (INA-CBG’s) (Permenkes, 2014).
Rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan merupakan salah satu komponen penting bagi penyedia dan pemberi pelayanan kesehatan pada pelaksanaan program JKN. Program JKN merupakan bagian dari kebijakan public sebagai hasil dari good will pemerintah. Keberhasilan program pemerintah dalam JKN antara lain bergantung pada sejauh mana kebijakan ini terimplementasi di rumah sakit (Thabrany, 2014).
Tarif rumah sakit yang dikelola oleh swasta ditetapkanoleh kepala rumah sakit atau direktur rumah sakit atas persetujuan pemilik rumah sakit (Permenkes, 2015).
Negara Indonesia, secara garis besar jumlah dari persalinan caesa rdi rumah sakit pemerintah adalah sekitar 20–
25% dari total persalinan, sedangkan untuk rumah sakit swasta jumlahnya sangat tinggi, yaitu sekitar 30–80% dari total persalinan (Rosyid, 2009).
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia bersama Pemerintah (Departemen Kesehatan dan Departemen Kesejahteraan Sosial) mengeluarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Dirjen Yanmedik) Departemen Kesehatan RI yang menyatakan bahwa angka section caesaria untuk rumah sakit pendidikan atau rujukan sebesar 20% dan rumah sakit swasta 15% (Kasdu, 2003).
Berdasarkan asumsi dari berbagai pihak yang terkait dengan meningkatnya kecenderungan persalinan dengan section
caesaria hal ini disebabkan oleh perasaan cemas dan takut menghadapi rasa sakit, tidak kuat untuk menahan rasa sakit pada persalinan spontan, takut tidak kuat mengedan, trauma pada persalinan yang lalu, adanya kepercayaan atas tanggal dan jam kelahiran yang dapat mempengaruhi nasib anaknya di masa mendatang, khawatir persalinan pervagina makan merusak hubungan seksual, dan keyakinan.
Word Health Organization (WHO) mempertimbangkan rata-rata tindakan Sectio Caesare berkisar 5 % sampai dengan 15
% range maksimum yang ditargetkan pada intervensi penyelamatan nyawa dalam hal persalinan. Angka persalinan dengan Sectio Caesarea di indonesia terbilang sangat tinggi mencapai 70 %(WHO, 2016).
Hasil Riskesdas 2018, Untuk penetapan kebijakan strategis (RPJMN, Renstra) dan perencanaan program diperlukan data status kesehatan dan determinannya yang diukur di masyarakat, dan menunjukkan kelahiran lima tahun terakhir 66,7% dengan tindakan Sectio Caesarea di Indonesia mencapai sebesar 9,8 % dengan proporsi tertinggi di DKI Jakarta (19,9%) dan terendah di Sulawesi Tenggara (3,3%). Untuk Sumatera Utara, kelahiran Sectio Caesarea termasuk proporsi tertinggi mencapai sekitar 13,8 % setelah Jawa Timur sekitar 13 %.
Berdasarkan penelitian Kusuma ning tyas, et all (2013), kasus persalinandengan Sectio Caesarea pada program Jamkesmas telah terjadi perbedaan antara biaya riil sebesar Rp68.774.173 yang lebih besar dibandingkan tarif INA CBG’s sebesar Rp9.605.29.
Berdasarkan penelitian Muslimah, et all (2017), komponen biaya terbesar perawatan rawat inap terdapat pada biaya kamar. Total biaya riil rawat inap sebesarRp 1.067.232.824 dan biaya dari INA CBG’s sebesar Rp 611.745.100 sehingga selisih negative dan biaya yang harus ditanggung pihak RS sebesar Rp 455.487.724.
Berdasarkan penelitian Walintukan, et all (2017), dampak perbedaan tarif yang ditetapkan oleh rumah sakit dan BPJS terletak pada pembebanan biaya, dan penetapan tariff rumah sakit yang masih mengikuti pola yang lama sehingga biaya jasa dokter masih cenderung tinggi yang mengakibatkan selisi negatif yang terlalu jauh dari tariff riil. Ketidak tersediaan Clinical Pathway juga menjadi satu masalah bagi rumah sakit untuk mengontrol pengeluaran yang terjadi di rumah sakit, keseragaman tindakan yang dilaksanakan dan pemantauan lama rawat inap bagi pasien yang dilakukan tindakan.
Persalinan pervagina dianggap sebagai proses persalinan yang sulit dan cenderung berbahaya bagi calon ibu dan bayinya, sehingga operasi sesar meskipun merupakan metode persalinan dengan melakukan pembedahan besar pada perut cenderung disukai daripada persalinan melalui jalan lahir (pervaginam).
Meskipun pada masa lalu Sectio Caesarea (SC) masih menjadi hal yang menakutkan namun dengan berkembangnya kecanggihan bidang ilmu kedokteran kebidanan pandangan tersebut mulai bergeser. Kini persalinan melalui operasi sesar kerap menjadi alternative pilihan persalinan.
Faktordeterminankejadianpersalinan operasi sesar adalah status ekonomi, wilayah tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan responden dan kepemilikan jaminan kesehatan, usia kelahiran, jumlah janin yang dikandung, umur ibu, tinggi badan ibu, penyakit penyulit persalinan, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, riwayat kelahiran hidup dan K4
Berdasarkan survey awal di RSU IPI Medan, system biaya riil menggunakan billing system dengan melihat biayater tinggi dan terendah sedangkan tariff INA CBG’s menggunakan system paket yang telah ditentukan sebelumnya oleh pihak BPJS dengan melihat kelas perawatan dan tingkat keparahan.
Sehingga dari perbedaan Sistem menimbulkan masalah keuangan di RSU IPI medan Sehingga peneliti ingin melihat besar selisi tarif rill rumah sakit dan INA-CBG’s, dan strategi serta upaya
rumah sakit untuk menutupi kekurangan biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit dalam jasa pelayan medis pada tindakan Sectio Caesare, sehingga peneliti tertarik mengambil judul “Analisa Selisih Tarif Rill Rumah Sakit Dan Tarif INA - CBG’s Pada Tindakan Sectio Caesare Di RSU. Imelda Pekerja Indonesia Medan 2019”.
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui berapa rata-rata tarif rill tindakan Sectio Caesare di RSU.Imelda Pekerja Indonesia.
2. Untuk mengetahui berapa rata-rata tarif INA-CBG’s tindakan Sectio Caesare di RSU.Imelda Pekerja Indonesia 3. Untuk mengetahui berapa selisih antara harga tarif rill
rumah sakit dan tarif INA-CBG’spada tindakan Sectio Caesare di RSU.Imelda Pekerja Indonesia.
4. Untuk mengidentifikasi faktor selisih tarif rill rumah sakit dan tarif INA-CBG’s padatindakan Sectio Caesareadi RSU.
Imelda Pekerja Indonesia
5. Untuk mengetahui upaya RSU. Imelda Pekerja Indonesia untuk mengatasi perbandingan selisih tarifINA-CBG’s agar tetap berjalan..
Manfaat Penelitian 1. Bagi Rumah Sakit
Dapatmenambahreferensimengenaigambaranbiayariil rumahsakit dantarif INA CBG’s tindakanSectio Caesarea di rumahsakit.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah pengetahuan bagi mahasiswa/i FKM USU dan Kesehatan khususnya dan menambah referensi perpustakaan FKM USU dan sebagai acuan penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
Merupakans uatup engalaman yang berharga dalam memperluas pengetahuan tentang gambaran biaya riil rumah sakit dengan tarif INA CBG’s tindakanSectio Caesarea di Rumah sakit dan merupakans yarat untuk menyelesaikan Tesis Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Jenis penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan analisa deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskriptifkan biaya rill rumah sakit dengan tarif INA-CBG’s tindakan sectio caesaredi RSU. Imelda Pekerja Indonesia.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini di RSU Imelda Pekerja Indonesia, yang beralamatJalan Bilal No. 24 KelurahanPuloBrayanDarat I Kecamatan Medan Timur, yaitu sebuah rumah sakit Kelas B dengan tingkat akreditasi madya. Adapun alasan pemilihan lokasih penelitian, karenamenurutpeneliti RSU Imelda Pekerja Indonesia merupakan tempat yang sesuaidanmuda dijangkauolehpeneliti. Penelitian ini dilakukan sejak bulan januari 2019 sampai dengan selesai.
Populasi Dan Sampel
Populasiadalahkeseluruhanobjekpenelitian (Notoatmodjo, 2017). Objek dalam penelitian ini adalah seluruh berkas klaim tindakan Sectio Caesare rawat inap kelas tiga pada pasien BPJS bulan Maret sampai dengan April tahun 2019 sebanyak 149 kasus, berdasarkan data laporan rekap klaim pembayaran BPJS yang diambil dari data biaya riil rumah sakit.Subjek penelitian ini adalah bagian Sistem Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)/ bagian Perincian Biaya dan bagian BPJS di RSU. Imelda Pekerja Indonesia.
Sampel dalam penelitia ini adalah semua populasi sebanyak 149 berkas rekam medis pada kasus tindakan Sectio Caesare rawatinap yang mendapatkantindakansectiocasearea.
JAMINAN KESEHATAN NASIONAL
Sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia No 32 tahun 2014 tentang jaminan kesehatan nasional, maka jaminan kesehatan nasional (JKN) adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.
A. BPJS Kesehatan ( Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ) Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya di bayarkan oleh pemerintah.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) Kesehatan adalah Badan hukum yang di bentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan (Depkes RI, 2012).
Manfaat Jaminan Kesehatan BPJS Kesehatan yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayana kesehatan non speasialistik meliputi :
a. Administrasi Pelayanan
b. Pelayanan Promotif dan preventif
c. Pemeriksaan, pengobatan, konsultasi medis
d. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
e. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai f. Transfusi darah sesuai kebutuhan medis
g. Pemeriksaan penunjang diagnosa laboratorium tingkat pertama
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial,Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS bertujuan untuk mewujudkan terselenggaranya pemberian jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap Peserta dan/atau anggota keluarganya.
B. Pengertian INA-CBG’s
Case Base Groups (CBG’s) pada dasarnya mempunyai definisi yang sama dengan DRG yang juga termasuk dalam sistem casemix. Indonesia Case Based Groups (INA-CBG’s) adalah CBG’s yang dikaitkan dengan tarif yang dihitung berdasarkan data costing di Indonesia dan dijalankan dengan menggunakan United Nation University Grouper (UNU-GROUPER), berbeda dengan INA- DRG terdahulu yang memakai sistem grouper komersial dari PT.
3M Indonesia. UNU adalah institusi dibawah PBB dengan prioritas membantu negara-negara berkembang untuk mencapai Millenium Development Goals (MDG’s) (Depkes RI, 2011).
Perhitungan biaya perawatan pada sistem ini dilakukan berdasarkan diagnosis akhir pasien saat dirawat inap di rumah sakit. Penerapan case based groups pembayaran berdasarkan rata- rata biaya yang dihabiskan oleh beberaparumah sakit untuk suatu diagnosis, besarnya biaya perawatan pasien dengan diagnosis akan berbeda apabila tipe rumah sakit tersebut berbeda (Tabrany, 2008).
Sistem pembayaran case based groups adalah berdasarkan diagnosis pasien keluar perawatan. Rumah sakit mendapatkan
penggantian biaya perawatan berdasarkan rata-rata biaya yang yang dihabiskan oleh rumah sakit dalam penatalaksanaan satu diagnosis penyakit. Sistem INA-CBG’s (Indonesia Case Based Groups) merupakan solusi untuk pengendalian biaya pelayanan kesehatan karena berhubungan dengan mutu, pemerataan, jangkauan dalam sistem kesehatan yang menjadi salah satu unsur dalam pembelanjaan kesehatan serta mekanisme pembayaran untuk pasien berbasis kasus campuran (Kemenkes RI, 2010).
C. Sistem Casemix
Sistem casemix adalah pengelompokan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis yang mirip/sama dan penggunaan sumber daya/biaya perawatan yang mirip/sama, pengelompokan dilakukan dengan menggunakan software grouper.Sistem casemix dikenal sebagai pembayaran secara prospektif, pembayaran secara prospektif adalah pembayaran yang dilakukan atas layanan kesehatan yang besarannya sudah diketahui sebelum pelayanan kesehatan diberikan (Permenkes, 2016).
D. Pengertian Indonesia Case Based Groups (INA CBG’s) Indonesia Case Based Groups (INA CBG’s) merupakan sistem casemix yang di implementasikan di Indonesia. Dasar pengelompokan dalam INA-CBG’s menggunakan sistem kodifikasi dari diagnosis akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, dengan acuan (Permenkes, 2016) :
ICD-10 untuk diagnosis.
a. ICD-9-CM untuk tindakan/prosedur.
b. Dari kedua ICD tersebut Dikelompokkan menggunakan sistem teknologi informasi berupa Aplikasi INA CBG sehingga dihasilkan 1.077 Group/Kelompok Kasus yang terdiri dari 789 kelompok kasus rawat inap dan 288 kelompok kasus rawat jalan.
c. Pengelompokan kode diagnosis dan prosedur dilakukan dengan menggunakan grouper UNU (UNU Grouper). UNU- Grouper adalah Grouper casemix yang dikembangkan oleh United Nations University (UNU).
E. Tarif INA CBG’s
Tarif INA-CBG merupakan tarif paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya rumah sakit yang digunakan dalam pelayanan baik medis maupun non-medis. Tarif INA-CBG’s meliputi (Permenkes, 2013):
a. Tarif pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit kelas A, kelas B, kelas C dan kelas D dalam regional 1.
b. Tarif pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit kelas A, kelas B, kelas C dan kelas D dalam regional 2.
c. Tarif pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit kelas A, kelas B, kelas C dan kelas D dalam regional 3.
d. Tarif pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit kelas A, kelas B, kelas C dan kelas D dalam regional 4.
e. Tarif pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit kelas A, kelas B, kelas C dan kelas D dalam regional 5.
f. Tarif pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit umum rujukan nasional.
g. Tarif pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit khusus rujukan nasional.
Regionalisasi dalam tarif INA-CBGs dimaksudkan untuk mengakomodir perbedaan biaya distribusi obat dan alat kesehatan di Indonesia. Dasar penentuan regionalisasi digunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari Badan Pusat Statistik (BPS), pembagian regioalisasi dikelompokkan menjadi 5 regional.
Kesepakatan mengenai pembagian regional dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dengan
hasil regionalisasi tingkat propinsi sebagai berikut (Permenkes, 2014):
Tabel 1
Daftar Regionalisasi tarif INA CBG’s
REGIONALISASI
I II III IV V
Banten DKI Jakarta DI
Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Barat
Sumatera Barat NTB Riau Lampung Sumatera Selatan Bali
Sumatera Utara NAD
Bengkulu Kalimantan Barat
Kepulauan Riau Jambi
Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Sulawesi Selatan
Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah
Papua Papua Barat Kalimantan Utara Kalimantan Timur Maluku Maluku Utara NTT
Bangka Belitung
F. Biaya Riil Rumah Sakit
Biaya adalah kas dan setara kas yang dikorbankan untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang diharapkan akan memperoleh manfaat atau keuntungan dimasa mendatang (Purwanti, 2013).Biaya riil adalah biaya yang dikeluarkan secara total atau keseluruhan untuk memperoleh barang atau jasa yang diharapkan. Tarif Rumah Sakit adalah imbalan yang diterima oleh Rumah Sakit atas jasa dari kegiatan pelayanan maupun non pelayanan yang diberikan kepada pengguna jasa.Komponen biaya satuan pembiayaan (unit cost) dihitung dengan mempertimbangkan kontinuitas dan pengembangan layanan, daya beli masyarakat, asas keadilan dan kepatutan, dan kompetisi yang sehat. Biaya satuan pembiayaan (unit cost) merupakan hasil perhitungan total biaya (total cost) masing-masing kegiatan yang dikeluarkan Rumah Sakit (Permenkes, 2015).
Kegiatan pelayanan yang dikenakan Tarif Rumah Sakit dikelompokkan berdasarkan jenis pelayanan pada masing-masing tempat pelayanan.Jenis pelayanan terdiri atas pelayanan medis dan pelayanan penunjang medis.Tempat pelayanan terdiri atas pelayanan pada rawat jalan, rawat inap, dan rawat darurat.Tempat pelayanan pada rawat inap meliputi ruang perawatan, kamar operasi, kamar bersalin, rawat intensif, dan rawat rehabilitasi (Permenkes, 2015).
G. Tarif Pelayanan Rumah Sakit
Penetapan tarif di rumah sakit harus selalu berpedoman pada biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan pelayanannya, sebab bila rumah sakit menetapkan tarif dibawah biayanya, maka rumah sakit tersebut akan mengalami kerugian, sehingga kelangsungan hidup rumah sakit tidak akan terjamin (Primadinta, 2009).
Penetapan tarif dapat dilakukan dengan menghitung anggaran biaya variabel rata-rata yang ditambah dengan presentase tertentu dan dapat juga dilakukan dengan taksiran biaya penuh yang ditambah dengan nilai perolehan laba yang diinginkan (Sutomo, 2003)
Menurut Azwar (1996), untuk dapat menetapkan tarif pelayanan yang dapat menjamin total pendapatan yang tidak lebih rendah dari total pengeluaran, banyak faktor yang perlu diperhitungkan diantaranya:
1. Biaya Investasi Untuk suatu rumah sakit, biaya investasi (Invesment cost) yang terpenting adalah biaya pembangunan gedung, pembelian berbagai peralatan medis, pembelian peralatan non medis serta biaya pendidikan dan pelatihan tenaga pelaksana sehingga dapat disimpulkan bahwa jika biaya investasi cukup besar maka tariff pelayanan yang diterapkan akan cenderung mahal.
2. Biaya Kegiatan Rutin Untuk sarana kesehatan biaya kegiatan rutin (operational cost) yang dimaksudkan adalah mencakup semua biaya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan. Ditinjau dari kepentingan pemakai jasa pelayanan maka biaya kegiatan rutin dapat dibedakan atas dua macam:
a. Biaya untuk kegiatan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan pelayanan kesehatan (Direct cost)
b. Biaya untuk kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan pelayanan kesehatan (Indirect cost) Biaya Rencana Pengembangan Biaya rencana pengembangan yang dimaksud adalah mulai dari rencana perluasan bangunan, penambahan peralatan, penambahan jumlah dan peningkatan pengetahuan serta keterampilan karyawan dan atau rencana penambahan jenis pelayanan.
3. Besarnya Target Keuntungan Tergantung dari filosofi yang dianut oleh pemilik sarana kesehatan sehingga persentase keuntungan tersebut seyogyanya keuntungan suatu.
H. Tarif Jasa Pelayanan Rumah sakit
Tarif Jasa Pelayanan Rumah sakitTarif adalah nilai suatu jasa pelayanan yang ditetapkan dengan ukuran sejumlah uang berdasarkan pertimbangan bahwa dengan nilai uang tersebut sebuah Rumah sakitbersedia memberikan jasa kepada pasien.
Tarif Rumah sakitmerupakan aspek yang sangat diperhatikan olehRumah sakitswasta juga oleh Rumah sakitmilik pemerintah.
Bagi Rumah sakitpemerintah, tarif ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan atau Pemerintah Daerah. Hal ini menunjukkan adanya kontrol ketat pemerintah
sebagai pemilik Rumah sakit. (Trisnantoro, 2009 dalan Hotma 2015).
a.Tujuan Penetapan Tarif
Penanganan penetapan tarif dan tujuan penetapan tersebut dipengaruhi oleh pemiliknya. Dengan latar belakang kepemilikan tersebut, tarif dapat ditetapkan dengan berbagai tujuan sebagai berikut:
a) Penetapan Tarif untuk Pemulihan Biaya.
Keadaan ini terutama terdapat pada Rumah sakitpemerintah yang semakin lama semakin berkurang subsidinya.
b) Penetapan Tarif untuk Subsidi Silang.
Adanya kebijakan agar masyarakat ekonomi kuat dapat ikut meringankan pembiayaan pelayanan Rumah sakitbagi masyarakat ekonomi lemah.
c) Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Akses Pelayanan.
Kebijakan penetapan tarif serendah mungkin sehingga diharapkan dengan tarif rendah ini maka akses akan baik atau mudah terutama bagi orang miskin.
d) Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan.
Kebijakan penetapan tarif pada bangsal VIP yang dilakukan berdasarkan pertimbangan untuk meningkatkan mutu layanan dan juga peningkatan kepuasan kerja dokter spesialis.
e) Penetapan Tarif untuk Mengurangi Pesaing.
Dapat dilakukan untuk mencegah adanya Rumah sakitbaru yang akan menjadi pesaing.
f) Penetapan Tarif untuk Memperbesar Keuntungan.
Dapat dilakukan pada pasar Rumah sakityangcenderung dikuasai satu Rumah sakit(monopoli) dengan tujuan memaksimalkan pendapatan.
g) Penetapan tarif yang bertujuan minimisasi penggunaan pelayanan, mengurangi pemakaian, tarif ditetapkan secara tinggi.
h) Penetapan Tarif dengan Tujuan Untuk Menciptakan Corporate ImageMenciptakan Corporate Imageadalah penetapan tarif yang ditetapkan dengan tujuan meningkatkan citra Rumah sakit.
b. Kebijakan Tarif
a) Tarif pelayanan Rumah sakitditetapkan dengan memperhatikan nilai jasa pelayanan Rumah sakitserta kemampuan membayar mayarakat setempat.
b)Tarif Rumah sakitditetapkan atas dasarjenis pelayanan, tingkat kecanggihan pelayanan dan kelas perawatan.
c)Pemberian keringanan atau pembebasan biaya pelayanan Rumah sakitbagi pasien kurang mampu diatur oleh direktur Rumah sakityang bersangkutan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik.
d)TarifRumah sakituntuk golongan masyarakat yang pembayarannya dilakukan oleh pihak penjamin melalui suatu ikatan perjanjian secara tertulis.
e)Penetapan besaran tarif pelayanan Rumah sakitdilakukan dengan mempertimbangkan adanya subsidi silang bagi tarif pelayanan pasien kelasIII. (Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1165/ MENKES/SK/X/2007 tentang Pola Tarif Rumah sakitBadan Layanan Umum).
c.Strategi Penetapan Tarif
1) Penetapan Tarif Berorientasi biaya
Yaitu penetapan tarif/harga yang sepenuhnya mengacu kepada biaya yang dikeluarkan, baik biaya marjinal maupun biaya total termasuk biaya tidak langsung (overhead cost).
2)Penetapan Tarif Berorintasi permintaanRumah sakitmemerhatikan kondisi permintaan, bukan tingkat biaya, dalam menetapkan tarif/harga.
3)Penetapan Tarif Berorientasi persainganRumah sakitmenetapkan tarif/harga atas dasar tarif/harga yang ditetapkan oleh para pesaingnya.
I. Faktor–faktor Pertimbangan Penetapan Tarif Rumah Sakit
Terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan tarif, (Gani, 1996 dalam Hotma). Faktor–
faktorpertimbangan tarif Rumah sakityaitu:
1. Biaya satuan yaitu biaya yang menggambarkan besaran biaya pelayanan per pasien (besar pengorbanan faktor produksi untuk menghasilkan pelayanan).
2. Jenis pelayanan, tingkat pemanfaatan dansubsidi silang yang diharapkan. Unit dengan tingkat pemanfaatan yang rendah relatif sulit untuk ditingkatkan tarifnya sebaliknya unit-unit yang potensial sebagai Revenue Center perlu dikembangkan lagi agar dapatmeningkatkan untuk pendapatan Rumah sakit.
3. Tingkat Kemampuan Masyarakat. Memepertimbangkan kemampuan membayar masyarakat, diukur dengan cara melihat ATP (Ability To Pay)sertaWTP (Willingness To Pay)masyarakat.
4. Elastisitas Hukum ekonomi mengatakan bahwa perubahan tarif akan menyebabkan perubahan permintaan akan produk yang ditawarkan.
5. Tarif Pelayanan Pesaing Yang SetaraRumah sakitperlu juga membandingkan tarif pelayanan pesaing yang setara.
Dari uraian teori–teoridi atas, semakin jelas bahwaperaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah berorientasi untuk membantu masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan
yang berkualitas dan terjangkau. Asuransi kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah mendorong rumah Rumah sakituntuk ikut terlibat dalam melayani masyarakat dengan baik.
Teori ini akan diuji dalam penelitian ini untuk menemukan perbedaan tarif antara pemerintahdan Rumah sakit. Dengan demikian, ke depan pemerintah dan Rumah sakitsemakin memahami ketentuan-ketentuan yang berlaku demi kerjasama yang lebihbaik di hari-hari yang akan datang.
J. Ekonomis, Efisiensi, dan Efektivitas
Menurut Hans Kartikahadi dalam Agoes (2012:167) pengertian ekonomis, efisiensi, dan efektivitas adalah sebagai berikut:
1. Ekonomis
Ekonomis berarti cara penggunaan sesuatu barang (hal)secara berhati-hati dan bijak (prudent) agar diperoleh hasil yang terbaik.
2. Efisiensi
Efisien berarti bertindak dengan cara yang dapat meminimalisasi kerugian atau pemborosan sumber daya dalam melaksanakan atau menghasilkan sesuatu.
3. Efektivitas
Efektivitasdimaksud bahwa produk akhir suatu kegiatan operasi telah mencapai tujuan baik ditinjau dari segi kualitas hasil kerja. Kuantitas hasil kerja, maupun batasan waktu yang ditergetkan
K. Rekam Medis
Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien (Permenkes, 2008). Rekam medis dikelola oleh profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK).Penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 55 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan pekerjaan perekam medis (Laela, 2015).
Profesi perekam medis melakukan coding/kodefikasi diagnosis dan tindakan/prosedur yang ditulis oleh dokter yang merawat pasien sesuai dengan ICD-10 untuk diagnosis dan ICD-9- CM untuk tindakan/prosedur yang bersumber dari rekam medis pasien.Perekam medis dan dokter harus paham benar ICD 10.Perekam medis harus selalu berkoordinasi dengan dokter bila menemukan ketidakjelasan dalam penulisan diagnosa.Salah dalam pengkodean, dapat menyebabkan kerugian finansial yang sangat besar karena berdampak pada perhitungan biaya rumah sakit (Laela, 2015).
L. Penelitian Terdahulu
Menurut Trisnantoro (2006) proses penetapan tarif di rumah sakit dapat berbeda tergantung misi dan tujuan masing- masing rumah sakit. Pada rumah sakit dengan menggunakan pendekatan perusahaan penetapan tarif dapat dilakukan dengan teknik-teknik sebagai berikut:
1. Full cost pricing. Informasi serta analisis biaya mutlak diperlukan. Berdasarkan unit cost maka asumsinya tidak ada pesaing atau demand sangat tinggi.
2. Contract dan cost plus. Tarif ditetapkan berdasarkan kontrak, misalnya kontrak dengan perusahaan asuransi atau konsumen yang tergabung dalam suatu organisasi.
Tarif kontrak dapat memakasa rumah sakit menyesuaikan tarifnya sesuai kontrak yang ditawarkan asuransi, sehingga untuk dapat bersaing, rumah sakit harus mempertimbangkan masalah efisiensi.
3. Target rate of return pricing. Penetapan tarif berdasarkan target yang merupakan modifikasi dari metode full cost.
Teknik ini berbasis pada unit cost dengan mempertimbangkan faktor demand dan pesaing.
4. Acceptance pricing. Teknik ini diterapkan apabila pada suatu pasar terdapat satu rumah sakitdianggap sebagai panutan harga, maka rumah sakit lain akan mengikuti pola pentarifan yang digunakan oleh rumah sakit tersebut.
Implementasi penggunaan tarif INA CBG’s BPJS Kesehatan di Indonesia diberlakukan tanggal 1 Januari 2014. Beberapa penelitian dan jurnal yang digunakan sebagai referensi oleh peneliti adalah :
Tabel 2
Penelitian Sebelumnya
No Peneliti Judul Tahun Kesimpulan
1. Dhea Riadhianny Suci
Kusumaningtyas, Lily Kresnowati, Dyah Ernawati.
Analisa perbedaan biaya riil rumah sakit dengan tarif INA-CBG’s 3.1 untuk kasus persalinan dengan Sectio Caesaria pada pasien Jamkesmas di RSUD Tugurejo Semarang
2013 Terjadi perbedaan antara biaya riil yang
lebih besar
dibandingkan tarif INA CBG’s.
2. Hanly Christian Walintukan, S.L.H.V. Joyce Lapian, Jimmy Panelewen.
Analisis
perbedaan tarif riil dengan tarif INA- CBG’s pasien bedah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan di Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon
2017 Dampak perbedaan tarif yang ditetapkan oleh rumah sakit dan BPJS terletak pada pembebanan biaya, dan penetapan tarif rumah sakit.
3 Muslimah, Tri Murti Andayani, Rizaldy Pinzon, Dwi Endarti
Perbandingan biaya riil terhadap tarif INA-CBG’s penyakit stroke iskemik di RS Bethesda
Yogyakarta
2017 Dana tarif INA- CBG’s baik rawat jalan maupun rawat inap tidak mencukupi membiayai perawatan pasien stroke iskemik.
Berdasarkan karakteristik lama rawat inap, kelas rawat inap terhadap
stroke iskemik rawat inap, terdapat pengaruh signifikan (p < 0,05).
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah RSU. Imelda Pekerja Indonesia Medan.
Awal berdirinya Rumah Sakit Imelda dimulai dari klinik bersalin yang terletak di Jl. Bilal No. 48 Medan dan didirikan oleh yayasan Imelda. Pada tahun 1982 seiring bartambahnya pasien bersalin dan berobat umum, memperluas lahan dan pindah lokasi di Jl. Bilal No. 24 Medan serta mendapatkan izin sementara RSU Imelda. Pada tahun 1997 perpanjang izin penyelenggaraan rumah sakit, berdasarkan keputusan Mentri Kesehatan RI No. Ym. 02. 04.
2. 2. 864 pada tanggal 04 Maret 2003.
Pada tahun 2004 RSU Imelda berubah nama menjadi RSU IPI Medan yang artinya Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan tempatnya pada tanggal 24 Mei 2004. Pada tahun 2008 RSU IPI menerima Sertifikat Akreditasi penuh Tingkat Dasar dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada Tanggal 06 Februari 2004. Pada tahun 2009 keluarlah Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 882/ MENKES/ SK/ IX/
2009 tentang penetapan RSU IPI Rumah Sakit Kelas “B”. Pada tahun izin tetap RSU IPI saat ini adalah dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia No. 07. 06/ III/ 522/ 08, Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan, Rumah Sakit IPI menyediankan fasilitas pelayanan kesehatan meliputi rawat jalan, rawat inapa, gawat darurat dan beberapa unit penunjang.
RSU. IPI Medan merupakan rumah sakit swasta tipe B dengan kapasitas 310 tempat tidur (TT), rata-rata jumlah pasien
rawat inap masuk 42/hari, rata-rata jumlah pasien rawat jalan 150-200 pasien/hari, pasien rawat inap jaminan berkisar antara 1.000 sampai 1.200 pasien/bulan dan dengan jumlah pemanfaatan tempat tidur (BOR) tahun 2016 sebesar 66%, dan pada tahun 2018 jumlah pemanfaatan tempat tidur (BOR) sebesar 50%. RSU. IPI Medan telah melaksanakan sistem INA-CBG’S’s dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk pasien Jamkesmas atau KJS.
B. Visi dan Misi
Visi RSU. Imelda Pekerja Indonesia “Menjadi rumah sakit rujukan dengan pelayanan berkualitas sesuai standart nasional”.
Misi RSU. Imelda Pekerja Indonesia
1. Memberikan pelayanan sesuai standar nasional
2. Memberikan pelayanan mengutamakan mutu dan keselamatan pasien
3. Menumbuhkan budaya kesehatan
C. Fasilitas Pelayanan di RSU. Imelda Pekerja Indonesia 1. Unit Gawat Darurat (dokter jaga 24 jam)
2. Klinik Umum/ Klinik Rawat Jalan 3. Kamar perawat intensif (ICU) 4. Hemodialisa
5. Ruang perinatologi 6. Ruang kemotraphy
7. Instalasi rehabilitasi medik (fisioterapi)
8. Unit pelayanan jantung (keteterisasi, Ring (Stent)) 9. Unit luka bakar
10. Unit perawatan luka 11. Radiologi
12. X-ray
13. CT Scan 16 Slices 14. Ultrasonography
15. EKG (Elektro Cardiography/rekam jantung) 16. Eeg (Elektro Enchepaligraphy/rekam otak) 17. Laboratorium klinik 24 jam
18. Treadmill
19. Endoscopy : (gastroscopy, Colonoscopy, ligasi varices)
D. Pelayanan Poliklinik Spesialis di RSU. Imelda Pekerja Indonesia
1. Spesialis Penyakit Dalam 2. Spesialis Mata
3. Spesialis Anak
4. Spesialis Kulit dan Kelamin 5. Spesialis bedah umum 6. Spesialis Orthopedi 7. Spesialis Urologi 8. Spesialis Saraf 9. Spesialis Paru 10. Spesialis THT 11. Spesialis Gigi
12. Spesialis Bedah Mulut
13. Spesialis Jantung Pembuluh Darah 14. Spesialis Bedah Plastik
15. Spesialis Bedah Anak 16. Spesialis Bedah Syaraf 17. Spesialis Kejiwaan
18. Spesialis Rehabilitas Medik
19. Spesialis Kebidanan dan Kandungan
HASIL ANALISA KUALITATIF
Distribusi frekuensi pasien sectio caesare menurut umur di di RSU. Imelda Pekerja Indonesia pada bulan Maret 2019 sampai dengan April tahun 2019 , dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel. 2
Karakteristik Pasien Sectio Caesare berdasarkan usia pada bulan Maret –April
tahun 2019 di RSU. Imelda Pekerja Indonesia
Umur F %
16 Tahun 1 1
19 Tahun 12 8
20 Tahun 15 10
21 Tahun 12 8
23 Tahun 17 11
24 Tahun 13 7
25 Tahun 13 9
26 Tahun 15 10
27 Tahun 14 6
28 Tahun 8 4
29 Tahun 9 3
30 Tahun 2 4
31 Tahun 3 2
32 Tahun 3 2
33 Tahun 2 5
34 Tahun 3 2
35 Tahun 3 2
36 Tahun 1 3
37 Tahun 2 2
38 Tahun 1 1
Total 149 100
Sumber. Bagian Administrasi RSU. Imelda Pekerja Indonesia
Berdasarkan tabel di atasmenunjukkan bahwa data pasien sectio caesare berdasarkan karakteris umur pada bulan Maret tahun 2019 dan April tahun 2019 di RSU. Imelda Pekerja Indonesia, mayoritas pasien umur 23 tahun sebanyak 17 orang dan minoritas 16 tahun sebanyak 1 orang.
Tabel. 3
Distribusi Pasien Sectio Caesare berdasarkan cara pulang pada bulan maret –April tahun 2019 di RSU. Imelda Pekerja Indonesia
Kategori Cara Pulang N %
Atas Persetujuan Dokter 144 91
Dirujuk 3 4
Atas Permintaan Sendiri 1 2
Meninggal 1 3
Total 149 100
Sumber. Bagian Administrasi RSU. Imelda Pekerja Indonesia
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat dari karakteristik cara pulang pasien tindakan sectio caesare di RSU. Imelda Pekerja Indonesia, mayoritas pulang atas persetujuan dokter (sembuh) sebanyak 130 orang (91%), dirujuk sebanyak 6 orang (4%), meninggal sebanyak 4 orang (3%) dan minoritas pulang Atas permintaan sendiri sebanyak 3 orang (2%).
Tabel. 5
BiayaRiilBerdasarkanJumlahBiayaRiilTertinggi Dan TerendahPadaSetiapKategori.
Kategori Kasus Sectio Caesare dari Tingkat Keparahan
Biaya Rill Rumah Sakit Jumlah Kasus Tingkat Keparahan Tertinggi Terendah
Kategori Ringan Cepalo Pelvic
Disproportion (CPD) Rp. 8.425.230 Rp. 6.308.100 47 Kategori Sedang Letak
Lintang Rp. 11.473.130 Rp.7.776.330 28
Kategori Berat Pre-
eklamsia Rp. 12.336.930 Rp.9.491.130 74
Total Kasus Tindakan Sectio Caesare 149 Sumber. Bagian administrasi (Aplikasi SIMRS) di RSU. Imelda
Pekerja Indonesia
Dari tabel diatas dapat diliha jumlah hasil biaya riil tertinggi adalah Pre-eklamsia sebesar Rp. 12.336.930 dan biaya riil terendah adalah kategori ringan Cepalo Pelvic Disproportion (CPD) sebesar Rp. 6.308.100.
TARIF RILL TINDAKAN SECTIO CAESARE DI RSU. IMELDA PEKERJA INDONESIA.
Berdasarkan hasil penelitian data kunjungan jumlah pasien section caesare di RSU Imelda Pekerja Indonesia pada bulan Maret dan April tahun 2019 sebanyak 149 pasien. Tarif rill tindakan section caesare di RSU. Imelda Pekerja Indonesia meliputi ; Honor Dokter Operator Operasi Sectio Caesare, Honor Dokter anastesi operasi section caesare, Jasa asisten anastesi, CTG, Sewa Ok tindakan SC, Sterilisasi, Visit dokter spesialis SPOG, Konsultasi dokter Umum, Pemasangan Kateter urine, Pemasangan Infu (IGD), Revisi/ Ganti Verban kecil dan sedang, Laboratorium, Administrasi ruangan kelas, gelang pink, sewa kamar kelas, obat, Alkes, dan biaya lainnya. Tarif Rill Rumah Sakit Untuk Tindakan Sectio Caesarea Berdasarkan Kelas Perawatan antara lain:
Tabel. 4TarifRill Rumah Sakit UntukTindakanSectio Caesareaper rincian/per kegiatan Di RSU. Imelda Pekerja
Indonesia Tahun 2019
Uraian/
Rincian Tarif Rill
Sectio Caesarea
Kelas I Kelas II Kelas III
Unit Cost Q
T Y
Total Unit Cost Q
T Y
Total Unit Cost Q
T Y
Total
Honor Dokter Operator Operasi Sectio
Rp.
3.000.
000 1 Rp.
3.000.00 0
Rp.
2.200.
000 1 Rp.
2.200.00 0
Rp.
1.
200.
000
1 Rp.
1.200.00 0
Caesare Honor Dokter anastesi operasi sectio caesare
Rp.
1.000.
000 1 Rp.
1.000.00 0
Rp.
700.0
00 1 Rp.
700.000 Rp.
500.
000 1 Rp.
500.000
Jasa asisten anastesi
Rp.
500.0
00 1 Rp.
500.000 Rp.
400.0
00 1 Rp.
400.000 Rp.
300.
000 1 Rp.
300.000
CTG Rp.
100.0
00 1 Rp.
100.000 Rp.
100.0
00 1 Rp.
100.000 Rp.
100.
000 1 Rp.
100.000 Sewa Ok
tindakan SC
Rp.
1.200.
000 1 Rp.
1.200.00 0
Rp.
1.000.
000 1 Rp
.1.000.0 00
Rp.
800.
000 1 Rp . 800.000 Sterilisasi Rp.
500.0
00 1 Rp.
500.000 Rp.
500.0
00 1 Rp.
500.000 Rp.
500.
000 1 Rp.
500.000 Konsulta
si Visit dokter Sp.SPOG
Rp.
160.0
00 3 Rp.
480.000 Rp.
130.0
00 3 Rp.
390.000 Rp.
100.
000 3 Rp.
300.000 Konsultas
i dokter Umum
Rp.
120.0
00 1 Rp.
120.000 Rp.
100.0
00 1 Rp.
100.000 Rp.
80.0
00 1 Rp.
80.000 Keperaw
atan Pema sanga n Katet er urine
Rp.
150.0
00 1 Rp.
150.000 Rp.
150.0
00 1 Rp.
150.000 Rp.
150.
000 1 Rp.
150.000
Pema sanga n Infu (IGD)
Rp.
150.0
00 1 Rp.
150.000 Rp.
150.0
00 1 Rp.
150.000 Rp.
150.
000 1 Rp.
150.000 Revisi
/ Ganti Verba n kecil dan sedan g
Rp.
250.0
00 1 Rp.
250.000 Rp.
250.0
00 1 Rp.
250.000 Rp.
250.
000 1 Rp.
250.000
Laborato rium
Darah
rutin Rp.
70.00
0 1 Rp.
70.000 Rp.
70.00
0 1 Rp.
70.000 Rp.
70.0
00 1 Rp.
70.000
Sumber. Bagian administrasi (Aplikasi SIMRS) di RSU. Imelda Pekerja Indonesia
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat jumlah tarif rill tindakan sectio caesare dengan kategori kelas perawatan , pada kelas 1sebanyak Rp. 10.272.200, pada kelas 2 sebanyak Rp.8.574.300, pada kelas 3 sebanyak 6.308.100.berdasarkan jumlah tarif INA-CBG’s tindakan sectio caesare dengan kategori kelas rawatan , pada kelas 1 sebanyak Rp. 8.465.700, pada kelas 2 sebanyak Rp. 7.065.200, pada kelas 3 sebanyak Rp. 5.406.900.
Hemo
globin Rp.
20.00
0 1 Rp.
20.000 Rp.
20.00
0 1 Rp.
20.000 Rp.
20.0
00 1 Rp.
20.000 HbsA
g Rapid Rp.
70.00
0 1 Rp.
70.000 Rp.
70.00
0 1 Rp.
70.000 Rp.
70.
000 1 Rp.
70.000 HIV
(Methode Rapid tes)
Rp.
0 1 Rp.
0 Rp.
0 1 Rp.
0 Rp.
0 1 Rp.
0 Kamar/
Akomoda si
Admi nistra si
Rp.
200.0
00 1 Rp.
200.000 Rp.
160.0
00 1 Rp.
160.000 Rp.
80.0
00 1 Rp.
80.000 Gelan
g Pink Rp.
10.00
0 1 Rp.
10.000 Rp.
10.00
0 1 Rp.
10.000 Rp.
10.0
00 1 Rp.
10.000 Sewa
Kama r
Rp.
600.
000 3 Rp.
1.800.00 0
Rp.
400.
000 3 Rp.1.20 0.000
Rp.
250.
000 3 Rp.
750.000 Obat Rp.
635.2 00
Rp.
635.200 Rp.
547.8 00
Rp.
547.800 Rp.
530.
700
Rp.
530.700 ALKes Rp.
633.0 00
Rp.
633.000 Rp.
434.5 00
Rp.
434.500 Rp.
351.
400
Rp.
351. 400 BMHP Rp.
144 .000
Rp. 144 .000
Rp.
142 .000
Rp. 142 .000
Rp.
106.
000
Rp.
106.000 Total
Tarif Rill RS
Rp.1.03
2.200 Rp.8.59
4.300 Rp.6.31
8.100 Tarif
INA- CBG’s
Rp.8.46
5.700 Rp.7.06
5.200 Rp.5.40
6.900
Tabel. 5
Biaya Riil Berdasarkan Jumlah Biaya Riil Tertinggi Dan Terendah Pada Setiap Kategori.
Kategori Kasus Sectio Caesare dari Tingkat
Keparahan
Biaya Rill Rumah Sakit Jumlah Kasus Tingkat Keparahan Tertinggi Terendah
KategoriRinganCepaloPelvic
Disproportion(CPD) Rp. 8.425.230 Rp.6.308.100 47 KategoriSedang Letak
Lintang Rp. 11.473.130 Rp.7.776.330 28
KategoriBerat Pre-eklamsia Rp. 12.336.930 Rp.9.491.130 74 Total Kasus Tindakan Sectio Caesare 149
Sumber. Bagian administrasi (Aplikasi SIMRS) di RSU. Imelda Pekerja Indonesia
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat jumlah hasil biaya riil tertinggi adalah Pre-eklamsia sebesar Rp. 12.336.930 dan biaya riil terendah adalah kategori ringan Cepalo Pelvic Disproportion (CPD) sebesar Rp. 6.308.100.
TARIF INA CBG’S 5.2
Tarif INA-CBG yang menggunakan software INA CBG’s 5.2 untukkasuspersalinantindakansection caesareadi RSU Imelda Pekerja Indonesia dibagimenjadi 3 (tiga) kategori, yaitu prosedur section caesarea ringan, prosedur section caesareasedang, dan prosedur section caesarea berat.
Tabel. 6
TarifINA-CBG’s UntukTindakanSectio Caesarea Berdasarkan Tingkat Keparahan Dan KelasPerawatan.
Kode ICD
10
Diagnosa
TarifINA- CBG’s Tingkat Keparahan Ringan
(O-6-10-II)
Sedang (O-6-10-II)
Berat (O-6-10-III)
O82.0
Delivery by elective caesarean section (disebabkan CPD atauCepalo Pelvic Disproportion)
Rp.5.406.900 Rp.7.065.200 Rp.
8.465.700
082.0
Delivery by elective caesarean section
(disebabkanLetakLintang)
Rp.6.295.600 Rp.7.965.900 Rp.
9.055.300 O82.1
Delivery by emergency section (disebabkanPre- eklamsia)
Rp.8.470.100 Rp.9.053.100 Rp.
10.958.240
Sumber. Bagian administrasi BPJS di RSU. Imelda Pekerja Indonesia
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat jumlah tarif INA- CBG’s tindakan sectio caesare dengan diagnosa Delivery by elective caesarean section (disebabkanCPD atau Cepalo Pelvic
Disproportion), dan kode tingkat keparahan O-6-10-Ikategori ringan sebanyak Rp.5.406.900, kategori sedang sebanyak Rp.7.065.200, kategori berat sebanyakRp. 8.465.700.Pada diagnosa Delivery by elective caesarean section (disebabkan Letak Lintang) dan kode tingkat keparahanO-6-10-IIkategori ringan sebanyak Rp.Rp.6.295.600, kategori sedang sebanyak Rp.7.965.900, kategori berat sebanyak Rp. 9.055.300, Pada kategori diagnosa Delivery by emergency section (disebabkanPre- eklamsia)dan kode tingkat keparahanO-6-10-IIIkategori ringan sebanyak Rp.8.470.100, kategori sedang sebanyak Rp.9.053.100, kategori berat sebanyak Rp. 10.958.240.
Tabel. 7
Biayayang melebihi dan biaya yang kurang dari tarif RiilRumahSakitDenganTarifINA-CBG’s 5.2UntukTindakanSectio
Caesarea
Kategori JumlahPasien % Nilai (Rp)
Biayariil yang melebihitarifINA-
CBG’s 105 70 170.685.200
Biayariil yang
kurangdaritarifINA-CBG’S’s 44 30 28.975.882
Total 149 100 199.661.028
Sumber. Bagian administrasi (Aplikasi SIMRS) di RSU. Imelda Pekerja Indonesia
Berdasarkan table diatas dapat dilihat bahwa dari 149 pasien tindakan sectio caesare pada bulan maret tahun 2019 sampai dengan bulan april tahun 2019 terdapat 105 berkas pasien (73%) biayariil yang melebihi tarif INA-CBG’s dan 44(27%) biaya riil yang kurang dari tariff INA-CBG’s. Total dari biayar iil yang melebihi tariff INA-CBG’s dan biaya riil yang kurang dari tariff INA- CBG’s adalah sebesar Rp. 199.661.028.
Tabel 8
Selisih Tarif Rill Rumah Sakit Dengan Tarif INA-CBG’s Tindakan Sectio Caesare Berdasarkan Tingkat Keparahan Dan Kelas
Perawatan
Komponen Analisa Perbandingan
Tarif
Kelas Pera wata n
Kategori Kasus Sectio Caesare dari Tingkat Keparahan Delivery by elective
caesarean section (disebabkan CPD atauCepalo Pelvic Disproportion)
Delivery by elective caesarean section (disebabkanLetakL intang)
Delivery by emergency section (disebabkanPr e-eklamsia) Biaya Rill RS 1 Rp. 10.272.200 Rp. 10.896.100 Rp. 12.336.930 Tarif INA-CBG’s 1 Rp. 8.465.700 Rp. 9.232.000 Rp. 10.958.240 Total Selisih Rp. 1.806.500 Rp. 1.664.100 Rp. 1.378.690 Biaya Rill RS 2 Rp. 7.065.200 Rp. 9.055.900 Rp. 10.864.100 Tarif INA-CBG’s 2 Rp. 6.055.900 Rp. 7.965.900 Rp. 9.053.100
Total Selisih Rp. 1.209.300 Rp. 1.090.000 Rp. 1.811.000 Biaya Rill RS 3 Rp. 6.308.100 Rp. 7.064.345 Rp. 9.035.000 Tarif INA-CBG’s 3 Rp. 5.406.900 Rp. 6.295.600 Rp. 8.470.100 Total Selisih Rp. 901.200 Rp. 768.745 Rp. 564.900
Sumber : Bagian Administrasi BPJS di RSU. Imelda Pekerja Indonesia Medan
Berdasarkan tabeldiatas dapatdilihatbahwa total selisih daritarif riilRS dengan tarif INA-CBG’s pada Kategori kelas perawatan dan Tingkat Keparahandari Kasus Sectio Caesare di RSU. Imelda Pekerja Indonesia, untuk kelas 1 pada kasusDelivery by elective caesarean section (disebabkanCPD atauCepalo Pelvic Disproportion) total selisih sebanyak Rp. 1.806.500, pada kasusDelivery by elective caesarean section (disebabkan Letak Lintang) total selisih sebanyak Rp. 1.664.100, pada kasus Delivery by emergency section (disebabkan Pre-eklamsia) total selisih sebanyak Rp. 1.378.690.Totalselisih daritarif riilRS dengan tarif INA-CBG’s pada Kategori kelas perawatan dan Tingkat Keparahandari Kasus Sectio Caesare di RSU. Imelda Pekerja Indonesia, untuk kelas 2 Pada kasusDelivery by elective caesarean section (disebabkan CPD atauCepalo Pelvic Disproportion) total selisih sebanyak Rp. 1.209.300, Pada kasusDelivery by elective caesarean section (disebabkan Letak Lintang) total selisih sebanyak Rp. 1.090.000, Pada kasus