• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA HASIL CRACKED MIXTURE pada ALAT PEMECAH BIJI (RIPPLE MILL) KELAPA SAWIT KAPASITAS 250 KG/JAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISA HASIL CRACKED MIXTURE pada ALAT PEMECAH BIJI (RIPPLE MILL) KELAPA SAWIT KAPASITAS 250 KG/JAM"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

17 ANALISA HASIL CRACKED MIXTURE pada ALAT PEMECAH BIJI (RIPPLE

MILL) KELAPA SAWIT KAPASITAS 250 KG/JAM

Mahyunis ST, MT1, Arnold PG Lbn Gaol, ST2, Rayi Hidayah Lestari3 Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan

Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan

RINGKASAN

Analisa cracked mixture pada alat pemecah biji sawit (ripple mill) bertujuan

untuk mengetahui alat ripple mill bekerja dengan ,maksimal. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengukuran biji sawit sebelum masuk ke ripple mill, menghitung hasil cracked mixture pada ripple mill, menganalisa persentase biji utuh dan biji pecah. Efisiensi yang didapat untuk ukuran biji besar adalah 60,54%, biji sedang 68,57%, dan biji kecil 27,46%. Dari hasil yang didapat efisiensi paling tinggi terdapat pada biji sedang dan efisiensi yang paling rendah terdapat pada biji kecil, hal ini disebabkan oleh ukuran biji yang akan dipecah bervariasi dari ukuran biji dan ketebalan cangkang.

Kata kunci: ripple mill, cracked mixture, efisiensi dan biji.

1

Dosen Pembimbing

2

(2)

18

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tandan buah segar (TBS) yang diolah di pabrik kelapa sawit (PKS) menghasilkan dua produk yaitu crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO), tetapi dari kedua produk tersebut terdapat perbedaan angka rendemen sangat jauh berbeda.

Dimana rendemen CPO selalu

menjadi rendemen primer,

sedangkan rendemen PKO selalu menjadi rendemen sekunder. Padahal jika rendemen pada inti (kernel) dapat ditingkatkan lagi, maka akan

menambah keuntungan bagi

perusahaan.

Inti (kernel) utuh adalah salah

satu penentu kualitas untuk

menghasilkan minyak inti sawit yang berkualitas, maka digunakan alat atau mesin pemecah biji yang

berfungsi untuk memisahkan

cangkang dengan inti. Proses pemisahan ini berlangsung pada alat ripple mill (alat pemecah biji). Inti sawit yang utuh dari hasil pemecahan di ripple mill adalah tolak ukur keberhasilan kerja ripple mill, karena semakin banyak inti utuh maka losses inti sawit semakin kecil.

Untuk mengetahui alat ripple mill bekerja dengan maksimal atau

tidak, maka perlu dilakukan

pengecekkan pada hasil keluaran pada hasil keluaran ripple mill yaitu cracked mixture. Data percobaan dan

analisa yang akan dilakukan

menggunakan metode pengukuran secara experimental. Data-data tersebut dapat dituangkan dalam bentuk grafik dan tabel untuk menunjukkan persentase kinerja alat ripple mill.

B. Rumusan Masalah

Hal yang menjadi rumusan masalah dipenelitian ini adalah bagaimana efisiensi (kemampuan kerja alat) dapat tercapai secara

maksimal. Untuk menghindari

banyaknya biji utuh dan biji pecah yang gagal terpecah di ripple mill. Maka dilakukan salah satu tindakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari proses ripple mill. Jika berhasil terealisasi maka proses pemecahan yang terjadi akan sesuai dengan harapan.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini

antara lain adalah mampu

menganalisa hasil cracked mixture pada alat pemecah biji menggunakan metode experimental.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pabrik Kelapa Sawit stasiun biji merupakan stasiun akhir untuk memperoleh inti sawit. Biji yang didapat dari pemisahan biji dan ampas (depericarper) dikirim ke stasiun ini untuk diperam, dipecah, dipisahkan antara inti dan cangkang. Inti dikeringkan sampai batas yang ditentukan, dan cangkang dikirim kepusat pembangkit tenaga sebagai bahan bakar.

Proses pemecahan nut pada pabrik kelapa sawit merupakan suatu proses yang sangat berpengaruh untuk keberhasilan pengolahan inti pada pabrik kelapa sawit. Ripple mill adalah alat untuk memecahkan biji, pada ripple mill terdapat rotor bagian yang berputar pada ripple plate bagian yang diam. biji masuk diantara rotor dan ripple plate

(3)

19 sehingga saling berbenturan dan

memecahkan cangkang dari inti

Oleh karena itu sangat

diperlukan ketelitian untuk dapat

menganalisa, memilih dan

menggunakan alat yang efektif

didalam prosesnya untuk mendapati biaya olah yang optimal dengan kinerja yang bagus sehingga dapat menjadi masukan yang bagus pada pabrik kelapa sawit. Alat yang

efektif dapat dilihat dari sisi

perawatan, biaya operasi, kemudahan dalam proses kinerjanya.

Menurut sukrisno widyotomo (2010) di jurnal yang berjudul Evaluasi Kinerja Mesin Pengupas Kulit Buah Kopi Basah Tipe Silinder

Horizontal menyebutkan bahwa,

kulit buah basah dipisahkan dari

komponen biji kopi berkulit

cangkang karena adanya gaya gesek dan pengguntingan yang berlangsung di dalam celah di antara permukaan silinder yang berputar (rotor) dan permukaan plat atau pisau yang diam (stator).

Rotor memiliki permukaan yang bertonjolan atau bergelembung (buble plate) yang dibuat dari bahan

logam lunak jenis tembaga

(Wintgens, 2004). Palisu (2004) melaporkan bahwa pengupasan kulit buah kopi dengan menggunakan poros pengupas berbentuk persegi enam dan jarak celah 3 mm akan memberikan hasil pengupasan yang lebih baik jika dibandingan dengan cara ditumbuk.

Amelia et al. (1998)

melaporkan bahwa pengupasan kulit buah kopi arabika berukuran antara 7-9 mm dengan menggunakan mesin pengupas kulit buah tipe silinder tunggal dan jarak celah kurang dari 3

mm akan diperoleh 60% buah kopi terkelupas, dan jumlah biji pecah tidak lebih dari 1%.

Sedangkan Tamrin (2010) di jurnal yang berjudul Pengembangan Alat Pengupas Kulit Polong Kacang Tanah Tipe Piring menyebutkan bahwa untuk memperkecil tingkat kerusakan biji, maka pengupasan kulit harus dilakukan pada keadaan kadar air biji kacang tanah 8-16%. Kadar air akan mempengaruhi sifat fisik kacang tanah antara lain

panjang, ketebalan, diameter,

kerapatan, koefisien gaya gesek dan tingkat kerapuhan.

Anifah dan Hafifah (2008) telah melakukan penelitian untuk merancang bangun dan melakukan uji performansi mesin pengupas kulit kacang tanah. Alat dirancang untuk mengupas kulit dan memisahkan kulitnya serta mensortasi biji kacang tanah berdasarkan ukuran. Prinsip pengupasan yang diterapkan adalah tekanan dan gesekan, unit pengupas

berupa silinder berputar dan

landasan, kulit dengan biji

dipisahkan menggunakan kipas.

Unit sortasi berupa ayakan

bertingkat. Secara keseluruhan,

mesin terdiri dari bagian hopper, unit pengupas, kipas, saluran pengeluaran kulit, pengayak, saluran pengeluaran

biji ukuran besar, saluran

pengeluaran biji ukuran kecil,

rangka, motor listrik 2 Hp dan V-belt. Uji performansi alat dilakukan dengan variasi kecepatan putaran silinder pengupas (168, 192, dan 223 rpm).

Hasil pengujian menunjukkan

bahwa pada selang kecepatan

putaran 168 sampai dengan 223 rpm,

(4)

20 pengupasan berbanding lurus dengan

kecepatan putaran silinder pengupas. Kapasitas input mesin dan efisiensi

pengupasan pada masing-masing

kecepatan putaran 168, 192, dan 223 rpm adalah 671 Kg/jam efisiensi 81,9 persen, 808 Kg/jam efisiensi 82,1%, dan 1061 Kg/jam efisiensi 84,9%.

Alat pengupas dengan

kapasitas skala menengah

dikembangkan alat pengupas tipe piring dengan mekanisme kerja tekanan dan gesekan. Alat ini mempunyai dua piring yaitu piring bagian atas disebut landasan karet dan piring bagian bawah disebut landasan pengupas. Landasan karet terbuat dari kayu yang dilapisi karet dan landasan pengupas terbuat dari jeruji besi behel dengan jarak antar besi 10 mm. Dengan menggunakan jenis landasan tersebut, diharapkan efisiensi pengupasan melebihi 90%.

Ripple mill sendiri terdapat rotor bagian yang berputar pada Ripple Plate bagian yang diam, biji masuk diantara rotor dan ripple plate sehingga saling berbenturan dan memecahkan cangkang dari inti.

Biji dari nut silo masuk ke ripple mill untuk dipecah sehingga

inti terpisah dari cangkang. Biji yang masuk melalui rotor akan

mengalami gaya sentrifugal

(menjauhi pusat putaran) sehingga biji keluar dari rotor dan terbanting dengan kuat yang menyebabkan cangkang pecah. Cangkang dan inti yang sudah terpisah diangkut oleh cracked mixture coveyor lalu cracked mixture elevator dan diolah

untuk proses berikutnya untuk

mendapatkan inti kelapa sawit. Bahan yang akan masuk ke ripple mill adalah biji (nut), yang berada di nut hopper lalu akan masuk ke ripple mill diantara rotor bar dan stator, karena putaran maka nut akan pecah. Hasil pemecahan ripple mill disebut cracked mixture, cracked mixture terdiri dari material berat yaitu kernel dan whole nut, material sedang yaitu broken kernel dan half nut, serta material ringan yaitu shell. Proses pemecahan biji sawit dapat dikaji dengan metode

proses tekan statis dan tekan

dinamis.

Untuk menghitung biji utuh

dan pecah dapat menggunakan

persamaan sebagai berikut:

Efisiensi = (  

 × 100%) − 100………..I

Dimana:

m1 = berat biji utuh (gram)

m2 = berat biji pecah (gram)

m3 = berat sample (gram)

III. METODE PENELITIAN Penelitian ini berlangsung

metode yang dilakukan adalah

experimental dengan pembuatan

ripple mill mini kapasitas 250 kg/jam. Yang menjadi tolak ukur

penelitian ini adalah ripple mill yang

ada pada PKS. Eksperirnental

dilakukan dengan menempuh

(5)

21

1. Melakukan kajian secara

induktif yang berkait erat

dengan permasalahan yang

hendak dipecahkan.

2. Mengidentifikasi masalah.

3. Melakukan studi literatur dan

beberapa sumber yang relevan,

memformulasikan hipotesis

penelitian, menentukan variabel,

dan merumuskan definisi

operasional dan definisi istilah.

4. Membuat rencana penelitian

yang didalamnya mencakup

kegiatan:

a. Mengidentifikasi variabel

luar yang tidak diperlukan,

tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen. b. Menentukan cara mengontrol. c. Memilih rancangan

penelitian yang tepat.

d. Menentukan populasi,

memilih sampel yang

mewakili serta memilih

sejumlah subjek penelitian.

e. Membagi subjek dalam

kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.

f. Membuat instrumen,

memvalidasi instrumen dan

melakukan studi

pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi

persyaratan untuk

mengambil data yang

diperlukan.

g. Mengidentifikasi prosedur

pengumpulan data. dan

menentukan hipotesis. Penelitian ini dilaksanakan dengan cara sebagai berikut

1. Mengukur biji sawit pada ripple

mill yang dirancang dengan cara

pengukuran biji sawit

berdasarkan besar, sedang, dan kecil sebelum masuk ke ripple mill dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menimbang biji sawit

sebanyak 1 kg.

b. Menyortir biji sawit

berdasarkan ukuran (besar, sedang, kecil), biji pecah (besar, sedang, kecil), inti utuh, inti pecah, cangkang, dan sampah.

c. Menghitung jumlah biji

sawit yang sudah disortir dalam 1 kg.

d. Mengambil enam buah biji

dari setiap sample

berdasarkan ukuran.

e. Menguji ketahanan biji

menggunakan mesin uji

tekan (rockwell hardness test) dan mengukur besar

inti dari ukuran besar,

sedang, kecil menggunakan jangka sorong.

f. Mencatat hasilnya.

2. Menghitung hasil cracked

mixture pada ripple mill yang dirancang dengan pengukuran biji pecah dan biji utuh setelah keluar dari ripple mill yang dilakukan sebanyak 20 kali agar data yang didapat akurat dengan

langkah-langkah sebagai

berikut:

a. Menimbang cracked

mixture sebanyak 400 gram.

b. Menyortir cracked mixture

berdasarkan biji utuh, biji pecah.

c. Mengukur dimensi biji utuh.

d. Menimbang kembali biji

utuh dan biji pecah.

e. Mencatat hasilnya.

3. Menganalisa persentase biji utuh

(6)

22 ripple mill yang berguna untuk

memperbaiki mutu inti sawit dan

meningkatkan rendemen inti

sawit. Pengambilan sample dilakukan secara random karena

sample yang akan diteliti

relative homogen dan tersebar

merata diseluruh populasi.

Pengambilan sample dapat

dilakukan dengan

langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menentukan populasi.

b. Menentukan ukuran

populasi.

c. Menentukan bentuk

sampling dan susun

sampling secara lengkap.

d. Menentukan ukuran sample

melalui perhitugan tertentu.

Ukuran ini ditentukan

berdasarkan aspek statistic

oleh bentuk parameter

(frekuensi, rata-rata, atau proporsi), teknik sampling

yang digunakan, tujuan

penelitian, sifat penelitian,

kedalaman analisis,

variabilitas variable yang

diteliti, serta batas

kesalahan dan derajat

kepercayaan.

e. Memproses yang

melibatkan kerangka

sampling yang kecil bisa

dilakukan dengan cara

undian.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan

mengunakan metode pengukuran dengan kapasitas olah 8 kg per 2

menit untuk satu kali proses

pemecahan biji sawit. Hasil keluaran dari proses tersebut diambil 20 sampel dengan berat tiap sampel

400 gr, pengambilan sampel

dilakukan secara acak.

Gambar 2. Grafik dimensi biji besar, sedang dan kecil Hasil yang ditunjukkan pada

gambar 2. grafik dimensi biji besar,

biji sedang dan biji kecil dengan sampel sebanyak 10, diperoleh panjang biji besar dapat mencapai

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Diameter Biji besar(cm)

Panjang Biji besar(cm)

Diameter Biji sedang (cm)

Panjang Biji sedang (cm)

Diameter Biji kecil (cm)

Panjang Biji kecil (cm)

P anj ang & D ia m et er ( cm ) Sampel

(7)

23 3,91 cm, diameter 2,09, pada biji

sedang dapat mencapai panjang 3,22

cm, diameter 1,90 cm, sedangkan pada biji kecil mencapai panjang

2,12 cm dan diameter 1,35. Ukuran

biji bervariasi dikarenakan

pengambilan sampel pada saat panen puncak dan kondisi buah bagus dengan curah hujan yang cukup.

Gambar 3. Grafik Gabungan Persentase Biji Besar, Sedang, dan Kecil Hasil yang ditunjukkan pada

gambar 3. grafik gabungan

persentase biji besar, sedang, dan kecil dengan sampel sebanyak 20 dapat kita analisa pada biji besar efisiensi tertinggi mencapai 72,02%, pada biji sedang efisiensi tertinggi mencapai 80,68%, perlakuan pada

kedua ukuran biji tersebut

menggunakan ripple bar. Sedangkan pada biji kecil efisiensi tertinggi mencapai 37,42%, perlakuan pada

biji ukuran kecil menggunakan ripple plate.

Hal ini disebabkan biji kecil

lolos pada perlakukan dengan

menggunakan ripple bar, sedangkan pada perlakuan mengunakan ripple plate biji ukuran kecil terjebak

disela-sela gerigi ripple plate

sehingga ketika rotor berputar terjadi

proses pemecahan dan

mengakibatkan biji yang berukuran kecil pecah.

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Hasil penelitian yang telah

dilakukan menunjukkan bahwa

variasi bentuk biji yang akan dipecah

oleh alat pemecah biji sawit,

mempengaruhi persentase biji sawit utuh dan biji sawit pecah. Dari data

percobaan experimental hasil

pemisahan yang diuji melalui alat

pemecah biji sawit menunjukkan bahwa:

Hasil yang didapat dari

percobaan experimental adalah

ukuran rata-rata dimensi biji besar adalah diameter 1,86 cm dan panjang 3,27 cm. Ukuran rata-rata dimensi biji sedang adalah diameter 1,48 cm dan panjang 2,69 cm. Ukuran rata-rata dimensi biji kecil adalah 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121314151617181920 Biji Besar Biji Sedang Biji Kecil P er se nt as e

Gabungan Persentase Biji Besar, Biji Sedang, dan Biji Kecil

(8)

18 diameter 1,225 cm dan panjang

1,986 cm. Efisiensi alat pemecah biji sawit untuk memecahkan biji besar

adalah 60,544%. Efisiensi alat

pemecah biji sawit untuk

memecahkan biji sedang adalah 68,565%. Efisiensi alat pemecah biji sawit untuk memecahkan biji kecil adalah 27,463%. Dapat dilihat dari percobaan experimental efisiensi alat tidak tercapai dikarenakan disain alat

yang perlu disempurnakan dan

kinerja alat yang perlu ditingkatkan. B. Saran

1. Disarankan jika terdapat banyak biji ukuran kecil pada hasil

grading maka sebaiknya

digunakan ripple plate pada ripple mill, sehingga persentase biji utuh

dan biji pecah dapat

diminimalisir.

2. Diharapkan dilakukan penelitian selanjutnya untuk menganalisa biji dari varietas lain, dan alat pemecah biji lebih disempurnakan baik dari bentuk dan kinerja alat. 3. Diharapkan peneliti selanjutnya

dapat menganalisa dengan kondisi biji yang segar, tidak menginap (bermalam) karena jika menginap kondisi biji akan berjamur dan dapat merusak mutu dari kernel

itu sendiri. Dan dapat

mengakibatkan data yang didapat tidak valid, peneliti selanjutnya harus menghasilkan data yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Naibaho, Ponten.1998.Teknologi

Pengolahan Hasil Perkebunan. PPKS Medan.

Data praktek kerja lapangan I PMKS SINAR GUNUNG SAWIT RAYA. 2012. Tapanuli Tengah.

Malangyudo A dan Krisdwiarto A. 2011. Teknologi Pengolahan Inti Sawit.

Tamrin. 2010. Pengembangan Alat Pengupas Kulit Polong Kacang Tanah Tipe Piring. Teknologi Pertanian. 11: 170-176.

Hanifah U dan Afifah. 2008. Pengaruh Kecepatan Putaran Silinder Pengupas Kulit Kacang Tanah. Prosiding. Seminar Nasional Teknik Kimia 2008 Universitas Katolik Parahyangan, 28 April 2008.

W. Sukrisno. 2010. Evaluasi Kinerja Mesin Pengupas Kulit Buah Kopi Basah Tipe Silinder Horizontal. Enjiniring Pertanian.20: 27-38.

Gambar

Gambar 2. Grafik dimensi biji besar, sedang dan kecil  Hasil  yang  ditunjukkan  pada
Gambar 3.  Grafik Gabungan Persentase Biji Besar, Sedang, dan Kecil  Hasil  yang  ditunjukkan  pada

Referensi

Dokumen terkait