A. Latar Belakang Penelitian
Sebagai negara yang berkembang, sebenarnya Indonesia memiliki berbagai macam potensi untuk menjadi negara yang lebih maju. Akan tetapi pada kenyataannya Indonesia tidak bisa memanfaatkan berbagai potensi itu. Bisa dilihat kenyataannya sekarang, di Indonesia mengalami berbagai masalah hampir di semua sektor yang ada, salah satu masalah terbesar adalah masalah di sektor ekonomi, untuk memperbaiki masalah tersebut maka pajak diharapkan bisa menjadi solusi yang efektif. Hal ini dikarenakan pajak merupakan potensi penerimaan terbesar dalam negeri. Karena pajak merupakan penerimaan langsung yang segera bisa diolah guna untuk pembiayaan berbagai macam keperluan negara (Listyaningtyas, 2012).
Kontribusi penerimaan perpajakan jauh lebih banyak dibanding kontribusi penerimaan bukan pajak. Jika dilihat dari rasio penerimaan perpajakan terhadap PDB (tax ratio) mencapai sekitar 12%. Jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, nilai tax ratio Indonesia masih relatif kecil. Menurut data Bank Dunia1 pada tahun 2012, tax ratio untuk Malaysia 16.1%, Thailand 16.5%, dan Singapore 14,5%. Dibawah ini adalah data tentang penerimaan pajak yang telah dihimpun oleh Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
Tabel 1.1
Realisasi Penerimaan Negara (Milyar Rupiah), 2009-2013
Sumber Penerimaan 2009 2010 2011 2012 2013
1.Penerimaan Perpajakan 619.922 723. 307 873. 874 1 .016. 237 1. 192. 994 a. Pajak Dalam Negeri 601. 252 694. 392 819 .752 968. 293 1 .134. 289 1) Pajak Penghasilan 317. 615 357. 045 431 .122 513. 650 584. 890 2) Pajak Pertambahan Nilai 193. 067 230. 605 277. 800 336. 057 423. 708 3) Pajak Bumi dan Bangunan 24. 270 28. 581 29. 893 29. 687 27. 344
4) BPHB 6 .465 8. 026 (1) - -
5) Cukai 56. 719 66 .166 77 .010 83. 267 92. 004
6) Pajak Lainnya 3. 116 3. 969 3. 928 5. 632 6 .343
b.Pajak Perdagangan International 18 .670 28. 915 54. 122 47 .944 58. 705
1) Bea Masuk 18 .105 20 .017 25. 266 24 .738 27. 003
2) Pajak Ekspor 565 8 .898 28. 856 23. 206 31. 702
2.Penerimaan Bukan Pajak 227. 174 268. 942 331. 472 341 .143 332. 196 a. Penerimaan Sumber Daya Alam 138. 959 168. 825 213. 823 217. 159 197. 205 b.Bagian Laba BUMN 26. 050 30. 097 28. 184 30. 777 33. 500 c. PNPB Lainnya 53. 796 59. 429 69. 361 72. 799 77. 992 d.Pendapatan BLU 8 .369 10 .591 20. 104 20. 408 23. 499
Jumlah/Total 847 .096 992. 2491. 205. 3461. 357. 380 1. 525. 190 Sumber: Departemen Keuangan dan Badan Pusat Statistik Republik Indonesia Periode
2009-2013
Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa setiap tahunnya terjadi peningkatan penerimaan pajak. Pada tahun 2009 sebesar Rp 619.922 milyar, tahun 2010 Rp 723.307 milyar, tahun 2011 Rp 873.874 milyar, tahun 2012 Rp 1.016.237 milyar dan tahun 2013 Rp 1.192.994 milyar. Dan Penerimaan yang
signifikan terdapat pada Penerimaan Perpajakan.Untuk lebih memaksimalkan penerimaan pajak, pemerintah telah mengambil langkah-langkah kebijakan agar dapat memancing kesadaran masyarakat untuk mau membayar pajak.
Penerimaan negara dari sektor pajak ini salah satunya berasal dari Pajak Penghasilan(PPh). PPh Pasal 25 adalah salah satu PPh yang menerapkan Self Assessment System. Sistem yang memberikan kepercayaan dan peran serta masyarakat sebagai Wajib Pajak, untuk secara aktif melaksanakan kewajiban perpajakannya. Mulai dari menghitung, membayar, serta melaporkan jumlah pajak terutangnya melalui media SPT (Surat Pemberitahuan) dan SSP (Surat Setoran Pajak). SPT digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan pajak terutang mereka ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP).
Kelemahan Self Assessment system yang memberikan kepercayaan pada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak terutang dalam praktiknya sulit berjalan sesuai dengan yang diharapkan, bahkan disalahgunakan. Ini terbukti dalam kenyataannya masih banyak Wajib Pajak yang sengaja melakukan kecurangan-kecurangan dan melalaikan kewajibannya dalam melaksanakan pembayaran pajak yang telah ditetapkan sehingga menyebabkan timbulnya tunggakan pajak yang mengakibatkan berkurangnya penerimaan pajak (Mahendra, 2014).
Dengan self assessment system perusahaan berupaya untuk melakukan penghematan pajak secara legal dapat dilakukan manajemen pajak. Tujuan dari manajemen pajak dapat dicapai melalui fungsi manajemen pajak salah satunya dengan melakukan perencanaan pajak. Perencanaan pajak juga dapat berkonotasi
positif sebagai perencanaan pemenuhan kewajiban perpajakan secara lengkap, benar, dan tepat waktu sehingga dapat menghindari pemborosan sumber daya.
Namun Umumnya perencanaan pajak merujuk pada proses merekayasa usaha dan transaksi Wajib Pajak supaya utang pajak berada dalam jumlah yang minimal tetapi masih dalam bingkai peraturan perpajakan. (Erly Suandy, 2011)
Seperti yang terjadi pada PT. Asian Agri disebutkan telah memanipulasi isi SPT Tahunan Pajak selama tiga tahun. Perusahaan kelapa sawit Asian Agri terbukti memanipulasi pajak. Kali ini Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan menemukan kerugian negara sebesar Rp 1,29 triliun, lebih besar ketimbang temuan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan sebanyak Rp 1,25 triliun.
PT AAG mengirim uang kepada dua pegawai Asian Agri yang dimasukkan dalam beban pokok penjualan. Sehingga harga pokok penjualan yang disampaikan dalam SPT (Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan) lebih tinggi, dan menggelembungkan biaya, memperbesar kerugian transaksi ekspor dan menciutkan hasil penjualan. Terkait dengan tax planning ditemukan empat cara yang digunakan Asian Agri untuk mengemplang pajak. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai penghematan pajak yang melanggar undang-undang. Dengan memanipulasi SPT akan berpengaruh pada Penerimaan Pajak. (www.tempo.com)
Bila ingin memaksimalkan penerimaan pajak dengan sistem perencanaan pajak dengan benar meningkatkan jumlah Wajib Pajak aktif, maka pemerintah juga harus berupaya agar pembayar pajak semakin sadar bahwa peranan membayar pajak sangatlah penting bagi tercapainya pembangunan nasional.
Berkaitan dengan jumlah wajib pajak, maka Direktorat Jenderal Pajak untuk memperluas atau menambah jumlah wajib pajak akan terus dilakukan melalui program kebijakan ekstensifikasi sejak tahun 2010.
Direktorat Jenderal Pajak menunjukkan bahwa sebenarnya dari tahun ke tahun, jumlah Wajib Pajak terdaftar mengalami peningkatan yang diharapkan mampu mengoptimalkan penerimaan keuangan negara dari sektor perpajakan.
Lebih lanjut, pertumbuhan jumlah Wajib Pajak dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.2
Jumlah Wajib Pajak Terdaftar Tahun 2009-2013
2009 2010 2011 2012 2013
WP Badan 1.608.337 1.760.108 1.929.507 2.136.014 2.218.573 WP Orang Pribadi 13.861.253 16.880.649 19.881.684 22.131.323 23.082.822 WP Bendahara 441.986 471.833 507.882 545.232 555.995 Jumlah 15.911.576 19.112.590 22.319.073 24.812.569 25.857.390
Sumber :Direktorat Jenderal Pajak
Seiring dengan bertambahnya jumlah Wajib Pajak yang terdaftar, penerimaan keuangan negara dari sektor perpajakan diharapkan dapat mencapai target. Menurut Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany jumlah potensi WPOP di Indonesia lebih dari 60 juta orang. Namun, yang patuh membayar pajak baru sekitar 23 juta orang. Berarti ada 38 juta orang yang belum bayar pajak. Ini suatu ketidakadilan di bidang perpajakan. (14/10/2014)
Menurut Fuad, jumlah masyarakat pemilik Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) saat ini sekitar 28 juta orang. Sementara untuk badan usaha, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2013 terdapat sekitar 20 juta perusahaan yang
beroperasi di Indonesia. Namun, berdasarkan analisis DJP, baru sekitar 5 juta perusahaan yang wajib membayar pajak.
Wajib Pajak harus melakukan melakukan kewajiban perpajakannya yaitu dengan menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan (SPT Tahunan PPh). SPT Tahunan Pajak merupakan sarana bagi wajib pajak untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan perhitungan dan atau pembayaran pajak.
Dalam Hal Pertumbuhan jumlah wajib pajak ada penelitian yang dilakukan oleh Tresno, Indra dan Wulan (2011) dengan judul penelitian Pengaruh Penambahan Wajib Pajak Badan, dan pengawasan kepatuhan Wajib Pajak Badan terhadap penerimaan Pajak penghasilan Badan di KPP Pratama Jakarta Matraman menunjukan hasil bahwa Penambahan Wajib Pajak Badan Berpengaruh signifikan terhadap penerimaan Pajak Penghasilan Badan.
Berbeda dengan Penelitian yang dilakukan Hapsari dan Putra (2013) di KPP Pratama Yogyakarta dengan judul penelitian Pengaruh pertumbuhan jumlah Wajib Pajak badan dan Kepatuhan Wajib Pajak badan terhadap penerimaan Pajak Penghasilan Badan Pasal 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertumbuhan jumlah wajib pajak badan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Penerimaan pajak penghasilan pasal 25 badan dan Kepatuhan wajib pajak badanmemiliki pengaruh yang signifikan dengan arah negatif terhadap Penerimaan pajak penghasilan pasal 25 badan.
Selain Perencanaan Pajak dan pertumbuhan jumlah Wajib Pajak, Pemerintah juga perlu meningkatkan penegakkan hukum lain. Penegakkan hukum
ini salah satunya dapat berupa pemeriksaan. Sistem pemeriksaan harus dapat mendorong kebenaran dan kelengkapan pelaporan penghasilan, penyerahan, pemotongan dan pemungutan serta penyetoran pajak oleh WP. Pemeriksaan pajak dilakukan untuk memberi efek jera terhadap wajib pajak nakal sehingga tidak mengulang perbuatan yang sama dimasa depannya. Hal ini yang menyebabkan perlunya dilakukan pembinaan serta pengawasan yang berkesinambungan terhadap wajib pajak.Selain itu sering kali juga wajib pajak dengan sengaja mencurangi pembayaran pajak yang seharusnya dilakukan, oleh sebab itu untuk menguji kepatuhannya perlu pula dilakukan pemeriksaan.Walaupun pemungutan pajak menganut sistem Self Assessment akan tetapi dalam rangka pembinaan, penelitian dan pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan wajib pajak, Direktorat Jenderal Pajak masih dapat mengeluarkan ketetapan pajak.
Ketetapan pajak ini merupakan komponen official assessment. Surat Ketetapan Pajak ini adalah produk hukum yang dihasilkan sehubungan pemeriksaan pajak yang berisi penjelasan tentang dasar-dasar koreksi pajak serta besarnya sanksi serta pajak yang terutang. Adapun pemeriksaan pajak ini dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak melalui unit pelaksanaan yaitu fungsional pemeriksa pajak baik yang berada di kantor pelayanan, kantor wilayah, maupun kantor pusat. Apabila Wajib Pajak semakin sadar dan dengan tepat waktu membayar pajak terutang, maka tentunya hal tersebut dapat meningkatkan penerimaan pajak negara.
Tabel 1.3
Pemeriksaan Pajak di Area KPP Pratama Kebayoran Baru Satu
Tahun WP
Efektif
Jumlah wajib Pajak yang diperiksa
%
2013 6,252 1,111 17.77 2012 6,216 1,069 17.19 2011 6,168 1,065 17.27 2010 6,144 1,128 18.36 2009 6,084 1,153 18.95
*Sumber: Internal KPP Pratama Kebayoran Baru Satu
Data tersebut menunjukkan baru sebagian Wajib Pajak Efektif yang diperiksa, yaitu dalam kisaran 17-18% tiap tahunnya. Hal ini mengindikasikan bahwa pemeriksaan Pajak masih rendah yang berdampak pula dengan realisasi penerimaan negara dari pajak. Dengan dilakukannya pemeriksaan pajak akan mendorong timbulnya kepatuhan Wajib Pajak, sehingga akan berdampak langsung pada peningkatan penerimaan pajak pada setiap Kantor Pelayanan Pajak yang pada akhirnya akan meningkatkan pemasukkan ke dalam kas negara baik dari Pajak Penghasilan orang pribadi/badan, Pajak Pertambahan Nilai dan pajak lainnya.
DJP sangat intensif melaksanakan pemeriksaan transfer pricing terutama atas Wajib Pajak PMA (Penanaman Modal Asing) yang laporan keuangannya merugi, tetapi masih menjalankan usahanya. Sebagai gambaran di tahun 2011, telah dilakukan pemeriksaan transfer pricing terhadap 60 Wajib Pajak; di tahun 2012 jumlah pemeriksaan transfer pricing meningkat menjadi 100 Wajib Pajak.
Selanjutnya di 2013, terdapat 170 Wajib Pajak yang diperiksa transfer pricing. Pada tahun 2014, pemeriksaan transfer pricing dilakukan terhadap 223 Wajib Pajak. Dari hasil pemeriksaan tahun 2011-2014, total koreksi transaksi afiliasi mencapai Rp 21,9 triliun di mana sebagian besar berasal dari Wajib Pajak PMA rugi. Dengan status merugi perusahaan PMA tersebut tidak membayar pajak.
Tujuan pelaksanaan pemeriksaan pajak adalah untuk menguji kepatuhan wajib pajak dalam upaya pemenuhan kewajibannya dalam membayar pajak.
Pemeriksaan pajak berguna untuk mengantisipasi setiap upaya kecurangan atau manipulasi perpajakan yang sangat mungkin terjadi sehingga wajib pajak akan patuh pada perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Hal ini didukung oleh penelitian Rahmawati, Santoso, dan Hamidi (2014) yang menguji Pengaruh Pemeriksaan dan Kepatuhan Wajib Pajak terhadap wajib pajak penghasilan badan disurakarta, hasil analisis data menunjukkan secara parsial variabel kepatuhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel penerimaan Pajak Penghasilan Badan, sedangkan variabel pemeriksaan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel penerimaan Pajak Penghasilan Badan. Secara simultan kedua variabel bebas, yakni pemeriksaan pajak dan kepatuhan wajib pajak, berpengaruh signifikan terhadap penerimaan Pajak Penghasilan Badan di KPP Pratama Surakarta.
Tetapi Berbeda dengan penelitian Sari dan Afriyanti menguji pengaruh kepatuhan Wajib Pajak dan pemeriksaan pajak terhadap penerimaan PPh pasal 25/29 Wajib Pajak badan pada KPP Pratama Denpasar Timur. Hasil dari
penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan Wajib Pajak dan pemeriksaan pajak secara simultan berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak penghasilan pasal 25/29 Wajib Pajak badan. Sampel penelitian terdiri atas Wajib Pajak Badan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur.
Selain Pemeriksaan, Pemerintah juga menegakkan hukum dengan Penagihan Pajak. Penagihan pajak dilakukan karena masih banyaknya wajib pajak terdaftar yang tidak melunasi hutang pajaknya sehingga diperlukan tindakan penagihan yang mempunyai kekuatan hukum yang bersifat mengikat dan memaksa. Maka dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, pemerintah mengeluarkan Undang-undang nomor 19 tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. Menurut Undang-undang nomor 19 tahun 2000 yang dimaksud dengan “Penagihan pajak adalah serangkaian tindakan agar penanggung pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan surat paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan dan menjual barang yang telah disita.”
Oleh karena itu dengan dikeluarkannya Undang-undang tentang penagihan pajak tersebut diharapkan kegiatan penagihan pajak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya karena telah terlihat jelas bahwa tujuan dibuatnya Undang- undang tersebut adalah sebagai landasan hukum bagi fiskus untuk melakukan penagihan kepada wajib pajak yang mempunyai tunggakan pajak sehingga wajib pajak pun termotivasi untuk membayar yang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan penerimaan pajak.
Tabel 1.4
Jumlah Surat Teguran dan Dibayar
(dalam
lembar)
Keterangan Pelaksanaan Surat Teguran Evaluasi
Kegiatan Penerbitan Surat
Teguran Realisasi pencairan Tunggakan
2010 16,238,311 14,660,292 90.28%
2011 29,276,215 10,091,845 34.47%
2012 123,860,627 6,301,331 5.09%
(dalam lembar)
Keterangan Pelaksanaan Surat Teguran Evaluasi
Kegiatan Penerbitan Surat
Teguran Realisasi pencairan Tunggakan
2010 1,408 1,196 84.94%
2011 665 436 65.56%
2012 578 86 14.88%
*sumber : KPP Pratama Jakarta Setiabudi satu
Dari data diatas terlihat penerbitan tunggakan pajak dari tindakan penagihan dengan surat teguran dari tahun 2010-2012 terjadi peningkatan, tetapi peningkatan penerbitan surat teguran tesrsebut berbanding terbalik dengan realisasi pencairannya yang dari tahun 2010-2012 mengalami penurunan.
(dalam rupiah) Keterangan Pelaksanaan Surat Paksa Evaluasi
Kegiatan Penerbitan Surat
Paksa Realisasi pencairan Tunggakan
2010 12.062.552 8.362.739 69,33%
2011 25.635.797 9.048.936 36,47%
2012 27.269.110 6.471.702 23,73%
(dalam lembar) Keterangan Pelaksanaan Surat Paksa Evaluasi
Kegiatan Penerbitan Surat
Paksa Realisasi pencairan Tunggakan
2010 248 221 89,11%
2011 251 152 60,56%
2012 524 272 51,91%
*sumber : KPP Pratama Jakarta Setiabudi satu
Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa besarnya penerbitan dan realisasi pencairan dengan surat paksa, sama halnya dengan surat teguran, terlihat peningkatan penerbitan tunggakan pajak, tetapi tidak diikuti oleh realisasi pencairannya, walaupun ada kenaikan realisasi pada tahun tahun 2011 tetapi pada tahun 2012 terjadi lagi penurunan realisasi pencairan dengan surat paksa.
DJP terus berupaya untuk menerapkan penagihan pajak dengan memperhatikan itikad baik Wajib Pajak dalam melunasi utang pajaknya. Semakin baik dan nyata itikad Wajib Pajak untuk melunasi utang pajaknya maka tindakan penagihan pajak secara aktif (hard collection) dengan pencegahan ataupun penyanderaan tentunya dapat dihindari.
Dengan Meminimalkan pencegahan dan penagihan yang dilakukan oleh Dirjen Pajak akan meningkatkan Penerimaan pajak. Hal ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Hernadi juga menguji Pengaruh Penagihan Pajak dan Kepatuhan Wajib Pajak terhadap Penerimaan Pajak Badan. Studi Kasus Pada Kantor Pajak Wilayah Pajak Jabar 1. Hasil dari penelitian menunjukan pengaruh korelasi yang cukup besar dan kepatuhan wajib pajak untuk pendapatan pajak sebesar 0,948 dengan arah positif. Artinya, Penagihan Pajak dan Kepatuhan
Wajib Pajak memiliki hubungan yang signifikan terhadap penerimaan pajak badan.
Mengacu pada uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Pengaruh Perencanaan Pajak, Pertumbuhan Jumlah Wajib Pajak, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak terhadap penerimaan pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama di Palmerah. Dengan menggunakan beberapa variabel yang berbeda dengan penelitian sebelumnya diharapkan dapat memberikan pengetahuan atau gambaran tentang Pengaruh Perencanaan Pajak, Pertumbuhan Jumlah Wajib Pajak, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak terhadap penerimaan pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap masalah tersebut dengan mengambil judul
“Pengaruh Perencanaan Pajak, Pertumbuhan Jumlah Wajib Pajak, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak terhadap Penerimaan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (pada KPP Pratama Palmerah)”
B. Rumusan Masalah Penelitian
Dari uraian diatas, maka penulis mencoba merumuskan permasalahan utama atas objek penelitian yang menjadi dasar penulisan skripsi ini sebagai berikut:
1. Apakah Perencanaan Pajak berpengaruh terhadap penerimaan pajak penghasilan wajib pajak badan di KPP Pratama Palmerah?
2. Apakah pertumbuhan jumlah wajib pajak berpengaruh terhadap penerimaan pajak penghasilan wajib pajak badan di KPP Pratama Palmerah?
3. Apakah pemeriksaan pajak berpengaruh terhadap penerimaan pajak penghasilan wajib pajak badan di KPP Pratama Palmerah?
4. Apakah penagihan pajak berpengaruh terhadap penerimaan pajak penghasilan wajib pajak badan di KPP Pratama Palmerah?
C. Tujuan dan Kontribusi Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk memperoleh bukti empiris Pengaruh Perencanaan Pajak terhadap penerimaan pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada KPP Pratama Palmerah.
b. Untuk memperoleh bukti empiris Pengaruh Jumlah Wajib Pajak terhadap penerimaan pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada KPP Pratama Palmerah.
c. Untuk memperoleh bukti empiris Pengaruh Pemeriksaan Pajak terhadap penerimaan pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada KPP Pratama Palmerah.
d. Untuk memperoleh bukti empiris Pengaruh Penagihan Pajak terhadap penerimaan pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada KPP Pratama Palmerah.
2. Kontribusi Penelitian
Penelitian mempunyai kontribusi untuk berbagai pihak yang berkepentingan. Kontribusi Penelitian berupa:
a. Kontribusi Praktik/Kebijakan
Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Palmerah sebagai evaluasi dariobjek penelitian terkait dengan transaksi yang sudah memenuhi aturan yang berlaku dalam praktik perpajakan tentang Perencanaan Pajak, jumlah wajib pajak, pemeriksaan hingga penagihan pajak terhadap penerimaan pajak penghasilan badan.
b. Kontribusi Akademik
1) Penelitian ini mencoba memberikan bukti empiris mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi praktik Penerimaan Wajib Pajak Badan.
2) Penelitian diharapkan bisa dijadikan referensi dalam penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan peningkatan penerimaan pajak di setiap Kantor Pelayanan Pajak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, baik bagi pihak akademisi, mahasiswa, dan peneliti yang tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut di bidang yang sama dengan ruang lingkup yang lebih luas, serta dapat memberikan wawasan bagi pembaca.