• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindak Pidana Korupsi Suatu Kejahatan Luar Biasa (extra ordinary crime)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Tindak Pidana Korupsi Suatu Kejahatan Luar Biasa (extra ordinary crime)"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

Tindak Pidana Korupsi Suatu Kejahatan Luar Biasa

(extra ordinary crime)

I PUTU RASMADI ARSHA PUTRA, SH., MH

RPPS

2019

(2)

Pengelolaan Keuangan Negara / Daerah ?????

KKN

(3)

Pengertian Hukum Pidana

u Hukum Pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hal tersebut dapat dilihat dari pengertian Hukum Pidana menurut C.S.T Kansil yakni “Hukum yang mengatur tentang pelanggaran-

pelanggaran dan kejahatan- kejahatan

terhadap kepentingan umum, perbuatan mana diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan.” Untuk dapat menegakkan kepentingan umum, maka Negara dan alat kelengkapanya menjadi instrument

untuk menegakan Hukum Pidana.

(4)

u Menurut Van Hamel, hukum pidana terbagi

menjadi dua yakni hukum pidana materiil dan

hukum pidana formil. Hukum pidana materiil berisi

perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan

atau perbuatan- perbuatan yang harus dilakukan

dengan disertai ancaman pidana. Sedangkan

Hukum Pidana formil merupakan sarana untuk

menegakkan hukum pidana materiil. Hukum

pidana formil pada dasarnya berisi mengenai

cara bagaimana menegakkan hukum pidana

materiil melalui suatu proses peradilan pidana.

(5)

u Dilihat dari sudut pandang materiil, maka fokus dari hukum pidana adalah perbuatan-perbuatan yang memiliki sifat melawan hukum. Perbuatan yang memiliki sifat tersebut pada umumnya

disebut sebagai Tindak Pidana atau Strafbaar

Feit. Prof. Moeljatno mendefinisikan Tindak Pidana sebagai perbuaan yang dilarang oleh suatu

aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi

barang siapa melanggar larangan tersebut.

(6)

u Melihat bahwa hukum materiil mengatur perbuatan yang dilarang beserta dengan

ancaman pidananya, maka hukum formil akan mengatur prosedur penegakan hukum pidana materiil. Hukum pidana formil mengatur hak negara atau alat kelengkapanya untuk

mengenakan atau menentukan ancaman pidana terhadap suatu perbuatan pidana.

Hukum pidana dalam arti formil juga ditujukan sebagai alat untuk menuntut perkara-perkara

pidana, menjatuhkan dan melaksanakan pidana

terhadap para pelaku pidana.

(7)

Asas Hukum Pidana

u Asas merupakan dasar pikiran yang sifatnya umum dan berfungsi sebagai latar belakang peraturan yang nyata. Mempelajari asas

sangatlah penting guna memahami maksud dari pembuatan suatu aturan agar lebih memperoleh pendalaman pemahaman aturan tersebut.

Meskipun asas merupakan dasar, tetapi asas

hukum tidak memiliki sanksi didalamnya namun

berfungsi sebagai petunjuk dan dasar umum

peraturan- peraturan lainya yang mengandung

sanksi.

(8)

Adapun asas-asas yang terdapat dalam hukum pidana sebagai berikut:

u Asas Legalitas, bahwa tiap peristiwa pidana harus diatur terlebih dahulu oleh undang- undang

u Asas tiada pidana tanpa kesalahan, bahwa harus terbuktinya unsur kesalahan kepada orang yang melakukan tindak pidana

u Asas Non-Retroaktif, bahwa hukum pidana

melarang keberlakuan surut dari suatu undang-

undang

(9)

u Adapun asas-asas yang terdapat dalam hukum pidana sebagai berikut:

u Asas Teritorialitas, bahwa hukum pidana yang berlaku bergantung pada negara tempat

perbuatan pidana berlangsung

u Asas nasionalitas aktif, bahwa hukum pidana Indonesia berlaku bagi semua warga negara Indonesia dimana pun ia berada

u Asas nasionalitas pasif, bahwa ketentuan hukum

pidana Indonesia berlaku bagi semua tindak

pidana yang merugikan kepentingan negara

(10)

Sumber Hukum Pidana

Sejatinya sumber hukum pidana materiil terbagi

menjadi dua yakni sumber hukum pidana umum dan sumber hukum pidana khusus.

u Sumber Hukum Pidana Umum

u

Yakni segala ketentuan pidana yang bersumber pada KUHP. KUHP terbagi menjadi 3 bagian yakni buku I tentang bagian umum, buku II tentang Kejahatan, dan buku III tentang pelanggaran. Selain itu KUHP juga memiliki penjelasan yang disebut Memorie van

Toelichting

u Sumber Hukum Pidana Khusus

u

Hukum pidana yang bersumber pada peraturan perundang-undangan diluar KUHP. Terbagi atas kelompok peraturan pidana yang secara khusus

mengatur satu bidang hukum pidana dan peraturan

perundang-undangan yang tidak membahas satu

bidang hukum pidana tetapi mengandung ketentuan

pidana.

(11)

Korupsi Sebagai Tindak Pidana

u Korupsi merupakan salah satu bagian dari tindak pidana yakni tindak pidana khusus. Disebut

khusus karena dasar pengaturanya berada diluar KUHP. Korupsi secara etimologis dan terminologis berasal dari bahasa latin corruptio yang secara harfiah berarti kejahatan, kebusukan, tidak

bermoral, kebejatan, dan ketidak jujuran. Dapat

diartikan juga sebagai perbuatan buruk atau

perbuatan yang menimbulkan keadaan yang

bersifat buruk.

(12)

u Korupsi dapat dikatakan sebagai tindak pidana luar biasa atau extraordinary crime karena

dilakukan dengan modus operandi yang rumit dan pembuktianya pun juga rumit. Disebut juga sebagai white collar crime karena pada

umumnya melibatkan pejabat atau

penyelenggara negara. Pada umumnya ahli

pidana berpendapat bahwa pengertian korupsi

terdapat dalam Pasal 2 UU nomor 31 Tahun 1999

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

(13)

u Adapun pengertian tersebut adalah

u perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang atau badan hukum secara melawan hukum untuk

memperkaya diri sendiri atau orang lain atau

suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara. Dapat juga berupa tindakan yang dilakukan untuk memanfaatkan kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang

bertentangan dengan hukum.

(14)

u Korupsi diatur dalam :

u Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,

u Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

u Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi

u Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang

Tindak Pidana Pencucian Uang

(15)

u Tindak Pidana Korupsi dapat berupa:

u Perbuatan yang merugikan negara

u Penyuapan

u Gratifikasi

u Penggelapan dalam Jabatan

u Pemerasan

u Perbuatan Curang

u Benturan Kepentingan Pengadaan

(16)

u Lembaga yang menegakkan tindak pidana korupsi adalah Komisi Pemberantasan Korupsi

(KPK). KPK dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi

Pemberantasan Korupsi. Undang-undang

tersebut mengatur hak dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi. Selain itu,

pemberantasan tindak pidana korupsi juga

dapat dilakukan oleh Kejaksaan negeri setempat.

Tindak pidana korupsi akan diambil alih

penyelesaianya ketika memenuhi syarat Pasal 11

UU KPK.

(17)

Penyertaan dalam korupsi

u Korupsi sebagai White Collar Crime artinya korupsi sebagai kejahatan yang dilakukan oleh

seseorang yang memiliki posisi dan wewenang cukup tinggi pada sektor pemerintahan maupun sektor swasta, sehingga dapat mempengaruhi suatu kebijakan dan keputusan. Karena sifatnya yang melibatkan sektor pemerintahan maupun sektor swasta, maka korupsi pada umumnya dilakukan oleh banyak pihak sekaligus. Seakan- akan menunjukan adanya organisasi yang

menjalankan tindak pidana pada saat yang bersamaan, dengan peran dan

pertanggungjawaban yang berbeda pula.

(18)

u Dikarenakan sifatnya yang melibatkan banyak pihak, maka tak jarang modus operandi korupsi dilaksanakan dengan adanya penyertaan pihak- pihak lain.

u Penyertaan atau disebut juga sebagai Deelneming merupakan istilah yang

dipergunakan untuk mendefinisikan perbuatan

pidana yang dilakukan oleh dua orang atau lebih

dimana orang-orang tersebut memiliki perannya

masing-masing. Penyertaan diatur dalam Pasal 55

KUHP

(19)

u Dalam Hukum Pidana, penyertaan dibagi atas empat macam golongan yakni:

u

Plegen atau orang yang melakukan perbuatan pidana

u

Doen plegen atau orang yang menyuruh orang lain untuk berbuat

u

Medeplegen atau orang yang turut serta melakukan perbuatan pidana

u

Uitloking atau orang yang dengan sengaja

menggerakan orang lain untuk berbuat

(20)

Penegakan Hukum Pidana Melalui Hukum Acara Pidana

u Jika suatu perbuatan dari seorang tertentu

menurut peraturan hukum pidana merupakan perbuatan yang diancam dengan hukuman pidana, jadi jika ternyata ada hak badan

pemerintah yang bersangkutan untuk menuntut seorang guna mendapat hukuman pidana,

timbul soal cara bagaimana hak menuntut itu dapat dilaksanakan, cara bagaimana akan didapat suatu putusan Pengadilan, cara

bagaimana dan oleh siapa suatu putusan

Pengadilan yang menjatuhkan suatu hukuman

pidana, harus dijalankan. Hal ini semua harus

diatur dan peraturan inilah yang dinamakan

hukum acara pdana

(21)

u Ruang lingkup hukum acara pidana terdiri atas:

u

Penyidikan perkara pidana yakni bertujuan untuk mengumpulkan alat bukti, menentukan tersangka serta motif

u

Penuntutan perkara pidana yakni tindakan

penuntut umum untuk melimpahkan perkara

pidana ke pengadilan negeri yang berwenang

(22)

u uang lingkup hukum acara pidana terdiri atas:

u

Pemeriksaan di pengadilan yakni tugas bagi majelis hakim untuk mengadili serta mengambil keputusan.

u

Pelaksanaan putusan yakni menyelenggarakan

agar segala sesuatu yang tercantum dalam surat

keputusan hakim dapat dilaksanakan

(23)

u Sumber Hukum Acara Pidana diantaranya:

u

UUNo8Tahun81,LN1981No76KUHAP

u

UU RI No. 2 Tahun 2002 Kepolisian Negara RI

u

UU RI No 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI

u

UU No l8/2003 Tentang Advokat

u

UU No 48/2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman

(24)

u Pihak yang terlibat dalam hukum acara pidana antara lain:

u

Tersangka/Terdakwa sebagai orang yang diduga melakukan suatu tindak pidana

u

Jaksa sebgai pejabat yang berwenang untuk bertindak sebagai penuntut umum untuk

melakukan penuntutan dan melaksanakan putusan pengadilan

u

Kepolisian sebagai Penyelidik dan Penyidik untuk menerima laporan dan mendalami suatu

perbuatan pidana

(25)

u Pihak yang terlibat dalam hukum acara pidana antara lain:

u

Majelis Hakim sebagai pejabat negara yang

memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara pidana

u

Penasihat Hukum sebagai pihak yang

mendampingi terdakwa untuk membantu

menegakkan hak-hak terdakwa dalam

persidangan

(26)

u Di Pengadilan, terdapat tahapan- tahapan persidangan diantaranya:

u

Pembacaan dakwaan oleh penuntut umum

u

Pembacaan nota keberatan oleh penasehat hukum

u

Pembacaan replik oleh penuntut umum

u

Putusan dapat berupa putusan sela apabila menolak eksepsii dan putusan akhir apabila menerima eksepsi

u

Pemeriksaan saksi

(27)

u

Pemeriksaan Terdakwa

u

Pembacaan Tuntutan oleh Penuntut Umum

u

Pembacaan Pledooi oleh terdakwa

u

Replik dari penuntut umum

u

Duplik dari penasehat hukum

u

Putusan akhir oleh majelis hakim

(28)

Upaya Hukum

• Upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut umum untuk melawan putusan pengadilan (vonis) untuk tidak menerima putusan pengadilan.

• Maksud dari upaya hukum adalah untuk

memperbaiki kesalahan yang diperbuat oleh instansi hukum sebelumnya.

• 2 macam upaya hukum dalam KUHAP :

Upaya hukum biasa :

Verzet (perlawanan)

Banding

Kasasi

Upaya hukum luar biasa :

Kasasi demi kepentingan hukum

PK putusan pengadilan yang telah memperoleh

kekuatan hukum yang tetap (herzeining)

(29)

u SEKIAN

(30)

PEMAHAMAN TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI

Ø Tindak pidana korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang merusak dan mengancam sendi-sendi kehidupan bangsa. Pelbagai peraturan peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan untuk memberantas korupsi telah diterbitkan. Namun, praktik korupsi masih terus berulang dan semakin kompleks dalam realisasinya.

Ø Pada tahun 2010, menurut data Pacific Economic and Risk Consultansy, Indonesia menempati urutan teratas sebagai negara terkorup di Asia. Jika dilihat dalam kenyataan sehari-hari korupsi hampir terjadi disetiap tingkatan dan aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari mengurus Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), Proyek Pengadaan Barang/Jasa di instansi pemerintah, sampai proses penegakkan hukum.

Ø Tanpa disadari, korupsi muncul dari kebiasaan yang dianggap lumrah dan wajar

oleh masayarakat umum, seperti memberi hadiah kepada Pejabat / Pegawai

Negeri atau keluarganya sebagai imbal jasa sebuah pelayanan. Kebiasaan itu

dipandang lumrah sebagai kebiasaan dari budaya ketimuran. Kebiasaan koruptif ini

lama-lama menjadi bibit-bibit korupsi yang nyata.

(31)

Ø

Kebiasaan berperilaku koruptif yang terus berlangsung di kalangan masyarakat salah satunya disebabkan karena masih kurangnya pemahaman mereka terhadap pengertian korupsi. Selama ini, kosakata korupsi sudah populer di Indonesia. Hampir semua orang pernah mendengar kata korupsi. Dari mulai rakyat yang tinggal di pedalaman, mahasiswa, pegawai negeri, orang swasta, aparat penegak hukum sampai pejabat negara. Namun jika ditanya kepada mereka apa itu korupsi, jenis perbuatan apa saja yang bisa dikategorikan tindak pidana korupsi? Hampir dipastikan sangat sedikit yang bisa menjawab secara benar bentuk / jenis korupsi sebagaimana dimaksud oleh undang-undang.

Ø

Pengertian korupsi sebenarnya telah dimuat secara tegas di dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sebagian besar pengertian korupsi didalam undang-undang tersebut dirujuk dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang lahir sebelum negara ini merdeka. Namun hingga saat ini pemahaman masyarakat terhadap pengertian korupsi masih sangat kurang.

Ø

Menjadi lebih memahami pengertian korupsi juga bukan sesuatu hal yang mudah.

Berdasarkan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, kebiasaan berperilaku koruptif yang selama ini dianggap sebgai hal wajar dan lumrah dapat dinyatakan sebagai Tindak Pidana Korupsi.

Seperti Gratifikasi (pemberian hadiah) kepada penyelenggara negara dan berhubungan dengan jabatannya, jika tidak dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat menjadi salah satu bentuk Tindak Pidana Korupsi.

Ø

Mengetahui bentuk / jenis perbuatan yang bisa dikategorikan

sebagai korupsi adalah upaya dini untuk mencegah agar

seseorang tidak melakukan korupsi.

(32)

Apa Yang Dimaksud Dengan Korupsi ?

Ø Korupsi bersasal bahasa latin “Corruptio,” atau “Corruptos”

Kata tersebut kemudian diadopsi ke dalam beberapa bahasa, diantaranya yaitu : Bahasa Inggris : Corruption ( Corrupt )

Bahasa Belanda : Corruptie Bahasa Indonesia : Korupsi

Ø Korupsi secara harfiah bisa berarti :

1. Kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan ketidakjujuran

2. Perbuatan yg buruk (penggelapan, uang, penerimaan uang sogok, dsb)

3. Perbuatan yg kenyataan menimbulkan keadaan yg bersifat buruk

Ø Menurut perspektif hukum, definisi korupsi secara gamblang dalam 30 buah Pasal

dalam UU No.31 Tahun 1999 jo UU No.20 Tahun 2001. Berdasarkan pasal-pasal

tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam 7 (tujuh) bentuk / jenis tindak pidana

korupsi. Pasal-pasal tersebut menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan

yang bisa dikenakan pidana penjara karena korupsi.

(33)

u

The Lexicon Webster Dictionary : korupsi adalah suatu kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau menfitnah

u

Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris korupsi : sebagai kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan dan ketidak-jujuran

u

Kamus Umum Bahasa Indonesia : korupsi sebagai perbuatan buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya

u

Pengertian korupsi sangat luas

u

Encyclopedia Americana : bahwa korupsi merupakan

suatu hal buruk yang memiliki aneka ragam arti, bervariasi

menurut waktu, tempat dan bangsa

(34)

Ketigapuluh bentuk / jenis tindak pidana korupsi tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan sebagai berikut :

1. Kerugian keuangan negara

2. Suap - Menyuap

3. Penggelapan dalam jabatan

4. Pemerasan

5. Perbuatan curang

6. Benturan kepentingan dalam pengadaan

7. Gratifikasi

(35)

35

KORUPSI

UU NO 31 TH 1999 JO

UU NO 20 TH 2001

KERIGIAN KEUANGAN

NEGARA Ps 2 & 3

SUAP MENYUAP 5,6,11,12,13 Ps

PENGGELAPAN DLM JABATAN

Ps 8, 9, Ps 10.a,b c PERBUATAN

PEMERASAN Ps 12, e,g, f

PERBUATAN CURANG Ps 7 ayat (1) a,b,C,d

Ps 7 (2) Ps 12.b

Benturan Kepentingan

Ps 12 i Gratifikasi

Ps 12 c

TPK UU No 31 th 1999 Jo UU No 20 Th 2001

(36)

Selain defenisi tindak pidana korupsi yang sudah dijelaskan diatas, masih ada tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi. Jenis tindak pidana lain tersebut tertuang dalam Pasal 21, 22, 23, dan 24 Bab III UU No.31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Janis tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi terdiri atas :

1. Merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi.

2. Tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar.

3. Bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka.

4. Saksi atau Ahli yang tidak memberika keterangan atau memberi keterangan palsu.

5. Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan palsu.

6. Saksi yang membuka identitas pelapor.

(37)

TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAI

EKSTRA ORDINARY

CRIME

TINDAK PIDANA KORUPSI

DAPAT BERAKIBAT

MERUSAK

PEREKONOMIAN

NEGARA

TREND SEMAKIN CANGGIH CARA YANG DIGUNAKAN

PELAKU

(38)

EKSTRA ORDINARY CRIME (Kejahatan Luar Biasa):

Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana yang tidak saja terhadap kehidupan perekonomian

nasional, tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis juga

merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat, dan

karena itu maka tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa

melainkan telah menjadi suatu “kejahatan luar

biasa”.

(39)

Upaya Penanggulangannya :

u Untuk menanggulangi kejahatan yang luar biasa tersebut diperlukan suatu kebijakan sosial (sosial policy).

u Kemudian dijabarkan dalam kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy).

u Pada tataran tersebut dirumuskan dan ditegakkan pula kebijakan pidana (criminal policy).

Dengan demikian tampak bahwa kebijakan pidana merupakan bagian dari kebijakan penegakan hukum yang secara keseluruhan berada dalam suatu sistem

kebijakan sosial. Oleh karena itu kebijakan pidana harus memiliki sinkronisasi dengan kebijakan penegakan

hukum, sedangkan kebijakan penegakan hukum harus

pula searah dan dijiwai oleh kebijakan sosial atau arah

kebijakan penyelenggaraan negara pada umumnya.

(40)

Korupsi dapat dilihat dari berbagai aspek

u

Aspek sosiologis : nepotisme” (memasang keluarga atau teman dalam posisi pemerintahan tanpa memenuhi persyaratan untuk itu)

u

Aspek politik : Pemerintahan yang korup berdampak pada wibawa pemerintah di mata masyarakat. Dukungan terhadap pemerintah menurun karena hilangnya kepercayaan masyarakat. Selanjutnya akan berdampak pada legitimasi pemerintah sebagai pengemban amanat dari masyarakat

u

Aspek ekonomi: Korupsi pada aspek ekonomi dipandang sebagai

“harga pasar” yang harus dibayar oleh konsumen apabila ingin

“membeli” barang tertentu (keputusan, izin, atau secara lebih tegas

berupa tanda tangan).

(41)

u Kesimpulan

korupsi memiliki pengertian yang luas tergantung pada aspek pendekatan dan kondisi di suatu tempat tertentu.

ada kesepahaman pandangan bahwa korupsi

merupakan suatu perbuatan jahat yang harus

diberantas karena menimbulkan ketidakadilan

(42)

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Korupsi yaitu :

u Setiap orang yang melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

u Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

u Melakukan perbuatan pidana menurut pasal 209, 210, 387, 388, 415, 416, 417, 418, 419, 420, pasal 423, pasal 425, pasal 435

u Setiap orang yang memberikan hadiah atau janji kepada pegawai

negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang

melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi

hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau

kedudukan tersebut

(43)

u Setiap orang yang melanggar ketentuan undang-undang yang secara tegas menyatakan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang tersebut sebagai tindak pidana korupsi berlaku ketentuan yang diatur dalam undang-udang ini

u Setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi, dipidana dengan pidana yang sama

u Setiap orang di luar wilayah Negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi

u terdakwa dapat dijatuhi pidana tambahan

(44)

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001

u

korupsi digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa.

u

terdapat perubahan dan tambahan menyangkut rumusan perbuatan maupun ketentuan perihal pembuktian.

u

langsung disebutkan unsurnya, tanpa menyebut KUHP

u

menambahkan perbuatan gratifikasi sebagai tindak pidana korupsi

u

perluasan mengenai sumber perolehan alat bukti yang sah berupa petunjuk

u

“pembuktian terbalik” yang bersifat “premium remidium” dan sekaligus

mengandung sifat prevensi khusus

(45)

Tempat tindak pidana (locus delicti)

1. Teori perbuatan materiil/leer der lichamelijk daad

(perbuatan jasmaniah)

2. Teori instrumen/leer van instrument

3. Teori akibat

(46)

Unsur-Unsur Tindak Pidana

1. Pandangan Monistis → Simons, Van Hammel, Mezger, Van Bemmelen dan Wirjono Prodjodikoro.

Unsur strafbaar feit: tinggkah laku, memlawan hukum, kesalahan.

1. Pandangan Dualistis →Pompe, Moeljatno dan Roeslan Saleh.

Unsur strafbaar feit: tinggkah laku dan melawan hukum

(47)

PENYERTAAN DAN PEMBANTUAN

Istilah

Penyertaan atau deelneming atau complicity

u “turut campur dalam peristiwa pidana” (Tresna)

u ”Turut berbuat delik” (Karni)

u ”Turut Serta” (Utrecht)

(48)

Pasal 55 KUHP

Ayat (1) dipidana sebagai pembuat (dader) suatu perbuatan pidana:

Ke-1. mereka yang melakukan, yang menyuruh lakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan;

Ke-2. mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau

martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau

keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Ayat (2) terhadap penganjur hanya perbuatan yang sengaja

dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya.

Pasal 56 KUHP

Dipadana sebagai pembantu (medeplichtige) suatu kejahatan:

Ke-1. mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan;

Ke-2. mereka yang sengaja memberi kesempatan, satana

atau keterangan untuk melakukan kejahatan.

(49)

Yang dapat dipidana:

1. Pelaku atau Pleger;

2. Orang yang menyuruh lakukan atau Doenpleger;

3. Orang yang turut serta atau Medepleger;

4. Orang yang menganjurkan atau Uitlokker;

1. Pembantu atau medeplichtige

(1) Saat melakukan kejahatan;

(2) Sebelum melakukan kejahatan.

(50)

Plegen

Plegen → yang melakukan

Pleger → Pelaku

Pengertian Luas

Semua orang yang dikualifikasikan dalam pasal 55 KUHP, sebagai pelaku, orang yang menyuruh lakukan, orang yang turut serta

melakukan maupun orang yang menggerakkan atau membujuk untuk melakukan suatu tindak pidana.

Pengertian sempit

Seseorang yang memenuhi semua unsur delik.

(51)

Doenplegen

Istilah

Doenplegen

menyuruh lakukan.

Deonpleger

orang yang menyuruh lakukan.

Middelijke Daderschap

“seseorang mempunyai kehendak melakukan suatu perbuatan pidana, namum tidak mau melakukannya sendiri dan

mempergunakan orang lain yang disuruh melakukan perbuatan pidana tersebut.

Orang yang menyuruh lakukan = manus domina/middelijke dader.

Orang yang disuruh = manus ministra/onmiddelijke dader.

Adegium: qui per alium facit per seipsum facere videtur → seseorang yang menyuruh orang lain melakukan suatu perbuatan, sama halnya dengan orang tersebut melakukan perbuatan itu sendiri.

(52)

Syarat Doenplegen :

1. Alat untuk melakukan perbuatan pidana adalah orang.

2. Orang yang disuruh tidak mempunyai kesengajaan, kealpaan atau kemampuan bertanggungjawab.

3. Orang yang disuruh melakukan tidak dapat dijatuhi pidana.

Ex: seorang ibu meyuruh anaknya (dibawah umur) melakukan perbuatan

yang mengakibatkan seseorang mengalalmi luka.

(53)

Medeplegen

Medeplegen → Turut serta melakukan.

Tiga kemungkinan:

1. Semua pelaku memenuhi unsur dalam rumusan delik.

2. Salah seorang memenuhi unsur delik, sedangkan pelaku yang lain tidak.

3. Tidak seorang pun memenuhi rumusan delik, namun bersama- sama mewujudkan delik tersebut.

Ex: A,B dan C melakukan pencurian dengan kekerasan di bank. A dan B masuk ke bank,

menodongkan pistol dan membawa sejumlah uang yang ada di brankas, sedangkan C

hanya menunggu di mobil.

(54)

Syarat medeplegen :

1. Kesengajaan untuk mengadakan kerjasama dalam rangka mewujudkan suatu delik di antara para pelaku (meeting of mind) → subjectief onrechtselement. Menggunakan istilah

“bersekutu”

2. Kerjasama yang nyata dalam mewujudkan delik tersebut → objectief onrechtselement. Menggunakan istilah “bersama-sama”

Ex: A dan B sama-sama tidak senang dengan C. A berniat membunuh sementara B berniat menganiaya. A dan B bersama-sama melakukan pemukulan, setelah C terjatuh kemudian A melempar kepala C dengan batu, C mengalami luka-luka dan akhirnya meninggal. A dipersalahkan melakukan pembunuhan sementara B dipersalahkan melakukan

penganiayaan berat yang mengakibatkan mati.

(55)

Medeplegen difungsikan dalam dua hal:

1. Untuk menciptakan dan melekatkan pertanggungjawaban pada orang-orang yang turut serta melakukan dalam suatu perbuatan pidana namun yang tidak mungkin dikualifikasikan sebagai pelaku dengan mengingat tidak memenuhi unsur-unsur delik yang sifatnya konstitutif.

2. Untuk memperluas pertanggungjawaban orang yang turut serta dalam perbuatan pidana

Ex: C hanya menunggu di mobil. A dan B melakukan pencurian

dengan kekerasan.

(56)

Uitlokking

istilah

Uitlokking → yang menganjurkan atau menggerakkan.

Uitlokker → orang yang menganjurkan atau menggerakkan.

Pengertian: “kesengajaan menggerakkan orang lain yang dapat dipertanggungjawabkan pada dirinya sendiri untuk melakukan suatu perbuatan pidana dengan menggunakan cara-cara yang telah ditentukan oleh undang-undang karena telah tergerak, orang tersebut kemudian dengan sengaja melakukan tindak pidana itu.”

1.

Orang yang menganjurkan → auctor intellectualis.

2.

Orang yang dianjurkan → auctor materialis atau materieele dader.

Adegium: plus peccat auctor quam actor → orang yang menggerakkan suatu kejahatan dipandang lebih buruk daripada yang melakukannya.

(57)

Upaya dalam menganjurkan atau menggerakkan:

1. Memberi atau menjanjikan sesuatu;

2. Menyalahgunakan kekuasaan atau martabat;

3. Dengan kekerasan;

4. Dengan ancaman atau penyesatan;

5. Memberi kesempatan, sarana

atau keterangan .

(58)

Syarat dalam uitlokking:

1. Kesengajaan untuk menggerakkan atau menganjurkan orang lain melakukan suatu perbuatan pidana;

2. Ada orang lain yang dapat melakukan

perbuatan yang digerakkan atau dianjurkan;

3. Orang yang digerakkan atau dianjurkan

benar-benar mewujudkan perbuatan pidana atau percobaan perbuatan pidana yang

dikehendaki oleh penggerak atau penganjur.

4. Menggerakkan atau menganjurkan harus dengan cara-cara yang telah ditentukan

secara limitatif sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP.

5. Orang yang digerakkan atau dianjurkan harus

dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.

(59)

Perbedaan doenplegen dengan uitlokking

Doenplegen Uitlokking

Pelaku materil tidak dapat dimintai

pertanggungjawaban pidana

Pelaku materil dapat dimintai

pertanggungjawaban pidana

Dapat menggunakan

upaya apapun Upaya yang dilakukan

bersifat limitatif

(60)

Medeplichtige

Medeplichtige → Pembantuan

1.

De hoofd dader = pelaku atau pembuat

2.

Medeplichtige = pembantu

Bentuk:

1.

Pembantuan pada saat kehajatan dilakukan.

2.

Pembantuan untuk melakukan kejahatan.

Adegium:

u

“omne principale trahit ad se accessorium” →dimana ada pelaku utama disitu ada pelaku pembantu.

u

“Quod non valet in principali, in accessorio seu consequenti non valebit; et

quod non valet in magis propinqui, non valebit in magis remoto” → apa yang

tidak diberlakukan kepada pelaku utama, maka tidak akan diberlakukan

kepada pelaku pembantu; dan apa yang tidak berpengaruh pada perkara

pertama, tidak akan berpengaruh kepada perkara kedua.

(61)

Prihal Medeplichtige

u Pembantuan untuk melakukan pelanggaran tidak dipidana.

u Pembantuan haruslah dilakukan dengan kesengajaan.

u Pembantuan dapat terjadi pada delik kealpaan

(meninggalnya seseorang karena kecelakaan lalu lintas yang mana sebelumnya pelaku meminum alkohol yang dibelikan oleh orang lain)

u Pembantuan dalam percobaan untuk melakukan kejahatan dapat dipidana. Sebaliknya, percobaan untuk membantu melakukan suatu kejahatan tidaklah dapat dipidana.

Ilustrasi:

1.

A pernah bekerja dirumah B memberi informasi kepada C yang hendak mencuri di rumah B. Pada saat hendak menjalankan aksinya dirumah B, C tertanggkap tangan oleh D dan E. A dapat dipidana karena membantu C dalam percobaan pencurian di rumah B.

2.

S tidak senang dengan T dan berniat membunuhnya. S meminta Y untuk menyediakan pistol. Y meminjam pistol dari Z. Karena suatu dan lain hal, S mengurungkan niatnya untuk membunuh T. Y tidak dapat dipidana karena membantu percobaan pembunuhan

maupun membantu pembunuhan oleh S terhadap T karena semua

perbuatan tidak pernah terwujud.

(62)

Perbedaan Medeplichtige dengan Medeplegen

Medeplegen Medeplichtige

Pada delik “pelanggaran” dijatuhi

pidana Pada delik “pelanggaran” tidak

dijatuhi pidana Harus ada kesengajaan untuk

bekerjasama atau relasi yang sebanding

Tidak disyaratkan

Harus ada kerjasama yang erat

diantara para pelaku Hanya melakukan peranan tidak penting

Harus ada

uitvoeringshandeling/tindakan pelaksanaan

Cukup melakukan

voorbereidingshandeling/tindakan persiapan atau

ondersteuningshandeling/tindaka n dukungan

Pemidanaan sama dengan

pelaku Dikurangi sepertiga dari pidana

maksimum Bila ada kerjasama yang erat,

dipandang sebagai pelaku bukan pembantu meskipun yang

dilakukan bukan perbuatan penyelesaian

--

(63)

Referensi

Dokumen terkait

b. Aset tersebut merupakan bagian dari kelompok aset keuangan, liabilitas keuangan, atau keduanya yang dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar,

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pengaruh pengetahuan dan sikap pasien terhadap pemanfaatan ulang

A cooperation  between the  Institute of  Ecology, Indonesian State Electric Company  (IOE  UNPAD­PLN),  Bandung,  Indonesia; and the  International Center  for 

Dengan menggunakan metode SPT ( Short Processing Time) terlihat bahwa ada empat pekerjaan terlambat dengan keterlambatan maksimum sebesar 139 hari, waktu

Tujuan dan teori pemasaran yang telah dikaji kemudian akan dijadikan landasan untuk dapat mengetahui segala kebutuhan, keinginan dan permintaan target sasaran

a. Membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Karena orang yang memiliki keimanan yang tinggi dan ketaqwaan senantiasa dekat dengan Allah. Mereka

[r]

Madonna akan menabung sekali sejumlah P pada t=0 (t adalah periode 3 bulanan) dengan bunga 12% setahun dan dimajemukkan setiap 3 bulan sehingga ia bisa menarik masing-masing