5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa tiga dari empat variabel independen yang diuji memiliki pengaruh yang signifikan terhadap masing-masing variabel dependen (baik ROA maupun ROE). Variabel sumber daya modal finansial yang diukur dari capital adequacy ratio (CAR) memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap ROA maupun ROE. Variabel sumber daya modal fisik yang diukur dari jumlah () jaringan cabang yang dimiliki oleh suatu bank memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap ROA maupun ROE. Hasil yang sama juga didapatkan dari variabel sumber daya modal organisasi yang diukur dari brand value. Brand value dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap ROA maupun ROE. Intinya, peranan kecukupan modal (CAR), jumlah unit cabang (Branch), dan nilai merek (Brand Value) memiliki dampak yang cukup besar dalam meningkatkan daya saing industri perbankan di Indonesia. Berikutnya, variabel sumber daya modal manusia yang diukur dari rasio biaya training per pekerja menunjukkan pengaruh yang negatif, namun tidak signifikan. Hasil ini mengindikasikan adanya pengaruh yang tidak langsung antara investasi training dengan daya saing perusahaan yang diukur dari rasio profitabilitas (ROA dan ROE).
Berdasarkan hasil uji signifikansi F, diketahui bahwa seluruh variabel independen memiliki pengaruh secara serentak (simultan) terhadap masing-masing variabel dependen (ROA dan ROE). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keempat indikator (CAR, branch, training, dan brand value) yang digunakan dalam mengukur sumber daya perusahaan, merupakan sumber daya yang bernilai (valu- able) bagi perusahaan perbankan di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara jumlah jaringan cabang (Branch) dengan daya saing perusahaan yang diukur dari rasio profitabilitas (ROA dan ROE). Ini mengindikasikan, jumlah jaringan cabang (Branch) memiliki peran yang cukup besar dalam meningkatkan daya saing perusahaan perbankan. Hal itu dapat dipahami mengingat jaringan cabang berperan sebagai saluran distribusi
produk perbankan sekaligus sebagai salah satu infrastruktur perusahaan yang berperan penting dalam menghimpun dana dari masyarakat (fund raising). Namun, tingkat penetrasi perbankan yang masih rendah, terutama di daerah Indonesia timur dan daerah terpencil menyebabkan masyarakat di Indonesia sulit untuk memiliki akses terhadap produk perbankan. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab industri perbankan Indonesia masih belum mampu bersaing dengan perbankan global.
Lebih lanjut, brand value perbankan Indonesia yang masih rendah juga menjadi salah satu penyebab industri perbankan nasional masih belum berdaya saing. Hal tersebut terlihat dari hasil penelitian ini yang menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara brand value dengan daya saing perusa- haan yang diukur dari rasio profitabilitas (ROA dan ROE). Brand value terbukti memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing perusahaan. Hal itu disebabkan karena bank, sebagai sebuah bisnis yang sangat mengandalkan keper- cayaan nasabahnya dituntut untuk senantiasa menjaga reputasinya agar baik nasabah maupun calon nasabah memiliki persepsi merek yang baik terhadap bank tersebut. Persepsi terhadap merek adalah hal yang mahal dan sulit untuk ditiru oleh pesaing, sehingga dapat menjadi salah satu aset strategis bagi perusahaan.
Selanjutnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio / CAR) terbuk- ti memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan dengan daya saing perusahaan yang diukur dari rasio profitabilitas (ROA dan ROE). CAR yang besar disatu sisi memang dapat menggambarkan rendahnya resiko kegagalan yang dihadapi suatu bank. Namun, disisi yang lain, CAR yang terlampau besar justru menjadi indikasi perusahaan perbankan beroperasi secara konservatif dan menghindari resiko yang berpotensi menguntungkan (risk averse). Itu artinya, perbankan tidak mampu me- manfaatkan kekuatan dari permodalan yang dimiliki untuk dapat meningkatkan daya saingnya. CAR industri perbankan di Indonesia merupakan yang tertinggi dibandingkan industri perbankan lainnya di kawasan ASEAN. Hal inilah yang menyebabkan masih rendahnya daya saing industri perbankan di Indonesia.
Lebih lanjut, adanya pengaruh yang negatif dan tidak signifikan dari training dengan daya saing perusahaan dalam penelitian ini, bukan berarti training tidak memiliki dampak apapun terhadap daya saing perusahaan. Training sangat berguna untuk mengembangkan pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills)
pekerja. Seiring dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, karyawan akan mampu meningkatkan kualitas proses bisnis internal yang salah satunya tercermin dari kemampuannya untuk melayani pelanggan dengan lebih baik. Pelayanan yang baik kepada pelanggan ini mutlak diperlukan dalam perusaha- an perbankan sebagai perusahaan jasa yang sangat bergantung pada kemampuan- nya dalam menjaga reputasi dan kepercayaan nasabahnya.
Oleh karenanya, perbankan yang mampu mengelola dan mengeksploitasi manfaat dari sumber daya tersebut akan mampu mencapai keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Intinya, kepemilikan sumber daya semata tidak akan mampu menghasilkan keunggulan bersaing yang berkelanjutan jika tidak disertai dengan kapabilitas dalam memanfaatkan dan menggunakan sumber daya yang ada. Dengan mendasarkan strateginya berbasis sumber daya (Resource-Based View), perusahaan perbankan dapat memiliki dasar yang lebih stabil dalam memformulasikan strategi- nya, sehingga pada gilirannya mampu meningkatkan daya saing dan menghasilkan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
5.2 Saran
a. Bagi Industri Perbankan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan jaringan cabang suatu bank sangat vital dalam meningkatkan kinerja perbankan di Indonesia. Mengingat masih rendahnya tingkat penetrasi bank di Indonesia, maka perbankan dituntut untuk mampu memperluas jaringan cabangnya agar dapat menjangkau populasi penduduk yang saat ini berada dalam kategori bankable unbanked. Penambahan jumlah cabang (branch) memang membutuhkan biaya investasi yang besar pula.
Hal ini dapat dipahami karena biaya investasi kantor cabang bank dapat mencapai Rp 1,2 miliar per cabangnya (CIMB Principal Asset Management, 2016). Oleh karenanya, untuk dapat memperluas jaringan cabang dengan biaya investasi yang rendah, bank diharapkan dapat berpartisipasi dalam program yang dicanangkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yaitu Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai). Adapun, biaya investasi yang dikeluar- kan oleh bank penyelenggara Laku Pandai untuk setiap agen yang menjadi peserta
hanya berkisar antara 3 hingga 5 juta rupiah per agen (CIMB Principal Asset Management, 2016).
Tujuan utama program Laku Pandai ini adalah menjangkau masyarakat yang masih belum tersentuh layanan perbankan dengan menyediakan produk perbankan dasar (tabungan dan pinjaman) yang dikhususkan untuk masyarakat kecil dengan memanfaatkan peranan teknologi informasi (OJK, 2014). Pada program ini, bank penyelenggara diharuskan untuk merekrut agen (baik individu maupun badan hukum) yang akan menjadi perpanjangan tangan bank dalam menyalurkan produk dasar perbankan. Selanjutnya, agen laku pandai dapat menggunkan laptop, komputer, handphone yang dimilikinya, atau mesin EDC yang diberikan oleh bank penyelenggara untuk melakukan transaksi seperti menabung, menarik tunai, membayar tagihan, mengirim uang, dan sebagainya.
Hingga Juni 2016, masih baru terdapat 13 bank yang menjadi bank penyelenggara Laku Pandai (OJK, 2016). Lebih spesifik, hanya 5 dari 10 bank yang digunakan sebagai sampel penelitian yang telah menjadi penyelenggara Laku Pandai. Bank tersebut antara lain, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, Bank Negara Indonesia, dan Bank Tabungan Negara. Padahal, cukup banyak bank yang memenuhi syarat (eligible) untuk menjalankan program ini. Ada- pun, syarat yang ditetapkan OJK adalah bank penyelenggara tersebut harus ber- badan hukum Indonesia, memiliki profil resiko sesuai ketentuan, memiliki jaringan di wilayah Indonesia Timur, dan telah memiliki layanan internet dan mobile bank- ing (OJK, 2014). Hal ini tentu telah dimiliki oleh banyak perbankan di Indonesia.
Tidak berhenti sampai disitu, keikutsertaan bank sebagai penyelenggara laku pandai juga akan membantu perusahaan perbankan untuk memperkuat brand value-nya di masyarakat. Hal itu dikarenakan, program Laku Pandai bertujuan untuk menyasar orang yang selama ini belum terjamah oleh layanan perbankan.
Dengan menjadi bank penyelenggara program Laku Pandai, bank dapat merekrut agen yang selanjutnya akan menjadi perpanjangan tangan bank tersebut kepada masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan. Dengan demikian, tentu bank penyelenggara dapat memiliki jangkauan pasar yang lebih luas dengan biaya investasi yang lebih rendah. Selain itu, juga memperkuat brand value bank tersebut di masyarakat. Mengingat, semakin besar jaringan pasar suatu perusahaan, semakin
kuat pula brand value nya. Secara spesifik, perbankan juga dapat lebih memperkuat brand value nya melalui berbagai promosi dan investasi di bidang advertsing.
Dengan memiliki jangkauan pasar yang lebih luas, bank juga dapat dengan mudah memanfaatkan kelebihan likuiditas atau modal yang dimilikinya, yang tercermin dari CAR yang cukup besar, untuk meningkatkan kinerja dan profitabili- tasnya dengan tetap mematuhi kriteria kecukupan modal minimum yang telah dite- tapkan. Selain itu, bank juga dapat memanfaatkan potensi dana pihak ketiga yang belum terserap di pasar yang diperkirakan mencapai 200 hingga 300 Triliun rupiah (Kompas, 2015). Tidak berhenti sampai di sini, perbankan juga dituntut untuk dapat memberikan sosialisasi secara menyeluruh kepada para agennya agar dapat menjalankan program Laku Pandai yang ditawarkan dengan baik.
Selanjutnya, dalam lingkup / tingkatan perusahaan, setiap perusahaan per- bankan juga perlu memperkuat sumber daya yang dimilikinya agar dapat memenuhi unsur valuable, rare, inimitable, dan organization (VRIO) agar dapat semakin meningkatkan daya saingnya. Cara yang dapat dilakukan adalah fokus kepada sumber daya apa yang dapat menjadi sumber kekuatan (strength) dari perusahaan tersebut. Disini, bank dapat melakukan internal assessment atau analisa SWOT untuk mengetahui kekuatan yang dimiliki dan kelemahan yang akan diatasi.
Kemudian, setelah mengetahui sumber daya nya yang dapat menjadi kekuatan bagi perusahaan, bank dapat melakukan investasi yang mampu memperkuat daya saingnya di pasar. Salah satu contohnya adalah strategi Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam memanfaatkan sumber dayanya. BRI memiliki jangkauan geografis yang cukup luas di wilayah Indonesia. Hal itu tercermin dari kepemilikan outlet cabang BRI yang mencapai 10.612 unit pada tahun 2015. Jaringan cabang dan jangkauan geografis yang cukup luas inilah yang menjadi kekuatan (strength) dari BRI karena bank dengan jangkauan geografis yang luas berpotensi menghasilkan revenue yang lebih besar. Selanjutnya, dalam rangka memperkuat sumber dayanya tersebut, BRI melakukan investasi berupa pembelian satelit komunikasi (BRIsat) yang mampu mendukung layanan BRI hingga di daerah terpencil serta menghemat biaya komunikasi antar cabang BRI.
b. Bagi Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini berusaha untuk menganalisis sumber daya perusahaan pada industri perbankan dengan pendekatan Resource-Based View (RBV). Namun, karena berbagai keterbatasan, penelitian ini hanya dilakukan pada sumber daya yang umum dari perusahaan perbankan yang didapatkan dari data sekunder. Oleh karenanya, penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan berbagai variabel dan indikator lain di luar yang telah digunakan dalam penelitian ini yang dapat merepresentasikan sumber daya perusahaan perbankan secara lebih spesifik seperti capital expenditure, assets utilization, employee productivity, organizational culture, market share, dan sebagainya sehingga dapat memperluas cakupan penelitian dan dapat lebih meningkatkan kualitas penelitian mengenai sumber daya perusahaan pada industri perbankan di Indonesia.
Selain itu, karena keterbatasan data, terutama mengenai nilai brand value dari perusahaan di Indonesia, maka penelitian ini hanya dilakukan pada kurun waktu tersedianya data brand value yaitu mulai tahun 2013 hingga 2015. Oleh karenanya, penelitian berikutnya juga diharapkan dapat menggunakan sampel yang lebih besar dengan periode pengamatan yang lebih panjang agar dapat menghasilkan power of test yang lebih besar.