• Tidak ada hasil yang ditemukan

Serat Babad Umbul Pengging (Tinjauan Semiotik)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Serat Babad Umbul Pengging (Tinjauan Semiotik)"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user (Tinjauan Semiotik)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Daerah

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

Disusun oleh

ADISTI TUNJUNGSARI

C0108013

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)
(3)
(4)

commit to user iv Nama : Adisti Tunjungsari

NIM : C0108013

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul ”Serat Babad

Umbul Pengging (Tinjauan Struktural dan Semiotik)adalah benar-benar karya

sendiri bukan plagiat, dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya dalam skripsi ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dari skripsi tersebut.

Surakarta, Juli 2012 Yang membuat pernyataan,

(5)

commit to user v

Perjalanan hidup tak akan mudah, pasti ada hambatan dan jalan berliku juga jalan yang curam, ketahuilah itu merupakan tanda kasih sayang Tuhan. Sebab Tuhan

(6)

commit to user vi

Skripsi ini penulis persembahkan kepada: 1. Mbah Soma, untuk semua kasih dan

cintanya.

(7)

commit to user vii

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar tanpa suatu hambatan apapun.

Skripsi yang berjudul “Serat Babad Umbul Pengging”, merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penyusunan skripsi ini tidak dapatterselesaikan jika tidak adanya bantuan dari berbagaipihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada:

1. Drs. Riyadi Santosa, M.Ed, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Drs. Supardjo, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah berkenan memberikan izin penulisan skripsi ini.

3. Dra. Dyah Padmaningsih, M. Hum., selaku Sekretaris Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa yang telah memberi semangat dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(8)

commit to user viii

memberikan semangat dan masukan kepada penulis dan atas ketelitian demi penyempurnaan skripsi ini.

6. Dra. Sri Mulyati, M. Hum., selaku Pembimbing Akademik yang selalu menyemangati agar segera menyelesaikan skripsi ini.

7. Bapak Ibu Dosen jurusan Sastra Daerah beserta staf Fakultas Sastra dan Seni Rupa, yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya.

8. Kepala dan staf perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta maupun perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa, terimakasih atas pelayanannya serta kemudahan dalam membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

9. Tri, Widy, Anik, Ikah, Devi, Dewi, Laili, Rompas, Dew serta teman-teman Sastra Daerah angkatan 2008 yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu terima kasih atas bantuan dan persahabatan, dukungan dan semangatnya, semoga sukses.

10.Mas Hendre, mbak Icha, mbak Ika, untuk nasehat dan semangatnya.

11.Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya skripsi ini, semoga mendapat karunia dari Tuhan.

Penulis menyadari bahwa di dalam melakukan penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya kemampuan penulis. Oleh karena itu, segala saran dan kritik dari pembaca, penulis terima dengan senang hati.

(9)

commit to user ix SBUP : Serat Babad Umbul Pengging PB : Pakubuwana

(10)

commit to user x

(11)

commit to user xi

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR SINGKATAN ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ... xiv

BAB. I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 6

1. Manfaat Teoretis ... 6

2. Manfaat Praktis ... 6

F. Sistematika Penulisan ... 7

BAB. II LANDASAN TEORI ... 8

(12)

commit to user xii

C. Struktur Tembang atau Puisi ... 13

D. Pendekatan Semiotik ... 15

BAB. III METODE PENELITIAN ... 19

A. Bentuk Penelitian ... 19

B. Sumber Data dan Data ... 20

C. Teknik Pengumpulan Data ... 21

D. Teknik Analisis Data ... 24

BAB. IV PEMBAHASAN ... 23

A. Struktural Serat Babad Umbul Pengging ... 23

1. Lapis Bunyi ... 23

a) Konvensi Tembang ... 24

b) Asonansi ... 28

c) Aliterasi ... 32

2. Lapis Arti ... 33

a. Dasanama ... 34

b. Tembung garba ... 35

c. Tembung wancahan ... 38

d. Pepindan ... 41

e. Citra Dengaran ... 44

f. Citra Lihat ... 46

g. Allegori ... 49

(13)

commit to user xiii

a. Objek ... 54

b. Latar ... 54

c. Pelaku atau tokoh ... 59

4. Lapis Dunia ... 71

5. Lapis Metafisis ... 71

B. Aspek-aspek Semiotik ... 74

C. Makna Semiotik SBUP ... 92

BAB. V PENUTUP ... 96

A. Simpulan ... 96

B. Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 98

(14)

commit to user xiv

Adisti Tunjungsari. 2012. Serat Babad Umbul Pengging. Skripsi: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah struktur Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia dan lapis metafisis? (2) bagaimanakah aspek-aspek semiotik Serat Babad Umbul Pengging? (3) bagaimanakah makna semiotik Serat Babad Umbul Pengging bagi masyarakat dan kebudayaan Jawa?

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan struktur Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia dan lapis metafisis, (2) mendeskripsikan aspek-aspek semiotik Serat Babad Umbul Pengging, (3) mendiskripsikan makna semiotik Serat Babad Umbul Pengging bagi masyarakat dan kebudayaan Jawa.

Manfaat teoretis dari penelitian ini diharapkan menambah wawasan teori struktural dan teori semiotik serta dapat menambah dan memperkaya khasanah penelitian sastra khususnya semiotik. Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan penelitian penulisan selanjutnya dan khususnya untuk bidang pertanian dapat menjadikan sistem irigasi yang baik disekitar umbul. Dengan adanya aliran dari umbul pengging menjadikan sistem irigasi bagi masyarakat sekitar.

Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian sastra deskriptif kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah edisi teks Serat Babad Umbul Pengging yang telah dikerjakan secara filologis oleh Prasetyo Adi Wisnu Wibowo pada tahun 1999. Dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data menggunakan content analysis adalah strategi untuk menangkap pesan karya sastra, serta teknik kepustakaan adalah teknik yang mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Teknik analisis data bertujuan menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Bagi penelitian kualitatif, ada tiga hal yang perlu diketahui dalam proses analisis data, yaitu reduksi data, sajian data, dan verifikasi serta simpulan.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa SBUP memiliki unsur-unsur pembangun seperti lapis bunyi, lapis arti yang terdiri dari

dasanama, tembung garba, tembung wancahan, pepindan, citra dengaran, citra

(15)

commit to user xv

(16)

commit to user xvi

Adisti Tunjungsari. 2012. Simbol dan Makna Umbul Pengging dalam Serat

Babad Umbul Pengging. Skripsi: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra lan Seni

Rupa Pawiyatan Luhur Sebelas Maret Surakarta.

Prêkawis inkang dipunrêmbag wontên panalitèn inggih menika (1) kados pundi struktur ingkang wontên Serat Babad Umbul Pengging ing antawispun

lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia lan lapis metafisis? (2) kados

pundi aspek-aspek semiotik ing Serat Babad Umbul Pengging? (3) kados pundi tegesipun semiotik kangge masyarakat lan kabudayan Jawi?

Ancas panalitèn inggih menika kangge: (1) ngandharakèn struktur wontên ing Serat Babad Umbul Pengging ing antawisipun lapis bunyi, lapis arti, lapis

norma, lapis dunia lan lapis metafisis, (2) ngandharakên katrangan aspek-aspek

semiotik ing Serat Babad Umbul Pengging, (3) ngandharakên katrangan tegesipun

semiotik kangge masyarakat lan kabudayan Jawi. Pigunan teoretis saking

panalitèn puniki mugi saged nambah wawasan teori struktur lan teori semiotik saha saged nambah lan nyugihakên khasanah panalitèn sastra khususipun

semiotik. Pigunan praktis saking panalitènn puniki mugi saged dados bahan

penulisan panalitèn saklajêngipun lan khususipun kangge bidang pertanian saged

dadosakên sistem irigasi ingkang sêkeca ing sakiwa-têngêne umbul. Minangka wontênipun aliran saking umbul pêngging dadosakên sistem irigasi kagêm masyarakat ing sakiwa-têngêne.

Bentuk panalitèn ingkang dipunginakakên innngih menika panalitèn sastra deskriptif kualitatif. Sumber dhata primer ing panalitèn inggih menika edisi teks Serat Babad Umbul Pengging ingkang sampun dipungarap kanthi filologis oleh Prasetyo Adi Wisnu Wibowo ing taun 1999. Lan sampun diterjemahkan kanthi basa Jawa lan basa Indonesia.

Cara ngêmpalakên data ngginakakên content analysis inggih menika strategi kangge mbahas pesan karya sastra, saha cara kepustakaan inggih punika cara ingkang migunakakên sumber-sumber tertulis kangge pikantuk dhata. Cara

analisis data nggadahi tujuan anyêdêrhanakakên dhata wontên ing bentuk

ingkang luwih gampil diwaos lan diinterpretasikan. Kagêm penelitian kualitatif, wontên tigang prekawis ingkang prêlu dipunmangêrtosi wontên ing proses

analisis data, yaiku reduksi data, sajian data, lan verifikasi saha simpulan.

Dudutan saking hasil panalitèn puniki sagêd dipunmangêrtosi minangka SBUP anggadhahi unsur-unsur pembangun kadosta lapis bunyi, lapis arti ing antawisipun dasanama, têmbung garba, têmbung wancahan, pepindan, citra

dengaran, citra lihat, allegori, sêngkalan, lapis norma: objek, latar, tokoh, lapis

dunia, lan lapis metafisis. Aspek-aspek semiotik ingkang wontên SBUP

antawisipun index awujud: suwantên gamêlan atêgês sambutan lan hiburan, suwantên genderang lan gong atêgês kagêm nyambut raja, suwantên meriyam atêgês wontênipun prêkawis penting, saha suwantên slompret kangge nyambut raja ingkang sampun kundur dhatêng istana; simbol awujud: lengkungan dengan

(17)

commit to user xvii

dados hambatan, arca atêgês dados pênjaga, jambangan atêgês papan, kêmbang mlathi atêgês sêdaya prêkawis kêdah kanthining tyas, kêmbang kênanga atêgês kêdah pêpengêt marang kang sampun diparingakên tiyang sêpuh, kêmbang kantil atêgês kêdah èngêt, kolam atêgês pasiraman raja, saha jaran atêgês sarana nggayuh cita-cita; sêngkalan rupa gapura sapta iku, sêngkalan rupa gapura sabdeng jati, saha sêngkalan rupa gapura sabdaning srinarendra. Inggih wontên

simbol kedermawanan ingkang awujud nyêbar dhuwit ingkang atêgês supados

kathah tiyang sami ngraosakên bungah lan simbol pantangan awujud larangan

(18)

commit to user xviii

Adisti Tunjungsari. 2012. Simbol dan Makna Umbul Pengging dalam Serat

Babad Umbul Pengging. Skripsi: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni

Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

This study focuses on the issues (1) How is the structure Serat Babad Umbul Pengging which includes lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia and lapis metafisis? (2) how the semiotic in Serat Babad Umbul Pengging? (3) how the semiotic means of people Java?

The purpose of this study was to: (1) describe the structure Serat Babad Umbul Pengging which includes lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia and lapis metafisis, (2) statement describing the semiotic in Serat Babad Umbul Pengging, (3) statement describing the semiotic means of people Java.

Theoretical benefits of this research are expected to broaden the structural theory and the theory of semiotics and can add to and enrich the study of literature in particular semiotic. Practical benefits of the research is expected to become the next writing guidelines and in particular to agriculture can make a good irrigation system around the pennant. With the flow of irrigation systems to make Pengging pennant to the surrounding community.

Study is a form of literary study deskriptif kualitatif. The primary data source in this study is the text edition Serat Babad Umbul Pengging that has been done by the philological Prasetyo Adi Wisnu Wibowo in 1999. And has been translated into Javanese and Indonesian languages by Prasetyo Adi Wisnu Wibowo.

Data collection technièues used content analysis is a strategy to capture the message of literature, and technical literature is a technièue that uses written sources to obtain data. Data analysis technièues aimed at simplifying the data into a form that is easier to read and interpret. For èualitative research, There are three things to note in the process of data analysis, that is reduksi data, sajian data, and

verifikasi and simpulan.

(19)

commit to user xix

(20)

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Penelitian sastra memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, di samping juga berpengaruh positif terhadap pembinaan dan pengembangan sastra itu sendiri (Tutoli dalam Endraswara, 2011: 10). Sastra mempunyai kekhasan dan perkembangannya masing-masing pada setiap kelompoknya. Begitupun dengan sastra Jawa, mempunyai kekhasan dan arah perkembangan sendiri. Seperti kelompok sastra lain, dalam dunia sastra Jawa mengenal dua bentuk sastra, yakni prosa dan puisi. Prosa ialah bentuk karangan bebas, sedangkan puisi ialah bentuk karangan yang terikat. Ada beberapa jenis puisi yang kita kenal dalam tradisi sastra Jawa, yakni kakawin, kidung, guritan, geguritan (puisi bebas), dan macapat.

Macapat merupakan karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai komponen utama di samping pola persajakan. Di dalam macapat yang mengandung seni dalam tradisi Jawa, senantiasa mengandung lambang atau sandi mau tidak mau pralambang (simbolisme) juga terdapat dalam bahasa macapat. Bahasa yang mengandung lambang ataau sandi itu adalah sasmitaning tembang (isyarat pola persajakan), sandi asma (isyarat pemakaian suatu pola persajakan),

(21)

kata-commit to user

kata). Macapat memiliki pola persajakan yang meliputi guru gatra, guru

wilangan, dan guru lagu. Setiap jenis tembang macapat berbeda pola persajakan

dan sifat-sifatnya. Tembang merupakan komponen utama karena sekar macapat mempunyai aturan khas dalam membacanya, yakni dengan ditembangkan / dinyanyikan (Karsono, 1993: 2-3). Macapat merupakan puisi yang berbahasa Jawa dan memiliki ketentuan yang sifatnya mengikat.

(22)

commit to user

mengenang pada waktu Pakubuwana VII pergi bertamasya ke pesanggrahan Umbul Pengging bersama dengan keluarganya (Prasetyo, 1999: 34-40).

Penelitian ini diambil dari skripsi Prasetyo Adi Wisnu Wibowo. Dan telah diteliti secara filologis pada tahun 1999. Antara lain transliterasi dan terjemahan serta unsur sastra berupa ajaran moral. Adapun ajaran moral yang terdapat di dalam naskah Serat Babad Umbul Pengging intinya dibagi menjadi 3 macam. Pertama, ajaran moral bagi seorang raja atau pemimpin, antara lain: raja harus selalu memperhatikan dan memberi anugerah terhadap bawahan (rakyat), pemimpin atau raja harus sabar dan pemaaf, raja harus pandai dalam memilih pembantu (bawahan). Kedua, ajaran moral bagi seorang bawahan, antara lain: rakyat harus cinta kepada pemimpin, rakyat harus patuh dan tunduk pada pemimpin, rakyat harus selalu rajin bekerja dengan penuh keikhlasan. Ketiga, ajaran moral bagi sesama, yaitu sopan santun dalam pergaulan, etika menyambut tamu, dan sikap dermawan. Penelitian Prasetyo Adi Wisnu Wibowo tersebut sangat membantu bagi peneliti, khususnya hasil transliterasi dan terjemahan. Penelitian Prasetyo Adi Wisnu Wibowo sudah sampai penyajian suntingan teks Serat Babad Umbul Pengging

(23)

commit to user

Penging dilihat dari isinya mengenai unsur struktural dan semiotik yang kompleks. Maka peneliti bermaksud mengkaji dan meneliti lebih jauh mengenai struktur teks Serat Babad Umbul Pengging ini dengan analisis struktur dari Roman Ingarden yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma: latar dan pelaku, lapis dunia dan lapis metafisis serta analisis semiotik dari C.S Pierce untuk mengkaji lebih lanjut mengenai ikon, indek, dan juga simbol.

B.

Batasan Masalah

Pembatasan masalah dilakukan agar tujuan penelitian jelas dan terarah. Penelitian ini dititikberatkan pada analisis struktur Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma: latar dan pelaku, lapis dunia dan lapis metafisis, juga pada analisis semiotik yang terdiri atas ikon, indek, serta simbol dari SBUP.

C.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah struktur Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia dan lapis metafisis?

(24)

commit to user

3. Bagaimanakah makna semiotik Serat Babad Umbul Pengging bagi masyarakat dan kebudayaan Jawa?

D.Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah yang ada dapat dijelaskan tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan struktur Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia dan lapis metafisis.

2. Memberikan keterangan mengenai aspek-aspek semiotik yang meliputi ikon, indek, dan simbol dalam Serat Babad Umbul Pengging.

3. Memberikan keterangan mengenai makna semiotik Serat Babad Umbul Pengging bagi masyarakat dan kebudayaan Jawa.

D.

Manfaat Penelitian

Karya sastra diciptakan pasti akan membawa manfaat kepada pembaca. Seperti halnya dalam naskah Serat Babad Umbul Pengging ini, dari situ dapat diambil kesimpulan tentang sikap seorang pemimpin yang baik dalam mengatur sebuah negara. Sebuah penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Demikian dalam penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

(25)

commit to user

2. Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan penelitian penulisan selanjutnya dan khususnya untuk bidang pertanian dapat meningkatkan pertanian di sekitar Umbul Pengging dengan system irigasi yang baik serta aliran air yang melimpah serta sebagai acuan pemugaran dan pembangunan pemandian umbul pengging selanjutnya.

E.

Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

BAB I: PENDAHULUAN

Pendahuluan meliputi latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian.

BAB II: LANDASAN TEORI

Landasan teori meliputi pengertian pengertian puisi, pengertian tembang macapat, struktur tembang / puisi , serta pendekatan semiotik.

BAB III: METODE PENELITIAN

Metode penelitian meliputi bentuk penelitian, sumber data dan data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

BAB IV: PEMBAHASAN

Pembahasan meliputi struktur Serat Babad Umbul Pengging, aspek-aspek semiotik Serat Babad Umbul Pengging.

BAB V: PENUTUP

(26)

commit to user

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A.

Pengertian Puisi

Puisi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti ‘membuat’ atau poeisis yang berarti ‘pembuatan’. Dalam bahasa Inggris disebut

poem / poetry. Puisi berarti pembuatan, karena dengan menulis puisi, puisi berarti

telah menciptakan sebuah dunia (Kasnadi, 2008: 1-2).

Menurut Pradopo (2005: 7) puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan member kesan. Pradopo menyimpulkan bahwa puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.

(27)

commit to user

B.

Pengertian Tembang Macapat

Macapat adalah puisi yang terikat pada pola persajakan dan mengandung unsur titi laras (nada). Baik pola persajakan maupun pola titi laras tergantung pada jenis pola persajakan yang digunakan. Dengan demikian jenis pola persajakan sangat menentukan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu macapat.

Guru gatra : aturan jumlah larik tiap-tiap larik. Guru wilangan: aturan jumlah suku kata tiap-tiap larik. Guru lagu : jatuhnya bunyi vokal pada tiap-tiap larik. Jenis tembang macapat dan tengahan, yaitu

1. Dandanggula

Makna kata dhandhang adalah mengharap (ngajab), sedang gula berarti gula. Kata gula mengisyaratkan makna manis, menyenangkan (ngresepake) atau baik. Dengan demikian dandang gula berarti mengharap supaya baik atau menyenangkan. Sekar dandanggula mempunyai sifat manis, lembut, dan menyenangkan. Oleh karena itu dandanggula sangat tepat untuk melahirkan perasaan yang menyenangkan, untuk melahirkan ajaran-ajaran yang baik, serta melahirkan rasa kasih.

2. Sinom

(28)

commit to user

tepat untuk berdialog secara sahabat, untuk melahirkan cinta kasih, dan untuk menyampaikan amanat dan nasihat.

3. Asmaradana

Kata asmaradana merupakan paduan kata asmara dan dana. Kata dana sendiri merupakan kependekan dari danaha yang berarti api. Jadi, kata asmaradana berarti api asmara. Asmaradana mempunyai pola persajakan sedih, suatu kesedihan akibat dirundung api asmaa, sehingga jenis pola persajakan ini sesuai untuk mengungkapkan isi wacana yang bermakna rindu dendam asmara atau merayu.

4. Durma

Pola persajakan durma, memiliki sifat keras, bengis, dan kasar sehingga tembang ini lebih tepat untuk wacana yang sifatnya mengunkapkan kemarahan, suatu peperangan, atau nasihat yang keras.

5. Pangkur

Hardjowirogo memberi arti kata pangkur dengan ekor (buntut) (Karsono, 1993: 19). Ekor adalah bagian belakang binatang atau ujung tulang belakang. Ujung dapat dikatakan sebagai suatu puncak. Dengan analog antara ekor dan puncak, maka dapat dipahami jika kata pangkur digunakan untuk member nama suatu pola persajakan yang mempunyai sifat memuncak. Demikianlah sekar pangkur digunakan untuk mewadahi wacana yang mengandung perasaan hatti yang sungguh-sungguh, nasihat yang sungguh-sungguh, atau puncak rindu dendam asmara.

(29)

commit to user

Kata mijil merupakan sinonim dari kata metu (keluar). Dengan arti ini,pola persajakan mijilmempunyai sifat lancer, sehingga sesuai untukmemingkai wacana yang mengandung nasihat, melahirkan perasaan sedih, atau pun perasaan kasih yang sendu.

7. Kinanti

Kata kinanthi berasal dari kata dasar kanthi (gandeng) dan memperoleh seselan (infik) in. Seselan in berfungsi menjadikan kata dasar pasif. Arti sisipan in sama dengan awalan di atau awalan di dalam bahasa Indonesia, hanya saja sselan in jarang dipakai dalam wacana lisan dan hanya dipakai dalam wacana sastra. Dengan demikian kata kinanthi berarti digandheng (diganteng). Pola persajakan kinanti mempunyai sifat kemesraan. Sekar kinanti sesuai untuk membingkai wacana yang mengandung makna mncumbu rayu, member nansihat ringan, dan membeberkan perasaan hati yang riang. 8. Maskumambang

Kata maskumambang berarti emas yang terapung (mas: emas,

kumambang: terapung). Keadaan setiap benda yang terapung pasti

terombang-ambing oleh arus atau gerak barang cair yang mengapungkannya, sekalipun benda yang terapung itu adalah emas. Nama maskumambang ini menandai suatu pola persajakan sekar macapat yang bersifat lara, prihatin, dan mengiba. Pola persajakan ini digunakan untuk memingkai wacana yang mengandung makna melahirkan perasaan hati lara nan duka, melahirkan tangisan hati atau keprihatinan.

(30)

commit to user

Pola sekar macapat ini mempunyai sifat santai, kendur dalam artian tidak tegang. Pola persajakn pucung biasanya digunakan untuk pupuh yang bersifat santai, jenaka tetapi berisi, atau untuk mengungkapkan nasihat yang ringan.

10.Gambuh

Sekar gambuh mempunyai sifat keakraban. Biasanya jenis pola persajakan ini digunakan untuk melahirkan nasihat yang sungguh-sungguh, dalam artian nasihatyang disampaikan kepada keluarga yang memang sudah dikenal dengan akrab sehingga tidak ada rasa sungkan atau keragu-raguan. Meskipun demikian, karena sifat keakrabannya, kadang-kadang sekar gambuh juga digunakan untuk melahirkan perasaan apa adanya dengan nada agak santai.

11.Megatruh

Sekar megatruh biasanya digunakan untuk mengungkapkan sedih atau duka yang dalam, penyesalan yang dalam, atau kepedihan hati nan merana. 12.Balabak

Sekar balabak senantiasa digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang sifatnya jenaka (Karsono, 1993: 19-43).

Serat Babad Umbul Pengging menggunakan 14 pupuh yang terdiri 10 metrum tembang sebagai berikut:

1. Dhandhanggula, yang mempunyai aturan yaitu sebagai berikut:

(31)

commit to user

2. Kinanthi, yang mempunyai aturan sebagai berikut:

a. Guru lagu : u, i, a, i, a, i b. Guru wilangan: 8, 8, 8, 8, 8, 8 3. Asmaradana

a. Guru lagu : i, a, e, a, a, u, a b. Guru wilangan: 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 4. Sinom

a. Guru lagu : a, i, a, i, i, u, a, i, a b. Guru wilangan: 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 5. Pangkur

a. Guru lagu : a, i, u, a, u, a, i b. Guru wilangan: 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8 6. Pocung

a. Guru lagu : u, a, i, a b. Guru wilangan: 12, 6, 8, 12 7. Gambuh

a. Guru lagu : u, u, i, i, o b. Guru wilangan: 7, 10, 12, 8, 8 8. Balabak

a. Guru lagu : a, e, a, e, a, e b. Guru wilangan: 12, 3, 12, 3, 12 9. Mijil

(32)

commit to user

b. Guru wilangan: 10, 6, 10, 10, 6, 6 10.Megatruh

a. Guru lagu : u, u, i, i, o b. Guru wilangan: 12, 8, 8, 8, 8

C.

Struktur Tembang / Puisi

Pendekatan struktural hendaknya dilakukan ketika akan menganalisis sebuah karya sastra. Analisis struktur, untuk mengetahui inti dan jalinan yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Hal ini membuat jalan masuk ke dalam pengkajian isi karya sastra menjadi lebih mudah.

Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams dalam Nurgiantoro, 2007: 35-36). Struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antar unsur-unsur (intrinsik) yang bersifat timbale balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh. Analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan.

(33)

commit to user

Rachmat Djoko Pradopo, 2007: 15) menganalisis norman-norma puisi sebagai berikut:

1. Lapis bunyi (sound stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Tetapi, suara itu bukan hanya suara tak berarti. Suara sesuai dengan konvensi bahasa, disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara itu orang menangkap artinya.

2. Lapis arti (unit of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi alinea, bab, dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak.

3. Lapis norma yang meliputi objek, latar dan pelaku yang dikemukakan dan dunia pengarang yang berupa cerita / lukisan.

4. Lapis dunia yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya (implied).

5. Lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis (yang sublime, yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. Akan tetapi, tidak setiap karya sastra dalamnya terdapat lapis metafisis seperti itu.

C.Pendekatan Semiotik

(34)

commit to user

Jerman Lmbert pada abad XVIII) sebagai sinonim kata logika. Menurut Peirce dalam Panuti Sudjiman dan Aart van Zoest, logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran itu, dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Semiotika bagi Pirce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerja sama tiga subjek, yaitu tanda (sign), objek (object), dan interpretan (interpretant). Tanda adalah sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas (1992: 1 dan 43-44).

Semiotik (semiotika) adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial / masyarakat dan kebudayaan itu merupakan anda-tanda. Semiotik itu mempelajari system-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti Preminger dkk dalam Pradopo (1995: 119).

(35)

commit to user

yang ditunjuk. (2) indeks, yaitu tanda yang mengandung hubungan kasual dengan apa yang ditandakan. (3) simbol, yaitu tanda yang memiliki hubungan makna dengan yang ditandakan bersifat arbriter, sesuai dengan konvensi suatu lingkungan sosial tertentu (2011, 64-65).

D.

Pengertian Makna

(36)

commit to user

17

METODE PENELITIAN

A.

Bentuk Penelitian

Di dalam sebuah penelitian tidak dapat terlepas dari metode yang digunakan. Hal tersebut dikarenakan metode digunakan sebagai prosedur atau cara yang digunakan dalam meneliti sebuah objek kajian. Dalam pengertian yang lebih luas, metode dianggap sebagai cara-cara, strategi, untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya (Nyoman Kutha Ratna 2011 : 34). Metode penelitian ini selanjutnya akan membahas mengenai bentuk penelitian, sumber data dan data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian sastra deskriptif

kualitatif (Bogman dan Taylor dalam Moleong, 2010: 4-5) mendefinisikan

(37)

commit to user

digunakan untuk menafsirkan fenomena dan dimanfaatkan untuk penelitian kualitatif adalah berbagai macam metode penelitian. Dalam penelitian kualitatif metode yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen. Penulis lainnya memaparkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan pendekatan naturalistik untuk mencari dan menemukan pengertian atau pemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus (Moleong, 2010: 5).

B.

Sumber Data dan Data

1. Sumber Data

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data utama, dalam penelitian ini adalah Edisi teks Serat Babad Umbul Pengging yang telah dikerjakan secara filologis oleh Prasetyo Adi Wisnu Wibowo pada tahun 1999. Yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

b. Sumber Data Sekunder

(38)

commit to user 2. Data

a. Data Primer

Data primer adalah data pokok yang dipakai dalam bahan analisis penelitian, data yang diperlukan berupa data struktur serta data semiotik.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data tambahan sebagai pelengkap data pokok, yang berupa keterangan dan informasi dari buku-buku serta referensi yang relevan dengan penelitian. Serta keterangan mengenai Pengging yang di dapat dari tinjauan langsung.

C.

Teknik Pengumpulan Data

1. Analisis Isi (Content Analysis)

Content analysis adalah strategi untuk menangkap pesan karya sastra.

Analisis konten digunakan apabila si peneliti hendak mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra. Pemahaman tersebut mengandalkan tafsir sastra yang rigid. Artinya, peneliti telah membangun konsep yang akan diungkap, baru memasuki karya sastra.

Content analysis, sebagai cara untuk menemukan beragam hal sesuai

(39)

commit to user

dokumen atau arsip, tetapi juga tentang maknanya yang tersirat (Sutopo,2006: 81).

2. Teknik kepustakaan

Teknik kepustakaan atau sumber pustaka adalah teknik yang mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Sumber-sumber data tersebut berupa buku-buku referensi yang relevan dengan topik penelitian.

D.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data bertujuan menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Bagi penelitian kualitatif, ada tiga hal yang perlu diketahui dalam proses analisis data, yaitu reduksi data, sajian data, dan verifikasi serta simpulan.

Reduksi data adalah merampingkan data dengan memilih data yang

dipandang penting, menyederhanakan, dan mengabstraksikannya. Di dalam reduksi data ada dua proses, yaitu living in adalah memilih data yang dipandang penting dan mempunyai potensi dalam rangka analisis data, sedangkan living out adalah membuang atau menyingkirkan data yang dipandang kurang penting dan kurang mempunyai potensi dalam rangka analisis data.

Sajian data adalah menyajikan data secara analitis dan sintesis dalam

(40)

commit to user

yang ada. Analitis artiya menguraikan satu per satu unsur-unsur yang diteliti, edangkan sintetis artinya mengaitkan unsur yang satu dengan unsur lainnya sehingga dapat dibuat simpulan yang padu.

Verifikasi dan simpulan adalah mengecek kembali (diverifikasi) pada

catatan-catatan yang telah dibuat oleh peneliti dan selanjutnya membuat simpulan-simpulan sementara (Hutomo dalam Sangidu, 2004: 73-74).

(41)

commit to user

Bagian teknik analisis interaktif:

(H.B. Sutopo, 2006: 120)

Pengumpulan data

Sajian data

Penarikan

simpulan/verifikasi Reduksi

(42)

commit to user 23

PEMBAHASAN

A.

Struktur Serat Babad Umbul Pengging

Teori yang digunakan untuk analisis struktural SBUP adalah teori strata norma. Teori strata norma membagi karya sastra ke dalam lima tingkat, yakni lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia, dan lapis metafisis (Roman Ingarden dalam Rachmat Djoko Pradopo, 2007: 15). Kelima lapis tersebut merupakan unsur pembangun yang umumnya ada dalam karya sastra. Secara lebih rinci ditampilkan lapis-lapis strata norma sebagai berikut:

1. Lapis Bunyi

Bunyi mengandung aspek tinggi-rendah atau nada, panjang-pendek dan lemah kuat. Pemakaian unsur bunyi lebihintensif digunakan dalam seni musik, namun dalam seni sastra bunyi juga menjadi salah satu unsur pembangun. Seorang penulis karya sastra dapat memanfaatkan unsur bunyi dalam karyanya dengan bantuan sarana aliterasi, asonansi, begitu pula bagi sastrawan Jawa.

(43)

commit to user

watak masing-masing matra.

Aturan matra dalam tembang macapat, terutama dalam guru lagu menunjukkan pentingnya unsur bunyi pada tembang. Dengan kata lain, lapis bunyi di dalam tembang macapat termuat dalam konvensi guru lagu. Meskipun demikian tidak tertutup kemungkinan adanya lapis bunyi yang direalisasikan melalui sarana-sarana lain, misalnya asonansi, aliterasi.

Secara keseluruhan SBUP menampilkan 407 bait tembang macapat yang terbagi dalam 14 pupuh. Terdapat 1 macam tembang tengahan, serta 9 macam tembang macapat yang digunakan dalam SBUP, yakni Dhandhanggula, Kinanthi, Asmaradana, Sinom, Pangkur , Pocung, Gambuh, Mijil, Megatruh, dan Balabak.

a. Konvensi tembang dijabarkan sebagai berikut: 1. Pupuh 1, matra Dhandhanggula

Pupuh pertama, yakni matra Dhandhanggula. Mempunyai sifat manis, lembut, dan menyenangkan, terdapat sasmita tembang berupa kata

sarkara” pada pupuh 1 bait 1 baris 1. Terikat pada konvensi 10i, 10a,

8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, dan 7a terdiri dari 10 baris (guru gatra). 2. Pupuh 2, matra Kinanthi

Pupuh kedua, yakni matra Kinanthi. Mempunyai sifat kemesraan,

terdapat sasmita tembang berupa kata “kekanthanira” pada pupuh 1

(44)

commit to user

dan 8i terdiri dari 8 baris (guru gatra). 3. Pupuh 3, matra Asmaradana

Pupuh ketiga, yakni matra Asmaradana. Mempunyai sifat sedih, suatu kesedihan akibat dirundung api asmara, terdapat sasmita tembang

berupa kata “asmaraning” pada pupuh 2 bait 37 baris 6 / terakhir

matra Kinanthi sebagai tanda pergatian ke matra Asmaradana. Terikat pada konvensi 8i, 8a, 8e, 8a, 7a, 8u, dan 8a terdiri dari 7 baris (guru

gatra).

4. Pupuh 4, matra Kinanthi

Pupuh keempat, yakni matra Kinanthi. Mempunyai sifat kemesraan,

terdapat sasmita tembang berupa kata “kanthining” pada pupuh 3 bait

32 baris 7 / terakhir pada matra Asmaradana sebagai tanda pergantian ke matra Kinanthi. Terikat pada konvensi 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, dan 8i terdiri dari 8 baris (guru gatra).

5. Pupuh 5, matra Sinom

Pupuh kelima, yakni matra Sinom. Mempunyai sifat ceria, ramah, dan

menyenangkan, terdapat sasmita tembang berupa kata “Srinaranata

(45)

commit to user

Pupuh keenam, yakni matra Pangkur. Mempunyai sifat memuncak,

terdapat sasmita tembang berupa kata “Yudakênaka” pada pupuh 5

bait 36 baris 9 / terakhir matra Sinom sebagai tanda pergantian ke matra Pangkur. Terikat pada konvensi 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, dan 8i terdiri dari 7 baris (guru gatra).

7. Pupuh 7, matra Kinanthi

Pupuh ketujuh, yakni matra Kinanthi. Mempunyai sifat kemesraan,

terdapat sasmita tembang berupa kata “kinanthi” pada pupuh 6 bait 15

baris 7 / terakhir matra Pangkur sebagai tanda pergantian ke matra Kinanthi. Terikat pada konvensi 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, dan 8i terdiri dari delapan baris (guru gatra).

8. Pupuh 8, matra Pocung

Pupuh kedelapan, yakni matra Pocung. Mempunyai sifat santai, kendur dalam artian tidak tegang, terdapat sasmita tembang berupa

kata “pamucunging” pada pupuh 7 bait 37 baris 6 / terakhir matra Kinanthi sebagai tanda pergantian ke matra Pocung. Terikat pada konvensi 12u, 6a, 8i, dan 12a terdiri dari 4 baris (guru gatra).

9. Pupuh 9, matra Gambuh

(46)

commit to user

baris (guru gatra). 10.Pupuh 10, matra Sinom

Pupuh kesepuluh, yakni matra Sinom. Mempunyai sifat ceria, ramah,

dan menyenangkan, terdapat sasmita tembang berupa kata “sinom

pada pupuh 9 bait 27 baris 5 / terakhir matra Gambuh sebagai tanda pergantian ke matra Sinom. Terikat pada konvensi 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, dan 12a terdiri dari 9 baris (guru gatra).

11.Pupuh 11, matra Balabak

Pupuh kesebelas, yakni matra Balabak. Mempunyai sifat jenaka,

terdapat sasmita tembang berupa kata “balabak” pada pupuh 10 bait

38 baris 9 / terakhir matra Sinom sebagai tanda pergantian ke matra Balabak. Terikat pada konvensi 12a, 3e, 12a, 3e, 12a, dan 3e terdiri dari 9 baris (guru gatra).

12.Pupuh 12, matra Mijil

Pupuh keduabelas, yakni matra Mijil. Mempunyai sifat lancar,

terdapat sasmita tembang berupa kata “mijil” pada pupuh 12 bait 16

baris 4 matra Mijil. Terikat pada konvensi 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, dan 6u terdiri dari 6 baris (guru gatra).

13.Pupuh 13, matra Megratruh

(47)

commit to user

pergantian ke matra Megatruh. Terikat pada konvensi 12u, 8i, 8u, 8i, dan 8o terdiri dari 5 baris (guru gatra).

14.Pupuh 14, matra Asmaradana

Pupuh keempatbelas, yakni matra Asmaradana. Mempunyai sifat sedih, suatu kesedihan akibat dirundung api asmara, terdapat sasmita

tembang berupa kata “kasmaran” pada pupuh 13 bait 10 baris 5 /

terakhir matra Megatruh sebagai tanda pergantian ke matra Asmaradana. Terikat pada konvensi 8i, 8a, 8e, 8a, 7a, 8u, dan 8a terdiri dari 7 baris (guru gatra).

Struktur tembang di atas meliputi sasmita tembang, konvensi

tembang, jumlah baris dan sifat tembang. Selain struktur tersebut untuk

melengkapi struktur yang ada. Ditambah lagi dengan asonansi dan aliterasi. b. Asonansi

Asonansi (purwakanthi guru swara) adalah pengulangan bunyi vokal. Di bawah ini akan disajikan purwakanthi guru swara atau sajak perulangan bunyi vokal, dalam SBUP:

1) Asonansi /a/ a) Praja (1-2-2)

Praja (1-3-6), keduanya memiliki arti negara b) Mangkana (2-10-5)

(48)

commit to user

d) Dharat (4-2-3)

Dharat (4-3-1), keduanya memiliki arti darat e) Wanèngan (5-3-8)

Wanèngan (5-4-8), keduanya memiliki arti wanengan f) Kawandasa (6-2-1)

Kawandasa (6-7-2), keduanya memiliki arti 40 g) Alancingan panji-panji (7-3-2)

Alancingan panji-panji (7-4-6), keduanya memiliki arti celana dilutut ada kancingnya.

h) Sêmbada (8-2-3)

Sêmbada (8-5-3), keduanya memiliki arti mampu i) Praptanipun (9-4-4)

Praptanipun (9-5-2), keduanya memiliki arti sesampainya j) Taman (10-5-8)

Taman (10-6-6), keduanya memiliki arti taman k) Arame (11-13-1)

Arame (11-15-1), keduana memiliki arti aram, kayu untuk membendung

l) Lampahira (12-18-4)

Lampahira (12-19-2), keduanya memiliki arti jalannya m) Kasmaran (13-2-2)

(49)

commit to user

Sadaya (14-12-5), keduanya memiliki arti semua

Pada data di atas mengalami pengulangan bunyi antar bait, terjadi pada satu kata atau kalimat yang sama, sehingga mempermudah untuk mencari persamaan bunyi vokal /a/. Pada kata nomor (1) praja mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi praja, pada kata nomor (2) mangkana mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi mangkana, pada kata nomor (3) samya mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi samya, pada kata nomor (4) dharat mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi dharat, pada kata nomor (5) wanèngan mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi wanèngan, pada kata nomor (6) kawandasa mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi kawandasa, pada kalimat nomor (7) alancingan panji-panji mengalami pengulangan bunyi vokal menjadi alancingan panji-panji, pada kata nomor (8) sêmbada mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi sêmbada, pada kata nomor (9) praptanipun mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi praptanipun, pada kata nomor (10) taman mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi taman, pada kata nomor (11) arame mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi arame, pada kata nomor (12) lampahira mengalami bunyi vokal /a/ menjadi lampahira, pada kata nomor (13) kasmaran mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi kasmaran, pada kata nomor (14) sadaya mengalami pengulangan bunyi vokal /a/ menjadi sadaya.

(50)

commit to user

b) Miji pinilih (4-8-2)

Miji pinilih (4-10-2), keduanya memiliki arti yang dipilih c) Umiring (5-3-9)

Umiring (5-12-4), keduanya memiliki arti mengiring, mengawal d) Nitih (6-8-5)

Nitih (6-9-7), keduanya memiliki arti mengendarai e) Siwi (12-14-4)

Siwi (12-19-5), keduanya memiliki arti anak

Pada data di atas mengalami pengulangan bunyi antar bait, terjadi pada satu kata atau kalimat yang sama, sehingga mempermudah untuk mencari persamaan bunyi vokal /i/. Pada kata nomor (1) mijila mengalami pengulangan bunyi vokal /i/ menjadi mijila, pada kata nomor (2) miji pinilih mengalami bunyi vokal /i/ menjadi miji pinilih, pada kata nomor (3) umiring mengalami bunyi vokal /i/ menjadi umiring, pada kata nomor (4) nitih mengalami bunyi vokal /i/ menjadi nitih, pada kata nomor (6) siwi mengalami bunyi vokal /i/ menjadi siwi.

3) Asonansi /u/

a) Sumambung (4-55-1)

Sumambung (4-55-6), keduanya memiliki arti menyambung b) Tumurun (9-12-5)

(51)

commit to user

Cucul busana (10-20-7), keduanya memiliki arti melepas baju

Pada data di atas terdapat pengulangan bunyi antar bait, terjadi pada satu kata atau kalimat yang sama, sehingga mempermudah untuk mencari persamaan bunyi vokal /u/. Pada kata nomor (1) sumambung mengalami pengulangan bunyi vokal /u/ menjadi sumambung, pada kata nomor (2) tumurun mengalami pengulangan bunyi vokal /u/ menjadi tumurun, pada kata nomor (3) cucul busana mengalami pengulangan bunyi vokal /u/ menjadi cucul busana.

c. Aliterasi

Aliterasi (purwakanthi guru gatra) adalah pengulangan bunyi konsonan. Di bawah ini akan disajikan purwakanthi guru gatra atau sajak perulangan bunyi konsonan, dalam SBUP:

1) Aliterasi /b/

a) gêng aluhur binusanan abra murub (8-5-1)

Pada data di atas terdapat pengulangan bunyi yaitu konsonan /b/ gêng aluhur binusanan abra murub.

b) binantang bintang binèji (5-29-4)

Pada data di atas terdapat pengulangan bunyi yaitu konsonan /b/ binantang bintang binèji.

2) Aliterasi /p/

(52)

commit to user

lir ginapit.

b) tiga para putra putri (5-13-2)

Pada data di atas terdapat pengulangan bunyi yaitu konsonan /p/ tiga para putra putri.

3) Aliterasi /r/

a) rêrêp sirêp dora cara (1-3-8)

Pada data di atas terdapat pengulangan bunyi yaitu konsonan /r/ rêrêp sirêp dora cara.

4) Aliterasi /t/

a) tumpa-tumpa praptèng Surakarta (1-5-2)

Pada data di atas terdapat pengulangan bunyi yaitu konsonan /t/ tumpa-tumpa praptèng Surakarta.

b) kang tan wruh tutur tinutur (6-1-3)

Pada data di atas terdapat pengulangan bunyi yaitu konsonan /t/ kang tan wruh tutur tinutur.

2. Lapis Arti

(53)

commit to user

diterangkan dalam terjemahan teks.

a. Dasanama

Dasanama berasal dari kata dasa artinya sepuluh, nama adalah

nama. Artinya satu nama yang memiliki sepuluh nama lain. Walaupun satu nama tersebut memiliki tidak sampai sepuluh nama tetap disebut

dasanama. Berikut contoh dasanama dalam SBUP:

(54)

commit to user

Merujuk pada kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan beberapa contoh kata yang mempunyai persamaan makna yang disebut sinonim, yaitu kata Pamase-Sultan-Prabu-Nata-Aji-Nerpati-Bupati, yang berarti Raja; kata Pawestri-Wanodya, yang berarti wanita; kata Warih-Tirta-Toya, yang berarti air; kata Jalu-Lanang-Priya, yang berarti laki-laki.

b. Tembung Garba

Tembung garba adalah kata yang digabung, kata yang dirangkai,

kata yang terjadi dari gabungan dua kata atau lebih. Beberapa tembung

garba yang dapat dijumpai dalam SBUP antara lain sebagai berikut:

NO. Kata Pupuh, Bait, Baris

Pemenggalan Arti

1. Kaluhuranirèn g

1, 3, 5 Ka+luhur+an+nira+ing Kewibawaannya

(55)

commit to user

10. Lurahirèki 4, 12, 6 Lurah+ira+iki Kepala desa 11. Pangarsèng 4, 21, 5 Pang+arsa+ing Pemimpinnya 12. Busanendah 5, 4, 3 Busana+indah Pakaian indah 13. Sadayèku 5, 7, 5 Sadaya+iku Semua itu 14. Wurinirèki 6, 10, 7 Wuri+nira+iki Dibelakangnya 15. Putrèng 6, 13, 1 Putra+ing Putra 16. Kehirèki 8, 9, 3 Keh+ira+iki Banyaknya 17. Busanèki 8, 10, 1 Busana+iki Pakaian ini 18. Ngarsèng 8, 25, 1 ng+arsa+ing Di depan 19. Swarèng 9, 7, 5 Swara+ing Suara itu 20. madurêtnèku 9, 22, 2 Madurêtna+iku Itu Maduretna 21. Tyasirèki 9, 23, 3 Tyas+ira+iki Dirimu itu 22. Kunanirèki 10, 6, 5 Kuna+nira+iki Sejak dahulu 23. Kawartèng 10, 9, 7 Ka+warta+ing Sudah tersebar 24. Tirtèng 10, 16,

3

Tirta+ing Dalam air

25. Anèng 11, 3, 1 Ana+ing Ada di- 26. Tibèng 11, 10,

1

Tiba+ing Jatuh ke-

(56)

commit to user

29. Karsanirèki 12, 15, 1

Karsa+nira+iki Keinginannya

30. Sirèku 13, 8, 1 Sira+iku Kamu itu 31. Praptèng 14, 1, 7 Prapta+ing Sampai

Tembung garba biasanya ditemukan dalam kesusastraan yang

berbentuk tembang. Karena bisa digunakan pengarang untuk memenuhi konvensi tembang, jadi tembung garba berfungsi untuk mengurangi jumlah suku kata dalam baris yang kelebihan suku kata agar memenuhi konvensi tembang yang sudah terikat oleh guru wilangan. Merujuk pada kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan contoh dari tembung garba yaitu

kaluhuranirèng artinya kewibawaannya, sulayèng artinya

kesalahpahaman, kadyèku artinya seperti itu, sukèng artinya senang, ,

warnanirèki artinya beraneka ragam, cuwèng artinya kecewa, sarwendah

artinya serba indah, pasiramanèki artinya pemandian ini, lampahirèki artinya jalannya, lurahirèki artinya kepala desa, pangarsèng artinya pemimpinnya, busananendah artinya pakaian indah, sadayèki artinya semua itu, wurinirèki artinya belakangnya, kehirèki artinya banyaknya,

busanèki artinya pakaian ini, putrèng artinya anak, ngarsèng artinya di

depan, swarèng artinya suara, madurêtnèku artinya itu maduretna,

kunanirèki artinya dahulu, kawartèng artinya berita, tirtèng artinya air,

(57)

commit to user

sirèku artinya kamu, praptèng artinyasampai.

c. Tembung Wancahan

Tembung wancahan yaitu kata yang dikurangi jumlah suku katanya

atau tidak dipakai (Padmosoekotjo: 47). Dalam SBUP pengurangan suku kata dilakukan dengan cara menghilangkan satu suku kata di depan, penghilangan satu suku kata terakhir, dan dengan penghapusan bunyi vokal pada satu suku kata tertentu.

1. Penghilangan satu suku kata di depan, misalnya dijumpai pada kata-kata berikut:

a. Pupuh 2 bait 3 baris 5

Datan tan dari da+tan suku kata yang dihilangkan yaitu da;

datan artinya tanpa

b. Pupuh 2 bait 4 baris 1

Uwus wus dari kata u+wus suku kata yang dihilangkan yaitu u;

uwus artinya sudah c. Pupuh 3 bait 1 baris 6

Pating ting dari kata pa+ting suku kata yang dihilangkan yaitu

pa; pating artinya ber-

d. Pupuh 3 bait 2 baris 5

Ingkang kang dari kata ing+kang suku kata yang dihilangkan

(58)

commit to user

Kaping ping dari kata ka+ping suku kata yang dihilangkan

yaitu ka; kaping artinya urutan hitungan f. Pupuh 4 bait 15 baris 3

Uwong wong dari kata u+wong suku kata yang dihilangkan

yaitu u; uwong artinya orang g. Pupuh 5 bait 8 baris 5

Ingsun sun dari kata ing+sun suku kata yang dihilangkan yaitu

ing; ingsun artinya aku

h. Pupuh 5 bait 10 baris 2

Upaya paya dari kata u+paya suku kata yang dihilangkan

yaitu u; upaya artinya upaya, usaha i. Pupuh 7 bait 24 baris 1

Sampun pun dari kata sam+pun suku kata yang dihilangkan

yaitu sam; sampun artinya sudah j. Pupuh 7 bait 26 baris 1

Kanjêng jêng dari kata kang+jêng suku kata yang dihilangkan

yaitu kang; kanjêng artinya kanjeng k. Pupuh 8 bait 3 baris 3

Adi di dari kata a+di suku kata yang dihilangkan yaitu a; adi artinya lebih

(59)

commit to user

pun; punika artinya itu

m. Pupuh 9 bait 22 baris 4

Ênêm nêm dari kata ê+nêm suku kata yang dihilangkan yaitu

ê; ênêm artinya enam n. Pupuh 9 bait 23 baris 5

Nggon gon dari kata ang+gon suku kata yang dihilangkan

yaitu ang; anggon artinya tempat o. Pupuh 10 bait 4 baris 3

Nggèn gèn dari kata ang+gèn suku kata yang dihilangkan

yaitu ang; anggèn artinya tempat p. Pupuh 11 bait 20 baris 3

Tasih sih dari kata ta+sih suku kata yang dihilangkan yaitu

ta; tasih artinya masih

2. Penghilangan bunyi vokal pada suku kata awal, antara lain: a. Pupuh 1 bait 9 baris 6

Jro dari kata jêro, vokal yang dihilangkan yaitu ê; jêro berarti dalam

b. Pupuh 2 bait 28 baris 3

Pra dari kata para, vokal yang dihilangkan yaitu a; para berarti para

(60)

commit to user

keras

d. Pupuh 5 bait 36 baris 6

Wruh dari kata wêruh, vokal yang dihilangkan yaitu ê; wêruh berarti lihat

e. Pupuh 8 bait 31 baris 4

Mring dari kata maring, vokal yang dihilangkan yaitu a;

maring berarti kepada

Merujuk pada kutipan-kutipan di atas dapat diambil kesimpulan tembung wancahan penghilangan satu suku kata depan yaitu tan artinya tanpa; wus artinya sudah; ting artinya ber-; kang yang artinya yang; ping yang artinya urutan hitungan; wong yang artinya orang; sun yang artinya aku; paya yang artinya upaya, usaha; pun yang artinya sudah; jêng yang artinya kanjeng; di yang artinya lebih;

ika yang artinya itu; nêm yang artinya enam; gon yang artinya tempat;

gèn yang artinya tempat; sih yang artinya masih. Sedangkan penghilangan bunyi vokal pada suka kata awal yaitu jro yang berarti dalam; pra yang artinya para; sru yang artinya keras, wruh yang lihat;

dan mring yang artinya kepada.

d. Pepindan

Pepindan sering ditemui pada kalimat yang membandingkan antara

(61)

commit to user

Kutipan:

Marwa Wladi ingkang dagang sami/ tumpa-tumpa praptèng

Surakarta/ ingaturakên Sang Pamasé/ tan ana kang kawangsul/

guru bakal myang guru dadi/ mila jroning Kadhatyan/ pindha

sawarga gung/ nindita rêngganing pura/ prabayasa samyan

kaputrèn angluwihi/ lir pura ing Kaéndran//

Terjemahan:

Kasih sayang orang Belanda yang berdagang, ditujukan ke Surakarta, dipersembahkan kepada raja, semua diterima saja, antara lain berupa kain dan pakaian jadi. Oleh karena itu, dalam istana seperti surga, mulia dan tiada cela bentuknya, gemerlapan suasana istana, seperti tempat tinggal Batara Indra.

Pada kutipan di atas ditemukan kalimat perbandingan berupa

kata „lir pura ing Kaéndran’ yang berarti „seperti tempat tinggal Batara Indra‟. Bahwa kalimat tersebut menggambarkan negara Surakarta yang indah tiada cela, gemerlap ibarat tempat tinggal dewa. 2. Pupuh 2 bait 27 baris 5

Kutipan:

Kinêlambu wastra pingul/ rangrangan wironirèki/ tinurut ing

gardhé rêkta/ sangking mandrawa kaèksi/ lir rakiting patilaman/

(62)

commit to user

Terjemahan:

Selain itu diberi kelambu sutra putih, dengan lipatan yang tidak terlalu rapat, di pinggir diberi kelamu merah. Dari kejauhan terlihat seperti tempat tidur, diperindah dengan sutra hijau tua.

Pada kutipan di atas dapat ditemukan kalimat perbandingan

berupa „lir rakiting patilaman’ yang berarti „seperti tempat tidur‟. Membandingkan hiasan kelambu yang terpasang sebagai hiasan diibaratkan sebagai tempat tidur dari kejauhan.

3. Pupuh 2 bait 30 baris 3 Kutipan:

Têpinya samya pinatut/ ing rêca mawarni-warni/ tinon lir janma

mangrêksa/ ing udyana turut pinggir/ wênèh pinêtha parêkan/

angampil wastra ngladèni//

Terjemahan:

Di tepi dihias arca yang berwarna-warni menyerupai manusia penjaga, berjajar di pinggir. Ada yang menyerupai dayang istana, memakai pakaian, kelihatan siap melayani

Pada kutipan di atas dapat ditemukan kalimat perbandingan

berupa „lir janma mangrêksa’ yang berarti „menyerupai manusia

(63)

commit to user

manusia penjaga karena diletakkan di depan gerbang atau pintu.

4. Pupuh 7 bait 32 baris 4 Kutipan:

Cingak kang samya andulu/ pawèstri pating jêrawil/ gustiku sawiji

ika/ lir pengantèn sabên ari/ bêjane kang duwe krama/ sandhinge

mèsêm nambungi//

Terjemahan:

Takjub yang melihatnya, ada wanita yang saling berisik, “Rajaku

yang itu, seperti pengantin, bahagianya istrinya”. Di dekatnya ada yang tersenyum lalu menyahut.

Pada kutipan di atas ditemukan kalimat perbandingan berupa

lir pengantèn yang berarti „‟seperti pengantin‟. Kalimat tersebut

membandingkan raja yang elok rupawan dengan pakaian kebasarannya diibaratnya seumpama pengantin.

Merujuk pada kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan perbandingan / perumpamaan dalam Serat Babad Umbul Pengging yang menggunakan kata lir, yaitu “lir pura ing Kaendran” yang berarti

seperti tempat tinggal Batara Indra, “lir rakiting patilaman” yang

artinya seperti tempat tidur, “lir janma mangrêsa” yang artinya

menyerupai manusia penjaga, “lir satuhuning wil” yang artinya

(64)

commit to user

e. Citra Dengaran / Pendengaran

Citra dengaran adalah suatu benda yang dapat memberi gambaran pada indra pendengaran (Rahmat Djoko Pradopo, 2007: 82). Indra pendengaran ini berguna untuk menangkap situasi dan makna dengan kesan yang muncul pada indra pendengaran dari suatu teks bagi pembaca ataupun pendengar.

Gambaran dari citra dengaran dalam SBUP, bisa ditemukan pada contoh kalimat sebagai berikut:

1. Pupuh 4 bait 11 Kutipan:

Gumrêdêg ngêbêki lurung/ ing wuri kang anambungi/ di dalêm

udêrnas lurah/ pan samya mungging turangi/ tindhih Dyan

Atmawasita/ lan Dyan Atmawijayanèki//

Terjemahan:

Suaranya bergemuruh memenuhi jalan, yang mengikuti di belakangnya yaitu Udernas Lurah. Mereka naik kuda dipimpin Dyan Atma Wasita, dan Dyan Atmawijaya.

(65)

commit to user

2. Pupuh 9 bait 8 Kutipan:

Nulya mariyêmipun/ munya gumaludhug ping salikur/ kadya gêlap

sasra orêg ingkang bumi/ pêtênging kukus lir mêndhung/ kapilêng

kang samya tumon//

Terjemahan:

Dan mariyamnya berbunyi sebanyak dua puluh satu, seperti memekakkan telinga, dan akan meruntuhkan bumi, hitamnya kabut seperti mendung, yang melihat sampai takjub.

Suara meriyam yang dibunyikan begitu memekakkan telinga dengan bunyinya yang menggelegar merupakan citra pendengaran.

Merujuk pada kutipan di atas dapat disimpulkan citra dengaran / pendengaran pada SBUP yaitu Pada pupuh 4 bait 11 kata gumrêdêg yang berarti suaranya bergemuruh tersebut mampu memberi citra dengaran berupa suara yang bergemuruh karena kuda yang mereka tunggangi. Suara kuda yang berladi di jalan menimbulkan suara gemuruh karena derap langkah sepatu kuda yang menimbulkan suara beradu dengan jalan yang dilalui. Pada pupuh 9 bait 8 kata

gumaludhug yang berarti berbunyi di atas memberikan gambaran citra

(66)

commit to user

mendengarnya karena suaranya tersebut. f. Citra Lihat atau Penglihatan

Citra lihat atau penglihatan adalah suatu tanda yang dapat memberi kesan atau gambaran pada indera penglihatan (Rahmat Djoko Pradopo, 2007: 81).

Citra lihat atau citra penglihatan bisa ditemukan pada pupuh-pupuh seperti berikut ini:

1. Pupuh 4 bait 39 a. Kutipan:

Pating galêbyar ngênguwung/ lir siringing kilat thathit/

sênggani lan cahyanira/ sagunging kang para putrid/ kalih

abdi wanèngan/ umiring mungging turanggi//

Terjemahan:

Kelihatan berkilauan, sinarnya berkilau-kilauan, semua putri tampak demikian, dua orang abdi wanengan, berjalan mengawal di belakang dengan naik kuda

2. Pupuh 4 bait 40 dan 41 a. Kutipan:

Asri lampahnya dinulu/ cingak kang sami ningali/ têtanya lan

rowangira/ tan jamak ampilan iki/ dene kalangkung sêmuwa/

dalah putrine kang ngampil//

(67)

commit to user

dengan teman-temannya, “Sungguh cantik selir raja, dan putri yang disuruh membawa,

b. Kutipan:

Naracak samya yu-ayu/ kibaya ampilan ngêndi/ ana kang

patitis ngucap/ yèn sira during udani/ iku upacaranira/ Jêng

Gusti Sêkaring Puri//

Terjemahan:

Kelihatan cantik sekali, selir yang mana?”. Ada yang berbicara,

“kalau kamu belum mengetahui, itu adalah iring-iringan putri. 3. Pupuh 7 bait 32, dan bait 34

a. Kutipan:

Cingak kang samya andulu/ pawèstri pating jêrawil/ gustiku

sawiji ika/ lir pengantèn sabên ari/ bêjane kang duwe krama/

sandhinge mèsêm nambungi//

Terjemahan:

Takjub yang melihatnya, ada wanita yang saling berisik,

“Rajaku yang itu, seperti pengantin, bahagianya istrinya”. Di

dekatnya ada yang tersenyum lalu menyahut, b. Kutipan:

Nyamlêng tan ana kang saru/ sabarang agemanirèki/ upamane

raganingwang/ duweya bojo kadyèki/ ingsun simpêni kewala/

(68)

commit to user

Dilihat tampak indah dan tiada cela, semua atributnya, umpama saya, punya suami seperti itu, akan saya simpan di lemari kecil, dan akan saya jaga selamanya.

Merujuk pada kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan citra lihat / penglihatan pada SBUP, yaitu pada pupuh 4 bait 39 kata pating galêbyar yang berarti kelihatan berkilauan memperlihatkan bahwa pakaian yang dikenakan para putri tambak bercahaya dan kelihatan berkilauan karena terpaan sinar matahari, hal itu menunjukkan adanya citra penglihatan karena sesuatu yang berkilauan tadi bisa ditangkap oleh indra penglihatan. Pada pupuh 4 bait 40 dan bait 41, kalimat cingak kang sami ningali yang berarti takjub yang melihatnya serta kalimat naracak samya

(69)

commit to user

dikenakan oleh raja sangat menawan. Sehingga menampilkan citra lihat atau penglihatan.

g. Allegori

Allegori ialah kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mangiaskan hal lain atau kejadian lain. Allegori ini sesungguhnya metafora yang dilanjutkan (Rachmad Djoko Pradopo, 2007: 71). Menurut Becker dalam Pradopo mengatakan metafora ini bahasa kiasan seperti perbandingan hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding, seperti bagai, laksana, seperti, dan sebagainya. Metafora itu melihat sesuatu dengan perantara benda yang lain (2007: 77). Sedangkan Albernd masih dalam Pradopo mengemukakan metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama (2007: 66).

Contoh allegori dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut: 1. Pupuh 7 bait 21

Kutipan:

Karênggèng busana murub/ ing wuri kang anambungi/ Jêng

Pangran Suryadipura/ nitih kuda busana di/ jajar lan Kangjêng

Pangeran/ Sindusena samya nitih//

Terjemahan:

Referensi

Dokumen terkait